[Freelance] Still

STILL(ALWAYS AS EVER)

 

Author                  : rizuka^^

Main Cast            : Kim Sunhae, Lee Hyukjae

Rating                  : PG13

Genre                   : romance*mian, aku nggak tau genre ff itu apa aja-____-*

Warning               :  ffku selalu aneh sepertinya

Ps                          : yah, aku tau nobody’s perfect. Karena itu aku butuh kritik dan saran kalian tentang ff ini biar aku bisa bikin yang lebih bagus lagi J

Disclaim               : This is my storyline. Don’t ever dare to plagiarize mine!

 

“Sunhae-ya, apa kau sudah melupakanku?” seorang pria berdiri di hadapan Sunhae. Hujan turun dengan deras membasahi tubuhnya dan tubuh pria di depannya. Pria itu terus menatap Sunhae tajam tetapi wajahnya tampak buram sehingga Sunhae tidak bisa melihat wajah pria itu dengan jelas.

“Siapa kau?” tanya Sunhae dengan suara sepelan angin. Tapi anehnya pria itu dapat mendengar suaranya. Suaranya yang seolah ditelan oleh suara hujan. Pria itu langsung mendekatinya. Sunhae menatap pria itu takut – takut.

“Kau benar – benar tidak mengenaliku, Sunhae-ya?” tanya pria itu. Suaranya sarat kesedihan. Walaupun Sunhae tidak bisa melihat wajahnya, ia bisa merasakan pria itu menatapnya dengan pandangan yang memilukan.

               Sunhae hanya menggeleng lemah lalu meninggalkan tempat itu secepat yang ia bisa. Ia mulai berlari. Suara langkah kaki yang terus mengikutinya makin lama makin dekat dan pria itu tiba – tiba mencekalnya!

Sunhae terbangun dari tidurnya. Terengah – engah. Ia menarik nafas panjang untuk menenangkan pikirannya. Mimpi itu lagi! Sudah tiga kali berturut – turut mimpi itu muncul. Ia mengusap dahinya pelan. Pikirannya sibuk menelusuri kenangan memorinya. Percuma. Ia bahkan tak tahu siapa pria yang dimaksud dalam mimpinya. Terlintas dalam benaknya seseorang yang dulu selalu memenuhi hatinya. Selalu memenuhi pikirannya. Bahkan masih sampai saat ini. Lalu sedetik kemudian ia menggeleng keras. Menolak kemungkinan itu.

***

               Sunhae duduk di pinggir danau. Matanya tak lepas memandang ke arah timur danau itu. Cahaya yang menyilaukan mulai menelusup di antara sela – sela dedaunan. Perlahan, suasana mulai terang dan hangat. Sunhae tersenyum. Ia selalu menyukai hangatnya cahaya matahari yang baru saja terbit. Hal itu selalu membuat perasaannya ikut hangat dan nyaman. Ia mengamati danau di depannya, pantulan cahaya matahari membuat air danau terlihat berkilau. Ia menghela nafas pelan. Bayangan pria yang ada dalam mimpinya perlahan membuka kenangan masa kecilnya. Seolah kenangan itu terputar kembali dalam pikirannya. Semua masih nampak jelas. Sejelas ia dulu mengalaminya.

[FLASHBACK]

2003

“Sunhae-ya, ini untukmu.” Seorang anak laki – laki yang kira – kira berumur 10 tahun datang memberinya sebuah boneka beruang coklat. Sunhae langsung memeluk boneka itu erat.

“Kenapa kau memberikanku boneka? Aku tidak ulang tahun hari ini.” kata Sunhae. Anak laki – laki itu hanya diam sambil menatapnya sedih.

“Kenapa?” ulang Sunhae.

“Hari ini aku akan pergi ke Kanada. Ayahku akan bekerja disana.” jawab anak itu berusaha menampakkan wajah sedatar mungkin.

“Apa itu Kanada?” tanya Sunhae. Sunhae masih tidak mengerti kenapa anak laki – laki di hadapannya terus menatapnya seperti itu.

“Bodoh. Masa kau tidak tahu? Kanada itu jauh sekali. Lebih jauh dari bukit Kimlee.”

“Hah? Jauh sekali! Apa kau akan kembali? Aku tidak mau kau pergi. Jangan pergi..” Sunhae terisak. Air matanya mengalir deras.

“Bodoh. Jangan menangis, aku janji akan kembali.” ucap anak laki – laki itu pelan.

