[Freelance] The Marriage and Us part 10

Title : The Marriage and Us [Day 10]

Author : Bee

Main Cast : Yesung, Bee

Support Cast : all members of Super Junior and their wifes (?)

Rating : all ages (but kids, because they wouldn’t get it)

Genre : romance

Warning! : aman~ aman~

Ps : Mohon komennya ya.

Disclaim : biar kata terinspirasi dari WGM, alur cerita murni ide Bee. Oke? No plagiarism!
========================

 

“Selamat pagi,” aku berdiri di depan pintu kamar mandi, menatap Yesung yang tengah menggosok gigi.

“Hahi,” balasnya.

“Hoaahem. Tumben kamu pagi-pagi udah bangun,” kataku sambil duduk di toilet, mengantri wastafel untuk menggosok gigi.

Yesung mengambil sikat gigiku dan mengolesinya dengan pasta gigi. Kemudian menyerahkannya padaku. Dia menjawab, “Hari ini kami semua ada janji dengan produser untuk lagu baru kami.”

Aku menggosok gigiku dengan mata setengah terpejam. Untukku ini sih bukan pagi sekali, tapi untuk Yesung biasanya iya. Hanya saja anehnya pagi ini aku yang masih setengah molor sementara suamiku itu udah segar bugar. “Emang jam berapa pertemuannya?” tanyaku.

“Jam 10. Aku berangkat jam 9,” dia menjawab sambil menghampiri tempat handuknya tersampir. Posisinya di depan wastafel digantikan olehku. Kuteruskan menggosok gigi tanpa berkomentar apa-apa lagi. Setelah selesai, aku membasuh mukaku dengan air supaya mataku ga kerasa sepet lagi.

Aku berkata, “Aku berangkat jam 8. Hari ini pasienku yang lama mau tes darah jam 9.”

Aku berbalik hendak mengelap mukaku dengan handuk. Selintas kulihat bilik shower udah basah. Berarti Yesung udah mandi. Kulap mukaku, lalu berkata pelan. “Aku mau mandi. Jadi silahkan keluar.”

Dia menatapku lalu mulai beranjak. Dia baru sampai di pintu waktu aku menambahkan, “Dan jangan masuk!”

“Arasseo!” sahutnya langsung.

Eh, ya siapa tahu. Kali ini aku pastikan aku mengunci pintu. Lalu aku mulai mandi.

Tiga puluh menit kemudian aku udah keluar lagi dari kamar mandi dengan pakaian rapi. Jadwalku hari ini cukup longgar. Pasienku tinggal 1 orang, karena Dhera rencananya akan keluar RS siang ini. Pasien yang tinggal satu itu pun hanya sekedar kontrol darah. Jadi ga ada sesuatu yang khusus. Mungkin malam ini aku akan datang lagi ke RS untuk menemani ayah Ria mengambil jenazah putrinya itu. Kalau ga ada halangan, kurasa aku akan ikut mengantarkan sampai bandara. Itu, kalau latihanku dengan Sungmin selesai cepat. Yah, kita lihat saja nanti.

Saat ini yang jelas aku sedang menunggu toast kami matang. Kami sepakat akan sarapan toast aja. Yang praktis. Sambil menunggu, aku buatkan Yesung kopi, dan mengambil air putih untukku sendiri. Yesung menungguku di sofa sambil mengutak-atik laptopnya. Pagi yang tenang. Tampaknya hari ini akan berlalu damai.

Tak lama kemudian kami udah menikmati sarapan bersama. Tepat pukul 8 semua udah beres dan aku bisa pergi ke RS dengan tenang. Yesung sempat menawari untuk mengantarku, tapi kutolak dengan tegas.

Di RS sendiri semuanya berjalan dengan lancar. Pasienku kontrol darah tanpa kesulitan berarti dan setelahnya segera kembali lagi ke tempat tinggal sementaranya di komplek apartemen dekat RS. Siangnya, Dhera menangis ketika melangkah keluar dari RS bersama teman-temannya. “Makasih ya Kak. Maaf kami ngerepotin. Makasih untuk semua bantuannya,” kata dia mengharukan.

Aku tersenyum, “Itu udah kewajiban Kakak. Kamu ga perlu ngerasa berterima kasih. Sekarang yang penting kamu pikirin caranya sehat, ya?”

Dia mengangguk sambil masih sesenggukan.

“Jadi pesawatnya besok take-off jam 4? Berarti kalian berangkat dari sini jam berapa?” tanyaku pada mereka.

Salah satu teman Dhera menjawab, “Nanti malam kami ke sini lagi jam 11, untuk mengambil jenazah Ria,” suaranya tersendat, “lalu kami akan naik taksi langsung ke bandara,” lanjutnya.

“Kakak akan di sini nanti malem, untuk nemenin kalian waktu ngambil Ria,” aku sungguh ga kuat untuk mengatakan jenazah.

“Makasih, Kak. Kami pergi dulu ya. Sampe ketemu ntar malem,” kata salah satu dari mereka lagi.

Aku mengangguk, “Salam buat papanya Ria, ya?” kataku melepas kepergian mereka.

Setelah taksi yang membawa mereka meluncur pergi, aku berbalik dan segera membereskan barang-barangku di kantor. Aku ke bagian personalia, sekedar memberi info bahwa jadwalku sudah kosong, dan aku akan keluar, tapi kalau aku dibutuhkan, HP-ku selalu bisa dihubungi. Inilah enaknya pekerjaan freelance. Selama aku ga mengabaikan kewajibanku, aku bisa ngantor sesuka hatiku. Pihak RS pun udah menentukan bahwa aku pada dasarnya ga punya jam kantor tetap.

Maka di sinilah aku sekarang, di Pusat Belanja Soul, mencari sesuatu untuk dibeli. Sebuah pemikiran tiba-tiba muncul dibenakku, untuk mendatangi Yesung di tempatnya berkumpul. Toh ini udah hampir jam 10.30, jadi kurasa aku ga akan mengganggu kalau membawakannya makan siang.

