[Freelance] About My Love? [part 1]

Author   : Calista Choi

Cast   : Lee Donghae, Choi Siwon, Lee Hyukjae, Cho Kyuhyun, Park Jungsoo

Rating   : PG-13

Ps  : Silahkan komen apapun yang diinginkan. Kalo jelek, bilang aja kalo jelek ya. Saya nggak bakal tersinggung kok. Hehehehe. Kalo yang nggak mau komen jg nggak pa-pa. ^^

Pernah dipublish di blog pribadi, calistachoi.wordpress.com
Hwaaaaa~ telat telat telat. Aku berlari kencang ke arah pintu gerbang sekolah yang belum ditutup tapi beberapa seosaengnim sudah berjaga di sana. Omo~ mau ditutup. Aku langsung berlari lebih kencang lagi. Yey! Untung berhasil masuk sebelum gerbang ditutup. Aish, jantungku berdebar kencang dan nafasku tak beraturan. Tapi perjuangan masih belum berakhir. Aku masih harus berlari ke kelas sebelum Park seonsaengnim masuk ke kelas.

BRUUKK!

Your browser may not support display of this image.

“AWW!” teriakku nyaring ketika menabrak di belokan lorong.

“ADUH!” aku mendengar suara seorang namja juga ketika aku berteriak.

“Omo~ Sooyeon-ah. Kenapa kau berlari kencang sekali di lorong?” tanya namja itu. Kutatap namja yang bertabrakan denganku tadi.

“Aish, Lee Donghae. Pantatku sakit sekali.” kataku yang tak nyambung dengan pertanyaannya sambil mengusap pantatku yang tadi mendarat sempurna di lantai.

“Kau bisa berdiri?” tanyanya yang sudah berdiri. Sedangkan aku masih meringis karena pantatku sakit sekali.

“Bantu aku.”

“Kenapa berlari-lari di lorong?”

“Aku telat, kau tahu?”

“Tak biasanya kau telat. Ya walaupun kau tak pernah datang pagi. Tapi kau selalu datang sebelum bel.” dia hafal kebiasaanku masuk sekolah. Hahaha. Daebak Mr. Lee Donghae.

“Hehehe. Kemarin aku…”

“Sooyeon-ssi, kenapa belum masuk ke kelas? Kau akan mengikuti kelasku kan?” Aku menengok, Park seonseangnim berdiri tak jauh dariku.

“Ah, ne. Ne, seonsaengnim.”

Mendengar jawabanku, Park seonsaengnim berjalan mendahuluiku.

“Donghae-ya, aku duluan ya.”

“Ne.”

Aku berjalan di belakang Park seonsaengnim menuju kelas.

“Kau pacaran yang dengan Lee Donghae, Sooyeon-ah?” tanya Park seonsaengnim tiba-tiba.

“Ne?”

“Mengaku saja Sooyeon-ah.”

“Seonsaengnim, aku tahu seonsaengnim masih muda. Tapi jangan bergosip yang tidak-tidak.”

“Ya! Aku bertanya, bukan bergosip.”

“Hehehe. Aku dan Donghae hanya berteman. Kami teman dari SD.”

“Oh, arasseo.”

Park seonsaengnim, nama lengkapnya Park Jungsoo. Mengajar mata pelajaran matematika, aku cukup dekat dengannya. Dia seonsaengnim yang baik dan dia juga wali kelasku. Dia tampan, tapi sudah punya istri, jadi jangan ganggu dia. Hahaha. Tanya kenapa aku bisa dekat dengannya, aku juga tidak tahu. Kami bertemu di perpustakaan beberapa kali dan terlibat percakapan seru. Dan begitulah.

“Ya, kenapa bisa bareng Park seonsaengnim?” tanya Chaeyoung, sahabatku, ketika aku duduk di bangku kosong yang berada di belakangnya.

“Tadi aku hampir telat, sempat tabrakan juga sama Donghae. Pantatku mendarat mulus di lantai. Neomu appo. Terus Park seonsaengnim datang dan dia menyuruhku cepat masuk kelas.” jawabku menjelaskan.

“Kenapa kau menjelaskannya begitu detail??” tanya Chaeyoung dengan memasang tampang tanpa ekspresinya. (=.=)

“Tak biasanya kau masuk setelah bel? Biasanya 10 menit sebelum bel sudah duduk manis di sini.” kata Hyena, teman sebangku Chaeyoung, sebelum aku membalas perkataan Chaeyoung. Dia juga sahabatku.

“Aku tidur kemalaman. Lupa memasang alarm.”

“Memang Siwon tak membangunkanmu?” tanya Chaeyoung.

“Aku dan Siwon sedang perang dingin.”

“Sekarang buka halaman 67, dan perhatikan contohnya.” terdengar suara Park seonsaengnim lebih keras.

Aku, Chaeyoung, dan Hyena langsung fokus ke buku paket matematika kami. Mendengarkan penjelasan Park seonsaengnim sambil menatap ke buku paket. Aku cukup mahir dalam matematika. Tak beda jauh dengan kedua sahabatku, mereka juga cukup mahir dalam matematika. Tapi jangan berpikir kalau aku dan 2 sahabatku ini tipe siswa yang menghabiskan banyak waktu untuk belajar, memakai kaca mata tebal yang besar, dan tidak gampang bergaul. Jauhkan segala macam pikiran itu dari otak kalian. Kami belajar jika ada tugas, ulangan, dan tidak terlalu mengerti dengan materi yang disampaikan seonsaengnim. Kami juga tidak memakai kaca mata tebal dan besar. Dan, teman kami banyak sekali. Tapi jangan berpikir kalau kami sempurna, tidak, kami tidak sempurna.

KRIIIIIIING~

Bel berbunyi tanda pelajaran Park seonsaengnim berakhir. Kami pun bergegas ke kantin.

