Till The End of Time

 

Author : Nursifa (Sifa)

Main Cast : Donghae, Eunhyuk

Support Cast : Sulli, pak dokter, orang tuanya Eunhyuk xP

Rating : general

Length: oneshoot

Genre : romance, sad

Warning! : jenis pemakaian pola kalimat menggunakan flashback. Jadi ke masa lampau gitu, recount text xD *kyk b.ingg aja*, mungkin akan ada typos. Anggap Eunhyuk itu perempuan untuk sementara ^^

Ps : my firts ff (HERE) :D aku baru nyoba ngirim ff ke sini. Jadi, pujian, ejekan, kritik, saran, sangat diharapkan. Aku sampe rada deg2an nulis formatnya :D ff ini juga pernah aku post di salah satu grup fb

Disclaim : Tuhan akan melihat setiap perbuatan manusia. Jadi, silakan saja kalau mau ngaku2 ini ff Anda *serius

 

 

-Till the End of Time-

 

Seulas senyuman, yang bisa menyihirku untuk ikut tersenyum.
Kadang, suaranya pun dapat membuatku tertawa hambar.
Kau tahu apa yang dia bilang padaku?

“oppa! ayolah, aku sangat ingin memakan es krim itu”

Dia menggoyang tanganku dan menatapku dengan dengan memelas. Tatapan yang tentu saja membuatku menuruti apa saja yang dia mau.

“baiklah, tapi hanya hari ini. besok tidak boleh”

Beberapa suapan es itu membuatnya sedikit terbatu-batuk

“tidak ap-apa?” aku memukul-mukul pelan punggungnya agar dia merasa baikan.

“ohok ohok” tapi dia terus terbatuk-batuk

“hei, sini berikan esnya. jangan makan lagi!” aku mengambil es krim itu dari tangannya dan membuangnya ke tong sampah tak jauh dari kami.

“ohok ohok. jangan dibuang… ohok” katanya dengan agak kesusakan.

“sudah kubilang, jangan makan lagi!”

aku meninggikan suaraku dan tetap memuku-mukul pelan punggungnya.

Dia, gadis yang keras kepala. Kadang aku membenci sifatnya itu. Sangat membencinya.

*OoO*

Hari itu, kami sedang jalan berdua menuju rumahnya.

“Donghae oppa!”

Baru saja aku tiba, adiknya yang masih kecil menarik-narik tanganku.

Dia,tertawa kecil melihat kelakuan adiknya. “Hei Sulli! Jangan menarik-narik oppa seperti itu, dia kan baru sampai” katanya tenang denan suara yang kini, selalu membuatku merasa bersalah.

“tapi eonni, aku kangen sama Donghae oppa”

Sekarang Sulli merengek-rengek dan itu membuatku gemas.

“Sulli mani,” aku menggendongnya dan menaruh tubuh mungilnya di tangaku. “seberapa besar kamu kangen sama oppa?”

Melihatnya yang sangat senang kugendong membuatku ingin menjadi gombal.

“seeeeeeeeebesar ini!” Sulli membuat lingkarang besar dengan kedua tangannya.

“dasar anak kecil” sekarang dia memukul pelan kepala adiknya.

Melihat keakraban aku dan Sulli membuat dia tersenyum senang. Tapi, senyumannya tidak pernah membuatku berhenti menatapnya sayu.

“YA! SULLI! Kenapa kamu memecahkan tugasku hah?!”

Dia mulai marah-marah setelah Sulli memecahkan pajangan yang dibuatnya.

Aku sedang mengejar untuk menjahili anak kecil itu, tapi Sulli tak sengaja menabrak karya kakaknya.

“sudahlah, kita bisa membuatnya lagi” aku berusaha menenangkannya.

Memang pajangan setinggi 1 meter itu tidak sepenuhnya dia yang membuat, tapi hancurnya pajangan itu tetap akan membuat dia sakit hati. Itu pajangan yang kami buat bersama.

Usahaku untuk membuatnya tenang tidak terlalu berhasil. Dia pergi ke dalam kamarnya dengan membanting pintu dengan sangat keras. Sulli yang dari tadi diam membersihkan pecahan-pecahan pajanan itu menangis.

“Sulli…” aku mengelus-elus punggung anak itu. Sulli tetap membersihkan pecahan kaca dengan tangannya yang sedikit bergetar.

“Sulli duduk saja di sana, biar oppa yang bersihkan”

Dia duduk dengan patuh dan membiarkanku membersihkan pajangan itu.

Setelah menenangkan Sulli, aku pergi ke kamar dia. Dia membenamkan wajahnya ke bantal. Aku dapat mendengar isakan tangisnya.

