[Freelance] The Marriage and Us {Day 13/Skip Version}

Title : The Marriage and Us [Day 13]

Author : Bee

Main Cast : Yesung, Bee

Support Cast : all members of Super Junior

Rating : PG 17

Genre : romance

Warning! : (half) bed scene (?)

Ps : Day 13 ini gw buat dua versi. Versi PG 17 dan NC 21, yang gw harap dimasukin dalam kategori postingan terproteksi oleh admin.

Disclaim : biar kata terinspirasi dari WGM, alur cerita murni ide Bee. Oke? No plagiarism!
========================

 

 

Aku menyembunyikan wajahku dari Yesung ketika dia memasuki kamar mandi. Aku ga mau dia ngeliat mataku yang bengkak akibat nangis semaleman. Yesung keliatan ga peduli. Dia ngolesin sikat giginya pake odol lalu menggosok giginya sambil duduk di toilet.

Sms Yesung tadi malem sukses membuatku ga tidur semaleman. Hatiku sakit, pikiranku kacau, dan air mataku ga mau berhenti ngalir. Aku terus menutupi kepalaku dengan bantal supaya isakanku ga kedengeran sampe luar. Untungnya tadi malem aku memutuskan untuk tidur dengan lampu dimatiin, jadi kamera stand by di pojok kamar kami ga bisa ngeliat semua kelakuanku itu.

Hasil yang kudapatkan pagi ini adalah mata segede bola pingpong berwarna steak setengah matang. Ah, aku ga yakin ada apapun yang bisa digunakan untuk nutupin mata ini kecuali kacamata. Alternatif yang ga mungkin aku pakai di dalam rumah. Karena hari ini lagi-lagi aku ga ada jadwal ke RS.

Kubersihkan mulutku dan melangkah tertunduk ke tempat handukku tergantung. Sambil mengelap muka, aku berkata pada Yesung yang udah pindah lokasi ke wastafel, menggantikan posisiku tadi, “Hari ini kita mulai ngangkutin barang?”

Jawaban darinya hanya berupa gumaman ga jelas.

Aku melangkah keluar. Di pintu kamar mandi aku berhenti dan menatapnya sekilas sambil tersenyum menawarkan perdamaian, “Selamat pagi,” kataku sambil berlalu tanpa menunggu jawabannya. Toh dia ga mungkin ngejawab juga orang lagi sikat gigi begitu.

Wajahku rasanya lebih baik setelah cuci muka, meski aku yakin bengkaknya masih ada. Aku lalu ke dapur menempatkan beberapa balok es ke handuk kecil yang udah kusiapkan. Sambil menyiapkan air panas untuk bikin teh dan kopi, aku menempelkan handuk kecil berisi balok-balok es itu ke mataku. Satu kamera fokus padaku dan kameramennya bertanya kenapa mataku bisa begitu. Aku menjawab, “Tadi malam aku lelah sekali sampai kena insomnia,” aku tersenyum, “Aku ga tidur semaleman…”

Sambil menunggu airnya matang, aku membongkar makanan yang dibawakan oleh ibu Yesung kemarin. Aku coba sebisaku untuk menghangatkan makanan-makanan itu. Sepertinya sarapan hari ini akan spesial. Untung aja makanan dari eommonim termasuk yang mudah dihangatkan.

Semua aktivitas pagi itu ga memerlukan waktu yang lama. Sementara aku berkutat dengan sarapan, Yesung berada di luar mengangkat pakaian kami yang udah kering. Belakangan ini udara memang mulai menghangat, jadi pakaian kami ga perlu waktu lama untuk kering.

Aku dan Yesung ga banyak bicara, kami lebih banyak bekerja. Ada sesuatu yang mengganjal di antara kami. Kameramen yang biasanya mengikutiku bertanya apakah kami sedang bertengkar. Aku menjawab tidak, tapi aku sedang mulai merasa sedih bahwa kami akan berpisah sebentar lagi. “Mungkin Yesung juga begitu,” ujarku pada kamera, tapi pandanganku ke arah Yesung yang sekarang lagi ngasih makan Dangkoma.

Makanan kami udah siap. Aku segera menyingkirkan tampang sedihku. Dengan suara riang, aku memanggil Yesung sambil meletakkan makanan-makanan di meja depan sofa. “Sayang, ayo sarapan,” aku tersenyum padanya.

Dia memandangku lalu membalas senyumku. “Ya, sebentar. Aku menyelesaikan memberi makan Dangkoma dulu.”

“Jangan lupa cuci tanganmu nanti,” aku mengingatkannya.

Dia diam aja. Barulah 5 menit kemudian dia beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan tangannya. Kami kemudian makan dalam diam. Hanya kata-kata seperlunya yang terdengar. Aku rasanya ga terlalu selera makan. Setelah nasiku habis, aku letakkan mangkokku di atas meja dan memperhatikannya makan. Jika kebetulan dia melihatku, aku akan berpaling ke arah kamera, atau ke arah makanan, atau kemana saja asal bukan ke arahnya. “Kamu ga makan lagi?” tanyanya.

Aku tersenyum bingung. Aku ga nafsu makan, itu pasti. Tapi aku ga mau pergi dari tempatku sekarang karena masih pengin ngamatin wajahnya. Dalam kebingunganku, aku dengar dia bertanya lagi, “Apa kamu kurang suka makanannya?”

Aku kaget. Ga, bukan begitu! “Ga kok. Aku suka. Aku lagi mikir mau nambah apa,” cengirku. Lalu cepat-cepat aku ambil apa aja yang terlihat.  “Hmm, ibumu emang paling top soal masak-memasak,” kataku memujinya tulus. Meski untuk alasan lain sebenarnya aku ga bisa ngerasain makanan itu.

“Iya dong. Uri eomma…”

Kupikir air mataku udah abis, tapi kok sekarang makanan yang lagi kuliatin ini nampak kabur lagi ketutupan air mata, ya? Aku memejamkan mata mengenyahkan air mata yang menggenang, terus aku bangkit. “Sebentar ya…”

Aku memasuki kamar, menghindari kamera, pura-pura mencari HP. Begitu ketemu, aku keluar dan berkata pada Yesung. “Aku pengin ambil fotomu saat sarapan. Boleh ya?” pintaku padanya.

Pandangannya padaku membingungkan banget, namun akhirnya dia mengangguk. Tanpa menunggu lagi aku segera mengambil beberapa gambarnya yang sedang makan. Pada satu titik, dia berhasil mengambil gambarku yang sedang mengambil gambarnya. Dia menyuruhku berhenti mengambil gambarnya, dan mulai mengatur poseku. “Kamu nurut aja. Aku mau ambil gambarmu yang paling cantik,” katanya.