“Kalian tahu, Donghae punya pacar lagi.” kata Hyena mulai bergosip. Yah, kami ini yeoja normal, suka bergosip juga. Hehehe.

“Aish, jinja. Dia itu benar-benar playboy teri. Sekarang siapa korbannya?” Chaeyoung angkat bicara.

“Han Yoora, kelas 1. Lee Donghae benar-benar sudah gila.” kata Hyena.

“Sooyeon, bagaimana menurutmu?” tanya Chaeyoung padaku. Aku sedang menyeruput susu cokelatku.

“Selama dia baik padaku dan tidak cari gara-gara denganku, aku tidak peduli dengan semua itu.” jawabku santai. Kemudian aku melahap sandwichku.

“Choi Sooyeon memang gadis ajaib.” kata Hyena.

“Mwoya?” apa maksud perkataannya?

“Bukankah kau temannya dari elementary school?”

“Lalu kenapa?”

“Apa dari dulu dia juga begitu?”

“Aku tidak tahu, Hyena-ya.”

“Mana mungkin kau tidak tahu? Memang tak pernah ada gosip tentangnya?”

“Aku tidak peduli dengan semua itu.”

“Wae?”

“Wae? Aku juga tidak tahu. Aku tidak mau peduli saja. Toh dia tetap baik padaku walau punya banyak gadis.”

“Aish, jinja. Kau ini. Apa kau tak pernah menyimpan rasa untuknya?”

Aku mengerutkan keningku.

“Pernah.”

“MWO?” Chaeyoung yang dari tadi sibuk dengan makanannya, ikut berteriak bersamaan dengan Hyena yang juga berteriak.

“Ya ya! Kau pernah menyukainya?” kali ini Chaeyoung yang bertanya.

“Ne. Wae?”

“Sesantai itukah kau menjawabnya?” tanya Hyena.

“Hyena-ya, Chaeyoung-ah, itu sudah lama. Saat middle school, waktu aku mulai puber.”

“Wae?” tanya Chaeyoung.

“Wae? Apa maksudmu dengan bertanya ‘wae’?”

“Maksudku, kenapa kau bisa menyukainya?” jelasnya.

“Molla.”

“Molla?”

“Aku rasa, karena aku suka caranya menatapku.”

“Caranya menatapmu?” tanya Hyena.

“Ne. Aku tak tahu apa dia menatap setiap wanita memang seperti itu atau tidak. Tapi yang jelas, aku suka tatapan matanya ketika berbicara denganku. Apalagi ketika dia berteriak senang ketika mengalahkan nilai-nilaiku. Tapi terkadang aku juga membencinya ketika matanya menatapku penuh kemenangan. Terlihat sangat meremehkanku.”

“Jangan-jangan dia menyukaimu, Sooyeon-ah.” kata Hyena.

“Mana mungkin.”

“Tidak ada yang tidak mungkin, Sooyeon-ah.” kata Chaeyoung.

“Ada.”

“Mwo? Katakan apa yang tidak mungkin di dunia ini?” Chaeyoung menantangku. Aku tersenyum licik padanya.

“Kau mencium seekor kucing, Chaeyoung-ah.” kataku sadis.

“YA! Kau cari mati, Sooyeon-ah?” teriak Chaeyoung.

Aku dan Hyena tertawa terbahak-bahak. Chaeyoung memang takut sekali dengan kucing. Ketika melihat seekor kucing, dia langsung lari sambil berteriak, ‘Jaukan kucing itu dariku!!’ Hahaha. Aku sangat terkejut pertama kali melihatnya seperti itu. Ternyata dia punya kenangan buruk dengan kucing. Waktu dia kecil, oppa dan onnienya suka menakut-nakutinya dengan kucing. Dan suatu hari, ketika kucing itu didekatkan di wajahnya, kucing itu meronta dan mencakar wajah Chaeyoung. Sejak saat itu, dia tak pernah mau melihat kucing dan sangat membenci kucing. Kasihan sekali dia.

“Tapi benar kan kataku. Kau tak akan berani mencium kucing, Chaeyoung-ah. Hahaha.”

“Aish, menyebalkan sekali kau, Sooyeon.” katanya geram.

Baiklah, sepertinya akan membingungkan jika aku tak menceritakan siapa Lee Donghae yang kami bicarakan. Lee Donghae, dia teman satu angkatan kami tapi berbeda kelas. Aku dan dia teman dari elementary hingga high school. Tapi jangan berpikir kalau aku terus satu kelas dengannya, kami sekelas hanya dari kelas 1-4 of elementary school. Setelah itu kami tak pernah sekelas sampai sekarang. Tapi kami berusaha menjalin hubungan pertemanan yang baik. DIa berteman baik dengan Siwon, kembaranku.

Dia terkenal menjadi playboy saat di high school. Yeojachingunya berganti-ganti seperti bunglon mengubah warna kulitnya. Tapi sebenarnya, dari middle school pun dia sudah sering bergonta-ganti yeojachingu. Pernah sekali waktu aku menanyakannya, dia bilang, ‘Aku sedang dalam masa pencarian.’ Haish, Lee Donghae. Ingin kuhajar mukanya yang menyebalkan itu. Bahkan gara-gara dia, anggota andalan tim basket putri tidak bisa mengikuti pertandingan final kejuaraan regional karena diputus oleh seorang Lee Donghae. Ingin rasanya aku membakarnya hidup-hidup.

“Yeon-ah.” seseorang menepuk bahuku.

“Wae?”

“Kembaranmu sakit di UKS.” kata orang yang menepukku tadi, Lee Hyukjae atau biasa dipanggil Eunhyuk.

“Sakit apa?” tanyaku.

