[Freelance] The Marriage and Us {Day 6}

Title : The Marriage and Us [Day 6]

Author : Bee

Main Cast : Yesung, Bee

Support Cast : all members of Super Junior

Rating : all age

Genre : romance

Disclaim : biar kata terinspirasi dari WGM, alur cerita murni ide Bee.

***

Hari ini adalah akhir pekan. Tapi bukan berarti aku libur. Justru Sabtu ini aku sangat sibuk. Tadi pagi, aku terbangun dan langsung teringat Ria. Bagaimana kondisinya sekarang ini ya?

Karena kelelahan tadi malam aku pingsan dan terpaksa menjadi pasien di RS-ku sendiri. Pagi ini aku merasa bahwa kondisiku sudah pulih, dan saat ini aku sedang berganti pakaian dengan pakaian yang dibawakan oleh Yesung, ‘suamiku’.

Suamiku itu mengetuk pintu kamar mandi tempatku berganti pakaian. “Sayang, aku udah siapin sarapanmu nih.” Aduh mak, perhatiannya suamiku.

Aku keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah rapi. “Terima kasih udah mau nganterin bajuku, Sayang,” kataku kepada Yesung.

“Oh,” jawabnya singkat. “Ayo makanlah sarapanmu. Kamu ga boleh telat makan lagi,” perintahnya.

Aku menurut. Aku ga tahu kapan dia kembali ke rumah untuk mengambil bajuku dan membelikanku sarapan. Yang aku tahu, aku terbangun sekitar pukul 10 dengan infus sudah dilepas dari tanganku dan dia ga ada di ruangan. Padahal tadi pagi sewaktu aku jatuh tertidur sekitar pukul 5, dia masih ada, tertidur di ranjang tambahan di sebelah tempat tidurku. Aku hanya menemukan catatan darinya bahwa dia akan kembali sebelum pukul 11, dan baru saja aku meletakkan catatan itu kembali di tempatnya, pintu kamarku dibuka dan dia masuk sambil membawakan semua keperluanku.

Aku menghampiri meja tempat dia menyediakan sarapanku. Di sana tersaji sarapan a la korea yang lengkap dan sangat menggiurkan.

“Ini daging sapi, bukan babi. Aku sudah meminta ibuku agar membuatnya dari daging sapi saja,” ujarnya menunjuk satu sajian daging.

“Ibumu?” tanyaku.

Dia mencicipi dagingnya. “Oh, masisseo!” ditatapnya aku, lalu, “Oh. Uri Eomma. Aku ya ga mungkin lah nyiapin ini semua sendiri. Aku kan ga bisa masak kecuali ramyun.”

Aku sangat terharu mendengar penjelasannya. Dia sengaja meminta ibunya menyediakan sarapan buatku dan mengingat bahwa aku tidak makan daging babi. Kami bahkan bukan suami-istri beneran, dan dia mengingatnya.

“Sedang apa kamu? Ayo dimakan. Aku udah membawanya jauh-jauh ke sini.” Yesung membuyarkan lamunanku.

“Gomawo, Sayang,” aku setengah berbisik. Aku tidak yakin bisa menahan haru kalau mengatakannya dengan lantang.

Tapi sepertinya dia ga mendengarku, karena dia sedang sibuk mengajak kameramen kami sarapan bersama.

Sedang kami sarapan, tiba-tiba pintu kamarku diketuk dan langsung terbuka. Terdengar suara Dhera, teman Ria yang juga pasienku karena pada saat kecelakaan itu terjadi, tulangnya patah. “Kak Bee?”

Dia masuk dan melihatku, “Kak, aku tanya ke Bu Dokter katanya Kakak sakit… kyaaaa!” dia teriak.

Pandangan matanya tertumbuk pada Yesung.

Aku segera bangun menuju pintu dan menutupnya, lalu menghampiri Dhera. “Ssst, Dhera. Ini rumah sakit,” tegurku.

“A.. a.. itu.. itu.. Yesuuuuung!! Kak, itu Yesuung!!”

Yesung berdiri dan tersenyum ke arah Dhera, “Anyeonghaseyo, Yesung-imnida.”

Aku tidak tahu harus geli atau khawatir. Aku geli melihat reaksi Dhera, tapi kalau dia menyebabkan keberadaan Yesung di RS ini diketahui, bisa bahaya. Aku lalu menuntun Dhera agar duduk di kursi sebelah kursiku. Yesung sendiri telah kembali duduk.