Aku menyipitkan mata ragu tapi tetep nurutin kata-katanya. Aku duduk di lantai dengan lutut ditekuk di depan dada, lalu dia berdiri di belakangku sambil berdiri. “Coba kamu liat sini,” perintahnya. Aku menurut. Tapi ternyata dia belum mengambil gambarku. Malah dia melangkah mendekatiku lalu menarik rambutku lembut agar terjuntai di punggung semua. Setelahnya baru dia mengambil gambarku dengan *bird view.

Dia mengecek hasilnya lalu dengan girang menunjukkannya padaku. Aku terpana melihat hasil karyanya. Bagus banget. Cahaya datang dari samping tubuhku, sementara aku menengadah ke atas memandang kamera dengan rambut terurai di punggung. Berkas-berkas cahaya menyinari bahu dan sebagian rambutku. Meskipun aku ga tersenyum lebar, tapi wajahku dipenuhi rasa cinta. Benarkah itu aku? Secinta itukah aku padanya? Bisakah dia melihatnya?

Aku tercenung. Begitu larutnya aku dalam pikiranku, aku sampai kaget waktu Yesung menyentuh lenganku. “Ya! Wae geurae? Ssireo?”

Aku membelalakkan mata, “Ani. Bagus banget kok. Ternyata aku bisa secantik itu ya?”

Dia mendengus. “Itu semua tergantung teknologi yang dipakai…”

Aku cuman tersenyum menanggapinya. Lalu mengalihkan topik, “Ayo kita lanjutkan makan. Udah dingin makanannya tuh.”

Kami pun melanjutkan makan.

Dua jam kemudian, rumah kami udah seperti kapal pecah. Kami sepakat akan mengangkut sebagian besar barang bawaan kami kembali ke tempat masing-masing hari ini. Maka saat ini kami lagi beberes. Aku hanya meninggalkan dua potong pakaian untuk malam ini dan untuk besok. Rice cookerku udah masuk ke kotak, siap kubawa pulang. Yesung pun sedang ribet dengan semua bawaannya. Dangkoma juga rencananya akan dia pulangkan ke asrama hari ini.

Tentu aja aku selesai lebih dulu dari Yesung. Barangku jauh lebih sedikit dibandingkan barang bawaan dia. Aku lalu membantunya packing. Semakin banyak barangnya yang kumasukkan ke dalam tas, semakin berat perasaanku. Rasanya semakin menyakitkan karena aku ga bisa menangis. Sampai di suatu titik, aku bahkan ga sadar aku sedang melakukan apa. Aku berusaha menolak kenyataan bahwa aku sedang membereskan barang-barang Yesung.

Selama membereskan barang-barang, senyum Yesung ga pernah lepas dari wajahnya. Tingkahnya kelewat ceria. Yang jelas, ga sekalipun dia mau mendekatiku. Aku merasa dia menghindariku, mencegah agar kami jangan sampai bersenggolan. Biarpun sesekali kami saling melontarkan gurauan, dia sama sekali ga mau berdekatan denganku. Dia benar-benar marah.

“Aduh, perutku sakit,” ujarku akhirnya membuat alasan. “Aku ke kamar mandi dulu.” Aku pun ngeloyor pergi meninggalkan kerjaanku.

Di kamar mandi, aku terduduk di toilet lalu melepaskan semua kesedihanku. Kami akan berpisah, dan Yesung akan mengakhiri ini dalam kemarahan. Aku ga punya kesempatan menjelaskan padanya dengan adanya semua kamera itu. Aku ga bisa membujuknya. Apakah emang harus begini akhirnya?

Meski ga ada apapun di antara kami, tapi aku yakin bahwa Yesung emang udah ga ingin lagi berlama-lama dekat denganku. Aku bisa merasakannya. Lucu sekali bagaimana rasa cintamu pada seseorang bukan hanya bisa membutakanmu, tapi juga menajamkan instingmu akan orang yang kau cintai.

Di sini, di toilet ini, dengan semua keributan di dalam rumah terdengar olehku, aku menguatkan hati. Aku akan menghabiskan semua air mataku, kutuntaskan semua kesedihanku, kulepaskan semua penyesalanku. Aku bertekad akan keluar dari kamar mandi dengan hati lebih tegar. Aku melangkah ke wastafel, kucuci mukaku, berharap dinginnya air bisa membantuku menguatkan diri, mendinginkan luka hatiku.

Kupandangi wajahku di kaca dan berbisik, “Himne! Kamu bisa! Kamu kuat! Diriku, aku menyayangimu, kamu ga sendiri!”. Kulatih senyumku. Sekuat tenaga kuubah sosok Yesung dalam benakku sebagai sosok tak berwajah. Kutanamkan dalam-dalam di benakku bahwa dia hanyalah rekan kerja. Kuteriakkan dalam hati bahwa cinta ini udah berakhir. Sudah cukup.

Senyumku melebar. Terlihat dingin tanpa perasaan. Untuk terakhir kalinya aku mengangguk pada diriku sendiri. Kemudian aku meninggalkan bayanganku dan menghampiri handuk. Kering. Kukeringkan semua air yang tersisa, kuanggap sedang menghapus semua jejak rasa yang kumiliki untuk Yesung. Di pintu kamar mandi kutatap tanganku yang masih bergetar ketika memegang gagang pintu. Untuk menenangkannya kuteruskan berkata dalam benakku bahwa Yesung hanyalah rekan kerja. Rekan kerja. Rekan kerja. Rekan kerja. Rekan kerja. Rekan kerja… Klik, kubuka pintu kamar mandi.

Aku melangkah keluar dan berhadapan dengan Yesung.

Kuamati wajahnya sambil menelan ludah. Kutelan semua rasaku dan terus kuulangi ‘rekan kerja’ bagai doa di benakku. Aku pun mencoba tersenyum padanya, “Sudah selesai?”

Berhasil.

Suaraku tenang, bulat dan datar. Berdasar pada itu aku semakin merasa bahwa aku sanggup mengenyahkan Yesung dari perasaanku.

Pria itu membalas senyumku, “Hampir,” jawabnya. Tanpa banyak bicara kami pun melanjutkan mengepak barang-barang.

Pukul 1 siang, semua udah selesai. Segera saja kami mengangkuti barang kami dan memasukkannya ke dalam mobil Yesung. Ternyata mobilnya jadi penuh. Yang tersisa hanya ruang untukku dan Yesung di jok depan. Ga ada tempat untuk kameramen. Kami berempat lalu berdiskusi dan memperoleh kesepakatan bahwa karena toh biasanya proses kepindahan ga ditayangkan, maka kesempatan itu bisa digunakan oleh kami semua untuk dengan leluasa mengembalikan barang ke tempat masing-masing, termasuk para kameramen.

Aku akan pergi dengan Yesung, sementara kameramen-kameramen kami akan mengurus barang mereka dengan cara mereka sendiri. Kami sepakat untuk berkumpul lagi di rumah sebelum pukul 6. Waktu yang cukup panjang, kurasa.

