[Sarangteuk] STAND BY U

title: Stand By U

author : asha eureka-lee

“Heeochija.. geuman mannaja..”

“Kenapa? Apa aku melakukan kesalahan?”

Sebuah gelengan pelan menjawab pertanyaan itu. Semilir angin sore itu berhembus, menyibakkan rambut panjang sesiku gadis itu. Seseorang mengerutkan alis, “Kenapa? Bukankah kau sudah lelah?”

“Lelah apa yang kau maksud?”

Hening.

Desahan pelan, “Kau akan lelah menungguku. Kau tahu itu..”

“Kenapa kau selalu membahas ini?”

“Apa? Apa? Jangan berkata seolah-olah kau tak pernah memikirkannya!” pekikan itu membuat salah satu dari kedua orang yang sedang berdiri di tepian lapangan sebuah sekolah menengah itu terkejut.

Hening.

“Tapi aku mencintaimu..”

“Aku.. juga mencintaimu…”

Kedua orang itu saling bertatapan, sang gadis menghambur ke dalam dekapan sang pria—yang beberapa detik yang lalu masih berstatus kekasihnya—kini menjadi mantan kekasihnya.

“Temukan yang lebih baik dariku, aku tahu kau bisa melakukannya.”

Diam, selama tiga detik berlangsung, gadis itu tersenyum tipis, membalikkan badan dan meninggalkan sang pria—yang dalam waktu yang bersamaan melakukan hal yang sama; membalikkan badan dan tak lagi menoleh ke belakang.

 

== Stand By U ==

“Jangan katakan kau sudah putus dengan Dongwoon,” sebuah sergahan membuat gadis yang diajak bicara menyibakkan poni dan menoleh, “Ng?”

Taemin—sepupu Lee Sarang itu mendesah panjang, seolah mengerti apa yang sedang dipikirkan gadis yang tengah duduk di balkon rumah sendirian, ditemani secangkir kopi panas. Cuaca sedang cerah malam ini, tapi gadis itu malah duduk sendirian, padahal malam sebelumnya ia masih bersama dengan namja bernama Dongwoon yang menemaninya sejak sore hingga menjelang malam.

Sarang meneguk kopinya—tegukan terakhir, “Dari mana kau tahu?”

“Wajahmu seperti itu lagi..”

Sarang mengerutkan alis, “Seperti apa?”

Lightless, clueless, loveless.

“Bicara apa kau, Taemin. Jangan sok tahu,” keluh Sarang, meletakkan mugnya dan duduk lagi. Taemin menarik kursinya, dan duduk di samping Sarang.

“Boleh aku menanyaimu beberapa hal?” tanya Taemin.

Sarang menoleh, heran, “Apa? Jangan tanya yang aneh-aneh.”

“Bisakah kau memberikan aku alasan kenapa kau putus dengan semua kekasihmu?” tanya Taemin, sontak membuat Sarang terkejut, pertanyaannya aneh—tapi cukup membuatnya heran dan menggaruk kepala yang tak gatal; salah tingkah.

Sarang mendesis, “Siapa?”

“Dongwoon, pria bule itu. Kau bilang dia pintar, lalu kenapa kau putus dengannya?” tanya Taemin.

Sarang meletakkan dagunya di telapak tangan, “Dia terlalu pintar. Aku tidak bisa mengimbangi pembicaraannya yang terlalu tinggi. Memangnya ada perempuan yang ingin tampak bodoh di samping kekasihnya?”

Taemin mengangguk-angguk. Mengerti. Ia menyandarkan punggungnya lalu melanjutkan ucapannya, “Lalu soal dancer yang lebih muda darimu dua tahun, Changjo. Kenapa kau memutuskannya?”

Sarang menggaruk kepalanya—lagi, “Dia childish sekali. Sungguh, meskipun aku suka ke-aegyo-annya, tapi.. ya, kau tahu Taemin, aku seperti mengasuh anak kecil.”

“Ryeowook? Senior kita di kampus yang suaranya waww itu, kenapa?” tagih Taemin, belum puas.

Sarang mengangkat bahu, “Dia terlalu penjaga. Aku kan bukan anak kecil yang harus dipantau setiap saat, apalagi ia sampai memasakkan aku setiap makan siang. Bukannya aku tidak suka dengan perhatiannya, tapi itu terlalu berlebihan, Taemin.”

“Lee Joon?”

Sarang tertawa pelan, “Siapa yang tahan dengan playboy sepertinya? Dia memang menyenangkan, tapi tetap saja playboy.

“Soohyun?”

“Terlalu baik. Aku kalah baik darinya, uuhh—oke, bukan itu alasan sebenarnya. Aku hanya, tidak tahan melihat dia terlalu ramah pada semua gadis.”

Taemin mengerutkan alis, satu persatu alasan yang diucapkan Sarang tampak masuk akal. Ia melanjutkan investigasinya pada sepupunya itu.

“Woohyun? Dia tampan kan?” tebak Taemin.

Sarang mengangguk, “Ya. Tapi dia selalu lupa janjinya menemuiku.”

“Lalu bagaimana soal Siwan? Dia tampan, tidak begitu tinggi, dia juga baik, tidak playboy, kurasa..” ungkap Taemin.

Gadis di sampingnya itu meregangkan kedua kakinya, “Ya, benar. Tapi dia terlalu boros, hobi shopping-nya itu berlawanan sekali denganku. Kau tahu sendiri, aku tidak begitu suka ke mal, sementara Siwan fashionista.

Taemin berdecak, “Jungshin? Bassis itu romantis kan?”

“Ya.”

“Lalu kenapa putus?” ulang Taemin. Sarang mengeluh panjang, “Karena aku capek bertengkar dengannya karena aku tidak paham dengan ungkapan yang ia berikan padaku. Walaupun manis, tapi kalau aku tidak paham, sama saja kan.”

Taemin diam.

Sarang melirik sepupunya, “Sudah selesai wawancaramu, Lee Taemin?”

Taemin menggeleng, “Belum. Kau jawab pertanyaanku kali ini, dari semua orang yang kusebutkan, kau paling lama berpacaran dengan siapa?”

“Err—sepertinya, Dongwoon. Dua bulan.”

Taemin mengerang, “Apa aku sudah menyebutkan semua mantan kekasihmu?”

“Ya, semua yang kau kenal sudah kau sebut. Kenapa sih? Kau ingin apa sebenarnya?” tanya Sarang tidak mengerti maksud Taemin menginterogasinya seperti ini.

