[Freelance] How do I Live Without You [part 2]

“Ohya hyung!” kepalaku menyembul dari pintu kamar mandi.

“Bolehkah aku meminta nomornya? Kurasa… aku menyukainya!”

——

“Yoboseyo?”

“Hei, benarkah ini Febby?”

“Ne, nuguseyo?”

“Ini Siwon, Choi Siwon. Kau ingat aku? Hmm aku berencana untuk pergi ke sebuah kedai kopi. Kau mau ikut?”

“Ada apa kau tiba-tiba menelfonku dan mengajakku pergi? Ohya, darimana kau mendapatkan nomorku?”

“Ah, maaf. Sepupumu yang memberikan nomormu. Kau marah?”

“Ani, aniyo. Kau tadi mau kemana?”

“Sebuah kedai kopi favoritku. Kalau kau mau, kutunggu kau di luar ya!”

Ia menutup telfonnya. Di luar? Kubuka perlahan gorden jendela kamarku yang berwarna merah. Ia berdiri di depan pagar rumahku. Dengan kemeja bergaris hitam dan bagian lengan yang dilipat. Tidak lupa kacamata hitamnya yang ia pakai waktu awal kami bertemu di Han River. Aku mengambil langkah menuju pintu rumahku dan membukanya.

“Hei, kau sudah di sini?”

Ia menyengir. “Iya… Maafkan aku. Maukah kau menemaniku? Apa kau tega menolak bila aku sudah ada di depan rumahmu?” Senyumnya menggoda.

Aku tipe orang yang tidak bisa menolak bila orang lain memintaku untuk menemaninya. Terlebih ia telah “menghangatkanku” waktu itu.

“Kau mau pesan apa?” Tanyanya setelah aku duduk di hadapannya. Kedai kopi ini berjarak tidak terlalu jauh dari rumahku. Tapi aku belum pernah dating ke sini. Tempatnya cukup nyaman. Nuansanya sedikit western dengan warna yang didominasi oleh warna coklat gelap. Membuat suasana menjadi terasa hangat.

“Hmm kau pesan apa? Aku ikut saja.” Jawabku. Aku sebenarnya bukan penggemar berat kopi.

“Yakin? Kau suka kopi? Karena aku akan memesan kopi. Tapi tak apa kalau kau mau. Hmm disini ada milkshake. Kau mau?” ah, bagaimana orang ini tahu aku penyuka milkshake?

“Hmm boleh, milkshake saja kalau begitu.” Dengan segera tangannya melambai pada waiter yang ada. Setelah waiter itu menerima pesanan kami dan pergi, kami hanya diam. Awkward sekali. Aku mencoba membuka pembicaraan.

“Kau tidak sibuk? Maksudku, yang ku tahu, Super Junior sangat sibuk. Jong Woon oppa yang memberitahuku.”

“Ah, tidak. Kami sedang tidak sibuk Desember ini. Jadi aku bisa menyempatkan diri bersantai dan melepaskan diri dari hecticnya schedule.” Jelasnya sambil melakukan hand gesture andalannya itu. Lucu sekali ^o^

Baru dua hari yang lalu aku mengenalnya, namun, entah kenapa aku senang berada di sekitarnya. Tatapan matanya sungguh membuatmu tidak ingin pergi dari hadapannya.

——-

“Kau tidak sibuk? Maksudku, yang ku tahu, Super Junior sangat sibuk. Jong Woon oppa yang memberitahuku.”

“Ah, tidak. Kami sedang tidak sibuk Desember ini. Jadi aku bisa menyempatkan diri bersantai dan melepaskan diri dari hecticnya schedule.”

Seandainya kau tahu, Febby, aku sedikit berbohong. Sebenarnya malam ini aku ada schedule. Tapi aku sudah membuat berbagai macam alasan agar aku bisa mengajakmu pergi. Aku ingin lebih mengenalmu.

Aku memandanginya. Ia melihat ke luar. Entah apa yang ada di pikirannya, tiba-tiba ia tersenyum. Aissh, Febby-a… kau itu benar-benar. Hipnotis apa yang kau lakukan hingga membuatku seperti ini?

