Let It Go [I Like You Best, Epilog]

oke,, ini epilog I Like You Best L~ yang dulu. .karena permintaan readers yg bilang FF kemarin gantung, maka jadilah FF ini^^

Let It Go 

Begitu banyak bunga yang terpasang sebagai dekorasi di gereja tua ini. Aku hanya tersenyum datar dan berusaha tidak menangis. Semua sudah terjadi. Aku harus bertahan untuk pilihanku ini. Hadir di sebuah pesta pernikahan bernuansa putih yang istimewa.

Sebenarnya ini bukan pernikahan yang istimewa jika bukan Junhyung dan Sera yang menjadi mempelainya.

“Sudah kubilang seharusnya kau tidak datang, princess.”

Aku menarik napas dalam-dalam. Bagaimana bisa aku tidak hadir di pernikahan namjachinguku dengan eoniku sendiri?

“Gwaenchana, Dongwoon-ah. Kau lihat Sera? Cantik sekali bukan?”

“Kau memaksakan dirimu…”

Pintu gereja terbuka. Aku dan seluruh undangan yang hadir dalam gereja segera menoleh, melihat siapa dibalik pintu yang terbuka itu.

Junhyung berjalan tegap memasuki gereja. Dia memakai tuxedo putih, lengkap dengan bunga di saku kirinya. Rambutnya berubah menjadi hitam pekat, berbeda dengan terakhir kali kami bertemu beberapa hari yang lalu ketika rambutnya masih berwarna pirang. Tampan. Benar-benar tampan. Seperti seorang pangeran di negeri dongeng yang biasa omma ceritakan. Pantas jika kedua puteri tersayangnya mencintai orang yang sama. Karena dongeng yang diceritakan omma padaku dan Sera, adalah dongeng yang sama.

Junhyung berhenti sejenak ketika berada di depanku. Dia memandangku tajam, ingin mencari keyakinan pada mataku juga. Tetapi aku sudah memutuskan, dan pernikahan tidak mungkin dibatalkan.

Karena tidak menemukan keyakinan tersebut, Junhyung menunduk. Sesaat kemudian dia berjalan lagi, menemui Sera yang sudah menunggunya di depan pendeta.

***

“Cium! Cium! Cium!”

Mereka menyuruh Junhyung mencium Sera untuk yang pertama kalinya di depan umum sebagai pasangan suami istri. Kugigit bibir bawahku, berusaha untuk tidak mendengarnya. Tetapi samping kanan, kiri, depan, dan belakangku meneriakkan kata yang sama. Cium.

“Jangan melihatnya, princess. Tutup matamu.”

“Aku baik-baik saja, Dongwoon-ah. Tidak perlu mengkhawatirkanku.” Kataku berbohong. Aku tidak baik-baik saja. Hatiku sakit. Kepalaku pening. Ingin sekali aku berlari keluar dari gereja ini dan menangis sekeras-kerasnya, tetapi kakiku terasa kaku. Tubuhku mematung, benar-benar mati rasa. Sepertinya Dongwoon benar. Aku terlalu memaksakan diri untuk hadir di acara yang seharusnya penuh keceriaan ini.

Junhyung membuka penutup wajah Sera. Dia menggumamkan sesuatu. Mungkin, pujian karena Sera hari ini cantik sekali. Sesaat kemudian Sera tersenyum dan pipinya sedikit memerah. Junhyung memegang dagu Sera dan mulai mendekatkan wajahnya.

Tidak… Jangan lakukan itu di depanku… Aku masih belum siap melihatnya… Jebal…

Tiba-tiba pandanganku gelap.

“Sudah kubilang tutup matamu, princess.” Bisik Dongwoon di telingaku. Tangan lembutnya menutup kedua mataku agar tidak melihat ‘adegan’ itu.

Aku tersenyum tipis, menahan tangisku. “Gomawo, Dongwoon-ah.”

Tepukan ramai para undangan memenuhi gereja. Kudengar mereka segera mengganti kata ‘cium’ dengan kata ‘lagi’. Dan teriakan kali ini lebih ramai dari sebelumnya. Mereka pasti sudah melakukannya…

“Basah… Kau menangis, princess…”

 

Flashback~

Prang!

Sudah kuduga dia akan semarah ini. Dia marah padaku karena aku telah menyerah tentangnya, sedangkan dia menyuruhku untuk tidak menyerah dan tetap yakin padanya.

