[Freelance] The Marriage and Us {Day 12}

Title : The Marriage and Us [Day 12]

Author : Bee

Main Cast : Yesung, Bee

Support Cast : all members of Super Junior and their wifes (?)

Rating : all ages (but kids, because they wouldn’t get it)

Genre : romance

Warning! : kissing scene PG-17

Ps : Mohon komennya ya.

Disclaim : biar kata terinspirasi dari WGM, alur cerita murni ide Bee. Oke? No plagiarism!
========================

 

Tok tok

Boy I hear you in my dreams

Ctek ctek

I feel your whisper across the sea

Ctek ctek

I keep you with me in my heart

Croosshh…

You make it easier when life gets hard

Aku menyanyikan Lucky sambil mengurusi sarapan. Yesung belum bangun dan lagi-lagi aku ga ngantor hari ini. Jadi aku berniat menjadi istri yang baik. Mengurus rumah, mengurus suami. Aku sedang menyiapkan sarapan, berusaha mengingat lauk yang disiapkan oleh Ibu Yesung waktu itu. Aku berusaha sebisanya dengan bahan seadanya. Jujur aja, bahan makanan kami udah menipis. Mungkin tinggal untuk dua kali makan, tapi toh kami ga akan lama lagi tinggal di sini.

Aku tersenyum, berusaha berkonsentrasi pada lirik sementara menunggu air panas untuk membuat teh matang. Aku agak bangga dengan diriku sendiri. Makin lama aku makin bisa menutupi sakit hatiku yang sebenarnya ketika mengingat hari perpisahan kami. Semoga di hari terakhir nanti aku bisa menjalaninya setegar mungkin.

“Mwo?!” Yesung keluar dari kamar menenteng laptopnya. Kepalanya ditutupi hoodie, matanya setengah rapat, tapi nada bicaranya keras. “Arasseo, akan aku lihat sekarang,” dia bicara lagi di telepon.

Dia menutup telepon lalu menyalakan laptopnya. Sambil menunggu laptopnya siap, dia pergi ke kamar mandi. Keluar dari kamar mandi dia udah sepenuhnya bangun dan segera menghampiri laptopnya.

Selama dia mengamati monitor laptopnya, aku memperhatikan ekspresinya berubah-ubah dari panik, marah, kesal, lalu lama-lama menjadi datar.

Air panasku matang, aku segera membuat teh untukku, dan kopi untuk Yesung. Setelah jadi, kubawa kedua cangkir kami ke arah sofa. Aku berjongkok di sampingnya, dengan kedua cangkir berisi minuman panas di depanku, asapnya mengepul di wajahku. “Selamat pagi,” ucapku padanya pelan sambil tersenyum.

Dia seperti kaget melihatku di sana.

“Kopi?”

“Oh,” hanya itu yang dikatakannya sambil mengambil cangkir kopi dari tanganku, lalu kembali lagi mengamati komputer.

Rupanya dia sedang online, dia membuka beberapa laman sekaligus. Twitternya, cyworldnya, serta beberapa situs lain yang semuanya memperlihatkan gambar-gambar Kyuhyun sedang berjalan sambil menggandeng Mina.

Aku ternganga dan ikut membaca komentar-komentar bernada menyakitkan dan mengancam yang menyertai foto-foto tersebut. Kebanyakan mengutuk Mina, meskipun ada beberapa yang bernada pasrah dan mendukung. Ada pula yang mengungkapkan sakit hatinya secara vulgar. Ada yang mengedit foto-foto Mina hingga dia nampak jelek sekali. Aku mendesah melihatnya.

Yesung memandangiku, lalu menutup monitornya. “Tenang aja, SME pasti bisa melakukan sesuatu tentang ini.”

Aku menatapnya polos, lalu tersenyum.

“Aku ga akan biarin apa-apa terjadi sama kamu,” katanya lagi.

Senyumku makin lebar. Aku mengangguk. “Kamu mau sarapan?” tanyaku dengan nada biasa.

Yesung memindahkan cangkir kopinya dari tangan kiri ke tangan kanan lalu menggunakan tangan kirinya tadi untuk mengelus kepalaku. “Emang kamu udah masak?” dia bertanya sambil tersenyum tipis.

“Udah.”

“Oke, biar aku bantu menyiapkan makanan. Kamu di sini aja. Duduk yang bener,” ujarnya sambil bangkit menyuruhku duduk.

“Wae?” aku protes.

“Kakimu masih sakit kan?” jawabnya singkat sambil beranjak ke dapur.

Akhirnya aku menurut dan duduk di sofa. Iseng-iseng kunyalakan tv. “Matikan, matikan,” seru Yesung dari dapur.

Aku menoleh padanya yang datang dengan mangkok-mangkok sayur. “Wae?”

“Kita mau sarapan, jangan nonton tv. Lagian pagi-pagi isinya pasti cuman berita. Jangan bikin perut susah mencerna gara-gara berita buruk.”

“Tapi kan ga semua berita buruk,” aku beralasan.

“Eish,” dia merebut remote control dari tanganku dan segera mematikan tv.

Aku hanya manyun memperhatikan punggungnya yang menuju dapur. Apa dia khawatir aku ngeliat berita-berita tentang Mina tadi?

“Jja! Ayo mulai makan!” dia kembali membawa dua mangkok nasi.

Aku meletakkan cangkir tehku dan menerima mangkok nasi darinya. Kami lalu mulai makan tanpa bicara. Aku memandanginya.

“Sayang,” panggilku akhirnya.

Dia menatapku.

“Selain jadwal wawancara kita nanti malem, acaramu hari ini apa?” tanyaku.

“Eobsseo. SUKIRA doang entar malem,” jawabnya dengan mulut penuh.

Aku mengangguk. “Aku juga kosong hari ini. Kita mengunjungi ibumu, bagaimana? Aku ingin berterima kasih padanya untuk sarapan yang dia buatkan untukku waktu itu.”

Dia menghentikan kunyahannya sesaat dan manatapku. “Kamu mau?” tanyanya.

Ciss, pertanyaan apa itu? Ya aku mau lah. “Ne, kenapa? Kamu ga mau?”

“Ani. Aku pikir kamu akan ngerasa canggung. Jadi aku ga pernah bawa kamu ketemu keluargaku.”

“Ya! Bagaimanapun juga mereka kan keluargamu. Walaupun aku ini orang yang baru kamu kenal, tapi kita udah tinggal serumah hampir dua minggu lho. Sebentar lagi juga kita udah mau pisah. Masa aku sama sekali ga ketemu keluargamu?! Menantu macam apa aku ini?” kataku panjang lebar.

Yesung meneruskan makan. “Geurae?”

“Geureo~m!”

“Iya ya, kita sebentar lagi udah mau pisah,” ujarnya.

Aku terdiam. Aku sedih. Pengumuman, aku sedih. Hahahahahaa! Sial!

“Iya,” kataku pelan. “Nanti malem kita mau milih rekaman terakhir untuk Shindong, kan? Kayaknya bakal bagus kalau ada rekaman tentang mengunjungi keluarga.”

“Baiklah,” katanya singkat.

Setelahnya kami kembali meneruskan makan dalam diam. “Eeissh, sayurnya ga ada rasanya!” kesalku.

Aku beranjak ke dapur mengambil garam. Kutambahkan banyak-banyak ke dalam sayurku. “Kamu mau tambah garam, Sayang?” tanyaku padanya.

“Ani, gwenchanha,” jawabnya.

“Padahal tadi udah aku cicipin lho. Ga tau kok rasanya jadi ga enak gini,” aku ngomel. Entah dari mana datangnya, rasa kesal seperti berputar-putar dalam hatiku.

“Aku udah ngebayangin bakal bikin sarapan yang lengkap kaya yang dibikinin ibumu, tapi kok ga bisa ya? Haha, aku ini emang bodoh!” kataku keras memukul dahiku sendiri.

Aku terlalu banyak bicara. Aku tahu. Tapi aku harus bagaimana lagi? Hatiku sakit banget. Aku yang ngungkit-ungkit perpisahan, tapi aku juga yang kesayat-sayat.

Akhirnya sarapan kami selesai juga. Aku menghabiskannya dengan banyak bacot, dan dengan susah payah menelan setiap suap. Sebaliknya Yesung menghabiskan dalam diam, tapi juga sepertinya susah untuk menelan.

Kami sepakat untuk pergi menjelang jam makan siang saja. Pagi ini kami akan membersihkan rumah. Yesung membersihkan kamar mandi, aku membersihkan lantai sambil memutar mesin cuci. Jarang-jarang kami menyalakan mesin cuci saat hari terang begini. Sambil bekerja, seperti biasa aku menyalakan iPod. Yesung ga keberatan.

Saat sedang sibuk begitu, bel berbunyi dan aku membukakan pintu. Ternyata kameramen kami yang tadi malam beristirahat. Pagi ini dia tampak lebih segar. Segera saja dia memulai pekerjaannya. Dia menyalakan kameranya dan mulai merekam kegiatan kami.

Pekerjaanku, pekerjaan Yesung, dan pekerjaan mesin cuci selesai bersamaan. Kami lalu menjemur pakaian bersama. Kami bekerja sambil tertawa-tawa. Yesung kemudian mengambil HPnya. “Kita harus ngambil foto!”

Aku tertawa mendengarnya.

“Jarang-jarang kan kita bisa santai begini. Ayo Sayang, sini,” ujarnya sambil menarikku dalam pelukannya.

Sekali ambil, lalu, “Tunggu! Aku juga mau!” seruku berlari mengambil HP. Kami lalu asyik pose-pose geje. Di setiap ruangan, di setiap sudut, dengan gaya-gaya sesuka kami.

