Grave Diggers [2]

Grave Diggers [2] : Jonghyun
Main Character(s): CN Blue
Other character(s): Super Junior, TRAX
Genre: friendship, angst, tragedy
Rating: R, untuk kekerasan, obat-obatan, kehidupan malam, dsb.

Inpired by CN Blue’s Intuition.
Masterlist
 

Jenius (/j·nius/), kata sifat: berkemampuan luar biasa dalam berpikir dan mencipta.
Berbakat (/ber·ba·kat/), kata sifat: mempunyai dasar kepandaian yg dibawa sejak lahir.

***

 

Malam itu hujan turun deras. Badai yang sudah lama tidak turun di dataran Seoul kembali, seakan memberikan isyarat peringatan akan kehadiran sang raja setan. Seperti kisah dongeng, sang pangeran yang dibuang dari istananya kembali dan menjelma sebagai mahluk kegelapan. Dengan taring dan cakarnya yang tajam, ia siap untuk mencabik orang yang telah mengkhianatinya.

Empat sosok pemuda bertudung berjalan di tengah derasnya hujan, seakan menantang sang badai untuk menentukan siapa yang akan bertahan paling akhir. Kilat membelah langit dan gemuruh guntur menenggelamkan suara klakson mobil yang bersahut-sahutan. Kemacetan di tengah kota, hal biasa.

Mereka masuk ke dalam gang, tidak ada yang memperhatikan empat sosok di bawah hujan deras ini. Hampir tidak ada orang yang mau berjalan kaki. Keuntungan untuk empat orang itu, yang dengan mudah menyelinap ke dalam salah satu bangunan di pusat kota. Seoul Music Academy, tempat yang dulu, pernah dianggap oleh salah satu dari mereka sebagai tempat untuk mewujudkan impian. Mudah bagi Minhyuk untuk membuka pintu belakang akademi itu, spesialisasinya memang di bidang begini.

“Kita mulai saat kau memberi tanda, Jjong,” ujar Yonghwa sambil mengangkat tongkat baseballnya.

Orang yang dipanggil Jjong itu mengedikan kepalanya, memberikan isyarat bagi ketiga rekannya untuk memasuki salah satu ruangan. Drum, bass, gitar, keyboard, semua alat musik modern ada di sana. Dan Jonghyun membiarkan jarinya menyusuri semua alat itu pelan-pelan. Permukaan saxophone yang licin, kesatnya biola listrik, semuanya.

Ia berhenti di depan sebuah gitar listrik bewarna merah. Tangannya gemetar saat ia mengambil alat musik itu. Berat yang familiar, permukaan kayu dipernis yang licin, terasa sama sekaligus asing di tangannya. Jonghyun mendengus.

 

Kemudian ia membanting benda itu ke lantai.

 

***

 

“D-minor Jonghyun, bukan D7.”

Jungmo memainkan kord yang benar, memberi contoh pada juniornya. Jemarinya dengan mudah menyusuri tiap fret, petikan nada yang dimainkannya bergaung dalam ruang musik yang sepi itu. Jonghhyun hanya melirik sedikit kemudian langsung memainkan nada yang sama, membuat Jungmo mengangguk puas dan kemudian meletakan gitarnya.

“Cukup untuk hari ini kalau begitu.”

Jonghyun membungkuk sedikit, “Ya, terima kasih, hyung.”

Pemuda yang lebih tua mengibaskan tangannya, “tidak usah begitu, aku tidak mengajarimu apa-apa di sini.”

“Tidak usah merendah begitu, hyung,” ujar Jonghyun dengan senyum timpang khasnya, “diajari oleh seorang jenius yang menguasai semua alat musik yang ada di dunia adalah suatu kehormatan.”

Jungmo menggelengkan kepalanya, kemudian mengacak-acak rambut juniornya itu. “Aku tidak mengerti kenapa akademi bersikeras memintaku mengajarimu dengan kemampuanmu yang seperti ini.”

“Karena aku juniormu yang manis, hyung?”

“Yeah, right.”