Sambil mencari makanan, aku menelepon Sungmin.

“Yoboseyo,” katanya di ujung sana.

“Oh, Sungmin-a. Maaf. Masih rapat ya?”

“Ne, Noona. Lagi break sebentar kok. Ada apa, Noona?”

“Ah, ga. Aku cuman pengin ngasih kejutan buat Yesung. Niatnya sih mau ngebawain dia makan siang. Tapi aku ga tau tempat kalian bertemu.”

Sungmin lalu menyebutkan tempat pertemuan mereka. Lalu dia berkata, “Noona, aku kasih Noona nomor Minhyun ya? Ajak dia ke sini juga bawain makanan buat aku.”

“Ne? Oke, oke. Aku tungguin nomornya ya,” ujarku lalu menutup telepon.

Ga sampai semenit kemudian datang sms dari Sungmin berisi nomor Minhyun. Aku pun segera menghubungi cewek itu. Awalnya dia ragu-ragu karena dia pikir ga cukup waktu untuk ngebikin bekal makan siang sekarang ini, tapi begitu aku bilang aku cuman mau beli dan bukan ngebuat makanannya, dia langsung setuju. Kami janjian ketemu di tempatku sekarang, Pusat Belanja Seoul.

Sambil menunggu Minhyun aku muter-muter cuci mata sampai mataku tertumbuk sesuatu yang lucu banget. Sandal jepit kura-kura! Aku mengamatinya dan kepikiran, mungkin Yesung akan senang kalau aku memberinya sandal itu. Aku ngeliat ada dua pasang yang dipajang. Satu berwarna coklat, satunya lagi hijau. Aku ga sadar bagaimana, yang jelas 15 menit kemudian aku udah menenteng kedua pasang sendal itu dalam kantong belanja. Biarpun musim panas masih lama, aku rasa sendal ini pasti bisa berguna. Semoga Yesung suka.

Akhirnya Minhyun datang bersama seorang kameramen. Aku segera mengajaknya mencari toko yang menjual makanan yang kira-kira enak. “Menurutmu, enaknya kita bawain apa ya?” tanyaku pada Minhyun.

Dia nampak berfikir sesaat, “Kalo menurutku, gimana kalo kita cari bekal tradisional aja, Eonnie? Kan banyak tuh di depan toko makanan yang jual bekal kimbap dan lain-lain.”

Aku mengangguk-angguk, “Jadi bukan roti?”

Minhyun tampak bersemu merah, “Sebenernya roti praktis sih, tapi Sungmin Oppa biasanya lebih suka makanan tradisional.”

Haaah… ini anak kayaknya serius suka ama Sungmin nih… Kaya aku dong…

Aku tersenyum lebar padanya, “Oke! Ayo cari bekal tradisional!”

Akhirnya kami pun hunting bekal-bekal tradisional yang bisa kami dapatkan. Kami beli banyak, memperhitungkan semua orang yang mungkin ada di sana, termasuk kameramen.

Satu jam kemudian kami udah sampai di alamat yang diberikan Sungmin. Tempatnya dari luar nampak seperti kantor biasa, tapi begitu kami masuk, dalamnya memberikan kesan yang sangat berbeda. Rupanya ini adalah studio rekaman. Sungmin bilang mereka berkumpul di ruang rapat di lantai 2. Jadi kami pun langsung naik ke lantai 2. Kami bertemu seorang staff dan mengatakan bahwa kami mengantarkan makan siang pesanan Super Junior. Melihat kamera yang mengikuti kami, orang itu pun membolehkan kami masuk, tapi meminta kami menunggu sebab mereka masih berdiskusi di dalam ruang rapat. Akhirnya kami pun duduk di bangku yang ada.

Sedang kami ngobrol, tiba-tiba datang Kyuhyun entah dari mana. Dia terkejut melihat kami. “Anyeonghaseyo, Noona! Muoseunirijjyeo?”

“Anyeonghaseyo, Kyuhyun ssi,” balasku.

“Kami bawakan makan siang,” Minhyun menambahkan.

Wajah Kyuhyun berseri. “Ah, Mina ssi juga sedang membawakan makan siang sekarang. Sebentar lagi dia datang. Tapi sekarang kami masih berdiskusi.”

Minhyun menjawab, “Ga papa. Kami tunggu aja di sini, sekalian nungguin Mina ssi.”

“Oh, geurae? Kalau begitu saya masuk dulu ya?”

“Ne,” jawabku dan Minhyun serempak.

Setelah Kyuhyun masuk, Minhyun berkata, “Eonnie eotteohke? Kita lupa beli minum.”

“Ne?!” aku melihat belanjaan kami dan menyadari hal itu. “Ah, gidariyo. Aku beli minum dulu,” pintaku pada Minhyun.

“Ani, Eonnie. Biar aku aja.”

“Ga papa. Aku aja. Tunggu ya,” sahutku sambil berlari.

Di luar aku mencari mini market dan setelah menemukannya segera membeli beberapa botol air mineral dan jus. Sesaat kemudian aku udah menenteng 2 kantong plastik besar. Berat juga.

Di depan studio, aku dikejutkan oleh suara teriakan. Di depanku terlihat seorang perempuan melindungi barang bawaannya sementara beberapa cewek melemparinya dengan bermacam-macam benda mulai dari tomat hingga botol kaca.

“Dasar binal! Serangga! Jangan deket-deket Kyuhyun kami!” para penyerang berteriak.

Aku berusaha melihat lebih teliti siapa si korban. Ya Tuhan, itu Mina! Sontak aku berteriak, “Ya!”

Aku bergerak mendekati Mina dan berusaha melindunginya dari barang-barang yang dilemparkan. Dia tampak sangat melindungi barang bawaannya. “Bee ssi,” bisiknya.

“Ayo masuk, Mina ssi. Palli.”

