[Freelance] The Marriage and Us {Day 11}

Title : The Marriage and Us [Day 11]

Author : Bee

Main Cast : Yesung, Bee

Support Cast : all members of Super Junior and their wifes (?)

Rating : all ages (but kids, because they wouldn’t get it)

Genre : romance

Warning! : kissing scene

Ps : Mohon komennya ya.

Disclaim : biar kata terinspirasi dari WGM, alur cerita murni ide Bee. Oke? No plagiarism!
========================

 

Aku terbangun dengan kaki pegal. Ah, kenapa tadi malem jadinya aku ga nyempatin diri buat meriksa kaki ya? Sekarang rasanya kakiku bener-bener pegel. Mungkinkah lukaku infeksi? Kucoba untuk turun dan berjalan ke kamar mandi, tapi akh! Benar-benar sakit.

Aku berhenti sejenak. Aku harus ke kamar mandi. Selain karena kebutuhan mendesak, juga karena aku merasa perban di kakiku ini udah harus diganti. Lampu ruang tv masih mati. Tentu aja. Mana mungkin yesung udah bangun jam segini. Ini kan masih jam 4 pagi. Langit aja masih gelap banget.

Kubuka pintu kamar lalu meraba daun pintu, mencari tempat pegangan. Berhasil. Aku terus berjalan dengan metode yang sama sampai ke kamar mandi. Mencari pegangan, lalu melangkah, begitu seterusnya. Sayangnya di pintu kamar mandi peganganku meleset. Ga terelakkan lagi, aku pun tersungkur di lantai.

Sedang aku berusaha berdiri, Yesung udah mengangkatku dan menopangku dari belakang. Aku meliriknya, “Mian. Kamu kebangun ya?”

Dia ga memandangku, tapi dia bilang, “Harusnya kamu bangunin aku.”

Aku ga menjawab itu. Malah aku memintanya membantuku membuka penutup toilet. Sementar itu aku bersandar di kaca pembatas bilik shower menunggu Yesung keluar. Eh, dianya malah terdiam ngeliatin aku. “Kamu mau ngeliatin aku buang air?” tanyaku.

Mukanya bersemu merah. Ehehehe, manis banget. “Aku tungguin kamu di luar,” katanya. Abis itu dia menutup pintu kamar mandi. Baru aku mau menegakkan badan, pintu dibuka lagi, “Jangan dikunci pintunya,” pesannya.

Kuliatin dia, ya ampun, mukanya memerah lagi. Pelan-pelan dia menutup pintu kamar mandi. Sambil cengar-cengir aku menyelesaikan desakan yang tadi menyerangku. Aku suka banget ngeliat wajahnya yang bersemu merah gitu. Malu-malu gimana gitu.

Begitu selesai aku mencuci tangan. Sedang mencuci tangan, pintu kamar mandi terbuka lagi. Biarpun ga terkejut, aku ingin menggodanya, “Ya, kalau kamu terus keluar masuk begitu kayaknya aku ga bisa ngapa-ngapain dengan tenang ya? Salah-salah kamu masuk aku lagi ngapain, gitu,” kataku santai sambil memperhatikan bayanganku di cermin.

“Hah? Emang kamu belum jadi ngapa-ngapain? Kayaknya aku denger…”

“Aku udah selese. Jadi kamu mau bantuin aku ga?” kataku sambil mengulurkan tangan.

Dia dengan kikuk memasuki kamar mandi dan membantuku berjalan kembali ke kamar. Di kamar aku duduk di tepi tempat tidur. “Ah, aku lupa!” seruku.

“Apa?”

“Aku mau ganti perban.”

“Aku ambilkan,” katanya cepat lalu melewati satu kameramen yang kebangun dan sekarang sedang memfokuskan kamera padaku.

Aku nyengir ke arah kamera. “Selamat pagi yorobeun,” sapaku.

Tepat saat itu Yesung memasuki kamar. “Ini dia,” katanya membawa sekotak peralatan P3K.

Aku mengangkat telapak kakiku menghadap ke atas semaksimal yang aku bisa dan mulai membuka perban yang melekat. Melihat itu Yesung membantu membuka perban baru, lalu dia membantuku memasangnya dengan hati-hati. Dia berkomentar bahwa lukaku sepertinya serius, tapi aku meyakinkannya bahwa ini hanya luka luar yang menyakitkan tapi ga berbahaya. Kekhawatiranku tentang infeksi tadi terbukti ga bener.

Yesung bangun merapikan kotak P3K lalu berkata padaku, “Sebaiknya kamu ga usah kerja hari ini,” katanya.

Aku tersenyum konyol padanya lalu melemparkan tubuhku ke kasur dengan berlebihan. “Aku emang libur! Aaah, senangnyaaaaaaaa! Aku mau tidur sepanjang hari!” ujarku sambil guling-guling di kasur.

“Ga boleh. Meskipun ga kerja, kamu harus ngurusin aku. Aku kan butuh makan juga,” protesnya.

Aku menjawabnya dengan malas, “Emang kamu mau makan sekarang? Pagi-pagi buta begini?”

“Ya maksudnya nanti siang. Karena aku juga libur, jadi aku juga akan di rumah seharian,” jawabnya sambil meletakkan kotak P3K di meja samping tempat tidur.

“Benarkah?” tanyaku bersemangat. Sekarang aku menatapnya. “Kalau begitu, gimana kalau kita tidur sampe siang? Beraktivitas lambat?”

Dia duduk di tempat tidur membelakangiku. Kepalanya menoleh, “Kalau begitu aku tidur di sini ya?” senyumnya jail.

“Oh,” aku mengangguk-angguk. Aku merubah posisi tidurku dan berguling ke deket dinding.

“Bener nih?” dia memastikan. “Aku beneran tidur di sini lho…”

Aku ga menjawab tapi membuka selimut lalu menepuk-nepuk tempat kosong di sana. Sebagai balasannya, aku mendapatkan senyumnya. Dengan mata mengamatiku jail dia bersiap masuk ke dalam selimut. Aku menunggu sampai sejauh mana dia akan bertindak. Aku ga yakin dia berani.

Dan aku menang! Dia bangun dan berkata, “Ga ah, aku tidur di luar aja.”

“AHAHAHAHAHAHAAHHAAAhhmmmph…” aku menertawainya yang langsung dibalas dengan serangan selimut olehnya. Aku terus cekikikan sambil melihatnya keluar kamar.

“Diamlah!” serunya dari luar.

Kukeras-keraskan suaraku, “HAHAHAHAHAAA…. Akulah penguasa tempat tidur!!!”

“Ya!” dia menghardikku dari tempatnya. “Kembalilah tidur! Pagi-pagi udah ribut!”

“AAAAhhh… TEMPAT TIDUR INI HANGAT SEKALI… LUAS DAN AKU BISA BERGULING-GULING SESUKAKU…”

“Eeeiissh!” tiba-tiba dia udah berdiri di pintu kamar memeluk bantal sapi.

Melihatnya aku semakin senang dan berniat membuatnya semakin kesal. Aku memiringkan tubuh dengan kepala disangga oleh satu tangan. Senyum jahatku terkembang. Tanganku yang lain menyusuri tempat tidur dengan sok nikmat. “Aah, kasur yang nyaman… KasurKUUUU.” Dengan sengaja kutekankan kata ‘ku’.

Rupanya dia ga tahan lagi. Dia melompat ke atas kasur. “HIYAAA! Sekarang jadi kasurku juga!” karena beban tubuhnya, aku terlempar ke samping membentur dinding.

“Aduh!” seruku.

Dia melihatku kaget. “Ya, dajinde eobseo? Sakit ya?”

Aku mengelus-elus lenganku yang terasa sakit. Tapi ga terlalu. Jadi aku katakan padanya ga papa. Tapi dia kelihatan khawatir banget terus malah bangun dan ikutan ngelus-elus lenganku. “Gwenchanha,” kataku menyingkirkan tangannya.

“Mian…” katanya penuh penyesalan.