“hei…”

Aku duduk disampingnya. “kenapa kamu sama saja seperi Sulli? Kamu kan sudah besar, berhentilah menangis” tanpa sadar aku tersenyum melihatnya menangisi hal kecil seperti ini.

Tiba-tiba dia mengangkat wajahnya. Matanya, sangat merah.

“oppa kenapa tidak merasa kesal?! Itu pajangan yang sudah sangat susah kita buat! Tapi sekarang…. hancur…”

Aku kaget melihatnya marah. Ternyata, pajangan itu cukup berarti baginya.

“aku tidak ingin sesuatu yang kita buar hancur” bibirnya bergetar manahan tangis.

Aku menariknya mendekati tubuhku dan memeluknya. “kita bisa membuatnya lagi atau membetulkannya. Yaah, meski tidak mungkin kalau kita betulkan. Tapi tenanglah, aku akan membuatnya yang sama seperti itu” kuusap kepalanya pelan.”berhentlah menangis. Dua perempuan yang sangat kusayangi menangis gara-gara sebuah bajangan yang pecah? Aish sialnya aku hari ini”

Dia melepaskan pelukan kami. “Sulli, menangis?” ulangnya.

Aku tersenyum senang melihatnya tidak semarah tadi. Aku menangguk.

Tatapan matanya sehabis menangis membuat hatiku kembali teriris. Apakah Tuhan harus memilih dia sebagai ‘korban’?

*OoO*

Hari yang sangat kubenci, mengunjungi rumah sakit.

Hari ini memang sudah jadwalnya aku mengantarkan dia ke rumah sakit untuk menjalani terapi.

“Donghae-ssi” seorang dokter keluar dari ruangan. Aku segera bediri, cemas dengan hasil perkembangannya.

“Sepertinya, kanker paru-paru yang diderita tidak bertambah parah” dokter itu berkata dengan nada datar. Tapi mendengar kabar baik itu sontak membuatku senang. “ada kemungkinan untuk menghilangkan kanker paru-paru ini. Anda harus bersyukur Donghae-ssi, ntah bagaimana kanker jenis ini tidak menunjukkan tanda-tanda untuk bertambah parah”

Aku tersenyum sangat senang. Ternyata, hari yang biasanya selalu membuatku ngeri karena kabar buruk sekarang tidak lagi menakutkan.

Dokter itu memegang pundakku turut senang. “ini harus dipertahankan, Donghae-ssi. Tolong terus jaga dia. Dan kembalilah minggu depan untuk terapi”

“ya, dokter. Terima kasih” aku membungkukkan badan dalam dan segera menuju ruangan tempatnya dirawat.

“oppa…”

Senyuman itu langsung menyambutku.

Senyuman yang terasa sangat dipaksakan.

“hei…” aku membalas senyumannya. Tapi hatiku tidak ikut tersenyum.

“bagaimana? Masih terasa sakit?”

Dia mengangguk lemah. Beberapa orang suster pun masih sibuk memasukkan obat dan hal-hal yang tidak kumengerti lainnya agar rasa sakit yang dirasakannya hilang.

“oppa, aku ingin berhenti melakukan terapi ini”

Mendengar suaranya yang tertahan karena sesak membuat hatiku makin menangis. Tapi aku tidak ingin ikut menangis di depannya.

“kau tau apa yang barusan dikatakan dokter?” aku mengelus rambutnya perlahan. Napasnya mulai tak beraturan menahan tangis. “kau bisa sembuh. Katanya, ini adalah keajaiban”

Aku berusaha menenangkan suaraku saat melihatnya mulai mengeluarkan air mata. “kamu ingin sembuh kan?”

Jawaban darinya membuat hatiku terasa berat.

Dia menggeleng pelan.

“tapi, aku merasa makin… sakit”

Aku berhenti mengelusnya dan menariknya dalan dekapanku. “tahanlah rasa sakit ini. Aku akan terus bersamamu melewati rasa sakit ini. Percayalah padaku, sebentar lagi kamu tidak akan merasakan sakit ini lagi”

Dia mempererat pelukannya dan makin terisak. Lalu dia berbisik,

“Saranghae, oppa”

*OoO*

“Terima kasih dokter!” aku membungkukkan badan setelah menerima izin dari dokter untuk mengajak dia ke tempatku berlatih menembak. Menembak. Kalian mengerti kan? Menembak? Menggunakan pistol? Yah, gara-gara inilah hidupku tidak pernah tenang.

Kami pergi ke tempatku biasa latihan. Aku bisa melihat wajahnya yang sangat senang diperbolehkan bermain denganku.

