[Freelance] Fight, Love, and Revenge [part 6]

Hyeobin’s POV

Tiiit…

Sontak aku langsung menolehkan kepalaku ke arah suara itu, dimana sebuah mobil mewah berhenti di sampingku saat ini. Bibirku mengembang begitu saja ketika kaca mobil itu bergerak turun dan menampakkan wajah seseorang. Ahhh wajah tampan itu.

“Oppa…”

Pria itu tersenyum padaku kemudian membuka pintu mobilnya.

“Kau baru pulang sekolah?? Naiklah,” ajaknya.

Aku berpikir sejenak sebelum akhirnya aku menganggukkan kepalaku.

“Kenapa oppa ada di sini??” tanyaku ketika sudah berada di dalam mobilnya.

“Aku baru pulang kuliah, dan beberapa hari ini aku belum melihat Gaeul. Kurasa aku harus segera melihat keadaannya sebelum gadis berisik itu marah dan tak mau berbicara padaku,” jawabnya sembari terkekeh pelan.

Aku hanya bisa tersenyum kaku mendengarnya. Sepertinya dia sangat mengenal sifat Gaeul Onnie. Aisss apa yang aku pikirkan, tentu saja dia sangat mengenalnya, Gaeul Onnie adalah tunangannya.

“Heh, dia siapa oppa??” tanyaku ketika melihat wajah pengemudi mobilnya. Awalnya aku hanya ingin mengalihkan pikiranku, tapi tak sengaja, aku sadar ada pria lain di dalam mobil ini.

“Ouhh, dia Jongwoon hyung. Karena kejadian malam itu, appa sangat mencemaskan keadaanku. Jadi Jongwoon hyung yang akan selalu menemaniku.”

“Annyeong oppa, Hyeobin imnida,” sapaku sembari menundukkan kepalaku dan aku bisa melihat dia membalasnya dari kaca spion mobil.

*****

Hyukjae’s POV

“Annyeong oppa, Hyeobin imnida.”

Aigoo gadis ini benar-benar ramah. Semakin mengenalnya, aku semakin mengaguminya. Senyum itu, kenapa selalu terlihat tulus pada siapapun??

“Bagaimana keadaan Gaeul?? Apa dia menyusahkan kalian??”

Kulihat dia sedikit ragu untuk menjawabnya. Sepertinya ini tidak begitu baik.

“Annieyo, hanya saja Gaeul onnie selalu bertengkar dengan Fishy oppa. Bahkan tadi malam Gaeul onnie ingin pergi dari rumah kami.”

“Mwo??” tanyaku shock. “Ahhh mianhae, Hyeobin~a, seharusnya aku tak meninggalkan Gaeul di rumah kalian.”

Aku benar-benar tidak enak dengannya. Aigoo Gaeul~a kenapa membuatku malu seperti ini??

“Annieyo, oppa. Kau tidak perlu meminta maaf. Mungkin karena Fishy oppa tak mau mencoba memahami sifat Gaeul onnie, jadi mereka selalu bertengkar.“

“Gomawo kau sudah mau mengerti Gaeul. Ah Hyeobin~a, setelah ujianmu selesai, kau ingin melanjutkan kuliahmu kemana??” tanyaku mencoba mengalihkan suasana yang tidak enak tadi.

“Kuliah??” kekehnya pelan tapi ekspresi itu… “Bahkan sejak dulu, aku ingin sekali berhenti sekolah dan membantu Fishy oppa bekerja. Fishy oppa sudah begitu banyak berkorban untukku, bahkan dia mengorbankan sekolahnya untuk bekerja dan mencoba membuatku mendapatkan hidup yang layak,” lanjutnya sembari tertunduk.

Aisss sial,,, aku hanya ingin mengalihkan suasana canggung tadi, tapi kenapa aku malah memperburuknya.

Baiklah ini usahaku yang terakhir.

“Apa kau suka es krim??” tanyaku yang membuatnya langsung menoleh ke arahku.

“De??”

“Bagaimana kalau kita makan es krim dulu. Cuaca hari ini sangat panas, jadi kurasa es krim akan sedikit menyejukkan tubuh.”

“Waahhh oppa Aku mau. Sudah lama sekali aku tidak makan es krim. Fishy oppa tidak pernah mau menemaniku membeli ataupun makan es krim, karena Fishy oppa tak terlalu menyukai makanan-makanan yang manis,” ucapnya semangat. Aku suka setiap ekspresi yang muncul di wajahnya. Mata besarnya, seakan mencerminkan apa yang ada di dalam hatinya.

“Tapi oppa ‘kan yang bayar??” lanjutnya lagi.

Sontak aku tertawa mendengarnya. Tak kusangka kata-kata seperti itu akan keluar dari bibir mungilnya.

“Oppa, kenapa tertawa??? Aku tidak bercanda. Aku benar-benar tidak ada uang saat ini.”

Aigoo kenapa gadis ini jujur sekali??

