[Freelance] When The Rain Falls

Author                        : Han RanRan

Rating             : All ages

Back Sound     : Onew-The Name I love

Cast                 : Lee Hyukjae (eunhyuk)

Genre              : Romance,Sad           

Disclaim          : This FF 100% belong to me. DON”T BE A PLAGIATOR

Type                : One Shot

 

Annyeong,chingudeul :D

Ini fanfic pertama saya. Jeongmal mianhe kalo ada kesalahan kata dalam penulisan FF ini. Selamat membaca ya :D. Oh iya waktu mbaca ni FF sambil dengerin lagunya Onew-The Name I Love ,biar kerasa feelnya. hehe

DON’T BE A SILENT READER AND DON’T FORGET TO COMMENT !

Gomawo J *bow

Naega saranghaetdeon geu ireum

Bulleoboryeo nagalsurok neomu meoreojyeotdeon

Geu ireum ijen

Jeogeonoko na ulmeogyeo

Nae ane sumgo sipeojyeo

Neol saranghal subakke eobseotdeon

Geu nareul ijen arajwoyo

Irul su eomneun sarangdo saranginikka

-Han Ahra POV-

“Aish! Kenapa sih hari ini harus hujan? Uh!” gerutu Mi Rin di sebelahku sambil membetulkan letak kaca matanya.

“Engga apa-apa kali,malah bagus kalo hujan,” jawabku sambil terus menatap keluar memandangi hujan.

“Iya bagus,tapi buat kamu bukan buat aku . Aku engga suka hujan. Beda sama kamu yang tiap hujan pasti dinikmatin,” balas  Mi Rin sambil meminum coklat hangatnya.

“Habisnya hujan itu indah,sayang kalau dilewatin gitu aja” jawabku sambil tersenyum tanpa mengalihkan pandanganku dari hujan.

“Jujur deh Ra,selama aku kenal sama orang ,ga ada yang suka banget sama hujan kecuali kamu dan … ,” jawab Mi Rin seraya memperhatikan raut wajahku .

“Huh,Aku tau Rin, ga ada yang suka banget sama hujan kecuali aku dan dia,” desahku sambil menerawang jauh.

“Mian Ra,aku engga bermaksud ngingetin kamu dan bikin kamu sedih. Jeongmal mianhe” terlihat nada penyesalan pada ucapannya.

“Ne. Gwenchana.Mi Rin-ah,” balasku sambil tersenyum getir.

“Jinja?” tanya Mi Rin khawatir.

“Ne. liat aku ga kenapa-napa Mi Rin sayang.” jawabku.

“Arraso Ahra-ya,kukira kau akan marah padaku.hehe,” balas Mi Rin sambil tersenyum ke arahku.

Kamu salah Mi Rin ucapanmu tadi semakin mengigatkanku padanya. Pandanganku kembali menerawang jauh. Melihat hujan kali ini kembali mengingatkanku pada  memori 10 tahun yang lalu. Awal mula aku berkenalan dengan pria yang membuatku menyukai hujan. Ya,Lee Hyukjae.

-Flashback-

10 tahun yang lalu,

JGLER bunyi putir terdengar dari luar kelas.  Kilatan Petir juga terlihat jelas dimataku. Keadaan SD juga mulai sepi. Aku benci situasi ini. Aku takut akan petir. Rasa takut mulai menyerangku.

“Huh kenapa sih harus pulang lebih awal. Kalo kayak gini kan aku engga bisa pulang. Mesti nunggu Park Ahjussi njemput,” ujarku kesal.

“Kenapa mesti hujan juga,aduh petirnya juga keliatan jelas lagi,” air mata mulai membasahi pipiku. Tiba-tiba seorang bocah laki-laki menawarkan saputangannya padaku.

“Waeyo aghssi? Udah dong jangan nangis. Nih hapus air matamu. Jangan nangis lagi ya bikin wajah cantikmu kelihatan jelek. ” kata bocah laki-laki itu disampingku.

“Emh iya deh aku ga nangis lagi. Aku tadi nangis gara-gara takut.” jawabku terisak.

“Takut kenapa?” tanya bocah itu lagi.

“Itu,”jawabku seraya menunjuk sesuatu.

“Maksud kamu petir?”. Aku mengangguk.

“Engga apa-apa kali tenang aja. Kalo kamu takut petir kamu lihat hujan aja.” jawabnya sambil memandang keluar.

