Love Challenge part 6

 

Hye-Na’s POV

’Bukankah kau memang selalu berusaha melupakan semua hal yang berhubungan dengan diriku??’

Kalimat itu terus bergaung di telingaku dan membuat air mataku semakin mengucur ke pipiku. Dia berhasil mengintimidasiku hanya dengan satu kalimat itu.

Melupakannya?? Berusaha melupakan semuanya?? Apa maksud ucapannya?? Kenapa dia berkata seolah-olah aku sengajamelupakannya malam itu??

Aku menyeka air mataku yang menetes dengan ujung jariku. Menyebalkan!!! Kenapa aku kabur dan menangis karenanya?? Baiklah aku tau ini salahku, tapi apa perlu dia bersikap separah itu padaku?? Mendiamkanku selama dua hari bahkan merebut ciuman pertamaku dengan kasar seperti tadi. Kasar?? Astaga memangnya jika dia melakukannya dengan lembut aku akan rela?? Dasar Hye-Na baboya.

Tanganku bergerak begitu saja menyentuh bibirku. Basah.. aku masih bisa merasakan bekas lumatannya di bibirku tadi. Bahkan aroma tubuhnya masih membekas di indera penciumanku. Cho Kyuhyun Bodoh!!!!!!

“Noona..”

Aku langsung menepis pikiran-pikiran bodoh itu dan mengalihkan pandanganku pada sumber suara itu. Jino berdiri di belakangku. Dia tersenyum padaku dan sedetik kemudian mulai melangkahkan kakinya mendekatiku, Duduk di sampingku.

“Gwaenchana??” tanyanya dan kubalas hanya dengan senyuman kakuku. “Benarkah?? Apa hyung melakukan sesuatu padamu??”

Aku sedikit tersentak mendengar pertanyaannya dan refleks tanganku bergerak menyentuh bibirku lagi. Aisss akhir-akhir ini saraf di sekujur tubuhku bekerja tanpa perintah otak.

Aku menggelengkan kepalaku cepat dan lagi-lagi tersenyum padanya. “Gwaenchana. Tidak perlu khawatir, aku tidak akan mati hanya karena amukannya.”

“Baguslah,” sahutnya. “Jangan menangis lagi hanya karenanya.”

Aku menolehkan kepalaku dan menatapnya tak percaya. Aku merasa ada makna lain dari ucapannya tapi bodohnya aku malah tidak mengerti apa itu.

“Siapa yang menangis?? Aku bukan gadis bodoh yang akan menangis hanya karena pria menyebalkan itu,” elakku sembari memalingkan wajah.

“Noona,” panggilnya lagi sembari menepuk pelan pundakku, membuatku kembali menghadapnya.

“Jangan berbohong, jika tidak menangis, lalu ini air apa??” ucapnya sembari menyentuh pipiku dengan lembut dan sontak aku langsung menjauhkan wajahku dari tangannya.

Aigooo kenapa reaksi tubuhku seperti itu?? Bukankah bagus jika aku bisa sedekat ini dengannya?? Waktuku hanya tinggal satu minggu lagi. Ini kemajuan yang pesat untukku, setidaknya sekarang dia lebih memperhatikanku, bahkan dia bisa melihat hanya setetes air yang ada di pipiku. Tapi kenapa tubuhku malah menolak kontak fisik dengannya?? Atau hanya karena aku terkejut?? Ya, kurasa itu alasan yang paling tepat.

Aku tersenyum kaku padanya dan meletakkan kedua tanganku di pipi, menghapus apa pun yang ada di sana.

“Aku baik-baik saja,” elakku lagi.

“Harus. Kau memang harus merasa baik tinggal di sini, Hye-Na~ya.”

Aku terperangah mendengarnya. Keterkejutanku akan sentuhannya yang tiba-tiba belum juga pulih dan sekarang dia kembali sukses membuatku shock dengan memanggil namaku tanpa embel-embel ‘Noona’.

Astaga benarkah ini Cho Jino?? Apa patah hati bisa membuatnya berubah drastis seperti ini??

Tiba-tiba saja dia tertawa, membuatku mengatupkan mulutku yang sedikit menganga karena ulahnya tadi.

“Tidak perlu terkejut seperti itu. Usia kita tidak terpaut jauh, hanya satu tahun, bukankah lebih baik aku memanggilmu Hye-Na saja?? Bolehkah??”

“Ah, ne.. tentu saja. Lagi pula meskipun aku lebih tua darimu, kurasa wajahku tidak,” balasku mencoba mencairkan suasana.

Lagi-lagi dia terkekeh pelan. “Ne, jika kau berdiri di sampingku, bahkan menjadi kekasihku, semua orang juga tak akan menyangka usiamu lebih tua dariku.”

Alisku tertaut mendengar ucapannya. Kenapa aku malah merasa canggung padanya?? Perubahan sikapnya yang lebih dekat denganku, malah membuatku seakan tak mengenalnya.

“Sudah malam, sebaiknya kau tidur. Tidak baik berada di luar rumah malam-malam begini. Udara malam tidak baik untuk kesehatanmu.”

Aku menganggukkan kepalaku pelan. “Kau duluan saja, sebentar lagi aku akan masuk.”

“Baiklah. Jaljayo, Hye-Na~ya.”

Aneh.. Hatiku seperti tak menerima dia memanggilku seperti itu. Tak terbiasa… Kurasa karena itu.

 

*****

Aku mengoleskan selai cokelat ke rotiku dengan malas. Sarapan sendirian benar-benar tidak menyenangkan. Jino belum keluar dari kamarnya sedangkan Kyuhyun, aku yakin dia lebih memilih mengurung diri di kamarnya dari pada sarapan bersamaku. Aku merindukan Cho ahjumma dan ahjusshi. Jika mereka ada di sini, suasana pasti akan terasa lebih baik. Keluarga ini dengan perlahan mengubah kebiasaanku. Memberikan sesuatu yang tidak kudapati sejak kematian eomma. Dulu aku terbiasa seperti ini, karena sangat jarang aku bisa sarapan satu meja dengan appa. Sejak eomma meninggal, appa lebih memilih menyibukkan dirinya dengan pekerjaan. Aku masih bisa terima, karena appa akan selalu ada untukku setiap saat jika aku membutuhkannya. Tapi sekarang??? Sekali pun aku berlutut di kakinya, mungkin dia akan tetap membuangku.

