[Freelance] The Marriage and Us {Day 5}

Title : The Marriage and Us [Day 5]

Author : Bee

Main Cast : Yesung, Bee

Support Cast : all members of Super Junior

Rating : all age

Genre : romance

Disclaim : biar kata terinspirasi dari WGM, alur cerita murni ide Bee.

***

Berhasil! Pagi ini aku berhasil bangun pagi dan mempersiapkan semua tepat pada waktunya. Tadi malam aku tidur pada waktunya, sehingga pagi ini aku bisa bangun dengan segar dan ga harus tidur lagi setelah sholat subuh.

Aku lihat hasil karyaku. Nasi, sayur, kimchi, telur mata sapi. Waaah, sarapan a la Korea. Yesung pasti senang, aku tersenyum memikirkannya. Kulirik jam di dinding, jam 7 pagi. Aku nyengir ke arah kamera, lalu berkata, “Aku berhasil pagi ini. Aku tidak terlambat bangun.”

Aku bergerak ke arah kamar diikuti kamera. Di depan pintu kamar aku agak ragu sejenak. Apakah seharusnya aku membangunkan Yesung? Atau tidak? Aku ga tahu persis jadwalnya hari ini. Aku takut kalau kubangunkan ternyata dia memiliki jadwal siang hari.

Aku melihat ke arah meja di depan sofa yang sudah ditata rapi dengan makanan. Ah, mungkin sebaiknya kubangunkan saja dia.

Kuminta kameramen untuk mengambil gambar dari pintu saja, sebab toh di kamar kami juga sudah ada kamera pengamat. Aku lalu mengetuk pintu sebelum masuk. Tok tok. Karena tidak ada jawaban, aku masuk aja. Ternyata dia memang masih tidur.

Aku berjalan menghampiri tepi tempat tidur di dekat kepalanya. “Sayang,” panggilku. Dia tidak menunjukkan reaksi. Maka aku menyentuh lengannya. “Sayang,” panggilku sekali lagi. Sekali ini sambil sedikit menggoyangkan lengannya.

Dia mengernyitkan mata. Kurasa dia sudah bangun. Maka aku berkata, “Sayang, apa kamu ada jadwal pagi ini?”

Tangannya mengucek-ucek mata. Lucu banget. Kaya anak kecil… Ah, ngegemesin banget. Kalau suamiku beneran mungkin udah aku caplok itu pipinya.

Akhirnya matanya terbuka sedikit. Lalu dia memandang ke arahku. Dengan cepat kesadarannya segera pulih. Dia segera merapikan rambutnya, membersihkan matanya sebersih mungkin dengan tangan.

Aku tertawa, “Tenang aja. Kamera ada di pintu kok. Ga ada close up-close up-an pagi ini.”

Matanya berkeliaran mencari kamera. Akhirnya setelah yakin bahwa ucapanku serius, sikapnya kembali santai.

“Aku harus berangkat kerja sebentar lagi. Apa kamu masih mau tidur?”

“Eng?” dia bertanya malas-malasan.

“Aku tanya, kamu ada jadwal pagi, ga? Kalau ga ada, dan kamu mau tidur lagi, aku akan simpan sarapanmu,” kataku akhirnya cukup panjang setelah yakin dia akan mengerti ucapanku.

Dia hanya membalas dengan erangan kecil dan memutar tubuhnya hingga membelakangiku. Kurasa itu artinya dia akan tidur lagi. Jadi aku menjauh darinya dan meninggalkan kamar. Begitu kututup pintu kamar di belakangku, aku berkata pada kamera, “Sepertinya dia tidak ada jadwal pagi ini. Aku akan menyimpan sarapannya. Lebih baik kita sarapan saja dulu.”

Aku pun memisahkan jatah sarapannya, lalu mengajak kameramenku untuk sarapan, sekalian kuajak juga kameramen Yesung, tapi dia menolak. Terlalu pagi, katanya. Aku lalu bertanya, apakah Yesung pulang malam sekali tadi malam kepada kameramennya. Dia mengatakan tidak, dia pulang sebagaimana biasanya dia pulang dari siaran SUKIRA.

Ketika sarapanku sudah habis setengah, pintu kamar dibuka dan Yesung muncul dengan kepala ditutupi hoodie. Wajahnya disembunyikan. Dia langsung ngeloyor ke kamar mandi. Lima menit kemudian dia keluar dengan hoodie sudah tak lagi menutupi wajahnya. Dia juga tampak lebih segar. Rupanya dia sudah membersihkan diri.

“Pagi, Sayang,” sapanya.

“Pagi,” balasku sambil tersenyum.

“Kamu udah mau berangkat ya?”

“Oh,” kataku mengiyakan.

“Aku ga bisa nganterin pagi ini, karena jadwalku agak siangan,” katanya menempatkan diri di depanku di seberang meja.

Aku teringat kemarin dia berkeras mengantarku sebab jadwalnya sama pagi denganku.

“Ah, ne. Ga masalah. Aku kan biasa naik bus.”

“Sayang,” panggilnya.

Aku memandangnya bertanya.

Dia menunjuk telurku. “Aaaaa,” katanya membuka mulut.

Aku hampir pingsan saking terpesonanya. Imuuuuuuuuuuuut! Kaya anak kecil minta disuapin. Ah, kalau suamiku beneran seimut ini, rasanya seumur hidup suruh nyuapin dia juga mau.