“oppa! Sudah lama sekali aku tidak kesini” katanya seraya melihat sekeliling dengan semangat.

Saat-saat yang tidak pernah bisa kulupakan.

Aku tersenyum melihatnya seperti itu.

“oppa ayo cepat mulai! aku ingin lihat oppa menembak sasaran itu”

Ya, dia memang selalu semangat dengan sesuatu yang sudah lama tidak dilakukannya. Sebenarnya, disini pun dia hanya melihatku, tidak ikut menembak. Tapi itu cukup membuat hatiku nyaman.

“baiklah” aku pergi mengambil pistol dan perlengkapan lainnya ke seseorang yang selalu menjaga tempat ini.

Untuk beberapa saat aku sibuk memfokuskan sasaranku. 5 kali berturut-turut peluru yang kutembakkan tepat mengenai lingkaran hitam ditengan sasarang yang sudah tersedia. Ah akhirnya aku bisa menyombongkan hobiku pada gadis yang sekarang ada di belakangku.

“Yeeee!! Bagus sekali!! Oppa! Ayo coba sebuah atraksi!” katanya.

Aku pun mulai memutar-mutar pistol yang ada di tanganku dan mencoba beberapa gerakan yang membuatnya terkesan. Dia sangat senang melihat gerakan-gerakanku. Lalu setelah 2 peluru kembali mendarat dengan sangat tepat di tengah sasaran, dia ikut berdiri disampingku.

“kenapa? Ingin mencoba?” tanyaku.

Dia mengangguk cepat. Aku terkekeh pelan melihatnya.

“baiklah, ini”

Dia menerima pistol yang kusodorkan.

“uwooooow” mulutnya membulat dan matanya bagaikan takjub melihat sebuat pistol di tanganya.

“haha dasar anak kecil. Hati-hati dengan benda itu ya anak kecil”

Aku mengusap-usap kepalanya sayang. Ya, sangat sayang. Usapan itu, seharusnya sebagai tanda penyesalanku memberikan benda yang dapat membunuh pada gadis ini.

“siut” dia memulai tingkahnya.

Suara-suara aneh seperti ‘siut’, ‘hyaat’, ‘cuk’ dikeluarkannya agar tampak seperti benar-benar sedang bertarung.

Aku mulai tertawa melihatnya yang sedang melakukan gerakan-gerakan anek. Gerakan-gerakan itu semakin anek. Dia mulai terbawa suasana. Aku tentu saja bertambah geli melihatnya.

“hahhaha kau benar-benar terlihat seperti anak kecil”

Aku merasa geli saat seharusnya aku menjaganya. Candaan ini sebenarnya adalah musibah. Dia masih saja terus melakukan ‘aksi hebat’nya dan aku masih saja tertawa puas. Hingga akhirnya, tanpa sengaja dia menarik pelatuk pistol dan benda kecil yang keluar itu mengenai dadanya.

*OoO*

Aku menunggu di depan ruangan operasi. Terus berdo’a agar Tuhan memberikannya waktu untuk hidup lebih lama. Aku terus berdo’a dan berdo’a. Ntah apa yang dilakukan dokter itu di dalam, tapi bahkan saat keluarganya dan Sulli pun sampai ruangan operasi belum terbuka. Sulli dan ibunya menangis. Ayahnya yang berusaha menenangkan keluarganya. Aku tidak berhenti berdo’a.

Hari itu, adalah hari tersuram yang pernah kulalui. Aku tertawa dengannya, menghadapi kematian.

Setelah beberapa lama, dokter pun keluar.

Kami semua langsung memperhatikan penjelasan dokter. Ternyata, peluru tersebut bukan menjadi masalah. Tapi, kankernyalah yang membuatnya berjuang untuk hidup.

Orangtuanya sudah pasrah dengan keadaan anak mereka. Dokter dan para suster tetap berusaha mempertahan hidupnya. Aku pun terus menunggunya sampai dia mau bangun. Ternyata, saat malam hari dia terbangun.

“oppa…” dia membuka matanya perlahan dan suaranya sangat lemah.

Aku tidak bisa mengatakan apa-apa. Dia menatapku dengan matanya yang sudah pucat. Lalu perlahan dia tersenyum.

Mataku mulai berair. Tidak seharusnya aku menangis di saat seseorang yang kusayangi sedang merasa sakit.

“oppa, tadi, aku hebat kan?” dia bertanya dengan suara yang sangat tertahan.

Aku mengangguk, tapi tetap tidak bisa mengatakan apa-apa.