“Agaesshi, ini minuman anda.”

Aku tersenyum pada Jung ahjumma dan langsung menyesap segelas susu itu hingga tak bersisa.

”Ahjumma, bisa tolong antarkan sarapan untuk Kyuhyun??”

Sejak malam dia tak memakan apa pun. Dia tidak boleh begitu terus hanya karena tidak mau melihat wajahku. Aku tidak mau bertanggung jawab jika tiba-tiba ‘Kyuhyun Super Junior ditemukan tewas di kamarnya karena kelaparan’ menjadi Headline News di berbagai surat kabar.

“Tuan muda?? Tuan muda sudah pergi sejak tadi agaesshi.”

“Mwo??”

“Ne, dengan membawa koper dan ranselnya. Tuan muda bilang hari ini dia akan pergi ke Shanghai untuk Super Show, setelah itu mungkin akan tinggal beberapa hari di China karena kegiatan Super Junior M.”

Mwoya?? Beberapa hari?? Sampai kapan kau tak akan memaafkanku?? Bahkan tak memberikanku kesempatan untuk meminta maaf.

Aissss kenapa aku jadi emosi seperti ini. Kenapa aku merasa kesal ketika dia pergi begitu saja tanpa berpamitan padaku?? Kau membuatku seperti orang gila, Cho Kyuhyun. Membuatku tak mengerti perasaanku sendiri.

 

*****

Kyuhyun’s POV

Aku memainkan ponselku dengan malas. Selama dua hari aku berada di sini, dan masih ada beberapa hari lagi yang membuatku tak bisa melihat wajahnya. Sedikit menyesal pergi dalam keadaan seperti ini, pergi tanpa melihat wajahnya. Aisss kenapa egoku mempermainkan diriku sendiri??

“Aisss aku telepon dia atau tidak??” desis seseorang.

Aku mengangkat kepalaku, mengalihkan tatapanku dari layar ponselku kepada seorang pria yang berjalan seperti setrikaan di hadapanku, sembari memutar-mutar ponselnya dengan gemas. Tak berbeda jauh dengan keadaanku saat ini, tapi setidaknya aku tidak mengusik mata orang lain dengan bertingkah seperti dirinya. Dan beberapa hari yang lalu berani-beraninya dia memberikan bunga matahari pada seorang gadis saat Super Show Shanghai. Sensasi menjijikkan.

“Hyung, kau sedang apa??” tanyaku.

Dia menghentikan langkahnya, menolehkan kepalanya cepat ke arahku, dan ntah bagaimana tiba-tiba dia sudah duduk di sampingku. Menatapku dengan antusias.

“Apa kau sudah menelepon Hye-Na?? Kau mengatakan apa padanya??” tanyanya ingin tau. “Hai, apa kabarmu?? Kau baik-baik saja?? Kau makan dengan baik kan di sana?? Aku merindukanmu. Begitu??” lanjutnya.

“Heebum merindukanmu,” sindirku yang langsung mendapat jitakan dari dirinya.

“Seriuslah sedikit, Cho Kyuhyun,” geramnya.

“Yak Untuk apa aku menelepon gadis itu?? Kau pikir begitu penting untuk meneleponnya??”

Donghae hyung mengerutkan dahinya, menatapku curiga. Apa-apaan ini?? Aku tidak suka ditatap seperti ini.

“Kau tidak merindukannya??”

Merindukannya?? Astaga, aku bahkan hampir gila karena merindukannya, berusaha mengobati rindu itu dengan membayangkan wajahnya, tapi sialnya wajah terakhir yang kulihat adalah wajah yang basah karena air mata. Jika aku tidak punya malu mungkin saat ini aku sudah berlari ke bandara, kembali ke korea dan langsung memeluknya.

“Aku?? Merindukannya?? Cih~” cibirku. “Aku masih waras, dan selama otakku masih sehat aku tidak akan mungkin merindukannya,” elakku dan langsung memalingkan wajah dari tatapan menjengkelkannya itu.

Aku bisa mendengar dia mendengus pelan, mengejekku. Dan setelah itu dia beranjak dari sofa yang kami duduki.

“Dasar pembohong besar. Aisss ternyata sangat menyiksa bersikap pura-pura tidak peduli padanya seperti ini,” ocehnya sendiri sembari berjalan menuju kamarnya.

Tidak peduli?? Jadi kau benar-benar mengikuti teoriku?? Cih~ masih berani mengataiku padahal kau sendiri mencobanya.

 

*****

“Bagaimana?? Apa dia baik-baik saja??”

“Aigoo oppa, kau meneleponku hanya untuk menanyakan itu??” protes seseorang di seberang sana. “Kau lucu sekali. Aku yakin kau punya nomor handphone Hye-Na, tapi kau malah repot-repot meneleponku.”

Aku mendengus kesal mendengar protesnya. Apa tidak bisa menjawab pertanyaanku tanpa memprotesnya?? Kenapa semua orang yang berbicara denganku hari ini terasa begitu menyebalkan??

“Yak jawab saja!!” geramku.

“Aisss egomu benar-benar sudah akut, oppa,” ejeknya lagi. “Dia baik-baik saja. Sekarang dia sedang makan siang bersamaku.”

Bersamanya??? Jangan-jangan Hye-Na juga mendengar percakapan ini. Astaga, matilah kau Cho Kyuhyun!!!

“Maksudmu, dia ada di dekatmu?? Dia tau aku meneleponmu??”

Dia terkekeh pelan mendengar suaraku yang panik.