“Benarkah?” Sunhae seperti menemukan secercah harapan bahwa anak itu akan berada di sampingnya lagi. Bahwa anak itu akan menemaninya lagi.

“Tentu saja! Pegang janjiku.” Anak itu mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Sunhae.

“Jangan lupa jaga dia.” lanjutnya sambil menunjuk boneka beruang coklat di pelukan Sunhae.

“Baiklah. Tapi kau harus kembali. Ini. Simpan ini” kata Sunhae sambil menyerahkan sebuah kalung berwarna keperakan. Anak itu hanya mengangguk lemah lalu berjalan menjauh.

[FLASHBACK END]

Sunhae masih mengharapkan anak itu kembali. Tentu saja! Ia sudah hampir menghabiskan air matanya hanya untuk anak itu. Ia masih ingat dengan jelas sosok anak laki – laki itu. Tapi, apakah anak itu masih mengingatnya? Kenapa ia belum juga kembali?

***

               Sunhae menguap lebar. Pandangannnya masih kabur. Ia mengambil jam beker di sampingnya lalu meloncat kaget. Astaga! Dia benar – benar akan terlambat hari ini. Ia bergegas mandi dan berpakaian secepat mungkin. Ia tidak peduli pada rambutnya yang masih acak – acakan. Ia berlari menuju halte bus secepat yang ia bisa.

 

Semua yang ia lakukan tadi percuma. Tentu saja! Tidak ada keringanan hukuman untuk siswa yang terlambat di Namwoo High School. Sekolahnya memang terkenal terlalu disiplin. Dan pada akhirnya ia dihukum oleh Choi sonsaengnim untuk berdiri di tengah lapangan upacara. Keringat membasahi telapak tangan dan dahinya. Dua jam berlalu dan bel istirahat berbunyi. Beberapa anak mulai menatapnya. Sial! Dia benar – benar sial! Pertama ia bangun kesiangan. Kedua bisnya mogok di tengah jalan. Ketiga ia dihukum oleh Choi Sonsaengnim. Dan keempat, astaga! Banyak sekali anak – anak yang menatapnya. Benar – benar memalukan!

“Kalau aku jadi kau, aku lebih baik membolos! Dasar bodoh!” terdengar suara anak laki – laki meneriakinya. Mata Sunhae menyipit. Ia bahkan tak kenal siapa anak laki – laki itu. Seenaknya saja anak itu mengatainya bodoh. Sunhae benar – benar kesal tapi ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia ingin membalas perkataan bocah aneh yang bahkan tidak dikenalnya itu tapi ia tidak mau mencari masalah lagi. Ia tidak mau dihukum. Ia memilih diam.

Choi sonsaengnim masih mengawasinya dari jauh. Sunhae tahu itu. Hanya saja, ia sudah tidak kuat lagi berdiri. Apalagi dengan perut yang masih kosong. Ia terduduk lemas. Ia melirik Choi sonsaengnim sekilas. Guru itu memandangnya tajam dan menyuruhnya berdiri. Setelah itu Sunhae merasa kepalanya pusing dan telinganya berdenging. Ia memandang Choi sonsaengnim tapi ia tidak mendengar apa yang guru itu katakan dan tiba – tiba semuanya menjadi gelap.

***

               Anak laki – laki itu keluar dari toilet dan memandang ke arah lapangan upacara. Memandang gadis itu lagi tepatnya. Gadis itu, kenapa ia malah duduk? Kenapa dengan gadis itu? Ia memandangi gadis itu lalu segera berjalan ke arah lapangan upacara. Tiba – tiba gadis itu ambruk, tapi dengan gerakan lebih cepat gadis itu sudah berada dalam pelukannya. Dengan langkah cepat ia membawa gadis itu ke uks.

***

               Sunhae mengerjap – ngerjapkan matanya pelan. Tenggorokannya terasa benar – benar kering. Ia butuh air! Ia mencoba bangun tapi kakinya mati rasa. Ia berusaha menggapai segelas air di meja sebelahnya. Tiba – tiba saja seseorang mengulurkan gelas itu pada Sunhae. Sunhae menerimanya dan dengan satu tegukan, gelas itu kosong. Hah, Sunhae menghembuskan nafas panjang lalu mendongak. Oh, tidak! Apa matanya masih belum sadar? Kenapa ia melihat anak laki – laki yang tadi meneriakinya ada di hadapannya?

