[Freelance] Fight, Love, and Revenge part 5

Gaeul’s POV

“Onnie, selama kau tinggal di sini, kau bisa tidur di kamar ini. Tempat tidurku tidak cukup untuk dua orang.”

Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru kamar yang sama dengan kamar yang ditempati oleh Hyuk oppa selama seharian tadi. Hyuk oppa baru saja pulang satu jam yang lalu, dan sekarang aku terpaksa tinggal di rumah ini tanpa dirinya, benar-benar membuat moodku hancur. Dan parahnya kenapa aku harus menggunakan kamar pria menyebalkan itu. Kamar ini sama kacaunya dengan penampilannya. Membuat mataku sakit memandangnya.

Aku mendengus pelan dan untung saja Hyeobin berdiri di belakangku, jadi dia tidak perlu melihat ekspresi sebalku.

”Aku tau kamar ini pasti tidak sebagus dengan kamar yang biasa kau tempati, tapi semoga saja kau tetap bisa merasa nyaman di rumah kecil ini, Onnie.”

Astaga, dia bisa membaca pikiranku, membuatku merasa tidak enak saja.

Aku langsung membalikkan tubuhku hingga menghadap dirinya. Kupaksakan bibirku untuk tersenyum.

”A.. Anieyo,” ucapku gugup. ”Aku justru berterima kasih padamu, karena sudah begitu baik padaku. Gomawo Hyeobin~a.”

”Onnie, kau tidak perlu berbicara seperti itu. Kau juga sudah baik padaku,” ucapnya sembari tersenyum padaku. Kuakui senyumnya cukup memikat. Bagaimana bisa gadis sebaik ini mempunyai hubungan darah dengan pria menyebalkan itu??

”Seseorang pernah mengajariku untuk berbuat baik pada siapa pun, meskipun dia tidak pernah menyadari itu. Dan lagi pula Fishy oppa juga sudah setuju memberikan kamar ini padamu.”

Cih~ setuju?? Jelas-jelas tadi aku mendengar pria itu berteriak marah pada dirimu karena memberikan kamar ini padaku. Ingin sekali aku mencibirnya.

Kulihat Hyeobin berjalan mendekati ranjang kecil itu, kemudian meletakkan pakaian di atasnya. Dia menoleh ke arahku dan lagi-lagi tersenyum.

”Kurasa pakaian ini cocok untukmu,” ucapnya.

Aku langsung menunduk dan benar saja, tubuhku masih saja mengenakan gaun yang sama dengan yang kupakai tadi malam.

”Sekarang onnie bisa membersihkan tubuh dan setelah itu kita makan malam bersama.”

”Gomawo.”

Hyeobin hanya membalasku dengan senyuman dan setelah itu langsung berjalan keluar kamar, meninggalkanku sendirian.

*****

Hyukjae’s POV

Cklekkk…

Pintu kamarku terbuka begitu saja dan sedetik kemudian kulihat Soo Man Appa berdiri di depan kamarku bersama seorang pria. Sepertinya baru kali ini aku melihat pria itu. Tubuhnya cukup, ouh baiklah lebih berisi di bandingkan diriku. Rambut jamurnya yang pirang itu menutupi keningnya. Dan ketika dia menatap mataku, kuakui tatapannya cukup tajam.

”Bagaimana keadaanmu hari ini??” ucap appa yang membuatku mengalihkan fokusku dari pria itu pada appa.

”Cukup baik.”

Appa berjalan mendekatiku, kemudian duduk di tepi ranjangku. Aku berusaha untuk bangun dan menyandarkan tubuhku dengan nyaman pada punggung ranjang. Pria tadi juga mengikuti appa dan berdiri di samping ranjang. Dia membungkukkan tubuhnya sedikit, memberi salam padaku dan aku hanya bisa membalasnya dengan senyuman kakuku. Jujur saja aku tidak suka jika ada pria asing masuk ke dalam kamarku.

”Ah Hyukie, Dia Jongwoon. Mulai hari ini dia akan menjadi bodyguard pribadimu.”

Sontak mataku langsung melebar mendengarnya. Bodyguard?? Astaga sungguh terdengar konyol di telingaku.

”Appa… A-aku..”

”Yah, appa tau kau tidak suka. Tapi, sesuatu yang terjadi padamu lima hari yang lalu bukanlah sesuatu yang bisa diabaikan begitu saja Hyukie. Kau tau, mereka semakin gencar mengejar nyawamu.”

Appa menatap mataku serius dan kubalas tatapannya. Aku mendengus pelan, meratapi nasibku. Aku tau Soo Man appa begitu peduli dengan nasibku dan eomma. Dia selalu berusaha membuatku tetap hidup di dunia ini. Tapi Aku sungguh lelah hidup seperti ini. Kenapa begitu banyak dendam yang berkeliaran di dalam hidupku. Tak  bisakah aku hidup damai seperti manusia lainnya.

”Sampai kapan aku hidup seperti ini?? Apa aku harus tetap hidup demi harta keluarga ini??” tanyaku retoris.