Untuk sesaat aku bingung apa yang harus kukatakan, tapi rupanya Yesung lebih bisa menguasai suasana. Dia bertanya pada Dhera apakah cewek itu sudah sarapan.

Dhera seperti berada di tengah-tengah antara terkesima oleh Yesung dan bingung karena tidak mengerti apa yang dikatakannya. Aku lalu menerjemahkannya untuk Dhera.

“E, e, ya.. udah. Aku udah sarapan kok.. O~ ppa… kyaaa!” Dhera menjawab sambil kegirangan sendiri karena bisa langsung memanggil Yesung dengan sebutan Oppa.

Aku menerjemahkannya untuk Yesung.

Yesung lalu berkata padaku agar menghabiskan makananku. Aku menurutinya, sambil berkata pada Dhera, “Kalo mau makan lagi, silakan aja, Dhe. Ini yang bikinin ibunya Yesung.”

Dhera membelalakkan matanya padaku. “Beneran, Kak?” tanyanya ga percaya.

Yesung memandangku bertanya. Aku katakan padanya bahwa aku bilang pada Dhera tentang ibunya yang membuatkan masakan ini. Yesung kemudian hanya tersenyum pada Dhera. Aku lalu menjelaskan lagi bahwa Dhera adalah seorang turis yang kecelakaan bersama pasienku yang sedang koma. Mendengar itu raut muka Yesung langsung berubah bersimpati pada Dhera. “Aku ikut sedih mendengar cerita mengenai temanmu,” katanya. “Kakimu gimana?” lanjutnya bertanya.

“Ah, iya. Kasian Ria. Kakiku udah lumayan sih, makin lumayan setelah ketemu Oppa. Hihihiii…” kata Dhera menjawab setelah aku menerjemahkan pertanyaan Yesung.

Yesung tertawa mendengar terjemahan jawaban Dhera. Lalu dia mengambilkan aku sayur dan meletakkan di mangkokku sambil berkatan, “Sayang…”

Mata Dhera membulat lebar sekali. “Sa…yang…? Kak.. Kak.. Kak…” dia tergagap.

Aku yang belum ngeh kenapa Dhera terkejut malah panik, “Kenapa, Dhe? Kamu ga papa?! Dhe? Kakimu sakit ya?!”

Dhera menggeleng-geleng. Belum sempat dia menjawab, pintu kamarku diketuk lagi, dan kali ini terdengar dua orang cewek masuk sambil memanggil namaku. “Kak Bee… katanya Kakak sakit ya?”

Lalu sebentar kemudian dua cewek itu heboh dan ribut melihat Yesung. Memaksaku bangkit mengecek pintu takut pintu masih terbuka dan orang-orang mendengar dengan jelas keributan di ruangan kami.

Mereka teman-teman Dhera.

Hah, cape deh, punya suami idola remaja.

“Ya ampun, ya ampun, ini beneran Yesung Suju?”

“Beneran ga sih?”

“Aduh gimana dong, gue seneng banget bisa ketemu Yesung…”

Mereka berebutan mengungkapkan perasaan mereka.

“Heh!” kataku menyapa mereka. Mereka menoleh padaku. “Kayaknya tadi ada yang mau ngejenguk aku deh. Pada kemana ya mereka?” kataku menyindir.

“O iya.. Kak Bee katanya sakit? Kok Yesung ada di sini sih Kak?”

Lagi-lagi aku ga tau mesti merasa apa. Geli atau terpinggirkan ya? Dasar remaja.

Yesung memanggilku, “Sayang?”

Yang langsung aku jawab, “Ne?”

“Tuuuuh kan! Bener. Sayang-sayangan! KAK BEE APANYA YESUNG?!?!?!” pekik Dhera tertahan.

“Apa?!” dua orang teman Dhera yang baru datang ikutan kaget.

Aku memukul dahiku. Kacau deh nih. Aku lalu mendekati Yesung dan menjelaskan keributan serta pertanyaan cewek-cewek ini. Dia tertawa, “Ah.. Keugeo… I yeojaga, uri waipu.” ‘Wanita ini istriku’, katanya.

Bukan hanya itu, dia merangkul pundak dan menunjukku, “Waipu. My waiph,” katanya dengan logat Korea yang tidak bisa mengucapkan huruf F/V. Lalu dia menunjuk dirinya, “Husband.” Setelah itu dia menunjukku, “Wife.”

“APA?!!!” mereka pun pingsan dengan sukses.

