How do I Live Without You [part 4/END]

“The one who loves you,

Siwon Choi :)


Air mataku membasahi kertas yang kupegang sedaritadi. Tulisan-tulisan itupun menjadi agak pudar karena air mataku. Kugenggam kertas itu. Tangisanku semakin menjadi-jadi. Kepalaku sakit. Oppa… Kuseka air mataku yang tidak bisa berhenti mengalir… Lalu aku berjalan perlahan meninggalkan tempat itu.

Siwon’s POV

Sesekali ku lihat jam tanganku. Mengetuk-ngetuk meja di hadapanku dengan tidak sabar. Wajahku mencari-cari munculnya seseorang.

Di mana dia? Benakku bertanya.

Kulirik jam tanganku lagi. Lalu aku menekan angka-angka di iPhoneku.

Tuuut…Tuuut..

Tuuut…Tuuut…

Tidak diangkat. Aku tetap mencoba menghubungi nomor itu sambil melihat-lihat ke arah jendela. Sesosok yeoja yang kukenal muncul. Melambai ke arahku. Segera kututup telfonku dan berlari menuju yeoja itu.

“Febby-a!!!” Kudekap erat tubuh mungilnya. Membiarkan semua orang di kedai kopi itu melihat kami berpelukan. Air mataku menetes begitu saja. Kurasakan tangannya yang mungil membalas pelukanku dan melingkarkannya di pinggangku. Ia membenamkan wajahnya ke dadaku. Aku tidak bisa melepaskannya, tidak setelah bertahun-tahun aku tidak melihatnya. Ia belum bersuara. Namun aku bisa mendengar isakan tangisnya. Aku tak tega mendengarnya, makin ku eratkan pelukanku sambil mengelus lembut kepalanya. Sepertinya ada perubahan pada rambutnya, pikirku. Namun tak kupedulikan hal itu.

“Oppa…” Ia memanggilku. Suara itu. Aku sangat rindu dengan suaranya. Aku melepaskan pelukanku perlahan dan menyeka air matanya.

“I’m here, dear… You don’t need to worry…” Hiburku. Lalu aku menggandengnya masuk ke kedai kopi itu.

 

“Apa kabar Febby-a?” Kataku sambil menggenggam kedua tangannya dan menatapnya.

“Aku baik oppa… Oppa bagaimana?” Matanya sedikit bengkak.

“Aku sangat baik Febby… Terlebih sekarang, kau sudah ada di sini. Saat dua hari yang lalu kau memberitahuku kau akan pulang, aku bingung dan tak tahu aku harus bagaimana.”

Febby’s POV

Aku berjalan lemas dari tempat tadi. Bagaimana bisa aku meninggalkannya? Sungguh, tulisan yang ia buat tadi, benar-benar tulus. Bagaimana reaksinya nanti? Mengetahui kenyataan yang sangat pahit. Ah, Febby… kenapa kemarin kau pergi dalam waktu yang sangat lama? Waktumu terbuang begitu saja. Seharusnya kau bisa menggunakan waktumu untuk bersamanya, babo! Aku berbicara pada diriku sendiri.

Dari jauh aku dapat melihat seorang namja yang sangat kukenal. Kulambaikan tanganu padanya dan menahan tangis. Sungguh sakit hati ini menahan tangisanku. 4 tahun sudah aku meninggalkannya, namun ia masih mencintaiku seperti dulu. Ia masih seorang Choi Siwon yang menepati janjinya. Seketika aku berada dalam dekapan namja itu. Tangisanku pun tak terbendung lagi. Aku tak kuat menahan air mataku… terlebih dalam pelukannya…

“Febby-a!!!” Sudah lama aku tak mendengar suaranya! Aku tak bisa berkata apa-apa. Terlalu lemas dan bahagia untuk berbicara.

“Oppa…” Perlahan aku mencoba memanggilnya.

Oppa… I wish this time is not the last time for me to see your face and feel your hug… Aku membatin. Aku benar-benar tidak ingin melepaskannya.

Aku mulai menangis lagi ketika ia berbicara. Bagaimana tidak, melihat wajahnya saja aku tak sanggup membuat bendungan untuk air mataku. Aku bisa melihat kebingungan dan kekhawatiran dari raut wajahnya. Aku tahu ia tidak tega melihatku menangis terus-terusan seperti ini.

