[Freelance] Fight, Love, and Revenge part 8

Donghae’s POV

“Appa!!!”

Sontak aku dan Hyeobin langsung menoleh saat melihat Gaeul yang menghambur ke depan pintu rumah. Tubuhku langsung menegang, diam terpaku ketika melihat dua orang yang berada di ambang pintu rumahku.

Pria itu… Pria yang hampir saja menjadi korban kegilaanku seminggu yang lalu. Kenapa dia harus muncul lagi di hadapanku? Tak bisakah dia memberikan kesempatan untukku bernapas dengan tenang tanpa harus menahan semua pikiran-pikiran bodohku yang berniat menghabisi nyawanya.

“Appa, kau sudah keluar dari rumah sakit?? Kenapa tidak memberitahuku??”

Aku mengepal tanganku kuat, menahan dorongan di dalam diriku untuk berlari dan langsung menerjang pria tua yang tengah duduk di atas kursi roda itu. Tubuhku sedikit tersentak, ketika tiba-tiba kurasakan ada sebuah tangan lembut yang menggenggam kepalan tanganku. Aku menoleh ke samping dan saat itu kudapati Hyeobin yang berdiri di sampingku sembari menatapku ingin tahu.

Aku menundukkan kepalaku, menatap tangan Hyeobin yang terus menggenggam tanganku, seolah-olah membantuku untuk menahan emosi, meskipun dia tak tau apa yang menyebabkanku mati-matian menahan amarahku.

“Ne, sejak tiga hari yang lalu dokter sudah mengizinkan appa untuk pulang dan appa begitu penasaran bagaimana hidup calon menantuku saat ini.”

“Aigoo~ aku baik-baik saja, appa. Appa tidak perlu mengkhawatirkanku, appa juga tidak perlu datang kemari hanya untuk memastikan keadaanku. Yang appa butuhkan saat ini hanyalah istirahat.”

Dadaku bergemuruh saat melihat bibir pria brengsek itu tertarik sempurna, menunjukkan senyuman menjijikkan di mataku. Ekspresi yang sangat kontras ketika dia melayangkan tangannya dengan ringan ke wajah eommaku. Ingatan itu selalu menyiksaku. Aku benci. Kenapa pria brengsek sepertinya bisa menjadi ayah biologisku?? Pria brengsek yang lebih memilih membahagiakan wanita lain dan membuat istrinya mati dengan penderitaan bathin karena ulahnya. Seharusnya aku memang membunuhnya.

“Ya, ternyata calon menantuku memang hidup dengan baik di sini dan Hyukie ternyata benar yang kau katakan. Dia orangnya.”

Matanya menatap lurus ke arahku, membuat tubuhku mengejang. Gaeul mendorong tubuh Hyukjae pelan, yang membuat Hyukjae sedikit tersentak. Aku bisa melihat tatapan Hyukjae yang terpaku beberapa saat padaku. Waeyo?? Mengamati perubahanku??

Gaeul kemudian mengambil alih mendorong kursi roda yang diduduki pria tua itu hingga berada tepat di hadapanku.

“Jincha??” sahut Hyukjae sembari berjalan menyusul Gaeul dan pria itu. “Gomawo. Lagi-lagi kau membantuku.”

Aku mendengus pelan mendengar nada ringannya. Membantu? Jika seandainya kau tau, aku lebih menginginkan menjadi malaikat pencabut nyawa keluargamu daripada menjadi malaikat pelindungmu, apa yang akan kau lakukan? Jika kau tau, aku pernah berniat menghabisi pria yang kau anggap paling berjasa di dalam hidupmu, apa kau masih tetap berkata seperti ini, Lee Hyukjae??

Aku mengalihkan pandanganku ke wajah Hyukjae, tanpa menghiraukan satu pandangan lagi yang menuntut mataku untuk melihat ke arahnya.

“Sudah berkali-kali aku mengatakan padamu. Jangan pernah berterima kasih padaku karena aku tidak pernah membantumu,” jawabku sinis.

Dia hanya menganggukkan kepalanya pelan dan mengangkat bahunya, mengalah dengan semua ucapanku.

”Tapi kau memang berjasa, Nak. Siapa namamu??”

Rahangku mengeras mendengar kalimat itu. Nak? Aku bukan anakmu!!!

”Namanya Lee…”

”Fishy,” desisku yang membuat Hyukjae menghentikan ucapannya.

”Ah Fishy, Aku yakin ayahmu pasti sangat bangga memiliki seorang putra seperti dirimu.”

Kukepalkan tanganku di samping tubuhku, kemudian kuberanikan mengangkat kepalaku, menatap lurus tepat ke manik matanya, aku juga bisa merasakan sebuah tangan melingkar di lenganku.

”Oppa,” ucap Hyeobin lirih.

Aku tau Hyeobin sedang meredam emosiku, karena dia sangat mengerti di dunia ini aku paling tidak suka jika ada orang yang menyinggung soal ayahku.

”Aku tidak punya ayah. Aku tidak butuh rasa bangga dari seorang pria brengsek seperti dirinya,” balasku dengan tatapan tajamku.

Dengan seketika kening pria tua itu berkerut mendengar ucapanku. Mencoba mencari makna dengan kata-kata kasar yang kuucapkan.

Lee SooMan!!! Saat kau meninggalkan eomma-ku, kau bukan lagi appa-ku. Sampai kapan pun, rasa sakit melihat eomma menderita hingga akhir hidupnya karena ulahmu tak akan pernah terhapus begitu saja.

*****

Hyukjae’s POV

”Aku tidak punya ayah. Aku tidak butuh rasa bangga dari seorang pria brengsek seperti dirinya.”

Sontak aku menganga mendengar ucapannya. Astaga, baru kali ini aku mendengar ucapan sekasar itu oleh seorang anak terhadap appanya. Tapi Lee Donghae.. tak ada satu orang pun yang tau apa yang ada di otaknya. Melihat sifatnya, aku yakin dia punya alasan yang tepat untuk berkata seperti itu. Sebenarnya apa yang terjadi pada keluarga mereka? Sejak mengenal mereka, aku bahkan tak pernah mendengar Donghae menyinggung tentang orang tuanya.

”Aigooo pria menyebalkan itu tak bisakah bersikap sedikit sopan kepada orang yang lebih tua darinya,” bisik Gaeul.

Aku hanya tersenyum kecil mendengar komentarnya. Tapi senyumku hilang seketika saat melihat wajah gadis manis yang tak kulihat selama seminggu ini. Dan bodohnya dari tadi aku mengabaikan wajahnya yang berada tepat di hadapanku. Ahhhh ternyata memang terasa gembira ketika melihat wajahnya. Tapi raut wajah itu..

Matanya terus memandang appa-ku dengan ekspresi bersalah. Tiba-tiba saja dia menarik Donghae dan mendudukkannya di atas sofá.

“Silahkan duduk,” ucapnya kaku. “Oppa,” panggilnya lagi sembari memandang wajahku, memberi isyarat agar aku juga duduk. Aku menganggukkan kepalaku pelan dan duduk di depan Donghae, sedangkan appa tetap duduk di kursi rodanya di samping Gaeul.

“Ahjusshi, senang bisa bertemu dengan anda,” ucapnya ramah. “Aku akan membuatkan teh untuk kalian.”

Aigoo~ gadis seperti ini kenapa bisa dilahirkan menjadi manusia?? Bukankah dia lebih pantas hidup dengan sepasang sayap di punggungnya sebagai malaikat??

“Apa kau yang bernama Hyeobin??” ucap appa tiba-tiba yang membuat Hyeobin terdiam sejenak, tapi sedetik kemudian senyum khasnya tersungging di bibir tipisnya dan mengangguk pelan.

“Ne, Ahjusshi. Hyeobin imnida.”

“Aigoo~ ternyata kau memang manis, sama seperti yang dikatakan Hyukie.”

