[Freelance] The Marriage and Us {Day 9}

Title : The Marriage and Us [Day 9]

Author : Bee

Main Cast : Yesung, Bee

Support Cast : all members of Super Junior

Rating : all age (but kids, because they wouldn’t get it)

Genre : romance

Warning! : aman lagi

Ps : Mohon komennya ya.

Disclaim : biar kata terinspirasi dari WGM, alur cerita murni ide Bee. Oke? No plagiarism!
========================

 

 

Aku terbangun mencium aroma masakan. Kubuka mataku dan mendapati kamar sudah terang tanpa lampu. Kuraba area sekitar bantalku tempat aku biasa meletakkan HP. Begitu kudapat, aku terbelalak melihat sekarang udah jam 10.30.

Kusibakkan selimutku dengan kasar dan buru-buru keluar kamar. Aku mendapati Yesung sedang sibuk di dapur. Entah apa yang dilakukannya. “Sayang, kenapa aku ga dibangunin?” tanyaku dengan mata menyipit. Sial, pasti mataku kotor banget nih. Tadi malem kebanyakan nangis sih.

“Oh! Kamu udah bangun? Selamat pagi…” Yesung tersenyum lebar sekali ke arahku.

Aku manyun. “Ini udah siang, tau.” Sambil berkata begitu aku ngeloyor ke kamar mandi. Di sana kuamati mataku yang terasa lengket dan menjijikan. Ternyata benar dugaanku. Mataku jorok banget. Aku lantas berusaha keras membersihkan semua kotoran mata yang melekat. Begitu bersih aku segera mengambil sikat gigi. Sambil menyikat gigi tiba-tiba aku teringat kejadian semalam.

Bibir Yesung seolah kembali lagi ke bibirku. Kubersihkan mulutku dan menatap pantulan wajahku sendiri di cermin. Bibirku sedikit berdenyut. Aku bahagia, aku tersadar. Meski hari ini akan jadi hari yang berat, aku tahu perasaanku sangat baik. Aku siap menghadapi hari. Tapi pertama, pipis dulu…

Sambil “melakukan tugas pagi” aku berpikiran untuk mandi aja sekalian. Maka begitu selesai, aku segera membuka baju dan mandi dengan cepat. Ah segarnya, pikirku setelah selesai. Kukeringkan tubuhku dengan handuk di depan wastafel. Eh, apa wajahku jerawatan? Aku memperhatikan satu titik gelap di atas bibir. Aku sih ga ngerasa apa-apa, tapi biasanya ga ada apa-apa di sana. Aku dekatkan wajahku ke kaca, sementara tanganku memegang handuk secara vertikal menutupi bagian  depan tubuhku. Kusentuh apa yang kucurigai sebagai jerawat itu, dan…

“Sayang, cepat. Sarapannya…”

Aku menoleh dan melihat Yesung berdiri di pintu kamar mandi. Dia berdiri dengan celemek melekat di tubuhnya, sementara tangannya yang satu memegang sendok nasi.

… tak satupun dari kami berkata apa-apa… Lalu,

“Choisonghamnida. Silahkan Anda sibuk lagi…” dia berkata sambil menundukkan tubuhnya dalam-dalam.

APA ITU TADI?!?!?! Pikirku setelah pintu menutup.

Apa aku lupa mengunci pintu kamar mandi? Iya, sepertinya begitu karena tadinya aku hanya berniat mencuci muka dan gosok gigi.

Apa Yesung melihat semuanya? Sepertinya juga iya, sebab dia ga ngelanjutin kalimatnya tentang sarapan.

Bagian mana yang dilihatnya??? Yang jelas pantatku sekarang dingin sebab sudah cukup lama terbuka.

Oh my God… OMG!!!

Aku harus berwajah seperti apa waktu keluar nanti???

OMG! Kamera! Apa ada yang melihat?! Bagaimana ini? Bagaimana?

Panik memikirkan kemungkinan itu, aku segera memakai bajuku dan keluar. Di dapur Yesung sedang menghadap rice-cooker, memunggungiku. Kutarik tangannya memasuki kamar, di sana aku berbisik, “Apa tadi ada kamera yang mengikutimu?”

Wajahnya merah banget. Aku punya feeling, mukaku setara merahnya sama muka dia. Dia ga ngomong, hanya menggeleng.

Aku mendesah lega melihatnya. Syukurlah… Aku pun berbalik keluar kamar. Di pintu aku merasa malu sekali, jadi aku berbalik, mendekati Yesung, berbisik, “Awas kalau kamu bilang ke siapa-siapa!”

Yesung menggeleng. Mukanya masih merah.

Aku berjalan keluar lagi. Tapi lalu merasa malu lagi, jadi balik lagi ke kamar. Yesung melihatku, menunggu apa yang hendak kukatakan. Tapi mukanya yang merah bikin aku kehilangan kata-kata. Kupukul lengannya keras demi menghilangkan rasa maluku sendiri.