“Tenanglah oppa. Dia sedang memesan makanan.”

“Jaga dia baik-baik dan…” aku menghentikan ucapanku, menimbang apakah tidak memalukan jika aku mengatakannya.

“Dan apa??’ tuntutnya tak sabar karena tak kunjung mendengar suaraku.

“Jangan berikan kesempatan pada Jino untuk mendekatinya selama aku berada di China.”

Hahaha..

Aisss sudah kuduga.

“Kau membuatku menjadi tontonan semua orang yang ada di kantin kampus, oppa,” ucapnya lagi dengan kekehan pelan yang masih tersisa di mulutnya.

“Siapa suruh kau tertawa seperti itu??” Balasku gusar.

“Bagaimana aku tidak tertawa, itu benar-benar lucu, oppa. Selama ini kau terlihat begitu percaya diri, bahkan berani memberikan kesempatan pada Hye-Na untuk lari dari pelukanmu dalam satu bulan ini sedangkan kau sangat menginginkannya, tapi sekarang kau malah berbicara seperti itu. Jino?? Terasa sebagai ancamankah??”

“Sangat..” sambarku. “Selama ini aku berani memberikan kesempatan itu padanya karena aku tau Jino tak akan tertarik padanya dan pasti akan tetap memilih Min Rin, tapi sekarang, kau tau?? Tiga hari yang lalu Cho Jino terang-terangan menantang diriku.”

Chaerin terdiam mendengar ucapanku, tak ada sahutan sedikit pun darinya. Shock?? Mungkin.

“Chaerin~a, kau mendukungku kan??”

Hening. Lagi-lagi dia tak menjawab. Apa dia sudah berubah pikiran??

“Tentu, oppa. Aku tau dia akan lebih baik jika bersamamu. Aku pasti akan selalu mendukungmu, Oppa.”

“Chaerin~a, ini makananmu.”

Udara yang begitu sulit kuhirup beberapa hari ini terasa begitu penuh memasuki rongga paru-paruku. Suaranya.. hanya mendengar suaranya mampu membuatku bernapas dengan benar.

“Gomawo Chaerin~a,” sahutku kemudian memutuskan teleponku.

Na~ya, apa kau akan menerima takdirmu atau malah bersiap menolaknya dan menerima takdir barumu seperti yang dikatakan Jino?? Akankah takdirmu benar-benar berubah??

 

*****

 

Hye-Na’s POV

“Aku pasti akan selalu mendukungmu, Oppa.”

“Chaerin~a, ini makananmu,” ucapku sembari meletakkan pesanannya di atas meja.

Chaerin langsung menoleh ke arahku, dan anehnya dia menatapku dengan shock?? Ada apa?? Ada yang aneh denganku??

Tiba-tiba saja dia langsung mematikan ponselnya, dan menyambar makanannya dengan gugup, memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya dengan cepat.

“Kau kenapa?? Tadi kau bicara dengan siapa?? Mendukung?? Mendukung siapa?? Dan oppa siapa, setauku kau tak memiliki oppa??” rentetan pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutku dan..

Uhukkkk..

Chaerin terbatuk-batuk pelan. Dengan sigap langsung kusodorkan minumannya.

Chaerin meminum minumannya, dan langsung menatapku.. bisakah kukatakan tajam?? Tapi tatapannya seolah juga sedang menyembunyikan sesuatu dariku.

“Kakak sepupuku,” jawabnya kemudian. “Yah kakak sepupuku. Tadi dia mengatakan akan bekerja di Jepang, jadi aku mendukungnya.”

“Sepupu?? Kau tidak pernah menceritakannya.”

“Aku tidak begitu dekat dengannya, justru karena itu aku sedikit terkejut ketika tiba-tiba dia meneleponku dan berpamitan seperti itu.”

Aku menganggukkan kepalaku pelan. Sebenarnya hatiku tidak puas dengan jawabannya, tapi itu urusan keluarga mereka. Aku tidak berhak tau.

Aku mengalihkan tatapanku dari wajahnya ke piring makananku. Jajangmyeon.. hahh sejak kapan aku menyukai makanan ini??

Hmmm di China pasti tidak ada makanan seperti ini. Apa dia bisa makan dengan baik??

Aisss apa yang ada di otakku sebenarnya?? Kenapa aku bisa gila seperti ini?? Apa begini jika kita benar-benar merasa bersalah pada seseorang?? Membuat otak tak pernah bisa jauh dari tentangnya?? Aigoo tak kusangka merasa bersalah bisa menguras emosi seperti ini, bahkan mengakibatkan kerusakkan pada sel jaringan otak-mu.

Drrtt.. ddrrttt..

Aku menolehkan kepalaku dan langsung menyambar ponsel yang ada di samping piringku. Jino?? Nama Jino terpampang di layar ponselku.

“Jino~ya??” panggilku. “Toko buku?? Pekerjaanku selesai jam 08.00 malam, setelah itu aku bisa menemanimu.”

“Ne, baiklah. Aku tunggu kau di depan restoran tempatku bekerja.”

Sedetik kemudian aku memutuskan teleponnya dan setelah itu kudapati Chaerin yang menatapku dengan penasaran.

“Jino??” tanyanya dan kujawab dengan anggukan kepala. “Mau apa??” sambungnya lagi.

“Memintaku menemaninya ke toko buku.”

 

*****

Aku bergegas mengganti seragam pelayanku dengan baju yang kukenakan saat kuliah tadi. Jam kerjaku sudah usai dan sepertinya Jino sudah menungguku di depan Restoran.

Kumasukkan semua barang-barangku ke dalam tasku, tapi tanganku langsung terhenti ketika melihat Chaerin berlalu di hadapanku dengan kepala tertunduk lemas.

“Waeyo??” tanyaku.

“Hmmm??” sahutnya. “ Ah, Annieyo,” sambungnya lagi dengan lemah.

“Kau yakin??”