GLEKKK.. terasa sangat sakit ketika menelan ludahku sendiri. Hyeobin langsung mengalihkan pandangannya ke wajahku dengan tatapan tak percaya. Ditambah lagi sorot tajam Lee Donghae yang menghunus mataku, seolah-olah akan memakanku saat ini juga. Sedangkan Gaeul, lagi-lagi tak bereaksi.

“Ah, Gomawo ahjusshi,” jawab Hyeobin kemudian berjalan ke dapur.

Aku terus mengalihkan pandanganku dari tatapan Donghae yang terus mengejarku. Apa dia marah appa berkata seperti itu? Atau jangan-jangan dia berpikir aku berniat menggoda adiknya? Aku hanya mengatakan apa yang ada di mataku, bukan menggoda siapa pun.

Aisss suasana seperti ini membuatku mati kutu. Kuselipkan tanganku di saku jaketku dan saat itu tak sengaja tanganku menyentuh sebuah kotak kecil di dalamnya. Ini.. Aigoo aku hampir lupa.

“Uhhh, aku ke toilet sebentar,” ucapku kemudian menghilang dari hadapan mereka. Yah lebih baik dari pada aku harus duduk di sana dengan hati kacau balau karena tatapan Lee Donghae.

 

*****

“Saengil chukae,” ucapku pelan ketika berada di belakangnya dan sukses membuatnya menoleh ke arahku dengan melongo.

“Seharusnya aku mengatakannya seminggu yang lalu,” ucapku lagi, kemudian berjalan mendekatinya, berhenti di samping dirinya yang masih sibuk menyeduh teh.

“Tidak apa, tapi oppa tau dari mana??”

Aku terkekeh pelan mendengar pertanyaannya. ”Cho Gaeul.”

Hyeobin menghentikan aktivitasnya, kemudian beralih memandang wajahku. Berada sedekat ini dengannya benar-benar membuat jantungku bekerja berat. Astaga~ jangan katakan aku benar-benar memiliki perasaan padanya?? Ini hanya rasa kagumku. Aku memiliki Gaeul.

”Ah, Gaeul onnie. Dia memberikan hadiah sangat spesial untukku. Sudah lama aku ingin membabat habis rambut Fishy oppa, tapi dia tak mau menuruti keinginanku. Dan Gaeul onnie sukses mewujudkan keinginanku.”

”Susah untuk menolak keinginan seorang Cho Gaeul. Dia tak akan menyerah sebelum mendapatkannya,” jawabku.

Dia tak membalas ucapanku dan terus memandangku dengan senyum yang tak kumengerti di bibirnya.

”Ternyata oppa benar-benar mengenal Gaeul onnie,” ucapnya.

Aku sedikit tersentak mendengar nada bicaranya. Entah kenapa ada dorongan di dalam hatiku untuk memberikan penjelasan lebih padanya. Walaupun tanpa penjelasan semua orang juga akan menganggap itu hal wajar. Aku mengenal Gaeul dengan baik tentu saja karena dia tunanganku. Tapi aku tak mau menggunakan kalimat itu sebagai alasanku untuknya.

”Ne, sejak kecil aku sudah mengenal Gaeul. Bahkan dia tumbuh di depan mataku. Tentu saja aku mengenalnya dengan baik.”

”Wahhh ternyata kalian memang di takdirkan untuk bersama.”

Sontak aku menganga mendengarnya. Takdir?? Yah ditakdirkan bersama, tapi aku menginginkan takdir lain untuk hidupku atau tepatnya pasangan hidupku. Baru kali ini aku merasakan ingin mengubah takdirku bersama Gaeul.

”Tapi aku juga ingin mengenal dirimu seperti aku mengenal Gaeul.”

Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku. Sepertinya aku benar-benar sudah gila sekarang.

Aku bisa melihat tangan Hyeobin yang sedang melarutkan gula di dalam teh itu terhenti seketika, tapi sedetik kemudian dia kembali melanjutkan aktivitasnya.

Untuk beberapa saat tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut kami. Hening..

”Hmmm kau menginginkan hadiah apa dariku untuk ulang tahunmu??” ucapku mencoba mencairkan suasana.

”Aigoo~ oppa baru bertanya apa yang kuinginkan?? Jadi oppa belum menyiapkan hadiah apa pun untukku,” sungutnya.

Aku terkekeh pelan mendengarnya. Senang rasanya berada di suasana yang normal bersamanya, tanpa harus ada kecanggungan diantara kami.

”Kalau begitu, oppa harus mentraktirku seporsi besar es krim seperti waktu itu, dan oppa pernah bilang akan selalu menemaniku jika aku menginginkan es krim. Sekarang aku menagihnya.”

Aku terkekeh pelan. Es krim?? Tak ada kah hal spesial yang diinginkannya?? Apakah es krim sudah lebih dari cukup untuknya?? Gadis ini~ terlalu unik di mataku. Atau tepatnya.. terlalu spesial. Hidupnya terlalu simpel. Dia menjalani hidupnya dengan baik. Menikmati hidupnya seolah-olah tanpa beban di punggungnya.

”Baiklah, besok tunggu aku di gerbang sekolahmu,” jawabku yang membuat matanya melebar shock.

”Aisss jincha.. aku hanya bercanda oppa.”

Aku hanya membalasnya dengan senyumanku dan kuberanikan untuk menarik tangannya kemudian meletakkan sebuah kotak kecil di atas telapak tangannya, membuatnya melongo menatapku.

”Aku tak tau kau suka atau tidak, tapi aku berharap kau mau memakainya besok,” ucapku kemudian melangkah meninggalkannya.

Aku tau, ini kegilaan di dalam hidupku. Menyukai seseorang yang sudah bersedia menolong nyawa hidupku dan tunanganku. Tapi aku tak bisa membohongi perasaanku. Apa yang kurasakan pada Hyeobin, sangat berbeda ketika mataku menatap wajah Gaeul.

 

*****

Donghae’s POV

”Kau hanya tinggal bersama Hyeobin di sini??”

Pertanyaan itu memecah keheningan di ruangan ini setelah Hyukjae pergi. Pria manja itu berani sekali meninggalkanku dengan pria brengsek ini. Menguji kesabaranku, heh?? Sedangkan gadis berisik ini, apa dia pikir bahwa dia tak kasat mata, sibuk dengan ulahnya sendiri yang terus memain-mainkan rambut dan bibirnya? Berusaha mengusir rasa bosan karena suasana ini?

”Memangnya aku harus tinggal dengan siapa lagi?” Balasku ketus.

Dengan seketika alisnya tertaut mendengar ucapanku atau lebih tepatnya geramanku. Aku mengalihkan pandanganku dari wajah keriputnya dan bodohnya kenapa mataku memandang wajah gadis berisik itu. Aisss semakin membuatku kesal melihat matanya yang melotot ke arahku. Berusaha mengancamku, heh?? Kubalas dengan tatapan garangku.

”Bukankah suatu rumah itu ditempati oleh sebuah keluarga? Ada ayah, Ibu dan anak,” jawab pria tua itu yang langsung membuat darahku mendidih kembali.

Kutatap matanya dengan tajam kemudian tersenyum sinis ke arahnya. ”Keluarga?? Ayah??” seringaianku keluar begitu saja. ”Aku hanya mempunyai eomma dan Hyeobin di dunia ini. Aku tak mengenal seseorang yang bernama ayah. Yang kukenal hanyalah pria brengsek yang meninggalkan anak dan istrinya hanya untuk wanita lain. Membuat eommaku menderita hingga meninggal,” geramku pelan dan membuat matanya melebar.

Mataku tak bisa lepas dari wajahnya. Sungguh aku ingin menerkamnya saat ini. Pria yang duduk tenang di hadapanku, dengan mudahnya menjalani kehidupan bahagianya setelah menyengsarakan hidup eommaku.

”Uh, eh, Hyukie oppa, kenapa lama sekali??”

