[Freelance] My Tomorrow

Author             : CoFFiee~

Main Cast         : Cho Kyuhyun

Kim Rara ( OC )

Support Cast     : Lee Sungmin

Rating              : All Age

Genre               : Romance (?) / Family (?)

PS                    : Annyeong, ini FF pertama yang aku kirim ke WFF, aku masih reader baru sih disini, jadi maafin  ya kalo saya masih jarang lalu-lalang disini ^^v. Tapi aku mau share FF aku disini gak papa kan? Oia, FF ini sudah saya publish di blog pribadi saya dan saya kirim juga ke superjuniorff2010.wordpress.com. Jadi, jika ada yang nemu di dua blog itu, itu murni hasil karya aku. ^_^

Disclaim           : Cho Kyuhyun n Lee Sungmin belong to themselves, Kim Rara is rysa’s Korean name.

Kyuhyun membuka pintu kayu apartemen itu dengan hati-hati setelah berhasil membuka slot kunci manualnya. Menyadari bahwa seseorang yang berada didalamnya telah mengunci ganda pintu itu.

Setelah berhasil melalui benda persegi panjang yang berbahan dasar kayu pohon oak itu, Kyuhyun kembali mengunci pintu itu seperti sedia kala. Dihirupnya nafas panjang itu perlahan. Seiring dengan deru oksigen yang masuk kedalam paru-parunya, Kyuhyun bisa merasakan perasaan sakit itu lagi.

Tapi dengan sigap, Kyuhyun berusaha menghalaunya. Ini sudah malam, dia juga tidak mungkin menungguku pulang, pikir Kyuhyun. Sedetik kemudian akhirnya dia melangkahkan kakinya menuju ruang tamu yang hanya berjarak dua meter dari lorong tempatnya berdiri saat ini.

Kyuhyun terkejut ketika dia mendapati segelas susu cokelat dan sandwich sudah tersedia di meja kecil yang terletak dihadapan sofa putih diruang tamu itu. Kyuhyun kemudian membaca note pada kertas yang tertahan oleh gelas susu transparan itu hati-hati. Takut ada kata yang terlewat olehnya.

“Makanlah, aku tahu kau pasti belum makan.”

Kyuhyun tersenyum tipis, kemudian berjalan menuju ruangan lain tak jauh dari ruang tamu itu. Karena langkah Kyuhyun yang besar-besar, hanya perlu lima langkah agar dia bisa sampai keruangan itu.

Warna putih mendominasi dinding ruangan itu sedangkan furniture didalamnya berwarna hitam pekat. Kyuhyun menatap sosok yang terbaring diatas ranjang king size berwarna putih itu dari ambang pintu. Pandangannya begitu nanar.

Kyuhyun ingin masuk kesana, kekamarnya. Tapi ada rasa sakit dan rasa ragu yang menahan kakinya untuk menghampiri sosok itu. Pertengkaran mereka tiga hari yang lalu masih terbayang begitu jelas dalam pikirannya.

“Kenapa kau lakukan ini padaku?” desis Kyuhyun dingin sambil menatap wanita yang lebih pendek dua puluh sentimeter darinya itu dengan pandangan penuh amarah.

“Tidak bisakah kau percaya padaku Oppa?” Wanita itu mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa Kyuhyun tidak benar-benar mengatakan kalimat itu.

“Mempercayaimu? Aku sudah melihat kalian seperti ini? dan kau masih bertanya apa aku bisa mempercayaimu?” Kyuhyun mengeraskan volume suaranya. Masih tidak bisa menahan emosi yang merasuki pikirannya.

Melihat istrimu berpelukan dengan laki-laki lain didepan matamu sendiri dan terlebih kejadiannya adalah di rumahmu sendiri? Kyuhyun yakin itu bukan hal yang ingin dilihat suami manapun saat mereka pulang kantor.

“Itu tidak seperti yang kau pikirkan Oppa! Aku..”

“Sudahlah!” Potong Kyuhyun sebelum Rara –wanita itu- selesai bicara. Jika dia berada disini lebih lama, Kyuhyun yakin dia akan melempar apapun yang ada disekitarnya. Jadi, Kyuhyun memutuskan untuk keluar dari apartemen ini mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri.