“Kenapa mesti liat hujan? Emang hujan kenapa? Apa bagusnya hujan?” tanyaku sambil melihat ke arahnya.

“Hujan itu indah,” ujarnya pendek sambil melihatku.

“Kok bisa kamu bisa bilang gitu?” tanyaku polos.

“Kamu tau ga,sebenernya ada cerita mengenai hujan. Jadi, setiap hujan turun orang-orang yang ada di atas sana turun ke bumi untuk melihat orang yang mereka sayangi,” ujar bocah itu.

“Apa yang kamu maksud dengan orang-orang dia atas sana?” tanyaku ke arahnya.

“Maksudku orang-orang yang udah ga bisa kembali lagi ke bumi.”

“Jinja? Berarti saat hujan turun adalah waktu paling indah ya,” ujarku

“Ne,kau benar,” balasnya sambil tersenyum.

“Gomawo telah menghiburku,Oh ya perkenalkan Han Ahra imnida. Kau bisa memanggilku Ahra. Hehe.”

“Lee Hyukjae imnida,kau bisa memanggilku Eunhyuk,Monkey atau terserah kau sajalah mau menggilku apa,” jawabnya sambil memamerkan gummy smile-nya.

Dan mulai saat itu aku menyukai hujan dengan alasan yang dijelaskan oleh bocah laki-laki itu. Eunhyuk.

Sejak itu aku mulai mengenal Eunhyuk,begitu aku memanggilnya. Pertemuan ketika hujan menjadi awal pertemanan kita.  Eunhyuk ternyata seumuran denganku. Rambutnya ikal dan hitam. Aku sangat suka melihat cara Eunhyuk tersenyum. Melihatnya memamerkan gummy smile-nya. Melihat dia tersenyum membuat orang-orang di sekitarnya tersenyum juga.

Rumahku dan Eunhyuk berseberangan. Dia ternyata tetangga baru yang diceritakan oleh eomma. Eunhyuk tinggal bersama paman dan bibinya. Orang tua Eunhyuk sudah meninggal ketika Eunhyuk berumur 6 tahun.

Eunhyuk sangat pintar membuatku tertawa. Dia dapat membuatku tersenyum kembali ketika aku bertengkar dengan eomma,appa maupun nae dongsaeng. Aku masih ingat ketika suatu siang Eunhyuk bertanya padaku,

“Ahra-ya,sebentar lagi kita mau masuk SMP,kamu mau masuk SMP mana?”.

“Pengennya sih masuk SJHS (Seoul Junior High School),” jawabku sambil memakan bekal makananku.

“Kalo kamu pengin masuk SMP mana Nyet?” tanyaku lagi.

“Aku juga pengin masuk SJHS,” jawab Eunhyuk

“Ih,ikut-ikutan deh!” balasku sambil pura-pura kesal.

“Emang Ahra-ya,aku pengin barengan terus sama kamu. Hehehe,” ujar Eunhyuk sambil tertawa.

Tapi entah kenapa ucapannya tadi membuatku cukup lama terdiam. Dan membuat mukaku merah mendengarnya. Saat itu aku sadar kalau aku mulai menyikainya. Tidak,bahkan menyayanginya.

Ternyata ucapan Eunhyuk benar sampai SMA dia satu sekolah denganku. Banyak yang berubah dari Eunhyuk ketika dia SMA. Tubuhnya yang semakin tinggi,suaranya yang semakin berat,dan sekarang dia tidak lagi memakai sepeda untuk mengantarku ke sekolah. Hanya satu yang tidak berubah pada Eunhyuk dia masih tetap menyukai hujan. Pernah suatu saat aku bertanya pada Eunhyuk mengapa dia sangat menyukai hujan dan dia hanya menjawab “Suatu saat kamu pasti tahu Ahra-ya alasan mengapa aku menyukai hujan sampai sekarang,” katanya sambil tersenyum kepadaku.

Senyum Eunhyuk masih saja sama. Membuat semua orang menyukainya. Termasuk aku. Sampai saat ini aku masih menyukainya. Rasa itu tidak hilang. Pernah aku merasa rasa sukaku terhadap Eunhyuk hanya rasa suka biasa. Hanya cinta monyet sesaat yang mudah hilang. Tetapi aku salah aku benar-benar menyukainya. Aku tidak peduli, Eunhyuk akan membalas rasa sukaku padanya atau tidak. Aku tidak peduli dia hanya menganggapku sebagai teman ataupun sahabatnya. Begini saja sudah cukup bagiku. Ya sudah cukup.

