How do I Live Without You [part 3]

Siwon’s POV

“Siwon-ssi! Kau darimana saja?” Teriak Lee Hyukjae ketika aku menghempaskan tubuhku di sofa di ruang tamu.

“Kedai kopi. Wae?”

“Ya! Kau ini. Ajak aku kalau mau ke sana! Kau tahu aku juga menyukai kopi dan bosan di sini!”

“Mian, hyung. Tidak terpikirkan olehku untuk mengajakmu.” Jawabku sambil memeletkan lidahku.

“Hey, apakah Febby sudah menghubungimu?” Magnae mulai berbicara. Magnae pertama, ibu kami.

“Sudah. Ia baru saja sampai dan langsung menelfonku.”

“Tidur Siwon-ssi! Kau tidak mau Febby mengkhawatirkanmu karena kurang tidur kan? Lagipula besok pagi kita ada schedule wawancara untuk sebuah acara televisi.” Leeteuk hyung mengingatkan.

Febby-a… I miss you already.

“Kamsahamnida! See you guys again soon!!!!”

Akhirnya Super Show 3 selesai. Sungguh melelahkan. Namun lebih melelahkan menunggu kabar dari Febby.

“Febby-a!!! apa kabar??? Kau masih mengingatku kan? I miss you so much! How are things goin there dear? Miss u miss u miss u!”

Kutinggalkan pesan di mailboxnya. Entah kenapa akhir-akhir ini ia sulit dihubungi. Setiap ia menelfonku aku sedang sibuk sehingga tidak bisa mengangkat telfon darinya. Waktu yang berbeda juga menyebabkan agak sulit untuk menghubunginya. Hmmm sudah setahun lebih Febby di Amerika. Tak terasa. Aku rindu memeluknnya. Aku ingin melihat senyum manisnya. Aku ingin mengelus kepalanya. Aku ingin berada bersamanya… aku meletakkan iPhoneku di meja dengan setengah kesal, namun khawatir, apa ada sesuatu yang terjadi dengannya?

Febby’s POV

To: Siwon Choi

Subject: I miss you

Oppa!!!! Yeobo!!! Gosh, I’m sorry… jeongmal mianhae! I’ve been so busy lately dear. Tugas yang menumpuk, dan juga aku mulai mengambil part time job. Lumayan untuk menghidupiku selama di sini. Maaf aku baru bisa menghubungimu. Aku menerima pesanmu! Maaf aku membuatmu khawatir. I miss you a lot dear! Kisses!

P.S: aku baik-baik saja di sini. Jangan khawatirkan aku, jagalah dirimu, okay?

Message sent.

Ah, siwon oppa… I really miss you. Setahun sudah aku meninggalkanmu. Aku mengambil bantal dan memeluknya erat. Kubayangkan bantal itu adalah siwon oppa. Ah… hujan di luar. Kuambil paying hitamku bertuliskan “I love NY” dan kupakai coatku. Sepertinya tidak apa-apa bermain hujan sebentar.

Aku duduk di sebuah bangku taman, menyandarkan tubuhku. Lampu-lampu taman mulai menyala karena hari yang mulai gelap. Aku duduk sendiri di bangku taman itu. Menikmati jatuhnya air hujan di indahnya malam hari. Malam yang cukup indah di Central Park. Di seberangku ada sepasang kekasih yang sedang menikmati segelas hot chocolate-pikirku sok tahu. Aku jadi ingat Siwon oppa. Oppa pasti akan melakukan hal apapun hanya untuk menghangatkan tubuhku karena tahu aku tak tahan udara dingin. Kuusapkan kedua telapak tanganku, mencari kehangatan. Kepalaku tiba-tiba sakit. Sakit sekali. Ah.. Mungkin hanya sakit kepala karena kehujanan. Pikirku. Aku mencoba berjalan menyusuri jalan setapak yang cukup licin setelah dibilas air hujan. Berjalan sambil mencari keseimbangan. Kepalaku makin sakit. Aku memijit dahiku, berharap sakitnya akan segera hilang.

Tuhan… Kenapa ini? Batinku.

“Ah… sakit…oppa…”

Seketika pandanganku gelap. Aku hanya mendengar suara laki-laki berteriak meminta bantuan.

*

Siwon’s Flashback

“Oppa…” Dia datang dengan mata yang sembap.

“Ada apa Febby-a? kau baik-baik saja?” Kataku lalu memeluk dan mencium lembut keningnya.