Aku tertawa, tersenyum, tapi aku ga sadar. Aku melakukan semua itu dengan linglung. Mendadak aku benci pada teknologi kamera. Untuk apa semua foto-foto ini nantinya? Hanya fotonya. Sesuatu yang ga nyata. Cuman kenangan. Tapi aku tetap tertawa. Entah kenapa aku ga bisa berekspresi sedih meskipun hatiku makin remuk setiap kami mengabadikan kenangan indah kami bersama.

Di sana, di depan kulkas yang terbuka, Yesung berpose memasukkan sayuran ke dalamnya. Aku mengambil gambarnya beberapa kali. Hatiku mencelos melihat isi kulkas yang mulai kosong. Semakin lama, isinya akan makin habis, dan pada akhirnya kulkas itu akan kosong sama sekali. Di akhir minggu ini, bisa dipastikan hatiku akan sekosong kulkas itu. Kugigit bibirku sambil tersenyum.

Aku berpose menggosok gigi di wastafel dan aku terpaku menatap toilet. Teringat ciuman rahasia kami di sana. Teringat ketika Yesung mengulurkan sikat gigi berpasta untukku kemarin. Aku pandangi sosoknya di pintu dan teringat wajahnya yang memerah ketika melihatku setengah telanjang. Kali ini aku menggigit bulu sikat gigiku menahan sedih.

Kami lalu berpindah ke kamar. Aku berpose di depan semua peralatan make-up Yesung. Setelahnya pria itu naik ke tempat tidur, berpose memeluk bantal sapiku. Aku teringat sesuatu, lalu kuambil kantong belanja yang kemarin dulu aku simpan di sebelah koper-koper kosong kami. Kukeluarkan sepasang sendal kura-kura yang kemarin kubeli.

Dia menatapku.

“Aku beli ini kemarin,” kataku padanya. “Waktu liat ini aku langsung inget kamu dan Dangkoma. Kebetulan ada dua pasang, jadi aku beli aja sekalian. Yang satu untukku. Kamu mau yang mana?”

Dia memperhatikan sandal itu. “Aku mau dua-duanya,” dia berkata.

“Andweh!” protesku.

“Tapi aku pengin yang coklat dan ijo sekaligus. Dua-duanya bagus.”

“Ya udah kalo gitu aku milih dulu. Aku yang ijo,” putusku.

“Mana bisa begitu?! Kan kamu beliin buat aku, masa kamu milih dulu?”

“Aku beliin buat kita berdua! Ya udah kalo gitu aku yang coklat.”

“Tapi yang coklat juga aku mau!”

“Iiiih! Ya udah, aku ga jadi kasih ke kamu!”

“Eh!” dia mendadak mengambil kedua pasang sandal itu lalu memeluknya. “Pokoknya aku mau!”

“Ya, aku juga mau!” aku melotot padanya.

“Kamu kan bisa beli lagi!”

“Kamu juga bisa beli sendiri. Nanti aku kasih tau toko yang jualnya!”

“Ssireo! Aku mau yang ini!”

“Geureohnikka, hana hana! Atu-atu!”

Dia memandangku sambil menyipit, lalu mengamati kedua sandal itu. Diambilnya sisi kiri sandal coklat dan sisi kanan sandal ijo. Lalu diberikannya padaku. “Nih!”

Aku memandangi sepasang sandal yang diangsurkannya padaku. Dan pertahananku runtuh. Tanpa kukehendaki, mataku berkaca-kaca. Sekuat tenaga kutahan agar ga jatuh di pipi. Untung kamera ada di belakangku. Kamera stand by yang dipasang di pojok kamar ga akan bisa mendeteksi mataku yang berkaca-kaca. Kugigit bibir bawahku keras-keras.

Yesung yang melihatku seperti itu segera mengambil sendal yang diberikannya untukku dan meletakkannya di lantai. Pelan dia memasukkan kedua kakiku yang berbalut kaos kaki satu per satu ke dalam sandal. Lalu setelahnya, dia memakai sandalnya sendiri. Dia menjejerkan kaki kami lalu mengambil gambarnya. Sekali dengan HPnya, sekali dengan HPku.

Aku hanya bisa diam, berkonsentrasi menghalau air mata. Untung kamera datang, membantuku untuk lebih cepat menyingkirkan air mata.

“Ah, di sini kurang terang, ayo kita keluar,” dia menarik tanganku.

Dia duduk di sofa dengan kaki mengangkang, lalu menepuk meja dan menyuruhku duduk di depannya. Aku menurut aja. Udah ga ada lagi ide di kepalaku untuk berpose. Kedua kakinya kemudian mengapit kedua kakiku. Dan dia kembali mengambil foto kaki kami.

Kulirik Dangkoma, dan aku mendapatkan ide itu. Kutarik Yesung agar berdiri, kuambil Dangkoma dan kuletakkan di lantai. Lalu aku meletakkan kakiku di hadapan kaki Yesung. Kaki kami berdua membentuk diamond shape dengan Dangkoma berada di tengahnya. Aku mengambil gambar dengan HPku, sementara Yesung mengambil gambar dengan HPnya. Kepala kami berdua menunduk dan dahiku menyentuh dadanya. Kusandarkan kepalaku di sana, sementara kepalanya juga bersandar di bahuku. Kami berdua pura-pura sibuk memotret kaki kami, padahal aku hanya ingin berada dekat dengannya. Yesung sepertinya mengerti itu dan membiarkan aku menyandar padanya.

Tiba-tiba salah seorang kameramen bertanya, “Kalian mau saya ambilkan gambar kalian?”

Yesung memandangku, lalu memandang kamera. “Ne,” jawabnya sambil mengangguk.

Dibimbingnya aku duduk di sofa, membiarkan Dangkoma di lantai untuk sementara, kemudian dia memintaku mengangkat lengan ke atas membentuk hati. Dia berpesan pada kameramen agar sandal baru kami masuk dalam gambar. Berhasil. Satu gambar di HP kami masing-masing.

Aku lalu bangun mengambil Dangkoma. Meletakkan dia di atas tangan kami di depan dada, dan sekali lagi kami berpose membentuk tanda hati. Beberapa pose lain diambil, seperti Yesung yang memelukku dari belakang, kami memakai sandal di tangan dan bergaya tango, serta pose kami berdua seolah tertidur di bahu satu sama lain di sofa. Yang mengingatkanku pada satu momen. Kuminta kameramen menunggu sebentar dan kuambil lotion pembersih muka milik Yesung.

Aku lalu meletakkan kepalaku di pangkuannya dan menyuruhnya pura-pura membersihkan mukaku. Saat itulah aku minta kameramen memotret kami. Lalu dia menyuruhku bangun dan berpose seolah aku sedang memijat lehernya. Ah iya, ada juga momen itu… kenangku. Dan pose itu pun sukses dipotret.

“Gomawoyo,” kataku pada kameramen. Kulihat jam, ternyata udah hampir jam 11.

Aku berseru pada Yesung bahwa kami harus bersiap-siap. Aku beranjak ke kamar mandi dan mandi dengan cepat. Setelah itu, ketika Yesung sedang mandi, aku menyiapkan penganan kecil yang sudah kuselesaikan dini hari tadi untuk kubawa ke rumah Yesung. Ga banyak dan ga rumit, aku hanya menyiapkan apa yang aku bisa buat, tahu kukus isi daging, lumpia basah, dan ketan manis. Semoga keluarga Yesung menyukainya.

Begitu dia keluar dari kamar mandi, aku ganti masuk kamar mandi untuk berganti baju, lalu cepat-cepat berdandan di kamar. Untuk kali ini aku berdandan lebih lengkap. Ga tebal-tebal, yang penting aku tampak segar dan siap.

“Sayang, udah?” tanya Yesung dari luar kamar.

“Yep,” jawabku sambil memoles lipgloss berwarna scarlett peach, memberi warna di wajahku yang didominasi sentuhan nude-style make-up. “Ah, Sayang, tolong bawa sekalian kotak bekal di dapur. Itu untuk ayah-ibumu,” seruku dari kamar sambil mengambil mantel terbagusku dari dalam lemari. Tak lupa kukeluarkan juga baju wardrobe yang kemarin kami bawa pulang. Baju itu sudah bersih dan wangi terbungkus plastik dari tempat laundry. Akan aku kembalikan nanti malam.

Ketika aku sampai di pintu kamar, Yesung bertanya, “Yang ini…?” pertanyaannya mengambang. Lalu, “Kamu dandan?”

Aku pasang senyum termanisku di depannya. “Iya dong. Eotte?”

Dia masih mengamatiku. Aku merasa senang dengan pandangannya. Dengan masih menenteng baju wardrobe aku lalu berputar, berpose seolah-olah aku di atas catwalk. Membuat senyum di bibirnya melebar. Dia berjalan mendekatiku, mengambil gantungan baju di tanganku, menyatukannya dengan kotak bekal di tangannya yang lain lalu tanpa diduga meraih pinggangku dan mengecup pipiku.

Aku terkejut sampai ga sempat ngerasa malu. Begitu keterkejutanku berkurang, aku berkata padanya, “Yah! Ada kamera!”

Dia malah mengajakku ke depan kamera. “Yorobeun, hari ini istriku dandan sendiri lho! Ternyata dia bisa dandan juga!”

Aku memukul pundaknya. “YA!”

“Aw! Appeu!” serunya padaku.

“Tentu saja aku bisa dandan! Aku kan juga perempuan!” aku memelototinya.

Tampangnya tiba-tiba berubah memelas, “Ternyata galaknya masih sama, Yorobeun…”

“Issh!” kucubit pinggangnya.

Dia segera kabur dengan satu tangan dipenuhi bawaan. Kukejar dia sampai pintu depan tapi terpaksa kubiarkan dia lolos sebab kakiku masih berdenyut-denyut. Kukenakan sandalku dengan hati-hati. Kali ini aku melewatkan high-heels dan lebih memilih sandal sederhana bertumit ga terlalu tinggi, hanya 5 cm, karena kondisi kakiku yang ga memungkinkanku pakai hak yang lebih tinggi. Untunglah aku punya sandal ini. Cocok juga dengan dress kuning yang sedang kupakai sekarang.