“Bodoh. Kenapa tidak bilang kalau kau tidak kuat? Tanganku sampai mati rasa karena menggendongmu.” ujar anak laki – laki itu sambil mengibas – ngibaskan sebelah tangannya.

“Hah? Apa kau bilang? Kau menggendongku?” mata Sunhae membulat. Ia tidak percaya dengan pendengarannya. Anak laki – laki itu hanya menggumam tidak jelas.

“Memangnya aku kenapa?” tanya Sunhae lagi.

“Apa? Kau tidak ingat? Ya Tuhan, kau ini amnesia atau apa? Kau hanya pingsan karena dehidrasi, bodoh.” jawab anak laki – laki itu. Tentu saja dengan menambahkan kata ‘bodoh’. Sunhae ingin protes tapi ia menyadari sesuatu. Anak laki – laki ini, ia tidak mengenalnya tapi anak ini mau menolongnya. Dan ia belum mengucapkan terima kasih.

Anak itu berjalan menuju pintu. Sunhae segera bangun tapi ia merasa badannya sangat lemas dan akhirnya ia jatuh terduduk di lantai.

“Astaga, kau ini apa – apaan? Kau membuatku repot, kau tahu!” ujar anak laki – laki itu sambil membantu Sunhae berdiri.

“Maaf.” ujar Sunhae pelan. Sepelan suara angin. Tapi Sunhae yakin anak itu mendengarnya karena suasana saat itu sangat sepi.

“Apa?” tanya anak laki – laki itu. Heh? Dia tidak tuli kan? tanya Sunhae pada dirinya sendiri.

“Tidak.” jawab anak laki – laki itu. Sunhae menutup mulut. Sepertinya secara tidak sadar, ia baru saja menyuarakan pikirannya.

“Ehm, maaf karena telah membuatmu repot. Dan terimakasih.” Sunhae membungkukkan badannya dalam – dalam.

“Oh, aku juga belum tahu namamu.” kata Sunhae lagi sambil berjalan menuju tempat air minum.

“Namaku Lee Hyukjae. Tapi panggil Eunhyuk saja.”

PRANGGGG. Gelas yang ada di tangan Sunhae terlepas. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat.

“Hei, kau baru saja meminta maaf karena telah merepotkanku tapi sekarang kau merepotkanku lagi.” kata Eunhyuk sambil memunguti pecahan – pecahan gelas. Sunhae masih berdiri. Pikirannya melayang menuju memori masa kecilnya. Matanya menerawang.

“Hei! Bantu aku bodoh. Bagaimanapun juga kau yang memecahkan gelasnya.” keluh Eunhyuk.

“Iya, iya!” jawab Sunhae cepat. Sedikit kesal karena anak laki – laki yang mengaku bernama Eunhyuk itu membuyarkan lamunannya. Ia memungut pecahan – pecahan gelas itu dengan tidak sabar. Ia ingin segera sampai rumah dan makan!

“Aish! Kau… benar – benar…. gadis yang merepotkan!” kata Eunhyuk patah – patah. Lebih seperti penegasan daripada suatu keluhan.

“Ah, maafkan aku Lee Hyukjae-sshi.” kata Sunhae pelan sambil menunduk. Mengamati jari kelingkingnya yang berdarah. Jari kelingking pengikat janjinya.

“Sudah kubilang panggil aku Eunhyuk.” ujar Eunhyuk sambil mengambil plester.

“Cuci dulu jarimu. Nanti infeksi.” katanya lagi. Sunhae hanya menurut dan melakukan apa yang disuruh Eunhyuk.

“Ini.” kata Eunhyuk sambil menempelkan plester di jari kelingking Sunhae.

“Sekali lagi terimakasih.” kata Sunhae. Eunhyuk hanya mengangguk.

“Kau kelas berapa? Kenapa aku tidak pernah melihatmu?” tanya Sunhae sambil berjalan keluar ruangan.

“Aku kelas 2B. Aku murid baru, bodoh.”

Sunhae mendengus. Hah, ‘bodoh’ lagi?

“Dan kau, kau siapa?” tanya Eunhyuk sambil berjalan di samping Sunhae.

Kalau saja saat ini Sunhae sedang makan, pasti ia akan tersedak. Astaga! Jadi bocah sok tahu ini memang tidak mengenalnya sejak tadi? Dasar bocah tidak sopan! Kenapa bicara informal seperti itu? Atau jangan – jangan… Tidak, tidak, itu tidak mungkin! Sunhae menggeleng pelan. Jelas – jelas bocah ini tidak tahu namanya.

