[Freelance] Gomawo Saranghae part 1

Tittle : “Gomawo..Saranghae” (PART 1/2)

Author : Wari Hidayati a.k.a Shin Ai Reen

Main cast : Cho Kyu Hyun

                    Kim Eun Ri

Support cast : Shin Rae Jin

                        Cho Ha Jae

                        Kim Sun Ji

Rating : AG

Genre : Romance / Love, Family

Ps : This is my first FF, I need an assessment from you all …I need your help to make other FF …Previously Thank you for your attention all of you …

Cerita ini hanya fiktif belaka, apabila terdapat kesamaan karakter dan hal-hal yang menyangkut lainnya harap dimaklumi dan dimaafkan.

Oya, ini FF pernah dipublish disalah satu grup di Fb tapi nama pemainnya beda.

^^ GOMAWO..

***

Pagi yang cerah, tetapi tidak bagi kakak-adik Eun Ri gadis berusia 17 tahun dan Sun Ji adiknya yang berusia 7 tahun. Pagi yang cerah berubah menjadi kelam saat seorang ahjussi dan beberapa orang berbadan besar, berjas, dan berkacamata hitam suruhannya mendatangi rumah mereka.

Braaaakk!!! Pintu terhempas kedinding, sangat mengejutkan Eun Ri dan Sun Ji. Orang-orang betubuh besar tersebut menarik Eun Ri dan adiknya keluar.

”Ya!! Sesuai perjanjian, hutang ayah kalian harus dibayar sekarang, kalau tidak silahkan keluar dari rumah ini sekarang juga!” bentak ahjussi sambil menghisap sebatang rokok.

”Ahjussi, jebal, berikan aku waktu satu minggu lagi. Aku tidak mempunyai uang saat ini, dan aku juga belum mendapatkan pekerjaan baru. Aku janji, jika sudah terkumpul uang, pasti akan ku bayar berapa pun itu.” sahut Eun Ri sambil merangkul adiknya yang menangis.

”Mwo?! Satu minggu? Kau gila? Ya, aku sudah memberimu waktu mulai dari ayahmu meninggal, hingga saat ini. Mengapa kau tidak bisa juga melunasinya!” bentak ahjussi paruh baya tersebut.

”Bukannya aku tidak bisa melunasi hutang ayahku yang ini, tapi aku juga harus melunasi hutang-hutang yang lainnya. Jebal….Kasihanilah kami..berikan aku waktu untuk segera melunasinya…” Eun Ri berlutut dihadapan ahjussi tersebut sambil menangis.

”Aaaahh!!! Jangan banyak alasan! Ya, kalian, cepat keluarkan semua barang-barang mereka!”

Orang-orang berbadan besar dan kekar suruhan ahjussi itu pun langsung mengobrak-abrik rumah mereka. Eun Ri hanya bisa menangis melihat keadaan saat itu. Hingga akhirnya orang-orang suruhan tersebut keluar dengan membawa dua buah tas yang berisi pakaian. Namun tiba-tiba Sun Ji berlari kedalam dan keluar dengan membawa dua buah tas ransel dan dua buah boneka kesayangannya.

*Kyu Hyun dan Ha Jae POV

Pada pagi dan jam yang sama…

Tok…tok…tok…”Ha Jae ah…” (tidak ada jawaban)

Tok…tok…tok…”Ha jae ah…” (tetap tidak ada jawaban)

Kreeeekk….

Seseorang memasuki kamar Ha Jae dengan rasa penasaran yang kuat. Setelah sampai di dalam kamar, wanita itu membuka kain gorden yang masih memberikan efek gelap pada kamar. Dan kemudian berjalan mendekati tempat tidur.

”Ha Jae ah… Ha Jae ah… Ironna… Sudah pagi, ini sudah jam setengah tujuh.” perempuan itu berdiri tepat disamping kasur, sambil membuka selimut yang menutupi tubuh anaknya.

”Ha Jae ah… Bangun… Kau harus sekolah. Nanti kau terlambat.” ucap sang ibu dengan nada paksaan.

Namun tiba-tiba…

”Aaaaahh!! Ya! Omma ini apa-apaan! Aku masih mengantuk. Apa omma tidak bisa lihat aku sedang tidur?! Kenapa omma selalu saja mengganggu ku?! Aku mau tidur, dan jangan ganggu aku!”

Spontan, suara Ha Jae membuat sang ibu terkejut. Bahkan ibunya menahan tangis dan air mata. Namun begitu, wanita tersebut tetap membujuk anaknya itu untuk bangun.

Dari kamar yang tidak jauh dari tempat itu, Kyu Hyun dapat mendengar suara ibu dan saudara tirinya itu sedang bertengkar. Keadaan seperti itu sudah sering ia dengar. Walau begitu, Kyu Hyun sudah tidak peduli dengan mereka.

Kyu Hyun keluar dari kamar menuju ruang makan. Disana sudah duduk ayahnya. Dengan langkah yang tertahan dan pelan, Kyu Hyun mendekati meja makan.

”Huuh…Aku tidak tau lagi harus bagaimana untuk mendidik anak itu! Rasanya aku menyesal sudah melahirkannya.”

Tiba-tiba sang ibu turun dan langsung duduk tepat didepannya. Seketika itu juga air mata  ibu tirinya tersebut mengalir. Kyu Hyun yang duduk tepat didepannya hanya terdiam. Hatinya tergetar untuk menghapus air mata tersebut, tetapi ia tidak bisa.

”Kau!! Berhentilah menangis! Jangan seperti anak kecil! Dan kau, apa kau akan tetap duduk disana?! Apa kau tidak ingin sekolah hah!! Dasar anak sialan!”

Ayah memukul meja, suaranya yang lantang membuat suasana menjadi sangat hening. Kyu Hyun segera bangkit. Dengan penuh rasa hormat tetapi sedikit takut, ia membungkukkan badan berpamitan dengan ayah dan ibunya.

”A..Ak..Aku pergi dulu.” ucap Kyu Hyun terbata dan segera pergi.

Hening….

”Wae? Kenapa kau selalu memarahi Kyu Hyun? Kenapa kau selalu melampiaskan keadaan yang salah dan amarahmu pada Kyu Hyun? Kenapa kau selalu dingin padanya? Kenapa dari dulu kau membencinya?!” Perkataan ibu memecah keheningan saat itu. Wanita itu memulai pembicaraan dengan terisak-isak.

”Diamlah…” jawab pria itu tenang.

”Wae? Kenapa aku harus diam? Apa aku harus tetap diam melihat keadaan seperti ini? Bukankah ia anak kandungmu juga?! Kau memanjakan Ha Jae dibalik penderitaan yang dirasakan Kyu Hyun. Yang seharusnya kau perlakukan seperti itu adalah Ha Jae!”

”Pabo…Apa kau benar-benar pabo?! Mengapa kau ingin….”

”Ne, aku ini pabo. Aku ingin anakku juga diperlakukan sama dengan Kyu Hyun. Bahkan aku rela dan ingin Ha Jae merasakan apa yang dirasakan Kyu Hyun. Tetapi kenapa kau tidak pernah bersikap adil pada mereka?!”

”Diam kau!!” bentak sang suami sambil berdiri dan meninggalkan meja makan tersebut.

