[Freelance] Love Challenge part 5

Hye-Na’s POV

Aku bangkit dari ranjang dengan selang infus yang masih tertancap di tanganku. Membuat hatiku yang panas terasa sedikit lebih dingin karena alirannya. Aku berjalan mendekati jendela kamar ini, memandang-ntahlah aku juga tak tau apa yang kupandangi saat ini. Aku seperti tak memiliki fokus.

Aku menghela napas pelan, mengisi udara segar di dalam paru-paruku, mungkin dengan begitu juga akan membantu otakku untuk berpikir jernih. Tapi sial, tak ada efek apa pun yang kurasakan saat ini. Kenapa para suster tidak menancapkan puluhan selang infus di kepalaku?? Mungkin dengan begitu bisa membuat otakku menjadi lebih dingin.

Lagi-lagi aku menghela napasku, mencoba menghalau semua perasaan yang kembali bercampur aduk di dadaku. Apa yang ingin kulupakan selama ini, kembali berputar di kepalaku, seperti kilasan-kilasan drama yang pernah kutonton. Semuanya terasa menyakitkan. Aku benci terlihat lemah seperti ini, tapi kenapa air mata ini malah mengalir semakin deras.

”Yak!!! Michyeoseo?? Apa kau benar-benar ingin mati hingga mengejar bahaya seperti itu?? Apa karena bertunangan denganku hingga membuatmu ingin bunuh diri seperti itu??”

 ‘Eomma janji tak akan meninggalkanmu. Eomma ada di sini, menemanimu tidur.’

‘Kau harus menungguku di sini, aku pasti kembali.’

‘Appa tak akan meninggalkanmu seperti eomma. Kau harus percaya.’

Ingin sekali mengabaikan semua bisikan-bisikan itu dan membalas teriakannya. Tapi bahkan aku tak mampu menoleh ke arahnya dan terus terpengaruh dengan rasa sakit itu.

Aku menggigit bibir bawahku menahan isak tangis. Janji?? Cih semuanya terdengar seperti lelucon di telingaku. Kenapa semua kalimat itu kembali bergaung di telingaku??

Aku menundukkan wajahku, aku menyerah.. aku tak bisa menahan air mataku lagi. Terbuang… Ternyata sangat menyakitkan…

”Yak ba..”

”N..neo.. ka.. kau menangis??”

Aku tak menghiraukan ucapannya, bahkan aku tak tau sejak kapan dia sudah berdiri di sampingku.

“Ya,” panggilnya lagi.

Sakit.. dadaku benar-benar sakit.

”Kenapa semua orang hanya bisa berjanji tanpa bisa menepatinya??”

”De??” aku bisa mendengar nada kaget dari suaranya.

Aku ingin melupakan semua itu. Aku ingin terbebas dan kembali ke kehidupan normalku tanpa merasakan kembali rasa sesak ketika kau merasa diingkari.

”Dulu eomma berjanji tak akan meninggalkanku. Eomma berjanji akan selalu menemaniku. Eomma berjanji akan terus hidup untukku, tapi ternyata eomma pergi meninggalkanku dan appa. Appa sudah berjanji tidak akan meninggalkanku seperti eomma, tapi nyatanya appa juga meninggalkanku begitu saja. Appa membuangku begitu saja.”

Aku mengangkat kepalaku dan menatap lurus ke manik matanya.

”Dan dia..” Aku bahkan tak sanggup menyebutkan namanya.

”Dia juga tak pernah menepati janjinya. Dia tak pernah datang untuk menemuiku. Bahkan sampai detik ini aku tidak pernah melihatnya berdiri di hadapanku. Kenapa semua orang mengingkariku?? Kenapa semuanya membuangku?? Kenapa semua orang yang kusayangiku tak ada yang menginginkanku??”

Aku bisa merasakan tangan itu melingkar di bahuku dan dengan hati-hati menarikku ke pelukannya, seolah-olah tak ingin menyakitiku. Dan ntah kenapa tubuhku tak menolak sama sekali, bahkan aku membenamkan wajahku lebih dalam di dadanya, seakan aku kehilangan kesadaranku. Tanpa sadar aku mengangkat tanganku dan melingkarkannya di pinggangnya. Nyaman.. Terasa sedikit nyaman ketika kau merasakan ada orang yang sedang menyanggah tubuhmu untuk tetap berdiri.

BRAKKK..

Aku tersentak kaget mendengar suara keras itu. Suara pintu yang terbuka dengan kasar. Aku menolehkan kepalaku dan kudapati Chaerin dan Jino yang tengah berdiri di depan pintu sembari menganga.

Aku mengangkat kepalaku dan saat itu juga dia menundukkan wajahnya, membuat tatapan kami bertemu. Aku terpaku.. terpaku melihat tatapan itu.

”Eh.. M-mian… aku tak tau kalian… uh, aku hanya ingin bilang Dokter sudah mengizinkan Hye-Na pulang.”

Mata itu masih menatapku. Seakan membiusku. Tapi sedetik kemudian suara pintu yang kembali tertutup membuat kesadaranku mengumpul. Aku langsung mendorong tubuhnya dan memalingkan wajahku. Air mataku mengering begitu saja.

Aisss kenapa aku bodoh sekali..

”Yak, kau pasti sengaja melakukannya. Kau ingin mencuri kesempatan,” geramku tapi tak berani menatap wajahnya.

Untuk beberapa detik tak ada jawaban apa pun darinya, tapi sesaat kemudian aku bisa mendengarnya mendengus kesal.

”Kesempatan??” ulangnya dengan nada mengejek. ”Cih~ seharusnya kau berterima kasih padaku karena sudah rela membiarkan bajuku basah dan kotor karena air matamu. Menjijikkan…” desisnya lagi.

Menjijikkan??

”Mwoya??” teriakku dan langsung menoleh ke arahnya. Lagi-lagi wajahnya berubah menjadi angkuh dan menyebalkan. Membuat jiwa iblisku muncul.

Aku mengangkat tanganku dan siap menghajar wajahnya, tapi langsung kuurungkan ketika rasa perih di sikuku menyerang dan membuatku meringis. Appo~

”Cih~” lagi-lagi dia mencibirku. ”Waeyo?? Tak bisa mengeluarkan jurus andalanmu?? Tak bisa menghajar wajahku atau menendang tulang keringku??” ejeknya lagi yang membuat mataku semakin melebar. ”Dasar bodoh, luka di kaki dan tanganmu tak mungkin hilang hanya dalam hitungan jam.”

Aku menghembuskan napasku kesal, dan memalingkan wajahku. Melihat wajah tampannya itu membuat darahku semakin mendidih. Astaga~ apa yang baru saja kukatakan?? Tampan?? Baiklah, tapi Jino jauh lebih baik dan menarik.

