[Freelance] I Thought I Lost You part 1

Title: I thought I lost you (Part 1)

Author: fikey

Main Cast: Choi Siwon, Cho Kyuhyun, Lee Donghae

Support Cast: Park Hayoung, Kim Moon-Young

Rating: All Ages

Genre: Love/Friends

Pernah juga dipublish di blog pribadi saya: http://sweetlydangerous.wordpress.com/

Ps: Annyeong. Baru pertama kali ngirim ff kesini. Semoga pada suka, dan…no plagiarism yaa. Gomawo ^^

 

Choi Siwon’s POV

“Rapikan penampilanmu. Kita akan kedatangan tamu.”

Aku yang baru saja melangkahkan kakiku masuk ke ruang keluarga tidak dapat membantah, ataupun meminta sedikit waktu lagi untuk sekedar meluruskan kaki. Di rumah ini, kalau Appa-ku sudah berkata ‘A’ maka aku, atau Eomma sekalipun tidak bisa meminta ‘ B’.

Kulihat Appa dengan jas kebesarannya, dan Eomma dengan blus merah kesayangannya. Eomma melempar senyum penuh arti kepadaku.

“Siwon-ah, semakin cepat kau bergegas, semakin baik,” sahut Eomma.

Aku hanya mengangguk, menangkap anggukan setuju dari Appa. “Nde. Aku akan cepat,” jawabku, sebelum sedikit berlari menuju kamarku di lantai atas.

Ne, siapa yang akan datang? Sepertinya serius sekali.

—-

“Lihat, kan. Mereka berdua memang serasi.”

“Hayoung-ah, kau sangat cantik dengan busana itu.”

“Ah, Nyonya Choi. Anakmu juga terlihat gagah dengan pakaian itu.”

Aku memasang wajah datar, menanggapi pekikan-pekikan Eomma yang sepenuh hati memuji penampilan seorang yeoja yang duduk di sebelahku. Eh. Tidak juga sih. Lebih tepatnya, ‘dipaksa’ duduk di sebelahku. Nyonya dari keluarga Park itu juga memuji penampilanku daritadi. Sedangkan, Appa dan Tuan Park sepertinya sedang serius membicarakan sesuatu, tanpa menggubris pujian-pujian Eomma dan Nyonya itu.

Oke. Aku benar-benar tidak tahu mau berbuat apa sekarang. Pertama, Appa menyuruhku cepat-cepat membersihkan diri dan berganti baju. Lalu, keluarga Park itu datang, sambil membawa anak yeojanya, ah ya, jangan lupa tentang pemaksaan posisi tempat duduk ini. Ah, apa ini artinya…

Ayolah Choi Siwon, kenapa kau berubah menjadi pabo begini? Sudah pasti kau akan dijodohkan. Aigoo… ada apa dengan otakku ini.

Oh ya, kembali pada permasalahan pertama. Aigoo, aku pasti tidak bisa membantah keputusan Appa-ku. Membantahnya, sama saja dengan menyerahkan kepalaku sendiri pada sekelompok alien. Oke, pikiranku mulai melantur. Ingatkan aku untuk berhenti bermain game dengan dongsaengku yang sering membawanya PSP-nya kemana-mana itu.

Mau membantahpun, aku tidak bisa. Ujungnya, Appa pasti akan melemparkan pertanyaan seperti ‘ Coba perlihatkan Appa siapa wanitamu?’ atau ‘Kau memang tidak pernah menghargai Appa’ oh ayolah, kurang pengorbanan apa aku pada Appa-ku?

Aku sudah dengan berat hati meninggalkan hobiku memotret, dan cita-citaku menjadi fotografer untuk mewujudkan permintaan Appa melanjutkan usaha bisnisnya. Aku juga memenuhi permintaannya untuk membiasakan diri memakai jas yang membuat gerah. Untuk sekali ini, bisakah aku menolak perjodohannya?

“Ah, sepertinya makan malam sudah siap,” suara Eomma menarikku dari pikiranku.

Kurasakan yeoja di sampingku, eh atau bisa kupanggil Hayoung-ssi juga agak terlonjak. Ia mengangguk, dan segera beranjak dari sofa, mengekor di belakang Eomma-nya. Sedangkan Appa dan Tuan Park berjalan bersisian, sambil keduanya menyunggingkan senyum puas. Sial. Pasti ada sesuatu yang disetujui.

Aku sengaja berjalan paling belakang, dan mengulur waktuku untuk sampai di ruang makan lebih cepat. Ne, aku tidak mau ada pemaksaan posisi tempat duduk seperti tadi lagi. Appa kira aku kucing? Aku terlalu gagah untuk menjadi kucing.

Baru saja aku berjalan beberapa langkah, kurasakan seseorang menahanku dari belakang.

“Eomma? Waeyo?”

“Siwon-ah, kenapa daritadi kau memasang wajah datar? Kau menyukai Hayoung-ssi kan? Dia itu sama sepertimu, lulusan universitas luar negeri. Masa depannya juga cerah. Jadi kalau sudah menikah nanti kau tak perlu bekerja terlalu keras,” jelas Eomma. Aigoo, Eomma-ku ini. Kalau sudah mempunyai istri yang kucintai, melompat dari gedung bertingkat demi uangpun aku kulakukan.

Aku hanya mengangguk pelan. “Iya, aku menyukainya, Eomma,” jawabku. Berbohong tentu saja. Melakukan white lies untuk kebaikan itu sah kok.

Kulihat Eomma tersenyum puas. “Ah ya, Eomma akan menunggu sampai kau bilang kau mencintainya. Sudahlah, ayo kita makan malam.” Aku mengangguk lagi, dan mengekor di belakang Eomma.