“Menikahlah dengan Sera, Jun.” Lirihku. Aku berjalan mendekatinya, memijit pundaknya. “Gwaenchana. Aku mengerti posisimu sebagai pewaris tunggal B2ST.”

Dia menepis tanganku kasar. “Katakan padaku untuk meninggalkan semua, Jung! Katakan padaku untuk berada di sampingmu selamanya!”

“Aku hanya… Menjalankan tugasku sebagai seorang adik, Jun…”

“Tugas? Jadi aku pun harus menjalankan tugasku sebagai pewaris B2ST, begitu?”

Benar. Kau seharusnya menjalankan tugasmu juga sebagai pewaris B2ST yang menikah dengan putri pertama JJ group meskipun sudah menjadi kekasih putri keduanya…

“Mengapa kau begitu keras kepala, hah? Aku menyukaimu, bukan Sera!”

“Kalau kau menyukaiku… Menikahlah dengan Sera.”

End

***

“Uhuhkk…”

“Ya! Mengapa kau tersedak saat kami menyebut Bali…”

Aku mengambil gelas berisi air mineral di depanku, meminumnya perlahan. Ini adalah kali pertama kami makan bersama di ruang makan sebagai satu keluarga. Keluarga besar B2ST dan JJ group, meskipun kedua orangtua kami sudah meninggalkan Busan sesaat setelah pesta pernikahan tadi pagi.

“Apa benar kalian akan pergi ke Bali?”

Sera mengangguk. “Kakak iparmu yang memilih Bali sebagai tujuan bulan madu. Kupikir bukan ide yang buruk juga.”

Aku segera mengalihkan pandangan mataku pada Junhyung yang duduk di sebelah Sera. “Kakak… Ipar?”

Junhyung menatapku tajam. “Oh. Sunset di Bali sangat indah. Aku juga belum pernah ke Indonesia. Lagipula aku memang ingin pergi kesana saat bulan madu.” Katanya tegas.

Tidak. Itu bukan tegas. Itu seperti… Menyindirku.

Flashback~

“Bali?”

Aku mengangguk cepat. “Indonesia. Sunset di Bali sangat indah, Jun. Aku ingin sekali pergi kesana. Kau ingin pergi bersamaku?”

Junhyung tersenyum. “Tentu saja! Kita belum pernah ke Indonesia, kan?”

Aku senang mendengar apa yang dikatakan Junhyung padaku. Kupandangi foto yang kudapatkan di internet tentang Bali. Salah satu tempat yang indah di Indonesia. Ya, menurutku Bali itu indah.

“Saat bulan madu nanti, ketika kita sudah menikah. Ayo kita pergi ke Bali!”

End

Apakah dia tidak tahu aku sangat terluka?

Beberapa minggu yang lalu appa tiba-tiba menelepon menyuruhku pulang ke Busan karena Sera akan menikah. Aku senang mengetahui kakakku akan menikah. Tetapi rasa senang itu menghilang ketika mengetahui siapa mempelai prianya. Mempelai yang seharusnya menemaniku di altar. Mempelai yang dulu pernah menciumku di perpustakaan ketika bertengkar dengan yojachingunya. Mempelai yang selalu dingin padaku pada tahun pertama kami bersama. Mempelai yang selalu menulis dengan tangan kirinya dan aku tidak menyukai itu.

Aku sangat terluka mengetahui yang akan menikah dengan Sera adalah Jun, yang selama 2 tahun tinggal bersamaku di sebuah rumah kecil di Seoul.

“Ya! Bagaimana denganmu? Kapan kau akan menikah dengan Dongwoon?” tanya Sera membuyarkan lamunanku.

“Eh? Dongwoon? Itu masih lama, eoni…” jawabku berbohong. Dongwoon bukanlah namjachinguku. Dia hanya teman satu grup Junhyung saat masih menjadi dancer yang kuminta untuk menemaniku datang ke acara pernikahan Sera. Dia hanya sekadar teman. Dan aku tidak berniat menjadikannya namjachingu meskipun aku tahu dia menyukaiku sejak aku masih bersama Junhyung.

Namjachinguku yang sebenarnya berada di depanku. Dia duduk di sebelah kakak yang kusayangi. Di jarinya terdapat cincin putih yang sama dengan apa yang dipakai kakakku, yang setahuku cincin itu baru menghiasi jari mereka tadi pagi.

Namjachinguku yang sebenarnya berada di depanku, tetapi merengkuhnya pun aku tidak bisa.

“Bohong!” Sera memukul kepalaku pelan. “Cepatlah menyusulku!” Sera berdiri. Dia berjalan menuju lemari es untuk mengambil sesuatu. Meninggalkanku berdua saja bersama Jun di meja makan.