“Aww!” teriaknya.

Aku tidak menghiraukannya dan berjalan keluar kamar. Kali ini tanpa berbalik lagi. Kudengar Yesung protes di belakangku. “Yha! Appeu! Kenapa aku yang dipukul sih?! Kan bukan salahku!”

“Diam!” teriakku dari kamar mandi.

Kuambil handukku dan meneruskan mengeringkan rambut dengan handuk. Selama itu aku mendengar Yesung protes tak jelas. Aku diam saja. Ya ampun, aku masih malu banget. Berlama-lama aku mengeringkan rambut. Begitu keluar dari kamar mandi, Yesung sudah duduk di sofa, masih dengan celemek, menungguku.

“Ayo kita sarapan,” katanya menatapku.

Mataku yang juga otomatis melihatnya terbayang lagi peristiwa barusan. Membuatku harus menunduk menahan malu. Sepertinya dia juga sama karena dia langsung sok sibuk menata meja yang udah selesai di tata. Aku menghampirinya bersamaan dengan munculnya pertanyaan dari kameramen tentang apa yang terjadi di antara kami.

“Amugeotdo eobseo!” jawab kami berbarengan. Eishhh… itu bukannya malah artinya ada sesuatu?! Ekspresi kameramen membenarkan perkiraanku.

“Ai, molla molla~ Ayo sarapan!” aku berusaha mengalihkan perhatian.

“Ayo! Hahahaha!” Yesung tertawa menanggapi. Jisssh, itu terlalu lebar.

Akhirnya kami berdua memakan ramen buatannya dalam diam. Berusaha ga melihat muka satu sama lain.

Kameramen memancing kami, “Kalian bertingkah tidak seperti tidak ada apa-apa di antara kalian.”

“Beneran ga ada apa-apa!” aku menjawab cepat. Terlalu cepat.

Yesung terbatuk. Smirk evil muncul di wajah kameramen. “Geureohke jinjjayo, Yesung ssi? betul begitu?” tanyanya pada Yesung.

Pria itu melirikku takut-takut. Aku memberinya pelototan peringatan. “A… Jin… Jinjjayo,”jawabnya menghindari pandanganku.

“Eeeissh, ayolah. Kami juga paling nanti akhirnya tahu. Dan kalau kami lihat langsung di kaset rekaman, PD-nim langsung tahu lho.”

Sialan, bukankah tadi Yesung bilang ga ada kamera? “Mwoya? Beneran ga ada apa-apa kok,” aku menjawab gugup. “Ya! Kameramennimdeul ga makan?” aku mencoba mengalihkan perhatian.

Kameramen yang lain menjawab, “Tenang saja, kami sudah selesai makan tadi pagi. Sekarang kami tinggal bekerja. Jadi, apa yang terjadi?”

Aku menarik nafas dan tersenyum dibuat-buat. “Jinjja amugeotdo eobseoyo. Beneran ga ada apa-apa kok.”

“Sepertinya kalian mulai bertindak aneh sejak Yesung ssi memanggil Anda di kamar mandi…” kameramen melemparkan tatapan ‘kayaknya-gue-tau-nih-apa-yang-terjadi’ padaku.

Yesung terbatuk. Dia meminum airnya lalu, “Sudahlah Sayang, mengaku aja. Ga mungkin kita menutupi ini dari mereka.”

Aku memandangnya kaget. Apa katanya?! Dia ga waras kali ya?! “ANDWEH!” aku berseru ga bisa ngontrol diri.

Kudengar tawa kameramen di samping kami. ‘Kami menang…’ untukku tawanya terdengar seperti itu.

Yesung menatapku takut-takut, tapi tiba-tiba ketawa aneh kaya orang akting ketawa tapi aktingnya super duper jelek, “HAHAHAHAHA! Tadi itu…”

“YA!” aku berseru.

“Di kamar mandi, dia ini…”

Aku memutari meja menerjang tubuhnya dan membekap mulutnya. “Kamu mau mati?!”

Dia melepaskan tanganku dari mulutnya dengan kesal. “A WAE?! Kamu kan udah pernah ketawan begitu juga sekali, kenapa kali ini harus malu-malu?!” akhirnya dia ikut berteriak.

Mwo?! Aku?! Begitu?! Dia ini kapan kebentur kepalanya?! Aku terus melongo menatapnya. Begitu tersadar aku meneriakinya lagi, “KAPAN?! MANA PERNAH AKU BEGITU!”

“Aaish, masa kamu lupa dulu waktu kita baru pindah ke sini kamu juga nari-nari gila begitu kan di dapur?!” dia berseru sambil menuding-nudingkan sumpitnya padaku.

Waktu baru pindah? Nari-nari gila? Apa sih yang diomonginnya?