“Ga papa. Udahlah, tidur aja sana,” perintahku sambil beranjak dari tempat tidur.

“Eh, kamu mau kemana?” dia terkejut melihatku bangun.

“Mau keluar. Biar aku yang tidur di sofa. Kamu pake aja tempat tidurnya.”

Dia menarik tanganku hingga aku terjatuh lagi ke tempat tidur. “Wae?” tanyanya dengan nada menantang.

“Ya ga kenapa-kenapa. Aku mau tidur aja di sofa.”

“Emangnya kenapa kalo kita tidur di sini? Ini udah pagi. Sebentar lagi terang. Lampu kamar nyala. Ada kameramen juga. Ga mungkin kita ngapa-ngapain kan?”

“Kalo aku dibunuh fansmu setelah ini, gimana?”

“Fansku baik-baik. Ga mungkin ngebunuh kamu. Udahlah, kita tidur di sini aja berdua,” sambil begitu dia mencengkeram tanganku. Matanya lalu terpejam.

Dadaku berdebar. Masa tidur berdua di sini sih? Aku menuruti akal sehat dan berusaha bangun. Tapi cengkeraman tangannya malah makin kuat. Mulutnya bergumam, “Udahlah, tidur aja di sini. Aku ga akan melepaskanmu.”

Aku menatapnya sebal. Jadi aku duduk menyandar di dinding. Aku akan tunggu sampai dia terlelap sehingga lebih mudah bagiku melepaskan diri darinya. Dia diam ga bergerak. Matanya terpejam dan tampak tenang. Kucoba menarik tanganku, dia ga bergeming. “Ga akan kulepas,” katanya masih dengan mata menutup.

Oke, aku punya cukup kesabaran kok. Akan aku tunggu sampe kamu bener-bener lelap.

Aku membuka mata dan semuanya terang benderang. Lampu kamar menyala, sinar matahari menerobos masuk dengan bebas. Aku tersenyum.

Aku kalah. Sekarang ini aku udah meringkuk di kasur menghadap punggung Yesung. Sepertinya kami sama-sama jatuh tertidur. Entah siapa yang duluan.

Aku meraba-raba kasur mencari HPku. Ah, itu dia. Di sebelah kepala Yesung. Aku ambil hati-hati, tepat saat tubuhnya berputar. Matanya udah terbuka. Dia kelihatan terkejut karena begitu membuka mata ada aku. Sejurus kemudian senyumnya muncul, “Morning,” sapanya.

Cieeee, hebat banget, baru bangun langsung inget bahasa Inggris. “Joheun achim,” balasku.

“Bahasa Indonesia-nya apa?” dia bertanya sambil menghadapkan tubuhnya ke arahku.

Aku bangun dan duduk, “Pagi,” jawabku.

“Pa… gi…?”

“Oh,” anggukku. Kulihat jam di HPku. “Tapi ini udah siang,” kataku padanya sambil meringis.

Dia bangun dan mengucek matanya. “Jam berapa ini?”

“Jam setengah 12.”

Dia pun menguap sambil mengelus perutnya, “Aku lapar,”

“Oh, arasseo.” Aku segera bangun hendak membersihkan diri agar bisa secepatnya membuatkan makanan. Di pinggir tempat tidur, Yesung dengan sigap menahanku, membantuku berdiri.

Dia bilang, “Ga usah masak. Kita pesan aja. Aku lagi males makan makanan rumah.”

Aku menatapnya. “Kamu yakin?” tanyaku. Aku tahu dia sebenernya mikirin kakiku.

“Ya. Sekarang kamu mau ngapain?”

“Mau mandi.”

“Oke, aku bantu.”

“Mwo?! Kamu mau mandiin aku?! Ga usah, makasih,” aku panik.

“Ani, maksudku bantu kamu jalan ke kamar mandi. Yadong banget sih kamu,” ujarnya padaku.

“Ya, yang yadong itu kamu. Mana ada orang dibantuin mandi.”

“Ada. Aku suka ngebantuin ayahku menggosok punggungnya waktu mandi.”

“Itu kan sesama laki-laki. Ini kan laki-laki dan perempuan.”

Dia seperti hendak mengatakan sesuatu tapi ditahannya. “Mwo? Kalo mau ngomong, ngomong aja,” kataku.

“Suami istri juga sering begitu,” sahutnya lirih.

“Ya itu kan suami-is… Ya! Enaknya nanti kita makan apa ya??” Aku berbelok mengalihkan pembicaraan menghentikan topik kami. Bagaimana pun juga kami ini kan pura-puranya suami istri. Walaupun semua orang tahu ga mungkin kami benar-benar melakukannya, tapi ga mungkin juga aku mengatakan bahwa kami bukan suami istri. Yah, padahal sebenernya bisa juga sih. Tapi kan harusnya kami berakting sebagai suami istri…

HAH! Aku ini kenapa sih? Aku ga ngerti apa yang sebenarnya ingin kukatakan, tapi yang jelas pada dasarnya otakku emang yadong. Pikiranku udah kemana-mana aja mikirin Yesung ngebantuin aku mandi. AAaah! Rasanya lagi-lagi aku makan semangkok penuh sambel cabe setan. Baru bangun pikiranku udah ga jelas. Pabbo pabbo pabbo.

Kami berdua akhirnya udah tampil rapi satu jam kemudian. Kami berdua duduk di sofa di depan tv sambil menunggu ayam goreng pesanan kami datang. Karena biasanya kami berdua ga seluang ini, kami jadi bingung dan canggung duduk berdua tanpa rencana. Bahuku dan bahu Yesung bersentuhan, karenanya kami memalingkan muka kami ke arah yang berlawanan. Tanpa kegiatan, tanpa rencana, hanya berdua dengannya di rumah membuatku semakin menyadari sosoknya.

“Uri…” dia memulai pembicaraan. “Ngapain hari ini?” lanjutnya.

Aku terdiam sesaat. “Nonton tv aja,” usulku sambil mengambil remote dan menyalakan tv. Tayangan dokumentasi. Berita perang. Talk show. Iklan. Drama. Aah, kenapa semua kayaknya membosankan ya? Padahal biasanya tv lumayan bisa diharapkan.

“Matikan aja lah,” Yesung akhirnya ngomong.

“Oh. Ga ada yang enak ditonton,” aku menyetujui lalu mematikan tv. “Ayamnya kok lama ya?”

Yesung diam aja. Tiba-tiba dia bangun dari duduknya menuju ke arah tv. Ternyata dia mengambil daftar misi buatannya yang tertempel di sebelah tv. “Kita lupa ini,” katanya.

Aku ga menjawab, hingga akhirnya dia mungkin penasaran kenapa aku diam aja, jadi dia menoleh ke arahku. “Apa yang akan kita lakukan dengan ini?” tanyanya kepadaku.

Aku masih diam sampai beberapa saat baru kemudian menjawab, “Ambil aja lah. Kamu pikir kita udah melakukan berapa hal yang ada di situ?”

“Hahaha, ga satupun. Kita punya misi-misi sendiri,” dia ketawa sambil nyabut daftar itu dari dinding.

Aku ikutan ketawa. Kuperhatikan dia membentangkan kertas itu di atas meja. “Maaf ya Sayang, hasil karyamu ga kepake,” kataku pada Yesung.

Dia mendengus, “Aku juga lupa.” Dia berbalik menghadap akuarium Dangkoma, mengangkatnya dari sana lalu meletakkannya di atas kertas. “Ayo kita kasih makan Dangkoma,” ajaknya padaku.

“Di situ?”

Dia cuman mengangguk. Ketika dia hendak mengambil makanan Dangkoma, tiba-tiba terdengar dering bel dari pintu depan. Ayam pesanan kami datang. Yesung yang menerima sekaligus membayar pesanan itu. Dari pintu dia berteriak, “Sayang, tolong kembalikan Dangkoma ke tempatnya. Kita makan dulu aja.”

