[Freelance] The Marriage and Us {Day 14}

Title : The Marriage and Us [Day 14]

Author : Bee

Main Cast : Yesung, Bee

Support Cast : all members of Super Junior

Rating : PG 17

Genre : romance

Warning! : kissing scene

Ps : HARI TERAKHIIIIRRRR! Iyeeeiiyy!! Tapi bukan part terakhir. Soalnya masih ada ‘EPILOG’ yang lebih mirip after story. Jadi mau berenti di sini juga bisa, kalo udah puas dengan endingnya.

Disclaim : biar kata terinspirasi dari WGM, alur cerita murni ide Bee. Oke? No plagiarism!
========================

 

 

Aku ga pernah dapet dress yang serupa dengan yang lain. Kayaknya ini emang disengaja deh. Aku pandangi penampilanku di kaca rias besar berhias banyak lampu. Dari kaca aku bisa melihat para istri yang lain berpakaian warna-warni pastel yang hidup, sementara hanya aku yang memakai dress warna hitam. Ga seperti minggu kemarin, dressku kali ini pas di badan dengan bahu terbuka namun berlengan pendek.

Harus kuakui, dress itu sebenarnya dress yang bagus. Aku menyukainya, tapi lagi-lagi aku tampil nyeleneh dari yang lain. Kulihat seorang teteh perias menghampiriku. Di tangannya terdapat beberapa kotak. “Bee ssi,” panggilnya.

Aku menoleh dan melihat apa yang dibawanya. Satu kotak berisikan sepatu berwana putih mutiara dengan ujung kaki terbuka, lalu satu kotak lain berisikan aksesori-aksesori mutiara. “Anda harus memakai ini,” ujarnya sambil mengeluarkan sepasang anting mutiara panjang dan memasangkannya di telingaku. Setelah itu dia memasangkan sebentuk kalung dari rantai (mungkin) perak berliontin, lagi-lagi mutiara, yang dibingkai frame berbentuk tetesan air mata.

Teteh perias menunduk hendak meletakkan sepatu di depanku, tapi perhatianku teralih oleh suara lantang dari pintu, “Sillehamnida, uri sayang isseoyo?”

Yesung.

Aku melihatnya dan senyum terkembang di mulutku. Beberapa istri memprotes kedatangan Yesung. “Yesung ssi, kau ini. Ga sabar banget sih? Ini kan ruang rias wanita!”

Aku geli melihatnya meminta maaf dimarahi oleh yang lain. Dia menunduk-nunduk sambil matanya terus mencariku. Saat pandangan kami bertemu, aku udah memakai sepatuku dengan benar. Hey, paling ga tinggi sepatunya sama dengan minggu kemarin, pikirku terkejut karena tadi kelihatannya lebih tinggi. Ah, mungkin karena haknya yang lebih runcing.

Aku melihatnya menghampiriku, sementara aku mengucapkan terima kasih pada teteh perias. Di hadapanku, pria luar biasa ini mengajakku makan, “Ayo sarapan,” katanya.

Aku mengangguk atas ajakannya, lalu keluar sambil berpamitan pada yang lain, “Yorobeun, saya cari makan dulu ya…”

Yesung menungguku di pintu, lalu kami berjalan bersama mengitari lokasi shooting untuk mencari makanan. Akhirnya kami menemukannya lagi-lagi di pojokan. Sepertinya Yesung lapar sekali. Dia nampak ga sabaran dan ga makan dengan tenang. “Sayang, kamu kenapa sih?” akhirnya aku ga bisa menahan diri ketika dia terus celingak-celinguk.

Dia ga menjawab tapi terus celingak-celinguk, sesekali melirik jam tangannya. Lalu dengan cepat ditariknya tanganku yang sedang membawa piring kertas penuh makanan ke sebuah pintu. Awalnya dia melongok-longok. Ternyata pintu itu menuju ke sebuah koridor. Aku mengernyitkan kening bingung dengan kelakuannya.

Dia menarikku keluar menuju koridor lalu melemparkan tubuhku ke dinding dengan pelan. Tangannya merangkum leherku lalu dia mulai menciumku. Bahkan pintu koridor belum sepenuhnya tertutup ketika bibirnya menempel di bibirku. Dia mencium bibirku cepat, lalu melepaskannya, “Aku udah menginginkannya dari tadi malem. Dasar kamera-kamera sialan,” katanya.

Mataku melebar. Jadi ini yang membuatnya kelaparan? Hahaha, lucu banget. Emang tadi malem di rumah kami hanya bisa berinteraksi sewajarnya karena ga mungkin kami tiba-tiba jadi mesra dan memperlihatkan banyak skinship kan? Apalagi saat kami seharusnya hampir saling berpisah. Aku jadi ketawa ngeliat tingkahnya ini.

“Ya, kenapa malah ketawa?” dia tengsin aku ketawain.

“Abisnya kamu lucu banget. Ga sabaran banget. Pake bertindak kaya mata-mata, lagi…” aku belum bisa menghentikan tawaku.

Dia tersipu malu. “Abisnya kamu cantik banget,” pujinya.

Sekarang giliran aku yang malu-malu. “Geurae? Ini kan karena make-up. Ga alami.”

“Ani,” Yesung menggeleng-gelengkan kepalanya, “Kamu itu emang cantik,” lanjutnya.

Gombal banget. Tapi aku seneng sih, digombalin. Kuletakkan tanganku yang bebas di bahunya, lalu menggesekkan hidungku di hidungnya. “Gomawo. Kamu juga cakep,” bisikku sambil tersenyum lebar.

Yesung kemudian memiringkan kepalanya. Mulutnya bergerak mendekati mulutku. Aku memperhatikannya mendekat. Entahlah, dengannya aku selalu ingin melihat setiap tingkahnya. Aku ingin melihat dia saat tertawa, saat mendekatiku, saat dia menciumku, aku ga pengin kehilangan kesempatan untuk bisa melihatnya di setiap momen.