“Masa sekarang aku mergokin nari-nari lagi aja kamu pake ngancem-ngancem sih?!” dia melotot lagi padaku. Tapi melototnya aneh. Kenapa alisnya sampe mesti naik-naik beberapa kali begitu?

Apa mungkin…

“Wae?” dia naik-naikin alisnya lagi. “Ga inget kegilaanmu sendiri? Nari-nari sambil nyanyi-nyanyi? Dulu di dapur, pagi ini di kamar mandi! Eissh, besok kamu aku ajak manggung aja sekalian, biar bisa nyanyi dan nari dengan puas…” dia menggerutu sambil meneruskan makannya.

Kesadaran mulai menghinggapiku. Dia lagi bikin kejadian palsu tentang apa yang terjadi di kamar mandi! Plak. Aku menampar diriku sendiri. Tentu aja dalam benakku.

“AHAHAHAHA… Ne,” akhirnya aku ketularan akting buruk rupanya. Ketawa garing segaring-garingnya. “Ahahaha, aku lupa aku dulu juga pernah begitu.”

Aku ngesot balik ke tempatku semula lalu meneruskan makan sambil ketawa-ketiwi yang dimaksudkan malu-malu gitu. Ga tau deh hasilnya.

Kedua kameramen kami saling berpandangan. Mereka mungkin merasa ada yang salah, tapi ga yakin apa. Aku bertatapan dengan Yesung dan kami berdua merasa lega karena kameramen ga mendesak lagi soal itu. “Ahahaha, ramyunnya enak, Sayang. Makasih,” kataku sambil membikin diri sendiri sibuk menyedot ramen.

Kami berdua makan sambil saling mengawasi satu sama lain. Takut kameramen mengungkit hal itu lagi. Untungnya ga. Sepertinya masalah itu bisa ditutupi dengan mulus. Syukurlah~

“Sayang, apa rencanamu hari ini?” Yesung bertanya padaku mengalihkan topik.

Aku mengerucutkan bibir lalu mendesah. “Hari ini mungkin aku akan sebentar saja di RS, lalu aku akan membantu ayahnya Ria untuk mencari tiket kepulangan. Mungkin aku akan seharian berada di luar,” jawabku. “Kenapa?”

“Ah, ga. Aku juga ada jadwal pemotretan sehabis makan siang, dan mungkin aku ga akan pulang sampai selesai SUKIRA.”

“Jadi hari ini kita ga akan ketemu?” tanyaku sambil menyuap nasi.

Yesung tersenyum tipis, “Maaf ya Sayang, aku ga bisa nemenin kamu.”

Aku terkejut. Ternyata dia mikirin aku. Kutelan rasa berat yang kurasakan bersama dengan nasi yang sedang kukunyah. Aku memasang senyum di wajahku, “Tenang aja. Aku bisa handle semuanya kok.”

Dia masih memandangku dengan tatapan minta maaf. “Aku tahu kematian Ria berat untuk kamu, dan aku benar-benar minta maaf ga bisa nemenin kamu di saat begini,” katanya.

“Ani!” aku langsung berseru. “Kalau kamu nemenin aku malah nanti tambah repot!”

Yesung tampak terkejut mendengar jawabanku. “Maksudmu?” tanyanya.

“Maksudku, nanti orang-orang malah pada ribut ngeliatin dan penasaran kenapa ada kamu.”

Dia meletakkan sumpitnya. “Aku ga ngerti ya, mesti setuju sama kamu apa tersinggung. Aku itu lagi khawatir sama kamu, tau. Malah dibilang ngerepotin! Walaupun kata-katamu masuk akal juga sih. Tapi aku kan khawatir kamu kenapa-kenapa!” dia bersungut-sungut.

Aku geli ngeliat tingkahnya. Aku juga menghentikan makanku. “Kalau orang-orang tahu apa yang sedang kita lakukan, semuanya bakal jadi kacau. Jadi lebih baik kita menahan diri. Selain itu, kamu inget waktu kita ngejemput Dangkoma?”

Dia menatapku penasaran.

“Waktu itu kamu megangin tangan aku karena aku habis ketakutan gara-gara Choco. Terus aku bilang sama kamu kan, kalau suatu saat aku ngerasa kacau atau ketakutan lagi, aku akan selalu inget tangan kamu yang mendukung aku. Inget?”

Dia tampak mengingat-ingat.

“Dan bukan cuman itu. Dukunganmu ke aku udah banyak banget. Aku sekarang cukup pede buat bekerja berkat dukunganmu dari kemaren, terutama dukunganmu tadi malem…” astaga. Kenapa aku ngungkapin ‘tadi malem’? Padahal maksudku sebenernya adalah apa yang udah dia lakukan buat aku di RS, tapi yang langsung terlintas dalam pikiranku adalah apa yang kami lakukan di kamar mandi tadi malam.