Aku menurut. Kugeser dudukku kemudian mengangkat Dangkoma kembali ke akuariumnya. Baru kuletakkan, Yesung udah datang dengan empat kotak ayam goreng. Setelah itu dia ke kamar mandi untuk mencuci tangannya. Dia kembali dengan handuk kecil yang kemarin kugunakan untuk membasuh tubuhnya. “Sini tanganmu,” katanya.

Handuk itu ternyata basah, dan dia mengelap kedua tanganku dengannya. Sewaktu aku bertanya kenapa dia melakukan hal itu, dia menjawab bahwa dia ingin agar aku ga banyak bergerak. Ada yang hangat merembes dalam hatiku mendengar jawabannya itu. Dia begitu perhatian. Ada kamera atau ga, aku tetap merasakan kehangatannya. Hampir aku ga sanggup menahan diri mengekspresikan kegembiraanku.

Selanjutnya kami mulai makan. Kali ini masing-masing kami sanggup menghabiskan satu kotak ayam. Kami ternyata lapar sekali. Kami ngobrol ringan. Membicarakan apapun, mulai dari yang serius seperti masalah lingkungan hingga topik ringan seperti berapa kali dalam sebulan dia merawat diri ke salon.

Siang itu kami lalui dengan lambat, santai, dan banyak tertawa. Aktivitas yang sangat membosankan untuk mengisi sebuah acara tv, tapi kami menikmatinya. Aku yakin itu. Kami membiarkan kotak bekas ayam menumpuk di atas meja, lalu Yesung lagi-lagi mengelap tanganku sesudah makan. Kami duduk lagi berdampingan di sofa, memberi makan Dangkoma lalu setelah selesai hanyaduduk rileks. Melewatkan tv, Yesung mengambil iPhonenya dan menyalakannya. Kami nyanyi-nyayi bersama.

Aku mendesah ketika mendengar intro I’m Yours milik Jason Mraz. Hari ini masih dingin seperti layaknya hari-hari awal musim semi, tapi di luar sana matahari menyorot dengan ceria. Sinarnya ramah menyentuh bumi. Lagu itu membawa mood ceria ke tengah-tengah hari kami yang santai.

so, i won’t hesitate no more,
no more, it cannot wait i’m sure

aku bangun dari sandaranku dan mulai bergoyang mengikuti nada lagu yang semi reggae.

there’s no need to complicate our time is short this is our fate
i’m yours

Aku bergaya lebay menyanjungnya. Membuat dia tertawa.

Akhirnya dia ikut bernyanyi bersamaku meski ga terlalu hapal liriknya. Yang penting pedeeee… Kami sibuk cekikikan ketika aku atau dia melakukan kesalahan saat mengucapkan lirik “Ih, Jason Mraz salah-salah melulu ih, nyanyinya!” celetukku ketika kami melakukan salah lirik untuk kesekian kalinya. Lalu dia juga bangun dari duduknya, menari-nari geje, sementara aku tergelak-gelak di sofa. Kurasa Jason Mraz akan tersinggung kalau melihat cara kami meng-cover­ lagunya.

Ketika lagu berakhir, Yesung kembali duduk dengan tampang lelah. Lelah karena abis nari-nari geje, dan lelah tertawa. Aku lalu berkata padanya, “Ajarin aku nyanyi, dong?”

Dia memandangku. Kemudian memutar tubuhnya hingga bersila di sofa, “Kamu mau nyanyi?” tanyanya.

Aku ikut-ikutan memutar tubuhku menghadapnya. “Aku pengin bisa nyanyi.”

“Untuk apa?”

“Untuk konser.”

“Kamu mau konser?” dia menatapku ga percaya.

“Mm!” anggukku pasti. “Di kamar mandi.”

“Hahahaha. Terus pendengarnya siapa?”

“Kalo di rumah sih orang tuaku dan adikku.”

Dia memandangku. Lalu pertanyaannya menyimpang, “Ceritain tentang keluargamu,” pintanya.

Aku menarik nafas, mendongak mencoba mencari awalan untuk bercerita. “Ng, aku itu… Anak kedua.”

“Oh. Aku anak pertama,” selanya.

“Gitu ya? Adikku satu, kakakku satu, dua-duanya perempuan. Mereka semua anak-anak pintar, dan di antara kami bertiga hanya aku yang paling ga suka belajar,” terusku.

Kulihat Yesung menyandarkan kepalanya di satu tangan, mendengarkan ceritaku. “Ayahku,” aku mulai mencungkil-cungkil sofa seperti kebiasaanku kalau bercerita santai, tanganku ga bisa diam. “Adalah pegawai negeri biasa. Tapi ibuku, dia paling mencintai keluarganya dan uang.” Sekarang tanganku berada di ujung celananya, tanpa sadar melipat-lipatnya.

“Ibuku itu paling rajin berusaha apapun. Mulai dari bikin kue untuk dijual, mencoba menjahit, bikin EO, apa aja dia coba. Sayangnya dia cepat bosan, jadi usahanya ga pernah bertahan lebih dari 1 tahun biarpun relasinya banyak. Makanya kami ga pernah kesampaian jadi kaya.”

Tangan Yesung menghentikan gerakan tanganku yang sekarang mulai melipat-lipat kertas daftar misi kami. “Hentikan,” katanya. “Coba liat sini,” bujuknya agar aku bercerita sambil memandangnya.

Aku tersenyum malu menyadari kebiasaanku. Lalu aku mulai cerita lagi sambil menatap wajahnya, “Di rumah aku sering dimarahi karena selalu mandi paling lama. Aku bisa di kamar mandi sampai lebih dari satu jam.”

Dia membelalak. “Ngapain kamu?”

Di telapak tanganku aku bisa merasakan ibu jarinya lembut mengusap pergelangan tanganku. Aku menikmatinya. “Aku cuman mandi di 10 menit terakhir. 20 menit kalau keramas. Tapi sebelumnya aku selalu konser di dalem kamar mandi. Kamu tahu kenapa?”

“Kenapa?” tanyanya penasaran sambil terus mengusap pergelangan tanganku.

“Karena di kamar mandiku ada kaca yang terletak cukup tinggi. Aku selalu ngebayangin kaca itu lampu sorot di atas panggung, dan biasanya aku nyanyi-nyanyi geje gitu di depan kaca.”

Dia ketawa, “Jadi sekarang kamu mau konser lagi?” Jemarinya kini menyelusup di antara jari-jariku.

Aku mengangguk.

“Rencananya di kamar mandi mana?”

Aku mikir. Dimana ya? Kumainkan tangannya sambil terus berpikir. Rasanya udah lama banget aku ga punya cukup banyak waktu untuk berlama-lama di kamar mandi. Bukan hal yang jelek juga sih, cuman kadang aku kangen melepas beban sambil teriak-teriak yang dibikin merdu.

Yesung menghentikan pikiranku dengan berkata, “Gini aja, aku ajarin kamu nyanyi, tapi kamu harus konser di depanku. Jangan di dalem kamar mandi.”

Aku memiringkan kepala. “Jelasin,” pintaku padanya.

“Kita latihan satu lagu, terus abis itu kamu nyanyiin lagu itu di depan aku.”

Aku menatapnya. Senyumku mulai muncul. “Lagunya apa?”

Dia menimbang-nimbang, “Gawi-bawi-bo, untuk nentuin siapa yang nentuin lagunya. Gimana?”

Aku mengeluarkan smirk-ku, “Geurae!”

Kami lalu melakukan suit, dan tenyata Yesung yang menang. Aku malah antusias. Kira-kira lagu apa yang akan dipilihnya ya? Dia bertanya, “Kamu tahu lagu kami?”

Aku mengangguk. “Beberapa…”

“Lagunya Suju KRY?”

“Hmmm, aku tahunya lagunya Suju. Aku ga hapal mana lagunya Suju KRY, mana lagunya Suju M, mana lagunya Suju doang…” aku memberitahunya dengan jujur.

Dia mengambil iPodnya, lalu mencari-cari sesuatu di dalamnya. Sebentar kemudian mengalunlah sebuah lagu lama. Ga terlalu asing, tapi aku ga hapal. “Ini?”

