[Freelance] Fight, Love, and Revenge [part 7]

Siwon’s POV

BRUKKKK…

Aku menolehkan kepalaku ke belakang dan memastikan mobilku menghantam tubuhnya dengan tepat sasaran. Aku tersenyum puas ketika kulihat tubuh yang ringkih itu terhempas ke tanah.

Sekarang tak ada lagi kesempatanmu untuk melindungi anak kesayanganmu itu, Lee Sooman. Berhentilah memikirkan kehidupannya. Yang perlu kau pikirkan saat ini bagaimana kau bisa membuatmu untuk terus bertahan hidup, menunda dirimu agar tidak masuk neraka saat ini juga.

“Astaga Siwon~a. Ini tempat umum.”

Aku mengalihkan pandanganku ke samping kananku dan kudapati seorang pria tua menatapku dengan shock.

Aku hanya membalas keterkejutannya dengan seringaianku.

“Waeyo??” tanyaku enteng.

“Di sini banyak orang. Bagaimana jika ada yang mengenali kita?? Bagaimana jika mereka melapor…”

“Ke polisi??” sambarku kemudian tertawa sinis. “Dendam antara keluarga ini sudah menjadi rahasia umum. Perseteruan ini juga sudah terjadi sejak dulu, dan sampai saat ini belum ada satu pun dari kita atau keluarga Lee brengsek itu yang mendekam di penjara, apa lagi mengusik dendam keluarga ini. Kau lupa?? Kau yang mengajariku, selama aku memiliki banyak uang, maka aku akan mendapatkan posisi puncak di hidup ini.”

Appa sedikit terperangah mendengar ucapanku tapi sedetik kemudian senyum lebar tersungging di bibirnya yang penuh itu.

“Tak kusangka kau memiliki jiwa se-brengsek ini, Choi Siwon.”

“Aku belajar semua ini darimu,” balasku dan sontak membuatnya tertawa keras.

“Ne, kau memang anakku.”

*****

Gaeul’s POV

“Kau sudah pulang?? Cepat sekali,” ucapku ketika melihatnya memasuki rumah. Tapi jangankan untuk menjawabku, bahkan dia tidak memandangku sama sekali dan terus berjalan menuju kamarnya yang kutempati selama seminggu lebih ini dengan rahangnya yang mengeras. Bukan hanya itu saja, bahkan aku bisa mendengar derap langkahnya yang kasar. Dan Brukkkk… dia membanting pintu kamar dengan keras.

Aisss pria itu lagi-lagi menyebalkan. Padahal aku sudah berusaha menyapanya, bersikap baik padanya, tapi responnya selalu saja membuatku emosi. Seharusnya aku memang tidak perlu bersikap baik padanya, bahkan aku sendiri heran kenapa aku malah menyapanya duluan tadi??

Dan untuk apa dia masuk ke kamar, semua barang pribadiku kan ada di sana. Sudahlah, lagi pula itu memang kamarnya. Benar katanya aku tak berhak mengusirnya dari kamar itu. Tapi aigooo, melihat raut wajahnya tadi, tak mungkin dia tak akan menghancurkan barang-barangku. Aissss…

*****

Donghae’s POV

Aku tak mempedulikan sapaan gadis berisik itu. Aku sedang tak ingin bertengkar dengannya saat ini. Wajah tadi, mata itu masih membekas di otakku.

Aku melangkahkan kakiku dengan kasar menuju kamarku dan kemudian membanting pintu kamar dengan keras. Dadaku naik turun karena napasku yang memburu. Selama ini aku mencarinya tapi kenapa aku malah pergi begitu saja ketika mata itu menatapku. Seharusnya kuhabisi dia saat itu juga.

*****

Author’s POV, Flashback

“Hyerie~ya,” panggil seorang pria dengan nada pelan.

Wanita yang mendengar namanya di panggil itu langsung berbalik dan mendapati suaminya yang berdiri di depan pintu rumahnya. Hyerie menatap pria itu dengan nanar kemudian langsung menghambur ke arahnya. Ketika berada tepat di depan pria itu, Hyerie langsung menghujani tubuh suaminya dengan tinjuan lemahnya. Tangis yang semula ditahannya akhirnya pecah begitu saja.

Pria itu untuk beberapa saat membiarkan emosi istrinya meledak, hingga akhirnya dia menahan tangan istrinya itu.

“Hyerie~ya,” panggilnya lagi.

“Kau… kau tega sekali padaku. Kenapa kau bisa menikahi wanita lain di belakangku?? Dimana hatimu?? Kenapa kau begitu jahat padaku??”

“Aku terpaksa melakukannya. Mereka juga membutuhkanku saat ini. Aku memiliki alasan kenapa aku menikahinya Hyerie~ya.”

“Butuh?? Bahkan kau lebih mementingkan mereka daripada diriku dan Donghae!!! Aku tak peduli dengan alasanmu. Pergilah dari hidupku!!!!”

“Kumohon mengertilah Hyerie~ya. Dengarkan penjelasanku dulu, jebal. Kita berlima tetap bisa hidup bersama.”

“Sampai kapan pun aku tak kan rela suamiku menikah dengan wanita lain!!!” Balas Hyerie emosi.

“Kau harus mendengarkan aku dulu.” Jawab pria itu yang mulai tersulut emosi karena kekeras-kepalaan istrinya.

“Andwae!!!”

“Dengarkan aku!!”

“Aku tak akan pernah rela tinggal dengan wanita tidak punya hati yang berani merusak rumah tanggaku dan menjauhlah dari hidupku dan anakku!!!”