Taemin menggeleng, “Apa masih ada lagi?”

“Ada.”

“Siapa?” tanya Taemin cepat. Sarang meluruskan kaki, “Kau tidak kenal. Percuma.”

“Kalau begitu kau harus beri tahu aku, agar aku mengenalnya,” pinta Taemin. Sarang menggeleng, “Tidak perlu mengenal orang yang tak perlu kau kenal. Sudah lah Taemin, aku sendiri lupa bagaimana rupa orang itu. Lagi pula, kenapa sih kau ini? Urus saja kekasihmu yang diam-diam adalah siluman kuda.”

“Siluman kuda? Daehyun maksudmu?” tanya Taemin.

“Ya.”

Taemin mendesis, “Jangan sebut kekasihku seperti itu..”

“Maksudku, dia kan selalu punya kuncir kuda, bukan karena wajahnya mirip kuda. Jangan terlalu sensitif ah, kau ini, tidak asyik sekali,” keluh Sarang. Kali ini ia bangkit dari duduknya.

Sarang memijat lehernya dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya dibiarkan bergelantung bebas. Tiba-tiba Taemin berteriak, membuat Sarang menghentikan langkahnya dalam hitungan sepersekian detik.

“Namanya Park Jungsoo kan?”

Hening.

Taemin bangkit, berdiri di samping Sarang yang lebih pendek darinya lima belas senti atau dua puluh senti.  Gadis itu terdiam dalam tegapnya. Taemin menengok ke arah wajah Sarang. Tidak menemukan sebuah respon, tapi Taemin tahu jelas jawabannya.

“Kau tidak akan membahas dia lagi kan, Taemin?” tanya Sarang—lirih.

Taemin mengangkat bahu, “Aku ingin tahu. Sampai kau menceritakannya sendiri padaku, aku akan diam.”

Sarang mendongak, menatap Taemin yang jelas lebih tinggi darinya, “Aku tidak ingin cerita Taemin, jebal.

“Dia yang meninggalkanmu?” tanya Taemin. Sarang menggeleng, “Aku yang meninggalkannya.”

“Kenapa?” tanya Taemin lagi, rupanya investigasi itu belum berakhir sepenuhnya.

Sarang membalikkan badan, duduk kembali, menyandarkan punggungnya dan menahan nafas. Gadis itu menatap langit, mendadak menjadi mendung, semendung hatinya.

“Karena aku terlalu kecil baginya.”

“Kecil?”

Sarang mendesah, “Aku dan dia terpaut sepuluh tahun.”

“Berapa lama kalian pacaran?” tanya Taemin, menarik kursi dan duduk di samping Sarang lagi. Sarang menerawang, seolah mengingat-ingat, “Satu tahun lima bulan..”

Taemin terhenyak. Sepupunya itu kini tak lagi memancarkan keceriaan di wajahnya, hanya ada kesenduan, dan wajah sedih, “Kau..”

“Kau sudah tahu alasannya. Sekarang bisakah kita hentikan wawancara ini? Daehyun sudah menunggumu di bawah,” ucap Sarang, menunjuk ke lantai dasar—di mana seorang gadis berkuncir kuda berjalan pelan; baru saja tiba.

== Stand By U ==

Lapangan SMA di daerah Gwanghamun tanpak ramai, tentu saja karena bel pulang sekolah baru saja berbunyi dan semua siswa-siswi berlarian keluar menuju lapangan. Sarang yang baru saja menyelesaikan tugas terakhirnya di sekolah ini—menyiapkan acara perpisahan angkatannya, pun melangkahkan kaki menyusuri koridor.

Sarang berhenti di sebuah kedai es krim tak jauh dari gerbang sekolahnya. Baru saja ia akan mengatakan pada si penjual, bahwa ia ingin es krim cokelat-vanilla, tapi begitu ia menangkap sesosok yang ia kenal, gadis itu membalikkan badan. Membatalkan keinginannya makan es krim di musim panas yang sangat terik hari ini.

“Hei, jjam-kkanmanyo..” seru seseorang.

Sarang menggigit bibir bagian bawahnya, masih berjalan dengan langkah-langkah normal. Derap langkah lainnya mencoba menyusul, hingga seseorang itu pun akhirnya berjalan di samping Sarang.

“Kenapa tidak jadi beli es krim?” tanyanya.

Sarang menggeleng, “Mendadak tidak ingin lagi.”

Tidak ada respon. Keduanya hanya berjalan dalam diam. Sepanjang trotoar yang mereka lewati beriringan. Sampai pada menit ke tujuh, namja itu membuka mulutnya.

“Apa kabar?” tanyanya.

Sarang menahan nafas, “Baik. Kau?”

Jeodo. Kau sudah lulus SMA ya, cepat sekali,” ucap namja itu. Sarang membelakangkan bandonya, hingga poninya ikut tersibak ke belakang, “Ya. Sudah lama sekali.”

Park Jungsoo—namja itu mendahului langkah Sarang, kemudian sengaja berhenti di hadapan gadis itu, membuat Sarang mendongak, terpaksa.

Tiba-tiba saja Jungsoo memeluk Sarang—erat, “Ya Tuhan.. betapa aku merindukanmu..”

Sarang diam.

Tak membalas pelukan itu, tak menolak pelukan itu. Ia hanya diam. Mengerjap dalam kesunyian yang ia ciptakan di antara mereka. Jungsoo masih memeluk gadis itu, membenamkan wajahnya di sela-sela rambut hitam Sarang—wangi apel, tak kunjung berubah sejak dulu.

Rrrrtt… Rrrrttt…

Getaran ponsel dari saku Sarang, membuat Jungsoo melepas pelukannya. Gadis itu merogoh saku, dan menatap ponselnya sebelum menekan tombol untuk menerima telepon.

Yeoboseyo. Ah, kau rupanya, Oppa. Kenapa nomormu ganti? Hilang? Dasar ceroboh. Ya, ya, akan kusimpan nomormu ini, tentu saja. Apa? Ya, aku tahu, kau juga jangan lupa makan siang. Yaaaa, araseo. Oke, daah,” Sarang menekan tombol lagi dan mematikan telepon.

Jungsoo menatapnya, “Siapa?”

“Soohyun.”

“Siapa?” tanya Jungsoo lagi.

“Apa perlu kuulangi lagi? Soohyun,” jawab Sarang sedikit sewot, nadanya naik meskipun tak terlalu signifikan.

