[Freelance] The Marriage and Us {Day 8}

Title : The Marriage and Us [Day 8]

Author : Bee

Main Cast : Yesung, Bee

Support Cast : all members of Super Junior

Rating : all age (but kids, because they wouldn’t get it)

Genre : romance

Warning! : PG-17 / kissing scene

Ps : Mohon komennya ya.

Disclaim : biar kata terinspirasi dari WGM, alur cerita murni ide Bee. Oke? No plagiarism!
========================

 

 

“Yoboseyo?” aku mengangkat HP-ku yang berdering keras. Kuletakkan pulpenku dan berkonsentrasi menelepon. Memang kelemahanku, tapi aku ga bisa nulis sambil telepon.

“Bee ssi, Anda masih bekerja, sekarang?”

“Ne, nuguseyo?”

“Ahahaha, choisonghamnida. Yogi PD-nim imnida.”

“Oh, ne, PD-nim. Wae geuraeseoyo?”

“Ah, ini, ada yang ingin saya bicarakan. Bisa kita ketemu untuk makan siang bersama?”

Ada apa ya? “Ng, sebentar ya, PD-nim. Saya lihat jadwal saya dulu.”

Aku mengambil kalender di mejaku, sepertinya hari ini aku bisa kosong. “Yoboseyo. Ah, maaf. Kadang kala saya harus menemani pasien terapi di waktu makan siang, tapi siang ini saya kosong. Jadi saya rasa kita bisa bertemu.”

Di seberang telepon, PD-nim mengekspresikan kelegaannya dan segera mengatakan bahwa dia akan menemuiku di café. Café apa, dia menyerahkan padaku untuk memilihnya. Akhirnya aku memutuskan untuk bertemu di café yang dekat dengan rumah sakit, agar aku mudah kembali ke kantor sesudahnya. Toh PD-nim sendiri yang mengatakan dia ga keberatan dimana aja.

Setelah telepon ditutup aku segera melanjutkan pekerjaanku menerjemahkan dokumen-dokumen RS, dan menyelesaikan melengkapi keterangan administrasi pasien-pasien Indonesia. Ketika aku melirik jam, ternyata udah jam 11.55. Aku pun memutuskan untuk menghentikan pekerjaanku, dan bersiap-siap menemui PD-nim.

Mendadak mataku terasa gatal. Ah, mungkin kelamaan melihat komputer. Aku memejamkan mataku dan mengelus-elus kelopaknya sekedar menenangkan perasaan meskipun gatalnya tidak hilang. Saat itulah aku teringat kejadian tadi malam, ketika Yesung dengan lembut membersihkan mukaku. Ah, perasaan seneng itu jadi membuncah lagi. Aku pun tersenyum dibuatnya.

Kameramen di sebelahku bertanya, “Ada apa, Bee ssi?”

Ampun, aku lupa lagi kalau ada kameramen. Akhir-akhir ini aku jadi makin sering lupa dengan kameramen yang selalu mengikutiku. “Ah, ga. Cuma inget kejadian lucu,” ujarku mengelak. Untungnya saat itu kamera sedang dimatikan, karena mereka sudah punya cukup banyak rekaman mengenai aku di tempat kerja. Paling-paling kalau aku melakukan sesuatu yang ada hubungannya dengan mengurus rumah, barulah kamera dinyalakan lagi.

“Aku mau ketemu PD-nim. Apa kameranya perlu dinyalakan?” tanyaku.

Kameramen itu memandangku. Dia tampak berpikir. Lalu dia berkata, “Mungkin nanti saja kalau sudah ketemu PD-nim. Kalau dia mengatakan aku harus merekamnya, kita akan melakukannya di café.” Ucapannya itu berakhir bersamaan dengan beresnya peralatanku.

“Oke,” aku tersenyum pada kameramen. “Ayo kita berangkat makan siang!” lanjutku.

Tidak perlu waktu lama bagi kami untuk sampai di café yang memang dekat dengan RS itu. Kami hanya perlu berjalan 15 menit. Karena janji temuku dengan PD-nim adalah jam 12.30, aku jadi punya waktu untuk memesan makanan.

Tepat di waktu janjian kami, PD-nim datang. “Anyeonghaseyo,” ujarnya ramah menyapaku.

Aku yang sudah berdiri sejak melihatnya memasuki café segera membalas sapaannya. Kupersilahkan dia duduk dan menanyakan apakah dia hendak memesan makanan dulu atau tidak. Dia menanyakan apakah aku bisa memberinya rekomendasi mengenai makanan yang ditawarkan café itu, kalau bisa, dia akan memesan sesuai rekomendasiku saja sebab itu akan menghemat waktu memilih menu. Akhirnya aku memesankannya pasta. Karena meskipun yang paling enak rasanya di café ini adalah desert, tidak mungkin kan aku memesankan desert untuk makan siang PD-nim yang kelihatannya siap tempur untuk makan siang full-package?

PD-nim melirik arlojinya. “Langsung saja, ya Bee ssi. Saya tahu Bee ssi tidak terlalu luang akhir-akhir ini.”

Aku tersenyum. Tanpa berkata apa-apa aku persilahkan dia bicara dengan sikap tubuhku. Tapi kameramenku menyela, dan menanyakan apakah dia perlu merekam ini. PD-nim mengatakan, “Nyalakan saja,” lalu menyambung, “Saya kemarin memperhatikan sewaktu Bee ssi menyanyi di sela-sela waktu istirahat shooting.”

Aku berusaha mengingat kapan aku menyanyi di depan PD-nim. Rupanya PD-nim tahu aku tidak ingat, karena dia lalu berkata lagi, “Kemarin, di belakang panggung, sewaktu Bee ssi menyanyi dengan Sungmin ssi.”

Ingatan itu menyergapku. “Ah.. haha.” Dengan malu aku mengiyakan.

“Jadi, untuk minggu depan, di shooting terakhir, saya ingin Bee ssi menyanyi, bisa?”

Hah?!

Makanan kami datang. Aku memperhatikan makanan-makanan itu diletakkan di meja kami, tapi sebenarnya pikiranku masih terpaku pada pertanyaan PD-nim.

“Maaf,” aku menjawab PD-nim setelah pelayan pergi meninggalkan meja kami. “Maksud PD-nim?”

“Maksud saya, minggu depan kan rekaman terakhir, dan karena saya mendengar suara Bee ssi kemarin, saya kepikiran untuk menyisipkan satu sesi khusus pengantin wanita. Itu nantinya sebagian besar akan diisi dengan video rekaman, tapi akan diakhiri dengan persembahan langsung. Nah, saya pikir kalau pengantin wanitanya menyanyi akan bagus. Kebetulan kemarin saya mendengar suara Bee ssi, jadi saya putuskan saja. Tapi tentunya itu kalau Bee ssi setuju.”

PD-nim menjelaskan dengan panjang lebar. Namun aku hanya terfokus pada satu hal. Aku? Menyanyi?

“Ah, ya,” PD-nim mulai menyendok makanannya, “Saya juga sudah melihat rekaman-rekaman sebelumnya. Banyak sekali rekaman Bee ssi sedang menyanyi, jadi saya pikir…” dia menggantungkan kalimatnya.

Ucapannya itu mengingatkanku pada hari-hari pertama aku dan Yesung hidup bersama. Membuatku tersenyum. Aku lalu menyendok makananku.

“Tapi, PD-nim. Saya ini hanya penyanyi kelas kamar mandi,” ujarku mencoba mematahkan alasan PD-nim.

“Suara Anda bagus kok,” dia tetap pada penilaiannya.

Aku tersipu mendengar pernyataannya. “Wah, saya bersyukur banget kalau dibilang suara saya bagus. Tapi meskipun begitu, saya ini ga terlatih, apalagi pengalaman, nyanyi di depan kamera, PD-nim.”

“Sebenarnya ada tujuannya saya mengatakan ini pada Anda sekarang,” dia berhenti untuk meminum airnya. “Saya pikir akan sangat baik kalau Anda bisa latihan dulu selama 6 hari ini sampai hari H-nya.”

“Latihan?”

“Iya. Kalau Anda setuju, Anda bisa berlatih dulu di studio. Mungkin setiap sehabis jam kerja?”

