[Freelance] About My Love? [part 3 END]

Tittle   : About My Love? [part 3/END]

Author   : Calista Choi

Cast   : Lee Donghae, Choi Siwon, Kim Kibum, Lee Hyukjae

Rating   : PG-15

Ps  : Silahkan komen apapun yang diinginkan. Kalo jelek, bilang aja kalo jelek ya. Saya nggak bakal tersinggung kok. Hehehehe. Kalo yang nggak mau komen jg nggak pa-pa. ^^

Pernah dipublish di blog pribadi, calistachoi.wordpress.com
Setelah makan siang dengan Donghae di apartemenku, aku dan Donghae bermalas-malasan di depan TV. Aku tiduran di sofa panjang, sedangkan dia duduk di sofa tunggal. Cuaca di luar mendung tapi tidak hujan. Kami sedang menonton acara musik. Terkadang dia ikut bersenandung. Ani ani, bukan bersenandung. Tapi dia menggantikan penyanyi yang tampil di acara itu. Bagaimana tidak? Dia mengcover semua lagu yang dinyanyikan penyanyi itu dengan volume suara yang menghebohkan.

Your browser may not support display of this image.

“Ya Lee Donghae!! Bisa kau kecilkan suaramu itu? Aish, aku jadi tidak bisa mendengar suara penyanyinya.” kataku sebal.

“Suaraku lebih bagus dibandingkan dengan suara penyanyi aslinya.” katanya membela diri. Suaranya memang bagus, tapi kalau dia mengcover semua lagu seolah dia berduet dengan penyanyi aslinya dengan suara menghebohkan, bukankah itu sama saja dengan merusak?? (=.=)

“Akan lebih baik jika kau diam saja tuan Lee.” kataku sambil melempar bantal sofa ke arahnya. Dan tepat menghantam kepalanya.

“Aish, kenapa senang sekali melemparku? Tadi kau melemparku sendok, sekarang bantal. Nanti apa lagi? Kau mau melemparku dengan sofa?”

“Ani. Lebih baik kau kudorong masuk ke dalam jurang terdalam. Dengan begitu kau tidak bisa menggangguku lagi. Hahaha.” kataku penuh kemenangan.

“Nanti kau merindukanku kalau aku tidak ada…” godanya sambil mengangkat-angkat kedua alisnya.

“Menjijikkan.” kataku sambil menatapnya sengit.

“Walaupun menjijikkan, kau tetap menyukaiku. Hahaha.” katanya percaya diri.

“Tidak akan pernah.” sahutku seraya bangkit dari sofa dan berjalan ke arah kamar.

Ketika aku keluar kamar,

“Kau mau ke mana?” tanya Donghae ketika melihatku memakai pakaian untuk pergi keluar.

“Ke supermarket.” jawabku singkat.

“Kutemani.” katanya sambil memakai hoodienya.

Setelah menutup pintu apartemen, Donghae langsung menggenggam tanganku.

“Donghae-ya, kau pikir aku anak kecil ya?” tanyaku.

“Mwo?” tanyanya dengan dahi berkerut.

Aku mengangkat tanganku yang digenggam oleh Donghae.

“Kau pikir aku anak kecil yang tidak tahu jalan dan gampang tersesat sehingga perlu kau gandeng begini??” tanyaku kesal.

“Ne.” jawabnya innocent, lalu menarik tanganku ke arah lift.

“Mwoya??” gumamku.

Kami berjalan menunu supermarket yang berada tak jauh dari apartemenku. Persediaan makanan di apartemen sudah menipis. Bahkan peralatan mandi juga sudah hampir habis. Aigoooo~

Donghae menggenggam tanganku sambil mengayun-ayunkannya.

“Ya Lee Donghae!! Hentikan!” kataku dengan penuh penekanan.

“Wae?” Dia menatapku dengan ekspresi innocent.

“Jangan pasang ekspresi seperti itu! Menjijikkan.” kataku tanpa menatap wajahnya.

“Wae?”

“Aish. Diamlah saja kau Lee Donghae. Menyebalkan.”

“Arasseo.”

Tiba di apartemen setelah berbelanja, aku langsung menaruh barang-barang belanjaan di pantry dapur. Kemudian memisahkannya dan menaruh di tempatnya masing-masing. Sedangkan Donghae, dia langsung merebahkan tubuhnya ke sofa. Aku yakin dia sangat kelelahan. Bagaimana tidak, tadi dia menggendongku di punggungnya (piggy back) dari supermarket hingga apatemen. Kenapa bisa begitu??

-flashback-

Aku dan Donghae sama-sama memperhatikan pasangan yang sedang bertengkar di jalan dekat supermarket.

“Aigooo~ kenapa mereka bertengkar di jalan?” gumamku ketika melihat pasangan itu.

“Mungkin terjadi kesalahpahaman.” kata Donghae berspekulasi.

“Sok tahu.”

“Aku memang tahu.”

“Mwo??”

“Ne, lihat saja. Mereka pasti akan berbaikan sebentar lagi.”

“Kau benar-benar sok tahu Lee Donghae.”

“Aku benar-benar tahu.”

Aku tersenyum misterius. “Ya Lee Donghae, ayo taruhan.”

“Mwo?”

“Pasangan itu.” kataku sambil melirik pasangan itu dengan ekor mataku.

“Wae?”

“Menurutmu, apa yang akan terjadi pada mereka? Yeoja itu akan memaafkan namja itu atau tidak?”

Donghae mengerutkan keningnya. “Apa taruhannya?”

“Mengabulkan satu permintaan yang menang.” kataku.

Donghae memandangku berbinar. “Geure? Ah, aku ingin kau menciumku.”

“Mwoya???” Kujitak keras kepalanya.

“Wae? Kau bilang akan mengabulkan satu permintaan yang menang.”

“Tapi kan belum tentu kau menang. Kita lihat saja, pasti yeoja itu akan menampar si namja dan pergi meninggalkannya.” kataku.

“Tidak mungkin. Yeoja itu akan memaafkan namja itu dan memeluknya. Kemudian mereka berciuman mesra.”

Kujitak keras kepala Donghae. “Lee Donghae babo!! Kenapa kau terus berpikiran mesum, hah?? Eunhyuk sepertinya sudah meracuni pikiranmu. Aigoooooo~”

“Apoooo~”

“Aish, jinja.”

Kemudian kulihat Donghae melotot ke arah pasangan itu. Aku langsung memalingkan tatapanku ke arah pasangan itu. Si namja memaksa mencium yeoja itu. Aku terperangah kaget. Mwoya??? Kemudian dalam hitungan detik, yeoja itu langsung menampar si namja dan pergi meninggalkannya.

“Yey!! Aku menang Lee Donghae. Kau lihat tadi, yeoja itu menampar si namja dan pergi meninggalkannya.” teriakku yang membuat namja tahuran kami tadi menoleh ke arah kami.

“Dia melihat kita. Aigooooo~ ayo cepat pergi.” kata Donghae perlahan dan langsung menarikku pergi dari sana.

Kami berlari menuju supermarket karena takut dihajar oleh namja tadi karena menjadikannya sebagai obyek taruhan. Selesai berbelanja, kami segera membayar ke kasir dan keluar dari supermarket.