Jungsoo menahan nafas, ia menggaruk leher dengan tangan kirinya—canggung, “Maaf.”

Sarang masih diam. Keduanya berdiri dalam keadaan yang sangat canggung, sementara Sarang terus menolak untuk saling bertatapan, mencari arah lain untuk di pandang.

“Aku senang kau baik-baik saja,” ucap Jungsoo.

Sarang tersenyum tipis, “Ya, tidak pernah lebih baik dari ini.”

Jungsoo diam. Sarang melirik jam tangannya, lalu beranjak melangkah, “Maaf, aku ada janji dengan seseorang lima menit lagi. Sampai jumpa, Jungsoo-ssi.”

Jungsoo terhenyak, ia terpaksa merelakan gadis itu meninggalkannya. Entah kenapa, menatap punggung gadis itu, dan rambut hitam kelamnya yang panjang dengan wangi apel, membuat jantungnya berdegup kencang. Lebih kencang dari biasanya.

== Stand By U ==

Gadis itu menggelayut manja. Mendongak, menatap pria yang sedang menggenggam tangan kanannya. Sore itu sangat cerah, pasangan yang tampak manis itu berjalan berdua beriringan di trotoar yang sepi—menghabiskan waktu sore hingga senja.

“Oppa, teman-temanku selalu bertanya padaku soal umurmu,” ucap Sarang pendek.

Jungsoo mengerutkan alis, “Lalu? Kau menjawab apa?”

“Aku diam saja. Tapi kemudian mereka mengolokku berpacaran dengan ahjussi,” lanjut Sarang. Jungsoo terdiam, air mukanya berubah. Sarang menyadari sikap aneh Jungsoo, gadis itu mendongak.

“Oppa..” panggil Sarang.

Jungsoo mengangkat alis, tersenyum tipis—senyum yang terpaksa, “Ya?”

“Aku tidak peduli dengan apa yang mereka bilang. Semua orang berhak mencintai dan dicintai kan?” tanya Sarang, seolah ingin menyakinkan jawabannya itu sejalan dengan jawaban Jungsoo.

Jungsoo mengangguk, “Iya.”

Sarang tersenyum, menambahi, “Kau jangan khawatir soal aku. Aku tidak apa-apa kok diolok berpacaran dengan ahjussi. Kalau diolok berpacaran dengan haraboji pun, aku tidak apa-apa. Selama itu kamu, aku tidak apa-apa.”

Jungsoo tersenyum. Sarang mempererat genggaman tangannya pada lengan Jungsoo, pria itu mendesah pelan, berharap gadis itu tidak menyadari desahannya.

 

== Stand By U ==

Sebenarnya bukan tanpa alasan Sarang kini duduk di bawah pohon beringin yang sangat besar dan rimbun, gadis itu tengah menunggu seseorang yang sudah ada janji dengannya siang ini di tempat itu. Sarang memainkan ponselnya, mengecek jam, meskipun ia bisa melihat ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan kirinya.

“Sarang-ah..”

Sarang menoleh—menahan nafas pada detik yang sama. Bukan sosok di hadapannya ini yang sedang ia tunggu, tapi gadis itu tak mungkin mendengus dan mengusir namja itu.

“Sedang apa di sini?” tanya Jungsoo sembari melirik ke arah kanan dan kiri, menyadari Sarang sedang sendirian.

Gadis itu menjawab pendek, “Menunggu.”

“Siapa?”

“Soohyun.”

Jungsoo diam. Ia tidak tahu harus memberi respon seperti apa lagi. Gadis itu menatap langit, cerah. Jungsoo menahan nafas, “Dia.. engg—kekasihmu ya?”

“Apa aku harus menjawab pertanyaan itu?” tanya Sarang defensif.

Jungsoo menggeleng, “Ti-tidak. Tidak perlu.”

Hening.

Lagi-lagi keadaan mereka sangat canggung.

“Tahun ini kau delapan belas tahun ya?” tanya Jungsoo—memecah keheningan. Yang ditanya hanya mengangguk, lalu menyahut, “Dan kau dua puluh delapan.”

“Ya, sepuluh tahun lebih tua darimu..” desis Jungsoo.

“Sarang!!” sebuah pekikan membuat Sarang dan Jungsoo menoleh responsif. Sarang langsung terkekeh melihat Soohyun berjalan dengan kakinya yang pincang, kaki kanannya terbalut gips dan memaksanya berjalan dengan sebuah tongkat.

Sarang berlari kecil menghampiri Soohyun, membantu namja itu berjalan. Jungsoo hanya mengamati. Soohyun melirik Sarang, meminta penjelasan soal Jungsoo yang berada di spot favorit mereka berdua.

“Oh, mian. Soohyun Oppa, ini Jungsoo-ssi. Jungsoo-ssi, ini Soohyun,” ucap Sarang memperkenalkan dua pria itu dalam satu kalimat sekaligus. Jungsoo dan Soohyun pun memberikan salam, membungkuk satu sama lain dan tersenyum.

Jungsoo tersenyum pahit, “Kekasihmu tampan Sarang-ah. Kalau begitu, aku permisi. Annyeong.”

Sepeninggal Jungsoo, Soohyun mengerutkan alis, “Apa.. kita..”

“Tidak.”

“Lalu kenapa dia bilang aku kekasihmu?” tanya Soohyun. Sarang mengangkat bahu, “Tidak tahu, harusnya kau tanyakan pada dia tadi. Memangnya aku yang mengatur mulutnya?”

“Hei hei..” omel Soohyun.

Sarang mendengus, “Kau kenapa bisa seceroboh ini sih, Oppa? Kemarin ponselmu yang hilang, sekarang tulang kakimu yang bergeser. Kau ini.. benar-benar..”

Soohyun diam.

Sarang mengerutkan alis. Ia menoleh ke arah Sarang, “Jadi pria seperti itu ya, yang tak bisa digantikan oleh siapa pun?”

“Apa maksudmu, Oppa?”

Soohyun menggeleng, ia mengambil tongkatnya, berdiri dengan kekuatannya sendiri, “Jungsoo. Yang ada di hatimu hanya dia, kan?”

Sarang terhenyak. Pria sebaik Soohyun yang selalu menampilkan wajah cerianya kini menatapnya dengan tatapan sendu, seolah ia tahu banyak soal ini. Sarang menghela nafas panjang. Gadis itu tak bisa lagi berbicara, Soohyun tersenyum tipis.