“Ne, nan gwaenchanayo. Ayo pulang.”

Dia langsung memunggungiku dan menuju pintu keluar. Aku menyusul langkahnya dan berjalan di sampingnya.

Aku melambaikan tanganku ketika melihat wajah Jino yang dari balik jendela mobilnya. Sedetik kemudian Jino membuka pintu mobilnya dan turun dari kereta kudanya itu.

Aku tersenyum padanya, dan melangkahkan kakiku mendekat. Tapi dengan seketika kakiku langsung terhenti ketika tangan seseorang mencengkeram lenganku. Kutolehkan kepalaku dan mataku langsung menyipit ketika melihat Chaerin membungkukkan tubuhnya sembari memegangi perutnya dengan tangannya yang bebas.

“Chaerin~a,” panggilku. Saat itu juga dia langsung mendongakkan kepalanya, membuatku bisa melihat wajahnya yang meringis dengan menggigit bibir bawahnya.

“Perutku.. sakit sekali. Kepalaku juga pusing,” rintihnya.

Aku langsung meletakkan tanganku di dahinya.

“Kau tidak panas, wajahmu juga tidak pucat. Lagi pula tadi kau baik-baik saja, kenapa bisa tiba-tiba seperti ini??”

“Mollayo. Tapi kepala dan perutku sakit sekali,” jawabnya lemah.

“Ada apa??” Tiba-tiba saja Jino sudah berdiri di hadapan kami.

“Chaerin, sepertinya sakit.” Jawabku sembari memegangi tubuh chaerin yang merebahkan kepalanya dengan lemas di pundakku.

“Biar kuantar.”

 

*****

“Jino~ya, sekali lagi aku minta maaf. Aku tidak mungkin meninggalkannya sendirian, di sini dia tidak memiliki siapa pun. Tak ada seseorang yang bisa membantunya jika nanti dia membutuhkan sesuatu,” ucapku dengan nada menyesal ketika mengantar Jino keluar rumah Chaerin.

“Gwaenchana, kau tidak perlu meminta maaf seperti itu, Hye-Na~ya. Lagi pula kau bisa menemaniku besok atau lusa.”

“Ne, besok pasti aku menemanimu, setelah pulang kuliah,” jawabku.

“Baiklah. Aku pulang dulu.”

Aku berbalik dan masuk ke dalam rumah Chaerin setelah mobilnya berlalu dari hadapanku. Malam ini aku akan menginap di rumah Chaerin, dia yang memintaku menemaninya malam ini, sepertinya kondisinya cukup parah.

Tapi sedetik kemudian pikiranku langsung terpatahkan ketika kulihat dirinya yang sedang duduk di depan laptopnya, sembari menyesap minuman kalengnya dengan kekehan-kekehan kecil di bibirnya.

“Yak!!!” hardikku. “Bukankah kau sedang sakit?? Atau jangan-jangan kau membohongiku??”

Chaerin menolehkan kepalanya dan menatapku dengan tatapan polosnya, membuat darahku naik ke ubun-ubun.

“Siapa yang membohongimu?? Tadi aku memang sakit, tapi sekarang sudah sembuh,” jawabnya.

“Secepat itu??” teriakku gusar.

“Yah, kurasa efek dari obat yang kau berikan padaku tadi.”

Aku mendengus kesal mendengar jawabannya dan menghempaskan tubuhku ke atas ranjang kecilnya. Efek obat?? Aku malah sangat tidak percaya dengan alasannya itu.

“Sudahlah, sudah lama kau tidak menginap di rumahku. Jika bukan karena aku sakit, kau juga tak akan mau menginap di rumah kecil ini,” ucapnya lagi yang langsung membuatku menatapnya shock.

“Kenapa kau bicara seperti itu?? Apa menurutmu aku anti menginjakkan kakiku di rumahmu?? Kau membuatku kesal!!”

“Hahaha, aku hanya bercanda. Sengaja membuatmu kesal. Lupakan.”

Lupakan?? Enak saja, aku sangat tidak suka mendengarnya bicara seperti itu. Tujuh tahun dia menjadi sahabatku, berani-beraninya menggodaku dengan lelucon yang tidak lucu seperti itu.

“Hye-Na~ya, Kyuhyun Oppa sedang berada di China ‘kan?? Bagaimana keadaannya sekarang??”

“Mana aku tau dan aku juga tak peduli,” balasku gusar kemudian langsung memunggunginya.

Keadaannya?? Kau pikir aku punya indera keenam yang bisa tau semua tentangnya, sedangkan pria menyebalkan itu tak memberikan kabar apa pun padaku??

“KYUHYUN OPPA!!!” ucap Chaerin setengah menjerit dan sontak membuatku mengangkat kepalaku, menolehkan kepalaku ke arah pintu.

Aku langsung mendengus kesal ketika tak kudapati siapa pun di depan pintu.

“Aigoooo tampan sekali.”

Aku kembali memandang Chaerin yang masih berfokus pada laptopnya dengan senyum menjijikkan ketika melihat video super junior yang ada di laptopnya. Aisss menyebalkan… Kulempar kepalanya dengan bantal, membuatnya menggeram ke arahku.

“Yak kenapa kau melemparku??” protesnya.

“Berisik!!!” balasku kemudian menenggelamkan kepalaku di bantal.

Kenapa aku malah mengira Kyuhyun berada di rumah Chaerin dan akan menyeretku pulang ke rumahnya padahal aku tau raja setan itu sedang berada di China??

 

*****

Kyuhyun’s POV

“Yeoboseo.”

“Kau harus berterima kasih padaku, oppa,” cerocosnya.

“Untuk apa??”

“Kau tau?? Tadi Jino mengajak Hye-Na ke toko buku, tapi karena aktingku yang hebat ini rencana mereka gagal. Aku pura-pura sakit dan membuat Hye-Na menginap di rumahku. Bukankah itu hebat?? Kau harus berterima kasih padaku.”