Oppa… Tangisan ini bukan hanya karena aku rindu padamu… Tangisan ini karena aku takut… takut tidak bisa melihatmu lagi…

“Jadi… apa yang membuatmu pulang lebih awal?” tanyanya membuyarkan pikiranku yang sedang kalut.

“oh… aku sedang libur oppa. Aku juga diijinkan untuk pulang ke Seoul. Maka aku langsung mengambil ijin itu untuk bertemu dengan mu oppa. Maaf aku tidak bisa memberitahumu lebih cepat. Maafkan aku oppa…”

“Aisshh, kenapa kau meminta maaf? Bukan salahmu Febby-a… Ia mengelus kedua pipiku dan mendekatkan wajahnya ke wajahku. Mengecup bibirku. Tangisanku sepertinya ingin keluar lagi.

“Oppa… Saranghae”

“Na do…”

 

“Febby-a!!! lihat ini!!! Indah sekali bukan???” teriaknya cengar-cengir dengan menunjukkan dua buket bunga mawar putih dan lily yang sangat indah.

“Ini untukmu my dear!” seketika ia berlutut dan menyerahkan bunga itu kepadaku.

“Waaaah… Neomu yeppeo! Gomawoyo siwon oppa!!!” Aku mencium pipi chubbynya itu. Ia lalu menggandengku dan mengajakku berjalan-jalan di sepanjang trotoar.

“Bagaimana kuliahmu dear?”

“Baik oppa, baik sekali. Kau bagaimana? Kau baik-baik saja dengan hyung dan dongsaengmu kan? Ohya, bagaimana kabar Jong Woon oppa? Aku rindu padanya, belum sempat memberitahunya aku sudah kembali ke Seoul.”

“Sangat baik. Jong Woon hyung juga sempat menanyakan kabarmu. Aku akan memberitahunya nanti.” Ia merangkulku dan membawaku ke sebuah taman kecil.

“Sebentar” katanya sambil mengeluarkan iPhonenya.

How do I…

Get through one night without you…

If I had to live without you…

What kind of life would that be?

Oh I need you in my arms…

Need you to hold…

You’re my world my heart my soul…

If you ever leave…

Lagu itu. Aisssh oppa kenapa harus lagu ini? Kau semakin membuatku tak ingin pergi meninggalkanmu. Lagu itu terdengar dari iPhonenya. Ia menaruhnya di bangku taman yang kosong lalu menyodorkan tangan kanannya kepadaku.

“Come on, dance with me dear.” Ia tersenyum. Menyodorkan tangan kanannya kepadaku.

“Aisssh oppa kau tahu aku tidak pandai dalam berdansa! Kau membuatku malu. Shireo oppa!!!”

“Kau ini, belum mencoba sudah bilang tidak bisa. Ya, berdansa itu simple. Tenang saja, kau pasti bisa kalau kau melakukannya denganku.”

“Ah, oppa. Malu.”

“Kau tidak melihat di taman ini hanya ada kita? Babo.”

“Babo?! You called me babo! Ah, jinjja. Shireo! Aku tak mau berdansa denganmu.”

“Kau memang babo. Tidak bisa melihat kalau tidak ada orang. Ayolah, sekalian latihan untuk pernikahan kita nanti. Kau mau nanti kalau kita menikah dank au tidak bisa berdansa? Aish mau berkata apa aku kepada orang tuaku, menantunya tidak bisa berdansa.”

“Mwo?! Kau mencoba untuk melamarku?”

“Ani. Tidak mungkin aku melamarmu dengan cara begitu, tidak bermutu sekali. Sudahlah nanti lagunya keburu selesai!” ia menarikku ke dalam pelukannya.

Dengan terpaksa-padahal aku senang-aku mengikuti langkah kakinya, berusaha menyamakan agar seirama dengan lagunya. Aku mencoba menaruh tanganku di bahunya. Namun karena tinggiku yang sangat kurang, aku melingkarkan kedua tanganku di pinggangnya dan memeluknya erat.

“How do I live without you? I want to know… how do I breathe without you? If you ever go. How do I ever, ever survive? How do I… how do I… Oh how do I live?”

Ia menyanyikan part reff dari lagu itu. Aku hanya diam menangis di dalam pelukannya. Membiarkannya menyanyikan lagu itu untuk mengeluarkan isi hatinya. Ia bernyanyi sambil mengelus lembut kepalaku. Memelukku semakin erat.

“Febby-a… I think I can’t live without you…” ucapnya pelan.

Oppa… what if I’m leaving? Aku hanya diam.