Soo Man oppa tersenyum tipis mendengar ucapanku, tapi sorot matanya menusuk tepat ke manik mataku.

”Annie. Kau hidup bukan demi harta. Tapi kau harus tetap hidup demi appa-mu. Jangan membuat kematian appamu menjadi sia-sia hanya karena kau menyesali nasib hidupmu. Lee Hyukjae yang kukenal bukanlah pria yang lemah.”

Aku tertunduk lemas mendengarnya. Aku benar-benar merasa seperti pria cengeng. Aku malu.. Sungguh malu pada soo Man appa. Soo Man appa tak memiliki hubungan darah sedikitpun pada appaku, tapi kenapa dia yang begitu peduli dengan appaku?? Dan aku?? Kenapa aku hanya bisa mengeluh??

”Mianhae, appa,” ucapku lirih.

Aku bisa merasakan remasan lembut di bahuku. Aku mengangkat kepalaku dan kudapati senyum khasnya tersungging di bibirnya.

”Istirahatlah, luka di perutmu belum pulih. Dan kau Jongwoon, temani kemanapun Hyukjae pergi, aku tidak mau hal buruk seperti kemarin terjadi lagi. Aku tidak mau kehilangan puteraku lagi.”

”Ne, sajangnim,” jawab pria itu sembari menunduk hormat.

Bibirku tersenyum begitu saja mendengarnya. Yah, aku beruntung memiliki dua orang appa yang begitu menyayangiku. Ne, aku tak akan membuat appa menyesal karena memiliki anak bernama Lee Hyuk jae, dan aku juga tak akan membuatmu kehilangan anak lagi, Soo Man appa.

”Anda bisa memanggilku kapan saja, Tuan Muda,” ucap pria berambut pirang itu.

Aku terkekeh pelan mendengarnya yang bicara begitu formal padaku.

”Panggil saja aku Hyukjae. Aku tidak suka mendengar sapaan ’tuan muda-mu’ itu,” candaku dan sukses membuat wajahnya yang serius itu terlihat lebih santai. ”Kurasa usiamu juga lebih tua dari diriku, jadi seharusnya aku yang memanggilmu dengan panggilan Hyung. Sekarang kau temanku, jadi lupakan profesimu sebagai bodyguard pribadiku.”

”Arasseo…” kulihat dia berpikir sejenak, terlihat lidahnya sedikit kaku. ”Hyukjae~ya.” akhirnya dia bisa juga menyebutkan namaku.

”Ya!! Bagaimana Gaeul??” tanya appa tiba-tiba.

Aku hanya tertawa kecil mendengar nada suara appa yang panik. Tentu saja, sejak kemarin aku belum menjelaskan dengan detail keadaan Gaeul.

”Tenang saja, dia pasti baik-baik saja saat ini dan aku yakin dia selalu bersemangat di sana.”

”Benarkah??” tanya appa memastikan dan kujawab dengan anggukkan kepalaku.

Tentu saja. Aku yakin dia akan selalu bersemangat di sana, paling tidak ada pria bernama Lee Donghae yang bisa membuatnya semangat untuk melancarkan ocehannya. ^^

Donghae?? Mengingat nama itu kenapa pikiranku malah melayang pada Hyeobin?? Apa aku sudah menjadi pria hidung belang?? Aisss babo, ingat ada tunanganmu di sana!!!

”Apa tidak sebaiknya, kita menjemput Gaeul kembali??”

Aku langsung mengangkat kepalaku dan menatap appa. Lagi-lagi rasa khawatirku muncul begitu saja.

”Aku rasa tidak. Gaeul tidak boleh berada di rumah ini lagi. Jangan sampai Siwon melihatnya lagi. Aku tidak mau Gaeul celaka lagi karena diriku, apa lagi jika sampai membahayakan nyawanya. Aku tidak sanggup menanggung rasa bersalah itu seumur hidupku appa,” tolakku tegas.

”Tapi setidaknya jika dia berada di rumah ini, kita bisa memastikan keselamatannya,” balas appa.

”Annieyo. Hanya itu tempat satu-satunya yang aman saat ini untuk dirinya. Gaeul tidak boleh pulang sebelum appanya kembali ke Seoul.”

”Baiklah. Appa yakin, kau lebih tau apa yang terbaik untuk tunanganmu,” ucap appa mengalah kemudian keluar dari kamarku.

Tunangan?? Tapi kenapa aku hanya merasa.. takut kehilangan adik kecilku??

*****

Hyeobin’s POV

“Ya!!!!”

BRUKKK….

“Akhhh!!!”

Astaga ada apa lagi??

Aku langsung melangkahkan kakiku, menaiki setiap anak tangga yang akan mengantarkanku ke lantai dua dari rumah kecil ini, tepatnya kamar Fishy oppa yang sudah tiga hari ini ditempati oleh Gaeul Onnie. Aku yakin keributan itu berasal dari sana.

”Dasar kau pria brengsek!!!!”