“Jatuh terpeleset dari tangga. Aku shock melihatnya jatuh. Bagaimana mungkin dengan badannya yang kekar dia jatuh dari tangga?” kata Eunhyuk dengan semangat.

“Tidak ada hubungannya, Eunhyuk-ah.”

“Hehehe.” Dia meringis mendengar jawabanku.

“Bagaimana keadaannya?”

“Dia baik-baik saja. Hanya terkilir dan memar di beberapa tempat.”

“Ya sudah kalau begitu.”

“Mwo? Dia kan saudara kembarmu, Sooyeon-ah. Kenapa tak menjenguknya?” tanya Eunhyuk

“Aku sedang marah padanya, kau tahu?”

“Aku kira anak kembar itu tak bisa bertengkar.”

“Dapat teori dari mana kau, Hyuk-ah?”

“Aku sendiri yang membuatnya.” jawabnya sambil meringis.

“Hwahahahahaha.” Aku, Chaeyoung, dan Hyena langusng tertawa terbahak-bahak melihat muka bodoh Eunhyuk.

KRIIIIIIING~~

Bel masuk berbunyi. Aku, Chaeyoung, dan Hyena cepat-cepat menghabiskan makanan kami. Sedangkan Eunhyuk hanya menatap kami bingung.

“Hyuk-ah, kami ke kelas dulu.” kataku sambil menepuk bahu Eunhyuk dan meninggalkannya.

Sampai di kelas, ketua kelas masuk dan menyampaikan bahwa pelajaran kosong karena Shin seonsaengnim ada kepentingan mendadak dan meninggalkan tugas.

Aku, Chaeyoung, dan Hyena mengerjakan tugas bersama di mejaku. Setelah selesai, kami langsung mengobrol.

“Sooyeon-ah, kau tak mau menjenguk Siwon?” tanya Hyena.

“Mwo? Kalau kau mau menjenguknya, jenguk saja sendiri.” kataku.

“Aku kan bertanya padamu, Sooyeon-ah.”

“Hyena-ya, kau pikir aku bodoh ya? Aku tahu, kau itu naksir Siwon kan? Kembaranku yang menyebalkan itu.”

“Memang terlihat ya?” tanya Hyena polos.

“Aigooo~ Shin Hyena ini polos sekali.” kata Chaeyoung.

“Lagipula, terlihat jelas sekali di mata kami kalau kau naksir Siwon.” kataku.

“Bahkan kalau Siwon lewat, kau selalu memandangnya tanpa berkedip sekalipun.” kata Chaeyoung.

“Aigooo~ Mana mungkin separah itu?” desah Hyena.

“Hyena-ya, tak usah panik. Sooyeon pasti membantumu untuk mendapatkan Siwon.” kata Chaeyoung.

“Ya~ Aku kan sedang perang dingin dengannya.” kataku keras.

“Lalu kapan kau akan gencatan senjata dengannya?” tanya Chaeyoung.

“Kalau dia minta maaf padaku dan mau ganti rugi.”

“Maksudmu?” tanya Chaeyoung.

“Kau tahu??? Dia mengambil galaxy tabku dan merusaknya tanpa mau ganti rugi. Sialan! Benar-benar cari mati dia.” kataku sarat emosi.

“Hanya gara-gara seonggok galaxy tab, huh?” tanya Chaeyoung.

“Apa maksudmu dengan penggunaan kata hanya, hah?”

“Kau kan bisa beli lagi, Yeon.” kata Chaeyoung.

“Ya! Itu hadiah, kau tahu?”

“Memang hadiah dari siapa?”

“Cho Kyuhyun.”

“Cho Kyuhyun??”

“Ne. Kalian tahu penyanyi yang bernama Cho Kyuhyun kan?

“Mwo?? Cho Kyuhyun penyanyi terkenal itu?? Yang suaranya bisa membuat hati bergetar.”

“Mwo?” apa maksudnya dengan suara yang bisa membuat hati bergetar? Memang dia pikir seperti ponsel yang bisa bergetar?

“Yeon-ah, kau kenal Cho Kyuhyun?” Hyena angkat bicara.

“Akan aku ceritakan sesuatu, tapi ini rahasia. Ara?”

Kedua temanku yang autis itu menganggukkan kepalanya seperti anak anjing. Hahahaha. Lucu sekali wajah mereka.

“Cho Kyuhyun itu saudara jauhku. Dia anak sepupu appaku. Memang cukup jauh, tapi kami berteman baik.” jelasku panjang lebar.

“Lalu kenapa dia bisa memberimu hadiah?” tanya Hyena.

“Karena waktu itu dia ingkar janji denganku. Karena aku penggila gadget, akhirnya dia membelikanku galaxy tab yang waktu itu masih launching.”

“Sooyeon-ah, temukan kami dengan Kyuhyun.” kata Chaeyoung dengan nada memelas sambil menangkupkan telapak tangannya.

“Sirheo!”

“Ya! Kau ini pelit sekali.” kata Chaeyoung sambil menjitak kepalaku.

“Ya!! Sialan kau Chaeyoung-ah!!” teriakku sambil berusaha membalasnya.

——————————-

Pulang sekolah, aku berjalan sendirian menuju halte karena arah rumah Chaeyoung dan Hyena dengan rumahku berbeda. Aku berjalan sambil menikmati angin sore yang semilir. Nyaman sekali. Kemudian ada seseorang yang menepuk bahuku.

“Mana Siwon?” tanya orang itu.

“Aish, jinja. Kau membuatku kaget.” kataku sambil memegangi dadaku karena jantungku tadi seakan mau copot.

“Aku kan hanya menepuk pundakmu.” kata orang itu santai.

“Kau menepuk pundakku dengan tiba-tiba, Donghae-ya. Jelas saja aku kaget.” kataku sambil melirik ke arahnya, dan kembali berjalan menuju halte.

