[Freelance] My Bodyguard, My Love part 2

My Bodyguard, My Love (Part 2)

 

 

Sudah satu bulan Kyuhyun menjadi pengawalku. Dia selalu menemaniku dimanapun aku berada. Tapi hari ini dia tak menungguiku di depan kelas. Ketika dia mengantarku tadi pagi dia meminta izin untuk mengunjungi keluarganya. Aku tak punya alasan melarangnya, karena itu memang kewajibannya sebagai anak. Jujur aku bangga padanya.

Bel tanda pulang berkumandang di segala penjuru sekolah. Aku langsung berlari menuju gerbang sekolah, baru sebentar saja tak melihat wajahnya aku sudah merindukannya. Kuakui aku mulai menyukainya.

Aku terus berlari hingga kudapati dia sudah berdiri di samping mobilku dan membukakan pintu mobil untukku. Aku tersenyum padanya kemudian duduk di bangku penumpang.

”Bagaimana keadaan keluargamu, Kyu??” ucapku memulai pembicaraan seperti biasanya.

”Mereka baik-baik saja. Saudaraku juga sudah membaik dan memulai aktivitasnya seperti biasa,” jawabnya tetap berkonsentrasi pada jalan.

”Ehmmm Kyu, bukankah kita sudah mengenal selama 1 bulan ini, bolehkah aku memanggilmu oppa. Kau kan lebih tua dua tahun dariku dan bisa kah kau memanggilku tanpa embel-embel nona???” ucapku ragu.

Tak ada jawaban apapun darinya. Hyaa apa dia tak suka.

“Ya???” panggilku.

Dia menghela napas sejenak. “Maaf Nona aku tak bisa, bagaimanapun kau tetap majikanku. Sungguh tidak sopan jika aku memanggil namamu,” jawabnya yang langsung membuatku cemberut.

“Terserah kau tapi aku akan tetap memanggilmu oppa,” balasku keras kepala.

Aku sungguh belum bisa menghilangkan sifat tuan putri ku ini. Yang selalu menekan semua orang untuk mengikuti permintaannya.

Tak ada jawaban lagi dari Kyu oppa. Dia terus memacu mobil ini dengan pelan hingga akhirnya berhenti di depan rumahku.

 

*****

Sejak matahari terbenam aku belum keluar kamarku sama sekali. Padahal jarang-jarang aku bisa makan malam bersama dengan appa, tapi apa boleh buat, tugas matematika ini mengacaukan semuanya. Sejak tadi aku berkutat dengan rumus-rumus ini tapi tetap saja aku tak bisa menyelesaikannya, bahkan aku mengorbankan jam makan malamku.

Tiba-tiba terdengar ketukan dari pintu kamarku. Kulihat kepala pembantu rumah tangga, Shindong ahjusshi dan seorang pelayan membawa sebuah nampan berisi makanan. Kemudian shindong ahjusshi memerintahkan pelayan itu meletakkan makanan itu di atas meja di samping tempat tidurku.

”Nona, Tuan Han mengkhawatirkan anda. Jangan lupakan kebutuhan perut anda nona,” ucap shindong ahjusshi sopan.

”Ne, ahjusshi nanti aku akan memakannya. Bilang pada appa tak perlu khawatir,” balasku sembari tersenyum.

Kemudian Ahjusshi dan pelayan tersebut kembali meninggalkanku sendirian. ”Akhh kenapa di dunia ini ada yang namanya MATEMATIKA????” teriakku kesal sembari membuang buku matematika itu sembarangan.

”Awww..” erang seseorang.

Aku menoleh ke arah sumber suara itu. Kudapati kyuhyun berdiri di depan pintu kamarku sembari memegangi buku matematikaku di dadanya.

Aku langsung tersenyum kaku padanya. ”Mianhae, oppa. Aku tak sengaja,” ucapku.

Kyu oppa berjalan mendekatiku kemudian melirik ke arah nampan yang berada di atas meja di samping ranjangku. ”Gwaenchana. Apa ada yang bisa aku bantu, Nona???” tanyanya sopan.

Aku menundukkan kepalaku lemas. ”Aku lelah mengerjakan tugas-tugas busuk ini,” jawabku. Kemudian aku mengangkat kepalaku dan kulihat seulas senyum tersungging di bibirnya.

”Apa perlu bantuanku???” tawarnya.

”Apa kau bisa???” tanyaku balik.