 

Jonghyun hanya membalas dengan cengiran. Tangannya menyusuri fret gitarnya, memainkan nada random yang tetap terdengar indah meskipun sebenarnya gitaris itu hanya asal-asalan.

She’s fuckin’ beautiful,” desah Jungmo pelan, menatap instrumen di tangan Jonghyun dengan campuran antara kagum dan sedikit iri.

Jonghyun tertawa, ia memasukan gitar listriknya ke dalam boxnya. Instrumen itu bewarna hitam dengan bentuk yang unik. Gitarnya adalah Stradivarius Hill, salah satu dari dua gitar yang diselesaikan oleh pembuat alat musik terkenal, Antonio Stradivari. Orang tuanya membelikannya gitar ini sebagai hadiah untuk konser internasional pertamanya di Vienna dua tahun yang lalu. Ia bahkan tidak ingin tahu berapa banyak yang dikeluarkan mereka untuk membeli instrumen itu.

 

“Ah, hyung, kudengar kau menolak tawaran dari Philharmonic Orchestra lagi?”

“Ya,” ujar Jungmo sambil duduk di atas meja, “mereka keras kepala betul.”

“Tidak sayang? Maksudku, entah berapa orang yang rela melakukan apapun demi bergabung dengan mereka.”

“Aku suka musik klasik, tapi Trax adalah hidupku,” Jungmo tersenyum sedikit, “kami akan mengikuti audisi label yang cukup besar bulan depan.”

“Hm, semoga kalian beruntung kalau begitu.”

“Kudengar kau juga ditawari beasiswa ke Julliard, Jjong?”

“Ya, tapi aku belum tahu akan menerimanya atau tidak,” jawab Jonghyun ringan, menyampirkan box gitarnya di bahunya. “Menurutmu bagaimana, hyung?”

“Ambil saja, kau tahu entah berapa banyak orang yang rela melakukan apapun demi diterima di sana,” ujar Jungmo, meniru ucapan Jonghyun tentang tawaran orkestra tadi. Jonghyun tertawa kemudian mengangkat lengannya, mengecek jam.

“Aku pulang dulu, hyung, Sungmin-hyung mengajakku pergi malam ini.”

Yeah, okay.

 

Jonghyun baru saja berjalan ke arah pintu ketika seseorang masuk ke dalam ruangan. Pria itu berumur di akhir lima puluhan, dengan rambut yang hampir semuanya bewarna putih dan kumis tebal. Wajahnya tersenyum namun entah kenapa dari awal bertemu, ada sesuatu yang membuat Jonghyun merasa risih dengan sang pemilik akademi.

Songsaenim. Selamat sore.”

“Jonghyun, Jungmo, kalian berlatih dengan keras seperti biasa.”

Jonghyun membungkukkan badannya, sopan-santun masyarakat Korea. Ia tersenyum sopan dan melirik ke arah Jungmo, “Ya, songsaenim. Jungmo-hyung banyak mengajarkan saya hal-hal baru.”

“Hm, aku yakin tidak banyak yang perlu kau pelajari, Jonghun, jenius musik sepertimu dibuang ke jalan pun bisa jadi pemusik profesional,” ujar pria itu sambil tertawa karena leluconnya sendiri. Jonghyun dan Jungmo hanya berpandangan sambil tersenyum terpaksa, sekedar sopan-santun lagi, bukan karena pemilik akademi itu mengucapkan lelucon yang lucu.

 

“Kau akan mengambil tawaran Julliard, tentu? Jangan lari membentuk band tidak jelas seperti Jungmo ini, masa depanmu bisa hancur nantinya.”

Jonghyun tidak repot-repot tersenyum sopan kali ini. Jungmo mengepalkan tangannya di seberang ruangan, siapa yang tidak akan marah ketika bandnya disindir begitu? Jonghyun hanya membungkukan tubuhnya sedikit, “maaf, songsaenim, saya ada urusan.”

“Ah, ya, Jonghyun, prodigi sepertimu memang pasti banyak acara. Berlatihlah terus ya, kau akan jadi musisi terkenal nanti.”

“Terima kasih, songsaenim.”

