[Freelance] About My Love [part 2]

Author   : Calista Choi

Cast   : Lee Donghae, Choi Siwon

Rating   : PG-13

Ps  : Silahkan komen apapun yang diinginkan. Kalo jelek, bilang aja kalo jelek ya. Saya nggak bakal tersinggung kok. Hehehehe. Kalo yang nggak mau komen jg nggak pa-pa. ^^

Pernah dipublish di blog pribadi, calistachoi.wordpress.com


Aku menggeliat di atas ranjangku. Mengerjap-erjapkan mataku perlahan. Setelah benar-benar bisa membuka mataku, aku melirik jam dinding kamarku. Ternyata masih jam setengah 7. Kududukkan tubuhku sambil kusibakkan selimutku, sesekali tak lupa menggeliat lagi. Aish, rasanya badanku pegal sekali.

45 menit kemudian, aku sudah rapi. Saat aku berjalan ke dapur, kulihat ada sarapan di meja makan. Ada 2 roti bakar dan segelas susu cokelat. Aish, sepertinya sudah lama sekali kejadian ini berlalu, tepatnya sejak aku dan Siwon perang dingin masalah galaxy tabku. Biasanya setiap pagi, Siwon selalu menyiapkan sarapan untukku sebelum dia berangkat ke sekolah. Apakah harusnya terbalik? Aku yang harusnya menyiapkan sarapan? Hahaha. Menurutku tidak, karena kami bagi-bagi tugas. Dia menyiapkan sarapan, dan aku menyiapkan makan malam.

Kurasa perlu kujelaskan di mana orang tuaku. Orang tuaku menetap di Amerika. Tapi jangan berpikir kalau kami ini keluarga kaya raya yang memiliki perusahaan besar yang mempunyai cabang di berbagai negara. Ani ani, itu salah besar. Orang tuaku itu tipe orang yang gampang sekali terpengaruh. Salah satu teman mereka mengatakan kalau usaha di Amerika itu memberikan banyak keuntungan. Dan dengan mudahnya mereka langsung terbang ke Amerika, tepatnya ke LA. Aku dan Siwon yang saat itu masih sekolah, ditinggalkan di Korea. Hanya saat liburan kami berkunjung ke sana. Dan untunglah, usaha appaku di sana sukses. Appa membuka restoran yang sekarang sudah memiliki 3 cabang.

Buru-buru kuselesaikan sarapanku. Saat kuminum susu cokelatku, tiba-tiba bel apartemen berbunyi. Kutaruh gelas yang masih terisi setengah susu cokelat. Bel berbunyi lagi. Aish, menyebalkan sekali. Kuangkat gagang intercom yang menempel di ruang tengah.

“Yeoboseyo.” sapaku lewat intercom. Kulihat seorang namja berdiri membelakangi kamera yang terpasang di intercom luar, tiba-tiba berbalik. Mataku melebar menatapnya.

“Yeon, ayo cepat berangkat ke sekolah. Sudah jam setengah 8.” kata namja itu, siapa lagi kalau bukan Lee Donghae.

“Ya! Kenapa kau kemari???” teriakku lewat intercom.

“Aish, suaramu kencang sekali. Ayo cepat keluar. Kau mau terlambat ya?” katanya tanpa menjawab pertanyaanku.

‘Apa sih maunya?’ tanyaku dalam hati.

Kututup gagang intercom dan kuambil tas yang kuletakkan di meja makan. Kubuka pintu apartemen, dan kulihat Donghae berdiri di samping pintu.

“Kenapa kau kemari?” tanyaku saat kami berjalan keluar gedung apartemen.

“Tentu saja menjemputmu.” katanya santai.

“Kau tak lupa dengan syaratku kan?” tanyaku.

“O.” jawabnya singkat.

“Lalu kenapa kau menjemputku?? Bagaimana kalau ada orang yang tahu?”

“Biarkan saja orang lain tahu. Kau memang yeojachinguku.”

“Tidak lagi jika orang lain tahu.”

“Ya! Perjanjiannya tidak begitu.” katanya sambil menahan lenganku.

“Ara ara. Tapi kan saat ini aku tidak menyukaimu.”

“Aish, tidak lama lagi kau akan menyukaiku.”

“Kau terlalu percaya diri Mr. Lee Donghae.” kataku sambil melanjutkan langkahku yang sempat tertahan oleh Donghae.

“Benarkah? Tapi kurasa tidak Ms. Choi Sooyeon.”

“Baiklah, kita lihat saja nanti.” kataku.

Tiba-tiba kurasakan Donghae menggenggam tanganku.

“Ya! Apa yang kau lakukan?” kataku sambil berusaha melepaskan genggaman tangannya.

“Menggenggam tangan yeojachinguku.” katanya santai sambil menarikku ke halte.

“Aish, jinja. Baiklah, terserah kau saja. Aku hanya ingatkan padamu, kalau sampai ada yang lihat dan mengira kita pacaran, perjanjian kita batal. Ara?” kataku sambil menundukkan kepalaku.

“O, arasseo.” katanya. Lagi-lagi dengan nada yang sangat santai.

Tak lama, bus datang. Donghae menarikku masuk ke bus. Kulihat ada 3 orang yang memakai seragam yang sama dengan kami. Aish, Donghae babo. Bagaimana kalau mereka menyebarkan gosip yang tidak-tidak. Aish, eottohke??