Ternyata Yesung menungguku di tangga. Tangannya terulur ke arahku ketika aku hendak menuruni tangga. “Sayang…” katanya meminta tanganku agar aku bisa berpegangan padanya.

Aku tersenyum malu-malu, tapi kuterima juga uluran tangannya. Kami lalu menuju mobil bersama, dia membukakan pintu untukku, dan kemudian memutar ke sisi pengemudi. Hahahahhaaha! Aku tersanjung banget. Hidungku rasanya kedut-kedut terus.

Sampai di depan rumah keluarga Yesung, aku berdebar-debar. Aku belum pernah sekalipun, sekalipun belum pernah, diperkenalkan pada pihak keluarga pacar. Lha ini, aku mau dikenalkan sebagai istri. Pemikiran itu bikin pipiku memanas. Padahal udara hari ini cukup dingin. Biarpun ini hanya untuk show, tetep aja aku deg-degan.

“Kamu siap?” Yesung bertanya. “Mereka pasti udah nunggu kita,” katanya lagi. Tadi emang sebelum berangkat, di mobil, Yesung menelepon ke rumahnya mengatakan bahwa kami akan datang.

“Hah,” aku menghela nafas. “Aku deg-degan,” aku mengakui.

Dia tersenyum. “Tenang aja, aku juga deg-degan kok.”

Aku meliriknya setengah sebal. Ciss, bukannya bikin tenang, malah…

Dia membuka pintu depan lalu, “Kami datang!” serunya.

Kami melepaskan sandal dan sepatu kami di penyimpanan sepatu. Dari dalam rumah muncul seorang wanita tengah baya yang sangat cantik. Wajahnya berseri-seri. “Uri Jongwoon-a, wasseo?” sapanya. Di belakangnya berdiri seorang lelaki berwajah bijaksana.

Yesung memeluk ibunya dengan hangat, lalu ayahnya. “Jongjin eodieyo?” tanyanya.

Ibunya menjawab, “Eish, anak itu tentu saja sedang di kampusnya. Mana istrimu?”

Yesung menyingkir dari hadapan ibunya dan aku berhadapan dengannya langsung. Aku berusaha menunduk sesempurna mungkin. “Anyeonghasimnikka, Beautyrago-imnida,” sapaku.

“Aigo aigo… cantik sekali,” ibunya meraih bahuku lalu mengajakku masuk. Aku terpincang-pincang mengikutinya.

“Eommoni, pelan-pelan. Kakinya sedang luka.”

Ibu Yesung menutupkan tangannya ke mulut, ‘Ommo, apa yang terjadi?”

“Sudah, ceritanya nanti saja, sambil duduk,” kata ayah Yesung. Aku tersenyum padanya dan menunduk.

Di ruang tamu, aku menyerahkan oleh-oleh yang kubuat tadi. “Saya tidak tahu apa makanan favorit Bumunim, tapi saya berharap semoga kalian bisa menyukai ini.”

“Aduh, kenapa mesti repot-repot?” Ibu Yesung tampak berseri-seri dan penasaran dengan bawaanku.

“Animnida. Saya malah mengucapkan terima kasih sekali untuk sarapan yang dibuatkan untuk saya waktu itu,” aku tersenyum pada keduanya.

“Oh, iya ya. Waktu itu aku membuatkan sarapan untuk kalian. Bagaimana rasanya? Apa kau menyukainya?”

“Ne. Neomu massisseoyo. Saya beberapa kali berusaha membuat sarapan seperti itu tapi tidak pernah berhasil. Kasihan Jongwoon ssi harus mencicipi masakan saya yang kurang enak,” kataku mengaku.

“Ani. Mungkin rasanya beda, tapi bukan ga enak kok!” Yesung membantah.

“Geurae, geurae. Istri sudah membuatkan masakan untuk suami, tentu suami pasti merasakan enaknya,” ayah Yesung menyela.

“Ah, kalian sudah makan siang?”

“Belum, Eomma. Kami ke sini sekalian mau minta makan,” Yesung memasang mimik manja.

Aku pukul pahanya diam-diam. “Ya!” bisikku.

“Lihat Eomma. Dia ini hobi banget mukul aku. Aku ini korban KDRT di rumah.”

Mendengarnya, aku langsung melotot padanya.

“Lihat kan Eomma? Dia melototin aku. Buso~”

Eissh, aku ga berkutik. Mau kupelototin lagi, nanti dia makin ngadu. Jadi aku liatin aja dia.

Tiba-tiba ibu Yesung memukul tangan anaknya. “Tentu saja! Kau ini memang harus dipukul. Mana ada suami datang-datang ke rumah orang tuanya malah ngadu. Kau ini bikin malu istrimu saja!”

Pandanganku berubah menjadi senyum kemenangan. Rasakan kau, Kim Jongwoon!

“Eomma!” protesnya pada sang ibu.

“Ayo nak, bantu ibu menyiapkan makan,” ajak ibunya padaku.

“Ah, ne,” aku bangkit mengikutinya.

Yesung ga mengatakan apa-apa, hanya melamparkan tatapan penuh arti ke arahku.

Di dapur, aku membantu mewadah-wadahi makanan dan meletakkannya di meja makan. Ibu Yesung banyak bertanya hal-hal yang menyangkut diriku. Tentang Indonesia, tentang proses adaptasiku selama di Korea, apakah aku betah tinggal di Korea ini atau ga, dan hal-hal umum lainnya. Aku berusaha menjawabnya sesopan mungkin. Terkadang aku tersendat menjawab karena tidak tahu bentuk formal kalimatnya, tapi beliau memaklumi itu. Akhirnya makanan siap dan dia menyuruhku memanggil Yesung dan ayahnya.

Aku pergi ke ruang tamu lagi dan memanggil mereka. Aku menemukan mereka berdua sedang berbicara dengan nada rendah sambil berdekatan. Begitu melihatku ayahnya seperti terkejut dan segera menjauhkan diri dari Yesung. Aku mengatakan bahwa makan siang sudah siap.

Kami lalu makan siang bersama. Semua lancar dan percakapannya pun mengalir ringan dan menyenangkan. Sesudah makan, Yesung mengatakan dia yang akan mencuci piring, dan dia menyuruhku menyiapkan buah. Aku menurut, sementara ayah-ibunya pergi ke ruang lain. Sepertinya kesempatan ini digunakan oleh kameramen untuk mewawancarai mereka.

Satu kameramen mengamati aku dan Yesung. Suamiku itu dengan rajin mencuci piring, sementara aku duduk di belakangnya mewadahi stroberi.

“Bagaimana? Ibuku baik kan?” tanyanya padaku.

“Oh. Baik banget. Ayahmu juga menyenangkan.”

“Geureom! Mereka kan orang tuaku. Karena ibukulah maka aku bisa jadi Yesung,” dia berkata.

“Maksudnya?” aku ga ngerti.

“Dulu ibuku yang ngirim formulir audisi SM Entertainment untukku. Kalo ga karena itu, aku ga mungkin jadi anggota Suju kaya sekarang ini.”

“Jinjja? Wah, ibumu emang hebat. Dia tahu anaknya berbakat nyanyi makanya didorong untuk ikut audisi ya?”

“Iya. Tapi istriku malah lebih suka suara orang lain. Dasar nasib, nasib.”

“Ya! Aku kan ga pernah bilang suaramu jelek, cuman memang bukan tipe favoritku.”

“Ya udah sana kamu nikah aja sama Kyuhyun!”

“Ga enak ah sama Mina.”

Yesung berbalik, “Ya! Berarti kalo ga ada Mina kamu mau sama Kyuhyun?!” dia memandangku ga percaya.

“Eee, gimana ya? Kalo nolak sih enggak…”

“Ya!” dia berseru kesal.

Kusembunyikan senyumku. Senang sekali menggodanya begini. Kuambil sebuah stroberi, lalu dengan cepat aku masukkan ke dalam mulutnya, “Jangan marah-marah. Nanti kamu ga ganteng lagi,” bujukku.

Dia terdiam dan mengunyah stroberinya, memandangku kesal, lalu kembali mencuci piring. Setelah selesai, Yesung mengangkat piring berisi stroberi dan menuntunku berjalan ke ruang tamu.

Melihat kami datang, Ibu Yesung langsung menyuruh kami duduk sambil mengambil piring buah dari tangan Yesung dan meletakkannya di atas meja. Ayah Yesung bertanya, “Apa yang terjadi dengan kakimu?”

Yesung menjawabnya untukku, “Dia menginjak pecahan botol kaca,” katanya. Lalu suamiku itu menceritakan apa yang terjadi kemarin. Selama dia bercerita, ibu Yesung beberapa kali berseru terkejut. Akhirnya setelah ceritanya selesai, eommonim bertanya, “Apa kamu ga ke RS, Nak?”

“Ah, tidak. Ini hanya luka luar. Dan mungkin besok juga sudah kering.”

“Aku juga sudah menyuruhnya diperiksa, takut infeksi, tapi dia ga mau. Katanya ya itu tadi, cuman luka luar,” kata Yesung. “Padahal kerjanya di RS, tapi disuruh periksa aja susah banget.”

Ayah Yesung memandangku, “Kamu kerja di RS, Agassi?”

“Ne,” jawabku. Lalu obrolan berputar di sekitar pekerjaanku.

Kami mengobrol selama beberapa waktu lagi hingga jam menunjukkan pukul 4 sore. Yesung melihatnya, lalu memutuskan bahwa kami sebaiknya pulang. Ibunya memprotes, mengatakan bahwa kami baru sebentar, kenapa harus buru-buru? Yesung mengatakan bahwa kami harus pulang karena kami harus ke studio untuk memilih video untuk Shindong.