Kami sampai di ruang makan, dan kulihat masih ada dua kursi tersisa. Satu di ujung meja makan, tepatnya di samping Appa, satu lagi di apit oleh tempat yang kukatakan tadi dan… Hayoung-ssi. Ah, aku akan mengambil yang di samping Appa saja.

“Siwon-ah, silakan duduk di sebelah Hayoung. Dia sudah menantimu dari tadi.”

Aku memutar bola mataku bosan. Ne, here we go again.

—-

“Er… jadi kau sudah  bekerja?” tanyaku kikuk pada Hayoung-ssi yang kini duduk di kursi taman kami. Hari sudah malam, tapi Eomma-ku dan Nyonya Park ribut menyuruh kami menghabiskan waktu berdua.

Yeoja itu hanya mengangguk, dan aku pun hanya melepaskan kata ‘oh’ tanda mengerti. Kadang aku merutuki caraku mengajak ngobrol seseorang. Ya, aku tahu. Aku terlalu kaku. Eh, tapi ayolah setidaknya aku sudah berusaha, kan? Sudahlah untuk saat ini aku pasrah saja dengan keputusan Appa. Harapan-harapan kecil mulai kukumandangkan dalam kepalaku. Semoga Hayoung-ssi ingin menolak perjodohan ini.

“Ne, Siwon-ssi,” panggilnya. Tunggu, baru sekarang aku mendengar suaranya. Semoga dia mengatakan sesuatu yang membuatku tidak kikuk seperti ini.

“Y-ya, Hayoung-ssi?” responku, sedikit terbata. Tenang, Choi Siwon, tenang.

Kulihat Hayoung-ssi menarik napasnya dalam-dalam. Pasti ada sesuatu yang penting. “A-aku…”

“…” aku menunggunya dalam diam. Aigoo, jangan membuatku ingin meledak gara-gara menunggu begini.

“Aku… tidak ingin menikah denganmu.”

End of Choi Siwon’s POV

***

Dua minggu kemudian

Suasana kantor siang itu tak pernah sesibuk biasanya. Lorong-lorong tiap ruangan dipenuhi para karyawan yang sibuk berjalan kesana kemari, entah sambil membawa berkas, setumpuk tinggi amplop coklat, sampai ada yang rela membungkus makan siangnya saking dikejar deadline. Tidak jarang juga ada beberapa karyawan yang saling melempar umpatan, atau permintaan maaf singkat.

Lain ruangan tempat bekerja, lain juga kondisinya.

Di sebuah ruang bernomor pintu delapan puluh, seorang namja berpostur tubuh tinggi dengan santai menaruh wajahnya di atas lipatan tangannya di atas meja. Namja itu tidak melepaskan jas abu-abunya, seperti yang biasa ia lakukan pertama kali ketika mencapai ruangannya. Ia pun tak segan menaruh tasnya di atas mejanya yang murni masih kosong. Dengan kata lain, tak ada tanda-tanda namja itu melakukan suatu pekerjaan setibanya ia di ruangan ini.

Sedetik kemudian, pintu kayu ruangan itu terbuka, menampilkan dua orang namja yang merupakan sahabat baik Choi Siwon—namja yang tengah tertidur itu. Keduanya saling melempar pandang, dan berjalan menuju meja kebesaran sahabat mereka.

“Hyung… Ireona…” panggil salah seorang namja yang paling muda di antara mereka bertiga, Cho Kyuhyun.

Siwon menggeleng pelan dalam tidurnya. “Ne, Eomma lima menit lagi. Semalaman aku begadang menyelesaikan tugas dari Appa,” sahutnya setengah sadar.

Kyuhyun menyikut namja yang berdiri di sampingnya. “Donghae-hyung, bagaimana ini? Masa kita jelaskan pada Tuan Choi kalau anaknya ketiduran karena begadang?” tanyanya.

Yah, terang saja panik. Rapat dengan direktur perusahaan dimulai tiga menit lagi, dan disitu akan dibicarakan siapa yang akan menjabat sebagai direktur selepas Tuan Choi pensiun nanti. Ditambah lagi, namja yang terkenal paling tak gentar merebut posisi itu akan hadir juga. Pasti dengan mudah jabatan itu akan diterimanya jika musuh utamanya sudah gugur duluan seperti ini.

Donghae mengetuk-ngetuk meja berlapis kaca itu dengan buku jarinya. “Siwon-ah kami tidak bercanda. Rapat dengan ayahmu akan mulai dua menit lagi, dan tidak. Aku bukan Eomma-mu. Beliau ada di rumah,” ujarnya dengan suara yang agak keras.

“Eomma… aigoo…”

Kyuhyun memutar bola matanya. “Ne, Hyung bangun, atau kupanggilkan Hayoung-ssi kesini.”

Hal berikutnya yang terjadi adalah terdengarnya suara umpatan, benturan, dan umpatan lainnya. “Adaw kepalaku…”

***

“Kalian berdua sengaja meninggalkanku di ruang rapat sendirian ya? Hhh… kalian tahu? Sangat kikuk berada di antara dua orang bapak-bapak berpikiran kolot,” cecar Siwon, sambil melahap makan siangnya yang telat.

Terang saja telat. Rapat ‘khusus’ yang dijadwalkan akan berakhir dalam kurun waktu setengah jam, nyatanya berjalan selama dua jam. Itupun belum dihitung dengan segala basa-basi antara Tuan Choi dengan seorang karyawan senior yang disebut-sebut sebagai employee of the month, sekaligus kandidat kedua pemegang jabatan direktur di samping Siwon.