 

Jonghyun menahan diri untuk tidak membanting pintu ruang musik. Dasar pria tua bangka, apa yang ia tahu tentang musik? Tujuannya hanya mendidik muridnya agar terkenal dan dia mendapat kredit atas semua itu. Berani taruhan nanti kalau Trax sudah terkenal, pasti pria itu akan berkoar-koar bahwa Jungmo-hyung adalah mantan muridnya dan blahblah. Berlagak baik di depannya, jika Jonghyun bukan jenius gitar yang lompat tiga kelas karena bakatnya, pasti pria itu hanya akan memandangnya sebelah mata.

 

***

 
“Ayolah, Jjong, tidak akan seru kalau kau tidak ikut!”

“Maaf, maaf, tapi aku sudah terlanjur membuat janji dengan sepupuku.”

“Yah, Jonghyun, kalau bintangnya tidak ada namanya bukan pesta.”

“Nanti saat kau sudah menjadi musisi terkenal kau bisa mengingat saat-saat ini, kita bersama-sama.”

“Sorry, guys, tapi aku benar-benar tidak bisa.”

“Ah, baiklah, ya sudah kalau begitu.”



 

Jonghyun memaksakan dirinya untuk tetap tersenyum sampai akhirnya teman-temannya di akademi menyerah dan meninggalkannya sendiri. Ia risih, bukannya teman-temannya itu memperlakukannya dengan tidak baik atau apa. Sebaliknya, mereka selalu memuji-mujinya, selalu memperlakukannya dengan terlalu baik.

“Ada apa?” tanya seorang pemuda, bersandar pada sebuah mobil convertible bewarna putih. Rambut hitamnya menutupi sebelah matanya, memberikan kesan misterius pada pemuda berwajah manis itu. Ia tersenyum, meskipun alisnya sedikit berkerut tanda khawatir.

Jonghyun mengangkat bahu, “Ah Sungmin-hyung, teman-temanku memaksaku ikut ke pesta mereka, agak sulit melarikan diri.”

Ia berjalan ke arah Sungmin yang menggigit bibir bawahnya seperti ragu-ragu sebelum akhirnya membuka mulut lagi, “Maaf aku harus bilang begini, tapi mereka tidak tampak seperti teman yang tulus menurutku.”

“Mereka cukup—baik, kok.”

Entah ia berusaha meyakinkan Sungmin atau dirinya sendiri.

Namun Sungmin tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia juga. Jonghyun berdeham, kemudian tersenyum sedikit sambil merangkul bahu seniornya itu, “Jadi kemana kita hari ini, hyung?”

“Toko musik,” jawab Sungmin ceria, menyeret masuk Jonghyun ke dalam mobilnya, “aku butuh senar baru.”

 

Perjalanan mereka ke salah satu pusat perbelanjaan di Seoul tidak begitu berkesan. Menyanyikan lagu band Jungmo keras-keras dan kadang diselingi Coldplay, band kesukaan Jonghyun. Ini salah satu saat-saat yang disukai Jonghyun, ia menjadi dirinya sendiri dengan musik yang tidak terpaku pada teknik dan segala aturan klasik. Ya, ini dunianya.

Sungmin menghentikan mobilnya di parkiran dan dengan semangat menarik Jonghyun ke salah satu toko musik. Begitu sampai di sana pemuda yang lebih tua dari Jonghyun itu segera menuju counter, mencari senar gitar yang diperlukannya. Sementara itu Jonghyun yang ditinggal di pintu hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum, sudah biasa dengan kelakuan hyung-nya yang cepat terdistraksi. Ia memasukan tangannya ke dalam saku jaketnya dan berjalan menyusuri deretan alat musik yang ada di sana. Drum, Keyboard, biola elektrik, oboe, semua alat musik sepertinya memanggil-manggil namanya dan ia ingin mencoba satu demi satu.

Tapi pandangannya kemudian terpaku pada sebuah gitar listrik bewarna merah hati. Lekukan yang indah membuat Jonghyun ingin meletakan tangannya di sisi gitar itu, membiarkan tangannya menari-nari di atas senar.

