Dandelion #1 (Why, Baby? Sequel Edition)

Dandelion #1 (Why, Baby? Sequel Edition)

…pertemuan pertama…

 

 

“Sojung-ah!”

Aku menoleh. “Oh! Kau belum pulang?”

GO datang menghampiriku yang sedang duduk di bangku, mengerjakan tugas untuk besok dari Han sonsaengnim. “Aku membawakan makanan untukmu.” GO membuka sebuah bungkusan, kemudian mengambilnya dan menyuapkan ke arahku.

“Gomawo,” kataku, kemudian memakannya. GO tersenyum. Senyuman yang aku suka. Senyuman dan kehadiran GO di sampingku membuatku bertahan hingga saat ini.

Bukan karena aku mencintainya, dan aku tahu GO tidak mencintaiku juga, tetapi karena dia kuanggap sebagai pengganti oppaku yang meninggal dua tahun yang lalu karena tawuran antar-geng.

Menakutkan dan menyakitkan.

“Omo!” aku melihat jam tanganku. Pukul 9 malam. “Aku harus segera ke bar!”

“Sojung-ah. Bagaimana jika kau keluar saja dari bar itu? Jika sonsaengnim tahu, kau bisa dikeluarkan dari sekolah!”

“Ara.” kataku. “Tetapi aku tidak bisa. Aku harus bekerja.” Aku segera membereskan buku dan memasukkannya ke dalam tas.

“Kau berani membantah oppamu, hah?”

Aku tersenyum. “Mianhae, oppa. Jangan katakan pada siapa pun aku bekerja di sana!”

“Aish… Hati-hati! Dan cepat pulang ketika pekerjaanmu selesai!”

Aku mengangguk, kemudian pergi meninggalkan GO menuju tempat parkir. Segera kukayuh sepedaku menuju Candy bar, tempat aku bekerja part time.

Sebenarnya bekerja part time di sebuah bar bukanlah kemauanku. Aku tidak membutuhkan uang yang banyak karena keluargaku cukup kaya untuk membeli sebuah rumah dan dua mobil. Tetapi karena keadaan rumahku yang -bisa dibilang- berantakan itu, membuatku tidak nyaman berada di rumah terlalu lama.

Setiap hari teman sekelasku selalu senang ketika bel pulang sekolah berbunyi. Mengapa? Karena mereka ingin segera pulang ke rumah dan beristirahat. Tetapi tidak denganku. Aku lebih suka menghabiskan hari-hariku di mana pun, asalkan tidak berada di rumah.

Karena itu aku bekerja, agar tidak bertemu dengan mereka. Orang yang membuatku tidak betah berada di rumah.

Omma dan appa.

***

“Sojung-ah!”

Aku menoleh. “Oh, bos!” Segera kutaruh kain lap untuk mengelap meja bar dan berjalan mendekati bos Park, pemilik Candy bar tempatku bekerja.

“Sojung-ah, ada yang ingin kukatakan padamu.” katanya perlahan.

Entah mengapa tiba-tiba aku merasa tidak enak. Tidak biasanya bos Park seperti ini.

“Sojung-ah, sebenarnya aku senang sekali kau bekerja di sini. Tetapi…” bos Park menarik napas dalam-dalam. “Aku takut bisnis ini ditutup karena mempekerjakan seorang siswi SMU…”

Andwae. Jangan katakan itu!

“Mianhae, Sojung-ah. Hari ini, kau bisa bekerja untuk yang terakhir kalinya. Aku akan memberikan gajimu selama satu bulan penuh, tidak akan memotongnya sedikit pun.”

Seketika itu juga tubuhku terasa lemas. Tidak. Ini bukan masalah gaji! Bukan masalah uang! Tetapi masalah keluarga…

Sejak bekerja di tempat ini, meskipun hanya sebagai tukang bersih-bersih, aku merasa aku memiliki keluarga yang sebenarnya. Keluarga seperti yang pernah kurasakan sebelum oppaku meninggal. Shindong oppa, seorang pelayan yang sering membuatkanku makanan yang enak-enak. Key, bartender sialan yang selalu menyisakan banyak sekali botol kosong untuk kubersihkan, tetapi sangat perhatian kepadaku. Bos Park, pemilik candy bar yang sangat baik hati mau menerimaku bekerja di sini, melindungiku seperti anaknya sendiri, meskipun aku adalah siswi SMU.

Aku merasa bahagia berada di sini. Bisakah untuk tidak menyuruhku pergi?

***

Aku mengendap-endap menaiki tangga di sebelah rumahku. Kebetulan sekali kamarku berada di atas, memudahkanku jika ingin pergi dan pulang tanpa diketahui siapa pun. Apalagi terdapat tangga kecil di sebelah rumahku. Sering kali aku dan oppa memakainya untuk berjalan-jalan jika kami bosan di rumah.