Aku dan Yesung lalu mandi bergantian dan pergi meninggalkan rumah dengan kedua kameramen di dalamnya. Mereka masih harus membereskan sedikit barang mereka.

Di pangkuanku ada akuarium Dangkoma. Kusentuh kepalanya lembut. “Dangkoma sayang, kita sebentar lagi berpisah. Kamu baik-baik dengan tuanmu ya,” kataku dalam Bahasa Indonesia.

Yesung memandangiku, “Apa yang kamu bicarakan dengan Dangkoma?”

Aku tersenyum padanya, “Aku bilang, Dangkoma Sayang. Jangan lupakan aku ya.”

“Kamu juga manggil Dangkoma pake ‘sayang’?”

“Kenapa? Aku juga sayang sama dia. Makanya aku panggil dia sayang.”

“Jadi sayang itu bisa buat siapa aja?”

“Ya. Karena itu adalah rasa.”

Dia tersenyum miring, “Jadi sebentar lagi kamu bisa panggil Sungmin dengan panggilan sayang.” Itu adalah pernyataan, bukan pertanyaan.

Aku memandangnya. Kujawab dengan datar, “Kepedulianku pada Sungmin ga sebesar itu sampai bisa dibilang sayang.”

Dia mendengus, “Ya, tapi cukup besar untuk saling pelukan diam-diam di tempat sepi.”

Aku menghela nafas. “Itu bukan diam-diam. Kami…”

Dia menoleh cepat ke arahku. “Berarti kalian emang berpelukan!” desisnya marah. “Kalian bahkan ga peduli untuk melakukannya terang-terangan!”

Aku terbelalak menatapnya.

Rekan kerja. Aku hanya harus mengingat itu. “Kamu ga perlu marah begitu kan? Emangnya apa hak kamu?” aku menjawabnya datar.

“Aku suamimu…”

“Dalam show!” potongku cepat dengan nada tertahan.

“Tetap saja aku masih suamimu!” dia akhirnya berteriak.

“Jangan berteriak di depan Dangkoma!” aku balas meneriakinya, lalu melanjutkan dengan lebih pelan, “Kura-kura itu gampang stres.”

Yesung menatapku dan Dangkoma bergantian. Lalu berkonsentrasi kembali ke jalanan. Kami menempuh sisa perjalanan ke tempat Yesung dalam diam. Untunglah tempatnya ga jauh.

Kami memang memutuskan untuk ke asrama Suju dulu sebab tempatku lebih jauh. Sampai di sana kami bertemu Eunhyuk yang juga sedang mengembalikan barangnya. Ga ada lagi yang lain. Sepertinya yang lain ga akan mengangkut barang mereka kembali hari ini. Eunhyuk membantu kami mengangkati barang. Aku meletakkan Dangkoma di kamar Yesung.

Di sana kami ga banyak bicara. Yesung terus merapikan barangnya sementara aku membantunya dalam diam. Tiba-tiba Eunhyuk bertanya, “Kalian lagi berantem ya?”

Gerakanku mengeluarkan plastik sepatu Yesung terhenti. Yesung menjawab untuk kami, “Kata siapa? Kami emang begini kalau ga ada kamera.”

Kutarik nafas lalu kulanjutkan mengeluarkan barang-barang Yesung dari kopernya. “Aku haus, aku ambil minum sendiri ya,” aku berkata tiba-tiba. Aku ga perlu jawaban. Kutinggalkan mereka berdua di dalam kamar. Aku butuh air untuk mendinginkan hatiku.

Aku sedang meminum minumanku ketika dari pintu depan terdengar suara orang ribut.

“Tapi aku melihatnya berciuman dengan Jongwoon Hyung! Jadi ga mungkin mereka ga ada apa-apa! Kamu masih mau menyukainya yang seperti itu?!” aku kenal suara itu tapi aku belum ingat itu suara siapa.

Lalu terdengarlah suara yang aku kenal baik. Suara Sungmin. “Aku emang menyukainya, tapi ga seperti yang kamu pikirkan. Kamu tadi itu dateng sebenernya buat ngebantuin aku apa buat marahin aku sih?!” dia terdengar sedikit kesal.

“Hyung!” ternyata itu Siwon. “Kalau ga menyukai dia seperti ‘itu’, kenapa kalian berpelukan mesra sekali kemaren malem?! Untung aja Jongwoon Hyung ga ada. Kalo ada aku ga bisa bayangin gimana perasaannya!”

“Ya! Ya! Udah kubilang kan, ga ada yang namanya mesra-mesaraan!” nada Sungmin mulai meninggi.

Aku berputar untuk melihat mereka. Sepertinya mereka ga sadar ada orang di dapur. Badan Siwon memunggungi dapur sementara Sungmin kalah tinggi dari Siwon untuk bisa ngeliat aku. “Hyung! Pokoknya aku ga suka sama cewek itu. Dia itu mempermainkanmu dan Jongwwon Hyung! Murahan! Dia itu— Hyung…”

Ucapan Siwon terputus melihat Yesung berdiri di belakang Sungmin. Tatapannya sangat tajam ke arah Siwon. Tapi mulutnya tersenyum. “Ya, Siwon-a. Dia itu bukan cewek murahan. Dia itu benar-benar menyukai Sungmin. Aku dan dia sama-sama bertahan cuman sampai show ini selesai. Untunglah itu tinggal besok.” Yesung bicara dengan nada datar.

Plek, kuletakkan gelasku di suatu tempat, entah tempat apa aku ga memperhatikan. Itu ga penting. Yang penting sekarang, bagaimana bisa dia mengira aku menyukai Sungmin?! Apa aku ga cukup nunjukin rasaku ke dia? Apa dia ga ngeliat semua pandanganku yang penuh cinta untuknya? Apa itu artinya fotoku tadi, dengan wajah memancarkan rasa cinta, hanya aku yang melihatnya?

“Noona…” Sungmin memanggilku. Aku menoleh menatapnya. Dalam kegundahanku aku masih bisa merasakan tatapan Yesung padaku. Kupandangi silih berganti Yesung, Eunhyuk, Siwon dan Sungmin. Entah darimana ada suara tawa yang muncul. “Haha, rupanya kesalahpahamannya besar juga,” rupanya itu suaraku. “Hahaa, itu semua kan cuman show. Cuman kerjaan, Siwon ssi. Masa kamu pikir itu beneran?”

Yesung tampak seperti habis ditampar. Sungmin memandangku dengan kasihan. Siwon dan Eunhyuk terlihat bingung. “Noona, jangan…” Sungmin berusaha bicara, tapi dipotong oleh Yesung.

“Ne! Itu bener. Semua ini cuman show. Ayo Bee ssi, kita masih harus mengantarkan barang-barangmu.”