Ujung-ujungnya, kami baru meninggalkan rumah Yesung pukul 5 sore. Ibunya membawakan kami sekotak penuh makanan. “Untuk makan malam,” katanya.

“Terima kasih, Eommonim,” senyumku padanya. Aku lalu berpamitan dengan mencium pipi kiri dan kanannya. Aku juga membungkuk pada ayah Yesung. Mereka berseru agar kami hati-hati. Mobil kami ga segera pergi karena menunggu seorang kameramen yang mengambil gambar orang tua Yesung untuk terakhir kalinya.

Setelah akhirnya kami meninggalkan rumah itu, kami terdiam selama beberapa saat. Aku sibuk dengan pikiranku sendiri. Betapa hangatnya ayah-ibu Yesung. Betapa baiknya mereka terhadapku. Aku tersenyum. Ah mungkin karena aku orang yang benar-benar baru, maka mereka hanya ingin memberikan kesan yang baik. Tapi entah kenapa kesan yang kutangkap ga demikian. Mereka nampak tulus dan apa adanya.

“Kamu mikir apa? Kok senyum-senyum sendiri?” Yesung mengagetkanku.

Aku menoleh padanya, “Ah, enggak. Bumunim baik banget ya?”

“Kamu menyukai mereka?” Yesung bertanya. Aku mengangguk. Dia melanjutkan, “Mereka juga menyukaimu.”

“Masa?” tanyaku pura-pura ga percaya.

“Percaya deh. Aku kan udah jadi anak mereka sejak…” dia terlihat berpikir, “…Ah, sejak seumur hidup yang lalu.”

Tawaku lepas. “Apa-apaan itu, ‘sejak seumur hidup yang lalu’?”

“Ya gitu deh. Jadi kamu percaya aja.”

“Iya, iya, percaya. Tapi adikmu kuliah ya?”

“Iya, masalahnya ini bukan akhir pekan.”

Aku menghela nafas. “Oh iya, ya. Hehe.”

Kami lalu terdiam lagi. “Mau nyalain radio?” tanya Yesung padaku.

“Boleh,” jawabku.

Dia lalu menyalakan radio dan kami membiarkan lagu-lagu mengalun mengisi kekosongan di antara kami. Terdengar Glen Hansard menyanyikan Falling Slowly. Otomatis aku mengikuti liriknya.

I don’t know you / But I want you / All the more for that
Aku ga kenal kamu, Yesung. Tapi aku menginginkanmu.

Words fall through me / And always fool me / And I can’t react
Aku ingin mengatakan semuanya kepadamu, sayang itu hanya impian. Aku ga mampu bergerak.

And games that never amount / To more than they’re meant / Will play themselves out
Semua ini hanya pertunjukan, bukan sesuatu yang bisa aku jadikan pegangan.

Take this sinking boat and point it home / We’ve still got time
Ya, kita masih punya sedikit waktu. Aku akan bertahan di perahu kecilku yang goyah.

Raise your hopeful voice you have a choice / You’ve made it now
Aku akan berharap dan membuat pilihan. Pilihanku adalah aku akan berusaha tegar sampai akhir.

Falling slowly, eyes that know me / And I can’t go back
Aku perlahan jatuh dalam pandanganmu. Lagi, aku ga mampu bergerak

Moods that take me and erase me / And I’m painted black
Segala rasa bersamamu, membutakanku, menghapusku.

You have suffered enough / And warred with yourself / It’s time that you won
Bisakah aku memenangkan pertarungan ini? Setelah semua rasa sakit yang kurasakan?

Take this sinking boat and point it home / We’ve still got time
Ya, kita masih punya sedikit waktu. Aku akan bertahan.

Raise your hopeful voice you have a choice / You’ve made it now
Aku akan berharap dan membuat pilihan. Harapanku adalah aku akan tegar sampai akhir.

Falling slowly sing your melody / I’ll sing along
Maukah kamu menerimaku, Yesung? Aku yang jatuh perlahan dalam melodimu?

Kutolehkan kepalaku ke arah jendela, menyembunyikan air mata yang menetes. Menyadari kenyataan bahwa kebahagiaan yang kurasakan selama beberapa hari ini adalah semu semata.

Tiba-tiba terdengar suara telepon. Itu ringtone-ku. Kulihat HPku dan otomatis menyapa si penelepon, “Ne, Sungmin-a.”

“Noona dimana?”

“Oh, aku habis dari rumah orang tua Yesung. Wae geurae?”

“Nanti kita mau ketemu jam berapa?”

Ah tentu aja. Latihan. Aku melirik Yesung. Ternyata dia juga lagi melirikku dengan curiga. Aku nyengir kuda ke arah Yesung. “Ng, aku kurang tahu. Tapi biasanya untuk milih video untuk Shindong kita disuruh kumpul jam 6 kan?” aku berusaha memberi kode pada Sungmin, mengatakan bahwa kami bisa bertemu setelah selesai memilih video.

Di seberang telepon Sungmin berkata, “Ah ya, kita harus memilih video untuk Shindong hyung. Baiklah. Setelah itu saja…” dia berhenti sesaat, “Noona, ada Yesung hyung ya di sebelahmu?”

“Ne,” jawabku ringkas, tapi ga bisa menyembunyikan senyum karena sedang main rahasia-rahasiaan. “Baiklah, sampai jumpa nanti,” aku berujar lagi dengan nada seolah-olah Sungmin yang menutup percakapan duluan, padahal anak itu ga mengatakan apa-apa sama sekali.

Begitu kututup teleponnya, Yesung mencecarku, “Waeyo? Kenapa dia telepon-telepon kamu?”

“Ani. Dia cuman mau nanya waktu kumpul untuk malem ini di studio.”

“Kenapa dia mesti nanya kamu? Emangnya manajer kami ga ngasih tau dia? Aku aja dapet sms-nya tadi pagi. Aneh banget kalo dia ga dapet,” Yesung masih curiga tingkat tinggi.

“Molla, aku ga tau dong. Kan dia yang nanya sama aku. Kalo kamu mau tau alasannya, tanya langsung sama dia dong,” aku berusaha mengelak.

Tapi Yesung ga melepaskanku begitu saja. “Dangshin… ada apa sama Sungmin?”

“Mwo?!” Apa dia udah tau rencana kami? Yah, ga surprise dong… “Apa maksudmu?”

“Kamu deket banget sama Sungmin. Padahal kalian kan baru kenal!”

“Lah, dia kan dongsaengmu. Ya jelas lah aku deket.”

“Tapi kamu ga sedeket itu sama yang lain. Ga sama Donghae, padahal dia orangnya ramah banget. Sama Eunhyuk juga ga begitu padahal kamu kenal dia duluan daripada Sungmin. Sama Kyuhyun yang katanya kamu suka, ga begitu. Tapi sama Sungmin?! Kalian telepon-teleponan lah, sms-smsan…”

Aku ga salah denger kan? Kok nadanya kayak cemburu? Kuperhatikan mukanya yang cemberut sambil ngomel. Ternyata cowok bisa juga ya ngomel panjang lebar kayak ahjumma-ahjumma penjual sayur. Tapi kalo Yesung yang ngomel, aku jadi gemes pengin nyium bibirnya. Ommona! Apa yang aku pikirin? Nyium bibirnya??

“Ya! Aku itu lagi nanya sama kamu, kenapa kamu diem aja?” Yesung berseru padaku.

Aku gosok kupingku. Kupasang tampang malas mendengar omongannya, “Ga usah teriak-teriak, kita ini di dalem mobil, jadi aku pasti denger suara kamu.”

Yesung menatapku ga percaya karena aku ga menanggapi kekesalannya. Untung ini lampu merah, jadi aku ga khawatir kami akan nabrak, sebab Yesung ga mengalihkan pandangannya dariku sekejap pun. Aku tahu dia berusaha mengintimidasiku agar aku mau menjawab pertanyaannya. Tapi aku menikmati ini. Aku suka melihatnya ngomel.

Lampu berubah menjadi hijau. “Lampunya udah ijo, tuh,” kataku.

“Kenapa kamu ga mau ngomong apa-apa? Kamu sama Sungmin ada apa?…” dia mulai ngomel lagi. Kami sudah mendekati studio. Dia masih terus memberondongku dengan pertanyaan ketika kami berbelok ke tempat parkir. Begitu mobil berhenti, dia juga berhenti bicara.

“Udah? Ngomelnya?” tanyaku menantangnya.

Dia menarik nafas lalu membuangnya. Ga menjawabku, tapi menatapku tajam banget. Aku sampe merinding dibuatnya. Tapi aku tetep sok cuek. Aku pun membuka sabuk pengaman. Begitu juga Yesung. Kubuka pintu dan keluar bersamaan dengan kedua kameramen.

Begitu keluar mereka bilang padaku kalau mereka harus segera menyerahkan kaset rekaman pada PD-nim. Aku mengatakan bahwa kami akan menyusul. Aku tahu Yesung masih berusaha menenangkan diri di dalam mobil. Sewaktu melihat punggung kedua kameramen dengan buru-buru memasuki studio, terlintas satu pikiran nekat dalam benakku.

Aku pun melangkah secepat yang aku bisa ke sisi pengemudi. Yesung sudah membuka pintunya dan hendak melangkah keluar. Tapi aku mencegahnya. Aku menunduk hingga mukaku sejajar dengan mukanya. Kuletakkan clutch ku di dashbor lalu kurengkuh pipinya.

Dengan pasti aku dekati bibirnya dan langsung kucium kuat. Mataku tetap terbuka ketika melakukannya. Kulepas bibirnya dan kutatap matanya. “Ga ada apa-apa antara aku dan Sungmin. Ga usah cemburu,” bisikku.

Aku melepaskan tanganku dari pipinya, hendak menegakkan tubuh, tapi aku kalah cepat. Tangannya merengkuh pinggangku kuat, menarikku ke dalam mobil. Dengan cekatan dia memundurkan jok mobilnya, merapatkan pahanya dan memaksaku merambat naik ke pangkuannya. Kini posisiku membelakangi kaca depan mobil, dengan wajah Yesung setinggi leherku, sementara aku berlutut tanggung di atasnya.

