[Freelance] Mine Is Yours part 2

Title                : Mine Is Yours (Part 2 of 2)

Author            : Nurhudayah Manjani

Cast                : Lee Donghae, Han Gyuri, Steffani

Rating             : All Age (but kids, coz I don’t think they would understand the conflict)

Genre                         : Romance

Ps                    : Ini ff rada geje sebenarnya. Jadi kalo ada yang gak suka, mohon jangan mencela. Trus buat yang suka (semoga aja ada), mohon tinggalin jejak. Komen kalian sangat berarti *bow*

Disclaim          : copy-paste boleh, tapi sertain source-nya ya^^

Gyuri POV

Tadi siang sekembalinya dari café, aku langsung mengurung diri di kamarku. Menangis. Mengenang semua yang sudah Donghae dan aku jalani. Haruskah aku menyalahkannya karena sebuah kesalahan yang tidak dia sengaja? Haruskah aku melepasnya dari sisiku sementara aku masih sangat mencintainya dan kutahu kalau dia juga merasakan yang sama? Jawabannya tidak. Tapi aku juga tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa beberapa bulan lagi di Jepang sana anak tunanganku akan terlahir tanpa ayah.

Dari tatapannya tadi siang aku tahu betul Donghae sedang dalam keadaan tidak bisa memutuskan. Dia pasti ragu karena pilihan apapun darinya akan menyakiti satu di antara aku atau yeoja itu. Karena itu yang harus mengambil keputusan. Tidak butuh waktu lama untuk meyakinkan diriku kalau keputusan yang kuambil ini adalah sesuatu yang benar. Memang inilah jalan terbaik bagi kami.

“Kuharap  kau mendukungku,” kataku pada Donghae.

Donghae POV

Aku hanya bisa memandang yeojaku ini dengan tatapan heran. Aku tidak habis pikir bagaimana bisa dia sampai kepada sebuah keputusan seperti yang baru saja dia utarakan padaku dan Stevi.

“Aku sangat mencintaimu. Aku tidak ingin kehilanganmu. Kau tahu itu, kan?” tanyanya sembari mengeratkan pelukannya di pinggangku.

“Apa kau yakin dengan keputusanmu?”

“Kau sudah cukup mengenalku untuk bisa membedakan kapan aku bercanda, Jagi… ”

“Bagaimana aku mempertanggungjawabkan ini pada orang tuamu?”

“Mereka pasti akan mendukung kita. Lagipula aku yang menginginkan ini, jadi mereka tidak punya alasan untuk menolak. Aku kan sudah cukup dewasa untuk menentukan masa depanku sendiri,” ujarnya mantap.

Steffani POV

Aku menangis lagi. Aku betul-betul menyesali perbuatanku kemarin. Seharusnya aku tidak usah memberitahukan masalah kehamilanku pada Donghae, apalagi memintanya menikahiku. Mungkin akan lebih baik jika dia tidak tahu. Setidaknya aku tidak perlu mengenal tunangannya dan didera rasa bersalah yang sedemikian parah seperti saat ini.

Kenapa ada wanita seperti dia?

“Stevi-sshi, apa kau tahu seberapa besar cintaku pada tunanganku? Begitu besar sampai aku tidak tahu bagaimana menjalani hidup tanpa dia. Sebelumnya aku sangat bahagia dengan keadaan kami. Lalu kau muncul, dan aku tidak bisa mengabaikan keberadaanmu. Apalagi sekarang kau mengandung anak dari orang yang sangat kucintai. Kita sama-sama ingin memilikinya, tapi dia tidak bisa memilih. Jadi maukah kau membaginya denganku?”

MAUKAH KAU MEMBAGINYA DENGANKU?

Pertanyaan macam apa itu? Mestinya aku yang bertanya begitu padanya. Pria itu miliknya. Kenapa dia malah bertanya seolah-olah Donghae adalah hakku? Kenapa dia tidak memarahiku saja? Setidaknya perasaanku mungkin akan lebih baik jika hal itu yang dia lakukan. Kenapa dia malah begitu baik dan sabar terhadapku?