Apalagi, Siwon sendiri merasa dipermalukan selama dirinya duduk di ruangan itu. Terlihat jelas bahwa namja senior itu—Kim Moonyoung—habis-habisan memata-matainya selama seminggu ini. Hal kecil seperti Siwon sering melepas dasinya selama jam kantor pun beberapa kali diungkitnya, membuat Tuan Muda Choi itu kerap menggertakan giginya gemas.

“Jangan bilang bapak tua itu memasang kamera tersembunyi di kantormu, Hyung,” tutur Kyuhyun berpendapat, setelah menyuapkan makanannya yang berangsur dingin.

Donghae mengangguk setuju. “Jaman sekarang cara apapun dikatakan halal, Siwon-ah. Yaa, setidaknya dia belum melakukan pembunuhan berencana atas namamu, atau meracuni makananmu, kan?” tanyanya santai, tidak terlalu memperhatikan ekspresi tegang Siwon yang memandangi makan siangnya penuh sangsi.

“Hhh… kalau menurutku sih, lebih baik kau serahkan saja kedudukanmu pada Moonyoung, Hyung. Aku tidak mau salah satu sahabatku nantinya berkepala botak karena terlalu banyak bekerja dan memikirkan perusahaan,” ujar Kyuhyun, yang sukses membuat Siwon menatap tajam kearahnya.

“Yep. Lebih baik menjadi karyawan baik dan suka menolong seperti kami, tapi gaji tiap bulan tetap bertambah,” tambah Donghae, tersenyum jahil.

“Bagaimana bisa? Aku ka—“

Drrt. Drrt.

“Ne, waeyo Hyung?”

Siwon mengangkat tiga jarinya kearah Kyuhyun dan Donghae, memberi tanda bahwa ada sebuah panggilan masuk atau bisa juga pesan. Kedua namja itu mengangkat bahu lalu melanjutkan makan siang mereka yang sama terlambatnya seperti Siwon sendiri.

Sementara, namja gentle itu sepertinya menerima sebuah panggilan yang serius, lantaran seketika raut mukanya berubah, dan buru-buru menghapus bekas saus spaghetti di ujung bibirnya. Sambil masih mempertahankan posisi telepon genggamnya, namja itu melenggang pergi, meninggalkan Donghae dan Kyuhyun yang saling memberi tatapan aneh.

***

Choi Siwon’s POV

Ne, sangat aneh. Hari ini sangat aneh. Pertama, Appa sudah merangkaikan suatu rapat tertutup dengan peserta rapatnya hanya aku, dan karyawan senior bernama Kim Moonyoung itu. Kedua, di dalam ruangan itu, selama dua jam diriku dipermalukan, dan ketiga, Hayoung-ssi tiba-tiba meneleponku. Hal yang belum pernah dilakukannya setelah dua minggu kami bertemu. Memang sih, kami sempat bertukar nomor, tapi itu kan hanya untuk alibi saja. Lagian, Eomma waktu itu berisik sekali, memaksaku menanyakan nomornya.

Oh ya, tadi yeoja itu meneleponku, dan memintaku menemuinya di kafe dekat kantorku yang hanya terletak beberapa blok. Dari suaranya, dia benar-benar serius. Bahkan lebih serius daripada saat dia bilang tidak mau menikah denganku. Aigoo, ada apa lagi ini? Hanya karena kata-kata itu kenapa di pikiranku melintas hal yang tidak-tidak ya? Jangan-jangan kalau kami menikah nanti, dia akan menjadi lebih galak dari ini?

Ya! Choi Siwon! Berhenti memikirkan sesuatu yang tidak-tidak. Aduh benar-benar deh yeoja ini.

Tidak terasa selama beberapa saat mengendarai mobilku, aku sudah sampai di depan kafe yang dimaksud Hayoung-ssi. Kulihat mobilnya yang bercat merah terparkir, dan lewat kaca transparan ke dalam kafe, aku melihatnya duduk di sudut ruangan. Benar, kan, yeoja ini terlalu misterius untukku.

Aku melangkahkan kakiku memasuki ruangan kafe itu. Segera, angin dingin menerpaku dan aroma cappuccino memenuhi indera penciumanku. Dengan mudah, aku menangkap sosok Hayoung-ssi yang tengah melambaikan tangannya ke arahku. Nah, seperti yang kubilang dia mengambil tempat di sudut ruangan. Memang aneh. Kafe itu tidak terlalu ramai kok.

Kutarik kursi kayu di belakang meja, sehingga kini kami duduk berhadapan. Wow. Dia sangat berbeda dengan yang aku temui dua minggu lalu. Waktu itu, dia memamerkan kaki jenjangnya dengan mengenakan busana gaun berwarna gelap selutut, tapi sekarang, dia mengenakan kaus putih sederhana yang ditimpa jaket kulit hitam di atasnya. Dan kalau aku tak salah, dipadukan dengan celana jins dan sepatu converse.

“Mau minum apa?” tanyanya padaku, seraya menyodorkan daftar menu ke hadapanku.

Kulihat gelas cappuccino-nya sudah setengah habis. Eh, apa aku selama itu mencapai tempat ini? Tidak kan?

“Tolong hot coffee-nya,” ujarku pada pelayan wanita yang secepat kilat menghampiri kami setelah Hayoung-ssi mengangkat tangan kirinya. “Err… sepertinya ada yang perlu dibicarakan?” tebakku membuka pembicaraan.