PLAKKKKK…..

AKKKHHHHH… erang Hyerie ketika tangan itu melayang begitu saja ke pipinya yang sudah memerah karena tangisnya.

“Bahkan kau berani menamparku. Ceraikan aku dan setelah itu kau bisa hidup tenang dengan wanita brengsek itu!!!!!!!!!!”

“Baiklah jika itu maumu!!! Aku akan segera menceraikanmu!!!” balas pria itu dan sedetik kemudian dia berbalik dan berjalan menuju pintu keluar.

Hyerie tak sanggup berdiri di atas kakinya lagi. Kaki itu tak sanggup menyanggah tubuhnya hingga membuatnya terjatuh berlutut di lantai.

“Eomma!!!!!!!!!!!” teriak bocah laki-laki berusia enam tahun yang menghambur ke arah ibunya. Bocah yang sedari tadi berdiri terpaku di depan pintu kamarnya, melihat keributan yang terjadi di antara orang tuanya.

“Eomma,” ucapnya dengan isak tangisan ketika melihat mata ibunya yang mulai meredup.

“Appa!!! Eomma pingsan!!!” teriaknya lagi.

Pria itu menghentikan langkahnya sejenak ketika mendengar jeritan putranya. Tapi dia tak berbalik sedikitpun dan kembali melangkahkan kakinya.

“Eomma ireona!!”

End of Flashback

*****

Donghae’s POV

Semuanya seperti kilasan balik di ingatanku. Malam itu, malam terburuk di dalam hidupku. Karena dia aku kehilangan semuanya bahkan merasakan hidup yang seperti ini. Bahkan aku harus melihat eommaku menderita menahan rasa sakit hatinya hingga akhirnya dia pergi meninggalkanku selamanya. Dan pria brengsek itu.. Aku benar-benar ingin membunuhnya..!!!!!!!!!!!

BRENGSEK.. dan..

PRANKKKK…. Kulayangkan tinjuanku pada cermin yang ada di hadapanku.

*****

Gaeul’s POV

PRANKKKK…

Sontak aku langsung menoleh ke arah kamarnya. Kenapa lagi pria bodoh itu???

Aku langsung berlari menuju kamarnya. Kubuka pintu kamar dengan paksa dan mataku terbelalak. Kulihat dia tertunduk dengan napas yang memburu. Mataku semakin melebar ketika melihat darah merembes dari celah-celah jarinya dan menetes ke lantai. Sepertinya dia meninju kaca dengan tangannya.

“Yak apa kau sudah gila??” hardikku dan tak ada jawaban apapun dari mulutnya. Dia tetap saja tertunduk.

Aku menarik paksa tubuhnya dan mendudukkannya di atas ranjang. Tak ada penolakan dari dirinya. Dia tetap saja terdiam dan menunduk.

Setelah itu aku langsung berlari ke dapur mengambil kotak P3K yang di simpan Hyeobin di sana. Tak lama kemudian aku kembali berlari ke kamarnya. Aku duduk di tepi ranjang, di sampingnya. Ku sentuh tangannya dan saat itu juga dia menepis tanganku pelan. Dia menatapku garang.

“Menyingkirlah dari hadapanku,” gertaknya dengan nada pelan tapi tajam.

“Tidak akan sebelum tanganmu kuobati,” balasku keras kepala.

“Aku mohon tinggalkan aku sendiri.” Kali ini nada bicaranya berubah sedikit lembut.

Aku tak menghiraukan ucapannya, dan kembali menarik tangannya. Tak ada perlawanan lagi darinya. Kubersihkan lukanya.

“Lukamu harus diobati. Jika dibiarkan saja bisa infeksi.”

Kuoleskan obat luka di tangannya kemudian kuperban luka itu. “Kau menakutkan sekali,” ucapku lagi. “Aku tak akan bertanya alasannya, tapi jika kau sedang emosi atau marah, jangan lampiaskan pada tubuhmu. Itu berbahaya sekali. Aku yakin kau tidak ingin kan Hyeobin hidup sendirian di atas dunia ini tanpa oppanya,” ocehku.

*****

Donghae’s POV

“Kau menakutkan sekali,” geramnya setelah selesai mengobati lukaku dan menatap wajahku. “Aku tak akan bertanya alasannya, tapi jika kau sedang emosi atau marah, jangan lampiaskan pada tubuhmu. Itu berbahaya sekali. Aku yakin kau tidak ingin kan Hyeobin hidup sendirian di atas dunia ini tanpa oppanya,” ocehnya.

Aku mengerutkan keningku melihat perubahan sifatnya. Kenapa dia bisa bersikap seperti ini?? Gadis manja, egois, dan keras kepala tiba-tiba berubah menjadi gadis yang dewasa, bukankah itu aneh??

Aku meletakkan tangan kiriku ke dahinya dan sontak membuatnya menjauhkan kepalanya dari punggung tanganku.

“Kau tidak panas,” ucapku. “Kau tidak gila ‘kan?? Kenapa kau bisa berubah seperti ini??”

“Aisss siapa yang berubah??” geramnya. “Seharusnya kau berterima kasih padaku karena sudah mengobati lukamu.”

“Kalau begitu kau juga harus berterima kasih padaku. Kau lupa siapa yang mengobati sakit perutmu kemarin,” balasku yang membuatnya mengerucutkan bibirnya. Lagi-lagi ekspresi wajahnya menggelitik perutku untuk tertawa, tapi mati-matian aku menahannya. Sepertinya aku yang mulai gila. Bagaimana mungkin hanya dalam hitungan detik emosi yang hampir meledak, menguap begitu saja??