“Ugh…” lenguhku. Karena sudah terbiasa, aku langsung saja melemparkan tas sekolahku ke atas.

Bug.

“Ya! Darimana saja kau, hah?”

Omo. Itu suara omma!

“Kau tahun pukul berapa sekarang, nona Hwang?”

Aku segera berdiri. “Mengerjakan tugas.” jawabku tanpa memandang omma. Kurebut tas sekolahku yang mengenainya karena kulempar tadi dan berjalan memasuki rumah.

“Tugas? Mengapa murid SMU mengerjakan tugas hingga larut malam?” tanyanya. Omma mengikutiku memasuki rumah. Ketika aku membuka pintu kamarku, omma menahannya. “Ya!”

“Wae omma?” bentakku. “Aku lelah. Besok aku harus berangkat pagi-pagi. Jebal.” Kemudian ku tutup pintu kamarku dengan keras.

Brak!

 “Ya! Omma sedang bicara padamu! Sojung-ah! Tidak sopan sekali kepada ommamu! Buka! Omma belum selesai bicara!”

Prang!

“Berisik sekali!”

Suara appa. Sepertinya mereka akan bertengkar lagi di depanku.

“Berisik katamu? Lihat kelakuan putri kesayanganmu itu! Tidak sopan sekali pada ommanya!”

“Biarkan saja! Dia bukan anak kecil lagi!”

“Bukan anak kecil katamu? Kau…”

Prang!

“Ya! Pecahkan saja semuanya hingga kita jatuh miskin!”

“Tentu! Aku lebih menyukai kemiskinan daripada harus melihatmu! Dasar yoja tukang selingkuh!”

Prang!

Aku menutup telingaku, tidak ingin mendengarnya lagi. Entah apa dan sudah berapa kali benda yang appa hancurkan, aku tidak tahu. Yang aku tahu, seperti hari-hari sebelumnya. Mereka tidak akan berhenti bertengkar hingga aku mendengar tangisan omma…

***

“Yeobseo?”

Kuusap perlahan airmataku yang sudah sedikit mengering. “Ya! Sudah tidur?”

 “Oh. Sojung-ah. Kau kenapa?” GO balik bertanya.

“Hhh. Seperti biasa.” Jawabku datar. Suaraku bergetar karena menangis.

“Apa aku harus ke sana?”

Aku melihat jam dindingku. Pukul 3 pagi. “Ani. Tidak usah.” Jawabku. “Aku hanya ingin kau bernyanyi untukku…”

“Hanya itu? Aku bisa kesana saat ini. Aku masih mengerjakan tugas. Kita bisa mengerjakannya bersama.”

Aku tersenyum. “Ani, menyanyi saja untukku.”

Beberapa detik kemudian, aku mendengar suara merdu GO menyanyikan sebuah lagu untukku. Sebenarnya aku sudah lelah menangis, tetapi aku ingin menangis lagi setelah mendengar suaranya yang merdu itu. Seperti suara oppa.  Dia juga suka menyanyi dan menari. Bahkan beberapa minggu setelah tawuran berdarah itu terjadi, seharusnya oppa sudah menandatangani kontrak dengan sebuah manajemen.

Saat itu, ketika tawuran antar-geng belum terjadi. Omma dan appa tidak pernah bertengkar sekali pun. Kami sering piknik bersama, pergi ke taman hiburan, berlibur ke pulau Jeju, semua. Hari-hari kami lalui sangat indah, sampai hari itu tiba.

Seorang lelaki paruh baya tiba-tiba datang ke rumahku dan mengaku sebagai ayah biologis oppa. Dan mulai saat itu juga mereka berdua bertengkar. Oppa mulai bergabung menjadi anggota sebuah geng SMU. Appa mulai membenci oppa, sedangkan omma selalu melindunginya. Appa mulai membanding-bandingkanku dengan oppa. Hingga akhirnya oppa meninggal karena tawuran, dan aku yang menjadi bulan-bulanan omma.

Aku sangat menyayangi oppa, tidak peduli apakah dia oppa kandungku atau tidak. Bagi appa, selingkuh adalah selingkuh. Tidak peduli apakah oppa benar anak biologisnya atau bukan. Bagi omma, oppa adalah putranya dan aku putri appa. Tidak peduli apakah kami saudara atau bukan.

Mereka tidak memikirkan perasaanku. Karena itulah aku sangat membenci mereka.

***

Ku rebahkan kepalaku di atas meja kantin. Mataku bengkak akibat kurang tidur dan bekas menangis tadi malam.

“Ya! Gwaenchana?” GO duduk di sebelahku, direbahkan kepalanya di atas meja kantin.

Aku mengangguk. “Oh. Seperti yang kau lihat.”