Kali ini pria itu benar-benar marah. Perkataan ayah mengakhiri semua masalah. Kyu Hyun yang tidak sepenuhnya keluar dari rumah, mengetahui jelas pertengkaran yang terjadi antara ibu tiri dan ayahnya tersebut. Rasa bersalah yang di pendam Kyu Hyun terhadap ibu tirinya itu semakin bertambah. Untuk kesekian kalinya ibu tirinya itu telah membela keberadaan dan haknya sebagai anak. Namun ia harus memendam rasa bersalahnya, sebab sang ayah membatasi hubungannya dengan sang ibu, dengan peraturan-peraturan yang sangat ketat.

*Flash Back*

”Bagaimana keadaan istri saya dok? Apa dia baik-baik saja?” tanya sang ayah.

“Dia sudah siuman, sekarang istri anda sedang istirahat.” dokter berbicara dengan ekspresi wajah yang kusut.

”Dokter, apa yang terjadi padanya?” ayah kembali bertanya, untuk memastikan bahwa istrinya dalam keadaan baik. Namun, dokter memintanya untuk menemui dirinya diruang kerjanya.

Diruang kerja…

”Dokter, katakan apa yang terjadi?”

”Hemp,, rasanya berat untuk mengatakan ini, sebab ia meminta saya untuk merahasiakannya dari anda. Tetapi demi kebaikannya, akan saya katakan. Hhhmmmm, istri anda menderita kanker rahim. Dan saya tidak bisa menjamin berapa lama ia akan bertahan. Ini masalah yang sangat rumit. Saya harap anda tidak kecewa dengan pemberitaan ini. Satu hal lagi, sepertinya istri anda tidak akan bisa mengandung seorang anak. Andaikan itu terjadi, itu hanyalah berkah dari Tuhan. Namun itu akan beresiko terhadap dirinya, maupun anak yang dikandungnya nanti.” Dokter pun keluar ruangan dengan wajah yang menyesal. Sebab ia sudah mengatakan yang tidak boleh dikatakannya. Namun dibalik itu ia juga puas, karena telah mengatakan semuanya, demi kebaikan pasiennya tersebut.

***

Ayah berjalan sangat pelan dilorong-lorong rumah sakit. Yang terbesit dihatinya kini hanya rasa bersalah. Bersalah karena selama ini ia tidak mengetahui penyakit yang dialami istrinya tersebut. Hingga akhirnya tiba dikamar tempat sang istri dirawat, ia hanya bisa menatap dengan tangisan, wajah sang istri yang sedang tertidur itu.

”Yeobo, kenapa kau menangis?” tanya istrinya yang terbangun beberapa saat kemudian.

”Huh?, A, oo,, ani.. aniyo. Aku tidak menangis. Mataku masuk sesuatu, makanya terlihat seperti menangis.”

”Kau bohong, aku tau kau sedang menangis. Sudahlah, aku tidak apa-apa. Jangan terlalu khawatir.” jawab sang istri tersenyum seolah tak ada terjadi sesuatu.

Ayah melihat wajah istrinya yang pucat itu. Namun tiba-tiba ia memberanikan diri untuk mengatakan semuanya.

”Justru kaulah yang berbohong padaku. Mengapa tidak kau katakan padaku sejak awal? Jika dari awal kau mengatakannya, akan aku usahakan memberikan perawatan yang terbaik untukmu, hingga kau bisa sehat kembali dan mempunyai anak. Kau tahu aku sangat menyayangimu, tetapi mengapa kau sembunyikan ini dari ku changi?”

Ayah menangis disamping wanita itu, menundukkan kepala dan menyesali semuanya, karna ia tidak memperhatikan kesehatan istrinya.

”Mianhae, aku hanya tidak ingin kau sedih dan kecewa. Maafkan aku karna sudah menyembunyikannya darimu. Sebenarnya aku ingin mengatakannya, tetapi karna kulihat kau sangat senang dan kau juga mengatakan kalau kau menginginkan seorang anak dariku, hal itu membuatku semakin merasa bersalah untuk mengatakannya padamu. Oleh karna itu aku menyembunyikannya, hingga akhirnya kau mengetahuinya sekarang.”

”Kau tidak perlu seperti ini changi, aku tidak akan memintamu lagi untuk memiliki anak. Aku tidak akan bisa hidup tanpamu.”

”Jangan menyesalinya, kalau kau seperti itu, aku yang akan lebih menyesal sudah membuatmu seperti ini.” pinta wanita itu.

”Ne, aku janji, aku tidak akan menyesalinya. Mulai sekarang aku akan menjagamu dan lebih memperhatikanmu.”

***

7 bulan kemudian….

”Yeobo, aku ingin mengatakan sesuatu.” ucap wanita itu pada suaminya.

”Ne, mwo?”

”Menikahlah dengan wanita lain. Aku tidak akan bisa memberikan anak untukmu.”

”Mwo??Apa yang kau katakan? Bukankah kita sudah berjanji untuk tidak membahas masalah ini lagi? Aku tidak bisa!”

”Kumohon menikahlah, aku tidak ingin ayah dan ibu kecewa dengan hal ini. Mereka sudah sangat lama ingin menimang cucu. Pikirkan posisi mereka juga. Jebal, jangan buat aku semakin bersalah dengan keadaan ini.”

”Shiro! Aku tetap tidak bisa! Jangan paksa aku untuk melakukan hal gila ini!” Ayah sangat marah dengan keputusan istrinya itu, ia kemudian pergi kekamar untuk menenangkan dirinya. Istrinya hanya bisa termenung, ia tidak tau harus berbuat apa. Namun tak lama kemudian, ia menyusul suaminya yang ada dikamar.

”Mianhae, tolong mengertilah keadaanku, dan juga keberadaan ayah dan ibu. Aku tidak bisa terus begini. Sudah empat tahun kita menikah, tetapi aku hanya memberikanmu kesedihan. Jebal.. Aku janji akan tetap menyayangimu seperti selama ini, setelah kau menikah nanti.” ucap sang istri meyakinkan kembali sambil memegang tangan suaminya.

Ayah hanya diam tanpa jawaban. Hari demi hari terus berganti, dan waktu pun terus berputar. Selama tiga minggu sang istri memohon dan meyakinkannya, akhirnya ayah angkat bicara.

”Ne, baiklah. Aku akan laksanakan permintaanmu. Dan ini juga demi ayah dan ibu.”

Ayah tidak tega melihat istri yang disayanginya memohon berkali kali padanya. Ia terpaksa melakukannya, sebab ia telah berjanji akan memberikan yang terbaik untuk sang istri. Dan keputusan inilah yang dianggapnya yang terbaik bagi istri dan juga dirinya. Mendengar keputusan ayah, ibu merasa sangat bahagia, tetapi sebenarnya didalam hatinya ini adalah kenyataan bodoh yang hanya akan membuat dirinya semakin sedih.