“Kayaknya pernah denger.”

“Nyanyi lagu ini aja. Judulnya Han Sarammaneul.” Yesung memutuskan.

“Han Sarammaneul… Ah, maaf, aku ga hapal judulnya. Tapi aku yakin udah pernah denger lagu ini sebelumnya.”

“Ya! Pokoknya mulai sekarang kamu harus dengerin lagu-lagu Suju. Masa lagu-lagu suamimu sendri kamu ga apal?!” dia tiba-tiba protes.

Aku yang sedang mendengarkan lagu Han Sarammaneul ga terlalu memperhatikan protesnya, jadi dengan santai aku jawab, “Iya, iya…”

“Issh, kamu ga dengerin aku ya?”

Aku diem aja. Aduh, suara Kyuhyun indah banget, aku lagi sibuk berpikir demikian. Aku hanya setengah menyadari bahwa Yesung udah bangkit dari sebelahku dan memasuki kamar. Ketika kembali, selembar kertas dan pulpen di tangannya berhasil mengalihkan perhatianku dari lagu yang sedang kudengarkan. Dia kemudian mencoret-coret kertas itu dengan tulisannya.

Saat dia sedang menulis, lagunya habis, jadi kuambil iPod Yesung dan kuputar ulang lagunya. “Sayang,” panggilku.

“Hmm?”

“Kusetting untuk repeat song ya?” aku meminta ijin padanya.

“Oh.”

Terdengar lagilah lagu Han Sarammaneul diawali oleh suara Kyuhyun. Aku mendesah. Ada yang berdesir dalam dadaku ketika mendengar suaranya. Aku memejamkan mata dan ga sadar menggerak-gerakkan kepala mengikuti nada ballad lagu itu.

Mendadak pahaku ditepuk oleh Yesung. “Sayang, ini liriknya.”

Aku membuka mata. Kuambil kertas yang disodorkannya kepadaku. Kuperhatikan liriknya, sementara dia mematikan lagu yang sedang terputar.

“Kamu udah hapal nadanya?” tanyanya.

Aku menggeleng. Mataku terus membaca sampai habis. Lalu kuulangi lagi dari awal, “Eonjebuteo yeohtneunji ijesseoyo,” gumamku.

“Ijeosseoyo,” Yesung mengoreksiku.

“Ijeosseoyo,” aku menirunya.

Aku merasa ada yang aneh, “Sayang, ini ‘I dedin shiganeul jikyeobojyo’ ya?”

“Eodi?” dia menarik kertasnya. “Ah, ani, ige ireohke, ‘I deodin’ yang benernya,” ujarnya setelah mengoreksi tulisannya yang salah.

Kuteruskan lagi membaca sampai tuntas untuk yang kedua kalinya, lalu berkata, “Okeh.”

“Hapal?”

“Ya enggaklah. Maksudnya ayo sambil dengerin lagunya.”

Dia nyengir lalu memutar lagu Han Sarammaneul lagi. Kali ini aku berkonsentrasi memperhatikan liriknya. Aku perhatikan baik-baik setiap belokan nada. Semakin lama aku semakin menyukainya. Lalu akhirnya lagu itu berakhir.

Aku meminta diputar sekali lagi. Yesung menuruti permintaanku. Kali ini aku udah bisa mengikuti liriknya sedikit demi sedikit. Kadang terdapat beberapa kesalahan pengucapan yang langsung dibenarkan oleh Yesung. Dia juga ikut bergumam sedikit-sedikit di sampingku. Ketika lagu berakhir lagi, dia memintaku menyanyi tanpa diiringi musik.

Awalnya aku protes karena ngerasa belum siap, tapi dia memaksa. “Nanti kalo salah kan bisa aku koreksi,” bujuknya. Karena ga bisa ngebantah lagi aku pun menurut.

Aku memulainya dengan malu-malu dan setengah-setengah, tapi Yesung malah memarahiku bahwa aku ga akan bisa bagus kalau mencobanya nanggung begitu. Kesal dimarahi oleh Yesung, aku mencoba lagi tanpa melihat mukanya dengan dua tujuan, agar bisa berkonsentrasi pada liriknya dan agar ga perlu ngeliatin mukanya.

Yesung sih kayaknya ga sadar aku sebel ama dia, soalnya dia terus aja ngasih koreksi ke aku dengan blak-blakan. Yang pengucapannya salah lah, yang nadanya goyang lah, pitch controlnya ga stabil lah, nafasnya kurang lah. Hhh, capek juga ternyata belajar nyanyi itu. Tapi kok aku antusias ya? Rasanya seneng waktu denger suaraku sendiri bisa bulat dan lantang.

Lama-kelamaan aku terbiasa dengan kritikan Yesung dan bisa menerimanya murni sebagai kritik membangun dan ga ada lagi rasa kesal. Pelan-pelan juga aku hapal liriknya. Kini menguasai cengkok lagu jadi lebih mudah. Aku jadi lebih terfokus pada nada utama dan ga terganggu lagi oleh backsound yang bertebaran dimana-mana mengingat ini lagu trio. Emang saat aku yang nyanyiin lagunya jadi datar dan ga menarik, apalagi tanpa musik, tapi dalam benakku, musiknya udah mengalun otomatis. Tempo nyanyianku sekarang juga lebih stabil.

Di akhir latihan yang ke sekian, aku menarik nafas. Yang terakhir ini aku berhasil menyelesaikannya tanpa kehilangan kontrol nada rendah, kesalahan yang paling sering kulakukan, dan di antara semuanya, aku merasa ini yang paling memuaskan. Hanya saja, aku memang menyanyikan seluruh lagu sambil menutup mata. Aku membuka mata dan tersenyum ke arah Yesung, “Eotte?”

Dia tersenyum lebar. Tangannya terangkat mencubit pipiku keras.

“Aww!” aku melepaskan pipiku dari cubitannya. “Jadi gimana? Udah pas apa belum lagunya?” tanyaku sambil merengut. Kuelus pipiku yang panas habis dicubit olehnya.

“Perpect!” katanya.

“Jinjja?” aku berseru senang.

Dia mengangguk bersemangat. Lalu lagi-lagi mencubit pipiku keras, “Aigo, aigo, Uri Sayang neomu giyeowooo…”

“Aaaahh… Appwoh..appwoh..” seruku ga jelas karena pipiku masih dicubitnya.

Saat itulah HPku berbunyi. Kuraih HPku, ternyata sms dari Sungmin. ‘Noona, bagaimana kondisimu? Bagaimana kalau kita berlatih di tempatmu saja? Agar kau bisa beristirahat.’

Langsung kubalas, ‘Baiklah. Agak malam aja ya? Soalnya nunggu Yesung berangkat SUKIRA.’ Begitu kulihat jam di HPku, aku terkejut. Ternyata udah pukul 5.30. Kucocokkan jamku dengan jam dinding. Ternyata emang bener udah sesore itu.

“Ada apa? Pasien lagi?” tanya Yesung dengan nada sedikit terlalu penasaran.

“Ah bukan, temanku. Ah, Sayang, ternyata udah jam segini. Lama juga kita latihan.”

Yesung melirik jam dinding. “Ya, lumayan juga. Tenggorokanmu ga sakit sekarang?”

Aku menggeleng, “Cuma jadi cepet kering aja,” jawabku.

“Aku ambilin minum lagi deh,” dia berdiri sambil meraih gelasku yang tadi sempat diambilkan olehnya di tengah-tengah latihan. Gelas yang udah kosong beberapa kali dan kosong lagi sekarang.

Dari dapur, dia berkata padaku, “Sayang, gimana kalau malam ini kita makan di luar?”

“Eh? Makan di luar?” tanyaku.

“Kakimu kuat ga kira-kira?”

Aku mengabaikan pertanyaan itu dan malah bertanya, “Emang mau makan apa sih?”

“Apa aja terserah kamu,” ujarnya sambil mengangkat bahu.