Kuraih gelasku, meminum habis semua isinya, lalu dengan asal kuletakkan lagi. Kuikuti Yesung keluar. “Ah, maaf,” aku berseru di pintu. “Aku meninggalkan gelas kotor,” lanjutku sambil menutup pintu apartemen.

Di lift, aku dan Yesung berdiri berjauhan. Ga satupun dari kami berbicara. Demikian juga di mobil. Hanya beberapa kali Yesung menanyakan arah padaku. Selebihnya kami diam. Hatiku hancur. Aku harus ngomong apa lagi? Yesung hanya bekerja. Hanya bekerja.

Sampai di tempatku, kami masih saling berdiam diri. Dia membantu membawakan barang-barang ke tempatku yang terletak di atap rumah induk semangku. Untunglah rumah itu sepi, mungkin mereka semua lagi jalan-jalan karena ini hari Sabtu, jadi ga ada yang ngeliat Yesung.

Aku berkata padanya bahwa aku perlu waktu sebentar untuk membereskan barang-barangku, jadi kalau dia mau pergi ga papa. Aku bisa pulang sendiri nantinya.

Dia mengatakan bahwa dia akan menungguku. Sebenarnya setengah hatiku berharap dia pergi agar aku ga perlu melihat sosoknya di tempat ini karena pasti aku akan mengingatnya sampai lama. Tapi setengah hatiku lagi merasa tenang dengan keberadaannya memikirkan bahwa dia masih belum pergi. Masih di sisiku saat ini. Ah, susah banget sih rasanya berpegang teguh untuk menganggap dia hanya rekan kerja?

Dia menunggu aku beberes di ruang tamuku yang merangkap ruang segala aktivitas. Meski sangat nyaman, harus kuakui tempat ini sama sekali ga menjamin privasi. Untungnya aku memiliki kamar tidur yang terlindung dari pintu depan. Di sanalah aku merapikan bajuku asal-asalan. Yang penting masuk.

Tiba-tiba Yesung menanyaiku, “Jadi apa rencanamu setelah ini?” dia udah berdiri di pintu kamar tidurku. Nada suaranya datar saja, maka aku pun berpaling kembali ke pekerjaanku dan hanya menjawabnya dengan datar.

“Kembali kerja dan malas-malasan kalau libur.”

“Hehe, ga perlu ngurus suami lagi ya?”

Aku ga menjawab. Kalau bisa memilih, aku akan menjalani apa yang ditanyakannya dibandingkan malas-malasan saat libur.

“Maksudku tadi, rencanamu dan Sungmin…”

Brak! Cukup! Kulemparkan bajuku dengan asal ke dalam lemari. “Bisa ga sih, kamu ga usah ngungkit-ungkit Sungmin lagi?!” aku berseru kesal padanya.

Dia diam saja, membuatku menoleh. Aku kaget melihat wajahnya yang sedih. “Kenapa? Kamu bahkan ga mau curhat ke aku tentang itu? Menganggapku teman pun kamu ga mau?” tanyanya.

Teman? Aku ga akan pernah bisa menganggapnya teman! Aku heran ya sama dia, ga bisa ya ga bikin hatiku sakit? Saking kesalnya kuambil baju-baju yang masih di dalam koper dan kulemparkan padanya. Kulempari dia dengan semua barang-barang yang mampu kuraih.

Dia hanya menghindar. Tatapannya memelas ke arahku. Aku mendesis marah, “Kamu ga akan pernah bisa jadi temanku!” kubasahi bibirku yang kering dan terasa asin. Sial aku nangis lagi!

Dia mendekat padaku, “Kenapa?”

“Karena kita hanya kenal selama dua minggu!”

“Itu ga cukup untuk jadi teman?”

“Jangan minta yang berlebihan!”

“Lalu aku ini apa?” nadanya miris sekali.

Bibirku gemetar. Aku ga mampu menjawab. Kamu itu cintaku.

“Kamu bener-bener ga menyukai aku? Segitu bencinya sampai menjawab pertanyaanku pun membuatmu kesal begini?” Yesung bertanya padaku. “Air mata ini air mata apa?” lanjutnya. “Tolonglah Sayang. Jelaskan padaku. Aku ini apa untuk kamu? Aku ga ngerti. Kamu begitu perhatian sama aku, mungkin itu untuk kerjaan. Tapi ciuman-ciuman kita, semua itu off record! Itu apa? Apa artinya?!”

“Aku udah pernah salah ngira kamu menyukaiku. Kamu menyadarkanku bahwa itu cuma kerjaan waktu tadi kamu membela diri di depan Siwon. Aku juga ngira kamu suka Sungmin, tapi aku ga bisa lupa bahwa kamu pernah bilang ga ada apa-apa antara kamu dan dia. Dalam hatiku aku lebih mau percaya itu daripada apa yang kulihat kemarin malam. Sekarang aku menawarkan pertemanan denganmu, kamu malah mati-matian menolak tawaranku sampai begini. Jadi aku ini apa? Kamu ga benci aku, kamu ga suka aku, aku ga berarti apa-apa untukmu?” Yesung bicara panjang lebar. Tatapan matanya pedih sekali.

“Semoga kamu percaya ini. Sewaktu aku bilang aku suamimu, dalam hatiku kamu benar-benar sudah jadi istriku. Saat tanganmu menyentuh punggungku di hari pertama kita bertemu, aku tahu, hidupku udah dilengkapi dengan hadirnya kamu. Meski mendadak, meski tanpa peringatan, kamu udah ada di sana, dan aku bahagia.

“Sewaktu kamu menyiapkan makanan di rumah orang tuaku, kamu tahu apa yang ayahku bisikkan padaku? Dia bilang bahwa dia mendukung pilihanku. Bahkan orang tuaku pun bisa melihat betapa bahagianya aku bersamamu. Apa kamu ga sadar sama sekali?” mata Yesung berkaca-kaca.

Air mataku mengalir makin deras. Apa itu artinya dia menginginkanku sama seperti aku menginginkannya? Lantas aku harus bagaimana? Aku ga mungkin menjadi miliknya sama seperti aku ga mungkin memilikinya. Prinsip hidup kami sangat berbeda. Kalaupun aku menyerah sekarang, akhirnya kami hanya akan berpisah. Hanya satu hal yang aku ga tahu, mana yang akan lebih menyakitkan, berpisah saat ini atau nanti. Keduanya sama artinya dengan membunuhku, jadi aku ga mau tahu.

Melihatku yang setengah mati ga mau menatapnya, dia mendesah. “Baiklah, aku ga akan mendesakmu. Aku akan menunggumu di depan. Aku sudah pernah mengatakannya padamu, dan akan kukatakan lagi. Saranghae. Bukan di depan kamera, bukan karena cemburu. Saranghe karena memang hanya kamu yang melengkapi hidupku.”

