[Freelance] The Marriage and Us {Day 4}

Title : The Marriage and Us [Day 4]

Author : Bee

Main Cast : Yesung, Bee

Support Cast : all members of Super Junior

Rating : all age

Genre : romance

Disclaim : biar kata terinspirasi dari WGM, alur cerita murni ide Bee.

***

Kukerjapkan mataku. Kuambil HP yang tergeletak di bawah bantal. Waktunya subuh. Dengan malas aku bangkit keluar kamar mengambil wudlu. Begitu terkena air, aku otomatis terbangun. Biarpun aku hanya tidur kurang dari tiga jam malam ini, tapi air dingin selalu bisa membangunkanku.

Keluar dari kamar mandi mataku menangkap sosok Yesung, suami-suamianku yang sedang tertidur di sofa. Hanya sebagian wajahnya yang terlihat, karena dia menghadap sandaran sofa. Ihihi, manisnya ‘suami’ku…

Aku teringat bagaimana kami bertengkar untuk pertama kalinya tadi malam, dan akhirnya berbaikan sekitar dua setengah jam yang lalu. Aku menggeleng geli lalu masuk ke kamar untuk sholat.

Setelah tiga hari berbagi rutinitas dengannya, aku sepertinya mulai benar-benar tertarik pada Yesung. Harus kuakui, dari awal memang kami sudah berbeda dibandingkan pasangan lain. Sejak pertama bertemu, antara aku dan Yesung sama sekali ga ada kecanggungan. Gaya bahasa formal udah sejak awal kami tinggalkan, tanpa kesepakatan, dan itu terjadi begitu saja. Meskipun mungkin itu hal yang baik, tapi jujur aja ada yang menjadi kekhawatiranku.

Sambil melipat mukena aku kembali teringat pertengkaran kami semalam. Kami bertengkar akibat daya tarik Yesung yang semakin kuat terhadapku. Semua hal dalam dirinya tiba-tiba membuatku sesak nafas. Aku menjadi jauh lebih perhatian terhadap detil dirinya. Caranya bicara, gerak bibirnya, aromanya. Dan itu sangat mengkhawatirkanku!

Sebab kami selalu dikelilingi kamera. Saat ini aja, meskipun kedua kameramen yang ditugaskan mengikuti kami masih tidur, namun kamera pengamat yang dipasang di tiap ruangan di rumah kami tetap merekam setiap gerakan kami secara otomatis. Kalau sampai perasaanku terekam oleh kamera, aku takut hal itu akan merusak kehidupan kami berdua setelah acara ini ditayangkan.

Semoga hal itu ga terjadi.

Aku memutuskan untuk tidur sebentar lagi karena aku masih ngantuk banget mengingat aku baru tidur dini hari tadi.

Kupikir aku hanya akan tidur sebentar, tapi tiba-tiba aku mendengar pintu kamar diketuk dan Yesung sudah berdiri di ujung tempat tidur, membangunkanku.

“Sayang, bangun,” Yesung membangunkanku. Dia mengguncang kakiku. “Sayang, kamu nanti telat kerja lho.”

Astaga, kerja! Jam berapa ini? Aku melihat HP dan kulihat sudah pukul 7.30. Aku harus berangkat pukul 8, karena sekarang aku tinggal lebih jauh ke RS dibandingkan dengan tempat tinggalku sebelum ‘menikah’. Padahal aku belum bikin sarapan.

Aku segera melompat dari tempat tidur dan berdiri, hendak berlari ke kamar mandi. Akibatnya aku limbung dan hampir tersungkur kalau Yesung ga menopangku.

“Hey, hey, pelan-pelan aja,” ujarnya menahanku.

“Gawat, aku udah telat nih,” jawabku buru-buru.

“Iya, tapi bangun tidur itu jangan langsung jejingkrakan gitu, pusing kan jadinya?” dia mendudukkanku di tepi kasur.

Aku menurut, tapi hatiku ga bisa tenang karena sementara aku duduk waktu terus berjalan. Aku mengerjap-ngerjapkan mata. Setelah merasa sedikit kuat, dengan pandangan masih berputar-putar aku bangun melewatinya dan segera ke kamar mandi.