Ga ding.

Aku menepuk perut Yesung agak keras. “Ya!” kataku mendelik padanya.

“Wae? Bener kan?”

Pada ketiga remaja itu, aku lalu menjelaskan situasi yang sebenarnya. Juga tentang kameramen yang selalu mengikutiku. Toh Yesung sudah mengatakannya. Kalau nanti tersebar rumor bahwa pernikahan Yesung adalah resmi, bisa berabe.

Mendengar penjelasanku, kedua teman Dhera dengan lemas mengambil tempat duduk di tempat tidur, sementara Dhera yang tadi kaget kini dengan lemas menyandar di kursinya. Sementara itu kedua kameramen entah sejak kapan menghentikan sarapannya untuk merekam kejadian ini. Makin lama aku makin terbiasa mengabaikan kedua makhluk pengikut kami itu.

“Kak Bee beruntung bangeeeett…” kata salah satu teman Dhera.

“Kok bisa sih, Kak?” kali ini Dhera yang bertanya, ditimpali oleh temannya yang lain, “Ho-oh. Kok bisa sih, Kak?”

Aku tertawa. Jujur aku juga ga tahu. “Lagi beruntung aja kali,” kataku termasuk pada diri sendiri.

Lalu aku teringat pada Ria. “O iya, ayahnya Ria katanya bakal sampe sini jam berapa?” tanyaku masih dalam pelukan Yesung.

“Ini pesawatnya baru berangkat,” kata salah satu teman Dhera.

“Berarti mungkin sampe sini masih nanti sore ya? Kalian udah dapet kabar terbaru tentang Ria?” lanjutku.

“Lah, tadi pagi kita mau nanyain Kakak. Kata resepsionis Kakak sakit, jadi kita mau jenguk. Eh, ga taunya Kakak lagi mesra-mesraan!” teman Dhera yang lain memandang kami dengan iri.

Aku baru sadar kalau dari tadi aku dipeluk terus oleh Yesung. Aduh, kenapa aku gampang banget terbiasa untuk hal beginian sih?! Aku menampar diriku sendiri dalam pikiran. Dalam kenyataanya, aku melepaskan diri dari pelukan Yesung.

“Cieee, malu-malu tuuuh…” Dhera menggodaku. Diikuti oleh cit-cit-cuit dari dua temannya. Lalu cewek itu melanjutkan, “Emang Kakak sakit apa sih Kak?”

“Oh, semalem aku pingsan gara-gara kelaperan,” kataku berusaha melucu, menutupi rasa maluku. Di sebelahku Yesung senyum-senyum.

“Idih, ga elit banget. Masa istri Yesung sakitnya kelaperan!” mereka protes.

Yesung yang mendengar namanya disebut-sebut, dengan pedenya bertanya, “Nan? Wae?” lalu dia merangkul pundakku lagi, “Good?” tanyanya memamerkan hubungan kami pada cewek-cewek itu.

Noooooo!” jawab mereka serempak.

Aku mendelik. Pertama pada Yesung yang memelukku, lalu pada cewek-cewek itu. Mwo? NO?! Awas nanti mereka.

Yesung tampak malu mendengar jawaban mereka, tapi dia masih protes, “Wae no? Saranghanikka. I love my wive!” (catatan author: semua huruf f ataupun v yang diucapkan Yesung harap dibaca jadi p)

No! We don’t rela!” salah satu dari ketiga cewek itu berseru sambil mulai cekikikan.

Yes! We don’t want!” yang lain menimpali.

Yesung tampak ga terima, “Eissh,” dia mengeratkan pelukannya padaku, lalu “Saranghe, Sayang…” katanya membuat mukaku semerah bisul mateng.

“Ya!” aku memperingatkannya saking malunya. Padahal sebenarnya hatiku berdegup keras sekali. Aku agak jengkel pada diriku. Padahal aku tahu, Yesung hanya main-main. Kenapa aku terlena oleh kata-kata cintanya barusan? Biasanya kalau ada orang yang main-main seperti itu, aku ikut menanggapinya dengan main-main. Tapi kali ini entah kenapa aku kehilangan kata-kata duluan.

“Kak, kok bisa manggil ‘Sayang’, sih?”

“Oh, itu Yesung yang milih. Katanya biar beda dari pasangan lain.

“Terus Kakak tinggal berdua gitu, sama Yesung?” tanya mereka nadanya setengah menuduh.