***

Setahun berlalu…

Kini suami yang dicintainya sudah memiliki istri yang baru. Istri yang juga menyayangi dan mencintai seperti ia menyayangi dan mencintai suaminya. Ia adalah perempuan manis yang sudah dianggap adik olehnya sejak masih kuliah. Ia sangat baik, selain memperhatikan suami mereka, wanita itu juga memperhatikan kesehatannya yang juga sudah dianggap kakak olehnya. Hingga suatu hari setelah setahun mereka menikah, wanita itu dikabarkan tengah mengandung tiga bulan. Ini memang kabar yang baik, tetapi juga kabar yang membuatnya sedih, karena sang suami akan lebih menyayangi istri keduanya dari pada dirinya.

 

Namun hal mengejutkan datang darinya. Selang satu bulan, kini ia pun dikabarkan tengah mengandung tiga bulan, ditengah penyakit yang dideritanya. Bagi sang suami ini bukan kabar baik, tetapi kabar buruk, ia teringat perkataan dokter beberapa waktu lalu. Jika hal ini terjadi, ia harus menerima keadaan yang buruk.

“Mwo?? Kau hamil?”

“Ne..Wae? Mengapa wajahmu tidak terlihat senang? Ooowh….Mungkin aku memberitahumu disaat yang salah.” Ibu tetap tersenyum walaupun suaminya tidak menunjukkan ekspresi bahagia padanya.

Namun perkataan ayah kali ini sangat mengecewakan ibu…

”Kau yakin dengan berita itu? Kau sungguh sedang hamil? Menurutku lebih baik kau gugurkan saja. Karena itu hanya akan…”

”Mengapa kau bicara seperti itu?? Kau tidak suka aku mengandung anakmu?? Kau keterlaluan! Disaat kau bahagia dengan kehamilan istri keduamu, aku ikut bahagia. Tetapi mengapa dengan kabar keadaan ku yang sekarang kau justru sebaliknya?! Aku tidak pernah menyangka kau akan seperti ini!” Ibu memotong pembicaraan ayah, lalu pergi meninggalkan ayah dan istri keduanya. Setiap ada hal yang membuat hati ibu sedih, ia akan pergi ke desa ketempat ibunya. Dan menceritakan semua hal yang dialaminya.

Ayah dan istri keduanya hanya terdiam. Ga In, istri kedua ayah merasa sangat bersalah pada perempuan yang dianggapnya kakak itu. Ia berusaha membujuk ayah untuk tidak menyakiti perasaan kakak yang disayanginya itu. Hingga akhirnya ayah menerima keputusan ibu untuk tidak menggugurkan kandungannya.

Lima bulan kemudian…

Hari ini adalah yang sangat ditunggu ayah. Ga In, istri keduanya, melahirkan bayi laki-laki, yang merupakan anak pertama mereka yang diberi nama Cho Ha Jae. Ibu pun ikut senang dengan kabar tersebut. Kini ia sedang mengandung 8 bulan, dan janin yang dikandungnya itu pun seorang laki-laki.

Selang sebulan ibu pun melahirkan, ayah sangat senang, tetapi juga sangat takut. Ia sangat takut jika akhirnya ia tidak bisa lagi bertemu dengan istri yang sangat disayanginya itu. Saat yang ditunggu pun tiba. Suara tangis bayi terdengar dari dalam kamar. Ayah dan Ga In sangat tegang. Dokter pun keluar dan memberitahu bahwa istri dan anaknya selamat, dan bayi tersebut adalah laki-laki. Ayah yang sangat cemas dan segera masuk untuk memastikan keadaan istrinya, yang kemudian disusul oleh Ga In. Melihat ibu yang tersenyum bahagia, ketegangan ayah pun hilang. Hal menakutkan yang ia pikirkan sebelumnya, kini sudah ia lupakan. Dan bayi mungil nan manis itu itu pun diberi ibu dengan nama Cho Kyu Hyun.

Hari demi hari dilalui oleh keluarga itu dengan bahagia. Namun kali ini berbeda, ayah lebih sering memperhatikan ibu dan Kyu Hyun dari pada istri keduanya dan Ha Jae. Walau begitu Ga In tetap mengambil sikap sportif. Ia sadar bahwa dirinya disini sebagai istri kedua. Ia menyayangi Kyu Hyun seperti ia menyayangi anaknya sendiri.

 

Kini kedua anak tersebut sudah berumur 5 tahun, dan keduanya adalah anak yang pintar. Kyu Hyun lebih sering menghabiskan waktu bersama kedua orang tuanya. Berlibur kedesa setiap minggu untuk menemui sang nenek. Namun berbeda perlakuan yang diberikan ayah kepada Ha Jae dan ibunya. Ia lebih sering dirumah, menghabiskan setiap musim bersama sang ibu hanya berdua. Hanya sesekali mereka pergi bersama-sama.

Tiga tahun berlalu, kini mereka sudah berumur 7 tahun. Mereka sudah mulai mengerti semuanya. Suatu hari Ha Jae menanyakan sesuatu yang membuat ibunya sangat terkejut.

”Omma, mengapa appa lebih sering pergi jalan-jalan bersama dengan mereka? Bukankah omma juga istri ayah? Bukankah kita bisa pergi bersama-sama dengan mereka?” tanya Ha Jae polos.

Ga In terkejut, ia tersenyum. Ia hanya memberikan sedikit penjelasan dan meminta anaknya untuk tidak menanyakan hal ini lagi. Ha Jae pun mulai merasa iri dengan Kyu Hyun yang lebih diperhatikan dibanding dirinya. Jika sebelumnya Ha Jae masih sering bermain dengan Kyu Hyun, kini ia lebih memilih bermain sendiri.

Namun kehidupan kembali berubah setelah kejadian tragis tersebut. Saat Kyu Hyun dan ibunya pergi untuk menemui sang nenek didesa. Kali ini Kyu Hyun yang meminta untuk bertemu dengan sang nenek, karena sudah sebulan mereka tidak bertemu. Saat didesa, tiba-tiba penyakit ibunya kambuh. Dan kanker yang diderita ibunya tersebut sudah mencapai stadium akhir. Kyu Hyun baru mengetahui jika selama ini ibunya menderita penyaki kanker. Ia segera meraih handphone ibunya, dan menelepon pada ibu tirinya.

Tak lama kemudian sang ibu dibawa kerumah sakit. Selama diperjalanan menuju kerumah sakit, sang ibu hanya berpesan pada adiknya itu untuk menyayangi Kyu Hyun seperti ia menyayangi anaknya. Ayah yang baru diberitahu langsung bergegas kerumah sakit. Namun terlambat, karena istri kesayangannya benar-benar telah pergi untuk selamanya. Ga In bersama anaknya mencoba untuk menenangkan Kyu Hyun yang sedang menangis, pada akhirnya ikut menangis. Ia tidak pernah mengira akan terjadi hal seperti ini.

Ayah kini lebih sering bersama Ha Jae. Setelah kepergian ibunya, Kyu Hyun lebih sering bersedih dan menyendiri. Ayahnya selalu menyalahkan dirinya, dan mengatakan bahwa dirinyalah penyebab ibunya meninggal. Sejak saat itulah Kyu Hyun memulai penderitaannya hingga sekarang, diperlakukan tidak baik oleh sang ayah, bahkan diberi aturan tidak boleh dekat dengan ibu tirinya. Namun sebaliknya, Ha Jae selalu di manja. Bahkan kini ia selalu bersikap seenaknya,  dirumah maupun di tempat umum.