“Daehyun yang bilang padaku untuk tidak berharap banyak atas hubungan kita. Jadi mulai saat ini pun, aku akan berhenti memaksamu untuk kembali jadi kekasihku,” ucap Soohyun lirih.

Sarang mengerang, “Daehyun tidak tahu apa-apa. Sungguh.”

“Kalau begitu, bisakah aku menjadi kekasihmu lagi?” tanya Soohyun.

Sarang terdiam.

“Aku meminta bukan karena aku ingin dikasihani, melainkan karena aku mencintaimu. Kalau kau merasa kasihan padaku, maka saat itu juga kan akan mulai menyakitiku, Sarang..” lanjut Soohyun.

Sarang tergugu. Ia memandang Soohyun yang masih berdiri—sementara ia duduk di bangku panjang di bawah pohon beringin, sama seperti posisinya sejak awal. Gadis itu menggigit bibirnya, meremas kedua kepalan tangannya.

Soohyun tersenyum, “Kau memang ahlinya dalam hal menyembunyikan apa yang sedang kau pikirkan, apa yang kau sembunyikan. Tapi semua orang pasti bisa melihat bagaimana kalian saling mencintai satu sama lain..”

“Dia bukan siapa-siapa.”

“Semakin kau bilang tidak, semakin terbukti bahwa yang terjadi sesungguhnya adalah sebaliknya. Kau tahu?” kata Soohyun.

Sarang menyesali ucapannya. Ia menunduk kali ini. Dan saat ia mendongak, Soohyun sudah tidak ada di sana. Gadis itu menarik nafas panjang.

== Stand By U ==

Taemin mengerutkan alis, begitu juga Daehyun. Kepulangan Sarang yang diluar rencana—Sarang tidak biasa pulang sekolah pukul sepuluh—membuat dua orang itu menoleh begitu pintu terbuka dan dibanting.

“Sarang Eonni..” panggil Daehyun.

Sarang duduk di meja, menghadap ke arah Taemin dan Daehyun. Ia menatap tajam sepupu dan juniornya itu. Sementara dua orang itu mulai gemetar, sedikit gugup dan sedikit takut.

“Kau bicara apa saja pada Soohyun?” tanya Sarang, menunjuk wajah Daehyun dengan telunjuknya. Daehyun mengerang pendek, “Engg—itu..”

“Apa kau juga bilang hal yang sama pada semua mantan kekasihku?” tanya Sarang, masih menatap wajah Daehyun tajam.

Daehyun melirik Taemin, hingga namja itu pun yang akhirnya menjawab, “Aku yang menyuruh Daehyun, Sarang.”

“Lalu kalau kau yang menyuruh, semua tindakan itu dianggap benar? Apa karena kau saudara sepupuku, lantas mencampuri urusan pribadi orang lain dikatakan boleh?”  tanya Sarang, nadanya serius.

Taemin menggeleng, “Bukan itu maksudku..”

“Aku tahu maksudmu!!” potong Sarang emosi.

Taemin dan Daehyun pun memilih diam.

Sarang merebahkan tubuhnya ke sofa single yang berada tak jauh dari tempat duduk Taemin dan Daehyun. Gadis itu mendesah panjang, “Maaf.”

Daehyun dan Taemin saling bertatapan.

Sarang melanjutkan kalimatnya, “Maaf aku marah-marah tidak jelas. Aku hanya—mm..”

“Tidak siap menghadapi kenyataan bahwa Jungsoo-mu datang lagi ke dalam kehidupanmu, apa aku benar?” tanya Taemin. Sarang mengangkat bahu, “Dia bukan Jungsoo-ku.”

Daehyun menatap Sarang,  “Eonni..”

“Ng?”

Mian..”

Sarang mengibaskan tangannya, “Tidak apa-apa, Daehyun. Aku tidak marah padamu, jinjja..

Daehyun tersenyum, lega. Gadis yang duduk di hadapannya itu tak lagi menampilkan wajah seram yang sangat ia takuti. Taemin menarik nafas, “Kau bertemu dia kan?”

“Tahu dari mana kau?”

Taemin mengangkat bahu, “Itu tidak penting, karena aku tahu itu dari ekspresi wajahmu yang mudah sekali ditebak, kau tahu aku ini saudaramu..”

Sarang terdiam.

“Kau rindu padanya?” tanya Taemin.

Sarang mengerutkan kening, “Apa kau sudah ganti profesi menjadi polisi kasus investigasi, Lee Taemin?”

Taemin terkekeh, “Ya, bisa jadi. Jawab saja..”

“Kalau kau tanya rindu atau tidak, maka jawabannya adalah tidak.”

Taemin melirik Daehyun, gadis itu tengah memainkan kukunya. Taemin membiarkan kekasihnya itu sibuk dengan dirinya sendiri, toh ia sedang menginterogasi sepupunya.

“Tidak? Yakin?”

Sarang mengangkat bahu, “Aku capek. Nanti sore aku harus ke sekolah untuk mengurusi acara perpisahan senior. Kau dan Daehyun boleh main sampai malam, tapi jangan naik ke lantai atas.”

“Aku belum selesai menanyaimu, Sarang-ah..”

Sarang mendesis, “Aku capek. Lain kali aku pasti akan menjawab pertanyaanmu. Tenang saja.”

Gadis itu naik ke lantai atas, menuju kamarnya dan merebahkan tubuh mungilnya di atas ranjang, seiring dengan desah nafasnya, Sarang mengerjap. Mencoba memejamkan matanya.

Setelah satu jam berusaha tidur, Sarang akhirnya kelelahan, dan berhenti mencoba tidur. Ia pun keluar ke balkon, duduk di tepian jendela, memandang langit dan jalanan yang semakin ramai. Ia tahu pikirannya tidak sedang bersamanya kali ini.

== Stand By U ==

Ball-room tampak lengang.

Sarang menyapukan pandangannya  ke seluruh penjuru ball-room, kemudian memutuskan untuk duduk di sebuah sudut yang tampaknya menyenangkan bagi gadis itu. Ia menyibak poni dari rambut hitamnya yang terurai bebas.

Tiba-tiba ia teringat sesuatu.

Deja vu.

Sarang teringat pada sebuah kejadian yang terjadi dua tahun lalu, di ball-room yang sama, di sudut ruangan yang sama.