Hayoung-ssi menganggukkan kepalanya pelan. “Yep. Kuharap kau tidak marah, Siwon-ssi karena aku sudah bulat dengan keputusan ini. Dan, ah ya, kau tak perlu marah kan kalau sebelum kau duduk disitu ada namjachingu-ku yang mengajakku mengobrol selama setengah jam?” tanyanya.

Aku hanya melepaskan senyumku. “Gwenchanayo,” sahutku pendek, “toh kita belum terikat apa-apa. Kemarin itu kan hanya perkenalan. Aku mengerti kalau saat itu kau bilang tidak ingin menikahiku. Karena kau punya namjachingu yang tak bisa kau tinggalkan, ya kan?”

Hayoung belum menjawab. Lebih tepatnya menunggu pelayan wanita ini menaruh secangkir kopi yang tadi kupesan. Dia membungkukkan tubuhnya setengah, setelah menaruh cangkir itu, lalu melenggang pergi. Aku yang semula ingin menyeruput kopi itu terpaksa tidak melakukannya, lantaran ekspresi wajah Hayoung-ssi terlalu serius.

“Ya, begitulah. Tapi Appa dan Eomma tidak setuju jika aku menjalin hubungan dengannya. Penyebabnya hanya masalah kecil, sih. Dia bukan pewaris tunggal keluarganya,” tutur Hayoung, sambil mengempaskan tubuhnya ke senderan kursi. “Oh, ayolah, keluarganya juga tak kalah kaya dengan keluargamu, jika Appa dan Eomma hanya mengincar uangnya.”

Omona, ternyata selain misterius, yeoja ini juga terlalu blak-blakan. Tapi baiklah, aku lebih menyukai tipe seseorang yang mau berbicara apa adanya, daripada yang suka bertingkah ada udang di balik batu. Aku menatapnya tak percaya.

“Um… maksudmu?” tanyaku berpura-pura tak mengerti. Well, sebenarnya aku memang benar-benar tak mengerti.

Hayoung-ssi memutar bola matanya. “Kalau kulihat dari keputusan Appa-mu, tujuannya hanya ingin memperlebar bisnisnya, oh ayolah masa kau tidak mengerti? Sedangkan, perusahaan Appa-ku sedang dalam masa kritis,” jelasnya panjang lebar, “kau mengerti maksudku kan?”

Ctak.

Aku menjentikkan jariku. Tentu saja aku mengerti. Appa kami mengadakan kerja sama, dan biasanya sih menurut pengalamanku kerja sama antar dua pemilik perusahaan biasanya melalui perjodohan anak-anaknya. Dan sialnya, kenapa Appa sampai bisa bertemu dengan keluarga Park ini? Untuk masalah Hayoung-ssi, aku tidak menyalahkannya, karena dia sama seperti di posisiku, menjadi korban.

Namun sedari tadi, aku kurang bisa menangkap maksud Hayoung-ssi yang memintaku bertemu di tempat ini. Sejauh ini, kami hanya membicarakan kebodohan orang tua kami yang dengan seenaknya menjodohkan kami berdua. Lama-lama, aku juga kasihan pada Hayoung-ssi. Bisa saja namja yang kini menjadi namjachingu-nya adalah cinta pertamanya. Aku jadi merasa bersalah. Oke, Choi Siwon, pikiranmu mulai melantur lagi.

“Jadi, maksudku mengajakmu bertemu disini, adalah untuk membuat kesepakatan. Dan ini adalah kesepakatan antar dua pihak. Aku tak mau kalau nanti kau menjalankannya dengan setengah hati,” tutur Hayoung-ssi, setelah menghabiskan sisa kopi di cangkirnya.

Perhatianku mulai tersita. “Kesepakatan macam apa?” tanyaku.

Sepasang mata coklatnya menatapku cerah. “Baiklah. Kita akan melakukan drama. Biarkan saja jika nanti kita ditunangkan. Begitu perusahaan Appa-ku bisa kembali seperti semula, aku akan meminta cerai darimu. Kau setuju kan?”

Selama dua detik aku hanya terbengong-bengong. Sedetik berikutnya, aku sadar kalau mulutku terbuka, dan mulai kering. Sedetik berikutnya, kuhempaskan diriku ke senderan kursi, dan sedetik kemudian aku menghela napas. “Tak apakah?” tanyaku.

“Ugh! Pabo!” cetus Hayoung-ssi frustrasi. “Justru harusnya aku yang bertanya begitu padamu, Siwon-ssi. Ini kan rencana yang kubuat, dan sekarang aku sedang bertanya padamu, kau setuju atau tidak?! Bolehkah aku menjalankan rencana ini?!” tanyanya gemas. Omona yeoja ini…

Aku mengangkat bahuku pelan. “Kalau aku sih tidak apa-apa, tapi aku memikirkanmu,” oke, kata-kataku tadi mampu membuat Hayoung-ssi menatap aneh lurus ke mataku, “bukan! Maksudku, aku tidak mau dikira mempermainkanmu. Bagaimanapun juga, aku ini laki-laki, dan tugas mereka adalah menjaga kehormatan seorang wanita—eh, aku ini ngomong apa sih?”

Hayoung-ssi tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. “Gomawo karena kau sudah berpikiran sampai disitu. Tapi jujur, keputusanku sudah bulat dalam menjalankan rencana ini. Namjachingu-ku juga sudah menyetujuinya tadi. Jadi, sekarang aku hanya tinggal menunggu jawaban darimu,” tuturnya.

Aku menganggukan kepalaku pelan. “Baiklah aku setuju. Ne, sepertinya kita perlu keluar makan siang bertiga dengan namjachingu-mu, supaya dia bisa lebih mempercayai keputusanmu,” tuturku berpendapat, yang disambut anggukan setuju dari Hayoung-ssi.

