[Freelance] The Marriage and Us {Day 7}

Title : The Marriage and Us [Day 7]

Author : Bee

Main Cast : Yesung, Bee

Support Cast : all members of Super Junior

Rating : all age

Genre : romance

Disclaim : biar kata terinspirasi dari WGM, alur cerita murni ide Bee.

***

“Sudah siap?” tanya Yesung padaku begitu aku keluar kamar.

“Yep.”

“Ayo,” ajaknya.

Hari ini aku dan Yesung pergi bersama ke studio untuk merekam versi talkshow dari program reality show kami yang berjudul Marriage Guide. Kami sampai di studio jam 9.30. Pasangan yang lain juga sudah datang. Menurut jadwal kami akan memulai rekaman pukul 1, tapi kami harus berkumpul pukul 10 untuk briefing singkat mengenai panduan acara dan rias. Aku melihat istri Leeteuk dan langsung menyapanya, “Haemin ssi!”

“Omona, Bee ssi! Anyeonghaseyo,” balasnya tersenyum padaku. Kami lalu mengobrol. Di tengah-tengah obrolan kami, aku tiba-tiba merasa ingin ke toilet. Lalu aku pun pamit sebentar pada Haemin. Di toilet aku terkejut karena ternyata aku datang bulan. Wah, padahal kemungkinan kami akan lama berada di studio ini, dan aku tidak membawa cadangan tampon. Mungkin Haemin punya persediaan.

Ketika aku kembali ke tempat kami berkumpul, Haemin sedang ngobrol dengan Mina, istri Kyuhyun. “Anyeonghaseyo, Mina ssi,” sapaku pada Mina.

“Anyeonghaseyo, Bee ssi. Apa kamu baru datang?”

“Ah, ga juga. Ini aku baru dari toilet. Ah, Haemin ssi, maaf, apa kamu bawa persediaan pad atau tampon?” bisikku.

Haemin ssi menatapku terkejut. “Wah, maaf, aku ga bawa tuh. Kebetulan aku baru selesai, jadi ga siap-siap.” Lalu dia menoleh menatap Mina, “Mina ssi, kamu bawa tampon?” Haemin menanyakan untukku.

“Ah, ne. Ada. Kamu butuh, Haemin ssi?”

“Anieyo. Bee ssi ga.”

Mina menatapku, “Kamu dapet ya?”

Aku tersenyum ga enak. “Ehe, iya. Kamu bawa persediaan?”

“Aku selalu bawa. Ayo, aku temenin kamu ke toilet.”

Ah, syukurlah, batinku. “Terima kasih, Mina ssi,” kataku lalu berpamitan pada Haemin.

Di toilet sementara aku menyelesaikan urusanku, aku bertanya tentang hubungannya dengan Kyuhyun dari dalam bilik toilet. Dia tertawa, “Yah, gitu deh. Ternyata memang kalau sama yang lebih muda aku kurang bisa,” katanya.

Mina ini usianya sama denganku dan Haemin. Kami seumuran. Jadi dia empat tahun lebih tua dari Kyuhyun.

Aku keluar dari toilet dan menatapnya berempati. Aku ga tahu bagaimana berpasangan dengan orang yang lebih muda, tapi bagi Mina tampaknya itu hal yang cukup harus diusahakannya dengan keras agar bisa berhasil. Karena ga tau harus bagaimana menyemangatinya, aku pun berkomentar garing, “Yah, namanya juga pengantin baru. Masih banyak yang harus disesuaikan.”

“Iya kali, ya?” Mina menjawab dengan ga yakin.

Aku tersenyum padanya, menenangkan. “Eh, Haemin ssi tuh orangnya asyik ya?” kataku mengalihkan topik.

Mina ikut tersenyum, “Iya. Dia banyak bicara tapi yang dibicarakannya itu enak untuk didengarkan.”

“Iya, bener. Wawasannya juga luas,” ujarku sambil mengelap tangan.

Kami lalu melanjutkan ngobrol sambil berjalan ke tempat kami seharusnya berkumpul. Ternyata semua orang sudah datang, dan PD-nim ada di sana sedang memulai pengarahan. Aku melihat Yesung sedang mencariku, dan sedetik kemudian pandangan kami bertemu. Aku melambai tak kentara dan tersenyum padanya. Begitu melihatku wajahnya terlihat lega.

Karena Yesung kelihatannya sedang berkumpul dengan Siwon, Ryeowook, dan Kyuhyun, aku tetap berada di tempatku, dekat dengan Mina. Haemin sudah berdiri di samping Leeteuk. PD-nim lalu mengarahkan kami ke ruang rapat. Di sana di depan masing-masing bangku sudah terdapat kopian jadwal acara. Kami diberi waktu untuk membaca jadwal itu selama setengah jam oleh PD-nim yang kemudian meninggalkan kami.

Aku sedang sibuk memahami dan sesekali berdiskusi dengan Mina ketika pundakku ditepuk. Ternyata Yunyi. Dia adalah istri Heechul. “Eonnie. Eonnie sudah sehat?” tanyanya padaku.

Aku teringat waktu aku pingsan dua hari yang lalu karena penyakit maag-ku kumat. Saat Yesung sedang menungguiku, Heechul menelepon. Mungkin dia kemudian bercerita pada Yunyi, sehingga sekarang Yunyi menanyakan kesehatanku. “Ah, ne. Terima kasih sudah menanyakan kabarku.”

“Maaf kami ga sempat menjenguk akhirnya,” dia meminta maaf.

“Bee ssi sakit?” tanya Mina.

Yang menjawab adalah Yunyi. “Ne, hari Jum’at kemarin dia harus beristirahat di RS.”

“Omo, apa yang terjadi?” Mina tampak terkejut.

Aku lalu menceritakan apa yang terjadi pada keduanya. “Tapi sekarang aku sudah baik-baik saja. Sejak itu Yesung ssi selalu ribut mengingatkan aku untuk makan.”

“Wah, kalian memang mesra sekali. Bahkan sejak pertama sepertinya kalian tidak ada masalah komunikasi ya?” Mina memandangku iri.

Aku sedikit malu mendengar pujian Mina, tapi belum sempat aku berkomentar Yunyi sudah mendahuluiku.

“Ya, padahal Eonnie dan Yesung ssi itu satu-satunya pasangan yang berbeda ras dan agama. Tapi kok bisa mesra sih, Eonnie? Uri Oppa, sukanya memerintah. Jadi di rumah kami aku selalu disuruh-suruhnya.” Yunyi pura-pura merengut.

Aku tahu kalau Yunyi tidak benar-benar marah, sebab dia adalah ELF sejati. Dan dia dipasangkan dengan Heechul memang karena dia seorang Heenim-biased. “Tapi seneng, kan?” aku jadi tergoda menggodanya.

Benar saja, semburat merah menjalari wajah Yunyi. “Eonnie~,” dia pura-pura memprotes, mengundang tawaku dan Mina.

Mendadak Yesung mendatangiku. Di tangannya terdapat sebuah donat yang dilapisi tissue dan secangkir minuman. “Sayang, ini dimakan dulu,” katanya.

Aku memandang pemberiannya bengong. Emang kadang-kadang aku akui aku ini lemot. “Kita tadi kan belum sempat sarapan,” katanya.

Aku tergagap. Aduh, jadi malu diperhatiin gini. Tapi seneeeeng… “Ah makasih, Sayang. Kamu udah makan?”

“Udah tadi. Aku makan di tempat aku ngambil donat.”