Teriakan dan suara tawa menggelegar. Sarang menutup telinganya, suara tawa itu terasa sangat menyakitkan dadanya. Cemoohan demi cemoohan ia terima, satu persatu hinaan hanya ia dengar. Berharap itu akan berlalu begitu saja, tapi tidak.

Ternyata sampai detik di hidupnya yang nyata ini, rasa sakit itu masih terasa.

 

“Hahahahahaha.. jadi kau memacari Ahjussi?”

“Dasar Sarang bodoh!! Ada banyak pria di dunia ini, kenapa kau begitu bodoh menyukai pria yang sepuluh tahun lebih tua darimu? Hahaha..”

“Ahjussi-mu itu sakit pedofilia ya? Hahahaha..”

“Jangan-jangan kau diguna-guna! Dia hanya perlu keperawananmu!”

 

Sarang menekan dadanya. Deja vu itu terasa sangat menyakitkan. Ia tidak ingin mengingat bagian itu. Sarang tak ingin mengenang hal-hal menyakitkan yang menjadi alasannya menangis. Sebenarnya ia hanya ingin mengingat bagian di mana ia dan Jungsoo sama-sama berusaha menyatukan begitu banyak perbedaan diantara mereka.

Sarang tidak pernah protes soal umur Jungsoo, ia juga tak pernah mengeluh soal itu. Jungsoo juga tidak pernah menyinggung mengenai hal ini.

Sarang tidak pernah mengomel meskipun Jungsoo selalu memuja setiap barang berwarna putih, sementara Sarang sama sekali tidak suka warna putih.

Dan bagaimana Sarang memperlakukan Jungsoo seperti layaknya gadis pada kekasihnya, sama seperti  Jungsoo memperlakukan Sarang layaknya pria pada kekasihnya.

Tiba-tiba..

“AWWWWWW!!!”

Sarang terlonjak dari duduknya. Ia menatap kakinya yang telanjang—tanpa sandal, bahkan kaus kaki—itu tengah mengucurkan darah segar. Sebuah paku menancap diujung kanan kakinya, dekat kelingking. Sarang mengerjap, bagaimana ia tidak sadar bahwa ia sedang menapaki lantai di mana banyak paku mencuat di sekitarnya.

Gadis itu meringis, “Aish..”

Ia melirik jam tangan di pergelangannya, sudah pukul 7 P.M, tapi ia jelas tidak bisa kemana-mana dengan kondisi kaki seperti itu. Darahnya masing mengucur deras, membuat Sarang menggigit bibir bagian bawahnya, cemas sekaligus menahan rasa sakit dan perih yang ditimbulkan dari luka luar itu.

Ia merogoh sakunya, mengambil ponsel.

“Sial. Kenapa mati pada saat genting seperti ini! Taemin tidak mungkin menjemputku kalau aku tidak menghubunginya lebih dulu. Lagi pula, jam segini siapa yang masih di sekolah kecuali gadis gila sepertiku. Sial,” rutuk Sarang dalam hati.

Sarang bangkit dengan satu kaki, tangan kirinya menenteng sepatu sementara tangan kanannya menjalar ke dinding, mencari pegangan untuk tumpuannya berjalan, mengingat ia hanya bisa berjalan dengan satu kaki. Sarang mendengus.

“Gara-gara menertawai Soohyun, apa aku kena balasannya seperti ini. Aish..” keluhnya lagi.

Sarang berjalan tertatih, menata setiap langkah kakinya. Sesekali ia mendesah, masih dengan menggigit bagian bawah bibirnya. Menahan sakit.

“Naik.”

Sarang terkejut bukan main, ia sampai kehilangan keseimbangan dan terjatuh begitu ia melihat secara tiba-tiba sebuah punggung di hadapannya. Sarang merintih pelan, mengusap-usap pantatnya yang mencium lantai secara kasar.

Namja itu membalikkan badan, membantu Sarang berdiri lagi, “Maaf.”

“Sedang apa kau di sini hah?” omel Sarang—nadanya berubah.

Jungsoo—pria itu terdiam, menanggapi nada bicara Sarang yang seolah tak ingin melihatnya. Ia menahan nafas, “Aku..”

“Ah sudahlah,” Sarang mengibaskan tangannya, menolak mendengar penjelasan Jungsoo.

Jungsoo meraih lengan Sarang saat gadis itu berupaya berjalan lagi dengan metode yang sama. Jungsoo lagi-lagi membungkuk di depan Sarang. Menyodorkan punggungnya.

“Naiklah. Kalau kau paksa berjalan, lukanya akan semakin lebar. Darahnya akan semakin banyak. Sakitnya pun juga akan semakin terasa, jangan membantahku, dan cepat naik,” kata Jungsoo cepat.

Sarang mendesah, “Kenapa aku harus menurutimu?”

“Kau kenapa sih? Aku hanya ingin membawamu ke rumah sakit dan mengobati lukanmu. Jangan bersikap seolah-olah aku akan menculikmu,” keluh Jungsoo.

Sarang terhenyak.

“Aku.. tidak perlu ke rumah sakit,” bantah Sarang, kembali berjalan tertatih.

Jungsoo beranjak berdiri, “Begitu?”

Sarang diam.

“Aku mencemaskanmu, kau tahu. Tidak bisa kah kau hanya menurutiku saja, demi mengusir seluruh kekhawatiranku? Kenapa begitu tidak peka pada kekuatiran orang lain?” tanya Jungsoo.

“Aku hanya kena paku, bukan sedang sekarat.”

Jungsoo melenguh, “Apa kau tidak tahu, terkena paku saja bisa menyebabkan hal yang fatal. Apalagi kalau paku yang mengenaimu sudah berkarat. Pembuluh darah yang terkena senyawa paku berkarat pun bisa menyebabkan kau sekarat. Apa kau tidak pernah belajar IPA di sekolah?”

Sarang diam. Membuat Jungsoo dalam sekejap merasa bersalah, “Maaf—aku tidak bermaksud seperti itu..”

“Tidak ada yang mengharapkan kau ada di sini, kabwa. Jangan halangi langkahku,” Sarang menyerobot sela-sela ruang di antara dinding dan tubuh Jungsoo. Reflek Jungsoo menghindar.

Jungsoo membalikkan badan, menghadap Sarang yang kini ada lima langkah di depannya, “Apa kau selalu bersikap seperti ini pada mantan kekasihmu, atau hanya padaku?”

Sarang tidak menyahut. Gadis itu terus berjalan.