Satu tangannya menutup pintu mobil keras, sementara yang lain menekan pinggangku sehingga aku terduduk di pangkuannya. Dalam hitungan detik tangannya yang tadi menutup pintu telah berpindah ke leherku dan menarikku mendekati wajahnya. “Belum cukup,” katanya langsung menciumku kasar.

Aku sangat merindukan bibirnya, hingga sekasar apapun ciumannya, aku menerima dengan rasa haus yang amat sangat. Dia memaksa bibirku untuk membuka. Oh, Sayang, kamu ga perlu memaksanya, aku akan membukanya dengan sekali sentuhan darimu. Tiba-tiba aku merasakan lidahnya membelai bibir bawahku ringan sekali. Seperti hanya menggodaku.

Serta merta mataku terbuka. Aku menatapnya nyalang. Jangan menggodaku begitu! Aku membalasnya dengan mengejar lidahnya cepat. Kumasukkan lidahku ke dalam mulutnya dan aku terperangkap oleh jebakannya. Ternyata dia sudah menungguku. Di dalam mulutnya, lidahnya bertemu dengan lidahku dan mempermainkannya hingga aku lemas. Dia memanfaatkan momen lemahku untuk menjelajahi rongga mulutku.

Tangannya di leherku sudah berpindah tempat. Kini meremas lenganku yang tertutup mantel. Aku sendiri sudah berada di awang-awang. Tak ada yang mampu kuperbuat kecuali menerima semua serangannya. Tubuhku melemas. Aku hanya bisa melenguh protes ketika dia dengan kasar menghentikan ciumannya. “Andweh,” desahku.

Kumohon jangan berhenti.

“Jangan dekati Sungmin,” suaranya berat di telingaku.

Kumohon, rasakan aku. Sentuhkan bibirmu di tubuhku. Pikirku sangat merindunya. Aku menggeleng-geleng liar.

“Berjanjilah padaku untuk ga mendekati Sungmin,” dia berbisik lagi. Kali ini bibirnya ringan sekali menyentuh kulit leherku.

“Yesung-a, please…” aku memohon padanya. Please, ciumlah aku lagi. Kuasai aku lagi.

Kini bibirnya berhenti di depan bibirku. Hampir menyentuhnya, tapi tidak menyentuhnya. Oh, pria ini membuatku gila! Kuangkat tanganku hendak merengkuh lehernya untuk memaksanya menciumku lagi, tapi tangannya yang lebih cepat dan lebih kuat dariku menahan gerakan itu sehingga aku ga berdaya. Aku menggeliat, mataku berkedip-kedip cepat memohon padanya. Kugigit bibirku mendambakan bibirnya. Dadaku naik turun menahan nafsu. “Yesung-a… hik, pleasekiss… palli…”

Dia mencium daguku. “Ada apa antara kamu dan Sungmin?” kali ini suaranya bulat dan jelas. Membuatku sedikit terbangun, tapi sekejap saja aku sudah kembali gila karena bibirnya terus turun menyusuri leherku. Dia bertanya lagi, “Ada apa antara…”

Nothing!” aku berseru tertahan. “Jinjja eobsseo!”

Ah, seharusnya aku ga menjawabnya sebab kini ciumannya di leherku berhenti. Dia memiringkan kepalanya, menatapku dengan pandangan menyipit. “Jinjja?”

Aku mengangguk-angguk cepat. “Jinjja eobseo. Amugotdo eobsseo…” pegangannya di tanganku melemah dan aku segera melepaskan diri darinya. Kurengkuh lehernya dan kucium bibirnya dengan rakus. Kunikmati setiap detilnya dan membiarkan mataku terpejam, aku tenggelam dalam aromanya. Inilah dunia. Dunia milikku.

Tangan Yesung merangkul pinggangku erat, sementara mulutnya membalas ciumanku. Desah nafasnya menyatu dengan milikku. Lama-kelamaan ciuman kami berubah menjadi ciuman yang manis dan dalam. Gairah masih ada di sana, tapi ciumannya menjadi lebih bermakna. Kami saling membelai, saling menerima, saling memberi. Saling menikmati sampai ada berkas lampu mobil yang lewat menyoroti kami.

Kami melepaskan ciuman kami. Setengah kehilangan, setengah terbangun. Dada kami naik turun. Kutatap matanya, dan tanganku mulai bergerak menyusuri rambutnya. Kutelan ludahku, memaksakan diri berbicara, “Kita…hhh…harus masuk.”

Dia mengangguk. Ada mobil lagi yang lewat dan menyoroti kami. Untung kaca mobil Yesung sekarang berembun akibat aktivitas kami barusan, sehingga meskipun berkas sinar itu masuk, ga ada yang bisa melihat jelas apa yang sedang terjadi di dalamnya. Aku mengerjapkan mata dan untuk terakhir kalinya mengecup ringan bibir Yesung.

Aku segera pindah ke kursi penumpang, dan mulai merasakan telapak kakiku yang berdenyut-denyut akibat terbentur-bentur dashbor sewaktu masuk ke mobil tadi. Juga betisku terasa semutan. Geli luar biasa. “Akh, aku semutan.”

Yesung memajukan kembali kursinya dan memandangku. “Dajinde eobseo? Ada yang sakit?” tanyanya prihatin.

Aku menatapnya dan tersenyum melihat sinar kekhawatiran memancar di matanya. Tanganku terulur ke lehernya dan kutarik mendekat wajahnya, kukecup lagi bibirnya, lalu kujawab pertanyaannya, “Eobsseo, nan gwenchanha,” sambil tersenyum.

Dia tersenyum dan memiringkan kepalanya, menciumku, bukan hanya mengecupku, “Syukurlah.”

Aku tertawa. “Kita benar-benar harus berhenti menyentuh satu sama lain.”

“Kamu yang mulai, tadi,” tuduhnya.

Aku teringat, memang aku yang memulai. Aku pun tersipu malu. “Tapi kamu kan juga suka…” ujarku ga mau salah sendiri.

Dia ga menjawab dan malah menegakkan duduknya. Ga lagi menatapku. Lidahnya mengusap bibir bawahnya. “Ya, aku menyukainya,” kata dia. Ya Tuhan, aku ingin menyergapnya lagi!

Kupalingkan mukaku dan pura-pura sibuk mencari sandal. Lalu baru kusadari bahwa sandalku hanya ada satu. “Sandalku hilang satu,” kataku padanya.

Kami lalu sibuk mencari sandalku. Ini benar-benar kacau. Dia memandangku. Katanya, “Aku akan meneruskan nyari sandalmu, tapi sebaiknya kamu rapikan dulu make-up dan rambutmu.”

Aku menyentuh rambutku, lalu memutar kaca spion. Benar saja. Rambutku awut-awutan. Memang ga parah banget sih, tapi semua orang yang melihatnya pasti minimal berfikir bahwa aku ke studio ini sambil menumpang di belakang bis, dan bukannya di dalam bis. Lipstikku juga udah pudar sama sekali. Masih ada sisa sedikit di sudut bibir, tapi jelas menunjukkan bahwa bibirku habis diapa-apain. Membayangkan bibirku diapa-apain, mulutku tiba-tiba kering.

Ga boleh, aku harus fokus. Kurapikan rambutku dan kuraih clutchku untuk mengambil lipstik.

“Ga ada. Sendalmu ga ketemu,” Yesung berkata panik.

“Ga mungkin! Kapan bisa ilang?” aku ikutan panik.

“Aku butuh udara segar untuk berpikir,” ujar Yesung sambil membuka pintu. Lalu dia berseru, “Ketemu!” Ternyata sandalku terjatuh di luar tadi sewaktu Yesung menarikku masuk. Dia lalu meletakkan sandalku di lantai mobil depan kakiku.

Aku mengucapkan terima kasih padanya, lalu membenarkan kemejanya. “Kemejamu kusut,” ujarku.

Dia melihatnya lalu merapikannya sedikit. “Tenang aja, ga terlalu parah kok. Ini malem, jadi kurasa orang-orang ga akan terlalu perhatian.”

Kami saling memandang untuk terakhir kalinya lalu Yesung berkata, “Gaja!”

Aku membuka pintu penumpang dan keluar dari mobil. Udara dingin menambah kesadaranku. Yesung mendatangiku, lalu kami beranjak masuk ke dalam studio. Baru beberapa langkah aku teringat bahwa kami harus mengembalikan baju wardrobe yang kami pinjam hari minggu kemarin, jadi kami kembali untuk mengambilnya.

Di dalam ternyata sudah banyak yang datang. Hampir semua orang udah dateng kecuali Kyuhyun. Sewaktu kutanyakan pada Mina, dia menjawab bahwa mereka memang sepakat untuk datang terpisah karena menghindari intaian fans. Jadi Kyuhyun kemungkinan akan datang telat. Jadi PD-nim memutuskan untuk memulai proses editing dari pasangan Leeteuk dan Haemin.

Untuk menyingkat waktu, PD-nim menawarkan ruang editing yang lain, sehingga tiga pasangan bisa memilah video-video mereka dalam waktu yang bersamaan. Yesung mengatakan pada yang lain bahwa kami akan segera ke ruang editing yang lain setelah mengembalikan baju ke bagian wardrobe.

Tidak butuh waktu lama untuk melakukan itu. Sebentar kemudian kami sudah berada di ruang editing. Dua orang teknisi sudah menunggu kami di sana. Segera saja kami mengamati layar monitor.