Junhyung masih menatapku dengan tatapan tajamnya. Tatapan yang sama ketika dia tidak menganggapku dulu, seperti mengatakan padaku bahwa dia kembali menjadi Junhyung yang dulu karena aku. Airmataku sudah kutahan untuk tidak menetes di depannya, tetapi tidak bisa. Dia menetes perlahan ketika aku berkata, “Beri aku keponakan yang lucu, baru aku akan menikah…”

***

Cup.

Kubuka mataku perlahan. Entah mimpi atau bukan, aku merasa ada seseorang yang mencium keningku saat aku tidur tadi. Kulihat sekeliling, sama persis ketika aku pergi tidur. Pasti aku sedang bermimpi. Tidak mungkin seseorang masuk dan mencium keningku, kan? Kecuali orang itu Sera, atau Jun. Dan itu mustahil. Mustahil karena Sera tidak pernah bangun malam dan Jun pasti sedang terlelap di sebelahnya.

Karena terlanjur bangun, aku pun memutuskan untuk pergi ke dapur mengambil air mineral. Aku terbiasa minum di malam hari ketika aku terbangun. Dulu, ketika masih kecil. Sera akan memarahiku karena dia tidak suka mendengar seseorang bangun di malam hari dan mengganggu tidurnya.

 Kubuka lemari es di dapur dengan tangan kiriku. Sesaat aku terdiam mengetahui apa yang ada di dalamnya. Sesuatu yang tidak pernah berada di lemari es kami sebanyak ini sebelum dia tinggal di sini. Warnanya oranye, kontras dengan lemari es kami yang berwarna metalik. Wortel.

Flashback~

Kuketuk pintu kamar Jun keras-keras. Aku harus bangun pagi untuk membuatkan jus wortel untuknya, tetapi sampai sesore ini dia belum meminumnya sedikit pun.

“Jun! Kau harus makan wortel!”

“Andwae! Aku bukan kelinci, Jung!” teriak Jun dari dalam kamar. Kamarnya dikunci, tanda seseorang di dalam sana benar-benar tidak menginginkan sesuatu yang kubawa ini.

“Sudahlah! Kau tidak akan berubah menjadi kelinci jika memakan wortel! Aku tidak akan menikah denganmu jika kau memakai kacamata!”

Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. “Arasseo! Arasseo! Aku akan meminumnya!”

End

“Tsk~ Dia bilang tidak menyukai wortel, tetapi membeli sebanyak ini…” lirihku. Aku merasa airmataku hampir terjatuh lagi. Aku tidak tahu mengapa beberapa minggu terakhir ini aku tidak berhenti mengeluarkan airmata jika melihat atau memikirkan hal kecil yang berhubungan dengan Junhyung, padahal aku yang memutuskan untuk melepasnya pergi.

Aku tahu ini tidak benar, dan aku akan terluka jika terus-terusan seperti ini. Aku harus melakukan sesuatu.

***

“Jepang?”

Kuperhatikan Junhyung sedikit bereaksi mendengar keputusanku meninggalkan Busan. Dia berhenti mengaduk kopinya, dan terdiam.

“Mungkin sekitar satu bulan dulu.” kataku. “Aku ingin tinggal di sana, eoni. Aku akan mencari tempat tinggal dan pekerjaan selama satu bulan itu.”

“Bekerja? Untuk apa? Kau bisa masuk di JJ group dengan mudah!”

Benar. Aku adalah putri kedua JJ group. Seharusnya tidak perlu meninggalkan Busan untuk bekerja. Tetapi jika aku tidak meninggalkan rumah ini, aku tidak akan bisa berubah.

Seandainya Sera tahu alasanku yang sebenarnya…

“Aku ingin mandiri, eoni. Akan kubuka cabang perusahaan di Jepang jika sudah tahu bagaimana keadaan di sana.”

“Tsk~ Kau memang selalu ingin mandiri seperti saat SMU dulu… Ya! Apakah Dongwoon akan pergi bersamamu juga?”

Aku menggeleng. “Aniyo, eoni. Aku akan pergi sendiri.”

Junhyung menatapku tajam. Dia pasti tahu apa maksud perkataanku tadi. Dia adalah siswa berprestasi ketika kami masih SMU. Tentu sangat mudah memahami perkataan seorang hoobae yang tidak sepintar dirinya.