Dia tersenyum ke arahku. ”Apa nona tak percaya dengan kemampuanku??” ucapnya lagi yang membuatku mati kutu.

”A..a..anniyo. Aku tak bermaksud seperti itu,” elakku.

”Aku akan membantu Nona mengerjakannya, sebaiknya nona makan dulu. Bukankah dari tadi nona belum memakan apapun,” balasnya.

Aku langsung tersenyum sumringah kemudian berlari ke ranjangku dan mengambil nampan yang berisi makanan-makanan lezat itu.

 

*****

 

Kyuhyun’s POV

Dia langsung berlari ke ranjangnya dan menyantap makanannya ketika mendengar tawaranku. Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku melihat kelakuan putri yang satu ini.

Aku duduk di tempatnya tadi dan mulai mengerjakan tugasnya. Ternyata begitu gampang. Dasar nona kecil itu….!!! Soal sepele seperti ini dianggap sulit.

Selesai makan nona kecil itu menarik sebuah kursi dan duduk di sampingku. Aku memandangnya.

“Nona, apa di kelas anda tak pernah memperhatikan penjelasan guru anda???” tanyaku yang langsung membuat alisnya bertaut.

”Waeyo???” tanyanya dengan nada manjanya.

“Ini soal yang mudah, masa anda tak bisa mengerjakannya,” ejekku.

Dia langsung cemberut mendengar ucapanku. ”Aku memang tak mempunyai otak yang cerdas seperti appa.” tapi tiba-tiba senyum jahil mengembang di bibirnya. Firasatku mulai tak enak. ”Soalnya begitu gampangkan??? Ouhh masih ada 10 soal lagi. Kerjakan soal itu dalam 10 menit,” ucapnya.

”Mwo???”

”Mulai,” lanjutnya lagi sembari memencet stop watch-nya. Entah sejak kapan ia memegang benda itu. Akhhh aku selalu di permainkan anak kecil ini.

Kulihat dia melipat tangannya di atas meja kemudian merebahkan kepalanya di sana. Dia terus saja memandangku sembari sesekali memeletkan lidahnya padaku, sedangkan aku terus berpacu dengan waktu untuk mengerjakan tugasnya.

Akhirnya tugas ini selesai juga. Aku menoleh ke arahnya, tapi ternyata matanya sudah terpejam, pantas saja begitu sepi.

Wajahnya begitu polos dan cantik. Aissss apa yang sedang aku pikirkan.

Aku berdiri dan menggendong nona ini ke ranjangnya. Tangannya meraba-raba mencari sesuatu di atas ranjangnya. Aku tau pasti dia mencari boneka lumba-lumba itu. Kuambil boneka lumba-lumba itu dan meletakkannya di atas telapak tangannya. Dengan segera dia langsung memeluk boneka itu. Lagi-lagi aku tersenyum melihat ulahnya. Tanpa kusadari hasratku untuk membelai wajahnya mulai tak bisa kukendalikan. Aku mulai mengangkat tanganku. Tapi tiba-tiba..

Drtdtt.. ddrttt..

Getar ponselku menyadarkanku dari pikiran bodoh ini. Kuambil ponselku dari saku celanaku. Nama ini…??? Aku langsung berlari menuju kamarku.

”Yeoboseo,” ucapku.

 

*****

Hyesa’s POV

Ini bulan kedua Kyu oppa bekerja padaku. Dan seperti bulan sebelumnya, setiap awal bulan dia akan mengunjungi keluarganya. Aku tau, pasti dia berkunjung untuk menyerahkan gajinya pada keluarganya. Sifatnya yang seperti inilah yang membuatku mulai mencintainya, meskipun dia hanya menganggapku sebagai majikannya, tidak lebih.

”Kau sudah siap, sayang???” ucap appa yang tiba-tiba sudah berada di belakangku.

Aku menoleh dan mengangguk pada appa. ”Memangnya kita mau makan dimana??”

”Restoran favoritmu,” jawab appa sembari merangkul bahuku dan membawaku ke bawah. Ketika kami berjalan menuju ke teras rumah, kulihat Kyu oppa ada di sana. Wuaahhhh berarti dia sudah pulang.

Aku melepas rangkulan appa dan langsung berlari ke arah Kyu oppa. ”Oppa, kau sudah pulang???”

”Ne,” jawabnya singkat.

”Kalau begitu ikutlah dengan kami,” ajakku.

”Tapi…”

”Appa aku ingin Kyu oppa ikut,” ucapku pada appa ketika appa sudah berdiri di sampingku.