Tangan GO menepuk pundakku pelan. “Kapan saja kau…”

Aku segera bangun. “Ya! Pinjami aku tugas!” potongku. Aku sedang tidak ingin membicarakan masalah itu lagi. Sebenarnya aku malu harus bergantung pada GO setiap hari karena masalah itu. Tetapi aku tidak tahu lagi harus bergantung dan meminta perlindungan kepada siapa. Seperti ada dinding yang kubangun sendiri untuk pertahananku, aku tidak terlalu dekat dengan teman sekelasku, kecuali dia.

GO memandangku bingung, tetapi segera dikeluarkannya tugas yang akan kupinjam dan menyerahkannya padaku.

Aku segera merebut buku tugas tersebut dan mulai menyalinnya ke dalam buku tugasku sendiri. GO hanya memperhatikanku, membiarkanku menyalin pekerjaannya. Tiba-tiba dia berkata. “Menangis saja jika ingin menangis, Sojung-ah…”

Aku tersenyum kecut. “Ani… Aku tidak cengeng!” kataku. Tetapi baru saja aku selesai mengatakannya, airmataku menetes. “Aish… Mengapa airmataku menetes…”

GO membalik tubuhku menghadapnya, menyandarkan kepalaku di pundaknya. “Menangislah… Hari ini kupinjamkan pundakku untukmu menangis…”

Pertahananku runtuh. Airmata yang sudah kutahan agar tidak menetes lagi, akhirnya menetes juga. Membuat noda di seragam GO.

“Aku… Ingin sekali keluar dari rumah itu…”

***

Aku berjalan memasuki pintu bar perlahan. Meskipun aku pernah bekerja di sini, tetapi aku masih merasa asing jika harus memasukinya. Aku memilih duduk di meja sudut bar. Untuk berjaga-jaga jika tiba-tiba guru atau orang yang kukenal mengunjungi bar ini.

Hari ini sepertinya pengunjung tidak begitu ramai. Aku bisa melihat beberapa pengunjung duduk bersantai di meja, dan ada segerombolan, sekitar 5 atau 6, siswa SMU? Sepertinya begitu. Meskipun mereka berdandan seperti mahasiswa, tetapi aku cukup pandai untuk tidak dibohongi. Mereka duduk di sudut yang berhadapan denganku.

Hanya ada satu namja di sana yang terlihat tidak senang. Dia duduk terdiam melihat teman-temannya yang sedang minum alkohol.

“Oh! Sojung-ah!”

Aku menoleh. “Bos!”

Bos Park menghampiriku. Dari raut wajahnya, aku bisa melihat dia bingung karena mendapatiku di bar miliknya padahal aku sudah dipecat.

Aku tersenyum. “Hari ini aku jadi pelanggan, bos…”

“Tsk~ Murid seperti apa kau!” bos Park memukul kepalaku pelan.

“Sepertinya hari ini pengunjung tidak begitu ramai, Bos. Karena itu tidak usah khawatir mengijinkan kami menjadi pelangganmu.”

“Kami?”

Segera kutunjuk segerombol siswa SMU di depanku itu. “Mereka.” Kataku. Bos Park menoleh. “Bukankah terlihat kekanak-kanakan sebagai mahasiswa?”

Beberapa detik memperhatikan tingkah mereka, akhirnya Bos Park angkat bicara. “Yaish~ aku tertipu…”

Aku segera berbalik, memesan minuman kepada pelayan. Sepertinya dia baru, karena selama aku bekerja di sini aku tidak pernah melihatnya. “Satu gelas saja.”

Plak!

“Argh…”

“Aku tidak akan mengijinkanmu membeli bir!”

Aku mengusap kepalaku. “Sinca…”

“Jangan layani jika dia meminta bir, oke?” kata bos Park pada pelayan tersebut. “Dia masih SMU!” kemudian bos Park berjalan meninggalkanku.

Huh. Dasar bos tidak bertanggung jawab!

“Yo! Mari kita rayakan kemenanganmu!”

Aku menoleh. Gerombolan siswa itu lagi. Ramai sekali mereka. Benar-benar kampungan. Tetapi sepertinya mereka sedang berpesta untuk merayakan sesuatu.

Namja yang sedari tadi hanya diam itu akhirnya bicara juga. “Shiro! Aku tidak suka minum!”

“Aish, Yunho-ya! Kau memenangkan lomba itu, dan menandatangani kontrak sebagai murid training! Mengapa tidak merayakannya, hah?”

Jadi namanya Yunho… Dan dia baru saja menandatangani kontrak?

“Tetapi aku tidak suka minum.”

“Ayolah… Satu gelas saja!” Salah seorang namja yang kudengar bernama Yunho itu menyodorkan segelas bir kepadanya. Dengan berat hati, diterimanya gelas tersebut dan meminumnya. “Hahaha… Yo! Mari kita bersulang untuk Jung Yunho!”