“Kau kaget, soalnya kau sedang melamun. Apa yang sedang kau pikirkan?” katanya sambil menyusul langkahku.

“Aku tidak melamun.”

“Lalu?”

“Tadi aku hanya sedang berjalan.”

“Dan apa yang kau lakukan selain itu?”

“Kenapa kau ingin tahu?”

“Karena aku ingin tahu.”

“Itu bukan jawaban yang kuinginkan, Donghae-ya.”

“Lalu, jawaban apa yang kau inginkan?”

Aku menghentikan langkahku. Mengetahui aku berhenti, Donghae ikut berhenti. Dia menatapku, lalu tersenyum.

“Kita sudah berteman lama, Yeon-ah. Aku tahu, kau tadi sedang memikirkan sesuatu. Kau mau mengaku atau tidak?” tanyanya sambil terus menatap mataku.

“Ara ara. Ne, aku tadi memang sedang memikirkan sesuatu.” jawabku setelah menghembuskan nafas panjang.

“Apa yang tadi kau pikirkan?”

“Galaxy tabku.”

“Mwo?”

“Ne. Galaxy tabku dirusak Siwon. Padahal itu hadiah dari Kyuhyun. Kau ingat Kyuhyun kan?”

“Kyuhyun? Si setan kecil itu?”

“Ne.”

“Aish. Nanti minta Siwon untuk membelikan lagi saja.”

“Dia tidak mau. Dia itu sekarang sangat pelit. Sepertinya gara-gara dia dekat dengan Eunhyuk, jadinya dia sekarang pelit.”

“Ya sudah, terima saja nasibmu.”

“Ya!! Kau itu sama menyebalkannya dengan Siwon!”

“Hahahaha.”

Aku melirik sinis ke arahnya, kemudian meninggalkannya.

“Ya! Kau mau kemana?” tanyanya sambil menarik tanganku.

“Kyaaaaaa~~”

Aku yang tidak sigap dengan tarikannya, langsung limbung dan hampir jatuh. Untung saja dia sempat menarikku. Aku berada dipelukannya sekarang.

“Ya Lee Donghae!! Sampai kapan kau mau memelukku seperti ini?” kataku sambil berusaha melepaskan pelukannya.

“Berat badanmu berapa kilo?”

“Berat badan? Apa maksudmu?”

“Kau berat sekali Yoen-ah. Lain kali, aku tidak mau menolongmu lagi.” kata Donghae sambil berlari menjauh.

“Ya! Kurang ajar kau Lee Donghae!! Awas kau!!” teriakku sambil mengejarnya.

Kupukuli dia saat aku bisa menangkapnya. Sialan kau Lee Donghae! Aku ini kan langsing, enak saja mengataiku berat. Aku sudah susah menurunkan berat badanku, tapi dengan santainya dia mengataiku berat. Turun 5 kg itu susah kau tahu, Mr. Lee Donghae??!!

“Aww aww!! Sakit Yoen-ah.” kata Donghae sambil berusaha meghindari pukulanku.

“Rasakan Lee Donghae. Dasar menyebalkan!!” kataku terus memukulinya.

“Aww!! Yeon-ah, badanku sakit semua. Kau ini benar-benar mirip ibu tiri.”

“Ibu tiri?? Ya~!! Apa maksudmu hah??” teriakku sambil menggeplak kepalanya.

“Ya!! Sakit tahu!!” Dalam sekejap, Donghae mengunci tanganku di belakang punggungku.

“Ya!! Sakiiit~” rintihku.

“Berhenti memukuliku. Oke??”

Aku mengangguk dan dia pun melepaskan tanganku.

“Ya! Aku ini perempuan, kenapa kau mengunciku kuat sekali hah? Sial!” semburku.

“Kalau tidak begitu, kau akan menyerangku lagi.”

“Kau duluan yang mulai.”

“Baiklah, kita akhiri saja. Oke?”

“Hem.”

Aku hanya menggumam kemudian melangkah ke bangku halte, diikuti olehnya.

——————————-

Aku duduk di meja belajar berkutat dengan rumus-rumus matematika. Tiba-tiba pintu kamarku terbuka.

“Wahai Choi Siwon yang menyebalkan, bisakah kau mengetuk pintu dulu sebelum membukanya hah?” kataku sambil menatap tajam ke arahnya Siwon yang berjalan mendekatiku.

“Hehehe.” Siwon hanya cengengesan. Sepertinya dia ada maunya.

“Mwo? Mau apa kau kemari?”

“Kembaranku yang cantik, jangan marah-marah. Nanti mukamu cepat menua.”

“Ya! Tak usah berbasa-basi, kembaranku yang ingin kutendang.”

“Ingin kautendang? Kau ini kan yeoja, kenapa suka menendang sih?”

“Tak usah mengalihkan pembicaraan. Motifmu masuk ke kamarku sudah terlihat jelas. Katakan, apa maumu?”

“Aish, aku hanya ingin mengobrol denganmu.”

“Aku mau mengerjakan PR.”

“Baiklah, aku akan menunggumu sampai selesai.”

“Jangan-jangan kau merusakkan barangku lagi. Iya kan? Mengakulah Choi Siwon!”

“Ani. Aku tak merusakkan barangmu. Kalau kau mau, aku akan membelikan galaxy tab yang aku rusakkan waktu itu.”

“Kalau begitu cepat belikan. Dan ditambah bunga karena sudah 2 minggu kau tak menggantinya, kau harus membelikanku hardisk samsung 1 terra.”

“MWOO??”

“Wae? Kau tak mau melakukannya?”

“Aish, arasseo. Tapi kau harus membantuku.”

“Benarkan, kau pasti ada maunya.”