Buk, sebutir telur mengenai punggungnya. Ini udah sangat keterlaluan. Dengan marah aku berbalik, “YA!” kuteriaki cewek-cewek itu. Sesaat mereka terdiam. Kesempatan itu kumanfaatkan untuk berteriak lagi. “Pergi kalian! Aku akan lapor polisi sekarang!” kuambil HP-ku dari kantong tepat saat sebutir tomat mengenai rok kerjaku.

Aku melotot, kemarahanku akhirnya meledak. Kupandangi mereka, lalu mulai kukeluarkan botol-botol air yang tadi kubeli dan kulempari mereka dengan botol-botol itu sambil teriak-teriak. Kulepas sepatuku, juga kugunakan untuk melempari mereka. Aku bertingkah seperti orang gila. Yang memang selalu terjadi kalau aku sedang sangat marah.

Aku tersadar bahwa para penyerang udah pada lari ketika Mina memanggilku, “Bee ssi, mereka sudah pergi.”

Aku tersengal-sengal. Ah sial. Air mataku mengalir. Aku mungkin harus berkonsultasi ke dokter mengenai kelenjar air mataku yang terlalu mudah bereaksi terhadap emosi. Kuhapus air mata dan mencegah ingusku keluar. Masih sambil memunggungi Mina, aku bertanya padanya, “Mina ssi, gwenchanha?”

“Ne,” jawabnya lirih.

Oh,no!” aku berseru kesal. “Now I have to pick all the bottles up! Damn psycho girls!” Aku mulai memunguti sepatu dan botol-botol yang tadi kulemparkan. Hatiku belum sepenuhnya dingin.

Mina meletakkan bawaannya dan membantuku memunguti botol-botol minuman. Untung semua yang kubeli dari plastik. Tapi kami harus berhati-hati karena ada beberapa pecahan botol kaca yang tadi dilemparkan oleh para penggemar gila itu. Baru berfikir begitu, kakiku menginjak pecahan-pecahan kaca. “Ah!” desahku kesakitan. Salahku juga kenapa tadi pake ngelempar-lempar sepatu segala.

Seorang kameramen menyerahkan sebelah sepatuku. Yang aku terima sambil berterima kasih. Astaga! Kameramen! Berarti aku bertingkah kaya orang gila tadi terekam dong. Aku melihat ke sekeliling, dan benar, saat ini ada dua orang kameramen sedang merekam sekaligus membantu kami.

Aku mengerutkan mukaku, kesal pada diriku sendiri yang ga bisa menahan diri. “Bisa ga ini jangan direkam?” kataku pada kameramenku.

Kupasang tampang memelas, dan menatapnya langsung. Akhirnya dia menyerah dan mengangguk. Dimatikannya kamera dan segera membantuku membawakan sebagian botol-botol.

Aku berjalan terpincang-pincang ke dalam studio mengikuti Mina. “Mina ssi, jinjja gwenchanha?” tanyaku. Sial, pecahan kaca itu masih ada di kakiku.

“Ne. Aku ga papa. Bee ssi yang seharusnya dirawat. Kakinya kena pecahan kaca, kan? Bertahanlah sampai di atas. Nanti aku akan membantu merawat lukamu itu.

Aku diam saja. Berkonsentrasi berjalan tanpa membebani kakiku yang terluka.

Di atas Minhyun terkejut melihat kami. “Eonnie… Eonnie kenapa?!”

“Nanti saja ceritanya,” jawab Mina. Dia menyerahkan barang bawaannya pada Minhyun, “Tolong diurus ini, Minhyun ssi. Aku akan membantu Bee ssi dulu sebentar. Kakinya terluka.”

Dia lalu menuntunku mencari kamar mandi. Di sana dia berusaha mencabut serpihan-serpihan kaca yang menancap di kakiku. “Tahan sebentar ya, Bee ssi.”

“Ahjussi, tolong ini jangan direkam. Lagian ahjussi ga boleh masuk toilet wanita,” ujarku pada kameramen Mina.

Akhirnya kameramen itu mengalah dan keluar.

“Ah!” seruku.

“Appeu?” Mina ssi tampak menyesal.

“Ne, juguem,” jawabku berusaha tertawa.

“Hooh, eotteohke. Na ttaemone…” dia sekarang benar-benar khawatir.

“Eish, gwenchanha. Aku juga gila. Ngapain pake lepas-lepas sepatu segala.”

“Aduh, banyak banget darahnya yang keluar…” dia menarik tissue banyak-banyak lalu mengelap kakiku.

“Kacanya sih udah bersih, tapi lukanya masih terbuka. Aku cari kotak P3K dulu ya. Tunggu di sini sebentar. Ini, tekan lukamu pake tissue untuk sementara. Biar darahnya sedikit berhenti.”

Mina ssi hendak keluar tapi lalu masuk lagi, melepas jaketnya, “Bau,” senyumnya padaku.

Aku balas tersenyum padanya dan memandangi rokku. Untung bukan telur. Kutarik tissue untuk membersihkan sisa-sisa tomat di rokku. Sementara itu Mina udah keluar lagi. Tissue yang kugunakan untuk menahan darah di kaki sekarang sudah basah total oleh darah. Maka aku membuangnya ke dalam toilet dan mengambil tissue baru untuk menekannya.

Tiba-tiba pintu kamar mandi kebuka. Yesung ada di sana. Pandangannya khawatir melihatku. “Gwenchanha?” tanyanya menghambur ke arahku. Sial, kamera lagi. Kali ini kameramen yang mengikuti Yesung. Aku udah bosan meminta privasi.

“Aku ga papa,” jawabku santai. Kutunjuk jaket Mina yang sangat kotor. “Mina ssi lebih parah. Dia dilempari segala macam. Ada telur, tomat, botol, tahu, sayur busuk…”

“Tapi Mina ssi ga terluka. Aku udah ketemu dia tadi di luar,” potong Yesung. “Kenapa kamu bisa terluka?”

“Nginjek kaca,” jawabku singkat.

Mina muncul dengan sekotak P3K. Di belakangnya ada Kyuhyun. “Noona, gwenchanha?!” dia bertanya panik.