Ah, Lee Donghae… Kau membuatku merasa disejajarkan dengan seorang wanita berhati malaikat. Aku tidak pantas untuk itu. Bagaimana mungkin aku merebut sedikit saja perhatianmu darinya? Aku tidak bisa.

Gyuri POV

Aku terbangun keesokan harinya dengan kepala yang terasa sangat berat. Hampir saja aku mengira yang aku alami hanyalah mimpi, sampai kudapati kalau aku terbangun di ranjang yang bukan milikku. Kuamati sekitarku. Kamar ini…

“Kau sudah bangun, Jagiya?” sebuah suara terdengar dari arah pintu.

Aku mendongak dan mendapati Donghae berjalan masuk menghampiriku dengan nampan berisi dua gelas susu. Senyumnya yang hangat membuat darahku seakan berhenti mengalir.

“Mianhe karena harus membuatmu menginap di sini… Semalam kau terlihat sangat lelah sampai tanpa sadar kau tertidur di sofa. Aku tidak tega membangunkanmu, jadi kupindahkan saja kau ke kamar ini. Bagaimana tidurmu?”

“Aku bermimpi sangat buruk,” jawabku asal.

“Jincha?”

“Ne. Aku bermimpi kau meninggalkanku lalu menikah dan hidup bahagia di Jepang.”

“Ah, kau menyindirku…” ujarnya manja.

Tanpa pikir panjang langsung saja kulingkarkan lenganku di pinggangnya yang saat itu duduk di dekatku. Dia balas mengelus lembut rambutku dan berkata,”Aku tidak akan pernah meninggalkanmu.”

“Arasseo. Aku hanya bercanda. Tapi kalau sampai kau meninggalkanku, akan kubunuh kau. Lalu setelah itu aku akan bunuh diri juga.”

“Hahaha, leluconmu itu tidak lucu!”

“Kalau begitu kenapa kau tertawa?”

“Aku hanya ingin menghiburmu. Kau pasti sangat merindukan suara tawaku, kan?”

“Percaya dirimu sangat tinggi, Jagiya. Walaupun yah, kuakui kau benar. Neomu bogoshieppo,” kataku sembari mencium kilat pipinya.

“Sudahlah, cepat minum susunya. Hari ini kau harus ke kantor, kan?”

“Andwae… apa kau sudah bosan melihat wajahku sampai-sampai harus mengusirku dengan alasan seperti itu. Shiroh! Aku tidak mau ke kantor. Aku mau di sini saja bersamamu,” kataku sambil mengeratkan pelukanku di pinggangnya.

“Aigoo, sejak kapan kau jadi manja seperti ini?”

“Wae? Kau tidak menyukainya?”

“Ani. Aku selalu menyukaimu bagaimanapun keadaanmu.”

Eomma, sejak kapan calon menantumu ini pandai menggombal seperti itu? Tidak tahukah dia kalau ucapannya itu berhasil membuatku kesulitan bernapas?

“Bagaimana tidurmu semalam? Apa kau memimpikanku?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.

“Ah, bagaimana mungkin aku bermimpi kalau tidurpun aku tak bisa? Sofa itu membuat leherku sakit. Lain kali kalau kau menginap di sini kau harus membawa kasur sendiri. Arasseo?”

“Kau sungguh pelit!”

* * *

Sepanjang hari kulewatkan di apartemennya. Kami mendengarkan musik, bernyanyi bersama, bercanda dan sesekali saling memaki lalu setelah itu kejar-kejaran seperti anak kecil. Sejenak kami melupakan semua masalah yang kemarin begitu menguras air mata kami. Yah, untuk hari ini biarkanlah dia menjadi milikku sepenuhnya, karena mungkin besok keadaannya akan berubah.

Donghae POV

Sudah sekitar seminggu aku di Korea. Mau tidak mau besok aku harus kembali ke Jepang. Sekertarisku yang cerewet itu tidak berhenti menerorku untuk segera pulang. Aku sendiri sadar yang dikatakannya memang benar. Terlalu lama meninggalkan perusahaan juga tidak baik. Aku hanya ingin sedikit lebih lama bersama Gyuri.