Tiba-tiba terdengar seseorang menghardik, “Ya! Ya! Kami udah tahu kelanjutannya, jadi ga usah diteruskan!”

Kami terkejut dan menoleh ke arah asal suara. Sial, Eunhyuk berdiri di sana dengan muka setengah senyum setengah tengsin. Di belakangnya ada Sungmin yang cuman senyum-senyum. “Eissh, pagi-pagi udah begituan! Di jalan lagi!” Eunhyuk masih protes.

Langsung aja aku turunkan tanganku dari pundak Yesung. Dia sendiri melepaskan tangannya dari pinggangku. Mukanya merah banget, bikin maluku bercampur geli. Gumaman di mulutnya ga jelas apa maksudnya.

Gumaman membela diri yang ga digubris oleh Eunhyuk. “Ya! Kalian ini harus dipisahkan dulu. Ayo Hyung, kau ikut kami!” ujar anak itu tegas sambil merangkul Yesung membawanya menjauh dariku. Sungmin membantu Eunhyuk.

“Kami duluan, Noona,” ujar Sungmin padaku.

Yesung yang sedang ditarik-tarik berusaha melepaskan dirinya tanpa guna. Eunhyuk dibantu oleh Sungmin, jadi dua lawan satu. “Ya! Ya! Ya! Seben.. Sebentar aja. Ada yang harus aku omongin!”

“Ciumin! Bukan omongin!” putus Eunhyuk ga peduli dengan protes Yesung. “Pokoknya ga boleh. Noona udah cantik, nanti dandanannya rusak gara-gara kelakuanmu!”

Melihat Eunhyuk ga termakan bujukannya, Yesung berusaha membujuk Sungmin. “Ya Sungmin-a! Sungmin-a! Jebal, sebentar aja…”

Sungmin memasang tampang serius, “Andweh, Hyung. Kamu masih harus latihan dengan Kyuhyun dan Ryeowook.” Lalu dengan sengaja anak itu berseru padaku sambil menarik Yesung menjauh, “Noona, nanti kita ketemu ya?!”

Yesung memelototinya dengan jengkel. “Ya! Neo! Dia itu Noona-mu! Noona! Jangan macem-macem kamu ya!”

Melihat Sungmin ga menggubris, Yesung berpaling kepadaku. “Sayang! Jangan dekat-dekat anak ini! Pokoknya kamu ga boleh dekat-dekat anak ini!” lalu tiba-tiba wajahnya berubah, “Lipstikmu. Lipstikmu harus dibenerin..!” serunya makin menjauh.

Menyaksikan itu semua, tawaku meledak. Gelo semua ah! Ahahahaha.

Lampu kamera menyorot dari mana-mana. Aku baru menyadari kalau lampu kamera bisa berkilau indah banget begini. Kutolehkan kepalaku ke samping. Di sana duduklah Yesung. Sikap tubuhnya menarik banget. Apa emang dia biasanya sekeren ini kalau duduk?

Kenapa semua orang tampak ceria hari ini? Saat makan pun suara tawa mereka terdengar gembira banget. Biarpun singkat, break ini rasanya menyenangkan banget. Yesung aja bisa latihan sambil ketawa-ketawa begitu. Eissh, kenapa mataku ga lepas-lepas dari Yesung sih?

Aku menahan nafas sewaktu pandangan kami bertemu. Ya ampun, bagaimana bisa aku ga memperhatikan lesung pipi itu selama ini? Eh, lesung dagu ya? Ah, ga tau deh. Sekalipun itu lesung beras, aku akan tetap menganggapnya lesung yang menggoda.

Lucky to be coming home someday~

“Jadi gitu, Noona,” Sungmin menghentikan permainan gitarnya di akhir gladi resik kami yang sembunyi-sembunyi. “Jangan lupa rencana kita nanti di akhir lagu ya?”

Aku memandangnya setengah sadar. Kesadaranku setengahnya lagi udah meluncur ke masa depan, membayangkan aku menyanyi lagi di depan Yesung.

“Noona!” Sungmin berseru.

“Ah, ne. Menurutmu ini akan berhasil?” sahutku pura-pura sedang memikirkan penampilan kami nanti. Akh, mulutku ga bisa dibilangin deh. Senyum melulu.

Tok tok.

Kami menoleh ke arah pintu. Siwon ada di sana sambil mengangguk canggung. “Kalian dicari PD-nim,” katanya.

Sejak peristiwa di dorm, Siwon ga lagi bersikap memusuhiku, tapi kami berdua emang ga bisa berhenti bersikap canggung. Contohnya saat ini. Ketika kami berjalan bertiga, percakapan hanya terjadi antara Sungmin dengan aku, atau Sungmin dengan Siwon. Aku dan Siwon sama-sama ga tahu harus berkata apa, kurasa.

Aku berjalan di belakang Sungmin dan Siwon yang langkahnya lebar-lebar. Kakiku mulai merasa ga nyaman. Kombinasi antara luka yang menusuk-nusuk, sepatu hak tinggi, berjalan ke sana kemari, dan berusaha mengejar langkah kedua namja di depanku, bukanlah hal yang menyenangkan.

Kami melewati sebuah pintu yang terbuka, dari dalamnya terdengar suara orang bernyanyi. Sekilas kulihat ke dalam ruangan, dan aku terpaku. Yesung-ku, sedang bernyanyi. Kyuhyun dan Ryeowook beneran ada di sana ga sih? Kok keliatannya kabur.

“Noona?”

Aku menoleh ke arah Sungmin yang memanggilku. “Sedang apa?” tanyanya.

Aku membuka mulut. Malu menyadari kelengahanku. Aku lalu menyusulnya. “Mian,” ujarku meminta maaf.

“Noona ngeliat hyung?” Sungmin menebak.