Belum sempat kujawab, telepon Yesung berbunyi. Dia mengangkatnya dan aku kehilangan kesempatanku untuk menjawab sebab ketiga cewek itu sudah terbuai dengan gaya Yesung ketika menjawab telepon, “Ne, Hyung?”

Mata ketiga cewek itu berbinar-binar menatap Yesung. Padahal yang ditatap tampak kebingungan menjawab. “Ne, maaf Hyung aku telat. Uri Bee masuk rumah sakit tadi malam. Sekarang aku sedang di rumah sakit.” … “Ani, dia sudah tidak apa-apa. Kebetulan dia pingsannya di rumah sakit…” … “Ne, dia pingsan tadi malam.” … “Ani, Hyung. Gwenchanha. Dia sibuk di RS. Kalau mau datang ke rumah aja lah.” … “Oh, geurae.” … “Arasseo.” … “Oh. Geuneo.”

“Nugu?” tanyaku penasaran.

“Heechul Hyung.”

“Kyaaaa, Heechul Oppa!” ketiga cewek itu mulai heboh lagi.

Aku berusaha memperingatkan mereka supaya jangan ribut melalui pandangan, dan sepertinya mereka bisa menangkap itu karena sekarang suara mereka menjadi lebih pelan.

“Waeyo?”

“Ah, mereka menanyakan aku ada di mana. Kami seharusnya ada shooting.”

“Mwo?!” aku terkejut sekaligus merasa tidak enak. “Ga!” ujarku mengusir Yesung.

“Aniya, Sayang. Gwenchanha. Kamu abisin makananmu dulu.”

“Udah ga usah mikirin aku. Kamu itu gimana sih? Itu kerjaanmu lho. Ga enak kan sama member yang lain.”

“Geunde~”

“Ga ada tapi-tapian. Udah sana kamu pergi!”

“Makanannya?” dia memandang ragu makanannya.

Aku ikut melihat ke meja dan melihat makanan kami yang sekarang sudah dingin. “Kamu mau menghabiskan makananmu dulu?” tanyaku.

“Ne. Ibuku udah masakin untuk kita. Pagi-pagi sekali tadi.”

“Kalau gitu ayo kita abisin makanan kita cepat-cepat. Aku juga harus cepet-cepet ke kantor.”

“Cewek-cewek, sorry ya, kita ngelanjutin makan dulu ya… kalian udah pada sarapan kan?” tanyaku.

“Iya, silakan aja, Kak. Tapi Kak…” salah satu dari mereka bertanya ragu.

“Apa?” tanyaku.

“Boleh ga kami motret Yesung?”

Aku menoleh pada Yesung. Dia malah salah mengartikan tatapanku. Dikiranya mereka ingin mencicipi makanan. “Ayo, ayo ambil aja kalau kalian mau,” katanya ramah.

Ih, baik banget sih jadi orang?! Ntar ada yang suka lho! Pikirku sedikit cemburu.

“Ani, Sayang. Mereka pengin motret kamu. Boleh?”

“Ah! Ya silakan aja. Mau motret aku makan?”

“Iya,” jawabku langsung.

Ternyata dia ga keberatan. Kusampaikan jawabannya pada cewek-cewek heboh itu. Dalam sekejap mereka langsung mengeluarkan HP dan jepret! Jepret! Jepret! Udah kayak paparazzi aja dah gayanya. Yesungnya sendiri malah berpose-pose gitu. Kadang-kadang menarikku ke sebelahnya. Terlalu dekat sampai membuat nafasku agak tersengal. Dia bahkan berlagak menyuapiku yang disambut dengan kehebohan Dhera dan teman-temannya.

Begitu Yesung selesai makan, Dhera merequest, “Kak, Kak, dia mau ga ya, foto sama kami?”

Aku menanyakannya pada Yesung dan dia membolehkan. Mereka lalu berpose mengelilingi Yesung. Ketiga-tiganya menunjukkan tampang sok imut gitu. Ciss, gerah juga aku ngeliatnya. Cewek-cewek muda, Boooo! Kalah deh gue mah kalo udah ngomongin umur. Sialnya, aku juga yang harus ngambil gambarnya.

“Sayang, sini,” panggilnya padaku. “Ikut foto sama kita.”

“Eh, aku? Ga usah deh,” aku menolak setengah-setengah.

Dia ga peduli dan menarik tanganku. “Hyung, tolong fotoin kami berlima,” pintanya pada kameramen.