“Baiklah. Kalau begitu, nanti malam, jangan panggil aku dengan sebutan Hayoung-ssi lagi, oke? Dan… aku mau meminta izin padamu untuk memanggilmu, Oppa. Ingat, agar drama ini berhasil, kita tidak boleh terlihat kaku,” perintah Hayoung-ssi padaku.

“Nanti malam? Memang keluargamu akan datang lagi nanti malam? Atas rangka apa?” tanyaku berbelit-belit. Wah, aku harus siap-siap dengan pemaksaan posisi duduk itu lagi kalau begini.

Hayoung-ssi menatapku dengan pandangan tak percaya. “Lho? Memangnya Appa dan Eomma-mu tidak memberitahu? Nanti malam kita akan ditunangkan, tahu. Memang sih tidak mengundang banyak orang, hanya antara keluarga kita saja,” jelasnya.

“Mwo?! Mereka tidak pernah membicarakan ini padaku! Ne, Hayoung-ssi ayolah jangan bercanda.”

“Ya sudah, sekarang kau tahu, kan? Dan, eits biasakan dirimu untuk tidak memanggilku dengan nama itu. Ingat drama kita,” tuturnya dengan mata melotot. Aigoo, sifat galaknya muncul lagi.

Aku hanya menghembuskan napasku pasrah. “Ne, arasseo jagiya.”

End of Choi Siwon’s POV

***

“Aish, jinjja. Benar-benar deh orang tuamu, Hyung,” tutur Kyuhyun penuh rasa kasihan terhadap namja yang kini tengah membenamkan wajahnya dalam-dalam ke permukaan meja.

“Hm yah, ini cobaan Siwon-ah. Seperti apa yang selalu kau katakan pada kami, berdoa akan menyelesaikan segalanya. Jadi… berdoalah,” timpal Donghae, yang duduk di samping Kyuhyun menemani sahabat mereka meratapi nasibnya.

Selang setengah jam, setelah kembalinya Siwon dari kafe tempatnya bertemu dengan Park Hayoung. Kyuhyun yang mengajak Donghae menunggu di ruangan khusus milik tuan muda Choi itu terlonjak saking kagetnya melihat wajah sahabat mereka yang pucat sekaligus kusut saat sampai di ruangan itu. Tanpa sepatah kata, kakinya berjalan lunglai menuju kursi kebesarannya, dan terduduk lemah dengan posisi wajah menempel pada permukaan mejanya.

Kyuhyun dan Donghae yang penasaran setengah mati atas kejadian yang menimpa Siwon menanyainya habis-habisan, sedangkan Siwon sibuk menggelengkan kepalanya atas tebakan-tebakan yang diajukan dua namja itu. Sadar bahwa satupun tebakan mereka tak ada yang benar, ia memutuskan untuk menceritakan tentang pertemuannya dengan Hayoung sore tadi.

Kyuhyun maupun Donghae hanya bisa prihatin terhadap nasib yang dipilihkan Tuhan untuk sahabat mereka. Yep, sebuah keluarga yang amat terobsesi dengan masalah perjodohan anak dan mengembangkan bisnis perusahaan.

“Ne, Siwon-ah, jadi apa tindakanmu setelahnya? Kau menyetujui rencana Hayoung-ssi kan?” tanya Donghae, yang disambut anggukan lemah dari Siwon. “Ya sudah, jalankan saja. Toh dalam perjanjian itu kalian tidak sebenarnya menikah, kan?”

Siwon mengangkat kepalanya, menatap kedua sahabatnya itu dengan frustrasi. “Kalau masalah itu sih aku sudah bisa menerimanya. Tapi pertunangan ini?! Ini terlalu cepat!” teriaknya. Wajahnya memerah menahan emosi, sebelum dibenamkannya lagi wajahnya itu. “Apa salah dan dosaku ya tuhaaan…”

“Jalani saja, Hyung. Tuhan pasti akan memberimu balasan setimpal,” tutur Kyuhyun, mencoba memberi semangat pada namja gentle itu. “Siapa tahu setelah nanti kalian bercerai, kau akan menemukan seorang yeoja yang cantiknya bak bidadari, dan tidak galak seperti Hayoung-ssi.”

“Bagaimana kalau Eomma kami menginginkan cucu? Aku kan tidak bisa benar-benar melakukannya? Apalagi Hayoung sudah punya namjachingu?” potong Siwon.

Donghae dan Kyuhyun saling berpandangan satu sama lain. “Er… mana kami tahu? Kami belum berpikiran sampai kesitu,” elak Kyuhyun. “Sebaiknya kau pulang dan siapkan dirimu, Hyung. Biasanya keadaan tidak seburuk yang kau kira setelah besok pagi kau terbangun.”

Siwon menghela napas panjang dan berat. Hidup ini terlalu sulit untuknya.

***

Choi Siwon’s POV

“Apa yang kau rasakan saat ini… Op…pa?” suara Hayoung-ssi—eh, Hayoung-ah terdengar tak yakin saat memanggilku dengan sebutan itu.

Pikiran-pikiran tidak enak yang tadinya dengan rela bolak-balik masuk kepalaku, sepertinya mulai terhenti. Aku hanya menengadahkan kepalaku keatas, dan mengangkat bahuku. “Tidak tahu. Aku bingung harus merasakan apa,” tuturku, “aku hanya ingin semua ini cepat selesai.”