“Hyeobin~a, kau lucu sekali,” balasku yang membuatnya mengerucutkan bibirnya. “Tentu saja aku akan mentraktirmu, lagi pula aku yang mengajakmu makan es krim. Jadi kau tidak perlu memikirkan bagaimana membayar es krim itu.”

“Jinchayo??? Kalau begitu aku boleh makan sepuasnya dan oppa yang akan membayarnya???” tanyanya lagi dan kujawab dengan anggukkan kepalaku.

“Wahhh kau jangan menyesal oppa jika uangmu habis karena diriku,” candanya sembari tertawa kemudian memandang jalanan Seoul yang ramai.

Tawa itu… terdengar sangat merdu di telingaku. Mataku tak bisa lepas dari wajahnya. Sulit sekali mengalihkan pandanganku darinya ketika dia berada dalam jarak pandangku.

*****

“Kau mau pesan rasa apa??” tanyaku ketika pelayan menyodorkan buku menu.

Tanpa membuka buku menu itu, dia langsung tersenyum padaku dan menjawab “Strawberry.”

Strawberry??? Kata yang tak akan pernah kudengar dari mulut Gaeul.

“Kau suka strawberry??”

“Tentu saja. Menurutku hidup seperti strawberry. Kita tak akan pernah mendapatkan hidup yang terlalu manis. Masalah adalah pelengkap di dalam hidup ini, sama dengan sedikit rasa asam yang menyempurnakan buah strawberry itu.”

Aku tersenyum mendengar jawabannya. Terkadang pikirannya terlihat lebih dewasa dari usianya. Sebenarnya bagaimana kau mendidik adikmu ini, Lee Donghae??

“Aku juga sangat menyukai strawberry. Kami pesan 2 porsi besar,” ucapku pada pelayan dan Sedetik kemudian pelayan itu berlalu dari hadapan kami.

“Wahhh oppa.. 2 porsi besar??” tanyanya shock.

“Waeyo?? Apa kau tak sanggup menghabiskannya??”

“Jangan meremehkanku oppa. Tubuhku memang kecil tapi nafsu makanku besar. Aku tidak pernah menyisahkan makananku.”

“Meskipun kau tak menyukainya??” tanyaku.

“Ne,” jawabnya mantap. “Fishy oppa mengajariku agar tak memilih-milih makanan, selagi itu baik untuk tubuhku, aku akan memakannya.”

Lagi-lagi aku takjub mendengar jawabannya. Sebenarnya pria seperti apa Lee Donghae itu?? Dan kenapa gadis ini begitu mendengarkan apa pun kata oppanya??

“Suamimu nanti tak akan susah untuk memberimu makan,” candaku dan membuatnya terkekeh pelan.

“Yah, kurasa begitu,” sahutnya.

Tak lama kemudian pelayan tadi kembali membawa dua porsi besar pesananku. Mata Hyeobin yang besar semakin melebar melihat es krim yang ada di depan matanya itu, membuatku lagi-lagi terkekeh pelan. Sepertinya aku akan selalu tertawa jika berada di dekatnya.

“Wahhh mashita,” ucapnya setelah mencicipi es krim itu.

“Kau suka??”

“Tentu saja.”

“Jika kau sangat menyukai es krim dan Donghae tak mau menemanimu, kenapa kau tidak mengajak temanmu saja, Hyeobin~a??

Dia menghentikan aktivitasnya yang memasukkan sendok kecil itu ke dalam mulutnya dan menatapku sejenak.

“Karena aku tak punya banyak teman.”

Aku langsung mengangkat kepalaku dan menatap matanya. Tak punya banyak teman?? Tidak mungkin gadis yang begitu menarik seperti ini tak memiliki teman.

“Aigoo ternyata kau sangat suka bercanda.”

“Aku tidak bercanda, oppa. Temanku hanyalah Jonghyun, dan dia juga sangat sibuk dengan pekerjaan part time-nya. Aku tidak memerlukan banyak teman. Tak ada yang tulus berteman denganku selain Jonghyun. Aku juga tak mau berteman dengan orang yang selalu merendahkan oppaku.”

“Baiklah, jika kau ingin makan es krim dan oppa-mu tak mau menemanimu, kau bisa menghubungiku saja. Aku pasti akan menemanimu.”

Dia tertawa pelan mendengar ucapanku. Yah aku lebih suka melihat ekspresinya yang seperti ini. Kembali menjadi Hyeobin yang lepas.

“Kau sedang dalam masalah besar, oppa. Aku selalu akan menagih janji seseorang padaku.”

“Ne, aku akan menunggu kau menagih janji itu.”

*****

Hyeobin’s POV

Jongwoon oppa memarkirkan mobil tepat di depan rumahku. Hyukjae oppa turun terlebih dulu, kemudian membukakan pintu mobil untukku. Aigooo lagi-lagi dia bersikap seperti pangeran.