 

“Jonghyun? Kau sedang apa?” suara Sungmin terdengar dari belakangnya. Jonghyun tersenyum kecil, tapi tidak menoleh untuk melihat hyung-nya. Ia hanya mengulurkan tangannya untuk menyentuh gitar itu. Membiarkan ujung jarinya merasakan permukaan keras alat musik itu.

“Gitar listrikku hampir tak pernah kupakai. Ayah ingin aku berkonsentrasi pada musik klasik, meskipun aku suka musik klasik, kadang aku juga ingin memainkan nada-nada sederhana, bernyanyi asal,” ujar pemuda itu, nada suaranya datar—tidak terdengar seperti kesal atau frustasi, hanya pasrah.

“Kau kan bisa ke tempatku atau Jungmo kalau ingin main-main.”

Yeah, I know. Thanks, hyung.”

 

Mereka keluar dari toko itu, Sungmin dengan sebuah plastik kecil berisi senarnya di tangan. Jonghyun memakai hoodie jaketnya dan memasukan tangannya ke dalam saku. Malam begini dingin untuknya, sementara Sungmin yang hanya memakai t-shirt tampak biasa saja, ia sedikit menggigil.

“Jadi, aku pulang duluan, ya? Shift kerjaku mulai sejam lagi,” ujar Sungmin.

“Oke, bukan masalah, hyung. Aku juga harus segera pulang.”

 

Suara mobil yang membawa seniornya menderu pergi menjauh. Jonghyun mengangkat kepalanya melihat langit malam. Ah, tidak ada bintang hari ini. Ia tersenyum miris. Satu helaan nafas kemudian ia mengangkat bahu, melanjutkan perjalanannya ke halte bus terdekat. Langkahnya terhenti ketika ia mendengar suara dari belakangnya. Jonghyun mengerutkan dahinya, kemudian sekali lagi mengangkat bahu tidak peduli. Ia melangkah lagi, namun seseorang menarik jaketnya hingga ia terjatuh ke tanah.

“Apa-apaan ini?” serunya kesal. Jonghyun menoleh dan sekilas ia mengira melihat teman-temannya dari akademi di bawah hoodie yang menutupi kepala mereka. Satu tarikan lagi dan ia merasa dirinya diseret ke sebuah gang.

“Hei! Mau apa kalian?”

Seakan tidak mendengar orang-orang itu hanya terus menyeretnya. Ia membuka mulut lagi, ingin berteriak atau sesuatu, namun salah satu dari orang itu menendang perutnya. Jonghyun mengerang sambil berlutut memegang perutnya. Tapi kemudian sudah ada tangan lagi yang memaksanya untuk berdiri. Jonghyun menggeram.

“Brengsek! Lepaskan aku!”

Tidak terjadi apa-apa.

 

Jonghyun ingin berteriak lagi, namun kemudian ia didorong hingga mukanya membentur tanah. Ia merasakan tanah yang lembab mengotori wajahnya, namun ia tidak bisa bicara—tidak dengan seseorang menduduki punggunnya, membuatnya kesulitan bernafas. Suara tawa rendah terdengar, firasatnya buruk. Ia mengangkat kepalanya, tapi seseorang memukul belakang kepalanya dengan benda keras. Sesuatu, entah apa.

Yang terakhir ia lihat adalah pemukul baseball yang menyentuh ujung jarinya. Menghilang, kemudian rasa sakit dan suara sesuatu yang patah.

 
 

“AAAARGH!”

 
 

***

 

Putih, satu hal yang disadarinya begitu ia membuka mata. Ia memicingkan matanya, pemandangan yang semula kabur perlahan mulai membentuk siluet yang jelas. Rumah sakit. Ia berada di rumah sakit, setidaknya itu yang ia kira, dengan perabotan yang serba putih dan bau obat yang kentara. Ia merasa lemah, sulit untuk menggerakan tubuhnya. Ia mengerang pelan, berusaha untuk bangkit. Namun sakit di rusuknya membuatnya menghempaskan dirinya kembali ke tempat tidur.

Jonghyun menutup matanya, mengingat-ingat apa yang terjadi sebelumnya. Malam hari, sekumpulan orang, teman-temannya dari akademi, muncul—sakit yang luar biasa, suara sesuatu yang patah.