”Bereskan semua barang-barangmu, setelah itu kita pulang. Dan berhentilah membuatku repot karena kecerobohanmu, Han Hye-Na!!” ucapnya ketus kemudian meninggalkanku sendirian. Berjalan seperti seorang Pangeran yang baru saja memarahi pelayannya. Kurang ajar sekali kau Cho Kyuhyun!!!!

 

*****

Kyuhyun’s POV

”Bereskan semua barang-barangmu, setelah itu kita pulang. Dan berhentilah membuatku repot karena kecerobohanmu, Han Hye-Na!!”

Beruntunglah diriku, karena eomma sedang menemani appa di China, jika tidak habislah aku. Meskipun ini bukan kesalahanku, tetap saja eomma akan memarahiku jika tahu hal ini.

Hanya dengan ekor mataku aku tetap bisa melihat ekspresi sebalnya. Ekspresi tak terimanya itu tergambar jelas di wajah sempurnanya, tapi aku tak mempedulikannya dan tetap berlalu begitu saja.

Tadi aku mengatakan apa?? Repot?? Ah, Bukan.. Tapi aku takut jika suatu saat tak pernah bisa melihat wajahnya lagi di duniaku, takut menyadari bahwa dia sudah tak menghirup oksigen yang sama denganku, atau lebih parahnya tak bisa mendengar debaran jantungnya lagi.

Hanya dengan menyadarimu tetap hidup di dunia ini, sudah membuatku tenang, nyaman. Terasa sangat nyaman ketika kusadar bahwa kau memang nyata di dalam hidupku.. Aku lega ketika tanganku bisa menyentuh fisikmu. Setidaknya aku masih memiliki bukti bahwa jantungmu tetap berdetak, darahmu tetap mengalir, paru-parumu tetap mengembang dan mengempis, menandakan kau masih hidup di dalam duniaku. Bernapas di dalam dekapanku, Bukan khayalanku….

 

*****

 

”Heebum merindukanmu.”

Aku menautkan alisku melihat ikan penggombal yang berguling-guling di atas ranjangnya dengan handphone yang masih tertempel di telinganya, bahkan dia tak menyadari kehadiranku.

”A-Annieyo, aku tidak sedang mengejekmu. Aku tau kau tidak suka Heebum dan selalu mengancam akan membunuhnya. Ah, lupakan saja. Apa kau sudah makan??”

Sebenarnya dia sedang berbicara dengan siapa?? Serius sekali. Wajahnya terlihat begitu sumringah, tapi suaranya kaku sekali. Tapi apa?? Heebum?? Aku yakin dengan tebakanku akan benar 100%. Siapa lagi yang selalu berniat membunuh Heebum selain gadis.. ummm dia tidak aneh seperti Oppa-nya, hanya saja sedikit keras kepala dan seenaknya saja.

”Ah, baiklah. Maaf mengganggu kuliahmu. Tapi kau harus makan. Aku… tak mau melihatmu sakit,” ucapnya lagi sesaat sebelum memutuskan teleponnya.

”Kyunie??? Kapan kau datang??” tanyanya shock ketika matanya itu akhirnya mendapatiku yang berbaring di ranjang Teukie hyung, dengan menjadikan tanganku sebagai bantal, dan memandang lurus ke arahnya.

”Sejak kau mengatakan ’Heebum merindukanmu’,” jawabku mengulangi ucapannya tadi dengan nada mengejek. ”Cih~ alasan macam apa itu??”

”Yak!!” geramnya tak terima. ”Siapa yang mengizinkanmu menguping pembicaraan kami??”

”Aku tidak menguping. Kau saja yang terlalu serius melancarkan gombalanmu, hingga tak menyadari kehadiranku.”

”Siapa yang menggombal??” elaknya sembari memalingkan wajahnya.

Aku tak mau melihatmu sakit. Apa itu bukan gombalan?? Itu menjijikkan, Donghae~ya.”

PLETAKKK…

”Keluar kau sekarang Cho Kyuhyun!!!” hardiknya setelah memukul kepalaku.

”Aisss kau kenapa jadi kasar begini?? Apa begini jika ikan sedang jatuh cinta??”

Aku langsung beranjak dari ranjang ketika melihat ikan penggombal itu bersiap menendangku. Tapi saat di depan pintu, aku menghentikan langkahku dan berbalik menghadapnya.

”Yak hyung,” panggilku yang membuatnya kembali menoleh. ”Tak perlu mengobral perhatianmu pada Gaeul. Yeoja akan semakin menjauh jika kau terlalu mendekat. Bersikaplah sedikit dingin dan acuh padanya, dengan begitu dia yang akan mendekat dengan sendirinya.”

”Maksudmu, bersikap seperti dirimu??”

”Yah bisa dibilang begitu.”

Tiba-tiba saja dia tertawa, seolah-olah ada yang lucu dengan ucapanku.

”Kau sedang mengajariku?? Teori dari mana itu?? Astaga bahkan kau sendiri saja belum bisa mengambil hati Hye-Na,” ledeknya.

Mwoya??

”Ya ya ya!!! Siapa bilang aku belum mendapatkan Hye-Na. Kau lupa beberapa hari yang lalu dia sudah menjadi tunanganku!!”

”Yah dengan terpaksa,” balasnya yang semakin membuatku kesal. Kenapa ikan satu ini bisa semenyebalkan ini. Jika tau begini, lebih baik aku tidak datang ke sini tadi. ”Kau pikir aku tidak tau, Hye-Na selalu mencuri pandang ke arah Jino. Tunanganmu itu menyukai adikmu, Kyunie.”

”Terserah kau sajalah ikan. Aku hanya memberi saran. Seorang wanita akan semakin menjauh jika kau terlalu mendekat.”

Dia hanya memandangku sejenak, kemudian kembali memalingkan wajahnya. Dasar ikan, kau meledekku, tapi sebenarnya kau juga tertarik dengan teoriku ’kan??

 

*****

 

Hye-Na’s POV

Blammmm…..

Sontak kakiku terhenti di beberapa anak tangga terakhir ketika melihat Jino menutup pintu rumah dengan kasar. Sebelum pintu itu tertutup, aku sempat melihat seorang gadis berdiri di balik pintu itu. Aku tersentak mendengar suara debuman keras di pintu itu. Tak kusangka malaikat-ku bisa sekasar ini.

Tiba-tiba Jino berbalik ke arahku dan saat itu juga mata kami bertemu. Aku bisa melihat wajahnya mengeras. Jino berjalan ke arahku dan berhenti tepat di anak tangga yang sama dengan yang kupijak. Dia hanya menatapku sejenak, ntah aku tak mengerti dengan pandangannya itu. Tapi, tanpa berkata apa pun dia kembali melangkah. Meninggalkanku yang bingung dengan sikapnya akhir-akhir ini. Sejak kecelakaan yang menimpaku waktu itu, Jino menghindariku. Aku tidak tau mengapa, tapi Chaerin mengatakan Kyuhyun marah padanya ketika di rumah sakit. Aigoo apa dia benar-benar merasa bersalah??