“Aish, bagaimana bisa aku mempunyai kembaran yang menyebalkan sepertimu.”

“Walaupun kau tak suka, aku tetap kembaranmu.” kataku dengan memasang ekspresi berlebihan.

“Aish.”

“Katakan, kau ingin aku membantu apa?”

“Aku…aku menyukai temanmu.”

“Mwo? Temanku? Nugu?”

“Aiisshh, haruskah aku mengatakannya?”

“Kau tidak mengatakannya juga tak masalah.”

“Aish, ne ne. Aku…aku menyukai Chaeyoung. Seo Chaeyoung.”

“MWOOO??” mataku membulat seperti mau keluar ketika Siwon mengatakan dia menyukai Chaeyoung.

“Wae? Apa Chaeyoung juga menyukaiku?”

“Pede sekali kau. Mana mungkin Chaeyoung menyukaimu.” kataku sambil mencibir.

“Ya~!!”

“Kenapa kau bisa menyukai Chaeyoung? Kupikir gadis idealmu seperti Hyena.”

“Aku juga tak mengerti. Aku memang menyukai gadis seperti Hyena. Tapi entahlah, setiap aku melihat dan berbicara dengan Chaeyoung, aku langsung deg-degan dan terkadang tak tahu harus bicara apa. Dia tegas dan bahkan berani membentakku.” jelas Siwon. Mukanya memerah ketika menceritakan.

Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Kenapa jadi cinta segitiga begini?

“Kau benar-benar menyukainya?” tanyaku pelan seakan ragu menanyakannya

“Aku berencana untuk menyatakan cintaku padanya besok. Otte?”

“MWO? BESOK??” Rasanya badanku lemas sekali.

“Ne, besok. Wae?”

“Eh? Eee… Kurasa kau harus memastikannya dulu sebelum mengatakannya.”

“Makanya aku bertanya padamu. Kau kan sahabatnya, kau pasti tahu sesuatu.”

“A-aku… Aku tak tahu apa-apa. Chaeyoung tak pernah cerita apapun tentang hal itu.”

“Kalau begitu, bagaimana jika kau membantuku? Tanyakan padanya, apa dia menyukai. Otte?”

“Sirheo.”

“Wae?”

“Usaha sendiri.”

“Ya~ Kali ini bantu aku. Kau ini sepertinya senang sekali melihatku menderita.”

“Ini menyangkut perasaan. Aku tak bisa membantumu. Kau cari tahu saja sendiri. Lagipula kau tahu sendiri, Chaeyoung itu bukan tipe gadis yang gampang jatuh cinta. Dia menganggap semua orang itu temannya. Tak peduli laki-laki atau perempuan.”

“Kau benar-benar tak mau membantuku?”

“Bukan tak mau, Siwon-ah.”

“Lalu?”

“Aku tak bisa. Bedakan antara penggunaan kata tak bisa dan tak mau.” kataku. Bagaimana mungkin aku membantu Siwon? Hyena menyukainya. Dan aku yakin Chaeyoung akan menolaknya. Bahkan jika Chaeyoung menyukainya, dia akan tetap menolak Siwon demi Hyena.

“Baiklah. Terserah kau saja. Padahal aku benar-benar berharap kau bisa membantuku.” kata Siwon lesu dan beranjak keluar kamarku.

“Aigoo~ Aku benar-benar tak tahu apa yang harus aku lakukan.” gumamku sambil menghela nafas panjang.

——————————-

Pulang sekolah, aku duduk termenung di bangku taman dekat sekolah. Aku masih memikirkan kata-kata Siwon kemarin. Dia menyukai Chaeyoung? Aish, padahala setahuku dia suka tipe yeoja feminim dan malu-malu, kenapa tiba-tiba dia menyukai Chaeyoung yang urakan, tomboy, dan suka berteriak-teriak? (=.=)

“Ya! Apa yang kau lamunkan?” sebuah suara mengagetkanku.

“OMOO~” teriakku sambil meletakkan tanganku di dada. Rasanya jantungku hampir meloncat.

“Wae?” tanya orang yang mengagetkanku tadi dengan wajah innocent. Siapa lagi kalau bukan Lee Donghae.

“Aish, jinja. Ya Lee Donghae!! Kau mau aku mati muda, hah?? Aigooo~”

“Wae? Aku hanya menegurmu saja. Aku tidak berniat mengagetkanmu. Kau saja yang terlalu sibuk dengan lamunanmu hingga tak menyadari kedatanganku.”

“Terserah.”

“Memang apa yang kau lamunkan tadi? Sepertinya serius sekali.”

“Aniya.”

“Ceritakan saja padaku. Biasanya juga begitu kan?”

“Aku sedang tidak minat cerita padamu.”

“Ngambek, he?”

“Ani.”

“Jeongmal?” tanyanya dengan intonasi menggoda. Aish, namja satu ini menyebalkan sekali. (=.=)

“Ne.”

“Ya sudah kalau begitu. Ngomong-ngomong, ujian matematikamu sudah dibagi?”

“Hm.”

“Berapa nilaimu?”

“89.”

“Yaaah, aku kalaaahh…”

“Memang nilaimu berapa?”

“86.”

“Hahaha. Ternyata aku lebih pintar darimu.”

“Tapi aku lebih jenius. Hahaha.”

“Mwoya?? Nilaiku saja lebih tinggi, kenapa bisa kau lebih jenius Tuan Muda Lee Donghae??”

“Hehehe. Arasseo arasseo. Lalu bagaimana dengan ujian Fisika tadi?”

“Susah sekali soalnya.”

“Kau benar, soalnya susah sekali. Botak seonsaengnim itu benar-benar menyebalkan.”

“Hahaha. Botak seonsaengnim?”

“Seonsaengnim Fisika kita kan memang botak.”