“Oppa, apa kau tidak ingin masuk?? Masuklah aku akan membuatkan makanan untuk kalian,” ucapku pada Jongwoon oppa.

“Ne, Hyung. Sangat membosankan menunggu sendirian di dalam mobil,” sambung Hyukjae oppa.

Tapi lagi-lagi Jongwoon oppa menggelengkan kepalanya. Aisss sebenarnya aku sedikit takut dengannya. Sifatnya begitu dingin, ditambah lagi dengan tatapan tajamnya. Dari tadi aku sudah mencoba bersikap ramah dan mengakrabkan diri dengannya, tapi tetap saja dia bersikap dingin seperti itu, bahkan dia juga menolak ketika Hyukjae oppa mengajaknya makan es krim tadi.

“Annieyo. Aku di sini saja,” jawabnya singkat.

“Baiklah, setelah selesai masak aku akan memanggilmu, oppa,” balasku.

Aku dan Hyukjae oppa berjalan menuju pintu rumah. Samar-samar aku mendengar keributan dari dalam rumah. Aataga, jangan-jangan mereka bertengkar lagi.

Aku mempercepat langkahku dan diikuti oleh Hyukjae oppa. Tapi ketika tiba di depan pintu rumah, sontak mataku melebar saat melihat Gaeul onnie yang berada di atas tubuh Fishy oppa. Aku mengalihkan pandanganku pada Hyukjae oppa yang berdiri terpaku di sampingku. Aku tau, dia tak kalah shocknya dengan diriku.

“Oppa, Onnie!!!” teriakku yang membuat mereka menoleh ke arahku.

Aku berlari kecil mendekati mereka. Tapi baru beberapa langkah tiba-tiba…

“Jangan mendekat!!!!” teriak Gaeul onnie dan Fishy oppa berbarengan. Tapi sudah terlambat, aku kehilangan keseimbangan tubuhku dan aku bernapas lega ketika seseorang berhasil menahan tubuhku.

*****

Hyukjae’s POV

Aku terpaku melihatnya. Aku berusaha mendefinisikan perasaanku saat ini. Kupandangi wajah Gaeul yang menatapku dengan rasa bersalah dan shock, tapi kenapa aku malah tak merasakan apa pun. Astaga apa aku benar-benar sudah mati rasa?? Bagaimana mungkin aku hanya terdiam tanpa rasa seperti ini ketika melihat tunanganku berada di dalam pelukan pria lain.

“Jangan mendekat!!!” teriak Gaeul dan Donghae yang membuatku tersadar dari lamunanku, dan sedetik kemudian kakiku melangkah begitu saja ketika melihat Hyeobin yang hampir saja terpeleset. Sontak aku langsung mengulurkan tanganku dan memegang pinggangnya untuk menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.

“Gomawo oppa,” ucapnya pelan.

Aku hanya membalasnya dengan senyumanku. Kutarik kembali tanganku, kontak fisik dengannya membuat dadaku bergemuruh.

“Yak, menyingkirlah!!!” geram Donghae.

“Aisss singkirkan dulu tanganmu dari tubuhku!!!” balas Gaeul.

Astaga sepertinya benar apa yang dikatakan Hyeobin. Hubungan mereka benar-benar menyeramkan. Tentu saja, Gaeul bukan orang yang mudah memaafkan orang lain apa lagi orang tersebut tak pernah mengucapkan kata maaf padanya, seperti pria yang bernama Lee Donghae ini.

“Onnie, oppa, waeyo?? Kenapa rumah kita menjadi basah seperti ini??” Tanya Hyeobin.

Kulihat Donghae mendengus kesal kemudian menatap garang Gaeul dan tentu saja akan dibalas oleh tunanganku itu.

“Tanyakan saja pada gadis bodoh itu.”

“Yak jangan mengataiku bodoh. Aku jauh lebih pintar daripada dirimu!!!”

“Cih~” cibir Donghae yang membuat Gaeul kembali menggembungkan pipinya kesal.

“Ahhhh sudahlah, biar aku yang akan membersihkannya,” potong Hyeobin sebelum Gaeul membuka mulutnya kembali.

*****

Hyeobin’s POV

“SELESAI!!!!” teriak Gaeul onnie girang sembari memainkan alat pel yang dipegangnya. Aku tersenyum melihat ekspresinya. Yah Gaeul onnie memaksa untuk membantuku membersihkan lantai rumah yang sudah dikotorinya. Awalnya, dia hanya memperlambat pekerjaanku tapi akhirnya…. Hah Gadis ini memang harus diperlakukan dengan lembut dan diajarkan secara perlahan. Seandainya Fishy oppa bisa bersikap sedikit lembut padanya, kuyakin Fishy oppa tak akan melihat sifat menyebalkan Gaeul onnie.

Aku melirik Fishy oppa dan Hyukjae oppa yang duduk di sofa keras rumah kami tanpa berbicara sepatah kata pun. Aku hanya menggelengkan kepalaku melihat kelakuan mereka. Ternyata hubungan mereka lebih menyeramkan daripada hubungan Fishy oppa dengan Gaeul Onnie.