“Sudahlah. Aku sudah lelah bertengkar terus denganmu. Dan sepertinya kau benar, aku di sini hanya tamu, seharusnya aku bersikap selayaknya seorang tamu.”

Aku terpana mendengar ucapannya. Kutatap wajahnya. Apa tadi aku meninju kepalanya, yang dimataku terlihat seperti cermin hingga membuat otaknya error?? Tapi sepertinya tidak, aku yakin aku memukul cermin.

“Yak!!! Ternyata kau di sini Fishy~a,” ucap Kangin Hyung. Tapi sedetik kemudian matanya dan ketiga temanku lainnya langsung terbelalak ketika melihat Gaeul duduk di atas ranjang, tepatnya di sampingku. “Aigoo, kalian berdua saja di kamar??” lanjutnya dengan shock.

“Wah ternyata anjing dan kucing sudah akur,” sambung Heechul hyung sembari mengelus-ngelus Heebum, kucing peliharaannya. Aissss untuk apa dia membawa Heebum kemari??

“Astaga jangan-jangan kalian sudah melakukan sesuatu,” celetuk Kyuhyun. Pasti bocah setan ini sudah berpikir yang tidak-tidak.

“Yak!!!” teriaknya sebelum aku memprotes ucapan Kyuhyun tadi. “Siapa yang kau bilang Kucing dan Anjing?? Cih dasar abnormal,” dengusnya sebal dan membuat Heechul Hyung mendelik marah. Abnormal?? Hahaha gadis ini ada saja kata-kata menyebalkan yang keluar dari mulutnya.

“Dan kau bocah setan menyebalkan,” lanjutnya lagi sembari menunjuk Kyuhyun. “Tutup mulutmu, jika kau tak ingin kutendang kembali ke rumahmu.”

“Mwo??? Hahaha” tawa Kyuhyun pecah begitu saja. “Kau tak akan pernah bisa melakukan itu Gaeul-sshi.”

“Tak ada yang tak bisa kulakukan,” balasnya. Gadis ini selalu tak terima jika diremehkan.

“Benarkah??” ejek Kyuhyun. “Memasak…. Sepertinya kau tak bisa memasak.”

Gadis berisik itu langsung menyambar kotak P3K dan berjalan dengan menghentak-hentakkan kakinya kasar menuju pintu kamar. Dia berhenti di samping Kyuhyun, dan melirik tajam Kyuhyun dengan ekor matanya. Tentu saja dibalas oleh Kyuhyun. Tiba-tiba saja gadis itu mengangkat kotak P3K yang dipegangnya dan berpura-pura akan memukulkannya ke kepala Kyuhyun.

“Hoahhhh,” teriak Kyuhyun kaget dan mundur 2 langkah dari tempatnya semula dan sedetik kemudian gadis itu memeletkan lidahnya pada Kyuhyun sebelum akhirnya berlalu.

Aku tersenyum melihatnya. Gadis itu… Apa ini maksud Hyukjae waktu itu??

“Fishy~a, kau tersenyum??” ucap Sungmin hyung yang membuatku tersadar. “Aigoo kalian benar-benar sudah akur,” godanya lagi.

Aisss menyebalkan sekali..

Mereka berempat mendekati ranjangku dan berdiri mengelilingiku.

“Siapa yang tersenyum??” elakku.

“Sudahlah tidak usah berbohong. Jelas-jelas kami melihatmu tersenyum,” timpal Kyuhyun.

“Astaga tanganmu kenapa??” ucap Kangin hyung ketika melihat tanganku yang terlilit perban.

“Tidak apa-apa,” jawabku singkat.

“Tidak mungkin,” balas Sungmin hyung. “Katakan sebenarnya ada apa??” tuntutnya lagi.

Aku menatap mereka satu persatu, kemudian menghembuskan napasku perlahan.

“Aku sudah menemukannya…”

*****

Hyukjae’s POV

Aku berlari-lari kecil melewati setiap koridor rumah sakit dengan tidak sabar. Sooman Appa… Nyawaku benar-benar membahayakan setiap nyawa orang yang berada di sekitarku.

“Hyukie, itu Nyonya Lee!!” seru Jongwoon hyung yang sedari tadi mengikutiku dari belakang sembari menunjuk seorang wanita paruh baya yang bersandar di depan sebuah pintu kamar dengan mengepalkan tangannya di depan wajahnya, seolah-olah sedang berdoa.

“Eomma!!” ucapku dengan nada yang sedikit meninggi ketika berada di depannya.

Aku melihat air mata eomma tak hentinya mengalir. Dan sorot matanya memancarkan rasa takut yang luar biasa.

“Eomma, bagaimana appa??”

Eomma menggeleng pelan dan langsung memelukku, membasahi kaus putihku dan saat itu juga aku bisa merasakan tubuhnya yang bergetar pelan di pelukanku.

“Eomma takut,” lirihnya.

“Appa pasti baik-baik saja.”

Jujur saja, kata-kata itu kuucapkan hanya untuk menenangkan hatiku sendiri. Takut.. Rasa takutku mungkin lebih besar dari eomma. Di dunia ini yang paling kutakuti hanyalah rasa bersalah seumur hidup. Aku tidak mau semua orang yang kusayangi terluka hanya karena melindungi nyawaku.

Aku langsung menolehkan kepalaku ketika pintu yang sedari tadi tertutup rapat itu akhirnya terbuka.