Mataku terbelalak ketika melihat Fishy oppa terduduk di lantai di depan kamar dan Gaeul onnie yang masih memakai baju handuk sedang gencar menghajar Fishy oppa dengan bantal terbangnya. Rambut panjangnya yang basah menutupi wajah mungilnya. Aku bergidik melihatnya.

”Ya!! Hentikan!!!” Teriak Fishy oppa, tapi Gaeul onnie tak menghiraukannya sama sekali.

Aigoo kupikir tiga hari tinggal bersama dalam satu rumah, akan membuat hubungan mereka membaik, tapi ternyata…. sama saja.

Astaga mereka seperti anak kecil saja, untuk apa mereka saling tarik-menarik bantal seperti itu

”Oppa!!! Onnie!!!” cegahku ketika melihat Fishy oppa berdiri dan mulai berusaha merebut bantal itu dari tangan Gaeul Onnie.

Seketika itu juga mereka menoleh ke arahku, tapi sedetik kemudian Fishy oppa  kembali mengerang ketika Gaeul Onnie menggigit lengannya. Fishy oppa menarik paksa bantal itu hingga terlepas dari tangan Gaeul onnie dan siap-siap membalasnya, melemparkan bantal itu ke wajah Gaeul onnie.

Aku langsung berlari mendekati mereka dan dengan susah payah kurebut bantal itu dari tangan Fishy oppa.

”Onnie, Oppa, waeyo??”

*****

Donghae’s POV

Dengan gontai kulangkahkan kakiku menuju kamar. Hari ini benar-benar melelahkan. Tubuhku terasa remuk karena pekerjaan-pekerjaan berat yang kulakukan hari ini, ditambah lagi Jung ahjumma memintaku membantunya di restoran. Pekerjaan sebagai kuli bangunan benar-benar menyiksa. Jika Park ahjusshi tidak mengimingiku dengan upah tiga kali lipat, mungkin aku akan menolak pekerjaan itu. Yah, tapi setidaknya uang yang kuhasilkan lebih banyak daripada hari-hari biasanya. Saat ini yang kuinginkan hanyalah ranjangku.

Kubuka pintu kamarku dan langsung saja kuhempaskan tubuhku di atas ranjang. Hah nyaman sekali. Kupejamkan mataku, mencoba merilekskan tubuhku.

Tiba-tiba… CKLEKKKK..

Aku langsung membuka mataku dan menoleh ke sumber suara itu. Sontak aku langsung merubah posisiku dari tidur menjadi duduk di atas ranjang. Mataku melebar ketika melihat seorang gadis berdiri di depan pintu kamar mandi yang ada di kamarku, apa lagi gadis itu hanya mengenakan baju handuk dan handuk yang terlihat seperti ice cream di atas kepalanya.

Astaga aku lupa kalau kamar ini.. Aisss jincha..

”Ya!!! Kenapa kau ada di sini???” hardiknya.

Gadis itu mencengkeram baju handuknya dengan erat, seolah-olah sedang melindungi tubuhnya.

Pasti dia berpikir yang tidak-tidak.

”Dasar kau pria brengsek!!!!”

Mwo???

Gadis gila itu menghentak-hentakkan kakinya kasar sembari mendekatiku. Mata besarnya seakan keluar ketika menatapku garang seperti itu. Aisss kenapa aku hanya diam saja?? Lidahku kaku sekali..

Tiba-tiba saja dia mencengkeram bajuku sembari menarik tubuhku kasar ke depan pintu kamar. Dia juga sempat menyambar bantal yang ada di atas ranjang. Aku menepis tangannya tapi gadis ini lagi-lagi menarik lenganku kasar dan..

Brukkk..

”Akhhhh” jeritku tertahan.

Gadis itu mendorongku dan sialnya aku tersandung kaki kananku sendiri, yang membuatku menghantam lantai.

Plakkk…

Rasa sakit di lututku belum hilang, tapi gadis gila ini kembali menghajarku, bukan, tepatnya menghujaniku dengan lemparan bantalnya. Dia terus melayangkan bantal itu ke seluruh tubuhku yang bisa dia jangkau. Gadis ini benar-benar menyebalkan!!!

”Ya!! Hentikan!!!” teriakku tapi dia tidak mempedulikannya sama sekali.

Aku berusaha menghindar dan akhirnya aku bisa berdiri. Aku berusaha merebut bantal itu dari tangannya. Tapi teriakan seseorang mengalihkan perhatianku.

”Oppa!!! Onnie!!!”

Aku menoleh ke arah suara itu dan kudapati Hyeobin memandangku dan gadis gila ini dengan tatapan takutnya.

”Akhhhh” lagi-lagi aku menjerit ketika kurasakan rasa sakit di lenganku. Aisss gadis ini benar-benar mengobrak-abrik emosiku. Kudorong kepalanya dari lenganku, kemudian kutarik paksa bantal itu hingga terlepas dari genggamannya dan berhasil. Kuangkat bantal itu dan siap melemparkannya ke wajah gadis berisik ini. Tapi lagi-lagi Hyeobin menghambur ke arahku dan dalam waktu singkat dia berhasil merebut bantal itu dari tanganku dengan sekali sentakan.