“Aku pengin jajangmyun di tempat langgananmu lagi. Gomawo,” kataku sambil menerima uluran gelas darinya.

“Boleh. Kita ke sana jam berapa?” tanyanya.

Aku meneguk airku. Ah, lega. “Satu jam lagi?”

“Oke. Ah, cham! Gimana kalau kamu konser di sana buat aku?” matanya tiba-tiba berbinar.

“Mwo? Ssireo. Aku malu.”

“Kenapa mesti malu?”

“Aku pikir aku mau nyanyi di dalem rumah aja. Di luar rumah entar banyak yang liat.”

“Aaa~ Sayang. Di sana aja~” Yesung bertingkah manja banget. Mukanya diimut-imutin.

“Ssireo.”

“Jebaaal. Ne, Sayang?”

“Ssireo…”

“A wae wae wae?” sekarang dia menghentak-hentakkan tubuhnya di atas sofa.

“Aku malu~. Di rumah aja ya? Abis pulang makan.”

Yesung ga ngejawab, tapi bibirnya manyun. Ya abisnya gimana lagi. Aku kan malu kalo harus nyanyi di luar gitu. Meuni cuman nyanyi biasa doang. Masih mending kalo ada musiknya, terus buat seriusan kaya tawaran PD-nim. Lah ini kan ga ada. Aku biarin aja dia manyun. Yang penting aku ga mau.

Gara-gara itu kami terdiam beberapa saat. Akhirnya aku mengalah, aku akan membujuknya duluan. “Sayaang, jangan marah dong…” kataku pelan.

Dia cuman melirikku. Mulutnya ga manyun lagi. Tapi mukanya datar banget. Malah bikin aku yakin dia marah beneran. “Saaayaaaang…” kusentuh pinggangnya.

Dia mengelak. Bergeser menjauhiku. Aku keukeuh. Kudekati dia. “Yaaang…”

Berhasil. Kali ini dia menoleh. “Apa itu?” tanyanya.

“Itu singkatan dari sayang. Yaaang…”

Dia menatapku. Lalu mengangguk pelan-pelan. Aku memanggilnya lagi, “Jangan maraaah…”

“Kalau begitu, nanti kamu harus dandan.”

“Hah?”

“Kamu konsernya di rumah. Tapi kamu harus dandan buat aku.”

Aku udah mau menolak, tapi takutnya nanti dia marah lagi. Ah, dandan di rumah inilah, “Oke,” akhirnya kuiyakan permintaannya.

“Jinjja?” matanya membelalak kegirangan.

“Oh,” sahutku.

“Yaksuk?”

“Yaksuke…”

“Gerigo,” tambahnya dengan nada menggantung.

“Apa lagi?”

“Jigeum popo…”

Yaelah, ni orang… aku bergerak menjauhinya tanpa menjawab.

“Mau kemana kamu?” tanyanya menahanku.

“Popo andweh,” jawabku langsung.

“Wae?”

“Kan aku udah nyanggupin syarat kamu tadi, yang suruh dandan itu. Ya udah dong..”

“Aaah, tapi kan kurang. Aku udah ngelatih kamu nyanyi, hayo! Aku juga capek lho. Paling ga aku dibayar dong pake popo…”

Aku menatapnya ga percaya. Aku yang salah. Terlalu lengah.

Dia melihat tatapanku. Lalu dia mendekat. Mengangsurkan pipinya. “Sayang, yeogi,” katanya menunjuk pipinya. “Yeogisseo… popo.”

Dengan tangan kujauhkan wajahnya. Akibatnya dia melirikku marah.

Tiba-tiba tanganku udah digenggamnya erat lalu dia mendekat. Matanya menyipit. “Kalau kamu ga mau nyium aku, aku yang cium kamu.”

Aku terkejut mendengar pernyataannya. Belum sempat aku bereaksi, bibirnya udah menempel di pipiku. “Mmmuah!” membuatku makin terperanjat.

Cepat-cepat dia lepaskan tangannya lalu berdiri. “Aaah! Sore yang menyegarkan! Aku mau siap-siap sekarang…” dia melenggang santai meninggalkanku masuk ke kamar mengambil baju ganti.

Aku masih melotot memandanginya. Terkejut dengan apa yang diperbuatnya di depan kamera. Sialan, aku kecolongan.

Di pintu kamar, dia memandangku tanpa rasa bersalah, “Kamu ga siap-siap, Sayang?” Baju ganti ada di tangannya.

Aku memberinya merong sebal. Lalu berusaha bangun. Kali ini dia ga berusaha membantuku. Tertatih-tatih aku menuju kamar. Di pintu kamar dia ga mau minggir. “Awas, aku mau lewat!” ketusku main-main.

Dia nyengir setan. Dipegangnya kedua lenganku lalu dikecupnya pipiku yang satunya. Cup. Dan secepat kecupannya, secepat itu pula dia melarikan diri. Meninggalkan aku yang berteriak di pintu kamar, “YA! YESUNG!”. Sayang aku ga punya senjata apapun untuk kulemparkan padanya. Ga mungkin dong ah, ngelempar diriku sendiri. Walau bukan ga mau sih. Hihihi..

Aku mendengar pintu kamar mandi dibuka lagi lalu terdengar seruannya, “Sayang, kamu ganti di kamar aja!” lalu pintu kamar mandi ditutup lagi.

Aku melotot. Mana mungkin aku ganti di kamar? Kan ada kamera… Uh-oh, ternyata entah bagaimana Yesung udah nutupin kamera pake selembar kaos yang sepertinya adalah miliknya. Aku tersenyum melihatnya. Pelan-pelan aku berusaha masuk kamar. Sepertinya lukaku makin membaik. Pegalnya udah ilang dan sekarang pedihnya lebih bisa ditahan. Dan makasih pada Yesung, aku bisa ganti baju dengan nyaman di dalem kamar.

Tepat pukul 6.30 kami meninggalkan rumah. Kami hanya memakai pakaian santai. Berlapis mantel hangat. Tadi sewaktu aku selesai mengganti baju, Yesung udah merapikan bekas-bekas makan siang kami yang berantakan banget. Aku jadi enak, ga perlu beres-beres. Hehehe.

Ah, segarnya udara luar. Setelah seharian berada di dalam rumah, rasanya di luar rumah terasa sangat menyenangkan. Meskipun cuman buat makan malem sebentar doang.

Begitu sampe di warung jajangmyun, kami disambut dengan antusias oleh pemiliknya. Pengunjung warung kali ini lebih sedikit dari saat terakhir kali kami ke sini. Kali ini pun, ga ada yang mengistimewakan kedatangan Yesung kecuali pemiliknya. Kami lagi-lagi memilih tempat di atap. Hehe, bagiku ada dua alasan, pertama karena makan jajangmyun anget di udara yang dingin lebih nikmat. Alasan kedua adalah karena nikmatnya tambah karena suasananya romantis.

Kami menaiki tangga pelan-pelan. Dia sangat memperhatikanku. Bener-bener dijaganya agar kakiku ga terlalu banyak tergesek. Aku sampai terharu dibuatnya. Sengaja kusimpan fakta bahwa rasa sakitnya udah ga terlalu menyakitkan seperti tadi pagi, sebab aku menyukai perhatiannya ini. Biar aja kalau ada yang bilang aku tukang ngambil kesempatan.

Begitu sampai di atas kami lebih banyak diam menikmati pemandangan lampu kota di malam hari. Sesekali ketika angin berhembus Yesung merapikan mantelku. Tiba-tiba salah seorang kameramen nyeletuk, “Kupikir sebaiknya kalian bersikap lebih romantis kali ini. Moodnya bagus.”

Kami menoleh ke arahnya. “Geurae?” tanya Yesung. “Apa yang harus kami lakukan?” tanyanya.

“Sebaiknya kalian duduk lebih dekat,” saran kameramen itu. “Kamu juga bisa merangkulkan tanganmu di bahu Bee ssi, Yesung ssi. Agar feelnya lebih dapet.”