Dengan agak malu karena ada kamera aku menyuapinya. “Sarapanmu udah aku pisahin. Ada di dapur. Kamu mau sarapan sekarang?”

“Oh, geurae?” dia bangkit menuju dapur. “Wah, kamu menyiapkan sarapan a la Korea, Sayang?” serunya.

Aku yang menyusulnya dan sekarang berada tepat di belakangnya menjawab, “Iya.”

Dia tampak kaget, “Ai kamchagi! Eeeish…”

Aku tertawa, aku sendiri kaget dia bisa sekaget itu padahal aku ga niat ngagetin dia. “Mian…”

Aku menunjuk makanan yang ada di sebelah rice cooker. “Ini sarapanmu. Mau kubawakan ke meja?”

Dia mengangguk, “Boleh, boleh…” sambil mengambil mangkok dari dalam lemari dan mengambil nasi langsung dari rice cooker.

Kami pun sarapan bersama. “Hey,” kataku menyadari sesuatu. “Ini sarapan formal pertama kita!”

Dia menatapku, lalu matanya berbinar. “Haha. Iya ya… Biasanya kita hanya bertemu malam hari. Itu pun ga selalu makan malam bersama.”

Aku mengangguk-angguk. “Ha~ jadi ini toh rasanya jadi istri artis. Ga pernah ketemu sama suami…” aku menyuarakan pikiranku.

Dia menatapku lagi. Lalu tiba-tiba dia berpindah ke sebelahku. “Sayang, kamu jangan minta cerai, ya? Aku kan kerja juga buat nyari uang buat kita…” katanya membujukku.

“Huh,” aku pura-pura marah. “Mana uangnya, kalau begitu?”

“Eiish, kamu matre banget sih?” dia mengabaikanku dan kembali melanjutkan makan.

Aku keki. Masa aku dibilang matre? Masa dia ga ngerti sih, ini kan pemikiran istri yang normal. Duit untuk keperluan rumah tangga. Biarpun aku cuman istri-istrian sih. Makanya aku hanya menjawab, “Ciss.”

Aku sudah selesai makan. Aku melirik jam dan ternyata aku masih punya sekitar 15 menit sebelum berangkat. “Sayang, eotteohke?”

“Eoh? Apanya?”

“Sarapannya. Enak ga?”

“Gwenchanha.”

“Jinjja? Aku pikir kurang enak dan kurang rasa Korea. Abisnya aku kan bukan orang Korea.”

“Gwenchanha, gwenchanha. Rasanya mungkin berbeda, tapi bukan ga enak kok. Ini rasa khas bikinan istriku,” sahutnya sambil terus makan.

Aku terharu sehingga ga bisa berkata apapun.

“Sekarang kamu pasti sedang terharu karena aku bilang begitu, majyeo?” tanyanya mengambrukkan semua pemujaanku padanya sesaat yang lalu.

“Hah! Itu mah emang udah seharusnya kali… Kamu mau mati, bilang masakanku ga enak?!” aku membantahnya sambil melihat jam. “Udah ah, aku harus berangkat,” lanjutku.

Kuangkat mangkok bekas makanku, tapi dia mencegahku, “Udah tinggal aja. Nanti aku yang beresin ini.”

Aku menahan senyumku yang hampir terkembang. “Jinjja?”

“Oh.”

“Geurae, kalo begitu. Aku pergi dulu ya Sayangku Suamiku…” pamitku mengambil tas.

“Tapi…” ujarnya menghentikan gerakanku. Dia melanjutkan, “Aku yang bersihkan meja, tapi,” dia menunjuk pipinya, “Popo!”

Aku mendengus. Dengan orang ini emang ga boleh lengah. Semua pasti ada syaratnya! Aku ambil bantal sapi yang kupakai untuk tidur semalam yang masih tergeletak di sofa, lalu kulempar padanya. “Popo tuh bantal!” ujarku sambil ngeloyor ke pintu depan.

“Ya!” serunya. Dia menyusulku. “Kita ini kan pengantin baru, makanya kita harus mesra.”

Aku memandangnya dingin.

“Jinjjaro!” Dia membela diri. “Kita harus nunjukin ke Shindong ssi, suami istri yang akur. Gitu kan konsepnya?” lanjutnya mencoba mempersuasiku.

Memang pada akhirnya nanti, akan ada potongan-potongan adegan yang akan dikumpulkan sebagai hadiah pernikahan bagi Shindong. Isinya adalah adegan-adegan yang mencontohkan kelakuan suami-istri yang harmonis.

Aku pun mendapat ide. “Kalau begitu, bagaimana kalau kita perkenalkan cara interaksi a la Indonesia pada Shindong ssi?”

Yesung nampak cengo. “Ho? Emang cara Indonesia gimana?”

Aku memakai sepatu kerjaku dan mengisyaratkan supaya Yesung mengikutiku ke pintu depan. Kameramenku sudah menunggu di pintu. Setelah sampai di sana, aku lalu menyalami tangannya dan menciumnya seperti yang biasa aku lakukan pada ayahku kalau aku berangkat sekolah.

Dia terbengong-bengong dengan cara itu. “Hah? Gini doang? Udah?”

Aku mengangguk. “Iya.”

“Ya! Kamu mau mempermainkan aku ya?!” serunya. “Masa begini doang sih?”

“Lha itu kan popo juga…”

“Eiish, ini sih bukan popo. Popo itu di sini,” dia menunjuk pipinya, “atau di sini,” menunjuk bibirnya.