*End Flash Back

***

”Sun Ji~ah, untuk sementara kau tinggal disini dulu ya. Disini tidak akan ada yang bisa mengganggumu. Lagi pula, disini kau memiliki ibu asuh dan juga teman baru.” Ucap Eun Ri secara lembut kepada adiknya.

”Onnie, kau juga akan tinggal disini kan bersamaku dipanti ini?”

”Hemp… Sepertinya aku tidak bisa tinggal disini bersamamu. Mungkin aku akan menumpang dirumah temanku, sambil aku mencari pekerjaan. Tidak apa-apa kan?” bujuk Eun Ri sangat lembut.

”Tapi aku tidak bisa tanpa onnie..” mata Sun Ji mulai berkaca-kaca.

”Mulai sekarang kau harus bisa changi. Aku janji akan menemuimu jika aku sudah mendapatkan uang yang banyak. Setelah itu kita akan hidup bersama lagi.” ucap Eun Ri meyakinkan adiknya.

Eun Ri pun pergi meninggalkan adiknya dipanti yang pernah dikelola oleh keluarganya dulu. Ia pun mulai menyusuri kota untuk mencari pekerjaan. Disaat itulah ia bertemu dengan Shin Rae Jin, seorang gadis yang juga seumuran dengannya. Ia juga mencari sebuah pekerjaan untuk membiayai kebutuhan hidup dirinya dan ibunya.

Rae Jin, hanya tinggal dengan ibunya. Hidup mereka terlunta setelah ditinggal oleh sang ayah yang tidak bertanggungjawab. Tanpa memberikan sedikit nafkah, ayahnya pergi menikah kembali dengan seorang janda kaya setelah perusahaan mereka bangkrut. Kini Rae Jin lah yang menjadi tulang punggung ibunya yang sudah sakit-sakitan tersebut.

Disebuah warung makan mereka melepaskan penat setelah seharian berkeliling mencari pekerjaan yamg belum juga mereka dapati.

”Ya..Eun Ri~ah, sepertinya kita mempunyai tujuan yang sama?” Rae Jin memulai memulai dengan senyuman yang terlihat polos.

”Huh, ee.. O? Ye…dan tujuan itu belum juga ditemui.”

“Hehehe, kau… jangan seperti itu. Nanti kita pasti akan menemuinya.Bersabarlah sebentar.”

”Ne, saking sabarnya, rasanya aku tidak sanggup lagi. Berkeliling kota sangat melelahkan. Dan tak satupun toko yang menerima karyawan baru.” Rutuk Eun Ri.

”Huufftt.. memang benar. Persediaan uangku juga tidak cukup lagi. Apa yang harus kita lakukan sekarang? Apa kita harus mengemis?”

Mereka tertunduk lesu. Seakan tidak ada harapan untuk hidup. Keadaan hening sejenak. Namun tiba-tiba seorang wanita datang dari arah belakang mengagetkan mereka.

”Annyeonghaseo..”

”Hoh.. a… ngg… Annyeonghaseo..” jawab mereka serentak sambil membungkukkan badan.

”Sepertinya kalian sedang putus asa? Kalau begitu kita sama. Perkenalkan namaku Han Ga In, tapi sekarang sudah menjadi Cho. Karena suamiku bermarga Cho.”

”Perkenalkan saya Kim Eun Ri”

”Dan saya Shin Rae Jin.”

Pembicaraan mereka terus berlanjut. Bahkan mereka terlihat sangat akrab, layaknya seorang ibu berbicara pada anaknya. Saat itulah Ga In menawarkan pekerjaan yang memang tidak mudah pada mereka.

”Aku membutuhkan dua orang seperti kalian untuk membantu mengurus dua orang anakku. Apakah kalian besedia?”

”Haah…ahjumma, Jinja?” tanya  Eun Ri.

”Ne, aku yakin kalian bisa membantuku. Hemp, ini kartu namaku. Jika kalian berminat, silahkan datang ke alamat itu. Aku tinggal disana.”

”Ye,, kami pasti akan datang. Kalau untuk mengasuh anak aku bisa melakukannya.” jawab Yu Ree semangat.

”Baiklah, kalau begitu aku permisi. Terima kasih atas waktunya. Oh ya, silahkan lanjutkan kembali makan siang kalian. Untuk biayanya, biar aku yang membayarnya.”

”Hoo, huh, o.. Kamsahamnida…”

”Ahjumma…. gomawo..”

Ahjumma pun pergi dan menghilang ditengah ramainya orang yang lalu lalang disepanjang trotoar. Eun Ri dan Rae Jin pun semangat kembali menjalani harinya.

***

Beberapa saat kemudian…

”Eun Ri~ah kau yakin disini alamatnya?”

”Ne, dikartu ini tertulis seperti itu. Sepertinya ini kompleks perumahan elite.”

”Waaah, berarti ahjumma itu orang yang sangat kaya. Beruntung sekali kita bertemu dengannya.” ucap Rae Jin.

Buugh..

“Aww..aahh.. Appo…Ya!! Kalau jalan pake mata!! Sakit tau!”

Tiba-tiba seorang namja tidak sengaja menabrak Eun Ri. Namja itu berpakaian sekolah rapi, tetapi wajahnya terlihat sangat kusut.

”Mianhae, aku tidak sengaja.” jawab namja itu pergi begitu saja.

”Huh! Mwo? Dasar namja kurang ajar. Apa kau tidak diajari sopan santuuun?!!” Eun Ri berteriak agar namja itu berbalik dan meminta maaf padanya. Tetapi sia-sia, namja itu terus berjalan tanpa menghiraukannya.

”Eun Ri~ah, gwenchana?” tanya Rae Jin cemas.

”Ne, hanya sedikit luka dilutut. Namja itu benar-benar tidak sopan!”

”Sudahlah. Lagi pula tujuan kita kesini bukan untuk bertengkar dengannya, tapi namja itu tampan juga ya..?” bujuk Rae Jin.

”Hemp, benar. Ayo kita lanjutkan mencarinya. Semangat lagi, pekerjaan baru sudah menunggu. Fighting!!” ucap Eun Ri menggebu-gebu.

Tak lama berjalan, mereka menemukan rumah yang dicari. Rumah itu merupakan yang paling besar dan mewah diantara rumah yang lain. Dengan dijaga oleh 5 orang security, rumah itu seolah tidak bisa dimasuki siapapun.

Ning nong, ning nong… mereka memencet bel di luar rumah tersebut.

Tak lama keluar seorang security berbadan tegap, besar dan tinggi. Ia melihat-lihat Eun Ri dan Rae Jin, baru mulai bicara.

”Kalian tamu nyonya? Eun Ri dan Rae Jin?”

Eun Ri dan Rae Jin mengangguk serentak.

Security pun membukakan gerbang, dan mempersilahkan mereka masuk. Mereka sangat kagum melihat keadaan luar rumah yang tertata rapi dan indah. Tanpa sadar mereka sudah didepan pintu masuk ruang tamu. Dan disana mereka sudah ditunggu oleh Ga In, ahjumma yang ditemui mereka tadi.

”Ada apa? Apakah ada yang terlihat aneh disini?” tanya Ga In sambil tersenyum melihat kedua orang yang ia tunggu.