“Oppa, maafkan aku… Aku tahu kau akan marah dan kecewa padaku. Maafkan aku…” Tangisannya semakin menjadi-jadi.

“Oppa.. Aku… Aku harus pergi ke Amerika… Maafkan aku tidak bercerita terlebih dahulu kepadamu… Aku..Aku mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliahku di sana. Oppa marah ya??? Maafkan aku!” Ia memalingkan wajahnya yang manis itu. Aku hanya terdiam mendengar itu. Tak tahu apa yang harus aku perbuat.

Besok Febby berangkat. Aku kemarin stress sendiri memikirkannya. Memikirkan bertahun-tahun aku hidup tanpa melihatnya. Hyung dan dongsaengku tahu bagaimana frustasinya aku kemarin di dorm.

“Febby-a… kajimara…” Ucapku sambil mendekapnya. Aku ingin mendekapnya terus, aku tak ingin ia pergi…

“Hei… siwon-a.. I’ll be back! Aku kesana hanya beberapa tahun, babo!” kataku sambil mencubit lengannya. “Kau hanya perlu berjanji, kau tidak akan jelalatan ketika melihat wanita-wanita cantik saat kau bosan menungguku.” Ia menatapku.

Febby-a… Kau tahu? Aku sungguh menahan air mataku. Aku sungguh memaksa bibirku untuk tersenyum. Aku tidak tega melepasmu… Namun, aku juga tahu betapa kau menginginkan beasiswa ke Amerika sejak dulu… But how do I live without you?

*

Kejadian itu kembali hadir di pikiranku. Sudah hampir 4 tahun kau pergi. Bagaimana kau sekarang? Aish, iya, sebentar lagi ulang tahunmu Febby.

1 new email

Aku membelalakan mataku.

——-

“Hi Febby-a!!!! kau sudah kembali. Welcome homeeee!!!! Aku sungguh merindukanmu. It feels like forever kau sudah meninggalkanmu. Kau tak akan tahu bagaimana aku di sini tanpamu. Aku hampir gila. Tidak kok, bercanda. Febby-a, kau sekarang sudah pulang. Jadi, kau tidak boleh meninggalkanku lagi. Kau harus berjanji untuk tidak meninggalkanku lagi. Tidak boleh! Aku sudah berjanji tidak akan meninggalkanmu. Inilah aku memegang janjiku. Sekarang kau harus berjanji! Sudah? Kau sudah membuat janjimu? Baguslah. Aku mempercayaimu. Febby-a… Bagaimana? Apakah kau merindukanku segila aku merindukanmu di sana? Sekarang kau sudah kembali, tak perlu lagi kau merindukanku! Karena aku tak akan pergi kemana-mana, aku akan berada di sisimu kapanpun yang kau mau! Kapanpun kau sedih, kapanpun kau butuh bahuku untuk kau basahi dengan tangisanmu, kapanpun kau butuh pelukanku untuk menenangkanmu dari masalah yang membuatmu stress, kapanpun kau butuh senyuman jahilku untuk membuatmu tertawa, kapanpun kau marah dan ingin melampiaskan kemarahanmu, kau boleh memukulku! Lalu keningmu akan kucium untuk menurunkan emosimu^^ Kapanpun kau merasa kesepian di tengah malam, aku akan datang untukmu, Febby… Aku akan membawakanmu milkshake kesukaanmu. Aku akan muncul di kamarmu dan memelukmu hingga kau tertidur. Asal kau berjanji tidak membuat sebuah pulau baru di bajuku oke? Haha bercanda. Kapanpun kau butuh seseorang untuk menceritakan semua unek-unekmu, aku akan menjadi pendengar setiamu. Aku akan mengelus kepalamu dengan lembut. Kapanpun kau merasa bosan, aku akan membawamu ke tempat favoritmu, di mana kau bisa melihat indahnya malam hari yang dingin dengan bintang malam yang  bertaburan di langit. Kalau kau sakit, aku aka nada di sisimu untuk menunggumu bangun, menuntunmu bila kau merasa pusing, mengompres dahimu dengan es, menggenggam tanganmu bila kau menggigil dan mengalami mimpi buruk. Aku akan selalu ada sampai rambutmu memutih. Febby-a…Saranghaeyo… aku akan berusaha keras, sangat keras untuk berada di sisimu. Tak peduli bagaimana sibuknya aku di dalam scheduleku yang padat. I just want you to know that I care about you…

The one who loves you,

Siwon Choi :)’

TBC

4 thoughts on “How do I Live Without You [part 3]

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s