[Freelance] How do I Live Without You [part 1]

How do I Live Without You?

Hujan. Gerimis tepatnya. Aku suka sekali dengan rintiknya air hujan yang membasahi tanah dan rerumputan. Entah kenapa, rintikkan air hujan menenangkanku. Kutatap langit kelabu di balik jendela yang mulai basah.

I’m gonna miss you..

~

Febby’s POV

Han river, 25 February 2010

“Febby-a… kajimara…” Ucapnya sambil mendekapku dalam pelukannya. Aku bisa merasakan hangat tubuhnya serta dada bidangnya. Tangannya dengan lembut mengelus rambutku. Aku bisa merasakan bahwa ia menangis.

“Hei… siwon-a.. I’ll be back! Aku kesana hanya beberapa tahun, babo!” kataku sambil mencubit lengannya. “Kau hanya perlu berjanji, kau tidak akan jelalatan ketika melihat wanita-wanita cantik saat kau bosan menungguku.” Aku melepaskan pelukannya dan menatap kedua matanya dalam-dalam. Aku tersenyum, walaupun sebenarnya sulit sekali mengambil keputusan untuk pergi. Tapi apa boleh buat, pergi ke Amerika memang merupakan impianku sejak dulu.

Tangannya menangkup wajahku. Hangat tubuhnya seperti mengalir ke tubuhku di cuaca yang dingin ini.

“Pasti, Febby-a.. kau tahu betapa aku menyayangimu, bukan? Tapi.. bagaimanacaraku untuk memelukmu ketika aku rindu padamu? 7 tahun bukan waktu yang sebentar.” Ucapnya. Ia menatapku dengan tatapan yang sangat menenangkan hatiku. Tatapan yang membuatku jatuh cinta kepadanya. Tatapan yang tajam, namun lembut dan hangat. Terpancar kesedihan dari kedua mata yang berwarna kecoklatan itu.

“Oppa…” aku tak sanggup melihat tatapan sedihnya itu. Sebelum aku menjawab, ia melepaskan tangannya dari wajahku lalu menggandeng tangan kecilku dan membawaku ke suatu tempat.

“Oppa, kita mau kemana?” tanyaku sambil melihat raut wajahnya yang seketika berubah menjadi bahagia, namun hanya tersenyum kecil.

Malam itu malam yang cukup dingin di Han River. Salju masih bertumpuk di sepanjang jalanan kecil yang ada. Lampu-lampu taman yang tertata rapi terlihat sangat indah. Aku sangat suka pemandangan indah seperti ini di malam hari. Aku juga suka gerimis. Sangat suka.

Tangannya hangat. Tangannya merangkul bahuku. Aku terlihat seperti adiknya, kurasa. Tubuhnya sangat atletis dan tinggi, sedangkan aku, gadis Asia yang petite. Namun aku tak peduli. Aku membalas pelukannya dengan memeluk pinggangnya. Sungguh menyenangkan berjalan-jalan dengannya di hari terakhirku di Seoul.

“Nah, sekarang tutup matamu.” Ia meraih tanganku dan menaruhnya di mataku agar aku tidak bisa melihat apa yang ada di depanku. Kedua tangannya berada di atas bahuku untuk menuntunku berjalan.

“Sekarang buka matamu!” Dari nada bicaranya aku tahu ia mengatakan itu sambil tersenyum. Senyum yang tak akan bisa kau tolak.

Bunga-bunga putih bertebaran di hadapanku. Banyak lampu-lampu di pepohonan sekitarku. Ia lalu mengambil sebuah kertas dan spidol.

“Untuk apa ini?”

“Ini untuk menulis time capsule kita. Kita akan membukanya kembali saat kau kembali ke Seoul, Febby-a..”

“Oke!” senyum sekali lagi tersungging di wajahnya. Aku yakin, hatinya sedang bersedih jauh di dalam sana.

Siwon’s POV

“Hyung! Maaf aku terlambat. Aku habis mengantar Febby ke bandara.” Ucapku sambil setengah berlari kearah Leeteuk Hyung. Kulihat member yang lain sepertinya sudah cukup lama menungguku.