Kurasakan Hayoung mengubah posisi duduknya. “Ne, kau bilang ingin makan siang bersama dengan namjachingu-ku kan? Besok dia mengajakku bertemu di salah satu restoran dekat pusat kota, katanya kalau kau bisa ikut serta, itu lebih baik. Sepertinya, dia juga ingin mengenalmu,” jelasnya, “kau mau ikut?”

Aku mengangguk. “Baiklah. Kabari aku apa nama restorannya. Aku akan datang,” sahutku singkat.

Seperti apa yang telah dijelaskan Hayoung-ah padaku sore tadi bahwa malam ini kami akan ditunangkan, yah itu memang sudah terjadi. Baru sejam yang lalu, sebelum aku dan Hayoung-ah mengenakan cincin kembar di jari manis kami. Tidak ada yang spesial. Acara ini hanya dihadiri oleh sebatas keluarga kami saja, dan untunglah semuanya berjalan cepat.

Sejak pertama menginjakkan kaki di rumah, kulihat Hayoung-ah merasa tidak nyaman. Yaa, aku mengerti apa yang dia rasakan karena akupun merasakannya. Bahkan ternyata Appa kami sudah menyewakan kami sebuah apartemen di dekat kantorku, dan rencananya orang tua kami akan ‘mengungsikan’ kami di tempat itu setelah menikah nanti—yang dijadwalkan dalam waktu dekat ini.

Saat ini, seperti halnya dua minggu yang lalu ketika kami berdua baru bertemu, kami menghabiskan sisa waktu mengobrol di kursi taman. Eomma-ku sengaja mengganti lampu taman yang kemarin kulihat masih menyala redup, sedangkan sekarang menjadi terang-benderang begini. Aku bisa merasakan tatapan menyelidik dari arah jendela rumah.

Begitu kutanyakan Hayoung, iapun mengangguk setuju. Jangankan merasakan pandangan, dengan jelas kami bisa mendengar pekikan Eomma kami waktu Hayoung dengan jahil menyenderkan kepalanya di bahuku. Benar-benar deh. Aku sampai berpesan pada Hayoung untuk tidak mengikuti jejak Eomma kami kalau sudah dewasa nanti, dan dia hanya menampar pelan bahuku—yang membuat Eomma kami terpekik lagi.

Tidak terasa kurang lebih sejam kami menghabiskan waktu di kursi taman itu. Kedua Eomma kami dengan wajah sumringah menghampiri kami yang terlihat seperti pasangan yang tidak tahu waktu karena mengobrol terlalu larut begini. Mereka tak tahu saja bagaimana kami membuat lelucon tentang kelakukan para orang tua pemilik perusahaan.

Keluargaku mengantarkan mereka sampai ke pintu. Aku yang masih terkaget, hampir tidak mengerti maksud Hayoung-ah yang menarik tanganku dan memberi kecupan singkat di pipi kananku. Terang saja wajahku memerah dan panas, hanya ada satu wanita yang selama ini melakukan itu. Ya, ya dia adalah Eomma-ku.

“Aish, jagiya. Jangan begini,” ucapku tersenyum, mengacak rambutnya dengan tanganku yang agak gemetaran.

Eomma-ku terpekik lagi, tidak hentinya mengatakan bahwa kami adalah pasangan romantis, dan kulihat Appa-ku juga menyunggingkan senyum puas. Kekeke, artinya drama yang dibuat Hayoung-ah ini berhasil. Baguslah.

Selepasnya keluarga Park dari rumah kami, aku langsung mengambil langkah seribu menuju kamarku. Ne, aku tidak mau dirongrong pertanyaan-pertanyaan dari Eomma tentang apa yang tadi kami bicarakan, atau apakah aku sudah mulai mencintai yeoja pilihannya. Hrr, semua itu membuatku sakit kepala.

Dengan segera, aku melepas jas hitam yang sungguh sejak aku memakainya membuatku kegerahan, dan berganti dengan pakaian rumah. Kaus putih oblong, dan celana panjang berwarna hitam. Kuhempaskan tubuhku di atas tempat tidur, dan aku tak bisa berhenti tersenyum karena besok hari Jumat. Artinya, aku bisa pulang lebih cepat. Yah, mungkin setelah makan siang bersama Hayoung dan namjachingu-nya, aku akan langsung pulang.

Kurasakan bantalku bergetar, eh lebih tepatnya sih telepon genggamku yang bergetar. Aku menggapai-gapai area dingin di bawah bantalku, dan menarik benda kotak yang menimbulkan getaran itu. Ne, ngapain Kyuhyun meneleponku malam-malam begini?

“Yoboseyo?”

“Hyung! Bagaimana pertunanganmu? Eh, kau tidak pingsan di tengah-tengah pemakaian cincin itu kan? Aigoo… apa yang akan dikatakan Kim Moonyoung kalau kau sampai pingsan di tengah-tengah pertunangan?”

Aku melongo untuk beberapa saat. Ne, namja ini selalu bertanya sesuatu, ataupun menyatakan sesuatu yang tidak-tidak. Aku membetulkan letak bantalku. Hhh… hari ini terlalu melelahkan, plus membingungkan.

“Heh, tenang dulu. Iya aku tidak pingsan, tidak gugup, ataupun keringat dingin, kekeke,” jawabku, tertawa sendiri, dan aku bisa merasakan kalau Kyuhyun tengah menghela napasnya di seberang sana, “ne, ada dimana kau?”

“Aku sedang minum kopi. Tadi sih, sempat bersama Donghae-hyung, tapi sekarang dia sedang ada perlu.”