”Oooh, ahjumma.. Mianhaeyo.. oo.. Annyeonghaseyo..” Eun Ri terkejut dan segera membungkuk mengucapkan salam, sambil diikuti Rae Jin.

”Aku sudah yakin itu kalian, makanya aku langsung keluar. Ayo, silakan masuk. Duduklah dulu, akan kuminta pembantuku membuatkan minuman untuk kalian.”

”Ne gomawo..”

Lagi-lagi mereka dibuat kagum dengan isi rumah yang serba antik dan mewah. Kali ini mata Eun Ri tertuju pada dua buah foto dengan seorang laki-laki yang sama, tetapi dengan wanita dan anak yang berbeda. Namun ahjumma dapat mengetahuinya.

”Ah..Itu foto keluarga kami. Perempuan itu kakakku dan ia sudah meninggal. Memang bukan kakak kandung, tetapi ia sudah seperti kakak bagiku. Dan itu anaknya Cho Kyu Hyun. Kami memiliki suami yang sama, dan itu anakku, Cho Ha Jae. Kelahiran mereka hanya berbeda bulan.” jelas ahjumma.

”Oouuh, mereka sangat tampan. Lalu mengapa anda bisa menikah dengan pria yang sama?” tanya Rae Jin padanya.

 

Ahjumma pun mulai bercerita dari awal. Sesekali ia meneteskan air mata mengingat masa lalunya. Mereka pun ikut menangis dan merasakan kesedihan yang dialami ahjumma dan Kyu Hyun anak tirinya. Hingga akhirnya ahjumma tersebut selesai bercerita.

”Mian, aku membuat kalian menangis. Minumlah, pasti kalian sangat lelah.”

”Ne, gomawo..”

”Hemp, ahjumma, kapan kami bisa mulai bekerja?” tanya Eun Ri.

”Terserah pada kalian. Jika kalian bisa sekarang itu lebih baik. Oh ya, aku sudah menyiapkan kamar untuk kalian masing-masing. Jadi kalian bisa tinggal disini selama bekerja denganku. Kamarnya ada diatas, mari ku antarkan.”

Mereka mulai berjalan. Sesampainya diatas, Eun Ri dan Rae Jin semakin dibuat kagum dengan pemandangan taman belakang rumah yang mereka lihat dari dalam rumah. Dilantai atas terdapat 4 kamar, dua diantaranya sudah ditempati oleh Kyu Hyun dan Ha Jae. Kamar itu saling bergandengan. Dan kamar mereka berdua tepat diantara kamar Kyu Hyun dan Ha Jae.

”Nah…Itu kamarnya. Yang memasuki kamar nomor 2 dari ujung, berarti dia yang akan melayani semua kebutuhan Kyu Hyun. Tetapi, jika kamar nomor 2 dari sini, berarti akan melayani semua kebutuhan Ha Jae.”

(kamar kyu, ada dipojok alias kamar no 4(yang terakhir), mengarah keberanda dan ruang santai. Nah kalau kamarnya ha jae mengarah keruang fitnes dan lebih dekat dengan tangga).

Ga In pun menunjuk Rae Jin untuk mengurus semua keperluan Ha Jae, sedangkan Eun Ri diminta untuk mengurus Kyu Hyun. Dengan sifat Eun Ri yang dewasa, ia berharap, gadis itu bisa memahami sifat dan kepribadian, serta menyayangi Kyu Hyun. Sebab Ia sendiri tidak bisa memberikan kasih sayangnya pada Kyu Hyun karena aturan yang dibuat suaminya untuk tidak dekat dengan anak tirinya itu.

***

Malam hari pun tiba. Ini pertama kalinya bekerja dan mereka diberi pakaian khusus selama bekerja.

”Hemp, hari pertama tidak boleh mengecewakan! Fighting!!” ucap Eun Ri sambil merapikan rambut dan pakaiannya.

Ia pun keluar dan menyusul Rae Jin yang juga sedang bersiap untuk tugas pertama mereka.

”Rae Jin~ah, kau sudah siap?”

”Sudah. Ayo Let’s go!”ucap Rae Jin semangat.

 

Seperti biasa, malam ini Kyu Hyun tidak turun untuk makan malam. Biasanya ia makan sendiri setelah kedua orang tua dan kakak tirinya selesai. Hal ini dikarenakan sang ayah yang sangat tidak menyukai Kyu Hyun semenjak kejadian beberapa tahun silam.

”Ya….Kalian, kemari. Perkenalkan ini suamiku. Aku meminta mereka membantuku untuk mengurus anak-anak. Jika kau bisa membuat aturan, maka aku juga bisa membuat aturan dirumah ini. Tenang saja, aturan ini tidak akan meresahkanmu. Ini kulakukan untuk anak-anak, terutama Kyu Hyun. Jika aku tidak bisa menyayangi Kyu Hyun dengan sewajarnya karena aturanmu. Maka,aku hanya berharap mereka bisa melakukannya. Dan untuk Ha Jae, jika kau tidak mau menasehatinya, maka aku harap mereka bisa mengajarinya untuk lebih tidak arogan.” Ga In memperkenalkan suaminya pada Eun Ri dan Rae Jin, seraya berkata pada suaminya.

”Eun Ri~ah, tolong kau antarkan makan malam ini pada Kyu Hyun ya. Dan juga buah ini. Oh ya, selagi ia makan tolong kau kupaskan buah ini untuknya.”

”Baik nyonya, akan saya laksanakan.” Eun Ri pun pergi sambil membawa 1 nampan besar yang penuh dengan makanan. Dalam hatinya ia menggerutu ”Enak sekali hidup anak ini. Tinggal dirumah yang nyaman, lalu makan makanan yang seperti ini. Andaikan ayah dan ibu masih ada.”

Tanpa disadari ia sudah sampai didepan kamar Kyu Hyun.

Tok tok tok…

” Tuan muda makan malamnya sudah siap. Ini saya bawakan. Bolehkah saya masuk?”

Dari dalam kamar tidak ada suara balasan. Lalu dengan beraninya ia masuk tanpa izin Kyu Hyun. Didalam kamar yang tertata rapi dengan tirai jendela yang masih terbuka itu, ia tidak melihat sesosok orang pun. Tetapi ia tetap meletakkan makanan yang dibawanya tadi. Namun tiba-tiba seseorang dari arah belakang mengagetkannya…

”Kau siapa? Dan kenapa masuk kekamarku dengan membawa semua makanan itu?”

”Haaa..huuh…oo kau!! Huh, Kau yang tadi siang menabrakku kan? Mengapa kau disini?! Dasar tidak sopan! Sudah membuat kakiku terluka, sekarang masuk kekamar orang seenaknya saja. Keluar kau, keluar…?” bentak Eun Ri.

”Yaa yaa yaa!! Siapa kau?! Kenapa kau mengusirku.?!” Bentak Kyu Hyun tak kalah kuat.

”Ya! Ini kamar tuan mudaku. Tuan muda CHO KYU HYUN!! Mulai sekarang aku yang akan membantunya mengurus semua keperluannya (sambil menunjuk foto masa kecil Kyu Hyun). Kau juga pembantu disini ya? Owh, tidak kusangka. Ternyata kau bekerja disini juga. Pantas saja aku lihat wajahmu kusut tadi siang. Aku merasa aneh, kenapa nyonya bisa menerimamu bekerja disini ya….?” Eun Ri terus mengoceh, dan seolah tidak membiarkan orang yang ada dihadapannya untuk berbicara.

