My Destiny is You [3/?]

Haloooo readers ^______^

lama tidak berjumpa~ maaf juga kalau lanjutan ff ini lama~

bagi yang udah lupa, ini link part 1 sama part 2nya ^^

part 1, part 2

oh ya, karena makin banyak ff yang masuk ke email, dan jadwal penuh banget, mungkin ff admin yang chaptered bakal publish di blog pribadi admin, agak susah kalau publish di sini krn banyak banget ff-ff author freelance yang harus didahulukan ^_^.

jadi kalau mau baca lebih cepet, silahkan kunjungi blog admin disini. *sekalian promosi* #plak

by the way, happy reading ^^

—–

Donghae bersandar di tembok samping pintu apartemen Hyeon, setelah mengantarkannya tadi. Untungnya Ibunya sampai duluan, sehingga Donghae hanya membawa Hyeon masuk dan membiarkan Ibunya merawatnya.

Donghae melirik jam tangannya, sudah jam dua belas malam. Pasti sekarang semua member sudah sibuk mencarinya. Tapi… tunggu dulu, mana kantungannya tadi? Ah~ pasti ia melupakannya di taman saat menggendong Hyeon tadi! Donghae berdecak, menggerutu pada dirinya sendiri. Pasti Leeteuk akan marah karena snacknya sudah di buang.

Tiba-tiba pintu di samping Donghae terbuka, seorang Ibu dengan raut wajah cemas, tapi tetap tersenyum padanya, “Terima kasih sudah mengantarkan Hyeon kesini…” katanya.

Donghae membalas senyum itu dengan ramah juga, “Ah~ tidak apa-apa, ahjumma,” balasnya.

Kemudian Ibu Hyeon menghela napasnya berat, Donghae bahkan bisa merasakan kelelahan yang ia keluarkan lewat helaan napasnya.

“Ahjumma, sebenarnya… aku sudah beberapa kali melihat Hyeon melakukan hal berbahaya,” kata Donghae tiba-tiba, membuat Ibu Hyeon menoleh kepadanya.

“Bisa kau ceritakan padaku, Donghae-ssi?” pintanya dan Donghae mengangguk sebagai jawaban.

“Saat pertama kali aku melihatnya… Ia sedang berdiri di pinggiran rooftop, ingin melompat.” Tutur Donghae, ia berhenti sejenak, lalu kembali melanjutkan, “Yang kedua… beberapa hari lalu, aku melihatnya menyebrangi jalan raya tanpa melihat terlebih dahulu,” katanya lagi.

Ibu Hyeon menutup mulutnya, lalu memijit keningnya sendiri. Ia tampak frustasi, kemudian ia menangis. Donghae yang tidak bisa melakukan apa-apa, hanya menatap iba pada wanita berusia paruh baya yang ada dihadapannya itu.

“Separah itukah?” gumam Ibu Hyeon, masih terisak.

Tanda tanya kembali muncul di kepala Donghae… memangnya ada apa? Lalu iapun mengumpulkan keberaniannya untuk bertanya. “Ahjumma… kalau boleh tahu… kenapa Hyeon melakukan hal seperti itu?” tanya Donghae takut-takut.

Ibu Hyeon menghela napasnya lagi, lalu menghapus bekas-bekas air mata dari wajahnya yang terlihat letih. “Hyeon… ditinggalkan pacarnya,” jawab Ibu Hyeon pelan, lalu lagi-lagi air mata jatuh membasahi pipinya, “Dia meninggal karena kecelakaan mobil… saat ia ingin melamar Hyeon untuk jadi tunangannya,” katanya lagi.

Lidah Donghae seakan menjadi beku. Jadi itu yang membuat Hyeon jadi seperti ini? Gara-gara… kekasihnya itu?

“Mereka berjanji bertemu di salah satu restoran favorit mereka… waktu itu Hyeon belum tahu kekasihnya itu akan melamarnya… Hyeon terus menunggu malam itu, tapi yang ia dapatkan adalah, berita kekasihnya telah meninggal..”

Tanpa sadar, Donghae ikut menitikkan air matanya. Rasanya terlalu perih…. bahkan ia yang hanya mendengarkan ceritanya ikut menangis, apalagi Hyeon?

“Dan yang pertama kali ditemukan saat kekasihnya meninggal… ia sedang menggenggam sekotak cincin… yang akan dia berikan untuk Hyeon…” lanjut Ibu Hyeon.

Tangis Donghae makin deras, air matanya mengalir, meskipun tanpa suara. “Maaf, ahjumma…” ia berbisik.

“Entah sampai kapan Hyeon akan terus seperti ini…”

Lalu mereka berdua terdiam. Mendalami pikiran masing-masing, tapi sesungguhnya, apa yang mereka pikirkan sama. Yaitu, bagaimana cara membuat Hyeon melupakan kenangan buruknya, dan membuatnya berhenti melakukan usaha bunuh diri?

“Ah, Donghae-ssi… sebaiknya kau pulang, sudah tengah malam…”

Donghae tersadar dari lamunannya. Ia mengangguk, lalu berpamitan pada Ibu Hyeon dan akhirnya melangkah menuju apartemennya.

“Donghae! Dari mana saja kau?!” teriak Leeteuk saat Donghae baru saja melangkahkan kakinya masuk ke dorm.

Donghae dengan malas menatap wajahnya Leeteuk, karena ia merasa lelah… dan… pikirannya dipenuhi oleh Hyeon. Dia bahkan tidak bisa memikirkan apa-apa lagi, yang hanya ada gadis itu, dan masa lalunya.

“Omo! Matamu merah, kau menangis?” tanya Leeteuk lagi, sambil menatap mata Donghae yang memang sedang merah dan masih sembap. Tapi Donghae hanya menggeleng, tidak berkata apa-apa.

Donghae hendak masuk ke kamar, tapi Leeteuk memanggilnya lagi, “Ya, Lee Donghae! Mana snack pesananku?” tagihnya.

Langkah Donghae terhenti. Ia pasti akan dimarahi jika ia mengatakan snacknya dibuang olehnya sendiri.

“Err… Itu… sudah habis, Hyung,” katanya bohong, lalu segera masuk ke kamar dan menutup dirinya dengan selimut.

Ia hendak tidur, mencoba memejamkan matanya, tapi cerita dari Ibu Hyeon terus-terus berdengung di telinganya. Aish~ setelah mengetahui apa yang terjadi pada Hyeon… ia bahkan jadi semakin memikirkannya…

—TBC—

6 thoughts on “My Destiny is You [3/?]

  1. waahhh asiiik., akhr’a lnjtn’a kluar jg.. dh lma bgt ni nunggu’a.. hoho..
    tgln jjak dlu ahh.. he..

    let’s reading.. happy reading.. :)

  2. o gitu to ceritanya? Hmmm kasian juga si nasib hyeon.
    Ayooo donghae, kau pasti bisa bikin hyeon snyum lagi. Hwaiting!!

    Btw nama blognya admin apa? Biar aku bisa berkunjung ksana. Bisnya pnasaran si.

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s