Mataku kembali tertuju ke arah pintu ketika mendengar pintu itu terbuka dan kulihat Kyuhyun dengan gaya pangerannya memasuki rumah. Hah pria itu, dia benar-benar seperti penguasa di rumah ini selama Cho ahjumma dan ahjusshi tak ada di rumah. Bahkan dia seenaknya saja melarangku bekerja, dan bodohnya kenapa aku malah menuruti perintahnya begitu saja. Sepertinya kecelakaan itu membuat otakku bermasalah.

”Kenapa kau berdiri di sini??” tanyanya ketika berada di hadapanku. ”Bukankah aku sudah mengatakan padamu untuk beristirahat di kamar.”

Aku mendengus sebal mendengarnya. Apa dia pikir aku wanita tua yang sepanjang hari hanya terbaring di atas ranjang.

”Aku bosan. Pokoknya besok aku akan kembali kuliah dan bekerja.”

”Andwae,” jawabnya pelan tapi tegas.

”Ya, sampai kapan kau akan mengurungku di rumah?? Sudah tiga hari aku membolos. Aku tidak mau tau, besok aku akan kuliah dan bekerja!!!” ucapku keras kepala.

”Tidak, sampai semua luka itu sembuh.”

”Kubilang, aku akan masuk besok.”

”Kubilang tidak Na~ya!!!”

”Kubilang i…”

Aku langsung menghentikan ucapanku dan menoleh ke arahnya. Kutatap wajahnya, tapi dia langsung memalingkan wajahnya.

Dia bilang apa??

”Kau mengatakan apa tadi??”

”Kubilang tidak,” jawabnya acuh.

”Annieyo, bukan itu. Kau memanggilku apa??” tuntutku.

Aku ingin memastikan apa yang kudengar tadi.

Dia menolehkan kepalanya kembali ke arahku. ”Memanggilmu?? Tentu saja aku akan memanggilmu dengan namamu, Hye-Na~ya. Memangnya kau berharap aku memanggilmu apa?? Jagiya??”

Hye-Na~ya.

Yah, semua kejadian akhir-akhir ini membuatku sedikit gila. Sepertinya kecelakaan itu bukan hanya membuat otakku error tapi juga membuat indera pendengaranku terganggu.

”Aisss sebenarnya kau ini sedang membicarakan apa??” geramnya.

”Bukan urusanmu!!” balasku.

Dia mendelik marah ke arahku, tapi sedetik kemudian dia menghembuskan napasnya dengan pelan. Sepertinya dia berusaha mengontrol emosinya.

”Kau bosan??” tanyanya. ”Mau bermain??”

Aku mengerutkan dahiku bingung. Tanpa memberikan penjelasan lebih, tiba-tiba dia sudah merangkul pundakku dan menarikku berjalan mengikutinya. Kenapa akhir-akhir ini terlalu banyak kontak fisik yang terjadi dengan dirinya dan sialnya kenapa aku hanya diam saja. Aissss Hye-Na babo

 

*****

Kyuhyun’s POV

Aku tersenyum melihat berbagai ekspresi yang muncul di wajahnya dari ranjangku. Aku sengaja berpura-pura membaca buku, padahal sejak tadi mataku tak luput dari wajahnya.

”Membosankan,” dengusnya kemudian meletakkan PSP-ku di atas meja yang ada di hadapannya.

Aku menurunkan bukuku dan meletakkannya di atas ranjang. ”Membosankan?? Ternyata game juga bisa membuatmu bosan??”

”Akan terasa bosan jika tak ada tantangan seperti ini,” ocehnya.

”Tantangan??”

Aku berjalan mendekatinya dan duduk di sampingnya. ”Kau benar-benar ingin tantangan?? Kalahkan aku jika begitu.”

Dia menoleh ke arahku, menatapku dengan sebelah alisnya yang terangkat. Sepertinya dia tertarik.

”Apa yang akan kudapatkan jika aku mengalahkanmu??”

”Apapun,” tapi tidak untuk semua hal yang berhubungan dengan Jino, Na~ya.

”Jika aku menang, aku ingin kau memberikanku satu hari saja bersama Jino, tanpa gangguan sedikit pun darimu.”

”Berkencan maksudmu???” tanyaku memastikan dan dengan tidak berperasaan iblis betina ini menganggukkan kepalanya dengan ringan, membuat darahku mendidih.

”Yah bisa di bilang begitu. Hanya menghabiskan waktu bersama dan diakhiri dengan makan malam, kurasa itu tidak berlebihan.”

Tidak berlebihan??? Dasar bodoh, itu bahkan bisa membunuhku secara perlahan karena kehabisan oksigen. Bagaimana aku bisa bernapas dengan benar jika oksigenku diambil oleh orang lain. Tak akan. Bahkan sedetik pun tak akan pernah, Na~ya.

”Apa kau tidak malu meminta hal itu padaku??” desisku menahan amarah.

”Malu?? Untuk apa aku malu?? Kau satu-satunya orang yang amat sangat tau alasan kenapa aku mau tinggal di rumah mewah keluarga Cho ini ’kan??”

”Baiklah. Tapi jika aku menang, kau harus menciumku.”

Mata indah itu melebar sempurna. Mata favoritku. Dalam keadaan kesal seperti ini, kenapa aku tetap mengagumi kesempurnaan fisiknya di mataku??

Tapi sedetik kemudian..

Plakkkk..

Bantal sofaku melayang tepat ke wajahku. Gadis ini benar-benar bisa menjadi penyebabku mati muda karena terserang darah tinggi.

”Buang jauh-jauh pikiran kotor itu dari otakmu, bodoh.”

”Yak, aku tidak keberatan dengan permintaanmu tapi kau malah bersikap seperti ini,” protesku.

”Permintaanmu itu keterlaluan Cho Kyuhyun!!!”

”Apa menurutmu, meminta berkencan pada adik tunanganmu sendiri bukanlah sesuatu yang keterlaluan, Nona Han??” balasku.

”Kau lupa?? Pertunangan kita hanya sebuah lelucon.”

Tapi tidak untukku Na~ya.

”Aissss Mengaku saja, sebenarnya kau takut ’kan?? Karena kau sudah tau pada akhirnya GameKyu akan selalu menang.”

”Aku tidak pernah mengaku kalah sebelum aku mencobanya!!”

Berhasil. Gadis ini tak pernah bisa di tantang. Ada untungnya juga bagiku sifat keras kepala dan tak mau mengalahnya.

”Baguslah jika begitu,” jawabku enteng.

”Jangan bermain curang Cho Kyuhyun,” ucapnya lagi dengan nada mengancam.

”Tentu saja, Hye-Na~ya.”

 

*****

 

“Andwae.. Andwae.. Andwae.. Akhhhh…” dengusnya sebal.