“Kamu ini. Mabuk kok pagi-pagi,” komentar Yesung.

Aku ga membalasnya. Dalam pikiranku berputar-putar pikiran takut telat. Dengan cepat aku mandi. Untung tadi malam aku udah keramas, jadi mandi pagi ini bisa cepat. Begitu selesai aku baru sadar bahwa aku ga bawa handuk. Biasanya handukku ada di kamar mandi, tapi karena tadi malam aku keramas, handukku jadi super basah, dan aku jemur di luar. Aduh, gimana nih? Terpaksa deh…

“Sayang!” panggilku.

Ternyata Yesung ada di depan sofa sedang mengutak-atik HP-nya. Dia tampak terkejut melihat kepalaku yang nongol dari pintu kamar mandi.

“Sayaaang, he…” mulaiku malu-malu. “Maaf, tapi bisa ga ambilin andukku di luar? Aku lupa bawa anduk…”

Mukanya cengo banget mendengar permintaanku, tapi lalu tanpa berkata apa-apa dia bangkit dan mengambilkan handukku. Terdengar seruannya dari tempat jemuran, “Andukmu yang warna kuning, ya?”

“Ya, yang itu,” balasku sambil berseru juga.

Sampai di depan pintu kamar mandi dia menyerahkan andukku cepat-cepat. Lalu berkata tanpa menghadapku, “Cepetan. Nanti kamu telat. Aku laper nih, mau sarapan.”

Ciss, dasar. Makan aja diinget-inget. “Iya.”

Aku keluar dengan pakaian tidurku. Ke kamar mengambil baju ganti yang tadi lupa aku ambil, lalu masuk ke kamar mandi lagi untuk berganti baju.

Selama itu Yesung cuman menatapku mondar-mandir.

Keluar dari kamar mandi setelah berganti baju, aku menatap jam dinding dan berteriak, “Waaa! Telat!” dalam bahasa Indonesia.

Dia terkejut mendengar teriakanku, “Hah? Apa?”

Aku berlari masuk kamar membereskan dokumen-dokumen kerjaanku dan memasukkannya asal-asalan ke dalam tas kerjaku. Selesai dengan itu, aku bawa tasku ke luar dan kulemparkan ke sofa. Mendarat tepat di sebelah Yesung. “Mian, Sayang. Ga kena, kan? Kamu mau minum kopi? Maaf ya, sarapannya roti bakar aja ya? Mian…” tanyaku dengan sangat terburu-buru.

“Kamu ga dandan?” tanya Yesung.

Aku menoleh padanya sambil meraba rambutku. Lalu mukaku mengerut hampir menangis, “Aduuuuh, gimana dong niih?! Aku belum sisiran!”

Yesung menghampiriku, “Udah sana kamu dandan aja dulu, biar aku yang bikin kopi.”

“Hah?” aku cengo. Yesung? Mau bikin kopi sendiri? Ga papa gituh?

“Udah cepetan… nanti tambah  telat lho.”

“Eh?! Oke, oke, thanks ya.”

Dari dalam kamar aku berteriak padanya, “Sayang, aku ga minum. Kamu bikin buat kamu sendiri aja.”

Klontang, klontang. Terdengar suara ribut barang-barang di dapur. “Sayang, ada apa? Kamu bisa kan bikin kopi?” tanyaku ga bangun dari dudukku. Tanganku sibuk mengikat rambut.

Tiba-tiba bayangannya terpantul di kaca rias, “Kamu ga minum?”

Aku menjawab, “Ga.” Aku melihat hasil sisiranku. Lumayan rapi. “Ah, selesai.”

“Kamu sarapan?”

“Kayaknya ga deh. Tapi kamu mau sarapan, kan? Aku bikinin toast ya?” aku berjalan menuju dapur.

Dia mengamatiku dengan skeptis. “Udah? Kamu mau keluar begitu aja? Kamu ga pake make up sama sekali?”

“Ah, aku bisa pake di kantor nanti,” jawabku di sebelahnya.

Dia terdiam lalu, “Sudahlah.”

“Hah? Apanya yang sudah?”

“Ayo kita berangkat,” dia menarik tanganku.