Aku terbatuk, “Pokoknya!” seruku menekan rasa malu yang mulai merambat naik. “Kamu harus percaya bahwa istrimu ini bisa melakukan tugas dengan baik.”

Saat aku selesai mengatakan kalimatku, Yesung bangkit dari duduknya dan berjalan ke dapur. “Kamu haus?” tanyanya. Aku pun langsung tahu bahwa Yesung juga teringat ciuman kami semalam. Dia pasti menghindari kamera mendeteksi mukanya yang memerah, sebab ga seperti aku yang berkulit lebih gelap, jika muka Yesung memerah, pasti akan terlihat jelas.

“Ehem,” aku batuk menghilangkan sesuatu yang tiba-tiba mencekat tenggorokanku. “Boleh juga,” jawabku pada Yesung.

Saat kembali dari dapur, dia tidak berani menatapku langsung, sama seperti aku yang juga hanya berani mencuri-curi pandang padanya. Aduh, hal seperti ini harus segera dihentikan.

“Aku selesai,” kataku sehabis minum. Segera aku bangkit dan menuju ke kamar untuk mengambil ganti, bersiap-siap berangkat ke RS.

Dalam 15 menit aku sudah siap. Yesung pun sudah selesai makan. Dia mengantarku ke pintu depan dan dengan ragu aku meraih tangannya untuk dicium. Tekstur telapak tangannya terasa sangat jelas, sejelas ingatanku mengenai belaiannya semalam. Tapi ga ada jalan mundur lagi. Kamera sedang merekam. Kalau aku tiba-tiba membatalkan mencium tangannya, justru akan tampak aneh. Maka cepat-cepat kucium tangannya dan berbalik. “Aku pergi,” seruku meninggalkannya di pintu depan.

“Oh…” dia menjawab.

Dalam bis aku berusaha keras mengalihkan pikiranku dari Yesung dengan mulai merencanakan kegiatanku hari ini terkait dengan pengurusan kepulangan jenazah Ria. Usahaku sukses besar begitu aku mencapai RS. Aku segera disibukkan dengan semua urusan itu bisa dibilang sejak pertama menginjakkan kakiku di pintu masuk. Tak ada waktu untuk beristirahat.

Aku tak berlama-lama di kantor. Urusan administrasi sebagian besar telah diselesaikan tadi malam. Siang ini aku hanya perlu memasukkannya ke dalam data bank inti milik RS. Sertifikat kematian pun telah dikeluarkan. Pekerjaan yang tersisa adalah mendampingi keluarga dan teman-teman Ria untuk mengurus kepulangan.

Sebelumnya aku menanyai Dhera apakah dia akan pulang bersama dengan yang lain atau ingin menunggu hingga kakinya sembuh. Dia mengatakan bahwa dia ga sanggup kalau harus bertahan di sini sendirian dan mengatakan ingin dirawat di Indonesia aja. Maka aku pun mencatatnya dalam agendaku bahwa tiket kepulangan akan dihitung dengan memperhitungkan Dhera. Meskipun sebenarnya ini bukan tugasku, tapi aku melakukannya karena ingin membantu mereka. Aku merasa pasti mereka sedang sangat kacau saat ini dan membutuhkan bentuk bantuan seperti apapun.

Pukul 5 sore semuanya sudah selesai diurus. Mereka semua akan pulang pada hari Kamis dini hari langsung dari RS. Aku hanya harus kembali ke RS untuk mengurus keluarnya Dhera dari RS. Ketika aku sedang sibuk mengisi dokumen, HP-ku berbunyi. Telepon dari nomor yang tak kukenal. Siapa ya?

“Yoboseyo?” aku menjawab hati-hati.

“Sedang sibuk, Nyonya Yesung?”

Aku sepertinya mengenal suara itu. Tapi ga pasti. Pelan dan penuh dugaan aku menjawab, “Ne, lumayan.”

Suara orang di sana tiba-tiba berubah sok mengancam. “Anda tidak kenal siapa saya, kan? Anda tidak perlu tahu siapa saya! Yang penting Anda harus bersiap-siap karena sore ini saya akan mendatangi Anda!”

Aku menahan tawa. Dia… “Tidaaak… tolong jangan datangi saya… saya sedang tidak mood ketemu Anda!”

“Mwo?! Noona~” suara Sungmin merajuk mendengar jawabanku. “Wae? Aku mengganggu ya?”

“Kekekekk. Aniyo. Aku cuman ngerjain kamu.”

“Eeeissh. Jadi, nanti aku jemput ya Noona?” dia bertanya.

Jemput? Jemput kemana? “Jemput kemana?”

“Noona! Kita kan harus latihan!”

Akh! Iya. Latihan. “Oh iya, ya. Mianhe, Sungmin-a. Banyak yang terjadi di RS, jadi aku lupa. Tapi makasih udah diingetin. Ga perlu dijemput aku bisa dateng sendiri kok ke studio.”