”Mwo?! Hah?!..Aku tidak salah dengar?! Huh.. okey, yang tadi siang aku minta maaf. Yaa! yeoja cerewet, dengarkan aku baik-baik (mendekati Eun Ri dan mendekatkan wajahnya ke wajah Eun Ri). Aku tidak butuh bantuanmu. Jadi, silahkan keluar, karena ini kamarku.(ia pun menunjuk foto terbarunya yang ada dirak buku).”

Eun Ri hanya terdiam melihatnya. Mulutnya seperti mendapat 100 jahitan, sehingga tidak bisa berkata apa-apa.

”Mmii,, mianneyo.. ss..ssaya tidak tahu kalau ternyata tuan muda sudah dewasa. Saya benar-benar tidak tahu. Hemp, perkenalkan, Eun Ri imnida 17 tahun, saya diminta nyonya bekerja disini untuk membantu semua keperluan tuan muda.”ucap Eun Ri sambil mebungkukkan badannya.

”Kau tidak dengar yang aku katakan tadi? Haruskah aku mengulangnya kembali? Huft,,aku ti…”

”Aniyoooo,,ne saya mengerti,, saya akan keluar. Tapi izinkan saya menutup tirai kamar tuan..”

Kyu Hyun belum mengatakan apapun, ia langsung berlari menutup tirai kamar itu. Kemudian membungkuk memberi hormat, sambil mengingatkan untuk tidak lupa menghabiskan makanannya. Dan ia pun berlari keluar dengan cepat seperti dikejar setan.

* Eun Ri POV

“Huft…Huh! Tidak sopan!! Benar-benar tidak sopan!!”

Duukk!..(menendang pintu kamar Kyu Hyun dari luar)

“Tidak tau terima kasih juga. Bisanya membuat jengkel!!”

Dukk!..

”Yaaaa,,,apa yang kau lakukan diluar! Menjauhlah dari kamarku! Kau mengganggu ketenanganku!” Kyu Hyun berteriak sekeras mungkin agar terdengar oleh pelayannya itu.

Mendengar teriakan itu Eun Ri segera kekamarnya, dan melampiaskan kekesalannya dikamar.

” Eun Ri ~ah, kau kenapa marah-marah sendiri?” tanya Rae Jin.

”Huft…hemp, aku kesal pada tuan muda. Benar-benar tidak sopan! Iiiiiiiihhh…. ”

”Umm.. Sepertinya hari pertama yang tidak baik. Tenanglah.. Hemp..karena tuan muda Ha Jae sedang keluar, jadi hari ini aku hanya disuruh membersihkan kamarnya. Kamarnya sangat berantakan. Yaaa, tapi masih bisa dibersihkanlah…”

”Kau tahu siapa tuan muda yang harus aku layani itu?! ”

”Ani,, aniyo.”

”Dia namja yang menabrakku tadi siang. Dan kau tau yang membuatku semakain marah? Dia mengusirku dari kamarnya. Padahal aku sudah baik-baik membawakan makan malamnya.”

”Mwo?! Namja tadi siang? Omo…kalau begitu tuan muda Ha Jae,,,aigoo… berarti kita bukan melayani anak kecil.?”

”Ne, sepertinya begitu…”

”Omo…adiknya saja sudah seperti itu, lalu bagaimana dengan kakaknya…? huft…”

Mereka tertunduk lesu dikamar Eun Ri. Tidak ada gairah dan semangat seperti semula.

Seminggu setelah mereka bekerja, mereka sudah dapat menyesuaikan diri dengan keadaan rumah. Tidak jarang mereka mendengar pertengkaran di antara anggota keluarga tersebut. Namun sedikit berbeda antara ayah dan Ha Jae, mereka terlihat jarang bertengkar.

***

Sebulan kemudian, Kyu Hyun mulai melakukan kesalahan yang membuat ayahnya sangat marah.

Suatu hari saat sarapan pagi ayahnya kembali memarahi Kyu Hyun, hanya karena masalah kecil. Kyu Hyun pun pergi ke sekolah dengan perasaan yang sangat jengkel. Karena kesalnya, ia tidak fokus mengikuti pelajaran disekolah. Di saat seperti itu, hanya satu tempat didatanginya. Ruangan yang sangat tenang dan didepannya dipenuhi dengan pepohonan. Daerah tersebut bahkan tidak pernah dikunjungi siswa. Tidak jarang ia datang ke tempat tersebut untuk menghabiskan waktunya.

Saat pulang sekolah, Kyu Hyun masih tetap di rungan tersebut. Sang ibu mencemaskannya, hingga hal tersebut diketahui oleh ayahnya. Saat itu waktu menunjukkan pukul lima sore. Lalu sang ayah pun mengutus bodyguardnya untuk mencari Kyu Hyun hingga ketemu. Hal tersebut didengar oleh Eun Ri, ia sangat khawatir dengan keadaan tuan mudanya.

”Ahjjumma, izinkan saya ikut mencari tuan muda. Bagaimanapun juga Ia adalah tanggung jawab saya.”

”Kau tidak perlu ikut mencari, para bodyguad itu pasti menemukannya.” Jawab Ahjjumma.

”Saya tidak bisa berdiam diri. Izinkanlah saya untuk mencarinya. Jika tidak saya akan merasa sangat bersalah pada nyonya dan tuan muda. Saya mohon…” Eun Ri berlutut di hadapan ahjjumma. Dan ahjjumma pun tidak bisa mencegahnya. Eun Ri segera berlari keluar, memulai pencariannya dengan membawa alamat tempat tuan mudanya sekolah.

***

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Bodyguard suruhan ayahnya belum juga menemukan Kyu Hyun. Sama halnya dengan Eun Ri, bahkan ia mulai putus asa. Ia pun terduduk dibawah pohon yang ada di depan ruangan tempat Kyu Hyun berada. Saat itu Kyu Hyun yang sedang tertidur, terkejut mendengar suara yang memanggil dirinya.

”Tuan muda….Di mana Anda? Kembalilah, Keluargamu menghawatirkanmu. Bahkan akupun sudah mulai putus asa mencarimu kemana-mana.”

“Yaa! Kau selalu saja menggangu ketenanganku”. (sambil menarik Eun Ri ke ruang tersebut dan menutup mulut Eun Ri dengan tangannya). Eun Ri yang saat itu sangat terkejut, hanya terdiam.

”Apa yang sedang tuan muda lakukan di tempat gelap ini ?”

”Sssst…Kecilkan suaramu. Aku tidak mau bodyguard itu menemukan kita”.

Eun Ri hanya mengganguk.

”Kau pelayanku bukan ? Mulai sekarang kau harus mendengarkan kata-kataku. Jangan katakan pada siapapun tentang tempat ini. Arraso ?!”

”Ne..Aku mengerti.” Jawab Eun Ri.

Setengah jam lamanya mereka tetap menunggu di ruangan tersebut hingga para bodyguard tersebut pergi.