Aku memasang ekspresi ‘cape deh’ lalu pergi meninggalkannya. “Galge,” pamitku.

“Tunggu!” dia menahanku.

Aku menoleh, “Apa lagi?”

“Nanti pulang kantor kamu ke studio ya?”

“Hah?” aku ga ngerti.

“Nanti malam kita diminta untuk memilih adegan yang mau kita tunjukkan pada Shindong ssi di studio. Leeteuk hyung ngasih tahu aku tadi malem.”

“Oh, gitu. Geurae. Kalo begitu sampai ketemu nanti malam di studio ya?”

“Oh.”

“Jal isseo,” aku pun berangkat.

Pekerjaanku di RS Seoul hari ini cukup banyak. Saat ini total pasienku adalah 3 orang. Semuanya sedang membutuhkan penanganan khusus. Cewek yang kemarin menjadi korban kecelakaan dan mendapat luka di kepala masih koma hingga saat ini. Teman-temannya yang datang mengantar sibuk merasa panik hingga hari ini karena dia belum bangun juga. Sementara di antara mereka juga ada satu orang yang mengalami patah tulang. Istri pasienku yang baru di chemoterapi terus-menerus mengharapkan aku untuk mendampinginya.

Akhirnya pada jam makan siang, aku makan siang bersama istri pasienku dan tiga orang cewek Indonesia yang salah satunya adalah pasien patah tulang. Istri pasienku terus-menerus memintaku untuk mau menerima telepon dan smsnya biarpun aku sudah pulang nanti. Sebab tadi malam dia sangat bingung ketika harus mengurus suaminya. Aku bertanya padanya, “Memang ibu belum pernah merawat orang di RS, Bu?”

“Wah, saya belum pernah sekalipun, Mbak. Saya biasanya cuman njenguk orang sakit. Apalagi di Korea ini kan serba canggih ya? Saya jadinya tambah bingung.” Si ibu menjawab dengan logatnya yang medok Jawa banget.

“Kak, kak,” tanya salah seorang cewek yang ga kenapa-napa.

Aku menoleh padanya.

“Kenapa sih Kakak selalu bareng kameramen?”

Wadhuh, saking sibuknya aku sampai lupa menyiapkan jawaban untuk pertanyaan ini. Padahal aku sudah memperkirakan sebelumnya. Sepengetahuanku sih, acara ini harusnya rahasia sebelum tayang. Sebab kan kami mau ngasih surprise gift buat Shindong. Jadi selama pernikahannya belum dilangsungkan ya kami ga bisa mempertontonkan apa yang kami rekam dong. Selain itu ada kekhawatiran bahwa fans Super Junior bisa jadi tidak bisa menerima karena istri-istri yang terpilih adalah bukan dari kalangan artis.

Aku lalu menoleh pada kameramen dan berdiskusi padanya dalam bahasa Korea. Kesimpulannya kami sepakat mengatakan bahwa ini hanya untuk dokumentasi. Maka begitulah. Itulah yang aku berikan sebagai jawaban kepada cewek yang tadi menanyaiku.

Untuk mengalihkan perhatian mereka dari kamera, aku menanyakan alasan mereka datang ke Korea.

“Liburan!” jawab mereka serempak.

Lalu yang patah tulang melanjutkan, “Siapa tahu bisa liat Suju langsung, hihihi,” diikuti oleh tawa yang lain.

Tapi tawa mereka tidak bertahan lama, sebab mereka teringat pada teman mereka yang sedang koma. “Tapi kayaknya kalo tau mau begini mah kita mungkin milih ga ketemu sama Suju. Kasian Ria…” tangis seorang di antara mereka. Yang lain langsung berusaha menenangkan walaupun air mata mereka ikut menetes.

Akhirnya mereka menjelaskan bahwa sebenarnya semua orang tua mereka merasa keberatan ketika mereka bilang ingin liburan ke Korea Selatan hanya berempat. Tapi mereka nekat. Mereka menabung dan bahkan bekerja sambilan supaya ga perlu minta sama orang tua mereka untuk pergi ke Korea meski orang tua mereka termasuk orang yang sangat berada. Pada dasarnya mereka malas mendengarkan nasihat orang tua sebab menurut mereka alasan keberatannya kurang logis. Yang masih kecil lah (padahal mereka semua sudah kuliah tingkat 2); yang kesusahan cari tempat lah (padahal mereka sudah booking hotel jauh-jauh hari); yang ga ada keluarga lah (lah, namanya liburan masa mau hibernasi doang di rumah sodara?); yang dikhawatirkan tersesatlah (lagi-lagi nganggep anak kecil). Pokoknya intinya gitu deh.

Aku mendengarkan sambil sesekali menenangkan mereka. Mengatakan bahwa Ria sudah diberi perawatan terbaik di sini, jadi mereka tenang saja. Aku menanyakan apakah mereka sudah menghubungi keluarga Ria. Kemarin untuk kepentingan administrasi, aku sudah hendak menghubungi keluarganya, tapi mereka mengatakan bahwa mereka yang akan bercerita dulu pada pihak keluarga, karena takut dikira penipuan. Akhirnya semua keterangan pasien diisi berdasarkan keterangan teman-temannya. Hari ini mereka mengatakan bahwa mereka akan mencoba menghubungi siang ini, menunggu jam pulang kantor di Indonesia.