Kukumpulkan semua kekuatanku untuk membalas tatapannya dan berkata, “Dan tentang dia, aku sudah putus dengannya. Jadi jangan menyebut namanya atau mengatakan apa pun tentangnya, karena aku sudah melupakannya.”

***

Kututup sambungan telepon dengan Dongwoon. Kukatakan padanya untuk tidak mengantarkanku besok ke bandara. Sebenarnya Dongwoon ingin pergi bersamaku, tetapi aku menolak. Aku tahu dia mengkhawatirkanku, tetapi aku sedang ingin sendiri saja saat ini.

Klek.

Aku menoleh. “Oh. Kakak ipar…”

Junhyung masuk, kemudian mengunci pintu kamarku. “Mengapa kau melakukan itu?”

Aku menatapnya bingung. Mengapa dia mengunci pintu kamarku? Dan, aku melakukan apa?

“Pergi ke Jepang… Alasan apa itu? Kau tidak bisa melihatku bersama Sera, kan?”

Aku terkejut. Dia bisa mengetahui apa yang ada dalam pikiranku…

Junhyung mendekat. Dia masih menatapku dengan tatapan tajam dan dinginnya. “Pengecut… Kau menghindariku karena kau menyukaiku… Kau masih mencintaiku, Jung?”

Aku harus menjawab bagaimana?

“KAU MASIH MENCINTAIKU, KAN?” teriak Junhyung. Teriakan yang sama ketika pelipisku terluka dulu. Tetapi saat itu dia terlihat marah dan khawatir. Sekarang, tidak ada rasa khawatir itu. Yang ada hanya rasa marah, benci, dan… Cinta? Aku tidak yakin. Karena rasa yang berbeda tersebut terlalu lemah untuk melawan kebencian dan amarah yang sudah dipendamnya selama beberapa minggu ini.

“Kau masih mencintaiku, Jung…” lirih Junhyung. Dia berjalan mendekatiku. “Kau masih memikirkan tentang kita, kebersamaan kita, rumah kecil kita…” tangan kirinya menyentuh pipiku lembut. Diusapnya pipiku dengan sepenuh hati. Tanpa sadar aku memejamkan mataku, menikmati sentuhannya itu. Sentuhan yang sangat kurindukan. Yang hanya akan diberikannya padaku jika aku sedang marah untuk meredam emosiku. “Hatimu sakit saat aku mengatakan tentang Bali… Saat melihat wortel di lemari es…”

Aku masih memejamkan mataku. Aku benar-benar menikmati sentuhannya itu. Seakan-akan selama beberapa detik ini aku tidak perlu berpura-pura kuat di depannya, seperti yang kulakukan selama ini. Menjadi seseorang bermuka dua, yang tetap tersenyum dan ceria meskipun hatinya terluka.

Kurasa Junhyung mulai mendekatkan wajahnya setelah berhasil menguasai emosiku.

Tidak. Dia bukan milikku lagi. Dia kakak iparku. Hentikan.

“Jun!” kudorong tubuhnya menjauhiku. “Keluar… Aku tidak ingin Sera salah paham jika mengetahui kau berada di kamarku…”

Junhyung tersenyum kecil. “Kau akan menyesal karena telah melakukan kesalahan ini, Jung…” bisiknya tepat di telingaku. Kata-katanya menusukku tajam. Ada sedikit rasa dendam yang tersirat dari setiap kata yang diucapkannya.

Aku melihat Junhyung berjalan mendekati pintu kamarku. “Mungkin menurutmu aku bersalah!” teriakku, menghentikan tangannya yang akan membuka kunci kamarku. “Tetapi apa yang kau anggap salah belum tentu salah menurut orang lain juga…”

Junhyung diam. Beberapa saat kemudian dibukanya pintu kamarku dan membantingnya keras-keras.

Aku terduduk lemas. Lagi-lagi ingin menangis. Tetapi aku menguatkan diriku sendiri. Aku terlalu lelah untuk menangis. Dan aku tidak ingin menumpahkan airmataku untuknya lagi.

Mengapa hubungan kita berakhir seperti ini?

Mengapa aku tidak membatalkan pernikahanmu dengan Sera?

Apakah aku bisa menerimamu sebagai seorang kakak ipar?

Semua pertanyaan itu kini memenuhi otakku. Pertanyaan yang sangat sulit kutemukan jawabannya. Lebih sulit daripada ujian masuk universitas beberapa tahun yang lalu, karena jawaban yang tersedia dalam pikiranku hanyalah tidak tahu.