”Onnie, Oppa, waeyo??” tanyanya dengan napas yang sedikit tersengal.

”Dia Mesum!!!” teriak gadis itu sedikit histeris.

”Dia Gila!!!” balasku. Mesum?? Aisss aku tak terima!!!

Dia melotot ke arahku. Kubalas tatapannya dengan tatapan garangku. Jangan pernah berpikir bisa mengintimidasiku dengan tatapan sangar gadis manja seperti itu. Aku tak akan takut.

”Jujur saja, kau pasti sengaja menyelinap ke dalam kamarku. Kau ingin mengintipku sedang mandi ’kan??” ocehnya lagi.

”M-mwo??” ucap Hyeobin pelan.

”Kau jangan bicara sembarangan yeoja gila!!!” balasku. ”Mengintip??” aku terkekeh pelan, tepatnya tertawa mengejek ketika mengucapkan kata itu. ”Itu hanya akan mengotori mataku saja. Sekalipun kau tak memakai baju sehelai pun, aku tetap tidak akan tergoda dengan gadis seperti dirimu.”

”Mwo?? Kau tidak usah mengelak lagi, Kau memang mesum!!! Kau lupa siapa yang sudah berani mencuri ciumanku??” teriaknya marah tapi sedetik kemudian, dia langsung menutup mulutnya, sepertinya dia sudah kelepasan bicara.

Ciuman?? Jadi dia masih mempermasalahkan ciuman itu.

”Kau pikir aku rela mengotori bibirku waktu itu?? Hanya laki-laki bodoh seperti tunanganmu itu yang akan tertarik pada dirimu,” lanjutku lagi.

”Yak!!!” geramnya. ”Kau pikir, kau namja sempurna?? Cih~ sungguh malang yeoja yang akan menjadi istrimu nanti,” cibirnya.

Ingin sekali rasanya mencekik gadis ini.

”Ya, ternyata kalian di sini??” ucap seseorang.

Tiba-tiba saja teman-temanku sudah berdiri di sampingku.

“Wah Gaeul~ah, ternyata kau terlihat lebih cantik ketika rambutmu basah.”

Kau benar-benar ingin mati, Hyung.

Aku melirik ke arah gadis itu dan benar saja dia menggembungkan pipinya. Seketika itu juga dia merebut bantal yang dipeluk Hyeobin dan…

Plakkk..

Dalam sekejap bantal itu mendarat dengan mulus di wajah Kangin hyung. Gadis gila itu sempat memeletkan lidahnya padaku sebelum dia membanting pintu kamar dengan keras. Aisss…

Kukepal tanganku, berusaha menahan emosiku karena gadis ini. Seumur hidup aku belum pernah menemukan wanita segila ini yang sukses membuatku terbawa emosi. Jika saja dia seorang pria, tanpa berpikir dua kali aku akan langsung membuatnya menyesal di lahirkan di dunia ini.

*****

”Mana Kyunie??” tanyaku pada teman-temanku ketika sampai di kedai minuman yang tak jauh dari rumahku. Gadis gila itu membuatku tak betah tinggal di rumah. Setiap waktu ada saja yang membuat emosiku terpancing karena ulahnya. Jadi kuputuskan mengajak teman-temanku untuk ke kedai ini.

”Ah-Ra berhasil membohonginya,” jawab Sungmin Hyung sembari terkekeh pelan.

”Maksudmu??”

”Ah-Ra mengatakan appa mereka sedang sakit, jadi tadi Kyuhyun kembali ke rumahnya tapi ternyata appa mereka baik-baik saja. Ayah setan itu tak akan membiarkan setan kecilnya kabur lagi,” sambung Heechul Hyung.

”Jadi, sekarang dia sudah pulang??”

”Ne, biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka. Lagi pula bocah setan itu bodoh sekali, untuk apa dia kabur dari kehidupan pangerannya hanya karena masalah sepeleh itu,” ucap Kangin Hyung, tapi tiba-tiba dia beralih menatap mataku dengan serius. Membuatku merasa sedikit aneh di tatap seperti itu.

”Fishy~a, kalian masih baik-baik saja ’kan?? Siwon belum menemukan Gaeul di rumahmu??”

Siwon?? Aku sadar sekarang aku sudah terlibat terlalu jauh dalam masalah ini. Pria manja itu tanpa sengaja menarikku ke dalam dendam keluarganya.

Aku menggelengkan kepalaku ringan.

“Kupastikan Siwon tak akan bisa menyakitiku, terutama Hyeobin. Jika dia berani menyentuhnya…..” kutatap mata Kangin hyung dengan tajam. ”Kuledakkan kepalanya,” lanjutku dengan nada datar.

*****

Gaeul’s POV

“Onnie, makan malamnya sudah siap!!!” teriak Hyeobin.