Aku meresapi informasi ini. Latihan dulu ya?

“Ayolah, Bee ssi. Ini akan jadi semacam kejutan. Penampilan mendadak.”

Aku tersenyum mendengar bujukannya. “Tapi ini kan acara rekaman, PD-nim. Bukannya semua acara rekaman sudah disiapkan dengan matang?”

“Ya, tapi untuk membuat acaranya lebih menarik , kejutan-kejutan kecil sangat diperlukan.” PD-nim memperhatikan aku yg memang masih sibuk berpikir. Terima ga ya? Terima ga ya? Terima ga ya? Aku ga tahu pasti apa aku punya alasan untuk menolak, tapi juga ga menemukan hal yang mendukungku untuk mengiyakan ajakan PD-nim.

“Dicoba saja, Bee ssi,” tiba-tiba kameramenku nyeletuk.

Membuatku terkejut, “Eh?”

“Ya, dicoba saja,” PD-nim nyengir ke arahku.

Aku tersenyum ragu-ragu.

“Sudah, pikirkan saja dulu dengan tenang sambil menghabiskan makanan Anda,” PD-nim rupanya mengerti keraguanku.

Dia lalu menanyakan hal lain seputar kehidupan rumah kami untuk mengalihkan pikiranku. Lalu aku menceritakan beberapa hal yang kemungkinan besar sih sudah diketahuinya. Aku juga menceritakan kepadanya bahwa aku dan Yesung sama sekali tidak sempat melakukan daftar misi kami kecuali ‘menyatukan perbedaan’. PD-nim mengatakan tidak apa-apa karena fokus rumah tangga kami memang tentang perbedaan. Diskusi kami terus berlanjut hingga tak terasa makananku telah habis.

PD-nim memesan kopi, sementara aku kemudian memesan es krim. “Jadi bagaimana, Bee ssi?”

“Saya boleh bertanya dulu pada Yesung?”

PD-nim tertawa. “Kenapa?” tanyanya.

Entahlah, aku hanya merasa harus begitu. “Ya, Yesung itu kan penyanyi. Jadi kalau saya minta pendapatnya wajar, kan?” aku memberi alasan.

PD-nim tersenyum. “Menurut saya sih lebih baik Anda memberikan kejutan untuk Yesung ssi. Anggap saja ini akan jadi hadiah perpisahan dari Anda.”

Perpisahan…

Aduh, iya ya. Minggu depan kami sudah harus pisah. Kenapa hatiku rasanya berat ya? Ah, aku ga boleh terbawa perasaan lagi. Aku pandang PD-nim, lalu tersenyum, “Baiklah, saya mau mencobanya, PD-nim.”

PD-nim tersenyum dan menghabiskan kopinya. “Wah. Ini berita hebat! Jadi bagaimana kalau mulai latihan malam ini?”

“Malam ini?!” aku terkejut.

“Iya, kita kan tidak punya banyak waktu.”

Meski ragu-ragu, aku mengangguk. Waktu. Ah, lagi-lagi aku merasa berat.

“Datang saja sesudah jam kerjamu selesai, Bee ssi.”

“Ne,” jawabku.

PD-nim menunggu hingga es krimku habis untuk kemudian pergi. Sepeninggalnya, kameramen bertanya bagaimana perasaanku mengenai tawaran ini. Dia memberi isyarat padaku untuk fokus pada kamera ketika menjawabnya.

Aku tersenyum, “Aku… tidak tahu. Hehehe, aku senang sekali mendapat kesempatan ini, karena aku selama ini hanya menyanyi di kamar mandi dan di noraebang saja. Tapi aku juga sedikit cemas kalau-kalau hasilnya tidak bagus,” jawabku jujur.

Kameramen mengacungkan jempolnya padaku lalu mematikan kameranya. Dia menghabiskan minumnya dan setelahnya kami berdua kembali ke RS.

Sepanjang sore itu aku tidak berkonsentrasi bekerja. Bukan saja karena tawaran yang baru datang, tapi juga karena aku sekarang menyadari bahwa aku tidak punya banyak waktu lagi untuk bersama Yesung. Semakin aku terlarut dalam pikiran itu, semakin galau rasanya hatiku.

Tak terasa sudah waktunya jam kerjaku berakhir. Aku pun melakukan kunjungan terakhir, dan segera bersiap-siap pulang. Aku dan kameramenku kemudian menaiki bus menuju studio. Sepanjang perjalanan aku teringat Yesung. Tiba-tiba saja aku sangat ingin melihat wajahnya. Mendengar suaranya. Lalu pikiranku melompat ke minggu depan.

Hanya sampai minggu depan. Pikiran itu membuat mataku memanas. Aku pejamkan mataku dan menyenderkan kepalaku ke kaca bus.

Aku tertohok. Kenapa aku baru menyadari datangnya perasaan ini? Kenapa aku harus jatuh? Aku agak kesal pada diriku sendiri yang tidak bisa bertahan untuk tidak terlena dengan kehidupan rumah tangga kami. Tapi aku juga sama sekali ga menyangka efeknya akan secepat ini.

Di awal pertemuan kami, aku sudah menyadari bahwa Yesung itu istimewa. Aku bisa merasakannya. Tapi jujur saja aku tidak menyangka aku akan terjerat hanya dalam waktu satu minggu. Aku mengira, pada waktu itu, bahwa aku akan bisa selamat karena toh kami hanya berinteraksi selama 2 minggu. Aku mungkin sedikit khawatir kalau program ini akan berjalan selama 1 bulan atau lebih, tapi ini kan hanya 2 minggu… Ternyata itu pun terlalu lama.

Kameramen tiba-tiba menyentuh lenganku. “Bee ssi, kita sudah sampai. Ayo turun.”

Aku buka mataku. Kuhela nafas dalam-dalam berharap dengan demikian aku bisa melupakan pikiranku tadi. Kameramen sudah menungguku di trotoar dengan kamera siap merekam. Dia memberiku aba-aba untuk berbicara sambil turun dari bis.

Aku kini sudah tidak canggung lagi. Secara otomatis aku pasang senyumku dan mulai berbicara pada kamera seperti aku ini pembawa acara jalan-jalan. Yah, mengingat pekerjaan utamaku sebagai pemandu wisata sih memang aku sudah terbiasa dengan tugas ‘ngomong’ ini. Aku mulai cuap-cuap mengatakan apa yang sedang kulakukan sekarang, dimana aku berada, dan rencanaku menyanyi.

Lalu aku tiba di studio. Aku mengsms PD-nim untuk mengetahui dimana aku harus menemuinya. Jawabannya datang dengan segera. Dia menyebutkan satu ruangan, dan katanya dia telah menungguku di sana. Dia juga memberiku petunjuk arah menuju ruangan itu.

Tok tok. Aku mengetuk pintu ruangan yang disebutkan PD-nim dalam sms begitu aku menemukannya. Terdengar suara PD-nim menyuruhku masuk dari dalam ruangan. Aku masuk dan terkejut menemukan PD-nim tidak sendirian.

“Sungmin-a…” seruku.

“Noona, anyeong!” Sungmin tersenyum lebar ke arahku.

“Bee ssi, duduklah,” kata PD-nim menunjuk kursi di sebelah kursi Sungmin.

PD-nim tidak menyebutkan apa-apa tentang Sungmin tadi. Aku mulai menduga-duga. Jangan-jangan…

“Jadi, Bee ssi, Sungmin ssi juga menyanggupi penawaran kami. Rencananya kalian nanti akan bekerja sama. Sama seperti yang kalian lakukan kemarin, Sungmin ssi akan memainkan gitar sambil menyanyi berduet dengan Anda,” PD-nim memberi penjelasan, membenarkan dugaanku.

Aku membelalak menatap PD-nim lalu Sungmin. “Benarkah?” Aku benar-benar terkejut.

“Ne, Noona,” anak itu tersenyum lebar dan seperti biasanya, senyumnya mampu membuat hatiku berdebar lebih cepat. “Kita akan berduet.”

Aku mengatupkan kedua tangan di depan mulutku. “Aku… Saya… Wah, I’m speechless…” aku tergagap-gagap.