“Oppa, kalian ingin makan apa??? Biar aku masakkan untuk makan malam kita,” ucapku pada dua orang yang saat ini terlihat seperti patung.

“Aku sudah memasak jadi kau tak perlu memasak lagi, Hyeobin~a. Aku sudah menyelesaikan semua tugasmu hari ini” ucap sesorang yang berada di depan pintu dapur.

“Mwo??” ucapku tak percaya. Aku memandang Fishy oppa dan Hyukjae oppa secara bergantian. Dari tatapan mereka, aku tau mereka juga shock mendengar itu.

Aku kembali memandnag Gaeul onnie, dan saat itu juga kudapati senyum lebar yang tersungging di bibirnya.

*****

Aku langsung menuju ke ruang makan, setelah memanggil Jongwoon oppa. Akhirnya dia mau juga masuk ke dalam rumah.

“Taraaaaaa…” Ucap Gaeul onnie ketika kami semua berada di meja makan.

Aku langsung menautkan alisku, melihat makanan yang terhidang di atas meja.

“Apa ini??” Ucap Fishy oppa sembari mengambil sepotong ayam goreng yang sudah gosong dan menatapnya lekat-lekat.

Kemudian kulihat Hyukjae oppa mencicipi sup buatan Gaeul onnie tapi tak lama kemudian, dia langsung menyambar air putih di hadapannya. “Gaeul~a, apa kau memasukkan semua garam ke dalam sup-mu??”

“Apa ini yang kau sajikan untuk makan malam??” geram Fishy oppa.

“Oppa,” sergahku.

“Yak!!!” balas Gaeul onnie. Aku menggigit bibir bawahku, takut akan terulang kejadian yang sama. Aisss aku tidak mau ada keributan lagi di meja makan. “Tak bisakah kau menghargai pekerjaan orang lain??”

“Pekerjaan apa yang harus di hargai??” tantang Fishy oppa. “Semua yang kau lakukan tak ada yang benar. Kau tau?? Kau hanya menghambur-hamburkan persediaan makanan kami!!!”

“Aku akan memasak lagi untuk kalian, jadi masalah ini tak perlu diributkan,” cegahku.

“Memasak lagi??? Yak Hyeobin~a, tidak mudah untuk kita mendapatkan persediaan ini,” cecar Fishy oppa padaku. “Jika kau merasa semua yang kau lakukan selalu sempurna, silahkan habiskan sendiri makanan ini,” ucap Fishy oppa kemudian pada Gaeul onnie.

“Mwo???”

“Ya!!! Kalian sedang makan malam??? Kebetulan sekali, kami membawa makanan,” teriak seseorang.

“Kyuhyun oppa?? Bukankah kau…”

“Hahaha tak ada satu orang pun yang bisa memaksa ataupun mengurung Cho Kyuhyun, termasuk Tuan besar Cho yang menyebalkan itu. Dan kalian lihat, sebelum kabur aku sempat mengambil makanan yang ada di rumahku,” ucapnya bangga.

“Ne, kau hebat Kyunie,” timpal Heechul oppa.

Astaga setan satu ini benar-benar keterlaluan.

“Baiklah aku akan menghabiskan sendiri masakanku!!!” Teriak Gaeul onnie yang membuat semua kepala menoleh ke arahnya. Tak lama kemudian dia langsung menyambar piring yang berisi ayam goreng dan mangkuk sup. Dia menatap tajam ke arah kami.

“Kalian semua menyebalkan!!!!!”

Sedetik kemudian Gaeul onnie langsung berjalan menuju kamarnya sembari menghentak-hentakkan kakinya kasar. Aku mencoba memanggilnya tapi dia tak menghiraukanku.

“Apa kami datang diwaktu yang tak tepat??” Tanya Kangin oppa tapi tak ada satupun yang menjawab pertanyaannya.

“Apa dia tunanganmu??” celetuk Jongwoon oppa dengan tatapan sedikit shock dan dibalas dengan senyum kaku oleh Hyukjae oppa. “Astaga~” sambungnya lagi dengan ekspresi tak percaya. Tak kusangka pria ini juga memiliki ekspresi lain selain ekspresi dinginnya.

*****

Hyukjae’s POV

Setelah makan malam aku mendekati Donghae yang duduk menyendiri di halaman belakang rumahnya. Yah kuakui sedikit susah untuk berbicara dengan pria seperti ini, tapi tak ada yang tak mungkin jika belum mencobanya.

Aku duduk di sampingnya dan tentu saja membuatnya tersentak dan mendengus kesal.

“Gomawo,” ucapku membuka pembicaraan.

“Sudah kukatakan, aku tak pernah melakukan sesuatu untukmu, jadi jangan berterima kasih padaku,” jawabnya ketus.