Wah, itu berarti kira-kira sudah jam 6 di Seoul. Berarti aku mungkin akan telat datang ke studio. Mana aku lupa menanyakan nomor HP Yesung, lagi. Artinya aku ga bisa ngasih tahu dia perihal keterlambatanku dong…

Selagi aku  menimbang-nimbang manajemen waktuku, tiba-tiba ponselku berbunyi. Telepon dari kantor. Aku diharapkan kembali ke kantor secepatnya sebab ada pasien lagi yang baru datang. Seorang pekerja Indonesia.

Setelah kututup teleponku, aku mengatakan pada mereka bahwa jam makan siang sudah usai dan aku harus kembali ke kantor, sementara Dhera, yang menderita patah tulang juga harus kembali ke kamar karena kemungkinan dokter akan melakukan visit dan evaluasi. Si ibu, istri pasienku yang baru selesai dichemo, pun memutuskan untuk kembali ke kamar suaminya setelah aku berjanji akan mengunjunginya  sekali lagi sore ini.

Sepanjang sore itu aku terus berpindah dari satu departemen ke departemen lain di  RS. Mencuri-curi sedikit waktu untuk beristirahat di waktu ashar, dengan alasan beribadah, sekalian beristirahat, hehehe. Korupsi waktu lah, sedikit. Menemani dokter visiting semua pasienku, termasuk pekerja Indonesia yang diharuskan menginap satu malam di RS. Dari visiting itu aku diberi tahu bahwa kondisi Ria sebenarnya cukup parah. Jika sampai besok gadis itu tidak menunjukkan tanda-tanda membaik, pihak RS akan segera melakukan operasi. Namun untuk itu dibutuhkan ijin keluarga secepatnya. Ah, semoga anak-anak itu bisa memberikan kabar baik besok.

Ketika akhirnya tugasku selesai semua, waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Wah, bagaimana ini? Pasti Yesung udah nunggu lama banget. Semoga dia ga marah. Aku dan kameramenku menaiki bis menuju studio. Kali ini dia hanya menyalakan kameranya sekali-sekali, sebab persediaan baterai kameranya sudah menipis. Itu pun sudah baterai cadangan yang kedua. Hari yang panjang.

Sampai di studio aku menemukan Yesung di pintu depan. Wajahnya tampak tak sabar dan sepertinya agak marah. Begitu melihatku datang, dia seperti hendak mengatakan sesuatu, tapi lalu terdiam. Dia hanya berkata singkat, “Ayo cepat masuk.”

Aku mengikutinya. Karena gugup aku ga ngeliat bahwa lantai studio penuh dengan properti yang malang-melintang. Hampir saja aku jatuh tersandung kabel. Yesung menoleh ke belakang mendengar seruanku yang tertahan. Lalu dia memutuskan untuk berjalan bersama denganku dan lebih pelan.

“Anyeonghaseyo. Maaf saya terlambat.” Sapaku pada semua orang begitu memasuki ruang edit. Di sana ada PD-nim, beberapa penulis, kameramen dan teknisi. Member Suju yang ada hanya Leeteuk dan Donghae beserta istrinya masing-masing. Yesung memberikan tempat duduk padaku, dan dia sendiri berdiri di sebelahku. Kameramenku memberikan kaset-kaset terakhirnya pada seorang tekinisi, lalu mencari tempat duduk.

“Anyeonghaseyo, Bee ssi. Apakah Anda baru pulang kerja?” tanya PD-nim.

“Ne. sepertinya hari ini semua orang Indonesia sedang jatuh cinta pada RS, jadi aku terus tertahan di sana sampai selarut ini. Maaf saya merepotkan.”

“Ah, ne,” jawab PD-nim tersenyum mendengar jawabanku. “Rekaman Donghae dan Rena ssi sudah hampir habis, dan setelah itu kita akan memilih rekaman kalian. Kalian yang terakhir,” lanjutnya.

Yesung pergi keluar dari ruang edit. Aku tahu, tapi aku pura-pura tidak memperhatikan dan menjawab PD-nim “Ah, ne,” jawabku. Sepertinya dia benar-benar marah. Aduh, jadi ga enak.

Ketika aku sedang ikut mengamati rekaman Donghae-Rena, tiba-tiba Yesung datang menyodorkan segelas kopi untukku.

Aku menatapnya.

“Minumlah,” katanya padaku. “Sudah kukasih banyak gula dan sedikit susu.”

Aku menatap kopi itu ragu. Tapi melihat wajahnya, aku mengambil juga kopi itu. Dia tampak mengkhawatirkanku. Aku menyesapnya sedikit lalu berkata, “Hmm, sempurna. Makasih, Sayang.”

Dia tersenyum padaku lalu ikut menyaksikan gambar pilihan Donghae-Rena.

Akhirnya review rekaman Donghae-Rena berakhir.

“Oke, kita langsung lanjut saja ya ke rekaman milik Yesung ssi. Kami tidak akan memasukkan rekaman terakhir ini karena tidak ada cukup waktu. Nanti kami pilih untuk tayangan minggu depan,” seru PD-nim.

Maka mulailah diputar gambar pilihan kru mengenai kehidupan di rumah kami. Kru sepertinya benar-benar menyoroti perbedaan kami. Mulai dari yang paling simpel seperti jumlah make up, cara berkomunikasi, aktivitas kami sehari-hari, sampai agamaku. Semua orang terpaku melihatku sholat. Aku menyadari aku cukup menjadi tegang karenanya. Tiba-tiba aku merasa defensif untuk alasan yang tidak ada.

“Uwaah, Noona. Kau melakukan itu setiap hari?” tanya Donghae.