Mukaku memerah. Tapi dengan anak ini aku ngerasa bisa mengatakan semuanya, jadi aku mengangguk malu-malu. “Dia tampan sekali,” cetusku.

Sungmin dan Siwon tiba-tiba berhenti melangkah. Aku kebingungan menatap mereka. Apa kami harus bertemu PD-nim di sini? Di tengah koridor begini? Aku melihat mereka untuk bertanya, tapi aku hanya mendapati muka keduanya memerah menahan senyum. Siwon mencuri-curi pandang kepadaku, sebaliknya Sungmin ga berhenti menatapku.

Untuk alasan yang ga jelas aku jadi merasa malu. “Wae? Waeyo? Ada yang aneh?”

Mereka malah tertawa mendengarku bertanya. Eish, apa sih ah. Ga ngerti gue.

“Jinjjayo?” Sungmin bertanya padaku.

“Mwo?” aku ga ngerti.

“Yesung Hyung bener-bener setampan itu?” Sungmin menjelaskan pertanyaannya.

Senyum lebar langsung tersungging di mulutku. Aku mengalihkan pandangan malu-malu. Abisnya emang malu. Tapi rasa bahagianya terlalu besar sampai sanggup menutupi rasa malu. Kugigit bibirku, kuanggukkan kepalaku sekali, “Ne~” ujarku senang.

Siwon tertawa tertahan menutup mulutnya. Mukanya merah sekali. Untuk pertama kalinya dia bicara santai kepadaku, “Ya Tuhan, Noona! Jangan mengatakan hal kaya gitu dengan ekspresi begitu!”

Kusentuh wajahku dengan kedua tangan. “Waeyo?” aku ga ngerti apa maksudnya. Ekspresiku kenapa?

“Aigooooo uri Noonaaa…” Sungmin melangkah mendekatiku sambil mencubit pipiku pelan. “Kamu harus bercermin sekarang ini. Lihat apa kamu akan jadi malu atau ga. Kami yang mendengarmu bicara begitu aja sampe ikut malu melihat ekspresimu… Padahal yang kamu puji itu orang lain, bukan kami.”

“Ai wae~ molla~” aku ga paham maksud mereka. Mungkin bener aku harus bercermin.

Siwon menghela nafas, “Gaja!” ajaknya dengan nada menyerah.

Sungmin menurutinya dengan menarik tanganku. Aku yang masih berlemot-lemot ria ga menghentikan pertanyaanku. Tapi ga satu pun dari keduanya yang mau menjelaskan.

Kami para istri berjalan bersama-sama menuju kantin studio. Kami baru saja selesai makan siang siang, ah ani, makan sore bersama-sama. Kami sibuk ngerumpiin kelakuan ‘suami’ masing-masing selama masa recording. Juga membicarakan rencana kami masing-masing setelah ini. Lagi-lagi karena kakiku yang bermasalah, aku berjalan paling belakang.

Tiba-tiba rasa tertusuk itu muncul lagi hingga aku terpaksa berhenti. Kulepaskan kakiku sesaat dari sepatuku. Ah, leganya. Aku menyender ke dinding. Membiarkan darah mengalir ke kakiku dengan lancar. Mungkin aku bertelanjang kaki aja ke tempat shooting. Tinggal deket inih. Baru kuangkat sepatuku, tiba-tiba pintu di sebelah dinding yang kusenderi terbuka. Keluarlah para member Suju yang dengan ribut berjalan ke arah yang berlawanan denganku. Ga satupun dari mereka melihatku.

Kulihat di pintu itu tertempel tulisan “Super Junior”. Ah, jadi ini ruang ganti mereka.

Sedang kuamati begitu aku dikagetkan oleh pintu yang terbuka dari dalem. Wajah orang yang membuka pintu awalnya terkejut, tapi begitu melihatku dia langsung tersenyum lebar, membuatku juga ikut tersenyum. Dia melongok ke kiri dan kanan, lalu menarikku masuk ke ruangan.

Dengan tubuhnya dia mendesak tubuhku ke balik pintu. “Kamu nyariin aku?” tanyanya menggoda sambil menelusuri pipiku dengan telunjuknya.

Sepatu di tanganku terlepas. Aku nyengir kuda. “Yesung ssi, jangan ge-er deh lo…”

Dia mengecup ringan bibirku. “Trus ngapain kamu di depan ruangan kami?”

“Ga sengaja…hmmph,” mulutku dibungkam dengan ciumannya.

“Ga sengaja?” tanyanya setelah melepaskan ciumannya.

“Iya, kebetulan lew…hmmmph,” dia memotong perkataanku lagi.

“Ga percaya,” katanya.

Aku pelototi dia. Walau senang mendapat ciumannya, tapi aku sebel karena omonganku diputus terus. “Ngapain juga aku nyari…hmmph,” kali ini dia menciumku serius. Aku sampai terlena dengan kelembutannya, lupa dengan kekesalanku. Dia terus mempermainkan bibirku. Lama ga dilepas-lepasnya juga ciuman itu. Aku pun makin terhanyut. Aku udah lupa lagi ada dimana, tanganku bergerak ke kepalanya, menyusuri rambutnya, bermain di lehernya. Dia merespon dengan makin merapatkan tubuhnya ke tubuhku. Aku merasakan tangannya membelai telingaku, lalu meremas rambutku sedikit.

Aku membuka mulutku untuk mendesah, dan dia memanfaatkan itu untuk meneroboskan lidahnya ke dalam. Sama seperti waktu di parkiran dulu, gerakan lidahnya seolah hanya menggodaku. Membuatku penasaran sehingga terus berusaha mengejar lidahnya. Bedanya kali ini dia bertahan di dalam mulutku. Dia menjelajahi setiap detil mulutku dengan pelan dan lembut.