Aku mendengar teriakan dengan nada gugup dari suara Gaeul. Aku yakin dia juga shock dengan ucapanku.

Aku mengalihkan pandanganku dari pria tua itu dan sedetik kemudian kudapati Hyukie yang berjalan ke arah kami, lalu duduk di tempatnya tadi.

”Ne, perutku sedikit tidak enak,” jawabnya.

”Aku bangga jika seandainya memiliki anak sepertimu, sanggup bertahan hidup dan mampu membesarkan adikmu tanpa seorang sosok ayah. Ayahmu mungkin manusia yang paling bodoh di dunia ini karena meninggalkan keluarganya, tapi bagaimana pun dia pasti memiliki alasan yang tepat.”

Aku baru saja akan membalas ucapannya ketika Hyeobin muncul  dengan nampan yang berisi teh di tangannya, membuat lidah tajamku terhenti.

Alasan apa pun tak ada yang bisa membenarkan seorang pria meninggalkan keluarganya untuk wanita lain.

”Silahkan, ahjusshi.”

”Kau memang gadis yang baik. Oppa-mu berhasil mendidikmu. Jika aku memiliki dua orang putra, aku pasti akan menjodohkannya denganmu.”

”Sayangnya appa hanya memiliki seorang putra Dan itu adalah Hyukie oppa,” celetuk Gaeul.

Sontak aku langsung berdiri. Aku bisa melihat tatapan kaget mereka yang terarah ke arahku, shok dengan tindakanku yang tiba-tiba. Aku tidak peduli, aku tidak bisa berada di sini lebih lama. Ya, putramu hanya satu. Lee Hyukjae… Dan Lee Donghae sudah menghilang dari dunia ini. Hanya ada Fishy. Fishy yang sewaktu-waktu bisa saja menjadi malaikat pencabut nyawamu. Jika kau menyayangi nyawamu, menjauhlah dari hidupku.

 

*****

 

Hyukjae’s POV

Suasana menjadi hening seiring dengan Donghae yang melangkah menjauh dari rumah ini.

”Astaga, ada apa lagi dengan pria menyebalkan itu?? Sudah lama aku tak melihatnya bersikap seperti itu, tapi hari ini dia benar-benar menyeramkan,” oceh Gaeul.

Ya. Sikapnya hari ini berbeda. Aku tau, Donghae memang tidak pernah bersikap ramah padaku, tapi akhir-akhir ini dia mulai menerimaku hadir di rumah ini, berbicara denganku. Tapi hari ini, sorot matanya berubah total, sama seperti aku melihatnya pertama kali. Seperti seekor harimau yang bersiap menerkam mangsanya. Tatapan tajamnya juga tak lepas dari wajah appa.

Aku mengalihkan pandanganku ke wajah Hyeobin, saat itu kulihat Hyeobin meringis, menggigit bibir bawahnya sembari meremas erat nampan yang masih di pegangnya.

”Mianhae,” ucapnya pelan sembari menundukkan tubuhnya pada appa.

 

*****

Aku membantu appa turun dari mobil, dibantu oleh Jongwoon Hyung kemudian kembali mendudukkan appa di kursi rodanya.

”Gomawo, hyung,” ucapku dan dibalas dengan anggukkan kepala oleh Jongwoon hyung.

”Fishy…. Dia membuatku penasaran, Hyukie,” ucap appa ketika aku mulai mendorong kursi rodanya masuk ke dalam rumah.

”Ne, appa. Tak ada yang bisa menebak apa yang ada di pikirannya. Aku juga tidak tau bagaimana masa lalunya. Tapi satu yang kutau. Dia tidak suka jika ada seorang pria yang berani memukul wanita, mungkin karena masa lalunya itu,” jawabku.

Appa menganggukkan kepalanya pelan, kemudian menghembuskan napasnya pelan.

”Dia terlalu banyak menyimpan rahasia yang membuat semua orang berpikir keras untuk menebaknya,” komentar appa.

”Ya, menutupi semuanya dengan sikap kasarnya. Tapi semakin mengenalnya, aku tau dia berusaha bertahan hidup dengan rahasia-rahasianya itu,” balasku.

”Ne, Ah.. jangan lupa lusa kau yang menggantikan appa untuk mendapatkan tender dari perusahaan Amerika itu. Hyukie, kau harus belajar, mulai sekarang kau yang akan mengurus perusahaan. Kau bisa lihat keadaan appa sekarang?? Sekarang waktunya appa menyerahkan perusahaan keluarga Lee padamu. Berjuanglah untuk mendapatkan tender itu, saingan terberatmu adalah choi corporation. Kudengar Siwon akan turun langsung untuk memperebutkan tender itu. Sekretaris Kim akan membantumu.”

Aku menarik napasku dengan berat. Akhirnya tanggung jawab itu benar-benar jatuh di pundakku.

”Arraseo appa. Aku berusaha tidak akan mengecewakanmu,” jawabku.

”Aku yakin, Haraboji-mu tidak akan salah memilih penerus Lee Corporation.”

 

*****

Donghae’s POV

Aku mengikat tali sepatuku dengan cepat dan bergegas menuju pintu rumah. Tapi langkahku terhenti ketika teriakan menyebalkan yang sangat aku kenal bergaung di ruangan ini. Dan parahnya kenapa aku belum terbiasa mendengarnya memanggilku oppa. Jantungku selalu memompa darahku dengan cepat setiap satu kata itu keluar dari mulutnya dan ditujukan untukku.

Aku membalikkan tubuhku dengan malas dan saat itu kulihat dia berlari-lari kecil ke hadapanku.

”Wae??” ucapku ketus ketika dia berada tepat di hadapanku.

”Kau mau kemana?? Bekerja?? Apa aku boleh ikut??”

”Mwo??” ucapku kaget.

”Aisss sudah dua minggu lebih aku terkurung di dalam rumah, aku juga butuh udara segar. Lagi pula Hyeobin sedang sekolah. Lagi-lagi aku sendirian di sini. Aku bisa membantumu bekerja,” sungutnya manja.

”Menbantuku?? Cih~” cibirku. ”Shireo!!!!! Kau hanya akan menggangguku.”

Dia mendengus kesal tapi sedetik kemudian dia langsung memegang lenganku dan menatapku dengan penuh harap. Cih~ tatapan apa ini?? Menjijikkan…

”Ayolah.. aku janji tidak akan menyusahkanmu,” rengeknya lagi.

Aku melepaskan cengkeramnanya di lenganku dengan paksa, kemudian menatapnya garang dan menyebalkannya dia tidak pernah takut dengan tatapanku.

Aisss sungguh membuang waktu melawan gadis ini.

Aku tak mempedulikan rengekannya lagi dan terus berjalan. Tapi baru beberapa langkah, aku kembali menghentikan langkahku. Kubalikkan tubuhku dan kudapati dirinya yang masih berdiri terpaku di tempatnya sembari mengerucutkan bibirnya, menatapku kesal.

”Jika kau menggangguku, aku akan langsung menendangmu pulang.”

Seketika itu juga matanya langsung berbinar, sedangkan bibirnya tertarik sempurna membentuk senyuman yang akhir-akhir ini sangat sering ditunjukkannya.

Tak membutuhkan waktu yang lama, tiba-tiba saja dia sudah berdiri di sampingku, berjalan di sisiku, mensejajarkan langkahnya dengan kakiku. Matanya terus menatap lurus dengan kakinya yang terus melangkah, tanpa mempedulikan siapa pun yang berlalu lalang di sekitarnya. Sesenang itu kah?? Seperti burung yang mengepakkan sayapnya dengan kuat setelah berhari-hari dikurung di dalam sangkarnya. Kulirik dirinya yang masih tersenyum. Semua sifat menyebalkannya terhapus begitu saja ketika sifat manja dan kekanakannya muncul. Dan kenapa senyum itu selalu membuat dadaku terasa ringan ketika menarik napas? Lalu kenapa dia selalu menunjukkan sifat keras kepalanya yang membuatku berniat menyumpal mulutnya dengan batu?