“Hahaha. Dasar tidak sopan.”

Selama beberapa saat kami terdiam. Menikmati angin sepoi-sepoi dan suasana di taman yang mulai sepi.

“Donghae-ya, bagaimana kalau sahabatmu menyukai seorang yeoja, tapi yeoja itu menyukai sahabatmu yang lain?” tanyaku tanpa menoleh ke arah Donghae.

“Kau sedang membicarakan Siwonnie?” Dia malah bertanya balik padaku.

“Bagaimana kau bisa tahu?”

“Beberapa hari yang lalu, dia menanyakan padaku tentang Chaeyoung. Dia menanyakan padaku, bagaimana kalau dia menyatakan cinta pada Chaeyoung.”

“Lalu kaujawab apa?”

“Kujawab saja, sebelum kau menyatakan cinta padanya, kau harus yakin kalau dia juga menyukaimu. Kalau tidak begitu, kau tak hanya patah hati tapi juga harus menanggung malu karena ditolak.”

“Dan Siwon menanyakan padaku tentang hal itu.”

“Dan kau bingung harus menjawab apa karena Hyena menyukai Siwon?”

“Hm, kau benar. Di satu sisi aku ingin membantu Siwon, tapi di sisi lain aku tak ingin menyakiti Hyena.”

“Kurasa lebih baik kau diam saja, seolah-olah kau tidak tahu apa-apa. Hal ini berkaitan dengan hati. Jadi, biarkan saja cerita tentang Siwon-Chaeyoung-Hyena mengalir seperti yang ditakdirkan. Sebaiknya kita tak ikut dalam cerita mereka. Daripada terjadi kekacauan.”

“Hm, kurasa kau benar.”

“Bagaimana kalau kita juga buat cerita sendiri?”

“Mwo?”

“Hm. Hanya ada kita berdua dalam cerita kita. Orang lain boleh ada, asal hanya jadi figuran saja. Otte?”

“Mwoya? Sepertinya kau mabuk Lee Donghae.”

“Ne, kau yang membuatku mabuk.”

“Kau sungguh menjijikkan.”

“Hahaha. Tapi aku serius Yeon-ah.”

“Lalu bagaimana dengan Yoora? Eh, namanya benar Yoora kan? Atau Yoona?”

“Aku sedang single, jagi.”

“Mwoya??”

“Aku serius, kau tahu?”

“Aku tidak tahu.”

“Makanya kuberitahu kalau aku serius mengatakannya tadi. Kau mau jadi yeojachinguku??”

“Ani.”

“Wae? Aku kurang tampan? Aku kurang pintar? Aku kurang menyenangkan?”

“Ani. Kau hanya kurang ketulusan Lee Donghae.”

“Ketulusan? Aku benar-benar tulus menyukaimu.”

“Jeongmal?”

“Ne.”

“Kalau begitu berikan aku sebuah janji untuk membuktikan ketulusanmu.”

“Kau akan jadi yang terakhir dalam hidupku.”

“Jeongmal?”

“Ne. Apa kau tak percaya?”

“Ani.”

“Mwoya??”

“Hahaha.”

“Kau bisa pegang janjiku Nona Choi Sooyeon.”

“Oke. Tapi, aku ingin jujur satu hal padamu.”

“Mwo?”

“Aku tidak menyukaimu. Ottohke?”

“Hm, sudah kuduga.” jawab Donghae sambil menundukkan kepalanya.

“Lalu?”

Donghae diam. Beberapa saat, tiba-tiba donghae mengangkat kepalanya sambil tersenyum misterius.

“Aku akan membuatmu menyukaiku.”

“Mwo??”

“Ne. Kau mau?”

“Baiklah, tapi aku punya satu syarat.” kataku. Sebenarnya, aku mau menerima Donghae karena ingin sedikit memberi pelajaran padanya. Aku kesal setiap kali dia membuat yeoja patah hati. Walau aku tak ingin begitu menyakitinya, tapi setidaknya dia harus menyesali perbuatannya dan tidak mengulanginya lagi.

“Mwo?”

“Tak ada yang boleh tahu tentang hubungan kita sampai aku bisa menyukaimu. Otte?”

“Wae?”

“Aku takut kau mengingkari janjimu.”

“Aku tak pernah sekalipun mengingkari janjiku padamu.”

“Kalau begitu, aku akan memberimu denda kalau kau mengingkari janjimu.”

“Denda? Kenapa kau begitu matrealistis, hah?”

“Dendanya bukan uang. Dan apa salahnya jika aku matrealistis? Aku hidup itu butuh uang, Donghae-ssi.”

“Lalu, apa dendanya?”

“Kau tak akan pernah bertemu lagi denganku jika kau mengingkari janjimu. Dan aku akan melupakan segala sesuatu tentangmu. Kalaupun kita bertemu, aku tidak akan mau mengenalmu.”

“Mwo? Kenapa begitu?”

“Agar kau tak mengingkari janjimu.”

“Arasseo.”

“Ok. Kuingatkan lagi, tidak boleh ada seorangpun yang tahu. Termasuk Siwon dan Eunhyuk. Aku juga tidak akan memberitahu Chaeyoung dan Hyena.”

“Ara. Sampai kau bisa menyukaiku kan?”

“O, sampai aku bisa menyukaimu.”

“Deal?”

“Deal.” Aku dan Donghae bersalaman. Aku berdo’a semoga semua berjalan lancar sesuai rencanaku. Dongahe sadar akan perbuatannya selama ini dan tidak mengulanginya lagi.

——————————-

Istirahat makan siang kali ini, aku, Chaeyoung, dan Hyena makan di kelas. Hari ini Hyena membawa bekal banyak sekali. Eomma Hyena yang memasakannya. Masakan eomma Hyena memang daebak!