Donghae menyuruhku duduk di samping jendela, dan kemudian dia duduk di sebelahku.

“Donghae-ya, apa tidak apa-apa?” tanyaku saat bus sudah berjalan.

“Apa maksudmu?” tanyanya sambil menatapku.

“Kau lihatkan tadi, ada yang satu sekolah dengan kita. Bagaimana kalau mereka menyebarkannya?”

“Kurasa tidak. Kau tidak lihat, tadi mereka tidak menoleh ke arah kita saat kita masuk. Lagipula, aku sama sekali tidak mengenal mereka. Dan mereka paling juga tidak mengenal kita.”

“Tapi kau cukup dikenal di sekolah.”

“Kurasa yang lebih banyak mengenalku itu yeoja.”

“Aish, kenapa narsismu kambuh di saat seperti ini?”

“Aku kan hanya berkata yang sebenarnya. Tidak semua murid di sekolah kita mengenalku. Memang kau pikir murid di sekolah kita hanya satu-dua orang?”

“Ani. Aku hanya takut saja. Aku tidak mau terhitung jadi korbanmu. Akan lebih menyenangkan kalau kau yang jadi korbanku.” kataku sambil menyeringai ke arahnya.

“Mwoya?? Baiklah, kalau begitu diputuskan tidak ada korban. Kita akan saling mencintai selamanya.”

“Mwo?? Kau kerasukan setan tuan Lee?” kataku dengan pandangan meremehkan.

“Ani. Aku hanya tergila-gila padamu.”

“Aish, tutup mulutmu. Kau berisik sekali.”

“Hahaha. Kenapa wajahmu memerah, Yeon?” tanyanya sambil menoel-noel pipiku dengan telunjuknya.

“Jangan menyentuhku Lee Donghae.” kataku sambil membuang mukaku ke arah jendela.

“Hahaha. Sepertinya kau mulai tertarik padaku. Lihat lihat, kau malu jagi?” godanya sambil mencolek-colek bahuku.

“Diamlah Lee Donghae!” kataku sambil menatapnya tajam.

“Hahaha. Choi Sooyeon sudah mulai menyukaiku. Hm, kalau begini berarti kita tidak perlu backstreet lagi. Kau kan sudah mulai menyukaiku.”

“Kata siapa, hah? Lagipula perjanjiannya kan kalau aku menyukaimu. Bukan aku mulai menyukaimu.”

“Sebentar lagi kau akan menyukaiku. Aku yakin itu.”

“Kenapa kau begitu percaya diri, hah? Menyebalkan.”

“Terserah padaku. Mehrong.” katanya sambil menjulurkan lidahnya.

“Aish, menyebalkan kau Lee Donghae.”

“Hahaha.”

Tak lama kemudian, kami sampai di halte dekat sekolah. Segera kami turun. Setelah turun, aku segera berjalan cepat mendahuluinya. Tiba di gerbang sekolah, kulihat arah belakang. Donghae tertinggal jauh di belakangku. Ketika dia melihatku berbalik dan melihatnya, dia melambai ke arahku sambil tersenyum. Aish, apa yang dia lakukan? Aku tak mempedulikannya dan segera masuk ke kelas sebelum bel berbunyi.

—————————-

Saat istirahat siang, aku, Chaeyoung, dan Hyena ke kantin. Perut Chaeyoung melilit gara-gara melihat Shim seonsaengnim. Hahaha. Ada-ada saja dia itu.

Kemudian kulihat Siwon berjalan mendekat ke arah kami.

“Boleh aku ikut duduk?” tanyanya. Aku menatapnya tajam sambil terus mengawasi gerak-geriknya.

“Ne, tentu saja.” kata Chaeyoung. Aish, kenapa harus Chaeyoung menjawab seperti itu? Kenapa tidak Hyena saja yang menjawab? Namun ketika aku melirik Hyena, haish… Hyena hanya diam sambil memandang Siwon. Bahkan sepertinya dia menahan nafasnya. Eommaaaaa~ eottohke?

“Chaeyoung-ah, bisa ikut aku sebentar? Ada yang ingin kubicarakan.” tanya Siwon setelah duduk beberapa menit. Dan selama beberapa menit itu tidak obrolan di meja kami.

“O? Sekarang?” tanya Chaeyoung ketika melahap suapan terakhir jajangmyeonnya.

“Ne.”

“Ara.” kata Chaeyoung kemudian meminum minuman kalengnya. Dia berdiri lalu berpamitan padaku dan Hyena.

Aku mendesah pelan. ‘Sepertinya akan ada masalah setelah ini,’ kataku dalam hati. Aku ingin mengikuti mereka tapi tak mungkin aku meninggalkan Hyena sendirian. Aish, eottohke? Kemudian aku langsung teringat Donghae.

“Hyena-ya, aku beli chapssaltteok sebentar ya.” kataku pada Hyena.

“Ne.”

Lalu langsung kutelefon Dnghae.

“Kau merindukanku?” kata Donghae ketika dia mengangkat telefonnya.

“Diam dan dengarkan aku. Tadi Siwon mengajak Chaeyoung berbicara berdua. Cepat ikuti mereka. Baru saja mereka keluar dari kantin. Cepat.” kataku.