Aku tersenyum puas mendengar ucapannya, membuat kening Zhoumi hyung yang duduk dihadapanku seketika itu juga berkerut. Aku tidak salah mengandalkan seseorang.

“Kau memang pantas diandalkan. Gomawo.”

“Ne, tapi kau jangan lupa dengan janjimu, oppa,” gerutunya.

“Hahaha arasseo. Setelah kembali ke Korea, aku pasti menepatinya.”

“Nuguya?? Kenapa bisa sesenang itu?? Hye-Na??” Zhoumi hyung memberondongku dengan pertanyaannya ketika aku memutuskan telepon Chaerin.

Aku menggeleng pelan dan tersenyum padanya. “Annie, tapi seseorang yang bisa membantuku mendapatkan takdirku,” jawabku kemudian meninggalkannya begitu saja.

“Yak Kuei Xian apa kau benar-benar sudah gila?? Akhir-akhir ini ucapanmu tak ada satu pun yang dimengerti,” teriaknya tapi aku tak menghiraukannya.

Hanya lima hari lagi, Na~ya. Setelah itu tak ada kesempatan kedua untukmu melepaskan takdirmu.

 

*****

“Gomawo, sudah menemaniku,” ucap Jino ketika buku yang dicarinya berada di genggamannya saat ini.  Yah sesuai dengan ucapanku tadi malam, sepulang kuliah aku pergi menemaninya, setelah bersusah payah menghindari Chaerin. Akhir-akhir ini gadis itu benar-benar aneh.

“Ingin minum?? Tunggulah di sini, aku membeli minuman sebentar,” ucapnya lagi yang kujawab dengan anggukkan kepala.

Aku mengedarkan pandanganku ke sekitarku. Mall cukup ramai saat ini, tapi Jino berani-beraninya ke tempat ini tanpa penyamaran sama sekali. Hanya menggunakan kaca mata hitam yang menutupi matanya. Melihatnya saat ini, mengingatkanku pada saat Kyuhyun ke kampusku. Membuatku terkekeh pelan ketika melihat ekspresinya yang shock waktu itu karena ulahku.  Astaga adik dan kakak sama saja. Atau karena mereka sadar, dengan penyamaran apa pun mereka itu tetap saja terlalu mencolok?? Tapi apa mereka tak memikirkan nasibku?? Nasibku akan mengenaskan jika ada orang yang mengenali wajahku sedang berjalan dengan idola mereka.

“Minuman dingin, tak apa??” ucap Jino yang tiba-tiba sudah berada di sampingku sembari menyodorkan sekaleng minuman.

Aku mengangguk pelan. “Gomawo.”

“Bagaimana rasanya menjadi tunangan Kyuhyun hyung??”

Aku langsung tersentak  mendengar pertanyaannya yang tiba-tiba. Aku menolehkan kepalaku cepat ke arahnya.

“Rasa??” ucapku dan terkekeh pelan, kemudian menyesap minumanku untuk mengendalikan ekspresiku.

“Apa akan sama jika bertunangan denganku??”

Byurrrrr… minuman yang sedang berada di mulutku, muncrat begitu saja ketika mendengarnya. Dengannya?? Astaga…

Aku membersihkan sekitar mulutku yang basah dengan tanganku.

“Akhir-akhir ini, kau terlalu banyak bercanda,” elakku, tak tau harus menjawab apa.

Aku melangkahkan kakiku kembali dan diikuti olehnya yang berjalan di sampingku.

“Ne, aku hanya bercanda,” jawabnya dengan santai.

Apa akan sama jika bertunangan dengannya?? Pasti sangat berbeda. Tapi sekarang aku tak tau mana yang lebih baik.

Sebuah tangan yang melingkar di pergelangan tanganku berhasil membuyarkan pikiranku dan membuat langkahku terhenti, tapi sedetik kemudian genggaman itu menarik tanganku, membuat kakiku mengikutinya. Aku berusaha melepaskan genggaman itu tapi Jino tetap tak melepasnya.

Jino membawaku ke toko aksesoris. Lagi-lagi aku tersentak ketika dia menempelkan sesuatu di rambutku.

“Yeppo. Jepit rambut itu cocok denganmu.”

Tanganku langsung bergerak menyentuh jepit rambut itu, melepaskannya dari rambutku. Kutatap jepit rambut berbentuk bunga sakura itu dan kemudian memandangnya.

“Anggap itu ucapan terima kasihku,” lanjutnya lagi.

 

*****

Kyuhyun’s POV

“Hyung kenapa belum bersiap-siap?? Dua jam lagi kita pulang ke korea,” teriakku ketika melihat mereka yang berkumpul di depan laptop Eunhyuk hyung.

Menonton video yadong?? Aisss apa-apaan mereka?? Apa tidak ingin pulang ke Korea dan ingin tetap tinggal di sini??  Aku tidak mau, sudah cukup aku tinggal di sini.

“Yak Hyung!!!” teriakku lagi ketika tak mendapati jawaban mereka.

“Aisss diam Kyu. Pesawat kita kan dua jam lagi, untuk apa terburu-buru,” balas Eunhyuk hyung. Dasar monyet sialan.

“Sebenarnya apa yang kalian lihat??”

“Omoooo… Bukankah itu Jino??” ucap Sungmin hyung shock.

Aku mengerutkan dahiku. “Waeyo??” tanyaku.

“Dan bukankah gadis ini…” Donghae hyung tak melanjutkan ucapannya, tapi yang kudapatkan saat ini adalah sorotan takut dari member terhadapku. Membuatku bingung saja.

Aku melangkahkan kakiku mendekat dan saat itu juga mataku melebar ketika melihat foto yang terpampang di layar laptop Eunhyuk hyung.  Meskipun yang terlihat hanya punggung mereka, aku tau pasti siapa yang ada di foto itu.

Dengan seketika Rahangku mengeras ketika membaca kalimat yang tertulis di atasnya. ‘Jino’s GirlFriend??’ dan aku langsung mengepalkan tanganku, menahan emosiku saat kudapati tangan mereka yang bertautan.