Malam ini dia mengajakku makan di restoran yang biasa kami kunjungi dulu. Aku berjanji menjemput dia di rumahnya sekitar jam 8, namun karena ingin berbincang sedikit dengan kedua orang tuanya, aku memutuskan datang lebih awal. Waktu aku datang, appa dan eommanya sedang duduk santai di teras belakang sementara Gyuri masih bersiap di kamarnya. Mereka sangat senang melihatku datang. Tak lupa mereka menanyakan kabarku selama ini.

“Kau pasti bekerja sangat keras,” Han ahjumma berkomentar.

“Ne, Ahjumma. Aku harus bekerja keras agar bisa segera menikahi putrimu. Dia bilang tidak mau menikah denganku sebelum melihatku menjadi bos besar,” ujarku yang sukses membuat Han ahjussi dan ahjumma tertawa.

“Ah, anak itu… kau harus bersabar dengannya. Dia memang sedikit keras kepala, tapi percayalah, dia anak yang baik,” kali ini Han ahjussi yang berkomentar.

Tentu saja, ahjussi. Anakmu memang sangat baik. Lebih baik dari yang bisa kita bayangkan.

“Hei, kalian membicarankanku ya?” sebuah suara terdengar dari arah tangga.

Aku segera menoleh dan mendapati yeojaku yang sangat cantik dalam balutan gaun hitam selutut berpadu high heels warna senada. Dia tersenyum kepadaku. Sangat manis.

“Kau sangat cantik,” kataku jujur.

“Aish… Kau baru menyadarinya? Kenapa nasibku begitu malang sampai mendapatkan tunangan babo sepertimu.”

“Salahmu sendiri mau bertunangan dengan pria babo sepertiku,” kataku tidak mau kalah.

Dia cemberut lalu sejurus kemudian mencubit lenganku lembut. Aku membalas dengan mengacak pelan rambutnya.

“Ya! Lee Donghae, kau membuat rambutku berantakan!” pekiknya.

“Ah, seharusnya kalian menikah saja,” kata Han ahjussi dan ahjumma kompak. Seketika mukaku memanas. Kulirik Gyuri juga mengalami hal yang tidak jauh berbeda. Mukanya yang memerah itu… neomu kyeopta!

“Sudahlah, ayo kita pergi sekarang. Aku lapar. Appa, Eomma, kami berangkat,” ujarnya sembari menarik pelan tanganku. Aku hanya bisa membungkuk untuk berpamitan dengan orang tua Gyuri.

“Ne. Berhati-hatilah di jalan dan jangan pulang terlalu larut,” Han ahjussi berpesan.

* * *

Sepanjang perjalanan Gyuri terus bercerita tentang rencananya untuk masa depan kami. Katanya  setelah menikah nanti dia akan pindah ke Jepang dan merintis karier dari awal lagi di sana. Dia juga bercerita banyak tentang desain rumah tempat tinggal kami nanti. Tak lupa dia mewanti-wanti agar aku bersikap adil kepadanya dan Stevi. Tak kusangka dia benar-benar serius dengan ucapannya waktu itu.

“Kau belum memberitahu orang tuamu kalau kita akan menikah dalam waktu dekat?” tanyaku.

Not yet, baby. Aku baru akan memberitahu mereka besok pagi. Lagipula kita kan sudah sepakat akan menikah secara sederhana, jadi tidak perlu mempersiapkan banyak hal. Oh iya, apa dia sudah menghubungimu?”

Aku menggeleng pelan untuk menjawab pertanyaannya.

“Aku rasa dia masih belum bisa memutuskan. Bagaimanapun juga tawaranku memang sedikit tidak masuk akal,” kata Gyuri.

“Sudahlah, jangan bicarakan itu dulu. Setelah sampai di Jepang aku akan bicara langsung dengannya. Kau jangan khawatir.”