Aku menghembuskan napas perlahan kemudian menarik kenop pintu kamar hingga terbuka. Sejak kejadian kemarin malam, aku belum bertemu lagi dengan pria menyebalkan itu. Tadi pagi, saat aku bangun, Hyeobin dan dia sudah pergi keluar rumah. Dan sekarang aku harus makan malam di meja yang sama dengan dirinya. Menyebalkan!!!

Kuturuni setiap anak tangga hingga akhirnya langkahku terhenti tepat di meja makan. Kulihat pria itu sudah duduk di kursinya dan berpura-pura tak peduli dengan kehadiranku di ruang makan ini. Cih~ masih merasa tidak bersalah??

Kutarik kursi makan sembari memanyunkan bibirku. Suasana hatiku semakin buruk ketika melihat makanan yang terhidang di atas meja. Kupandangi makanan itu satu per satu dan sukses membuat selera makanku menghilang. Lima hari aku berada di sini, dan tiga hari berturut-turut mereka terus saja menghidangkan ikan dan kimchi atau sayuran lainnya. Astaga aku benar-benar bisa mati kelaparan jika terus tinggal di sini. Hyuk oppa juga tidak pernah mengunjungiku. Tega sekali. Dia hanya mengirimkan supir beberapa hari yang lalu untuk mengirimkan pakaianku. Aigooo~ aku ingin masakan buatan Lee eomma.

Aku mendengus pelan, menahan kekesalan hatiku. Perutku lapar, tapi aku tidak suka makanan ini.

”Onnie, kenapa tidak makan??”

Aku mendongakan kepalaku dan memandang Hyeobin yang memandangku dengan heran. Pria menyebalkan itu, bahkan tak peduli sama sekali dan tetap menikmati makanannya.

”Onnie tidak suka??” tembaknya langsung ketika tak ada jawaban yang keluar dari mulutku.

Aku menggigit bibir bawahku dan menganggukkan kepalaku pelan.

”Se-sebenarnya aku tidak suka ikan ataupun sayur,” ucapku tak enak. Aku tau ini tidak sopan. Aku hanya seorang tamu di sini, seharusnya aku menerima apa saja yang dihidangkan oleh tuan rumah, tapi perutku benar-benar tidak bisa menerimanya.

”Astaga, kenapa onnie tidak mengatakannya. Onnie ingin makan apa?? Akan kumasakkan.”

Senyumku langsung melebar ketika mendengarnya. Akhhh Hyeobin~a, kau memang baik, tidak seperti oppa-mu yang gila itu.

”Jajang…”

”Nikmati apa yang sudah ada,” sahut seseorang.

Seketika itu juga bibirku kembali mengerucut. Kutolehkan kepalaku ke arahnya dan menatapnya kesal. Tapi dia tetap saja tak menghiraukanku dan terus memandang piringnya. Aissss……..

”Tapi oppa, Gaeul onnie ti…”

”Rumah kita bukan restoran mewah ataupun Hotel berbintang lima,” sambarnya langsung. Nada bicaranya sungguh membuat telingaku panas.

”Ya!!! Apa maksudmu??” hardikku.

Dia meletakkan sumpitnya di samping mangkuk nasinya kemudian menatapku.

”Kau ingin makan apa?? Steak?? Spaghetti?? Atau makanan mewah apa lagi??” cibirnya. ”Kami bukan orang kaya yang bisa menyediakan apa pun yang kau inginkan. Di sini juga tidak ada pembantu yang akan melakukan semua perintahmu!!”

”Aku tidak pernah memaksa siapa pun untuk memasakkan makanan untuk diriku. Kau dengarkan, Hyeobin yang menawariku..!!” balasku tak mau kalah.

”Hyeobin bukan koki pribadimu. Kau di sini hanya tamu. Seharusnya kau beruntung bisa tinggal dengan gratis di rumah ini.”

”Mwo??” Mataku melebar mendengar ucapannya. Gratis?? Bahkan aku bisa membeli rumah ini jika aku mau.

Aku langsung berdiri, hingga membuat kursiku terdorong dengan kasar dan menimbulkan suara decitan yang memekakkan telinga. Kutatap dengan garang matanya.

”Kau tenang saja, aku akan membayar semua biaya hidupku selama tinggal di sini, bahkan lima kali lipat lebih mahal.”

”Jincha?? Dengan apa?? Uang appa-mu yang kaya itu??” lagi-lagi dia mencibirku. ”Apa yang bisa dilakukan gadis manja seperti dirimu selain menghambur-hamburkan harta keluargamu dan memerintah orang lain untuk menuruti keinginanmu??”

”JANGAN MEREMEHKANKU!!!”

Hatiku sakit sekali mendengarnya. Kenapa dia selalu saja meremehkan diriku?? Mataku mulai memanas. Kukepalkan jari-jemariku, berusaha menahan air mataku.

”Aigooo~ kenapa kalian jadi bertengkar seperti ini?? Onnie, oppa, jebal jangan membuat suasana menjadi tegang seperti ini.”

Aku tidak mempedulikan suara Hyeobin yang sedikit terisak dan terus menatap tajam pria brengsek itu.