Aku mulai merasakan munculnya gairah dalam diriku. Ibu jarinya menyentuh pangkal leherku yang berdetak cepat, sementara lengannya yang satu menekan dinding di sebelah tubuhku. Tanganku sendiri menarik kepalanya makin dekat, memperdalam ciumannya. Dalam kabut aku menikmati sentuhannya, keberadaannya, aromanya. Kuresapi benar rasa bibirnya. Sangat lembut, kaya vanilla float. Ah, tapi lebih. Entah lebih apa, mungkin yang paling mendekati itu, lebih nikmat.

Desahan terlontar dari mulutnya. Tanpa melepaskan bibir, dia mengambil nafas lalu merapatkan dadanya ke dadaku. Tangannya yang di tubuhku sekarang mengelus lembut pundakku yang terbuka. Aku sangat menikmati sentuhannya. Sangat… Bruk!

“Aww!” seruku. Aku dan Yesung tersungkur di lantai. Tubuhku di atas tubuhnya. Kepalaku membentur kepalanya.

Begitu pulih dari kekagetan, kami melihat apa yang menyebabkan kami terjatuh. Di pintu Ryeowook ternganga memandangi kami. Dia ga berkata apapun, sementara kami berdua yang merasa malu juga ga berkata apapun.

“Choisonghamnida, choisonghamnida, aku hanya mau mengambil barangku yang ketinggalan,” dia akhirnya mampu menguasai diri dan menjelaskan sambil berusaha menghindari tatapannya dari kami.

Kami memanfaatkan kesempatan itu untuk bangun dan merapikan pakaian kami. Yesung terbatuk-batuk kecil. Dia hendak mengatakan sesuatu tapi lantas ga jadi. Aku memandang kemana aja asal bukan ke arah Ryeowook. Kediaman kami bertiga canggung banget rasanya.

Akhirnya Ryeowook seperti memperoleh keberanian untuk bicara, meskipun masih sambil ga menatap kami, “Ehm,” mulainya. “Kita akan mulai 10 menit lagi, lho.”

Aku langsung kembali ke kenyataan. Shownya! “Ah benar!” seruku.

Aku pun melangkah ke pintu, tapi di tahan Yesung. “Ya! Rapikan dulu penampilanmu,” katanya pelan berusaha agar ga terdengar Ryeowook. Yang kupikir percuma, sebab Ryeowook berdiri cukup dekat dengan kami.

“Ah, ne,” jawabku menurut. Lalu aku mendekat ke kaca dan membereskan dandananku serapi yang aku bisa. Yang penting jangan sampe memancing dugaan orang bahwa kami habis mengacak-acak satu sama lain. Sambil mengamati penampilanku sendiri, aku menangkap penampilan Yesung yang juga agak kusut.

“Ya! Kemejamu juga kusut. Gimana dong?” aku agak panik menyadari hal itu. Kami lalu berusaha merapikannya sebisa kami, tapi sepertinya ga terlalu membantu.

“Udah, ntar kita rapikan di settingan aja. Sebaiknya aku pergi sama Ryeowook. Kamu duluan aja,” Yesung mengambil keputusan.

Aku menurut. Aku langsung berbalik ke pintu dan melangkah keluar, “Anyeong, Ryeowook ssi,” pamitku pada rekan sekamar Yesung itu.

Baru berbalik, Ryeowook memanggilku, “Noona!”

Aku menoleh. Dia berkata sambil menunjuk kakiku, “Sepatumu mana?”

Buset, saking gugupnya aku sampe lupa sepatuku. Aku pun masuk lagi ke dalam, mencari-cari sepatu yang tadi kujatuhkan entah dimana. Akhirnya Ryeowook dan Yesung ikut membantuku. Ga butuh waktu lama untuk menemukannya. Segera kupegang sepatuku dan melangkah pergi.

“Kenapa ga dipake?” tanya Yesung mencegahku pergi.

Aku nyengir, “Ah, kakiku agak sakit, nanti aja aku pake kalau mau naik panggung.”

Dengan mengejutkan Yesung udah berdiri di sampingku. “Gwenchanha?” tanyanya khawatir.

Aku mengibaskan tangan di depan wajahnya. “Gwenchanha, gwenchanha.”

“Kita pergi bareng aja,” Ryeowook mengusulkan. Yang langsung disetujui oleh Yesung.

Pada akhirnya kami kembali ke tempat shooting bertiga. Di sana beberapa orang udah mulai menanyakan keberadaan kami. Ketika kami datang bertiga dengan aku yang tanpa sepatu, pertanyaan-pertanyaan mulai bermunculan. Ryeowook membantu kami dengan menjawab bahwa tadi kakiku sakit sehingga harus melepas sepatu dan berjalan lebih pelan, lalu kami bertiga bertemu di ruang ganti Super Junior. Terima kasih, Ryeowook!

“Majimak, sekarang saya ingin bertanya mengenai perasaan kalian menjalani program ini…” Suara Kang Hodong terdengar keras di take terakhir ini. Beberapa pasangan mengemukakan pendapatnya. Lalu Kim Wonhee juga menanyakan apakah ada pesan-pesan untuk pemirsa, dan lagi-lagi beberapa pasangan menjawab.

Kemudian tibalah saatnya giliranku dan Sungmin. Huaah, aku deg-degan banget.

“Jja! Di akhir acara ini, Sungmin ssi sudah menyiapkan sesuatu. Benar begitu, Sungmin ssi?” Kang Hodong memberi aba-aba.

“Ne,” kata Sungmin sementara yang lain saling memandang bingung kecuali Siwon.

“Silakan,” kata Kang Hodong lagi.

Sungmin maju ke depan panggung dimana telah tersedia satu bangku tinggi. Dia duduk di sana setelah menerima uluran gitar dari salah satu kru. “Saya ingin mempersembahkan sebuah lagu untuk semua orang yang ada di sini. Untuk mengingatkan kita akan betapa beruntungnya kita bisa dipertemukan dalam acara ini.”

