[Freelance] You’re Too Far part 9

Super Junior Fanfiction

 

AUTHOR : ACHIE AMAR

CAST : SOJIE, SUPER JUNIOR, etc.

=====================================================

 

 

Sojie POV

 

 

Aku membuka mataku saat merasakan sebuah cahaya. Ah, bagaimana aku bisa ada di kamar? Mungkin semalam Kyu oppa membangunkanku dan tanpa sadar aku jalan ke kamar. Ya, pasti begitu.

 

Tadi malam, aku jadi ingat semuanya…

Flashback

 

Kyu oppa sadar aku melihatnya. Ia tersenyum sangat manis padaku, lalu mengelus rambutku. Dan kembali menonton drama.

 

Aku hanya diam menatapnya. Mungkin aku terlihat bodoh sekarang. Karena aku sangat berharap, waktu, berhentilah…

 

Aku memejamkan mataku. Dan tiba tiba aku sadar Kyu oppa sudah menggenggam tanganku. Aku membuka mataku dan mendapati Kyu oppa sudah menatapku. Aku tidak tau arti tatapan matanya. Aku benar benar tidak bisa membacanya.

 

“Sojie-ah…”

“N-ne?” jawabku masih gugup. Apa dia akan menyatakan perasaannya?  Apakah perjuanganku berhasil? Otakku terus berputar, bahkan saat ia mulai bicara. Aku tidak konsen dan aku sangat kaget saat mendengar kalimat terakhirnya.

“Mwo?” tanyaku lemas

“Jangan berjuang lagi…” katanya mengulang kalimat terakhirnya

“Wae… waeyo oppa?” Kyu oppa menundukkan kepalanya. Ia tersenyum padaku. Walaupun mungkin sekarang wajahku seperti orang yang sekarat.

“Kau, berjuang terlalu keras untuk mendapatkanku. Jangan berjuang lagi. Cukup. Itu akan menyakitimu” Kyu oppa terdiam dan memaksa tanganku untuk menjabat tangannya, “Berjanjilah padaku, kau harus berhenti. Kau seharusnya sadar sejak lama Sojie, bahwa kau tidak perlu berjuang…” kata Kyu oppa lagi. Aku menyadari semuanya sekarang. Saat matanya menatapku dan memintaku untuk berhenti, aku sadar bahwa semua yang kuperjuangkan selama ini sia sia. Semuanya sudah cukup. Tapi aku tidak mungkin menangis didepannya. Aku tidak boleh menangis. Tidak boleh.

“Ne oppa. Arasso” kataku sambil tersenyum dan menjabat tangannya.

Kyu oppa melepaskan tangannya dan tiba tiba mengelus pipiku. Aku merasakan basah di pipiku. “Kau menangis” katanya dengan wajah bingung.

“Sini” tiba tiba Kyu oppa menarikku ke dalam pelukannya.

 

 

Malam ini tidak seperti yang aku harapkan. Walaupun untuk pertama kalinya Kyu oppa bersifat baik padaku, tapi ini akan menjadi terakhir kalinya pula. Aku terus meneteskan air mataku tanpa suara, sampai aku tertidur dipelukkannya.

 

 

End of flashback

 

 

Aku menarik selimutku dan menutup wajahku. Aku sudah tidak bisa lagi menahan teriakkanku. Aku menangis lagi, lagi, tapi kali ini dengan suaraku yang memenuhi seluruh ruangan. Kepalaku pusing. Aku tidak kuat lagi menahan kesedihanku.

Air mata ini mungkin adalah semua yang tertahan selama aku berada di Korea. Seua perjuangan yang aku paksakan. Aku berusaha menjadi orang lain, tapi tetap saja aku tidak bisa mendapatkannya.

Seharusnya aku sadar bahwa ini semua tidak mungkin. Dia terlalu jauh. Aku tidak akan mungkin bersamanya.

Aku mendengar suara bel yang dibunyikan berkali kali. Dengan terpaksa aku mengelap air mataku dan berjalan keluar untuk membuka pintu. Saat aku membukanya, aku melihat Henry dengan wajah ceria.

 

Tapi wajahnya langsung berubah seketika saat menyadari keadaanku.