Ah, aku agak kesal dengan banyaknya orang di sini. Kupasang senyum profesional, “Ini toilet wanita, pria dilarang masuk. Kameramen juga. Aku akan membersihkan lukaku, jadi kumohon keluarlah.”

Yesung menatapku dan kutatap balik. Tegas aku pandangi dia bahwa aku tak ingin banyak orang di sini. Akhirnya dia bangun dan membawa Kyuhyun dan kameramen. “Ayo kita tunggu di luar,” ajaknya pada yang lain.

“Bee ssi…” Mina terkejut melihat sikapku.

Setelah pintu menutup, aku meringis konyol pada Mina. “Appeu. Makanya akan memalukan kalau aku keliatan meringis-meringis di depan kamera.”

Mina mendengus setengah tertawa. “Ya! Emangnya sekarang waktunya mikirin penampilan? Yang penting lukamu itu dirawat.”

“Geureohnikka… Aku ga suka orang-orang ngeliat hal menjijikan begini. Darah dimana-mana,” kataku keras kepala.

Mina tertawa, “Arasseo, arasseo. Tahan sebentar, aku akan balut kakimu.”

“Gomawo, Mina-ya. Mian. Aku harusnya nolongin kamu tapi sekarang kamu malah yang ngerawat aku.”

“Ya! Kalo bukan karena kamu, makanan yang aku bawa tadi ga mungkin selamat. Padahal aku udah buat itu susah payah. Akulah yang harusnya berterima kasih.” Mina membantah.

“Geundae, kenapa kameramenmu ga nolongin sih?” aku bertanya setengah kesal.

“Tadi dia itu ngerekam dari jauh. Pas dia lagi mendekat, kamu udah sampe duluan, akhirnya dia malah keasyikan ngerekam,” jelas Mina.

Aku manyun. Tetep aja ada rasa ga terima kenapa merekam lebih penting daripada mencegah seseorang terluka.

Setelah lukaku dibalut, aku dan Mina sama-sama membersihkan pakaian kami. Jaket Mina bener-bener parah. Kotor banget. Dia menyerah dan bilang mau ngebawa jaketnya ke laundry aja. Rokku sendiri ga bisa bersih-bersih banget, tapi kurasa cukup dengan dicuci dan dikucek pakai tangan, ga perlu sampai ke laundry.

Kami keluar dan menemukan Yesung dan Kyuhyun masih menunggu di luar. Yesung segera memegangiku yang berjalan terpincang-pincang. Kyuhyun mendampingi Mina dan mengucapkan maaf sekali lagi padaku.

Kali ini aku bisa tersenyum santai. Amarahku udah 95% hilang. “Kenapa kamu yang minta maaf? Emangnya kamu yang ngelemparin Mina?”

Kyuhyun tersenyum. Wajahnya bener-bener ga enak. “Aku denger mereka itu fans-ku, Noona. Dan gara-gara ngelindungin Mina ssi Noona jadi terluka.”

“Ya… aku itu ga terluka gara-gara ngelindungin Mina ssi. Enak amat Mina ssi. Aku itu terluka gara-gara ga pake sepatu,” aku berujar, lalu melanjutkan malu-malu, “Sebenernya tadi aku marah sama mereka gara-gara ngotorin rokku,” kutunjukkan noda di rokku pada Kyuhyun. “Ini rok mahal, tau? Aku sampe ngelemparin sepatu.”

Mengingat hal itu aku jujur merasa malu banget. Mukaku memerah, “Aku tadi kaya orang gila,” bisikku entah pada siapa.

Kucari kameramenku. “Bisa ga rekaman aku ngamuk tadi dihapus?” tanyaku padanya.

“Itu harus ditanyakan pada PD-nim dulu,” jawabnya.

“Ya, ya, ngomongin itu nanti aja. Masa di depan toilet gini sih?” Yesung memotong.

Kami semua jadi sadar kalau kami masih berdiri di depan toilet wanita. Kami pun segera sepakat untuk kembali ke ruang rapat untuk makan siang.

Sampai di ruang rapat, semua orang langsung menanyai kami begitu kami masuk, termasuk Shindong yang baru kali ini kutemui. Shindong tahu bahwa anggota yang lain sedang terlibat dalam reality show tentang pernikahan, tapi dia ga tahu bahwa ada yang disiapkan khusus oleh member lain untuknya. Dia sendiri ga ikut berpartisipasi karena udah bertunangan. Meski prihatin, Shindong tampak senang akhirnya bisa bertemu dengan kami, ‘ipar-ipar’nya.

Amarahku emang udah reda, tapi moodku belum membaik, makanya aku malas sekali bicara apalagi menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan pada kami begitu kami memasuki ruangan tempat Suju berkumpul. Untunglah Mina mau mewakili kami. Dia menjelaskan apa yang terjadi dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang bermunculan. Minhyun yang duduk di sebelahku memegang tanganku erat. “Harusnya tadi aku yang pergi, Eonnie,” katanya.

“Ya! Jangan begitu. Kan aku yang emang mau pergi,” balasku.

Dia diam tapi tetap menggenggam tanganku.

“Ngomong-ngomong, kenapa kalian bisa bersamaan datang ke sini?” tanya seseorang yang ternyata adalah Siwon.

“Iya ya, kok kalian bisa ke sini?” Yesung bertanya. “Dari mana kamu tahu kalau kami ada di sini?” lanjutnya padaku.

“Mina ssi emang bilang dia pengin bikinin kita makan siang, makanya aku tadi nunjukin ke dia lokasi studio ini,” Kyuhyun menjelaskan. “Tapi aku ga tau sama Minhyun dan Bee Noona. Aku tadi aja kaget ketemu mereka di luar lagi nungguin kita.”

“Aku tiba-tiba diajak Bee Eonnie buat ngebawain makan siang. Kebetulan aku lagi kosong, jadi aku mau aja.” Minhyun menjelaskan.

Aku hanya mengangguk. Aku bener-bener lagi males banget ngomong. Kuharap penjelasan Minhyun cukup untuk semua orang.