“Haha, emang kenapa?” Sungmin bertanya.

I mean… c’mon… ah, ani, maaf. Maksudku, kamu kan Super Junior. Dan aku akan berduet denganmu di acara tv?! Itu… itu… it’s such… something!” aku masih ga percaya dengan keberuntunganku.

PD-nim meyakinkanku bahwa memang inilah yang dia inginkan. Lalu Sungmin mengatakan bahwa aku hanya tinggal harus mengikuti instruksi PD-nim saja dan berkonsentrasi pada menyanyi. Sementara mereka menjelaskan, aku sibuk manggut-manggut. Otakku terasa bagai spons. Banyak banget informasi yang masuk dan kuserap, meski belum bisa kuproses dengan benar. Tahu-tahu saja PD-nim sudah mengakhiri penjelasannya, “Jadi begitu, Bee ssi. Malam ini Anda dan Sungmin ssi sebaiknya mulai membicarakan lagu apa yang ingin dinyanyikan.”

Aku menatap PD-nim, “Lagunya tidak ditentukan?”

“Saya pikir akan lebih mengena kalau kalian sendiri yang memilih lagunya. Sungmin akan mewakili para mempelai pria, sementara Anda bisa mewakili para mempelai wanita. Jadi lagunya diharapkan sesuai pemikiran kalian supaya berarti bagi pasangan masing-masing,” jelas PD-nim.

Aku dan Sungmin berpandangan. Lalu PD-nim meneruskan, “Malam ini tidak langsung latihan tidak apa-apa. Kalian tentukan saja lagunya dulu, dan mulai latihan besok. Kalau butuh bantuan, katakan saja pada saya.”

“Ne, PD-nim,” Sungmin menjawab.

“Jadi kalian saya tinggal untuk diskusi ya?” tanya PD-nim pada kami.

Kami hanya mengangguk. Dia tiba-tiba bicara lagi, “Oh ya, tapi saya berharap saya dapat secepatnya diberi tahu lagunya apa. Beri tahu saya begitu kalian sudah sepakat. Jangan lupa ya? Untuk latihan, kalian bisa pakai ruang latihan di lantai dua. Sekarang ini untuk diskusi kalian bisa pakai ruangan ini kalau mau.”

“Ne,” sahut kami berbarengan.

PD-nim lalu menyemangati kami untuk terakhir kalinya dan segera meninggalkan kami berdua. Kedua orang kameramen kami diperintahkan untuk mengikuti PD-nim, jadi untuk sementara kami hanya berdua.

Selama sesaat kami terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing sampai Sungmin memecah kebisuan di antara kami itu, “Jadi menurut Noona kita nyanyi apa?”

Aku menatapnya, “Kamu ga punya ide?”

Dia memajukan bibir bawahnya dengan menggemaskan, “Hng… agak susah juga sih…”

“Gimana kalau kita bikin konsepnya dulu?” aku mencoba memberikan ide.

“Maksudnya?”

“Maksudnya, kita tentukan dulu aja apa yang ingin kita tunjukkan. Apa perasaan terima kasih? Atau sedih karena harus berpisah? Atau perasaan bahagia karena sudah mendapatkan pengalaman berharga,” aku mencoba menjelaskan.

“Wah, bener juga. Kalau aku sih mungkin lebih ke perasaan sedih ya? Karena akhirnya harus berpisah.” Sungmin menentukan pilihannya.

“Tapi kita juga berniat mengapresiasi pasangan kita kan? Makanya ungkapan terima kasih menurutku sih penting juga,” ujarku.

Sungmin menangkap apa maksudku. “Hehehe, iya juga, Noona.”

Kami lalu terdiam. Ah, aku teringat sesuatu. Aku rogoh tasku, dan kukeluarkan iPodku. Kutatap Sungmin dengan pandangan girang. Dia balas menatapku senang. “Bener juga,” katanya. Dia lalu meraba saku celananya dan mengeluarkan iPhonenya. “Makin banyak pilihan, makin baik kan?” usulnya. Aku mengangguk.

Akhirnya kami sepakat mendengarkan koleksi lagu kami masing-masing dan kalau sudah terkumpul baru akan didiskusikan bersama. Kami segera mendengarkan iPod dan iPhone kami masing-masing. Di tengah-tengah proses itu, kameramen kami memasuki ruangan dan mulai berkata bahwa mereka akan mulai merekam. Salah satu dari mereka bertanya apa yang sedang kami lakukan. Sungmin lah yang menjelaskan. Sementara aku sudah asyik terlarut dengan lagu-laguku sendiri. Inilah kelemahanku yang lainnya. Lagu itu penghipnotis paling hebat untukku.

Kunikmati lagu milik Rain, Nae Yeoja. Ah, lagu ini romantis banget. Aku suka banget.

Tenggelam dalam lagu itu, aku meletakkan kepalaku di meja dan memejamkan mata. Tanpa bisa kucegah, bayangan Rain berganti dengan sosok Yesung. Kubayangkan pria itulah yang menyanyikan lagu ini utukku. Aku pun tersenyum senang.

Neoneun nae yeoja… Yes, I’m yours, Jongwoon-a…
Naneun noeye namja… I wish it’s true, Jongwoon-a…

Bahuku digoyang oleh Sungmin. Aku membuka mata terkejut. Dia mengatakan sesuatu tapi aku tidak mendengarnya dengan jelas. Kubuka earphoneku, dia bertanya lagi, “Noona lagi ngedengerin apa sih?” tanyanya penasaran.

Aku tersadar kalau aku udah senyum-senyum sendiri. Kaya orang ketiduran dan ngimpiin hal bodoh. Ah, aku emang pabbo. “Ani, aku cuman suka banget lagu ini,” kuberikan earphoneku pada Sungmin.

Sungmin mendengarkan dan mengangkat alisnya sedikit, “Rain seonbae?”

Aku tersenyum sambil mengangguk. Dia ikut mengangguk-anggukkan kepalanya mengikuti lagu, membuat senyumku semakin lebar. Dia kemudian mengulurkan sebelah earphone padaku dan mengajakku berdiri. Dipegangnya tanganku lalu dia mengajakku menari.

“Ahahaha,” aku ketawa keras karena sikapnya. Dia begitu lepas. Membuatku ikut terbawa spontanitasnya. Kami menari-nari sesuai mood lagu. Lagu yang romantis, enak didengar dan memberi suasana riang di hati. Untuk sesaat aku melupakan hari perpisahanku dengan Yesung. Sungmin berhasil mengalihkan perhatianku.

Akhirnya lagu selesai dan kami berhenti menari. Tiba-tiba suasana terasa canggung. Tapi tak lama, sebab aku merasa lucu. Lucu sekali kami ini. Menari-nari seperti orang gila, sesudahnya malah malu-malu. Aku tertawa. Rupanya tawaku menulari Sungmin sehingga dia pun ikut tertawa.

Setelah duduk kembali, kami sepakat untuk meneruskan mencari lagu-lagu. Kembali larut dengan pemikiran kami masing-masing sampai akhirnya salah seorang kameramen menarik perhatian kami dan bertanya, “Apa kalian tidak lapar?”

Kulihat HPku, dan di sana tertera sudah pukul 7.30. Omo! Tak terasa sudah lewat 2 jam sejak aku datang ke studio. Kulihat Sungmin juga sepertinya terkejut. “Ah iya, aku baru sadar kalau aku lapar. Noona, kamu laper ga?” ia bertanya padaku.

“Ya. Hehe, aku juga laper.”

“Kalau begitu ayo kita cari makan aja dulu,” ajaknya sambil berdiri membereskan iPodnya.

Kami lalu memutuskan untuk mencari yang praktis, yaitu memesan jajangmyun. Aku yang memesan ke tempat langgananku. Sambil menunggu, aku bilang pada Sungmin bahwa aku ingin melihat tempat latihan. Lalu dia bilang untuk pergi bersama saja, sambil meluruskan kaki. Dia mengambil gitar yang ternyata dibawanya dan menghampiriku. Kami lalu berjalan bersama.