 

*****

”Fishy~a, siapa gadis ini??” tanya Park ahjumma, pemilik kedai tempatku bekerja.

Aku tak menggubris ucapannya, dan mengambil segelas air mineral, kemudian meminumnya. Sedangkan gadis berisik ini terus saja mengikutiku dari belakang.

”Apakah kekasihmu??”

Byurrrr..

Air mineral yang kuminum muncrat begitu saja dari mulutku ketika mendengar kalimat itu.

”Ah sepertinya aku salah. Aku kembali ke dapur dulu,” ucap Park jumma kemudian berlari ke dapur.

Aku menolehkan kepalaku ke samping, dan saat itu kudapati dirinya yang lagi-lagi menatapku gusar dengan tangan yang terlipat di depan dadanya.

”Wae??”

”Tidak perlu bereaksi seperti itu,” sungutnya. ”Seharusnya kau bangga, jika ada orang lain yang mengira diriku pacarmu. Yang rugi adalah diriku.”

Aku memelototkan mataku ke arahnya. ”Kau ingin aku menendangmu pulang sekarang juga??” desisku.

”Araseo. Aku tidak akan mengganggumu lagi,” jawabnya pelan.

”Fishy~a!!!”

Panggilan itu mengalihkan pandanganku dari wajahnya. Kulihat Park ahjumma berjalan tergopoh-gopoh ke arahku, kemudian menyodorkan sebuah nampan yang berisi makanan.

”Antarkan makanan ini ke meja no. 5.”

”Ne,” jawabku kemudian menyambar nampan itu.

”Tunggu di sini, jangan pergi kemana pun,” ancamku sebelum mengantarkan pesanan makanan itu. Dia mengangguk pelan kemudian duduk di sudut kedai ini.

 

*****

Hyukjae’s POV

Aku bergidik pelan ketika kurasakan sebuah tangan menepuk pundakku pelan. Aku mengangkat kepalaku dan kudapati Leeteuk dan Ryeowook berdiri di sampingku. Mereka duduk di kursi kantin yang kududuki. Kulemparkan senyumanku ke arah mereka.

”Ternyata kau masih berada di dunia yang sama dengan kami,” sindir Ryeowook yang membuatku terkekeh pelan.

”Kau kemana saja?? Sudah lebih dari dua minggu kau menghilang, dan sekarang kau muncul dengan pakaian se-rapi ini,” sambung Leeteuk sembari memperhatikan pakaianku.

Ya, aku mengenakan jas. Tapi ini karena sebelum ke kampus, aku ke perusahaanku dulu dan menghadiri rapat di sana.

”Aku menggantikan appa-ku di perusahaan dan akhir-akhir ini begitu banyak hal yang membuatku tak bisa ke kampus,” jawabku.

”Apa berita kecelakaan appa-mu itu benar??” tanya Leeteuk antusias dan kujawab dengan anggukan kepalaku.

”Aku harus ekstra menjaga keselamatan semua orang yang ada di sekitarku saat ini.”

”Ne, kau harus berusaha,” timpal Ryeowook.

”Dan kau bisa mengandalkan kami, jika kau butuh,” sambung Leeteuk.

”Gomawo,” balasku.

Aku melirik jam tanganku, sedetik kemudian aku langsung membereskan buku-bukuku yang berada di atas meja kantin dan memasukkannya ke dalam ranselku. Aku bisa melihat alis teman-temanku yang tertaut, ketika melihat diriku yang terburu-buru memasukkan buku-buku itu ke dalam tas.

”Kau mau kemana lagi??” tanya Leeteuk.

”Aku ada janji. Aku pergi dulu,” ucapku dan langsung berjalan meninggalkan mereka.

”Aissss… apa dia sesibuk itu sekarang??”

”Aku yakin ini tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Pasti karena seorang gadis.”

Aku tertawa pelan ketika samar-samar mendengar umpatan mereka di belakangku.

 

*****

Hyeobin’s POV

Aku mengetuk-ngetukkan sepatuku pelan ke tanah sembari bersandar di tembok pagar sekolahku. Sesekali kurapikan rambutku yang tertiup angin, dan saat itu aku selalu tersenyum ketika tanganku menyentuh jepit berbentuk strawberry pemberian Hyukjae oppa yang menghiasi rambutku.

Aku tidak tau dia bercanda atau tidak, tapi aku sangat berharap dia berada di depan gerbang sekolahku saat ini. Entah sejak kapan, melihat wajahnya dan senyum lucunya menjadi kebutuhan bagiku. Ada sedikit yang berbeda ketika tak melihatnya sehari saja.

’Tapi aku juga ingin mengenal dirimu seperti aku mengenal Gaeul.’

Darahku meluap-luap ketika mendengar kalimat itu keluar dari mulutnya. Aku tak tau apa yang menjalari perasaanku ketika bersamanya, tapi aku bisa merasa nyaman hanya dengan mencium aroma tubuhnya.

”Sudah lama menunggu??”

Aku tersentak mendengar suara itu dan sukses membuatku menoleh. Senyuman di bibirku tersungging begitu saja ketika melihat wajahnya.

”Oppa, kau benar-benar datang?? Kupikir kau hanya bercanda,” ucapku.

Dia terkekeh pelan dan membuka pintu mobil, menyuruhku masuk ke dalam mobilnya.

”Apa kau pikir, aku adalah pria pembohong??”

Aku menggelengkan kepalaku cepat.

”Annieyo.. aku tidak berpikir seperti itu,” jawabku gelagapan dan membuatnya tertawa puas. Aissss membuatku tegang saja.

”Hmmm kenapa Jongwoon oppa tidak ikut??’ tanyaku lagi.

Hyukjae oppa tak mengalihkan pandangannya dari jalan ke wajahku. Mobil yang dikemudikannya berjalan dengan pelan.

”Orang-orang disekitarku yang lebih membutuhkan perlindungannya. Aku tidak mau kecelakaan yang menimpa appa terjadi lagi.”

”Ah mian oppa, aku..”

”Maaf untuk apa??” potongnya.

”Seharusnya aku tidak mengungkit masalah ini,” jawabku.

”Gwaenchana,” ucapnya santai.

Aku mengalihkan pandanganku ke jalan. Melihat wajahnya terlalu lama bisa membuatku menjadi wanita yang tidak memiliki hati karena berharap memiliki pria yang sudah menjadi milik orang lain. Tapi beberapa detik kemudian, kepalaku kembali menoleh ke arahnya ketika tiba-tiba suara lembutnya memanggilku.

”Hyeobin~a.”

”De,” jawabku sembari memandang ke arahnya, sedangkan matanya tetap menatap lurus ke jalan. Senyum khasnya lagi-lagi tersungging membuatku mengerutkan dahiku.

”Aku senang melihatmu memakai jepit rambut itu,” ucapnya tanpa memandangku.

Sontak tanganku langsung bergerak menyentuh jepit yang ada di rambutku. Aku menundukkan kepalaku, berusaha menutupi wajahku yang memerah.

 

*****

Donghae’s POV

PRANKKKKK

Aku mengatur napasku, berusaha menahan emosi ketika seorang pria tua membanting makanan yang kuhidangkan beberapa menit yang lalu untuknya dengan kasar ke lantai.

”Makanan apa ini?? Kedai ini ingin meracuniku, heh??” teriaknya gusar membuat semua pengunjung menjadikan kami sebagai tontonan gratis.

”Maaf, apa ada yang anda tidak suka??” ucapku berusaha sabar.

”Tidak suka??” cibirnya. ”Bahkan makanan ini hanya pantas untuk seekor kucing. Apa kau menyamakanku dengan hewan?? Kedai apa ini??” hardiknya lagi.