“Chweisonghamnida!” aku membungkuk meminta maaf.

“Gwaenchanhayo. Ayo cepat! Press conference akan dimulai sebentar lagi.” Ia menarik lenganku ke ruang press conference.

Hari ini adalah press conference untuk Super Show 3 pertama yang akan diadakan di Seoul. Dan merupakan hari kepergian Febby. Aku tak tahu apa yang bisa kuperbuat tanpa dirinya di sini.

Next day…

“Hyung! Jangan melamun terus! Ada apa kau ini? Febby? Tenang Hyung. Kau pikir kau tidak akan bisa menghubunginya? Jaman sudah modern hyung, jangan kuno, kau tahu internet kan?” ejek Kyuhyun yang sedang berkutat dengan PSPnya. Bahkan ia tidak melihatku ketika ia mengucapkan kata-kata ejekan tadi.

Aku diam saja. Berkutik dengan iPhoneku. Berusaha menghubungi Febby.

Apa dia sudah sampai?

Ia belum menghubungiku. Padahal ia berjanji akan segera memberitahuku jika sudah mendarat dengan selamat di sana.

Berarti ia belum sampai, pikirku. Mungkin perhitunganku akan sampainya ia di sana salah.

Aku mengambil coatku serta topi dan kacamata hitamku.

“aku pergi dulu ya” Kataku sambil menutup pintu dorm tanpa melihat member lain. Ffiuh.. dingin sekali di luar. Aku mengambil langkah-langkah kecil menuju suatu kedai kopi. Aku ingin menyendiri.

Febby’s POV

Sampai!!!! Hello USA!!! Segera aku mengambil barang-barangku dan mencari public telephone. Ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di Amerika. Aku kesini untuk kuliah. Ya, dari dulu aku sudah memiliki impian untuk kuliah di negeri Paman Sam ini. Aku mendapatkan beasiswa di Berklee, jurusan komunikasi. Memang di Seoul juga banyak universitas yang bagus dan berkualitas. Namun aku ingin mencari suasana yang baru. Untung saja bahasa Inggrisku lumayan baik. Maklum, appaku orang Amerika yang bertugas di Korea dan menikahi eommaku yang berdarah Korea. Jadilah aku! Biarpun appa orang Amerika, namun ia belum sempat membawaku ke sini. Barulah aku me ndapatkan kesempatan untuk hijrah ke Amerika sekarang.

Nah itu dia.

Kumasukkan beberapa koin dan mengikuti petunjuk yang ada di telepon itu untuk membuat panggilan ke luar negeri.

“Yoboseyo?”

Siwon’s POV

“ini coffee pesanan anda” ditaruhnya minuman pesananku di meja yang berbentuk lingkaran di hadapanku.

“Oh, kamsahamnida.” Ia meninggalkanku sambil sedikit menengok ke arahku dengan wajah bingung. Mungkin ia mengenaliku, padahal aku belum melepaskan topi dan kacamata hitamku ini.

Drrt drrt….

Drrt drrt…

Kurasakan Iphoneku bergetar. Siapa yang menelfonku malam-malam seperti ini?

“Yoboseyo?”

“Siwon-a!!!! aku sudah sampai di sini!!! Kau sedang apa di sana? Apakah kau baik-baik saja?? Kau merindukan aku? Kau belum bosan menungguku kan?”

Belum sempat menjawab,aku sudah dihujani pertanyaan yang begitu banyak.

“Ya ya ya! Slow down, dear! Aku sangat baik di sini, aku pikir kau sudah melupakan aku ketika sampai di sana sehingga tidak menelfonku. Aku sangat merindukanmu! Bagaimana di sana? Kau baik-baik saja kan?”

“Ne… Na gwaenchanha yo… Kau tidak perlu kuatir! Aku wanita perkasa! Hahahaha”

Tawanya cukup mengobati rinduku. Ia lalu menutup telefonnya setelah ia berkata bahwa telfonnya hanya bisa untuk 2 menit jadi tidak bisa berlama-lama.