“Hei, kau kenapa? Aku bertanya namamu, bodoh. Aku tidak menyuruhmu menggeleng seperti itu. Hmmph.” Eunhyuk menahan tawanya.

“Ternyata selain bodoh kau juga aneh.” katanya lagi dengan wajah tanpa dosa. Aish! Sunhae benar – benar ingin memukul anak laki – laki di depannya itu.

“Apa katamu? Jangan menuduhku sembarangan, bocah menyebalkan!”

“Oke, oke. Hah, baiklah. Jadi, siapa namamu?”

“Aku Kim Sunhae, kelas 2B juga.” kata Sunhae pelan.

***

               Sunhae menelungkupkan kepalanya di meja belajar. Kepalanya pusing. Ia baru saja menyelesaikan tugasnya dengan susah payah. Tidak lama kemudian, ia tertidur dan bermimpi. Mimpi tentang masa kecilnya. Hal yang sudah lama dirindukannya. Hal yang mulai terasa jelas di ingatannya sejak dua bulan lalu. Sejak ia mengenal Eunhyuk.

[FLASHBACK]

2003

“Hei, Kim Sunhae! Kenapa kau lama sekali?” Seorang anak laki – laki duduk di hadapan Sunhae. Kakinya terus bergerak tanda ia merasa bosan. Sunhae sedang mengerjakan pr menggambarnya. Tapi anak laki – laki itu tentu saja selalu lebih cepat darinya.

“Tunggu sebentar. Satu jam lagi aku selesai.” ujar Sunhae sambil mewarnai gambarnya.

“Satu jam itu lama, bodoh. Kau menggambar apa sih?“ Anak itu menarik kertas gambar Sunhae dengan keras hingga robek. Sunhae menangis.

“Hyukie-ah, aku benar – benar susah payah membuatnya. Kenapa kau merobek kertasku?” Sunhae menyeka matanya yang basah. Bocah yang bernama Hyukie itu menatapnya dalam diam. Sepertinya ia merasa bersalah.

“Sudah, jangan menangis. Aku akan menggantinya. Kau mau gambar apa?”

“Seekor monyet dan seorang putri cantik! Gambarkan itu untukku!” ujar Sunhae semangat.

Walaupun masih terlihat ekspresi bingung di wajahnya, anak laki – laki itu mulai menggambar. Beberapa saat kemudian, ia selesai.

“Wah! Kau hebat sekali, Hyukie-ah!” Sunhae tersenyum senang sambil menatap gambar itu lekat – lekat.

“Tentu saja!” jawab anak laki – laki itu tak kalah senang.

“Ini aku, ini bukit Kimlee, ini kau! Hahaha.” jelas Sunhae lalu tawanya pecah.

“Hah? Kenapa monyet? Aku bukan monyet tahu!” Anak laki – laki itu cemberut. Menggembungkan kedua pipinya yang merah.

“Karena wajahmu persis seperti monyet!” jawab Sunhae senang.

“Apa?” tanya anak laki – laki itu lalu berlari mengejar Sunhae yang bersembunyi di balik meja.

“Hahahaha. Jangan! Jangan, Hyukie-ah! Baiklah, aku menyerah!” kata Sunhae. Anak laki – laki itu melepaskan tangannya yang mencubit pipi Sunhae sambil tersenyum penuh kemenangan.

[FLASHBACK END]

***

“Hei! Jangan melamun di tengah jalan bodoh.” Sebuah suara membuyarkan lamunan Sunhae.

“Iya, iya! Jangan berteriak seperti itu.” gumam Sunhae sambil terus berjalan menuju kelasnya.

“Hei Sunhae-ya, mana pr fisikamu?” tanya Eunhyuk sambil duduk di bangku sebelah Sunhae.

“Aish, aku lupa membawanya. Bagaimana ini?” ujar Sunhae mulai panik.

“Dasar bodoh. Bagaimana kau bisa lupa? Kim sonsaengnim pasti akan menghukummu.”

“Sudah kubilang aku lupa. Hah, menyebalkan! Kenapa aku bisa lupa? Padahal aku sudah mengerjakannya dengan susah payah, aish!”