Aku dan eomma langsung menghambur ke arah dokter yang berdiri di depan pintu kamar appa-ku.

“Eotteokeh??” tanyaku cepat.

Dokter itu menghela napasnya pelan kemudian menatapku dan eomma bergantian..

“Tuan Lee masih hidup, hanya saja…”

Aku menahan napasku menunggu dokter itu melanjutkan ucapannya. Aku mohon jangan biarkan aku mengutuk diriku sendiri.

“Untuk sementara waktu tuan Lee akan lumpuh.”

*****

Hyeobin’s POV

Aku memasuki rumahku dan aku langsung berniat menghampiri Fishy oppa yang tengah duduk di sofa sembari menengadahkan kepalanya ke langit-langit rumah dan memijat keningnya pelan. Tapi niatku itu langsung kuurungkan ketika kudengar suara desisan pelan dan alisku langsung tertaut ketika kulihat Gaeul onnie berdiri di balik pintu dapur sembari menggerak-gerakkan jari tangannya, seolah memanggilku.

“Waeyo, onnie??” tanyaku ketika sudah berada di hadapannya.

“Oppa-mu sedikit menakutkan hari ini,” jawabnya pelan.

“De??” tanyaku tak mengerti.

Gaeul onnie mengangkat tangannya yang terkepal hingga ke depan wajahku, dan lagi-lagi membuatku mengerutkan dahi. Sebenarnya apa yang ingin dikatakan gadis ini??

“Oppa-mu meninju cermin yang ada di kamarnya.”

“Mwo??”

“Aku tidak tau kenapa, tapi sepertinya ada sesuatu yang membuatnya marah besar.”

Aku tak mempedulikan lagi ocehan Gaeul onnie, dan langsung melangkahkan kakiku mendekati Fishy oppa.

Aku duduk di sampingnya dan langsung meraih tangannya yang terlilit perban itu ke dalam genggamanku yang membuatnya langsung menoleh ke arahku.

“Hyeobin~a.”

“Waeyo oppa??” tanyaku dengan nada sedih. Tujuh tahun aku mengenalnya, aku belum pernah melihatnya melampiaskan emosinya pada tubuhnya sendiri.

Fishy oppa menarik tangannya pelan dari genggamanku kemudian meletakkan tangannya itu ke kepalaku.

“Gwaenchana.”

Hanya satu kata itu yang terlontar dari mulutnya membuatku sangat tidak puas akan jawabannya. Itu tidak mewakili semua pertanyaan yang ada di kepalaku.

“Hanya sedikit emosi,” lanjutnya lagi.

“Sedikit??” ucapku lirih.

“Sudahlah, aku baik-baik saja. Luka kecil ini belum sebanding dengan semua luka yang pernah kurasakan di hidupku selama ini.”

Aku tak menjawab ucapannya dan kembali memandang wajahnya. Senyumnya tersungging di bibirnya tapi aku bisa melihat rasa sakit, marah, bahkan dendam dari sorot matanya.

“Oppa,” panggilku. “Bisakah kau berjanji sesuatu padaku?? Aku mohon jangan lakukan sesuatu yang membuatmu akan pergi jauh dariku, membuatku kehilangan oppa-ku.”

*****

Donghae’s POV

“Aku mohon jangan lakukan sesuatu yang membuatmu akan pergi jauh dariku, membuatku kehilangan oppa-ku.”

Untuk beberapa detik aku terpaku akan ucapannya, tapi sesaat kemudian aku berhasil menguasai diriku bahkan kekehan pelan keluar begitu saja dari mulutku.

“Yak, janji macam apa itu??”

Tiba-tiba saja raut wajahnya berubah, membuat hatiku sedikit tersentak akan perubahan ekspresinya itu.

“Ntahlah, tapi saat ini hatiku benar-benar merasa takut kau melakukan sesuatu yang aku sendiri tak tau apa. Aku hanya takut, jika kau melakukan itu aku akan kehilangan oppa-ku. Berjanjilah oppa.”

Aku menariknya ke dalam pelukanku dan kubelai rambut panjangnya itu dengan lembut. “Arasseo, yaksokhae,” jawabku akhirnya.

Aku bisa mendengar dia menghembuskan napasnya lega. Aku akan melakukan apa pun yang membuat adikku nyaman.

“Fishy~a!!!”

Teriakan itu membuatku melepaskan tubuh Hyeobin dari pelukanku dan menoleh ke sumber suara itu.  Kyuhyun berjalan tergesa-gesa ke arahku. Bocah setan itu, sulitkah lidahnya untuk memanggilku Hyung??

“Mana, gadis manja dan menyebalkan itu??”

Aku mengerutkan alisku. Gaeul maksudnya??

Belum sempat aku menjawabnya, tiba-tiba gadis berisik itu sudah muncul sembari berkacak pinggang, menatap Kyuhyun dengan garang.

“Waeyo??” sambarnya ketus.

“Yak!! Tidak perlu menatapku seperti itu, kau bisa terpesona padaku jika menatap seperti itu!!”

Astaga ucapan apa itu???

“Cih~” cibirnya. “Terpesona pada bocah setan sepertimu?? Bermimpilah kau Cho Kyuhyun.”

Aissss pembicaraan apa ini?? Tak ada kah pembicaraan yang lebih penting??

“Yak!!!” geram Kyuhyun. “Aku hanya ingin memberitahumu, calon mertuamu itu sekarang tengah terbaring di rumah sakit.”

“Mwo??” teriaknya shock. “Aku harus ke sana.”

