[Freelance] Hate You Love You {Chunli POV}

Hate You, Love You [Chunli PoV][END]

Author : ChunLism

Main Cast : Cho Kyuhyun

Rating : All Ages

Genre : Romance, one shot

Warning : Ga jelasssss Y_Y

PS : pernah di post di chunlism.tumblr.com

Karena banyak yg bilang ff kemaren gantung, inilah sambungannya… hahahah masi tetep gaje sih..  bagi yg belom baca, silakan baca disini biar nyambung. Lol

https://wonderfanfiction.wordpress.com/2011/05/11/freelance-hate-you-love-you/

selamat membaca~ saran dan kritik ditunggu!! Hahaahah

*

Aku melihatmu hari ini, menari dan menyanyi dengan piawainya di sebuah panggung gemerlap untuk come back stage grupmu, Super Junior. Walau dari tempat duduk yang paling belakang, aku bisa melihat jelas kau tersenyum saat menyanyi. Aku terus melambaikan lightstickku, mendukung performance Super Junior, lebih khususnya, kau. Bertahun-tahun sudah berlalu, tetapi karismamu tidak pernah hilang. Baik semenjak aku hanya menjadi fansmu, sejak kita bersama, dan sampai kita berpisah, mata yang kucintai itu tidak pernah berubah. Selalu lelah, namun tidak pernah berhenti melakukan yang terbaik.

*

FLASHBACK

Aku bisa melihatnya, sorot mata yang begitu terluka saat aku minta kita untuk mengakhiri semuanya. Aku bisa merasakan, kau menatap punggungku begitu lekat saat aku berjalan menjauh. Aku melangkah dan mengisi paru-paruku dengan udara, berharap sakit yang menghantam dadaku bisa sedikit mereda. Berharap ini adalah keputusan terbaik untuk kita, bukan, untukmu, untuk masa depanmu.

Kau mengira aku benar-benar meninggalkanmu, namun, tanpa kau tahu, aku melihatmu menangis di tepi Cheonggyecheon. Tidak pernah kudapati ekspresi seterluka itu di wajahmu selama ini. Dan hal yang membuatku bertambah sakit adalah, aku yang menyebabkan semua itu. Ingin sekali aku berlari dan memelukmu, kalau perlu aku akan bersujud di depanmu, meminta maaf atas kata-kataku tadi dan semuanya yang telah menyakiti hatLeeu. Tapi, aku tidak bisa, dan aku tidak boleh. Cho Kyuhyun, malam ini, menangislah sepuasmu, lalu besok dan selanjutnya, bencilah aku, lupakanlah aku. Aku yakin, kau bisa melakukannya, karena banyak sekali gadis yang jauh lebih baik dariku yang bisa menjagamu.

Karena aku tidak mau kelak kau memiliki seorang kekasih yang bisu….

*

Aku kembali ke rumah sakit lagi. Entah sejak kapan, tempat ini menjadi tempat yang sangat mengerikan bagiku, terutama ruangan di depanku ini, ruangan dr. Lee. 4 bulan lalu, aku sering merasa sulit bernafas dan menelan makanan, aku pikir ini hanya karena aku terlalu lelah. Sampai Sungmin oppa menyuruhku memeriksakan diri ke pamannya yang seorang dokter syaraf. Ya, hanya Sungmin oppa satu-satunya member SJ yang tahu ketika dr. Lee mendiagnosa aku terinfeksi virus atauneurotoksin yang meracuni syarafku dan dapat menyebabkan kelumpuhan pita suara. Awalnya, tentu saja aku merasa sangat terpukul, Sungmin oppa terus menghibur dan menguatkanku. Dia juga yang mencegahku untuk memutuskan Kyuhyun, karena menurutnya, magnae kesayangannya itu tidak akan mempermasalahkan penyakitku ini. Namun, aku tidak siap jika suatu hari ia harus menanggung malu karena memiliki kekasih bisu.

