[Freelance] Mine Is Yours part 1

Title                : Mine Is Yours (Part 1 of 2)

Author            : Nurhudayah Manjani

Cast                : Lee Donghae, Han Gyuri, Steffani

Rating             : All Age (but kids, coz I don’t think they would understand the conflict)

Genre                         : Romance

Ps                    : Ini pertama kalinya aku bikin ff bertema kehidupan orang dewasa, jadi mian kalo ceritanya agak aneh, alurnya agak lambat atau diksinya kurang tepat. Hhehehe…

Disclaim          : copy-paste boleh, tapi sertain source-nya ya^^

 “Aku harap kau cukup dewasa untuk menyadari kalau yang terjadi semalam adalah sebuah hal yang tidak perlu diperpanjang. Aku mohon bersikaplah seolah-olah antara kita tidak pernah terjadi apa-apa. Kalau kau bisa melakukannya, aku akan sangat berterima kasih,” seorang namja berujar dingin kepada yeoja yang sedari tadi tak ingin dia lihat wajahnya.

Yeoja yang dimaksud hanya bisa tersenyum pahit di atas ranjangnya yang berantakan, lalu menangis tertahan saat namja itu berjalan meninggalkan kamarnya tanpa berbalik sedikitpun. Sedikit demi sedikit ingatannya kembali pada kejadian tadi malam. Presentasi yang sukses besar di hadapan klien, pesta, botol-botol wine, dan argghh! Dia merutuki kebodohannya sendiri. “Apa yang kau harapkan dari pria itu?”


3 Bulan Kemudian

Gyuri POV

Aku mengaduk minuman di gelasku entah untuk yang ke sekian kali. Tepat di hadapanku duduk seorang namja yang sangat kukenal. Dia menunduk. Aku tahu bukan pantulan bayangan di kopinya yang dia lihat. Pandangannya kosong, seperti mencari sesuatu yang tersimpan di memorinya namun tak kunjung menemukan apa yang dia cari.

Sudah hampir setengah jam keadaan kami seperti ini. Aku juga tidak mengerti apa yang terjadi pada namjaku ini. Apakah karena sudah berpisah lama denganku, sehingga dia merasa begitu canggung berbicara denganku?  Tapi aku tidak akan mengganggunya. Akan kubiarkan dia membuka pembicaraan, seperti yang biasa terjadi ketika kami bersama.

Kualihkan pandanganku ke tangan kirinya dan tersenyum ketika benda itu masih berada di sana. Ya, namja di hadapanku ini adalah tunanganku. Sejak lima bulan yang lalu dia dipindahtugaskan ke Jepang dan baru kembali 2 jam yang lalu. Aku merasa sedikit bersedih ketika dia bilang tidak ingin kujemput di bandara dan lebih memilih pulang dengan mobil yang disediakan kantor, tapi itu bukan masalah lagi karena sekarang dia sudah ada di depanku.

“Bogoshippeo,” ucapnya singkat.

Apa? Dia membuatku menunggu selama setengah jam hanya untuk mendengarnya mengatakan itu?

“Ya!! Lee Dong Hae, tentu saja kau harus merindukanku. Aku ini tunangan yang sudah kau telantarkan selama kau berada di Jepang. Katakan padaku, apakah pekerjaanmu di sana begitu berat sampai-sampai kau hanya bisa menelponku seminggu sekali?” kataku sambil memasang muka kesal, meski sebenarnya aku sangat memahami keadaannya.

“Mianhe, jagiya…  Kau tahu kan kalau tempatku bekerja adalah cabang perusahaan yang baru dibuka, bisa dibilang semuanya harus dirintis dari awal, jadi banyak hal yang harus aku kerjakan. Aku sungguh tidak bermaksud mengacuhkanmu,” jawabnya.

Rasanya aku ingin sekali memeluknya. Tampang menyesalnya itu sungguh membuat rasa rinduku meluap. Tapi pemandangan barusan sungguh sangat mengasyikkan, jadi kuputuskan mempermainkannya lagi.