“Donghae-ya, kau ingat kan taruhan kita tadi? Yang kalah harung mengabulkan satu permintaan yang menang.” kataku sambil tersenyum lebar.

“Memang apa yang kau minta?” tanya Donghae.

“Piggy back sampai apartemen.”

“Mwo??”

“Ayo cepat, aku malas berjalan sampai apartemen. Piggy back.” kataku.

Dan Donghae pun langsung berjongkok dan menggendongku yang di punggungnya. Dia juga membawa satu kantong belanjaan.

-flashback end-

Setelah menaruh masing-masing barang di tempatnya, aku menuangkan jus apel pada dua gelas dan membawanya ke ruang tengah.

“Duduklah.” kataku pada Donghae yang masih rebahan.

Donghae pun mendudukkan tubuhnya. Kuberikan gelas yang satu padanya sambil kududukkan tubuhku.

Donghae mengabiskan minumannya dalam sekali tempo. Menaruh gelasnya di meja dan langsung merebahkan kepalanya di pangkuanku.

“Ya! Apa yang kau lakukan?” teriakku sambil mencoba mendorong-dorong kepala Donghae.

“Aku lelah.” katanya.

“Memang aku berat ya?” tanyaku.

“O. Berat sekali. Seperti mengangkat 5 karung beras.”

“Mwo?? Kau ingin mati di tanganku, hah??” tanyaku sambil berusaha mencekik lehernya.

“Uhuk uhuk! uhuk,.. uhukk.” Donghae tebatuk-batuk saat aku melepas cekikanku padanya.

“Tidak usah berlebihan. Aku hanya mencekikmu perlahan.” kataku cuek.

“Ya Choi Sooyeon! Kau benar-benar ingin membunuh kekasihmu, hah?” teriak Donghae yang sudah dalam posisi duduk.

“Kau yang memulai.”

“Aigoooo~ Kau itu memang berat. Kenapa tidak mau mengakuinya?”

“Lee Donghae!! Kau menyebalkan!” teriakku sambil berusaha mencekik Donghae lagi.

Tapi Donghae malah melingkarkan tangannya di pinggangku saat aku berusaha mencekiknya. Karena sama-sama tidak menumpukan tangan pada sofa, aku dan Donghae jatuh terbaring di sofa dengan posisi aku di atasnya dan dia memeluk pinggangku.

Aku menatap matanya yang juga menatapku. Donghae mendekatkan wajahnya ke wajahku sehingga terpaan nafasnya di wajahku semakin terasa. Tangan Donghae yang semula melingkar di pinggangku, salah satunya kini bergerak menyusuri wajahku. Menyingkirkan anak rambutku yang terlepas dari kuncirannya. Donghae mengelus pelan pipiku, kemudian beralih ke ujung bibirku.

Donghae mendekatkan wajahnya, mencium keningku lama. Aku memejamkan mataku. Kemudian ciumannya beralih ke mataku. Bergantian yang kanan dan kiri. Lalu dia menyusuri hidungku dengan bibirnya, hingga kemudian kurasakan sesuatu yang lembab dan lembut di bibirku. Donghae mengecup bibirku sebentar. Aku membuka mataku, kulihat Donghae menatapku. Dia kembali mengelus pipiku sambil tersenyum dan kemudian mendekatkan wajahnya lagi ke wajahku. Dia kembali mencium bibirku. Mengecupnya lama, hingga kurasakan bibir bergerak. Dia melumat bibirku dengan perlahan. Sesekali dia menghisap lembut bibir atasku. Aku hanya diam karena tidak tahu harus melakukan apa. Kemudian dia melepaskan ciumannya perlahan. Dia menatapku lembut sambil kembali mengelus pipiku dan sesekali mengusap bibirku yang basah.

Dia menatapku lama dan kemudian dia mencium keningku. Lalu merengkuh kepalaku hingga terbenam ke dadanya.

“Aigooooooo~ Aku benar-benar jatuh cinta pada gadis ini.” gumamnya sambil mengelus rambutku.

“Donghae-ya…” panggilku.

“Eung?”

“Sesak…” kataku sambil berusaha membebaskan diri dari rengkuhannya yang kuat.

“Hehehe. Mian.” ringisnya sambil mengendurkan rengkuhannya.

Kepalaku masih berada di dada Donghae. Menghirup aromanya yang membuatku nyaman. Aigoooo~ sepertinya aku benar-benar sudah jatuh cinta namja ini.

Donghae mengelus rambutku perlahan sambil sesekali mengecup puncak kepalaku. Aku menikmati perlakuannya padaku. Ini terasa sangat nyaman.

“Donghae-ya…” panggilku dengan suara pelan.

“Mm?”

Aku terdiam. Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku hanya ingin memanggilnya saja.

“Yeonie, jantungmu berdetak kencang sekali.” kata Donghae.

Aku membelalak kaget dan langsung bangun dari dada Donghae yang bidang dan…nyaman.

“Wae? Kenapa kau bangun?” tanya Donghae dengan polosnya.

“Sana pulang. Aku sudah bosan melihat wajahmu.” kataku sekenanya.

“MWO??” teriaknya yang bisa membuat gendang telingaku pecah seketika.

“Omo~ teriakanmu mengerikan Donghae-ya.”

“Kau bosan melihat wajahku? Andwe!” lagi-lagi Donghae berteriak.

“Aish. Sudah sana cepat pulang.”

“Aku masih ingin di sini. Kenapa kau mengusirku? Aku akan pulang jika Siwon sudah pulang.”

“Andwe! Kau harus pulang sekarang.”

“Wae?”

“Pulang!”

“Sirheo!”

“Ini apartemenku Tuan Lee Donghae!”

“Terserah. Aku akan pulang jika Siwon sudah pulang.”

“Andwe!!”

“Aish. Baiklah, aku akan pulang. Tapi kau harus menciumku dulu.”

“Dasar mesuuum!!!” Kujitak kepalanya.

“Apooo~” ringisnya sambil mengusap-usap bekas jitakanku di kepalanya.

“Sana pulang!”

“Sirheo. Aku tidak akan pulan sebelum kau menciumku.” katanya bersikeras.

Aku menarik-narik tangannya agar dia bangkit dan segera pulang. Tapi dia malah balik menarik tanganku hingga aku terjatuh di pangkuannya. Tangannya yang satu melingkar di pinggangku, dan yang satunya lagi meraih tengkukku. Dia menatapku lembut, lalu mendekatkan wajahnya ke wajahku.

“Kau mau apa Lee Donghae?” tanyaku sambil berusaha mendorongnya.

“Menciummu.” jawabnya singkat dan dia langsung melumat bibirku.

“Eughh…” Aku berusaha mendorong tubuhnya. Tapi dia malah semakin mendekatkan tubuhku ke tubuhnya.

Dia menghisap bibir atasku. Dia cukup keras menghisap bibir atasku hingga aku mendesah pelan. Kemudian dia menjilat bibir bawahku, lalu mengulumnya. Dia benar-benar membuatku lemas seolah tenagaku menguap.