“Ahra-ya,sebentar lagi tanggal 2 April kan? Berarti ada yang mau ulang tahun dong? Sweet seventeen gitu,wah makan-makan dong,” ujar Eunhyuk sambil mengacak-acak rambutku.

“Ih makan-makan? Kasih Kado dulu baru makan,” balasku sambil memukul lengannya.

“Emang kamu mau kado apa Ahra-ya? Gimana kalo kadonya aku aja Ahra-ya. Hehehe,” goda Eunhyuk sambil tersenyum padaku.

“Shirro,kayak ga ada yang lain aja,” ujarku sambil memalingkan wajahku yang mulai memerah.

“Haha,bercanda Ahra-ya. Tapi tunggu aja deh pasti aku kasih kado spesial besok,” kata Eunhyuk sambil mengacak-acak rambutku lagi.

“Terserah deh Nyuk,” jawabku tanpa dapat menyembunyikan senyumanku.

Aku masih ingat ketika siang itu tanggal 5 April 2007 Eunhyuk memintaku untuk menemuinya di taman kompleks. Katanya dia akan memberikan kado spesial untukku dan mengatakan sesuatu padaku. Tapi,sudah 2 jam aku menunggu disini dan tidak ada tanda-tanda kemunculan Eunhyuk. Aku sudah berniat untuk pergi ke rumah Eunhyuk dan memarahinya karena telah berani membuatku menunggu selama 2 jam. Tetapi ketika aku  beranjak dari bangku taman, aku mendengar suara adikku memanggilku. Ketika aku menoleh ke belakang aku melihat adikku datang dengan raut muka yang sedih.

“Eonnie,masih nungguin Eunhyuk Oppa?” tanya dongsaengku parau.

“Ne Sora-ya,tapi Eunhyuk lama banget nih engga muncul-muncul. Awas aja kalau ntar ketemu bakal aku marahi dia,” ujarku kesal.

“Eonnie,Eunhyuk oppa engga bakal muncul.” tiba-tiba dongsaengku memelukku sambil menangis.

“Mwo, Wae Sora-ya?”tanyaku tidak mengerti.

“Eonnie,eunhyuk oppa sudah tidak ada disini lagi.”

“…..”

“Oppa sudah menyusul eomma dan oppanya eonnie,”

“MWO? Yak Han Sora! Jangan bercanda! Aku tau kau pasti ingin mengerjaiku kan? Hahaha. Aku tidak akan tertipu olehmu adikku , “

“Eonnie…aku tidak becanda,” kata Sora sambil memelukku

“…..”

Aku harap kabar dari Sora itu hanya mimpi. Sora berkata bahwa Eunhyuk sudah pergi. Pergi jauh dan tidak akan kembali. Eunhyuk telah tiada. Dia meninggal karena kecelakaan ketika akan menemuiku. Aku tidak bisa berkata-kata lagi. Mataku basah. Aku masih tidak percaya ketika Eunhyuk telah pergi tepat pada hari ulang tahunku yang ke-17.

“Sora-ya,ini engga mungkin. Eunhyuk tadi masih minta aku di sini buat nunggu dia,tapi sekarang malah dia pergi,” kataku terbata-bata .

“Babo namja. Dia jahat ,dia belum ngucapin selamat ulang tahun ke aku malah sekatang dia udah pergi,” tambahku lagi.

“Eonnie” Sora hanya bisa memelukku dan menemaniku menangis.

Sudah seminggu sejak kepergian Eunhyuk. Aku rasa ini terlalu cepat. Bahkan dia juga tidak sempat mengucapkan selamat ulang tahun padaku. Semuanya berubah sekarang. Tidak ada lagi yang mengacak-acak rambutku,pergi bersama ke sekolah dan tidak ada lagi senyuman Eunhyuk. Senyuman yang dapat membuat semua orang tersenyum ketika melihatnya. Ketika aku melihat-lihat album fotoku bersama Eunhyuk pintu kamarku tiba-tiba eomma sudah ada di sebelahku.

“Chagi,sabar ya ini takdir dari yang kuasa. Kamu yang kuat. Eunhyuk pasti sedih jika tahu keadaan seperti ini. Oh iya Ahra-ya ,ini dari Ahjumma Shin ada titipan buat kamu dari Eunhyuk. Sebenarnya ini kado yang ingin dia berikan kepadamu.  Ahjumma Shin juga berpesan agar kamu tidak sedih terus,” kata eomma sambil mengelus rambutku.