“Aigoo, mesranya…” goda Mina di sebelahku. Yunyi di sebelahnya ikut bergumam-gumam membuat aku dan Yesung malu-malu.

Yesung berkilah, “Bukan gitu. Bee ssi harus makan. Kalau ga dia nanti sakit lagi.”

“Iya deh, iya… Biar ga sakit kan? Duh, Oppa…perhatiannya~” ledek Yunyi.

“Eiish, Yesung ssi, kamu itu begitu terpesona ya sama istrimu ini? Sampai menyapa saja tidak pada kami.” Mina masih belum melepaskan Yesung.

Yesung pun tertawa kalah, “Ahaha, choisonghamnida. Anyeonghaseyo.”

Mina menjawab sambil tertawa. Sementara Yunyi menjawab dengan antusias, “Anyeonghaseyo, Yesung Oppa. Yunyi-imnida.”

Ah benar, setahuku mereka memang belum pernah kenalan.

“Ah, ne. Istrinya…” Yesung ragu-ragu, lalu dia memandangku mohon bantuan.

“Heechul Oppa,” kataku.

“Oh!” seru Yesung. “Istrinya Heechul Hyung, toh…” setelah itu dia tidak berbasa-basi lagi melainkan langsung pamitan. “Nanti Suju KRY diminta tampil, jadi kami mau latihan dulu,” katanya lalu pergi.

Sepeninggal Yesung, Mina dan Yunyi masih menggodaku beberapa saat lagi, tapi aku berhasil menanggapinya dengan baik. Bangga juga aku dengan pengendalian diriku. Sementara dalam hatiku dag-dig-dug keras sekali, aku bisa mengkamuflasekan kegugupanku dengan mulusnya. Ah, mungkin habis ini aku minta ikut sinetronnya PD-nim aja kali.

Tak berapa lama PD-nim memasuki ruangan dan memulai briefing singkat. Semua orang langsung berkonsentrasi mendengarkan. Briefing itu berjalan dengan mulus dan selesai 45 menit kemudian.

Setelah briefing, kami semua dirias. Untuk memudahkan, ruang rias cewek dan cowok dipisahkan. Kami juga diberi kostum panggung untuk dikenakan. Kostumku berupa dress pendek selutut warna kulit, berpotongan menyempit di pinggang dan melebar di bawahnya dengan lengan pendek menutupi pundak. Aku mendapat giliran rias ketiga terakhir. Ketika akhirnya riasanku selesai dan aku sudah mengenakan kostumku, waktu sudah menunjukkan pukul 12.30.

Aku agak berdebar juga. Tapi tidak sehebat waktu penampilan pertama kami, yaitu saat kami baru akan bertemu dengan suami-suami kami. Lagi-lagi aku berurutan dengan Soumi seperti waktu itu.

Aku memutuskan untuk keluar dari ruang rias karena di sana terlalu banyak orang. Toh aku sudah selesai. Aku mendekati setting panggung. Wah, dekorasinya boleh juga. Bunga dimana-mana. Hihi, bahkan dipasangi banner “Just Married”. Sepertinya akan menarik. Aku mengelilingi panggung, lalu tiba-tiba terdengar petikan gitar. Gaya petikannya asyik sekali. Seperti malas-malasan tapi nada-nada yang dihasilkan pas membentuk sebuah irama yang aku kenal.

Don’t let your head rule you heart
Aku bergumam melangkah mencari sumber suara gitar

Don’t let your world be torn apart
Aku masih celingukan

Don’t keep it all to yourself
Aku menangkap sosoknya

Just let all your emotions run free with someone like me
Aku mendekatinya

That’s the way it should be
Dia berkonsentrasi pada gitarnya

Someone like me
Aku sampai di sebelahnya dan mulutku masih menggumamkan lagu itu pelan.

Sungmin menyadari kedatanganku dan mengangkat wajahnya. Rupanya dia menyadari gumamanku. Lalu dia mengubah nadanya mendadak ke bagian reffrain. Senyum lebar terpampang di wajahnya.

We know the story so far
Aku menanggapinya dan meneruskan menyanyi

What you want and who you are ( [Sungmin] Free)
Dia tersenyum makin lebar

Let all your emotions run free
You don’t always have to agree
With someone like me
That’s the way it should be

Someone like me
Pitch control
nada rendahku melemah sehingga nadanya meleset, tapi Sungmin memberi isyarat ‘satu kali lagi’

Someone like me
Aku mengakhiri lagu itu.

Sungmin menghentikan petikannya. Aku terkagum-kagum padanya. “Daebak, Sungmin ssi!”

“Ah Noona juga daebak,” dia tersipu malu. Waah.. melihat mukanya seperti itu aku serasa meleleh! Super cute!

“Ani…” aku sok-sok merendah. “Kok Sungmin ssi bisa tahu lagu itu? Jarang-jarang lho ada yang masih inget lagu itu.”

Dia tersenyum. Sumpah deh, aku terpikat. Anak ini punya karisma. “Noona jangan panggil aku Sungmin ssi. Nanti aku dimarahi sama Yesung hyung…”

Aku setengah sadar, “Terus mesti panggil apa? Kan aneh kalau cuman panggil ‘Sungmin’-‘Sungmin’ gitu.”

“Ga papa. Panggil gitu aja. Noona kan udah jadi uri noona sekarang. Panggil aja Sungmin-a,” dia menjelaskan.

Hadoooh, wajahnya itu lho… seimut bayi tapi karismanya tingkat dewa. Cowok ramah sekaligus cool. Hatiku berdegup kencang sampai susah bernafas ngobrol dengan dia begini. Aku berusaha mengendalikan diri, tapi tetap aja wajahku masih cengar-cengir. “Oh, gitu ya? Ya udah deh, Sungmin-a…”

Kyaaaaaaaaaaaa! Aku memanggilnya Sungmin-a!!!!!!! Aku melonjak-lonjak dalam hati.

Kuulangi lagi, dan kali ini aku yakin aku ga bisa menyembunyikan wajahku yang memerah, “Sungmin-a… Aku tanya lagi ya. Kok kamu bisa tahu lagu itu?”

Dia ternyata melihat wajahku yang memerah dan malah jadi ikutan malu. “Hehe, iya. Tahu aja. Biarpun lagu lama tapi aku suka waktu mainin musiknya pakai gitar. Jadi aku jadiin koleksiku deh. suka aku mainin kalau lagi santai kaya sekarang. Sambil nunggu take, sambil mainin nadanya. Rasanya waktu ga terbuang sia-sia.”

“Wah, emang menurutku juga lagu itu biarpun didengerin berkali-kali bukannya bikin bosen, malah semakin menarik. Terus liriknya juga ga klise. Sayang ya, Attomic Kitten-nya udah bubar.” Aku nyerocos mendengar Sungmin menyukai lagu yang sama denganku.

Sungmin menatapku, matanya agak berbinar. “Iya, padahal menurutku lagu-lagu mereka lumayan loh. Lagu yang timeless.”

Aku tambah antusias. Jarang-jarang nih ketemu orang yang sama-sama suka Attomic Kitten. Meuni cakep lagi.  Akhirnya kami membahas Attomic Kitten sambil nunggu waktu rekaman dimulai.

Sedang asyik-asyiknya ngobrol, tiba-tiba Yesung datang dan sudah berdiri di sebelahku. “Sayang,” panggilnya.

Aku menoleh padanya dan terkesiap.