Lalu dia mengendus leherku. Menciumnya sekilas, lalu menghisapnya.

“Dong..hae-ya…” desahku saat dia tak mengentikan hisapannya.

“Mwo?” tanyanya saat dia melepaskan hisapannya.

Aku terengah-engah karena perbuatan Donghae. Kulihat dia menatapku sambil tersenyum meremehkan.

“Wae jagi?” tanyanya dengan nada meremehkan.

“Menyebalkan kau Lee Donghae. Aigoooo~ kau meghisapnya lama sekali. Apa berbekas?” tanyaku sambil meraba bekas hisapannya.

“O. Sangat merah.” kata Donghae dengan girangnya.

“YA!! Dasar menyebalkan!” teriakku sambil menonjok dadanya.

“Ough. Apooo~” rengeknya sambil memegangi dadanya.

“Aish, bagaimana kalau Siwon melihatnya? Kau menyebalkan Donghae-ya! Eommaaaaaaa~ eottohke?” Aku tak mempedulikan rengekan Donghae.

Donghae merengkuh kepalaku dan mencium pipiku. Menciumnya beberapa kali hingga kurasakan dia menghisapnya kuat-kuat.

“Ya Lee Donghae!! Lepaskan!!” teriakku sambil berusaha menjauhkan pipiku yang dia hisap.

Dia terus menghisapnya tanpa mempedulikan teriakanku dan segala penolakanku.

“Ya Lee Donghae!!! Lepaskan atau kita putus!!” teriakku akhirnya.

Donghae menghentikan hisapannya. Menatap pipiku dengan ekspresi puas.

“Lee Donghae!! Kau benar-benar ingin mati, hah???” teriakku sambil menjambak rambutnya.

“Yaaaa~kk!! Apooooo~!!” teriak Donghae sambil mencoba melepaskan tanganku yang menjambak rambutnya.

Setelah aku puas menjambak rambutnya, aku berdiri dari pangkuannya dan berjalan menuju kaca. Kulihat bekas hisapannya tadi sangat merah. Di pipi dan leher kananku. Sedangkan bibirku memerah dan sedikit membengkak karena ciumannya tadi. Aigooooo~ dia harus segera kutendang keluar.

Donghae menghampiriku yang sedang berkaca dan memelukku dari belakang. Dia mengendus tengkukku. Aku langsung berbalik dan dan menyeretnya ke arah pintu apartemen. Kudorong dia keluar dan menutup pintu. Kuambil barang-barangnya yang masih ada di dalam apartemen dan melemparnya keluar, lalu kututup lagi pintunya.

Kudengar bel berbunyi berkali-kali. Kuangkat gagang intercom.

“Dasar bocah mesum!! Pergi kau!! Menyebalkan!!!” teriakku.

“Aigoooo~ teriakanmu mengerikan. Ada ahjumma-ahjumma yang meloncat kaget saat mendengar teriakanmu.” suaranya terdengar dari intercom.

“Pergi kau Lee Donghae!! Menyebalkan! Aku tidak mau bertemu denganmu lagi.”

“Mwo?? Kau ini yeojachinguku, mana boleh tidak mau bertemu denganku?”

“Kalau begitu kita putus saja. Aku tidak mau punya namjachingu yang mesum sepertimu!!”

“Sirheo!! Arasseo arasseo, aku tak akan mengulanginya lagi.”

“Yaksok?”

“Ne. Aku akan melakukannya saat kita sudah menikah nanti.”

“MWO??”

“Wae?? Kalau sudah menikah kan tidak apa-apa.”

“Mati saja kau Lee Donghae. Dasar menyebalkan! Pergi sana dari apartemenku!” kataku dengan penuh penekanan setiap katanya. Kemudian kututp gagang intercomnya.

Terdengar bel berbunyi lagi. Tak kupedulikan dan berjalan menuju kamar mandi.

———————————-

6 bulan kemudian. Aku sudah lulus high school.

Hari ini aku berangkat lebih pagi ke sekolah. Bahkan Siwon masih terlelap dalam tidurnya, aku sudah berangkat. Sebenarnya murid kelas 3 masuk hanyak untuk mengurusi surat-surat kelulusan yang nantinya untuk mengurus ke jenjang kuliah. Aku menaiki sepedaku. Sudah lama aku tak ke sekolah naik sepeda.

Aku menikmati semilir angin yang menerpa wajahku. Dingiiin~ Tapi cukup menyegarkan. Sekitar setengah jam, aku tiba di sekolah. Aku melihat berkeliling, belum terlalu ramai. Kuparkirkan sepedaku di tempat parkir sepeda.

Bukannya langsung ke kelas, tapi aku malah menuju ke gedung samping sekolah. Ada lapangan basket indoor di sana. Tak bisa kupungkiri kalau aku ingin melihat Donghae saat bermain basket. Karena selama ini aku tak pernah menemaninya bermain basket di sekolah saat pagi hari sebelum masuk sekolah. Dan sekaligus ingin mengejutkannya.

Tapi sepertinya tidak ada yang bermain basket. Karena aku tidak mendengar suara pantulan bola basket. Ke mana Donghae? Hyena bilang walaupun kelas 3 mulai libur, Donghae masih sering bermain basket pagi-pagi di sekolah. Apa sedang istirahat? Kubuka pintu perlahan, mencoba mengintip yang ada di dalam. Tidak ada siapa-siapa. Aku masuk. Mungkin Donghae ada di ruang ganti.

“Bogoshipeo~” kudengar ada suara yeoja dari dalam. Kuhentikan langkahku.

“Jinri-ya.” kudengar suara Donghae. Donghae??

“Aigoooo~ kau makin tampan jagi…” terdengar suara yeoja lagi. Jagi?? Siapa yang dia panggil jagi?? Donghae?

“Bagaimana kau bisa ke sini?” Aku yakin itu suara Donghae. Aku berdiri di dekat pintu ruang ganti, mencoba mendengarkan apa yang mereka bicarakan.

“Eung? Kan sudah kubilang, aku merindukanmu. Ketika aku merindukanmu, pasti aku bisa menemukanmu.” Mwo? Apa yang dibicarakan yeoja ini?

“Geure?”

“O. Aigoooo~ Nan jeongmal bogosipheo.”

Aku benar-benar penasaran dengan yang mereka lakukan. Dan siapa yeoja itu?? Kenapa dia manja sekali??

Aku membuka pintu ruang ganti perlahan. Mengintip dari celah sempitnya. Aku melihat yeoja itu mencium lalu memeluk Donghae. Langsung saja aku masuk.

“Yeonnie?” Donghae melihatku kaget. Dia langsung melepaskan pelukan yeoja itu.

‘Kenapa ekspresinya begitu? Aish, dia benar-benar seperti sudah tertangkap basah sudah berselingkuh dariku. Aigooo~ Choi Sooyeon, tahan amarahmu.’ kataku dalam hati.

“Annyeong.” kataku seceria mungkin, sambil tersenyum manis.

“Yeonnie…” Donghae hanya menyebut namaku saja dari tadi. Dan yeoja itu, menatapku dan Donghae bergantian.

