[Freelance] True Love [part 4]

Author           : Eunhaekyu

Main Cast       : Super Junior Lee Donghae, Choi Hye ri, FT Island Choi Jong Hun

Support Cast  : Super Junior Leeteuk, Super Junior Eunhyuk, SNSD Jessica, Super Junior Siwon, Super Junior Yesung

Genre             : Romance, Love, Friendship, Commedy

      

 

 

Hye ri’s POV

Ahhhhh bosan sekali di sini. Semua novel ini sudah ku baca dan sekarang aku bosan karena tidak ada kerjaan. Jong Hun juga belum datang jadi aku tidak mempunyai teman untuk mengobrol. Aku dan Jong Hun sekarang mulai berteman. Dia sungguh baik padaku. Mungkin karena dia merasa bersalah atas apa yang di lakukannya dulu padaku.

“lebih baik aku menonton televisi saja. Sudah beberapa hari ini aku tidak menonton televisi“ aku turun dari ranjangku dan berjalan menuju sofa. Ini memang rumah sakit tapi aku dirawat di ruang VIP Room. Jadi wajar saja kalau disini sama saja seperti di rumah.

Aku mengganti – ganti channel dan mencari program yang menarik. Saat aku ingin mengganti channel lagi mataku terjatuh pada sosok yang sedang ada di televisi itu. “Bukannya itu Lee Donghae? Dan apa yoeja yang disampingnya itu Jessica?“ aku mendekati layar televisi untuk memastikannya. Ternyata benar itu adalah Donghae dan Jessica.

Aku duduk kembali di sofa dan menambah volume televisi. Aku mendengar hot news tersebut baik – baik. Gambar tersebut kemudian diganti dengan sebuah foto namja yang sedang dipeluk oleh seorang yoeja. Dan mereka berdua adalah Donghae dan Jessica. Hatiku sakit. Aku kembali merasakan luka hatiku seperti 2 tahun lalu. Mataku memanas dan air mataku jatuh. Lagi – lagi aku menangisi Lee Donghae si ikan yang menyebalkan itu.

“jadi karena ini Hae kau tidak menelponku ataupun memberi ku kabar? Kenapa tidak langsung memutuskanku saja? Kenapa harus diam – diam seperti ini?“ aku mematikan televisi kemudian kembali ke ranjangku. Air mata ku terus saja mengalir tanpa bisa aku kendalikan. Aku menangis sangat lama. Sampai Jong Hun datang pun aku masih sesenggukan karena tangisku itu. Jong Hun menghampiriku dengan sedikit berlari dan langsung memelukku untuk menenangkanku. Aku tidak menolak. Kali ini aku diam saja dia memelukku. Karena saat ini aku memang butuh seseorang untuk bersandar.

Jong Hun’s POV

Aku masuk ke kamarnya dengan senang hati. Namun begitu aku masuk aku melihatnya menangis. Matanya sudah bengkak. Aku yakin sekali dia sudah ber jam – jam menangis. Namun walaupun matanya sudah bengkak tangisnya belum juga mereda. Aku segera ke ranjangnya dengan sedikit berlari. Aku meletakkan novel yang aku bawa untuknya di ranjangnya kemudian memeluknya.

Aneh dia tidak menolak nya. Padahal biasanya hanya menyentuh tangannya saja dia menolak. Namun kali ini dia hanya diam dan bahkan tangisnya semakin kencang. Aku duduk disampingnya sambil memeluknya dan membelai rambutnya. Aku berusaha menenangkannya karena aku tidak mau gadis yang aku cintai menangis. Ya aku masih mencintainya. Dan kali ini aku akan menjaganya dengan baik dan tidak akan membiarkannya menangis.