Sedang Rara hanya terdiam sambil menahan tangisnya agar tidak pecah.

Sebenarnya, malam setelah pertengkaran itu Kyuhyun sudah mendengar penjelasan langsung dari Sungmin, pria yang tiga hari lalu tidak sengaja didapatinya memeluk Rara. Saat itu Sungmin sudah mengatakan padanya bahwa kejadian itu murni sebuah kecelakaan.

Saat itu Sungmin ingin memberikan kabar pada Kyuhyun tentang rencananya meneruskan S2-nya di Jepang dan saat Rara baru saja meletakkan cokelat hangat di meja tamu untuknya, Rara tersandung karpet dibawahnya. Dan tepat saat Sungmin berhasil menahan Rara, Kyuhyun masuk hingga melihat pemandangan tidak menyenangkan itu.

Kyuhyun ingin sekali percaya dengan penjelasan Sungmin itu. Biar bagaimanapun, Sungmin dan dia adalah sahabat. Seharusnya Kyuhyun bisa mempercayai keduanya. Mempercayai istrinya dan mempercayai sahabatnya.

Tetapi fakta bahwa sebelum Kyuhyun dan Rara menikah, Sungmin pernah menjadi kekasih Rara adalah hal yang membuat emosi Kyuhyun tidak bisa tertahankan. Emosi dan prasangkanya menang!

Tapi Kyuhyun mencintai Rara, maka dia kembali ke tempat dimana belahan jiwanya ini berada. Dihampirinya wanita yang tertidur nyenyak itu hati-hati. Tidak ingin membangunkannya.

Dipandangnya wanita itu lekat. Wajahnya tertidur masih sama seperti sebelumnya, tenang dan seperti tidak ada beban tersirat disana. Kyuhyun mengusap puncak kepalanya, nampak ingin mengatakan sesuatu tapi urung dikatakannya.

Menyimpan permohonan maafku untuk besok sepertinya adalah hal yang bijaksana, pikir Kyuhyun saat dia melihat Rara menggeliat dalam tidurnya. Kyuhyun kemudian merebahkan tubuhnya pada ruang kosong disebelah Rara untuk melepas lelahnya setelah tiga hari ini menghabiskan waktu dikantor dan tidak tidur sama sekali.

_

Sinar matahari menyusup ke ruangan berukuran empat kali lima meter itu melalui jendela kaca besar yang dipasang disisi barat ruangan. Pintu balkonnya yang sengaja dibuat dari kaca yang sama dengan jendela ruangan itu sudah terbuka lebar hingga semillir angin juga ikut menggelitik tubuh Kyuhyun yang masih terbaring dibalik selimut putih itu.

Kyuhyun membuka matanya perlahan, kemudian memandang jam digital berbentuk dadu pada meja kecil disisi ranjangnya.  “Aish…sudah jam delapan pagi!” Kyuhyun berdecak kesal kemudian buru-buru merapikan rambutnya.

Kyuhyun menatap ruang kosong disisi ranjangnya. Rara sudah tidak ada. Kyuhyun menghembuskan nafasnya lagi. Padahal pagi ini rencananya dia ingin bangun lebih awal dan mengucapkan selamat pagi pada istrinya.

Kyuhyun kemudian beranjak dari tidurnya untuk bersiap menuju kantornya. Sebagai seorang manager pelaksana dari sebuah proyek pembangunan department store terbaru, tidaklah bijaksana jika dia terlambat.

“Oppa, aku berangkat duluan ya, sarapanmu sudah kusiapkan,” pamit Rara pada Kyuhyun saat suaminya itu baru saja keluar dari kamarnya. Kyuhyun memandangnya lekat, tapi Kyuhyun tahu wanitanya ini sedang tidak ingin memandangnya.

“Tidak bisakah kita berbicara sebentar?” tanya Kyuhyun hati-hati. Berusaha mengatur nada bicaranya seperti biasa.

“Tidak bisa Oppa, aku ada janji!” tolak Rara kemudian membetulkan letak kalung silver miliknya yang tersangkut di kancing kemejanya. Kyuhyun berusaha membantunya, tapi Rara menepis tangan pria itu kencang.

Kyuhyun memandang Rara tajam, kemudian mencengkram bahu Rara kencang. “Ada apa denganmu?”