“Wae? Kenapa kau melihatku seperti melihat hantu? O ya, siapa yeoja ini, Donghae-ya? Apa kau pernah menceritakan tentangnya padaku?” tanyaku sambil terus berakting di depan mereka.

“Jung Jinri imnida. Yeojachingunya Donghae.” kata yeoja itu sambil membungkuk sopan padaku.

“Yeojachingunya Donghae? Geureyo? Donghae-ya, kenapa kau tidak pernah menceritakannya padaku?” kataku smabil tersenyum manis pada yeoja itu dan beralih menatap Donghae dengan tajam tapi tetap memasang senyum manisku.

“A-ani… Aniya… Bukan seperti itu Yeonnie. Ku-kumohon… dengarkan aku. Dengarkan aku, Yoeonnie.” kata Donghae tergagap sambil menghampiriku.

“Bukan seperti itu? Lalu seperti apa? Apa yang harus aku dengarkan?” tanyaku sambil terus berakting di depannya.

“Yeonnie, dengarkan aku. Aku tidak ada hubungan apapun dengannya. Kami sudah lama berpisah. Yeonnie, percaya padaku.” kata Donghae dengan ekspresi panik dan mencoba memegang tanganku, namun kuhempaskan.

“Jagi? Apa yang kau katakan? Waktu itu kita memang berpisah, tapi kan kau bilang akan menungguku.” kata yeoja bernama Jinri itu.

“ANDWE!! Pergilah, tinggalkan kami berdua!!” teriak Donghae.

“Arasseo. Aku akan meninggalkan kalian berdua. Silahkan lanjutkan acara kalian berdua. Aku tidak akan mengganggu. Selamat tinggal Lee Donghae-ssi.” kataku sambil terus menghempaskan tangan Donghae yang mencoba mencengkeram tanganku.

“Yeonnie!!” teriak Donghae yang kemudian menarik tanganku.

“Selamat tinggal Lee Donghae. Kita sampai di sini saja. Silahkan kau lanjutkan hubunganmu dengan yeoja bernama Jinri itu. Aku tidak akan mengganggumu. Kau tenang saja. Aku tidak akan muncul di depanmu lagi.” kataku perlahan mencoba menahan tangisku.

“Yeonnie, kau tak bisa meninggalkanku begitu saja. Yeonnie, kau harus percaya padaku. Bukankah kau pernah bilang kalau akan percaya padaku? Yeonnie, kali ini saja, percaya padaku.” mohon Donghae.

Kuabaikan Donghae yang terus mencoba menarikku. Dia juga berusaha menjelaskan padaku. Tapi tak kudengarkan. Aku hanya ingin cepat sampai ke parkiran sepeda dan cepat pulang.

Aku menaiki sepedaku dan ketika aku mengayuhnya, Donghae menarik stang sepedaku, mencoba menahanku pergi. Namun sepedaku oleng dan aku terjatuh. Kali ini aku benar-benar marah padanya.

“Ya Lee Donghae!! Apa yang kau mau, hah?? Kau ingin mencelakaiku??” teriakku padanya sambil berdiri. Lututku perih.

“Yeonnie-ya…” gumam Donghae.

“Jangan menggangguku lagi. Aku mohon. Aku berjanji tidak akan mengganggu hidupmu. Aku akan pergi. Kau tenang saja.” kataku kemudian. Air mataku menetes.

“Aniya. Saranghae, Choi Sooyeon. Jeongmal.” kata Donghae.

“Sooyeon-ah!!” kudengar suara Siwon. Dia mengampiriku.

“Siwon-ah.” kataku.

“Omo~ Apa yang terjadi?? Kau jatuh dari sepeda?” tanya Siwon yang sudah berdiri di depanku, di samping Donghae yang menundukkan kepalanya.

“Ne. Siwon-ah, ayo antar aku pulang.” kataku pada Siwon.

“Kenapa tidak Donghae saja yang mengantarmu pulang?” tanya Siwon sambil menatapku dan Donghae bergantian.

“Sirheo!! Ayo cepat antar aku pulang.” kataku tegas.

Siwon menegakkan sepedaku dan menaikinya. Sesekali dia menengok ke arah Donghae. Aku langsung membonceng di belakang. Siwon pun mengayuh sepedanya. Aku memeluk erat pinggang Siwon. Menenggelamkan wajahku di punggung bawahnya. Aku menangis terisak.

“Yeon, kau menagis?” tanya Siwon padaku.

“………..”

“Apa lukanya sesakit itu? Aigooo~” kata Siwon dengan nada mengejek.

Aku diam saja dan terus menangis.

Tiba di apartemen, Siwon menyimpan sepedaku dan membantuku berjalan. Ketika masuk ke apartemen, Siwon menyuruhku duduk di sofa, sedangkan dia mengambil kotak P3K dan handuk air hangat.

Siwon mengobati lutut dan sikuku yang lecet. Setelah selesai, Siwon mensejajarkan wajahnya dengan wajahku.

“Apa yang sebenarnya terjadi? Kau bertengkar dengan Donghae?” tanya Siwon.

“Tadi aku melihatnya bersama yeoja lain.” jawabku sambil menatap lantai.

“Bersama yeoja lain?”

“Ne. Namanya Jung Jinri. Dia bilang, dia yeojachingunya Donghae.”

“Jung Jinri?”

Aku menggangguk. “Kau mengenalnya?”

“Sepertinya nama itu familiar. Aigooo~ coba kuingat-ingat sebentar.”

“Siwon-ah…”

Siwon menatapku.

“Aku ingin melanjutkan kuliah di Amerika saja. Bersama appa dan eomma.” lanjutku.

“Mwo?”

“Aku tidak ingin melihat Donghae lagi. Terlalu menyakitkan, Wonnie. Di saat aku benar-benar percaya padanya, dia malah mengkhianatiku.” kataku. Air mataku menetes lagi. Siwon memelukku.

“Bukankah kalau kau ke Amerika itu sama saja kau kabur dari masalahmu?”

“Aku tidak peduli. Aku hanya ingin pergi dan tak melihatnya lagi. Tadi saat aku melihatnya dan yeoja itu berciuman dan berpelukan, aku seakan tersengat listrik. Itu rasanya saat sakit, Wonnie.”

“Berciuman?”

Aku mengangguk pelan, dan menangis lagi. Siwon mengeratkan pelukannya.

“Arasseo. Kita telefon appa dan eomma untuk membantu mengurus kepindahanmu.” kata Siwon.

“Jangan bilang apapun pada Donghae mengenai kepindahanku. Dan bersikaplah seolah tidak tahu tentang masalahku dengannya.”

“Arasseo.”

———————————-

Aku sedang berada di ruang tunggu bandara. Bersama appa, eomma, Siwon, Chaeyoung, dan Hyena. Appa dan eomma langsung setuju ketika aku mengatakan keinginanku pada mereka. Semula hanya eomma yang berencana pulang, menghadiri acara wisudaku dan Siwon. Namun ketika tahu kalau aku ingin pindah ke sana, appa ikut ke Seoul untuk mengurus semua surat-surat kepindahanku.