“Sojie! What’s wrong with you?!” Henry langsung masuk ke dalam. Aku berjalan lunglai dan duduk di meja makan membelakangi pintu.

“Aniyo. Kwaenchana”

“Gojitmal” katanya sambil duduk di meja makan, benar benar di hadapanku.

“Hm” gumamku sambil tersenyum.

“Wajahmu merah, matamu merah dan bengkak. Apa kau sakit?” tanya Henry sambil memegang jidatku. Aku menampik tangannya.

“Gak kok. Gak papa” jawabku sambil tersenyum lemas. Hah, bahkan untuk berfikir saja aku lelah.

“Kau habis menangis”

“Pertanyaan atau pernyataan?” tanyaku bingung.

“Apa yang Kyuhyun hyung lakukan padamu?”

“Kau benar benar tau semuanya?”

“Aku sudah bilang padamu aku akan tetap membantumu kan?” tanya Henry sambil menundukkan wajahnya, mendekatkan wajahnya padaku, memaksaku melihat matanya.

“Tapi aku kalah malam itu”

“Aku yang menang, jadi aku yang berhak memutuskan kebahagiaanku. Kebahagiaanku adalah melihatmu senang”

“Mwo?”

“Aku… mencintaimu Sojie… Mianhae”

Astaga. Apa lagi ini? Semua yang aku harapkan tidak terwujud. Tuhan aku mohon jangan hancurkan semua perjuanganku, jangan runtuhkan mimpiku. Aku memejamkan mataku saking kepalaku pusing.

Aku membuka mataku saat tiba tiba aku melihat Henry dengan cepat memegang wajahku, dan menempelkan bibirnya di bibirku.

Ia memejamkan matanya, aku sangat bisa merasakan kehangatan bibirnya. Ia menciumku lembut, sangat lembut, hingga bahkan aku tidak bisa mendorongnya, aku sangat merasa bersalah padanya. Aku meneteskan air mataku.

 

“MWOYA?!” suara keras menggelegar terdengar dia dalam ruangan. KYU OPPA?!

Aku mendorong Henry cepat dan berdiri menghadap pintu di mana Kyu oppa menatap kami berdua seperti ingin membunuh. Detak jantungku berdetak sangat cepat hingga tanganku bergetar hebat.

“Ah… Op-op-oppa…” aku mencoba menjelaskan, tapi aku melihat wajahnya berubah datar, lalu ia tersenyum dan membungkukkan badannya.

“Maaf aku mengganggu” katanya lalu menaruh sebuah plastic dan pergi meninggalkan aku dan Henry.

 

Aku terduduk dilantai dan menangis sejadinya. Tanganku bergetar hebat sampai bahkan aku tidak dapat menghapus air mataku sendiri.

Henry duduk di depanku. Menggenggam tanganku. Tangannya terasa begitu hangat karena tanganku yang sangat dingin.

“Henry, maafkan aku” kataku sambil terus terisak. Bahkan bernafaspun sulit untukku sekarang.

“Kenapa?” tanya Henry bingung. Nadanya terlihat sangat sedih, aku bahkan tidak berani menatap wajahnya.

“Apa kau benar benar mencintaiku?” tanyaku

“Ya. Aku bahkan tidak pernah merasakan hal ini Sojie…” katanya

“Maaf… aku malah menangis karena laki laki lain di hadapanmu” kataku terbata bata. Henry memelukku erat.

“It’s okay. It’s really okay” kata Henry sambil mengelus kepalaku terus menerus. Mencoba menenangkanku.

“Aku… aku mau pulang” kataku tiba tiba membuat Henry terdiam dan membeku.

Maaf Henry-ah, aku tidak sanggup lagi berada di sini…

 

 

****

3 hari kemudian…

 

 

Kyuhyun POV

 

 

“Ini, kau baca sebelum jam 7 malam” kata Henry sambil memberikanku sebuah amplop. Amplop apa ini? Ah sudahlah, aku sangat membencinya sekarang. Bahkan aku mengundurkan diri sebagai pelatih vokalnya. Aku melipat kecil dan memasukkan amplop itu ke kantong celanaku.