Ah… Febby-a… Baik-baik di sana. Tawanya tadi membuatku tersenyum membayangkan wajahnya ketika ia tertawa. Senyum dan tawanyalah yang membuatku jatuh cinta padanya ketika pertama kali aku melihatnya dan bertemu dengannya. Pertemuan yang biasa, namun sungguh menyenangkan.

Aku meletakkan beberapa lembar uang di meja lalu melambai kepada waiter tadi. Ia mengangguk pertanda mengerti.

*

Ketika itu musim salju, Desember 2008. Aku sedang bosan, bosan dengan padatnya schedule kami, Super Junior. Kuraih jaket dan topi yang menggantung di pintu serta kacamata hitamku lalu mengendarai sepedaku menuju Han River. Di sanalah tempatku untuk menyendiri di tengah kelelahan dan stress. Indahnya pemandangan Han River, terlebih ketika musim salju sungguh membuat semua pikiran penatku jernih.

Kutemui satu bangku taman yang kosong. Segera kududuk sambil menyeruput kopi hangat yang tadi kubeli sebelum ke sini.

Mataku tertuju kepada seorang yeoja yang berada di pinggir sungai. Yeoja itu cantik. Dengan rambutnya yang hitam bergelombang, tidak terlalu panjang. Tunggu… Ia menangis sepertinya. Kenapa?

——-

Aku tidak tahan! Aku berlari menuju Han River. Rumahku tidak jauh dari Han River, dengan berlari sedikitpun bisa sampai. Hari ini sungguh hari yang… aku tak tahu harus mendeskripsikannya bagaimana. Tangisanku sepertinya langsung membeku seketika saat aku berlari. Aku sampai lupa mengambil coatku, padahal cuaca di luar sangat dingin. Bodolah, aku tak peduli. Aku butuh waktu sendiri untuk menenangkan diri. Sungguh, aku tak menyangka hari ini akan hadir dalam hidupku.

Hah… Huh…

Lelahku hilang seketika ketika melihat indahnya Han River. Namun tangisanku tidak bisa berhenti. Untung sedang sepi saat itu sehingga tak banyak orang yang melihatku menangis. Aku menghembuskan nafas. Menatap sungai yang indah di hadapanku. Lalu aku menundukkan kepalaku dan menangis. Berpikir tak ada yang melihat.

Tiba-tiba ada sebuah tangan muncul di hadapanku dan menyodorkanku sebuah jaket. Jaketnya kurasa. Aku memberanikan diri untuk mengangkat kepalaku. Namun mataku tidak bisa melihat orang itu dengan jelas karena air mataku yang membasahi kacamata yang kupakai.

“Kau baik-baik saja?”

“Ah, ne. Gomawo…”

“Ini, kau lebih baik memakainya.” Katanya dengan tangan yang masih menyodorkan jaket kepadaku.

“Dingin sekali di sini kau tahu?! Ini -18º! Apa kau gila?!”

Ini orang, kenalpun tidak, bilang aku gila. Memang sih, aku hanya memakai dress hitam tanpa lengan selutut di cuaca yang super dingin ini.

“Ah, tidak perlu. Aku baik-baik saja.” Kataku sambil cepat-cepat menghapus airmataku.

“Gwaenchanha… Aku tidak suka melihat yeoja yang kedinginan.” Ucapnya sambil tersenyum.

Sungguh, sepertinya ia tampan. Walaupun wajahnya tertutup oleh kacamata hitam yang ia kenakan.

“Gomawo..” Kataku lalu mengambil jaketnya dan memakainya.(sinetron-__-) Tidak enak menolak permintaan namja yang tampan. Jaketnya hangat. Dan wangi.

“Kau kenapa? Apa kau baik-baik saja?”

Ah.. Rupanya ia menangkapku sedang menangis.

“Hmm, apakah tidak apa bercerita dengan orang asing?” Pertanyaan yang sedikit bodoh, namun terlanjur terlontar dari mulutku.