Aku tahu Yesung itu cakep. Aku tahu dia itu tentu aja punya aura bintang. Aku juga tahu bahwa dia bukan orang sembarangan. Tapi aku baru tahu dia bisa membungkamku seketika hanya dengan memakai jas resmi.

Aku menjilat bibirku yang tiba-tiba terasa kering. Aku mengamati penampilannya, dia menggunakan jas resmi bermodel semi tuksedo. Rompi dalamnya memberikan kesan resmi, tapi dikombinasikan dengan jeans membuatnya tampak luar biasa keren. Kukerjapkan mataku, mengamatinya lagi. Dan lagi. Lagi. Sampai ga sadar dia menanyakan sesuatu padaku.

“Eh, apa?” aku gelagapan.

“Kamu udah lama selesainya?”

Aku mengangguk salah tingkah sebab dia menatapku tajam. Aku belum pernah melihat pandangannya setajam itu sebelumnya. Apa karena eye-linernya ya?

“Kamu udah makan?” suaranya seperti datang dari tempat yang jauh.

Aku menggeleng.

Melihat itu dia menggamit lenganku. “Sungmin-a, masih ada waktu sebelum mulai. Aku mau cari makan dulu ya? Kamu mau kubawain sesuatu?” tanyanya pada Sungmin.

“Ani. Nan gwenchanha,” jawab Sungmin.

“Ayo,” Yesung setengah menarikku.

Aku terkejut, lalu sambil berlalu pamit pada Sungmin. “Sungmin-a, kapan-kapan kita lanjut lagi ya…!” seruku semakin menjauh.

Kami menjauh dari setting panggung. Pikiranku tidak sepenuhnya fokus untuk berjalan. Aku hanya mengikuti tarikan Yesung. Kami hampir keluar dari studio ketika tiba-tiba dia berbelok menuju ke suatu sudut. Aku tersandung kabel, “Ah!” seruku kaget.

Dia berhenti mendadak, lalu melihat apa yang terjadi padaku. “Gwaenchanha?” tanyanya khawatir.

“Gwaenchanha,” kataku melihat kabel yang sekarang melilit hak sepatuku.

Begitu kabel itu terlepas, Yesung segera menuntunku lagi menuju pojok yang ternyata tempat banyak makanan disajikan. Dia mengambilkan aku piring kertas, dan memilihkan makanan untukku.

Aku? Aku ga tahu kami sedang apa. Iya, aku dikuasai benar oleh kesempurnaan suamiku ini. Bulu kudukku meremang menyadari pemikiranku itu. Aduh, lagi-lagi aku lengah. Tapi aku ga berdaya.

“Kamu harus makan,” dia menyodorkan makanan untukku.

Aku menerimanya lalu mulai makan sambil tetap memandanginya. Sementara aku makan dia mengambilkan aku minum. “Kamu sendiri ga makan?” tanyaku.

“Entar aja,” jawabnya singkat.

Aku memandangi makanan yang dia ambilkan untukku. Kuambil satu buah dumpling. “Sayang,” panggilku. Dia menoleh, “Aaaa…”

Dia tertegun menatap kelakuanku. Membuat aku jadi berpikir dua kali tentang tindakanku ini. Jangan-jangan dia ga suka aku perlakukan begini? Serta-merta aku letakkan kembali dumpling itu di piring kertas. Lalu dengan kikuk aku memandang ke arah lain. Ke mana aja pokoknya bukan ke arahnya. “Aku..” kataku terbata-bata. “Maksudku…”

Ah, aku ini gimana sih? Sekarang kan sedang tidak ada kamera yang mengikuti kami, kenapa aku bersikap mesra begitu?! Ah, aku mempermalukan diriku sendiri. “Itu, eng, Sayang, ani… Yesung ssi, kupikir kamu juga harus makan.” Nada bicaraku tiba-tiba berubah menjadi lebih formal.

Aku masih belum berani menatapnya karena aku masih bisa merasakan tatapannya padaku. Aku jadi gerah.

“Sayang,” dia memanggilku.

“Ne?” aku menoleh padanya.

Dia mengangkat kedua tangannya yang membawa gelas. “Kamu kenapa sih? Ga jadi ngasih makan aku? Aku laper nih,” katanya.

“Oh, eoh! Geurae. Ini,” kataku segera meladeni permintaannya. Rasa maluku sedikit berkurang. Rupanya bukan karena sikapku aneh. Ah, syukurlah. Kami lalu melanjutkan makan berdua. Aku bertanggung jawab atas makanan, dia yang bertanggung jawab atas minuman. Kami makan diam-diam supaya tidak menjadi perhatian yang lain, tapi kami jelas tidak bisa makan dengan diam. Makanan kami muncrat kemana-mana, air minum kami menetes-netes. Dan kami terkekeh-kekeh dibuatnya sehingga makin membahayakan make-up dan kostum kami.

Akhirnya kami memutuskan untuk berhenti makan. Dengan masih tertawa aku memperhatikan bekas makanan di sudut-sudut bibir Yesung. Otomatis aku meraih tissue dan mengelapnya. Menyebabkan Yesung berhenti tertawa. Dia menatapku dengan intens, membuatku grogi. “Itu, ada sisa makanan di mulut kamu. Nih,” kataku berhenti mengelap mulutnya dan menyodorkan tissue sebagai gantinya.

Dia tersenyum, “Aku ga bisa liat dimana sisa makanannya, jadi kamu yang harus ngelapin buat aku.”

Mendengar itu aku tersipu. “Kalau begitu, permisi…” kataku.

Setelah selesai, giliran dia yang meraih tissue dan memintaku diam karena kali ini dia akan mengelap mulutku yang belepotan. Sewaktu satu tangannya memegang sisi kepalaku, hatiku berdegup makin kencang. Aku berusaha ga melihat ke arahnya. Makanya ketika dia bertanya, aku agak terkejut sebab aku sedang berkonsentrasi agar tidak terkonsentrasi padanya. “Tadi ngomong apa aja sama Sungmin?”

“Hah? Oh, itu. Kami tadi ngobrolin penyanyi. Abisnya masa dia sampe bisa mainin lagunya Attomic Kitten yang ga ngehit-ngehit banget gitu,” aku menjelaskan dengan bersemangat. “Ternyata Sungmin-a main gitarnya bisa bagus banget ya? Aw!” teriakku tertahan waktu dia menusuk pipiku.

“Oh, mian. Itu bekasnya susah ilang.”

“Hah? Bener? Apa aku ke toilet aja ya? Yang ada kacanya?”

Buru-buru dia menjawab, “Udah ga usah. Udah ilang sekarang.”

Dia memandangiku. “Tapi kayaknya make-up mu perlu disempurnakan sedikit lagi deh. Agak ilang gara-gara aku lap tadi.”

Dia menarik tanganku ke ruang rias. Di dalam sudah kosong kecuali satu orang teteh perias, karena acara akan dimulai sebentar lagi. Cepat-cepat Yesung minta tolong si teteh perias untuk membetulkan make-up kami. Dalam 5 menit semuanya sudah beres. Namun ketika aku hendak keluar mengikuti teteh perias, Yesung mencegahku.

“Nanti kita kan keluar pasang-pasangan, nah gimana kalau kita melakukan pose saat di atas panggung nanti?” tanyanya.

Aku bingung. “Memangnya kita disuruh pose?”

“Ya ga sih, cuman kita kan nanti disuruh maju ke depan kamera, nah, kita bikin pose. Mau ga? Biar beda gitu dari yang lain.”