Gyuri langsung tersenyum mendengar perkataanku.

* * *

Esok harinya aku kembali ke Jepang. Gyuri mengantarku sampai bandara Incheon. Sebelum berangkat dia menitipkan sesuatu padaku. Sebuah kotak ukuran sedang berwarna biru.

“Berikan ini untuk Stevi,” pintanya.

Steffani POV

Pagi ini aku melihatnya lagi di kantor. Dia sudah kembali setelah seminggu lebih menyerahkan semua urusan kepada asistennya. Mejanya sudah dipenuhi tumpukan berkas yang perlu diperiksa ulang. Sekilas kulihat wajahnya begitu berseri meskipun pekerjaan di depannya jelas-jelas akan sangat melelahkan. Pemandangan itu sangat kontras dengan yang kulihat terakhir kali. Apa penyebab senyummu itu, Lee Donghae? Wanita itukah?

“Hei, kenapa kau berdiri di sana?” tanya seseorang.

Aku tersadar dari lamunanku karena suara itu. Stevi bodoh! Bagaimana ini? Dia melihatku sekarang. Dia pasti tahu aku memperhatikannya.

“Masuklah,” katanya.

Alih-alih mengikuti perintahnya, aku malah berjalan (setengah berlari) kembali ke ruanganku. Aku sungguh merindukannya, tapi aku merasa belum siap berbicara langsung dengannya.

* * *

“Kau pasti sangat menderita belakangan ini,” ujarnya pendek.

“Aniya… Gwaenchanayo. Aku sudah terbiasa. Lagipula orang-orang tidak begitu memperhatikan perubahan tubuh ataupun sikapku, jadi tidak ada yang perlu kau khawatirkan. Justru kupikir tunanganmu jauh lebih menderita dibandingkan aku.”

Dia tidak menjawab pertanyaanku. Hanya sebuah senyum yang terbentuk dari bibirnya. Senyum itulah yang dulu (mungkin sampai sekarang) membuat aku menyukainya. Apakah itu ditujukan untukku?

Suasana hening untuk beberapa saat. Yang terdengar cuma nyanyian yang memang ditujukan untuk menghibur pengunjung tempat ini. Tadi saat jam kantor selesai, dia mendatangi ruanganku dan mengajakku ke tempat ini. Bisa kutebak  maksudnya melakukan ini, karena itu tidak ada pilihan selain ikut dengannya. Sudah waktunya aku memberitahukan apa yang ingin dia ketahui.

“Gyuri menitipkan ini padaku. Untukmu,” dia membuka kembali pembicaraan kami sembari menyodorkan sebuah kotak berwarna biru.

“Kau sangat beruntung bisa mendapatkan wanita seperti dia,” ujarku tanpa maksud aneh sedikitpun.

“Ne, kau benar. Dia memang sangat istimewa.

Suasana kembali canggung untuk waktu cukup lama.

“Mengenai tawarannya waktu itu, aku sudah memutuskannya,” ujarku mantap.

“Jangan mengatakannya kalau kau belum siap.”

“Aku serius. Aku sudah memikirkannya seminggu ini.”

“Kalau begitu beritahukan padaku apa keputusanmu.”

* * *

Aku sampai di rumah pukul 10 malam. Donghae mengantarku sampai depan pintu apartemen. Sebelum pulang dia menyempatkan diri mencium keningku dengan lembut dan berpesan agar aku makan dan tidur yang cukup agar janin dalam kandunganku tetap sehat. Ini tentu saja sangat melambungkan perasaanku. Dia memperhatikanku. Kakiku sampai lemas karena perbuatannya.

Setelah mandi dan mengganti baju, aku bersiap untuk tidur. Sepertinya malam ini aku akan bermimpi indah. Namun pandanganku lalu tertuju pada sebuah kotak biru yang diberikan Donghae padaku tadi. Kuputuskan menunda tidurku beberapa saat untuk membukanya.

Kotak itu berisi beberapa CD musik klasik, obat-obatan, dan selembar kertas kecil yang terlipat rapi. Ini pasti surat dari Gyuri.