“Yeon, aku harap kau mendapatkan yang terbaik di sana.” kata Chaeyoung sambil memelukku. Bahunya bergetar.

“Youngie, uljima~ Kalau kau menangis, aku jadi ikut menangis.” kataku sambil mencoba menahan air mataku yang mendesak keluar.

“Yeon, kau harus hidup dengan baik di sana. Jangan lupa tetap menghubungi kami. Ara?” kata Hyena sambil menangis.

“O. Nanti kita buat jadwal online bersama.” kataku sambil mengusap air mataku dan tersenyum.

“Aigoooo~ Aku pasti akan merindukanmu.” desah Chaeyoung.

“Sudahlah, nanti kita kan bisa bertemu lagi. Aku akan pulang kemari. Kalian tenang saja.” kataku.

“Yeon, ayo. Sudah ada panggilan untuk penerbangan ke LA.” panggil eomma.

“Ne, eomma.” kataku pada eomma. Aku menengok kembali pada Hyena dan Chaeyoung. “Kalian baik-baik ya. Aku akan sempatkan waktu untuk kemari. Dan ingat janji kalian padaku?”

“O, kami ingat. Tak akan pernah mengabarkan apapun padamu tentang dia.” kata Hyena.

“Gomawo. Saranghae~” kataku sambil memeluk mereka berdua.

“Nado~” kata mereka berdua kompak.

Kemudian aku melangkah menuju Siwon. Aku menatapnya dan dia menatapku. Kemudian aku mengulurkan tanganku memeluknya. Dia menyambutnya dan memelukku erat.

“Siwon-ah, jaga dirimu baik-baik. Belanjalah ke supermarket kalau persediaan habis. Aku sudah bilang pada Chaeyoung untuk mengecek keadaanmu setiap minggu. Dan ingat, jangan macam-macam di apartemen. Kau sekarang tinggal sendiri, tidak ada yang mengawasimu. Jangan bertingkah aneh-aneh. Arasseo?” kataku sambil terus memeluknya.

“Ara. Haish, kurasa hidupku akan sedikit lebih kacau jika kau tak ada.”

“Mwoya?? Kau harus tetap hidup baik. Arasseo??”

“O. I love you, my twin.” katanya.

“Love you too.”

Kemudian aku melepaskan pelukanku padanya dan menarik koperku.

“Take care.” kata Siwon padaku.

Aku mengangguk dan tersenyum padanya. Dan juga pada Chaeyoung dan Hyena.

—————————-

Ini hari kedua aku tiba di Amerika. Omo~ di sini banyak bule tampan~ Kurasa aku akan betah tinggal di sini. Hahaha. Dan mungkin dengan cepat aku melupakan Donghae. Donghae? Aish, aku benar-benar ingin melupakan semua hal tentangnya.

Sore ini aku sedang bermain ayunan di taman kompleks sambil mendengarkan musik dari ipodku sambil membaca novel yang kubawa dari Korea. Di sini ramai sekali. Penuh anak-anak dan juga remaja yang sedang bermain. Bahkan orang tua juga. Ada yang sedang bermain futsal, ada yang bermain pasir, ada yang kejar-kejaran, ada yang bermain basket, ada yang hanya duduk sambil emperhatikan suasana sekitar, dan banyak kegiatan lain yang mereka lakukan.

Kemudian kurasakan ada sebuah benda menghantam kepalaku. Aigoooo~ kepalaku pusing.

“Sorry.” kata seorang namja padaku kemudian dia mengambil bola, yang menghantam kepalaku tadi.

“Tidak sopan sekali. Aigoooo~ pusiiing~” gumamku sambil mengusap pelan kepalaku. Kuamati namja tadi, sepertinya orang Asia. Dan sepertinya dia tidak mendengar gumamanku tadi. Aku mengerucutkan bibirku kesal.

Ketika langit mulai menggelap, aku mengambil sepedaku hendak pulang. Tapi tak sengaja aku tersandung dan malah menubruk deretan sepeda.

“AAAAARRGG!!” teriakku.

Deretan sepeda jatuh berantai seperti domino. Aku mau menangis, selain karena menahan sakit di tubuhku tapi juga karena deretan sepeda yang jatuh. Bagaimana kalau banyak sepeda yang rusak dan menyuruhku untuk menggantinya?

Semua orang menoleh menatapku. Kemudian kurasakan ada yang membantuku bangun. Dan kulihat ada beberapa orang yang membantu menegakkan sepeda-sepeda yang jatuh itu.

“Bagaimana mungkin sepeda sebesar ini kau tabrak?” katanya dengan nada dingin.

“Aku tadi tersandung.” kataku. Aku mengernyit heran. Dia berbahasa korea?

“Kau orang korea?” tanyaku sebelum dia melotarkan kata-katanya padaku.

Dia mengangguk. “Naiklah.” katanya sambil berjongkok di depanku.

“Mwo?”

“Cepat naik atau aku berubah pikiran.”

Aku kemudian naik ke punggunggnya.

“Sepedamu yang mana?” tanyanya seakan dia tahu benar bahwa aku kemari dengan menaiki sepeda.

“Yang itu.” Aku menunjuk sebuah sepeda berwarna orange.

“Mike, bring her bike.” katanya pada salah seorang yang yang menegakkan sepeda. Orang yang disuruhnya hanya mengangguk.

Dia menanyakan di mana rumahku dan dia mengangguk. Dia membenarkan gendongannya. Mungkin merasa aku agak merosot. Kemudian kulingkarkan tanganku di lehernya.

“Gomapseumnida.” kataku saat dia sudah menurunkanku di depan rumah.

Dia hanya mengangguk.

“Choi Sooyeon imnida.” kataku sambil menundukkan kepalaku.

“Kim Kibum imnida.”

Aku tersenyum.

Sejak saat itu aku sering menghabiskan waktu dengannya. Walaupun dia jarang berbicara dan terkesan dingin, namun sebenarnya dia itu sangat baik. Seperti pagi menjelang siang ini, sekitar 4 tahun sejak kejadian dia mengantarku pulang dalam keadaan terluka karena menubruk sepeda. Aku sudah lulus kuliah sekarang.

“Bummie, ayo jalan-jalan. Aku bosan di rumah sendiri. Appa dan eomma tidak ada di rumah.” kataku pada Kibum. Ya, ternyata kami sepantaran. Dan saat ini aku sedang berada di depan rumah Kibum.

“Malas.” jawabnya singkat seraya masuk ke dalam rumahnya.

“Ahjumma, annyeong haseyo.” sapaku ketika masuk ke rumah Kibum dan melihat eommanya Kibum sedang di dapur.

“Sooyeon-ah. Mau kue?” tanya ahjumma.

“Mau, ahjumma.” jawabku sambil tersenyum dengan wajah berbinar-binar.

“Ini. Sana bawa ke atas. Minumnya ambil sendiri di kulkas ya.”

“Nee~ Aku naik dulu ya, ahjumma. Hehe. Gomapseumnida.”

“Nee~”

Kemudian aku langsung menyusul Kibum yang sudah naik duluan sambil membawa sepiring kue kering dan sebotol air putih dingin. Aku membuka kamar Kibum. Kulihat Kibum sedang memelototi komputernya. Aish, nge-game lagi??