Aku memikirkan idenya. Boleh juga. “Tapi pose yang gimana? Aku ga mau ya kalau aneh-aneh.”

“Gimana kalau membentuk hati pake tangan kita?”

“Ireohke?” tanyaku sambil memperagakan. Satu tanganku diangkat ke atas kepala.

“Ani, jangan begitu. Itu terlalu kekanak-kanakan. Kita pasang tampang cool, terus tanda hatinya dibikin di depan dada kita aja pakai telapak tangan, terus dimajuin ke kamera gini,” dia memperagakan sambil meraih tanganku.

“Oh, oke. Ayo kita latihan,” kataku.

Kami lalu berpura-pura menganggap kaca rias sebagai kamera. Berusaha menampilkan postur yang bagus di depan kaca. Setelah itu menempelkan kedua telapak tangan kami membentuk hati. Tiba-tiba tangan Yesung melingkari pinggangku. “Kamu harus lebih dekat, biar kita berdua bisa terlihat di kamera,” katanya menarik tubuhku merapat ke arahnya. Oh, tidak!

Oh, ya!

Aku otomatis melihat wajahnya. Dekat sekali, ganteng sekali, imut sekali, sempurna sekali.

“Kamu kenapa? Kenapa melihatku begitu?” Yesung bertanya.

Tanpa sadar aku menjawab pertanyaannya, “Suamiku tampan sekali,” bisikku.

Matanya membesar, lalu dengan tiba-tiba melepaskan tubuhku.

Aku tersadar dan kami berdua langsung sama-sama jadi kikuk.

“Yha! Kita sudah latihan kan? Sebaiknya kita keluar biar ga dicariin sama yang lain.”

Aku mengangguk-angguk salah tingkah. “Oh? Iya, ayo.”

Kami berjalan bersamaan ke arah pintu. Sekali lagi menjadi kikuk ketika secara bersama-sama kami hendak meraih gagang pintu.

Kami sampai di belakang setting tempat semua orang sudah berkumpul dengan dada berdegup kencang. Tiba-tiba ada yang menepuk pundakku. “Noona, dari mana aja? Aku hampir berkeliling mencarimu tadi, sebab PD-nim sudah hendak memulai rekamannya.” Sungmin.

“Oh,” aku senang perhatianku teralih dari Yesung. “Kami tadi makan dulu. Kamu udah makan, Sungmin-a?” tanyaku.

“Wah, belum. Tahu gitu aku tadi ikut kalian ya. Perutku lapar sekali sekarang.”

“Yah, gimana dong? Apa mau makan dulu aja? Giliranmu masuk kapan?”

“Ga bisa, Noona, aku masuk no. 2.”

Dari belakangku mendadak tangan Yesung melingkari pinggangku dan menarikku ke arah tubuhnya. “Ya, kamu itu ngalangin jalan dia. Sungmin-a, kalau begitu kamu harusnya nunggu di depan. Ayo cepet ke depan sana.”

“Ne, Hyung.” Sungmin lalu menggandeng tangan Minhyun, istrinya, dan mereka melangkah ke depan, meninggalkan kami yang sekarang mengantri paling belakang.

Yesung tetap memeluk pinggangku. Aku merasa risih. Bukan karena hal lain, tapi risih dengan suara degup jantungku sendiri yang memekakkan telinga. Tapi Yesung ga mau melepaskan aku. Malah dia terus-menerus memaksaku berlatih pose kami. “Ya, Yesung ssi, lepaskan aku,” bisikku padanya sebab aku ga mau sampai orang lain melihat. Saat ini perhatian semua orang sedang ke arah panggung sebab acara sudah dimulai. Jangan sampai perhatian mereka teralihkan hanya karena tingkah kami.

“Kenapa kamu manggil aku begitu?”

Ih ni orang, sekarang bukan waktunya mempermasalahkan itu kan? “Oke, Sayang, lepaskan aku.”

“Tapi kita butuh latihan,” ekspresinya datar.

“Tadi kan udah,” bisikku ngotot. Degup dadaku semakin kencang, sebab dengan high heels wajahku kini hampir sama tinggi dengan wajah Yesung. Mataku kini setinggi hidungnya, membuat bibirnya jadi lebih sering jadi penampakan dalam pandanganku.

“Yesung ssi!” tiba-tiba pengarah acara memanggil.

Cepat-cepat Yesung melepaskan pelukannya. “Yesung ssi, ada perubahan. Setelah ini kalian yang masuk,” kata pengarah acara itu.

Yesung menggumamkan kata-kata tak jelas, lalu kami berdua maju. Pasangan Sungmin sudah masuk diikuti oleh pasangan Eunhyuk yang sekarang sedang berpose. Begitu mereka melangkah menuju bangku yang dipersiapkan untuk mereka, Yesung berbisik padaku, “Siap?”

Aku mengangguk bersamaan dengan panggilan untuk kami. Kutarik nafas, lalu melangkah bersama Yesung. Sensasi tangannya di pinggangku membuatku seolah tipsy. Di saat yang sama, sentuhannya itu mengecilkan arti kamera di sekitar kami. Normalnya aku pasti gugup dan canggung dengan sorotan lampu yang begitu banyak dan menyilaukan mata, belum lagi memikirkan pose yang harus kami lakukan, namun keberadaan Yesung disampingku mengacaukan sekaligus menguatkan semua inderaku.

Kami berjalan dan menatap kamera, dua langkah lagi, lalu, kami berpose menunjukkan tanda cinta. Begitu kami melakukannya, MC kami, Kang Hodong berseru keras dan orang-orang lain bertepuk tangan.

Kami menuju tempat duduk. Yesung memastikan aku duduk dengan nyaman sebelum dia sendiri duduk.

“Waa, Yesung ssi. Anda benar-benar menjadi suami yang baik ya?” Kang Hodong bertanya langsung. Di sebelahnya, Kim Wonhee, partnernya dalam memandu acara, berkomentar mendukung.

“Tentu saja. Saya memang sudah berniat menjadi suami yang baik sejak awal.”

“Oh, begitu ya? Baiklah, kita panggilkan pasangan selanjutnya! Siwon ssi dengan Jihae ssi!” …

Setelah semua dipanggil ke panggung, MC menanyai beberapa pasangan, lalu mulai menayangkan cuplikan-cuplikan video yang telah disiapkan. Dalam rekaman ini, tidak semuanya akan ditayangkan, hanya beberapa pasangan saja. Kami semua terlarut dalam tayangan. Sesekali tertawa, kadang mengangguk-angguk karena mendapat pelajaran dari pengalaman orang lain. Seringkali diskusi yang menarik tercipta seperti misalnya ketika ditayangkan mengenai agamaku.  Kang Hodong bertanya padaku, apa yang paling berat untuk dilakukan ketika harus beradaptasi.

“Ne,” aku menjawab. “Memang agak berat terutama ketika berbicara mengenai makanan dan waktu untuk beribadah. Terkadang orang mengira saya tidak sopan karena menolak makanan mereka karena mengandung babi, tapi saya belajar untuk memahami posisi mereka dan berusaha menjelaskan. Lalu juga untuk beribadah yang harus dilakukan lima kali dalam satu hari. Jujur saja, di awalnya dulu saya agak kesulitan. Tapi di rumah kami, karena saya sudah beradaptasi lebih dulu, jadi saya sudah bisa mengatur waktu lebih baik.”