“Hye ri~ya waeyo? Kenapa kau menangis seperti ini? Apa ada yang sakit? Apa perlu ku panggilkan dokter?“ aku bertanya panjang lebar kepadanya namun tak satupun pertanyaanku yang di jawabnya. Akhirnya aku tidak bertanya lagi dan membiarkannya menangis di pelukanku. Sampai akhirnya dia tertidur. Mungkin karena terlalu banyak menangis sehingga membuatnya lelah. Aku masih memeluknya dan aku mencium keningnya dengan lembut supaya tidak membangunkannya.

“Hye ri~ya. saranghae. Jeogmal saranghaeyo“ aku berbisik kepadanya meskipun aku tahu dia tidak akan mendengar kata – kataku barusan. Aku kembali mencium keningnya dan membiarkannya tidur di pelukanku. Jujur saja aku masih ingin memeluknya.

Donghae’s POV

Akhirnya aku sampai di dorm. Aiisshhh capek sekali. Kemudian aku duduk di sofa dan mengambil ponsel ku yang tadi aku beli.

Aku sudah minta no ponsel Yesung Hyung pada Jessica saat jalan – jalan tadi. Dan sekarang aku mau menelponnya.

“yeoboseyo” terdengar sahutan dari Yesung Hyung. Aaahhhh senang sekali rasanya. Hahahahaha lama tidak bertemu para Hyung – Hyung ku ternyata kangen sekali.

“Yeoboseyo Hyung. Jeonun Lee Donghae Dongsaeng mu yang tampan“ aku menggoda Hyung ku yang satu ini. Hahahahaha kalau Heechul Hyung ada disampingku, aku pasti sudah dibunuh olehnya.

“YAK, Donghae! Kau ini kemana saja hah? Apa yang kau lakukan disana sampai tidak menghubungi Hyung – Hyung mu dan Hy eri? Kalau kau mau memutuskannya putuskan saja, jangan membuatnya seperti itu“ tunggu tadi Hyung bilang putus? Siapa yang mau memutuskan Yoejachinguku itu? Aku kan cinta mati pada gadis itu. Jadi tidak mungkin aku memutuskannya karena aku hanya bisa hidup dengan adanya dia. Karena jantungku hanya akan berdetak kalau bersamanya. Hyung ini ngawur sekali

“hehehe mianhae Hyung. Hyung wae geurae? Aku mana mungkin memutuskannya Hyung. Ponselku rusak Hyung dan kami baru punya libur hari ini saja. Ah Hyung help me. Nomor ponsel Hye ri hilang dan aku tidak hafal nomornya. Hehehehe kau pasti tahu kemampuan mengingatku Hyung” aku menggaruk – garuk kepalaku yang tidak gatal. Walaupun tidak bicara langsung tetap saja aku malu mengakuinya kalau IQ ku tidak setinggi Kyuhyun atau Kibum.

“ aiissshhh aku tidak yakin Yunha akan memberikan nya kepadamu. Yunha marah sekali denganmu. Karena ulahmu itu Hye ri jadi seperti ini. Tunggu sebentar sepertinya aku sudah menyimpan nomornya di ponselku“

 

          “tunggu Hyung. Kenapa Yunha marah padaku? Aku tahu Hyung aku salah. Tapi aku sudah menceritakannya padamu Hyung. Aku juga tidak bisa berbuat apa –apa“

“Hye ri pergi. Tidak tahu kemana. Sudah hampir 2  minggu tidak ada kabar darinya. Yunha menelponnya tetapi ponselnya tidak aktif. Dan tentu saja dirumahnya juga kosong. Kami semua sedang berusaha mencari nya tapi belum ada kabar apapun“

 

          “MWO? Pergi Hyung? Aiissshhh dia pasti marah sekali padaku Hyung“

“dan akan bertambah marah dengan berita di televisi barusan. Netizen juga sudah mulai gempar membicarakan kalian berdua lagi. Apa kau pacaran dengan Jessica?“

 

          “Aniyo Hyung. Ani. Aku hanya mencintai Hye ri saja. Jangan salah paham Hyung. Aku akan menceritakannya saat di Korea nanti. Ah Hyung kirimkan nomor Hye ri lewat pesan ya. Gomawo Hyung”

Aku menutup telponku dan berlari mencari Siwon. Aku yakin dengan bantuan Siwon pasti aku bisa sesegera mungkin menemukan Hye ri. Keluarganya orang yang cukup berpengaruh di korea. Jadi pasti bisa dengan mudah mencari keberadaan Hye ri.