”Tentu saja. Tapi kau barusan memanggil Kyu apa?? Oppa??” ucap appa dengan nada menyelidiki.

Aku yakin wajahku memerah. Dari sekian pengawalku selama ini memang hanya Kyu yang ku panggil ’Oppa’.

”Kyu Oppa kan lebih tua dari ku,” ucapku mencari pembelaan.

Appa tersenyum tapi kurasakan itu adalah senyuman menggoda. Aissss appa.

”Ara.. ara.. sebaiknya kita berangkat sekarang,” lanjut appa dan kembali merangkul bahuku.

 

*****

 

Appa membawa kami ke restoran China favoritku. Tentu saja aku menyukai masakan China karna mengalir darah China di tubuhku. Dan itu kudapatkan dari Appa.  Restoran ini memang bukan restoran mewah, tetapi sesuatu yang mewah tak selalu menjadi pilihan terutama bagiku. Restoran ini tak terlalu besar dan terletak di pinggir jalan, bukan di sebuah Hotel yang mewah.

Perutku rasanya sudah mau meledak. Sekarang mataku mulai mengantuk. Melihatku yang seperti itu appa mengajak kami pulang. Kami berjalan menuju mobil yang di parkirkan di pinggir jalan.

Tiba-tiba mataku silau dengan cahaya lampu sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan penuh. Mobil itu melaju terlalu ketepi jalan. Appa yang berjalan mendahuluiku dan asyik berbincang dengan siwon ahjusshi tak menyadari mobil itu.

Mobil itu semakin mendekati appa.

”Appa!!!!!!!!!!!” teriakku.

Tapi tiba-tiba kulihat Kyu Oppa langsung menarik Appa dan membuat keduanya terjatuh ke aspal. Aku langsung berlari ke arah mereka dan Siwon ahjusshi langsung membantu appa berdiri. Aku langsung memeluk appa. Air mata ketakutanku ini menetes sudah tanpa bisa kubendung.

”Tuan!!!” ucap Siwon ahjusshi panik.

”Apa anda tidak apa-apa Tuan??” kali ini suara Kyu Oppa.

“Gwaenchana,” ucap appa sembari mendekapku dalam pelukannya.

Aku melepaskan pelukanku dan merengkuh wajah appa. Appa tersenyum kemudian menghapus air mataku. “Appa baik-baik saja,” ucapnya mencoba menenangkanku.

“Gomawo Kyu,” lanjut appa.

Kyu oppa hanya menganggukkan kepalanya. Tiba-tiba mataku tertuju pada siku Kyu Oppa. Lengan kemeja birunya sudah berubah warna menjadi merah. Aku memegang tangannya.

“Oppa tanganmu berdarah,” ucapku khawatir.

”Ah, Gwaenchana, Nona” ucapnya sembari melepaskan genggaman tanganku dari tangannya.

”Apanya yang baik-baik saja?? Lihat kemejamu sudah basah karna darah,” balasku setengah berteriak. Aku tau ini tak sopan, tapi aku sungguh cemas dengan keadaannya.

”Tuan, sebaiknya kita pulang sekarang. Di sini sangat berbahaya,” ucap Siwon ahjusshi.

Appa menganggukkan kepala kemudian menggandengku masuk ke dalam mobil.

 

*****

            Aku langsung menyeret Kyu oppa ke taman belakang rumahku. Dan lagi-lagi dia hanya mengikuti kemauanku. Kududukkan tubuhnya di kursi taman, kemudian aku berlari ke dalam rumah. Tak lama kemudian aku kembali dengan kotak P3K di tanganku.

Aku duduk di sampingnya, kemudian kutarik tangannya dan kusingsingkan lengan bajunya. Kutuangkan alkohol di kapas kemudian kusapukan di sikunya yang terluka itu. Dia mengerang pelan ketika aku membersihkan lukanya itu.

Tapi sesaat kemudian senyumnya tersungging di bibirnya itu. Aku menatapnya heran. Apa ada sesuatu yang lucu di wajahku??

“Kenapa tersenyum???” tanyaku to the point.

Dia menggelengkan kepalanya pelan. “Annie… Tapi menurutku kau cocok juga jika menjadi seorang Dokter,” ucapnya.

Aku memicingkan mataku, menatapnya. Tak biasanya dia memujiku. Akhh ini aneh.

“Oppa, apa kau sedang meledekku??? Kau sedang mengejek otakku???”