Kami sampai di lantai dua dan menemukan ruang latihan yang disebutkan oleh PD-nim. Aku memasukinya dan takjub. Ini pertama kalinya aku berada di tempat seperti ini, dimana salah satu dindingnya dilapisi kaca yang sangat besar dan terdapat palang di depannya. Susuatu yang selama ini hanya aku lihat di tv-tv. Kuungkapkan perasaanku pada Sungmin dan dia tertawa kecil, “Yah, ruangan latihan emang selalu begini.”

“Kalian sering latihan di sini?” aku menoleh padanya.

Dia menggeleng. “Ga di sini. Aku belum pernah latihan di sini. Kami punya studio sendiri yang disediakan oleh SME.”

“Waaaah,” aku terkagum-kagum mendengar penjelasannya. Mereka punya tempat latihan sendiri. Aku lalu menanyakan banyak hal mengenai dunia idol padanya. Dia menjawab setiap pertanyaanku dengan ringan. Kami terus mengobrol sampai akhirnya jajangmyun kami datang.

Kami putuskan untuk makan di studio. Tidak butuh waktu lama untuk menghabiskan makanan kami karena kami ternyata sangat lapar. Setelah membayar dan memberikan waktu bagi perut kami untuk mencerna selama beberapa menit, Sungmin bertanya padaku, “Jadi Noona udah menemukan lagu apa aja?”

Aku mengeluarkan iPodku dan kutunjukkan playlist yang baru kususun. Dia memperhatikan lalu mengeluarkan iPhonenya. Kami pun segera terlibat dalam diskusi mempertimbangkan lagu mana yang paling cocok untuk kami bawakan. Kebanyakan lagu-laguku lebih slowbeat, sementara pilihan lagu Sungmin lebih variatif. Baru kusadari bahwa aku hanya memilih lagu-lagu yang kusukai saja, bukannya memilih yang sesuai kondisi.

Akhirnya daftar kami dengan cepat menyingkat menjadi beberapa lagu saja. Kami berusaha menyingkatnya lagi menjadi 3 lagu. Satu jam berlalu dan kami menyepakati The Promise milik Tracy Chapman, Lucky milik Jason Mraz, dan satu lagu yang merepresentasikan perpisahan, Rainy Days milik Oneway. Sebenarnya lagu terakhir agak terlalu menyedihkan, tapi mengingat itu adalah nyanyian di saat kami semua harus berpisah, maka aku dan Sungmin sama-sama tidak mau mengeliminasinya dari daftar.

“Ya sudah,” kata Sungmin. “Kita tunjukkan saja daftar ini pada PD-nim.” Aku menyetujuinya dengan anggukan. Kami sepakat bahwa Sungmin yang akan memberi tahu daftar ini pada PD-nim. Dan kami pun selesai. Tidak terasa waktu sudah pukul 9.30. Aku pun berpamitan pada Sungmin. Tapi dia mencegahku, katanya dia akan mengantarku pulang. Aku terima saja. Toh sudah malam.

Segera saja kami pergi dari studio dan meluncur pulang dengan mobil Sungmin. Sepanjang perjalanan kami lebih banyak diam. Entahlah, mungkin karena dari tadi kami sudah terlalu banyak bicara. Hanya kadang-kadang saja Sungmin menanyakan arah padaku yang aku jawab dengan seperlunya. Aku bisa merasa bahwa kami tidak memerlukan percakapan saat ini dan Sungmin pun sepertinya memiliki pemikiran yang sama denganku. Begitu sampai di rumah, Sungmin mengatakan dia ingin menyapa Yesung sehingga dia mengikutiku sampai pintu depan.

Ternyata Yesung belum pulang. Aku memandang Sungmin, “Gimana dong, Sungmin-a? kayaknya Hyungmu itu belum pulang.”

“Ya udah, ga papa. Aku langsung pulang aja kalau begitu…”

Sedang berkata begitu, kami melihat mobil Yesung memasuki tempat parkir. “Oh, itu dia datang,” kataku dengan kegembiraan yang datang entah dari mana. Capekku tiba-tiba hilang.

Sungmin menoleh dan mendapati Yesung sedang keluar dari mobilnya. Di tangga, suamiku itu sudah melihat kami berdua di depan pintu. Dia menaiki tangga sambil memperhatikan kami. Raut wajahnya aneh.

“Hyung,” sapa Sungmin begitu Yesung sampai di hadapan kami.

“Oh, Sungmin-a. Kok tumben kamu ke sini? Sama istrimu?” Yesung bertanya.

“Ani, aku cuman mengantarkan Noona. Tadi kami bertemu,” Sungmin menjawab. Pintar. Ga berbohong, tapi juga ga mengatakan seluruh faktanya. Memikirkan itu aku jadi antusias. Aku senang dengan pemikiran bahwa aku sedang mempersiapkan suatu kejutan untuk Yesung.

Yesung memandangku. “Kalian pulang bersama? Emang Sungmin ngapain ke RS?” Yesung langsung berasumsi sendiri.

“Ani Hyung, aku ga ke RS kok. Cuma tadi ketemu aja sama Noona pulang dari kantor SME.”

Aku tersenyum mendengar jawabannya. “Kalau gitu masuk aja sekalian, Sungmin-a. Mumpung Hyung-mu ini udah pulang,” kataku.

“Ah, ga usahlah. Kasian Minhyun nungguin aku di rumah sendirian. Aku langsung pulang aja,” tolaknya. Tanpa menunggu jawaban kami, dia segera beranjak menuruni tangga. “Aku pulang dulu, Hyung, Noona!” serunya sambil melambaikan tangan.

“Ngapain anak itu? Aneh bener?” Yesung mengerutkan dahinya.

Aku ga tau mau menjawab apa. Otakku seperti belum panas untuk menyusun alasan menutupi kegiatan kami. Jadi aku hanya mengangkat bahu.

“Kalian ketemuan habis pulang kerja?” dia nanya lagi, kali ini melihat ke arahku.

Suara klakson mobil Sungmin menandakan dia pergi. Aku menggandeng tangan Yesung, “Bukan ketemuan. Tadi kami ketemu. Beda itu…”

HP-ku berbunyi.

Kulepaskan tanganku dari lengan Yesung dan menjawab panggilan yang masuk. Dhera. “Halo, Dhe. Ada apa?” tanyaku langsung. Malam-malam begini ngapain dia telepon?

“Kak… Kakak cepet ke RS. Ria, Kak. Ria… Huhuhuu…” terdengar suara Dhera menangis.

“Dhe?! Ria kenapa?” aku langsung tanggap. Ria kenapa lagi?

“Ga tau, Kak. Sekarang dokter-dokter lagi pada sibuk di kamarnya Ria. Kami ga tau ada apa, tapi kayaknya gawat, tolong Kak… Huhuhu… Kakak cepetan ke RS…” Dhera masih menangis.

“I, Iya, Kakak ke sana sekarang. Tunggu ya!” aku berseru karena ikut panik mendengar suara Dhera.

Yesung melihatku panik, dan langsung bertanya, “Wae geurae?”

“Ria. Aku ga tau. Kayanya emergency,” kataku bingung. Aku menuju ke tangga dan berseru pada Yesung, “Sayang, mianhe. Aku harus ke RS dulu.”

Ternyata dia menyusulku. “Gathi ga,” ujarnya menjejeri langkahku, menuntunku menuju mobilnya. Aku menurut saja. Kondisi Ria saat ini sudah memenuhi pikiranku.

Di mobil aku mengatakan pada Yesung apa yang dikatakan Dhera. Aku ungkapkan juga ketakutanku. “Kogjongma. Kamu kan belum tau kondisi yang sebenarnya, ga usah stres gitu. Nanti maag-mu kumat lagi,” dia menenangkanku.

“Tapi aku ga bisa ga panik!” aku membantahnya langsung.

Dia menoleh ke arahku, lalu menggenggam tanganku dengan satu tangan. Ditatapnya mataku dalam. Seperti biasa, aku hanya bisa melihat pantulan diriku sendiri di matanya yang kecil. “Sayang, tenang,” katanya dengan lembut sekali. Baru kali itu aku mendengar nada bicaranya selembut itu.