“Eh, eh, tapi sarapannya?”

“Di jalan aja.”

“Aku sih bisa, tapi nanti kamu kelaperan di rumah.”

Dia menghela nafas. “Aku ada latihan vokal pagi ini. Jadi aku juga akan berangkat. Kita berangkat bareng aja, aku anter kamu.”

Aku meneliti penampilannya. Emang sih dia udah rapi. Tapi dia bilang apa tadi? Nganter aku? “Jangan ah,” kataku. “Entar kalo ada fans kamu gimana? Aku berangkat sendiri aja pake bus.”

Dia menunjuk jam dinding, jam 8.15. Waaaa!

“Aduh, gimana nih? Pasienku mau chemo jam 9. Aduh Sayang, aku minta maaf banget. Aku pergi dulu ya? Maaf ga bisa buatin kamu sarapan… Maaafff….” Aku menyambar tasku dan berlari ke pintu depan.

Waktu aku sedang memakai sepatu, Yesung mendekatiku dan terus berjalan keluar ke pintu. Kedua kameramen mengikutinya. Aku terkejut ketika melangkah keluar.

“Aku anterin kamu. Udah, ayo.” Dia menarik tanganku tak sabar. Pintu menutup di belakang kami.

Dia menyetir dengan hati-hati. “Kamu bisa pake make-up sekarang,” katanya padaku.

“Oh. Oh iya ya..” aku lalu mengeluarkan bedakku. Mengoleskan tipis-tipis di wajahku, lalu lipstik, dan paling akhir adalah lipgloss. Selesai.

Merasa gerakanku berhenti, Yesung menoleh. “Udah?”

“Udah.”

“Begitu doang?”

Aku mengangguk, “Ne.”

“Kemaren juga kamu begini doang ke kantor?”

“Ne.”

“Kamu setiap hari begini ke kantor?”

“Ne,” aku heran dengan pertanyaannya.

“Ga pake foundation? Maskara? Eye liner?”

Aku terkekeh, “Ngapain? Aku kan di sana buat ngomong, bukan buat pose.”

“Tapi kamu kan cewek,” debatnya sambil berbelok. “Uri Ryeowook aja kalo keluar rumah lebih komplit dandannya dibandingin kamu sekarang.”

“Ya itu kan Ryeowook.. Eh, lho, kok ke sini?” Aku bingung menatap pemandangan di luar mobil. Sebuah kafe.

“Tunggu di sini,” perintahnya tanpa menjawabku. Dia keluar mobil diikuti seorang kameramen.

Aku menatap kameramen yang tinggal bersamaku, “Dia mau ngapain sih?”

“Membeli sarapan,” jawab kameramen.

Plak. Aku memukul dahiku. “Aduh, jadi ga enak,” ujarku menatap punggung Yesung di dalam toko.

Mereka kembali dengan satu kardus donat dan empat cangkir kopi. Aku menerimanya di dalam mobil agar Yesung mudah masuk ke dalam mobil.

“Gomawo, Sayang…” ujarku padanya.

Dia ga menjawabku. Aduh, kayaknya ada yang kesel nih. Aku pun diam aja, ga mau memperburuk suasana hatinya.

“Tolong bukain dong,” pintanya padaku agar membuka kardus donat. Nadanya biasa aja.

“Oh. Aku bukain. Aku ambilin. Mau yang apa?”

“Yang mana aja.”

Aku mengambilkan satu donat untuknya dan dia memakannya dengan tangan kanan sementara tangan kirinya tetap memegang kemudi.

“Sayang, maaf ya.” Aku mencoba membuka topik.

Dia tetap berkonsentrasi pada kemudinya. “Untuk apa?” tanyanya.

“Karena ga bisa bikinin kamu sarapan.”

Dia tidak menanggapi, tapi malah menyuruhku makan donatnya. Aku patuh. Lalu dia berkata lagi, “Itu aku beliin kopi. Minumlah.”

Aku tercenung. Menatap satu cangkir kopi jatahku. Big size.

“Kenapa? Ayo diminum kopinya. Aku ga tau kamu sukanya kopi kaya apa, jadi aku ambil aja gula dan susunya banyak-banyak. Kamu tambahin sendiri sesuai selera kamu.”