Aku menghela nafas, mengetuk pelan pintu ruangan dr. Lee yang kemudian menyambutku dengan senyum khasnya. Dia mempersilakanku duduk, lalu menyerahkan sebuah amplop coklat kepadaku. Belum membukanya pun aku sudah tahu, itu adalah hasil pemeriksaanku dan pasti hasilnya semakin buruk. Aku mengamati gambar hitam putih hasil CT Scan kelenjar tiroidku dan tenggorokanku, namun, sekian lama aku mengamatinya, aku tidak juga mengerti.

“Apa sudah sangat parah?“ tanyaku kepada lelaki paruh baya itu. Dia berdehem dan membenarkan jas putih kebanggaannya.

“Chunli-ssi, kau bisa melihat gambar ini,“ jawabnya sambil menunjuk salah satu hasil CT Scan tenggorokanku, “kita bisa melihat, daerah ini semakin menyempit sejak pemeriksaan terakhir bulan lalu.“

Aku terdiam, meskipun tidak terlalu paham, tapi aku tahu, sepertinya ini bukan sesuatu yang baik. Dr. Lee melihat perubahan wajahku dan ia mencoba menenangkanku, “aku akan berusaha mencari cara untuk mengobatinya. Kau jangan putus asa.“

Aku tersenyum kecut, sungguh, aku tahu itu sangat kecil kemungkinannya. Aku sering mencari melalui internet cara untuk menyembuhkan penyakitku, memang ada, yaitu dengan trakeosektomi, tetapi itu hanya 35% kemungkinan berhasilnya. Itu berarti, ini takdir yang harus kujalankan. Namun, demi alasan kesopanan, aku tetap mengangguk dan mengucapkan terLeeakasih kepada dr. Lee yang sudah berusaha menumbuhkan harapanku, walaupun semu.

Aku memencet nomor telepon Sungmin oppa. Dia memintaku memberitahu hasil pemeriksaan bulan ini. Tidak lama, panggilanku terhubung.

“CHUNLI-YA! Bagaimana hasilnya? Apa kau baik-baik saja? Apa tidak serius? Apa bisa disembuhkan?” cecar suara di seberang sana yang membuatku sedikit menjauhkan handphoneku dari telinga. Aku tertawa.

“Oppa, satu-satu saja. Aku tidak terburu-buru menjawab semua pertanyaanmu,“jawabku.

“Ya! Kau tidak tahu aku sangat gugup dan cemas menantikan hasilnya! Ayo beritahu aku! Jangan kau kurangi dan jangan kau lebihkan!“ perintahnya.

“Hahaha… ne. Dr. Lee bilang, saluran pita suaraku semakin menyempit,“ jawabku enteng. Bagaimana lagi? Apa aku harus menangis dan marah? Aku sudah melakukannya sampai aku lelah sendiri. Sungmin oppa tidak menjawabku.

“Yoboseyo? Oppa, apa kau masih disana?“ panggilku.

“Ne… apa sudah parah?“

“Sepertinya. Ya sudahlah, kau tidak perlu mencemaskanku,” ucapku, lalu melanjutkan, “bagaimana kabarnya?” tentu saja, kabar Cho Kyuhyun.

“Dia baik-baik saja, tetapi….” kata-kata Sungmin oppa terpotong.

“Dia kenapa?“

Terdengar helaan nafas berat di ujung sana, “Kau tahu, ia menyembunyikan hal ini dariku, tetapi, kemarin aku tidak sengaja menemukan obat tidur di bawah tumpukan kabel laptopnya yang berantakan itu.“

Aku terkejut, “obat tidur? Untuk apa dia minum obat tidur?“

“Aku tidak tahu, dongsaeng. Dia malah marah ketika aku bertanya. Mengerikan sekali,“ kata Sungmin oppa. Jinja, apa yang anak itu lakukan? Tetapi, sepertinya, aku akan segera menemukan jawabannya. Aku melihat lelaki itu, yang meskipun memakai masker dan topi, aku bisa mengenali fisiknya dengan baik, Cho Kyuhyun.

“Oppa, aku melihatnya. Aku akan bertanya langsung. Gomawoyo oppa sudah mengkhawatirkanku. Annyeong,“

“Apa? Melihat apa? Yoboseyo? Ya Joo Chunli!“ aku sempat mendengar omelan Sungmin oppa sebelum mematikan telepon.