“Ne,” jawabku sambil mengangguk.

“Wah, ini bagus,” kata Leeteuk. “Kalian benar-benar tidak ada persamaannya, bahkan setiap malam pun kalian hanya seperti tidak sengaja bertemu, tapi kalian tetap nampak akur.”

“Ya. Aku rasa ini bisa berhasil.” PD-nim menimpali.

Syukurlah, ujarku dalam hati.

“Baguslah,” Yesung bersuara.

PD-nim lalu menanyakan mana yang ingin Super Junior masukkan ke dalam bagian Shindong. Leeteuk, Yesung dan Donghae segera berembug memilih. Aku memperhatikan mereka dari tempat dudukku. Aku senang aktivitas kami bisa dianggap bagus oleh yang lain. Aku juga lega sepertinya suasana hati Yesung sudah lebih baik karena itu.

Aku mengambil HP-ku dan melihat jam. Sudah jam 10.

Mendadak Yesung memanggilku, “Sayang, sini sebentar deh.”

Aku bangun mendekatinya.

“Menurutmu kegiatan sarapan kita pagi ini dimasukin ga?”

Aku memperhatikan sebentar. “Boleh aja, jawabku kemudian. Sarapan bersama itu sumber kekuatan di pagi hari. Soalnya kita bisa mengawali hari kita dengan melihat wajah anggota keluarga,” aku memberi alasan.

“Oh, geurae, geurae,” Leeteuk menimpali. “Bener juga. Iya deh, masukin aja.”

Yesung menegakkan tubuhnya, lalu menatapku. “Kamu capek sekali ya?”

Aku tersenyum, “Lumayan. Maaf ya udah bikin kamu nunggu.”

Belum sempat Yesung menjawab, Leeteuk tiba-tiba bangun, “Jongwoon-a, kita harus siaran. Palli gaja.”

Yesung melihat arlojinya, “Oh iya. Ayo Hyung.”

Dia melihat ke arahku. “Sayang, eotteohke. Kamu harus aku tinggal. Ada sesi wawancara untuk rekaman hari minggu. Yang lainnya tadi udah, cuman kamu yang belum. Kamu bisa sendiri?”

“Kogjongmaseyo, Yesung ssi. Aku dan Rena juga masih akan di sini kok. Kami belum selesai dengan bagian wardrobe. Kami akan menemaninya di sini.” Haemin, istri Leeteuk menyela.

“Oh, begitu? Baiklah kalau begitu. Terima kasih sudah menemani uri Sayang, Noona.” Yesung setengah menunduk.

“Eissh, kau ini. Kenapa basa-basi begitu?”

“Ya, Hyung. Aku juga masih nungguin Rena ssi kok. Tenang aja, aku jagain deh istrimu itu.”

“Yeobo, aku tinggal dulu ya? Sampai ketemu di rumah.” Leeteuk memanggil Haemin.

Haemin menjawab sambil menemaninya keluar ruang edit.

“Donghae-a, titip istriku ya?” kata Yesung pada Donghae. “Aku tinggal dulu ya Sayang. Santai aja nanti pas diwawancara,” pesannya padaku.

“Jongwoon-a! Pallihae!” Leeteuk berseru.

“Ne, Hyung!” balasnya. “Aku pergi dulu. Sampai jumpa, yorobeun.”

Aku hanya menatap kepergiannya. Tiba-tiba merasa lelah.

PD-nim tiba-tiba sudah berada di sampingku. “Bee ssi, siap untuk diwawancara?” tanyanya.

Aku tersenyum padanya. “Ne,” jawabku.

“Kau sebaiknya ke ruang rias dulu,” ujar PD-nim.

“Biar aku yang menemaninya, PD-nim,” kata Rena ssi.

“Baiklah,” jawab PD-nim singkat. “Aku akan ke tempat wawancara setelah mensortir kaset terakhir Bee ssi.” PD-nim mengatakan. “Sampai ketemu di tempat wawancara.”

“Ne,” kataku dan Rena berbarengan.

Rena berpamitan pada Donghae, “Ya, aku akan menyusul kalian di sana kalau ini udah selesai,” kata Donghae. Lalu kami pun pergi.

Di pintu ruang edit aku bertemu Haemin. “Kalian mau kemana?” tanyanya pada kami.

“Bee eonnie mau dirias buat wawancara, jadi kami akan pergi ke ruang rias,” Rena yang menjawabnya untukku.

“Oh, kalau begitu ayo barengan aja,” Haemin berbalik, menyamakan arah dengan kami.

“Geurae, gaja,” kataku.

Kami pun melangkah bersama menuju ruang rias. Sepanjang jalan kami bercerita tentang pengalaman kami ‘bersuami’. Haemin yang seumuran denganku orangnya sangat terbuka dan friendly, cocok sekali dengan Leeteuk. Sementara Rena meskipun masih muda, namun kedewasaannya nampak jelas, mungkin karena pengalamannya sebagai relawan selama ini. Pada dasarnya kami berdua lebih sering mendengarkan Haemin berbicara, tapi sesekali aku juga menimpali. Rena pun berbicara mengenai Afrika ketika kami tanyai. Dia sepertinya sangat mencintai aktivitasnya sebagai relawan. Aku salut padanya.

Akhirnya make up-ku selesai tepat dengan saat Donghae masuk ke ruang rias. “Wah, Noona. Kau sudah siap?” tanyanya.

Dengan ragu aku menjawab, “Kayaknya sih udah. Emang PD-nim udah nungguin ya?”