Setelah mengatakan itu dia berbalik hendak keluar dari kamarku. Dia pernah mengatakannya? Kapan? Kenapa aku ga menyadarinya? Rasa sakit di hatiku mulai turun ke lambungku. Menyayat. Rasanya perih sekali. Seperti ada yang merobek-robek tubuhku dari dalam hingga aku tak kuat lagi. Semuanya pun berubah gelap.

Kubuka mata dan kurasakan perih yang amat sangat di perutku. Aku merintih. Dalam sedetik satu tangan Yesung menggenggam tanganku sementara tangan yang lainnya memasukkan obat dalam mulutku agar kukunyah. Obat itu terus kukunyah sambil menahan sakit. Kini Yesung mengelus-elus kepala dan perutku sambil membisikkan kata-kata lembut di telingaku.

Kupejamkan mata menikmati bisikannya. Ga terasa aku terlelap.

Kubuka mata dan merasa ada sesuatu yang berat membebani dada dan kakiku. Aku menoleh ke kiri. Di sana Yesung sedang tertidur miring menghadapku. Tangan dan kaki kirinya menindihku. Jam berapa ini? Berapa lama aku tertidur? Kulirik jam tangannya, ternyata sudah pukul 4 sore.

Aku memperhatikan wajah tidurnya. Ya Tuhan, aku sangat mencintainya. Apa yang harus kulakukan? Kutelusuri tangannya yang memelukku. Terus kutelusuri sampai aku menyentuh wajahnya, membuat dia terbangun. Tapi dia ga membuka matanya. Jadi kuteruskan penelusuranku. Ke rahangnya, ke telinganya, garis rambutnya. Tiba-tiba dia berbicara, “Aku merasakan cinta dalam sentuhanmu. Apa itu cuman perasaanku, atau benar adanya?” sebutir air mata menetes dari matanya yang terpejam.

“Saranghae,” aku berbisik. Aku ga kuat lagi. Aku emang sangat mencintainya. Mustahil kupendam sendiri rasa ini.

Dia membuka mata menatapku. Aku ingin menangis, tapi mataku tetap kering. Akhirnya aku bergerak menuju bibirnya, kukecup lembut. Dia menyelanya dengan bisikan, “Saranghae.”

Aku menciumnya lagi. Dia hanya membalas dengan mulutnya. Tangannya tetap pasif di atas tubuhku. Kumiringkan tubuhku ke arahnya, barulah dia bereaksi. Didekapnya aku erat hingga menempel ke dadanya. Telapak tangannya mengelus punggungku, sementara tanganku membelai pipinya. “Aku mencintaimu,” kataku dalam bahasa Indonesia.

Tanpa melepaskan bibir dia bertanya, “Apa artinya?”

“Saranghae,” bisikku.

“Bagaimana mengucapkannya?” tanyanya lagi.

“Nanti saja. Sekarang ini cukup dengan ‘saranghae’.”

Dia menatapku. “I love you,” ujarnya, membuatku tersenyum.

Ich liebe dich,” balasku.

Dia bangun dengan gemas dan menindihku. “Itu bahasa apa lagi?”

Aku tertawa, “Jerman.”

“Kamu ga adil,” dia menempelkan bibirnya ke bibirku sambil tertawa.

“Nan dangshineul sayanghae,” kataku lagi.

Dia tersenyum mengecup sudut mulutku. “Korea-Indonesia?” tanyanya sambil melepas kancing kemejaku.

Aku merangkulkan tanganku ke lehernya. “Oh.”

Dia bangkit dan mendudukiku. Tangannya terus berkutat dengan kancingku. Pandangannya menatapku bertanya. Aku tahu pertanyaannya, apakah kami akan melakukannya atau ga. Tapi aku belum ingin menjawabnya. Aku menginginkannya. Aku akan bertahan sampai batas akhir yang mampu aku tahan. Pemikiran bahwa kami ga mungkin bersatu membuat air mataku mengalir.

Yesung melihatnya dan menghentikan gerakannya. “Ssh, kita ga akan melakukannya kecuali kamu mau,” ujarnya kembali memelukku.

Mungkinkah di dunia ini ada lelaki selembut Yesung? Ketika hal itu terpikirkan, aku merasa bersalah padanya, sekaligus merindunya. Maka kupeluk dia dengan segenap perasaan. “Maaf Sayang, aku ga bisa melakukannya sebelum menikah,” kataku. Dan aku ga bisa menikah denganmu, seru hatiku putus asa. Tidak selama kita masih berbeda. “Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku,” tangisku malah semakin keras ketika memikirkannya.

“Ssst. Oke, oke. Aku ga keberatan. Malah aku seneng. Apa itu artinya kamu masih perawan?”

“Mungkin enggak,” jawabanku membuat tubuhnya menegang. Pelan dilepaskannya pelukan dan ditatapnya aku.

“Jadi…” tanyanya. Aku tahu dia hendak bertanya apa. Sama siapa? Kenapa orang itu boleh sementara dia ga boleh? Jadi aku potong pertanyaannya.

“Gara-gara tampon.”

Wajahnya menegang, lalu sebentuk senyum terbit di wajahnya. Tangannya menyusuri tubuhku. Di bawah sana dia menekan pangkal pahaku dan bertanya, “Maksudku yang manusia,”

Tekanan tangannya membuatku menggeliat. Kusembunyikan wajahku di lehernya. Aku berbisik, “Tanganmu yang pertama.”

Sesaat kupikir dia akan meneruskan gerakan tangannya, tapi kemudian dia memindahkan tangannya ke dadaku. “Setelah menikah, kan?” desahnya membuatku hampir menangis terharu karena pengertiannya.

Aku terdiam mendengarkan suara nafas Yesung yang teratur. Kepalaku menempel di dadanya, merasakan kehangatannya. Sebelah tangannya merangkul bahuku sementara tangannya yang lain terus membelai tanganku yang memeluk pinggangnya.

Kami berciuman lama sekali tadi. Melepas semua halangan yang ada di antara kami. Akhirnya kami tahu bahwa kami sama-sama saling mencintai. Semua terjadi begitu saja walau ga bisa dibilang juga tanpa firasat. Bagiku, sebenarnya mungkin aku udah tahu bahwa aku akan mencintainya sejak bayangan Yesung muncul di benakku ketika pertama banget aku diwawancarai mendadak di depan RS tiga bulan yang lalu. Sementara Yesung tadi mengatakan bahwa dia langsung tahu ketika tanganku menyentuh punggungnya di hari siaran pertama kami.

Aku ga mau memikirkan lebih jauh lagi. Rencana Tuhan terlalu rumit bagiku. Aku pun takut jika kupikirkan terus, pikiranku akan berakhir dengan perpisahan. Saat ini kami berdua baru saja mengakui kalau kami saling mencintai satu sama lain, aku ga mau kalau harus memikirkan perpisahan. Ga mau.

Kudengar Yesung tiba-tiba bergumam.