Aku segera menuju ke arah Kyuhyun dan berdiri di depannya. Ia mendongak dan menatapku. Sorot matanya kaget ketika melihatku, akupun kaget menyadari betapa sayunya mata itu. Aku mencoba tersenyum kepadanya, ini seperti sengaja memancing luka lama untuk menyeruak ke permukaan lagi. Dia tidak membalas senyumanku, dan malah membuang pandangannya ke arah lain. Sungguh, apa kau sudah benar-benar membenciku?

“Apa kau punya waktu sebentar?” tanyaku. Saat ini tenggorokanku terasa sakit, entah karena penyakitku yang kambuh atau karena aku menahan tangis. Dia menatapku.

“Mengapa? Aku sibuk,“ tolaknya sambil berlalu, namun aku menarik lengannya yang langsung ditepis kasar olehnya.

“Maaf… hanya sebentar saja,“ jawabku takut-takut. Sedikit terluka dengan reaksinya. Ia lalu berjalan duluan menuju salah satu cafe dekat rumah sakit itu, aku mengikutinya.

Kami duduk di sudut cafe itu, saling diam. Aku mencoba membuka pembicaraan. “Bagaimana kabarmu?”

“Seperti yang kau lihat,” jawabnya singkat tanpa menatapku, “apa yang kau lakukan di rumah sakit?” lanjutnya.

Aku menekan amplop coklat di pangkuanku,”aku… menjenguk temanku yang sedang sakit. Dan kau? Apa yang kau lakukan?”

“Bukan urusanmu,” katanya dingin. Baiklah, sepertinya aku harus segera pergi dari sini sebelum air mataku jatuh.

“Baiklah, aku tidak bisa lama-lama dan sepertinya kau juga sibuk. Aku pergi duluan. Annyeong,“ pamitku sambil buru-buru berdiri, dan menyebabkan amplop coklat itu terjatuh. Kyuhyun memandang amplop coklat itu dan memungutnya sebelum aku sempat bergerak. Mendadak telapak tanganku terasa basah.

Dia mengamati amplop itu sebelum bertanya, “ige mwoya?“ sambil mengacungkan amplop itu ke arahku. Aku mau merebutnya, tetapi refleks Kyuhyun jauh lebih cepat daripadaku. Ia membuka amplop itu.

“Cho Kyuhyun-ssi, aku mohon kembalikan,” sungguh aku tidak tahu apa yang harus aku perbuat. Kyuhyun tidak mengacuhkanku dan tetap mengamati amplop itu. Ya Tuhan, semoga ia tidak terlalu pintar untuk mengerti isi CT Scan itu.

“Kau sakit? Ini hasil pemeriksaanmu?” tanyanya. Aku hanya diam dengan dia yang menatap lurus ke arahku, “ikut aku.“

Ia menarikku kembali ke rumah sakit. Aku berusaha melepaskan, tetapi tenaganya jauh lebih besar. Kami menjadi pusat tontonan karena aku seperti disandera oleh pria bermasker yang mencurigakan. Tanpa sopan santun, ia menerobos masuk ke ruangan dr. Lee. Baru, ia melepaskan tanganku. Dr. Lee menatap kami kaget.

“Ada apa ini?“ tanyanya bingung. Dengan nafas yang masih terengah-engah, Kyuhyun membuka topi dan maskernya, lalu memberi amplop itu kepada dr. Lee.

“Dokter, maaf kalau aku tidak sopan. Tetapi, bisakah kau jelaskan kepadaku isi dari amplop ini?“ pintanya. Aku berusaha memberi isyarat mata kepada dr. Lee yang sedang menatapku, supaya dia tidak menjelaskan kepada Kyuhyun.

“Apa hubunganmu dengannya?“ tanya dr. Lee. Aku menjawab, “dia…“

“Aku kekasihnya,“ kyuhyun memotong ucapanku. Aku terbelalak menatapnya, bagaimana…

“Baiklah… apa yang ingin kau ketahui?“ tanya dr. Lee.