Sentuhan tadi sempat membuatku ragu. Aku masih merasa jantungku berdegup kencang, seperti menemukan apa yang dicarinya selama ini.

Tetapi apa jadinya jika aku tidak pergi dari rumah ini? Kejadian seperti tadi bisa terjadi kapan saja dan akan membuatku tidak bisa melupakannya, menyesali apa yang sudah kuputuskan. Atau, jika aku terlalu sering bersamanya, dia tidak akan bisa mencintai Sera karena dia hanya akan menatapku.

Meskipun aku merasa sakit lebih dari melihatnya tertawa bersama Minka sunbae atau melihatnya mengucap janji setia bersama Sera, aku melakukan hal yang benar dengan pergi dari rumah ini, kan?

Karena bagaimana pun, Junhyung adalah kakak iparku…

***

Kulangkahkan kaki memasuki pesawat yang akan membawaku menuju Jepang. Sera sudah pulang dari bandara. Dia mengantarkanku sendirian tanpa ditemani Junhyung. Aku tahu Jun tidak akan pergi mengantarku. Aku berterimakasih untuk itu. Dengan tidak melihatnya sebelum memasuki pesawat, akan membantuku pergi dengan mudah.

Kupandangi langit Busan untuk yang terakhir kalinya. Dan semua kenangan tentang aku, Jun, dan Sera, seperti lembaran dedaunan yang gugur satu per satu dalam ingatanku.

Perjuanganku mencari tahu siapa Junhyung. Kesetiaanku padanya selama satu tahun pertama kami. Kesabaranku ketika tiba-tiba dia membawa Minka sunbae menginap di rumah kecil kami. Penantian selama dia belajar di Inggris. Keputusan appa untuk menikahkan Junhyung dengan Sera. Permohonanku pada Junhyung untuk menerima pernikahan itu. Kesedihanku ketika melihat Junhyung dan Sera saling bertukar cincin…

“Pesawat akan segera lepas landas…”

Kupejamkan mataku perlahan. “Let it go, Jung Minah…”

Jun bilang aku pengecut karena meninggalkan Busan. Ya, mungkin aku memang pengecut. Tetapi aku akan menjadi seorang pecundang jika tetap berada di samping mereka.

Setidaknya biarkan aku sendiri. Biarkan aku melupakan Jun. Biarkan aku melepas topengku karena aku lelah terus-terusan memakainya di depan Sera.

Biarkan aku mewarnai hidupku dengan warna yang lebih beragam dan cerah. Setelah itu aku berjanji aku akan kembali dengan semangat, harapan, cinta, dan kebahagiaan yang baru.

-END-

10 thoughts on “Let It Go [I Like You Best, Epilog]

  1. ini bakal ada lanjutannya gak??? kok berasa ngawang” ya..

    tapi NICE FF kok…

    OIA terimakasih atas doanya.

  2. wahhh….L mah bwat aq bercabang2 :D
    Aq kira yg nikah Jun ama Jung,trnyata ama sera toh :(

    tpi dsini jelas kptsan Jung demi sodranya,trus L jga ngmbl dr sudut pndng Jung mmbwat smkin jelas juga :)

    aq bangga neh Jung klihtan dwasa,tersrah orng mau blg apa g)

    tapi aq sdkit kcwa dgn Jun,ayolahhhhh…..u mesti kejar cinta kamu….*ga rela Jun ama sera :DCBrhrp sera mati :D *EVIL :D
    WKAKAKAKA

    mdh2an Jung jmpa jodohnya abang ganteng nan mesum Yunho :D
    Author: Yunho punya aq kali :D
    *lari bareng Joongie :D

    Wah beneran bwat aq ga kpkrn bklan sprti ini :D

    L aq tnggu lgi krya2 FF nya yg lain yah.DBSK pastinya :D
    Tetap smngat berkarya yah :D
    Aq tnggu tgl 10 :D
    Hahahahahha

  3. keren bgt.. Suka bgt ma junhyung.. Setelah berpaling krna yoseob,kikwang ma dojoon, akhirny balik kecinta pertama aku. Junhyung.. Ky crta dsini i like u the best.. Love this story nice ff

  4. loh? loh? loh?
    kok jadi sad gini
    kasian jung T.T
    L onnie ayo buat sekuelnya lagi
    rasanya masih gantung gitu
    pengen tau lanjutan kisahnya jung di jepang

  5. Ayo thor bikin sekuelnya. . Masih gk rela kok jun sebagai lelaki gitu aja tnpa ada tindakan. . Berharap dia mengejar cntanya ><

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s