Dia tertawa mendengar ucapanku. Aku terpana melihat tawa lepasnya itu. Selama dua bulan, baru kali ini dia tertawa seperti itu dan melunturkan semua sifat cool-nya.

“Aku serius dengan ucapanku. Kau memang tak bisa mengurus dirimu sendiri tapi kau cukup telaten merawat orang lain,” balasnya.

“Apakah ini sebuah pujian atau hinaan???” ucapku masih dengan nada curiga.

“Ehmmm bisa kedua-duanya,” balasnya dan kembali tertawa.

Melihatku yang terus memandanginya membuatnya sadar dan langsung menghentikan tawanya.

“Kenapa nona melihatku seperti itu???” ucapnya tak nyaman.

“Kau terlihat sangat bahagia oppa. Apa terjadi sesuatu hal???” balasku.

Kulihat dia sedikit gelagapan, tapi sesaat kemudian dia kembali menguasai dirinya dan tersenyum padaku.

“Ne, aku bahagia. Kau tau, adikku terancam putus kuliah karna kondisi keuangan keluarga memburuk setelah kematian appaku setahun yang lalu. Ditambah lagi kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya, jadi semua uang yang kami miliki hanya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dan pengobatannya. Untunglah sekarang dia sudah membaik. Dan yang membuatku sangat bahagia, dia tetap bisa melanjutkan kuliah kedokterannya. Dia mendapatkan Beasiswa. Aku bangga dengan otaknya.”

Aku hanya terdiam mendengar ceritanya. Ini pertama kalinya dia bicara panjang lebar seperti ini jadi aku tak ingin melewatkan kesempatan langka ini.

Kyu oppa menghela napasnya, kemudian memandang bintang di langit.

“Dulu, aku sungguh iri dengannya. Appa dan eommaku lebih memperhatikannya dari pada aku. Dia memang memiliki kondisi fisik yang lemah sejak kecil tapi bagaimanapun aku juga anak mereka. Aku butuh perhatian yang sama dengannya. Untuk melampiaskan kekesalanku, aku sering sekali memaki dirinya dan dia hanya menerimanya begitu saja,” Dia menghentikan ucapannya kemudian tertunduk lemas. Wajahnya memancarkan kesedihan.

“Tapi ketika ayahku meninggal setahun yang lalu, semua tanggung jawab jatuh di pundakku. Aku baru menyadari apa yang dirasakan appa, bagaimana kekhawatiran appa dan eomma setiap kali melihat kondisi tubuhnya memburuk, dan puncaknya aku menyadari semuanya ketika dia tak sadarkan diri karena bus yang dinaikinya mengalami kecelakaan, dan hampir merenggut nyawanya. Tapi untunglah semuanya sudah berlalu dan sekarang dia tetap bisa melanjutkan cita-citanya.”

Kyu oppa tersenyum tapi dia tetap tak memandang wajahku. Tapi aku bersyukur, dengan begitu dia tak akan melihat air mata yang mengalir di pipiku. Aku segera menghapus air mataku sebelum dia melihatnya.

“Oppa aku sudah ngantuk, aku kembali ke kamar,” ucapku kemudian langsung berlari.

“Ne, selamat malam!!!!” teriaknya.

Aku sungguh tak menyangka dia mengalami semua itu. Aku sungguh beruntung dengan semua yang kumiliki saat ini. Aku tak kekurangan satu hal apapun dan yang terpenting aku memiliki appa yang sangat mencintaiku dan dia yang terus berada di sisiku, meskipun hanya sebagai pengawal pribadiku. Aku tak ingin kehilangan salah satu dari mereka.

 

*****

 

Dua minggu sudah berlalu setelah malam buruk itu. Sejak kejadian itu aku takut sekali. Bahkan beberapa kali aku bermimpi buruk. Aku bermimpi appa akan meninggalkanku. Tuhan semoga itu hanya menjadi bunga tidur.

Hari ini aku dan appa *tentunya juga siwon ahjusshi dan Kyu oppa yang selalu membuntuti kami* berjalan menuju gerbang sembari bergelayut manja pada appaku. Appa membiarkan supirnya menunggu di depan pintu gerbang. Hari ini appa akan terbang ke China, karena ada sedikit masalah pada anak perusahaan yang ada di sana. Aku tau appa sedang terburu-buru tapi dia tetap membiarkanku menghambat  waktunya. Yang membuatku lebih khawatir, karena Appa tak mengizinkan Siwon ahjusshi untuk ikut. Minho anak Siwon ahjusshi saat ini sedang sakit, jadi appa tak ingin Siwon ahjusshi meninggalkan Minho yang sangat membutuhkan perhatian appanya saat ini.