Salah satu kameramen maju mengambil ketiga HP yang digunakan untuk memotret. Dan memotret kami 3 kali. Satu kali dengan masing-masing HP.

Setelah itu Yesung cepat-cepat mengucapkan “Kamsahamnida. Tetap dukung Super Junior, dan tolong bantu istriku.”

Aku menerjemahkan pada Dhera dan teman-temannya. “Pasti. Pasti. Super Junior, we love youuuuu..” jawab mereka lebay.

Dia menebarkan senyum untuk terakhir kalinya lalu meraih tanganku dan menciumnya. Kami empat cewek ini tercengo-cengo. Lalu sekonyong-konyong aku ingat bahwa kemarin aku menunjukkan padanya cara berpamitan a la Indonesia. Segera aku kejar dia, “Ani Sayang… Ireohke,” ujarku membenarkan sambil mencium tangannya sebelum berangkat.

Dia bingung. Aku bilang, “Kamu itu kan kepala rumah tangga. Jadi kalau kita mau berpisah, aku yang akan selalu mencium tanganmu. Itu tanda penghormatan.”

“Ah, geuraeyo?” dia tersenyum-senyum malu menyadari kesalahannya dan sedang menyerap informasi kebudayaan yang baru.

Aku hanya tertawa.

Dia berpaling dan berseru, “Aku pergi dulu” sambil diikuti oleh seorang kameramen. Meninggalkan kehebohan cewek-cewek di belakangnya.

Sepeninggal Yesung, semua berlalu dengan cepat. Aku membereskan bekas sarapan kami. Dhera kembali ke kamarnya dan kedua temannya memutuskan untuk menemaninya. Sebelum pergi aku mengingatkan mereka agar jangan mengatakan kepada siapapun mengenai Yesung.

Pukul 11.15 aku sampai di kantorku di lantai dasar. Aku segera melakukan rutinitasku. Menengok pasien, menemani dokter visit, menerjemahkan dokumen-dokumen, memenuhi beberapa panggilan darurat yang tidak terlalu gawat.

Selepas ashar aku pergi ke kamar Dhera untuk bertemu dengan teman-temannya. Kami memang berjanji untuk bertemu sekitar jam segitu. Aku katakan pada mereka bahwa sebaiknya mereka menjemput ayahnya Ria di bandara sekarang. Aku juga sudah memesankan taksi untuk mereka. Mereka menurut dan pamitan pada Dhera. Aku pun menunggui Dhera sebentar lalu pergi mengecek Ria. Anak itu masih belum bangun sejak operasinya. Dokter bilang bahwa masa kritisnya sudah lewat, tetapi sepertinya anak itu belum cukup kuat untuk bangun. Kondisinya benar-benar mengundang iba dengan semua selang yang dipasangkan ke tubuhnya.

Pip pip. Aku menerima sms. Ternyata dari pasien rawatku yang lain. Aku pun pergi meninggalkan ruangan Ria dan menemui pasien berikutnya. Kulirik jam dan ini seharusnya jadi visit terakhirku.

Pukul 5 lewat 10, aku melihat jam dinding di kantorku. Ah, akhirnya pekerjaanku selesai. Tapi aku belum bisa pulang, sebab aku harus menunggu ayahnya Ria datang. Dia mungkin akan datang sekitar jam 7. Hah, lembur lagi deh..

Sambil menunggu aku memutuskan mengerjakan dokumen-dokumen yang belum selesai kuterjemahkan. Hanya berhenti sebentar untuk sholat maghrib ketika waktunya tiba. Pukul 6.30 Dhera masuk ke kantorku. Biasanya sih yang bukan staf dilarang masuk ke kantorku, tapi toh aku tinggal sendirian di sini, jadi kusuruh aja dia masuk. Kami mengobrol sebentar, lalu aku mendapat sms bahwa ayah Ria sudah hampir sampai di RS. Aku dan Dhera menunggu mereka di lobi depan.

Begitu datang, aku membawa ayahnya langsung menjenguk Ria setelah menyimpankan koper beliau di kantorku. Ayah Ria terus-menerus menangis hingga saatnya aku memaksa dia untuk pergi. Kalau lebih lama lagi kami ramai-ramai di tempat Ria, aku bisa ditegur oleh RS karena terlalu memanjakan keluarga pasien. Pukul 8 malam akhirnya semua selesai. Ayah Ria menginap di hotel yang sama dengan tempat teman-teman Ria menginap, Dhera sudah kembali ke kamarnya.