Aku tersedot dalam pandangannya, sehingga Ria sedikit terlupakan. Kualihkan pandanganku ke tangannya yang menggenggamku dan kubalas remasan tangannya. “Ne,” kataku lirih.

Kuletakkan kepalaku ke sandaran kursi mobil. Tangan Yesung terus menggenggam tanganku. “Ini pertama kalinya untukku,” kataku hampir tak bersuara. Tapi Yesung sepertinya mendengarnya, sebab dia kemudian menjawabku.

“Ya. Kamu harus kuat.”

“Ne,” hanya itu jawabku. Kupejamkan mataku agar rasa tangan Yesung di genggamanku lebih kuat. Ibu jarinya perlahan menggosok telapak tanganku. Aku menikmatinya dan langsung bagai dihantam palu.

Ya ampun, apa yang kupikirkan?! Aku menikmatinya?! Itu ga boleh terjadi. Ga boleh. Bagaimana nanti kalau kami udah pisah? Aku pasti bakal sangat kehilangan dukungannya ini. Namun untuk melepas tangannya saat ini jujur saja aku ga sanggup. Aku membutuhkannya. Saat ini aku sanagt membutuhkannya.

“Sayang, kita udah sampe,” Yesung memberi tahuku.

Aku membuka mataku dan segera turun dari mobil. Aneh, aku emang masih merasakan ketakutan akan terjadi sesuatu yang serius pada Ria, tapi aku juga merasakan kekuatan untuk tenang. Aku dan Yesung menyusuri lorong RS cepat-cepat menuju kamar Ria. Kami ga memperhatikan orang-orang yang memperhatikan Yesung. Pikiranku sepenuhnya pada Ria, sementara Yesung kurasa hanya berusaha menyamai langkahku.

Aku tahu aku tidak seharusnya mengatakan hal ini, tapi aku bersyukur sayap RS tempat Ria dirawat adalah tempat dimana semua pasiennya memiliki penyakit serius, sehingga suasana di sini tidak terlalu ramai, disamping juga sekarang sudah lewat jam 10 malam. Di depan kamar Ria ramai berkumpul Dhera dan teman-temannya, juga ayah Ria. Begitu melihatku, ayah Dhera langsung menyambutku dengan air mata berlinangan.

Ada apa ini? Apakah kondisi Ria benar-benar memburuk? Aku tidak bisa menanyai dokter sebab mereka sedang sibuk merawat Ria. Akhirnya aku menanyakan pada Dhera apa yang terjadi. Awalnya Dhera hanya menangis diam dengan tatapan berganti-ganti antara aku dan Yesung. Baru setelah aku mendesaknya, dia menceritakan bahwa tiba-tiba seorang perawat mendatangi kamarnya tadi dan mencoba memberi tahunya untuk ikut ke kamar Ria. Dia pun mengikuti dan ketika melihat kesibukan para dokter yang merawat Ria, dia diberi isyarat lagi oleh perawat untuk mengabari keluarga Ria. Dan aku.

Jadi belum ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Tiba-tiba dokter keluar. Aku kenal dokter itu, “Dokter Noh, apa yang terjadi?” tanyaku padanya langsung.

Dia melihatku dan berkata, “Bee ssi. Syukurlah. Terjadi komplikasi hebat. Kami hampir kehabisan cara mempertahankannya. Nanti saya jelaskan lagi, saya harus ke ruangan saya dulu mengambil sesuatu sekarang. Tetap dampingi keluarga pasien,” dia berhenti sejenak, “bilang pada mereka untuk bersiap-siap dan kuat,” lanjutnya pelan.

Ya Tuhan… Aku limbung.

Yesung ternyata sudah berdiri di belakangku, siap menerimaku. “Bertahanlah,” itu katanya. Kutatap matanya dan aku merasa aku sanggup berdiri. Aku ga sendiri, dan aku dibutuhkan. Kurasakan tangannya mengelus pundakku dengan mantap, maka aku pun berjalan mendekati ayah dan teman-teman Ria.

Kuulangi kata-kata dokter tadi, dan mendapatkan tangisan yang lebih hebat dari sebelumnya. Membuat aku harus membelakangi mereka karena tak kuat melihat kesedihan mereka. Kutemukan Yesung di depanku, dan aku hanya bisa menatapnya nanar. Dia mengelus lenganku menenangkan.

Tiga puluh menit kemudian, aku sudah duduk di bangku. Tangis semua orang sudah berhenti dan mulut kami komat-kamit memohon doa. Aku tidak sadar sejak kapan, tetapi sekarang ini aku sedang menyandarkan tubuhku pada Yesung, sementara lengannya merangkul bahuku. Beberapa kali dia mengusap kepalaku.

“Dia masih begitu muda,” kataku.

“Ya,” Yesung menjawab.

“Mereka sedang liburan,” lanjutku. Yesung ga menjawab tapi tangannya mengelus pundakku. “Mereka bahkan pergi dengan hati orang tua yang tidak tenang. Anak itu harus bertahan. Pokoknya harus. Aku ga akan membiarkan ayahnya bersedih. Ya ampuun, mereka hanya ingin bertemu SUJU!” aku makin kalut dengan pikiranku sendiri.

“Aku juga ingin melihatnya,” Yesung berkata pelan.

Aku terdiam sesaat mendengar jawabannya. Lalu, “Gomawo.” Kuputar kepalaku ke arahnya, “Gomawo,” kataku lagi. Dan lagi, “Gomawo, gomawo, gomawo, gomawo, gomawo,” sambil menatap matanya.

Gomawo Jongwoon-a. Untuk menemaniku di sini. Untuk memberiku kekuatan. Untuk ikut mendoakan anak malang itu. Bahkan ketika kamu tidak mengenalnya.

“Dokter Noh!” tiba-tiba seorang perawat berteriak mengejutkan kami. Aku serta-merta bangun. Kulihat Dokter Noh datang berlari mendekati kamar Ria. Sepuluh menit kemudian dia keluar dengan dahi berpeluh. Dia memandangku, dan aku merinding melihat pandangannya. “Maaf,” katanya. “Tak ada yang bisa kami lakukan lagi. Tolong katakan pada keluarganya untuk mendampinginya. Mungkin tinggal beberapa menit lagi.”

Bibirku gemetar dan kakiku terasa lemas. Hanya tangan Yesung yang menjaga kesadaranku. “Pak…” ujarku memanggil ayah Ria. “Mari kita masuk, Pak. Bapak harus tabah…” kataku sambil berusaha agar suaraku tidak terlalu bergetar.

Ayah Ria memandangku tak percaya. Sementara Dhera sudah berlari masuk kamar, “Riaaa!! Ga, Ria! Jangan pergi Ria! Lu ga boleh pergi, Ria! Kita harus balik bareng ke Indo! Ria!!!!”

Aku menyentuh bahu ayah Ria, “Dia masih ada, Pak. Bapak harus kuat mendampinginya di…” ucapanku tertahan sesaat, “saat-saat…” beri aku kekuatan, Tuhan. Beri aku kekuatan untuk mengatakannya, aku mohon. “Di saat-saat terakhirnya…” akhirnya aku mengatakannya.

Wajah ayah Ria mengeras mendengar kata-kataku. Matanya kering. Dia mengangguk lalu melangkah kaku ke dalam ruangan, meninggalkan aku. Yesung meraih tanganku. Dia membimbingku ke arah kamar. Menanyakan pada dokter apakah kami boleh masuk. Dokter Noh hanya mengangguk.

Lalu kami masuk dan melihat tubuh Ria hanya tinggal ditopang dengan oksigen sementara mesin pendeteksi detak jantung di sebelahnya sudah berbunyi lemah sekali.

Dhera mengguncang-guncang tubuh Ria. “Ri! Bangun, Ri! Ria!” dia berteriak sekuatnya. Dia melihat sekeliling memohon siapapun agar membangunkan Ria. Tapi kami semua hanya manusia. Bahkan dokter pun menyerah. Mendadak anak itu menghampiri kami, menarik tangan Yesung ke samping tempat tidur Ria.