“Bukannya di perusahaanmu itu kau bukan karyawan tunggal? Lagipula kau ini berangkat ke sana untuk menjadi bos, yah walaupun bukan bos besar, setidaknya kau punya anak buah yang bisa disuruh, kan?”

Dia diam. Omo~ Kenapa Tuhan bisa begitu sempurna menciptakan makhluk ini? Bahkan dengan diam pun,  sudah bisa membuatku semakin tergila-gila.

Sebenarnya tanpa menjawab pun aku bisa menebak yang terjadi di sana. Seorang workaholic seperti tunanganku ini mana mungkin bisa mengalihkan perhatian dari pekerjaannya yang belum selesai? Dia masih ingat menelponku saja sudah membuatku bersyukur.

“Kenapa kau diam? Atau jangan-jangan di sana kau sudah menemukan yeoja lain yang lebih menarik?” kataku sambil melipat tangan di dada dan pura-pura cemberut. Mudah-mudahan dia cukup bodoh untuk mengira aku benar-benar mencurigainya berselingkuh.

Melihatku cemberut seperti itu membuat ekspresinya berubah seperti seorang yang benar-benar ketahuan selingkuh. Jangan bilang kalau…

“Hei, Ikan Mokpo! Kau tidak benar-benar berselingkuh kan?” ujarku, mulai serius.

“Jagiya, kumohon jangan berkata seperti itu padaku,” ujarnya seraya memegang tangan kananku yang sedari tadi tergeletak bebas di atas meja.

Eomma, kenapa calon menantumu ini begitu mempesona? Tatapannya itu… mana bisa aku marah kalau hanya dengan memandangku seperti itu saja, dia sudah berhasil membuatku merasa sangat dicintai?

“Kalau begitu katakan sesuatu. Kenapa kau butuh waktu lama sekali untuk membuka pembicaraan antara kita? Sebenarnya apa yang tadi kau pikirkan?”

Dia kembali diam. Sedikit banyak diammnya ini membuatku khawatir. Apa dia baik-baik saja? Ada apa dengan Lee Donghae yang selama ini kukenal? Biasanya saat kami bertemu seperti sekarang ini, dia akan sibuk menceritakan segala hal yang berkaitan dengan pekerjaannya, teman-temannya di kantor, pencapaiannya, obsesinya, atau mungkin ide untuk presentasi yang sebenarnya masih sangat lama. Terkadang dia juga memintaku bercerita dan mendengarkan ceritaku dengan seksama. Apapun itu, yang jelas di antara kami tidak pernah terjadi hal seperti ini. Keadaan diam yang begitu lama. Rasanya atmosfer berubah menjadi sangat aneh.

“Wae? Apa kau sedang sakit?”

“Aniya. Gwaenchana. Mungkin hanya sedikit lelah setelah perjalanan jauh.”

“Kalau begitu apa yang kau lakukan di tempat ini? Sekarang seharusnya kau berada di apartemenmu. Beristirahatlah. Aku tidak ingin kau sampai jatuh sakit.”

“Bukankah aku sudah berjanji padamu, setelah kembali ke Korea orang pertama yang akan kutemui adalah kau. Aku hanya ingin menepati janjiku.”

Mendengarnya berkata seperti itu, aku jadi teringat janjinya saat di bandara sebelum dia berangkat ke Jepang. Ah, dia mengingatnya. Padahal waktu itu aku menganggap dia berkata seperti itu hanya untuk menenangkan hatiku. Apakah ini tanda kalau kau sangat mencintaiku, Lee Donghae?

“Babo! Kau tahu hal itu akan sangat romantis kalau saja keadaanmu sedang fit. Tapi coba lihat dirimu sekarang. Sudahlah, lebih baik kuantar kau pulang. Setelah keadaanmu kembali fit, baru kita bicara lagi.”

Aku mulai berdiri dan bersiap untuk menyeretnya meninggalkan meja itu, namun langkahku terhenti karena dia memegang tanganku sangat kuat. Aku menatapnya dengan tampang bertanya.

“Duduklah, ada hal penting yang ingin kubicarakan padamu.”

“Apakah lebih penting dari kesehatanmu sendiri?”