“Harusnya aku yang bertanya pada oppa, ada apa denganmu?” balas Rara tidak mau kalah. Dipandangnya Kyuhyun yang kini balas memandangnya dingin.

“Aku?” Kyuhyun menautkan kedua alisnya. Tidak paham dengan maksud pertanyaan Rara barusan.

“Oppa menghilang selama tiga hari, apa Oppa ingat?”

“Tapi itu semua gara-gara kau! Apa kau tidak tahu bagaimana perasaanku saat itu? apa kau tahu rasanya melihat suamimu ada dipelukan orang lain?” Kyuhyun kembali meninggikan suaranya. Lagi-lagi emosi itu menang atas dirinya.

“Tidak bisakah oppa percaya padaku?” tanya Rara lebih terkesan memohon. Baginya, menghadapi Kyuhyun yang temperamental dan cemburuan adalah hal tersulit dalam hidupnya. Sangat melelahkan bukan jika kita harus membuktikan setiap hal yang akan atau telah kita lakukan dengan seseorang?

“Setelah semua hal yang aku lihat dengan mata dan kepalaku sendiri?” Kyuhyun mendesis pelan dan tajam, matanya masih menatap wanita dengan rambut hitam panjang itu marah. “Aku rasa tidak!” tambah Kyuhyun.

Rara terluka. Ya, Kyuhyun bisa melihat jelas rasa pedih itu tersurat jelas pada manik mata istrinya. Tidak, ia harus segera menghentikannya sebelum emosi itu kembali menguasainya. Bukankah seharusnya hari ini dia akan meminta maaf pada istrinya ini?

“Sudahlah, lebih baik kau berangkat! Kita akan bicara lagi saat makan malam nanti” ujar Kyuhyun kemudian melepaskan cengkramannya pada bahu Rara. Membiarkan Rara untuk pergi memenuhi janji yang telah dibuatnya.

Dan tanpa memandang Kyuhyun lagi, Rara berjalan mantap meninggalkan ruangan itu. Rara berharap saat dia tiba kembali ke ruangan ini nanti, semuanya akan kembali seperti seharusnya.

Meninggalkan Kyuhyun yang masih membeku di tempatnya berdiri. “Sepertinya aku tidak akan kekantor hari ini” gumam Kyuhyun pada dirinya sendiri sambil memutar tangannya dikanan dan kiri pelipisnya.

_

Ponsel putih itu bergetar hebat ditangan sang pengguna saat suara diujung sana menyelesaikan hal yang ingin disampaikannya. Kyuhyun berharap hal yang baru saja didengarnya hanyalah sebuah ilusi semata. Tidak, ini tidak mungkin!, Kyuhyun berteriak dalam hatinya sementara pikirannya masih berkonsentrasi dengan hal yang sedang diterangkan seseorang dari seberang telepon itu.

“Aku akan segera kesana! Dimana tempatnya?” tanya Kyuhyun akhirnya setelah mampu dia mengendalikan emosinya yang tertahan. Setelah mendapatkan jawaban dari suara diseberang, Kyuhyun langsung menuju Audi merah miliknya dan melesat membelah jalan. Meninggalkan sarapan yang sudah tersedia dimeja makan itu tanpa menyentuhnya sama sekali.

_

Kyuhyun memandang wajah wanita itu nanar. Tidak ada hal didunia ini yang bisa membuat dirinya begitu rapuh dan hancur didalam waktu yang bersamaan. Saat ini dia sedang melihat wanitanya tertidur. Tapi bukan seperti yang dilihatnya semalam, ketika wanita itu tertidur dalam damai. Ketika wanita itu masih bisa menggeliat dan ketika deru nafas itu masih teratur.

Wanita itu kini tidak lagi menunjukan hal itu. Istrinya kini berbaring tidak berdaya disebuah bangsal sunyi yang berisi tubuh-tubuh lain dengan ekspresi yang sama. Diam dan tertidur namun terlihat kesakitan.

“Rara, tertabrak sebuah bus saat dia ingin menyebrang jalan.” Terang Sungmin, pria yang menelepon Kyuhyun tadi.