“Aniya, gwenchanha. Coba tebak aku sekarang dimana?”

“Molla. Kenapa aku harus tahu?” aku berusaha melanjutkan pekerjaanku.

“Di Pusat Belanja Seoul. Itu kan cuman beberapa blok dari RS Seoul, kan? Jadi aku bisa jemput Noona.”

Oke, aku menyerah. Aku cuman bisa menulis satu huruf, dan cuman itu. “Mwo? Jadi kamu di deket sini?”

“Ne. Jam berapa Noona selesai?”

Aku melirik jam dinding. “Aku selesai kira-kira 30 menit lagi, sih.”

“Kalau gitu aku segera ke situ sekarang. Aku akan nunggu di tempat parkir. Noona hapal mobilku, kan?”

Aku mengingat-ingat seperti apa mobil Sungmin. Ya, sepertinya aku bisa mengingatnya. “Ne,” jawabku.

“Oke, sampe ketemu nanti ya Noona.”

“Oh.” Kami lalu menutup telepon. Oke, aku bisa hemat waktu dan ongkos. Kuberi tahu rencana itu pada kameramen, dan dia hanya mengangguk.

Tepat 30 menit kemudian, aku baru selesai berbicara pada Dhera. Barang-barangku di kantor belum dibereskan, jadi aku menelepon Sungmin mengatakan aku mungkin terlambat 5 sampai 10 menit. Dia mengatakan tidak apa-apa dan sekarang dia sudah di tempat parkir.

Akhirnya aku melangkah ke parkiran juga. Kucari-cari mobil Sungmin dan binggo! Aku melihatnya di tengah-tengah parkiran. Aku menghampirinya dan mengetuk sisi jendela penumpang. Dia membukakan pintu dari dalam. “Masuklah, Noona.”

“Mian,” ujarku meminta maaf karena telat sambil duduk. Kameramenku duduk di belakang bersama kameramen Sungmin. “Anyeonghaseyo,” kataku menyapa semua orang. Lalu kulirik Sungmin. “Omona… ganteng sekali, uri Sungmin…”

Dan aku ga becanda atau basa-basi. Dia emang ganteng banget dengan kacamata hitam yang dipakainya. Penampilannya klimis tapi modis abis. Dengan kemeja pink yang pas di badan, dia nampak keren. Apalagi ditambah tawanya seperti sekarang. “Ah, Noona. Bisa aja. Aku emang ganteng sih. Aku kan paling ganteng di Suju.”

“Hah!” aku mendengus. “Aku tarik kembali pujianku,” kataku main-main.

“Wae? Ah, arasseo. Karena aku bukan hyung, kan?”

Sial ni anak. Ada kamera tuh dua biji di belakang! Kulemparkan pandangan peringatan padanya. “Ya iyalah. Yang paling ganteng di Suju itu cuman uri Sayang,” aku menanggapinya.

Dia menangkap nada peringatanku. “Oke, oke. Berarti aku bisa bilang sama Minhyun dia ga perlu khawatir suaminya direbut Bee Noona,” jawabnya berusaha mengalihkan perhatian.

“Yha! Ya! Emang dari awal aku ada niat ngerebut kamu dari Minhyun?! Fitnah itu namanya…”

Sungmin ga melanjutkan. Dia malah bertanya, “Noona udah makan?”

“Makan apa nih? Masih kecepetan buat makan malem. Tapi emang aku ga makan siang sih, soalnya tadi aku brunch, ga sarapan.”

Brunch?” Sungmin bertanya.

“Sarapan siang-siang, between breakfast and lunch,” jawabku.

“Ah! Brunch!” Sungmin berseru mengingat arti brunch.

“Ne, brunch,” ulangku.

“Kalo gitu sekarang udah laper lagi, dong. Gimana kalo kita beli pizza, dibawa ke studio?” usulnya.

“Boleh.”

Akhirnya kami mampir di gerai pizza, membeli 4 kotak pizza dan minuman. Aku memaksa turun membeli semuanya sendiri, takut ada yang mengenali Sungmin. Setelahnya kami segera menuju studio.

Kali ini, sampai di studio kami langsung menuju ke ruang latihan. Ternyata ruangan itu sedang dipakai oleh f(x). Mereka hendak melakukan shooting video klip terbaru mereka di lantai 1. Begitu kami masuk, mereka langsung mengenali Sungmin dan menyapanya ramah. Sungmin memperkenalkan aku sebagai temannya, dan menanyakan apakah mereka masih akan memakai ruangan ini.