Kami melakukan hal itu. Sebenarnya kami bisa aja menolak dengan alasan bahwa itu ga alami. Sampai saat ini kami jarang sekali diberi instruksi untuk berakting, tapi memang kadang-kadang hal itu terjadi. Kali ini, kami melakukannya begitu saja. Yesung sekarang udah memeluk bahuku. Sementara posisi dudukku udah lebih merapat ke arah Yesung. Untukku sih, aku ga akan nolak kalau yesung ga nolak. Hehe, aku ga mau nolak.

Ga tau deh. Hari ini aku mau ambil kesempatan sebanyak-banyaknya untuk deket sama dia. Karena hari ini adalah liburan pertama kami. Dan karena sebentar lagi kami harus berpisah.

Beberapa saat kemudian jajangmyun kami dateng. Kami menyambutnya dengan sukacita. Akhirnya kami berempat makan. Saat itu, seorang kameramen tiba-tiba mengatakan bahwa dia akan makan di dalam saja. Mukanya tampak pucat. Dia lalu mengaku bahwa dia sebenarnya ga enak badan dari kemarin dan dia ga kuat untuk makan di luar kali ini. Dia udah mencobanya tadi, tapi ternyata dia ga kuat. Akhirnya kami tinggal bertiga dan satu kamera di atap ini.

Dengan cepat jajangmyun kami habis. Aku juga menghabiskan minumku cepat-cepat. “Aargh, segar!” ujarku sambil menggosokkan tangan di depan mulut.

“Kamu kedinginan?” tanya Yesung.

“Hehe, sedikit.”

“Kita masuk aja kalau begitu.”

“Ssireo. Aku suka dingin.”

“Kamu yakin?”

“Ne,” anggukku tegas.

Dia ragu sesaat tapi lalu berkata, “Baiklah, kalau begitu aku akan memesankan minuman hangat untukmu,” katanya sambil beranjak. Aku ga sempat mencegahnya. Ani, lagi-lagi aku ga mau mencegahnya.

Di belakang punggungnya yang sedang turun aku tersenyum. Kualihkan pandangan pada kamera, “Dia baik sekali ya?”

Kameramen mengiyakan. Lalu dia bertanya padaku, “Kenapa anda ga mau menyanyi di sini untuknya, Bee ssi?”

Aku tertawa, “Aku malu,” jawabku terus terang.

“Tapi kan anda juga nantinya akan bernyanyi di studio.”

“Tapi itu kan untuk acara. Dan udah disiapkan sebelumnya.”

“Bukannya ini juga sudah latihan tadi? Kan bisa untuk sekalian untuk latihan tampil? Meskipun lagunya beda, tapi bisa diambil pengalaman nyanyi di depan kamera, kan?” kameramen malah membujukku.

Tapi logikanya kena juga sih. Sial, aku jadi pengin nyoba. Lalu kameramen itu bilang lagi, “Sekalian kasih kejutan romantis buat Yesung ssi.”

Ide kameramen mengenai kejutan itu membuat benakku bangun. Hehe, aku ini emang aneh. Memikirkan bahwa Yesung akan terkejut senang membuat rasa maluku menguap entah kemana. Kupandangi sekeliling tempat itu, lalu aku membulatkan tekad. “Baiklah,” ujarku kepada kameramen. “Aku akan memberinya kejutan,” kataku kepada kameramen. Kami lalu tersenyum bersekongkol.

Tak berapa lama kemudian Yesung udah naik lagi membawa segelas minuman hangat untukku. Manis dan hangat, seperti senyumnya. Kuteguk minuman itu pelan-pelan, lalu kuletakkan gelasku. “Hangat?” tanyanya.

Aku mengangguk. Dia membalasku dengan cengiran lepas. Ya ampun, aku suka banget sikapnya yang begini. Ga ada beban, mood yang ringan, hati yang hangat. Emang benar instingku, dia ini paket komplitku. Aku berkata padanya, “Aku… punya kejutan untukmu.”

Sinar matanya berubah. Dia menjadi penasaran.

“Tapi karena ini namanya kejutan, kamu harus tutup mata,” ujarku malu-malu.

Dia menyipitkan matanya.

“Ai, palli… sebentar aja tutup matanya.”

Dia akhirnya menurut. Kukatakan padanya, “Nanti kalau denger sesuatu yang aneh, kamu boleh langsung buka matamu,” kataku sambil menegakkan tubuhku bersiap-siap menyanyi.

Yang segera melorot lagi karena dia langsung membuka matanya begitu mendengar kata-kataku. “Ya! Kamu mau ngasih aku apa? Jangan yang aneh-aneh lho…”

Aku cemberut. Siapa yang mau ngasih kamu aneh-aneh?! “Enggak. Percaya deh. Udah tutup dulu matamu!” kataku padanya cepat.

Dia menurut lagi. Aku menunggu beberapa saat, meyakinkan dia ga akan buka mata. “Ehem, ehem. Yesung ssi, ah ani, Sayang, ini untukmu,” bukaku pelan. Lalu kumulai nyanyianku,

Eonjebuteo yeohtneunji ijeosseoyo

Dia tiba-tiba membuka matanya. Mata itu melebar menatapku.

Naega wae ireoneunji nan moreujyo

Matanya menjadi berbinar menatapku.

Harun gilgiman hago ddeut-I eobneunde
Eoddeohge ddo achimi oneun geonji
Nan moreujyo

Aku menatap matanya sambil tersenyum malu melihat senyum senangnya terkembang. Kuteruskan nyanyianku.

Eojjeol soga eobseoyo amugeotdo mothago
I deodin shiganeul jikyeobojyo
Eodi-e ihtneunji mu-eoseul haneunji
Ojikhan sarammaneul saenggakhago ihtgi-e

Irae seoneun andweneungeol nan arayo
Saranghalsu eobdaneungeol algo ihtjyo
Naui seotun gobaeki geudaereuldeo
Apeugehal ppuniraneungeol nan arayo algo ihtjyo

Yesung menyatukan kedua tangannya, memajukan tubuhnya ke arahku, memperhatikanku dari dekat. Aku terus memperhatikan matanya.

Geureon jeul almyeon seodo
Eojjeol suga eobneyo
Geujeo geumoseubman ddeo-oreujyo
Do nuneul gamado dashi nuneul deodo
Ojikhan sarammaneul saenggakhago ihtgi-e

Hansun gando jiulsu eobneun geumoseubeul
Nan geujeo geudaemaneul

Saenggakhajyo.
Ini nada tertinggi dalam lagu ini. Yesung menggenggam tanganku. Aku membalas genggamannya.

Eojjeol suga eobseoyo amugeotdo mothago
I deodin shiganeul jikyeobojyo
Eodi-e ihtdeunji mu-eoseul hadeunji
Ojikhan sarammaneul saranghago ihtgi-e
Ojikhan sarammaneul nan saenggakhago ihtjyo

Woo.. ooo..

Aku mengambil nafas. Akhirnya selesaiiii. Aku PUAS! Hahahaahhaha! Matanya tampak senang sekali memandangku! Gimana ga seneng coba?!

Selama beberapa saat kami hanya saling memandang satu sama lain. Lalu entah dari mana datangnya ide ini, aku bergerak maju mendekati mukanya, lalu mengecupnya di pipi kiri. Cup.

“Aaagh!” kameramen berteriak.

Lalu pipi kanan. Cup.

“Baterainya habis!” kameramen masih berteriak.

Kami berdua tersenyum mendengarnya. Lalu terkikik geli. Ahahahaha, lucu banget. Kami ketawa-tawa sambil megangin perut.

“Jogiyo, Yesung ssi. Boleh pinjam kunci mobilmu? Cadangan bateraiku kutinggal di dalam mobilmu,” kameramen meminta pada Yesung. Sementara yang dimintai kunci malah cekikikan.

“Ya, Ahjussi. Gimana sih? Momen romantis, tuh! Masa gagal direkam?” aku pura-pura protes padanya.