Aisss pria ini, dia selalu saja mengatakan Gaeul menyebalkan, apa dia tidak sadar bahwa sifatnya itu tak jauh berbeda dengan Gaeul??

“Yah, tapi tetap saja bagiku kau sudah melakukan banyak hal untukku, terutama kau masih mengizinkan Gaeul tinggal di rumahmu.”

“Cih~” cibirnya.

Beberapa saat tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut kami, tapi sedetik kemudian aku langsung memandangnya dengan tatapan tak percaya ketika tiba-tiba…

“Apa Siwon masih mengincar nyawamu??”

Meskipun dengan nada datar setidaknya dia yang memulai pembicaraan ini terlebih dahulu.

“Selama aku masih hidup di dunia ini, Siwon tak akan berhenti mengejarku,” jawabku. “Lagipula ini sudah menjadi takdir hidupku.”

“Keluarga kalian benar-benar menyeramkan,” ejeknya.

Aku terkekeh pelan mendengarnya. “Yah memang. Tapi aku akan tetap bertahan demi appaku yang sudah berada di surga dan demi appa tiriku yang sudah banyak berkorban untuk hidupku dan eomma.”

Tak ada lagi kata yang keluar dari mulutnya. Dia sempat menatapku sejenak sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya lagi. Ternyata tak begitu sulit untuk berbicara dengannya.

“Hmmmm sekali lagi aku ingin berterima kasih padamu karna sudah bersabar menghadapi sikap Gaeul.”

Dia langsung menoleh ke arahku dan menghembuskan napasnya pelan.

“Bersabar?? Bagaimana mungkin aku bisa bersabar menghadapi gadis gila itu.”

Aigooo nada bicaranya seketika langsung berubah.

“Cih~” lagi-lagi dia mencibirku. “Bagaimana mungkin kau mau bertunangan dengan gadis menyebalkan seperti itu?? Ternyata kalian sama saja gilanya,” gerutunya.

Aku tertawa mendengarnya kemudian berdiri di hadapannya.

“Jika kau mau mencoba memahami sifatnya, kau akan tau kenapa aku bersedia bertunangan dengannya,” jawabku sebelum melangkahkan kakiku, meninggalkannya dengan kening berkerut.

*****

Donghae’s POV

“Akhhhhh” rintih seseorang.

Aisss siapa pagi-pagi begini yang sudah mengganggu tidurku??

“Hyeobin~a,” panggilku masih dengan mata terpejam. “Suruh gadis berisik itu diam.”

Tapi tak ada jawaban apa pun dari adikku itu. Dengan kesal kubuka mataku dan berdiri. Aku berjalan menuju kamar Hyeobin, ternyata kosong. Apa dia sudah pergi sekolah??

Aku mengatur napasku sejenak, mencoba meredam emosiku, kemudian kulangkahkan kakiku menaiki setiap anak tangga menuju kamarku yang ditempati gadis gila itu. Kubuka dengan kasar kenop pintu dan siap melemparkan sandal rumahku ke arahnya jika dia masih berani mengganggu tidurku. Apa dia tidak tau aku baru saja tidur jam 5 pagi, dan semua itu karena bocah setan yang memaksa kami untuk menemaninya bermain game.

“Yak!!!!!” tapi sedetik kemudian, mulutku langsung tertutup ketika melihat gadis itu berdiri di depan pintu kamar mandi sembari tertunduk dan memegang perutnya. Dia mengangkat kepalanya dan saat itu juga aku bisa melihat wajahnya yang pucat.

“Mau apa kau kemari??” ucapnya lemah namun tetap dengan nada menyebalkannya.

Aku tak menjawab ucapannya dan kulihat dia berjalan terseok-seok menuju ranjang. Kemudian dia mendudukkan tubuhnya di atas ranjang dan berssandar pada punggung ranjang.

“Jika kau ingin mencari masalah denganku, sebaiknya kau keluar. Aku sedang tidak ingin melihat wajah menyebalkanmu itu.”

Mwoya?? Mencari masalah?? Wajah menyebalkan??? Apa dia lupa bahwa ini adalah rumahku.

“Mencari masalah katamu??? Kau lupa siapa yang selalu mencari masalah di rumah ini??” sindirku

Dia tak menjawab apa pun. Kulihat dia kembali memegang perutnya. Kudekati dirinya yang masih bersandar di punggung ranjang.

“Kau kenapa??” tanyaku ketus.

Dia mengerucutkan bibirnya kemudian memandang wajahku. Tiba-tiba saja ekspresi angkuhnya itu berubah dengan seketika.

“Perutku sakit dan mual,” rengeknya.

Jangan-jangan karena dia benar-benar menghabiskan makanannya tadi malam… Aissss gadis ini bodoh sekali.

“Siapa suruh kau menghabiskan makanan itu!!!!” ejekku.

*****

Gaeul’s POV

“Siapa suruh kau menghabiskan makanan itu!!!!” ejeknya.