“Untuk apa?”

“Lakukan saja apa yang kukatakan. Nanti pulang sekolah, kabari aku.”

“Apa imbalannya?”

“Mwoya?”

“Imbalan karena kau sudah menyuruhku.”

“Mwo?”

“Bagaimana kalau setelah ini kau benar-benar resmi jadi yeojachinguku? Tidak ada backstreet lagi. Otte?”

“Ya! Kau sudah gila?”

“Aku tidak akan bergerak sebelum kau berkata ‘ya’.” katanya dengan santai. Bisa-bisa dia kehilangan jejak Siwon dan Chaeyoung kalau dia terus begini.

“Aish, arasseo arasseo.” kataku kemudian.

“Oke. Sebenarnya aku sudah mengintai mereka dari tadi. Sebelum kau menelefonku. Hahaha. Baiklah, setelah ini seluruh sekolah akan tahu kalau kau yeojachinguku.” katanya kemudian mematikan sambungan telefon.

Mwo? Apa yang dia katakan tadi? Aish, Lee Donghae!! Kau memang menyebalkan!! Aish, eottohke?? Aku yakin setelah ini Hyena dan Chaeyoung mengamuk meminta penjelasan padaku.

Drrrrtt… drrrrtt…

From : Donghae

Pulang sekolah, temui aku di belakang sekolah.

Aish, apa yang kau rencanakan Lee Donghae??

To : Donghae

Ara. Awas kalau nanti kau tidak menceritakan secara lengkap padaku. Jangan harap kita bisa bertemu lagi.

Aku kembali ke meja tempat Hyena duduk sambil membawa chapssaltteok yang kubeli.

Drrrtt… drrrrrt… Kurasakan ponselku bergetar.

From : Donghae

Algeseumnida, gongju-nim

Kumasukkan lagi ponselku ke kantong jasku. Tiba di meja, aku mencoba mengajak Hyena berbicara. Mengomentari fashion atau kekayaan murid di sekolah kami. Aish, aku seperti biang gosip sekarang.

Bel berbunyi, tapi Chaeyoung tak kunjung datang. Aku dan Hyena memutuskan untuk kembali ke kelas tanpa menunggu Chaeyoung. Setelah Kwan seonsaengnim datang, Chaeyoung menyusulnya. Dia duduk tertunduk lesu di samping Hyena. Aish, aku yakin Siwon sudah menembaknya. Siwon-ah, awas kau kalau sampai merusak persahabatan kami.

——————————-

Pulang sekolah.

“Hyena-ya, aku ada perlu. Kau duluan saja.” kata Chaeyoung saat kami membereskan buku, hendak pulang.

“Apa perlu kutemani?” tanya Hyena.

“Ani. Tidak usah. Kau pulang duluan saja.”

“Arasseo.” kata Hyena.

Saat di depan gerbang, aku dan Chaeyoung melambai ke arah Hyena. Chaeyoung bilang, dia ada urusan di tempat yang searah denganku. Tapi saat Hyena berbelok, tiba-tiba saja Chaeyoung menarik tanganku ke arah belakang sekolah.

“Ya Choi Sooyeon!! Kau sengaja melakukan ini?” teriak Chaeyoung padaku.

“Mwo?” tanyaku bingung. Jujur sebenarnya aku tahu arah pembicaraan Chaeyoung. Tapi aku sedikit tidak mengerti dengan ucapannya barusan.

“Tidak perlu sok polos. Aku yakin kau tahu hal ini. Apa maksudmu melakukan ini?” teriak Chaeyoung pasrah dan kemudian jatuh terduduk.

“Chaeyoung-ah, apa maksudmu?” kataku sambil duduk di depannya.

“Kau tahu kan kalau Hyena menyukai Siwon?? Tapi kenapa jadi seperti ini?? Kenapa dia malah mengatakan padaku kalau dia menyukaiku? Apa maksudnya, Sooyeon-ah??” kata Chaeyoung sambil menangis.

Aku hanya menunduk. Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus aku lakukan.

“Kau sudah lama mengetahuinya kan?” kata Chaeyoung sambil menatapku tajam.

“Ani. Aku memang tahu, tapi baru 3 hari yang lalu Siwon mengatakannya padaku. Dia meminta tolong padaku. Tapi kau tahu kan, aku dalam posisi yang sulit saat itu. Jika aku menerimanya, maka aku akan menyakiti Hyena. Dan jika aku menolaknya, aku akan menyakiti Siwon. Dan mungkin aku akan menyakitimu jika kau menyukainya.”

“Aku tidak akan pernah merebut namja yang disukai sahabatku sekalipun aku mencintainya.” kata Chaeyoung penuh penekanan.

“Aku tahu Chaeyoung-ah. Makanya, aku hanya bisa diam saat Siwon mengatakan hal itu padaku. Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kukatakan.”

“Eottohke? Eottohkeee?” kata Chaeyoung lirih sambil terisak.

“Apa kau menyukai Siwon, Youngie?” tanya pelan takut membuat moodnya semakin buruk.

“Na? Aku bahkan menyukainya sebelum Hyena menyukainya.” katanya pelan dengan nada pasrah.

“MWO??” Mataku melebar seakan tak percaya dengan ucapan Chaeyoung barusan.