“oppa…”

Napasnya mulai tidak beraturan kembali. Aku berniat memanggil dokter, tapi dia memegang tanganku. “oppa kumohon jangan panggil dokter”

Dia, kenapa seperti ini? Tuhan, kumohon jangan ambil dia dulu. Aish, air mataku pun mulai kelaur.

Ini semua salahku. Aku seharusnya tidak boleh membawanya bermain, aku tidak seharusnya memberikan pistol itu ke tangannya.

“maafkan aku. Seharusnya, kamu bisa sembuh, tapi gara-gara….” aku tidak bisa melanjutkan kalimatku. Semua ini terasa berat. Aku, tidak bisa. Tidak bisa meninggalkannya.

“tidak oppa. Aku yang minta maaf”

Tangisanku makin kencang. Aku adalah laki-laki terbodoh karena menangis di saat seperti ini. Tapi dia, dia terus tersenyum.

“Donghae oppa, saranghae”

*OoO*

Seulas senyuman yang masih kuingat, yang bisa menyihirku untuk ikut tersenyum.

Kadang, suaranya pun yang masih kuingat dapat membuatku tertawa hambar.

Kau tahu apa yang dia bilang padaku terakhir kali?

“Donghae oppa, saranghae”

Dia membisikkan kata itu, pada orang yang tidak menjaganya. Pada orang yang membawanya, pada kematian.

Eunhyuk, gadis yang kusayangi meninggal karena kesalahanku.

___EPILOG___

“Dokter….” Eunhyuk berusaha memanggil dokter yang telah membantunya terapi.

Suster yang berada di dekatnya menyadari panggilan Eunhyuk. “dokter, Eunhyuk-ssi memanggil anda”

Dokter itu menoleh dan menghampiri Eunhyuk. “Ya Eunhyuk-ssi? ada apa?”

“bagaimana dengan hasil kesehatanku?” tanya Eunhyuk. Suaranya masih tercekat karena barus selesai terapi.

Dokter duduk disamping tempat tidur Eunhyuk.

“Eunhyuk-ssi, apa Anda ingin saya berbohong, atau jujur?”

Eunhyuk tidak menjawab pertanyaan itu. Namun dia mengerti, kabar terburuk sudah datang.

“baiklah, lebih baik saya jujur saja. Sebenarnya, kanker itu tidak bisa disembuhkan lagi”

Eunhyuk mulai menangis mendengar itu. Ternyata memang sudah datang.

“tapi, kami tidak akan berhenti berusaha menyembuhkanmu. Jadi, kumohon jangan hilang harapan Eunhyuk-ssi”

Dokter itu menepuk-nepuk punggung Eunhyuk agar gadis itu merasa tenang.

“Dokter…” panggil Eunhyuk.

“ya?”

“kumohon, jangan beritahu Donghae oppa tentang ini. Kumohon, berbohonglah padanya. Katakan penyakitku sudah bisa disembuhkan. Kumohon…”

Tangan dokter itu dipegan Eunhyuk kuat. Berharap dokter itu akan menuruti permintaannya.

“tapi Eunhyuk-ssi, berbohong seperti itu…”

“kumohon… Beritahu saja keluargaku. Tapi Donghae oppa tidak”

Tak sanggup melihat tatapn memilukan gadis yang memohon-mohon itu, dokter pun menuruti.

“baiklah. Kalau begitu, saya keluar dulu” dokter itu tersenyum, mencoba membuat perasaan Eunhyuk lebih baik setelah mendengar berita terburuk itu.

‘maafkan aku Donghae oppa’

 

–END—

 

Sekiaaan! Gimana? Baguskah? Jujur, aku bangga sama ff yang satu ini J jadi tolong komen yaaaa :D

Banyak yang ngomen, aku jadi bakalan sering ngirim kesini dan berbagi cerita ^^

Kamsahamnidaaaaaa *deep bow*

12 thoughts on “Till The End of Time

  1. T.T sedih..
    kcian fishy..
    td kukira Eunhyuk adiknya wkwkwk. xD unnie, bwt lg yah?
    soalnya jarang ada yg switch gender..
    kpn kpn pasangan kyumin di switch gender jg yah? *reader bawel*

  2. awalnya sedih..
    tapinya..
    hahaha. ngakak bnrn deh, smpai guling2an gr2 yojanya brnama eunhyuk ^^V pis author.
    thor, ditunggu krya yg lainyah..

  3. uuhhh.. kasian enyuukk.. semoga tenang di alam sana #plaaakk
    mbuahaha.. good job thorr.. ahh aku mah kalo udah liat YAOI, pasti gak aku baca..
    jangan buat yaoi yaa thoooorrr *puppy eyes (tapi bikin org mual)..

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s