“Semua,“ jawab Kyuhyun mantap. Sepertinya, ini adalah hari kiamatku. Dr. Lee lalu mempersilakan kami duduk, dan mulai menjelaskan satu per satu mengenai penyakitku. Ekspresi Kyuhyun, aku tidak bisa menebaknya. Matanya hanya menerawang menatap hasil CT Scan ku.

“Maaf, Chunli-ssi. Aku memberitahu semuanya. Harus ada yang menjagamu selain Sungmin, dia sangat sibuk,” kata dr. Lee. Baiklah, ini kiamat session duanya. Kyuhyun menatapku tajam.

“Jadi, Sungmin hyung sudah tahu?“ aku hanya mengangguk pelan. Ia mendecak frustasi dan memjatuhkan punggungnya di sandaran kursi. “Sungguh, ini gila.“

*

“Inikah alasanmu?“ tanya Kyuhyun sambil menatap Hangang. Aku hanya mengangguk. Dia menatap wajahku. Aku bisa membaca guratan luka di matanya.

“Lalu, mengapa karena ini kau meninggalkan aku?“

“Ini untuk masa depanmu! Aku tidak mau kau malu karena mempunyai kekasih yang bisu! Aku tidak mau kau malu karena aku! Aku tidak mau…“ aku menangis sejadi-jadinya. Ia mendekapku, mencium puncak kepalaku lembut. Memberiku kehangatan dan rasa nyaman yang kurindukan selama beberapa bulan belakangan.

“Saranghaeyo…“ bisiknya, membuat tangisku makin deras, “Saranghamnida… aku tidak pernah peduli bahkan kau bisu atau buta sekalipun.“

“Jangan begini, Kyuhyun-ah. Jangan membiarkanku merusak masa depanmu,“ kataku terisak. Ia mempererat pelukannya.

“Kau masih mencintaiku?“ matanya berbayang bening menatapku. Aku mengangguk sekali lagi. Sungguh, jangan pernah menangisi aku lagi, Kyuhyun-ah.

“Kau tahu, aku paling tidak suka dibohongi… aku meminum obat tidur setiap hari karena tidak bisa tidur memikirkanmu yang tidak mencintaiku lagi. Tapi kali ini, aku sangat bersyukur, semua kata-katamu dulu bohong dan kau masih mencintaiku,“ katanya sambil tersenyum.

“Kyuhyun-ah…“

“Penyakitmu, kita akan coba segala cara sampai kemungkinan terkecil untuk menyembuhkannya. Ini bukan penyakit mematikan. Kau tidak boleh putus asa, karena aku juga tidak akan pernah putus asa,“ katanya. Aku mengangguk dan kembali menenggelamkan diriku ke dekapannya.

*

3 bulan kemudian…

 

“Baiklah, sudah selesai kan semuanya? Aku mau menikmati malam natal dengan gadisku! Okeokeoke? Annyeong!“ oceh Kyuhyun sambil merangkulku. Member lainnya hanya menggeleng gemas, bahkan Heechul oppa menyeletuk, “dia itu sungguh magnae kurang ajar, berani sekali mempunyai kekasih duluan dan pamer lagi di depan para hyungnya!“, sedangkan Sungmin oppa hanya tertawa.

Aku bahagia sekali, melihatnya tersenyum bahagia seperti dulu. Oh ya, aku sudah menjalani operasi trakeosektomi bulan lalu. Aku memang gugup, tapi Kyuhyun dan Sungmin oppa, serta semua member Super Junior selalu mendukungku. Mereka oppa-oppa yang baik.

Kyuhyun membawaku ke atap gedung SM. Salju turun perlahan dari langit, malam natal yang indah. Meskipun, aku sedikit kecewa, aku kira ia akan membawaku kencan ke suatu tempat yang romantis, ternyata begini. Ia menarikku ke arah sebuah meja.