“If that’s okay with you, then go ahead.” Tiba-tiba ia berbicara dengan bahasa Inggris.

“Appaku…” Kuberanikan diri untuk berbicara dengan airmata yang tidak terbendung.

“Ia… Baru saja meninggal. Tiba-tiba tepatnya… Aku.. Aku belum sempat mengucapkan selamat tinggal kepadanya! Ia tidak menungguku… Aku… Aku sayang padanya, sangat sayang!” Mulutku berbicara dengan cepatnya dan airmataku lagi-lagi membasahi kacamataku.

Aku terbelalak ketika mendapatkan diriku berada dalam pelukan namja itu. Hangat, membuatku tak ingin melepasnya. Aku kaget namun tak disadari aku membalas pelukannya. Aneh. Namun.. nyaman. Ia melepaskan pelukannya lembut, lalu tersenyum dan menatapku.

“Appamu, meninggalkanmu bukan karena kemauannya. Semua ini ada alasannya. Ayahmu sudah bahagia di sana. Kau tak perlu kuatir, namun bila kau ingin menangis untuk meluapkan emosimu, menangislah.” Ia tersenyum, membuatku ikut tersenyum kecil.

Aku terdiam ketika tiba-tiba ia pergi meninggalkanku. Dalam beberapa detikpun ia hilang dari pandanganku. Aku melongo, bingung, penasaran, siapa dia? Mengapa ia tiba-tiba pergi? Apa ia mengenalku sehingga mau meminjamkan jaketnya… Ah, jaketnya! Aku menyadari jaketnya masih kukenakan. Bagaimana caraku mengembalikannya?

——-

Ia tersenyum. Senyum yang sangat manis dengan sebuah lesung di pipi kirinya. Aku berhasil melihat senyumnya di tengah kesedihannya. Neomu yeppeo.

Iphoneku bergetar.

Ah, ada apasih? Tidak tahu apa aku sedang berada dalam situasi yang sulit? Tidak mungkin aku meninggalkannya begitu saja. Namun benda elektronik menyebalkan ini terus bergetar. Terpaksa aku pergi meninggalkannya. Meninggalkannya dalam kebingungan.

Maaf… tidak ada waktu untuk menjelaskan mengapa aku harus pergi. Aku tidak mau merusak suasana ini.

Kusadari ia sedikit melongo ketika aku mulai berlari kecil meninggalkannya dan menaiki sepedaku.

Mianhae…

“Ada apa hyung?”

“Ya! Kau di mana? Cepat ke sini! Kami membutuhkanmu!”

Aku hanya menutup telfonnya tanpa menjawab apa-apa. Aku sampai lupa ada schedule malam ini.

——-

“Aissh! Bagaimana ini?” Gumamku sambil menatap jaket hitam yang tergantung di pintu kamarku. Jaket yang kemarin dipinjamkan oleh seseorang.

“Hmmm, ah iya!”

Aku kembali ke spot di mana kemarin aku bertemu dengan namja itu. Mungkin… Ia menginginkan jaketnya kembali dan kembali ke sini untuk mencariku dan meminta jaketnya kembali. Kupandangi sungai yang begitu indah di hadapanku. Hmmm… Kupejamkan kedua mataku untuk lebih menikmati angin dingin yang berhembus menerpa wajahku. Sebuah tangan menepuk pundakku tiba-tiba. Mengganggu saja, pikirku. Tak tahu apa aku sedang menikmati angin dingin ini. Aku menoleh dan mendapati sesosok namja yang sepertinya ku kenal. Tubuhnya tinggi, atletis, wajahnya tampan. Sangat tampan. Hidungnya mancung, kulit wajahnya putih dan bersih, alis matanya yang tebal membuatnya semakin tampan. Tatapan matanya….

“Bolehkah ku minta jaketku kembali?” Pertanyaannya menyadarkanku dari lamunanku, tak kusadari aku melongo menatap wajahnya yang nyaris sempurna. Ia tersenyum dan menunjuk ke jaket yang kudekap erat di dadaku.