“Andwae!!!” balas Hyeobin setengah berteriak. Aisss untuk apa dia berteriak seperti itu?? Apa dia lupa aku sedang berada di sampingnya?? Ingin membuatku tuli??

“Itu berbahaya onnie. Sekarang sudah sore, bagaimana kau bisa pergi sendiri?? Dan bagaimana jika Siwon menemukanmu??”

“Hyeobin~a, Tapi appa….” Dia menundukkan kepalanya lemah.

“Baiklah, tapi..”

Hyeobin tak menyelesaikan ucapannya dan malah mengalihkan matanya ke arahku. Hyeobin memandangku. Astaga, apa ini maksudnya…

“Jangan katakan kau.. Aisss kenapa harus aku??” protesku gusar.

*****

Aku memasukkan kedua tanganku ke dalam saku jaketku. Menyebalkan sekali. Sejak gadis menyebalkan ini masuk ke dalam kehidupanku, kenapa adikku juga jadi menyebalkan seperti ini?? Seenaknya saja dia memaksaku untuk menemani gadis berisik ini. Cih~ apa aku bodyguardnya??

“Palliwa, jalanmu seperti seorang pengantin perempuan saja,” desisnya tanpa menoleh ke arahku yang berjalan di belakangnya dan terus menatap lurus ke depan, melewati koridor rumah sakit.

“Tutup mulutmu!!!” balasku yang membuatnya mendengus kesal.

Langkahku ikut terhenti ketika kakinya berhenti di depan sebuah kamar. Bukannya menarik kenop pintu itu, tetapi dia malah diam terpaku.

“Apa ini kamarnya??” tanyanya.

“Mana aku tau, babo.”

Gadis itu menggeser tubuhnya ke kanan hingga berdiri di depan jendela kamar ini. Aku mengikutinya dan mataku langsung terbelalak, shock, ntah kata apa lagi yang bisa kuucapkan ketika melihat seorang pria tua terbaring lemah di ranjang, dengan seorang pria muda yang sangat kukenal dan seorang wanita paruh baya yang berdiri di sisi ranjang.

“Tidak salah lagi, ini kamar Sooman appa. Ayo masuk.”

Sontak kakiku langsung melangkah mundur. Sooman appa??

‘Tapi aku akan tetap bertahan demi appaku yang sudah berada di surga dan demi appa tiriku yang sudah banyak berkorban untuk hidupku dan eomma.’

‘Hyukie, ayo pulang.’

Aku mengepal tanganku dengan erat. Tak kusangka orang yang selama ini kucari berada di depan mataku.

“Ya!! Ayo masuk.”

“Aku tunggu kau di taman di depan rumah sakit ini,” ucapku cepat dan langsung meninggalkannya begitu saja.

Lee Hyukjae?? Bagaimana mungkin aku membiarkan putra dari seorang wanita yang menghancurkan hidup eommaku, masuk ke rumahku dengan begitu mudahnya???

*****

Hyukjae’s POV

Aku sontak menoleh ke arah pintu ketika kudengar suara pintu berderak terbuka. Aku bisa melihat eomma dan appa langsung tersenyum ketika melihat seorang gadis berdiri di depan pintu kamar ini.

“Gaeul~a??” panggil eomma.

“Eomma, appa,” rengeknya manja tapi sedetik kemudian dia tertunduk lemah. “Mianhae,” lanjutnya lirih yang membuat kami terperangah.

Appa mengulurkan tangannya dan di sambut oleh Gaeul. Appa menarik tangan yang berada di dalam genggamannya itu untuk lebih mendekat. Aku menggeser tubuhku sedikit, memberikan tempat untuk Gaeul berdiri di samping appa.

“Maaf untuk apa??” ucap appa.

“Aku tau, appa mengalami kecelakaan tidak jauh dari tempat tinggalku saat ini. Appa pasti sedang mencariku. Jika aku tidak berada di sana, pasti semua ini tidak akan terjadi.”

Aku menyipitkan mataku, memandang wajahnya. Mencari tau apa yang berbeda dari gadis manja ini. Tinggal satu minggu lebih bersama Donghae dan Hyeobin, tak kusangka membawa perubahan seperti ini. Kata maaf?? Begitu mudah kata maaf keluar dari mulutnya, padahal semua ini bukanlah kesalahan dirinya. Semua ini terjadi karena seorang Lee Hyukjae ada di dalam kehidupan mereka.

“Yak, Hyukie?? Benarkah ini calon menantuku?? Kenapa sifatnya berbeda seperti ini??” appa terkekeh pelan ke arahku dan kubalas dengan senyum simpulku.

“Appa~” rengeknya lagi.

“Aigoo~ untuk apa kau menyalahkan dirimu?? Ini bukan kesalahanmu, dimana pun aku berada kejadian itu pasti terjadi.  Choi Ki Ho dan Choi Siwon, pasti tak akan membiarkanku hidup tenang begitu saja. Aku sudah biasa menghadapi ini semua selama 17 tahun, Gaeul~a.”

Ne, dan itu semua karena diriku. Aku tau kau juga menderita, karena aku dan eomma kau kehilangan keluargamu. Aku pasti akan membalasnya. Aku tak akan membiarkan pengorbananmu selama ini sia-sia appa.

*****

“Jaga dirimu baik-baik,” ucap eomma sembari memeluk Gaeul.

Meskipun tidak begitu lama berada di sini, tapi setidaknya eomma dan Sooman appa sudah cukup lega melihat Gaeul baik-baik saja.,

“Arasseo, eomma. Tenang saja, aku bisa menjaga diriku.”