“Oh, oh, ya.” Aku pun meneguk kopi itu dan meringis. Pahit.

Dia rupanya memperhatikan, “Gulanya ada di situ kok,” katanya.

Aku mencari-cari gula dan susu di krat kopi. Ketemu. Aku masukkan empat bungkus gula sekaligus dan setengah bungkus susu ke dalam kopiku.

“Kamu suka yang manis-manis ya?” tanyanya.

“Oh,” senyumku.

“Donatnya juga dimakan, kamu harus sarapan.”

Aku mengambil sepotong donat. Merasa terharu dan ga enak sekaligus.

Tanpa bersuara aku memakannya. Setengah habis, aku berkata padanya, “Sayang,”

Dia menoleh tapi tidak menjawab.

“Gomawo.” Aku berusaha memberikannya senyumanku yang paling manis.

Dia membalas senyumku. Sedetik kemudian senyumnya berubah menjadi evil smirk. “Tapi ini ga gratis lho…”

Aku menatapnya. Mobil kami berbelok dan RS Seoul sudah terlihat. “Maksudnya?”

“Kamu harus nyanyi untukku.”

“Mwo?!” aku berteriak. “Ssireo!”

Di balik kacamata hitam yang dipakainya, aku bisa melihat matanya menyipit. “Kamu harusnya bikinin aku sarapan, tapi malah aku yang beliin sarapan. Aku cuman minta kamu nyanyi untuk aku, tapi kamu nolak?”

Shit. Mulai lagi deh dia. Aku monyong. “Jadi kamu ga ikhlas ngebeliin aku sarapan?”

Mobil kami berhenti di depan pintu utama RS. “Aku ngebangunin kamu, nungguin kamu madi, nganterin kamu, nyediain sarapan. Kayaknya pantes deh kalo aku minta bayaran.”

“Hah!” aku ga percaya apa yang dikatakannya. Kuhabiskan setengah donatku lalu, “Aku sudah telat. Sampe ketemu di rumah, Sayang.. Bye.” Kubuka pintu mobil dan melangkah keluar lalu buru-buru masuk ke dalam. Kameramenku berlari-lari menyusul di belakangku.

Samar kudengar panggilannya, “Ya!”. Tapi untunglah kemudian kudengar mobilnya sudah pergi. Aku ga berani menoleh sampai suara mobilnya hampir menghilang.

Aku celingak-celinguk mengawasi benarkah dia udah pergi lalu menoleh ke arah kamera dan cekikikan. Pekerjaanku hari itu diawali dengan tawa.

Kubuka pintu depan. “Aku pulang,” sapaku lemah.

Ah, hari ini aku capek sekali. Reaksi pasca-chemo pasienku sepertinya sangat menyakitkan. Istri pasienku terus-menerus menangis melihat suaminya yang kelihatan sangat tersiksa. Dia mengatakan padaku bahwa ini pertama kalinya dia melihat sesuatu yang begitu mengerikan seperti itu. Akhirnya siksaan suaminya mereda setelah 6 jam kemudian.

Baru aja aku kembali ke kantorku, ada panggilan untukku dari ruang gawat darurat. Di sana ternyata baru masuk seorang korban kecelakaan. Korbannya adalah mahasiswi Indonesia yang sedang berlibur bersama teman-temannya. Temannya yang berjumlah 3 orang itu ribut mengerubungi si korban. Mereka ga bisa bahasa Korea, sementara staf rumah sakit pun kebingungan karena kemampuan bahasa Inggris staf yang jaga waktu itu ga begitu baik.

Ketika aku datang, gadis yang menjadi korban itu berlumuran darah dan tidak sadarkan diri. Ternyata di antara teman-temannya juga ada satu korban yang mengalami patah tulang kaki. Wah, pokoknya ribut sekali di RS tadi. Aku sibuk mondar-mandir antara mengurusi kepentingan administrasi mereka dan menenangkan mereka. Ketika akhirnya semua terkendali, hari sudah gelap dan aku terkejut menyadari bahwa sudah jam 7 malam.