Aku sedang membereskan barang-barangku ketika pintu kantor diketuk. Aku memandang pintu dengan heran. Siapa yang datang? Apa Dhera lagi? “Ne,” seruku malas membuka pintu. Pintu terbuka dan masuklah pria paling tampan sedunia.

Uri Yesung.

Lengkap dengan semua aksesorisnya dia nampak amat sangat keren bin ganteng sekali banget. Tiba-tiba lelahku hilang entah kemana. Tidak tahu pula dari mana datangnya ide itu, tiba-tiba aku tersenyum sangat lebar dan menghampirinya lalu memeluknya erat. Kuhirup aroma tubuhnya, kuletakkan pipiku di dadanya, dan aku seperti baru bangun di pagi hari yang cerah setelah tidur berkualitas semalaman.

“Lelah?” tanyanya sambil membalas pelukanku.

Meletakkan daguku di dadanya, aku mendongak menatap matanya yang tertutupi kacamata. “Oh,” jawabku dengan nada malas. Dari jarak sedekat ini aku bisa melihat matanya di balik kacamata. Dia balas memandangku, dan seperti biasa aku menjadi autis.

Di hari pertama kami bertemu kami diharuskan melakukan pose untuk potret pernikahan kami. Kami banyak berpelukan ketika itu, dan meskipun kami baru saling mengenal, rasanya aku sudah sangat terbiasa dengan tubuhnya. Rengkuhannya terasa seperti tempatku pulang. Tiba-tiba di sekitarku seperti menghilang. Hanya ada kami berdua. Itulah yang sedang kurasakan saat ini, sampai aku tersadar oleh gerakan kamera.

Sial, kamera!

Sontak kulepaskan pelukanku dari Yesung. Sepertinya wajahku agak memerah. Tapi aku tidak yakin juga. Untuk meutupi rasa maluku, aku bertanya pada suamiku itu, “Kok kamu ke sini?”

Dia menjawab, “Cuma mau memastikan aja kalo kamu pulang malam ini.”

Apa siiih? “Apa sih?” protesku. Kayak aku lagi selingkuh aja. “Emangnya ada gitu alasan aku ga pulang malem ini?”

“Ada. Itu pasien-pasienmu yang lebih kamu cintai dari aku.”

Huweeeee… kok kaya cemburu ya? “Ya abis mereka juga cinta sih sama aku.”

“Hah~” Yesung menghela nafas dengan lebay. “Padahal suamimu ini udah mencintaimu banget sampe ngejemput ke kantor segala langsung dari tempat kerjanya. Eh, malah kamunya selingkuh sama pasien koma.” Tiba-tiba dia mendelik, “Jangan-jangan kamu selingkuh sama bapaknya, ya?”

Kucubit perutnya. “Auw!” teriaknya.”Ya! Kamu mau aku masuk RS ini gara-gara KDRT?!” protesnya.

Aku tinggalkan dia untuk membereskan mejaku. “Ga baik, tau, becanda tentang orang yang lagi sakit,” kataku sok menasihati.

Dia manyun. Lalu dia mendekati mejaku. Mengambil selembar kertas, “Kamu udah makan, Sayang?” tanyanya.

“Belum.”

“Tuuh kaan.. aku udah ngira. Pasti kamu lupa makan lagi, kan? Makanya aku ke sini untuk ngejemput kamu sekalian ngingetin makan.”

“Emang kamu udah makan?”

“Belum.”

“Yee! Ternyata sendirinya juga belum makan.”

“Makanya aku mau ngajak kamu makan malam.”

“Jinjja?” mataku berbinar. Langsung kebayang dalam benakku, sebuah makan malam romantis di tempat yang indah. Jadi inget Full House waktu Jieun ditraktir sama Minhyuk…

“Jinjja. Aku mau bawa kamu ke tempat jajjangmyun kesukaanku.”

Cengo deh gueeee… “Jajangmyun?” tanyaku berusaha ga bereaksi berlebihan karena udah overestimate. Oh,,,jajangmyun… >.<

“Oh,” jawabnya. “Enak banget di sana.”

Aku memasukkan kertas-kertas kerjaan ke dalam tas, memunggunginya, menyembunyikan ekspresi keki-ku dari Yesung dan dari kamera.

“Geurae, ayo kita pergi,” kataku sesaat kemudian. “Jajangmyun! Kami datang!” seruku menelan ke(agak)kecewaanku.

“Anyeonghaseyo! Ahjussi!” Yesung memasuki warung jajangmyun sambil berseru.