 

Author’s POV

Donghae berlari ke kamarnya dan menemukan Siwon sedang membaca alkitab. Tanpa menata kembali nafasnya yang tersenggal – senggal itu dia mengajak Siwon bicara. Tentu saja Siwon tidak mengerti sepenuhnya dengan apa yang dibicarakan Hyung nya itu.

“Siwonnie….hashh hasshh aku… hash minta ban… hash has tuanmu”

“Waeyo Hyung? Tata dulu nafasmu lalu bicaralah. Aku sama sekali tidak mengerti ucapanmu kalau kau berbicara dengan tersenggal – senggal begitu Hyung” Siwon menutup kitabnya kemudian mengambil air putih di meja dan memberikannya pada Donghae “minumlah Hyung. Kau seperti sedang marathon saja”

“gomawo Siwonnie. Ah begini aku mau minta bantuanmu. Hye ri menghilang. Kata Yesung Hyung sudah 2 minggu ini dia tidak ada kabar. Aku takut terjadi sesuatu padanya. Please help me Siwonnie“ Donghae memohon – mohon pada Siwon dan setelah siwon menelpon salah satu intel milik keluarganya Siwon menyetujuinya.

“ara Hyung. Salah satu intel milik keluargaku sudah mulai mencari tahu. Mungkin kabarnya akan di dapat sekitar satu minggu lagi Hyung. Hyung sabar saja. Lagipula tinggal satu bulan lagi kita di China“ Siwon berusaha menenangkan Hyung nya yang sedang stress itu. Nampak sekali wajah Donghae panik dan khawatir yang bercampur menjadi satu.

***

Dua  minggu kemudian

“Hyung kemarilah. Aku sudah mencetak semua data yang kau butuhkan. Intel ku sudah mendapat infonya dan mengirimkannya ke E-mailku kemarin“

Siwon menyerahkan beberapa lembar kertas yang semuanya berisi tentang Hye ri. Mulai dari data pribadinya sampai apa yang dilakukannya selama dia menghilang sampai hari kemarin.

“gomawo Siwonnie. Kau memang Dongsaengku yang paling baik“ Donghae menerima kertas – kertas tersebut kemudian memeluk Siwon. Donghae kemudian membaca dengan seksama tulisan – tulisan dikertas itu. Dan dia kaget saat membaca sebuah tulisan yang menyatakan bahwa dia di rawat di salah satu rumah sakit internasional selama dua minggu.

Donghae’s POV

Mataku terbelalak kaget saat membaca barisan tulisan tersebut. Dua minggu dirawat di rumah sakit? Sakit apa dia? Aiissshhh aku membuang kertas itu tanpa membacanya lebih lanjut. Yoejachingu ku sakit sedangkan aku tidak tahu apa – apa disini. Aku mengambil ponselku dan mencoba untuk menelponnya kembali. Semoga saja ponselnya sudah aktif

„yeoboseyo?“ dia mengangkat telpon dariku. Akhirnya aku mendengarkan kembali suaranya. Aigoo aku sunguh – sungguh merindukannya. Baru saja mendengar suaranya sudah membuat hatiku berantakan. Beginilah kalau kau sedang jauh dengan sumber kehidupanmu. Bayangkan saja kalau jantungmu seakan – akan mau berhenti berdetak. Nah seperti itulah rasanya kalau aku berjauhan dengan yoejachinguku satu ini.