“Ah, ne! mianhamnida!” Dengan cepat kuserahkan jaket itu.

“J-jadi, kau, Choi Siwon kan?! Kau yang kemarin meminjamkan jaket ini? Ah, kau satu grup dengan sepupuku, Kim Jong Woon!”

“Ah, ne. Tidak apa-apa. Kau sepupunya? Kau tidak mengenaliku kemarin?”

“Maaf kemarin pikiranku sedang kalut.” Aku tersenyum.

“Ah, sampaikan salamku padanya! Ia tidak sempat datang ke pemakaman appaku kemarin karena sibuk. Aku sangat rindu padanya.”

“Ne, pasti.”

Ah, lesung pipinya…senyumnya…lebih indah saat kau melihatnya langsung daripada di televisi.

“Bagaimana kau tahu aku di sini?”

“Ah, aku berpikir mungkin kau akan ke sini untuk mencariku dan mengembalikan jaketku, ternyata dugaanku benar! Kau, sudah merasa baikan? I mean, appamu baru saja meninggal kemarin. Aku turut berduka…”

“Ne, aku sudah merasa baikan setelah kau kemarin memberitahuku untuk tidak kuatir. Gomawoyo!” Kataku sambil tersenyum.

“Baguslah. Ehhm, kau…”

“Febby, itu namaku.”

“Febby? Ah, Febby-a, mau berjalan-jalan sebentar? Anggap saja ini balas budiku setelah kemarin meninggalkanmu begitu saja. Sekalian menghiburmu. Kau juga sepertinya sangat menikmati udara dingin di sini tadi. Bagaimana?” Tanyanya lagi-lagi dengan tersenyum. Senyumnya itu, membuatku ingin menatapnya terus. Membuatku ingin menjadikan senyum itu hadir di saat aku dalam hari-hari kelabuku. Terlebih setelah appa meninggal. Aku anak tunggal. Appa sungguh merupakan satu-satunya sosok lelaki dalam hidupku. Setelah ia tiada, aku sangat berharap ada orang yang bisa menggantikan posisinya, bukan sebagai appaku, namun sosok laki-laki yang bisa terus ada di sisiku, seperti appaku. Ada untuk menghiburku dan membuatku bahagia. Aku mengangguk. Tidak ada salahnya berjalan bersama namja tampan itu. Toh ia adalah teman baik sepupuku dan namja terkenal seAsia.

Han River sepi siang itu. Kami berjalan menyusuri jalan setapak. Aku memasukkan kedua tanganku ke dalam kantung coatku. Ia berjalan di samping kananku sambil bersiul kecil. Whoooh! Dinginnya seperti semakin menusuk. Aku usapkan kedua telapak tanganku mencari kehangatan.

“Dingin ya?” Ia tiba-tiba merangkulku dan menggosokkan tangan kirinya ke lenganku, berusaha membuatku merasa lebih hangat. Bisa kurasakan hangat tubuhnya ikut mengalir menuju sekujur tubuhku. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Ah, kenapa kau ini Febby? Ia hanya membantumu menghangatkan tubuhmu!

——-

“Hyung! Sepupumu itu, Febby, aku baru saja berjalan dengannya di Han River! Ia menyampaikan salam untukmu, katanya ia ingin bertemu. Karena kau tidak dapat menghadiri pemakaman appanya.” Kataku kepada Yesung hyung yang sedang menonton televisi di dorm.

“Ah, jinjja? Bagaimana kau bisa bertemu dengannya bahkan berjalan bersamanya? Kalian berpacaran? Mengapa kau tidak bercerita denganku? Aisssh, dasar kau Febby.”

“Ani, hyung! Bukan salahnya, terlalu panjang untuk diceritakan. Lain kali saja ya!” Ucapku sambil berjalan ke arah kamar mandi.

“ohya hyung!” kepalaku menyembul dari pintu kamar mandi.

“Bolehkah aku meminta nomornya? Kurasa… aku menyukainya!”

TBC

4 thoughts on “[Freelance] How do I Live Without You [part 1]

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s