Tanpa Kyuhyun jelaskan pun aku sudah tahu apa keperluan Donghae. Dasar anak itu. Minggu kemarin memang sih Donghae hanya mendekam sendirian di apartemennya sambil menonton bola, dan untung saja Kyuhyun mau berbaik hati menemaninya. Karena tak ada keperluan, jadilah hari Minggu kemarin kami menghabiskan waktu seharian menonton film di apartemennya. Ne, pasti malam ini, anak itu sedang bersama yeojachingu-nya.

“Ne, Hyung! Kau masih disana, kan? Baguslah kalau kau tidak apa-apa. Oh ya, aku baru mendengar tadi katanya kau dan Moonyoung akan dikirim ke luar kota untuk menyelesaikan suatu masalah di perusahaan bagian. Kau harus bersiap-siap, Hyung. Moonyoung pasti sudah menyiapkan taktik kotornya.”

“Mwo?! Darimana kau tahu?!” tanyaku terlonjak. Aish Appa-ku ini. Kenapa tidak pernah menyiapkan kejutan yang bagus untukku sih. Kukira, perjodohan dan pertunangan tiba-tiba itu sudah yang terakhir. Ternyata…

“Tadi aku dan Donghae-hyung mencuri dengar dari ruangan Kim Moonyoung. Ne, Appa-mu tidak memberitahu, Hyung?”

Aku memutar bola mataku. “Tidak. Pasti Appa sudah keburu sibuk dengan pertunangan ini. Jeez… bagaimana nasibku besok? Masa kau rela sahabatmu ini dipermalukan di depan Moonyoung?” ratapku.

“Hhh… besok kita bicara pagi-pagi Hyung, di ruanganmu. Kalau tak salah, kereta kalian akan berangkat pukul tiga sore. Jadi selama menunggu kita akan membuat rencana bersama Donghae-hyung juga. Sudah… tidur saja sana Hyung. Mimpikan Hayoung-ssi ya, kekeke.”

Aish anak ini. “Ne, gomawoyo.”

End of Choi Siwon’s POV

***

“Bagaimana? Kau sudah atur rencananya, kan?”

Seorang namja yang keseluruhan rambutnya mulai memutih itu duduk tenang, bersandar pada sandaran sofa kebesarannya, dengan telepon genggam yang menempel erat di telinga kirinya. Sebuah gelas tinggi berisi minuman alkohol terletak di atas meja di depan sosoknya, menjadi saksi bisu atas perbincangan namja tua itu malam ini. Berkali-kali raut wajah namja itu menyungingkan ekspresi kepuasan atas jawaban-jawaban yang didengarnya melalui telepon.

Dengan tangannya yang bebas, ia mengambil sebatang rokok dari dalam tempat berwarna keemasan. Baginya, sudah pasti ia yang akan memenangkan pertandingan perebutan kursi kebesaran ini, walaupun kini musuh utamanya adalah anak pemilik kursi kebesaran itu. Toh, tidak ada hal yang tidak mungkin.

“Besok, aku akan berangkat pukul tiga sore. Kalian bersiaplah di tempat setengah jam sebelumnya,” tutur namja tua itu, sebelum mengisap rokok yang telah menyala, “ne, tempatkan dimana saja. Dia matipun, aku tak peduli.”

Dengan hembusan asap rokok yang menyembul dari mulutnya, namja itu menghela napas. “Baiklah. Kupercayakan ini pada kalian.”

Ne, Choi Siwon, sepertinya kau dalam masalah.

***

Choi Siwon’s POV

“Dengar, Siwon-ah. Hal pertama yang harus kau lakukan, adalah tenang. Tarik napasmu, buang perlahan.”

“Ne, Hyung. Jangan perlihatkan kelemahanmu di depannya. Menurutku, kau harus bertindak tegas dan berwibawa.”

“Hm… untuk tampang wibawa, sih, kau sudah menang, Siwon-ah. Menurutku, si Moonyoung itu lebih tampak seperti orang jahat dalam film penculikan oleh alien.”

“Iya betul. Bentuk tubuhmu juga lebih bagus, Hyung. Kalau namja tua itu, bertubuh bantet. Jadinya, kau bisa lebih leluasa bergaul dengan karyawan terutama yang wanita, Hyung.”

“Kekeke, biasanya itu membantu lho, Siwon-ah.”

Ne, aku jadi semakin bingung, sebenarnya apa yang dibicarakan oleh Kyuhyun dan Donghae ini? Aish, mereka ini. Di awalnya saja tampak serius, begitu salah satu dari mereka melenceng sedikit, maka setelah menabrak pembatas jalan, akan bablas menabrak pejalan kaki. Aish, sekarang malah pikiranku yang melantur.

Kami tengah berada di ruanganku. Benar apa pendapatku semalam, Appa lupa memberitahuku tentang keberangkatanku serta Kim Moonyoung sore ini. Tadi waktu sarapan, dengan wajahnya yang memang terlihat benar-benar lupa, Appa memberitahuku. Dia menceritakan semuanya panjang lebar, mulai dari jam keberangkatan kereta, masalah perusahaan, sampai rahasia-rahasia supaya aku menang dari Moonyoung. Mau bagaimanapun juga kan, aku ini anaknya. Hm, mungkin perjalanan ini hanya untuk formalitas saja.

Sewaktu kututurkan pendapatku pada Kyuhyun dan Donghae, dua namja itu tidak membiarkanku bertindak santai di depan Moonyoung. Menurut mereka, jika aku menampakkan sifatku itu, Moonyoung akan memutarbalikkan fakta, dengan mengatakan aku ini bukan pemimpin yang baik, atau pekerja yang terlalu santai. Dan oh ya, aku belum memberitahu kalau Appa-ku itu adalah orang yang mudah terpengaruh sesuatu. Aish, semuanya tampak rumit.