 

 

****

Aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak mencari tau nomer hape Sojie. Aku menanyakannya pada Gaemi, tapi Gaemi masih tidak membalas smsku.

 

AKu sudah mencari Sojie dari kemarin. Walaupun aku melihat hal yang sangat tidak ingin kulihat sepanjang hidupku, tapi aku tidak bisa berhenti teringat wajahnya yang terisak dan bergetar hebat saat menatap mataku.

 

Saat itu aku tidak tau apa yang harus kulakukan. Yang bisa kupikirkan hanyalah, stay cool. Tapi nyatanya, untuk menghapus kejadian itu dari memori ingatanku saja seperti berusaha melupakan siapa namaku. Sangat tidak mungkin.

 

Aku mendengar hapeku berbunyi.

“Yeoboseyo?”

“Apa kau tidak akan menghentikannya?” aku mendengar suara dari sebrang. Aku melihat layer hapeku. Henry. Aku kembali menempelkan hapeku ke telingaku.

“Apa maksudmu?”

“Kau belum membacanya? Sekarang sudah jam setengah 8. Kau akan terlambat dan hanya bisa menyesal”

“Apa?” aku masih bingung.

“Baca, dan kau akan mengerti” telfon terputus. Aku baru ingat. Surat itu. Sebenarnya surat apa itu?

 

Aku mengambil surat yang aku taruh di dalam tasku. Aku melihat amplop kecil itu. Apa ini benar benar surat? Dari si… apa mungkin Sojie?

 

 

Aku membuka amplop itu. Membacanya dan tidak tau apa yang kurasakan.

 

 

 

Anyeong Kyu oppa^^

 

Maaf aku harus menyita waktumu, dengan memaksamu membaca surat ini. Tapi aku janji ini yang terakhir.

 

Aku ingin menceritakan yang sebenarnya. Mungkin kau sudah tau, tapi aku ingin kau tau lebih jelasnya.

 

Aku tau, kau tau kalau aku mencintaimu. Tapi mungkin kau tidak tau betapa besar cintaku. Dan disini aku ingin menunjukan sedikit, sebesar apa perasaanku padamu.

 

Saat aku pertama tau kau, berat badanku, wajahku, gayaku, semua tidak terurus. Aku benar benar merasa aku sangat buruk saat itu.

 

Dan 3 bulan kemudian, aku mulai sadar bahwa aku mencintaimu. Aku mulai tau kamu lebih dalam oppa. Aku mencari tau dan terus mencari tau. Sampai aku tau semuanya, aku tau bahwa aku harus berubah menjadi lebih baik. Karena aku ingin muncul di hadapanmu.

 

Hari itu, aku mulai belajar dengan benar di sekolah, agar aku tidak menjadi perempuan bodoh. Dan beberapa bulan setelah itu, aku tau bahwa aku berhasil naik 17 peringkat dari peringkatku sebelumnya di kelas. Terima kasih oppa J

 

Setelah mengetahui itu, aku mulai diet dan menurunkan berat badanku. Dan 6 bulan setelah itu, beratku berhasil turun 30 kilo gram. Terima kasih oppa J

 

Setelah itu, aku berhasil masuk ke perguruan tinggi terfavorit, dan aku berhasil menabung dengan uang hasil kerja sambilan. Lalu aku pergi menonton super show. Dan saat itu aku memiliki impian baru, aku ingin benar benar mengenalmu.

 

2 tahun kemudian aku benar benar muncul di hadapanmu. Ya, dua bulan yang lalu. Hari itu aku sangat percaya diri, dan aku sudah bukan aku 4 tahun yang lalu. Aku sudah menjadi aku yang baru. Aku yang sudah mengasah bakatku, aku yang cantik, aku yang pintar, dan aku yang cerdas dalam berbahasa korea.

 

Tapi ternyata, aku yang baru ini belum cukup menjadi seorang perempuan yang kau inginkan. Kau ingin perempuan yang pintar memasak, bukan seperti aku yang tidak bisa membuat makanan korea dengan enak. Tapi akhirnya aku bisa memasak dengan baik. Tapi ternyata masih belum cukup. Kau suka perempuan yang bisa bernyanyi, jadi aku belajar menyanyi, walaupun sebentar, tapi aku kembali dengan kemampuan menyanyiku yang lumayan. Dan sepertinya itu masih belum cukup.