Kubalikkan tubuhku dan masuk ke dalam kamarku. Kubanting pintu kamarku dengan keras, tak kupedulikan jeritan kaget dari para member.

Kau… Kenapa kau tega melakukan ini padaku Hye-Na?? Sampai kapan pun kalimat itu tak akan pernah terjawab. Aku tak akan membiarkan Jino menjawab pertanyaan itu, Na~ya!!!!

 

*****

Hye-Na’s POV

PLAKKK..

Sebuah majalah terbanting cukup keras di atas mejaku. Shock. Aku mengangkat kepalaku dan mendapati Chaerin yang berdiri di hadapanku dengan tatapan marah.

“Apa kau senang sekarang??” hardiknya.

Aku mengerutkan dahiku dan berdiri di hadapannya. Kubalas tatapannya yang jujur saja membuatku bergidik. Selama aku mengenalnya, baru kali ini aku melihatnya semarah ini dan itu kepadaku. Memangnya aku melakukan kesalahan apa??

“Kau puas?? secara perlahan keinginanmu akan menjadi kenyataan.”

“Sebenarnya kau sedang bicara apa??” ucapku sedikit terbawa emosi. Siapa pun tak akan terima jika tiba-tiba ada seseorang mengamuk padamu tanpa alasan yang jelas.

Chaerin menyambar majalah yang di bantingnya tadi kemudian membuka setiap lembar majalah itu dengan kasar. Dia tersenyum sinis padaku dan menunjukkan sebuah foto yang sukses membuat mataku terbelalak.

Foto ini.. Tidak mungkin..

Aku mengalihkan tatapanku dari foto itu dan kembali memandang wajah Chaerin.

“Eotteokeh?? Foto yang bagus bukan??” cibirnya.

“Chaerin~a.. Aku.. aku dan Jino.. Aku tidak tau..”

“Tidak tau bahwa kau akan ketauan selingkuh??” sambarnya.

Mulutku menganga mendengar ucapannya. Selingkuh?? Astaga kata apa itu?? Aku tak mengenal kata itu. Lagi pula aku selingkuh dari siapa??

“Aku sungguh tidak mengerti pikiranmu sekarang Hye-Na~ya. Aku tau kau merasa terpaksa bertunangan dengan Kyuhyun oppa. Tapi, hampir satu bulan kau mengenalnya, apa itu juga belum bisa membuka pikiranmu?? Statusmu sebagai tunangan Kyuhyun tertutupi dan malah berita dirimu sebagai kekasih Jino menyebar luas seperti ini?? Kau senang kan sekarang?? Sekali pun kau tak menyukainya, tapi pikirkan perasaannya Han Hye-Na.”

“Untuk apa aku memikirkannya, sedangkan dirinya juga tak pernah peduli dengan diriku!!” balasku gusar. “Dia pria brengsek yang membuatku seperti orang bodoh karena merasa bersalah padanya. Dia pikir dia siapa?? Berani-beraninya mengintimidasiku dengan sikap dinginnya!!!”

“Terserah apa yang kau katakan. Aku hanya tidak mau kau menyesal hanya karena egomu, Hye-Na~ya,” ucapnya tajam kemudian meninggalkanku begitu aja.

Kenapa semua orang selalu menyalahkanku?? Sepertinya hidupku benar-benar kutukan. Satu per satu orang terdekat di dalam hidupku menjauh.

 

*****

 

Hyena’s POV

Aku berrjalan menuju kamarku. Hari ini benar-benar melelahkan. Bukan tubuhku yang lelah tapi hatiku. Kuulurkan tanganku untuk membuka kenop pintu kamar, tapi tanganku terhenti begitu saja ketika mendengar pintu di sebelah kamarku terbuka.

Aku terpaku ditempatku, terus menunduk-menatap sepasang sepatu yang berada di sampingku.  Kuberanikan mengangkat kepalaku dan seketika itu juga mulutku menganga. Ntah, perasaan apa, tapi rasa lelah yang kurasakan sebelumnya menguap begitu saja ketika melihat wajahnya. Ada rasa lega ketika melihatnya kembali menatap mataku. Setelah beberapa hari tak melihatnya, rasa senang memuncah begitu saja. Tapi raut wajahnya…

“K-kau sudah pulang??”

“Hmmm,” gumamnya pelan kemudian melangkahkan kakinya menuruni setiap anak tangga.

Aku menggembungkan pipiku sembari menatap punggungnya yang menjauh. Masih mengacuhkanku.

Lagi-lagi aku ingin menangis. Aisss kenapa akhir-akhir ini begitu banyak persediaan air mataku yang terbuang percuma karena alasan yang aku sendiri tak mengerti??

Foto itu?? Apa kau lihat?? Kau tambah marah padaku?? Aisss Cho Kyuhyun, kau pria gila yang juga ingin membuatku gila!!!

 

*****

 

Kyuhyun’s POV

Aku sungguh ingin menarik tubuhnya ke dalam pelukanku ketika mataku benar-benar menyusuri wajah sempurnanya. Masih sama, cantik seperti Na~ya ku yang dulu.

“K-kau sudah pulang??”

Suaranya yang sedikit gemetar membuyarkan lamunanku. Aku mengalihkan pandanganku dari wajahnya dan sialnya tak sengaja mataku menangkap tangannya yang terkepal di samping tubuhnya. Tangan itu..

“Hmmm,” hanya gumaman pelan yang bisa keluar dari bibirku.

Aku melangkahkan kakiku begitu saja, emosi yang susah payah kuredam sejak perjalanan China-Seoul menjadi sia-sia. Hye-Na milikku. Aku tak pernah rela pria mana pun menyentuhnya, apa lagi tangan itu seharusnya diriku yang menggenggamnya, Bukan Jino. Jino bukan siapa-siapa di dalam hidup Na~ya. Aku yang lebih dulu mengenal Na~ya. Jino tak berhak mengubah takdir Hye-Na.