Maka aku membiarkan Kyuhyun dan Donghae menyatakan kiat-kiat mereka padaku. Yah, tapi memang dasar anak-anak itu. Hanya terlihat serius di permulaan.

“Jadi intinya?” potongku, di antara ceramah-ceramah singkat mereka.

Donghae menghela napasnya pelan, sambil menepuk pelan bahuku. “Intinya, Siwon-ah, be your self.”

WHAT! Daritadi aku mendengar kuliah setengah jam mereka berdua hanya untuk kata-kata sepanjang ‘be your self’?! Benar-benar deh. Aku hanya menganggukkan kepalaku lemah, dan membiarkan Kyuhyun berlari kecil ke belakangku dan memijat pelan bahuku, memberiku semangat. Nah, baru ini dongsaengku yang baik.

***

Hhh… waktu itu memang berjalan terlalu cepat, sampai aku sulit menyadarinya. Seingatku baru beberapa saat yang lalu saja Donghae dan Kyuhyun cerewet menceramahiku tentang ini dan itu, lalu tiba-tiba, tangan kanan Appa memanggilku dari ruangan dan menyuruhku menemui Appa di ruangannya untuk briefing terakhir bersamanya, yah, juga bersama Kim Moonyoung tentunya.

Ketika aku sampai di ruangan Appa, kulihat keduanya tengah mengobrol santai, dan bisa kulihat jelas Appa sangat menikmati pembicaraan itu. Ne, aku merasa seperti seorang perusak suasana. Habisnya, begitu aku masuk, ekspresi wajah Appa yang tadi terlihat ramah dan bahagia, sekarang langsung berubah kembali pada ekspresinya yang semula, tegas dan dingin. Tahu begini, untuk apa aku datang.

Kami melakukan rapat kecil-kecilan itu tidak lama, mungkin hanya sejam. Setelahnya, Appa menyuruh kami bersiap-siap karena mobil yang akan kami tumpangi ke stasiun akan datang dalam selang waktu sejam. Aku menghembuskan napas pelan. Mungkin kuliah membosankan sahabat-sahabatku tadi ada gunanya. Yah, mereka benar, aku tidak boleh sama sekali menampakkan sisi lemahku terhadap Moonyoung. Terserah jika nantinya aku tidak menjadi direktur perusahaan ini. Toh, setidaknya aku terlepas dari ancaman kebotakan seperti Appa dan Kim Moonyoung Ini.

Dan sekarang, tahu-tahu aku sudah berada di peron saja, menunggu kereta yang dipesankan perusahaan pada kami. Sejauh ini, aku dan Moonyoung sama sekali belum berbicara apa-apa. Ne, jangankan melakukan sebuah percakapan, kontak mata pun tidak terjadi sedari tadi. Aku menghela napasku pelan. Orang ini terlalu serius.

Kulihat Moonyoung berdiri dari tempatnya, dan otomatis aku mengikutinya. Jujur aku tidak tahu kereta mana yang dipesankan perusahaan, lantaran tadi waktu di ruangan Appa, pikiranku melayang tentang rencanaku bersama Hayoung. Aku terlalu takut jika nantinya rencana itu tidak berjalan seperti semestinya. Begini-begini, aku adalah tipe orang pemikir.

Aku tidak tahu dengan pasti, kemana sebenarnya namja tua ini berjalan. Kim Moonyoung mengambil tangga turun, menuju lantai dasar. Aku hanya mengangkat bahuku. Kucoba untuk berpikir positif, seperti misalnya ia ingin mengajakku minum kopi, tapi terlalu kikuk untuk bicara denganku, atau apa… ia ingin menyatakan yang lain? Aish! Siwon-ah, apa yang kau pikirkan, pabo!

Eh, tapi sepertinya Moonyoung menuju arah yang salah. Di sepanjang lorong tadi, beberapa kafe, toko roti, sampai restoran makan siang pun terlihat ramai, dan dia belum memilih satu tempat di antaranya. Ne, mungkin namja ini butuh ketenangan. Tapi kira-kira saja, kenapa dia malah berhenti di lorong-lorong gelap begini? Ne, disini tidak ada satu toko pun yang buka, pabo.

“Ne, apa yang kita lakukan disini?” tanyaku, mungkin terlalu polos, karena sedari tadi aku mengikutinya.

Kim Moonyoung masih menampakkan belakang tubuhnya padaku. “Annyeong, Siwon-ssi.”

Apa mak—

JDAK!

Aish! Kenapa semuanya gelap?! Hei!

***

To be continued

 

 

 

 

 

14 thoughts on “[Freelance] I Thought I Lost You part 1

  1. AH! Ntu knp wonie oppa?! Kejedot?! -_-”
    Nama’a knp moonyoung,, aq kra td’a monyong! Hehehehe~ ^^V
    Kyupa kyupa,, pijitin aq jg donk :)

    LANJUT!!

  2. waduh??? apa yang terjadi ma siwon???
    jangan2 orang2 suruhan si moonyoung tu yang mukulin dia, trus siwon pingsan.

    wadooooh, jadi penasaran dehhh -,-

  3. hingga detik ini aku menanti part selanjutnya, dan ini sudah satu tahun…hiks…di mana part 2 nya??
    salam kenal author…maaf dulu jd silent leader…^^

    • mianhae chingu, aku emang sempet vakum. tapi udah kukirim lanjutannya sampe ending kok ke blog ini, tinggal tunggu di publish aja, hehe. makasih sebelumnya chingu ^-^

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s