“Geureom dangshineun?” Yesung ternyata belum puas, dia bertanya padaku. “Ga ada kerjaan di RS?”

“Ne,” akhirnya aku menjawab juga. “Urusanku di RS udah selesai semua dan aku nganggur, jadi aku pengin liat kalo Suju lagi ngumpul. Kebetulan deket waktu makan siang, jadi sekalian aja.”

“Kok tahu kami ngumpulnya di sini? Aku kayaknya ga pernah ngasih tau deh.” Yesung bertanya lagi.

Aku tersenyum evil, “Ya taulah… aku kan punya mata-mata.”

Yesung ga ketawa. Dia tampak kesal, “Eissh…”

“Aku yang kasih tau,” jawab Sungmin. Dia melanjutkan, “Soalnya tadi Kyuhyun bilang Mina ssi mau dateng, jadi aku juga pengin dibawain makan siang sama Minhyun. Kebetulan Bee Noona telepon, jadi aku minta dia sekalian ngajak Minhyun.”

Yesung ternganga, “Ya neo… Aku bahkan ga punya nomornya Bee, tapi kamu telepon-teleponan sama dia?” Yesung protes.

Semua orang memandang Yesung. “Hyung, kamu ga punya nomor istrimu sendiri?” Donghae bertanya.

“Ani,” Yesung menjawab.

“Yaah, Hyung~” Eunhyuk mendekati Yesung sambil menepuk bahunya. “Aku aja, yang pertama aku lakuin itu minta nomornya Soumi. Kenapa Hyung ga pernah minta nomornya Bee Noona?”

Aku menunduk. Sial, ketawan deh kelemahan kami.

“Ani, masalahnya ga pernah ada kesempatan!” Yesung membela diri.

“Tetep aja, Hyung! Kalian kan tinggal serumah!” Ryeowook menimpali.

Semua member mulai memojokkan Yesung dan akhirnya dia kalah. Dia berseru, “Arasseo! Sekarang, mana nomormu, Sayang? Sini aku langsung simpen di HP-ku. Nih ya, kalian jadi saksi ya, semuanya!” dia berjalan ke arahku, untuk mencatat nomorku.

Kuberikan nomorku padanya. Lalu dia menunjukkannya pada semua orang. “Iba, Imma! Udah aku simpen nih nomornya!”

“Kalau gitu sekarang kasih nomormu ke Bee ssi,” Heechul nyeletuk.

“Iya, iya,” Yesung lalu meneleponku. Setelah panggilannya masuk, aku memberi tahunya dan segera menyimpan nomornya.

“Ya, Heechul-ra!” Leeteuk memanggil Heechul. “Kau juga. Pokoknya besok kau harus udah tau nomor istrimu, arasseo?!”

“Mwo?!!” semua member yang lain serentak berteriak.

Mereka semua, terutama Yesung, protes bagaimana mungkin seorang Heechul sampai ga nyimpen nomor telepon cewek. Istrinya sendiri, lagi. Padahal dia biasanya paling rajin ngumpulin nomor telepon orang-orang di sekitarnya.

“Hyung!” Heechul protes pada Leeteuk. “Aku udah punya nomor Yunyi!”

“Geotjimal!” Leeteuk melemparkan ejekan.

“Jinjjayo!”

“Buktikan pada kami!” Kyuhyun berseru.

“Ne. Telepon Yunyi ssi sekarang!” tantang Shindong.

“Oke!” Heechul menjawab panas sambil mulai menelepon.

“Kami mau dengar suara Yunyi ssi!” seru Kyuhyun lagi.

Heechul melemparkan tatapan membunuh pada Kyuhyun, tapi menurut juga. Terdengar nada tunggu selama beberapa saat, lalu terputus. Ga diangkat.

“Heeish, Hyung! Jangan bohong! Itu siapa yang kau telepon? Jangan-jangan kau bukan menelepon Yunyi ssi ya?” Donghae menyerang Heechul.

“Diem lu. Ini nomor Yunyi, kok! Beneran! Tunggu bentar, aku telepon lagi! Tunggu aja kalian!”

“Udahlah, Hyung… Ngaku aja. Kamu itu yang terakhir punya nomor telepon istrimu,” kata Eunhyuk.

“Aniya!” Heechul membantah dan menelepon lagi. Nada tunggu lagi, dan semua orang seperti menahan nafas menunggu apa yang akan muncul selanjutnya.

Terputus lagi.

Member Suju yang lain tampak puas dan habis-habisan mengejek Heechul, sementara wajah Heechul memerah dan kesal karena teleponnya ga juga tersambung. Akhirnya mereka semua mengacuhkan Heechul dan mulai bicara masing-masing, membandingkan hari mereka mendapatkan nomor telepon istri masing-masing. Kami para istri udah dilupakan begitu aja.

Aku dan Minhyun senyum-senyum melihat tingkah mereka yang kekanakan, sementara Mina berjalan menghampiri kami dengan sekotak kimbap. “Liat tingkah mereka,” ujarnya pada kami. “Kekanak-kanakan sekali. Ciss. Ayo kita makan aja. Ini buatanku, silahkan dicicipi,” ujarnya menyodorkan kimbap pada kami.

Kami makan sambil menonton live show gratis dari Suju. Mereka bener-bener kocak. Leeteuk dan Yesung sibuk menganggu Heechul yang terus mencoba menelepon istrinya, sementara yang lain ngerubungin makanan sambil menghina-dina Heechul dan membanding-bandingkan kecepatan mereka dalam memperoleh nomor telepon istri masing-masing. Kyuhyun bahkan sekaligus membangga-banggakan Mina yang membawakan makanan buatan sendiri untuk mereka. Sungmin protes, bahwa Mihyun juga datang. Eunhyuk mengatakan itu ga dihitung soalnya Sungmin yang minta. Ditengah-tengah itu Heechul kadang berseru pada mereka agar berhenti menggunjingkannya.