Terdengar suara langkah kaki mendekat dan Kim sonsaengnim memasuki kelas. Tiba – tiba kelas menjadi senyap.

“Kumpulkan pr fisika kalian!” kata guru itu dengan nada keras.

Sunhae yang tidak membawa prnya dengan lemah menggeleng saat temannya meminta bukunya. Keringat dingin mulai membasahi tangannya. Tiba – tiba saja jantungnya berdegup lebih kencang.

Kim sonsaengnim mengecek setumpuk buku itu satu – persatu. Dan wajah Sunhae memucat saat guru gemuk itu memanggilnya.

“Kim Sunhae!” panggil guru itu.

“i..iya pak.” Wajah Sunhae membeku. Ia benar – benar tidak ingin guru itu menghukumnya atau memarahinya habis – habisan.

“Tumben sekali kau mengerjakan dengan benar. Sepertinya kau sudah belajar dengan rajin. Bagus sekali!” ujar guru itu sedikit tersenyum. Hah?! Sunhae menganga. Membuka mulutnya lebar – lebar. Bagaimana bisa guru itu mengatakan kalimat yang menurutnya tidak masuk akal. Dia benar – benar tidak habis pikir…

“Lee Hyukjae!” Giliran nama Eunhyuk yang dipanggil. Pasti sebentar lagi bocah sok tahu itu akan dipuji habis – habisan. Dia kan jenius, batin Sunhae.

“Mana prmu?” Lagi – lagi Sunhae dikejutkan oleh pertanyaan tidak masuk akal. Jelas – jelas ia tadi melihat Eunhyuk mengumpulkan bukunya.

“Maaf sonsaengnim, saya tidak mengerjakan pr.” ujar Eunhyuk tenang. Sunhae menoleh ke arah Eunhyuk dengan tatapan bingung. Bukannya perkataan itulah yang paling tidak akan ia katakan? Kenapa Eunhyuk yang mengatakannya?

“Kau! Berani – beraninya tidak mengerjakan pr di pelajaran! Keluar dan lari mengelilingi lapangan upacara 20 kali!”

Mata Sunhae melebar. 20 kali?! Memangnya superman?! Bisa – bisa Eunhyuk pingsan! Dia itu kan kurus sekali. Hah, dasar guru jahat! Tunggu sebentar, apa Eunhyuk sengaja melakukan semua ini? Tapi untuk apa?

“Eunhyuk-ah, apa yang baru saja kau lakukan? Kenapa begini? Harusnya aku yang dihukum bukan kau.”

“Diam, bodoh. Kau mau lari 20 kali? Bisa – bisa kau koma!”

“Hah?” Apa baru saja secara tidak langsung Eunhyuk telah mengkhawatirkannya? Mustahil!

***

Eunhyuk masih terus berlari. Keringatnya terus menetes. Bibirnya pucat. Kakinya terasa kaku, kepalanya mulai terasa sakit, dan tiba – tiba saja ia terjatuh. Sunhae yang saat itu tidak sengaja melihat dari kaca jendela segera lari keluar mendekati Eunhyuk. Ternyata Eunhyuk benar – benar pingsan! Sunhae segera memanggil bantuan untuk membawa Eunhyuk ke rumah sakit.

***

Sunhae duduk di balkon kamarnya. Matanya bengkak dan sembap. Bahunya bergetar menahan tangis. Kenapa ia tidak menyadarinya dari dulu? Kenapa Eunhyuk tidak memberitahunya? Bodoh! Ia benar – benar bodoh. Perkataan dokter itu masih terngiang – ngiang di kepalanya. Dokter itu dengan tenang menjelaskan bahwa Eunhyuk menderita tumor otak ganas. Bagaimana bisa?! Bagaimana bisa ia tidak memperhatikan hal – hal detail seperti Eunhyuk yang selalu mengeluh kepalanya sakit, Eunhyuk yang tidak pernah mengikuti pelajaran olahraga dengan segudang alasan, Eunhyuk yang sering tidak masuk dengan alasan ia sudah mempelajari pelajaran yang akan diberikan hari itu dan ia memahaminya. Eunhyuk benar. Ia memang bodoh. Sangat. Bagaimana bisa ia baru menyadari bahwa kalung yang selama ini dipakai Eunhyuk adalah kalung yang diberinya 7 tahun lalu? Bagaimana bisa ia baru menyadari kalau Eunhyuk adalah Hyukie-nya yang hilang 7 tahun lalu setelah ia bertemu Lee Eunjae, ibu Eunhyuk dan melihat kalung pemberiannya? Too late. Benarkah? Apakah sudah seterlambat itu? Kalau saja waktu bisa diputar, ia ingin waktu diputar mundur saat itu juga. Saat itu ia akan memeluk Eunhyuk erat dan tidak membiarkan Eunhyuk pergi sesentipun darinya. Demi Tuhan, dia akan melakukan apapun supaya Eunhyuk terus berada di sampingnya.