“Ria! Bangun, Ri! Ini ada Yesung Super Junior! Masa lo ga mau ketemu?! Katanya lo suka Super Junior! Bangun, Ria!” Dia menjerit histeris sambil melambai-lambaikan lengan Yesung di atas tubuh Ria. Kedua temannya yang lain memegangi kaki Ria, menangis sesenggukan.

“Ria, papa di sini,” ayah Ria bicara lembut sekali. “Nak, kamu sayang papa kan, Nak? Jangan begini, Nak. Bangunlah. Papa sama mama ga marah kok. Asal kamu pulang, Sayang. Papa udah sengaja jemput kamu ke sini lho nak,” air mata menetes pelan di pipi ayah Ria. “Kamu harus pulang sama papa. Masa papa pulang sendirian. Nanti mama kamu nanyain. Bertahanlah, Sayang. Jangan tinggalin papa,” dia menunduk mencium tangan anaknya, “Jangan tinggalin papa, Nak. Papa sayang Ria. Papa mohon jangan tinggalin papa…” tangis sang ayah sangat memilukan.

Ria tak bergeming. Tiba-tiba mesin pendeteksi detak jantung berbunyi keras dan panjang. Tak berhenti.

“Ria!” Seru kedua teman Ria di kakinya. Dhera tak berkata apa-apa, hanya menggeleng-geleng panik, terus mengguncang-guncang lengan Ria. Sementara ayah Ria tertunduk di atas tangan anaknya.

“Ria, kenapa kamu ga mau menuhin permintaan papa, Nak?” katanya tersendat.

Gigiku bergemelutuk menyaksikan itu. Dari belakangku Dokter Noh melangkah menuju tempat tidur Ria dan mulai mencabuti peralatan yang menempel di tubuh anak itu satu per satu. Tiba-tiba Dhera jatuh terduduk. Tangannya memegang erat tangan Ria. Pandangannya kosong. Entah sejak kapan Yesung sudah kembali ke sisiku. Ruangan itu kini sudah sepi. Hanya isak kecil dari kedua teman Ria, sementara ayah Ria dan Dhera tak mengeluarkan suara apapun. Mereka terlalu terkejut dengan kenyataan bahwa Ria telah pergi.

Dokter Noh menyentuh bahuku dan mengajakku keluar. Seperti zombie aku mengikutinya. Yesung mendampingiku.

“Saya tahu ini berat,” ucap Dr. Noh. “Tapi bisa Anda mengurus masalah administrasi secepatnya? Saya rasa itu akan sangat membantu keluarganya.”

Aku tak mengucapkan apapun. Dengan benak berputar-putar aku melangkah menuju kantorku. Yesung melangkah di belakangku, tak mengatakan apapun. Bahkan sampai di kantor pun, karena aku larut dengan pikiran, kesedihan, serta berusaha berkonsentrasi dengan tugasku, aku hanya diam saja dan Yesung juga ikut diam. Mendadak aku merasa sesak. Kuhempaskan kertas-kertas administrasi di atas meja.

Aku tahu aku bukan paramedis, tapi aku tetap saja kesal karena tak mampu berbuat apapun sementara keluarga Ria dan teman-temannya sangat bersedih akibat kehilangan. Aku bahkan belum sempat mengenal Ria. Anak yang punya cukup tekad untuk pergi berlibur dengan usahanya sendiri. Benakku dilanda berbagai macam pikiran. Sedih, putus asa, dan semuanya selalu kembali ke pertanyaan kenapa. Kenapa Ria harus pergi secepat itu? Kenapa?

Kuangkat kepalaku dari meja hanya untuk mendapati Yesung sedang meletakkan kepalanya di meja menghadap ke kepalaku. Membuatku terkejut, lalu tersenyum. Dia mampu membuatku tersenyum di saat seperti ini. Dia emang istimewa. Kuangkat tanganku, hendak mengelus pipinya, tapi ga jadi.

“Minggir. Aku mau nyelesein kerjaanku,” kataku pura-pura galak sambil menegakkan tubuh.

Dia pura-pura shock aku usir. Mulutnya mengerucut, ekspresinya seperti anak kecil mau nangis. Tapi dia bangun juga. Sementara aku tetap tidak memberinya kesempatan. Aku tetap pura-pura ga mau bercanda. Kurapikan kertas-kertas yang telah kuisi. Lalu aku melangkah menuju filling cabinet di belakang mejaku, kuambil selembar formulir pernyataan kematian, dan kesedihan itu kembali datang.

“Aku mau cari kopi dulu,” Yesung mengejutkan lamunanku.

Aku tidak menjawab. Tapi sepertinya memang tidak perlu. Dia sudah keluar.

Aku berbalik menuju mejaku dan melanjutkan pekerjaan. Aku melakukannya dengan hati-hati seolah-olah hidupku bergantung padanya. Sebab aku harus berkonsentrasi, kalau tidak pertahanan diriku untuk tetap tenang bisa jebol.

Sodoran gelas dari Yesung mengagetkanku. “Teh hangat dengan susu dan gula. Kurasa kamu membutuhkannya,” katanya.

Aku mengambil gelas dari tangannya dan meneguk sebanyak yang aku mampu, “Gomawo,” kataku. Lalu melanjutkan pekerjaanku lagi. Ketika selesai, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 1.30 pagi. Kulihat Yesung udah jatuh tertidur di kursi sebelahku. Kasihan suamiku ini, dia pasti lelah sekali.

Aku beranjak dari mejaku hendak menuju ke kamar Ria dimana ayah dan teman-temannya sedang menunggu. Berhati-hati aku melangkah agar ga ngebangunin suamiku. Begitu berhasil, aku segera menyelesaikan pekerjaanku. Mengurusi pengiriman jenazah, mengatur penerbangan, serta membantu mereka dengan klaim asuransi. Harus kuakui mereka anak-anak yang pintar. Sebelum perjalanan, mereka bahkan sempat kepikiran tentang asuransi. Sesuatu yang jarang dipikirkan remaja Indonesia. Sayang sekali semuanya harus berakhir dengan duka.

Urusanku selesai ketika jam di HP-ku sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Aku segera kembali ke kantorku, membangunkan Yesung dan kedua kameramen. Mereka sesaat tampak bingung, tapi tidak lama. Kukatakan bahwa urusanku udah selesai dan kita bisa pulang. Mereka segera bangun dan kami melangkah keluar RS bersama-sama. Untukku, udara di luar saat ini sangat dingin sekaligus sangat segar. Aku membutuhkannya, sesuatu yang menggangguku secara fisik sehingga mengalihkanku dari perasaan yang sedang kacau.

Satu jam kemudian kami telah sampai di rumah. Yesung menyuruhku untuk tidur di kamar malam ini tepat sebelum aku menjatuhkan diriku ke sofa. Maka aku pun melangkah menuju kamar. Kudengar samar-samar Yesung beraktivitas di kamar mandi. Aku malas sekali rasanya, jadi aku langsung tidur aja. Begitu memasuki kamar, Yesung yang melihatku bahkan tidak mengganti bajuku, mendekatiku. Dia melepaskan jasku, lalu membalik badanku yang tengkurap. Di tangannya terdapat rangkaian pembersih muka miliknya. “Ayo bersihkan dulu mukamu,” katanya.

“Ga,” jawabku singkat dan tegas.

Dia lalu naik ke ranjang dan memangku kepalaku seperti kemarin malam. Tanpa menanyaiku lagi, dia segera membersihkan mukaku. “Apa kamu ga mikir?!” tanyaku ketus padanya.

“Apa?” jawabnya.

“Apa kamu ga mikir bahwa aku juga pengin tidur tanpa membersihkan muka?” tanyaku masih dengan nada dingin sedikit sinis. Aku memancing pertengkaran dengannya, aku tahu. Tapi itu keluar begitu saja.

Ternyata reaksinya di luar dugaanku. Dia hanya menjawab singkat, “Aku tau. Tapi aku ingin membersihkan wajahmu.”

Dan itu meluruhkan semuanya. Mataku yang tertutup terasa memanas dan tanpa bisa kucegah air mataku mengalir. Aku yakin dia melihatnya, tapi dia tidak mengatakan apapun. Hanya meneruskan membersihkan wajahku. Ketika aku merasa bahwa dia sudah selesai, aku segera bangkit dan menuju kamar mandi setelah mengambil pakaian ganti. “Terima kasih,” kataku padanya tanpa memandangnya.