“Molla. Duduklah dan dengarkan kata-kataku. ”

Nada bicaranya sangat aneh. Tidak seperti orang menyuruh, justru aku merasa dia sedang memohon. Aku menurutinya. Sesuai permintannya, aku kembali ke kursiku, duduk manis dan mendengarkan ucapannya dengan rasa penasaran. Apa yang ingin dia katakan sebenarnya? Inikah yang sedari tadi membuatnya gelisah?

Dia menarik napas panjang sebelum mulai berbicara. Bisa kurasakan ada hal yang sangat penting yang mungkin akan mengubah hidup kami setelah pembicaraan ini. Jadi kuputuskan menjadi pendengar yang baik kali ini.

Donghae POV

Han Gyuri. Seorang desainer muda yang karyanya mengundang decak kagum dari banyak kalangan. Wajah cantiknya yang begitu mempesona meski hanya dengan make up tipis. Dandanannya yang selalu rapi dan elegan. Yeoja sempurnaku. Aku sungguh merindukannya.

Sekarang dia duduk manis di hadapanku  sambil menatapku tanpa henti. Aku mengerti maksud tatapannya, karena akupun merasakan hal yang sama. Ingin rasanya aku memeluknya, mengatakan bahwa aku sungguh bahagia bisa melihatnya lagi setelah 5 bulan kami terpisah karena urusan pekerjaan. Tapi sungguh tak pantas rasanya. Bukan karena aku malu dilihat orang. Ini betul-betul karena aku malu pada diriku sendiri. Bagaimana mungkin aku melakukan hal itu seakan-akan tidak ada hal buruk yang tengah terjadi pada hubungan kami.

Aku sungguh seorang namja yang bodoh. Berkali-kali aku mencoba mencari pembenaran atas kesalahanku, tapi nihil. Karena aku memang salah.

Dia begitu mempercayaiku. Dan apa yang aku lakukan untuk menjawab kepercayaannya? Pengkhianatan!

Padahal sebelum berangkat ke Korea aku sudah mengonsep kata-kata yang akan aku ucapkan padanya. Bukan untuk membuatku terlihat lebih baik atau untuk membuat perbuatanku dimaafkan. Aku hanya tidak ingin menyakiti hatinya.

“Bogoshippeo,” ucapku singkat. Ya, hanya itu yang bisa kukatakan saat ini. Keberanianku masih sangat sedikit untuk mengatakan semuanya.

“Ya!! Lee Dong Hae, tentu saja kau harus merindukanku. Aku ini tunangan yang sudah kau telantarkan selama kau berada di Jepang. Katakan padaku, apakah pekerjaanmu di sana begitu berat sampai-sampai kau hanya bisa menelponku seminggu sekali?” katanya sambil memasang muka kesal.

“Mianhe, jagiya… Kau tahu kan kalau tempatku bekerja adalah cabang perusahaan yang baru dibuka, bisa dibilang semuanya harus dirintis dari awal, jadi banyak hal yang harus aku kerjakan. Aku sungguh tidak bermaksud mengacuhkanmu,” aku menjawab seadanya. Alasan itu tidak sepenuhnya masuk akal, meskipun memang ada unsur kebenaran di dalamnya.

“Bukannya di perusahaanmu itu kau bukan karyawan tunggal? Lagipula kau ini berangkat ke sana untuk menjadi bos, yah walaupun bukan bos besar, setidaknya kau punya anak buah yang bisa disuruh, kan?”

Pertanyaannya membuatku terdiam. Yeoja sepintar dia pasti tidak akan percaya begitu saja dengan jawabanku tadi. Haruskah aku katakan yang sejujurnya sekarang?

“Kenapa kau diam? Atau jangan-jangan di sana kau sudah menemukan yeoja lain yang lebih menarik?”

Dia tahu? Apa di kepalaku begitu jelas tertulis “LEE DONGHAE SEORANG PRIA YANG SUDAH BERSELINGKUH DI BELAKANG TUNANGANNYA”?  Kumohon  jangan berkata seperti itu. Kau tahu tidak ada yang lebih menarik buatku selain dirimu.