“Arasseo, arasseo. Naega jalmothesseo. Karena itu, aku mau ambil baterainya,” dia meminta maaf.

“Ini,” Yesung memberikan kuncinya pada kameramen ahjussi yang langsung berlari ke bawah sambil mengucapkan terima kasih.

Aku ketawa-tawa melihatnya, begitu juga Yesung. Tapi sebentar kemudian pria itu udah melihatku lagi. Tatapannya intens. Dia menggenggam tanganku lagi. “Gomawo,” katanya pelan dan dalam.

Aku menunduk malu. Lalu kulirik dia lagi dan ketawa kecil.

Tatapannya berubah sayu, dan sedetik kemudian tangannya telah menahan leherku. Bibirnya sudah menempel di bibirku. Senyumku menghilang karena aku membalas kecupannya. Ciuman manis itu bertahan beberapa lama hingga akhirnya kami membuka bibir kami dan mulai bergerak lebih agresif. Ujung lidahnya meraba bibirku. Aku membalasnya dengan menghisap bibir bawahnya. Kami melepaskan bibir kami.

Tapi ga menjauh. Sesaat kemudian bibirnya menelusuri bibir atasku dengan lembut sekali. Aku memejamkan mata menerima kelembutannya. Kalau ada negeri di atas awan, mungkin inilah tempatnya. Udara yang dingin membelai kami, sementara tubuh dan hati kami terasa hangat akibat keberadaan yang begitu dekat satu sama lain.

Ciumannya berpindah ke bibir bawahku. Dia mengecupnya ringan sekali. Lalu sekali lagi. Lalu lagi. Dan lagi, seperti ga ingin melepaskan bibirku. Akhirnya dia melumatnya dengan ga sabar. Tangannya yang bebas membelai rambutku yang terjuntai di bahu. Tiba-tiba angin dingin bertiup dari belakangku membuatku refleks merapat ke arahnya. Ah, kayaknya alam juga mendukung kami malem ini.

Tangannya turun ke punggungku, menghilangkan dingin akibat angin. Kurasakan kehangatannya merambat masuk ke dalam mantelku, sementara bibir kami terus saling melumat. Lalu pelan-pelan dilepaskannya bibir kami, tapi dia ga menjauhkan wajahnya dariku. Digesekkannya hidung kami berdua lalu dikecupnya lagi bibirku.

Tawa kecil terlepas dari mulutku. Tanganku yang tadinya pasif pun kini bergerak memegang wajahnya. Aku ikut menggesek hidung kami berdua lalu membelaikan bibirku di atas bibirnya. Aku seperti mendengar bisikannya, “Saranghae”.

Membuatku terkesiap. Kuperhatikan matanya, tapi dia keburu berkata, “Dia datang.”

Aku mendengarnya. Derap langkah kameramen menaiki tangga. Kami pun menjauhkan diri. Posisi kami kembali ke tempat kami semula tepat saat kameramen kembali. Terdengar seruannya yang tersengal-sengal, “Mianhe… hh..hh.. Bisakah kalian mengulangi adegan popo tadi?”

Senyumku setengah-setengah, antara ingin merespon permintaan kameramen dan masih memikirkan bisikan yang sepertinya kudengar tadi. Bisikan itu begitu lirih, hampir seperti bisikan makhluk halus. Mungkinkah Yesung yang mengatakannya? Kenapa aku ga bisa mendengarnya jelas? Padahal kami menempel begitu dekat. Yesung sendiri sekarang ga terlihat seperti habis mengatakan hal seperti itu. Mungkinkah aku hanya bermimpi? Apakah keinginanku sudah membuatku berhalusinasi?

Yesung memandangiku. “Kita ulangi?” tanyanya padaku.

Aku mengangkat alis bingung. “Haruskah?” tanyaku pada kameramen.

“Kalau bisa akan bagus sekali,” katanya.

Senyumku terkembang. “Baiklah,” ujarku akhirnya.

Kami lalu duduk lagi seperti posisi kami tadi, menunggu kameramen mengganti baterainya. Setelahnya dia memberi aba-aba agar kami mulai berakting. Seperti tadi, kutatap matanya dalam. Ga lupa aku senyum-senyum, sementara dia membalas senyumku sambil menggenggam tanganku. Lalu dengan cepat aku mencium kedua pipinya. Setelah itu lagi-lagi aku merasa malu. Sesuatu yang bukan akting.

“Yak! Bagus!” seruan kameramen membuyarkan imajinasiku.

Tak berapa lama setelah itu kami pulang ke rumah. Dalam perjalanan pulang aku memikirkan sesuatu. Kuminta pada Yesung agar mampir sebentar ke supermarket, karena ada yang ingin kubeli. Aku membeli beberapa bahan makanan. Setelah dari supermarket, kameramen kami yang sakit meminta izin agar diperbolehkan pulang malam ini. Sepertinya dia benar-benar sakit. Mukanya pucat sekali. Akhirnya kami mengantarkan dia sampai di halte bus. Sebenarnya Yesung udah bilang mau nganterin ke rumahnya, tapi kayaknya dia keberatan, jadi kami hanya nganterin dia sampai halte bus terdekat.

Saat turun dari mobil Yesung, rekannya berkata, “Istirahatlah, aku yang akan membantumu bicara pada PD-nim.” Kameramen ahjussi yang sakit tersenyum dan mengucapkan terima kasih lalu kami meninggalkannya di sana.

Di rumah, Yesung langsung bersiap-siap untuk berangkat siaran. Sementara dia berganti baju di kamar mandi, aku dan kameramen berembug tentang siapa yang akan diikuti kamera. Kami lalu sepakat bahwa kameramen ahjussi akan mengikuti Yesung sebab toh nanti Sungmin akan datang bersama kameramennya.

Saat akan pergi, Yesung menanyakan hal yang kami bicarakan sebelumnya, dan aku mengatakan kesepakatan kami dengan alasan bahwa sekalipun tanpa kameramen, di rumah aku udah dikelilingi kamera. Jadi kameramen akan mengikutinya ke tempat siaran.

Aku mencium tangan Yesung, seperti yang sekarang jadi kebiasaan kami. Lalu aku mengikutinya pergi dengan pandanganku. Memasuki rumah, rasanya hatiku jadi dingin. Hari ini kami terus bersama-sama, juga ramai dengan adanya kameramen. Begitu Yesung pergi, dalam sekejap rumah ini jadi sepi. Aku langsung ngegelosor di sofa. Kunyalakan tv, biarpun aku ga menontonnya.

Ah iya, sebaiknya kukerjakan itu aja. Aku bongkar belanjaan kami tadi dan mulai meracik bahan-bahan makanan yang aku dapat untuk membuat panganan kecil. Rencananya besok aku mau mengajak Yesung mengunjungi orang tuanya. Bagaimanapun aku merasa sedikit ga enak kalau ga mengunjungi mereka. Kalau Yesung ga mau ya udah, itu lain masalah. Panganan ini bisa kubawa ke studio saat kami harus wawancara untuk sesi talkshow terakhir.

Aku sedang sibuk mengolah bahan-bahan ketika bel berbunyi. Itu pasti Sungmin. Aku beranjak ke pintu setelah mematikan televisi.

Benar saja. Anak itu berdiri di pintuku dengan senyum lebarnya sambil menunjukkan plastik berisi makanan kecil dan minuman. “Noona!” serunya riang.

“Sungmin-a!” keceriaannya ikut menulariku. “Ayo masuk!”

Dia menerima tawaranku, diikuti oleh kameramennya. “Wooo, apa yang terjadi di sini?” tanyanya.

“Ah, aku sedang membuat makanan untuk bekal. Besok aku ingin pergi ke suatu tempat. Maaf ya, berantakan. Duduklah di tempat yang kosong,” kataku mempersilahkan.

“Dimana kameramenmu, Noona?” tanya Sungmin melihat ga ada orang lain di rumahku.