Pupilnya melebar. Tubuhnya bergetar hebat dan ia merasa ngilu di ulu hatinya. Ia menarik nafas dalam-dalam. Kemudian, perlahan, ragu-ragu ia mengangkat kedua tangannya. Sepuluh jemarinya dibebat dengan perban. Mungkin lecet, mungkin hanya luka goresan. Ia mencoba menggerakan jemarinya. Tidak terjadi apa-apa. Jemarinya tidak mau bergerak. Jemarinya yang biasa bergerak lincah di atas senar gitarnya, tidak mau bergerak.

Jonghyun merasakan jantungnya berdegup keras. Ini tidak mungkin terjadi. Ini pasti—pasti hanya sebuah mimpi buruk yang kejam. Kehilangan jemarinya, kehilangan kemampuannya bermain gitar, tidak mungkin ini nyata. Tidak mungkin.

Sesak, paru-parunya terus bekerja namun ia tetap merasa sesak. Seakan sesuatu yang amat berat menindih dadanya, membuatnya kesulitan bernafas. Sesak. Suara tawa terdengar. Siapa? Ia meringis, menyadari bahwa suara tawa itu berasal dari mulutnya sendiri. Hampa, begitu hampa. Nafasnya mulai tersengal, tawanya semakin keras. Pemuda itu mengangkat tangannya setinggi wajahnya, menatap kesepuluh digit yang tertutup kasa putih. Ia tidak merasakan apa-apa. Hahaha. Tidak sakit, tidak perih, tidak terasa apa-apa, tidak bisa bergerak, tidak bisa—bermain gitar. Haha. Tidak sakit. Tidak terasa apa-apa. Haha. Tidak sakit.

Tidak sakit.

 

Mungkin ini hanya mimpi—ya, ini pasti sebuah mimpi. Ia membenturkan telapak tangannya ke meja di samping tempat tidurnya. Tidak sakit—ternyata ini memang hanya sebuah mimpi. Ia tertawa lagi. Mimpi kadang memang suka aneh. Hahaha. Ia mencoba duduk, mengabaikan rasa sakit di rusuknya. Mimpi, bukan mimpi. Pemuda itu membenturkan kepalanya ke dinding. Sakit. Kepalanya pusing. Berdentum, dentum, seakan kepalanya akan meledak. Sakit, sakit, sakit. Ini bukan mimpi. Ini kenyataan. Setan, ini kenyataan.

Ia merasakan sesuatu yang basah mengalir di pipinya. Hujan? Di dalam kamar? Hahahaha. Jonghyun tertawa lagi, matanya terbelak lebar, mulutnya terbuka mengeluarkan suara tawa yang hampa, asing, berbeda. Ia mengangkat tangannya lagi, menatap jari-jarinya yang kaku. Seakan bukan bagian dari dirinya. Kaku. Tidak bisa bergerak. Mati, saja. Lebih baik ia mati.

 

***

 

“Minum?”

“Tidak usah, hyung.”

Jonghyun melirik Sungmin. Gitaris seniornya itu memakai kemeja putih dan jas abu tua, agak terlalu formal untuk pergi ke bar, menurutnya. Tapi memang pemuda itu paradoks, petarung sejati yang menyukai kelinci merah muda. Dan seperti vampir, sebanyak apapun waktu berlalu wajahnya masih seperti pemuda tujuh belas tahun-an, padahal Sungmin lebih tua lima tahun. Ia misteri bahkan untuk Jonghyun yang sudah mengenal pemuda itu lebih dari separuh hidupnya.

“Apa yang akan kau lakukan?”

Bagi orang lain pertanyaan itu akan dirasa membingungkan, namun Jonghyun tahu apa maksud Lee Sungmin. “Aku tidak akan kembali ke rumah. Pasti ada suatu cara, untuk pergi. Jauh dari semua.”

“Selalu ada cara, selalu,” ujar Sungmin setuju. Ia melonggarkan dasi biru tuanya, tersenyum kecil, “tergantung pada sebesar apa tekadmu untuk pergi.”

“Kalau kubilang sebesar tekadku untuk balas dendam?”