Dipeluknya bahu sahabatnya itu pelan, berusaha untuk menenangkan Kyuhyun. Sungmin bisa merasakan tubuh sahabatnya itu bergetar menahan tangisnya.

“Bagaimana bisa kau ada disini, Hyung? Bukankah kau sudah berangkat ke Jepang dua hari yang lalu?” tanya Kyuhyun yang heran dengan kehadiran Sungmin di rumah sakit ini. Tatapan Kyuhyun itu penuh selidik.

Sungmin berdeham sedikit, merasa jengah dengan tatapan Kyuhyun. “Keberangkatanku diundur sampai hari ini dan Rara bilang padaku kemarin bahwa dia ingin mengantarku hari ini”

“Brengsek kau,Hyung! Kenapa kau tidak menjaganya?” maki Kyuhyun setelah berhasil melayangkan tinjunya pada pria manis yang lebih pendek darinya itu kencang. Sungmin terhuyung, namun tidak membalas.

“Maafkan aku, Kyu” ujar Sungmin. Dia tidak membalas pukulan itu karena saat inipun Sungmin merasa bersalah atas kejadian yang menimpa Rara.

“Aku..belum sempat meminta maaf padanya, Hyung! Aku belum sempat mengatakan bahwa aku mencintainya! Aku belum sempat mengecupnya pagi ini! aku belum bilang padanya bahwa aku selalu mempercayainya!  aku…akuu…” Kyuhyun membenamkan kepalanya pada wanita yang terbaring dihadapannya. Tidak tahu lagi harus bagaimana.

Rara adalah satu-satunya alasan dia bisa bertahan hidup didunia ini. Rara adalah malaikat kecilnya. Tapi kenapa Kyuhyun tidak pernah sadar akan hal itu? Egonya selalu saja berkuasa dan Kyuhyun makin merasa diatas angin ketika Rara selalu menuruti kemauannya.

Dan sekarang, semua rencananya hilang begitu saja saat Kyuhyun mencoba untuk memperbaiki sifat egoisnya, sifat pencemburunya dan semua sifat buruk miliknya.

Semuanya terlambat, Kini Kyuhyun hanya bisa diam dan menyesali tiga hari yang terlewat begitu saja. Tidak, Kyuhyun tidak mau ini terjadi. Dia masih belum siap jika Rara meninggalkannya.

“Ra..aku mohon bangunlah.. ra.. Tidak jangan tinggalkan aku, aku mohon! Rara.. Kumohon bangunlah!” teriak Kyuhyun sambil mengguncang tubuh dingin wanita itu. Tapi tidak ada balasan.

Sungmin menahan tangan Kyuhyun ketika dia makin kencang mengguncang tubuh Rara yang hanya diam. “Sudah Kyu, relakan dia, biarkan dia beristirahat dengan tenang…”

“Tidak, hyung! Rara belum mati! Rara belum mati!”

_

“Tidak, hyung! Rara belum mati! Rara belum mati!” Kyuhyun terbangun dari tidurnya. Keringat mengucur dari wajahnya. Mimpi buruk, pikirnya.

Matahari pagi nampak sudah bersinar dengan kokohnya ketika Kyuhyun benar-benar membuka matanya. Dilihatnya jam digital berbentuk dadu pada meja tepat disisi ranjangnya. “Aish..sudah jam delapan pagi!” Kyuhyun berdecak kesal.

Saat sedang merapikan rambutnya, Kyuhyun menyadari sesuatu. Sepertinya dia pernah mengalami kejadian ini sebelumnya, tapi dimana?

Kyuhyun menghentikan kegiatannya menyisir rambut dengan jarinya itu sebentar, berusaha mengingat-ingat dimana dia pernah mengalami hal seperti ini. Dan begitu Kyuhyun menoleh ke sisi kosong ranjangnya, mendadak dia teringat mimpinya.

Buru-buru Kyuhyun keluar dari ruangan yang didominasi warna hitam dan putih itu, mencoba mencari sosok yang sangat dirindukannya. Kyuhyun menjelajah ruang tamu, tapi sosok itu tidak ada. Pindah di kamar mandipun tidak ada. Dan tidak ada tanda-tanda kehidupan di dapur.