Mwo?? Aisss…

Yah aku memang menghabiskan masakanku sendiri. Aku paling tidak suka jika ada orang yang menantangku apalagi jika dia berani meremehkan diriku. Cho Gaeul pantang untuk ditantang.

“Sekarang kau sadar kan bagaimana hancurnya masakanmu?? Bahkan masakanmu bisa membunuh dirimu sendiri!!!”

Aissss aku sudah tidak tahan. ”Yak!!!!!!!!!!!!!” hardikku tapi belum sempat aku mencecarnya, pria brengsek itu sudah berlalu begitu saja tanpa menghiraukanku. Menyebalkan sekali.

Aku menghela napasku perlahan. Mengontrol emosiku kembali. Kupejamkan mataku, berusaha menahan rasa sakit di perutku.

Appa perutku sakit sekali~

Tiba-tiba kudengar lagi langkah kaki yang kembali mendekat ke ranjangku. Kubuka mataku dan kudapati dirinya yang sudah berdiri di samping ranjang lagi. Kutata matanya dnegan gusar.

“Mau apa lagi kau??”

Dia tak menjawab pertanyaanku dan malah menyodorkan sebutir obat dan air putih ke depan wajahku.

“Minum obat ini,” ucapnya ketus.

Aku langsung memalingkan wajahku darinya. “Shireo!!!” balasku tak kalah ketusnya.

Aku paling benci semua hal yang berhubungan dengan rumah sakit atau pun obat.

“Kubilang minum obat ini!!!” paksanya lagi.

“Sudah kukatakan aku tidak mau!!!”

“Aisss jincha…” geramnya.

Sedetik kemudian tiba-tiba saja dia naik ke atas ranjang kemudian  melingkarkan tangannya di bahuku yang membuatku tersentak hebat.  Aku berusaha menyingkirkan tangannya dari bahuku dan mendorong tubuhya menjauh, tapi dia tetap bertahan dengan posisi seperti semula. Dia semakin mengeratkan pelukannya di sekitar punggungku sembari menahan lenganku dan menyandarkan tubuhku di dadanya *bs ngebayangin gak posisinya???* sedangkan tangannya yang bebas mencengkeram kedua pipiku dan memaksa mulutku untuk terbuka.

“Yakkk!!! Apa yang kau lakukan babo!!!” hardikku sembari memberontak dari cengkeramannya. Tapi lagi-lagi usahaku gagal.

Tanpa seizinku, tiba-tiba saja dia memasukkan obat dan menuangkan air putih di dalam gelas itu ke dalam mulutku. Setelah itu dia langsung membungkam mulutku dengan tangannya. Aku berusaha memuntahkan obat itu, tapi bungkaman di mulutku menahanku utnuk tidak memuntahkannya.

“Telan obat itu!!!” ucapnya lagi, tanpa melepaskan bungkamannya.

Aku menggelengkan kepalaku dengan kasar  sembari mencoba melepaskan tangannya yang masih membungkam mulutku, tapi tindakanku malah dan semakin membuatnya mengeratkan bungkamannya. Astaga, apa pria ini berusaha membunuhku??

“Telan obat itu sekarang juga, atau aku akan menciummu.”

Glekkkk…

Seketika itu juga obat itu masuk ke dalam tenggorokanku. Tubuhku sedikit menegang mendengar ancamannya. Mencium?? Astaga~

Sedetik kemudian dia melepaskan bungkamannya dan beranjak dari ranjang. Dia menataku dan kenapa aku tidak sanggup membalas tatapannya. Aisss ada apa denganmu Gaeul~a??

“Dasar gadis bodoh!! Bagaimana bisa ada orang yang lebih memilih menahan rasa sakit daripada menelan sebutir kecil obat. Bahkan anak kecil pun tak ada yang begitu menyusahkan seperti dirimu. Jika sekali lagi kau berani mengganggu tidurku dengan suara rintihanmu, aku akan segera menendangmu ke rumah sakit!!” ucapnya garang sedangkan aku hanya bisa menundukkan kepalaku dan menggembungkan pipiku.

*****

Gaeul’s POV

Aku tersenyum lega ketika tak kurasakan lagi rasa sakit di perutku. Akhirnya aku bisa kembali bernapas. Rasa sakit tadi benar-benar menyiksaku. Wahhh ternyata obat itu cukup bagus. Setidaknya dalam waktu satu jam, obat itu sudah menghilangkan rasa sakit di perutku tadi.

Aku melirik jam dinding yang ada di kamar ini, sudah menunjukkan pukul 9. Aisss pantas saja perutku lapar sekali, aku belum sarapan ditambah lagi tenagaku terkuras karena menahan rasa sakit tadi.

Aku menuruni setiap anak tangga dan langsung menuju ke dapur. Aku langsung menghembuskan napasku pelan ketika tak kudapati sesuatu apa pun di atas meja. Aisss aku tidak mungkin memakan masakanku lagi.