”Buktikan padaku apa yang bisa dilakukan gadis manja seperti dirimu??” tantangnya.

Air mataku menetes begitu saja. Aku benci sekali diperlakukan seperti ini

”Kau.. KAU MENYEBALKAN!!! Katakan saja terus terang jika kau ingin mengusirku. Baiklah, aku juga tidak ingin tinggal di sini lagi!!!”

Kuhapus air mataku dengan kasar kemudian berlari menuju pintu rumah. Tak kupedulikan teriakan Hyeobin yang terus memanggil namaku. Aku tidak mau melihat wajah pria menyebalkan itu lagi.

*****

Aku terus mengayunkan ayunan yang kududuki dengan pelan. Air mataku terus saja mengalir. Udara malam yang sangat dingin dan suasana taman yang sangat sepi sukses membuat diriku bergidik ngeri. Tapi aku kesal sekali pada pria gila itu, aku tidak mau lagi pulang ke rumah mereka.

“Onnie,” panggil seseorang.

Aku menoleh ke arah sumber suara itu dan kudapati seorang gadis berdiri tak jauh dari tempatku. Gadis itu berjalan mendekatiku dan kemudian duduk di ayunan yang ada di sampingku.

“Di sini dingin sekali, lebih baik kita pulang saja.”

“Shireo!!” jawabku cepat.

“Onnie,” panggilnya lagi. “Maafkan Fishy oppa. Oppa tak bermaksud mengusirmu.”

Aku menolehkan kepalaku ke arahnya dan memandang wajahnya dengan tatapan tak percaya.

“Ya, jika dia bersikap seperti itu padamu, apa kau akan memaafkannya??” balasku.

Yang benar saja, bagaimana mungkin aku begitu mudah memaafkan pria gila yang berani meremehkanku.

“Tentu saja,” jawabnya enteng. Lagi-lagi aku menatapnya tak percaya. Aku tak tau, sebenarnya hati gadis ini terbuat dari apa??

”Mwo?? Astaga Hyeobin~a aku sungguh heran pada dirimu. Bagaimana mungkin kau bisa betah hidup bersama pria kasar, brengsek dan menyebalkan seperti itu.”

Hyeobin terkekeh pelan mendengar ocehanku tapi sedetik kemudian dia kembali menatapku dengan serius.

”Oppaku tidak seburuk itu, Onnie. Dia malaikatku,” jawabnya yang sukses membuat mataku terbelalak.

Malaikat?? Kurasa gadis ini juga sudah gila.

”Onnie, kau tau siapa aku sebenarnya??”

Aku mengerutkan dahiku, menatapnya bingung. Pertanyaan apa itu??

”Tentu saja. Kau, Hyeobin. Lee Hyeobin. Adik Lee Donghae bodoh itu.”

”Annie. Namaku Kang Hyeobin.”

Aku terpaku mendengar ucapannya. Aku tidak mengerti, sebenarnya gadis ini ingin mengatakan apa??

”Ne, namaku Kang Hyeobin, onnie.”

”Aisss aku benar-benar seperti orang bodoh mendengar ucapanmu. Sebenarnya kau.. aku.. bagaimana mungkin kau bermarga Kang sedangkan pria gila itu bermarga Lee???” ucapku sedikit frustasi.

Hyeobin tersenyum padaku, tapi aku juga bisa melihat sorot matanya yang, ntahlah, tapi ini bukan tatapan mata Hyeobin yang biasa kulihat. Tersirat rasa sedih dan rindu dari tatapannya.

”Tujuh tahun yang lalu aku kehilangan orang tuaku. Saat itu pabrik milik keluargaku terbakar dan sialnya appa juga sedang berada di dalam pabrik itu.”

”Maksudmu…”

”Ne, appaku menjadi salah satu korban dari kebakaran itu. Disaat bersamaan aku juga kehilangan eomma yang terserang jantung karena tidak sanggup mendengar berita menakutkan itu. Aku kehilangan semuanya onnie.”

Hyeobin mengalihkan pandangannya dari wajahku dan kemudian memandang langit yang bertaburan bintang. Aku juga bisa melihat Cairan bening mulai menetes di pipinya, meskipun senyum itu tetap saja tersungging di bibirnya.

”Saat aku kehilangan semuanya, hanya Fishy oppa yang mengulurkan tangannya dan membuatku kembali berdiri. Menghapus setiap tetesan air mata yang ada di pipiku. Menghabiskan sebagian besar waktunya dengan bekerja hanya untuk membuatku bisa merasakan hidup dengan layak. Dimana lagi aku bisa menemukan manusia sebaik itu selain Fishy oppa-ku??”

Aku hanya tertunduk mendengar ucapannya. Benarkah aku salah menilai seseorang??

”Aigooo~ kenapa aku malah menangis. Jika oppa melihatnya, pasti dia akan langsung memarahiku.”