Kyuhyun panik, apakah semua ini nyata? apakah dia benar-benar sendiri saat ini? Kyuhyun terduduk lemas di sofa itu sedang tangannya menyembunyikan wajahnya yang menunduk frustasi. Diacaknya rambut hitam miliknya itu kencang.

“Apa yang sedang oppa lakukan disana?” tanya seorang wanita dengan nada suara bingung. Kyuhyun mencari asal suara itu dan betapa kagetnya dia mendapati wanitanya berada hanya berjarak satu meter darinya.

“Oppa..kau kenapa sih?” tanya wanita itu heran saat Kyuhyun tiba-tiba saja memeluknya. Pelukan itu erat seperti takut wanita itu akan menghilang dari hadapannya. Setelah dirasa cukup memastikan bahwa sosok yang ada dihadapan Kyuhyun ini nyata, Kyuhyun mencium istrinya mesra.

Pertama bibirnya, kemudian beralih ke pipinya, kemudian kematanya, lalu terakhir dipuncak kepalanya sebelum akhirnya kembali memeluk istinya erat.

“Kau habis darimana?” tanya Kyuhyun lembut, tangannya masih memeluk posesif Kim Rara –istrinya-.

“Aku baru saja selesai membereskan lemari pakaian kita disebelah ruang cuci.” Jawab Rara yang kini balas memeluk Kyuhyun. “Oppa, sedang kenapa?” tanya Rara, ingin menyelesaikan rasa penasarannya karena tiba-tiba saja suaminya bertingkah aneh pagi ini.

“Aniyoo..hanya rindu saja!” jawab Kyuhyun singkat. Kini dia menempelkan bibirnya dipuncak kepala Rara sementara kedua tangannya masih enggan melepaskan pelukannya di pinggang kecil Rara.

“Kau kenapa Oppa?” tanya Rara, makin tidak percaya pada apa yang ada dihadapannya. Sepertinya Rara harus memeriksakan kesehatan suaminya, takut-takut kepala suaminya ini terbentur sesuatu.

Kyuhyun memandang Rara lekat, kemudian tersenyum. “Apakah aku sudah bilang bahwa kau cantik hari ini?” tanya Kyuhyun lagi dan sukses membuat Rara merinding hebat.

“Oppa, kau demam ya?” tanya Rara kemudian menempelkan punggung tangannya pada dahi Kyuhyun. Normal, pikir Rara. Berarti benar, dia harus memeriksakan suaminya ke dokter siang ini.

“Ani, aku baik-baik saja!” jelas Kyuhyun. “Ra, maafkan oppa atas kejadian tiga hari yang lalu. Maafkan Oppa karena tidak percaya padamu.” Tambah Kyuhyun dan membuat Rara makin bingung.

“Memangnya tiga hari yang lalu ada apa?”

“Kita bertengkar hebat, kau ingat?” Kyuhyun berusaha mengingatkan kejadian tiga hari yang lalu. Tapi Rara sepertinya tidak mengingat hal itu. Jadi, Kyuhyun menjelaskan detail peristiwanya saat mereka sudah sama-sama duduk di sofa itu.

“Sudah ingat?” tanya Kyuhyun. Lagi-lagi Rara menggeleng. Bukan karena tidak ingat, tapi karena Rara yakin dia dan Kyuhyun tidak sedang bertengkar. Seingatnya dia dan Kyuhyun sangat jarang berkomunikasi. Kyuhyun itu pendiam dan selalu sibuk dengan pekerjaannya. Sedang Rara terlalu takut hanya untuk sekedar menyapanya.

“Aish..sudahlah itu tidak penting!” seru Kyuhyun kemudian memeluk Rara lagi. “Yang penting sekarang setiap pagi dan malam aku akan mengucapkan aku mencintaimu!” tambah Kyuhyun kemudian mengecup lembut pipi Rara.

Syukurlah itu hanya mimpi, pikir Kyuhyun yang kini lekat memandang Rara.

Rara masih tidak mempercayai mata dan telinganya. Kyuhyun-nya yang dingin itu bertindak seperti ini. Entahlah, Rara harus senang atau sedih?

“Sudah jangan bengong seperti itu! lebih baik kita segera bersiap mandi, sebentar lagi Sungmin akan datang!” seru Kyuhyun sambil menarik bangun Rara yang masih terkejut melihat perubahan sikapnya.