“Aku lebih dulu mengenalnya sebelum aku mengenalmu, Yeonie.” jelasnya.

“Bagaimana bisa?”

“Aku sering bermain basket di taman kota bersama adikku. Setiap hari libur kami selalu bermain basket di sana. Saat itu aku masih di middle school. Dia menolong adikku saat adikku ditabrak pengendara sepeda. Sejak saat itu aku dan Siwon mulai dekat. Dan salah satu alasan aku bersekolah di sini adalah karena Siwon juga bersekolah di sini.” jelasnya yang semakin membuatku terkejut. Aku tak menyangka akan menjadi begini.

“Chaeyoung-ah, aku benar-benar tak tahu harus berbuat apa.”

“Nado.” katanya dengan nada putus asa

“Tapi aku merasa kalau kau harus menjelaskannya pada Hyena. Katakan padanya secara baik-baik. Aku yakin dia akan mengerti.”

“Andwe. Aku tidak akan menerima Siwon. Aku yakin Hyena akan merasa sakit kalau aku bersama Siwon. Sebaiknya aku dan Hyena sama-sama tidak mendapatkan Siwon.”

“Tapi kalau begini semua akan tersiksa. Kau, Siwon, dan bahkan Hyena.”

“Biarkan saja.” teriak Chaeyoung.

“Kenapa kau jadi egois begini Chaeyoung-ah? Coba kau pikir, jika kau jelaskan ini pada Hyena, mungkin memang Hyena akan sakit hati. Tapi setelah itu dia akan mencari pengganti Siwon kan? Dengan begitu dia tidak akan berharap lebih pada Siwon. Kalau kau tidak mengatakan ini pada Hyena, Hyena akan berharap lebih dan itu bisa lebih menyakitinya.” jelasku padanya.

“Ne, Sooyeon benar. Kalau kau begini, kau hanya akan menyakiti 2 orang yang kau sayangi. Kau juga menyakiti dirimu sendiri. Jelaskan pada Hyena agar dia mengerti. Dan kau Sooyeon, temani Chaeyoung saat dia menjelaskan pada Hyena. Jadilah penengah di antara mereka.” Tiba-tiba kudengar suara seorang namja. Lee Donghae. Dia bangkit dari tidurnya di atas bangku panjang dan berjalan ke arah kami.

“Lee Donghae?” Chaeyoung terkejut melihat Donghae.

“Mwo? Kenapa kau melihatku seperti hantu?” tanya Donghae santai.

“Ka..kau mendengar pembicaraan kami?” tanya Chaeyoung yang masih terkejut dengan kedatangan Donghae.

“Bahkan aku tahu ini sebelum Siwonnie menyatakan cinta padamu. Dan satu hal lagi, kau mengganggu kencanku.” kata Donghae tanpa rasa bersalah.

“Ya Donghae-ya! Pergi saja kau! Dasar penggangggu!” teriakku padanya.

“Kenapa kau berteriak padaku jagi? Aish.” kata Donghae sambil menggaruk kepalanya yang aku yakin tidak gatal.

“Jagi?” tanya Chaeyoung.

“Ne. Kau tak tahu kalau temanmu ini yeojachinguku?” tanya Donghae sambil duduk bersila di sampingku.

“MWO??” Chaeyoung membulatkan matanya.

“Young-ah, tak usah kau percaya kata-kata playboy teri ini. Mana mungkin aku mau dengannya.” kataku sambil memandang rendah Donghae.

“Jagi, tega sekali kau padaku. Kau ini kan memang yeojachinguku. Lagipula, kau tadi kan bilang kalau aku membuntuti Siwon dan Chaeyoung, kau setuju kita tidak backstreet lagi.” kata Donghae dengan santainya.

“MWOOO? Ya Choi Sooyeon, apa maksud ini semua?? “ teriak Chaeyoung seakan dia lupa kalau dia habis menangis.

“Young-ah, tenanglah. Kau abaikan saja perkataan Donghae. Tidak perlu kau pedulikan. Dia sedang terganggu kewarasannya karena baru saja putus dari Yoora.” kataku berusaha berbohong pada Chaeyoung.

“Yeon-ah, kau tahu kan kalau berbohong itu dosa? Kenapa kau tega sekali berbohong pada sahabatmu?” tanya Donghae dengan muka innocentnya.

“Ya Choi Sooyeon, katakan sejujurnya padaku!” kata Chaeyoung dengan penuh penekanan.

“Ya Donghae babo!! Aish, aku benci sekali padamu! Benciiii!! Aku sangat membencimu!!” teriakku sambil memukul-mukul lengan dan bahunya. Dia berusaha menghindar dari seranganku, tapi tidak berlari menjauhiku.

Kemudian Chaeyoung menarik tangaku.

“Jadi benar kau sudah berpacaran dengan playboy teri ini?” tanya Chaeyoung.

“Tentu saja. 2 hari yang lalu kami berpacaran.” kata Donghae dengan bangga.

“Mwoya?? Ani ani, Chaeyoung-ah. Aku tidak berpacaran dengannya. Jinja.” kataku.

“Jagi, wae?? Kenapa kau tidak mau mengakuinya? Aku punya buktinya kalau kau mau Chaeyoung-ah.” kata Donghae sambil merogoh katong celananya.