Without you…

There’d be no sun in my sky…

There would be no love in my life…

There would be no world left for me…

And I… Baby I don’t know what I would do..

I would be lost if I lost you…

If you ever leave…

Baby you would take away everything real in my life…

And tell me now, how do I live without you?

Lagu itu mengiringi kami yang berdansa simple di tengah taman kecil itu.

“Gomawo oppa… terimakasih banyak untuk semua ini…”

“My pleasure dear… As long as it makes you happy…” Ia menangkup wajahku. Nafasnya berhembus menyentuh hidungku. Membuat jantungku bertempo yang tak karuan. Ia mencium keningku lembut. Aku tak ingin malam itu berakhir.

Siwon’s POV

Febby-a… Sungguh menyenangkan bisa melihatmu tersenyum hari ini. Aku menyiapkan hari ini dengan terburu-buru. Namun aku sangat bahagia kau menyukai hadiah-hadiah kecilku ini…batinku.

Ia terlelap di mobilku. Kupandangi wajahnya yang sedikit pucat. Aku membenarkan letak kacamatanya. Memandangi wajahnya yang sungguh manis ketika tidur. Lalu aku menggendongnya menuju kamarnya setelah sampai di rumahnya.

“Goodnight, dear. Have a nice sleep. Tomorrow is your birthday.”

Febby’s POV

18 February 2014

Sinar matahari masuk melalui celah-celah jendela kamarku dan cahayanya yang menyilaukan membangunakanku. Aku kaget ketika bangun dan tersadar aku sudah berada di dalam kamarku. Ah, siwon oppa pasti yang mengantarku pulang dan menggendongku ke kamar. Terimakasih oppa…

“Happy birthday Febby sayang!!!” Eomma membuka pintu kamarku dan membawakanku cake ulang tahun . Ah, hari ini hari ulang tahunku… aku sampai lupa.

“Kamsahamnida eomma!!!” aku memeluknya erat lalu mencium kedua pipinya.

“Kau baik-baik saja kan? Besok kita akan pergi ke rumah sakit, oke?” Aku menjawabnya dengan anggukan dan ia mencium keningku lalu meninggalkan kamarku.

“Oppa, apa kau lupa dengan ulang tahunku?” Gumamku.

Drrrt… drrrt…

“Yoboseyo?” Jawabku malas kepada panggilan itu.

“HAPPY BIRTHDAY MY DEAREST FEBBY!!!” Terdengar teriakan yang cukup keras dari handphoneku.

“Ah, ne oppa. Kau tidak perlu berteriak, aku tidak tuli. Ngomong-ngomong, kau ingat ulang tahunku oppa? Cih, tumben sekali.” Sindirku kepada Jong Woon oppa, yang super sibuk sampai-sampai tidak pernah menelfonku untuk menanyai kabarku.

“FEBBY-A!!! Jangan kau berkata seperti itu! Kau tidak akan ku kasih kado nanti. Hehehe saranghae dongsaengku tersayang!”

“Neeee gomawo oppaku tersayang. Hoeeek…” kataku mengakhiri pembicaraan kami. Aku berharap Siwon oppa yang menelfon, ternyata malah Jong Woon oppa. Kemana siwon oppa? Sepertinya dia benar-benar lupa dengan ulang tahunku hari ini.

 

“Kamsahamnida eommaku tersayang!!!” ucapku sambil mencium pipinya setelah ia mengajakku berbelanja sepuasku di hari spesialku ini. Hari sudah agak siang, namun siwon oppa belum juga datang ke rumahku mengucapkan “saengil chukka” untukku, menelfon pun tidak, bahkan sekedar smspun tidak! Padahal kemarin, ia sungguh sangat romantis. Dasar aneh kau oppa, gerutuku dalam hati. Kau menyebalkan, Choi Siwon!

You got one new message

Ah, siapa sih. Mengganggu tidur siangku-eh, sore-saja.

From: Siwon Oppa

Febby-a, bisakah kau menemuiku di danau dekat Han street sekitar jam 7?

What?! Ia belum mengucapkan selamat ulang tahun untukku dan dengan tidak berdosanya ia mengirimiku sebuah pesan yang mengatakan ia ingin bertemu denganku di danau? Mau apa kau Choi Siwon? Dengan kesal aku meletakkan handphoneku di atas tempat tidurku. Terdiam sejenak. Lalu bangun dan mengarah ke kamar mandi.