Mereka bilang tidak. Sebenarnya mereka hanya sedang berlatih mengingat gerakan untuk saat take nanti, jadi kalau Sungmin hendak memakai ruangan ini, mereka ga keberatan. Akhirnya kami menuju ke satu pojok dan mulai makan sebelum latihan, member f(x) menolak ketika kami tawari makan, udah full make-up, kata mereka. Saat itu HP Sungmin berbunyi. Dia mengangkatnya, dan ternyata itu adalah PD-nim. Dia mengatakan posisi kami dan menutup teleponnya. “PD-nim akan kemari,” dia menjelaskan padaku.

Aku mengatakan sebaiknya kami mempersiapkan ketiga lagu yang telah kami sepakati sebelum PD-nim datang. Sungmin setuju dan menaruh ketiga lagu tersebut dalam playlist di iPhonenya. 5 menit kemudian PD-nim tiba. Dia mengatakan dia ga punya banyak waktu, jadi dia hanya ingin mendengar alasan kami kenapa memilih ketiga lagu tersebut. Kami pun menjelaskan padanya.

“Yah, pada akhirnya kalian yang akan menentukan lagunya sendiri. Saya hanya ingin memberi masukan. Menurut saya The Promise itu lagu yang bagus, hanya kurang pas dengan momennya nanti. Rainy Days terlalu sedih, dan kita tidak ingin mengakhiri program ini dengan perasaan sedih, karena seharusnya ini menjadi program yang bisa memberi inspirasi banyak orang untuk bertahan dalam pernikahan. Saya paling setuju dengan Lucky, sebab itu menggambarkan perasaan yang puas dan tidak ada penyesalan sama sekali telah memilih pasangan kalian masing-masing. Lagipula pada dasarnya ini lagu duet. Tapi sekali lagi ini pendapat saya. Saya akan menyetujui lagu apapun yang kalian pilih,” PD-nim mengakhiri pendapatnya.

“Ne, saya juga berpikiran begitu,” Sungmin menimpali. Sementara itu karena masih ada potongan pizza di mulutku, aku hanya mengangguk. Kemarin begitu mendengar Lucky, aku dan Sungmin sama-sama langsung menyukai lagu itu. Kami memiliki pendapat yang sama bahwa lagu itu memang pas untuk dibawakan di akhir acara.

Jadi akhirnya kami memutuskan memakai Lucky. PD-nim pun tampak puas dengan hal itu. Dia segera pergi setelah hal itu diputuskan. “Selamat berlatih,” katanya pada kami.

Aku dan Sungmin mengucapkan terima kasih padanya, lalu setelah selesai dengan makan malam, kami pun segera berlatih. Sungmin mengajariku beberapa teknik menyanyi yang benar, karena selama ini aku hanya menyanyi tanpa teknik sama sekali. Dia mengajari cara mengambil nafas, mengatur pelafalan, dan sebagainya. Aku benar-benar belajar banyak hal baru malam itu.

Aku sangat antusias dengan latihan kami, sehingga ga menyadari kalau sekarang tinggal beberapa menit lagi menjelang tengah malam. Waktu aku mengambil air untuk membasahi tenggorokanku, aku terkejut melihat HP-ku karena sudah larut sekali. Aku pun bilang ke Sungmin bahwa sebaiknya kami pulang karena sudah sangat malam. Dia juga kaget melihat betapa cepatnya waktu berlalu.

“Wah, Minhyun mungkin khawatir. Sebab aku ga bilang kalau aku mau pulang malam,” kata Sungmin sambil mulai membereskan gitarnya.

“Apa Minhyun ssi tahu kalau kita berlatih untuk perform di akhir program?” tanyaku pada Sungmin, sambil ikut mengemasi beberapa barangku.

“Ani,” jawab Sungmin. “Kan PD-nim bilang ini untuk kejutan.”

Akhirnya kami selesai membereskan barang-barang dan segera melangkah menuju mobil Sungmin. “Maaf kamu harus nganterin aku, Sungmin-a.”

“Ga papa, Noona. Kan sekali jalan,” jawabnya. Kami pun meluncur pulang dalam diam, seperti malam sebelumnya.

Sampai di rumahku, aku menawarinya minum untuk basa-basi. Seperti sudah kuduga sebelumnya, dia menolak. Aku ga menunggu sampai dia pergi untuk menaiki tangga.

Kumasuki rumahku yang gelap. Ah, benar. Yesung sedang siaran. Hei, berarti kemarin dia ga siaran, dong? Kan semalaman dia sama aku. Aku duduk termenung di sofa. Harusnya sih ga ada jadwal libur untuk SUKIRA kecuali (mungkin) hari Minggu, tapi kenapa dia kemarin ga siaran ya? Aku menoleh ke arah kameramen. “Kemarin berarti Yesung ssi ga siaran, ya?” tanyaku pada kameramen.

Kameramen menatapku, lalu menjawab, “Dia izin ga siaran kemarin.”

Aku mengernyit. “Kapan?”

“Kemarin.”