”Maaf tuan, tak ada makanan seekor hewan di sini. Apa yang kami sajikan untuk anda, tidak ada bedanya dengan pengunjung yang lain,” desisku pelan.

”Ingin membela diri?? Kedai kotor seperti ini ingin membela diri di hadapanku??”

”Jika kau tidak suka dengan makanan di sini, kau bisa pergi. Kau tidak perlu membayar makananmu,” balasku, mulai terbawa emosi. Jika saja kedai ini milikku, aku sudah menendangnya keluar sejak tadi.

”Mwoya??” teriaknya marah. ”Kau menuduhku tak bisa membayar makananku, makanya aku bertindak seperti ini?? Aigooo bahkan aku bisa membeli kedai ini beserta dirimu sebagai budakku.”

Dia berkacak pinggang di hadapanku. Menempatkan wajah brengseknya tepat di depan wajahku.

Aku tidak bisa menahan emosiku lagi. Tak ada yang bisa menginjak harga diriku. Aku mengepalkan tinjuanku dengan kuat, bersiap melayangkan tinjuan itu ke rahangnya, tapi tiba-tiba..

Sepiring Kimchi mendarat tepat di atas kepalanya, membuat kepalanya tanpa rambut itu berserakan dengan Kimchi itu.

Pria itu menjerit tertahan, membersihkan Kimchi dari kepalanya dan langsung membalikkan tubuhnya dengan kasar. Saat itu juga sesosok gadis yang berdiri di belakangnya dengan tangan yang terlipat di depan dadanya, berdiri angkuh, membuat mataku terbelalak. Gadis ini… Astaga sudah lama aku tak melihat ekspresi angkuhnya.

”Neo….” geram pria itu gusar.

”Waeyo?? ingin membeli kedai ini beserta dia dan diriku sebagai budakmu??” balasnya. Sedetik kemudian seringaiannya muncul di sudut bibirnya. Aku sedikit bergidik melihatnya. ”Cih~” Cibirnya. ”Ingin membeliku?? Bahkan aku bisa membelimu beserta keluargamu untuk menjadi budakku. Kau tidak perlu sombong dengan hartamu yang tak seberapa itu,” geramnya. ”Tapi sayangnya aku tidak sebrengsek dirimu yang berani membudakkan orang lain hanya dengan uang.  Kau tidak akan bisa bertahan hidup di dunia ini hanya dengan uang. Kau tak bisa membeli orang dengan uangmu. Jangan merendahkan orang lain seperti itu. Yak ahjusshi, daripada kau memikirkan apakah uangmu bisa membeli orang lain, sebaiknya kau gunakan uangmu untuk membeli tempat pemakamanmu nantinya.”

”Berani sekali gadis kecil seperti dirimu mengguruiku,” hardik pria itu marah.

”Cho Gaeul tak pernah takut dengan pria tua yang sombong seperti dirimu.”

Shock melihatnya?? Tentu saja.

Tak ada jawaban apa pun dari pria itu. Sedetik kemudian pria itu melangkahkan kakinya kasar keluar kedai. Sedangkan diriku masih terpaku menatap gadis yang berdiri di hadapanku saat ini.

”Arasseo. Aku hanya mengganggu pekerjaanmu, aku akan pulang,” ucapnya pelan.

Dia bersiap membalikkan tubuhnya, sesaat sebelum aku menarik pergelangan tangannya. Aku menarik tubuh kecilnya itu hingga ke sudut kedai dan mendudukkannya kembali ke tempatnya semula.

”Duduklah di sini. Jam kerjaku tak akan lama lagi usai,” ucapku kemudian meninggalkannya.

’Kau tidak akan bisa bertahan hidup di dunia ini hanya dengan uang. Kau tak bisa membeli orang dengan uangmu. Jangan merendahkan orang lain seperti itu.’

Aku tersenyum mengingat ucapannya tadi. Cho Gaeul… Mungkinkah aku salah menilainya selama ini??

 

*****

 

Hyukjae’s POV

”Hoahhhhh kenyang sekali..” ocehnya sembari membersihkan sisa-sisa es krim yang menempel di sudut bibirnya.

”Apa kau puas??” tanyaku dan dijawab dengan anggukan mantap darinya. ”Apa kau masih menginginkan hal lain??” tawarku lagi.

Dia menatapku sejenak, ragu menjawab pertanyaanku.

”Aku akan memenuhi semua permintaanmu, sebagai hadiah ulang tahun dariku,” ucapku meyakinkannya.

Mata besarnya masih mencari keyakinan dari ucapanku, membuatku geli melihat ekspresi wajahnya yang begitu serius.

”Apa pun??” tanyanya lagi memastikan.

Aku menganggukkan kepalaku dan membuatnya menghembuskan napas pelan.

”Aku ingin ke taman bermain,” ucapnya pelan, seolah-olah malu mengucapkan kalimat itu.

Aku mengernyitkan dahiku, menatap wajahnya yang tertunduk malu. Astag, rona merah di pipinya membuatku ingin menyentuh pipi mulusnya itu.

Tanpa membuang waktu, aku langsung menarik tangannya dan membawanya masuk ke dalam mobilku.

 

*****

Hatiku ikut tersenyum ketika melihat dirinya yang berlari-lari kecil di taman bermain. Baru kali ini melihatnya bersikap sesuai dengan umurnya. Hahhhh damai sekali ketika melihat senyuman bahagia itu di bibirnya.

Tubuhku bergerak cepat ketika kulihat seorang pria seusianya berlari-lari dan tanpa sengaja menabrak tubuh Hyeobin dengan keras. Aku segera merangkul pundaknya, membuatnya terus berdiri, dan parahnya pada saat itu dia menoleh ke arahku ketika tanganku melingkar di pundaknya, membuatku bisa melihat matanya yang selalu berbinar. Tapi sedetik kemudian, dia mengalihkan tatapannya dariku.

”Maaf aku tak sengaja,” ucap pria itu dan dibalas dengan senyuman oleh Hyeobin. Masalahnya adalah perasaan tidak rela melihatnya tersenyum semanis itu untuk pria lain tiba-tiba muncul begitu saja. Sejak kapan aku menjadi posesif seperti ini??

”Sekali lagi aku minta maaf, Nona,” ucap pria itu lagi.

”Ne, nan gwaenchana. Tidak perlu meminta maaf,” balas Hyeobin.

Tak ada lagi kata-kata yang keluar dari mulut pria itu, tapi tatapannya tertuju lurus ke wajah Hyeobin. Menatapnya lekat-lekat. Matanya seolah berkata sangat mengagumi wajah Hyeobin. Aisss….

Tanpa peduli dengan keterpakuan bocah itu, aku menarik tangan Hyeobin dan membawanya ke salah satu bangku yang berada di taman.

”Gwaenchana??” tanyaku pelan.

”Ah ne, gwaenchana, oppa. Sudah ketiga kalinya kau menyelamatkanku dari kerasnya tanah. Reaksi tubuhmu patut diacungi jempol, oppa,” kekehnya pelan.

Aku hanya tersenyum melihatnya. Reaksi tubuhku?? Sayangnya, aku hanya bisa bereaksi seperti itu untuk dirimu. Seperti ada magnet yang selalu menarik tubuhku berlari cepat ke arahmu ketika sesuatu buruk terjadi padamu, atau karena mataku yang tak pernah lepas dari dirimu??

”Oppa, kapan kau dan Gaeul onnie akan menikah??”

Uhukkkk… aku langsung terbatuk pelan mendengar pertanyaannya yang tak pernah kuduga sebelumnya.

”Maksudmu??” tanyaku gelagapan.

”Bukankah kalian sudah bertunangan dan saling mengenal satu sama lain. Bahkan kalian sudah mengenal sejak kecil, lalu kenapa kalian belum juga menikah??”

Aku menghela napasku pelan kemudian mengalihkan wajahku darinya. Berusaha mengamati keadaan sekitarku yang di penuhi manusia yang sedang berlalu lalang di taman ini.