 

Aku tidak ingat kapan semua ini bermula. Tak tahu mengapa aku begini. Begitu panjangkah satu hari itu hingga aku tak tahu kapan ia berakhir? Bagaimana mungkin pagi sudah datang lagi? Aku tak tahu.

 

Itu lagu kami, Han Sarammaneul. Dia terus menyanyikannya sambil bergumam.

 

Aku tak mampu berbuat apapun, hanya mampu memandang waktu yang bergerak lambat. Dimana dirimu? Apa yang sedang kau lakukan? Aku hanya dapat memikirkanmu seorang.

 

Aku memejamkan mataku merasakan detak jantungnya, merasakan kontraksi perutnya ketika mengambil nafas. Membuatku menyadari betapa aku ga pengin jauh darinya saat ini. Kueratkan pelukanku, lalu ikut bergumam bersamanya.

 

Aku tahu tak boleh begini. Aku tahu tak boleh mencintaimu. Cintaku hanya akan membuatmu menderita. Aku tahu. Aku tahu itu.

Namun tak ada yang bisa kulakukan. Karena hanya kau yang kupikirkan. Saat mataku terpejam, ketika mereka terbuka. Hanya satu orang yang kupikirkan.

 

Yesung bergerak mengagetkanku. Dia menarikku ke atas hingga kepala kami kini berjejeran di atas bantalku. Dengan satu tangan dia meraba pipiku. Matanya menatapku dalam sekali. Mulutnya tetap menggumamkan lagu kami.

 

Satu ingatan yang tak pernah mampu kuhapus. Aku hanya mampu mengingatmu.

Tak mampu berbuat apapun bahkan saat tak melakukan apapun. Hanya mengamati waktu yang melambat. Dimana dirimu? Apa yang kau lakukan?

 

… Kenapa dia menangis? Mengapa air matanya mengalir? Aku ga tahu. Hatiku pedih melihatnya.

 

Karena aku hanya mampu memikirkan satu orang. Hanya mampu memikirkan satu orang itu…

 

Dia mengakhiri lagu kami. Air mata masih mengalir dari matanya. “Wae geurae?” aku berbisik. Entahlah, rasa-rasanya kalau aku bersuara dia bisa remuk.

Dia ga menjawab, hanya tangannya yang memelukku makin erat. Bibirnya memagut bibirku sesaat. Baru sesudahnya dia bicara, “Geunyang, saranghae. Karena mencintaimu, itu aja.”

Bisa kurasakan mataku melebar mendengar jawabannya.

“Menyadari seberapa besar aku mencintaimu, air mata ini ngalir sendiri. Aku takut sekaligus sangat bahagia. Aku baru tahu ada rasa begini di dunia,” dia melanjutkan.

Akh, wajahnya mengabur dari pandanganku. Aku ingin berkata padanya bahwa aku juga mencintainya, tapi saat ini mulutku seolah terkunci.

“Saat sesi foto kita dulu, aku merasa kamu emang milikku. Bahkan aku ga sadar kalau kita sedang pemotretan,” dia berkata lagi. “Aku benci melihat wajahmu memerah ketika Sungmin tersenyum. Aku bahkan ketakutan Sungmin akan mencurimu dariku tadi malam waktu kamu bilang dia yang akan mengantarmu pulang. Aku ga mau kehilanganmu.”

Aku terpana. Benarkah dia merasakan semua itu? Kenapa aku ga pernah tahu? Ah, aku bodoh sekali. Harusnya aku bisa menyadarinya.

Yesung mendesakkan wajahnya di leherku. “Aku mohon,” bisiknya sambil makin memelukku erat, kini tubuhku menempel ketat di tubuhnya, “Jangan lihat Sungmin. Atau Kyuhyun. Atau yang lain. Lihat aku aja. Jangan isi pandanganmu dengan yang lain. Karena aku ga bisa kalau kamu ga ngelihat aku.”

Kata-katanya berhasil meruntuhkan pertahananku. Air mataku kini ikut mengalir. Kutelusuri jemariku dalam rambutnya. Kukecup puncak kepalanya. “Aku hanya melihatmu. Hanya melihatmu…” aku ga tahu harus mengatakan apa, terlalu banyak perasaan bercampur saat ini.

“Bener?” dia mendongak. “Ga kaya mataku, matamu itu besar. Bagaimana kalau ada orang lain di sana?” Sekarang matanya telah kering dan sorot matanya padaku setengah ragu, setengah menggoda.

Mau ga mau aku tersenyum. “Sebesar ini untukmu semua,” jawabku. “Masa kamu ga bisa ngeliat?”

“Tutup matamu,” perintahnya.

Meski heran, aku menurutinya. Lalu dia mengecup kedua kelopak mataku. “Ini milikku?” tanyanya.

Lagi-lagi aku dibuatnya tersenyum. Kuanggukkan kepalaku menjawabnya.

Tangan Yesung bergerak ke leherku lantas dia mencium bibirku. Ciuman paling lembut dari semua ciuman yang pernah kami lakukan. “Ini juga milikku?” dia bertanya lagi setelah melepaskan bibirku.

Aku ingin memberinya kepastian, maka kubuka mataku, “Ya,” jawabku tegas sambil menatap matanya dalam.

“Ajari aku,” pintanya.

“Apa?” tanyaku.

“Bilang saranghae dalam bahasa Indonesia.”

Kukecup bibirnya singkat. “Ng, aku mencintaimu,” kataku dalam bahasa Indonesia.

“Aku mwo?”

“Aku,”

“Aku,” dia meniruku.

“Men-“

“Men?”

“Cinta-“

“Chintha?”

“Oh. I-“

“I,”

“Mu,” aku menekan dadanya dengan telunjukku.

“Mu,” dia ikut menunjuk dirinya sendiri.

“Ani,” kataku mengoreksi. “Nan : aku. Neo : mu. Nan neo saranghae : aku saranghae-mu.”

“Mwo?!” dia tampak bingung.

Aaagh, masa lagi enak-enak pelukan mesti berubah jadi kelas bahasa sih?! Aku bangun dan duduk. “Sarang itu cinta,” kataku.

Dia bangun mengikutiku. “Chintha?”

Aku mengangguk. “Nan itu aku. Na-ya, aku,” kataku menunjuk diri sendiri. Yesung mengangguk melihatnya. “Neoneun, kamu,” kutunjuk dia. “Kamu, mu.”

“Geureom, aku kamu chintha?” dia merangkai sendiri kalimatnya.

Aku tergelak. Lalu menggeleng. “Ani. Aku cinta kamu. I love you.”

“Ah! Sama kaya bahasa Inggris ya?”

“Ng, hampir.”

Dia tersenyum lebar. “Aku chintha kamu!” serunya sambil merentangkan kedua tangan.

“Na do,” aku membalasnya dengan senyum lebar juga. Lalu aku bergerak memeluknya, “Saranghae!”