Aku terkekeh puas melihat ekspresinya yang langsung tak bersemangat setelah mati-matian berusaha mengalahkanku. Siapa suruh menerima tantanganku dan sekarang habislah kau Han Hye-Na.

Jika saja permintaanmu logis di otakku, mungkin aku akan mengalah. Tapi sayang permintaanmu selalu saja berhubungan dengan Jino, membuatku semakin ingin berusaha menang darimu Na~ya.

“Kau kalah nona Han,” ucapku dengan nada sedih, berpura-pura menyesal dengan kekalahannya. “Dan aku tidak curang.”

Aku bisa melihat ekor matanya melirikku tajam. Aku ingin tau apa yang akan dilakukannnya sekarang??

“Wahhh sudah malam. Aku lelah sekali. Aku sudah mengantuk. Sampai jumpa besok pagi,” balasnya.

Jadi kau ingin kabur??

Dengan cepat dia berdiri dan tak kalah cepat pula aku menyambar tangannya, menariknya hingga terduduk kembali di sofa. Setelah itu aku langsung menahannya dengan meletakkan tanganku di sisi kanan dan kiri tubuhnya, membuat tubuh mungilnya itu terkurung di antara lenganku.

“Kau ingin berbuat curang??” ucapku pelan tepat di depan wajahnya.

“A.. Anieyo. Bukankah tadi kau bilang aku harus banyak berisirahat dan sekarang aku ingin tidur.”

Aku tertawa pelan mendengar jawabannya. Alasan macam apa itu, Na~ya?? Katakan saja bahwa kau takut.

“Tapi kau tidak lupa dengan kesepakatan awal kita ‘kan??” godaku dan membuat tubuhnya menegang.

“Yak yak yak!!” geramnya.

Aku mendekatkan wajahku dengan wajahnya, dan sontak membuat mata indahnya itu melebar sempurna. Melihat mata besarnya itu mengerjap-ngerjap takut, membuatku semakin ingin menggodanya. Aku semakin mendekatkan tubuhku, semakin memperkecil jarak diantara kami

Mataku menelusuri setiap lekuk wajahnya. Tapi Rona merah di kedua pipinya membuat jantungku berdetak cepat.

Aisss sial, aku yang ingin menggodanya, kenapa justru aku yang tergoda?? Astaga jika terus begini, aku benar-benar akan kehilangan kendali.

Dengan gerakan cepat aku mendekatkan bibirku ke arahnya, membuatnya langsung menutup matanya. Bahkan aku tak merasakan hembusan napasnya. Sepertinya dia menahan napasnya.

Aku mendekatkan bibirku ke telinganya dan berbisik di sana.

“Aku tidak bernafsu padamu.”

Hye-Na membuka matanya dan menatapku shock. Rasa takutnya masih tersisa di sorot matanya.

“Tapi bukan berarti aku membebaskanmu begitu saja. Kau memiliki satu utang padaku, dan aku akan menagihnya. Kau harus menuruti keinginanku itu.”

“Keinginan apa??” tanyanya cepat.

“Tenanglah. Aku tak akan memintamu menjadi istriku, jadi kau tidak perlu takut aku akan meminta yang tidak-tidak padamu.”

Karena tanpa kuminta pun, takdir sudah memberikan dirimu padaku.

Tak ada jawaban apa pun darinya. Untuk beberapa saat dia tetap terpaku.

“Sampai kapan kau akan tetap di sini. Aku ingin mandi, apa kau ingin mandi bersamaku??”

“Mwoya??” hardiknya dan langsung mendorong tubuhku kasar, setelah itu dia langsung berlari keluar kamarku.

Hah gadis itu.. hanya begitu saja dia sudah takut..

Ketika dia menghilang dari balik pintu kamarku, dengan cepat kusambar ponselku yang tergeletak di atas ranjang. Tanganku bergerak lincah mencari sederet angka yang cukup penting bagiku saat ini.

“Yeoboseyo,” sapaku ketika kudengar suara seseorang mengangkat teleponku. “Bisa kita bertemu besok??”

 

*****

Hye-Na’s POV

Aku menarik kenop pintu kamarku dengan tidak sabar, kemudian kututup kembali dengan jantung yang masih berdebar cepat. Aku menyandarkan tubuhku pada pintu kamar, mengatur napasku yang masih memburu.

“Dasar bodoh. Seharusnya dari awal kau tak menyetujui kesepakatan itu. Aisss kenapa kau lagi-lagi membiarkan dirimu menjadi leluconnya, Hye-Na~ya??”

Aku mengangkat kedua tanganku, menyentuh pipiku yang terasa panas, kemudian menggelengkan kepalaku pelan. Mengingat wajahnya yang hanya berjarak beberapa centi dari wajahku, bahkan aku bisa merasakan hangatnya hembusan napasnya, membuat jantungku lagi-lagi berdetak cepat. Wajah itu begitu sempurna dalam jarak pandang sedekat itu.

Astaga, ada apa ini??? Seharusnya tadi aku bisa mendorong tubuhnya menjauh, tapi sialnya tubuhku hanya terpaku dan nyaris membuatnya mendapatkan ciuman pertamaku. Akhhhh aku benar-benar sudah gila!!!

 

*****

Aku berjalan mendekati pintu rumah dan menariknya hingga terbuka, ketika kudengar bel rumah ini berbunyi nyaring, namun tak ada yang peduli dan melihat siapa yang ada di balik pintu itu.

Akhhh tentu saja, Kyuhyun sudah pergi sejak tadi pagi, sedangkan Jino lebih memilih mengurung diri di kamar akhir-akhir ini. Kurasa karena kejadian lima hari yang lalu.

“Annyeong..” ucap seseorang di hadapanku. Seorang gadis.

Gadis itu membungkukan tubuhnya, tapi sedetik kemudian, saat aku melihat wajahnya dengan jelas, sontak aku langsung menganga. Begitu juga dengan gadis itu.

Gadis ini.. bukankah gadis yang selalu digosipkan memiliki hubungan khusus dengan Jino sewaktu sekolah dulu dan sukses membuatku cemburu setengah mati karena kedekatan mereka itu. Park Min Rin… Astaga, jadi mereka memang memiliki hubungan khusus??? Andwae!!!

”N-neo..” serunya. ”Bukankah kau…”

Aku memaksakan bibirku untuk tersenyum. Ternyata dia mengenali wajahku. Sial, kupikir aku tak memiliki saingan untuk mendapatkan hati Jino. Setan itu…. bahkan dia tak menyinggung sama sekali mengenai hal ini. Pantas saja dia berani memberikan kesempatan itu padaku, karena dia tau Jino sudah memiliki kekasih dan akan sulit berpaling padaku. Dasar kau brengsek Cho Kyuhyun. Tapi, liat saja aku tak akan menyerah begitu saja.