Rumahku sudah terang, jadi kurasa Yesung sudah pulang. Benar saja, sampai di depan tv, dia sedang menantiku, “Dari mana aja, kamu?”

“Saya~ng.. Hari ini melelahkan sekali,” ujarku sambil menggelosor di sofa.

Dia yang melihat tampangku sangat kelelahan segera duduk di sebelahku. “Ya, kamu ga papa? Tanyanya khawatir.

Aku menyandarkan kepala ke sandaran sofa dan memejamkan mata. “Hari ini kacau sekali di RS,” kataku.

Ah, rumah rasanya tenang sekali.

Selama beberapa saat kami berdua diam. Aku merasa ga ingin bicara, hanya ingin menikmati empuknya sofa, nyamannya rumah dan harumnya Yesung.

Dan aku ingin melihatnya.

Aku buka mataku dan melihatnya sedang mengamatiku dengan khawatir. Aku mengamati wajahnya. Bibirnya yang kecil, matanya yang sipit, sosok yang begitu berbeda denganku. Poninya sedikit menutupi mata, membuat tanganku gatal ingin menyingkirkannya. Jadi ini toh rasanya menikah, pikirku saat melihatnya. Hari-harimu boleh saja kacau, tapi saat kau pulang, kau bisa melihat wajah pasanganmu, dan semua terasa akan baik-baik saja.

“Ya!” Yesung menegurku.

Aku mengerjapkan mata. Apa yang kulakukan? Menatapinya seperti itu. Aku memalingkan wajah, “Aku haus,” kataku berpura-pura. Kalau tidak bisa ketahuan nanti kalau aku sedang ‘menikmatinya’.

Aku hendak bangun mengambil air, tapi dia menahan bahuku, “Aku ambilkan,” katanya manis.

Dia kembali dengan segelas air di tangan. Aku meraihnya. “Terima kasih,” kataku.

“Apa yang terjadi?” tanyanya sesudah aku menghabiskan airku.

Aku mulai bercerita padanya. Begitu saja. Aku tidak berpikir ketika aku menceritakannya. Semua kata-kataku mengalir lancar. Sesekali Yesung mengajukan pertanyaan, tapi selebihnya dia hanya mendengarkan. Sampai akhirnya ceritaku selesai.

Kami terdiam sesaat, lalu Yesung berkata, “Kamu pasti capek banget ya?”

Aku tersenyum, “Ya, tapi sekarang udah baik-baik saja. Karena aku pulang dan ada kamu di rumah.”

Ommona, apa yang barusan kubilang?!

Awalnya Yesung tersipu, lalu dia ngomong, “Kan aku emang ada di sini untuk kamu.”

Aku tergelak pelan, “Gombal kamu,” cibirku.

“Eh, ga mau ya udah..”

Mataku berat sekali. aku pun memejamkan mata. Lalu aku menginginkan sesuatu, “Aah, mendengarkan lagu pasti akan lebih enak rasanya,” kataku sambil mengeluarkan iPodku dari dalam tas. Aku menyetelnya dan musik pun mengalun dari iPodku. Kali ini aku mengaktifkan loudspeaker-nya. Kemudian aku menyandarkan lagi kepalaku ke sandaran sofa.

Bisa kurasakan Yesung ikut bersandar. “Sayang,” panggilnya.

Kubuka mataku, melihatnya.

Dia menepuk-nepuk pundaknya. “Kalau mau, kamu bisa menyandar di sini.”

Brssst, aku malu sekali. Bagaimana dia bisa berkata begitu di depan dua kamera yang sedang merekam???

Lalu aku menangkap ekspresinya. Ternyata dia juga malu. Ah, dia manis sekali.

Oke, sekalian saja, pikirku. Aku menggelosor pelan ke pundaknya. Sambil memejamkan mata aku nikmati aroma tubuhnya yang semakin kuat kucium.

“Aah, suamiku,” desahku.

“Mwo?” suaranya terdengar kaget dan malu-malu.

“Nae nampyon,” kataku.

Dia diam saja, lalu tangannya meraih lenganku, meletakkannya di atas perutnya. “Harusnya kamu memeluk suamimu yang baik ini. Begini.”