“Hei, Ikan Mokpo! Kau tidak benar-benar berselingkuh kan?” ujarnya dengan nada yang lebih tinggi dari sebelumnya.

“Jagiya, kumohon jangan berkata seperti itu padaku,” ujarku pelan. Kuberanikan diri memegang tangan kanannya yang sedari tadi tergeletak bebas di atas meja.

“Kalau begitu katakan sesuatu. Kenapa kau butuh waktu lama sekali untuk membuka pembicaraan antara kita? Sebenarnya apa yang tadi kau pikirkan?” tanyanya lagi. Kali ini dengan nada manja dan sebuah senyum tipis dari sudut bibirnya.

Aku hanya bisa kembali diam. Haruskah aku mengatakan ini sekarang? Sungguh tidak ada keinginan sedikitpun dalam hatiku untuk menyakitinya dengan ucapanku ini, tapi dia harus tahu. Aku akan sangat merasa berdosa jika menyembunyikan ini darinya

“Wae? Apa kau sedang sakit?”

“Aniya. Gwaenchana. Mungkin hanya sedikit lelah setelah perjalanan jauh.”

Ah, aku membohonginya lagi. Apanya yang baik-baik saja? Jantungku seperti sudah mau copot sejak  tadi kau muncul di hadapanku. Aku begitu takut kalau kejujuran ini akan menyakitimu.

“Kalau begitu apa yang kau lakukan di tempat ini? Sekarang seharusnya kau berada di apartemenmu. Beristirahatlah. Aku tidak ingin kau sampai jatuh sakit.”

“Bukankah aku sudah berjanji padamu, setelah kembali ke Korea orang pertama yang akan kutemui adalah kau. Aku hanya berusaha menepati janjiku.”

Ya! Apa yang kau lakukan Lee Donghae? Mencoba merayunya? Dia tidak akan memaafkanmu hanya karena ucapanmu barusan.

“Babo! Kau tahu hal itu akan sangat romantis kalau saja keadaanmu sedang fit. Tapi coba lihat dirimu sekarang. Sudahlah, lebih baik kuantar kau pulang. Setelah keadaanmu kembali fit, baru kita bicara lagi.”

Dia mulai berdiri dan bersiap untuk menarikku meninggalkan meja ini, namun langkahnya terhenti setelah aku memegang erat tangannya. Ya, aku harus mengatakannya sekarang. Kalau kupendam lebih lama lagi, aku bisa gila. Dia menatapku dengan tampang bertanya dan lagi-lagi aku hanya bisa kembali diam untuk waktu yang cukup lama.

“Duduklah, ada hal penting yang ingin kubicarakan padamu.”

“Apakah lebih penting dari kesehatanmu sendiri?”

Ah, dia begitu memperhatikanku. Bagaimana bisa aku melakukan hal bodoh yang jelas-jelas bisa membuatnya meneteskan air mata? Aku memang babo.

“Molla. Duduklah dan dengarkan kata-kataku. ”

Dia menurut. Tanpa banyak bertanya dia kembali ke bangkunya dan memberiku isyarat untuk mulai berbicara.

Aku menarik napas dalam. Sudah waktunya. Cepat atau lambat dia akan tahu, dan lebih baik dia mengetahui ini langsung dariku.

Dengan sangat hati-hati aku menceritakan semua yang terjadi sejak aku sampai di Jepang. Tentang lingkungan baruku, tuntutan pekerjaan yang lebih tinggi dibandingkan di Seoul, klien-klienku, dan peristiwa malam itu.

Awalnya dia terlihat sangat tertarik dengan ceritaku tentang Jepang, seperti yang yang selalu dia tunjukkan setiap kali aku menceritakan pekerjaanku saat masih di Seoul. Namun ekspresinya berubah drastis ketika aku mulai menceritakan inti dari pembicaraan kami hari ini. Dari caranya memandangku bisa kulihat dia punya banyak pertanyaan untukku, dan sangat kuhargai karena dia begitu memahamiku hingga menahan pertanyaannya itu sampai aku selesai bicara.