 

*****

Kyuhyun’s POV

“Appa, apa appa tak bisa membatalkan keberangkatan appa kali ini???” ucapnya memelas pada tuan Han

“Sayang, perusahaan sedang membutuhkan appa. Appa tak mungkin membiarkan perusahaan kita hancur begitu saja, begitu banyak orang yang tergantung dengan perusahaan kita,” ucap Tuan Han mencoba menenangkannya.

“Tapi kan di sana tidak terjadi masalah yang besar yang sampai menghancurkan perusahaan appa,” balasnya.

Tuan Han tersenyum kemudian mencium kening Nona Hyesa. “Masalah sekecil apapun bisa berubah menjadi masalah besar jika tak segera di selesaikan. Ehmmm apa hari ini adalah hari special???” ucapnya lagi.

Nona Hyesa menggelengkan kepalanya. “Memangnya kenapa appa??”

“Tak biasanya kau begitu manja dan menghalangi keberangkatan appa, kecuali hari-hari specialmu,” jawab Tuan Han.

Kulihat Nona Hyesa tertunduk dan memancarkan ekspresi yang tak rela. “Entahlah appa. Tapi aku benar-benar tak ingin kau pergi hari ini,” ucapnya kemudian langsung memeluk Tuan Han.

Tuan Han membalas pelukan itu. “Maaf sayang appa harus pergi, mereka sedang membutuhkan appa,” ucap Tuan Han kemudian melepaskan pelukan Nona Hyesa.

Tuan Han mencium Kening Hyesa kembali, lalu berjalan mendekatiku. Dia mendekatkan bibirnya ditelingaku dan berbisik.

“Jaga Hyesa untuk diriku,” bisiknya kemudian menepuk bahuku pelan.

 

*****

Hyesa’s POV

Kulihat appa membisikkan sesuatu pada Kyu oppa dan membuat mata Kyu Oppa membesar. Tak biasanya. Sebenarnya apa yang mereka bicarakan???

Kemudian appa melambaikan tangannya padaku dan masuk ke dalam mobilnya. Mobil appa mulai melaju menjauh dari tempatku sekarang. Semakin lama kulihat mobil itu semakin melaju dengan kencang. Aku tau appa sedang buru-buru. Kemudian aku melirik ke arah Kyu oppa.

“Apa yang kalian bisikan tadi???” tanyaku penasaran.

“Rahasia,” jawabnya singkat tanpa memandang wajahku.

Aku mendengus kesal padanya dan mulai membalikkan tubuhku, berjalan menuju rumah. Baru 1 langkah aku berjalan tiba-tiba terdengar suara debuman keras. Aku dan yang lainnya langsung menoleh ke sumber suara itu. Aku terperangah melihat apa yang terjadi. Mobil Appa menabrak pembatas jalan. Mobil itu langsung berputar-putar dan akhirnya terbalik.

“Appa!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” Teriakku.

Aku langsung berlari. “Appa!!!!!!!!!!” lagi-lagi teriakku.

Tangisku pun pecah melihat kenyataan ini. Aku terus berlari sedangkan Kyuhyun terus berusaha menggapaiku. Aku menepis tangannya yang terus menarikku, hingga akhirnya aku tak berdaya dan Kyuhyun berhasil menangkapku. Dia terus memelukku berusaha menahanku agar tak mendekati mobil appaku.

“Lepaskan aku…!!!!!!!!” Teriakku sembari menyentak tangannya. Tapi tenagaku tak membuatnya bergeming sedikitpun.

Duarrrrrrr……!!!!!!!!!!

“Appa!!!!!!!!!!!!” teriakku histeris melihat kobaran api dari mobil appaku.

“Appa… Appa…. Appa…” Teriakku hingga akhirnya kegelapan menyelimuti pandanganku.

 

To Be Continue

 

By : dongHAEGAeul

 

Tags : Kyuhyun, Hangeng, Siwon, Super Junior

 

5 thoughts on “[Freelance] My Bodyguard, My Love part 2

  1. Oia, aq prnh bca ini! SERU!!
    Ksian Hyesa! Tuan han baik bgt! :)
    Aq jg mw pny BG kaia babykyu o-0
    LANJUT!!
    aq hrp bsa d edit,, aq pgn happy ending ^^

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s