“Iya, maksudnya kapan izinnya? Kok aku ga liat dia izin? Atau jangan-jangan dia seharusnya ada acara sehingga udah izin dari jauh hari sebelumnya?”

“Dia izin kemarin di RS waktu Bee ssi sedang bingung,” kameramen menjelaskan.

Aneh, seharusnya aku tahu. “Kok aku ga tahu?”

“Dia melepon Leeteuk sewaktu kita baru sampai di RS.”

Artinya dia menelepon di belakangku, tapi aku ga nyadar? Egois banget aku ya?  “Apa biasanya untuk izin mendadak begitu ada kompensasinya?” aku menanyai kameramen lagi.

“Biasanya ada, tapi untuk SUKIRA saya kurang tahu. Sebab Yesung termasuk masih baru di sana.”

Wah, gawat. Jangan-jangan Yesung kena masalah gara-gara aku. Aku ga mau memikirkan bahwa sesuatu yang kurang baik bisa terjadi pada suamiku itu terkait pekerjaannya, tapi perasaan cemasku ga mau pergi.

Aku membersihkan badan dan berganti baju, lalu memutuskan untuk tidur di sofa malam ini. Selain memberi kesempatan pada Yesung untuk beristirahat dengan baik, aku juga ingin terjaga saat dia pulang dan melihat apakah ada masalah atau ga.

Ga butuh waktu lama untukku terlelap. Tapi juga ga susah bagiku untuk terjaga saat Yesung pulang. Aku mendengarnya memasuki rumah sekitar pukul 2. Aku pun bangun. Lampu rumah yang memang ga kumatikan membantuku terjaga.

“Kamu belum tidur?” tanya Yesung.

“Udah. Kebangun,” jawabku dengan mata menyipit. Sepet.

“Oh, mian. Tidur aja lagi,” katanya.

Aku tersenyum padanya. Kini mataku udah terbuka sepenuhnya. “Ani, aku juga ga tidur nyenyak kok. Kamu mau kuambilin minum?”

Dia heran menatapku. Sepertinya dia bisa meraba kalau aku memang menunggunya pulang. “Boleh,” jawabnya atas pertanyaanku. Setelah itu dia segera melangkah ke kamar dan membersihkan diri di kamar mandi. Sesaat kemudian dia keluar dari kamar mandi dengan piyama sudah melekat di tubuhnya.

Segelas air putih udah aku letakkan di atas meja. Aku menunggunya sambil duduk di sofa. Dia pun berjalan mendekatiku. Begitu dia duduk di sebelahku, aku berkata, “Itu minumnya.”

“Oh, terima kasih,” ujarnya sambil mengambil gelas dan meneguk setengah isinya.

“Capek?” tanyaku padanya.

Dia memonyongkan bibirnya sedikit sambil menelengkan kepalanya. “Ng, ga terlalu sih. Biasa aja.”

“Mau aku pijetin?”

Mukanya memerah sedikit, membuatku tersenyum.

“Jja, ayo hadap sana,” perintahku padanya agar membelakangiku.

Dia diam saja sambil masih melihatku. Aku memaksa memutar badannya. Aku pun memutar badanku agar menghadap punggungnya. Perlahan mulai kupijat bahunya. Sebenarnya aku sedang berpikir, haruskah aku tanyakan padanya mengenai SUKIRA malam ini juga, atau besok saja?

Akhirnya aku memutuskan kutanyakan saja malam ini sambil lalu. Kalau mood-nya kurang baik, aku akan tunda hingga besok.

“Aku baru kepikiran, nih,” kataku membuka percakapan. “Kemaren kamu ga siaran gara-gara nemenin aku di RS ya?”

Dia diam. Tapi lewat bahunya yang sedang kupijat, bisa kurasakan bahwa sikap tubuhnya berubah. Sampai beberapa saat dia tetap terdiam, sampai aku berubah pikiran untuk melanjutkan pertanyaan ini. Mungkin besok aja. Baru aku berpikiran begitu, dia bersuara, “Sayang, naik lagi dikit dong. Itu yang deket leher kaku banget rasanya.”

Aku menurutinya. Benakku berpikir bahwa memang mungkin malam ini bukan waktu yang tepat. “Di sini?” tanyaku menyentuh langsung tengkuknya dengan jariku. Ga ada kain piyama antara jariku dengan tengkuknya, sehingga aku bisa merasakan kehangatan kulitnya. Aku sedikit terganggu dengan pemikiranku sendiri, tapi aku masih memiliki kekuatan menguasai diri.

Dia menggerak-gerakkan lehernya ke kanan dan ke kiri. Diar balik punggungnya aku bisa melihat bentuk rahangnya. Sementara otakku bisa mengingat bagaimana kemarin aku menelusuri rahang itu dengan bibirku. Baru tahu aku bahwa rahang pria bisa jadi organ tubuh yang seksi. Tanpa sadar jariku bergerak semakin naik. Membuatku terkesiap sendiri ketika menyentuh garis rambutnya.