“Jaggiiiiiiiii. Jeongmal bogoshippeo. Aku sungguh merindukanmu Jaggi. Kenapa nomor mu tidak aktif beberapa minggu. Dan kau juga tidak memberi kabar pada Yunha dan Hyungdeul. Semua sungguh menghawatirkanmu Jaggi. Gwenchanayo?“

“Donghae~ssi? Aahhh kau masih ingat padaku? Aku kira setelah bersama Jessica kau sudah melupakanku“  Hye ri menjawab telpon Donghae dengan ketus. Aiissshh pasti dia marah besar padaku. Dia tidak pernah memanggilku dengan embel – embel ssi.

“mianhae Jaggi. Ponselku rusak. Setelah aku beli ponsel aku mencoba menelponmu tapi nomormu tidak aktif. Dan aku juga mendapat kabar dari Yesung Hyung kalau kau menghilang. Aku khawatir padamu Jaggi. Aku tak bisa tidur beberapa hari terakhir ini karena terus memikirkanmu“

“sudahlah Hae~ya. jangan berpura – pura padaku. Aku tahu kau sudah bersama Jessica sekarang. Kalau begitu putuskan aku jadi kau tidak perlu sembunyi – sembunyi untuk berkencan dengan kekasih barumu itu“

 

          “MWO? Shireo!! Aku tidak akan memutuskanmu. Jaggi kau hanya salah paham. Aku hanya mencintaimu. Jessica hanya teman dekatku saja. Kau jangan bicara sembarangan Jaggi“

“TUUTT TUUT“

“yeoboseyo? Jaggi? Jaggiya?“ aiisshhh kenapa malah dimatikan? Andwae!! Aku tidak mau berpisah dengannya. Aku sudah susah payah mendapatkannya mana mungkin aku melepaskannya begitu saja.

Aku langsung ke kamar dan membereskan barang – barangku. Siwon yang tadinya sedang membaca alkitabnya langsung menutup alkitab tersebut dan berjalan mendekatiku.

“Hyung, kenapa kau membereskan pakaianmu? Jadwal kita pulang itu masih minggu depan Hyung“ Siwon terlihat heran namun dia membantuku membereskan pakaianku. Dia memang Dongsaeng yang baik. Tidak seperti Kyu si setan itu.

“apakah aku tidak boleh pulang terlebih dahulu? Aku benar – benar harus ke korea hari ini juga. Aku …… aku ………. aku tidak bisa diam saja seperti ini Wonnie. Aiiisssshhh ini membuatku gila. Yoeja itu sudah membuatku kehilangan akal sehatku“

“tenanglah Hyung. Bersabarlah. Hanya satu minggu. Setelah itu jadwal kita sedikit longgar jadi Hyung bisa menyelesaikan masalah Hyung dengan Hye ri“

“aiiissshhhhhh. Geurae, aku akan mencoba bersabar satu minggu ini“

Aku memutuskan untuk menahan emosiku sampai satu minggu ini. Sabarlah Lee Donghae hanya satu minggu. Aku berusaha menyabarkan diriku dan mencoba untuk profesional dengan pekerjaanku. Benar kan? Bertengkar dengan nya saja sudah membuat hidupku berantakan. Apalagi kalau aku sampai kehilangan dia. Aku tidak yakin apakah jantungku ini masih mampu berdetak.

***

Satu minggu kemudian di Bandara Incheon, Seoul

Akhirnya aku kembali menjejakkan kaki ku di kembali di korea. Aku berjalan dengan tergesa – gesa menuju tempat mobil kami. Aku memasukkan koperku ke bagasi kemudian berpamitan pada member yang lain. Aku ingin menemui yoeja itu secepatnya. Rasa rindu, khawatir, dan takut kehilangan sudah berkecamuk di dalam hatiku. Dan aku sudah tidak bisa lagi kalau harus bersabar meskipun itu hanya satu detik.

“Teukkie Hyung. Gomawo sudah mengantarkan mobilku ke bandara. Aku memeluk Hyung ku itu kemudian segera berlari menuju mobilku. Aku memang meminta bantuan Teukkie Hyung untuk membawakan mobilku ke bandara saat menjemput kami.