Di dalam terdapat beberapa pelanggan, tapi tidak banyak. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang tua yang terlalu sibuk dengan jajangmyun masing-masing, sehingga kedatangan Yesung tidak terlalu menimbulkan kehebohan.

Aku sebenarnya cukup terkejut juga. Bagaimana seorang Yesung bisa mengetahui tempat seperti ini? Yang kecil dan nyempil yang bahkan kalau aku tidak diberi tahu, aku ga akan tahu.

Yesung membawaku mendekati pemilik warung. Dia berbasa-basi sebentar menanyakan kabar, lalu memesan dua porsi jajangmyun. Pemilik warung sepertinya sudah akrab dengan Yesung, berarti bener kali ya ini tempat dia biasa mangkal (mangkal?!), eh, maksudku makan. Pemilik warung menanyakanku, Yesung langsung memperkenalkan, “Ini istriku, Ahjussi.”

“Woo. Chukaeyo,” si paman pemilik warung tersenyum lebar sekali memberi selamat.

“Anyeonghasimnikka, Bee-imnida,” aku memperkenalkan diri.

“Sepertinya bukan orang Korea ya?” tanya ahjussi itu.

“Ne, Indonesia saramieyo,” Yesung menjawabnya untukku. “Ahjussi, kami makan di atas ya?” Yesung berkata pada pemilik warung.

Paman itu menyilakan, lalu Yesung menarik tanganku ke arah tangga. Tapi lalu berbalik lagi ke arah ahjussi pemilik warung. “Ahjussi, istriku ini tidak boleh makan daging babi, jadi tolong disiapkan yang dengan daging sapi ya?” kata Yesung.

“Ah, oke. Tenang saja. Kami memang tidak pakai daging babi. Selalu daging sapi,” ahjussi menjawab.

“Ah, geuraeyo?” Yesung berkomentar. “Kebetulan sekali. Aku pikir ahjussi pakainya daging babi.”

“Ahahaaha, lidahmu itu untuk menyanyi terus ya, makanya tidak bisa membedakan rasa daging sapi dengan babi,” ahjussi menggoda Yesung.

“Hahaha. Iya kali ya. Pokoknya kami pesan dua, untuk kami. Oh iya, dan dua untuk dua orang ini,” tambahnya sambil menunjuk kameramen kami. Lalu kami segera naik ke atas.

Aku berpikir, lumayan juga ahjussi tadi. Sepertinya usahanya cukup laris, tempat makannya sampai di lantai dua. Tapi ternyata kami tidak naik ke lantai dua, melainkan naik lagi ke atapnya. Di atap itu tidak ada apa-apa. Maksudku tidak ada tatanan sebagaimana warung pada umumnya. Hanya terdapat tempat jemuran dan balai-balai yang diletakkan merapat pada dinding pengaman.

“Yeogin…mwoeyo? Ini tempat apa sih?” tanyaku pada Yesung.

Yesung tidak menjawab, malah menyuruhku duduk sementara dia pergi ke sisi yang berlawanan dengan balai-balai. Seketika menyalalah serangkaian lampu-lampu kecil yang dipasang asal-asalan. Seketika atap menjadi lebih terang dari sebelumnya. Yesung lalu menempatkan dirinya di sebelahkuku.

Yesung bercerita, “Dulu waktu aku masih seorang trainee, kadang kalau pulang ke rumah di akhir pekan, Ayah dan Ibuku sering mengajak kami ke sini. Tempat ini belum berubah sekalipun dari bertahun-tahun yang lalu. Mungkin lampu itu,” tunjuknya pada lampu yang tadi dinyalakannya, “sudah diganti beberapa kali. Tapi balai-balai ini, bangku plastik di sana itu, dan sapu di pojokan itu, aku selalu melihatnya di tempat yang itu-itu juga sejak dulu.”

Aku mendengarkannya. Ah, jadi ini tempatnya berkumpul bersama keluarga.

“Ah, tapi!” serunya mengagetkanku yang baru mencerna informasi baru tentangnya. “Pot-pot bunga itu sepertinya cukup baru. Aku tidak ingat pernah melihatnya di sini sebelumnya.”

Dia lalu melanjutkan, “Tempat ini bukan yang paling tinggi di Seoul, tapi karena di sekitar sini tidak ada gedung tinggi, jadi pemandangannya tampak lapang.”