”Hyeobin~a,” panggilku. ”Aku.. aku tidak tau hidupmu…”

”Menyedihkan??” potongnya dan aku hanya menganggukkan kepalaku pelan. ”Annieyo, justru aku merasa ini adalah cara tuhan memberikanku jalan agar bertemu dengannya.”

Tiba-tiba saja hyeobin menarik tanganku yang sontak membuatku mendongakkan kepala menatapnya.

”Onnie, pulanglah, jebal. Tidak baik untuk dirimu berada di sini, hyukjae oppa pasti sangat mengkhawatirkanmu, jika tidak melihatmu di rumah kami. Kumohon lupakan ucapan Fishy oppa. Oppa-ku tidak sejahat itu.”

*****

Donghae’s POV

Aku merebahkan tubuhku di sofa keras yang sudah kugunakan sebagai tempat tidur selama beberapa hari ini. Semua ini karena yeoja berisik itu.

Kulirik pintu rumahku, tetap saja tak ada tanda-tanda pintu itu akan terbuka. Aisss sudah semalam ini kenapa mereka belum pulang juga?? Gadis manja itu sungguh menyusahkan. Lagi pula untuk apa Hyeobin mengejarnya?? Dan parahnya Hyeobin sempat memarahiku sebelum dia mengejar yeoja gila itu. Memangnya salah apa yang kukatakan pada gadis itu?? Kurasa tidak. Gadis manja memang sangat menyebalkan.

Kupejamkan mataku, mencoba menyingkirkan pikiran-pikiran yang sejujurnya tak ingin kupikirkan. Aku tidak peduli wanita itu akan kembali atau tidak.

”Ya!! Aku tidak akan tinggal gratis di rumahmu!!!” teriak seseorang yang berhasil membuat mataku terbuka.

Aku mengedarkan mataku ke sumber suara itu dan kudapati gadis gila itu berdiri di belakang punggung Hyeobin sembari memelototkan matanya padaku.

Aku merubah posisi tidurku menjadi duduk, dan membalas tatapannya.

”Baguslah jika begitu, tapi sudah kukatakan aku tidak mau menerima uang ayahmu!!” balasku.

”Arasseo, aku akan membayarnya dengan caraku sendiri!!” tantangnya kemudian langsung berlari menuju kamar.

Caranya sendiri?? Baiklah, aku penasaran apa yang bisa dilakukan yeoja manja itu.

”Berhentilah bersikap menjengkelkan seperti itu, oppa,” desis Hyeobin kemudian berlalu dari hadapanku menuju kamarnya.

”Menjengkelkan?? Apa kau tidak salah bicara??” teriakku tapi Hyeobin terus berjalan menuju kamarnya tanpa mengindahkan protesku. ”YEOJA GILA ITU YANG MENJENGKELKAN!!!”

”KAU YANG GILA!!!!” sahut seseorang dari atas sana.

Aisssss yeoja gila itu…

*****

Siwon’s POV

”Kudengar kau gagal lagi menghabisi Hyukjae,” ucap appa ketika aku dan asistenku menginjakkan kaki di ruangannya.

Aku tak mempedulikan pertanyaannya dan terus berjalan mendekati kursi yang ada di depan meja kerjanya.

”Apa begitu sulit untuk menghabisi Hyukjae??” sindirnya.

Aku mengangkat kepalaku dan menatapnya dengan malas. ”Hyukjae akan mati di tanganku,” ucapku datar.

”Benarkah?? Aku sudah tidak sabar melihat bukti dari ucapanmu,” lanjutnya.

Kuabaikan ucapannya dan tanpa sengaja mataku tertuju pada majalah bisnis yang ada di atas meja kerjanya. Kuambilkan majalah itu dan kubolak-balik tanpa membacanya sedikitpun. Tapi tiba-tiba tanganku terhenti pada halaman terakhir majalah ini yang menuliskan profil salah seorang pengusaha sukses di korea maupun Amerika, serta profil keluarganya.

”Cho Junho.”

”Cho Junho??” ulang appa. ”Hahaha Kau tau siapa dia??”

Aku tak menjawab pertanyaannya dan terus memandang wajahnya, menunggu jawaban yang keluar dari mulutnya.

”Cho Junho adalah sahabat dua orang bodoh itu, Lee Jung Woo dan Lee Soo Man. Beberapa tahun ini dia menetap di Amerika bersama keluarganya dan memfokuskan bisnisnya yang ada di Amerika. Tapi menurut kabar itu dia akan segera kembali ke Korea.”

Aku kembali mengalihkan pandanganku ke majalah tersebut. Membaca setiap kalimat yang tertulis di dalamnya.

”Tuan muda, bukankah gadis ini…??”

Aku langsung memperhatikan foto yang ditunjuk oleh asistenku pada majalah itu. Di samping foto Cho Junho, juga terpajang sebuah foto seorang gadis. Wajah yang tak asing di mataku.

”Cho Gaeul??” Kubaca nama yang tertulis di majalah itu. Nama ini…

“Gaeul-a, lari!!!!” Pikiranku melayang pada malam itu. Aku yakin, aku tidak salah dengar. Aku mendengar dengan jelas ketika Hyukjae meneriaki namanya.