“Ah, dia tadi sepertinya benar-benar sakit. Jadi malam ini dia akan beristirahat di rumah,” aku duduk di lantai di depan meja sofa. “Apa yang kau bawa itu?” tanyaku penasaran.

“Ah, aku bawa soda dan makanan kecil. Untuk menemani kita berlatih.”

“Yeeiy!” seruku. “Biar kubereskan ini dulu, lalu kita bisa segera latihan,” lanjutku sambil membereskan bahan-bahan makanan yang tadi berserakan di lantai. Memang aku sengaja mengerjakannya di bawah. Karena lebih luas. Tapi jadinya lebih berantakan. Hehehe.

“Baiklah,” kata Sungmin. Anak itu lalu mengeluarkan gitarnya dan mulai mengepas senarnya. Lalu sementara aku masih membereskan barang-barang, dia melatih lagi kunci lagunya. “Jujur saja aku ga punya banyak waktu berlatih, Noona. Jadi saat berlatih bersama dengan Noona begini adalah satu-satunya kesempatanku untuk mengingat-ingat kunci nadanya,” dia berkata padaku.

“Ne,” kataku menanggapi sambil lalu.

“Apa Noona udah ingat liriknya?”

Aku mengangkat wadah berisi bahan-bahan panganan lalu menghadapnya, “Jangan khawatir. Ini satu dari beberapa lagu favoritku, jadi aku udah hafal dari dulu-dulu.”

“Oh, baguslah. Kalau begitu aku akan berusaha keras,” ujarnya sambil tersenyum menghangatkan perasaan.

Aku berjalan menuju dapur dan mengatakannya terus terang. “Senyummu manis sekali, Sungmin-a. Kamu beruntung banget memiliki senyum yang bisa menghangatkan hati orang-orang.”

“Hahaha, Noona bisa aja. Ne, gomawo,” katanya.

Aku berbalik siap berlatih. Tapi aku melihat wajah Sungmin yang memerah. “Omo! Apa kamu malu?” aku terkejut.

“Geureom. Abis Noona mengatakannya dengan ringan sehingga aku tahu itu bukan asal pujian. Siapa yang ga malu dipuji begitu?”

“Ya, pabbo Sungmin! Kamu harusnya merasa bangga, bukan malah malu!” senyumku. “Ayo kita mulai latihan. Aku bisa langsung berlatih dengan suara penuh atau kita mulai seperti kemarin?” tanyaku.

Sungmin tersenyum lagi. “Ne. Langsung aja, Noona. Aku akan berusaha mengikutimu kali ini.”

“Sip!” kataku. Dengan itu latihan kami dimulai. Kami mulai dengan beberapa kesalahan dan lambat-laun kami berhasil memperbaikinya. Koordinasi suara kami mulai terbentuk. Kami juga melakukan pembagian suara sesuai dengan karakter suara kami dan bukan hanya mengikuti gaya berduet Jason Mraz dan Colbie Caillat. Di beberapa tempat, Sungmin mengusulkan sedikit improvisasi. Dengan semangat kami mencobanya dan memakai ide-ide yang sesuai dengan konsep kami. Ketika akhirnya kami memutuskan beristirahat, waktu udah menunjukkan pukul 12.30 malam.

“Suaramu berubah, Noona. Lebih stabil,” Sungmin mengomentari suaraku. Lalu dia bertanya kapan Yesung akan pulang.

Kujawab, “Hehehe, tadi seharian Yesung aku meminta Yesung mengajariku menyanyi. Tapi aku ga bilang tentang ini kok,” lanjutku buru-buru melihat pandangan bertanya di mata Sungmin. Melihat dia mengangguk mengerti, aku meneruskan, “Biasanya sih dia pulang sekitar jam setengah 2 atau jam 2.”

“Kalau begitu sebaiknya kita berlatih sekali lagi, dengan versi terakhir dan setelah itu aku akan pulang,” Sungmin mengusulkan.

“Begitukah? Oke,” aku menyetujuinya.

Kami pun segera melanjutkan latihan. Dari kesepakatan sekali, kami membuatnya menjadi dua kali mencoba versi terakhir, lalu kami menuntaskan latihan hari ini.

Sambil mengemasi barangnya, Sungmin berkata, “Wah, hari ini perkembangan kita cukup banyak, Noona. Semoga kita bisa menampilkan yang terbaik di hari Minggu nanti.”

“Ne,” kataku dengan suara serak. Aku juga puas dengan pencapaian kami hari ini.

“Noona, jaga kesehatanmu. Jangan terlalu lelah, jangan tidur terlalu malam. Banyak minum air putih. Itu rahasianya agar suaramu bisa bulat dan indah,” pesan Sungmin tegas.

“Ne! Ak! Sungmin Seonsaengnim!” aku menjawabnya dengan gaya militer.

Anak itu tertawa lepas. Hmm, manis. “Baiklah Noona, aku pergi dulu. Jangan katakan pada hyung aku datang ya?”

Aku memukul lengannya main-main. “Tentu aja! Kamu mau aku mati dibunuhnya kalau dia tahu tentang hubungan kita?” aku membalasnya dengan candaan.

“Iya. Aku juga ga mau Minhyun mengetahui perselingkuhan kita,” katanya pelan dengan ekspresi bersekongkol.

Di pintu depan kupasang ekspresi berlebihan seolah aku ga mau melepasnya pergi. “Oh Sungmin-a… Aku masih ingin bersama denganmu, tapi istrimu membutuhkanmu!”

“Ne, Noona! Aku juga ga tega kalau hyung sampai tahu hubungan kita….”

Kami berdua terdiam.

“Hahahahahahahaaa!” lalu serentak kami tertawa bersama-sama.

Tiba-tiba aku hentikan tawaku. “Gurauan kita ini ga lucu, Sungmin-a,” kataku datar tanpa ekspresi.

Dia pun menghentikan tawanya secara mendadak. Wajahnya ikut-ikutan datar. “Baiklah Noona. Aku pulang dulu,” dia menjawabku sambil langsung berbalik pergi.

Aku mengantarnya sampai di puncak tangga. Di pertengahan tangga dia berbalik ke arahku. Kami saling bertatapan dan saling mengerti, lalu, “Hahahahahahaha!” kami sama-sama ketawa garing.

Setelah itu cengiran asli Sungmin muncul. “Sampai jumpa besok, Noona!” ujarnya melambaikan tangan.

“Sampai besok,” kataku membalas lambaian tangannya.

Setelah mobilnya pergi, aku kembali memasuki rumah. Kutekan perasaan sendirian yang kembali melandaku. Kubersihkan sampah bekas soda dan makanan kecil yang dibawa Sungmin, lalu segera melanjutkan pekerjaan membuat makanan yang tadi sempat tertunda dengan kedatangan Sungmin. Penuh konsentrasi kulakukan hal itu. Sampai akhirnya kantuk datang dan ga tertahankan lagi. Aku pun menyerah dan membereskan semua bahan yang ada. Syukurlah yang perlu kulakukan hanya tinggal mengukus makanan-makanan itu. Akan kulakukan besok pagi-pagi sekali.

Aku berdiri di tengah ruangan. Kuputar pinggangku ke kanan dan ke kiri. Terdengar bunyi ‘krek’ dua kali. Lalu aku melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan muka dan menggosok gigi. Semua kulakukan dengan cepat. Setelahnya aku segera mengambil bantal sapi dan selimut dari dalam kamar dan meniduri sofa.

Aku langsung pulas begitu kepalaku menyentuh bantal.

 

D11-KKEUT.

6 thoughts on “[Freelance] The Marriage and Us {Day 11}

  1. eeiiiii~ yesung so sweet~ <3 bae bgt sih… *andai beneran
    itu pas nyanyi han saramaneul uda bner blom nadanya xD
    gara2 memori abiz, ciumnya dobel deh. Hehe
    ehmm sungmin oppa..jgn selingkuh xD

  2. yesung perhatian bangeeeet. senyum2 sendiri bacanya hihi. jadi penasaran, mereka berdua gimana jadinya kalo reality show-nya uda selesai

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s