Sungmin memetik gitarnya, mengatur senar sejenak. Sementara diam-diam seorang kru mengulurkan sebuah wireless microphone padaku. Untung Yesung ga ngeliat.

“Terutama untuk Minhyun ssi,” Sungmin masih berbicara. “Terima kasih sudah memilihku. Semoga aku sudah bisa menjadi suami yang baik untukmu selama ini, dan di masa yang akan datang semoga kau berhasil menemukan seseorang yang paling baik untukmu.” Kulihat mata Minhyun sedikit berkaca-kaca.

Jreng… gitar dimainkan sesaat.

“Gerigo, dalam menyiapkan ini saya juga telah meminta bantuan seseorang untuk menyanyi bersama saya. Bee Noona?” dia memanggilku sebagai tanda agar aku maju. Tepat seperti yang sudah kami latih.

“Changkaman, Bee ssi akan bernyanyi bersama Anda, Sungmin ssi?”

Sungmin mengangguk. “Ne. Saat saya sedang merencanakan kejutan untuk Minhyun ssi, Bee Noona datang dan menyanyi bersama saya di belakang panggung. Kemudian muncullah ide ini, yang saya minta untuk direalisasikan pada PD-nim. Jeongmal kamsahamnida, PD-nim.” Sungmin mengangguk ke arah PD-nim yang berdiri di sebelah kamera utama.

Aku tertegun. Benarkah? Jadi awalnya Sungmin yang memikirkan ide ini? Bagaimanapun ini ga ada dalam porsi latihan kami tadi.

Kim Wonhee menanyaiku, “Kalau Anda bagaimana, Bee ssi?”

“Ah ne,” aku menatap Yesung, “PD-nim menceritakan ide ini pada saya dan pada saat itu langsung muncul perasaan ingin melakukan hal yang istimewa untuk Yesung ssi. Saya ingin berterima kasih padanya untuk semua kebaikannya mendukung saya dalam acara ini. Juga sebagai ungkapan rasa senang saya karena tidak salah memilihnya sebagai suami.” Aku beralih pada kamera, “Dia benar-benar suami yang baik,” sambil tersenyum lebar.

“Baiklaaaah… mari kita dengarkan lagunya sekarang!” Kang Hodong berseru.

Lalu Sungmin mulai memetik gitarnya perlahan.

Do you hear me, I’m talking to you
Across the water across the deep blue ocean
Under the open sky, oh my, baby I’m trying

Boy I hear you in my dreams
I feel your whisper across the sea
I keep you with me in my heart
You make it easier when life gets hard

I’m lucky I’m in love with my best friend
Lucky to have been where I have been
Lucky to be coming home again

Ooohh ooooh oooh oooh ooh ooh

Kudekati Yesung dan kugenggam tangannya

They don’t know how long it takes
Waiting for a love like this
Every time we say goodbye
I wish we had one more kiss
I’ll wait for you I promise you, I will

Kuremas tangannya sebelum kembali ke tengah bersama Sungmin. Di sisi lain, Sungmin ga melepaskan pandangannya dari Minhyun.

I’m lucky I’m in love with my best friend
Lucky to have been where I have been
Lucky to be coming home again
Lucky we’re in love every way
Lucky to have stayed where we have stayed
Lucky to be coming home someday

And so I’m sailing through the sea
To an island where we’ll meet
You’ll hear the music fill the air
I’ll put a flower in your hair

Though the breezes through trees
Move so pretty you’re all I see
As the world keeps spinning round
You hold me right here right now

Aku menghadap Yesung, memperhatikan senyumnya yang muncul. Hatiku menghangat melihatnya. Aku mencintainya.

I’m lucky I’m in love with my best friend
Lucky to have been where I have been
Lucky to be coming home again
I’m lucky we’re in love every way
Lucky to have stayed where we have stayed
Lucky to be coming home someday

Kutatap kamera.

Ooohh ooooh oooh oooh ooh ooh ooh ooh
Ooooh ooooh oooh oooh ooh ooh ooh ooh

Aku melihat Yesung, dan merasa beruntung karena mencintainya. Perasaanku membaur bersama tepuk tangan yang lain dan kata-kata Kang Hodong dan Kim Wonhee yang menutup acara.

Akhirnya selesai. Di ruang ganti kami semua tertawa-tawa. Dan menangis. Soumi dan Yunyi menangis. Sebagai yang tertua, aku, Mina dan Haemin berusaha menghibur mereka. Aku memperhatikan juga wajah yang lain. Ada yang tampaknya biasa saja menghadapi perpisahan ini, ada juga yang berwajah murung. Yah, bagaimanapun juga, ini adalah pengalaman yang ga mungkin terlupakan. Selama dua minggu penuh kami benar-benar tinggal serumah dengan seorang namja yang istimewa. Kamilah yang memilih untuk tinggal bersama mereka, dan sekarang kami harus berpisah. Tapi emang ga ada pertemuan tanpa perpisahan. Kehidupan harus terus berjalan.

Di sela-sela shooting tadi, Rena yang berpasangan dengan Donghae sempat mengatakan padaku, “Ini pengalaman yang sangat baik. Mungkin kalau kami tidak dipertemukan dalam acara ini, aku akan bisa menyukai Donghae ssi yang sebenarnya.” Gadis itu juga mengatakan rencananya untuk segera kembali menjadi aktivis yang peduli. Bukan hanya terhadap lingkungan, tapi juga terhadap permasalahan sosial, yang kini dia sadari sama pentingnya setelah menjalani pernikahan pura-pura dengan Donghae.

Aku memperhatikan hampir semua orang, dan baru menyadari bahwa Minhyun ga ada di antara kami. Ketika aku menanyakannya pada yang lain, teteh perias menjawab pertanyaanku dan mengatakan bahwa Minhyun langsung pulang begitu acara selesai.

Tiba-tiba terdengar ketukan cukup keras di pintu, dan wajah Kyuhyun nongol di sana. Wajahnya tersenyum. Soumi dan Yunyi segera menghentikan tangis mereka. “Noona-noona!” seru Kyuhyun pada kami.

