[Freelance] First Train

Author                     : Kim Freya

Pairing                    : Kim Yesung/Kim Ryeowook (Yewook)

Rating                      : General

Genre                       : BoyXBoy love! Angst!

Category                 : One-shot

OST                           : 2NE1 – Lonely

Author Notes       : Ugh, lama aku nggak buat FF… Maaf kalau mungkin bahasanya kurang bagus…, Selamat membaca… ^^

First Train

I don’t know, but I never feel tired when I wait you.

 

Hari itu, cuaca sedang tidak bersahabat. Aroma hujan yang khas menyelimuti bumi. Hiruk pikuk keramaian orang di stasiun tua. Berjuta-juta orang telah berlalu lalang di setiap harinya tiada henti. Kursi tunggu yang berderit, dinding-dinding lorong yang penuh corat coret, beberapa gerbong tua masih terpakai hingga saat ini. Tikus-tikus berlarian dari sudut ke sudut yang lain, sambil membawa makanannya. Pemandangan para manusia mengerumun dan saling berebut untuk masuk kereta pun tak asing lagi. Di setiap ujung kerumunan tak lepas dari pengamatan mata Ryeowook. Dia tak ingin sosok yang dinantinya itu lepas dari pandangannya.

Ryeowook memposisikan dirinya duduk di kursi tunggu. Ia tersenyum simpul memandangi hiruk pikuk keramaian orang di depan matanya. Namun, dari sekian orang di sana, sosok yang dinantinya itu tak kunjung datang. Yesung seharusnya sudah keluar dari gerbong saat itu juga.

Kim Yesung, sosok yang dinantinya selama itu juga. Sosok yang selalu menemaninya di kala duka. Yesung bukanlah lelaki sempurna yang memiliki segala-galanya. Ia adalah lelaki biasa pada umumnya, yang sangat Ryeowook cintai. Mereka berdua sama-sama saling menyukai. Sejak kecil, Yesung selalu bersamanya. Mereka akan berlarian di bukit yang penuh dengan bunga dandelion sepulang sekolah. Dan Ryeowook akan tertawa saat menatap ke belakang, menemukan sosok Yesung yang terjatuh. Mereka berdua akan bersama-sama meniup bunga-bunga putih itu, yang kemudian akan beterbangan di sekitarnya.

Kenangan-kenangan manis-pahitnya masih jelas dalam ingatannya. Semua tentang Yesung akan selalu dia ingat bersama dengan hatinya. Bagaimana senyum cerah Yesung, usapan lembut Yesung, janji-janjinya bersama Yesung, semuanya dia ingat. Suara indah Yesung dan petikan gitarnya selalu mengalun dalam jiwanya.

Saat Ryeowook terbangun dari lamunannya, ia mengubah posisi duduknya. Ia tersenyum dan mengangguk pelan saat sosok sang masinis lewat di depannya. Sang masinis yang selalu menyapanya. Tak hanya sang masinis, hampir seluruh petugas di sana mengenali sosok Ryeowook. Bagi mereka, sosok mungil itu tidaklah asing lagi di sana.

Ryeowook kembali menerawang jauh. Tak selamanya hari-harinya akan secerah musim panas. Ada kalanya saat musim gugur. Di mana daun-daun berguguran satu per satu, saat harapan seseorang hilang sedikit demi sedikit, ataupun di saat musim dingin, salju-salju putih yang jatuh dari atas langit, menyelimuti bumi ini. Hari ulangtahun biasanya dipenuhi dengan kebahagiaan. Tapi, kesedihan adalah perasaan yang menyelimuti Ryeowook saat itu juga. Di hari ulangtahunnya yang ke delapan belas, ia mendengar kabar bahwa Yesung harus mengikuti orangtuanya pergi ke kota Seoul, jauh dari desanya. Tanpa berpikir panjang pun, Ryeowook berlari menuju rumah Yesung di sana. Alhasil, rumah itu kosong. Ia pun memutuskan untuk mengejar Yesung di stasiun, dengan harapan Yesung masih di sana.

Harapan Ryeowook pun tak sia-sia belaka. Ia menemukan sosok punggung Yesung yang hampir melangkah masuk ke dalam kereta. Saat itu juga, Ryeowook menarik tangan mungil Yesung dan menangis keras di depannya. Yesung yang menyadari sosok mungil di depannya itu, memeluk Ryeowook erat-erat, berusaha mengingat aromanya.

“Maafkan aku, Ryeowook. Aku harus pergi. Aku akan pulang secepat mungkin,”

Ryeowook yang tak dapat mengucapkan sepatah kata apapun, hanya mengangguk sekali. Dan ia merasakan ciuman lembut di dahinya. Yesung pun melangkah masuk ke gerbong, dan melambaikan tangannya saat kereta mulai berjalan menjauhinya. Rasa tercekat memenuhi tenggorokannya, saat ia menyadari Ryeowook memandang kepergiannya penuh harap, seiring kereta yang berjalan menjauh dari stasiun ini.

Saat itu, Ryeowook memulai penantiannya, tanpa kepastian.

Tanpa disadari, air mata menetes di pipinya. Ingatan itu masih terasa segar dalam pikirannya. Walaupun suasana di stasiun tua itu ramai, namun hati Ryeowook terasa sangat sepi. Dia kesepian. Ia merindukan sosok Yesung yang selama ini dinantinya tanpa kepastian. Sudah kelima kalinya ia melewati hari ulangtahunnya tanpa Yesung.

Ia mengusap kedua matanya dengan punggung tangannya. Menyadari hari mulai gelap dan hujan sudah reda entah sejak kapan. Stasiun tua itu mulai sepi, ia pun berdiri dan menatap gerbong-gerbong tua yang berhenti beraktivitas. Hanya petugas-petugas kebersihan lah yang masih beraktivitas. Ryeowook tersenyum lelah, memberikan salam pada gerbong kereta pertama. Kereta yang ditumpangi Yesung saat kepergiannya. Ia pun melangkah pergi dari sana, dengan harapan Yesung akan kembali esok hari. Ia akan selalu menunggu Yesung di sana, selalu.

“Kita akan selamanya bersama ‘kan?”

End

4 thoughts on “[Freelance] First Train

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s