“Ne eomma,” jawabku sambil memaksakan tersenyum.

“Arraso, eomma keluar dulu ya sayang.”

Dari Eunhyuk? Mataku mulai basah kembali. Aku mulai membuka kotak bewarna pastel itu. Eunhyuk tau aku sangat menyukai warna pastel. Di dalam kotak itu ternyata terdapat sebuah kotak musik yang terbuat dari kaca. Indah. Eunhyuk tidak bohong mengenai kado spesial itu. Kotak musik ini adalah hadiah terindah yang pernah aku dapat. Tepat di sebelah kotak musik tadi aku melihat sebuah botol kaca yang di dalamnya terdapat sebuah surat. Pasti dari Eunhyuk. Nafasku tercekat ketika membaca surat itu.

To:Han Ahra

Ahra-ya,akhirnya kamu udah 17 tahun ya sekarang. Berarti udah harus tambah dewasa dong. Ga boleh nangis lagi kalo berantem sama eomma,appa atau dongsaengmu. Kan ada aku disini jadi kamu ga perlu nangis lagi. Ahra-ya maaf ya aku cuma bisa ngasih ini. Gimana kadonya bagus ga? Maaf ya kalau kamu ga suka. Kalo ga suka ntar aku ganti deh kadonya. hehe

Oh ya Ahra-ya aku masih inget waktu kamu tanya aku kenapa aku sangat menyukai hujan. Alasan pertama karena aku bisa nginget orang tuaku. Aku ngrasa setiap hujan turun itulah waktu aku ketemu orang tuaku. Kamu masih inget kan kata-kataku dulu,kata-kata Itu yang dikatakan umma sebelum beliau meninggal. Mungkin konyol , tapi aku emang ngrasa bisa ketemu orang tuaku saat hujan.

Alasan kedua aku menyukai hujan karena kamu Ahra-ya. Aku inget banget awal pertama aku masuk sekolah aku ngelihat kamu lagi nangis. Aku inget gimana takutnya kamu sama petir. Aku inget semua Ahra-ya. Dan pertemuan pertama kita saat itu. Waktu hujan turun. Itu yang buat aku semakin suka sama hujan.

Ahra-ya,aku meyukaimu sekarang mungkin sampai nanti .

            Lee Hyukjae

-End of Flashback-

JGLER,suara petir menyadarkanku.

“Hei Ahra-ya,udah dong jangan mikirin Eunhyuk terus. Eunhyuk pasti di atas sana juga sedih kalo liat kamu kayak gini,” tegur Mi Rin .

“Ne Rin-ah, aku tau kok,” jawabku sambil menyeka mataku yang basah.

“Gomawo,” tambahku sambil tersenyum pada Mi Rin.

Udah 3 tahun sejak kepergian Eunhyuk. Sama seperti yang dibilang Eunhyuk bahwa setiap hujan turun orang-orang yang ada di atas sana turun ke bumi untuk melihat orang yang mereka sayangi. Dan aku merasakan hal yang sama. Aku merasa setiap hujan dapat bertemu dengan Eunhyuk. ”Eunhyuk aku masih menyukaimu sekarang mungkin sampai nanti,” gumamku sambil tersenyum menatap hujan yang turun.

-FINISH-

            Yak akhirnya FF abal pertamaku  ini selesai juga. Maaf kalau hasilnya kurang memuaskan bagi readers. Jeongmal mianhe T_T. Gomawo yang udah mau comment di FF abal pertamaku *bow.

27 thoughts on “[Freelance] When The Rain Falls

  1. aq suka ffnyaa kogg,,
    sedih gitu,jdy tambah suka liat hujan,,
    tpy ujannya gak deras banged,hhehe..

  2. saya tidak suka ff nya karena eunhyuknya meninggal *JELEGEEEEEER eunhyuk dtg dari awan terbesar di langit (?)
    ngga deng, tentu saja sukaaa. bagus ffnya. tapi, sedih :’)
    ff pertama tapi sedih yaa. hahaa
    lanjutin bikin ff nyaaaa. yang ada eunhyuknya aja :p wkwkwk

  3. Ceritanya mirip m khdupanku, ku mnyukai hujan karna dia jg mnyukainya, bedanya, kjadian tu 2thun yg lalu, dan dia tdk mnggal, nhya prgi gda kbar.*spa nanya? Gomawo author, krna ff nie ku menangis…

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s