Beberapa cuplikan yang kami masukkan untuk hadiah Shindong adalah cara berpisah dengan mencium telapak tangan, momen ketika Yesung begitu perhatian membawakan sarapan dan baju ganti di RS ketika aku sakit, juga kepedulian Yesung akan makananku ketika kami makan jajangmyun bersama. Selain itu, aku juga meminta Yesung untuk memasukkan semua perhatiannya ketika dia menemaniku di RS saat Ria meninggal, sementara dia memasukkan adegan ketika aku memberinya pijatan di leher dan mengkhawatirkan pekerjaannya di SUKIRA. Rekaman ketika aku membawakan makan siang ke studio bersama Minhyun, mengunjungi rumah member yang lain, serta mengunjungi rumah Bumunim tak luput juga dimasukkan.

Semuanya dimaksudkan agar Shindong melihat beberapa hal dalam rumah tangga yang sepertinya sepele, namun sangat berarti untuk mendukung pasangan masing-masing. Selama proses pemilihan rekaman itu aku disadarkan betapa Yesung telah sangat mendukungku selama beberapa hari kebersamaan kami. Begitu banyak kenangan akan dirinya hanya dalam waktu dua minggu, dan hal ini membuat tenggorokanku tercekat. Apakah aku akan bisa lolos dari rasa pedih ketika mengingat saat-saat itu di masa depan?

Pemikiran tentang ga akan ada lagi dirinya di masa depan membuatku takut. Tanganku meraih pundaknya. Aku meremasnya dengan kuat, membuat dia menoleh menghadapku. Aku menyadari bahwa kami ga hanya berdua di ruangan ini, maka aku hanya melemparkan senyum tipis kepadanya, kuucapkan, “Gomawo. Aku diingatkan lagi betapa baiknya kamu selama ini.”

Kedua teknisi yang mendampingi kami memandangku. Tapi aku hanya memandang Yesung. Aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku, tapi itu bukan semuanya. Terlalu banyak perasaan dalam hatiku yang aku tahu ga boleh diungkapkan. Maka aku hanya mengatakan itu. Yesung pun hanya meraih tanganku lalu menggenggamnya. Dari posisinya duduk di depan monitor saat ini, dia menarikku yang sedang berdiri di belakangnya agar pindah ke sebelahnya. Dia menarikku duduk di tangan kursi lalu memeluk pinggangku. “Nado gomawo,” katanya.

Mataku berkaca-kaca tapi segera kuenyahkan air mataku. Tanganku terangkat mengelus kepalanya. Rasa haru menyesakkan dadaku.

“Ehem!” salah seorang teknisi membuyarkan suasana magis di antara kami. “Jadi, ini sudah semuanya, Yesung ssi?” tanyanya.

Yesung menghela nafas lalu bangkit dari duduknya. Tangannya tetap menggenggam tanganku dan dia menjawab teknisi, “Ya, sudah.”

Saat itu masuklah pasangan Siwon dan Jihae. “Hyung, kalian sudah selesai?” Siwon bertanya.

Yesung menoleh dan menjawab, “Oh.”

“Baiklah, sekarang giliran kami.” Siwon beranjak menuju ke depan monitor, tapi kedua teknisi mengatakan bahwa mereka harus mengantarkan hasil pilihan Yesung dan aku dulu ke ruang edit utama. Maka mereka pun pergi meninggalkan aku, Yesung, Siwon dan Jihae.

Siwon memasukkan kaset rekaman mereka dan mulai memutarnya. Dia memanggil Jihae untuk ikut mengamati bersamanya. Melihat itu, Yesung menarikku ke sebuah sudut. Dia menduduki sebuah meja hingga kini kepalanya hanya setinggi dadaku. Tangannya dengan luwes memeluk pinggangku. Dia tertengadah menatap wajahku. “Kau suka pilihan kita?” tanyanya.

Aku menelusuri tepi rambutnya pelan, “Oh. Aku harap itu berguna untuk Shindong ssi.”

Dia tersenyum. “Sayang, popo…”

Aku tersenyum lalu menahan kepalanya dan mengecup bibirnya ringan. Rupanya dia merasa belum cukup. Maka dia menarikku makin dekat dan memperdalam ciumannya. Sepertinya telingaku menangkap seseorang memanggilnya, tapi aku ga terlalu yakin karena benakku dipenuhi oleh ciuman Yesung.

“EHEM! HYUNG!” seseorang mengagetkan kami. Ciuman kami pun terlepas seketika. Dan kami melihat Siwon sedang mengamati kami dengan pandangan yang penuh arti. Ga enak, malu, penasaran, mengingatkan, dan entah apa lagi. Aku memalingkan wajahku yang memerah dari anak itu, tapi Yesung malah memelukku dan meletakkan kepalanya di dadaku sambil menatap dongsaengnya. “Wae?” tanyanya protes.

“Ada teknisi.” Siwon menjawab singkat.

Tepat saat itu kedua teknisi datang lagi. Dengan cepat aku dan Yesung saling memisahkan diri. Yesung berdiri dan berkata, “Ya Simba! Pilih rekamanmu yang paling bagus. Kami pergi dulu ya…”

Aku menahan senyum. Meski tadi hatiku baru saja merasa sedih karena akan berpisah dari Yesung, tapi sekarang ini perasaanku meluap-luap sampai ga menemukan alasan untuk berhenti ketawa. Aku harus berusaha sekuat tenaga untuk ga cekikikan. Dengan Yesung selalu begini, seperti naik roller coaster. Hihihi..

Yesung menarikku keluar ruang edit dan kami pindah ke ruang edit utama. Di sana hanya ada pasangan Leeteuk, Sungmin, dan Donghae. Mereka sekarang sedang memilih rekaman milik Sungmin. PD-nim juga ada di sana. Melihat kami masuk, Sungmin menyapa kami, “Kalian sudah selesai?” tanyanya.

Yesung meraih tanganku, dan menjawab, “Oh. Sekarang Siwon sedang memilih rekamannya. Kalian sudah sampai mana?”

Tanpa mengalihkan pandangannya dari monitor, Sungmin menjawab, “Milik kami ga banyak, jadi sebentar lagi selesai.”

“Yesung-a, jangan lupa kita harus pergi satu jam lagi.” Leeteuk memperingatkan Yesung.

Aku mendengar Yesung berkata “Ciss,” pelan. Dia lalu menoleh padaku dan berkata lirih, “Mian Sayang, kamu harus pulang sendiri.”

“Ne, ga papa,” aku tersenyum padanya.

“Ah, Yesung ssi, bagaimana kalau sekarang anda dan Leeteuk ssi diwawancara? Sepertinya Pasangan Donghae sudah selesai wawancara.” PD-nim meminta.

Mereka berdua setuju. Yesung memintaku ikut dengannya ke tempat wawancara, tapi oleh Haemin dicegah. “Biar di sini aja menemani aku,” katanya. Akhirnya aku tetap tinggal di ruang edit. Sementara Leeteuk dan Yesung diwawancara.

Satu jam kemudian saat keduanya kembali ke ruang edit setelah selesai diwawancara, aku, Haemin, Minhyun dan Sungmin sedang asyik mengobrol. Leeteuk ga banyak basa-basi dan langsung mengemasi barangnya, tapi Yesung malah bergabung dengan kami, menyela paksa di antara aku dan Sungmin yang duduk bersebelahan, mengakibatkan dia ditegur Leeteuk karena mereka sudah hampir terlambat untuk pergi siaran. Karena dia ga punya cukup alasan untuk tinggal lebih lama, maka dia menyuruhku untuk melakukan wawancara sekarang agar ga pulang kemaleman.

Saat itu PD-nim datang dan memanggilku dan Sungmin. Aku mengatakan pada Yesung bahwa aku akan segera pulang setelah selesai dan bahwa dia ga perlu khawatir, lalu meninggalkannya untuk memenuhi panggilan PD-nim.

Seperti yang telah kuduga, PD-nim ingin membicarakan tetang persiapan lagu kami, dia sekaligus menyuruh kami bersiap-siap untuk wawancara. Ketika dia sedang memberikan pengarahan pada kami, tanpa kusadari ternyata Yesung sudah berada di belakangku. “Sudah mau pergi, Yesung ssi?” PD-nim yang melihatnya datang segera menghentikan pembicaraan mengenai lagu persembahan kami.

Aku menoleh ke belakang dengan terkejut. Aku bisa melihat ada yang salah dengan ekspresi Yesung. Dia memang tersenyum dan bersikap seolah hanya datang untuk menyapa, tapi matanya ga demikian. Dia menjawab PD-nim, “Ne, hanya mau pamitan pada Bee ssi dan mengingatkannya akan sesuatu. Boleh saya pinjam dia sebentar, PD-nim?”

PD-nim menyilahkan aku untuk mengikuti Yesung. Ternyata dia hanya mengatakan bahwa makanan dari ibunya akan dibawanya, sehingga aku nanti ga perlu nenteng-nenteng bawaan. Aku mengiyakannya saja lalu menyuruhnya pergi. Dia memandangku lekat ketika aku melakukan hal itu, aku bisa melihat ada rasa kesal dalam pandangannya yang berusaha dia sembunyikan.

“Baiklah, aku pergi. Jangan pulang malam-malam,” katanya. Dia berbalik lalu segera meninggalkanku. Aku ga tahu apa, tapi aku merasakan adanya hal yang ga tepat. Sepertinya dia hendak mengatakan sesuatu tapi ditahannya. Ah, mungkin hanya perasaanku.

Aku pun kembali menemui PD-nim dan Sungmin. Dia menyuruhku dan Sungmin bersiap-siap diwawancara dan setelahnya kami bisa berlatih sementara menunggu yang lain diwawancara. Dia juga menyampaikan bahwa dia ingin melihat hasil latihan kami selama ini.

Sungmin mengusulkan pada PD-nim agar urutannya dirubah. Dia dan Minhyun diwawancara dulu agar setelah itu dia bisa mengantar Minhyun pulang, lalu dia akan kembali lagi ke studio. PD-nim tampak mempertimbangkan hal itu lalu menyetujuinya. Akhirnya disepakati bahwa wawancaraku akan dilakukan ketika Sungmin mengantarkan Minhyun. Latihan kami akan dimulai setelahnya.