Setelah meletakkan piring kue dan botol minum di meja, aku langsung meloncat ke ranjang Kibum.

“Bummie, ayo jalan-jalan.” rengekku padanya.

“Malas.”

“Bumiiiiiee~”

“………………”

“Ayolaaah~”

“Memang mau ke mana?”

“Molla. Yang penting jalan-jalan.” kataku.

Kibum menatapku datar.

“Wae?”

“Kau ini benar-benar yeoja tidak jelas.”

“Mwo??”

“Ingin jalan-jalan tapi tidak tahu ke mana.”

“Terserah padamu saja. Tapi jangan ke mall. Aku malas melihat orang banyak.”

“Aigoooo~”

“Ayolah… Ayo jalan-jalan.”

“Arrasseo. Tunggu sampai aku menamatkan level ini.” katanya kemudian.

Aku tersenyum lebar, kemudian mencomot kue buatan eomma Kibum.

Kibum mengeluarkan motor sportnya yang berwarna biru dari garasi. Dia memanasi motornya kemudian memberiku helm. Aku memakainya dan segera membonceng.

Cukup lama Kibum mengendarai motornya. Kemudian dia berhenti di kawasan Hollywood. Di sini pemandangannya indah. Aaah~ aku suka. Dia memarkirkan motornya di tanah yang datar kemudian menyusulku yang sudah duduk di tanah yang menurun.

“Kau sedang ada masalah?” tanya Kibum padaku.

Aku mengerutkan keningku sambil menatapnya bingung.

“Biasanya kalau kau mengajakku pergi tapi tidak ke mall, biasanya kau sedang ada masalah.” Aku memandangnya takjub.

“Ani. Aniya. Aku hanya ingin jalan-jalan saja.”

“Tidak mau bercerita?”

“Aku kangen dengan saudaraku dan teman-teman di Korea. Setiap kali online, aku iri dengan kebersamaan mereka.” Aku mendengus keras tanda kesal.

“………………”

“Aku ingin kembali ke Korea!!” kataku.

“Kau ingin tinggal di sana lagi?”

“O. Di sini memang menyenangkan. Bersama appa, eomma, kau dan keluargamu. Dan semua teman-teman di sini. Semuanya mengasyikkan. Tapi aku benar-benar kangen dengan mereka.”

“Kalau begitu kembali saja ke sana.”

“Eung?”

“Kau tadi kan bilang kangen dengan mereka. Kenapa tidak liburan ke sana saja?”

“Mmm…” Aku memandang kakiku. Ragu menjawab pertanyaan Kibum.

“Wae? Karena namja itu?”

“Ani…”

“Kau masih mencintainya?”

“Ani…”

“Jawabanmu terdengar ragu.” Aku mendengar nada suara Kibum yang sedikit menuntut.

“Ani ani. Aku…aku sudah tidak mencintainya.”

“Kau masih ragu, Yeon.”

“Ini sulit, kau tahu?”

“Tidak, aku tidak tahu.”

“Kau menyebalkan!!”

“Aku memang tidak tahu.”

“Ne, kau memang tidak tahu apa-apa.” kataku kesal.

“Tapi aku tahu satu hal. Mencintai seseorang yang mencintai namja lain itu terasa sangat menyakitkan.” katanya sambil memandang ke depan tapi tak fokus.

“Mwo? Kau sedang menyukai seorang yeoja?” tanyaku sambil menoleh ke arahnya.

“Tapi sayangnya dia yeoja bodoh yang tidak mengerti perasaanku.”

“Kenapa kau tak bilang langsung saja?”

“Kenapa aku harus mengatakan langsung padanya?”

“Kau bilang dia yeoja yang bodoh. Kurasa dia tak akan mengerti sampai kau mengatakan langsung padanya.” kataku.

“Begitukah?” Dia menatapku.

“O.” jawabku sambil tersenyum padanya. Kemudian aku memandang ke depan.

Kami terdiam cukup lama.

“Saranghae.” katanya memecah keheningan.

“Mwo?”

“Saranghae, Choi Sooyeon.” katanya sambil terus menatapku.

Aku bingung harus berkata apa.

“Tak usah mengerjaiku, Kim Kibum!!” kataku kemudian.

“Aku tidak sedang mengerjaimu.” katanya dengan nada santai.

“Bagaimana bisa??”

“Aku juga tidak tahu. Memang harus ada alasan seseorang untuk mencintai?”

“Tapii…”

“Aku serius, Yeon.” katanya dengan nada lembut. Kemudian dia melanjutkan, “Tapi kau tak harus menjawabnya sekarang. Aku akan menunggumu hingga kau siap menjawabnya.”

——————————-

Malam ini aku berbaring di ranjangku sambil menatap langit-langit kamarku yang penuh fosfor berbentuk bintang. Aku mengingat-ingat kembali yang dikatakan Kibum tadi. Dia bilang dia mencintaiku? Tapi aku bingung harus menjawab apa.

“Kibum…” Aku menggumamkan namanya.

Selama ini, memang dia yang membantuku untuk bangkit walau tidak terlihat jelas. Dia yang selalu menemaniku selama ini, walaupun kadang dia hanya diam saja atau bersikap dingin padaku. Dia yang selama ini bersamaku. Aigooooo~ aku binguuuung~

——————————-

Aku menggeliat, lalu mencoba membuka mataku. Aku menatap sekeliling. Aku sedang duduk di kursi pesawat. Kulihat sampingku, seorang namja yang sedang membaca buku.

“Kau sudah bangun?” tanyanya sambil menutup bukunya dan kemundian menatapku. Merapikan rambutku yang sedikit berantakan, kemudian mengelus pipiku.

“Mm. Masih berapa jam lagi?” tanyaku.

“Kurang lebih 2 jam lagi.” jawabnya.

“Bummie, aku tidak sabar ingin segera sampai di Seoul.” kataku sambil memeluk lengannya.

Ya, aku menerima Kibum menjadi namjachinguku. Bahkan sebentar lagi kami akan menikah. Hahaha. Setelah aku menerimanya menjadi namjachinguku, dia langsung melamarku. Omo~ aku benar-benar shock waktu itu. Tapi tetap saja aku menerimanya.

Aku dan Kibum kembali ke Seoul, tepatnya seminggu setelah kejadian di kawasan Hollywood saat itu. Aku mau mendatangi acara reuni High School dan rencananya aku dan Kibum mau menyelenggarakan pernikahan di sini. Keluarga besar kami sama-sama tinggal di Korea, jadi orang tua kami mau kalau pernikahan kami dilaksanakan di Korea saja.

Aku dan Kibum segera mengambil barang-barang kami setelah mendarat di Incheon. Ketika aku dan Kibum keluar tempat pengambilan barang, langsung disambut teriakan Hyena dan Chaeyoung. Mereka langsung memelukku hingga aku hampir jatuh.

“Aku kangen sekali padamu, Yeonnie!!” kata Chaeyoung dan Hyena bersamaan.

“Aigoooo~ kompak sekali kalian.” kataku.