Aku mengerutkan kening menebak apa yang akan dikeluarkannya. Ponsel. Aku masih bingung. Mau apa dia mengeluarkan ponsel? Kemudian dia menunjukkan ponselnya pada Chaeyoung. Chaeyoung menerimanya. Melihatnya cukup lama, aku berusaha ikut melihatnya tapi Donghae menghalangiku. Kulihat Chaeyoung mengerutkan keningnya sesekali. Dan kemudian Chaeyoung membelalakkan matanya.

“Jadi, kau benar berpacaran dengan Donghae?” tanya Chaeyoung.

“Mengaku sajalah jagi. Kau juga sudah berjanji padaku tadi kalau kita tidak akan backstreet lagi.” kata Donghae smabil melepaskan cengkeramannya tadi.

“Ne. Aku dan Donghae memang berpacaran. Tapi aku tak menyukainya.” kataku kemudian.

“Kalau kau tak menyukainya kenapa kau mau berpacaran dengan playboy tengik ini, Sooyoen-ah?” tanya Chaeyoung.

“Playboy tengik? Aish, apa maksudmu Chaeyoung-ah??” tanya Donghae sambil memangdang sebal ke arahChaeyoung.

“Karena dia sudah berjanji padaku kalau aku akan jadi yang terakhir untuknya.” kataku cukup asal. Sebenarnya aku sendiri tidak tahu apa alasan terkuatku kenapa waktu itu aku menerimanya.

“Kau pikir dia jujur padamu, Yeon?” tanya Chaeyoung.

Aku diam.

“Kurasa dia jujur.” kataku selanjutnya.

“Aku memang jujur. Hanya ada nama Choi Sooyeon di hatiku.” sahut Donghae.

“Diam kau playboy tengik!” kata Chaeyoung tajam.

“Aish, kenapa kau senang sekali memanggilku dengan sebutan playboy tengik? Jelek sekali.” desah Donghae.

“Yeon, apa kau yakin? Bagaimana kalau ternyata playboy tengik ini hanya berbohong padamu?” tanya Chaeyoung.

“Aku akan pergi dari kehidupannya dan kalau kami sampai bertemu, aku tidak akan mau mengenalnya.” kataku dengan mantap. “Lagipula saat ini aku tidak menyukainya. Biar saja dia jungkir balik membuatku menyukainya. Kita lihat saja nanti, apa dia akan menjadikanku sebagai korbannya atau tidak.”

“Tentu saja tidak jagi. Sudah kubilang hanya ada kau dan selamanya akan seperti itu.” kata Donghae.

“Aish, menjijikkan sekali. Kau tahan dengan yang seperti ini, Yeon?” tanya Chaeyoung.

“Tidak. Ingin sekali kutendang saat dia mengatakan kata-kata yang menjijikkan seperti itu.” kataku sambil bergidik.

“Hahaha. Aku akan membantumu.”

“Aish, apa-apaan ini? Kalian berdua sama saja.” kata Donghae sambil mendengus sebal.

“Ya Lee Donghae, awas kalau kau menyakiti sahabatku ini. Aku tak akan segan-segan menyengsarakan hidupmu.” kata Chaeyoung berapi-api.

“Hahaha. Daebak Chaeyoung-ah.” kataku.

“Arasseo.” kata Donghae.

“Chaeyoung-ah, bagaimana kalau nanti saat libur kita menginap di rumah Hyena? Kita jelaskan bersama pada Hyena.” kataku kemudian.

“Hhhhh… Ne.” kata Chaeyoung setelah menghembuskan nafasnya keras.

“Sudah sana kau pergi, aku mau kencan dengan yeojachinguku.” kata Donghae mengusir Chaeyoung.

“Dasar playboy tengik menyebalkan!” kata Chaeyoung sambil bangkit berdiri. Aku dan Donghae mengikutinya.

“Aku pulang dulu. Yeon, kau harus hati-hati.” kata Chaeyoung sebelum dia pergi.

“Arasseo.” kataku sambil melambai padanya.

Kemudian Donghae menarik tanganku ke arah bangku panjang yang ada di sana. Dia duduk dan menyuruhku duduk di sebelahnya. Tak berapa lama setelah aku duduk, dia merebahkan kepalanya di pangkuanku. Menjadikan pahaku sebagai bantalnya.

“Ya Lee Donghae! Apa yang kau lakukan?” tanyaku dengan penekanan di setiap kata.

“Aku senang kita tidak backstreet lagi. Mulai besok, aku akan menjemputmu seperti tadi dan mengantarmu sampai ke apartemen. Kita akan kencan ke taman hiburan, atau jalan-jalan ke pantai. Aish, pasti menyenangkan.” katanya sambil memejamkan matanya.

“Apa kau selalu seperti ini dengan semua mantan-mantan pacarmu?” tanyaku.

Donghae membuka matanya dan bangkit, lalu duduk menyamping menghadapku.

“Wae? Kenapa kau menanyakannya? Kau cemburu?” tanyanya senang.

“Ani. Aku hanya bertanya saja.”

“Aku jarang melakukan ini dengan mereka. Aku hanya mengantar mereka pulang sesekali. Sedangkan menjemput, aku tak pernah melakukannya. Dan kencan, hanya ke taman hiburan karena mereka yang meminta.” katanya seolah berusaha menjelaskan.