Sebenarnya mereka udah berenti ngomongin Heechul, tapi gara-gara seruannya, mereka jadi balik ngomongin dia lagi. Abis itu Heechul juga marah-marah sama Leeteuk dan Yesung yang terus-terusan ngegangguin dia yang lagi berusaha ngubungin Yunyi. Tapi leader Suju dan suamiku itu ga peduli dan tetep keukeuh gangguin Heechul.

“Yoboseyo!”

“Ya! Masuk! Masuk!” Heechul jejingkrakan kegirangan. Matanya memandang sadis pada para dongsaeng yang sekarang seperti kesusahan menelan.

“Oh… Yunyi-a, neo, majjyeo?” dengan suara dilembut-lembutkan dia mulai mendatangi para dongsaengnya dengan sikap mengancam.

Para dongsaeng mulai panik.

“Oppa, aku lagi kuliah. Nanti aja telepon lagi ya?”

“Oh?” Heechul berkata dengan nada tanya dibuat-buat. “Sebentar aja, Yunyi-a. Ini dongsaengku pengin kenalan sama kamu. Bisa kamu sapa mereka? Mereka bisa denger kamu sekarang…”

“…” diam di telepon. Sementara para dongsaeng menunggu dengan tegang, khawatir dengan reaksi yang mungkin ditunjukkan oleh evil hyungnya itu.

“Anyeonghaseyo,” terdengar suara lembut Yunyi di telepon. “Yunyi-imnida… Nugu…sijjyeo?”

Heechul menunjukkan kepalan tangannya, “A… Anyeonghaseyo, Yunyi ssi. Di sini Donghae. Apa kabar?” Donghae menjawab terbata, ketakutan ngeliat ekspresi Heechul.

Aku ga kuat lagi. Aku tertawa sambil menahan agar ga bersuara.

Sungmin maju, “Anyeonghaseyo, Yunyi ssi. Di sini ada Sungmin juga, terus ada Kyuhyun, Eunhyuk, dan Siwon. Kami sedang makan siang bersama. Apa Yunyi ssi udah makan?” tanyanya dengan suara lembut.

Heechul melotot pada Sungmin. Dinonaktifkannya mode loudspeaker dan berkata, “Yunyi-a, kamu lagi kuliah kan? Udah sana balik aja kuliah lagi. Geuneo!”

Sungmin protes kenapa Heechul melakukan itu, dan Heechul bilang, “Jangan sok imut sama istriku!”

Bahkan ga usah ditahan pun, suara tawaku udah ga keluar saking aku gelinya. Super Junior emang kumpulan bocah-bocah sotoy. Lucu banget kalo udah pada ngumpul. Aku ga inget lagi kejadian yang tadi mencelakaiku. Gara-gara tingkah mereka, semua hal buruk tadi seolah cuman nginjek kerikil. Ga berarti. Di tempat kami, aku, Mina dan Minhyun terus terpingkal-pingkal melihat kelakuan Super Junior yang konyol. Ga ada kamus tenang kalau mereka udah ngumpul.

Keceriaan itu terus berlanjut sampai tiba waktunya kami harus pergi. Kami bertiga keluar bersama-sama. Yesung, Kyuhyun dan Sungmin mengatakan ingin mengantar kami keluar, tapi Mina mencegah. “Kalau fans kalian ada yang melihat, bisa berbahaya.” Akhirnya mereka menurut.

Di luar, Mina mengatakan bahwa dia akan mengantarkan kami berdua, terutama aku, karena kakiku terluka. Sebab di antara kami bertiga dialah yang membawa mobil. Akhirnya kami sepakat bahwa satu kameramen akan ikut bersama kami, sementara dua kameramen lain, yaitu yang bertugas mengikutiku dan Minhyun akan pergi langsung ke rumah kami masing-masing menggunakan bus.

Di jalan kami banyak bercerita, termasuk pengalaman Mina bahwa sebenarnya kejadian kali ini ga mengejutkan baginya. Dia udah beberapa kali menerima ancaman. Entah bagaimana fans Kyuhyun bisa mengendus ada sesuatu yang sedang terjadi. Mina merasa bawa kejadian kali ini mungkin diakibatkan oleh karena mereka udah bisa mengambil kesimpulan bahwa dia tinggal bareng Kyuhyun.

Jujur aja aku dan Minhyun merasa takut. Benarkah para fans akan senekat itu? Entahlah.

Akulah yang pertama diantar. Minhyun dan Mina membantuku menaiki tangga. Mereka kutawari masuk tapi menolak. Maka kami pun berpisah di depan pintu.

Di dalam aku segera mengganti bajuku dan mencucinya. Takut noda tomatnya ga bisa ilang kalau ga segera dibersihkan. Auch, kakiku terasa perih. Kulihat perban di kakiku, ternyata udah harus diganti. Aku berniat menggantinya nanti selesai mencuci.

Setelah menjemur pakaianku di luar, aku mendengar HPku berdering. Terpincang-pincang kumasuki kamar, mengaduk-aduk tas mencari HP. Begitu ketemu, kulihat siapa yang menelepon. Yesung.

“Yoboseyo,”

“Kenapa lama banget ngangkat teleponnya?” di seberang sana dia berseru.

“Ah, maaf. Aku habis dari kamar mandi.”

“Kenapa smsku ga dibales?”

“Emang kamu sms?”

Terdengar desahannya. “Ttesseo. Kamu udah sampai di rumah?” nadanya berubah.

“Oh. Tadi aku langsung nyuci rokku, takut noda tomatnya ga ilang. Ini baru selese.”

“Kakimu gimana?”

“Ini mau ganti perban.”

“Aku bisa pulang bantuin kamu.”

“Ga usah,” seruku segera. Mengingat aku harus pergi lagi untuk latihan dengan Sungmin nanti malam. Aku ga mau Yesung tahu. “Aku mau pergi lagi ke RS. Mau mengurusi urusan pengambilan jenazah Ria. Kayaknya aku akan pulang malam. Kamu mau pulang dulu atau langsung siaran?” tanyaku.

“Ya! Kakimu itu lagi luka. Emang kamu ga bisa istirahat bentar ya?”