“Tsk~ Idola seperti apa dia… Baru menandatangani kontrak saja sudah minum…” rutukku.

Aku terus memperhatikan namja bernama Yunho itu. Dia meminum bir tersebut sampai habis dengan gerakan yang indah. Teman-temannya terlihat kampungan, tetapi dia tidak. Seperti sudah sering mengunjungi bar. Keren, dan berwibawa. Aku hampir saja terpesona karenanya. Tetapi… Menurutku, wajahnya tidak begitu tampan. Atau mataku yang tidak bisa melihat dengan jelas karena terlalu sering digunakan untuk menangis?

“Sudah!” teriaknya. Sepertinya dia terlihat sedikit mabuk. Aku tersenyum kecut. Segera kuhapus kekagumanku kepadanya beberapa saat yang lalu. Kupikir dia memang benar keren. Tetapi ternyata tidak begitu bisa minum.

Tiba-tiba perutku mulas. Aku melihat sebuah kalender di dekat meja, dan menyadari sesuatu. “Sial! Seharusnya aku tahu aku akan datang bulan!”

Aku segera berdiri. Masih dengan memegangi perutku yang sangat sakit karena datang bulan, aku berjalan perlahan menuju pintu keluar.

“Yunho-ya! Kau mau kemana?”

“Kamar… Mandi…”

“Mianhae, kami tidak tahu kau tidak bisa minum!”

Aku bisa melihat namja bernama Yunho itu berdiri dan hampir terjatuh. “Gwaenchana…” katanya, kemudian dia mulai berjalan menuju ke arahku dengan sempoyongan.

Aku berhenti, mempersilahkannya berjalan dulu agar tidak bertabrakan denganku. Aku tahu aku harus mengalah pada orang yang sedang mabuk jika tidak ingin menimbulkan masalah dengannya. Tetapi ketika dia sampai tepat di depanku, tiba-tiba kakinya tersandung sesuatu dan membuatnya terjatuh.

Cup.

-Pertemuan pertama, END-

18 thoughts on “Dandelion #1 (Why, Baby? Sequel Edition)

  1. Waaahhh..ini cerita pertemuan nya yunho dan soojung ya..

    Asik…aku selalu suka ff buatanmu…bahasanya bisa membawa reader merasakan emosi sicastnya…

  2. Ow ow ow ow,, so sweet! Chu~
    Ini crita’a sblm pcrn kah?! -_-”
    Siapa oppa’a soojug?! Aq kira td’a GO ^^V
    Ato changmin oppa?! AToo….

    LANJUT!

  3. ahhhh keren.. ffnya bagus bgt bhasanya bisa readers ngehayatin ceritanya.. keren lanjutannya jgn lama lama yahh

  4. Aaaaaa
    tgl 20 :D

    Wahcini toh pertemuan mreka yg pertama :)
    ternyata soojung dulu yg sadar yah :D
    Kirain si yun dulu yg ngeh :D

    Aq nggu part 2 nya neh :D
    Pengen tahu gmna yunho bisa pcran ama soojung :D
    Tapi aq msh kpikiran wktu soojung selngkuh ama changmin :(,kesian bgt yunho :(
    tapi soojung emng buat yunhoo,changmin ama aq ajah :D *PLAK

    seperti biasa,author L aq suk adeskripsi ff qmu
    n mian ru comment,aq ru buka wff,dah lama nie ga ksini :D

  5. Huaaaa suka banget ff ini
    Seneng ada seriesnya
    Inget banget sama candy bar, jd langsung ngeh
    Hahaha ternyata shindong sama key sebelum debut kerja di bar juga ya?
    Lanjutannya ditunggu
    L-onn author favoritku di sini XD

  6. uwoooow o.O
    itu yang terakhir siapa kiseu siapa?
    kukira ini lanjutan why baby yang kemarin
    L~ onnieeeee, bagus!
    aku suka :D
    cepetan ya onn lanjutannya#plak
    atau kalau sempet, bikinin aku ff lagi
    bagus sih!^^v

  7. awalnya bingung kenapa ada go, tapi terserah author kan ini ficnya author,,
    oh, jadi begini pertemuan pertama sojung ama yunho..
    Kalo ga salah ini sepuluh tahun yang lalu ya? Tapi knp ditulis sequel dijudulnya? Atau sequel ini = why series version? Mian banyak nanya

  8. huahhh…
    abang GO nya baik banget sih.
    keren banget.

    sojung ternyata punya masalahnya ama keluarga toh?
    kalo emang oppa nya anak dr pria lain. berarti dr suami pertamanya dong?
    kecuali kalo itu dongsaengnya sojung.

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s