Periasku menyela, “Bee ssi, anda harus ganti baju dulu. Ini baju anda,” dia mengangsurkan sepotong dress untukku.

“PD-nim belum selesai. Mungkin 10 menit lagi. Aku keluar dulu, Noona ganti baju saja dulu.” Donghae menjawab.

“Kalau begitu kami ke ruang wardrobe saja. Kami tinggal dulu ya, Bee.” Haenim berpamitan padaku.

“Oh? Baiklah. Ketemu lagi di tempat wawancara?” tanyaku.

“Ya,” jawab Haemin. Di depan pintu dia berbalik, “Eh iya, nanti kita pulang bareng ya, Bee?” tanyanya.

“Oke,” kataku tersenyum.

Selepas kepergian mereka aku pun berganti baju dan segera keluar. Ternyata Donghae menunggu di luar. “Kau sudah siap, Noona?”

Aku tersenyum. “Sepertinya kali ini sudah.”

“Ayo, aku temani kau ke tempat wawancara,” kata Donghae. Anak ini memang sangat ramah. Dia suka berada di sekitar orang lain. Aku bisa langsung melihat sifatnya itu hanya dengan berbicara beberapa kali dengannya.

Ternyata PD-nim masih belum selesai juga. Sambil menunggunya, aku mengobrol dengan Donghae.

“Noona, aneh tidak tinggal dengan Yesung hyung?” dia bertanya.

“Heh? Pertanyaan macam apa itu?”

“Ani, dia itu kalau di asrama adalah yang paling aneh. Karena kami biasanya berbanyak, sementara dia satu-satunya yang aneh, jadi kami tidak terlalu memusingkannya. Tapi kan Noona tinggal dengannya berdua saja. Makanya aku tanya.”

Aku tertawa, “Meskipun tinggal berdua, sebenarnya kami bisa dibilang sangat jarang bertemu. Jadi aku tidak tahu standar anehnya itu bagaimana.”

Donghae hendak mengatakan sesuatu, tapi lalu terdengar suara PD-nim. “Kau sudah siap, Bee ssi?”

Aku menoleh, dan mengangguk kepadanya. Kulemparkan pandangan maaf pada Donghae, lalu mengikuti PD-nim yang menyilahkanku duduk di depan sebuah tirai hitam. Kami lalu segera memulai wawancara.

Aku sedang duduk terkantuk-kantuk di bangku belakang taksi. Kameramenku juga setengah tertidur di bangku depan. Kami baru saja mengantarkan Haemin ke rumahnya. Sekarang ini sudah jam 1.30 dini hari dan kami sedang menuju rumahku.

Tiba-tiba saja HP-ku berbunyi. Kulihat nama pemanggil, RS Seoul. Segera kuangkat. Perasaanku tidak enak. Ternyata benar. Kondisi Ria memburuk. Aku diharapkan berada di sana untuk mendampingi dan menghubungi teman-temannya.

Langsung aku instruksikan kepada supir taksi untuk mengambil arah ke RS Seoul. Kameramenku terbangun dan bertanya ada apa. Kujelaskan situasinya, dan dia pun segera terjaga.

Setengah jam kemudian aku sudah berdiri di depan ruangan Ria, masih dengan dandanan bekas wawancara. Kepada suster yang keluar dari ruangannya aku bertanya mengenai kondisi Ria, dan dia malah menanyakan padaku keberadaan teman-temannya. Hal itu berarti gawat, sebab biasanya karena aku dianggap cukup mengenal pasien, mereka cukup tenang dengan keberadaanku mendampingi pasien.

Aku pun segera pergi ke kantorku, menelepon hotel tempat teman-teman Ria menginap. Kuhubungi mereka dan mengabarkan kondisi Ria. Seperti yang telah kuduga, mereka langsung berubah sangat panik. Aku meminta mereka untuk tenang dan mengatakan sebaiknya mereka bersiap-siap sementara aku akan meminta pihak hotel menyewakan taksi untuk mereka pergi ke RS malam itu juga. Mereka sepertinya tidak bisa berpikir lagi dan hanya bisa menangis sambil mengatakan “Iya, Iya.”

Setelah itu aku menunggu kedatangan kedua teman Ria di lobi depan RS. Begitu mereka datang, aku tidak langsung mengajak mereka ke ruang operasi, tapi ke ruanganku dulu. Kuberi mereka masing-masing segelas teh, lalu aku meminta nomor telepon keluarga Ria. Mereka memberikannya, dan aku minta mereka bicara sebagai pendahuluan. Setelah beberapa saat bicara dengan orang di seberang telepon, teman Ria menyerahkan teleponnya padaku.

“Halo, dengan keluarganya Ria?”

Suara pria di seberang menjawab, “Ya, saya ayahnya Ria.”

“Maaf menelepon malam-malam begini Pak. Saya mewakili RS Seoul. Dengan sangat menyesal saya memberi tahu bahwa putri Bapak saat ini sedang dalam kondisi kritis. Kami harus segera melakukan penanganan operasi pada Ria. Saya hanya hendak mengkonfirmasi kondisi ini pada Bapak. Kalau tidak, kami khawatir akan terjadi komplikasi lebih jauh.”

Suara ayah Ria terdengar panik, “Pesawat saya baru akan berangkat besok pagi, Mbak. Bagaimana ya?”