Aku menoleh pada Yesung ssi, “Saya selalu berusaha agar aktivitas keagamaan saya berjalan seimbang dengan aktivitas harian saya. Untungnya Yesung ssi sangat pengertian, sehingga sangat mudah bagi saya menjalaninya.”

“Mari kita lihat bagaimana reaksi Yesung ssi ketika Bee ssi menceritakan mengenai agamanya,” seru Kang Hodong.

Lalu di layar terlihatlah kami yang sedang mendiskusikan sesuatu. Bagaimana Yesung menerimanya hanya dengan kata, “Baiklah, sepertinya akan menarik.” Bagaimana dia kemudian hingga beberapa hari mengamati caraku beribadah. Lalu munculah gambar Yesung dengan latar belakang tirai hitam. Dia ditanyai oleh PD-nim tentang perasaannya mengenai perbedaan agama di antara kami.

“Awalnya jujur saja saya benar-benar tidak tahu. Ya, saya pernah mendengar tentang agama Islam, tapi belum pernah berinteraksi langsung dengan pemeluknya. Makanya ketika Bee ssi mengatakan dia beragama Islam, saya terkejut, tapi jujur saja saya malah bingung bagaimana saya harus bereaksi. Itu bukan berita yang reaksi orang yang mendengarnya bisa diprediksi, saya rasa.”

Lalu layar menampilkan adegan kami makan di RS Seoul tempatku bekerja sekaligus dirawat ketika jatuh pingsan dua hari yang lalu.

“Oh, ini waktu Bee ssi sakit, ya?” Kim Wonhee bertanya.

“Ne,” jawabku.

Terdengar suara Yesung yang mengatakan bahwa dia berpesan pada ibunya agar jangan memberiku daging babi dalam makanan yang hendak dibawanya ke RS. Lalu adegan kami makan bersama-sama. Untunglah adegan ketika ada pasienku masuk dan terkejut melihat Yesung tidak diperlihatkan. Lalu tayangan berakhir.

“Wah, kalian sangat berbeda tapi justru terlihat sangat kompak dan saling mendukung.”

“Ne,” jawabku. “Saya sangat bersyukur sudah memilihnya sebagai suami. Karena ternyata dia orang yang sangat suportif. Dia tidak ragu memberi tahu orang-orang mengenai kepentingan saya. Pernah waktu itu kami makan malam di luar dan dia memesankan jajangmyun untuk kami. Dia mengatakan dengan jelas sekali kepada pemilik warung untuk menggunakan daging sapi saja. Waktu itu saya sangat terharu.”

“Ya,” Yesung menambahi. “Sebenarnya setelah melihat aktivitasnya dalam beribadah, saya merasa bahwa pasti akan berat baginya mencoba mengatakan hal-hal khusus seperti itu pada semua orang setiap kali dia akan makan ataupun bekerja, maka setidaknya saya ingin agar dia merasa bahwa saya ada di sisinya membantunya.”

“Dia benar-benar suami yang baik,” anggukku sambil menyentuh tangannya.

“Gomawo, Sayang.” Yesung membalas sambil menggenggam tanganku.

“Waah, kalian benar-benar mesra!” Kang Hodong berseru.

“Ah, kalian punya panggilan khusus ya?” Kim Wonhee mengalihkan topik.

“Ne,” kali ini Yesung menjawab duluan. “Sayang, itu Bahasa Indonesia. Saya pikir karena kami suami-istri, maka saya juga ingin menggunakan bahasa istri saya. Sekaligus agar berbeda dari yang lain.”

Kang Hodong berkomentar, “Oooh, begitu?” Kang Hodong mengalihkan pertanyaan pada yang lainnya. “Bagaimana dengan Leeteuk ssi, apa anda juga memiliki panggilan kesayangan dengan istri Anda?”

“Ah, kami ini pasangan tradisional Korea, jadi kami hanya memanggil ‘yeobo’ satu sama lain.” … Diskusi berlangsung sampai akhirnya satu setengah jam sudah berlalu. Pengarah acara kemudian memberikan tanda bahwa kami bisa break.

Setelah Kang Hodong menutup acara untuk sementara, PD-nim datang dan memberi instruksi bahwa waktu istirahat adalah 30 menit. Beberapa teteh perias menghampiri kami untuk membenarkan riasan. Aku melihat Ryewook menghampiri kami.

“Hyung,” katanya pada Yesung. “Kita latihan dulu, bagaimana?”

“Oh, baiklah.” Yesung berdiri. “Aku tinggal dulu ya?” ujarnya kepadaku.

“Oh,” jawabku.

Selepas kepergian Yesung aku celingak-celinguk mencari teman ngobrol. Tapi ternyata yang lain sedang dirias. Aku jadi ga enak kalau mau mengajak ngobrol.

“Noona!” tiba-tiba ada yang menyapaku dari belakang.

“Sungmin-a…” senyumku terkembang.

“Noona, ayo temani aku mencari makan. Minhyun sedang dirias ulang, jadi aku ingin membawakan makanan untuknya,” pintanya.

“Omo, so sweet…” aku menggodanya, dan dia hanya tersenyum malu-malu.

Harus kuakui Sungmin memang berbeda. Dia nampak lembut dan manis di luar, melelehkan hati noona manapun, tapi tatapannya tegas dan pasti. Senyumnya pun sangat akurat, sekilas tampak manis dan polos, namun aku bisa melihat bahwa dia adalah pria cool yang tidak membutuhkan senyum untuk membuat banyak wanita jatuh hati padanya. Dia seorang eksmud berkedok artis.

Aku lalu menemaninya mencari makanan. Kutunjukkan padanya dimana tadi kami mengambil makanan. Dia berseru gembira menemukan makanan itu.

“Minhyun masih dirias, kan?” tanyaku.

“Sepertinya masih,” Sungmin menjawab tanpa memandangku. Matanya sibuk memilih-milih apa yang akan dia ambil.

“Kamu mau makan bersamanya atau…”

“Aku mau makan dulu, Noona. Aku sudah sangat lapar.”

Aku memandangnya dengan kasihan.

“Ahahaha, tidak usah kasihan begitu padaku, Noona. Aku hanya melebih-lebihkan kok. Ngomong-ngomong, Noona suka ya pada Yesung Hyung?”

Mwo? Darimana dia tahu? “Ya suka lah. Siapa sih yang ga suka member Super Junior?” aku berusaha mengelak.

“Ani, Noona. Aku bisa langsung tahu lho, kalau ada yang suka sama seseorang…” Sungmin melemparkan tatapan bersekongkol padaku.

Aku menghindari tatapannya. “Wah, kau cenayang dong kalau begitu.”

“Noona!” panggilnya seolah terkejut karena sesuatu, membuatku menoleh padanya. Sial, aku kena. Memang dia bermaksud membuatku melihatnya. Wajahnya meledekku, “Kau tidak bisa membohongiku, Noona. Ada apa-apa kan di antara kalian?”

Aku membuka mataku, memberikan puppy eyes padanya, “Iya lah. Dia kan suamiku.”

“Ahahaha,” akhirnya dia tidak bisa menahan tawanya lagi. “Noona kau harus melihat mukamu sendiri. Merah sekali.”

“Ya, Sungmin-a!” Aku kesal karena dia bisa menebakku dengan mudahnya.

“Tenang saja, Noona. Aku tidak akan mengatakannya pada siapa-siapa.”