Aku hanya mengangguk pelan.

“Kenapa di wajahmu terlihat kalau kau cemburu?” tanyanya sambil mendekatkan wajahnya

“Aku tidak cemburu, aku hanya bertanya.” kataku sambil membuang muka.

“Jinja?” tanyanya sambil terus mendekatkan wajahnya. Hingga kurasakan tangannya memengang tengkukku, mendorong kepalaku agar mendekat padanya.

Wajahnya mendekati wajahku hingga kurasakan nafasnya menerpa wajahku. Dan aku yakin nafasku juga menerpa wajahnya. Kemudian dia tersenyum dan mencium ujung bibirku. Hanya beberapa detik dan kemudian melepaskan ciumannya dan tangannya dari tengkukku. Aku hanya terdiam menatapnya.

“Yeon-ah, apa kau masih mau mengelak kalau kau mulai menyukaiku?” tanyanya kemudian.

“Aku tidak menyukaimu.” kataku kemudian bangkit dari duduk dan berlalu meninggalkannya.

“Kau mau kemana?” tanyanya sambil menyusul langkahku.

“Pergi darimu.”

“Kau tak akan pernah bisa pergi dariku, Yeonie.”

“Jinja?” kataku sambil memandang rendah padanya.

“Ne. Dan, ayo cepat mengaku padaku kalau kau sudah mulai menyukaiku.”

“Aku tidak menyukaimu.”

“Mengaku atau aku akan menciummu lagi.” Dia memberiku 2 pilihan yang aneh.

“Mwoya??”

Kemudian dia menarik tanganku ke arah gang buntu kemudian menahan kedua tanganku dengan tangannya. Wajahnya hanya berjarak sekitar 10 cm dari wajahku. Dia mulai mendekatkan wajahnya ke wajahku.

“Arasseo arasseo. Aku memang mulai menyukaimu.” kataku kemudian.

Donghae memandangku dan kemudian tersenyum. Dia melepaskan tanganku yang dia tahan, namun tiba-tiba dia mengangkat daguku dan mencium bibirku. Mengecupnya cukup lama.

“Saranghae.” katanya saat mengakhiri ciumannya.

Aku hanya bisa terdiam. Perlakuannya benar-benar membuatku terkejut.

“Ayo kita pulang.” ajaknya sambil menggenggam tanganku.

——————————-

Hari jum’at malam, aku dan Chaeyoung menginap di rumah Hyena. Saat ini orang tua Hyena sedang berada di Busan. Jadi hanya sada kami bertiga di rumah Hyena.

“Hyena-ya, apa kau tahu, uri Sooyeon berpacaran dengan Lee Donghae si playboy tengik?” kata Chaeyoung saat kami di kamar Hyena. Aku tiduran di ranjang Hyena, sedangkan Hyena duduk bersandar pada sandaran ranjang, dan Chaeyoung duduk di kursi yang berada di samping tempat tidur.

“MWOOO?” Hyena berteriak kaget.

“Ne. Kemarin kami bertemu Donghae dan tiba-tiba Donghae memanggil Sooyeon dengan sebutan jagi. Donghae juga menunjukkan sms-smsnya dengan Sooyeon. Aish, aku tak menyangka Sooyeon akan jatuh ke perangkap Donghae.” kata Chaeyoung menjelaskan.

“Bagaimana bisa? Sooyeon-ah, kau tidak lupa kan kalau Donghae itu playboy?” tanya Hyena. Ya, dia yang paling mengerti kalau Donghae itu playboy karena dia yang selalu tahu pertama kali saat Donghae punya yeojachingu baru.

“Ne. Ara.” jawabku.

“Lalu?”

“Lalu apa?”

“Kenapa kau masih mau dengannya?”

“Karena dia menyatakan cinta padaku.”

“Hanya karena itu?”

Aku hanya diam saja.

“Kau menyukainya Yeon?” tanya Hyena memastikan.

Aku masih diam. Ya, aku sekarang sudah mulai menyukainya. Aku tak tahu pasti kapan aku mulai menyukainya. Yang jelas, saat bersamanya aku merasa jantungku berdetak lebih cepat. Bahkan hanya mendengar suaranya aku sudah deg-degan. Walaupun begitu, aku ingin terus bersamanya dan menerima kejutan-kejutan yang dia berikan.

“Aish, bagaimana kau bisa menyukai playboy macam Lee Donghae, Yeon?” tanya Hyena heran.

“Aku juga tidak tahu.” jawabku lirih.

“Kau tidak takut patah hati?” tanya Hyena perlahan.

“Takut ya pastilah. Tapi mau bagaimana lagi? Lagipula aku berteman dengannya tidak hanya sebentar. Bahkan aku lebih dulu mengenalnya daripada kalian. Walaupun kami tidak terlalu dekat, tapi setidaknya dia tidak akan setega itu pada temannya.” kataku mencoba membela Donghae. Entahlah, aku tak suka dia terlalu dipandang rendah begitu.

“Arasseo. Kau benar-benar sedang jatuh cinta sekarang. Aku hanya bisa mendo’akanmu agar Donghae benar-benar jadi namja yang terbaik untukmu.” kata Hyena kemudian.