Jungsoo melangkah dengan langkah cepat, dan berdiri di hadapan Sarang—sekali lagi. Gadis itu menatap Jungsoo lurus. Jungsoo menyodorkan punggungnya—lagi.

“Terakhir kali, Sarang. Jebal, naiklah, jangan buat aku semakin kuatir dengan darahmu,” pinta Jungsoo.

Sarang menggigit bibirnya—ragu. Jungsoo menghela nafas panjang, “Terakhir kali, Sarang. Dan aku tidak akan memaksamu apapun lagi.”

Akhirnya, Sarang pun naik ke punggung Jungsoo. Namja itu tersenyum tipis, dan kemudian melangkah ke luar gedung sekolah. Langit sudah gelap, tentu saja. Keduanya hanya diam dalam perjalanan mereka ke rumah sakit. Tidak ada yang memulai percakapan, pun Jungsoo yang menahan begitu banyak pertanyaan dan rangkaian kalimat di ujung lidahnya.

Koridor rumah sakit tampak lengang, apalagi di ruang instalasi gawat darurat. Hanya ada beberapa pasien yang sedang duduk di sana. Begitu Jungsoo mendorong pintu, seorang perawat datang dan membantu Jungsoo menurunkan Sarang dari punggung Jungsoo ke sebuah matras terbalut sprei berlogokan lambang rumah sakit.

“Ada yang bisa saya bantu pada putri anda?” tanya seorang dokter wanita menghampiri Sarang setelah selesai dengan salah satu pasien yang lain.

Sarang mendengus, menyahuti pertanyaan dokter itu dengan ketus, “Kakiku, lihat kakiku.”

“Oh, kalau begitu kita langsung ke ruang observasi ya, kita akan lepas pakunya sebelum terlalu dalam,” kata dokter itu lagi, tidak begitu menghiraukan sikap ketus Sarang.

Jungsoo pun membantu salah seorang perawat pria yang mendorong ranjang beroda yang mana ditiduri Sarang. Gadis itu merengut, masih tidak terima dan tersinggung atas ucapan dokter barusan. Entah karena alasan apa mengapa ia bisa begitu marah.

“Karena ini luka luar, jadi saya tidak pakai bius tidak apa-apa?” tanya dokter itu.

Sarang menjawab pendek, “Terserah.”

Jungsoo memandang Sarang heran, tapi gadis itu langsung melengos, dan menatap perawat yang kini sedang mencuci kakinya dengan alkohol. Setelah kakinya bersih dari darah yang mengucur, dan lukanya pun sudah bersih oleh alkohol, Dokter itu pun mengambil sebuah alat mirip gunting tetapi lebih berbau medis, dan mengosok-gosokkan segumul kapas yang basah oleh alkohol—atau apapun, yang jelas rasanya dingin—ke luka Sarang, sebelum menarik keras paku yang menancap di sana.

“HUAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!” pekik Sarang, reflek Jungsoo mengerutkan wajahnya, seolah ikut merasakan sakit yang dirasakan oleh Sarang.

Seiring gadis itu menangis tanpa suara, setelah pekikan kencangnya, menggigit bibir bawahnya hingga memerah. Jungsoo membungkukkan badan, membisiki Sarang lirih, “Jangan gigit bibirmu..”

Sarang tidak peduli, dari pada ia harus menangis di hadapan orang banyak—meskipun ia sering melakukannya saat di sekolah—tapi tidak untuk di hadapan dokter yang baru saja diketusinya. Jungsoo menggenggam pundak Sarang. Dalam keadaan terbaring pun, gadis itu masih gemetar—menahan rasa sakit.

Kakinya berdarah lagi, Jungsoo bergidik melihat darah Sarang yang mengucur deras bagai mata air. Lubang yang disebabkan oleh paku itu rupanya cukup lebar, dan dekat dengan pembuluh darah, itu sebabnya darah yang keluar lebih banyak.

Sebuah cairan dingin—lagi, mengguyur kaki Sarang. Gadis itu meringis, menahan rasa dingin sekaligus perih yang timbul. Tak lama kemudian ia perawat pria itu membungkus kaki Sarang dengan perban dan hansaplast, agar tidak infeksi terkena debu di luar ruangan yang tidak steril.

Sarang kini duduk di ranjangnya, setelah ranjangnya keluar dari ruang observasi. Jungsoo berdiri di sampingnya, “Manhi aphayo?”

“Tentu saja. Kenapa begitu masih bisa bertanya? Kau tidak lihat betapa banyak darah yang keluar?” omel Sarang, ia menunjuk-nunjuk kakinya.

Jungsoo tersenyum, “Bibirmu merah. Jangan kau gigit lagi, nanti akan berdarah.”

“Biar saja.”

“Kenapa kau ketus sekali pada dokter itu?” tanya Jungsoo—iseng, teringat ucapan ketus Sarang pada dokter itu saat di ruang observasi.

Sarang melenguh, “Bisa-bisanya dia menganggap aku anakmu.”

“Oh..”

“Memangnya kau terlihat setua itu? Kau masih dua puluh delapan tahun dan tidak mungkin punya anak seumur delapan belas tahun! Memangnya kau menikah umur sepuluh?” omel Sarang panjang, sengaja, agar dokter itu mendengar.

Benar, dokter itu terhenyak dan langsung menghampiri Sarang dan Jungsoo, membungkukkan badan, “Jwoisonghamnida. Saya tidak tahu kalau anda ini kakak dari pasien..”

“Bukan!” bantah Sarang.

Dokter itu menatap Jungsoo serba salah. Sarang mendesis, “Aahh—sudahlah, Jungsoo-ah, cepat gendong aku pulang. Aku malas di rumah sakit, bau obat tahu!”

Jungsoo langsung menuruti permintaan Sarang, ia memberi tanda pada dokter itu untuk memaklumi Sarang. Dokter itu hanya bisa tersenyum.

== Stand By U ==

Sepanjang perjalanan menuju rumah Sarang, gadis itu hanya terdiam dalam gendongan punggung Jungsoo. Begitu pula Jungsoo, ia hanya diam. Tidak ingin memulai pembicaraan. Suasana malam semakin mencekam, mereka hanya berjalan kaki dari rumah sakit ke blok tempat rumah Sarang berada.

“Aku berat, turunkan saja.”

Jungsoo pura-pura tak mendengar.