“Benarkah??” cibirku yang langsung membuatnya menggembungkan pipinya kesal. Astaga membuatku gemas saja.

“Tentu saja. Kau lihat ‘kan oppa?? Aku masih hidup sampai detik ini.”

“Ne, kau masih hidup sampai detik ini karena ada Hyeobin yang memasak untukmu. Jika kau memakan masakanmu sendiri, aku tak yakin aku masih memiliki tunangan,” godaku lagi.

“Oppa!!!!”

“Hyeobin??”

Aku menoleh ke arah appa, dan kudapati alisnya yang tertaut mendengar nama yang asing di telinganya itu.

“Gadis yang pernah kuceritakan pada appa dan eomma waktu itu.”

“Gadis manis itu maksudmu??” Tanya eomma.

Gadis manis… Aku sedikit tertohok mendengar dua kata itu keluar dari mulut eomma. Aisss kenapa eomma harus mengikuti ucapanku waktu itu dengan lengkap??

“Manis??” ucap Gaeul pelan.

Aku menelan ludahku yang terasa keras. Aigoo~ bagaimana jika dia mengamuk karena hal ini dan menganggapku pria hidung belang kurang ajar yang berani memuji gadis lain di belakangnya??

Tapi Sedetik kemudian dia langsung menatap mataku. Aku tak mengerti arti tatapannya, tapi seulas senyum jahil tersungging di bibirnya.

Astaga apa maksudnya??

Tiba-tiba saja dia menariku tanganku hingga ke depan pintu kamar ini dan langsung menyodorkan telapak tangannya ke depan dadaku.

“Waeyo??”

“Aku minta uang,” jawabnya.

“Mwo??”

“Aisss tidak usah terkejut seperti itu. Oppa lupa aku tidak punya uang sedikit pun saat ini.”

Aku terkekeh pelan mendengar ucapannya. Ne, selama seminggu lebih sang puteri bahkan tak memegang uang 1 won pun. Cukup menakjubkan untukku, dia bisa hidup tanpa uang beberapa hari ini bahkan tak mengeluh sedikit pun.

“Tapi untuk apa??”

Matanya berkilat menatapku. Lagi-lagi ada tatapan dan senyum jahil yang ditunjukkannya padaku.

“Hmmmm gadis manis itu besok berulang tahun, oppa.”

Nada bicaranya… apa dia sedang menyindirku saat ini?? Tak apa lah, yang penting dia tidak marah dan menghancurkan semua barang yang ada di kamar ini.

“K.. kau tau dari mana??” tanyaku salah tingkah.

“Dari mana aku tau?? Kau lupa siapa aku?? Aku Cho Gaeul.”

“Arasseo, arasseo,” balasku sembari mengeluarkan dompetku, tapi tiba-tiba saja dia langsung menyambar dompetku dan mengambil beberapa lembar uangku seenaknya saja.

Ternyata sifat tuan putri yang seenaknya saja itu masih melekat padanya.

“Memangnya kau ingin memberikan apa untuknya??”

“Itu rahasia,” jawabnya cepat sembari memelukku dan langsung berlari menyusuri lorong rumah sakit.

“Yak kau pulang dengan siapa??” ucapku setengah berteriak.

“Ada pria menyebalkan yang sedang menungguku!!” balasnya tanpa menoleh ke arahku dan tetap berlari.

Pria menyebalkan?? Donghae??

Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku melihat tingkahnya. Kupikir dia akan marah karena ucapan eomma, tapi nyatanya bahkan dia tak menanyakannya sama sekali. Terkadang hal ini yang membuatku sadar, perasaan diantara kami bukanlah rasa cinta seorang pria dan wanita.

*****

Author’s POV, Flashback

“Nyonya, bisa aku bantu??” ucap seorang pria kecil pada wanita bertubuh besar di hadapannya.

Wanita itu tersenyum dan memberikan semua barang belanjaannya pada bocah itu. Bocah itu mengikuti sang wanita berjalan menuju parkiran, dan kemudian memasukkan barang-barang itu ke dalam mobilnya.

“Gomawo,” ucap wanita itu ramah dan kemudian menyodorkan beberapa lembar uang padanya.

“Nyonya, ini banyak sekali,” ucap bocah itu dengan mata terbelalak.

“Tidak apa, Itu untukmu. Sekarang kau bisa membeli makanan.”

Bocah itu menggeleng pelan dan memberikan senyum anak-anaknya pada sang wanita, membuat siapa pun yang melihatnya ikut tersenyum.

“Annieyo, ini untuk eomma. Aku ingin membeli obat untuk eomma. Gomawo ahjumma.”

Setelah itu dia langsung membungkukkan tubuhnya, kemudian berlari ringan meninggalkan sang wanita..

“Hyukie, ayo pulang!!!”

Tiba-tiba saja bocah itu menghentikan langkahnya ketika mendengar teriakan itu, suara yang tidak asing di telinganya. Dia menoleh ke arah sumber suara itu dan melihat seorang bocah seumuran dengannya berlari-lari kecil ke arah sepasang suami istri.

Sontak matanya terbelalak ketika melihat raut wajah yang tengah tersenyum pada bocah yang tengah berlari ke arah pria itu dan langsung menggenggam erat tangan anak laki-laki itu, sedangkan tangannya yang bebas merangkul seorang wanita yang sejak tadi berdiiri di sampingnya, setelah itu berjalan menuju sebuah mobil mewah.

Uang yang sejak tadi digenggamnya terlepas begitu saja melihat punggung itu yang semakin menjauh dan masuk ke dalam mobil mewah itu.