“Sayang, ini malam terakhir mereka. Aku cuman mau ngurusin kepulangan mereka dan abis itu semua urusannya udah selesai. Lagian lukaku cuman luka luar kok. Ga perlu khawatir.”

“Makanya, aku pulang aja ya, biar bisa nganterin kamu.”

“Aku ga mau kamu bolos siaran lagi. Lagian kita harus belajar dari pengalaman Mina ssi hari ini. Sebaiknya kita jangan terlalu sering keliatan barengan. Masalahnya sekarang ini aku lagi ga bisa lari kalau ada fans maniak yang ngejar-ngejar.”

Dia mendesah lagi. “Ya udah deh kalo gitu. Pokoknya kamu harus hati-hati.”

“Ya.”

“Jangan kecapekan,”

“Ya.”

“Jangan telat makan.”

“Ya.”

“Saranghae…”

“Ya. Eh?” aku terkejut.

“Geuneo.” Yesung mematikan telepon.

Aku memandang telepon yang udah mati. Benarkah yang kudengar tadi? Saranghe? Kutatap kamera, lalu aku tersadar. Ini hanyalah show. Dengan linglung kubaca 5 sms yang belum terbuka. Semuanya dari Yesung. Semuanya menanyakan aku dimana.

Hatiku bagai ditusuk jarum. Kecil, tapi sakit. Meskipun perasaanku pada Yesung mungkin benar, tapi ini adalah show. ‘Saranghe’ miliknya tadi adalah milik show, sebab ga mungkin dia mengucapkannya tanpa direkam kamera. Baiklah, kalau begini, aku telan aja sekalian jarumnya. Biar ga nanggung. Akan aku pelihara baik-baik jarum itu di dalam hatiku, untuk mengingatkanku bahwa menjadi serius adalah hal yang berbahaya.

Aku tersenyum, dan kutekan nomor Yesung. Begitu dia mengangkatnya, “Nado saranghae…” Klik, kututup.

Mari kita mulai sandiwara ini dengan lebih serius.

Sore itu aku menaiki bus terpincang-pincang menuju studio. Aku udah menghubungi Yesung mengatakan bahwa aku akan di RS sampai jenazah Ria dijemput, yaitu sekitar pukul 11 malam. Selain itu aku juga menghubungi Sungmin bahwa aku akan menunggunya di studio.

Aku sampai di studio lebih dulu dari Sungmin. Aku pun latihan sendiri berbekal musik dari iPod. Ga maksimal, tapi paling ga aku udah bisa bersuara. Aku melatih vokalku mengikuti teori yang diajarkan Sungmin kemarin. Sekitar satu jam kemudian, ketika Sungmin datang, pita suaraku udah panas.

Meskipun sikap tubuhnya tampak biasa saja, tapi wajah sungmin terlihat sedikit lelah. Sewaktu aku tanya apa dia baik-baik aja, dia bilang dia hanya lelah karena udah keluar rumah sejak pagi-pagi sekali. Aku merasa bahwa dia ingin diam. Ga ingin bicara, jadi aku ga meneruskan topik itu.

Tanpa banyak bicara Sungmin mengambil gitarnya dan melatih kunci nada yang akan kami gunakan. Aku menghentikan latihan vokalku dan memperhatikan Sungmin. Kadang kala aku menyanyikan beberapa nada agar Sungmin bisa menangkap kunci nadanya. Kami terus berkonsentrasi pada nada gitar yang hendak digunakan. Hingga Sungmin lancar memainkannya, aku hanya mengiringinya dengan falsetto setengah-setengah. Akhirnya pada jam makan malam, Sungmin udah bisa memainkan nada itu dengan lebih lancar.

Kami putuskan untuk berhenti sejenak dan mencari makan. Ketika kami sedang duduk di sebuah café yang ga jauh dari studio, teleponku berbunyi. “Kamu dimana? Aku di RS dan kamu ga ada di kantor,” suara Yesung terdengar dingin.

“Oh.. ee.. aku.. aku.. Ah, sekarang aku di studio. Tadi PD-nim tiba-tiba nyuruh aku ke studio.” Shit.

Kudengar tarikan nafasnya. “Kamu ga bisa tenang dikit ya? Kakimu itu perlu diistirahatkan.”

Di hadapanku Sungmin mengangkat alis sambil menyebut “Hyung?” tanpa suara.

Aku mengangguk. “Abis gimana dong. Katanya ini penting.”

“Katamu tadi jenazah Ria mau diambil jam 11?”

“Ne,” jawabku menebak kemana arah pertanyaan Yesung.

“Berarti nanti kamu balik lagi ke RS kan?”

“Ne,” aku masih berfikir, lalu jawabannya menyelinap dalam benakku. “Aku ga usah dijemput!” seruku. Tepat saat Yesung berkata, “Kalau gitu nanti…”

“Ne?!” pria itu bertanya.

“Dengar, urusanku sama PD-nim belum selesai. Mungkin selesainya nanti jam 10-an. Sementara kamu harus siaran. Jadi kalau kamu jemput aku nanti kamu telat. Jadi aku ga usah dijemput,” aku terburu-buru mengemukakan alasan.

“Urusan apa sih sebenernya?” dia mulai penasaran.

“A..” aku ga bisa jawab. Kehabisan ide. Sungmin menunjuk kakiku. “A, anu, PD-nim denger tentang kejadian hari ini dan pengin ketemu. Sekalian aja aku pengin bilang sama dia supaya rekamanku tadi jangan dimasukin. Aku kan malu.”

“Cuman mau ngomong itu doang? Pokoknya aku ke studio sekarang. Kita makan malam bareng. Geuneo!” Klik. Sambungan terputus.

Aku panik. “Eotteohke? Yesung mau ke studio,” seruku pada Sungmin.

“Geurae?” dia tersenyum.

Aduh gimana nih. “Perlu tanya PD-nim?” tanyaku bingung.