”Ke.. kenapa kau bisa ada di sini??” tanyanya lagi.

”Ummm… Aku.. Aku tunangan Kyuhyun.”

Mwoya?? Kenapa justru kata-kata itu yang meluncur begitu saja dari mulutku?? Bodoh. Seperti tak ada alasan lain saja.. Lagipula kenapa aku tak jujur saja dan mengatakan karena appa ku ada utang dengan keluarga ini, dan malah dengan lantangnya mengatakan hal menjijikkan itu. Tunangan?? Aigoo itu hanya lelucon yang kau buat sendiri Hye-Na~ya.

“Ouh jadi onnie adalah calon kakak ipar Jino??”

Lagi-lagi aku hanya bisa memamerkan senyum kakuku. Kakak ipar?? Cih~ aku ingin menjadi istrinya, bukan kakak iparnya.

”Apa kau mencari…”

Ucapanku langsung terhenti ketika kulihat Jino yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingku dan menyambar lengan gadis itu dengan kasar.

Aku bisa merasakan ekor matanya melirikku sejenak, sebelum menarik atau tepatnya menyeret gadis itu dengan paksa.

”Jino~ya lepaskan aku. Aku ingin bicara padamu. Aku mohon dengarkan aku dulu,” rintih gadis itu sembari terseok-seok mengikuti langkah Jino yang cepat dan panjang.

Aku menggigit ujung jari-jariku melihat semua ini. Jino ku, kenapa bisa berubah menyeramkan seperti ini??

 

*****

Kyuhyun’s POV

’Hye-Na ingin melupakan semua masa lalunya. Melupakan semua janji yang pernah dia dengar. Terdengar bodoh memang, tapi Hye-Na selalu merasa diingkari oleh orang-orang yang dia sayangi, Orang-orang penting di dalam hidupnya. Dan puncak kebenciannya akan janji terjadi lima tahun yang lalu, setelah seharian bahkan hingga larut malam dia duduk sendirian di taman, berharap seseorang akan menepati janjinya. Setelah kematian Han ahjumma, Hye-Na menggantungkan kebahagiaannya pada orang itu. Percaya, meskipun eomma tak bersamanya lagi, dia masih memiliki appa dan seseorang yang akan selalu menemaninya nanti. tapi sayangnya orang itu tidak pernah datang bahkan sampai detik ini.’

Ucapan Chaerin dua hari yang lalu masih bergaung di telingaku. Seperti ada seseorang yang selalu membisikkannya setiap saat.

Aku menghembuskan napasku dengan berat. Aku tidak menyangka semuanya akan berdampak separah ini. Apa semua itu begitu menyakitkanmu Na~ya?? Nan eotteokeh??

”Kyunie,” panggil seseorang yang langsung membuatku menoleh. Kulihat Sungmin Hyung berdiri di depan pintu kamar kemudian berjalan ke ranjangnya. Aku menegakkan tubuhku, lalu bersandar pada punggung ranjangku.

”Kau meninggalkan ini di kamar mandi,” sambungnya lagi sembari menyodorkan tangannya ke depan dadaku. Aku melirik sebuah benda perak di atas tangannya itu. Benda yang selama 15 tahun ini menemaniku, bahkan lebih berharga dari semua yang kumiliki saat ini.

Kuambil benda itu dari tangan Sungmin Hyung, kemudian membuatnya terjuntai di depan mataku. Kutatap lekat-lekat kalung berbentuk daun kering itu, dan sedetik kemudian bibirku tersenyum miris. Ada rasa sakit, ketika beberapa kilasan masa lalu berkelebatan di otakku. Pohon maple, janji, semuanya membuat dadaku sesak saat ini.

”Waeyo?? Dua hari ini mukamu kusut sekali. Apa ada yang mengganggu pikiranmu??”

Aku menghela napasku pelan. Apa semuanya tergambar jelas di wajahku?? Susah sekali menyembunyikan sesuatu darinya.

”Apa menurutmu… Aku harus jujur sekarang??”

Sungmin hyung sedikit terperangah mendengar pertanyaanku, tapi beberapa saat kemudian dia berhasil menguasai dirinya dan tersenyum padaku.

”Semakin lama kau merahasiakannya, akan semakin menyakitinya, Kyunie.”

 

*****

Hye-Na’s POV

”Yeoboseyo.”

”Kau dimana??”

Aiss aku menggeram pelan mendengar nada bicaranya.

”Di kampus,” jawabku tak kalah ketusnya. ”Waeyo??”

”Temui aku di taman yang tak jauh dari dorm, seusai jam kerjamu nanti malam.”

”Mwo?? Yak!! Mau apa kau??”

”Tidak perlu banyak bertanya. Turuti saja perintahku.”

Perintah?? Astaga sejak kapan aku mau menuruti perintah konyolmu, Cho Kyuhyun??

”Shireo!!! Aku bukan pembantumu!!” bantahku.

Aku bisa mendengar setan brengsek itu mendengus sebal.

”Kau lupa, kau memiliki satu utang padaku dan aku belum menagihnya, Nona Han. Aku tidak mau tau, kau harus datang Hye-Na~ya. Aku akan menunggumu.”

Sedetik kemudian dia langsung mematikan teleponnya begitu saja. Seenaknya, membuatku hampir membanting ponselku karena kesal.

”Waeyo??”

Tiba-tiba saja Chaerin sudah duduk di sampingku. Aku menolehkan kepalaku kasar ke arahnya.

”Aisss sebenarnya apa yang bisa dilakukan setan brengsek itu selain memaksaku??”.

Chaerin menaikkan sebelah alisnya, kemudian tersenyum. Astaga percuma aku memaki-maki raja setan itu di hadapannya. Bagaimana pun juga gadis menyebalkan ini pasti akan membelanya.

”Tentu saja dia bisa bernyanyi, bisa membuat para gadis terpikat dengan pesonanya, dia juga bisa berakting, dan otaknya…”

Aku langsung membekap mulut Chaerin dengan tanganku sebelum semakin banyak pujian yang akan keluar dari mulutnya. Benar-benar menyebalkan memiliki sahabat yang lebih membela orang lain daripada dirimu.

 

*****

Aku berjalan tergesa-gesa menuju pintu keluar setelah jam kerjaku usai. Pria brengsek itu pasti akan semakin menyebalkan jika aku datang terlambat. Aisss cuaca sangat buruk, bahkan rintik hujan juga sudah mulai menetes, apa kami harus tetap bertemu di taman?? Tak bisakah di rumah saja??

Kulangkahkan kakiku dengan cepat, atau lebih tepatnya setengah berlari sembari membereskan isi tasku yang berantakan.

Tapi ketika tiba di depan pintu restoran, aku sedikit tersentak ketika kulihat seorang pria berdiri dengan menyandarkan tubuhnya pada mobil mewahnya dengan kepala tertunduk. Tak mempedulikan rintik-rintik kecil hujan yang menyentuh rambutnya.