Sebentar dia membalas pelukanku. Lalu bergerak menciumku lagi. Ga lama, dia melepaskan ciumannya, “Ah, aku pengin segera menikahimu.”

Aku tahu apa maksudnya. “Mian,” kataku muram.

Dia menyadari kemuramanku, lalu segera berkata, “Gwenchanha. Saat ini aku akan menikmati wajah cantikmu dulu.”

Aku mendengus. “Dulu kamu bilang aku ga cantik!” protesku.

“Waktu itu aku hanya ga mau mengakuinya, padahal di mataku kamu luar biasa cantik,” jawabnya.

“Ciss. Gombal.”

“Jinjjareo,” dia meyakinkanku sambil mengambil HPnya. “Di sini kamu cantik banget,” katanya menunjukkan fotoku tadi. Foto saat dia mengambilku duduk di bawah, dengan penuh cinta menatapnya. “Padahal kamu ga pake make-up.”

Aku teringat bagaimana dia tadi ga mau mengakui bahwa aku cantik, dan malah mengatakan bahwa teknologilah yang berperan. Hal itu membuatku tersenyum. “Itu karena yang motret kamu,” kataku tersipu.

Awalnya dia ga menyadari kata-kataku. Setelah dia memahami maksudku, senyumnya makin lebar dan dia memelukku lagi. “Ayo kita ambil foto kita bersama!” usulnya.

Aku mengangguk setuju. Akhirnya kami malah asyik foto-foto. Pose ini, pose itu, peluk sini, peluk sana, cipika-cipiki. “Aku mau dong,” kataku meminta agar dia mentransfer foto-foto itu ke HPku.

Tanpa menunggu jawabannya aku mencari-cari HPku. Setelah ketemu kuserahkan padanya agar dia mentransfer foto-foto kami tadi. Aku juga memintanya mentransfer fotoku yang memandangnya penuh cinta. Saat itulah ada sms masuk.

Dari Sungmin. Tentu saja Yesung melihatnya. Takut-takut kulihat dia. Dia tampak kesal. “Buka aja, aku pengin liat,” katanya menyuruhku.

Ragu-ragu aku buka smsnya, ‘Noona gwenchanha? Mianhe, Noona. Aku udah ngurus kesalahpahaman Siwon, jadi Noona ga perlu khawatir. Nanti malam bagaimana?”

Yesung menatapku dengan pandangan mematikan. “Ada apa nanti malem?”

Aku letakkan HPku. Kurangkum wajahnya dengan kedua tanganku, “Sayang, PD-nim meminta tolong padaku dan Sungmin untuk mengurus sesuatu. Dan dia minta agar hanya kami berdua yang tahu…”

“Bahkan kameramen ga tahu?” dia memotong penjelasanku.

“Kameramen tahu, tapi diminta untuk tutup mulut oleh PD-nim. Jadi antara aku dan Sungmin emang ga ada apa-apa kecuali permintaan PD-nim. Kamu mau percaya?”

“Susah. Abisnya kalian malem-malem peluk-pelukan berdua. Abis itu Siwon juga bilang liat kalian pelukan.”

“Waktu kamu liat kami, kami ga lagi pelukan. Itu kami lagi memperhatikan proyek kami. Waktu Siwon ngeliat kami, itu waktu Sungmin lagi nenangin aku yang nangis karena sedih banget hampir pisah sama kamu,” jelasku sabar.

Aku melanjutkan lagi, “Sungminlah satu-satunya yang tahu perasaanku ke kamu. Dia hanya mencoba menghibur aku.”

“Kamu cerita perasaanmu ke Sungmin tapi ga ke aku?!” Yesung ga terima.

“Aku ga cerita. Dia menebaknya sendiri sejak awal. Kalau bukan dia yang mengatakannya mungkin aku ga akan pernah sadar kalau aku udah jatuh cinta sama kamu,” aku menempelkan dahiku ke dahinya.

Dia menatapku lama. “Aku mau bukti,” katanya masih belum menyerah.

Aku membuka mulutku dan langsung menciumnya. Dia ga kuberi kesempatan membalas. Ciumanku itu panas, seduktif, agresif, bahkan membuatku mulai menginginkan lebih. Kuhentikan ciumanku dengan lembut, kutatap matanya dalam-dalam, “Ciuman itu cuman punyamu,” kataku.

Entah kenapa wajahnya memerah. “Arasseo.”

Aku tersenyum penuh kemenangan. “Sekarang aku akan menelepon Sungmin.”

Matanya menggelap lagi. “Untuk apa? Sms aja lah,” protesnya.

“Kalau sms kamu ga bisa denger kata-kataku kan? Biar kamu denger sendiri apa yang kukatakan pada Sungmin.”

Yesung tampak ga punya kata-kata untuk membantah. Aku mengangguk memujinya lalu kutekan nomor Sungmin. “Yoboseyo, Sungmin-a… Ne, nan gwenchanha. … Ya, kami udah baikan… mmmuahhh…” Yesung tiba-tiba menciumku kuat sekali di tengah percakapanku dengan Sungmin.

“Ya!” aku memprotesnya. Tapi sepertinya Yesung ga peduli. Dia malah berbicara keras-keras ke arah telepon, “Kamu denger Sungmin-a? Dia itu Noona-mu! Istri Hyung-mu! Jangan menggodanya, arasseo?!”

Aku menatap Yesung kesal dan jadi malu banget waktu mendengar tawa Sungmin di seberang telepon.

“ARASSEO, HYUNG!” Sungmin berseru keras-keras memekakkan telingaku.

“Ya, Sungmin-a! kamu mau bikin aku budeg ya?” aku menegurnya. Dari belakang, Yesung memaksa ikut mendengarkan sambil memelukku. Dia terus menggangguku dengan menggoda leherku.

“Mian, Noona. Hehehe. Chukkae,” dia mengucapkan selamat padaku.

Aku tahu untuk apa, tapi aku pura-pura ga ngerti. Tengsin dong ah. “Ani— Akh!” aku berteriak karena Yesung menggigit leherku. Aku melotot padanya lalu berteriak, “YA KIM JONGWOON! DIAM ATAU KAMU GA BOLEH MENDENGARKAN LAGI!”

Yesung menantangku, “Wae ani? Wae? Dia mengucapkan selamat pada kita—“

“Padaku!” potongku.

“Pada KITA! Kenapa kamu bilang ga?! Kenapa harus ditutup-tutupi? Katamu dia udah tau?!” dengan konyolnya suamiku itu bersikap keras kepala.

“Geurae! Geurae! Geurae! Jadi kamu mau aku ngomong apa?! Urusanku sama dia aja belum selese, kamu maunya nyerobot aja!”

“Urusan kita lebih penting. Bilang padanya kamu milikku sekarang!”

“Kan tadi kamu udah bilang? Kenapa aku harus bilang juga?”