Akhirnya mereka pun pulang. Selama diperjalanan Kyu Hyun tidak menghiraukan keberadaan pelayannya tersebut.

” Tuan muda tunggu aku….Apa kau tidak dapat melangkah lebih kecil? Aku tidak dapat berjalan sepertimu.” Eun Ri berteriak memanggil Kyu Hyun.

Kyu Hyun tetap diam tanpa menghiraukannya.

”Yaa! Tuan muda, apa kau tuli ? Mengapa kau tidak menjawab pertanyaanku dari tadi ? Apa kau tidak melihat hak sepatuku sampai patah gara-gara mengejarmu !”

…..Tetap tak ada reaksi…..

”Tuan mudaaaa…( Eun Ri sudah tertinggal jauh) Berhentilah sebentar, kita istirahat dulu. Aku sudah lelah, sekolah mu terlalu jauh dari rumah. Apa kau tidak lelah? Tuan muda,, tidak jauh dari sini ada penjual bakso goreng, bisakah kita makan dulu?” teriaknya.

Eun Ri mulai putus asa, ia pun terduduk lemas sambil memengang sepatunya yang rusak dan mengakui bahwa dia sudah lapar. Kyu Hyun akhirnya berhenti. Ia berbalik dan melihat pembantunya yang kelaparan itu.

”Berdirilah dan kembali berjalan, kalau tidak ingin aku tinggalkan sendiri disini”.

Dengan terpaksa Eun Ri pun berdiri dan kembali berjalan dengan ocehan yang tanpa henti.

”Dasar manusia tak berperasaan,dia orang terkejam yang pernah aku temui didunia ini. Menyebalkan!! Walaupun kau tuan mudaku, aku tidak akan memaafkanmu! DASAR MENYEBALKAN!” gumamnya dalam hati.

Duukk!!

“Aish…aah.. KAU!! Berjalanlah dengan benar, jangan mengeluh saja.” ucap Kyu Hyun yang tidak sengaja ditabrak Eun Ri.

Kyu Hyun langsung pergi ke toko makanan tersebut dan beberapa saat kemudian membawa bungkusan makanan.

”Ini untukmu, makanlah. Uangku tidak cukup untuk membeli minuman, jadi kau tahan saja rasa hausmu.” ucap Kyu Hyun kembali, dan memberikan sebungkus bakso tusuk permintaan pembantunya itu. Walaupun ia terlihat angkuh, sebenarnya ia tidak tega melihat pembantunya itu menderita.

”Hoh….Tuan muda.. Ini..Bagaimana kau….”

“Sudahlah jangan banyak bicara. Makan saja.”

“Gomawo… hmm…….Enak sekali bakso tusuk ini. Oo…Tuan, anda sudah mencobanya? Hemm.. Cobalah…Ini untukmu.” Eun Ri memberikan setusuk bakso tusuk kepada Kyu Hyun.

“Tidak usah. Kau saja yang makan. Aku tadi sudah coba. Cepat habiskan! Aku tidak akan menunggumu lama-lama disini.”

”Huft!.. Arasso..”

***

Hari pun sudah semakin malam. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan. Mereka akhirnya tiba dirumah dengan selamat. Didalam rumah, mereka sudah ditunggu oleh Tuan dan nyonya Cho, Ha Jae dan Rae Jin pelayannya. Hari itu menjadi hari yang tidak baik bagi Kyu Hyun dan Eun Ri.

”Nanti kau jangan banyak bicara. Kalau perlu diam saja.” pinta Kyu Hyun sebelum masuk.

”Kami pulang…” ucap Eun Ri memberi salam.

“Kau tahu ini sudah jam berapa?! Mengapa kau baru pulang jam segini.” Tanya ayah pelan.

Mereka berdua hanya diam. Begitu juga dengan yang lain.

”Mengapa kau diam. Tidak terpikirkan olehmu satupun jawabannya? Huh.. dan kau, mengapa kau juga diam perempuan bodoh?! Huh,, tuan dan pembantu sama saja. Sama-sama bodoh.” Ha Jae menimpali perkataan ayahnya tadi.

”Yaa,, Ha Jae~ah jaga perkataanmu itu. Jangan pernah kau mengikut campurkan dia dalam masalahku.”bentak Kyu Hyun yang kemudian berjalan menuju kamarnya.

”Yaa~ kau! Berani sekali kau melawan kakakmu!” bentak ayah.

”Appa, aku tidak melawannya, aku hanya me….”

”Tutup mulutmu!” bentak ayah, lalu berdiri. Ia terlihat sangat marah. Belum sempat Kyu Hyun menjelaskan kata-katanya, ayahnya langsung memotong pembicaraannya.

”Sudah jelas salah kau masih bisa melawanku, hah!! Dasar anak tidak tahu diri!”

Plaakk…

”Kyu Hyun~ah…” ucap sang ibu kaget, dan langsung memeluknya.

”Omo…. Tuan muda..”ucap Eun Ri dan Rae Jin yang juga terkejut.

Sebuah tamparan keras melayang dipipi kiri Kyu Hyun membuat ia nyaris tersungkur. Matanya tampak berkaca-kaca. Tak lama kemudian air mata yang sempat ditahannya akhirnya mengalir membasahi pipinya. Dengan terbata ia pun mengungkapkan apa yang dirasakannya.

”Appa, selama ini aku selalu mendengarkan apa yang appa katakan. Bahkan sekalipun itu menyakitkan bagiku. Aku terima appa mengatakanku sebagai pembawa sial, aku terima appa melarangku dekat dengan omma. Aku terima hari-hariku dihabiskan dikamar hanya sendiri. Dan aku terima semua kesendirianku!! Sedikit pun appa tidak pernah mendengarkan penjelasanku. Sekarang, aku hanya ingin membela orang yang berada didekatku. Apakah itu juga salah? Apakah jika masih ada omma, appa akan seperti ini padaku?!”

”Anak kurang ajar!! Aku menyesal atas kehadiranmu!!” sebuah tamparan nyaris melayang untuk kedua kalinya. Kali ini ibunya berhasil menahan tangan ayahnya.

”Cukup!! Kyu Hyun~ah pergilah kekamarmu.”

Kyu Hyun masih tetap berdiri ditempatnya. Kali ini ia tidak menghiraukan perkataan ibunya.

”Kyu Hyun~ah cepat pergi kekamarmu!” pinta sang ibu.

”Tetap disitu!” bentak sang ayah.

”Kalau kau masih menganggapku ibumu, cepat laksanakan perkataanku. Eun Ri~ah,,bawa Kyu Hyun kekamarnya.”

Perkataan sang ibu berhasil meluluhkan hati Kyu Hyun. Ia sudah terlalu menganggap ibunya tersebut sebagai ibu kandungnya sendiri. Ditambah lagi dengan rasa bersalahnya pada sang ibu, ia akhirnya pergi menuju kamarnya dengan disusul Eun Ri.

”Sebagai hukuman, kau tidak boleh makan selama 3 hari. Dan kau juga tidak akan mendapatkan uang saku selama 1 minggu..!!” ayah mengakhiri pembicaraannya.

”Apa yang kau katakan?! Dulu kau sangat menginginkan kehadirannya. Sekarang setelah mendapatkannya, bahkan dia anak yang sangat baik, kau bilang tidak menginginkannya? Dan kau memberinya hukuman yang tidak sebanding dengan yang dilakukannya. Kau sungguh keterlaluan!!  Ini semua tidak adil untuknya!!”