“Hei, kau tuli? Turunkan aku!” pinta Sarang, mengulang. Jungsoo tak menghentikan langkahnya, justru menyahut, “Aku sudah sering menggendongmu dulu. Kalau aku keberatan menggendongmu, sudah dari dulu aku tak akan mau menggendongmu lagi.”

Sarang diam.

Jungsoo mencoba mencairkan suasana, “Apa kau ingin menelepon Soohyun? Tapi kakinya juga sedang terluka, apa tidak apa-apa?”

“Ponselku mati.”

Jungsoo menyahut lagi, “Kau bisa pakai ponselku.”

“Aku tidak hafal nomornya, dan untuk apa aku menghafal nomornya,” keluh Sarang.

“Dulu kau hafal nomorku,” bantah Jungsoo, mencoba mencarikan alasan mengapa.

Sarang mendesis, “Karena kau dulu pacarku.”

“Tapi dia kan—dia..” desah Jungsoo. Sarang menggeleng, meskipun Jungsoo tak melihat gelengan gadis itu, tapi Jungsoo bisa merasakan pergerakan leher Sarang.

“Dia mantan kekasihku. Kurasa kau tidak perlu tahu alasan kenapa kami putus kan?” ucap Sarang.

Jungsoo menarik nafas panjang, “Ya, apapun alasannya, yang kutahu itu pasti bukan karena ia lebih tua darimu sepuluh tahun jauhnya.”

Sarang terhenyak. Jungsoo menghela nafas panjang, kali ini lebih panjang dari yang sedari tadi ia hela.

“Maaf..” ucap Jungsoo pendek.

Sarang tak menyahut. Jungsoo menghentikan langkahnya, “Hwanasseo?”

Ani. Untuk apa marah? Yang kau katakan kan benar adanya,” lanjut Sarang.

Jungsoo melanjutkan langkah kakinya, “Maaf, Sarang-ah..”

“Untuk?”

Jungsoo terdiam untuk beberapa menit, gadis yang sedang berbicara dengannya pun hanya diam—tak memaksa namja itu untuk meneruskan kalimatnya walaupun ia ingin tahu. Jungsoo masih berjalan dengan langkah kaki yang sama.

“Soal Inhyeong dulu. Dia tak pernah ingin menyinggungmu, sebenarnya,” ucap Jungsoo.

Sarang terdiam, namun tak lama kemudian ia menyahuti, “Gwaenchasseo. Lagi pula, yang dikatakan oleh nunamu itu kan benar. Kau sudah pantas punya calon istri, bukan hanya punya hubungan main-main dengan seorang gadis SMA.”

“Aku memacarimu bukan untuk main-main,” tegas Jungsoo.

Sarang mendesah, “Itu menurutmu. Tapi lihat orang sekelilingmu bicara apa, kau tidak bisa memaksakan orang berpikir seperti apa yang kau pikirkan. Kau boleh menganggap hubungan kita dulu adalah hubungan yang serius, sampai kedua orang tuamu bersikeras menjodoh-jodohkanmu, itu artinya mereka tidak percaya dengan hubungan serius yang kau maksud.”

Jungsoo diam. Gadis itu menyandarkan kepalanya di salah satu pundak Jungsoo—capek juga rasanya menahan kepala yang berat. Jungsoo sedikit terkejut, kemudian menyesuaikan diri.

“Tapi bukan berarti aku main-main dengan hubungan kita.”

Sarang menarik nafas, menghelanya perlahan, “Seserius apapun hubungan kita, tetap saja akan dipandang dengan kata yang sama: main-main.”

“Itu karena kau juga tak berniat menjadikan hubungan kita menjadi hubungan yang serius,” tambah Jungsoo.

Sarang menarik kepalanya, mendongak, “Apa maksudmu?”

“Tidak ada.”

Sarang memukul pundak Jungsoo, “Turunkan aku.”

Hwanajima! Kenapa kau sekarang mudah marah sih?” tanya Jungsoo. Sarang memukul pundak Jungsoo lebih kencang, “KUBILANG TURUNKAN AKU!!”

Jungsoo menghentikan langkahnya, “Sarang-ah..”

“Kalau kau pikir aku tidak pernah menganggap hubungan kita serius, sejak awal aku tidak akan bertahan dengan perasaan campur aduk setiap kali orang mengataiku mengencani Ahjussi!! Kalau kau pikir hanya kau yang terluka dengan status kita, kenapa kau tidak pernah melihat lukaku?!” pekik Sarang. Ia benar-benar turun dari punggung Jungsoo.

Jungsoo menatap gadis itu lurus, “Mian..

Sarang mengalihkan pandangannya, menatap ke arah jalanan. Di saat yang bersamaan, entah sebuah kebetulan atau memang sudah ditakdirkan, sebuah motor melaju ke arahnya. Sarang menyipitkan mata.

“Hei, kau kenapa di pinggir jalan malam-malam begini? Lho, kakimu kenapa?” suara panik Woohyun membuat Sarang otomatis tersenyum tipis.

Sarang melangkah maju mendekat ke arah Woohyun, “Woohyun! Cham dahaengida ireon neol manna. Kakiku kena paku, kau mau mengantarku pulang tidak?”

“Tentu saja. Naiklah, bisa tidak? Jjamkanmanyo,” Woohyun membantu Sarang duduk di jok belakang motor matic-nya. Setelah memastikan gadis itu duduk dengan nyaman dan aman, ia pun naik. Woohyun melirik ke arah Jungsoo, dan bertanya, “Engg—Sarang-ah.. dia..”

“Antarkan aku pulang. Aku lelah.. lapar..” bisik Sarang, melingkarkan satu tangannya ke perut Woohyun.

Woohyun mengangguk kecil, “Kau mau makan dulu? Aku tahu tempat ramyeon yang enak.”

“Boleh. Kaja.

Jungsoo menatap gadis itu tanpa berkedip. Bayangan gadis itu semakin menjauh, hatinya berdesir perih. Semakin perih semakin ia teringat betapa ia merindukan gadis itu. Satu-satunya gadis yang pernah mencintainya dalam kondisi yang berbeda, gadis yang sepuluh tahun lebih muda darinya.

== Stand By U ==

Jungsoo menatap cincin yang ia pakai di jari tangan kanannya. Kemudian membiarkan tangannya itu mengusap wajahnya—yang memerah, entah kenapa. Seorang gadis muncul dari balik bilik, memutar-mutar badannya di hadapan Jungsoo.

“Bagaimana? Bagus?” tanya gadis itu.