Aku menghentikan langkahku, dan kusipitkan mataku, untuk mempertajam pandanganku dan aku yakin dengan indera penglihatanku.

”Jino~ya??” ucapku memastikan dan saat itu juga pria itu mengangkat wajahnya dan menatapku dengan pandangan sayu, sakit, kecewa, ntahlah begitu banyak perasaan yang terpancar dari matanya sehingga aku sendiri tak begitu mengerti dengan sorot matanya itu.

”Bisakah kau menemaniku??”

Nada itu.. tak pernah kudengar sebelumnya. Begitu lemah…

 

*****

Jino membawaku ke sebuah restoran mahal, dan memilih tempat paling pojok dari restoran ini. Awalnya aku sedikit khawatir dengan tempat umum seperti ini. Bagaimana jika ada fans atau media massa yang melihat?? Aku tidak mau dijadikan sumber pendapatan dari para wartawan yang terkadang menyiramkan bensin pada berita-berita sepeleh dan tidak penting. Tapi Jino mengatakan bahwa restoran ini aman, tak mungkin ada fans gila yang akan menyerang kami saat ini karena dia juga bukan artis pertama yang makan di sini, lagi pula dia tau tempat ini juga dari para member Super Junior. Yah semoga saja itu benar.

Hampir 30 menit kami berada di sini, tapi tetap tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Suasana benar-benar tak mengenakkan, di tambah dengan guyuran hujan yang menghantam atap restoran ini semakin memperburuk suasana. Dan bocah ini malah terus meneguk wine yang ada di hadapannya. Aku benar-benar mengutuk pemilik restoran ini, untuk apa dia menyediakan minuman seperti itu??? Bisakah restoran ini hanya menyediakan minuman yang sehat saja.

Aigoo lagi pula bocah satu ini juga sedikit menyeramkan akhir-akhir ini.

”Jino~ya, waeyo??” ucapku membuka pembicaraan sembari menahan tangannya yang mulai bergerak mencari gelasnya lagi.

Bocah satu ini cukup kuat minum. Sudah beberapa gelas wine yang diteguknya, tapi dia masih dalam kesadaran penuh.

Jino mengangkat kepalanya dan lagi-lagi aku bisa melihat tatapannya itu.

”Apa aku sekarang benar-benar terlihat seperti orang bodoh??”

”De??” tanyaku tak mengerti.

”Aku melepaskan sesuatu yang mungkin lebih baik untukku dan lebih memilih untuk mempertahankannya, bukankah itu bodoh??” ucapnya lagi dengan pelan.

Aku mengerutkan dahiku dan menggeleng pelan. ”Aku tidak mengerti Jino~ya,” jawabku.

”Aku mencintainya, Noona. Lima tahun aku tetap bertahan di sampingnya, tapi dia mengkhianatiku begitu saja. Dia menyerahkan hartanya yang paling berharga pada pria lain.”

Aku hanya diam terpaku mendengarkannya. Jadi ini yang membuatnya terlihat menakutkan akhir-akhir ini.

”Bahkan dia tega menggugurkan janinnya dengan alasan agar aku mau menerimanya kembali. Aku benar-benar bisa gila, Noona.”

Kulihat Jino meringis menahan emosinya. Kugenggam tangannya, sekedar memberikan ketenangan yang membuatnya menatap mataku.

”Apa kau masih mencintainya??”

Jino kembali menundukkan wajahnya, berusaha menghindari tatapanku.

”Mollayo. Aku tidak mengerti dengan perasaanku saat ini.”

”Jika kau masih mencintainya, maafkan dia. Tapi jika kau tak bisa menerimanya kembali, Lupakan dia.”

”Apa semudah itu??”

Aku terkekeh pelan mendengarnya. ”Mudah?? Tak ada yang mudah jika kau berusaha melupakan kenangan indahmu. Tapi kurasa itu tidak sulit untuk seorang pria yang masih memiliki hubungan darah dengan Raja setan,” candaku berusaha mencairkan suasana.

Sungguh tidak enak melihatnya dengan ekspresi depresi seperti itu.

Tapi apa yang dia maksud adalah Park Min Rin?? Jika iya, jadi karena itu dia berubah menjadi pria yang kasar beberapa hari yang lalu.

”Kyuhyun hyung maksudmu??”

”Memangnya kau memiliki berapa saudara setan??” balasku dan sukses membuatnya tertawa pelan.

Meskipun belum begitu baik, tapi setidaknya dia sudah bisa tersenyum.

”Hye-Na~ya,” panggil seseorang.

”Su-Sungmin oppa??” balasku ketika mataku tertuju ke arahnya dan beberapa member di sampingnya.

”Kau di sini??” tanyanya lagi sembari melirik Jino.

Aku tersenyum pada mereka. “Ah ne, aku sedang mengobrol dengan Jino.”

Tak ada jawaban apapun, dia hanya menatapku dengan tatapan…. aneh.

”Bukankah kau dan Kyuhyun akan bertemu di taman??”

Kyuhyun???

Mulutku langsung menganga mendengarnya. Astaga aku melupakannya. Aku menjitak kepalaku pelan, dan langsung berlari keluar tanpa berbicara apa pun pada mereka.

 

*****

Kyuhyun’s POV

Aku hanya menundukkan kepalaku menatap genangan air yang membasahi sepatuku. Lebih dari satu jam aku duduk termenung, menunggu kehadiranmu, membiarkan air hujan mengguyur tubuhku tanpa ampun, tapi kau tak datang.

Inikah rasa kecewa yang kau rasakan?? Sesakit inikah Na~ya??

Beratus kata yang sudah kususun di otakku untuk membuat kau bisa melihatku kembali, seakan terhapus dengan air hujan yang turun malam ini.

Kukeluarkan kalung itu dari sakuku, kemudian kutatap lekat-lekat.

Sebesar itukah keinginanmu untuk menghapus diriku dari otakmu, bahkan kau tak memberikan kesempatan padaku untuk menjelaskannya.

 

*****

 

Hye-Na’s POV

Aku berlari-lari kecil memasuki rumah keluarga Cho, berharap mendapari dirinya yang tengah duduk dengan teh hangat di tangannya sembari menonton TV di ruang santai rumah ini. Tapi sayang itu hanya harapanku, karena nyatanya tak ada satu orang pun yang kutemui di rumah ini.

Tadi aku sudah menyusulnya ke taman itu, tapi tak kudapati sosoknya. Berapa lama kau menungguku?? Aku berharap kau tidak pernah datang ke taman itu Kyuhyun~a.

Aku langsung menolehkan kepalaku ketika kudengar suara deruman mobil dari garasi. Tak lama kemudian kudapati dirinya yang berjalan memasuki rumah dengan kepala tertunduk, dan langkah… yang berat.