“Bagaimana kalau kita rayakan selesainya acara ini? Kami udah berhasil membujuk PD-nim agar mentraktir kita!”

Aku tersenyum lebar mendengarnya. Sementara Haemin berseru keras mendengarnya. “Geurae!” itu baru ide hebat!” katanya sambil bangkit dari duduknya. “Ayo semuanya! Cepat ganti baju!”

Akhirnya kami semua bangkit. Dengan cepat rasa sedih yang sempat menggelayut di ruang ini berganti menjadi rasa antusias. Paling ga kami ga akan berpisah begitu aja. Masih ada acara senang-senang yang menutup acara ini.

Syukurlah. Aku tersenyum lega.

Restoran bulgogi itu sangat ramai.  Rasanya rombongan kamilah yang memenuhi tempat itu. Super Junior dan mantan istri-istri mereka, PD-nim, jakkanim, kameramen, masih ada juga teteh wardrobe dan perias, semuanya ada. Mungkin PD-nim udah membooking tempat ini hanya untuk kami.

Kami bener-bener ribut dan bikin pelayan kewalahan. Berbotol-botol soju udah dikeluarkan, dan berpotong-potong daging udah habis dimakan. Aku yang hanya bisa memakan kimchi dan minum air terus-menerus merasa takjub melihat nafsu makan orang-orang ini. Pantas saja usaha restoran bulgogi sangat laku di Korea. Orang Korea bener-bener tahu caranya bersenang-senang.

Aku merasakan desakan ke toilet akibat air yang kuminum terus-menerus dari tadi, jadi aku pergi ke toilet. Keluar dari toilet, aku bertemu Yesung. Dia sepertinya sengaja menungguku keluar. Aku membalas senyum yang terpasang di wajahnya, lalu dia berkata, “Ayo kita keluar,” katanya.

Aku mengikutinya. Melewati orang-orang yang sibuk bercerita dan tertawa. Tiba-tiba Yesung terhambat oleh Heechul yang mengajaknya duduk lagi untuk makan. Dia memandangku bingung, sehingga aku mengambil keputusan. Aku beri isyarat padanya bahwa aku akan menunggunya di luar. Dia mengangguk dan mengatakan tanpa bersuara, “Sebentar, ya?”

Aku melanjutkan jalanku keluar. Di luar semuanya sangat berbeda. Riuh rendah suara di dalam teredam oleh pintu. Udara dingin segera menyergapku. Ah, rasanya segar sekali. Aku hirup dalam-dalam udara malam yang bersih. Langit malam tampak kebiruan. Mungkin karena restoran ini terletak agak jauh dari pusat kota.

Aku melangkah menuju ke bangku kayu yang ada di halaman dalam retoran itu. Kulihat sekeliling. Sepertinya memang tempat ini udah sengaja dibooking untuk kami karena aku ga melihat pelanggan lain satu pun. Yah, dengan Super Junior di dalam rombongan kami, masuk akal juga sih…

Aku merapatkan bahuku sedikit menahan dingin. Meski demikian aku bertahan di luar. Rasanya damai banget di sini. Memungkinkan pikiranku melayang kemana-mana. Termasuk pemikiran tentang hubunganku dan Yesung. Apakah kami akan berpisah malam ini? Aku bener-bener ga tahu. Tapi aku tahu bahwa hatiku anehnya ga sesakit kemarin-kemarin memikirkan bahwa kami mungkin akan menyelesaikan semuanya malam ini.

Sepotong roti dalam plastik terangsur ke depanku. “Makanlah,” suara Yesung terdengar dari belakangku.

Aku menoleh padanya dan menerima roti pemberiannya. Dia lalu duduk di sebelahku. Aroma soju tercium dari badannya. Aku ga suka. Tapi aku diam aja, aku malah berterima kasih padanya atas roti yang dia berikan.

Dia berdecak. “Kamu kan belum makan apa-apa malem ini kecuali kimchi dan air.”

Aku tersenyum. Ternyata dia tahu. “Geureohnikka, gomawo,” kataku.

Dia menatap langit, “Ah, malam yang indah.”

Aku mengikuti tatapannya. “Oh.”

Ketika aku menurunkan pandanganku, aku mendapatinya ternyata sedang memperhatikanku. “Besok kamu kerja?” tanyanya.

“Mungkin. Sampai sekarang sih belum ada telepon yang menyuruhku ke RS.”

“Kapan kerjaanmu di travel agent mulai lagi?”

“Kalau hitunganku benar, dua minggu lagi. Ah, paling nanti bosku nelepon kalau udah sampe lagi di Korea,” ujarku mengunyah rotiku.

“Kapan kamu punya waktu kosong?”

“Ya sekarang-sekarang ini. Wae?”

“Kalau malem kamu selalu di rumah?”

“Biasanya sih iya.”

Dia diem aja, bikin aku jadi penasaran. “Kenapa sih?”

Dia malah menegakkan tubuhnya dan mendekatiku. “Bagi rotinya, dong,” pintanya.

Aku memandangnya heran, tapi kuarahkan juga rotiku ke mulutnya. Dia menggigitnya sedikit lalu mengunyahnya sambil menatap mataku. Membuatku mengalihkan pandanganku.

“Lihat sini,” nadanya pelan berkata padaku.

Aku menurutinya dan tiba-tiba dia dia megecup bibirku. Aku menatapnya. Dia balas menatapku.

Kami ga tahu. Kami sama-sama ga tahu. Apa sebenarnya pertanyaan kami, kami ga tahu. Apalagi jawabannya. Kami hanya tahu ada yang mengganjal di dalam hati kami.

Teriakan seseorang dari dalam memutuskan tatapan mata kami. Tapi kami ga beranjak. Kami tetap duduk di sana.

“Saranghae,” katanya tiba-tiba.