Maka begitulah. Aku ikut dimake-up bersama yang lain meskipun giliranku wawancara bukan yang pertama. Ada sms masuk waktu aku menunggu giliran make-up. Dari Yesung.

‘Sudah mulai wawancara? Jangan dekat-dekat dengan Sungmin!’

Mwo?! Aku tersenyum senang membaca sms-nya. Jadi dia bener-bener cemburu. Aku boleh merasa tersanjung kan sekarang ini? Aku balas, ‘Lagi nungguin giliran make-up. Kamu konsentrasi aja sama kerjaanmu!’

Aku ga mau bohong. Ga mungkin aku ga deket-deket Sungmin.

Datang lagi smsnya, ‘Ya! Kamu udah janji ga akan deket-deket sama Sungmin!’

Aku balas, ‘Yadong! Kamu inget janjinya atau cara kamu maksa aku berjanji?!’

Aku menunggu apa yang akan menjadi balasannya, tapi rupanya dia ga ngebales lagi. Sampai aku selesai dimake-up, ga ada lagi sms dari Yesung. Maka aku juga mulai berbaur dengan situasi sekarang ini. Ngobrol dengan yang lain, siap-siap diwawancara, ngemil sebagai pengganti makan malam.

Akhirnya Sungmin selesai diwawancara dan sekarang dia sedang pergi mengantarkan Minhyun. Aku sendiri sedang menjalani proses wawancara. Pertanyaan demi pertanyaan aku jawab, lagi-lagi mengingatkanku akan kebersamaan Yesung dan aku selama beberapa hari ini. Entah bagaimana mataku tetap terasa kering meskipun hatiku gundah. Aku bernafas lega ketika pewawancara mengakhiri wawancara. Aku beranjak menuju ruang ganti dan mengganti kostumku. Kali ini aku ga akan membawanya pulang sebab ga akan ada lagi kesempatan untuk mengembalikannya. Perasaanku mengambang selama itu.

Akhirnya aku ga tahan lagi, kepada yang lain aku bilang aku hendak ke toilet, tapi sebenernya aku cuman mau mengucilkan diri. Aku melihat tangga ke lantai dua dan aku menuju ke sana. Ini sudah pukul 11 lewat, aku harap ruang latihan ga sedang dipake. Pelan aku menuju ke sana. Di depan pintu ruang latihan aku ragu sebentar tapi lalu memutuskan untuk membukanya.

Ternyata memang ga dipake. Syukurlah. Aku berjalan memasukinya dan mendekat ke arah cermin. Berteman iPod yang menyala, aku memperhatikan bayanganku sendiri. Namun sejujurnya pikiranku ga di sana. Kuraih HPku dan membuka koleksi fotoku. Muncullah rentetan foto-fotoku dan Yesung yang baru diambil hari ini.

Saat sendiri seperti ini aku menyadari bahwa ga mungkin terjadi apa-apa antara aku dan Yesung. Kami hidup di dua dunia yang sangat berbeda. Meskipun aku bahagia ketika dia memperhatikan aku, mencemburuiku, dan merawatku, tapi aku ga bisa mengabaikan kenyataan bahwa semua itu mungkin hanya saat ini. Aku tahu kami saling melengkapi dengan baik, tapi itu kan dengan kamera di sekitar kami, tentu saja aku dan dia harus bersikap baik satu sama lain. Apapun ceritanya, aku ga punya cukup kepercayaan diri untuk berharap.

Aku hanya sedang beruntung. Beruntung terpilih untuk mengenalnya. Beruntung bisa menjadi istrinya selama 2 minggu. Beruntung untuk memiliki momen sesaat dengannya. Air mataku menetesi foto kami berdua yang sedang memangku Dangkoma.

Tiba-tiba pintu ruang latihan terbuka. Buru-buru aku hapus air mataku dan mendongak untuk melihat siapa yang datang.

“Ternyata benar Noona ada di sini.” Sungmin.

Aku tersenyum padanya. Dia melangkah mendekatiku. “Kau sedang mendengarkan apa, Noona?” tanpa menunggu jawabanku dia menarik sebelah earphoneku. “Siapa nih…?” Sungmin tampak berusaha mengingat-ingat penyanyi I Wanna Be With You yang sedang diputar oleh iPodku.

“Mandy Moore,” jawabku singkat. Lalu bergumam menyanyikan liriknya.

How beautiful it is / Just to be like this
I wanna be with you / If only for a night / To be the one whose in your arms

Air mataku menetes lagi. Perasaanku belum sepenuhnya tenang. Aku masih sangat sedih mengingat bahwa mulai besok aku sudah harus ngangkutin barang lagi kembali ke tempatku yang sepi. Tanpa Yesung.

Melihat itu senyum Sungmin menghilang. Dilihatnya apa yang sedang kupegang. Dia melihat fotoku dan Yesung, dan langsung mengerti. Dia bergerak memelukku.

Aku ga mau begini. Kenapa aku harus begini lemah? Aku udah biasa sendirian, kenapa aku harus takut ditinggalkan Yesung sekarang? Toh aku akan mendapatkan hidupku kembali. Lengkap dengan semua privasi yang kumiliki.

Masalahnya Yesung udah merubah kesendirianku, kami udah mulai terbiasa satu sama lain. Dan lagi aku ga pernah merasa hidupku terampas dengan adanya Yesung, justru terasa semakin lengkap. Privasiku telah kubagi semua dengan Yesung. Jadi tolong beri tahu aku bagaimana aku akan bertahan tanpa Yesung?

“Mianhe, Sungmin-a, aku ga tahu akan sesakit ini memikirkan perpisahan dengannya,” aku sesenggukan di bahu Sungmin.

“Sssh, Noona. Ga papa. Aku ngerti.”

“Benarkah?” aku melepaskan diri dari pelukannya. “Kamu ga ngerasa ini konyol? Kami cuman bersama selama dua minggu! Kenapa aku jadi begitu bergantung padanya?”

“Karena Noona sudah jatuh cinta,” Sungmin berkata lembut.

Mendengarnya air mataku mengalir makin deras. “Ga mungkin!” aku membantahnya, “Aku belum mengenalnya sebelum dua minggu lalu. Dan aku ga percaya cinta bekerja secepat itu!”

Sungmin ga menjawabku. Dia malah memelukku lagi. Aku sesenggukan di bahunya. Dia menyandarkan kepalanya di kepalaku. Lama kemudian, saat tangisku udah sedikit reda, baru dia berkata lagi, “Cinta itu… datangnya ga pernah dengan peringatan…”

Tepat saat Sungmin mengatakan itu, pintu ruang latihan terbuka dan nampak Siwon di sana. Dia terpaku di tempatnya dan menatap kami tertegun. Pandangan matanya berubah dan dia berkata dengan dingin, “Untunglah aku langsung menemukan kalian berdua di sini. PD-nim mencari kalian.”

Aku mengusap air mataku dan melepaskan pelukanku dari Sungmin. Kubersihkan mukaku dan menjauh dari anak itu. Sungmin menjawab Siwon, “Oh, gomawo. Aku akan menemuinya. Kamu mau ikut, Noona?”

Aku mengangguk lemah. Setelah kupastikan bahwa mukaku ga terlalu kacau, aku melangkah ke pintu dimana Sungmin sudah menungguku di samping Siwon yang terus memandangku dengan sebal. Aku memaksakan seulas senyum dan Sungmin menarik tanganku. “Gaja, Noona.” Sesaat sebelum melangkah, dia menyempatkan diri mengamati mukaku dan membelai pipiku lembut. “Himneyo. Kita mau ketemu PD-nim.”

Ucapannya itu mengembalikan kesadaranku sehingga aku mampu menampilkan wajah biasa kali ini. Siwon mendengus dan berjalan duluan meninggalkan kami.

Aku dan Sungmin menemui PD-nim untuk membicarakan konsep penampilan kami. Dia menginginkan kami untuk melihat tempat yang akan disiapkannya sebab dia ga akan punya waktu besok untuk menjelaskannya pada kami. Kami bertiga setuju bahwa kami akan latihan sampai PD-nim selesai malam ini dan punya waktu menunjukkan tempat latihan pada kami.

Aku dan Sungmin pun kembali ke ruang latihan dan mulai berlatih. Di sela-sela latihan dia mengatakan bahwa aku ga perlu khawatir karena dia akan mengantarku pulang. Aku mengatakan aku ga memikirkan hal itu. Aku bisa pulang naik apa saja, karena toh aku akan pulang bersama kameramen. Tapi Sungmin mengatakan bahwa dia pasti akan mengantarku pulang. Aku hanya tersenyum menanggapinya.

Latihan terus berlanjut. Sekarang kami udah lebih kompak, koordinasi suara di antara kami juga udah mantap. Bahkan kami merencanakan gesture panggung kami sekalian. Sepertinya progress latihan malam ini sangat baik.

Pukul 12.30 PD-nim masuk ke ruang latihan. “Bagaimana latihan kalian?” tanyanya.

Kami menjawab baik. Sungmin bertanya apakah dia ingin melihatnya. PD-nim menjawab iya. Kami pun lalu menunjukkan padanya hasil latihan kami. Lengkap dengan gesture panggung yang sudah kami latih. PD-nim memberikan beberapa saran pada kami, terutama padaku. Aku memang perlu banyak masukan, karena aku satu-satunya yang ga memiliki latar belakang dunia hiburan. Kami terus berdiskusi dan berlatih sampai merasa cukup. Akhirnya PD-nim mengatakan bahwa dia akan menunjukkan panggung kami.

Saat itu HPku berbunyi. Yesung meneleponku. Kupersilahkan PD-nim dan Sungmin untuk jalan duluan. “Yoboseyo,” sapaku.