Hatiku langsung tersentak melihat tubuh kurusnya yang basah kuyup. Jangan katakan kau tetap menungguku ketika air hujan mengguyur Seoul tanpa ampun, Kyuhyun~a.

”Kyuhyun~a,” panggilku ketika jarak kami tak terlalu jauh.

Tapi Kyuhyun tak menoleh sedikitpun, membiarkan kepalanya tetap tertunduk menatap lantai dan berlalu begitu saja di hadapanku. Seketika itu juga rasa bersalah, menjalari hatiku.

Dia mengacuhkanku?? Aku lebih baik mendengar makiannya.

Kupandangi punggung yang semakin menjauh itu dengan perasaan campur aduk.

”Noona, gomawo karena tadi kau sudah menemaniku.”

Langkah itu terhenti saat itu juga, membuatku menggigit bibir bawahku. Tapi sedetik kemudian dia kembali melangkahkan kakinya.

Aku menolehkan kepalaku ke arah Jino yang ntah sejak kapan sudah berdiri di sampingku, dan saat itu juga untuk pertama kalinya sekuat tenaga aku menahan air mataku agar tidak menetes karena dirinya.

 

*****

Sudah dua hari Kyuhyun menghindariku. Dia selalu saja pergi dari rumah ini ketika aku belum bangun dan pulang ketika aku belum pulang bekerja atau ketika aku sudah tertidur. Bahkan hari ini, aku tau Kyuhyun tak memiliki jadwal, tapi dia tetap mengurung dirinya di kamar. Dia tak memberikan kesempatan padaku untuk meminta maaf.

Ketidak-adaan Cho ahjumma dan ahjusshi semakin memperburuk susana hangat rumah ini yang sudah beberapa minggu ini terbiasa di hidupku.

Aku mengaduk-aduk teh hangat yang ada di hadapanku untuk melarutkan gulanya. Mungkin akan sedikit memperbaiki suasana hatiku.

”Noona.”

Aku sangat mengenal suara itu. Beberapa hari ini, suara itu semakin sering terdengar di telingaku, sekedar hanya untuk menyapaku. Bahkan sekarang aku makin sering melihat senyumannya, tapi kenapa aku malah tak merasa sama sekali??

”Jino~ya, kau sudah pulang??” ucapku pelan. “Apa kau sudah makan malam??”

“Ne, tadi bersama manager hyung. Kau sedang apa noona??”

Aku menunjuk segelas teh di hadapanku kemudian mengangkat bahuku. ”Menyeduh teh, apa kau mau??”

”Ne, tapi aku mau yang pakai gula, bukan garam,” sahutnya.

Aku terkekeh pelan mendengarnya. Kemudian mengambil sebuah gelas lagi, lalu menyeduhkan teh untuknya.

Selama aku menyeduh teh, aku tau Jino terus memperhatikanku. Bukankah seharusnya aku senang Jino sudah mulai melihatku?? tapi lagi-lagi saat ini aku tak merasa apa-apa.

Sebesar itukah dampak masalah akhir-akhir ini terhadap perasaanku?? membuat hatiku selalu merasa tak semestinya akhir-akhir ini.

”Ternyata kau bukan hanya cantik fisikmu, tapi juga hatimu, noona.”

”Apa itu pujian untukku??”

”Kurasa iya,” jawabnya.

Aku hanya membalasnya dengan kekehan pelan kemudian kembali ke kamarku. Tapi kakiku terhenti di depan kamar, ketika melihat pintu kamarnya yang masih tertutup rapat. Ntah setan apa yang membuatku berani mencoba menarik kenop pintu kamarnya dan ternyata tidak terkunci.

Aku harus bicara sekarang.

Aku membuka pintu kamarnya dengan cepat dan langsung kudapati dirinya yang tengah duduk di sofa kamarnya dengan kepala menengadah ke atas, menatap langit-langit kamarnya.

Kyuhyun sedikit terperangah ketika melihatku dan langsung berdiri kemudian berjalan menuju kamar mandi yang ada di kamarnya.

Kau tak boleh menghindariku lagi, Kyuhyun~a.

Aku berlari kecil ke arahnya dan langsung menahan tangannya. Tapi dengan mudahnya dia menepis tanganku dan menatapku garang.

”Aku ingin bicara padamu,” ucapku tak mempedulikan tatapan garangnya itu.

”Aku sedang tak ingin bicara dengan siapa pun. Sekarang keluarlah,” balasnya.

”Kyuhyun~a, aku tau aku salah. Aku lupa..”

”Bukankah kau memang selalu berusaha melupakan semua hal yang berhubungan dengan diriku??” sambarnya yang membuatku sedikit tersentak. ”Sekarang keluarlah.”

Aku menggelengkan kepalaku cepat. ”Shireo!!” ucapku keras kepala. ”Aku tak mau diacuhkan lagi seperti ini.”

Yah, ntah kenapa sangat menyakitkan melihatnya selalu mengacuhkanku. Jika dia marah, lebih baik dia menggunakan lidah tajamnya itu untuk memakiku, seperti selama ini. Kurasa itu lebih baik.

”Keluar,” ucapnya pelan tapi tegas.

Aku mengalihkan pandanganku dari wajahnya, berpura-pura tidak mendengarkan ucapannya.

”Keluar Han Hye-Na.”

”Tidak akan, sampai kau mendengarkan ucapanku!!!”

”Kumohon jangan membangkitkan jiwa setanku jika kau tak ingin sesuatu yang tak kau inginkan terjadi padamu.”

Aku kembali memfokuskan pandanganku ke wajahnya.

”Aku tidak akan pergi dari sini dan aku ingin lihat sekuat apa jiwa setanmu itu,” tantangku.

Tanpa kuduga tiba-tiba saja Kyuhyun mendorong tubuhku hingga membuat punggungku menghantam dinding. Tapi sedetik kemudian tubuhku membeku ketika kurasakan sesuatu menempel di bibirku.

Kyuhyun semakin menarik leherku mendekat dan mengecup bibirku pelan, membuat darahku mengucur dengan deras di dalam tulangku.

Aku berusaha mendorong tubuhnya, tapi Kyuhyun tak menghiraukan penolakanku.

Aku sedikit mengerang  ketika bibirnya melumat ganas bibirku. Kupukul dadanya yang membuatnya semakin menghimpit tubuhku untuk menahanku. Semakin kuat penolakanku semakin ganas pula lumatannya.

PLAKKK..

Dan tanganku melayang begitu saja ke wajahnya ketika aku berhasil mendorong tubuhnya menjauh.

Kutatap matanya dengan nanar, dan membiarkan air mata menetes begitu saja di pipiku.

 

*****

Kyuhyun’s POV

PLAKKK

Tamparan itu mendarat mulus di pipiku.