Aku masuk kamar mandi dan menangis tertahan di sana. Kenapa? Kenapa Ria harus meninggal? Kenapa? Kenapa di saat itu ada Yesung di sisiku? Kenapa Yesung baik sekali padaku? Apa yang akan terjadi padaku waktu dia pergi? Aku harus bagaimana?!

Aku sengaja berlama-lama di kamar mandi, berharap Yesung sudah tidur saat aku keluar. Dan harapanku tidak sia-sia. Semua lampu kecuali lampu kamar sudah dimatikan ketika aku keluar. Meski demikian aku tetap melangkah ke kamar berkalung handuk, menutupi sebagian wajahku. Ah, hari ini aku merindukan tempatku yang sepi.

Aku mematikan lampu kamar dan mencoba untuk tidur. Kurasa aku bisa tidur, tapi tak pernah nyenyak. Setiap beberapa menit sekali aku terbangun, terbayang RS, kesedihan ayah dan teman-teman Ria, dan bahkan aku sempat memimpikan Yesung berjalan menjauh meninggalkanku. Pikiranku benar-benar kacau. Aku berkali-kali ke kamar mandi karena merasa mual, tapi tak ada yang kukeluarkan. Sepertinya maag-ku kumat lagi.

Pada jam 5 pagi, untuk yang ketujuh kalinya aku ke kamar mandi, dan aku terkejut ketika Yesung menyusulku ke sana. “Aku ga bisa tidur gara-gara kamu bolak-balik terus ke kamar mandi, tau!” sergahnya. Walau kata-katanya seperti itu, wajahnya sangat khawatir melihatku.

Aku yang sedang duduk di toilet memandangnya nelangsa, dan air mataku mengalir begitu saja. “Hik..mian…hik,” aku meminta maaf sambil terisak.

Yesung melihat keluar kamar mandi lalu menutup pintu meskipun tidak ada kamera yang merekam kami. Kurasa para kameramen itu juga kelelahan setelah seharian mengikuti kami.

“Mian… hik… jeongmal mian…hik…he…” akhirnya aku ga kuat lagi menahan tangisku. Akhirnya semuanya tertumpah malam ini, di kamar mandi. Aku menangis tanpa suara, dengan badan bergetar. Menangisi Ria, Dhera, teman-temannya, ayahnya, juga menangisi perpisahan kami minggu depan. Jujur saja hari ini aku lelah sekali. Secara emosional, aku lelah sekali.

Yesung berjongkok di hadapanku. Diusapnya air mataku, lalu dipeluknya aku. “Ssst,” ujarnya berusaha menenangkanku. Dia menggoyang-goyang badannya dengan ritme yang menenangkan, tapi aku belum bisa berhenti. Air mataku tidak mau berhenti mengalir. Aku terus meminta maaf, untuk semuanya.

“Baru kali ini, hik… pasienku meninggal, hik…” ujarku sesenggukan ketika aku sudah lebih bisa menguasai diri. “Padahal aku… huhuhu…”. Aku ingin mengatakan bahwa aku sudah membayangkan akan menghibur Ria dengan mengenalkannya pada Yesung ketika anak itu siuman. Tapi rupanya itu ga pernah ditakdirkan untuk terjadi. Dan hal itu membuat kesedihanku kembali lagi. Aku terisak-isak di dada Yesung, membuat piyamanya basah.

Aku mengangkat mukaku dan berdiri. Kuhampiri wastafel dan mencuci mukaku. Aku tidak ingin menangis lagi, tapi aku tidak bisa. Air mataku terus keluar. Dan aku menunduk di depan kaca. Rasanya begitu tak berdaya.

“Jangan begini, Sayang. Kumohon berhentilah.” Yesung membujukku.

Aku menggeleng-geleng tak mengerti. Meski memang bukan salahku, tapi kenapa aku merasa resah begini?

“Jangan begini,” bisiknya.

“Wae? Wae?” aku bertanya padanya. Aku tahu dia tidak bisa menjawabnya, tapi aku harus bertanya.

Dia mengusap air mataku dengan gemas lalu tanpa peringatan mencium bibirku. “Jangan begini,” katanya setelah melepaskan ciumannya.

Meski terkejut air mataku masih mengalir. Yesung yang melihatnya meletakkan kedua tangan di pipiku, berbisik “Jangan begini, jebal…” sebelum menciumku lagi.

Ciumannya kali ini lebih lembut dari yang pertama. Hanya bibirnya yang mengecup bibirku. Dia menahanku lama dalam genggamannya. Bibirnya yang kering mengusap-usap bibirku. Kehangatannya tersalurkan. Kalau aku ingin tangisku berhenti, udara dingin adalah yang kubutuhkan, tapi yang kubutuhkan saat ini adalah melepaskan beban di hati, dan aku baru tahu bahwa ciuman Yesung bisa menjadi solusinya.

Pikiranku memudar, inderaku akan keberadaan Yesung menguat, dan kelembutannya memberi aku kekuatan. Kuangkat tanganku ke dadanya, berpegangan padanya, lalu mulai membalas ciumannya. Bisa kurasakan dia terkejut, sehingga melepaskan ciumannya.

Dia menatapku tak percaya, sementara aku menatapnya datar. Aku hanya ingin menciumnya karena dia yang mulai, apa itu salah? Dengan cepat kutarik nafas, mencegah lendir keluar dari hidungku, sambil masih menatapnya. Tangannya perlahan turun dari pipi ke leherku. Dia menarikku hingga mendekat padanya. Ibu jarinya digunakan untuk mengangkat daguku. Pelan sekali dia menurunkan bibirnya menutupi bibirku. Gerakan itu sangat pelan, tapi kuat. Dia menghisap bibirku dengan pasti. Kali ini bibirnya agak terbuka sehingga ciuman kami agak lembab. Tidak sabar, aku mengalungkan tanganku di lehernya dan membuka bibir.

Itu, adalah segalanya. Seolah semua segel di antara kami akhirnya terlepas. Dia menciumku seperti orang gila. Bibirku dijelajahinya satu per satu, lalu tanpa basa-basi lidahnya memasuki mulutku, membuatku melenguh pelan. Tubuhku bergerak otomatis mendekatinya. Tangan kiriku merayap turun di dadanya dan tangan kanannya menarik pinggangku ke arahnya. Tubuhku dan tubuh Yesung sekarang melekat dengan erat, sementara lidah kami bertemu, menyesap rasa masing-masing.

Kutelusuri leher Yesung dengan jariku, sementara tanganku yang lain meremas piyamanya. Dia melepaskan ciumannya sesaat lalu segera menciumku lagi, seolah tak bisa bernafas jika tak melakukannya. Tangan kanannya mencari tanganku di dadanya lalu menautkan jemari kami. Remasannya kuat.

Karena kami terus bermain lidah, bibirnya menjadi semakin licin dan mudah terlepas. Membuatku gamang. Kulepaskan tangannya, kutarik lehernya ke arahku hingga dia terhuyung menabrak toilet. Ciuman kami terlepas. Sambil menatap matanya aku menekan bahunya agar duduk di toilet. Dialah peganganku saat ini. Aku membutuhkannya. Aku tak lagi menyadari dimana kami berada, aku hanya menyadari posisi kami masing-masing.

Kuamati wajahnya dengan teliti. Jari telunjukku mengikuti arah pandanganku. Matanya, alisnya, pelipisnya, tepi rambutnya. Kusisirkan jemariku dalam rambutnya lalu kutelusuri lekukan telinganya, membuatnya mendesah, kemudian telunjukku bergerak turun ke dagunya, dan akhirnya ke mulutnya. Jariku bermain di sana, menggodanya sampai dia tak tahan lagi dan menggigit jariku pelan, lidahnya mempermainkan jariku di dalam mulutnya. Matanya tak sekalipun beranjak dari wajahku.