“Balas dendam bisa menguasai pikiranmu, membuatmu gila dengan tiap langkah yang kau tempuh.”

“Semua orang gila, dengan cara mereka masing-masing.”

Sungmin tertawa pelan, “kau benar.”

 

Sang prodigi tidak membalas. Ia bisa merasakan kegelapan mulai menariknya. Semakin dalam hingga ia tahu pada akhirnya ia akan terperangkap di dalamnya. Tangannya terasa perih, sangat. Balutan perban pada kedua tangannya seakan mengejek ketidakmampuannya untuk kembali bermimpi. Ia tahu, ia yakin ia akan gila sebelum keinginannya untuk balas dendam membuatnya gila.

Tidak akan pernah lagi jarinya menari di atas senar gitarnya. Tidak akan pernah lagi alunan musik terdengar dari gitar kesayangannya. Ia seperti sudah mati, mati. Mati. Mati. Mati. Lebih baik ia mati saja.

Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ketika kemampuannya untuk bermain gitar diambil, ia seakan tidak memiliki apa-apa lagi. Semua yang ia miliki seakan lenyap begitu saja. Orang tua, teman, cita-citanya, kepercayaan dirinya, semua lebur. Menghilang dan hanya menyisakan lubang besar yang tak bisa ia tutup.

 

“Hyung…” Gumamnya lirih, menyentuh lengan Sungmin. Untuk pertama kalinya sejak tragedi itu terjadi, setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya. “Help me…”

Ia bisa melihat Sungmin menggigit bibir bawahnya, seperti sedang memikirkan sesuatu. Jonghyun tahu dia sedang mempertimbangkan semua kemungkinan, dia tahu sepupunya itu hanya akan memberikannya sesuatu jika ia yakin sesuatu itu baik untuk Jonghyun.

“Aku bisa membantumu melupakan semuanya, tapi apa kau mau menanggung risikonya?”

Cengkramannya di lengan Sungmin sedikit mengeras. “Apapun, hyung. Apapun.”

“Kau tahu kenapa bar ini dinamakan Sapphire?”

Jonghyun menggeleng.

“Sama seperti intan, batu safir juga harus diasah supaya terlihat indah,” jelas pemuda itu sambil tersenyum sedikit, “tempat ini, tempat berkumpulnya batu-batu yang belum diasah itu. Kami mungkin, bisa memberikanmu harapan baru.”

 

“Aku tidak bisa menjanjikanmu apa-apa,” Sungmin melanjutkan lagi, “tapi setidaknya aku bisa memberikanmu waktu untuk memikirkan apa yang ingin kau lakukan sekarang, jika kau mau bergabung di sini.”

“Maksudmu, aku, bekerja di sini?”

“Ya, kau bisa tinggal denganku dan Kyuhyun. Dia bisa jadi sangat  menyebalkan kadang-kadang, tapi selama kau tidak menyentuh komputernya, kau akan baik-baik saja.”

Jonghyun memperhatikan bagaimana sepupunya itu tersenyum. Ia tahu Sungmin juga memiliki masa lalu yang mungkin bahkan lebih menyedihkan daripadanya, tapi melihat kekuatan yang terpancar dari mata seniornya itu, ia mau tidak mau merasa sedikit lebih kuat, “Kau senang di sini, hyung?”

Sungmin tersenyum lagi, “lebih dari apa yang kau dapat bayangkan, Jjong.”

 

Ia tidak terkejut ketika mengetahui bahwa pekerjaan Sungmin di sana adalah sebagai host. Ia entah bagaimana bisa menebak, dengan setelan jas mahal yang dipakainya, dan caranya bicara yang tanpa disengaja terdengar terlalu manis. Sedikit banyak mirip dengan Kyuhyun, rekan kerja Sungmin yang ia -kenalkan kemudian. Jonghyun tidak keberatan untuk menjadi salah satu dari mereka, karena seperti yang Sungmin katakan, Sapphire memberinya alasan baru untuk meneruskan hidup. Ia belum tahu apa yang ingin ia lakukan ke depannya, tapi setidaknya ini suatu permulaan.