”Oppa, mian jika pertanyaanku membuatmu kesal.”

”Apa kau pernah katuh cinta??”

”De??” tanyanya shock.

”Apa yang kau rasakan ketika kau jatuh cinta??” tanyaku lagi, mengabaikan keterkejutannya.

”Mollayo,” jawabnya yang membuatku sontak menoleh ke arahnya. Dia membalas tatapanku dan tersenyum padaku. ”Aku tidak tau, oppa. Aku tidak pernah menginginkan pria mana pun, sampai aku bertemu dengannya. Baru kali ini, aku begitu ingin memiliki seseorang untuk berada di sisiku, selain Fishy oppa. Aku bisa merasakan kenyamanan luar biasa ketika berada di dekatnya. Merasa cukup hanya mencium aroma tubuhnya, menandakan dia berada di dekatku. Apa itu yang dinamakan cinta??”

”Ne, itu cinta. Siapa pun pria iru, dia adalah pria yang paling beruntung karena mendapatkan cintamu,” jawabku pelan. Ada sedikit rasa sakit ketika mengatakan itu. Hyeobin mencintai seseorang?

”Tapi sampai kapan pun sepertinya aku tak akan pernah bisa memiliknya,” ucapnya cepat. Raut wajahnya berubah tapi sedetik kemudian dia kembali mengendalikan ekspresinya. ”Bagaimana dengan oppa?? Berapa besar cinta oppa pada Gaeul onnie??”

”Aku tak bisa mengukur rasa cintaku.” karena aku tak tau apa rasa cinta itu memang ada.

Matanya menatap lurus ke manik mataku, mencari makna dari ucapan singkatku itu. Tapi sesaat kemudian dia langsung menggelengkan kepalanya pelan, menyerah.

”Aigooo kenapa pembicaraan kita jadi serius seperti ini,” racaunya. Tiba-tiba saja dia menarik tanganku hingga berdiri, kemudian melingkarkan tangannya di lenganku, membuatku mengikuti langkahnya. Sedangkan tangannya yang bebeas menunjuk ke satu arah.

”Komedi putar??” ucapku tak percaya.

”Ne, aku ingin naik itu, oppa,” jawabnya sembari mempercepat langkahnya, membuatku sedikit kewalahan mengikuti gerak kakinya.

 

*****

”Hyaaa… ini menyenangkan oppa!!!” teriaknya ketika wahana ini berhenti dan membuatku dan Hyeobin berada di posisi puncak. ”Aigoo~ aku tak menyangka Korea seindah ini.”

Aku terus memperhatikan wajahnya. Aku tak tau, masihkah aku memiliki kesempatan untuk melihatnya dari sedekat ini dan melihat tawa lepasnya tanpa harus mengingat kedewasaan yang dia tunjukkan sebelumnya. Aku tau ini berlebihan, tapi ada sedikit kecemasan, ada pria lain yang bisa membuatnya menunjukkan sisi lain dari dirinya, membuatnya terlihat begitu sumringah. Dan saat itu tiba, aku sadar, dia tak akan pernah melihat wajhku lagi, meskipun aku berdiri tepat di hadapannya.

”Hyeobin~a,” panggilku yang membuatnya menoleh, melepaskan pandangannya dari kekaguman akan keindahan Seoul menuju wajahku.

”HOAHHHHHHHHHHHHHHH”

”Jika aku mencintaimu, apa kau bisa menerimanya??”

 

*****

 

Hyeobin’s POV

”HOAHHHHHHHHHHHHH”

Aku mengernyitkan dahiku, berusaha membaca gerak mulut Hyukjae oppa. Aku tak bisa mendengar apa yang dikatakannya, karena dia mengucapkannya tepat ketika wahana ini mulai bergerak kembali dan menimbulkan teriakan keras dari orang-orang yang berada di bawah kami.

”Oppa, tadi kau mengatakan apa??” tanyaku ketika wahana ini berhenti berputar. Hyukjae oppa menggenggam pergelangan tanganku dan membawaku yang sedikit sempoyongan untuk turun dari wahana tersebut.

”Annieyo,” ucapnya tanpa menoleh ke arahku dan terus melangkahkan kakinya tanpa melepaskan genggamannya. Hangat dan nyaman ketika kau merasa ada tangan kokoh yang menggenggam tanganmu dengan erat.

”Aku hanya bilang, sudah sore sebaiknya kita pulang,” jawabnya lembut.

Sedikit merasa kecewa mendengar kalimat itu. Sebenarnya sekilas aku bisa membaca gerak bibirnya, tapi aku tak berani percaya dengan gerak bibirnya yang kutangkap. Aku takut itu hanyalah keinginan bawah sadarku dan ternyata benar itu hanyalah harapanku yang pada nyatanya membuatku terhempas ke dasar jurang yang dalam.

 

*****

Donghae’s POV

Aku terus mengikuti langkahnya yang ringan dari belakang. Terlihat seperti bodyguard, tapi terasa tenang bisa memastikan keamanannya dari sini.

Kepalanya terus bergerak ke kiri dan ke kanan, memandnagi para pedagang kaki lima yang ada di pasar ini. Tiba-tiba saja langkahnya terhenti tepat di depan sebuah penjual aksesoris. Tangannya langsung menyentuh sebuah gelang dan mangangkat gelang itu tepat di depan wajahnya.

”Aigoo~ yeopo..” desisnya pelan. Sedetik kemudian matanya langsung menatapku, membuatku emnautkan alisku.

”Oppa,” rengeknya. ”Maukah kau membelikan ini untukku??”

Mataku melebar mendengarnya. Tak menyangka seorang tuan putri seperti dirinya tertarik dengan benda kalangan bawah seperti itu. Aku membuang wajahku dan melipat tanganku di depan dada.

”Uangku jauh lebih penting untuk keperluan adikku dari pada gelang itu,” ucapku ketus yang membuatnya mengerucutkan bibirnya.

”Arasseo,” jawabnya dan langsung mengembalikan gelang itu ke tempatnya.

Astaga, perubahannya akhir-akhir ini membuatku hampir gila, puncaknya hari ini. Kenapa dia bisa menjadi penurut seperti ini?? Mana sifat egois, keras kepala dan harus mendapatkan apa pun dari seorang putri tunggal keluarga Cho??

 

*****

Gaeul’s POV

Aku menggosok-gosokkan telapak tanganku dengan lengan. Sekarang sudah berada di penghujung musim dingin, tapi terpaan angin di tubuhku tetap saja membuatku sedikit menggigil.

Hufff aku benar-benar menginginkan gelang yang kulihat tadi, tapi aku tak memiliki uang sedikit pun, sedangkan dirinya tak bersedia membelikan gelang itu untukku. Aigoo inikah penderitaan ketika kau tak bisa mendapatkan apa yang kau inginkan?? Tapi setidaknya ini pelajaran baru untukku.

Sesekali aku melirik ke belakangku, memastikan bahwa dirinya masih berada di belakangku, mengikutiku dan menjagaku. Baiklah, mungkin hanya perasaanku saja yang merasa dia menjagaku, melindungiku, memastikan keselamatanku ketika aku berkeliaran di luar rumah seperti ini.

Ada perasaan lain akhir-akhir ini ketika berada di dekatnya, rasa yang tak pernah kudapatkan dari Hyukie oppa. Terdengar bodoh, tapi semua sikap kasarnya malah merubah sifatku dan pandanganku terhadap dirinya. Kekesalan yang kutunjukkan akhir-akhir ini padanya, bukanlah amarah seperti pertama kali bertemu dengannya, tapi ada keinginan untuk membuatnya memperhatikan diriku.

Mengingat semua sifat kasarnya yang memasukkan obat ke dalam mulutku dengan paksa, atau mencoba menakut-nakuti dengan ancaman akan menciumku, malah membuatku selalu tersenyum ketika mengingatnya. Cinta?? Apakah hatiku bisa berpaling semudah itu?? Bahkan aku tak merasa apa pun ketika mendengar Hyukie oppa memuji Hyeobin.