Kemudian mereka melepas pelukannya. Aku menatap Siwon dan langsung memeluknya.

“Aku kangen padamu.” bisikku pada Siwon.

“Nado~” balas Siwon yang juga berbisik.

Siwon melepaskan pelukannya dan kemudian menatapku menggoda. Aku hanya tersenyum.

“Yeon, kau belum mengenalkan pada kami secara langsung.” kata Hyena.

“Arasseo. Bummie, ini Siwon, kembaranku. Dan ini pacarnya dan sahabatku, Chaeyoung. Seo Chaeyoung. Sedangkan ini Shin Hyena, sahabatku.”

“Annyeong haseyo, Kim Kibum imnida.” sapa Kibum sopan.

“Kau siapanya Sooyeon?” tanya Hyena. Aku, Siwon, Chaeyoung, dan Kibum langsung menatapnya dengan berbagai ekspresi.

“Ne?” tanya Kibum.

“Apa hubunganmu dengan Sooyeon?” Hyena mengulangi pertanyaannya dengan bahasa yang lebih baik.

Kibum melirikku. “Sooyeon ini calon istriku.” kata Kibum kemudian.

“MWO?” teriak Siwon, Chaeyoung, dan Hyena berbarengan.

“Ya Choi Sooyeon, bisa kau jelaskan ini pada kami??” kata Siwon penuh penekanan.

“Mianhae, aku tidak memberi tahu kalian. Aku sengaja mau memberikan kejutan untuk kalian. Hehe.” kataku sambil cengengesan.

“Mwoya??” Chaeyoung dan Hyena tak terima.

“Sudahlah, ayo kita kembali ke apartemen. Aku lelah. Dan Kibum juga pasti lelah.” kataku kemudian.

“Kau berhutang cerita pada kami.” kata Chaeyoung dan Hyena dengan nada penekanan.

“Ara.” jawabku.

Kemudian kami keluar bandara sambil sesekali melontarkan lelucon dan tertawa bersama.

———————————-

Aku, Kibum, Siwon, Chaeyoung, dan Hyena menghadiri acara reuni Daehan High School angkatanku. Awalnya Kibum tak ingin ikut karena pasti tidak ada yang dia kenal. Tapi aku memaksanya untuk ikut, dan jadilah dia di sini sekarang.

Aku jadi teringat Donghae. Siwon, Chaeyoung, dan Hyena tidak pernah sedikitpun menyinggung tentang Donghae. Mereka benar-benar memenuhi janji mereka. Tidak pernah mengabarkan apapun mengenai Donghae.

Aku berjalan berkeliling, menyapa teman-temanku dulu. Banyak yang sudah lulus dan bekerja. Namun ada juga yang masih belum lulus kuliah. Ada yang sedang mengandung karena memang tak melanjutkan kuliah.

“Kau mau minum?” tanya Kibum padaku.

Aku mengangguk.

“Biar kuambilkan.” katanya

Aku memandang lapangan indoor yang disulap menjadi tempat acara. Indah sekali. Kemudian mataku tertuju pada seseorang yang berdiri tak jauh dariku. Seorang namja yang sedang tertawa dengan beberapa orang di sana. Hingga dalam sekejap dia menatap ke arahku. Dia kaget melihatku. Kami sama-sama diam hingga aku sedikit tersentak ketika ada yang menyentuh bahuku. Ternyata Kibum. Dia memberikan segelas minuman yang dia bawa padaku. Aku masih diam. Aku kembali melirik ke arah namja itu. Dan Kibum mengikuti arah pandangku.

“Dia kah?” bisik Kibum.

Aku kaget, namun aku mengangguk.

“Bicaralah padanya. Kurasa kau harus menyelesaikan masalahmu dengannya.” kata Kibum.

“Sirheo.”

“Wae?”

“Aku sudah tidak ada masalah apapun dengannya.”

“Kau tahu Yeon, aku ingin kau mendapatkan yang terbaik untukmu. Aku ingin kau bahagia. Jadi jangan menganggapku sebagai beban ketika kau melihatnya penuh kerinduan namun tak mau menghampiri dan menyapanya.”

“Bummie, apa yang kau bicarakan?” tanyaku. Aku cukup kesal dengan kata-kata Kibum barusan.

“Buktikan padaku kalau kau memang sudah tidak ada masalah dengannya. Kalau kau sudah tidak ada masalah dengannya, kau harusnya bisa menghampiri dan menyapanya. Tapi kalau kau masih ada sesuatu dengannya, kau tak akan bisa melakukan itu, Yeon.” kata Kibum.

“Aku tak yakin…” gumamku, namun Kibum mendengarnya.

“Kalau begitu, lakukan agar kau lebih yakin siapa sebenarnya yang ada dalam hatimu. Ngomong-ngomong aku juga ingin tahu.” kata Kibum sambil tersenyum menggodaku.

Aku mencubit pinggangnya.

“Ough! Apoo~” ringisnya.

“Bummie, apa kau yakin aku harus melakukannya?” tanyaku.

“O. Sudah sana. Ajak dia bicara di luar. Di sini terlalu ramai.” kata Kibum.

‘Aku tak akan mengecewakanmu, Bummie.’ kataku dalam hati. Aku menatapnya lalu tersenyum padanya. Dia tersenyum padaku kemudian menghilang di keramaian orang-orang.

Aku melihat ke arah namja tadi, namun dia sudah menghilang. Aku menengok ke kanan dan ke kiri mencarinya.

“Mencariku Choi Sooyeon-ssi?” kata seseornag di belakangku.

Aku membalikkan badanku menatap orang yang berkata kepadaku tadi. Lee Donghae berdiri di hadapanku sekarang.

“Sudah lama tak bertemu… Donghae-ya.” kataku sedikit gugup.

“Kalau kau tak keberatan, mau berbincang denganku di luar?” tanya Donghae.

Aku mengangguk. Kami berjalan bersisian keluar.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Donghae saat kami duduk di sebuah bangku yang berada tak jauh dari lapangan indoor.

“Aku? Aku baik-baik saja.” jawabku. Kulihat Donghae mengangguk sekilas. “Bagaimana denganmu?” tanyaku padanya.

“Aku? Baru saja sembuh.” jawabnya.

“Kau sakit?” tanyaku.

Dia mengangguk sambil memandang langit. Kami sama-sama diam.

“Sebenarnya saat kau pergi ke Amerika 4 tahunan yang lalu, aku menyusulmu ke bandara. Siwon sepertinya tidak menepati janjinya padamu. Dia mendatangiku sebelum kau berangkat dan meminta penjelasan dariku. Kujelaskan padanya apa yang sebenarnya terjadi. Bahkan dia berkali-kali menonjokku. Esok harinya, dia mengirimiku pesan kalau kau sedang di bandara dan akan pindah ke Amerika. Dia bilang kalau aku tidak datang tepat waktu sebelum kau pergi, dia tidak akan membantuku. Kau tahu, aku seperti kesetanan memacu motorku ke bandara. Hingga tiba-tiba… terjadi kecelakaan, dan aku mengalami kelumpuhan pada kakiku..” Aku tertegun mendengar penjelasan Donghae. Donghae lumpuh?