Aku melirik jam tanganku. Ya! Choi Siwon! Kau akan hancur ketika bertemu denganku! Apa dia gila? Aku sudah menunggu selama-hampir-setengah jam! Menunggu sendirian di dekat danau yang ia maksud. Ah, kepalaku mulai sakit lagi. Kupijat sedikit dahiku.

“Febby-a!!!” sebuah suara datang dari belakangku memanggil namaku. Sepertinya kukenal suaranya. Hmm. Dengan malas ku menoleh dan menatapnya dengan mata tajam.

“Ah… Maafkan aku Febby-a, tadi tiba-tiba Ryeowook memintaku membantunya memasak sedikit sehingga aku terlambat. Kau marah?”

Marah katamu??? Marah??? Ya! Kau tidak sadar dengan kesalahanmu?! Teriakku dalam hati.

Sebelum ku menjawab ia meraih tanganku lalu menggandeng tanganku sambil tersenyum. Membawaku ke pinggir danau itu. Cih, ia tersenyum bahagia sekali. Sepertinya ia senang melihat wajah ngambekku. Di sana sudah terdapat sebuah perahu dayung kecil yang kupikir cukup untuk dua orang. Aku agak terkejut sebenarnya ia-sepertinya-akan membawaku “berpetualang” dengan perahu kecil itu di danau yang dingin, gelap dan sepi ini. Namun aku diam saja, masih kesal dengannya. Lampu-lampu di pinggir danau itu menyala redup namun masih terlihat indah. Ia menuntunku perlahan untuk naik ke perahu kecil itu.

“Hati-hati Febby-a… agak licin” katanya sambil memegang tanganku erat, takut kalau-kalau aku jatuh dan tercebur. Aku pun berhasil duduk dengan nyaman di perahu itu dan ia pun menyusul. Ia tersenyum memperlihatkan giginya. Senyum tanpa dosa, tanpa perasaan bersalah. Tapi, tetap saja ia terlihat sangat tampan dan frownku pun hilang begitu saja terbilas oleh indahnya senyuman namja chinguku ini.

Ia mendayung perahu kecil ini perlahan. Membawaku ke tengah danau. Benar-benar tidak ada orang selain kami di danau itu. Aku suka melihatnya mendayung perahu kami. Tak kusangka ia dapat mendayungnya dengan baik. Suara air yang terseret oleh dayung menenangkanku. Perlahan aku melihat dari kejauhan cahaya-cahaya kecil yang indah di tengah danau. Angin berhembus pelan, namun cukup membuatku kedinginan. Perahu kami dibawa oleh Siwon oppa ke tengah danau melalui path seperti lampu di landasan pesawat ketika pesawat mau mendarat. Path-path itu terbuat dari lilin-lilin kecil yang mengambang di permukaan air yang tenang. Ternyata cahaya tadi yang kulihat dari jauh adalah cahaya dari lilin ini. Siwon oppa masih diam, belum mengucapkan kata-kata apapun. Walaupun aku tahu ia berpikir kalau sekarang aku sedang sangat bahagia melihat cahaya-cahaya ini di tengah gelapnya danau.

Sampainya di tengah danau, perahu kami berhenti, ia berhenti mendayung. Kami dikelilingi dengan lilin-lilin kecil yang begitu indah.

ia menaruh kedua dayung di dalam perahu.

“Happy birthday, my Febby…” Ucapnya sambil tersenyum. “Maafkan aku, kau pasti marah ya aku tidak mengucapkan selamat ulang tahun kepadamu? Kau pasti berpikir aku lupa kan?” ia tersenyum jahil. “Aku dari tadi pagi mencari bantuan untuk membantuku menaruh lilin-lilin ini di sini. Aku tidak lupa ulang tahunmu Febby-a.. tidak mungkin! Aku ingin menyiapkan sesuatu yang special untukmu di hari ulang tahunmu. Aku tak ingin kau melewati ulang tahunmu kali ini dengan biasa-biasa saja. Aku tahu betul kau menyukai suasana seperti ini. Kau.. suka?” kedua mata indahnya menatapku, mengharapkan jawaban keluar dari mulutku.