Annyeong, Stevi-sshi. Aku minta maaf karena belum bisa mengunjungimu langsung. Tapi aku berjanji akan segera ke sana kalau waktu sudah memungkinkan. Aku tidak sabar untuk mengenalmu secara langsung. Donghae terlalu bodoh untuk disuruh bercerita. Padahal seharusnya dia bisa bercerita banyak tentangmu. Kau ini kan orang yang dua bulan menemaninya di saat-saat awal dia berada di Jepang. Hah, bisa kubayangkan dia pasti sangat menyusahkanmu.

Sebagai gantinya, aku kirimkan beberapa CD untukmu. Aku dengar musik-musik seperti ini bagus untuk pertumbuhan janin. Jangan lupa minum obat yang kuberikan. Ini kubeli sendiri jadi kau harus meminumnya. Jaga kesehatanmu. Aku ingin anak kita lahir dengan sehat ^_^

Tak terasa air mataku mengalir begitu saja. Han Gyuri, terima kasih sudah memberiku kesempatan merasakan kebahagiaan ini.

Gyuri POV

Hari ini, tepat sebulan setelah Donghae memberitahukan hal itu kepadaku, kami berdua menikah. Sesuai rencana, kami menikah secara sederhana. Yang hadir hanya keluarga dan beberapa teman dekat. Appa dan Eomma sempat protes karena menurut mereka pernikahan ini terlalu sederhana. Ditambah lagi mertuaku mendukung pendapat mereka. Eomonim bahkan terlihat sangat kecewa saat aku memberitahu bahwa setelah ini kami akan tinggal di Jepang, bukan di Korea.

“Padahal aku sudah mengkhayalkan tinggal bersama menantuku yang cantik ini di rumah kita. Kau tahu kan aku sangat kesepian sejak Appamu meninggal? Kau begitu tega ingin memiliki gadis ini seorang diri,” kata Eomonim kepada Donghae.

“Mianhe, Eomma… Kami hanya ingin mandiri,” kata Donghae dengan tampang menyesal.

“Eomonim jangan bersedih. Kami juga tidak akan selamanya betah di negeri orang. Kami pasti kembali kalau rindu pada kalian semua,” aku bantu menghibur mertuaku yang satu ini.

“Itu benar. Anak muda seperti mereka perlu belajar memulai sesuatu dari awal agar mereka semakin mandiri,” Eommaku bantu meyakinkan.

“Tentu saja. Maafkan kalau aku begitu egois,” kata Eomonim.

* * *

Sehari setelah pernikahan, aku dan Donghae terbang ke Jepang. Tidak ada bulan madu, karena kami masih harus mempersiapkan satu pernikahan lagi.

Donghae POV

Entah aku ini namja yang beruntung atau malah sebaliknya. Dalam satu minggu aku  menikah dua kali dengan yeoja yang berbeda. Lebih anehnya lagi, istrikulah yang menjadi seksi sibuk untuk pernikahan keduaku. Padahal waktu kami menikah, dia hanya menggunakan gaun sederhana yang langsung dibeli di toko. Tapi untuk pernikahan kedua ini, dia meminta Stevi mengenakan gaun rancangan desainer ternama. Tadi Gyuri bahkan membantu Stevi berdandan. Ah, wanita memang makhluk yang aneh.

Seluruh keluarga kami di Korea tentu saja tidak diberitahu. Ini atas permintaan Stevi sendiri. Dia memang memutuskan untuk menerima tawaran Gyuri waktu itu dengan satu syarat: dia tidak ingin orang lain tahu. Ditambah karena Stevi memang tidak punya keluarga lagi, maka jadilah di gereja ini hanya ada kami bertiga, pendeta, dan beberapa orang yang tidak begitu kukenal. Sepertinya mereka teman Stevi.

Sebelum mengucap janji di depan Tuhan dan pendeta, aku melirik Gyuri yang duduk tidak jauh di belakangku. Dia tersenyum sambil mengangguk pelan, seakan tahu maksud tatapanku. Setelah itu kualihkan pandangan ke arah yeoja di sampingku. Dia menunduk menunggu aku bersuara. Tenang saja Stevi, aku tidak akan melakukan hal bodoh lagi.