Yesung mendongakkan kepalanya. “Sudah cukup,” desahnya.

Aku pun mengangkat tanganku dari tengkuknya cepat-cepat. Dia lalu berbalik menghadap tv hingga sekarang aku bisa melihatnya dari samping. Setelah terdiam beberapa detik, dia menoleh ke arahku. “SUKIRA ga ada masalah. Waktu aku menceritakan apa yang terjadi pada Leeteuk Hyung, dia membantuku membuatkan alasan,” katanya.

Aku terpana. Ternyata dia tahu pikiranku. Hal itu membuatku tersenyum tipis. Aku menunduk, “Syukurlah,” bisikku.

Tangan Yesung bergerak merangkul pundakku. “Kemarilah,” katanya menarik tubuhku. Setelah aku cukup dekat padanya, dia menarik tanganku ke pinggangnya. Mau tidak mau aku harus memajukan dudukku karena kalau ga rasanya sangat ga nyaman. Aku menempatkan diriku senyaman mungkin di sisi tubuhnya. Tanganku kini sudah memeluk pinggangnya dengan keinginanku sendiri. Kuletakkan kepalaku di bahunya.

“Uri Sayang… Jangan khawatir. Tapi terima kasih udah mengkhawatirkan aku,” dia menepuk-nepuk lembut lenganku.

“Gomawo,” bisikku. Mataku memejam, hidungku dipenuhi aroma tubuhnya. Adakah yang lebih nyaman dari ini di dunia?

Aku teringat sesuatu. “Sayang,” panggilku.

“Hmm?” sahutnya malas.

“Kita begini direkam kamera, kan?”

Kepalanya yang sekarang menempel di kepalaku bergerak sedikit. “Terus kenapa?” tanyanya.

“Ga papa. Aku sih ga peduli.”

“Ya udah. Abaikan aja. Aku juga ga peduli. Istriku sedang memelukku, masa aku mau mempedulikan yang lain?”

Senyumku terbit. Kucubit lemah pinggangnya.

“Ya!” protesnya.

Kucubit lagi pinggangnya sedikit lebih keras.

“Ya! Ya!”

Kubuka mata dan kudongakkan wajahku menatapnya. Lalu kucubit lagi pinggangnya, lebih keras lagi.

“Ya!” dia berteriak melepaskan tanganku. “Neo!”

“Ahahahahaa,” aku tergelak. Tanganku mencoba meraih pinggangnya lagi, tapi dia mengelak.

“Ya! Apa-apaan sih kamu?!” dia mulai marah.

“Aku kan cuman pengin meluk suamiku…” kataku dengan nada dibuat-buat sambil mengejarnya.

Dia bangkit dan menjadikan meja sebagai pembatas kami. “Kamu bukan mau meluk aku! Kamu itu mau nyubit aku!”

“Enggak kooook… Cuman mau meluuuk… sini dong, Sayaaaang…” aku mengejarnya.

Dia berlari menghindariku. Tangannya teracung, “Jangan deket-deket, kamu!”

“Aaaah, aku maunya deket-deket kamuuu…”

“Yak!” dia berlari masuk kamar dan menutup pintunya.

Aku tergelak-gelak puas. Udah cukup, aku pengin tidur, jadi aku ga ngejar dia lagi. Dia juga butuh istirahat. Aku kembali ke sofa masih sambil cekikikan. Sewaktu hendak menutupi tubuh dengan selimut, aku teringat belum mematikan lampu, jadi aku beranjak menuju saklar yang terletak di sebelah pintu kamar. Klik. Kumatikan lampu. Lalu aku tersenyum.

Kuketuk pintu kamar. “Ya! Awas kalau kamu berani masuk!” terdengar seruan dari dalam.

Aku tertawa tanpa suara. Kudekatkan mulutku ke pintu, dengan tangan membentuk corong, aku berseru tertahan, “Selamat malam, Sayang. Sweet dream…”

 

 

D9-KKEUT.

First published: http://aineino.wordpress.com.

 

10 thoughts on “[Freelance] The Marriage and Us {Day 9}

  1. ak reader bru…geofanny imnida (gkdaygnny) ktemu crt ni
    Wah …. seru ..
    Hrus bc yg day 1-8 nya nih ,,,
    Lnjutin y…. Dtunggu,

  2. Akhirnya ada lanjutannya, ini FF yg paling aku tunggu hahaha yesung lucu bgt pas liat di kimchi kmrn keingetan FF ini ._. Lanjutannya ditunggu author

  3. haha. suka bgt ma ni pasangan makin hari makin mesra, duh gmn endingnya ya? tinggal bentar lg nich?
    btw, pas kimchi kmrn knp yg blang sayang eunhyuk ya? coba klu tu yesung, huah ni cerita kyk real deh, keke

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s