***

Sunhae berjalan pelan di koridor rumah sakit yang serba putih. Ia benar – benar benci dengan rumah sakit! Semuanya terlihat begitu dingin dan tenang. Ia berhenti di depan sebuah kamar. Lalu membuka pintunya perlahan. Ia melihat seseorang yang tengah berbaring di tempat tidur sambil memeluk boneka beruang berwarna coklat. Sama persis dengan bonekanya! Boneka pemberian Hyukie. Hatinya miris. Ia harus melihat seseorang yang sejak dulu disayanginya dalam keadaan seperti ini. Bahkan dengan nama Eunhyuk pun Sunhae tahu, dirinya telah menyukai pria itu.

“Hyukie-ah..” ujar Sunhae pelan menahan tangis. Eunhyuk menoleh dan terlihat terkejut lalu membuang muka.

“Hyukie-ah, maafkan aku.” isak Sunhae.

“Pergi!” bentak Eunhyuk. Membuat Sunhae tersentak kaget.

“Kubilang pergi!” katanya lagi. Namun kali ini lebih keras.

“Kenapa Hyukie-ah? Aku benar – benar minta maaf.” ujar Sunhae. Suaranya tertahan menahan tangis.

“Jangan panggil aku dengan nama itu! Dan ambil ini!” ujar Eunhyuk ketus sambil membuang kalung pemberian Sunhae. Sunhae menangis sambil memungut kalung itu.

“Pergi!” bentak Eunhyuk lagi.

Sunhae menyerah. Pada akhirnya ia keluar dari ruangan itu sambil membawa kalung pemberiannya dan meninggalkan sebuah syal yang susah payah dirajutnya.

***

1 bulan kemudian…

Sunhae duduk di balkon kamarnya. Membiarkan angin malam menusuk kulitnya. Ia menghembuskan nafas panjang. Hari ini adalah hari yang ditunggunya. Ia membuka sebuah surat yang sudah kusam. Surat yang selalu dipegangnya setiap saat. Surat terakhir dari pemiliknya. Beberapa lembar kertas berwarna biru memenuhi amplop kusam itu. Rentetan kata yang ditulis dengan tinta hitam memenuhi kertas itu. Matanya mulai panas. Dan tanpa dicegah, air matanya menetes.

 

To           : Sunhae

From      : Eunhyuk, [tapi aku juga tidak melarangmu memanggiku Hyukie ;)]

               Sunhae-ya, pertama – tama maafkan aku. Maafkan pria yang rapuh ini. Sebenarnya aku benci kata ‘rapuh’ tapi itu benar – benar menggambarkan keadaanku bukan?

               Aku benar – benar minta maaf. Aku telah membohongimu tentang penyakitku. Aku pura – pura tidak mengenalmu, padahal aku ingat dengan jelas bahwa kau adalah Kim Sunhae, gadis bodohku. Kau tidak suka aku memanggilmu bodoh? Baiklah, maafkan aku. Yang jelas, aku sangat – sangat mengenalmu. Kau masih sama. Jadi mudah bagiku untuk menyadari bahwa itu adalah kau. Hm, baiklah, aku bohong lagi tentang hal yang satu itu. Sebenarnya aku sudah tahu sejak awal bahwa kau adalah gadis bodohku(maafkan lagi tentang ini, benar – benar sudah menjadi kebiasaanku sepertinya). Aku memang sengaja masuk ke sekolahmu karena aku sangat merindukanmu. Sangat.