Aku menggeliat di atas tubuhnya. Kutelan ludah lalu dengan tak sabar merengkuh kepalanya lagi, menciumnya sedalam yang aku bisa. Mengeksplorasinya sedetil yang aku mampu. Di satu titik aku membuka mataku dan mendapati matanya sedang memperhatikanku. Keluarlah kalimat itu, “Matamu kecil sekali.”

Seketika dia terdiam, berhenti membalas ciumanku. Pandangannya tampak kesal. Aku duduk di pangkuannya. Kucium rahangnya, kutelusuri pelan-pelan menuju dagunya lalu kembali ke bawah telinganya. “Mian,” kataku. “Tapi aku menyukai matamu yang kecil, karena ketika aku melihat ke dalamnya, aku hanya melihat diriku di sana, ga ada yang lain…” bisikku pelan.

Yesung menghentikan gerakanku, memandang wajahku, “Geotjimal,” ujarnya menyangsikan kata-kataku.

Aku tersenyum lalu merangkul lehernya. Kuletakkan hidungku tepat di tengah lehernya dan kuhirup aromanya dalam-dalam. “Aromamu… Aku suka,” ujarku pelan. Terus kuciumi lehernya sambil makin merapatkan tubuhku ke tubuhnya hingga bisa kurasakan sesuatu yang keras mengganjal di bawah tubuhku. “Geotjimal anieyo,” aku berbisik kali ini. “Jinjjayo,” terusku sambil menolehkan wajahnya ke arahku dengan tangan.

Aku melihat kilatan di matanya. Tangannya meraih pinggangku, menekannya ke bawah sehingga tubuhnya yang mengeras semakin jelas kurasa. “Geureom, haruskah kita lanjutkan?”

Dia menyerahkan keputusannya padaku. Membuatku menelan ludah.

Ria sudah lama menghilang dari benakku. Kesedihan ayahnya sudah menguap dari tadi. Tangisan Dhera sudah terhapus begitu saja ketika bibir Yesung menyentuh bibirku. Meski demikian aku masih memiliki kesadaran walau sedikit. Kupeluk dirinya erat, “Mianhe, Jongwoon-a. Aku ga bisa.”

Dia terdiam membiarkan aku memeluknya. Air mataku keluar lagi tanpa isakan. Kali ini untuk rasa putus asa yang demikian besar. Aku sangat menginginkannya, tapi aku ga bisa. Jika aku menyerah sekarang, aku ga tahu apakah aku masih akan hidup minggu depan ketika kami sudah ga bersama lagi. Untunglah aku sedang datang bulan. Paling tidak itu hal yang paling nyata yang bisa kami jadikan alasan untuk ga melakukannya.

“Sayang…” panggilnya setelah beberapa saat kami dalam posisi itu. Aku membalasnya dengan membelai rambutnya. “Punggungku… pegal,” ujarnya.

Aku terbatuk kecil. Kulepaskan pelukanku dan manyun di depannya. Tanpa jeda dia segera memagut bibirku singkat. “Jangan menggodaku,” ujarnya. “Aku ga tahu apa masih bisa menahan diri kalau kamu menggodaku lagi.”

Tapi aku masih ingin dicium olehnya. Kumiringkan kepalaku mendekati bibirnya. Sinar matanya memberi peringatan keras. Niatku segera berubah dari menciumnya lagi ke menggodanya. Kubisikkan satu kalimat ke telinganya, “Tenang saja, aku sedang datang bulan,” lalu segera bangkit dari pangkuannya.

“Jiisssh! Geurae! Arasseo!” dia terpaksa mengiyakan.

Yesung kemudian bangun dan menuju kaca, merapikan penampilannya, begitu juga denganku. Tatapan kami bertemu di cermin. Aku luluh dan memeluknya dari belakang. “Malam ini, terima kasih untuk semuanya,” kataku.

Dia menarik tanganku lalu membawaku ke sisinya. Diciumnya keningku, “Jangan sakit lagi. Jangan sedih lagi. Itu menyakitiku.”

Mataku berkaca-kaca mendengar kalimatnya. Benarkah dia peduli padaku?

“Ayo kembali ke kamar. Tidurlah dengan benar. Kamu butuh istirahat. Jangan sampe kameramen terbangun,” ajaknya.

Aku menurut. Kami pun keluar bersamaan. Dia mengantarkan aku ke kamar. Menyelimutiku. Sebelum dia pergi, kugenggam tangannya dan sekali lagi kuucapkan terima kasih padanya.

“Arasseo. Sekarang tidurlah,” jawabnya.

Aku pun memejamkan mata. Kali ini aku bisa mempertahankannya sampai matahari muncul.

 

 

 

D8-KKEUT.

 

17 thoughts on “[Freelance] The Marriage and Us {Day 8}

  1. uwaah, ria mati? sumpah mrinding yg bgian drs, kasihan.
    kya a a a akhirnya ciuman! hwaaa. pada napsu smw nich? kekeke.
    lanjut thor, tp jgn lama2, , ,

  2. Please akhirnya nikah beneran dong author hhu aku abis ujian baca ini pas bagian ria nya mati sumpah air mata udh diambang batas nahan2 abis malu nangis2 -_- part 9 segera ya author :)

  3. *clingak clinguk* wah aku komentator kedua nih?? ahahahay.
    si yesung ga nyatain dia suka apa ga ke bee y?? lgsg maen samber xD *ngiri dah ak baca kiss scene-nya* . kapan sungmin kayak gitu y?? /plakk

    kutunggu lanjutannya thor!! :D

  4. bikin sedih d’bagian prtama truz bkin mrinding bca trakhirx,,, bagus bget chingu,,, ditunggu klanjutannya

  5. pas ria meninggal sedih deh , tp pas adegan kisseu nya jd senyum lg ..

    Aaa mudah2n akhir nya nikah beneran ..
    Lanjutan nya buruan ya thoor ..
    Poko nya nii ff yg paling aku tunggu d wff ..

  6. kebawa suasana banget waktu ria meninggal. bikin merinding. dan itu kissing scene-nya kayanya penuh perasaan banget u,u part 9 jangan lama-lama yah eon. penasaran banget

  7. pas rianya meninggal aku pengen nangisss haddduuuuu
    tp pas kissu nya ammmpuuunn dah
    mereka dewasa bgt yaaahhh hehehehe
    like this banget lah…
    author daebak

  8. hwahhhh….
    sumpahh pinginn nagiss di part ini bner” mngurass air mata …
    duhh , adegan kiss’a ampuunn dechhh jdi pnginn…
    hahahah
    #gubrakk.. :p
    authorr daebakk…
    4 thumbs for u ..^^
    ditnggu part slanjut’a ..^^v
    jgan lma” iahh ..^^

    FIGHTING ..^^

  9. Aku…nangis. TT ampe ingusan jg nih.. Huwaaaa ak beharap Ria nya sadar, tapi..tapi… TT *titik emosi plg puncak wkt Ria ‘pergi’

    Nggg… Itu kisseu’nya hot bgt (,–) underage kids kudu lewat. LOL
    dan tiba2 smua pikiran ttg Ria dll meluap.
    *bee mual2 ky lg hamil, ehehe

    Ak ngerasa jd Bee deh. Deg2an kl ma min oppa, takut yesung mikir yg engga2. Takut sm seminggu yg akan dtg. Takut sm perasaan sndr.
    Tp mataku sama kecil ky mata yesung (-_-;) *hah?

    Bee author, blh request ga, critain ttg min oppa ama minhyun donk.. ^^
    dtunggu next chap <3

  10. sudah baca di blog lain….. sampe selesai….
    tapi masih suka baca lagii…. ooohh….
    Yesuung…. sediiihhh……………
    seneng…gemeeezzzz liat Yesung…

  11. ga tau ruz comment pa nh yx pasti
    di part nh banyx ekspresi nya dweh, dari cemburunya yesung pas bee d anterin ma sungmin
    suasana duka d rs n hot scene d rumah
    wuih bener2 perfect dweh nh ff
    good job dweh pokoknya

  12. unbelievable! kasian ria! padahal aq mikirnya dy bkln banguntrus cepet sembuh gra2 liat yesung! hiks hiks…

    tp ad hikmahnya y, yesung sm bee jd romantisss gtuuuu~ udh mulai nc nih. kekeke~

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s