 “Appa~” desisnya.

Sedetik kemudian, kakinya yang tanpa alas berlari mengejar mobil yang mulai meninggalkan arena parkir.

“Appa!!!” teriaknya tak peduli dengan kerikil-kerikil kecil yang mencoba melukai telapak kakinya.

“Appa!!! Lihat aku!! Aku Donghae!!!”

“Akhhh” erang bocah itu ketika lututnya menggesek aspal. Bocah itu tersungkur tapi mobil itu tak juga berhenti.

End of flashback

*****

Donghae’s POV

Aku mengertakkan gigiku, menahan air mata yang memaksa keluar, menahan rasa sakit yang kurasakan saat ini. Dendam.. Karena dendam ini yang membuatku bertahan hidup selama ini.

Hyukjae??? Haruskah aku membencimu seumur hidupku??

“Yak!!! Sedang apa kau di sini??”

Aku langsung tersentak ketika mendengar suara itu. Aku memutar tubuhku dan kudapati gadis itu berdiri di belakangku.

“Apa kau sudah puas bertemu dengan calon mertuamu itu??” sindirku tajam.

“Tentu saja. Meskipun dia akan lumpuh sementara, tapi melihat senyum Sooman appa masih tersungging di bibirnya, aku sudah cukup tenang. Sooman appa pasti akan cepat sembuh. Tuhan pasti akan melindungi orang baik seperti dirinya.”

Orang baik?? Cih~ justru dia adalah pria paling brengsek yang pernah kukenal seumur hidupku.

*****

Hatcuuu *anggap aja suara bersin gitu*

Aku mendengus pelan melihat gadis yang berjalan di depanku saat ini sembari mengelus-elus lengannya pelan.

Dasar bodoh, bagaimana mungkin dia hanya memakai kaus seperti itu malam-malam begini.

Aku melepaskan jaketku kemudian mensejajarkan langkahku dengan dirinya, setelah itu kusampirkan jaketku ke bahunya yang membuatnya menoleh ke arahku, menatapku dengan heran.

“Jangan salah sangka, aku hanya tidak mau menambah bebanku dan Hyeobin hanya karena dirimu sakit.”

*****

Gaeul’s POV

“Jangan salah sangka, aku hanya tidak mau menambah bebanku dan Hyeobin hanya karena dirimu sakit.”

Ntah kenapa ada sedikit rasa kecewa mendengarnya.

“Arasseo. Aku tau kau tak mungkin peduli denganku.”

Aisss kenapa aku malah emosi seperti ini???

Aku menghentakkan kakiku sedikit kasar, sesekali aku melirik dirinya yang masih berjalan di belakangku. Tiba-tiba saja bibirku tersenyum begitu saja.

Ini seperti drama-drama yang pernah kutonton. Seorang gadis berjalan dengan diikuti bodyguard yang menjaganya dari belakang, dan tiba-tiba sang majikan jatuh cinta pada bodyguardnya.. ^^

Aisss apa yang sedang kupikirkan??? Kupukul kepalaku pelan. Dasar Gaeul baboya~

Aku mengedarkan pandanganku ke jalanan Seoul yang masih ramai dan ketika angin bertiup aku bisa merasakan aroma yang membuatku nyaman menjalari indera penciumanku.

Aroma ini… apakah aroma tubuhnya yang tertinggal di jaket ini??

Aku menghentikan langkahku, berbalik ke arahnya, dan membuatnya hampir menabrakku karena tindakanku yang tiba-tiba.

“Yak kau ini apa-apan??” geramnya.

Aku tak mempedulikan geramannya dan langsung menarik tangannya, memaksanya untuk mengikuti langkahku, memasuki sebuah ruangan yang membuatnya langsung menatapku tajam.

“Yak!!” geramnya lagi. “Kenapa kau membawaku kemari??” protesnya.

“Kau lupa besok Hyeobin berulang tahun?? Aku ingin memberikan sesuatu yang special untuknya.”

“Apa hubungannya dengan membawaku kemari??” aku bisa melihat api kemarahannya berkilat-kilat di matanya.

“Kau itu sangat special bagi Hyeobin. Jadi, jika aku melakukan ini untukmu, Hyeobin pasti sangat senang.”

“Shireo!!!!”

Aku menarik tangannya, mencegahnya untuk kabur dari sini, tapi dengan mudahnya dia menepis tanganku.

“Oppa, Jebal..”

Aku sedikit tersentak menyadari kata itu keluar begitu saja dari mulutku. Oppa???

Aisss otak dan mulutku benar-benar sudah rusak!!!

*****

Mulutku menganga ketika melihatnya berdiri di hadapanku, tapi dia memalingkan wajahnya dariku.

Kyeopta~

Hanya satu kata itu yang ada di otakku saat ini. Bibirku tersenyum puas melihat perubahannya.

*****

Donghae’s POV

Aku mendengus kesal dan memalingkan wajahku ketika melihat ekspresi aneh di wajahnya. Aku benar-benar risih diperhatikan seperti itu.

Aisss kenapa tubuhku membeku mendengar kata ‘oppa’ yang keluar dari mulutnya dan membuatnya mengartikan kediamanku sebagai tanda setuju untuknya melakukan apa pun.

Dasar kau bodoh Fishy~a. Pasti aku terlihat seperti orang bodoh saat ini.

*****

Hyeobin’s POV

“Hyeobin~a!!!”