Saya bersedia. Dua kata itu resmi mengikatku pada yeoja ini. Kulihat air matanya menetes. Dia menangis, sama seperti yang Gyuri lakukan saat pernikahan kami. Yang sedikit berbeda hanyalah pada caraku memperlakukan mereka setelah itu. Kalau pada Gyuri aku menciumnya tepat di bibir, kali ini pada Stevi aku hanya mencium keningnya. Kuharap dia mengerti.

Steffani POV

Hatiku sakit saat dia melakukan itu. Tapi sekuat tenaga aku berusaha meyakinkan diriku bahwa memang hanya inilah yang pantas kuterima. Salah. Ini saja sudah lebih dari cukup.

Beberapa bulan lalu aku masih Steffani si yatim piatu yang tidak jelas asal-usulnya, sekertaris pendiam yang gila kerja dan tidak punya banyak teman. Namun pria ini datang seperti cahaya dalam hidupku yang gelap. Dia memberiku keluarga, memberiku status, serta seorang teman sekaligus kakak yang hampir sempurna di mataku.

Wanita ini memang sungguh luar biasa. Sebelum bertemu langsung dengannya terkadang aku ragu ada manusia yang bisa sebaik dia. Kemudian aku sadar kalau aku salah setelah melihat ketulusan itu dari matanya. Dia begitu memperhatikanku, bahkan melebihi perhatian yang seharusnya dia berikan pada pria yang sudah membuat kami saling mengenal. Aku juga sangat suka caranya menyebut rumah tempat tinggalnya dan Donghae dengan sebutan rumah kita, bukan rumah kami. Seakan dia ingin menegaskan bahwa tidak ada kata milikmu atau milikku. Yang ada hanya milik kita.

Dia begitu menjaga perasaanku. Yang bisa aku lakukan untuk membalas kebaikannya hanya dengan memutuskan menjadi invisible wife bagi Donghae. Itu sudah cukup bagiku.

Gyuri POV

Aku tidak tahu bagaimana menggambarkan perasaanku melihat kejadian barusan. Di satu sisi aku betul-betul tidak bisa mengabaikan perasaan Stevi. Jelas sekali kalau dia kecewa, meskipun pada kenyataannya dia tersenyum di hadapan kami semua. Ingin rasanya aku memarahi Donghae saat itu juga. Di sisi lain aku tetap manusia yang punya ego. Kupikir wajar saja kalau hati kecilku merasa ada sedikit rasa bahagia menyaksikannya. Ternyata Donghae masih lebih mencintaiku.

Setelah janji itu terucap aku sadar betul bahwa untuk kedepannya kehidupan mungkin akan lebih berat bagi kami bertiga. Terlalu banyak hal yang perlu dicemaskan. Tapi aku optimis bisa melaluinya selama kami terus berusaha untuk tetap saling memahami.

Kalau ada yang bertanya kenapa aku bisa mengambil langkah hidup yang tidak biasa seperti ini, aku juga tidak tahu pasti. Yang kutahu aku sangat mencintai Donghae.

Cinta itu bukan hanya tentang kesediaanmu berbahagia dan menderita bersamanya. Cinta itu lebih kepada kesediaanmu menerima segala kekurangannya dan memaafkan segala kesalahannya.

FIN(?)

Yaaak, tamatlah sudah ff geje ini. Terima kasih buat yang udah nyempatin diri membaca ff yang sedikit aneh ini. Ini murni karya saya lho, jadi kalo ada kesamaan latar tempat dan kejadian, itu hanya kebetulan yang tidak disengaja :P

21 thoughts on “[Freelance] Mine Is Yours part 2

  1. annyeong, slam kenal. readers baru nongol.^_^
    aq bru bc part 1 ny, tp g sempet coment! mian?? jd aq coment ny d part 2 ny ajj y!!hhe

    crita ny mengharu kn! daebakk ff ny!!
    suka ma sikap ny gyuri^_^
    tp kok end cey??
    bikin lanjutan ny,, pngen tau khidupan mreka stelah menikh gmna*pnasarn nie*

  2. Ih aku kira si stevi mau nyerah aja yah jadi sebel deh. Tp istrinya donghae ikhlas banget (•̯͡.•̯͡) terharu jadinya, cinta emg aneh deh..