“Apa? Mengatakan apa?” tolong jangan goda aku seperti ini. Aku takut aku malah memikirkannya nanti. Aku takut aku semakin menyadari perasaanku padanya.

“Yah, menurutku sih Noona tidak perlu khawatir. Noona cantik kok. Malah menurutku Noona yang paling cantik hari ini.”

Omona~ ini anak ternyata bocor juga! “Ah, terima kasih,” aku pura-pura malu-malu, jiwa narsisku terangsang. “Aduh, jadi ga enak sama Minhyun. Masa suaminya bilang aku lebih cantik…” aku berusaha mengalihkan fokus pembicaraan kami pada dirinya.

“Ahahahaha, Noona. Kau lucu sekali kalau sedang malu-malu begini. Pokoknya sekarang aku yakin aku benar. Aku tahu isi hatimu, Noona.”

Sial. Ini anak benar-benar tipe otak rupanya. Ga mudah mengalihkan perhatiannya dari sesuatu yang sudah dia fokuskan.

Dia memperhatikanku, sambil mengangguk-angguk dia berkata, “Menurutku sih Noona punya modal. Hari ini Noona stand out sebab Noona tampil paling berbeda dari yang lain. Sebagai laki-laki aku memuji bahwa Noona seksi.”

Aigoo, climate change memang terjadi. Tiba-tiba di dalam studio terasa sudah musim panas. “Yah~” sergahku. Baru kali ini aku dibilang seksi. Sama member Suju, lagi. Kyaaaa!

“Jeongmal. Baju Noona itu sesuai sekali dengan warna kulit Noona yang kecoklatan. Wardrobenya pinter nih. Eh, ada sesuatu di pundakmu, Noona…” dia bergerak hendak mengambilnya. Baru selesai dan hendak ditunjukkannya padaku, terdengar suara keras memanggilnya.

“Sungmin-a!”

Kami serempak menoleh ke sumber suara. Yesung.

Wajahnya datar, tanpa ekspresi sama sekali. “Minyeong ssi mencarimu,” dia berjalan mendekat.

Di mataku Sungmin memudar. Pengaruh Yesung terlalu kuat meskipun dia masih beberapa langkah jauhnya dariku.

“Hyung! Nama istriku itu Minhyun. Minyeong anieyo!” Sungmin memprotes.

Perasaanku saja atau memang Yesung sedang memperhatikan aku dengan tajam? Tiba-tiba dia memutuskan kontak mata kami dan nyengir ke arah Sungmin. “Ehehe, mian. Geurae, Minhyun ssi mencarimu.”

“Ya, aku juga mau mencarinya, mau memberikan makanan ini padanya.” Sungmin mengangkat satu piring kertas yang penuh berisi makanan. “Noona, aku pergi dulu ya. Terima kasih sudah menemaniku makan. Sampai nanti,” dia pergi ngeloyor sambil melambaikan tangan.

Di belakang Yesung dia mengedipkan mata padaku, membuatku terkesiap. Aku memelototinya.

Begitu melihat Yesung lagi, aku berteleport ke luar angkasa. Mayday! Need oxygen, immidiately! Pandangan Yesung menghabiskan semua jatah udaraku. Aku tersengal. Tatapannya begitu kuat dan menghujam. Ada apa dengan hari ini? Kenapa dia berbeda dari biasanya? Kenapa dia bertambah tampan? Apa alasannya dia jadi tambah seksi? Apa dia kemarin baru pasang susuk?

“Apa kamu lapar lagi?” pertanyaannya mengambang di udara.

“Hah?” aku cuman bisa cengo.

“Kamu makan lagi?” katanya menunjuk makanan yang berjajar di atas meja.

Ampun dah, kenapa dia mesti ngomong sih? Aku kan jadi perhatian ke bibirnya! Kujilat bibirku yang mendadak terasa kering.

Kudengar dia terbatuk kecil. “Ah, aku hanya menemani Sungmin makan tadi,” sahutku gugup. Inilah pertama kalinya aku merasa gugup di hadapan Yesung. Sejak pertama kami bertemu, inilah pertama kalinya aku merasa tidak mampu menguasai diri di dekatnya.

“Kamu cepet banget deket sama Sungmin ya?” dia bertanya. Nadanya biasa saja, tapi entah bagaimana aku bisa menangkap sesuatu di sana. Aku ga tau apa tepatnya sesuatu itu. Tapi ada.

Pertanyaannya mengingatkanku pada pribadi Sungmin yang terbuka dan menyenangkan. Aku tersenyum senang, “Ya. Dia baik sekali. Orangnya ramah dan suka membantu.”

Yesung tidak mengatakan apa-apa. Aneh. Biasanya dia langsung menanggapi ucapanku. Dia malah membersihkan pundakku, merubah keherananku jadi kegugupan dalam sekejap. Lalu mengambil minuman yang ditata di sebelah tempatku berdiri. Hatiku merosot sampai ke lambung karena merasakan hembusan nafasnya di lenganku.

Dia minum sambil melihatku. Pertama aku membalas pandangannya, tapi lalu aku merasa terlalu malu untuk melanjutkan, jadi aku membuang pandangan ke arah mana saja kecuali ke arahnya. Tiba-tiba tangannya terulur. Jarinya menyentuh sudut mulutku. Bibirnya terbuka. Dia berkata, “Lipstikmu terhapus,” ujarnya.

YA! Kamu ga harus ngomong gitu sambil nyentuh bibirku, kan?! Sekarang aku pasti akan selalu teringat ini kalau pakai lipstik! Aku mengamuk protes dalam hati. Pengin rasanya nyantolin papan bertuliskan, “Hati-hati, makhluk ini dapat menyebabkan anda terkena serangan jantung. Bila serangan berlanjut, segera beri tahu saya dokter yang tepat untuk menyembuhkannya.”

Belum sempat aku merespon, dia berkata lagi, “Donghae lebih ramah dari Sungmin.”

Aku yang masih shock dengan tindakannya ga ngerti ke mana arah pembicaraannya. Tapi juga aku belum mampu bicara, maka aku hanya menunjukkan sikap bertanya apa maksudnya.

Jawabannya, sodara-sodara… Jawabannya adalah… “Ayo, kamu perlu dirias ulang.”

!!!

Itu bahkan bukan jawaban. Apalagi penjelasan. Aaagh, ada apa sih dengannya hari ini?!

Ternyata riasanku ga separah itu. Teteh perias hanya membubuhkan sedikit lagi bedak dan lipstik di bibirku. Melapisinya dengan lipgloss berglitter tipis-tipis, dan katanya aku sudah selesai. Kami lalu kembali ke tempat pengambilan gambar.

Kami sedang menanti dimulainya lagi shooting ketika seseorang berdiri di sebelahku. Ternyata Minhyun. Aku belum pernah berkenalan resmi dengannya, maka aku sapa dia. “Anyeonghaseyo, Minhyun ssi,” kataku.

Dia menoleh, dan ternyata Sungmin ada di sebelahnya. “Noona!” serunya.

Minhyun melihatku dan Sungmin berganti-ganti. Sepertinya dia hendak mengatakan sesuatu tapi takut salah. “Ah, ne. Anyeonghaseyo,” jawabnya ragu.

“Sudah selesai makannya?” tanyaku berbasa-basi.

Minhyun melihatku, lalu Sungmin menyentuh lengannya lembut. “Noona tadi membantuku mencarikan makanan yang aku berikan untukmu.”

Pengertian meresap di wajahnya. “Oh, ne. Sudah. Terima kasih sudah membantu,” dia menunduk sedikit.