Aku langsung berlari menuju pintu rumah ketika mendengar teriakan itu. Tapi sesaat kemudian mataku langsung terbelalak ketika melihat seorang pria yang ditarik oleh Gaeul onnie untuk masuk ke dalam rumah. Sontak aku menutup mulutku dnegan tanganku ketika wajah tak asing itu  bisa kulihat dengan jelas.

“Oppa, rambutmu???” ucapku tak percaya.

“Eotteokeh??? Ini hadiah ulang tahun dariku.. Joha??”

“Kyaaa onnie… Joha…!!!”

Aku berlari dan langsung memeluk oppaku, tentu saja membuatnya mendengus kesal.

“Oppa, kau tampan sekali. Onnie kau hebat!!” ocehku.

“Aissss,” geram fishy oppa sembari melepaskan tanganku yang melingkar di lehernya. “Kalian berdua sama saja. Sama-sama menyebalkan!!!”

Aku dan Gaeul onnie tertawa puas sembari melihat punggung Fishy oppa yang menjauh.

“Sudah lama, aku ingin melihatnya seperti ini. Tak kusangka oppaku setampan ini.”

“Ne, dia memang tampan.”

Aku langsung menolehkan kepalaku ketika mendengar sahutan Gaeul onnie dan membuatnya terlihat salah tingkah. Sepertinya dia tak sadar mengucapkannya. Tapi tetap saja aku sedikit kaget mendengarnya.

“Uhhh.. aku lelah. Aku kembali ke kamar, Hyeobin~a.”

Aku hanya membalasnya dengan senyumanku.

*****

Donghae’s POV

Aku sengaja menyelinap keluar rumah dan berjalan pelan menyusuri lorong rumah sakit tengah malam begini. Aku menghentikan langkahku di depan kamar yang kudatangi tadi sore bersama Gaeul.

Kupertajam mata dan telingaku, memastikan tak ada satu orang pun yang melihatku saat ini. Ntah setan apa yang masuk ke dalam tubuhku, tapi rasa sakit itu tak mungkin terhapus begitu mudahnya hanya karena waktu. Aku sudah menemukan tujuan hidupku, aku tak mungkin melepaskannya.

Aku membuka pintu kamar ini dengan pelan dan menyelinap masuk. Tak ada siapa pun yang berada di sini saat ini kecuali pria tua brengsek itu yang tengah tertidur pulas.

Aku berjalan mendekatinya, memberanikan mataku untuk melihat wajah iblisnya itu. Seketika itu juga darahku mendidih, membuatku berusaha mati-matian mengepal tanganku. Wajah lelah eomma yang dibanjiri air mata, membuat gigiku gemertakkan menahan rasa sakit itu.

“Kau…. Kenapa kau masih hidup sampai detik ini, Lee Sooman?? Kau hidup bahagia, sedangkan eommaku tersiksa menahan penderitaan karena ulahmu hingga akhirnya pergi untuk selamanya. Kenapa kau harus muncul?? Kau sungguh ingin mengubahku menjadi seorang pembunuh. Melihat wajahmu benar-benar membangkitkan nafsuku untuk membunuhmu,” desisku pelan.

Rasa dendamku benar-benar meluap saat ini. Dengan cepat aku mengeluarkan seutas tali dari saku jaketku. Kutarik tali itu dengan kuat, memastikan hanya dengan sekali sentakan tali ini akan membuatnya kehilangan nyawanya.

PLAKKKKK…..

‘Aku akan segera menceraikanmu!!!’

‘Hyukie, ayo pulang!!!’

Aku menggelengkan kepalaku, berusaha menepis bisikan-bisikan itu, membuatku ingin berteriak sekuatnya, melampiaskan amarahku.

Kutatap wajah yang mulai menua karena di makan waktu itu dengan nanar. Dan sedetik kemudian kudekatkan tali yang sedari tadi kupegang ke lehernya, bersiap melilitkan tali itu ke lehernya.

“Aku mohon jangan lakukan sesuatu yang membuatmu akan pergi jauh dariku, membuatku kehilangan oppa-ku.”

Sontak tanganku langsung terhenti dan bergetar pelan. Aku menggelengkan kepalaku, lagi-lagi berusaha menepisnya. Aku mohon jangan mempengaruhiku dengan bisikan-bisikan itu lagi, Hyeobin~a.

‘Berjanjilah oppa.’

Tali itu terlepas begitu saja dari tanganku dan membuatku berlutut di lantai. Aku menundukkan kepalaku menatap tali yang tergeletak di lantai.

Aku tidak sanggup membunuhnya!!! Aku tidak sanggup!!

Aku langsung menyambar tali itu dan berlari meninggalkan kamar itu. Aku benar-benar ingin mengutuk diriku saat ini. Aku ingin pria itu mati di tanganku, tapi jangankan membunuhnya, bahkan untuk mendekatinya saja aku tak sanggup.

To Be Continue..

By : dongHAEGAeul

 

Tags : Dongae, Eunhyuk, Siwon, Super Junior

3 thoughts on “[Freelance] Fight, Love, and Revenge [part 7]

  1. Wuaaaah rame!!
    Gaeul ma donghae udh pd suka”n nih. . Hahai :D

    donghae oppa. . Kau it org baik, jd ga mungkin nglaku’n it smw.. Tp ga tw jg tuh xlo ktmu ma wonwon :p

    Lanjuuut!!

  2. Oppa jebal! *suka ama plot yang itu* kekekeke makin so sweet aja tuh Donghae ma Gaeul. Ppali, author, bikin mereka jatuh cinta.. Kekekeke
    Donghae jangan~ *gaje mule*

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s