Meski kaget, tapi aku tetap menjawabnya, “Na do.”

Dia menggenggam tanganku. Seketika udara malam terasa hangat dan sejuk sekaligus. Selama beberapa saat kami terdiam saling menggenggam tangan.

“Balas smsku,” pintanya.

“Ne,” jawabku lirih.

“Terima teleponku,”

“Ne.”

“Bukakan pintu untukku,” katanya setelah menghela nafas.

Untuk sesaat aku terdiam. Perlahan-lahan pandanganku kabur karena air mata. Apakah itu artinya dia ingin meneruskannya? Hubungan kami ini? Apakah aku akan seberuntung itu? Dicintai orang yang kucintai?

Yesung menunduk dan berusaha melihat wajahku yang menunduk dari bawah. “Bukakan pintu untukku,” katanya lagi sambil menggoncang tanganku.

Setetes air mata jatuh. Dengan suara sengau aku bertanya padanya, “Benarkah kamu akan datang?”

“NE!” jawabnya tegas.

Percayakah aku padanya? Sepertinya aku mau mencoba. Aku akan mencoba percaya bahwa dia akan datang padaku. Meski aku tahu mungkin ga sering, tapi aku akan mencobanya.

Beranikah aku? Sepertinya aku akan memberanikan diri.

Siapkah aku akan kehilangannya suatu saat nanti? Pertanyaan itu menusuk hatiku, membuatku butuh sesuatu untuk berpegangan. Kubelai pipinya, dan aku mendapatkan kekuatan itu. Dengan suara tercekat aku berkata, “Akan kubukakan.”

Aku terbangun karena susah bernafas. Ternyata Yesung sedang memelukku dengan erat. Dia tidur nyenyak sekali. Dengkuran halus terdengar dari mulutnya.

Karena membutuhkan udara, aku mendorongnya paksa. Aku lalu bangun dan mengambil HP. Kulihat jam, ternyata udah waktunya sholat subuh. Aku pun segera melaksanakan ibadahku di samping tempat tidur. Saat salam aku melihat pria itu, masih terlelap dalam pakaiannya. Mataku berkaca-kaca.

Aku panjatkan doa kepada Tuhanku. Memohon hasil yang baik untuk kami berdua. Yang terbaik. Lalu aku melepaskan mukenaku dan membereskannya, kusimpan lagi dalam rak di sebelah tempat tidur.

Setelah itu aku naik lagi ke tempat tidur. Aku mengamati wajahnya yang seperti anak kecil. Sambil duduk kubelai rambutnya. Dia terbangun.

Aku tersenyum padanya. “Jam berapa kamu dateng tadi?”

Dia bergerak malas memeluk pinggangku. Kepalanya diangkat dan diletakkan di pahaku. “Belum lama, jadi jangan bangunin aku.”

“Ne. Tidurlah lagi,” senyumku sambil mengelus lengannya.

Hubungan ini udah berjalan 3 bulan. Dia menepati janjinya. Dia mengirimiku sms, telepon, dan dalam seminggu dia beberapa kali mampir ke tempatku setelah pulang kerja. Hanya untuk tidur dan memelukku.

Seminggu setelah pesta perpisahan itu, dia mendatangiku di rumah setiap malam hingga akhirnya aku memberinya kunci cadangan karena capek harus membukakan pintu untuknya setiap malam. Meskipun kami hanya bertemu di malam hari, tapi aku bisa merasakan kehangatannya setiap pagi saat dia terbangun dan terburu-buru kembali bekerja atau ke dorm.

Sekarang semua member Suju tahu bahwa aku berhubungan dengannya. Ga ada lagi kesalahpahaman. Terkadang dia masih suka sebel kalau tahu aku sms-an sama Sungmin, tapi dia semakin yakin bahwa aku hanya mencintainya. Hatiku pun semakin merasakan seberapa besar arti keberadaanku untuknya.

Satu hal yang membuatku sangat terharu adalah dia ga pernah berusaha melewati batasannya. Dia masih ingat batasanku mengenai seks sebelum menikah, dan dia menghormatinya. Sikap yang menusuk hatiku karena aku belum bisa mengatakan padanya mengenai ketidakmungkinan kami untuk bersatu dalam pernikahan.

Tapi pagi ini pun aku masih mau mengelak. Aku belum mau memikirkannya. Semuanya masih terlalu menyakitkan. Itulah doaku pada Tuhan. Aku mohon padaNya untuk memberikan solusi yang terbaik bagi kami berdua, apapun itu. Dan aku memohon diberi kekuatan untuk menjalaninya.

Kurebahkan tubuhku di sebelahnya setelah mengangkat kepalanya kembali ke bantal. Pelan-pelan kucium bibirnya. Menyesap kehangatannya. Tercium olehku sedikit aroma alkohol dari mulutnya. Tapi aku ga keberatan. Aku terus menciuminya. Vitaminku untuk memulai hari.

Lama-lama aku kewalahan sendiri karena menginginkan lebih. Jadi aku perdalam ciumanku. Kumasuki mulutnya yang sedikit terbuka dengan lidah. Hmm, dia nikmat banget.

Tiba-tiba dia mencengkeram kedua pergelangan tanganku. “Jangan menggodaku! Atau kau harus bertanggung jawab memulihkan moodku akibat kurang tidur!”

“Tanggung jawab gimana?” tanyaku sok ga ngerti.

Pelan-pelan matanya terbuka. Pandangannya tajam. “Kamu akan harus bertanggung jawab sepanjang hari karena hari ini aku libur dan mau tinggal di sini seharian.”

Aku mulai tertawa. “Makanya, tanggung jawab apa? Aku kan ga ngapa-ngapain?”

“Ga ngapa-ngapain?!” dia menyeruduk leherku, lalu memeluk erat pinggangku merapat ke pinggulnya. “Dasar setan cantik. Pagi ini kamu harus jadi gulingku sampe siang!”