“Ah, bukan apa-apa kok,” balasku.

“Hyung, perkenalkan, ini istriku,” Sungmin memanggil Yesung yang berdiri di sebelahku. Memang sih dari beberapa kali pertemuan, kami berempat belum sempat berkenalan dengan layak.

“Anyeonghaseyo,” Yesung menyapanya yang dibalas dengan ramah oleh Minhyun.

“Hyung, istriku ini katanya sangat suka pada suaramu.” Sungmin berkata.

Yesung menggaruk-garuk belakang telinganya sambil tersipu. “Ah, benarkah? Hahaha.”

“Harusnya kau memilihnya saja. Kenapa malah memilihku?” Sungmin pura-pura merajuk pada istrinya.

“Oppa~” Minhyun terlihat malu.

Ciss, jadi anak ini suka pada Yesung?! Aku bersungut-sungut dalam hati.

Sungmin tampak senang melihat ekspresi Minhyun. Dia lalu melanjutkan, “Atau kita bertukar saja? Kau dengan Yesung hyung, dan aku dengan Bee noona?”

Tanpa peringatan, Yesung menggamit lenganku. Menarikku ke belakang tubuhnya. “Andweh…” katanya cukup keras mengagetkan kami semua, termasuk Sungmin. Sesaat kemudian Sungmin tertawa cukup keras sampai beberapa orang menoleh.

“Oppa!” Minhyun mngingatkannya. “Aku suka suara Yesung Oppa, tapi aku lebih suka Oppa.”

Buset dah, ni anak lugu apa gimana ya? Itu kan namanya pengakuan! Aku salut pada spontanitas Minhyun.

“Arasseo, arasseo,” Sungmin menjawab sambil masih tergelak. Entah kenapa dia kemudian mengacungkan jempol padaku, “Noona! Jjang!”

Aku mengerucutkan bibir, ga tau apa maksudnya. Yang jelas, hanya Sungmin satu-satunya yang tertawa di antara kami berempat. Akhirnya dia menyadari bahwa dia tertawa untuk alasan yang tidak ada yang tahu apa. Dia merasa canggung sehingga menyebabkan kami ikut canggung juga. Untung saja pengarah acara berseru mengumumkan bahwa shooting mau dimulai lagi.

Yesung memegang lenganku, dan dia melangkah mendahului SungMinhyun couple, menarikku bersamanya. Aku bisa mendengar Sungmin kembali tertawa di belakang kami meskipun tidak sekeras tadi. Anak itu kenapa ya? Perasaan dia ga ada tanda-tanda kesambet deh pas tadi ngambil makan bareng aku.

Shooting terus berlanjut hingga pukul 8 malam. Aku baru tahu bahwa untuk menghasilkan acara bincang-bincang perlu waktu selama ini. Belum lagi Yesung, Ryewook dan Kyuhyun harus shooting terpisah untuk menyanyikan lagu yang sudah mereka siapkan. Hah, meski bertanya-tanya, aku ga mau membayangkan lebih jauh tentang proses editing acara ini nantinya. Bayangkan aja, 9 pasangan, 9 rumah tangga, berpuluh-puluh kaset video, kalau aku jadi PD-nim, mungkin aku sudah kayak kucing dimandiin 2 kali sehari sama pemiliknya. Stres.

Tapi pengalaman seperti ini tentunya sangat mengasyikkan untukku. Meskipun melelahkan, tapi lelahnya tidak terasa. Hanya satu hal yang agak mengganjal untukku. Yesung luar biasa pendiam di luar waktu shooting. Ini tidak biasanya. Oh, dia banyak bicara di atas panggung. Melontarkan banyak gag, melakukan hal-hal konyol, seperti yang biasa dilakukan para member Suju jika mereka mengisi acara. Tapi begitu memasuki break, dia langsung diam. Seperti ada yang dipikirkannya.

Aku sendiri semakin lama semakin menyadari keberadaannya. Setiap kali menoleh, rasanya dia selalu berada di dekatku. Kemana mataku melihat, dia masih dalam jarak pandang. Kupikir aku bergerak menjauhinya, eh, ternyata dia malah semakin dekat denganku. Ini juga aneh. Karena aku mulai merasa yang aneh-aneh seperti tenggorokan kering dan bibir pecah-pecah, eh, yang terakhir ga ding, saat dekat dengannya. Badanku juga tiba-tiba mudah menggigil di dekatnya. Ah, ga tau deh.

Kami akhirnya keluar dari studio 30 menit setelah pukul 8. Teteh-teteh wardrobe memperbolehkan kami membawa pulang pakaian yang kami pakai dan dikembalikan besok. Sepanjang perjalanan kami hanya diam. Tidak satu pun dari kami berbicara. Aku tidak berani mengatakan apapun karena Yesung tampak sangat tenggelam dalam pikirannya sendiri. Makanya ketika dia bertanya aku cukup terkejut, “Aku tidak melihatmu beribadah seharian tadi. Padahal matahari sudah tenggelam. Kamu kan biasanya beribadah saat matahari tenggelam.”

Aku memandangnya. Benarkah dia menanyakan itu? Apakah dia benar-benar ingat waktuku beribadah? Kupingku ga dibisiki setan, kan? “Aku tidak akan beribadah sampai beberapa hari ke depan,” jawabku sambil tetap merasa terperangah.

Dia menoleh padaku. Mengernyit sedikit.

Aku menangkap kebingungannya dan hendak mengatakan alasanku ketika tertangkap oleh sudut mataku kamera yang dipegang oleh kameramen di kursi belakang sedang merekam. Maka aku mendekatkan tubuhku padanya, membisikkan alasanku. Mobil oleng sedikit dan aku terjerembab kembali ke tempat dudukku. “Mian, ada mobil pindah jalur mendadak tadi,” alasannya.

Aku menahan tawa. Dia kan udah dewasa, masa mendengar hal alami begitu aja kikuk sih? Ah, aneh. Sesaat kemudian aku melihatnya sedang mengusap telinga yang tadi kubisiku. Mukanya memerah.

Di belakang seorang kameramen bertanya, “Apakah kami tidak boleh tahu?”

“Tidak,” jawabku cepat-cepat. Kalau Yesung kan beda, kalau dia tahu, hanya dia yang akan tahu. Kalau aku mengatakannya kepada kamera, sama saja seperti aku mengatakan kepada seluruh negeri.

Mereka pun bertanya kenapa mereka tidak boleh tahu. Aku jawab, “Itu terlalu memalukan untuk direkam.”

Yesung hanya tersenyum mendengar jawabanku. Setelah itu dia kembali diam tidak bicara apa-apa lagi. Meskipun bingung, aku tidak mau mengganggunya. Jadi aku ikut diam saja.

Tiba-tiba lenganku disentuh. “Bangun, Sayang,” suara Yesung terdengar lembut. “Kita udah sampe.”

Aku membuka mata. Rupanya aku tertidur. Aku langsung terbangun dan segera melepas sabuk pengaman. Yesung rupanya membangunkanku dari luar. Dia sudah membukakan pintu mobil untukku. Di tangannya ada tasku. Aku langsung keluar dari mobil dan mengucapkan terima kasih padanya.

Dia membukakan pintu untuk kami berempat lalu mempersilahkan satu kameramen masuk duluan, lalu kami dan terakhir kameramen kedua. Aku melepas sepatu dan berseru, “Akhirnya. Rumah.”