 

***

 

Suara pecahan kaca dan kayu patah terdengar nyaring di dalam gedung itu. Dan Jonghyun tidak ragu cepat atau lambat satpam penjaga akan muncul. Tapi mereka C.N. Blue, dan masalah kecil begitu tidak menghentikan mereka.

Warna-warni pilox menghiasi ruangan itu, dengan rata-rata tulisan berisi makian dan graffiti nama kelompok mereka. Jonghyun dengan seringai di wajahnya menghancurkan cermin besar yang mengelilingi ruangan itu dengan kursi. Ada kepuasan tersendiri ketika ia menyaksikan bagaimana kepingan-kepingan kaca itu jatuh membentur lantai.

“Mereka datang.”

Seseorang mengingatkan, Jungshin, mungkin. Derap langkah dan seruan-seruan terdengar semakin dekat. Dan keempat sosok itu melompat ke luar jendela, memecahkan kacanya dengan tubuh mereka. Jonghyun nyengir kecil sebelum menyalakan segenggam petasan dan melemparkannya ke dalam ruangan. Ia tertawa keras ketika suara teriakan bercampur ledakan terdengar.

 
 

Lee Jonghyun, bisa menyeretmu ke neraka. Jangan main-main dengannya.

 
 
 
________________________
GD-2 akhirnya muncul. Chapter selanjutnya tentang Minhyuk, ditunggu aja ya ^^
Nah, untuk cerita selanjutnya setelah Grave Diggers, kalau boleh nanya, kalian lebih milih Khuntoria atau Wooyoung/IU?

21 thoughts on “Grave Diggers [2]

  1. Yes! byk scene jonghyunpa :)

    Heh heh heh,, itu jonghyunpa hah? Awas loe ye jng2 mcm2! (~_~)
    Smoga mreka ga napa2 =_=

    Lanjuutt~

  2. Yeeeesss i love jong’s story! Eh suka smuanya ding hehe selalu bikin dgn alur cerita yg ga terduga! Kereeen!
    Kalo aku pilih khuntoria ajaa hohooo :D
    Minhyuk, trus jungshin! Yes ga sabaaar x) cerita minhyuk yg sama tifany dibikin dong lnjutannyaaa msh penasaraaan x(

  3. Aku mau khuntoriaaaaaa (ˇ⌣ˇʃƪ) aku suka bgt jonghyun author ya ampun sedih bgt temen2nya jahat bgt sampe tangannya dibikin kaya gitu :( ditunggu part selanjutnya author

  4. wuaa~ tragis nasibnya Jonghyun…
    itu kesepuluh jarinya yg ga ada, ato cuma di satu tangan?
    ato jarinya cuma patah?

    aku suka wooyoung-IU.. >< milky couple ya namanya?? hehe

  5. Akhirnya baca yg chap 2.Overall Aku sukaa bgt loh ceritanya. Bhasamu asik bgt thor. Bener2 bisa bikin mrinding.
    Part ini ada Jungmo nyaa!! biasku tercintaa <3
    Next part Minhyuk yaa? Sipplah kutunggu.
    I better choose WooU.. ^^

  6. kereen XD
    ternyata gak cuman yonghwa yang sadis, jonghyun juga gak kalah sadis.
    Atau emang semua anggota CN Blue sadis-sadis? #plaak
    keren!! Ditunggu chap 3nya, cepetan ya!! *maksa*
    aku lebih suka khuntoria dari pada wooyoung-iu. Karena khuntoria lebih mesra menurutku u,uu emang semua anggota CN Blue sadis-sadis? #plaak
    keren!! Ditunggu chap 3nya, cepetan ya!! *maksa*
    aku lebih suka khuntoria dari pada wooyoung-iu. Karena khuntoria lebih mesra menurutku u,u

  7. whahhuhhaaaaw~~~ ini urutannya berdasarkan nama-nama mereka ya? b-l-u-e gitu?
    wiiih~ bahasanya sederhana, dan walaupun (saya) masih belom ngerti tujuan si tokoh utama, tapi seru! seru aja dibaca.
    lanjutin ya, eonni~~

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s