”Omma, kenapa omma bicara seperti itu? Omma tidak ingin aku bahagia?”ucap Ha Jae yang tidak terima dengan kata-kaka ibunya.

”Kau!! Diamlah!” ibu mengakhiri perkataannya, lalu berlari kekamar untuk menenangkan diri.

* Eun Ri POV

”Tuan muda tunggulah sebentar, saya akan siapkan air mandi untuk tuan.” Ucapku dengan sedikit gugup.

”Mengingat kejadian tadi, dan melihat raut wajahnya yang kusut, membuatku ingin menangis. Tetapi aku tidak boleh menangis, karena disinilah peranku sebagai pembantunya untuk menghiburnya.” gumamku dalam hati.

”Tuan muda, airnya sudah siap. Peralatan mandinya juga sudah saya letakkan disana. Ini handuk tuan.” ucapku kembali sambil menyerahkan handuk itu.

Tuan muda mengambil handuk itu tanpa berkata apapun, dan langsung masuk kekamar mandi. Selama ia membersihkan diri, aku menyiapkan pakaian dan semua yang yang dibutuhkannya. Kemudia aku meletakkan sebuah surat permintaan maaf diatas pakaiannya dan segera keluar dari kamarnya.

”Huft…mudah-mudahan tuan muda tidak sedih lagi. Rasanya tidak tega melihatnya seperti itu. Aku merindukannya seperti dulu.” Ucapku pelan dan lirih.

Akupun pergi kekamarku. Disana Rae Jin sudah menunggu dengan cemas. Belum sempat mengatakan apapun ia langsung membuyurku dengan banyak pertanyaan.

” Eun Ri~ah bagaimana dengan tuan muda Kyu Hyun? Dia baik-baik saja? Dia tidak apa-apa kan? Tadi aku dengar tuan menghukumnya tidak boleh makan selama 3 hari. Apakah tadi tuan muda Kyu Hyun sudah makan? Uumm,, maksudku, apakah kalian sudah makan?”

”Tuan muda baik-baik saja. Hanya….dia lebih pendiam. Aku sudah makan. Tadi tuan muda yang membelikanku makanan. Tapi aku tidak tahu apakah ia sudah makan atau belum. Penjelasannya ia sudah makan, tetapi… entahlah…”

“Mwo?? Kau yakin?”

“Rae Jin~ah… Aku harus bagaimana?”

*Kyu Hyun POV

Sreekk… aku keluar dari kamar mandi. Aku mendapati kamarku tidak ada siapapun, termasuk pembantuku tadi dan hanya menemukan sebuah surat diatas pakaianku.

Tuan muda, mianhaeyo. Karena saya tuan jadi dimarahi oleh ayah tuan. Saya sangat takut untuk mengatakannya langsung pada tuan, makanya saya ungkapkan dengan tulisan saja. Ini pakaian tuan sudah saya siapkan. Setelah itu tuan istirahatlah. Hmm,, satu hal lagi tuan,,,, saya tarik kembali perkataan saya kalau tuan adalah orang terkejam yang saya temui…^^ Jangan marah ya tuan.. ^^ Tuan jangan sedih lagi…

Isi surat itu memang menyentuh hatiku, tetapi perkataan terakhirnya membuatku kesal. Dengan polosnya ia mengakui semua perkataanya. Dia sungguh lucu dan polos. Dengan suratnya, ia berhasil membuatku tersenyum.

”Hmm…Kerjamu hanya minta maaf..? GOMAWO… Eun Ri~ah” ucapku sambil melihat surat itu.

 

*TBC*

Segini dulu part 1 nya.Bagus apa nggak itu sih penilaian dari reader. Sama seperti kata Kyu Hyun yang terakhir. GOMAWO bagi reader yang udah baca dan saya sangat menanti komen dari reader sekalian. Sampai jumpa di part selanjutnya.

22 thoughts on “[Freelance] Gomawo Saranghae part 1

  1. Lanjutt Lanjutt :D
    Kyu kasian skaliii DX
    Jahat banget appanya Kyu~
    Ha Jae jga~
    FFnya menarik dan bagus :)

  2. BAGUS! Daebak & I like it =]

    EUn ri polos amat y kaia surabi! -_-”
    Ikh~ umma’a kyu kaia anak’a y, ratu setan! GALAK! :P
    SUMPAH de aq ga rela ada istri baru! Aq syelalu ska 1st bini! *bahasa ancur*

    LANJUUTT~ tp jng bwt aq kcewa y. *abaikn*
    aq pgn happy ah…

  3. Author yang baik hati…
    Jujur aku mewek abis baca FF ini, sediiiiihhhh bgt! T_T
    Kyuu… knp nasibmu begini??
    Pokoknya FF ini sukses bikin aku berpikir keras, tega bgt ayahnya Kyu… Hiks hiks T_T
    Daebak!! Author idenya keren bgt!
    Lanjutnya jgn lama2 yah.. ok? ^_^

  4. Kyuuuuuu sini makan dirumahku aja hahahaha kasian bgt ih rajam aja deh bapaknya *sadis* ditunggu lanjutannya author

  5. Huwaa . .
    Ga In umma baek !
    Ga kaya anaknya yang kurang di hajar #plak
    aku mpe mewek bacanya. Tega banget appa Kyu berbuat jahat ama Kyu. Kalau aku jadi Kyu, mending kabur truz hidup sendri aja ketimbang ama si Harimau. (read: appa Kyu)

    Di tunggu lanjutanya ^^

  6. aduhhh…tu appanya kyu kok kejam banget yahh..kyu kan juga anak kandungnya…ibunya meninggal kan karna takdir,bkn salahnya sikyu…untung ibu tirinya kyu baik..waduhh,bagus ni crita’na family n romance…aku suka…ayo-ayo lanjutin next part’na ching ….

  7. menarik n seru, ayah y kyu kejam bgt sih kyk kyu anak pungut ja kakak y juga kurang ajar udah lebih d sayang ma ayah y sikap y jg semena2 ma kyu n ibu y pdhl ibu kandung y! Untung ibu y baik hati ma kyu #akujadiikutemosi# lanjut. . .

  8. Lanjutkan ya chingu..
    Abis ff nya keren bnget
    Ksihan bnget dah kyuhyun nya di gituin
    Bpaknya kejam amat yak !
    Kepingin di pijak2 tuh,sma aja ha jae nya juga -_-

  9. Kereeeeeeen
    kyu bener2 dpt diskriminasi HAM padahal sm bapaknya sendiri ckck

    lanjut thor ini bagus bgt
    DA to the E to the BAK
    DAEBAK!!

  10. Haaaa rame banget sampe pengen nangis bacanya,ngedeskripsiinnya lengkap tapi menarik gitu!ayo lanjut thor:))

  11. sadish….. tapi mungkin Appanya KYU terlalu sayang dan kecewa sama diri sendiri… jadi perlakuin KYU spt ntu…
    tapi tambah satu lagi orang yang care sama KYU…

    Fighting, KYU…
    sabar itu buahnya maniiizzzz…!!!!!

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s