Aku terus berjalan, menuju mobilku yang berada di garasi tapi langkahku terhenti ketika kulihat Jino yang tengah berada di teras kemudian berjalan masuk ke dalam rumah. Tatapanku bertemu pandang dengan matanya, dan saat itu juga aku yakin, Jino benar-benar menantangku. Tatapan itu masih sama dengan tatapannya beberapa hari yang lalu.  Kubalas tatapannya dan kutahan bahunya ketika dirinya berusaha melewatiku begitu saja.

“Apa kau sudah gila??” ucapku pelan tapi tajam.

Jino mendengus pelan, sembari melepaskan cengkeramanku di bahunya, kemudian menatapku sinis.

“Lalu kenapa?? Kau tidak terima??” balasnya yang membuatku menggertakkan gigiku.

“Turunkan nada bicaramu Cho Jino,” geramku. “Apa kau sadar?? Kau membuatnya dalam masalah. Aku berusaha mati-matian melindunginya, tapi kau dengan mudahnya melibatkan dirinya dalam masalahmu.”

“Hah,” dengusnya. “Masalah?? Masalah apa??” tantangnya. “Ini hanya maalah sepeleh yang akan hilang dengan begitu mudahnya dalam hitungan jam, bahkan perusahaan tak mempermasalahkan berita tidak penting seperti itu. Tak kusangka aku memiliki hyung pengecut seperti dirimu.”

Tubuhku mengejang begitu saja mendengar ucapannya. Cho Jino?? Benarkah ini makhluk yang tumbuh menjadi dewasa hingga brengsek di depan mataku??

“Jujur saja padaku Cho Kyuhyun, kau tak perlu menggunakan keselamatan Hye-Na sebagai alasanmu. Bukan pemberitaan itu yang tak kau terima, tapi karena aku menggenggam tangan Hye-Na.”

“Diam,” desisku tajam, menahan emosiku.

“Satu hal lagi, berhentilah berbicara seolah-olah kau malaikat pelindung Hye-Na. Setan seperti dirimu selamanya hanya bisa menyakitinya, melukainya dan membuatnya menangis. Mengintimidasinya hanya karena kesalahan kecil. Tak sadarkah kau sebrengsek itu, Cho Kyuhyun??”

Amarahku memuncak. Dengan cepat kucengkeram kerah bajunya, menarik wajahnya berada di depan wajahku dan menatapnya garang. Menyakitinya?? Melukainya?? Membuatnya menangis?? Kata-kata itu..

“Tutup mulutmu Cho Jino!!” ucapku gusar dengan napas memburu. Aku tak peduli siapa dirinya sekarang. Aku tidak peduli meskipun dia adikku.

“Eomma pulang!!!” teriakan itu membuatku mengalihkan tatapanku dari wajah Jino. Aku mengepal tanganku berusaha tidak menghajarnya di depan eommaku.

“Kyunie, jino~ya, mana Hye-Na,” ucap eomma lagi ketika sampai di depan pintu rumah.

Aku melepaskan cengkeramanku di baju Jino dengan gemetar, kemudian mendorong tubuhnya pelan, membuatnya mundur satu langkah.

Aku tak mempedulikan sapaan eomma atau appa, dan terus berjalan menuju mobilku. Kupacu mobilku dengan kecepatan penuh.

Aku tidak pernah sengaja menyakitinya. Aku tidak pernah berniat melukainya. Aku bahkan tak ingin melihat air matanya. Kau salah Jino!!! Kau tak tau apa-apa tentangku dan Na~ya!!!

 

*****

Hyena’s POV

Aku mengerjap-ngerjapkan mataku pelan ketika kudengar derap kaki yang mendekati kamarku. Dengan berat kubuka mataku dan kulirik jam dinding yang ada di kamarku.

Berisik sekali. Ini jam 1 pagi, mengganggu waktu istirahat orang saja.

“Aku ini raja setan, hyung.. haha”

Sontak kepalaku langsung menoleh ke pintu kamarku. Suara itu.. Suara Kyuhyun??

Aku turun dari ranjangku dan berjalan menuju pintu kamar.

“Sssstttt jangan berisik bodoh. Aku tau kau setan,” ucap seseorang yang terdengar seperti bisikan di telingaku.

Dengan cepat kuputar kenop pintu kamarku dan sedetik kemudian mulutku menganga melihat Kyuhyun yang terkulai dan sepertinya hanya bisa berdiri karena di sanggah oleh.. Donghae oppa?? Tangan Kyuhyun melingkar di pundak Donghae oppa.

“Oppa??” panggilku pelan.

Donghae oppa menoleh ke arahku dan saat itu juga aku bisa melihat wajah Kyuhyun yang kusut dengan mata terpejam.

“Sssttt pelan kan suaramu,” bisik Donghae oppa.

Aku mendekati mereka yang berdiri di depan kamar Kyuhyun.

“Oppa, Kyuhyun..”

“Dia mabuk..” sambar Donghae oppa memotong ucapanku.

“Mwoya?”

“Aisss dia benar-benar menyusahkan. Tiba-tiba saja dia datang ke dorm dengan membawa beberapa botol minuman. Menghabiskan minuman-minuman bau itu dengan gila. Bahkan dia juga membuat member yang lainnya mabuk. Eunhyuk kabur begitu saja, sedangkan Siwon pulang ke rumah orang tuanya. Bocah setan ini merepotkanku saja,” ucap Donghae oppa cepat sembari menjitak pelan kepala Kyuhyun.

Aku mengerutkan alisku bingung. Kupandangi wajahnya, terlihat lelah. Dasar bodoh, seharusnya kau beristirahat di rumah bukan menghabiskan waktumu dengan minum-minum seperti itu. Kau dan Jino sama saja!!