“Ah oppa! Aishh kau ini! Sungguh… Kau tahu aku sudah sangat jengkel denganmu dari tadi pagi??? Sekarang kau ingin menghiburku dan meminta maaf dengan cara seperti ini? Tidak bisa. Kali ini aku tak akan luluh hanya dengan kau membawaku kesini. Dingin di sini kau tahu?!”  aku melipat kedua tanganku dan membuang mukaku. Padahal sebenarnya aku sangat suka dengan apa yang sudah ia lakukan untukku, aku hanya ingin membuatnya kesal, hehehe. Aku berpikir ia akan marah karena aku tidak menghargai kerja kerasnya. Tapi aku tak mendengar jawaban atau tanggapan apa-apa dari mulutnya.

“Febby-a…”

Sebuah kotak kecil berbentuk hati yang berwarna hitam muncul di hadapanku, di genggaman telapak tangannya. Aku sangat terkejut. Tak menyangka ia…

“Febby-a, I love you. I really do. I don’t wanna wait much longer. I want you, Febby-a. I want you, to be a part of my life. Aku ingin, ketika aku bangun di pagi hari, senyummu yang kulihat di sampingku. Tawamu yang menghiasi hari-hariku. I wanna grow old with you. Aku tak peduli bagaimana wajahmu akan keriput, aku akan tetap mencintaimu. Aku ingin kau yang ada di sampingku selalu Febby-a…” ia perlahan membuka kotak kecil yang indah itu. Terlihat sebuah cincin berlian yang sungguh indah di dalamnya.

“Febby. I mean this. Aku ingin kau selamanya berada di sisiku. Selamanya. Febby-a, will you spend the rest of your life, with me?” Aku tak sanggup menatap wajahnya. Takut untuk menjawab. Aku mencoba menjawabnya perlahan…

“Oppa… Aku… I’m leaving soon… I can’t oppa… I’m so sorry, but I do love you, I really do. jeongmal mianhae…” air mataku mengalir, membasahi pipiku seketika.

“You’re leaving? Apa maksudmu?”

“Aku…mengidap kanker otak.” Ia hanya diam. Tidak merespons apa-apa. Aku tahu ia kecewa, aku tahu ia akan berubah pikiran karena ia tidak mungkin mau menikahi orang yang “hampir mati” seperti aku ini.

“Then marry me.”

“Mwo?”

“Marry me, Febby-a… sehingga aku bisa selalu di sisimu. Aku tak peduli bagaimana rambutmu akan habis karena kanker yang menggerogotimu. I love you no matter what happens…..”

“Tidak bisa oppa! Aku sebentar lagi akan mati kau tahu?! Buat apa kau menikahi orang yang sebentar lagi hidupnya akan berakhir? Kalau pada akhirnya orang itu akan meninggalkanmu sendiri oppa!!!”

“Maka dari itu hiduplah bersamaku. Kalau kau pergi pada akhirnya, itu semua memang tidak akan bisa kucegah, tapi at least, biarkanlah aku menjadi pendamping hidupmu di saat kau mengalami sakit itu. Biarkan aku menjagamu, Febby-a. Aku tak tahu kapan kau akan pergi. Namun kau sudah pergi meninggalkanku selama 4 tahun. 4 tahun aku menunggumu. Tapi aku salah, aku tidak memutuskan untuk pergi denganmu saat itu, aku membuang waktuku. Dan sekarang, sekarang waktunya untuk menghabiskan sisa hidupmu bersamaku. Aku tidak akan membuang-buang waktu terakhirku bersamamu.”

“Tidak, oppa…”

Ia menarikku ke dalam pelukannya.

“Febby-a, aku tak peduli kalau kau sakit. Aku tak peduli dengan penyakitmu. Aku mencintaimu. Dan itu tak akan berubah.” Aku tidak dapat berkata apa-apa. Ia mengelus kepalaku dengan hati-hati. Beberapa helai rambutku tersangkut di tangannya.

Siwon’s POV

“Febby. I mean this. Aku ingin kau selamanya berada di sisiku. Selamanya. Febby-a, will you spend the rest of your life, with me?” aku mengharapkan jawaban. Jawaban yang akan mengubah hidupku untuk selamanya.

“Oppa… Aku… I’m leaving soon… I can’t oppa… I’m so sorry, but I do love you, I really do. jeongmal mianhae…”

“You’re leaving? Apa maksudmu?”

“Aku…mengidap kanker otak.” DEG. Perkataannya seperti menikam jantungku. Kanker otak? Sejak kapan? Sejak kapan ia mengidap kanker otak? Mengapa ia tidak pernah menceritakannya kepadaku? Aku terdiam. Mencoba menjawab perkataannya dengan jawaban yang tepat.

“Then marry me.”