 

Aku memang suka seorang laki laki yang lari saat aku mengejarnya. Tapi sepertinya kau sudah lari terlalu jauh oppa. Apa yang aku miliki dan bisa sekarang adalah aku yang terbaik. Aku tidak bisa berbuat apa apa lagi. Aku sudah tidak sanggup lagi berlari mengejarmu. Aku menyerah.

 

Aku tidak akan menganggumu lagi. Aku akan pulang. Mungkin saat kau membaca surat ini, aku sudah di atas pesawat sedang melihat awan awan cantik. Jaga dirimu oppa. Kau harus tau, sesulit apapun keadaanmu, kau selalu memiliki aku yang mencintaimu dari jauh. Aku merasa, mungkin ini adalah hasil maksimal dari perjuanganku 4 tahun ini. Dan walaupun tidak bisa bersamamu, mengenal orang yang kita cintai adalah anugrah tebesar untukku. Terima kasih mau bersabar meladeni tingkahku oppa. Terima kasih untuk menjadikanku yang terus lebih baik dari hari ke hari.

 

 

 

 

 

 

 

Salam sayangku untukmu yang tak akan pernah pudar J

SojieAK

 

 

 

Apakah aku harus mengejarnya? Atau aku harus tetap berdiam di sini?

 

 

Aku membuka dompetku, melihat foto Polaroid yang kuambil waktu itu. Foto kami berdua. Wajahnya sangat ceria saat itu. Aku sangat menyukainya. Aku tau itum bahkan sejak pertama kali aku menerima surat itu. Surat yang ia berikan di sushow waktu itu.

Aku mengeluarkan kalung yang selalu kupakai, kalung berbandul cincin darinya. Aku bahkan tidak pernah berharap akan bisa bertemu dengan orang yang selalu menguatkanku itu.

Setiap aku sedih, kesepian dan merasa dunia tidak berpihak padaku, aku selalu membaca surat darinya, sampai surat itu sudah sangat dekil sekarang. Cincin darinya, aku selalu memakainya walaupun tidak sebagai cincin.

 

Aku sangat syok saat aku tau bahwa Henry mengenalnya. Pikiran buruk terus memenuhi otakku. Aku sangat tidak suka pada seseorang yang melihatku dan orang lain. Jika dia menyukaiku, harus hanya ada aku.

Jadilah sifatku dingin padanya, aku ingin mengetes sebarapa sabar dia dan aku ingin melihat apakah ia akan bertahan.

Saat aku sadar aku tidak bisa tanpa dia, saat aku menyuruhnya untuk berhenti berjuang, saat aku membuatnya sadar bahwa aku telah jatuh dalam perangkapnya, aku malah merasa di khianati. Aku tidak tau apa yang sebenarnya ada di otaknya.

Bisa bisanya ia berciuman dengan namja lain, sedangkan malamnya ia baru saja tertidur dipelukanku.

Aku benar benar tidak tau apa yang kurasakan sampai aku merasakan hapeku bergetar. Sms. Dari Henry.

 

Kau benar benar akan menyesal. Yang kau perlu tau adalah, aku selama ini hanya membuatmu cemburu. Kemarin juga, aku sudah melihatmu didepan pintu. Maaf, aku sengaja. Dia take off setengah jam lagi.

 

MWO?! APA MAKSUDNYA?!

 

Aku langsung berdiri dan merasakan detak jantungku berdegup sangat cepat. Astaga, perjalanan dari sini ke Incheon itu sangat jauh. Rasanya aku ingin membunuh Henry saat ini juga. Apa maksud dari semua ini? Aku mohon tuhan, aku mohon, jangan biarkan dia pergi…

 

 

****

Aku berlari masuk ke dalam airport. Sudah jam 8. Aku pasti terlambat.

 

Hanya itu yang ada di pikiranku.