“Kami tidak bisa menunggu hingga besok pagi, pak. Takut terjadi apa-apa. Saya hanya hendak memberi tahu bahwa teman-teman anak Bapak di sini akan diminta menjadi wakil keluarga dan menyetujui dilakukannya operasi. Apakah Bapak setuju demikian?”

“Ya, ya, ya. Lakukan saja, Mbak. Tolong anak saya, Mbak. Saya mohon…” suara Bapak itu mulai bergetar, membuat mataku hampir berkaca-kaca.

“Kami akan berusaha sebaik mungkin, Pak. Kami tunggu kedatangan Bapak di sini secepatnya. Selamat malam, Pak.”

Bapak Ria menutup telepon sambil menangis.

Aku lalu membimbing kedua teman Ria menuju ruang operasi. Setelah memperoleh persetujuan operasi, dokter segera melaksanakan operasi. Kami menunggu di luar. Aku bilang pada mereka bahwa Dhera belum dikasih tahu dan sebaiknya dikasih tahunya besok saja.

Tiba-tiba perutku terasa perih sekali. Tapi kutahan. Kedua anak ini butuh seseorang yang bisa diandalkan untuk mendampinginya. Sekitar pukul 3, dokter keluar dari ruang operasi. Dia mengatakan bahwa operasinya berhasil, tapi Ria masih berada dalam kondisi kritis. Kami sebaiknya berdoa untuknya.

Kedua teman Ria tampak sedikit lega, sementara perutku semakin melilit menjadi-jadi. Aku memaksakan diri bangun dan pamitan pada dua cewek itu bahwa aku perlu mengurus sesuatu di kantor. Aku berjalan ke kantorku. Begitu sampai di sana aku berusaha mengambil air putih hangat, mungkin dengan begitu perutku bisa sedikit lebih baik.

Tiba-tiba semua gelap.

“Angkat!

…. “Dia pingsan!”… “Sendiri.”… “Pallihae!”

Terdengar suara-suara di sekitarku. Badanku terasa ringan. Tak ada yang bisa kurasakan kecuali rasa sakit di perutku.

“…pakai Propofol… sebentar… besok…”

Samar kudengar orang-orang berbicara, lalu kurasa aku tertidur.

Kamar itu remang-remang. Aku tidak yakin aku berada di mana. Yang jelas bukan di rumahku, bukan di tempatku dan Yesung juga. Tapi sepertinya aku kenal dengan ruangan ini. Aku celingak-celinguk dan melihat Yesung sedang tiduran di kasur tambahan di sebelah tempat tidurku. Kedua kameramen tertidur di kursi , sementara satu buah kamera terpasang di tripod dan lampu indikatornya menyala. Sepertinya sedang merekam.

Tangan kananku terasa pegal. Kulihat, ternyata sedang dipasangi infus. Hah, apa aku pingsan? Sepertinya lambungku kumat lagi. Tepat saat sedang berpikiran begitu, tiba-tiba perutku melilit lagi. “Aagh,” eranganku tak bisa ditahan.

Di bawah, Yesung tampak kaget. Kemudian dia segera menoleh padaku. Melihatku sedang meringkuk, dia segera menghampiriku. “Wae? Eodi appeo?!” Lalu, dia memanggil kameramen, “Hyung! Hyung! Cepat panggilkan dokter, Hyung!”

Kedua kameramen terjaga dan masih kebingungan. Yesung tampak tidak sabar, “Hyung! Dokter! Cepet!”

Akhirnya seorang kameramen tanggap dan segera berlari keluar. Dia kembali dua menit kemudian bersama seorang dokter jaga. Aku kenal dokter itu. Dokter Shim, dokterku sendiri. Rupanya dia bertugas jaga malam ini.

“Appeuyo, Bee ssi?” tanyanya kalem. Dia lalu mengambilkan sebutir pil dari rak di samping tempat tidurku. “Ini, cepat diminum.”

Aku menurut dan segera mengunyah pil maag yang diberikan dr. Shim. Memang tidak segera hilang, tapi beberapa menit kemudian rasa sakitnya mulai berkurang.

“Aigoo, kau ini lemah. Kenapa masih tidak makan dengan teratur?” tanya dr. Shim.

Aku tersenyum lemah, “Aku lupa, Dok.”

“Ei, tidak boleh begitu. Banyak pasien yang bergantung padamu. Kau harus menjaga kesehatan. Apa kau juga minum kopi?”

Aku melirik Yesung. Aduh, dokter ini. Harusnya dia tidak mengatakannya.

“Memang kenapa, dok?” Yesung yang bertanya.

“Ah, Yesung ssi. Anakku sangat nge-fans sama Anda.”

Yesung hanya tersenyum bingung. Mungkin pikirnya, ini orang ditanyain tentang pasiennya malah cerita anaknya.

Aku tekikik lemah. Dokter Shim memang wanita hebat. Selain dokter yang berdedikasi, dia juga ibu dan istri yang baik. Hebatnya, aku tidak pernah melihatnya panik sekalipun selama aku bekerja di RS ini.

“Memang Bee ssi tidak boleh minum kopi, Dok?” Yesung mengulangi pertanyaannya.

“Ya, dia ini lambungnya lemah. Apalagi terhadap kopi. Dia pernah begini sebelumnya hanya gara-gara minum kopi setengah gelas.” Dr. Shim menjawab.

“Eissh, Dok. Waktu itu kan bukan hanya gara-gara kopi. Saya juga tidak tidur selama 36 jam sebelumnya.”