               Aku akan menceritakan padamu semuanya, jadi tenang saja. Tidak ada lagi hal yang akan kututupi darimu. Pertama, mengenai kepindahanku ke Kanada, itu bohong. Sebenarnya aku pergi ke Singapura untuk menyembuhkan penyakitku. Ya, aku sudah menderita penyakit menyebalkan ini sejak umur 10 tahun! Tragis sekali! Saat itu aku menderita tumor otak. Sebelumnya mereka melakukan pemeriksaan yang bermacam – macam sampai aku lupa apa saja. Lalu mereka melakukan operasi pengambilan tumor itu. Tapi sepertinya operasi itu tidak terlalu sukses karena masih ada bagian dari tumor itu yang masih bercokol di otakku. Jika dokter – dokter itu mengambilnya kemungkinan besar hal itu akan membahayakan nyawaku. Mengerikan. Jadi sejak itu aku menjalani pengobatan – pengobatan yang melelahkan dan menyakitkan. Tapi sepertinya tetap tidak berhasil karena tumor itu tumbuh membesar dan pada akhirnya aku menyerah dan kembali ke Korea.

               Pertama kali aku melihatmu saat kau sedang berdiri di tengah lapangan upacara, aku langsung tahu itu adalah kau. Karena kau berbeda dari yang lain. Kau terlihat lucu dan cantik di saat yang sama. Dan saat itu aku benar – benar ingin menggantikan posisimu. Aku sengaja meneriakimu saat itu agar kau berhenti. Tapi kau tetap meneruskan hukumanmu itu. Saat melihatmu pingsan,  jantungku benar – benar mencelos. Aku benar – benar takut, tapi sebisa mungkin kubuat wajahku sedatar mungkin (Kau masih ingat kan kalau aku adalah aktor yang handal?) Saat aku tahu kau tidak mengenalku, aku sedikit sedih. Saat itu aku benar – benar merindukanmu dan ingin memelukmu erat. Tapi aku benar – benar senang kau mau menjadi temanku.

               Alasanku sering tidak masuk sekolah dan tidak pernah mengikuti pelajaran olahraga, tidak lain adalah karena penyakit menyebalkan ini. Hari – hariku untuk bertemu denganmu menjadi berkurang karena aku hanya bisa melihatmu di sekolah. Saat – saat ketika aku tidak melihatmu, kuhabiskan untuk mengagumi kalung pemberianmu. Saat – saat ketika aku sangat merindukanmu, kuhabiskan dengan memeluk boneka beruang coklat yang sama dengan yang kuberikan padamu. Berharap saat itu kau juga sedang memeluk boneka pemberianku. Setidaknya kau dan aku masih berdiri di tanah yang sama. Setidaknya aku masih bisa bernafas, aku lega. Karena aku masih mempunyai kesempatan untuk bisa menemuimu.

               Hari di saat kau tidak mengerjakan pr, aku yakin itulah kesempatanku untuk berganti posisi denganmu. Aku belum pernah terlihat berguna di depanmu. Dan saat itu aku ingin membuktikannya kepadamu bahwa aku bisa berguna. Tapi sepertinya aku terlalu memaksa badan lemahku ini sehingga aku jatuh pingsan. Aku bisa mendengar kau meneriakan namaku saat itu. Aku merasa senang karena kau memelukku saat itu walaupun aku tidak bisa membalasmu.

               Aish! Aku harus kembali ke rumah sakit lagi! Hal yang selama ini sebisa mungkin terus kuhindari. Ibu sudah melarangku bersekolah. Menyebalkan! Aku jadi tidak bisa melihatmu padahal aku sangat merindukanmu. Aku rindu mencubit pipimu. Itu sangat menyenangkan.

               Kenapa kau mengetahui penyakitku, Sunhae-ya?! Aku frustrasi. Aku benar – benar tidak ingin kau mengetahui bahwa aku hanya seorang yang rapuh dan lemah. Aku benci fakta ini, tapi walau bagaimanapun itulah keadaanku. Aku benar – benar benci dengan diriku sendiri. Aku sangat menyesal karena aku membentakmu Sunhae-ya. Aku benar – benar terpaksa melakukan itu, aku tidak ingin kau melihat kondisiku yang menjijikkan. Saat kau memanggilku dengan nama ‘Hyukie’ aku benar – benar senang hingga sulit bagiku untuk menghirup oksigen karena yang ada saat itu hanyalah udara kegembiraan. Aku senang kau sudah mengenaliku sebagai Hyukie, teman kecilmu. Tapi saat itu juga aku benar – benar frustrasi dengan hidupku, aku benci dengan keadaanku. Aku benar – benar tidak pantas berada di sampingmu. Kenapa aku membuang kalungmu? Maafkan aku. Sebenarnya aku ingin mengatakan, “Tolong jaga itu.” Tapi egoku menolak. Hatiku benar – benar teriris saat melihatmu menangis di depanku. Bahkan alasan kau menangis adalah aku. Kau tahu, saat aku membuang muka di depanmu, saat itulah air mataku mengalir tidak karuan hingga aku sulit mengendalikannya. Aku benar – benar merasa bersalah. Aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Aku benar – benar ingin memelukmu tapi yang kulakukan malah membuatmu menangis dan mengusirmu. Kau tahu, aku lebih bodoh darimu Sunhae-ya. Setelah kau meninggalkan ruanganku, hatiku benar – benar sakit. Kau yang mengetahui aku adalah Hyukie, di saat yang sama kau juga harus mengetahui bahwa aku bukan lagi Hyukie yang ceria seperti 7 tahun lalu. Tapi asal kau tahu Sunhae-ya, aku masih sama. Aku masih orang yang sama.