Aku terkekeh, “Ehehehe.” Aku rangkulkan kedua tanganku memeluk pinggangnya. Dia yang awalnya kaget lalu melingkarkan lengan kirinya di bahuku.

“Lela~h, cepatlah pergi. Biarkan istriku beristirahat,” katanya pelan sambil menepuk-nepuk pundakku.

Terdengar Lenka menyanyikan lagunya,

A second, a minute, an hour, a day goes by
I’m hopeless, just to be by your side
I’m turning the handle it won’t open, don’t make me wait
Cause right now, I need your smile

Aku lalu bergumam menyanyikan lagu itu.

Knock, knock,

When life locked me out, I turn to you
So open the door
Cause you’re all I need right now it’s true
Nothing works like you

Nothing works like you.

Diam. Tak ada yang berbicara.

Aku teringat sesuatu. “Sayang,”

“Hmm,” sahutnya dalam.

“Pagi ini. Terima kasih.”

“Hmm.”

Diam lagi.

Aku hampir terlelap ketika Yesung berbisik, “Sayang, aku harus berangkat.”

Aku melepaskan pelukanku darinya, tapi tidak mau mengangkat kepalaku. “Kepalaku sudah nempel, ga bisa dilepas,” kataku manja.

Dalam kesadaran yang setengah-setengah, aku bertanya dari mana datangnya nada suara itu? Belum pernah sekalipun aku semanja itu dengan pacar-pacarku dulu.

“Sayang, nanti aku telat nih,” bujuknya.

Aku diam saja.

“Ya udah, kalau Leeteuk Hyung marah padaku, aku akan bilang kamu yang ngelarang aku pergi.”

Dalam hati aku tertawa, lemah sekali ancamannya. Tapi aku bangun juga.

Dia langsung bangun mengambil tasnya. Aku melirik jam, sebenarnya udah jam berapa sih? Segitu gugupnya mau berangkat siaran. Emang di tempat siaran ada siapa? Omo, ternyata udah setengah 10? Pantesan aja.

Dia memburu pergi ke pintu depan. Aku menyusulnya.

“Malam ini kamu tidur di kamar aja,” pesannya padaku.

Aku tidak menjawab, malah berkata padanya, “Jangan ngebut. Ini sudah malam, pasti jalanan lengang dan ga bakal macet, jadi santai aja.”

Dia nyengir padaku lalu berlari ke parkiran.

Sesaat kemudian, aku memandangi lampu mobilnya yang bergerak menjauh. Suamiku sudah berangkat. Lagi-lagi malam ini aku berangkat tidur sendiri. Aku menghela nafas dan memasuki rumah.

Kupandangi sofa dan kuputuskan aku tidak akan tidur di kamar. Aku akan tidur di sofa dengan ditemani aroma Yesung.

Malam itu aku jatuh tertidur di sofa. iPod-ku masih menyala. Dan dalam tidurku aku bermimpi Yesung datang dan mencium keningku sebelum memasuki kamar.

D4-KKEUT.

14 thoughts on “[Freelance] The Marriage and Us {Day 4}

  1. aigooo,,, so sweet,,, uri yesung oppa,, jarang-jarang dapet peran yg kaya gini,,
    ahhh,,, itu pasti si bee-nya bukan mimpi kan,,
    hhaaha,,
    ayoo,,, cepat lanjutannnyaaa,,

  2. Hwaaa…yesung-a,,,, >,< romantis bgt…. Q mau jd istrinya yesung.. Mau mau mau….hahahaha lanjutannya jgan lma2 ya thor…

  3. anyeong hasimnika… jeoneun rara imnida… *bow
    aku reader baru disini.. biasanya sih silent reader, hehehe *mianhe… jgn siksa aku…/plaak…
    tp lama2 tgn gatel jg pgn comment XD, FFx seruuu bgt… enak bgt bwt baca… *lo kira jjajangmyun apa???
    mianhe, jd ngelantur… pokoke… hwaiting thor… ditunggu klanjutannya…

  4. baru kali ini liat yesung jadi “normal” yah biasanya dya kan aneh n ga pnh connect gthu hehe ( gi gorok ma para reader n bias yesung oppa,, piss ah) tpi w ska ko
    lanjt k part berkutnya

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s