“Dia menelponmu?” tanya Rara antusias. Kyuhyun menggeleng kemudian tersenyum singkat. “Feeling!” katanya sambil menunjuk pelipisnya dengan telunjuk kanannya.

Rara memutar bola matanya. “Sepertinya kau memang harus ke dokter oppa!”seru Rara pada sosok yang makin menjauh dari pandangannya itu.

Kyuhyun hanya tertawa mendengar seruan istrinya itu. seaneh itukah dirinya jika dia bersikap romantis? Tapi kini Kyuhyun tidak perduli. Ya..setiap hari dan selamanya dia akan mengatakan pada istrinya bahwa dia sangat mencintainya. Biar saja seluruh dunia mengatakan dirinya aneh, Kyuhyun tidak peduli.

Yang terpenting sekarang, Kyuhyun tidak ingin menyesal. Kyuhyun tidak ingin meratap dan berkutat dalam rasa bersalah dihari esok miliknya. Sebab kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi besok kan?

So tell that someone that you love, just what you’re thinking off..

If tomorrow never comes..

 

===========================================================================

Jadi, sudahkah kalian mengatakan betapa kalian mencintai ibu kalian?

Ayah? Kekasih? Adik? Kakak? Atau sahabat kalian?

Jika belum, saat ini juga katakan bahwa kalian menyayangi mereka!

Katakan sebelum semuanya terlambat.. ^_^

Cz we’ll never know whether tomorrow will come to us or not

Like and commen are really welcome to make me continue writing

Withlove

Fiee~

28 thoughts on “[Freelance] My Tomorrow

  1. wah…bagus bgt cerita’nya..
    menarik trz gk pasaran..
    konflik’ny juga gk monoton..
    slain thu unsur trpnting dlm sebuah cerita dpt bgt yaitu amanat..
    cz amanat dr ni cerita bisa menginspirasi para reader…
    TOP BGT.. >.<

  2. awalnya aku kira beneran rara mati T.T
    ada nasehat yg terkandung pada ff nie… selama hal itu masih bs kita lakukan saat ini,,untuk apa menunggu besok…karena kita tidak tau apa yg akan terjadi esok dan kita pasti tau penyesalan slalu datang belakangan…. !!!!!!!
    author daebak pokoke.. kekekekekekekek

  3. keren ffnya,
    bahasanya rapih, details, tapi gak bertele-tele,

    aku suka cara author menggambarkan hal-hal disekitar casts dengan baik dan mendetail,

    ditunggu ff selanjutnya,

    atau yang ini dibuat versi seriesnya aja chingue, pasti asik, *deep bow bareng Kyuppa*

  4. omygod! Kaget abis pas bca part Rara mnggal! eeh..tnyata itu mmpi, fiuuwh~
    kata2nya bner2 mginspirasi aku lho :)
    daebak author !

  5. Dengan alur yang sudah banyak di pakai, tapi kamu bawain secara beda
    Aku suka :)

    Bener deh, aku tuh males kalo baca ff staright

    Tapi, ini pengecualian…

    Kamu kayak seseorang yang udah expert
    Tapi, aku agak kurang nyaman pas rara manggil kyu ‘oppa’

    Tapi (lagi) aku tetep aja suka sama ff ini :D

  6. Wah,, kaia raksasa donk kyu langkah’a besar2!! o-0
    Babykyu seyem klo marah! Hiiiiiiiiiiiiiiii~ *-*
    Bener2 de sesek sndr bca ff ini.. Huft~ -_-”
    Kepercayaan itu sgt dperlukan dlm membina sbuah kluarga! Mka’a jng baong lg y kyupa! *loh*

    LANJUT!!!!

  7. aq ‘kira Rara bnran mati, Eh trNyata itu cMa, Mimpi…
    aq suka’ bgt Ni’ FF
    Daebak!!!
    Crita.a aq suka’ !!!

  8. hm..
    apa yah, ga tw mw ngomong apa, haha speechless ~
    keren, ada makna terkandung didalamnya :)
    ini ff yang saya tunggu :D

    bikin lagi ya?

  9. prtama baca sedih, stelah dterusin jdi sneng deh..
    author pinter cari nama OCnya ya? kok sama.an sma namaku…hehe

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s