Aku mengalihkan pandanganku dan tak sengaja tertuju pada seseorang pada yang sedang tertidur pulas di atas sofa.. Aigooo jadi dia kembali melanjutkan tidurnya..

Aku mendekatinya kemudian berlutut di samping sofa yang ditidurinya. Aisss sebenarnya apa yang sedang kulakukan??? Untuk apa aku mendekatinya seperti ini?? Tapu sepertinya otak dan tindakanku tak bekerja sama. Bukannya menjauh darinya aku malah mendekatkan wajahku dan menatap wajahnya yang terlihat sangat polios ketika tertidur seperti ini. Tak kusangka, seekor anjing bisa berubah menjadi seekor kucing ketika sedang tidur. Kyeopta~

Aisss kupukul kepalaku pelan. Otakku benar-benar sudah rusak. Atau jangan-jangan pria ini memberikan obat yang bisa merusak otak seseorang.

Aku baru saja akan beranjak dari tempat itu ketika kulihat tangannya bergerak mencengkeram pinggir sofa dengan kuat. Aku kembali duduk di sampingnya, menatap wajahnya lekat-lekat. Rintik-rintik keringat mulai membasahi keningnya. Keningnya juga berkerut, Bahkan dia juga menggelengkan kepalanya dengan pelan.

Aku mendekatkan jari telunjukku ke keningnya, berusaha menghilangkan kerutan itu dengan menyentuhnya. Tapi tiba-tiba saja aku langsung menarik tanganku ketika matanya membuka dan menatapku dengan shock.

*****

Donghae’s POV

“Sampai kapan pun aku tak kan rela suamiku menikah dengan wanita lain!!!”

“Kau harus mendengarkan aku dulu.”

“Andwae!!!”

“Dengarkan aku!!”

“Aku tak akan pernah rela tinggal dengan wanita yang berani merusak rumah tanggaku dan menjauhlah dari hidupku dan anakku!!!”

PLAKKKKK…..

AKKKHHHHH…

Aku langsung membuka mataku dan mimpi ini. Lagi-lagi mimpi ini….

Tapi mataku semakin melebar ketika mendapati wajah sesorang di hadapanku. Dia mengerjap-ngerjapkan mata besarnya dan menatapku dengan canggung.

“Yak!!!” teriakku yang sukses membuatnya terduduk di lantai karena kaget.

“Apa yang sedeang kau lakukan??”

“Annieyo.. aku hanya penasaran saja melihat tidurmu yang sangat gelisah,” jawabnya tanpa dosa.

“Katakan saja, sebenarnya kau mau apa??”

Dia tersenyum kaku padaku kemudian menyentuh perutnya. “Aku lapar,” jawabnya dengan polos.

“Jika kau lapar untuk apa kau memandang wajahku seperti itu?? Apa melakukan hal itu bisa membuatmu kenyang??” Hardikku.

“Cih~ kau menyebalkan sekali,” cibirnya. “Apa kau tidak bisa berbicara baik-baik padaku?? Di meja makan tidak ada makanan sama sekali,” keluhnya.

“Bukannya kau pintar memasak, kenapa kau tidak memasak makananmu sendiri,” sindirku.

Dia melipat tangannya di depan dadanya, kemudian memalingkan wajahnya dengan kesal.

Aisss gadis ini benar-benar membuatku terserang penyakit darah tinggi.

“Kau mau makan apa??” tanyaku ketus.

Sontak diamenoleh ke arahku dan tersenyum seperti anak kecil. Cih~ menggelikan sekali.

Tapi kurasa lebih baik melihatnya seperti itu daripada harus melihat ekspresi angkuhnya. Dia terlihat lebih manis dengan senyumnya yang seperti itu. Mwo?? Manis?? Aisss sepertinya mimpi itu membuat otakku kacau.

“Apa saja, asal kau tidak memaksaku untuk memakan ikan atau pun sayur,” jawabnya sembari mengikutiku menuju dapur.

Dia duduk di kursi makan dengan menjadikan tangannya sebagai penyanggah wajahnya. Dan kenapa dia terus memperhatikanku?? Membuatku risih saja.

“Hanya ada ramen,” ucapku sembari menuangkan ramen yang baru saja selesai kumasakke dalam mangkuk.

Dia berdiri dan mendekatiku. “Tidak apa-apa,” jawabnya singkat. “Ya!!! Apa tadi kau mimpi buruk??”

“Bukan urusanmu!!”

Aku melangkahkan kakiku untuk meninggalkannya tapi teriakannya menghentikanku.

“Yak Lee Donghae, aku kan hanya bertanya!!!”

“Aku tidak perlu menjawab pertanyaan apa pun,” jawabku kemudian memunggunginya.

“Chakkaman!!!” tahannya lagi. Aisss gadis ini….

“Waeyo??” teriakku gusar.

Dia memandangku ragu-ragu sembari memainkan jarinya. “Itu… kurasa kau akan terlihat lebih baik jika kau memotong rambutmu..”