“Gomawooo~” kataku sambil menghambur ke pelukan Hyena.

“Hyena-ya…” panggil Chaeyoung. Ah, sepertinya Chaeyoung akan mengatakannya.

“Hm?”

“Apa kau benar-benar menyukai Siwon?” tanya Chaeyoung. Aku hanya diam sambil menyandarkan tubuhku ke sandaran ranjang di samping Hyena.

“O. Wae?” tanya Hyena.

“Bagaimana kalau Siwon tidak menyukaimu dan menyukai yeoja lain?” tanya Chaeyoung hati-hati.

“Aku akan patah hati kurasa. Aku sudah lama menyukainya, tapi tiba-tiba dia menyukai yeoja lain. Itu pasti menyakitkan.”

“Yeon, kau saja yang mengatakannya. Aku tidak bisa.” kata Chaeyoung kemudian.

“Mwo? Ada apa ini?” tanya Hyena bingung.

“Hyena-ya, aku yakin kau yeoja yang kuat. Dan aku yakin kau yeoja yang baik. Kau pasti akan mendapatkan namja yang lebih baik dari Siwon.” kataku kemudian.

“Mwo?” Hyena menatap kami bergantian. Chaeyoung hanya menundukkan kepalanya dan bahunya bergetar.

“Hyena-ya, Siwon…dia…mencintai seorang yeoja.” kataku.

“Nugu?” tanya Hyena. Matanya sudah berkaca-kaca.

“Chaeyoungie. Kemarin saat dia diajak berbicara oleh Siwon, Siwon menyatakan cintanya pada Chaeyoung.” kataku pelan.

“Mwo?” tanya Hyena yang hampir tidak terdengar suaranya.

“Ne. Dan ternyata, uri Chaeyoungie juga mencintai Siwon. Dia…”

“Mwo?” kata-kataku terputus oleh Hyena.

“Ne. Chaeyoung sudah mencintai Siwon sejak dia masih middle school. Setiap hari libur, mereka selalu bertemu di taman kota. Kau tahu kan, bila orang sering bertemu maka biasanya akan tumbuh cinta di antara mereka. Itu juga yang terjadi pada Chaeyoung dan Siwon.” kataku berusaha menjelaskan pada Hyena.

“Dan kau menerimanya, Young-ah?” tanya Hyena sambil menatap Chaeyoung yang masih menunduk.

“Aku belum menjawabnya. Aku…aku bingung harus menjawab apa.” kata Chaeyoung pelan.

“Kau bingung? Apa kau memikirkanku juga saat itu?” tanya Hyena.

“Ne. Aku takut kau akan benci padaku, aku takut kau tidak mau bersahabat lagi denganku, aku takut semua kemungkinan-kemungkinan itu.” kata Chaeyoung.

“Aku memang membencimu saat ini. Aku benci kenapa Siwon harus menyukaimu, bukan aku. Tapi aku juga harus realisis bukan? Kalau kau memang menyukainya, silahkan saja kau berpacaran dengannya. Tak mungkin aku tega membuat sahabatku dan orang yang kusukai menderita hanya karena keegoisanku. Telefon Siwon sekarang. Katakan padanya kalau kau mau jadi yeojachingunya. Cepaaat~” kata Hyena panjang lebar sambil terus menangis.

Aku terkejut dengan kata-kata Hyena barusan. Dengan begitu mudahnya dia merelakan Siwon untuk Chaeyoung, sahabatnya? Seakan dia tidak merasakan sakit hati.

Chaeyoung terus menangis, Hyena menghampirinya dan memeluknya.

“Aku tak akan pernah tega membuat sahabatku menderita, Youngie. Aku sangat menyayangimu. Bagaimana mungkin aku tega memisahkanmu dengan orang yang kau cintai, dan lagi orang itu juga mencintaimu? Sekalipun aku mencintainya, aku tak akan pernah tega melakukannya.” kata Hyena lirih.

Aku mendekati mereka berdua, dan memeluk mereka berdua. Kami sama-sama menangis.

“Aku bangga memiliki sahabat seperti kalian.” kataku kemudian.

——————————-

Aku tidur cukup lama pada hari Sabtunya karena saat acara menginap di rumah Hyena, kami hanya tidur beberapa jam saja. Jam 2 siang, aku terbangung dengan kondisi tubuh pegal-pegal karena kebanyakan tidur. Setelah menggeliat, aku bangun dan berjalan menuju dapur untuk mengambil minum.

Kulihat ada memo di kulkas.

Aku ada janji dengan Chaeyoung, mungkin akan pulang malam. Dan tadi Donghae menelefonku, katanya kau tidak mengangkat telefonnya. Tentu saja karena kau tidur seperti kerbau. Dia bila jam 1 akan kemari. Aku sudah memberinya kode apartemen. Dan satu lagi, saat aku pulang, ceritakan semua padaku apa terjadi antara kau dan Donghae!!                                                                                        

 Siwon

‘Mwo? Donghae akan kemari jam 1? Tapi bukankah ini sudah jam 2?’ tanyaku dalam hati.

KLEK. Kudengar suara pintu.

“Donghae-ya?” tanyaku memastikan apa suara pintu itu karena Donghae atau bukan.

“Kau sudah bangun?” tanya Donghae yang muncul dari arah pintu depan.