“Aku mau denger kamu yang ngomong!”

“Ga efisien!”

“Ga peduli!”

“Tukang pamer!”

“Emang!”

… “NOONA!” terdengar teriakan Sungmin dari HP. Buru-buru kuletakkan lagi HPku di telinga.

“Oh, Sungmin-a. Jeongmal mianhe, Yesung terus berteriak menggangguku.” Orang yang sedang kubicarakan pindah ke hadapanku sambil memandangku mengancam ‘katakan atau kau akan rasakan gangguanku’, kira-kira begitu arti ancamannya.

Aku mendelik sementara Sungmin tertawa, “Ne, aku udah dengar semuanya. Kalian terus berteriak-teriak kaya orang gila, mana mungkin aku ga dengar.”

Aku berteriak kaget ketika Yesung menjatuhkanku ke kasur dan mulai menggelitiki pinggangku. “Noona, wae? Hyung mengganggumu lagi? Apa kita tunda saja bicaranya?”

Aku menggigit bibir bawahku menahan geli lalu mengangkat tangan tanda menyerah ke arah Yesung, “Arasseo, akan kukatakan,” jawabku tanpa suara.

“Noona?” Sungmin terus memanggilku.

“N, ne, Sungmin-a,” suaraku tercekat. Tangan Yesung udah berjaga di pinggangku, siap menggelitikiku sekali lagi kalau aku ga menuruti permintaannya.

Melihatku belum mengatakan apapun, dia mulai menggerakkan jemarinya pelan. “Arasseo!” akhirnya seruanku terdengar juga. “Sungmin-a! A, ada yang mau kukatakan.”

“Ne, Noona. Marebwa.”

“Aku,” Yesung memandangiku penuh penantian. Dan penuh ancaman. “Aku,” mukaku memerah. Ciss, ini memalukan sekali.

Sungmin mulai tertawa di ujung sana. Rupanya dia mulai mengerti apa yang terjadi padaku. Kayaknya dia emang ada bakat jadi cenayang. “Noona kenapa? Noona sakit?” Cenayang sialan lebih tepatnya, pikirku mendengar nada suaranya yang dibuat-buat. Kentara sekali dia sedang mengikuti jejak Yesung mempermainkan aku.

Kutelan ludah, “Aku, aku ini istri Yesung,” kataku akhirnya mengambil jalan aman. Sebab selama ini aku emang udah jadi istri Yesung, kan?

“Ah… Ne… Tentu saja,” Sungmin terdengar sedikit kecewa.

Yesung? Pria sialan itu dengan cepat meraih telapak kakiku dan menggelitikinya dengan sadis. “Bilang padanya kau milikku,” ancamnya ga mempedulikan rontaanku.

“Ssireo!” tolakku tanpa suara yang direspon oleh Yesung dengan peningkatan aktivitas jarinya di kakiku. Bibirku gemetar menahan geli.

“Sung, Sungmin…~aah…” aku menurutinya sambil kegelian.

“Ya!” Akhirnya Yesung berteriak kesal. “Apa maksud nada bicaramu itu, hah?”

“Arasseo,” sahutku lemah. “Tanganmu… “ pintaku padanya agar menyingkirkan jarinya dari kakiku.

Sungmin terkekeh geli di ujung telepon.

Aku mencoba lagi, “Sung, Sungmin-a,”

“Ne, Noona. Ada lagi yang mau kau katakan?” sialan kau Sungmin!

“N, ne. Aku, aku, aku ini milik Yesung.” Aku langsung menyembunyikan mukaku di bantal setelah mengucapkannya. Seolah aku bisa menghapus ucapanku barusan. Yesung dengan puas mendekapku, sementara aku mendengar ledakan tawa Sungmin di telepon. Member Suju emang gila semua! Hobinya mempermainkan orang.

Perlahan Yesung menarik HP dari tanganku, lalu mengaktifkan mode loudspeaker. Sungmin masih tertawa-tawa. Setelah tawanya mereda dia lalu ngomong lagi. “Ya, Hyung! Apa yang kau lakukan pada Noonaku, hah?! Jangan menyiksanya begitu! Nanti dia tambah manis lho!”

“Ya! Ya! Ya! Jaga ucapanmu ya imma!”

“Arasseo!” Sungmin berseru dan hampir ga bisa menahan tawanya lagi. Untung dia bisa. “Pokoknya Noona, aku tau kau mendengarku. Aku akan mendatangimu di rumah kalian saja nanti, saat Hyung siaran. Biar kita bisa berduaan. Geuneo!” klik. Telepon terputus.

“Eiiissh, apa maksudnya?! Minta dihajar ini bocah!” Yesung meletakkan HPku dengan kasar di kasur. Namun saat berpaling padaku, senyum yadong udah kembali di wajahnya. “Sampai dimana kita tadi?” tanyanya mesum padaku.

Aku memutuskan untuk balas dendam. Kuparau-paraukan suaraku, tanganku kususurkan ke bawah ke arah perutnya. Aku tahu dia juga ga tahan geli di pinggang. “Mmmm, dari tadi aku pengin melakukan ini…” pelan tanganku mengelus perutnya. Lalu dengan cepat kucubit perutnya keras. “Ini! Nih! Nih! Rasakan! Ini akibatnya udah mempermainkanku!” aku membalasnya dengan membabi buta. Kucubiti perut dan pinggangnya.

Dia kelojotan kaya cacing kepanasan menghadapi seranganku. Dia berteriak-teriak minta ampun. Tapi aku ga mau mendengarkan. Kami terus bergulat seperti itu sampai beberapa saat.

Saat kami menyadari bahwa langit udah mulai gelap, baru akhirnya kami sepakat untuk berhenti dan mulai beberes. Meski begitu, kegiatan beberes tetap ga berlalu tanpa kami saling menggoda. Pokoknya sore itu rumahku yang biasanya sepi dan tenang dalam sekejap berubah rame banget.

Ah, sore yang indah sekali.

 

 

D13-KKEUT.

*bird view: sudut pandang atas/angle tinggi.

 

16 thoughts on “[Freelance] The Marriage and Us {Day 13/Skip Version}

  1. wah salut ma Bee,
    biarpun udah k’bwa napsu ma yesung,teteup dia prthnin k’perawananx.
    Trus untung yesungx jga ngrti,n gk mmprmslhknx,dia jga bngga pnya yeoja kyak bee.
    Ah salut ma authorx yg udah bkin ne ff.
    Keren.

  2. ONNIE… FF-mu smakin keren ajjah…daebak…
    hwaiting onnie… ditunggu kelanjutannya…
    4 thumbs 4 u.. hehe ^^

  3. hhha/……
    lucu bacanya thor …….
    pngen versi yadong nya dong..hhhe..
    kayak.y seru tuh…
    ni juga udah seru…hhha..
    haduh yesung…..cemburuan abis…..hha

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s