 

Waktu berlalu begitu cepat. Aku terus berlari dan mengingat semuanya…

 

 

Flashback

 

 

“BACA ITU OPPA!” teriak seorang yeoja yang memberikanku sebuah surat. Apa ini? Hahaha

Aku membacanya, dan aku hanya bisa tertawa saat Sungmin hyung bertanya. Padahal, semua kalimat yang tertulis di dalam surat itu, benar benar menjadi energy untukku.

 

“Saat kau susah dan terjatuh, ingatlah, ada seorang perempuan yang sangat mencintaimu yang selalu bangun setiap pagi dan berdoa untukmu. Jangan pernah menyerah oppa J

 

 

 

“Ya! kau yang memberikanku sebuah cincin berukiran namaku! Apa itu namanya normal?!”

“Hyung! Perhatikan dulu cincin itu! Itu bukan dariku!”

“Tadi saat aku ke toilet, aku bertemu dengan seorang perempuan. Sepertinya umurnya jauh lebih muda dari kita. Dia memberikan itu untukmu.” Aku menatap cincin itu. Menyadari ada nama orang yang sama dengan yang memberikanku surat itu. Dia lagi…

 

 

 

 

“Kau mencariku. Aku teman Henry dari Indonesia.” Katanya sambil membungkukkan badannya dan tersenyum. Dia, benar benar perempuan yang selalu kuperhatikan selama 2 tahun terkahir ini…

 

 

 

 

“APA KAU GILA?!” teriakku saat melihatnya kehujanan. Rasanya sekujur tubuhku menegang saat melihatnya begitu. Kenapa dia tidak memanggilku? Apa dia melihatku bersama Gaemi? Aku menariknya ke dalam mobil. Rasanya aku sangat ingin menghangatkannya…

 

 

 

 

“Gomawoyo oppa!” katanya sambil tersenyum manis dan menyeruput sup rumput laut yang kuberikan. Maaf Sojie, hanya ini yang bisa kulakukan untuk menghangatkanmu…

 

 

 

 

“Henry! Dia pacarmu?! Kenapa tidak cerita apa apa pada hyung hyungmu?!” Teriak Ryeowook.

“Wah Henry akhirnya kau menemukan yeoja juga!” kata Yesung hyung.

“Uhuk uhuk uhuk!” Sojie tersedak dan Henry memberikan segelas air pada Sojie sambil menepuk nepuk punggung Sojie.

 Aku tidak tau apa yang kurasakan. Yang kutau hanya, aku ingin menariknya pergi menjauhi namja itu.

 

 

 

 

“Kau mempermainkan perasaanku!” kata Sojie dengan suara bergetar. Apa mempermainkan perasaannya? Apa selama ini aku tidak cukup menunjukkan bahwa aku mau dia menjadi milikku?!

 

 

 

 

“Sojie? Sojie-ya” kataku sambil menggoyangkan badannya. Ah dia tidak terbangun juga. Hah aku harus apa? Kasihan dia. Dari tadi aku mengerjainya terus.

 

Hah, terpaksa, aku menggendongnya ke kamar Ahra onni.

 

Aku menidurkannya di atas kasur dan menyelimutinya. Aku menatap wajahnya. Memperhatikan setiap inchi wajahnya. Aku tidak tau apa perasaan ini. Yang aku tau, aku sangat ingin menyentuh wajahnya. Dan lebih.

 

Aku menyentuh wajahnya, meneliti setiap bagian di wajahnya dengan jariku. Sampai aku ke bibirnya. Bibirnya sangat lembut, dan… tanpa sadar aku duah menempelkan bibirku ke bibirnya. Aku menciumnya sepelan dan selembut mungkin. Merasakan darah yang mengalir dalam tubuhku semakin menderas. Aku merasakannya dengan segenap hatiku. Dan saat inilah aku sadar, aku tidak mau melihatnya kelelahan terus karenaku. Lebih baik ia mengakhirinya, dan menjalani hubungan yang normal denganku, aku akan membuatnya bahagia selamanya. Ia tidak perlu berjuang lagi…

 

Aku melepaskan ciumanku. Mengecup keningnya, dan mematikan lampu kamar. Aku menengok memastikan ia tidak terbangun. Aku mencintainya. Ya, aku mencintainya…