“O. Kau baru datang atau…?” tanyaku.

“Aku dari supermarket. Di apartemenmu tidak ada camilan. Padahal aku lapar.” katanya.

“Kenapa tidak masak?”

“Aku tidak bisa memasak.”

“Ramyeon?”

“Aku tidak tahu dimana kau menyimpan ramyeon.”

“Aish, banyak alasan. Ya sudah, aku mandi dulu. Nanti kumasakkan sesuatu.” kataku sambil meninggalkannya.

“Ok.”

Aku mandi hanya 5 menit. Kupakai kaos lengan pendek yang cukup besar berwarana orange muda dan memakai celana training berwarna cokelat. Lalu aku berjalan menuju dapur. Memasak kimchi jjigae dan bulgogi. Saat mengiris kimchi, kulihat Donghae berjalan mendekatiku.

“Perlu bantuan?” tanyanya.

“Kau iris ini. Seperti ini.” kataku. Donghae mengangguk.

Setelah selesai, Donghae mengangkat masakan yang sudah siap ke meja makan. Aku mengambil nasi, dan menaruhnya di meja. Tak lupa sumpit dan sendok.

“Otte?” tanyaku saat Donghae menyuapkan suapan pertama.

“Mashita.” katanya sambil terus mengunyah.

“Telan dulu baru bicara.”

“Kau yang tiba-tiba bertanya saat aku makan.”

“Aku kan hanya ingin tahu, apa enak atau tidak. Kau bisa jawab setelah menelannya.”

“Enak. Saaaaangat enak.” katanya berlebihan.

“Menyebalkan.”

“Hahaha.”

Kemudian kami melanjutkan makan.

“Kita ini seperti suami istri ya?” katanya membuka suara.

Aku tersedak dan langsung batuk-batuk. Dongahe langsung memberi minum padaku.

“Sudah lebih baik?” tanyanya.

“Ya Lee Donghae!! Apa maksudmu kita ini seperti suami istri?? Neo michyeosseo??” teriakku padanya.

“Aku kan hanya bicara apa yang kupikirkan. Kita memasak bersama dan kemudian makan berdua seperti ini. Lihat, kita seperti pengantin baru.” katanya santai.

“Jangan mengkhayal Lee Donghae. Sudahlah, aku tak mau membahasnya lagi.” kataku kemudian, lalu melanjutkan makan.

“Aku tidak mengkhayal. Lagipula aku ingin kau yang jadi istriku nanti, dan ibu dari anak-anakku.” katanya lembut.

Aish, kenapa jantungku jadi tak keruan begini?

“Kenapa wajahmu memerah jagi?” tanyanya menggodaku.

“Ani. Cepat lanjutkan makanmu.” kataku sambil berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Kau malu jagi?”

“Ani. Lanjutkan saja makanmu.” kataku kesal.

“Ara ara.”

Aku hanya menunduk sambil terus makan.

“Tapi aku serius bilang begitu tadi. Aku ingin kau jadi istri dan ibu dari anak-anakku nanti.” katanya memecah keheningan.

“Ya Lee Donghae!! Bisakah kau diam dan tidak membicarakan hal itu!! Menyebalkan!!!” teriakku sambil melempar sendok ke arahnya.

“Auuww!! ” teriaknya karena sendok yang kulempar tadi mengenai kepalanya.

“Rasakan!!” kataku sebal.

“Kau tega sekali jagi. Aish, sakit sekali.” katanya sambil mengelus-elus kepalanya.

“Salah sendiri dari tadi menggodaku terus. Rasakan akibatnya!” kataku.

“Aku tidak menggodamu. Aku kan sudah bilang kalau aku serius. Eommaku juga sudah tahu. Bahkan eomma mengundangmu makan di rumah besok siang.” kata Donghae sambil terus mengelus kepalanya.

“Mwo?”

“Ne. Besok aku akan menjemputmu jam 12. Eomma akan masak spesial katanya.”

“Kau serius Donghae-ya?” aku masih tak yakin dengan kata-katanya.

“Ne. Tentu saja. Saat aku bercerita pada eomma, eomma menyuruhku untuk membawamu ke rumah.”

“Aaaaaaaaaa~ Eottohke??” teriakku.

“Wae?”

“Aish, apa tidak terlalu cepat?”

“Lebih cepat lebih baik.”

“Mwoyaaa?”

“Aku hanya ingin kau tahu kalau aku benar-benar serius padamu.” katanya dengan suara lembut lalu tersenyum manis.

Aish, aku benar-benar bisa gila sekarang.

——————————-

TBC

——————————-

6 thoughts on “[Freelance] About My Love [part 2]

  1. Iya, so sweet kaia suami-istri ^-^
    ud donk cpt nikah next part,, yyyyyyyyyyyyy :)
    yud de drpd siwon pusing trs d prebutkn, aq akan membw’a pegi… wuuuuuuusssssshhhhhhh~

    chaeyeon vs. hyena

    Lanjuttttt~

  2. uwooooo…Haeeee…aku padamuuuuuuu!!!suka sama karakternya donghae dari awal baca..kyaaaaaaa..*going crazy*
    ditunggu lanjutannya dan surprise2 donghae untuk sooyeon ogeh??!!

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s