  3. Anyyeong…
    ah Gyuri emang baik..
    hahahahaha…
    buat sequel nya donk..
    kan ortunya Hae ma ortu nya Gyuri blm tau masalah itu kan??
    biar jelas…
    lagian penasaran ma kehidupan rumah tangganya..
    ok..
    di tunggu

  4. dah nongol bae part 2 nya :D

    Wahhhh,nie ff aneh perasaan,tapi over all oke,ga nyangka poligami….*jewer kuping hae :D

    lucu juga ya serumah ama istri2 yg beauty :D *Hae nyengir kuda simba :D
    WKKAKAKAKAA

    Kek raja nyoh d dampingi selir2 :D

    Tapi aq suka. tapi lebih rela gyuri sama hae :(
    ckckckkcc

    daebak,trus berkarya thor :D

  5. maaf ya ak cuma ngomen di part 2.
    Bagus lo ffnya. Ceritanya ga basi2 amat hehe
    Dan gyurinya, UWOW keren gilaaaaaaaa. Ak mau nambah juga dong, jd donghae punya 3 xD
    Bikin deh lanjutanny, jd ceritain kehidupan mrk ke dpn. Pasti seru ^^

  6. ga rea sbenernya kalo hae hars mendua T.T
    andaikan malam itu tidak terjadi… pasti hae akan bahagia dg gyuri :(

  7. wahhh, makasih ya buat semua yang udah nyempetin baca ff ini *bow

    bener bgt tuh yang komen di atas tadi, ini ff terinspirasi dari film india. hhhahaa :D

    sequelnya nanti dipikirin, saya juga bingung mau diapain ini rumah tangga.

    atau ada yang mau nyumbang ide? kalo ada, aku tunggu dan akan diterima dengan senang hati :D

  8. ternyata bener tebakan ku, haeppa poligami.
    Kalo d khidupan nyata susah kaya’y buat tulus kaya gyuri .

    Author bikin lanjutan nya ya, ga asik cuma ampe sni doang XD

  9. aku suka sama cerita y ngak berat tp simple. . . .
    Menceritakan sisi lain perempuan n perasaan cwe yg d poligami, perfect dr sudut pandang hae, gyuri, n stevi. . .
    Daebak!

  10. biar aku perjelas dulu nih karakternya..
    Stevi itu yatim piatu, makanya dia minta tanggung jawab donghae biar anaknya ga ikutan kayak dia.
    Trus gyuri tuh sempat niat buat ngelepasin hae, cuma dia sadar kalo hae ga suka sm stev.
    hae ragu bimbang bingung antara mau tanggung jawab atau pertahanin cintanya.

    Omooo~
    Complicated bgt.

    Yang soal film india itu, gak mirip2 bgt ah. Beda bgt malah.

    Lanjuuuut sequelnya :D

  11. loooh, suamiku #jegeerr punya dua istri dong endingnya..
    gimana ituh berbagi suami…
    aigooo…
    jadi akuh di 3in dong?
    itumah masi 2 yang baru ketauan, belom yang laen…
    #meweeekkkk
    jiaaahhh, gua kira Hae bakalan sama Gyuri endingnya, padahal gua uda seneng banget mereka hidup bahagia…
    tapi takdir berkata laen…
    #nahloh
    ffnya hebaat, udah berhasil membuat hatiku tersentuh dan berekspresi…

  12. keren abis chingu…mpe nangis mbacany..kasian 5 gyuriy yg baek bgt,kenapa nasibny gitu…chingu bikin ff laen g?judulnya pa?pnya blog pribadi?

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s