 

“Good morning, Mrs. Choi! Wanna eat some breakfast?” aku lalu mengambil sebuah piring yang terletak di atas meja. Pancake kesukaannya. Aku yang membuatnya tadi pagi. Aku membawanya ke tempat tidur, menunggunya untuk membuka matanya.

Ia mencoba membuka kedua matanya perlahan. Senyuman manis terukir di wajahnya yang sedikit pucat. Rambutnya semakin menipis semakin hari. Namun paras cantiknya tidak hilang. Ia terlihat sangat cantik dan manis.

“Yeobo…”

“Ne? aku suapin okay dear?” ia mengangguk pelan. Tubuhnya terbaring lemas di tempat tidur.

Aku menyuapinya perlahan. “Enak kan? I made it by myself loh hehe”

“Oppa, aku sampai sekarang belum memberitahumu. Kau lupa ya dengan time capsule kita? Aku sudah membaca milikmu.”

“Aish, aku benar-benar lupa! Aku akan segera membacanya nanti. Kapan kau membacanya?”

“Saat aku kembali ke Seoul, aku langsung mencarinya dan membacanya. Terimakasih oppa, kau benar-benar memegang janjimu.” Katanya sambil mengeluarkan secarik kertas yang sudah sedikit lecek dari laci meja.

“Febby-a, apakah kau bisa menemaniku sebentar untuk melihat time capsule kita? Tapi tak apa kalau kau mau beristirahat. Aku tidak memaksamu.”

“Gwaenchanha oppa. Kau tidak ingat? Aku ini wanita perkasa!” ucapnya meyakinkanku. Tubuhnya lebih kurus dari sebelumnya. Namun ia dengan semangat ingin menemaniku melihat time capsule yang kami buat sekitar 5 tahun lalu.

“Oppa! Aku kembali!!! Kau pasti merindukanku kan? Atau kau sudah menemukan yeoja lain??? Oppa I miss youuuuuu!!! Kau tahu, aku sangat gila di Amerika karena merindukanmu. Kau sih, terlalu sibuk sampai tidak bisa menghubungiku :p Oppa SARANGHAE!!!! JEONGMAL SARANGHAE!!! Maafkan aku terlalu lama meninggalkanmuuuu. Oppa aku berpikir, bagaimana kalau setelah aku kembali, kita menikah? Hahahaha aku ingin sekali menjadi Mrs. Choi!!! I wanna spend the rest of my life with you, Choi Siwon! Oppa I love you so much!!!! You know what? Aku sangat bersyukur aku bertemu denganmu di Han River waktu itu. Aku tahu, semua itu bukan sebuah kebetulan. Oppa terima kasih, karena kau telah menemaniku selama appa pergi. Terima kasih oppa kau mau menungguku sampai saat ini. Aku tak tahu apa jadinya kalau aku tak bertemu denganmu saat itu. Sungguh, sepertinya Tuhan tahu bagaimana aku kehilangan appaku, dan Ia mengirimkanku kau oppa. Ia tidak ingin melihatku bersedih, jadi kau, my guardian angel, dikirim olehNya ke Han River pada saat itu. Oppa aku menyayangimu.

Your future Mrs. Choi,

Febby <3”

“Ahhh yeobooooo…. Kau sungguh membuatku ingin menangis kau tahu??? Aku sangat menyayangimuuuu” ucapku sambil menyubit pipinya. Ia duduk di pangkuanku.

“Hei, kau bilang kau ingin menjadi Mrs. Choi, dan sekarang kau menjadi istriku! Sungguh, Tuhan itu baik.”

“Ne oppaaa! Kau bilang kau akan menemaniku selamanya, dan sekarang kau di sini, bersamaku, menemaniku menunggu….”

“Aish! Don’t you dare to say that! Kau tidak tahu kejutan apa yang akan diberikan Tuhan untukmu nanti. Kau tidak tahu, bisa saja Ia tidak ingin melihatku sendiri dan menyembuhkanmu Febby-a!” Aku memotong pembicaraannya. Aku tidak ingin ia bersedih. Aku memeluknya dari belakang. Kepalanya bersandar di bahuku. Ia memejamkan matanya perlahan. Aku menatapnya, berharap ia tidak tertidur….

How do I go on?

If you ever leave

Well baby you would take away everything

Need you with me

Baby don’t you know your everything good in my life

And tell me now,

How do I live without you?

3 thoughts on “How do I Live Without You [part 4/END]

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s