               Sunhae-ya, aku merindukanmu. Aku rindu wajahmu. Aku rindu suaramu. Aku rindu semua bagian darimu. Syal yang kau berikan padaku, aku terus memakainya. Syal itu terus memberi kekuatan bagiku untuk tetap berjuang. Untuk tidak menyerah. Sayang sekali aku belum sempat meminta maaf padamu secara langsung, karena sejak kejadian itu kau tidak pernah lagi muncul di depanku. Itu memang salahku. Itu memang kebodohanku. Yang jelas otakku dipenuhi oleh semua bagian dari dirimu. Terutama senyummu.

Sunhae-ya, kedatanganku ke Korea tentu saja adalah untuk menemuimu. Kau adalah salah satu alasan mengapa aku terus berjuang dan mengabaikan rasa sakit. Alasan lain tentu saja keluargaku. Sunhae-ya, aku rindu bukit Kimlee! Kau masih ingat? Itu tempat pertemuan pertama kita dan tempat kita menghabiskan waktu bersama. Sejak kedatanganku ke Korea aku belum pernah sekalipun pergi ke sana. Padahal aku rindu dengan bau rumputnya yang khas. Aku rindu dengan pohon – pohonnya yang memiliki ranting yang panjang – panjang sehingga kita dengan mudah memanjat kesana kemari. Aku rindu dengan bunga – bunganya yang terlihat indah dan berwarna – warni. Aku rindu dengan waktu yang kita habiskan bersama. Sunhae-ya, kau tahu, sejak pertama aku mengenalmu, aku langsung menyukaimu. Aku mencintaimu. Aish, aku belum mangatakan hal ini kepadamu karena aku takut kau akan menolakku dan menjauhiku. Sudah kubilang aku lebih bodoh darimu. Aku benar – benar menyukaimu. Dulu, sekarang, dan nanti. Aku akan selalu menyukaimu. Terimakasih karena kau telah membuatku menyukaimu. Aku tidak akan pernah menyesal karena separuh hatiku ada bersamamu. Terimakasih karena memperbolehkanku berada di sampingmu. Jangan menangis dan teruslah tersenyum.

 

PS           : Kau tahu mengapa aku menyuruhmu membukanya setelah 1 bulan? Karena aku tidak ingin kau terus menangis dan membasahi surat yang telah kutulis dengan susah payah ini. Karena aku ingin menjadi bayanganmu. Yang berada di belakangmu. Karena kau harus terus melanjutkan hidupmu ke depan dengan semangat. Hwaiting!^^

Yang masih terus menyukaimu,

Lee Hyukjae

-END-

              

Yak, apa kubilang? Aneh kan? gatau kenapa kalo aku buat ff pasti jadinya aneh -_____-

Sekali lagi, komen yaaaa ^_^

Kamsahamnida~

 

 

 

 

 

 

 

 

 

10 thoughts on “[Freelance] Still

  1. @jeane gomawo~ :)
    enggak, bukan yg pertama
    sebelumnya aku pernah ngepost ff disini judulnya angela sama still angela
    dibaca ya~
    hehe

  2. ya kok ninggal sih eunhyuknya
    aq samapi nangius bacanya ga rela hyukie ninggal T.T
    ffny bgs kok ga aneh

  3. Huwaaaaaaaaaaaaa (-̩̩̩-̩̩̩_-̩̩̩-̩̩̩) hyuk nya meninggal? Sediiiih~~ suratnya daebak! Tp kebanyakan kata ‘kau tau?’ nya hehehehehe terus berkarya, thor!!

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s