Aku mengedarkan pandangan ke sekitarku. Angin dingin bertiup membuatku menggigil. Tapi entah mengapa aku merasa hangat. Aku berdiri dan menyusuri dinding pengaman. Aku berjalan melihat suasana kota yang bisa terlihat dari tempat ini, melangkah memutari tempat itu sampai akhirnya sampai lagi di balai-balai tempat Yesung menunggu sambil memperhatikanku. Aku tersenyum padanya. “Kamu benar. Aku bisa melihat ke banyak tempat dari sini.”

Dia menepuk tempat di sampingnya. “Ayo duduk sini,” ajaknya. “Anginnya dingin.”

Kami terdiam beberapa saat sampai jajangmyun pesanan kami datang. Kami lalu makan bersama. Aku teringat sesuatu. Kurogoh tas dan kukeluarkan iPodku. Aku menatap Yesung dan nyengir.

“Ah…” dia berseru. “Ide yang bagus.”

Kunyalakan iPod itu dan segera terdengar Romantic milik Shinee.

Kami makan dalam diam. Hanya ditemani musik yang mengalun. Setelahnya kami masih bertahan di sana sebentar sambil menyandar ke dinding, memperhatikan lampu kota yang berkelap-kelip. Tidak diperlukan kata-kata di antara kami. Aku bisa merasakan hangat tubuhnya di sebelahku, itu sudah cukup. Semuanya jadi sempurna malam ini.

Teringat bayanganku tentang makan malam romantis dalam bayanganku tadi, aku bersyukur ini yang kudapatkan. Sewaktu bahunya menyentuh bahuku, ketika telapak tangan kami bersebelahan, saat desah nafasnya bisa kudengar di sela-sela musik yang berputar, itu semua jadi definisi romantis paling sempurna dalam hidupku hingga saat ini.

Malam itu kami berpisah di depan depan pintu rumah. Dia mengantarku pulang, tapi tidak ikut masuk sebab dia harus siaran. “Sampai besok,” ujarnya pelan.

“Sampai besok,” balasku tersenyum padanya.

Aku mengamati lampu mobilnya yang semakin menjauh. Kurasakan ada rasa sedih menyusup. Aku selalu melihat lampu itu menjauh. Ditinggalkan di belakang. Dan aku pun tersadar. Kugelengkan kepalaku kuat-kuat, tidak. Aku tidak boleh berpikiran terlalu jauh. Ini hanyalah sebuah program tv. Dari awal semuanya hanya pura-pura.

Kututup pintu depan sekaligus kututup pintu perasaanku. Aku tahu diriku. Kalau aku membiarkannya lolos sedikit saja, perasaanku yang terlena itu, aku akan mengacaukan acara ini dan mengacaukan semua orang. Aku akan membunuh semua bibit rasa yang muncul. Aku harus memandang Yesung sebagai partner! Tekadku.

Kupandangi rumah yang gelap. Dan tekadku langsung mengempis. Rasa sedih itu yang menang.

Malam ini aku tertidur sambil merasa bersyukur akan hari yang indah sekaligus resah karena aku mulai menyadari sesuatu dalam perasaanku untuk Yesung.

D6-KKEUT.

15 thoughts on “[Freelance] The Marriage and Us {Day 6}

  1. Kyaaaaa…. Yesuuuung…. Romantis,,tapi juga sedih saat bee sadar kalo ini cma acara tv… Lanjuuut cinguuu!!!

  2. Q ky bisa ngrasa’in jg apa yg di rasa’in Bee tiap kali nganter yesung di dpn pintu . Ngeliat pergi dan mulai menjauh . Uft . ,
    daebak crita.na . ,

    cinlok bneran gmn tuh ?

  3. SEDIHHHHHHHHHH……
    CRITAX MENDETAIL BGT… JADI TERHANYUTTT…
    BERASA GIMANA GITUHHH… KADANG KETAWA SENDIRII…MANYUN SENDIRIII… SENYUM SENDIRI… HEHEHE *KAYAK ORANG AUTISS… POKOKE 4 THUMBS FOR AUTHOR LAH…. HWAITING BEE…
    DI TUNGGU KELANJUTANNYA !!!!!…..
    # sory capslock jebol…hehehe

  4. nah lhoooo!!!
    bee udh mulai nyadar dy cinta yesungie!
    aku suka deh pas bagian di atap. romantis euuyyy >_<

    eh tp kira2 wkt yesung blg ke cwe2 indo itu klo dy cinta bee itu bner gk yaa??
    moga2 aja bener. :D

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s