“Ahahahaha. Ssireo! Lepasin aku!”

Dia ga peduli dan malah menciumi leher dan dadaku. “Hmm, gulingku baunya harum…”

Mungkin tawaku terdengar sampai di luar.

 

 

D14-KKEUT.

 

27 thoughts on “[Freelance] The Marriage and Us {Day 14}

  1. So Sweet,
    aq kgum n aq acungn 4 jmpol bwad oppa yg tau btesn2 org yg blum nkah.
    N oppa mw hargai tu.
    Ayo thor aq dkung bwad jdiin Yesung oppa jdi muallaf.
    Bwad author daebak dah.
    Thnkx bwad author yg udah bwad ff yg kren,yg mmpu mnyjikn suatu prbdaan2 tu jdi stu tntux.

  2. Kyaaahahahaha XD yesung dan bee makin beraannniiii #plak makin seru critanya, chingu.. Epilognya dong epilognya :)

  3. tinggalin jejakk duluuu,,,,
    min, hyuk n wook emang bnar2 pengganggu,,,ahahaha,,, g thu org lagi asyik2, mrk malah nongoll,,ahhaha
    ga nyangka kalo Bee oennie mengagumi dan mencintai yesung sbesar itu, begitu pula dg yesungg,,, so sweet,,,
    aku suka Endingx,,, dan bakal nunggu after story nih cerita,,,, :p

  4. Wooooaaaa….daebak!! Epilognya tetep lanjutkan??
    Btw, bikinin yesung version dong kan pengen tau juga apa yg dipikirin yesung selama mereka nikah //plaak!! Reader banyak maunya//

  5. , hmm. .mian bru bsa koMen stlah 2 mingGu. .haha
    soalnya ak bCa dr hp, ,
    fFmu bAgus bAnget chingu, ,daebAk bAnget,
    tp yg akh!r2 ini kbAnyakan kissing sceneNya, apalagi yg di part ini, ak ngGak bsa ngrasain feelnya wkt mrk kissing, kyaknya drimu msh hrS blajar kta2 wkt dbAg!an itU dEh. .hHe
    maAp kbnyakan kritik. .
    Tp tTp saluT sma mrk krn msh sadar n gak kebAblasen. .hHe
    , jgn bnyk2 k!sSing scene nya ea, ,dsni kn beE nya org islam. .sPy ngGak ada yg brPkiran bruk tTg org yg bragama islam. .

    Skali lg mianhae ea, udah kbnykn kritik. .
    Tp fFmu tTp daebAk og. .ak ska ceritanya. .
    Fighting chingu. .!!

  6. wuaaah akhirnya cerita ff nya udah nyampe di part terakhir, tapi makasih ya author sayang ngasih epilog. Beneran deh aku jatuh cinta ama ff ini *wuaah reader lebay*
    Salut ama karakter yesung di ff ini yg masih bisa nahan diri, bener bener beda banget dah nih cerita. Author bisa banget nyiptain karakter yesung yg seromantis itu.
    Author daebaaak!!!

  7. akhir’a dah sampai part terakhir nui epep..^^
    100 jempol dech bwt author …
    yg 96 jempol pnjem tetngga….
    hehehhe

    karakter yesung oppa diepep ini romantis bnged,pengertian , dll pokok’a tipe” suami ideal dech ,,,
    hohoho
    selain itu perbdaan diantara mereka mampu membuat mengerti stu sma lain dan sling melengkapi ..^^
    pokok’a the best nie epep ..^^
    ditunggu epilog’a iahh chingu ..^^
    mian reader cerewet nui…
    hehehheheehchuL..^^v

  8. happyend!! kyaa romantis abis dah si kura2!! *pdhal cuma baca chap 12-14
    abis baca ni ff aku daftar forum ‘1 juta readers dukung Yesung jd mualaf’
    wkwkwk.. aftstorynya ditunggu :)

  9. gyaaaaaa sumpah jingkrak2 sendiri bacanya. yesung-nyaaaaaa aaaaaa nge-fly sendiri ngebayanginnya (?) btw, abis ini part terakhir ya? jangan dong. banyakin lagi. aku suka sama couple ini soalnya ehe :D

  10. chingu aq udh bca epilognya d blog chingu……bust mrka brdua happy end dng jgn pisah gtu kn gk romantis….jd sad ending deh……kn skrng bnyk nikah beda agama jd gk apa dng…..yaya chingu klu bs buat happy en dong buat mrka berdua alnya aq sk klu mrka brdua brsatu……mianhe klu trllu nuntu…he3

  11. Huaaa..
    Ya ampun..mereka berdua romantis banget aku suka banget..suka banget aku sama ff ini ..

    Ya ampun author,dari part 1-14 bikin aku senyum senyum sendiri,bikin aku nangis waktu Bee sama Yesung nya berantem..aku suka semua kejadian di setiap part nya..

    Author,malah aku berharap ini ff ga akan tamat abis aku suka banget aku mau liat gimana perjalanan cinta mereka berdua..aku berharap supaya mereka beneran nikah dan hidup bahagia..

    Author..aku suka banget
    tolong jangan pisahin Bee sama Yesung ya,kasian mereka..
    Gomawo author ..

  12. EHM….EHM…..
    after story nya ditunggu2 kog ga nongol ya???
    authornya lagi sibuk liburan ato ngapa nih?? @,@
    kekekekekeke…..XD

    ayo dong thor….mana after storynya???
    *nunggu AfTory sambil meleng makan komputer…* >_<

  13. wah. . so sweet bgt. . aku berasa jdi Beauty.. .kekekek
    ya ampun. . q dpt bgt feeelx . . .author. . .author. . mna author. . .mkish ya thor dah ngasih mahakarya yang kuar byasa ini. . kekekek keep writing ya thor. . .khamsa .. .#bow. . .
    mph bru bsa komen skrang. . . .

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s