“Lumpuh?” kataku pelan, sangat pelan.

Tanpa perintah, air mataku mengalir.

“Ne, aku lumpuh setelah kecelakaan itu. Aku bahkan seperti orang gila saat itu. Kehilanganmu dan bahkan kakiku lumpuh. Aku merasa kalau hidupku sudah hancur. Berkali-kali aku mencoba bunuh diri, tapi selalu bisa digagalkan. Hingga aku menyadari satu hal, bahwa aku belum waktunya untuk mati. Dan baru beberapa bulan yang lalu aku menyelesaikan terapiku. Aku bisa berjalan kembali.” jelasnya. Kulihat dia juga meneteskan air mata.

Aku menangis sesunggukan. ‘Bagaimana mungkin aku begitu jahat padanya?’ tanyaku dalam hati.

“Uljima. Kau tahu, kau terlihat jelek saat menangis.” kata Donghae.

“Boleh aku memelukmu Donghae-ya?” tanyaku padanya.

Dia tersenyum kemudian memelukku. Aku menangis lagi di pelukannya.

“Uljima. Aku tidak suka melihatmu menangis. Mukamu tambah jelek, kau tahu?” kata Donghae sambil mengusap rambutku.

“Donghae-ya… Aku tahu, maaf saja tidak akan cukup untuk semua kesalahanku hingga kau seperti ini. Aku bahkan tidak tahu harus berbuat apa untuk menebus semua itu. Aku….” Aku kembali menangis di dada Donghae.

“Sudahlah, semua sudah berlalu. Dan bahkan kita punya masa depan masing-masing.”

Aku mendongak menatap Donghae dan melepaskan pelukannya. Donghae memperlihatkan jari manisnya. Sebuah cincin melingkar indah di sana.

“Kau, sudah menikah?” tanyaku dengan suara serak.

“Belum, baru tunangan. Sebulan setelah aku bisa berjalan, aku melamar orang yang merawatku. Perawat rumah sakit yang dipekerjakan eomma untuk merawatku di rumah.” kata Donghae. “Dan kau, lihat jarimu, sudah ada cincin di sana. Berarti kita memang sudah punya masa depan masing-masing. Sepertinya kita memang tidak berjodoh, Yeon.” lanjut Donghae, kemudian menghela nafas.

“Kuharap kita sama-sama bahagia, Donghae-ya.” kataku sambil tersenyum padanya.

“Kuharap juga begitu.” kata Donghae.

Aku menatap langit. Langit terlihat gelap dan hanya beberapa bintang saja ynag nampak.

“Donghae-ya…”

“Hm?”

“Kurasa aku penasaran dengan Jung Jinri.” kataku tanpa melihatnya.

“Jung Jinri? Dia yeojachinguku dulu, saat kita masih di middle school, sebelum dia pindah ke Jepang dan meninggalkanku. Dia memutuskanku dan mengatakan untuk jangan menunggunya, namun aku bilang aku akan menunggunya. Hingga tiba-tiba saat itu dia datang lagi dan menagih janjiku.” jelas Donghae.

“Apa saat itu kau masih mencintainya?” tanyaku penuh selidik.

“Yah, jujur saja, rasa itu masih ada.” Donghae memandangku sambil meringis.

Aku tertawa melihat wajahnya.

“Dan kalau boleh jujur, sebenarnya aku masih mencintaimu. Walaupun banyak bagian yang sudah terganti oleh tunanganku. Namun tetap saja masih ada.” kata Donghae.

Aku tersenyum samar. “Aku juga. Aku juga merasakan hal yang sama denganmu.”

Aku dan Donghae tersenyum dan kemudian memandang langit malam.

“Takdir kita memang tidak untuk bersama, Yeon.”

Aku mengangguk. Cukup lama kami terdiam hingga kami memutuskan untuk kembali ke tempat acara. Aku dan Donghae menghampiri Kibum, Siwon, dan Eunhyuk yang tengah berbincang. Aku berdiri di samping Kibum. Aku tersenyum pada Kibum dan dia membalasku.

“Sudah?” tanyanya perlahan. Aku mengangguk. Diapun kembali tersenyum.

Kulirik Eunhyuk. “Ya Hyukkie, aku ingin tahu, sudah berapa kali kau mengganti gaya rambutmu itu? Aigooo~” kataku pada Eunhyuk.

“Yang penting kan selalu terlihat tampan.” katanya penuh percaya diri.

“Sudahlah, Hyuk. Kau itu sekali monyet tetap monyet.” kataku yang langsung disambut tawa.

“Aku sudah bilang berkali-kali padanya, mana ada seorang direktur berdandan seperti itu?” kata Hyena yang tiba-tiba muncul dan ikut bergabung bersama. Chaeyoung juga sudah berdiri di samping Siwon.

“Kau belum tahu kan, Yeon, kami ini sedang menjadi miss cupid untuk Hyena dan Eunhyuk.” kata Chaeyoung.

“Ya! Sudah kubilang aku tidak mau dengan monyet seperti dia.” kata Hyena.

“Hyena-ya, kau tidak tahu ya kalau Eunhyuk itu sudah suka padamu dari high school?” tanya Donghae dengan nada menggoda.

“Ya Lee Donghae!!” kata Eunhyuk dengan penekanan pada setiap kata sambil membekap mulut Donghae.

“Mengaku sajalah, Hyuk.” Kali ini Siwon yang menggoda.

“Diam kau Mr. Choi!” kata Eunhyuk sambil menatap Siwon tajam.

Kami langsung tertawa. Wajah Hyena pun memerah. Hyena itu manager di perusahaan tempat Eunhyuk memimpin, jadinya tak heran kalau mereka dekat. Dan lagi, seperti kata Donghae tadi, Eunhyuk itu sebenarnya sudah menyukai Hyena sejak high school.

Hingga acara selesai pun kami masih mengerjai Eunhyuk dan Hyena.

—————————-

Aku dan Kibum sedang duduk-duduk di balkon apartemen. Siwon sedang mengantarkan Chaeyoung pulang ke rumahnya.

“Bagaimana perasaanmu sekarang?” tanya Kibum.

“Perasaanku? Sekarang jadi lebih lega. Dan kau tahu Bummie, Donghae juga sudah bertunangan.” jawabku.

Kibum hanya tersenyum. Kami memandang langit sambil menikmati kebersamaan kami. Menghitung mundur menuju hari pernikahan kami.

Cerita setiap orang itu berbeda. Ada yang jalannya indah tapi ternyata berakhir menyakitkan. Namun ada juga yang jalannya berduri, namun berakhir indah. Seperti kisah cintaku. Walaupun pernah sangat mencintai Lee Donghae dan terluka karenanya hanya gara-gara sebuah kesalahpahaman, membuatku menemukan sosok Kim Kibum yang luar biasa. Namja yang dibalik sifat dinginnya, memberikanku kenyamanan dan membuatku mencintainya. Kuharap hanya ada Kim Kibum di masa depanku.

——————————-

END

——————————-

5 thoughts on “[Freelance] About My Love? [part 3 END]

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s