Aku tak menyangka akan semudah ini mengajaknya pergi. Bersamaku! Namja yang baru ia kenal dua hari yang lalu. Entah kenapa, setelah melihatnya menangis karena kehilangan appanya, aku merasa harus terus ada di sisinya. Menjaga agar senyum manisnya tetap ada di wajahnya. Senyumnya, senyum kecil yang tersungging di bibir mungilnya itu, membuatku ingin menciumnya! Kutatap matanya yang indah dibalik kacamata berframe kotak berwarna hitam yang dipakainya. Ia sesekali berbicara, tanpa sadar aku menatapnya terlalu serius sampai tak menangkap apa yang ia bicarakan.

A week later

Kami mulai dekat setelah aku mengajaknya ke kedai kopi itu beberapa waktu lalu. Aku tak menyangka secepat ini ia memperbolehkanku masuk ke dalam kehidupannya.

Hari ini aku ingin menjemput Febby. Ini malam Natal. Aku ingin memberikannya sesuatu yang special. Aku kebetulan tidak ada schedule hari ini. Sudah ku bilang ini Desember jadi schedule kami tidak terlalu padat bukan?

——-

You got one new message

From: Siwon Oppa

Febby-a, siap-siap ya? Aku akan sampai dalam beberapa menit lagi. Pakai baju yang bagus. Okay dear?

Entah kemana ia akan mengajakku kali ini. Menyuruhku memakai baju yang bagus. Gaun maksudmu? Aneh-aneh saja.

Mobil sedan berwarna perak terparkir di depan rumahku. Tak perlu bertanya-tanya lagi itu siapa.

“Kaja!” Seruku tersenyum sambil masuk ke dalam mobilnya.

“Oppa kita mau kemana?”

“Kau akan tahu.” Ucapnya lembut sambil memegang tangan kiriku dan mengelus pipiku.

“Ayo, ini malam Natal. Kita harus merayakannya bersama!” Katanya lalu keluar dari mobil dan dengan segera membukakan pintu mobil di sebelahku. Ia menggandengku erat menuju suatu tempat makan kecil di pinggir trotoar. Tempat makan yang kecil namun ramai. Melihatku kedinginan, ia merangkulku dan mencium hangat kepalaku. Aku benar-benar tidak tahan dingin.

“Neo gwaenchanha?” Aku mengangguk pelan. Ah… Siwon oppa. Kau tersenyum saja sudah membuatku kembali hangat.

“How’s today?” tanyanya setelah kami menyantap our first Christmas’ eve dinner.

“Great oppa. Terimakasih banyak. Kau tahu oppa? Aku sempat berpikir Natalku tahun ini akan berbeda, berbeda tanpa appa disini…” Wajah appa melintasi pikiranku dan membuat air mataku mengalir. Jemarinya menghapus air mataku yang jatuh ke pipiku.

“It’s okay dear! Now you have me! Aku di sini untuk menghiburmu dan menemanimu. Aku berjanji, sampai kapanpun, aku akan berada di sisimu..” Katanya dengan suara yang sangat lembut dan gentle. Ia mengajakku keluar dari mobil.

“Oppa ini sudah malam. Apakah tidak lebih baik kita pulang?”

“Tunggu sebentar Febby-a. aku ingin memperlihatkanmu sesuatu!” cahaya terang benderang yang sangat indah terlihat di depanku. Berasal dari lampu pohon Natal yang besar itu. Sungguh indah. Tidak banyak orang yang berkunjung ke sana malam hari seperti ini. Ini sudah hampir jam 12 malam.

“Febby-a… Saranghae…” Ia mengambil salah satu hiasan dari pohon Natal itu dan memberikannya kepadaku.

OUR VERY FIRST CHRISTMAS. MERRY CHRISTMAS DEAR! <3

Tulisan itu tercetak dengan rapi dan indah di sebuah hiasan natal berbentuk hati yang berwarna merah hijau.

Aku memeluk tubuhnya erat. Aku tak ingin melepasnya. Ia tiba-tiba menatap mataku. Dekat, sungguh dekat dengan wajahku hingga aku bisa merasakan hembusan nafasnya. Seketika bibirnya mencium lembut bibirku… ^^

TBC

5 thoughts on “[Freelance] How do I Live Without You [part 2]

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s