“Waktu itu aku dan yang lain sangat bahagia karena bisa memenangkan sebuah proyek yang sangat besar. Untuk ukuran perusahaan baru, ini tergolong pencapaian luar biasa. Karena itu aku tidak punya alasan menolak ajakan temanku untuk merayakannya. Mungkin karena terlalu bahagia, aku minum setiap mereka mengajakku bersulang dan lupa dengan statusku sebagai pemabuk yang payah. Semua terjadi begitu cepat. Pagi harinya ketika aku bangun dari tidurku, aku sadar sudah melakukan kesalahan besar. Dan aku rasa kau sangat cerdas untuk mengetahui kesalahan apa yang kumaksud.”

Matanya terlihat sudah mulai berkaca-kaca. Aku tahu sebentar lagi dia akan menangis. Ingin sekali rasanya aku memeluknya dan menghapus kesedihannya, tapi aku merasa sungguh tidak pantas.

“Apa yang terjadi pada kalian setelah malam itu?” ujarnya dengan suara bergetar karena menahan tangis.

“Dia meminta dipindahkan ke divisi lain, dan aku mengabulkan keinginannya. Setelah itu kami tidak pernah bertemu lagi, setidaknya sampai kemarin pagi saat dia tiba-tiba meminta bertemu denganku.”

“Kau menemuinya?” Tanyanya masih dengan suara yang dibuat setenang mungkin.

“Iya, karena dia memohon sambil menangis.”

“Lalu apa yang dia katakan?”

This is it! Matilah kau Lee Donghae.

“Dia hamil dan memintaku bertanggung jawab,” ujarku pelan tapi sanggup membuat air mata yeoja yang kusayangi menganak sungai di pipinya.

Hatiku sangat sakit melihat air matanya. Aku ingin segera menggeser kursiku ke sampingnya, memeluknya, dan berkata semua akan baik-baik saja. Tapi akan sangat tidak tahu diri kalau aku melakukannya. Akhirnya aku tidak punya pilihan lain selain ikut menangis bersamanya.

Mianhe, jagiya… Jeongmal mianhe…

Gyuri POV

Air mata yang mati-matian kutahan akhirnya tumpah juga. Sejak awal melihat tingkahnya yang tidak biasa hari ini, aku sudah merasa ada yang mengganggu pikirannya. Aku hanya tidak menyangka hal itu sangat menyakitkan.

“Dia hamil dan memintaku bertanggung jawab.”

Kalimat itu seperti sebuah gunting yang memutus aliran darah ke paru-paruku. Napasku sesak, kepalaku pusing, dan pandanganku tiba-tiba memudar karena air mata yang tidak berhenti mengalir.

Aku mencintai namja ini. Sangat mencintainya. Bisa kurasakan kalau dia juga merasakan hal yang sama saat melihat dia ikut menangis bersamaku.

Padahal aku sudah berniat memaafkannya andai saja dia ‘hanya’ tidur dengan wanita itu. Tapi apa yang dia ucapkan setelah itu yang tidak bisa kuterima.

“Aku mau pulang,” kataku singkat.

Tanpa menunggu reaksinya, kuambil tasku dan meninggalkannya dengan air mata yang semakin membanjir. Hatiku sakit.

* * *

Dari cafe aku tidak kembali lagi ke kantor. Pikiranku sudah tidak bisa lagi diajak berkompromi dengan desain-desain baju pengantin pesanan orang. Aku hanya ingin berada di sini, di kamarku, menangis sejadi-jadinya sampai mataku bengkak.

Lee Donghae, kenapa semua jadi seperti ini? Jelas-jelas kau salah. Kau sudah mengkhianati kepercayaan yang kuberikan padamu. Seharusnya aku membencimu. Tapi kenapa perasaan itu tidak bisa muncul? Kau sungguh membuatku tergila-gila. Cintaku ini, apakah bisa disebut cinta buta?

3 tahun yang lalu saat Appa dan Eomma berkata akan menjodohkanku dengan anak teman mereka, aku sempat merasa risih. Di zaman millenium seperti sekarang, mana ada wanita yang rela dijodohkan dengan pria yang bahkan belum pernah dikenalnya. Lalu saat aku melihatmu di acara perjodohan itu, pemikiranku berubah, karena saat itu juga aku mencintaimu. Aku tidak pernah menyangka akan tergila-gila pada seorang namja sampai aku menyadari perasaanku padamu sudah begitu mengikatku.