Yesung diam saja. Aku berjalan ke sofa di depan tv dan menghempaskan tubuhku di sana. “Ah, senangnya… sofa empuk!” aku kegirangan merasakan nyamannya sofa kami.

Yesung datang, meletakkan tasku, lalu duduk di sebelahku. “Kamu capek?” tanyanya sambil tersenyum, meski senyumnya itu tidak sampai ke matanya.

“Ya. Tapi aku senang.”

Aku menoleh ke samping, mengajak bicara Dangkoma. “Dangkoma, maaf lagi-lagi kau kami tinggal. Hari ini kami rekaman di studio. Menyenangkan sekali bertemu banyak orang di sana. Tapi kalau kau kurasa akan merasa stres. Itu terlalu banyak orang untukmu.” Aku nyerocos sambil menyandarkan daguku di tangan sofa. Satu tanganku masuk ke dalam akuarium, mengelus-elus kepalanya.

“Aku ke kamar mandi,” Yesung mendadak berkata.

Aku tidak menanggapinya dan malah ngobrol lagi dengan Dangkoma, “Tuanmu itu hari ini kenapa ya? Dia aneh banget deh. Apa dia sakit ya?”

Aku merasa aneh sendiri mengajak Dangkoma bicara, akhirnya aku merebahkan tubuhku di sofa. “Aaah, enaknya berbaring,” kataku. Aku memejamkan mataku yang terasa panas karena seharian melihat ke sana-kemari. Ternyata kegelapan bagus juga untuk menenangkan pikiran.

“Bersihkan dulu mukamu sebelum tidur,” suara Yesung mengejutkanku. Omo, aku pasti lagi-lagi tertidur sampai-sampai tidak mendengarnya keluar dari kamar mandi. Aku membuka mata dan menemukannya sedang memegang rangkaian pembersih muka miliknya.

Aku bangun dan dia duduk di bekas kepalaku tadi. Kulihat mukanya sudah bersih dari make-up. Aku benar-benar tertidur rupanya.

“Kayaknya kamu capek banget,” katanya. Dia lalu memutar tubuhku membelakanginya lalu menarik pundakku hingga aku jatuh terbaring dengan kepala di pangkuannya. “Sini, aku bersihkan mukamu.”

Mukaku memanas, ini memalukan sekali. Aku berbaring di pangkuan Yesung?! Aku segera bangun. Tapi dia menahanku. “Sssh, jangan bergerak, nanti pembersihnya tumpah ke sofa!”

Aku membeku di tempatku. Dia benar-benar mau membersihkan mukaku? Lalu aku merasakan sebuah sensai dingin ditempelkan ke beberapa titik di mukaku. “Jangan tegang begitu,” ujarnya sambil meratakan lotion apapun yang tadi ditaruhnya ke wajahku.

Gimana ga tegang? Ini pahamu, lho Sung! Pahamu! Lagi aku tidurin! Aduh, aku tiba-tiba menggigil lagi.

Dia menatapku, “Kamu kedinginan?” tanyanya.

Idih, kamu tuh ga sensi banget sih? Aku ini lagi berdebar-debar karena lagi kamu rawat, tahu… “Ga,” jawabku. “Pembersihmu itu sejuk di wajah. Wangi lagi. Jadi aku ngebayangin harganya pasti mahal,” aku beralasan. Apa aja deh, yang penting nutupin grogiku.

“Perasaan pembersih ini ga ada baunya deh. Aku jarang beli yang ada parfumnya, sebab kurang bagus untuk kulit,” katanya heran menatap mataku. Iya juga sih, sebenernya aku ga mencium apa-apa dari pembersih itu. Gawat, jangan-jangan ketahuan kalau aku grogi, kok dia menatapku begitu? Lalu aku berusaha mencari ide untuk menutup-nutupi perasaanku yang sebenarnya.

“Matamu kecil,” kataku.

Dia melotot. “Ga! Besar! Nih liat. Besar kan? Kan?” dia terus-terusan memelototkan matanya membuatku tertawa. “Matamu tuh yang terlalu besar!” dia membalasku masih dengan mata yang dilebar-lebarkan.

Aku terkikik-kikik. Merasa agak sedikit lega. Untuk menutupi kecanggunganku sendiri, aku mengangkat topik mengenai matanya. Setiap aku mengatakan itu untuk menggodanya, dan dia selalu menjawab dengan jawaban yang sama. Selalu aku dibuat tertawa melihat reaksinya. Seperti saat ini. Aku terus menggodanya agar aku terus merasa geli dan melupakan bahwa Yesung sedang membersihkan mukaku.

Sambil masih membelalakkan matanya dia berkata, “Tutup matamu. Aku harus membersihkan kelopak matamu.”

“Ahahahaha, iya, iya. Tapi ga usah sambil melotot gitu dong.. Hahaha,” tawaku meledak.

Dia lalu tersenyum. Gagal melakukannya sambil melotot, dia pun menyerah dan ikut tertawa bersamaku. Aku terus tertawa dan memejamkan mata. Entah berapa lama aku tetap tertawa sampai aku sadari bahwa tawanya sudah berhenti. Tangannya masih mengusap-usap pembersih di daerah T dan kelopak mataku, tapi tak terdengar lagi suaranya. “Sayang?” panggilku.

“Hey, Sayang?” panggilku lagi karena tidak terdengar jawaban darinya. Saat akan membuka mata untuk melihat ada apa, dia menekan kelopak mataku.

“Jangan dibuka matanya, aku lagi konsentrasi menghapus eye shadowmu nih. Ah, teteh tukang rias tebel banget nih ngeriasnya!” dia berkata.

Aku tersenyum. “Arasseo,” jawabku singkat.

“Gomawo, Sayang,” tambahku.

Lagi-lagi dia tidak menjawab. Tapi dari gerakan tangannya aku tahu bahwa dia mendengarku. Maka aku memutuskan tidak akan menolak lagi kali ini. Aku akan menikmati saat ini dan mungkin di masa yang akan datang aku bisa mengingatnya sebagai momen yang membahagiakan.

Dia terus menghapus make-up ku, membuatku terbuai. Perlahan-lahan kantuk melandaku. Aku bahkan tidak sadar bahwa aku sudah mulai jatuh ke alam tidur. Dan aku terus memejamkan mata hingga saat matahari terbit.

D7-KKEUT.

First published: http://aineino.wordpress.com.

12 thoughts on “[Freelance] The Marriage and Us {Day 7}

  1. comment pertama…. yeyeye… * gaje dance
    blom baca tapi kayaknya seru… nyiahahaha…
    *stress stadium 3
    akhhirnya nyampe jg eps. 7… thor, ntar jgn lama2 postx yaaa… *reader banyak maunya hehehe…

  2. Aaaaaah makin lama makin seru nih :D lanjutannya jangan lama2 ya ini FF yg paling aku tunggu2 loh akhir2 ini :D

  3. terima kasih semua komennya ya.. *bow*
    sisa parts-nya udah aku kirimin kok ke admin, semoga cepet dipublish..

    Be te we, mau nanya nih…

    Ada yg tau ga, kenapa mobil Yesung oleng waktu Bee ngebisikin alasan dia ga beribadah? Hayoo, siapa yg tau???

  4. jiah dah mulai dweh tanda2 nya
    yesung fall in love kyaknya
    co tuh gthu yah harz d jealous2in biar tahu hatinya ( jd curhat dweh hihi)
    lanjut love storynya dweh
    read next part ah

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s