Saat itu makanan kami datang. Sungmin meminta kepada pelayannya agar makanan itu dibungkus aja. “Noona, ini makanan kita bawa aja ke studio. Kita tunda makan malam sampai Yesung Hyung datang. Kita terusin latihan. Dari RS ke studio kira-kira butuh waktu 1 jam kan? Kita bisa manfaatin waktu itu, jadi ga perlu ngelibatin PD-nim.”

“Mianhe, Sungmin-a.”

“Gwenchanha, aku juga untung, jadi ga pulang kemaleman,” senyumnya tepat saat makanan kami diantar dalam bungkusan.

Selesai membayar, aku berkata pada Sungmin, “Anu, Yesung mau ngajak aku makan. Kalau ga keberatan, kamu mau membawa ini bersamamu? Untuk Minhyun,” aku takut-takut menawarkan padanya. Aku khawatir dia tersinggung.

Ternyata dia emang baik. Dia menerimanya dan bahkan bilang terima kasih. Kami lalu terburu-buru kembali ke studio, melanjutkan latihan.

Empat puluh lima menit kemudian, ada sms masuk dari Yesung. ‘Kamu dimana?’

“Sungmin-a, Yesung udah dateng.”

“Oh, geurae? Kalau gitu aku pamit dulu, Noona. Noona balasnya nanti aja kalau aku udah keluar. Untuk ngulur waktu,” kata Sungmin sambil membereskan gitarnya.

Kami berpisah beberapa saat kemudian dan aku segera mengsms Yesung. ‘Aku di ruang latihan lantai dua.’

Ada sms masuk lagi, kupikir Yesung, ternyata Sungmin. ‘Dia sedang naik, Noona.’

Hah? Berarti Yesung udah deket dong. Lebih baik aku siap-siap aja.

Aku sedang membereskan ranselku ketika Yesung masuk ke dalam. Dia berjalan mendekatiku. Matanya menyipit, “Katanya sama PD-nim. Dimana dia?”

“Oh, tadi tiba-tiba dia dapet telepon dan harus pergi.” Aku ga berani ngeliat ke arahnya.

“Aneh. Aku malah ketemunya Sungmin.”

“Oh, geurae?” tanyaku pura-pura sibuk mengeluarkan sweater dari ransel.

“Kamu ga ketemu Sungmin?” tanya Yesung sewaktu aku berdiri.

“Agh!” sial. Aku lupa kalau kakiku sakit saking gugupnya.

Dia membantuku berdiri. “Sakit?” tanyanya khawatir.

“Hehehe,” aku nyengir konyol, “Lumayan…”

“Mau aku gendong?” tanyanya.

“Ani, aku bisa jalan sendiri,” aku menolaknya tegas.

Dia meraih lenganku dan meletakkannya di bahunya. “Paling enggak, kamu bisa pegangan sama aku,” ujarnya.

Kali ini aku ga nolak.

“Kamu mau makan apa?” tanyanya sambil membantuku menuruni tangga.

“Apa aja,” jawabku asal.

“Hmm, apa ya?” dia tampak berfikir.

“Cari yang deket RS aja,” usulku.

Akhirnya dia yang memutuskan tempatnya. Dekat dengan RS sesuai permintaanku. Kami menuju ke sana dan sekali-sekali dia menanyakan pendapat PD-nim tentang lukaku dan kejadian hari ini. Semua pertanyaannya kujawab dengan mengambang.

Aduh, aku ga suka situasi ini. Padahal aku ga melakukan sesuatu yang buruk, tapi aku dikejar-kejar rasa bersalah. Aku pun berusaha mengalihkan perhatian dengan membicarakan masalah Ria. Kubilang pada Yesung bahwa Dhera memaksakan kembali ke Indonesia walau kakinya belum sembuh. Seperti yang kuharapkan, dia menanggapi dan pembicaraan kami beralih ke masalah Dhera.

Di tempat kami makan, tiba-tiba Yesung berkata, “Aneh, tadi Sungmin ngapain ya di studio? Dia tadi bilangnya mau langsung pulang lho padahal.”

Aku tersedak. Kuambil minum dan Yesung berkata, “Hey, ati-ati. Makan pelan-pelan aja.”

Aku nyengir, “Aku laper banget,” kataku. “Emang tadi kalian selese jam berapa?”

“Sekitar jam 4-an.”

“Lagu buat album baru ya?”

“Hah?”

“Itu, lagu yang kalian bicarain tadi. Buat album baru?” tanyaku.

“Oh itu. Buat mini album.”

Aku ngangguk-angguk. “Kenapa makanmu ga diterusin?” tanyaku.

Sambil makan, aku ngeliat beberapa cewek memperhatikan kami. Entah kenapa kejadian Mina tadi siang muncul lagi di kepalaku. Aku berusaha mengenyahkannya. Ga, aku ga boleh curiga sembarangan. Salah-salah aku malah jadi paranoid.

Ketika akhirnya kami selesai makan, Yesung mengantarkanku ke RS. Aku mencegahnya turun. “Aku bisa sendiri,” kataku. “Kamu pergi aja.”

Dia nampak keberatan, tapi aku ga mau ada orang yang mengenalinya. Ini belum terlalu malam, dan RS masih ramai. Akhirnya dia menurut. Aku mengamatinya pergi bersama seorang kameramen di sampingku.

Kutarik nafas, lalu memasuki RS dengan tertatih. Dengan kondisi seperti ini sepertinya aku ga mungkin mengantar Dhera sampai di bandara. Aku hanya akan mengantarkan mereka sampai di pintu RS. Kurasa itulah yang bisa kulakukan. Itu tinggal sebentar lagi dan setelahnya hari ini akan selesai. Sambil menunggu mungkin aku bisa minta dokter yang nganggur mengecek lukaku. Sekarang ini kakiku terasa pegal. Pikirku sambil memasuki RS.

 

 

D10-KKEUT.

7 thoughts on “[Freelance] The Marriage and Us part 10

  1. fans-nya kyu sangar banget. etapi bee-nya lebih sangar hwkwkwkwk. bikin adegan yesung sama bee yang romantis lagi dong u,u hoho

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s