Lee Donghae.. nama yang membuat perasaanku kacau balau sekarang.

Aku sedikit tersentak ketika sebuah jaket tersampir di bahuku, dan tentu saja membuat langkahku terhenti.

”Pulanglah duluan, rumahku juga sudah terlihat dari sini, jadi kau tidak perlu takut,” ucapnya pelan dan siap berbalik.

”Kau mau kemana??” tanyaku cepat sebelum dia melangkahkan kakinya.

Dia tak menoleh ke arahku dan tetap memunggungiku. ”Tak ada urusannya dengan dirimu kemana pun aku pergi.”

Aku mebghentak-hentakkan kakiku kasar menuju rumah. Aisss suka?? Benarkah aku menyukai pria yang selalu menguras emosiku?? Tak bisakah bicara baik-baik padaku?? Lee Donghae menyebalkan!!!!!!!!!! Dan aku adalah gadis bodoh di dunia ini karena menyukai pria yang tak pernah bisa menerima kehadiranku di hidupnya.

 

*****

Hyukjae’s POV

Untuk pertama kalinya aku duduk berhadapan seperti ini dengan Choi Siwon, memperebutkan tender yang bisa memperkuat kedudukan perusahaan. Tatapan tajamnya dan seringaian liciknya tak hilang sedikit pun dari wajahnya. Tak ada lagi senyuman pangeran yang ditunjukkannya padaku sewaktu kecil. Yang ada hanyalah tatapan yang bernafsu menghabisiku saat ini juga.

”Selamat Tuan Lee, kami sudah memutuskan untuk memutuskan proposal anda.”

Sontak suara itu membuyarkan lamunanku, membuatku mengalihkan tatapanku darinya.

Aku berdiri dan menyambut tangan yang terulur ke arahku, menjabatnya dengan ramah.

”Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik.”

”Ne. Lee Corporation akan berusaha tidak mengecewakan anda,” balasku.

Aku bisa melihat senyuman bangga dari sekretaris Kim yang terus emnemaniku sejak tadi, dan bersamaan itu pila aku bisa melihat kobaran amarah dari Siwon.

Siwon tak mengucapkan apa pun untuk mengintimidasiku, tapi dia menggunakan tatapan tajamnya yang jelas-jelas menantangku untuk melawannhyha.

Aku berusaha mengabaikan tatapan tajamnya, kemudian menyambar berkas-berkasku yang ada di atas meja, kemudian berjalan menuju pintu keluar ruangan rapat perusahaan yang selalu menjadi incaran para pengusaha Korea..

Aku tersenyum pada Jongwoon hyung yang menungguku di depan pintu ruang rapat utama ini, dan berjalan ringan menuju ke arahnya. Tapi langkahku terhenti seketika, saat sebuah tangan kokoh menahan bahuku.

Aku menoleh ke belakang, dan saat itu wajah sinis Siwon menyambutku. Dari ekor mataku aku bisa melihat para pengikut Siwon dan Jongwoon hyung bersiap-siap dengan kemungkinan terburuk yang akan terjadi.

”Nikmatilah kemenanganmu kali ini, Hyukie. Karena setelah ini, kau akan kehilangan segalanya. Kau akan menangis ketika melihat semua milikmu menjadi milikku, bahkan tak tersisa tempat sedikit pun di dunia ini untuk dirimu,” ucapnya pelan, lengkap dengan seringaian menyeramkannya.

Aku menarik napasku pelan, kemudian menepis tangannya yang masih berada di atas bahuku. Kutatap mata besarnya.

”Kau tak akan mendapatkan apa pun yang bukan menjadi milikmu, Siwonie,” balasku tajam.

Dia tertawa sinis kemudian menepuk-nepukkan tangannya pelan ke pipiku, membuat Jongwoon Hyung bersiap menghajarnya, tapi aku langsung memberikan isyarat pada Jongwoon hyung untuk tidak bertindak dengan meletakkan tanganku di atas dadanya yang mulai membusung, bernafsu menghantam Siwon dengan tinjuannya.

”Kau salah, Hyukie. Aku bisa mendapatkan apa pun yang kuinginkan. Bahkan sesuatu yang tak pernah kau bayangkan. Kupastikan hanya dalam hitungan jam, kau akan kehilangannya.”

Dia menyeringai padaku sesaat sebelum melangkahkan kakinya.

’Bahkan sesuatu yang tak pernah kau bayangkan.’

Sebenarnya apa yang sedang kau rencanakan??

Ddrrttt.. ddrrtt..

Aku tersentak pelan ketika merasakan getar dari ponselku. Dengan cepat kurogoh saku celanaku dan mataku langsung melebar ketika membaca nama yang terpampang di layar ponselku.

”Junho appa??”

 

*****

Gaeul’s POV

Aku mengemasi semua pakaianku dengan malas. Jongwoon oppa sudah menungguku di depan rumah. Hyukie oppa sengaja mengutus Jongwoon oppa untuk mengantarku pulang, karena appaku sudah kembali ke Korea sejak seminggu yang lalu, tapi Hyukie oppa baru saja tau beberapa jam yang lalu.

Aku mengedarkan tatapanku ke semua sudut kamar ini. Tanpa sengaja mataku tertuju pada kaca cermin yang retak di sudut ruangan. Untuk pertama kalinya aku melihat dia lepas kendali karena emosinya. Tangannya?? Apakah luka itu masih berbekas di tangannya??

Aku benar-benar ingin mengutuk diriku sendiri. Kenapa aku baru memikirkan kondisinya ketika aku harus pergi dari rumah ini?? Sangat berat. Ada rasa enggan ketika kenyataan memaksaku untuk angkat kaki dari rumah ini.

Aku melangkahkan kakiku dengan gontai menuruni setiap anak tangga. Dadaku bergemuruh ketika melihat dirinya yang tengah duduk di sofa bersama Hyeobin.

”Onnie, kau harus sering-sering main ke sini,” ucap Hyeobin kemudian memelukku.

Aku mengangguk di dalam pelukannya.

Hyeobin melepaskan pelukannya, dan saat itu mataku langsung memandang wajahnya, yang bahkan tak melirikku sama sekali. Tatapanku turun ke tangan kanannya, memperhatikan luka gores yang masih menghiasi punggung tangannya.

”Apa luka di tanganmu sudah sembuh??”

Dia mengalihkan tatapannya ke wajahku dengan malas, tapi tak menjawab pertanyaanku sedikit pun.

Aku menarik napasku dalam kemudian menghembuskannya perlahan, menenangkan detak jantungku dan air mata yang menyesak ingin keluar dari mataku.

”Aku tau kau tidak menyukaiku, tapi apakah kau tak ingin mengucapkan salam perpisahan??” ucapku lagi.

”Cih!!” cibirnya. ”Memangnya kau mengharapkan salam perpisahan yang seperti apa?? Mengantarkanmu dengan air mata?? Membayangkannya saja sungguh memuakkan. Jika kau ingin pergi, pergi saja.”

”Oppa..” desis Hyeobin.

Hatiku mencelos mendengar ucapannya. Aku bodoh.. Tentu saja dia mengharapkanku keluar dari rumah ini secepatnya.

”Nde, gomawo sudah mengizinkan ku tinggal di sini untuk beberapa minggu ini. Gomwo Hyeobin~a, kau benar-benar gadis yang baik. Dan..” aku menghentikan ucapanku, menatapnya dengan tuntutan agar dia membalas tatapanku, tapi itu hanya sia-sia. ”Gomawo kau sudah melindungiku, Donghae oppa,” lanjutku kemudian melangkahkan kakiku, menjauh dari mereka, menuju Jongwoon oppa yang menungguku di dalam mobil Hyukie oppa.