Wanita itu… Seperti apa dia?

Steffani POV

Aku duduk di depan laptop, berusaha untuk fokus mengerjakan laporan bulanan yang harus kuserahkan 2 hari lagi. Tapi pikiranku selalu saja melayang ke tempat lain.

Untuk kesekian kalinya kupandangi benda putih yang tergeletak tidak jauh dari mejaku. Tidak kusangka kebodohan yang kulakukan 3 bulan lalu akan berakhir dengan dua garis merah ini.

Sejujurnya aku menginginkan dia berada di sisiku. Siapa juga yang tidak menginginkan pria seperti dirinya. Tampan, cerdas, dan tentu saja mempesona. 2 bulan menjadi sekertaris pribadinya sudah cukup untuk membuatku yakin bahwa aku menyukainya. Aku ingin menjadikannya milikku, tapi tidak dengan cara ini. Karena aku tahu betul kalau dia sama sekali tidak mencintaiku. Dia mencintai wanita lain, wanita yang memiliki cincin serupa dengan yang dia kenakan di jari manis tangan kirinya.

Kemarin saat kami bertemu, dia hanya diam. Aku tahu dia shock saat mendengar apa yang aku ucapkan. Wajah tampannya berubah pucat tanpa ekspresi. Yang dia lakukan saat itu hanyalah memandang hampa ke sebuah benda yang melingkar di jarinya. Dari situ bisa kulihat kalau dia sangat mencintai tunangannya.

Apakah salah kalau aku menuntut tanggung jawabnya?

Bukankah anak yang kukandung ini berhak punya ayah?

Tapi apakah pantas kalau aku meminta pertanggungjawaban jika jelas-jelas pria itu tidak menginginkanku?

Ah, seharusnya aku berpikir lebih panjang sebelum memberitahukan hal ini padanya. Sekarang dia pasti sangat frustasi. Atau mungkin dia sudah kabur ke negara asalnya? Buktinya sampai sekarang tidak ada kabar darinya. Aku sungguh bodoh! Mestinya dari awal aku sadar kalau pada akhirnya dia harus memilih, dan tidak mungkin dia memilihku. Kejujuran itu hanya akan menyakiti hati lebih banyak orang, kurasa.

Donghae POV

Sudah kuduga dia akan marah. Aku bahkan sudah mempersiapkan diri jika dia memaki atau menamparku. Tapi dia tidak melakukannya. Dia hanya menangis dan pergi meninggalkanku.

Awalnya kupikir setelah mengatakan ini semua, perasaanku akan sedikit lebih lega. Kenyataannya hatiku justru lebih sakit.

Yeoja Jepang itu sendiri sebenarnya hanya korban. Aku tahu dia orang yang baik. Setidaknya itu yang bisa aku simpulkan sejak pertama mengenalnya. Satu-satunya orang yang bersalah adalah aku. Parahnya, tidak ada tindakan yang bisa kulakukan untuk menyelesaikan masalah ini. Aku sungguh lemah.

Kulirik jam tanganku. Ini sudah lima jam setelah kepergiannya. Kualihkan pandangan ke sekitarku. Matahari tentu saja sudah tidak nampak. Hanya ada lampu yang menerangi jalan yang semakin sepi.

Ternyata sudah cukup lama aku sibuk dengan pikiranku sendiri. Kuambil handphone dan dompetku dari atas meja. Kuletakkan beberapa lembar uang lalu pergi meninggalkan tempat ini.

Sepanjang perjalanan kembali ke apartemen, aku kembali sibuk dengan pikiranku. Berkali-kali kutekan sederet nomor yang sudah kuhafal di luar kepala, kemudian kuganti dengan sebuah nomor berkode Jepang, meski akhirnya tak ada satupun dari keduanya yang kuhubungi.