Hye ri’s POV

Aiiisshhhh tugasku banyak sekali. Dosen ku itu benar – benar menyebalkan. Aku tahu aku jarang masuk beberapa minggu ini. Tapi kan tidak harus memberiku tugas sebanyak ini. Ini sama saja dengan menyiksaku. Hahh apa ini bisa dimasukkan dalam kategori Kekerasan Dalam Lingkup Mahasiswa (KDLM)? Tapi setidaknya ini bisa mengalihkan kesedihanku karena si ikan itu. Aissshhh kenapa aku memikirkannya lagi. Hwaiiiting Choi Hye ri. Kau pasti bisa melupakannya.

Aku menuju mercy putihku. Kali ini aku tidak memakai ferrari ku karena masih harus diperbaiki akibat kecelakaan waktu itu. Aarrgghhh untung saja Appa membelikanku beberapa mobil. Jadi setidaknya aku tidak perlu berdesak – desakan di Bus kalau mobilku sedang perlu perbaikan seperti sekarang ini.

Aku keluar dari kawasan Kyunghae kemudian mengemudikannya dengan pelan. Aku takut mengebut. Aku harus ke rumah sakit dahulu karena aku harus mengambil hasil lab pemeriksaan kemarin. Dokter bilang aku harus sering check up karena kecelakaan waktu itu mengakibatkan tanganku cedera di bagian dalam. Tidak cacat tapi kalau aku tidak rajin check up cedera di tanganku ini bisa mengakibatkan cacat.

“Jong Hun~ssi? Kau ada disini juga? Sedang apa? Aku tahu appa mu pemilik rumah sakit ini tapi apa kau begitu kurang kerjaan sampai selalu datang kerumah sakit? Kau khawatir rumah sakit mu ini akan berpindah, hah?“ aku melihat Jong Hun yang sedang ada di depan pintu lab. Aneh sekali apa yang dilakukannya disini? Aku selalu bertemu dengannya saat aku check up atau pun mengambil hasil lab ku.

Jong Hun’s POV

Aku melihatnya melangkah menuju ruang lab. Aku langsung berdiri di depan pintu untuk menyambut nya. Aiiisshhh gadis ini membuatku tidak bisa berfikir waras. Kenapa sekarang dia begitu menggoda?

“Jong Hun~ssi? Kau ada disini juga? Sedang apa? Aku tahu appa mu pemilik rumah sakit ini tapi apa kau begitu kurang kerjaan sampai selalu datang kerumah sakit? Kau khawatir rumah sakit mu ini akan berpindah, hah?“ dia menatapku dengan heran dan penuh tanda tanya. Aigoooo lucu sekali dia ini. Aku jadi gemas padanya.

“Hye ri~ya. kau sudah datang? Aniyo aku tidak setiap hari datang ke rumah sakit. Hanya saat – saat tertentu saja“ aku mendekat padanya kemudian mengacak rambut nya pelan. Hahaha aku rindu saat – saat seperti ini.

“aiissshhh jangan acak – acak rambutku” dia menepis tanganku dengan kasar. Kami memang sudah mulai berteman namun Hye ri masih bersikap kasar kalau aku sudah melakukan kontak fisik padanya. Jangankan memeluknya. Saat berjabat tangan padaku saja begitu kilat dan sepertinya tidak ada sepersekian detik.