“Baiklah, karena aku tahu kau tidak suka kalau aku mengenakan masker dan topi ketika berkencan, jadi, beginilah kencan malam natal kita,“ katanya sambil menarikan kursi untukku. “Sebenarnya, aku akan membuatkan candle light dinner yang romantis untukmu, tapi, kau lihatlah! Semua makanan tertutup salju! Candlenya pun jadi tidak bisa menyala karena salju! Sungguh, rencanaku gagal karena salju!“ omelnya sambil menunjuk-nunjuk makanan yang sekarang lebih terlihat seperti gumpalan es serut. Aku tertawa.

“Aku menghargai usahamu,“ tulisku di kertas. Dia membacanya, lalu menggaruk-garuk kepalanya seperti orang bodoh.

“Lain kali akan ku buatkan kencan yang lebih romantis! Dan harus berhasil! Lihat saja!“ tandasnya. Aku membentuk bulatan dengan jempol dan telunjukku, tanda aku akan menunggu aksinya.

Dia menarik kursinya dan duduk di sebelahku. Ia menyandarkan kepalanya di pundakku.

“Banyak sekali ya hal yang sudah terjadi tahun ini,“ katanya. Aku mengangguk. Ya, banyak sekali. Hubungan kami benar-benar diuji. Aku menuliskan sesuatu di notesku dan menunjukkan padanya.

“’Operasiku gagal. Aku tidak bisa bicara. Kau tidak menyesal?’ ah jinja! Mengapa kau merusak suasana romantis ini?” ocehnya sebal. Aku hanya mengangkat bahu dan kembali menulis, ‘jawab saja’.

“hmm… baiklah. Sejak kau itu sangat keras kepala, aku akan menjawab. Aku kecewa operasimu gagal, aku kecewa tidak bisa mendengar suaramu lagi. Tetapi, aku akan lebih kecewa lagi kalau kau tidak mau membagi semuanya denganku. Aku akan lebih kecewa lagi jika aku tidak bisa melihat kau tersenyum untukku. Mungkin aku akan sangat merindukan suaramu, tetapi yang paling penting dari semua, bukanlah suaramu, melainkan kau sendiri,“ jelasnya. Aku menatapnya, aku bisa melihat kasih sayang di matanya, pria ini tulus. Di atas semua sifat kekanakannya, dia adalah orang yang dewasa dalam menghadapi masalah. Ia bisa mengambil sisi positif dari setiap masalah.

Ia memeluk pinggangku, “Jangan pernah kecewa dengan apa yang terjadi, tetapi bersyukurlah karena apa yang ada. Karena, masih banyak yang kehilangan jauh lebih banyak daripada kita. Lagipula…“ dia mengecup pipiku, “semua yang kau miliki, merupakan suatu anugerah bagiku. Mungkin aku kehilangan satu, namun lihatlah, aku masih mempunyai kau dengan utuh.“

Aku mengangguk dan menulis ’gomawo, kyuhyun-ah’. Dia tersenyum ketika membaca tulisanku.

“Tidak peduli apa yang terjadi… selamanya, aku akan tetap memelukmu, tetap mencintaimu seperti saat ini…“

12 thoughts on “[Freelance] Hate You Love You {Chunli POV}

  1. LANJUUTT~

    Huaaaaaaaaaaa,, so sweet’a d part end…
    Alhamdulillah klo chunli fresh lg :)
    Aq pgn mreka sgera nikah & pny byk anak ^^
    Miris bca dmn chunli menderita! Sabar yah,, kn ud gwenchana skrg! *remix language*

    Daebak…

  2. Kyuhyun akhirnya romantiiiiiiis!!! Setiap baca FF kyu pasti banyak marah2 sm bentak2 nya hahaha daebak author :D

  3. tresepona sama kata kata kyu ….
    “Jangan pernah kecewa dengan apa yang terjadi, tetapi bersyukurlah karena apa yang ada. Karena, masih banyak yang kehilangan jauh lebih banyak daripada kita. Lagipula…“
    “semua yang kau miliki, merupakan suatu anugerah bagiku. Mungkin aku kehilangan satu, namun lihatlah, aku masih mempunyai kau dengan utuh.“

  4. hate you n love you thorr…
    :)
    ff’a bagusss thorrr,,, kelanjutannyaaaa juga suda dbaca…
    lanjut lgi thor…

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s