“Kau pasti sangat membenciku karena tidak bisa memenuhi permintaanmu waktu itu. Kau tahu kan, aku sudah berusaha keras menjauhimu. Tapi hal ini yang memaksaku kembali ke hadapanmu. Sejak kecil aku hidup tanpa tahu siapa orang tuaku. Rasanya sakit saat melihat orang lain mendapatkan limpahan kasih sayang dari orang tua mereka, sementara aku hanya bisa melihat dari jauh dengan rasa iri yang begitu besar. Aku tidak ingin anak ini nantinya mengalami hal serupa denganku. Kumohon, bicaralah sesuatu padaku. Jangan bersikap seperti ini. Cobalah melihat masalah ini dari sudut pandangku.”

Teringat jelas bagaimana dia mengatakan itu sambil menangis. Dan aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk menenangkan yeoja tak bersalah itu. Aku terlalu bingung. Haruskah aku meninggalkan tunanganku untuk bersamanya? Tapi sungguh itu tidak mungkin. Aku bisa mati tanpa seorang Han Gyuri sebagai tunanganku.

Aku tersadar dari lamunan saat pria di depanku menghentikan laju taksinya.

“Sudah sampai,” ucapnya pendek.

Segera kubayar ongkos perjalananku dan turun dari taksi dengan langkah gontai.

Sampai di depan apartemenku di lantai 13, aku mendapati sesosok yeoja cantik berambut panjang sedang menatapku dengan matanya yang agak bengkak. Entah sudah berapa lama dia berdiri di sana.

“Jagi?” aku berusaha memastikan kalau ini bukan sekedar ilusiku.

Tanpa menunggu lama dia langsung berlari memelukku. Sangat erat sampai aku merasa darahku tidak bisa mengalir lebih cepat dari sekarang. Jangan bilang kalau ini adalah pelukan perpisahan untukku.

“Saranghae… Neumu neumu saranghae,” ujarnya sambil menangis. Lengannya masih melingkar di bahuku.

Ah, yeoja ini. Tanpa kau katakan pun aku sudah tahu itu.

“Naddo,” ujarku pendek sembari menuntunnya masuk ke apartemenku.

Hening untuk beberapa saat. Dengan tangan masih melingkar di pinggangku, dia menatapku dalam. Bisa kulihat jelas bulu matanya yang panjang dan bola matanya yang cokelat. Tatapan itu membuatku sedikit khawatir.

“Kenalkan aku padanya,” ujarnya mantap.

Steffani POV

Mengandung memang sesuatu yang sangat menyusahkan. Ini sudah kesekian kalinya aku bolak balik toilet untuk memuntahkan isi perutku. Belakangan ini aku sangat sering mual. Wajahku pucat walaupun sudah kububuhi make up. Nafsu makanku bertambah dua kali lipat dan tentu saja berakibat pada naiknya berat badanku. Pekerjaanku di kantor jadi terbengkalai sampai-sampai di malam ketika semua orang seharusnya berisitrahat seperti sekarang pun aku masih harus berhadapan dengan laptop dan setumpuk kertas berisi angka.

Anehnya, aku menikmati semua ini. Aku menyayangi janin kecil dalam rahimku ini melebihi segalanya. Sama sekali tidak ada keinginan untuk membuangnya. Aku tidak ingin dia merasakan sakitnya dibuang oleh orang tua yang seharusnya melimpahinya dengan kasih sayang. Sudah kuputuskan untuk berhenti membebani pikiranku dengan hal-hal bodoh. Apapun resikonya, sekalipun pria itu memutuskan pergi, aku akan merawat anak ini.

Tiba-tiba handphoneku berbunyi. Reffrain lagu Bonamana dari boyband Korea Super Junior mengalun dari benda putih itu. Kulihat nama yang tertera di layar. Tanpa sadar tangan kiriku mengelus lembut perutku yang mulai membuncit. “Nak, ayahmu menelpon.”

Dengan senyum tersungging aku menekan tombol hijau di handphoneku.

“Yeobseo..”

“Kau bisa berbahasa Korea?” Tanya suara di seberang sana. Suara wanita.

“Ah, ne.”