“Sooyeon-ah, kau sudah bicara dengan Siwon?” tanya Chaeyoung tiba-tiba.

“Mwo?” tanyaku. Sedangkan Hyena menatap aku dan Chaeyoung bergantian.

“Tentang Hyena.”

“Hyena? Oo~, belum.” kataku sambil menyunggingkan senyum tiga jari.

“Mwoya?? Kau ini seharusnya membantu sahabatmu, Sooyeon-ah.” kata Chaeyoung seakan menuntut.

“Aish. Bukan begitu, Chaeyoung-ah. Hyena-ya, aku begini bukan tidak ingin membantumu. Tapi kurasa kalau aku membantumu, aku terlalu ikut campur dalam urusan percintaanmu. Kalau memang kalian ditakdirkan, aku yakin kau akan disatukan dengannya. Tapi tetap kau tidak boleh hanya pasrah menanti takdirmu. Kau harus berusaha. Misalnya kau sedikit-banyak menarik perhatian Siwon atau apalah. Karena aku juga tak tahu, Siwon menyukaimu atau tidak. Aku dan Siwon jarang sekali berbicara tentang percintaan.” kataku panjang-lebar.

“Arasseo, Sooyeon-ah.” kata Hyena mendadak lesu.

“Sooyeon-ah, kau sahabatku. Tapi kalau kau menyakiti sahabat kita ini, aku tak akan segan-segan menghajarmu.” kata Chaeyoung sambil memasang tampang garangnya.

“Mwoya?? Kau pikir kau tukang pukul, hah? Seenaknya saja mengancamku mau menghajarku. Lagipula, aku tidak akan mau menyakiti sahabatku sendiri. Aku bukannya tidak mau membantu Hyena. Aku takut kalau misalnya aku membantu Hyena, malah bisa menimbulkan kekacauan. Bagaimana kalau misalnya Siwon tidak menyukai Hyena? Aku takut Hyena terluka.” kataku.

“Ya, jangan membuat Hyena patah semangat!!” kata Chaeyoung.

“Aku hanya berkata misalnya, bukan berarti kenyataan. Kau ini sensitif sekali sih. Aish, jinja.” kataku. Sebenarnya aku merasa bersalah pada mereka berdua. Aish, ini semua karena Siwon. Kenapa dia tidak menyukai Hyena saja? Kalau begitu ceritanya kan aku akan membantunya. Dasar Choi Siwon babo!!

Drrrtt…drrrrtt… Kurasakan ponselku bergetar. Ternyata ada sms.

From : Donghae

Yeon, nanti pulang sekolah temui aku di taman seperti kemarin.

Mwoya?? Seenaknya saja menyuruhku.

To : Donghae

Memangnya ada apa? Bukannya kemarin kita sudah ke sana?

Kukirim balasan pada Donghae. Tak lama, ponselku bergetar lagi.

From : Donghae

Kita kencan. Kutunggu nanti pulang sekolah.

Kau ini sungguh pemaksa Lee Donghae.

“Wae? Siapa yang sms?” tanya Chaeyoung.

“Donghae.” jawabku jujur.

“Pasti menanyakan nilai matematika. Aish, kenapa bisa dia terobsesi dengan matematika?? Matematika kan susah.” desah Chaeyoung.

“Seperti tak tahu kelakuan Dongahae saja.” gumamku.

“O ya, kalian sudah tahu belom?” tanya Hyena tiba-tiba.

“Belum.” jawabku dan Chaeyoung bersamaan.

“Aish.”

“Mwoya?” tanya Chaeyoung.

“Donghae putus dengan Yoora.” kata Hyena.

“Jeongmal?” tanya Chaeyoung.

“Ne.”

“Lalu, siapa korban berikutnya?” tanya Chaeyoung.

‘Sepertinya sahabatmu sendiri, Chaeyoung-ah.’ jawabku dalam hati.

“Molla. Dan kalian berdua tahu, katanya Yoora mogok makan dan tidak mau sekolah. Kemarin dia dilarikan ke rumah sakit karena dehidrasi.”

“MWOO??” teriakku dan Chaeyoung.

“Ne.” jawab Hyena mantab.

“Kau tahu dari mana?” tanyaku.

“Aku tahu dari anak kelas satu. Kemarin aku menguping ketika di toilet. Hehehe.”

“Haish, kau ini.”

“Aku tak habis pikir dengan yeoja yang bernama Yoora itu. Bagaimana bisa dia menyakiti dirinya sendiri hanya karena cinta?” kata Chaeyoung.

“O, aku juga. Mencintai memang hal yang wajar, tapi jika patah hati lalu sampai menyakiti diri sendiri kurasa hal itu tidak wajar. Tidakkah dia berpikir hal positif dibalik itu semua? Misalnya, untunglah Donghae belum menjamah keperawananku.” kataku dengan gaya hiperbolis.

“MWOYAAA?? Kau ini vulgar sekali, Choi Sooyeon.” kata Chaeyoung.

“Hahaha. Setidaknya kata-kataku ada benarnya.” kataku membela diri.

“Bagaimana kalau ternyata Donghae sudah merebut keperawanannya? Mungkin karena hal itu Yoora mogok makan.” tebak Hyena.

“Seburuk-buruk Donghae, kurasa dia tidak akan melakukan hal itu. Aku yakin dia masih bisa sedikit menghormati seorang yeoja.” kataku.

“Tapi kan bisa saja Sooyeon-ah.” Hyena masih mempertahankan argumennya.

“Memang bisa saja. Tapi aku tidak yakin Donghae melakukan hal itu. Memangnya kau pikir Donghae tipe namja perebut keperawanan?”

“Haish, kenapa dari tadi kata-katamu vulgar sekali, hah?” kata Chaeyoung.