 

*****

Aku menarik napasku dalam-dalam, mengatur suasana hatiku. Untuk apa aku bersedih, aku bisa datang ke rumah mereka kapan pun aku mau, meskipun pria menyebalkan itu akan mengusirku. Meskipun seorang Lee Donghae mengusirku dari rumahnya, dia tak akan pernah bisa mengusirku dari hidupnya. Siapa suruh membuatku kesal dan nyaman disaat yang bersamaan? Jika kau tidak suka menyukaimu, salahkan saja dirimu sendiri kenapa berani merebut ciuaman pertamaku.

Astaga, baru setengah jam yang lalu tapi aku sudah merindukan teriakan-teriakan marahnya terhadapku. Apa aku terlalu cepat menyimpulkan perasaanku, bahkan tidak terduga?? Entahlah, tapi itu yang kurasakan saat ini.

Jongwoon oppa menghentikan mobil ini tepat di depan gerbang rumahku. Tak butuh waktu lama untuk diriku membuka pintu mobil dan turun dari sana.

”Gomawo, oppa. Apa oppa tidak masuk dulu??”

”Ah, aku harus kembali ke perusahaan. Hyukie masih berada di sana, mingkin saja dia membutuhkanku,” jawabnya dingin.

Aigoo~ manusia es ini tak bisakah tersenyum sedikit saja??

”Arasseo, gomawo oppa,” ucapku lagi sesaat sebelum Jongwoon oppa melajukan mobilnya.

Setelah itu aku berbalik dan berlari-lari kecil melewati halaman rumahku yang luas. Ahhh sudah bertahun-tahun aku tak kembali ke rumah ini. Sepulang dari Amerika, appa malah menyuruhku tinggal di rumah Hyukie oppa, tak percaya jika aku tinggal sendirian di rumah sebesar ini.

Aku tersenyum pada beberapa pengawal di depan pintu rumahku yang membungkuk memberi hormat.

Tapi sedetik kemudian kakiku langsung terhenti di ambang pintu rumahku ketika mataku mendapati sosok tubuh sempurna yang berjalan angkuh, berlawanan arah denganku, menuju pintu rumah. Mataku melebar dengan mulut yang sedikit menganga melihat dirinya yang berjalan semakin mendekat ke arahku. Dia… bagaimana dia bisa berada di yumahku??

Dia menghentikan kakinya tepat di samping tubuhku. Mata besarnya sejenak menatap mataku tajam di balik kaca mata hitamnya sebelum melanjutkan langkahnya.

Aku mematung di tempatku, menatap punggungnya yang menjauh dan menghilang setelah tubuhnya masuk ke dalam mobil mewah yang terparkir di depan rumahku.

”Chrysan!!!”

Sontak teriakan itu menyadarkanku kembali. Aku langsung mengalihkan pandanganku dari mobil mewah yang terus menjauh hingga keluar dari pekarangan rumahku kepada sesosok pria paruh baya yang berdiri di ruang tamu rumahku sembari merentangkan tangannya.

Aku tersenyum kemudian berlari kecil dan menenggelamkan tubuhku di pelukannya.

”Aigoo sudah seminggu appa kembali ke Seoul, tapi appa tak mencariku atau menghubungiku,” sungutku manja.

Appa membelai rambutku pelan kemudian mencium puncak kepalaku.

”Mianhae. Ada sesuatu yang harus appa selesaikan dan appa pikir kau masih berada di rumah Lee Sooman. Tapi waktu appa menelepon Sooman tadi, dia mengatakan kau tak tinggal di sana, makanya appa menghubungi Hyukie dan memintanya emngantarkanmu pulang. Apa putri appa baik-baik saja??”

Aku menganggukkan kepalaku mantap. ”Nan gweaenchana. Appa tenang saja, Sooman appa, Hyukie oppa, dan beberapa orang lagi, selalu melindungiku. Bahkan mereka sengaja menyembunyikanku hanya karena khawatir dengan keselamatanku.

Appa tersenyum mendengar penjelasanku, tapi sorot matanya berbeda. Tak meneduhkan seperti biasanya. Tiba-tiba wajah sosok yang baru saja kulihat kembali terlintas di otakku.

”Appa, kenapa Choi Siwon berada di sini?? Appa mengenalnya?? Dia teman bisnis appa?? Dia berbahaya appa,” ucapku cepat.

Tak ada jawaban apa pun dari appa. Tatapan matanya yang semula sayu berubah menjadi sendu. Ada kesedihan dari sorot matanya.

Appa meraih kedua tanganku ke dalam genggamannya. Aku langsung tersentak ketika tiba-tiba dengan cepat tangan appa menarik cincin yang melingkar di jari manisku. Cincin pertunanganku.

”Appa, itu..”

”Mianhae, Gaeul~a. Appa melakukannya hanya untuk keselamatanmu,” ucap appa pelan.

Aku hanya terdiam, tak mengerti kemana arah pembicaraan appa.

”Appa sudah memutuskan perunanganmu dengan Hyukie melalui Sooman dan lusa kau akan bertunangan dengan Siwon.”

Seakan dunia ini berhenti berputar ketika kalimat itu meluncur sukses dari mulut appa. Aku bahkan tak bisa menarik napasku dengan benar.

”Mwo??” ucapku lirih.

”Mianhae, Gaeul~a. Ini yang terbaik untuk dirimu.”

”ANDWAE!!!!!” teriakku. ”Aku tidak mau appa. AKU TIDAK MAU!!!”

Aku bersiap lari, tapi tiba-tiba saja dua orang bertubuh besar langsung mencengkeram kedua lenganku, membuatku terkunci di dalam cengkeramnnya. Dengan sekuat tenaga aku memberontak, tapi semuanya sia-sia. Air mataku menetes begitu saja.

”Maafkan appa, Chrysan,” ucap appa lirih dengan setetes air mata yang mengalir di pipinya. ”Bawa dia,” lanjut appa lagi.

Air mataku mengucur begitu saja, membasahi pipiku ketika kedua pria itu menyeretku menuju kamarku.

”Appa lepaskan aku!!!” jeritku sembari terus menoleh ke arah appa yang masih terpaku di tempatnya hingga akhirnya kedua pria itu mendorongku masuk ke dalam kamar dan mengunci [pintu kamarku dari luar.

Aku menghambur ke pintu kamarku. Kugedor-gedor pintu kamarku dengan keras, sama kerasnya dengan tangisanku.

”Appa, aku mohon buka pintunya!! Appa aku tidak mau, tolong jangan perlakukan aku seperti ini!! Appa, JEBAL!!!!”

 

To Be Continue…

 

Gelang yang dipegang Gaeul itu, gelang Hae yang sering di pakenya. Saiia mls nyari pikunya. Pada tau kan?? Jadi gelang itu bentuknya sama persis ma gelang hae. Hahaha itu cm karna saiia mupeng aj ma gelang itu. Anggap aja itu di sini bukan gelang Hae y. Terus Chrysan itu nama inggrisku.

Heudeuu Hyuk-Bin maennya di taman bermain, eh Hae-Ga di pasar.. gpp deh jd anak pasar, asal ma Hae.. wkwkwk

 

Oke d tunggu commentnya..

Mian kl bnyak typo, malas ngedit soalnya.

8 thoughts on “[Freelance] Fight, Love, and Revenge part 8

  1. annyeong chinguu..
    dari part 1-8 udah aku baca smuaaa.
    baguss FF’nya.. next pasrt ditunggu yaa
    hwaiting !! :)

  2. uwwwwooo’..
    apa2’an ni FF..’?!

    kerreeeeen bgt dah..

    d’acungin jempol dah author’nya daebak..

    lanjuuut..

    d’tnggu..
    :)

  3. admin tlng dong di posting lagi part selanjutnya…….

    penasaran banget.. ceritanya juga bagus…

    udah lama aku nunggu part 9 sampai end.. hehe…

    tapi blm kluar juga,,,, tlng ya admin…

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s