 

 

 

 

“Kau, berjuang terlalu keras untuk mendapatkanku. Jangan berjuang lagi. Cukup. Itu akan menyakitimu” aku tidak tau apa yang kukatakan sehingga membuatnya menangis. Apa dia senang karena ia telah mendapatkan apa yang ia perjuangkan? Aku juga senang, maka aku langsung memeluknya dan membiarkannya merasakan apa yang seharusnya ia rasakan selama ini. Kehangatan cinta dariku yang selama ini selalu kutahan. Sampai ia tertidur dipelukkanku…

 

 

 

 

Aku melihat pintu apartemen Sojie terbuka. Aku hanya keluar untuk membeli sarapan untuknya. Ah mungkin dia sudah bangun.

 

Tapi ternyata lebih dari itu. Aku…

Apa aku tidak salah lihat? Entah apa yang kurasakan sekarang, baru semalam aku memilikinya seutuhnya, tapi sekarang, didepanku, aku melihat ia berciuman dengan namja lain? Sakit bahkan sudah tidak dapat kurasakan.

 “Maaf aku mengganggu” kataku sambil membungkukkan badanku dan tersenyum.

Tapi saat aku keluar dari apartemen itu, untuk pertama kalinya, aku merasakan betapa sakitnya dikhianati. Tapi aku tau Sojie tidak mungkin begitu. Tapi, apa yang aku lihat… aku benar benar bingung…

Dan air mata menetes dari mataku. Ini… benar benar membuatku tidak bisa berfikir jernih…

 

 

 

 

Aku tidak bisa berhenti mengingat wajahnya pagi itu… ia menangis. Tidak mungkin itu semua kemauannya. Pasti ini semua salah Henry. Dia… aku bahkan tidak bisa menyalahkannya. Ia sangat baik dan selalu menjaga Sojie. Seharusnya aku tidak boleh marah pada Henry, karena ini semua salahku, aku lengah.

Lebih baik aku diam…

Tapi, apa Sojie baik baik saja?

 

 

 

 

“Apa kau tidak akan menghentikannya?” aku mendengar suara dari sebrang. Aku melihat layer hapeku. Henry. Aku kembali menempelkan hapeku ke telingaku.

“Apa maksudmu?”

“Kau belum membacanya? Sekarang sudah jam setengah 8. Kau akan terlambat dan hanya bisa menyesal”

 

 

 

 

“Aku tidak akan menganggumu lagi. Aku akan pulang. Mungkin saat kau membaca surat ini, aku sudah di atas pesawat sedang melihat awan awan cantik. Jaga dirimu oppa. Kau harus tau, sesulit apapun keadaanmu, kau selalu memiliki aku yang mencintaimu dari jauh. Aku merasa, mungkin ini adalah hasil maksimal dari perjuanganku 4 tahun ini. Dan walaupun tidak bisa bersamamu, mengenal orang yang kita cintai adalah anugrah tebesar untukku.”

 

 

Kau benar benar akan menyesal. Yang kau perlu tau adalah, aku selama ini hanya membuatmu cemburu. Kemarin juga, aku sudah melihatmu didepan pintu. Maaf, aku sengaja. Dia take off setengah jam lagi.

 

 

End of Flashback

 

 

Aku berhenti didepan seorang satpam yang menahanku. Aku berusaha melihat ke jadwal sekali lagi. Ah aku pusing.

 

“Pesawat tujuan Jakarta?” tanyaku gugup.

“Ah… sudah take off sekitar 5 menit yang lalu” katanya

 

Dan saat itu aku bisa merasakan penyesalanku. Untuk apa selama ini aku membuatnya kelelahan? Untuk apa? Kebodohanku… Ini kebodohanku…

 

 

-TBC-

12 thoughts on “[Freelance] You’re Too Far part 9

  1. Koq malah jd rumit gini sih?! -_-”
    Mka’a aq blg dr awal cpt nyatain fellingmy kyu! Nysel kn skrg! ~_~
    Sad scene disini! Sedih bgt! :”(
    Iya, kyu babo! =P

    LANJUUTT!!

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s