“Sudah tidur?”

“Belum. Aku masih di studio.”

“Mwo?! Ya! Cepat pulang. Ini udah malam. Emangnya wawancaranya belum selese?”

“Udah. Aku ada lagi perlu sama PD-nim.”

Kudengar dia menghela nafas, “Ya udah. Kamu tunggu, pulang dari KBS Radio aku langsung ke situ jemput kamu.”

“Ah, ga usah aku nanti dianter…” shit! Keceplosan. Aku pun ga meneruskan kata-kataku. Ga ada gunanya menutup-nutupi. Dia pasti udah bisa menduganya.

Anehnya dia diam. Begitu bicara, nadanya dingin banget, “Dianter Sungmin?”

“N, ne.”

“Aku, yang jemput kamu. Kamu tunggu.” Nada bicara Yesung tegas ga mau dibantah. Dia langsung menutup teleponnya dan ga memberi kesempatan untukku bicara.

Kupandangi telepon yang telah mati. Aku hanya bisa menghela nafas. Untungnya PD-nim dan Sungmin ga membiarkan aku melamun lama. Mereka segera membuatku sibuk dengan pengaturan panggung. Selama lebih dari setengah jam kami berlatih menguasai panggung. Latihan kilat, tapi toh ga banyak detil yang harus diingat, hanya penguasaan panggung sederhana.

Setelah berakhir, PD-nim menanyakan apakah kami akan langsung pulang atau tidak. Aku bilang Yesung akan datang menjemput, jadi aku akan menunggunya. Mungkin di ruang latihan. Mendengar itu Sungmin bilang bahwa dia akan menemaniku.

Aku bilang ga usah, tapi dia memaksa. Aku ga punya alasan yang tepat yang cukup meyakinkannya untuk meninggalkanku sendiri. Ga mungkin kan aku bilang kalau Yesung cemburu? Memang keliatannya begitu, tapi pria itu ga pernah mengatakannya, sementara aku hanya menebak saja. Akhirnya aku pasrah saja. Yah, kita liat aja nanti.

Setelah PD-nim pulang, aku dan Sungmin kembali ke ruang latihan. Kami menyempurnakan lagi perpaduan suara kami. “Noona, bagaimana kalau kali ini kita rekam?” Sungmin mengusulkan sambil mengeluarkan HPnya.

Aku antusias dengan idenya. Jadi kami duduk berdekatan, agar suara kami terdengar menyatu. Beberapa kali bahkan kami hampir membentur kepala satu sama lain, membuat senyum kami terkembang.


I’m lucky we’re in love every way / Lucky to have stayed where we have stayed /Lucky to be coming home someday
Ooohh ooooh oooh oooh ooh ooh ooh ooh / Ooooh ooooh oooh oooh ooh ooh ooh ooh

Sungmin memberi kode padaku untuk menjaga suaraku tetap stabil dan bulat hingga nada terakhir, lalu dia berhati-hati mematikan HPnya. Setelahnya kami saling memandang dengan antusias, sangat penasaran dengan hasilnya. Tanganku terangkat untuk bertepuk tangan. Namun belum sempat tanganku bertemu, terdengar tepuk tangan keras dari arah pintu.

Di sana, berdiri dengan senyum yang terlalu lebar, aura kemarahan yang terpancar jelas, tepuk tangan yang memekakkan telinga, adalah suamiku, Yesung. “Hebat, manis sekali kalian.”

Jika aku bisa merasakan kemarahan Yesung, itu udah wajar, sebab dari awal dia udah menunjukkan dengan jelas ketidaksukaannya jika aku berdekatan dengan Sungmin. Tapi rupanya Sungmin juga merasakan aura ga wajar dari Yesung, karena nadanya terdengar hati-hati ketika menyapa Yesung, “Hyung… wasseo?”

“Ne. Makasih, dongsaeng-a, udah nemenin istriku,” Yesung melangkah mendekati kami diikuti kamera di belakangnya. “Istrimu sendiri dimana?” lanjutnya.

Sungmin tersenyum, “Tadi udah aku antar pulang. Kasihan dia kelelahan.”

“Hahaha, baiklah. Kita pulang sekarang, Sayang?” tanya Yesung padaku.

Aku mengangguk kaku. Aku membereskan barangku lalu menyamai langkah Yesung. Tak berani mengatakan apapun. Di belakang kami, Sungmin mengikuti, juga dengan diam.

Di lantai bawah kami bertemu kameramenku dan kameramen Sungmin yang memang sengaja dipesan oleh PD-nim untuk ga merekam latihan kami. Lalu kami keluar studio bersama-sama. Sungmin mengikuti kami sampai ke mobil. Dia berdiri di sisi Yesung, “Hati-hati, Hyung,” pesannya pada Yesung.

Dari dalam aku melongokkan kepala, “Makasih, Sungmin-a,” kataku. Sungmin hanya melambaikan tangan.

Sejurus kemudian kami udah meluncur di jalanan menuju rumah. Karena malam hari, kami bisa menempuh perjalanan lebih cepat. Dalam setengah jam kami udah sampe di rumah. Selama itu tak satupun dari kami berbicara. Termasuk kameramen. Aku melihat mereka bahkan udah terkantuk-kantuk memegang kamera yang ga merekam. Kediaman itu terus berlanjut hingga kami memasuki rumah. Yesung hanya mengatakan satu hal padaku, “Aku lelah sekali. Aku tidur di sofa malam ini.”

Tanpa menunggu jawabanku dia menjatuhkan tubuhnya di sofa. Dia hanya membuka jaket dan kemudian terlelap di sana. Dengan miris kupandangi sosoknya. Aku memasuki kamar dan mengambil bantal sapi yang biasa kami gunakan untuk tidur di sofa. Juga selimut. Di atasnya kutumpuk rangkaian pembersih muka milik Yesung.

Aku keluar kamar dan meletakkan semua itu di meja. Kuambil pembersih muka dan kapas lalu beranjak ke arah kepala Yesung. Kuangkat kepalanya selembut mungkin, tapi tetap saja dia terjaga. “Ngapain kamu?” tanyanya hampir kasar. Hanya Tuhan yang tahu bagaimana caranya dia mengendalikan emosinya agar kamera ga mendeteksi kemarahannya.

“Tidurlah,” jawabku sambil meletakkan kepalanya di pangkuanku. “Biar aku yang membersihkan mukamu. Kamu kan idol, jangan sampe jerawatan gara-gara ga ngebersihin mukan.” Aku ga menunggu jawabannya. Aku ga menghiraukan penolakannya. Aku hanya mulai mengoleskan lotion pembersihnya. Berkonsentrasi mencakup seluruh wajahnya, lalu mengelapnya dengan kapas. Setelah selesai, aku meraih bantal sapiku dan kuletakkan di bawah kepalanya, menggantikan pahaku.

Selanjutnya aku mengambil haduk kecil milikku dari lemari lalu ke kamar mandi mengambil seember air hangat. Kubawa ke dekat sofa. Pelan-pelan aku mulai mengelap lehernya. Aku tahu dia belum tidur meski matanya terpejam. Aku ga peduli. Aku terus mengelap lehernya, lalu tangannya. Setelah itu aku buka kaos kakinya dan kulap kakinya. Setelah selesai, aku ke kamar mandi lagi, membereskan semua peralatan yang tadi kupakai sekaligus membersihkan diriku sendiri.

Akhirnya saat akan mematikan lampu, aku berucap pelan, “Selamat tidur, Sayang.”

Aku tertidur dengan hati gelisah. Di tengah kegelisahanku, aku mendengar sms masuk. Kuraih HPku dan kubaca pesan Yesung, ‘Bersabarlah. Toh lusa kau bukan istriku lagi.’

 

 

 

D12-KKEUT.

30 thoughts on “[Freelance] The Marriage and Us {Day 12}

  1. Kyaa… Maksud sms yesung yg trkhir itu apaa? -_-a yesung cemburu yaa?iyaa,kan? Ngaku aja dehh…. (Lha?) Aahh.. Suka ff ini bngtbngtbngt… Ditunggu lnjutnny ;;)

  2. Ecung cemburu nih,,,,hiihihih,,,bagus bgt ffnya,,,mian baru comment skrg,,,aku baca lgsg 12 lgsg comment,,,ceritanya benar2 keren,,,,good job :)

  3. aku minta pw buat part 13nya dong penasaran berat nich … pleasee ….
    kalo gak tau lnjtnnya aku masih penasaran bgt n jdinya gak bisa tidur ….
    hehehe ….

  4. Aku bru ngikutin cratanya. Bagus crtanya. Penasaran sama klnjtan crtanya. Part 13nya knapa diproteksi??? Jd penasaran sama Yesung. Blh mnta psswrdnya gk???Gomawo

  5. Ceritanya makin keren.
    Maaf baru bisa koment. Jaringannya erorr mulu.
    Aih, Yesung cemburu.
    13 kok diprotek sih? Aaaa… Aku penasaran Thor. Minta pw yah. Yah yah yah… Baik deh.

  6. eh itu kayanya siwon salah sangka ya, sama bee? terus itu smsnya yesung pas terakhir ngena banget. gaaaaaaaahhh kenapa ada masalahnya pas uda hari terakhir? berarti part ff ini masi banyak ya? ehe *0* jarang ada ff tentang yesung dan ini baguuusss banget

  7. miaaaaan aku baru komen sekarang, siang tadi aku baca dari part 1 ampe part 12 sekaligus -___-
    Aku suka banget ceritanya. Romantis, kocak, sedih dll komplit banget deh. Ceritanya bisa bikin senyum senyum sendiri. Kaya reaaaalllll banget nih kisah. Daebak Author !!!! Lanjut baca yg ke 13 aaah

  8. ich w ska part nie…
    ska..ska..ska…(ala upin ipin)
    daebak abiz nh yax buat ff nya
    w skaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa bgttttttttttttttt

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s