Mulutku menganga mendengarnya.

“Tapi kau jangan salah sangka, Lee Donghae. Aku tak bermaksud apa-apa. Jika kau mau, aku akan menemanimu ke salon, eotteokeh?? Penampilan itu juga adalah sesuatu yang penting,” cerocosnya.

Kutatap matanya dengan tajam. Kemudian dengan perlahan kulangkahkan kakiku mendekatinya tanpa melepaskan tatapanku.

Kulihat dia sedikit bergidik dan melangkah mundur hingga akhirnya dia tersudut di dinding yang ada di belakangnya. Aku semakin mendekatinya dan mengulurkan tanganku diantara tubuhnya untuk menguncinya.

“Ya… ya.. kau mau apa??”

“Sudah berkali-kali kubilang, aku tak suka orang lain ikut campur urusanku,” ucapku tajam.

“A-aku kan hanya member pendapat,” elaknya.

“Aku tak membutuhkan pendapatmu dan berhentilah memanggilku dengan nama itu,” ucapku lagi-lagi dengan nada pelan.

“Ta-tapi itu adalah namamu. Kau bodoh sekali, ayahmu pasti sudah memikirkannya berulang kali sebelum memberiikan nama itu padamu. Lagi pula nama donghae lebih bagus dari pada nama Fishy-mu itu.”

Ayah??? Cih~

“Tutup mulutmu sekarang juga, atau aku akan menciummu.”

“Kau tak kan berani melakukan itu lagi,” tantangnya. Tapi aku juga bisa melihat sorot ketakutan dari tatapannya.

“jangan menantangku.”

Dengan cepat aku mendekatkan wajahku ke arahnya. Dan…

“ARA.. ARA… ARASSEO!!!” teriaknya sembari meletakkan tangannya di dadaku untuk menahan tubuhku agar tidak mendekat. “jika kau tak suka, kau tak perlu mengintimidasiku dengan cara ini!!!” gerutunya lagi.

Aku langsung menarik tanganku yang kugunakan untuk mengunci tubuhnya, kemudian berbalik memunggunginya. Tiba-tiba saja bibirku tersenyum melihat ekspresinya tadi.

Aisss untuk apa aku tersenyum?? Michyeosseo, Fishy~a??

*****

BRUKKKKK

Aku langsung menolehkan kepalaku ke arah sumber suara itu, dan kudapati seorang pria paruh baya terpental cukup jauh hingga akhirnya terjerembab di tanah, sedangkan mobil yang menabraknya melaju dengan kecepatan tinggi tanpa menghiraukan korbannya. Sontak kakiku langsung berlari mengejar mobil itu, tapi sia-sia karena mobil itu semakin melaju dengan cepat.

Aku menghentikan langkahku untuk mengejar mobil itu, dan kembali ke tempat pria tua tadi tersungkur, dimana semua orang itu sudah mengerubunginya seperti semut namun tak ada satu pun yang berani menyentuhnya.

Aku berlutut di samping tubuh pria tua itu dan menyentuh bahunya, kemudian membalikkan tubuhnya yang tengkurap di atas tanah itu hingga menghadapku. Dia mengerang pelan ketika kutarik bahunya.

“Gwaencha…”

Saat itu juga mulutku terkunci ketika melihat jelas wajahnya. Tubuhku membeku saat matanya yang sayu karena menahan sakit menatap lurus ke dalam manik mataku. Seakan tak ada setetes darah pun yang mengaliri tubuhku.

“Ka-kakiku sakit sekali,” rintihnya.

“Sajangnim.. Sajangnim, gwaenchanayo??” ucap seseorang yang menghambur ke arahnya.

Aku menarik tanganku kembali yang masih melingkar di bahunya dan mengepalnya di samping tubuhku. Aku langsung berdiri dan pergi menjauh, tanpa menoleh ke belakang, membiarkannya begitu saja.

Wajah itu…

Mata itu..

To Be Continue…

Huhhh selesai part ini.. bwt fansnya Hyuk-Bin, ad momentnya Hyuk-Bin tuh, eotteokeh?? Ap msh krg gmna gt??? Comment y..

 

By : dongHAEGAeul

 

Tags : Donghae, Eunhyuk, Super Junior

4 thoughts on “[Freelance] Fight, Love, and Revenge [part 6]

  1. pa jgn2 tu appa y hae, tp siapa yg jd appa y hae. ?
    Cerita hyuk-bin kurang banyak, banyakin lg dong kurang puas. . .
    Aku suka couple hyuk-bin,tp hae ma gaeul jg lg seru. . .

  2. Hyaaaa~ suka banget, suka banget, banget banget suka!! #PLAAK
    Author keren ih FFna, tp aku ttp suka ma Donghae en Ga Eul gitu.. Hehehe…
    Kenapa FF keren begini komennya dikit yah? Author sbarlah, daebbak yah… :D

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s