“Awalnya kupikir kita akan kesulitan untuk berkomunikasi karena aku tidak terlalu memahami bahasamu. Syukurlah kalau ternyata kau bisa bahasa Korea. Kita harus membicarakan sesuatu,” suara di seberang sana terdengar begitu ramah. Siapa dia? Mungkinkah wanita ini tunangan Donghae? Tapi kenapa dia bersikap sebaik ini? Bukankah seharusnya dia marah?

“Ah ya.. Kau pasti tidak mengenalku. Mian, aku terlalu bersemangat sampai lupa memperkenalkan diriku. Han Gyuri imnida. Aku tunangan Donghae,” jelasnya masih dengan suara yang tenang.

“Aku Steffani, kau bisa memanggilku Stevi.”

“Namamu bagus,” pujinya.

Kenapa wanita ini kenapa begitu ramah padaku? Dia manusia, kan? Aku yakin dia menelponku karena Donghae sudah memberitahu segalanya. Bagaimana mungkin dia bisa bersikap sebaik ini pada wanita yang sedang mangandung anak tunangannya?

“Baiklah Stevi. Aku rasa kau sudah tahu alasan aku menelponmu.”

Tidak ada perubahan dari nada suaranya. Masih seperti tadi. Ramah. Dan ini sungguh membuatku merasa aneh.

“Tentu saja. Katakan apa yang kau inginkan dariku?” Tanyaku dengan nada sedikit dingin.

Kemudian dia mulai berbicara. Nada bicaranya tetap tenang dari awal hingga akhir. Sesekali dia bertanya dan kujawab pendek. Inti pembicaraan kami sederhana, namun kalimat terakhir yang dia ucapkan sungguh tidak bisa kumengerti. Bukan karena masalah bahasa. Ini murni karena aku tidak mengerti maksud ucapannya. Benarkah dia menginginkan hal itu?

Gyuri POV

“Jangan bercanda!” kata Stevi dengan nada yang sedikit lebih tinggi dari sebelumnya.

“Sama sekali tidak. Aku sudah memikirkannya selama berjam-jam. Dan aku rasa ini jalan terbaik untuk kita bertiga,” ujarku mantap.

“Kau gila!” bentaknya. Sejurus kemudian telpon terputus.

Kualihkan pandangan ke arah namja yang berada di sampingku. Sejak tadi dia tak henti memandangku dengan tatapan yang tidak bisa kuartikan. Mungkin dia dan Stevi punya pikiran sama. Yah, aku sudah gila. Cinta inilah yang membuatku gila.

TBC

Sedikit cerita tentang ff ini. Awalnya aku cuma mau bikin one shoot aja, tapi setelah diketik ternyata jadinya malah lumayan panjang, jadi dibikin 2 part deh… Gimana? Gimana? Suka gak? Kritik dan sarannya dibutuhkan banget buat perbaikan karya selanjutnya. Annyong J

12 thoughts on “[Freelance] Mine Is Yours part 1

  1. Sukaaaaaaaaaa ah kasian tunangannya donghae. Penasaran dia minta apa deh. Lanjutannya ditunggu ya author ;D

  2. Hae sm siapa? Masa sm stevi? Sm gyuri aja, kesian dy tunangan na. Tp kesian janin dlm kndungan stevi sh, tp, tp..akh bgus thor crta na bwt aku penasaran!

  3. aduh..
    itu jangan bilang, Gyuri mau jadi istri kedua nya Hae atau Gyuri nerima yeoja itu untuk jadi istri keduanya Hae..
    kasihan Gyuri…
    sambungnnya..
    jangan lama2 ya..
    ditunggu

  4. donghae poligami? andwae T.T
    Ya ampun,hae,u mabuk d korea aja ga ampe tdr ama aq :D *PLAAAKKKK :D
    *ABAIKAN

    tu si gyuri kasihan bgt. gyuri ama abang siwon ajah deh :)

    hae ke jepang aja sama tu cewe….huhuhu *kecewa dgn pengkhianatan hae T.T

  5. gomawo buat smua yang udah nyempetin baca ^^
    jawaban semua pertanyaan ada di part 2 (haelah, apa pula ini kata2 lebe amat)

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s