Kutatap asistenku dan saat itu juga bibirku mengembang sempurna.

”Tuan muda, bukankah gadis ini adalah tunangan Hyukjae??”

”Benarkah??” ucap appa antusias.

Kau lihat Hyukjae?? Begitu banyak cara yang kutemukan untuk menghabisimu. Apa pun yang menjadi milikmu, kupastikan akan jatuh ke tanganku.

*****

Donghae’s POV

”BRUKKK”

Akhhhh…

Erangku ketika punggungku sukses mendarat di lantai. Basah?? Astaga apa yang sudah dilakukan yeoja gila itu terhadap rumahku?? Apa ini salah satu caranya untuk balas dendam??

”YA!!!!!!!!!!!!” teriakku sembari berusaha berdiri.

Kulihat gadis itu keluar dari dapur sembari membawa alat pel di tangannya.

”Kau sudah pulang?? Ini kan masih sore, kenapa kau sudah pulang??” ucapnya tanpa berdosa. Astaga aku bisa gila jika terus menghadapi yeoja gila ini.

”Apa yang sedang kau lakukan??” hardikku. ”untuk apa kau membasahi seluruh lantai rumah??”

”Bukankah kau ingin aku membayar seluruh biaya hidupku selama tinggal di sini dan kau juga tak mau menerima uangku ’kan?? Jadi aku akan membayarnya dengan tenagaku.”

Aku terperangah mendengarnya. Tenaga?? Sudah kubilang tak ada yang bisa dilakukan oleh gadis ini selain memancing emosi orang lain. Ingin sekali aku mencekiknya.

Tiba-tiba saja dia mengangkat ember yang berada tak jauh darinya dan bersiap-siap menumpahkan air yang ada di dalam ember itu ke lantai.

Sontak aku langsung berjalan mendekatinya dan berusaha merebut ember itu dari tangannya. Tapi gadis ini sangat keras kepala dan tak mau menyerahkan ember itu padaku.

”Ya!! Menyingkirlah, aku akan membersihkan rumahmu!!!”

”Kau hanya mengotorinya, bodoh!!” balasku sembari terus merebut ember itu dari tangannya. ”Berikan ember itu padaku!!!”

”ANDWAE!!! Aku tidak mau tinggal gratis di rumahmu!!!!” balasnya sembari terus menjauhkan ember itu dari jangkauanku.

”YA!!!!” gertakku dan saat itu juga tubuhnya kehilangan keseimbangan yang membuatnya menubruk tubuhku. Dan…

BRUKKKK
BYURRR..

Punggungku kembali menghantam lantai dan saat bersamaan air itu juga mengguyur basah tubuhku dan.. dia.

*****

Gaeul’s POV

BRUKKK

BYURRR

Kupejamkan mataku, mencoba menghalau rasa sakit ketika tubuhku menghantam lantai nantinya, dan aku bisa merasakan air itu sukses membasahi seluruh tubuhku. Chakkaman, tapi aku tidak merasa tubuhku mengahantam lantai.

Kubuka mataku perlahan dan DEG… seketika itu juga mataku melebar ketika mengetahui tubuhku berada di atas tubuhnya, apa lagi wajahnya berada tepat di depan wajahku. Di saat itu juga dia membuka matanya dan membuat mata kami bertemu pandang. Kenapa wajahku terasa panas??

”Babo!!!  Sudah kukatakan berikan ember itu padaku!!” geramnya yang sukses membuyarkan lamunanku.

”Sudah kubilang aku akan membersihkan rumahmu, aku tidak akan tinggal gratis di sini!!”

”Kau hanya mengotori rumahku bodoh!!!”

”Ya, berhentilah mengataiku bodoh!!”

”Neo…”

”Oppa, Onnie, ” panggil seseorang yang sukses membuat kami menoleh.

Aku tersentak ketika melihat Hyeobin dan Hyuk oppa berdiri terpaku di depan pintu rumah.

Aku kembali mengalihkan tatapanku pada pria ini dan aku baru sadar posisiku yang masih berada di atas tubuhnya saat ini sangat tidak pantas untuk di lihat… Astaga… Hyuk oppa??? AKHHHHHHHHHHHHHH!!!!!!!!!!!!!!!

To be continue…

Bosan?? Sama… saiia jg stress bikinnya.. mngkn d part ini tertlalu banyk part HaeGa-nya dibandingkan Hyuk atau Hyeobin-nya, jadi mian kl ceritanya jd ngaco + garing gini. Otak saiia bener2 lg buntu.

 

By : dongHAEGAeul

Tags : Donghae, Eunhyuk, Super Junior.

 

3 thoughts on “[Freelance] Fight, Love, and Revenge part 5

  1. seru kok part ini lucu, hae jd naik darah mulu gara2 gaeul bisa2 hae kena darah tinggi dah marah2. . . .
    Ternyata hae ma hyeobin bukan adik kandung, makin seru. . . . .

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s