“tapi aku selalu melihatmu disini Jong Hun~ssi. Saat aku check up maupun mengambil hasil lab. Dan ini tidak mungkin sebuah kebetulan saja“

“tentu saja ini bukan kebetulan. Babo. Aku tahu jadwal check up mu dan maupun pengambilan hasil lab. Jadi aku sengaja datang kesini untuk bertemu denganmu“

“MWO? Bertemu denganku? Apa ada hal yang penting yang mau kau bicarakan padaku?“

“aiiisshhhh kau ini tidak peka sekali. Sudahlah nanti kau juga akan tahu“ gadis ini lamban sekali siihh. Apa benar dia ber IQ tinggi? Masa begini saja dia tidak tahu? Padahal aku sudah menunjukan secara terang – terangan padanya. “ini hasil lab mu” aku menyerahkan map coklat kepadanya dan kemudian mengecupnya sekilas. Entah setan apa yang merasuki ku sehingga aku bisa nekat melakukan hal itu

’PLAAKKK’ sebuah tamparan tiba – tiba mendarat di pipiku.

Hye ri’s POV

“ini hasil lab mu” dia menyerahkan map coklat padaku. Aku menerimanya namun sedetik kemudian dia dengan seenaknya mencium pipiku. Aigooo kurang ajar sekali dia.

“PLAAKKK“ aku mendaratkan sebuah tamparan di pipinya.

“YAK, CHOI JONG HUN~SSI. Jangan kurang ajar padaku. Aku memang mulai bisa menerimamu sebagai temanku tapi bukan berarti kau bisa dan berhak kurang ajar padaku“ setelah mengucapkan kata – kata itu aku meninggalkannya begitu saja. Namun saat aku berjalan tanganku di cengkeram sangat kasar oleh seseorang dan sukses membuat ku meringis kesakitan.

“ikut denganku sekarang juga Choi Hye ri~ssi“

Donghae’s POV

Aku mengikuti Hye ri dari Kyunghae sampai ke sebuah rumah sakit yang lumayan terkenal di korea. Aku kemudian mengikutinya masuk ke dalam rumah sakit tersebut. Aku melihatnya berdiri di depan lab bersama seorang namja yang sepertinya akrab dengannya. Dan namja itu berani mengacak rambut Hye ri. Aiisshhhh apa yang dilakukan namja itu? Apa dia tidak tahu kalau Hye ri sudah menjadi milik namja tampan bernama Lee Donghae?

Melihat hal itu hatiku sedikit bergejolak. Namun aku masih mencoba bersabar. Aku kembali mengamati mereka dari tempat yang tidak terlalu jauh. Rumah sakit lumayan ramai jadi mereka pasti tidak curiga kalau aku berdiri disini.

Namun lagi – lagi aku melihat pemandangan yang langsung membuat emosiku terbakar. Namja itu dengan seenaknya mencium pipi Hye ri. Kali ini emosiku memuncak dan sudah tidak bisa di tahan. Walaupun Hye ri sempat menampar namja itu tapi aku tetap saja tidak terima. Rasa cemburu menguasai diriku. Aku berjalan mendekat dan menarik tangannya dengan keras.

“ikut denganku sekarang juga Choi Hye ri~ssi“

Aku terus menarik lengannya dan mengajaknya ke mobilku. Aku tidak peduli semua orang di rumah sakit mengawasi kami. Aku mengirim pesan ke Eunhyuk untuk segera kesini.

“YAK, Lee Donghae. Apa – apaan kau, hah? Appo Hae~ya. lepaskan cengkramanmu ini“ dia masih berusaha meronta – ronta untuk melepaskan cengkramanku.

“MASUK“ aku menyuruhnya untuk masuk kedalam mobilku. Dia kelihatannya takut sekali. Akhirnya dia menurut tanpa melakukan protes apapun. Beberapa menit kemudian Eunhyuk dan Teukkie Hyung datang. Kebetulan mereka berada di sekitar sini. Aku meminta kunci mobil Mercy nya dan melemparkannya kepada Teukkie Hyung.

“Hyung, gomawo. Bawa saja ke Dorm Hyung“ aku meminta Teukkie Hyung untuk membawa mobil Hye ri ke Dorm. Dan aku langsung melesatkan AUDIku ke jalanan. Emosiku masih belum stabil. Aku mengendarai mobil dengan sangat cepat. Padahal kemampuanku menyetir masih buruk walaupun sudah ada peningkatan.