“Kau tau?? Bahkan dalam keadaan mabuk berat seperti ini dia memaksa untuk pulang dan menyetir sendiri. Apa dia ingin membuat kami hampir kehilangan magnae kurang ajar ini lagi, heh?? Jika hal itu terjadi lagi, aku tidak yakin magnae kurang ajar ini bisa selamat. ”

“De??” Tanyaku tak mengerti.

“Aisss sudahlah, bantu aku buka pintu kamarnya.”

Aku menuruti perintah Donghae oppa dan mengikutinya yang mengantar tubuh Kyuhyun yang lebih besar darinya itu ke atas ranjang.

“Aigooo sungguh kutukan bagi Super Junior memiliki magnae menyebalkan dan kurang ajar seperti dirinya.”

Aku terkekeh pelan mendengar ocehan Donghae oppa. Kutukan?? Tapi mungkin juga akan berbeda jika dia tidak hadir di kehidupan ini.. Mwo?? Aisss aku sedang memikirkan apa??

“Aku pulang dulu, Hye-Na~ya,” pamit Donghae oppa dan kubalas dengan anggukkan.

“Gomawo oppa.”

Aku menarik selimut dan menutupi tubuh Kyuhyun ketika Donghae oppa menghilang dari kamar ini. Bau alkohol sangat menyengat dari tubuhnya.

Sebenarnya ada apa?? Aku merasa ada begitu banyak hal yang disembunyikannya.

Aku menarik napasku dalam dan menghembuskannya perlahan, kemudian berbalik memunggunginya. Sudah sangat larut, waktunya untuk beristirahat. AKu melangkahkan kakiku, tapi hanya beberapa langkah tubuhku langsung tertarik ke belakang, dan sedetik kemudian kurasakan tubuhku tersentak kaget saat seseorang memelukku… erat. Aku menahan napasku ketika kusadar siapa yang memelukku. Kyuhyun.. Tangannya menarik tubuhku semakin dalam ke pelukannya, membenamkan wajahnya ke rambutku.

“Kyu..”

Ucapanku terhenti ketika kudengar isakan pelan di dekat telingaku. Aku tersentak mendengarnya. Isak tangis?? Kyuhyun??

“Mianhae.. mianhae.. aku tak pernah melupakanmu,” ucapnya pelan di sela-sela isaknya.

Aku berusaha melepaskan pelukannya, tapi tangannya semakin mengeratkan pelukannya di punggungku dan membenamkan wajahnya di bahuku, membuat kepalaku sedikit mendongak karena tubuhnya yang tinggi.

“Kyuhyun~a,” panggilku tapi dia tidak menghiraukannya.

“Aku tidak pernah melupakanmu. Mianhae.. jangan hukum aku seperti ini.. lihat aku.. Ini aku.. Ini aku.. Lihat aku.. aku mohon, jangan menghukumku seperti ini.. Mianhae,” racaunya terus tanpa bisa kumengerti.

Tapi sedetik kemudian, tak ada suara apa pun lagi yang kudengar selain detak jarum jam. Tak ada satu kata pun lagi yang keluar dari mulutnya, dan saat itu juga pelukan Kyuhyun mengendur, bahkan hampir jatuh jika saja aku tidak menahan tubuhnya.

Dia Menangis?? Aku tidak mengerti ucapannya dan aku juga tidak tau untuk siapa, tapi aku sadar ucapannya sarat dengan kepedihan. Seperti sesuatu yang ditahan dan disimpannya begitu lama. Ntah dorongan apa, tanganku bergerak begitu saja ke punggungnya. Membalas pelukannya. Seperti ada magnet yang menarik tanganku untuk memeluk tubuhnya yang terasa begitu lemah.

 

To be continue..

 

Hahhhh akibat menggalau gr2 gak bs liat Hae selesai juga part ini.. Kacau?? Hancur?? Yah apa pun menurut kalian, harus ttp comment y.. kritik sarannya di terima koq, tenang saiia jg gak bkal nyantet xan kl gak suka ma part ini.. aku kan yeoja baik-baik, manis, n imut, jd gak bkal nyakitin xan #plakkkk..

Kl bnyak typo, mian ya, gak ngedit lg soalnya…

Apa lagi ya, kyknya itu aja dehh.. oooo 1 lg bwt Lee Donghae, ikan paling tampan di muka bumi ini.. kita gak ketemu kali ini oppa, tapi mudah2an ada kesempatan lainnya.. appa mertuamu gak ngizinin istri tercintamu ini untuk terbang ke Jakarta… jadi mski gak bs ketemu di dunia nyata di mimpi pun udh cukup.. selesai konser, jgn lp mampir ke mimpiku dl ya, gak ap2 deh bau keringat asal jangan nongol dengan benda jelek, kecil, item yang tertempel di kupingmu.. kl berani, saiia tebas kepalamu..

Saranghae LEE DONGHAE!!!!

9 thoughts on “Love Challenge part 6

  1. HUAAAAAAAAA,, babykyu don’t cry :'(
    cini cini qt peyukan teletubies :)
    gpp byk typo jg,, ttp suka koq ^^

    Jng dbhas de ikan 1 itu,, PERFECTION \~^_^~/d
    Jng sakiti babykyu!!!

  2. annyeong chingu….

    aq baru ne bc ff chingu ne……..
    cerita’a bagus…….

    lajuta’a jgn lm” y chingu……..

  3. wah..bagus bgt mkn menarik n seru aj cerita’ny..
    kyk’ny bkl’an ad persaingan cinta antra kakak n adik nich.. hehehehehehehehe
    cerita d’part ni mkn jelas aj cz udh mulai trungkp siapakh kyuhyun itu n ad hubungan ap dgn hyena dulu..
    jd tmbh gregetan bwt cpt2 baca next part’ny.. >.<

  4. sedih bacanya. .
    hyena kapan sadar sih kalo sebenernya dia tu cinta sama kyu. .
    kata kata waktu kyu mabuk itu buat siapa si?
    aku tunggu kelanjutannya. . .

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s