Kutatap matanya dan saat itu juga kudapati tatapan nanarnya menghunus ke manik mataku. Aku sedikit tersentak ketika cairan bening itu menetes di pipinya. Untuk kedua kalinya aku melihat air yang sangat berharga itu mengalir. Dan semua itu karena diriku.

Aku benar-benar sudah menjadi manusia paling brengsek di dunia ini. Aku menyakitinya.

Seharusnya aku begitu mudah memaafkanmu, tapi Jino. Kata-kata waktu itu kembali menonjok hatiku. Kau sengaja tak datang hanya karena Jino, Na~ya. Sampai kapan pun aku tak pernah bisa terima itu.

”Aku sudah bilang jangan menantang jiwa setanku. Jika kau tak ingin kehilangan hartamu yang lebih berharga. Sekarang keluar. KELUAR!!!!!!!!”

Aku bisa melihat tubuhnya terhuyung ke belakang ketika mendengar teriakanku. Aku hampir saja berlari memeluknya untuk membuat tubuhnya tetap tegak berdiri, tapi suara itu.

”Hyung, kenapa ribut sekali??”

Melihat wajahnya yang berdiri di depan pintu, membuat emosiku kembali tersulut.

”Noona!!” serunya lagi ketika melihat Hye-Na yang mematung di sudut kamarku.

Hye-Na tak menjawab apa pun dan langsung berlari keluar. Aku yakin dia tidak kembali ke kamarnya, karena dia berlari berlawanan arah dengan kamarnya. Dan saat itu juga tatapan tajam Jino menantangku.

“Apa yang kau lakukan, Hyung??”

”Bukan urusanmu. Sekarang keluarlah!!” geramku.

”Tidak, sebelum kau meminta maaf padanya.”

”Kubilang keluar Jino!!!”

”Berhentilah menyakitinya hyung!!”

Aku terperangah mendengarnya. Untuk pertama kalinya Jino berani berteriak padaku.

”Kau tidak berhak ikut campur, kau lupa dia adalah tunanganku??”

Saat itu juga aku bisa melihat Jino menyeringai ke arahku. Bocah ini..

”Tunangan??” ucapnya dengan nada merendahkan. ”Kau lupa Seharusnya posisi itu untukku??”

Aku tercekat mendengarnya. Untuknya??

”Kau lupa siapa yang seharusnya menjalankan perjodohan itu?? Kau tidak bisa mendapatkan posisi ini tanpa penolakan dariku, Hyung.”

Aku mengepal tanganku erat, berusaha menahan emosiku agar tak menghajar wajahnya detik ini juga.

Aku menarik napasku dalam, kemudian kembali menghembuskannya.

”Tapi kau juga jangan lupa, Jino~ya. Appa berniat memberikan perjodohan itu padamu, karena appa mengira aku akan menolaknya mentah-mentah. Jadi, pada dasarnya, sejak awal perjodohan itu memang untukku,” balasku tajam.

Aku bisa melihat mata Jino melebar dan menatapku garang. Seolah-olah dia lupa bahwa aku adalah kakaknya.

”Baiklah. Jaga Hye-Na baik-baik jika kau masih menginginkannya. Karena aku mulai menyukainya. Sekali saja dia berkata menginginkanku, aku tidak peduli dia tunanganmu atau bahkan istrimu, aku pasti akan merebutnya darimu, Hyung.”

Aku menggeram, berusaha mati-matian menahan tubuhku agar tidak berlari ke arahnya dan menerjang tubuhnya yang berbalik memunggungiku, dan berjalan menuju pintu kamarku.

”Aku adalah takdir Hye-Na!!” teriakku marah.

Jino menghentikan langkahnya dan berbalik ke arahku, lagi-lagi menunjukkan seringaiannya.

”Takdir?? Benarkah??” cibirnya. ”Takdir manusia bahkan bisa berubah dalam hitungan detik. Sekarang kita lihat, apakah takdir Hye-Na akan berubah??”

Berubah?? Haruskah aku benar-benar bersaing dengan adikku sendiri yang jelas-jelas menantangku??

 

To Be Continue..

 

Puanjang… yang masih protes pendek, bkal lgsg saiia tabok.. hahaha

Saiia tunggu kritik n commentnya, tp sumpah ini ff yg plg bkn saiia jungkir balik bwt ngerjainnya. Karna apa?? Susah euy..

Soal kalung, yuli jangan protes ya, siapa suruh kmrn onn suruh cari mw ngasih apa, eh ampe skrg gak dpt2 jg… ms mw ngasih PSP.. gak ad nilai kenangannya sm sekali… hahaha.. kl bentuknya?? Sebenarnya itu jauh bgt dr yg ada di khayalanku, tp udh ngubek2 google ttp gak nemu. Jd anggap aj kalungnya gt. Drpd saiia ksh bentuk hati.. wkwkwk..

Oke segitu aj..

Yg kecewa ma crta ini saiia mnta maaf sblumnya, n 1 lg saiia blm tau nie bkal d bikin brp part, tp psti saiia selesein sblum saiia pergi KKN.

10 thoughts on “[Freelance] Love Challenge part 5

  1. wah..lama bgt nunggu klanjutan’ny..
    akhir’ny publish jg..
    untung aj aq blm lupa sm cerita’ny.. hehehehehehe

    mnrt aq cerita’ny bagus..
    mkn tmbh menarik cz konflik’ny mkn kompleks aj gk cm antara kyuhyun dgn hyena tp jg antara kyuhyun sm adk’ny..
    blm lg konflik batin yg d’alami hyena..
    slain thu jalan cerita’ny jg logis..
    jd overall T.O.P BGT lah.. >.<

  2. Kyaaa~ jino mulai suka hye na?! Omona~ kyuhyun! Smangat! Jgn lepaskan hye na buat jino! #Plak XD

    Hye na ayoo blg cinta sm kyu :p hho. Kyu udah mulai ngambek tuh kkk~

    Next chap-nya jgn lama2 dong, chingu hehe :3

  3. akhirnya keluar, kok lama thor? aku nyampe lupa cerita sebelumnya ._. next chap jangan kelamaan ya!! makin penasaran sama ceritanya

  4. Aq ga protes lg,, cma protes kmn ajj lama ga ada?! Sebel -,- *kiding*
    Pliiiisss,, hyena ama kyu *-* #puppy#
    Jino ama yg laen ajj de (~_~)
    ade ngalah ajj ama yg tua,, kesian! kekekeke~

  5. huwaaaaa. . .setelah sekian lama aku tunggu akhirnya balik lagi. . .
    kyu kalo lagi marah nyeremin. . .
    orang masa lalu kyu sama hyena siapa si?
    ayo kyu. ..lawan jino!!

  6. kreenn eonnn!!! T_T
    si kyuhyun itu jangan” masa lalunya hye na juga ya?? tapi kyu g ngaku.

    ehh si jino kok gitu?? jangan nguber” yg g pasti ya jino-ya~ nguber saya aja gapapa :D

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s