“Ya itulah makanya kamu ga boleh lengah. Kamu itu ga bisa kelelahan, ga bisa kelaparan, ga bisa stres. Dan terutama ga bisa minum kopi. Eh malah kamu ga makan semaleman dan minum kopi! Gimana ga pingsan?” nasihat Dr. Shim.

Muka Yesung terlihat benar-benar kacau.

“Yesung ssi, jagalah istri Anda ini dengan benar. Wah, anak saya bisa patah hati nih kalau tahu idolanya sudah menikah.” Dr. Shim bergumam menggoda.

Yesung tertawa, aku bisa melihat keprofesionalannya muncul ke permukaan.

“Tenang saja, dok. Fans saya bukan nomor 2 kok, mereka tetap jadi nomor 1, tapi no. 1b, istri saya no. 1a.”

Dokter Shim tertawa. “Baiklah kalau begitu. Bee ssi, istirahatlah. Kau membutuhkannya.”

“Iya, Dok. Terima kasih.”

Wanita itu kemudian pergi keluar kamar.

Selepas kepergiannya, Yesung lalu menatapku tajam. “Kamu ga sempat makan malam?”

“Sayang…” aku berusaha menjelaskan.

“Kenapa kamu minum kopinya?”

“Sayang…”

“Harusnya kamu bilang! Aku udah ngasih kamu kopi dua kali! Dua kali lho!” aku bisa merasakan kemarahannya yang tertahan.

“Sayang, ga papa kok…” bujukku.

“Ga papa gimana?! Kamu pingsan lho! Pingsan! Hah, gara-gara kopi, lagi!”

Aku menahan apapun yang hendak kukatakan. Aku memandangnya takut-takut.

Dia melihatku, dan rupanya melihat tampangku, dia menyesal karena tidak bisa mengendalikan amarahnya. Dia lalu duduk di tempat tidurku.

“Yang waktu itu gimana?” tanyanya dengan lebih lembut.

“Hah?” aku ga tahu maksud pertanyaannya.

“Waktu kamu minum kopi yang pertama?”

“Oh, itu aku baik-baik saja. Aku ga lupa minum obatku.”

Dia melirik laci meja tempat obatku berada. “Kenapa kamu balik lagi ke RS tadi malam?”

Aku yakin dia hanya ingin aku menjelaskan, sebab pasti kameramen sudah menjelaskannya. “Pasienku mendadak anfal,” kataku.

Dia hanya menghela nafas, tapi tidak berkata apa-apa lagi.

Setelah diam beberapa saat, dia bicara lagi, “Pokoknya mulai sekarang kamu harus  makan teratur.”

“Ne,” jawabku.

“Istirahat cukup.”

“Ne.”

“NO KOPI.”

Definitely,” jawabku nyengir sambil mengacungkan jempol.

“Jangan pake bahasa Inggris. Aku ga tahu!” gerutunya.

“Ne, algeseumnida…” aku tersenyum padanya, membujuknya.

Dia tersenyum dan menyuruhku tidur lagi.

Aku menanyakan HP-ku, dan dia menjawab, “Ga usah mikir kerja dulu. Kamu itu butuh istirahat!”

Aku memaksanya, “Aku cuman mau liat jam, kok.”

Dia melihat arlojinya, “Sekarang jam 5. Wae?”

“Aku mau beribadah, tadi malam aku sudah melewatkannya satu kali.”

“Kamu itu belum boleh bangun! Tunggu sampe infusmu dilepas aja!”

“Aku bisa melakukannya sambil tidur kok. Tapi bantu aku,” kataku.

Dia lalu membantuku menutupi kepala dan tanganku, sesuai permintaanku. Lalu dia memperhatikanku sholat. Setelah selesai, dia kembali merapikan selimutku, “Tidurlah,” katanya.

“Kamu juga. Tidurlah,” balasku.

Dia menarik nafas dan membuangnya. Lalu beranjak menuju kasurnya. Aku memunggungi kamera dan memandanginya. Dia balas memandangiku, dan kami berdua tersenyum. Kamera ada di belakangku, dan posisi Yesung ditutupi olehku, sehingga kamera tidak bisa melihat wajah kami. “Gomawo,” bisik bibirku tanpa suara.

Yesung hanya tersenyum.

Aku terus memandanginya sampai mataku terasa mengantuk lagi. Dan aku pun tidur ditemani wajahnya yang tersenyum.

D5-KKEUT.

11 thoughts on “[Freelance] The Marriage and Us {Day 5}

  1. eaeaeaea, makin seru aja nih cerita ckck, suka banget pas adegan di rumah sakit yg yesung nya kesel + nyesel udah ngasih kopi ke bee 2kali haahha, thor lanjutannya jgn lama lama ya hehe

  2. KYAAAA….. neomu kyeopta….
    yesung oppa… gak nyangka km bisa romantic itu…
    Kyaaaa…*heboh sendirii…
    Opaa… oppa… *specchless ga tw mo ngomong pa lagi… hehehe
    Lanjutkan thor,…. * pake smangat 45’

  3. ahhhhh,,,,,
    sungguh tak diduga,,, akan ada cerita oppa yg seperti ini????
    aigoooo,,, aku senyam-senyum gaje begini,,,
    hehe,,,
    eh,, yg waktu bee minum kopi yg pertama,, itu waktu dia telat bangun n oppa yg beli makan+kopi kan???
    kok oppa tiba2 bisa ada di RS?? yg ngasih tau kameramannya ya???
    ayooo,, lanjuttttt,,,
    cepattttt,,,,

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s