“Hahaha.” Aku dan Hyena tertawa melihat ekspresi Chaeyoung.

“Tapi apa yang dikatakan Sooyeon kurasa benar. Walaupun Donghae playboy, tapi kurasa dia tidak akan melakukan hal itu.” kata Chaeyoung.

“Ya, sepertinya memang begitu.” kata Hyena akhirnya.

——————————-

Pulang sekolah, aku berpisah arah dengan kedua temanku, Chaeyoung dan Hyena. Kemudian kulangkahkan kakiku menuju taman, tempat aku dan Donghae bertemu kemarin. Setibanya di sana, kulihat Donghae sedang bermain bola dengan segerombolan anak-anak. Dia tampak bersinar. Mwo? Aku mengatakan Donghae tampak bersinar? Sepertinya mataku mulai bermasalah.

Kemudian aku duduk di salah satu bangku, tempat tas Donghae tergeletak manis di atasnya. Kuambil ipod dari tasku, kupasang earphone di telingaku, lalu kunyalakan, dan kunikmati lagu yang terputar. Aku memejamkan mataku sambil menikmati lagu ballad milik Kyuhyun. Aish, sepupuku itu suaranya benar-benar indah.

Lagu sudah berganti untuk ketiga kalinya. Tiba-tiba seseorang menepuk kepalaku.

“Kenapa tidak bilang kalau sudah datang? Kau sudah lama?”

“Ani. Aku baru mendengarkan 3 lagu.” kataku setelah melihat sejenak ipodku.

“Aish.” desisnya sambil duduk di sebelahku. Dia mengipas-ngipaskan seragamnya.

Kuambil tissue dari dalam tas dan kuberikan padanya.

“Gomawo.” katanya sambil tersenyum.

“Ada apa mengajakku kemari?” tanyaku.

“Kan sudah kubilang kalau kita kencan.”

“Hmmm. Tapi bukankah baru kemarin kita bertemu?”

“Tapi aku ingin bertemu lagi denganmu.” lagi-lagi dia tersenyum sambil menatapku.

“Kudengar, Yoora masuk rumah sakit karena dehidrasi.” kataku sambil menatapnya. Senyumnya menghilang.

“Lalu?”

“Katanya sejak putus denganmu, dia mogok makan dan tidak mau sekolah.”

“Itu bukan urusanku.”

“Donghae-ya, dia begitu karena putus dengamu. Coba sekarang kutanya, kenapa dulu kau mau berpacaran dengannya?”

“Sudahlah, aku tak ingin membicarakan hal itu.”

“Kalau begitu aku pulang.” kataku sambil bangkit dari dudukku.

“Andwe.” teriak Donghae sambil memegang erat tanganku.

“Kalau begitu jawab setiap pertanyaanku.”

“Arasseo. Dulu dia yang menyatakan cinta duluan padaku, karena dia manis dan terlihat kasihan jika kutolak, maka kuterima saja.” jawab Donghae dengan santai.

“Mwoya??? Lalu, apa kau nanti juga akan berbuat hal yang sama dengan apa yang kau lakukan pada Yoora terhadapku?”

“Tidak, tidak akan. Aku tidak akan melepaskanmu.” Entah kenapa aku merasakan intonasi yakin dalam suaranya. Aish, atau aku yang ke-GR-an saja ya?

“Lagipula aku sudah berjanji padamu, bahwa kau akan jadi yang terakhir.” lanjut Donghae.

“Kalau begitu, jenguklah Yoora. Katakan padanya dengan cara baik-baik, dan buat dia mengerti.”

“Mwo??? Andwe!!” teriaknya, sedangkan aku menutup telingaku dengan tanganku.

“Wae? Kau dalam posisi salah Donghae-ya. Seharusnya kau minta maaf padanya.”

“Sirheo!”

“Wae?”

“Sirheo.”

“Kenapa kau keras kepala sekali?? Aish, bagaimana mungkin aku bisa menerimamu jadi namjachinguku? Tidak mau mengakui kesalahannya sendiri, namja macam apa kau ini?” kataku berusaha memprovokasinya.

“MWOYAAAA???”

“Anak kecil saja bisa mengakui kesalahannya, kenapa kau yang sudah dewasa tidak mau mengakui kesalahanmu??”

“Aish…” Donghae mendesih pelan.

Sesaat kemudian,

“Arasseo, aku akan menjenguknya dan menjelaskan padanya dengan cara baik-baik.”

“Itu baru Donghae-ku.”

“Mwo? Donghae-ku?” Wajah Donghae terlihat sangat terkejut.

“O, bukankah kau namjachinguku?”

Ekspresi terkejutnya masih belum hilang.

“Hahaha. Ekspresimu lucu sekali, Donghae-ya.”

“Mwo??”

“Hahahaha.”

——————————-

TBC

8 thoughts on “[Freelance] About My Love? [part 1]

  1. hehehey..baguus daebak chingu!!oppa fishy so sweet banget dah..cinta segitiga hwaah ga ada bayangan mending nunggu authornya aja lah..kekekekekeke..ditunggu lanjutannya jangan kelamaan ya!!

  2. MWO?! Sodara jauh?! o_0 *lebeh*
    lmyn tw dpt score 86! Lah aq dpt 6 ajj susah! :(

    emank babykyu lucu ^_-
    haepa tuh baek tw org’a… trust me!
    tp gra2 haepa yoora jd skit! ~_~

    Lanjuut~
    Good Job!!!!

  3. siwoon kembar, aku jd ketawa ngebayangin siwon versi cwe tp kgk bisa kebayang. . .
    Wah hae jd playboy, mau d buat insaf ma sooyeon. . . .
    Pa hae jd playboy cuma buat ng’lampiasin krn suka sama sooyeon udah dr dulu, lanjut. . . .

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s