“YAK YAK. LEE DONGHAE? Apa kau mau kita mati, hah? Aku tahu kemampuanmu menyetir jadi jangan mengebut!” Hye ri begitu ketakutan karena dia tidak henti – hentinya menutup kedua matanya saat aku melintasi perempatan atau pun menyalip kendaraan di depanku.

Aku tidak mengindahkan perkataannya dan masih saja mengemudikannya dengan cepat. Aku melihat ada pembatas jalan di belokkan depan jadi aku mengerem mobilku dengan mendadak dan sukses membuat Hye ri menjerit.

Hye ri’s POV

‘KYAAAAAAAAAAA’ aku menjerit karena sepertinya aku akan menabrak pembatas jalan di depan. OMO apa kejadian waktu itu terulang lagi? Ya Tuhan selamatkan kami berdua.

“Kami berdua janji kalau kami berdua selamat kami akan mentraktir Ddangkoma sepuasnya. Kalau masih kurang kami juga akan mentraktir Heebum dan Choco sepuasnya.“. Aku berdoa dalam hatiku sambil menutup kedua mataku. Tanpa sadar air mataku keluar. Aku masih trauma dengan kejadian waktu itu.

***

Mobil kini berhenti. Namun aku masih belum berani membuka kedua mataku. Aku takut kalau aku membukanya aku akan mendapati bahwa aku adalah sebuah roh yang melihat tubuhku dan tubuhnya yang berlumuran darah. Pasti akan banyak wartawan dan seketika itu pula identitasku sebagai kekasih seorang Lee Donghae akan terbongkar. Aiiisssshhh tragis sekali akhir percintaanku.

“Jaggi, gwenchana? Kenapa kau menangis? Jaggiya…. uljima“ Donghae memanggil – manggil namaku. Aku memberanikan diri untuk membuka kedua mataku. Setidaknya kalau aku mati aku mati bersama namja yang kucintai. Pikiranku mulai melantur kemana – mana.

“Jaggi, mianhae. Bicaralah Jaggi. Jangan membuatku khawatir seperti ini“ Donghae menggoyang – goyangkan kedua pundakku mencoba untuk mengajakku berbicara. “Ok. Aku masih merasakan sakit di bahuku karena cengkramannya dan itu menandakan aku masih hidup“ batinku dalam hati. Setelah mendapati kenyataan ini aku baru berani membuka mulutku dan berbicara padanya. Bukan berbicara, lebih tepatnya berteriak.

“YAK, DONGHAE BABO. Aku baru saja selamat dari maut dan sekarang kau mau membawaku ke lubang maut yang lain? Apa maksudmu, hah?“

Bukannya menjawab pertanyaanku dia malah langsung memelukku.

“YAK, FISHY. Uhuk .. uhuk… lepas…kan peluk….kanmu Babo. A-aaku … tidak bis…saa nafas… uhuk uhuk” dia memelukku sangat erat. Sampai – sampai membuat dadaku sesak sekali. Entah kenapa rasanya tenang sekali. Aku seperti kembali mendapatkan energi untuk bisa bernafas dan membuat jantungku berdetak dengan baik dan benar. Aiissshhh aku sepertinya begitu mencintai namja ini karena aku bisa langsung melupakan kekesalanku karena perbuatanya beberapa waktu lalu. Sebeegitu dalamnyakah aku mencintai namja ini?

TBC

8 thoughts on “[Freelance] True Love [part 4]

  1. Hhahaha suka deh~ dah akur lagi…
    Uhh Onge pencemburu bget sie,?tapi kere ^^b
    Klo cemburu kalem2 aja Bang…,bisa bahaya,.kekeke

  2. semoga hyeri mau maafin donghae. Amin…
    Gak tega kalo smpe ngeliat mereka bertengkar lagi.

    Lanjuut baca ah, biar ndak penasaran ^^,

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s