Jungsoo memandang gadis itu sekilas, mengangguk tipis. Kemudian ia mendongak lagi, menatap gadis itu, ia melihat Sarang yang sedang tersenyum ke arahnya, mengangkat ujung gaun putih yang ia kenakan. Jungsoo mengerjap.

Tidak. Gadis itu tetap gadis itu, bukan Sarang—yang hanya halusinasinya saja.

Jungsoo mendesah, “Aku ingin cari angin sebentar di luar. Gwaenchanha?”

Gadis itu merengut, tapi melihat wajah suntuk Jungsoo, gadis itu mengangguk kecil, “Baiklah. Jangan lama-lama.”

Jungsoo bangkit dari duduknya, beranjak keluar dari bridal tempatnya duduk selama dua jam itu. Ia meregangkan seluruh ototnya, matanya menyapu ke arah jalanan yang cukup sepi, tidak seramai biasanya. Kemudian ia menangkap sosok gadis yang ia kenal.

“Sarang-ah!!” panggil Jungsoo.

Gadis yang sedang berjalan bersama sepupu dan kekasih sepupunya itu—Taemin dan Daehyun, menoleh responsif, sama seperti yang lainnya. Wajahnya yang semula tertawa riang, karena candaan konyol dari Daehyun yang mencoba menghiburnya sambil memapah gadis itu.

Sarang menatap Taemin, dan Taemin pun mengangkat bahu, seperti memberikan isyarat pada Sarang untuk membalas sapaan Jungsoo. Gadis itu hanya menatap Jungsoo, lalu tersenyum tipis. Sarang, Taemin serta Daehyun pun berhenti sejenak. Sementara Taemin dan Daehyun duduk di salah satu bangku tak jauh dari tempat Jungsoo dan Sarang saling berdiri berhadapan.

“Kau akan kemana?” tanya Jungsoo.

Sarang menunjuk Taemin dan Daehyun, “Menemani mereka makan siang. Wae?”

“Ti-tidak. Aku hanya.. ingin minta maaf soal kemarin,” ujar Jungsoo.

Sarang mendesah, “Soal apa? Kita bicara banyak kemarin.”

Jungsoo menatap gadis itu, wajahnya mendadak sangat kaku dan jengah, “Soal hubungan kita.. soal.. kau dan aku..”

“Kau dan aku? Tidak kah kau sadar apa yang sedang kau bicarakan saat ini, dan bersama siapa kau sedang berbicara,” tanya Sarang, ketus kali ini.

Jungsoo mendesah, “Kenapa kau selalu ketus padaku? Sementara kau selalu berbicara dengan nada lembut pada pria-pria lain. Apa salahku padamu hah?”

Sarang menatap Jungsoo tajam, “Kalau ingin tahu salahmu, satu-satunya salahmu yang tidak bisa kumaafkan adalah… membuatku terus mencintaimu..”

Jungsoo terhenyak.

Ia melihat ke dalam mata Sarang—mencoba mencari kebohongan, tapi nihil, ia tak temukan di sana. Jungsoo meraih kedua tangan Sarang.

“Sarang-ah.. aku..”

“Oppa! Kenapa kau lama seka—li..” sebuah pekikan lembut membuat Jungsoo dan Sarang—bahkan Taemin dan Daehyun yang sengaja mendengar pembicaraan mereka—pun menoleh. Seorang gadis masih dengan gaun pengantin putihnya menatap Jungsoo dan Sarang bergantian.

Sarang melirik jemari Jungsoo, lalu menghempaskan kedua tangan pria yang tengah menggenggamnya itu.

“Sarang-ah,” panggil Jungsoo.

Sarang menarik nafas panjang, “Ah, geumanhae. Tidak akan mengubah apapun di antara kita. Lagi pula aku masih punya perasaan untuk tidak merusak kebahagiaan orang lain.”

Jungsoo terkesiap. Gadis itu berjalan tertatih mendekati Taemin—yang kemudian membantunya berjalan. Taemin menatap Jungsoo tajam, seolah tak mengerti dengan keadaan yang baru saja ia ciptakan. Daehyun berjalan mundur, menghadap Jungsoo dan gadis itu.

“Asal kau tahu,  Ahjussi. Saat ini aku menyesal karena tidak memberitahu Sarang Eonni, bahwa ia lebih pantas dapat kekasih yang lebih baik dari pada pria berumur dua puluh delapan tahun sepertimu..” ucap Daehyun lirih, tetapi cukup menekan perasaan Jungsoo.

Jungsoo diam. Sementara gadis di belakangnya itu tengah menarik-narik ujung kemejanya, “Oppa.. Oppa.. ada apa sih? Siapa mereka?”

Jungsoo berbalik, menatap gadis cantik berambut panjang itu lurus. Lamat-lamat, “Kau cantik. Ayo masuk, kau seperti pengantin yang akan kabur saja.”

Gadis itu mengerang, sementara Jungsoo kembali masuk ke dalam ruangan. Senyap. Ia hanya melihat pergerakan-pergerakan dari setiap orang yang lalu lalang di sekitarnya, soundless. Yang ia dengar hanya ucapan Sarang.

“Kalau ingin tahu salahmu, satu-satunya salahmu yang tidak bisa kumaafkan adalah… membuatku terus mencintaimu..”

“Kalau ingin tahu salahmu, satu-satunya salahmu yang tidak bisa kumaafkan adalah… membuatku terus mencintaimu..”

Menggema. Terus terdengar di telinganya. Terngiang—semakin lama, semakin menyakiti sanubari Jungsoo.

==Stand By U ==

 I keep thinking of you at night, I cannot sleep
Why did I turn on this love show
?
The distance between us has increased
I was the servant of this love
Why did we fight ? Why were we like that ?
Did you lose the sight ? We used to be in love.
Why am I stuck in this moment ? The one I need is you, silly.

“Kau pikir kau ini sudah berumur berapa? Kenapa terus-terusan berkencan dengan anak SMA?! Bisakah kau lebih dewasa menyikapi hidupmu!” bentakan Park Inhyeong membuat Jungsoo terkejut.

Jungsoo membela diri, “Nuna.. aku dan Sarang bukan hanya main-main..”

“Lantas? Kau pikir orang tua kita punya banyak waktu untuk menunggui anak laki-lakinya menikah saat umur empat puluh?! Hah? Kau mau menunggu gadis kecil tumbuh seusiamu? Dan kau akan jadi kakek-kakek?” ucapan pedas Inhyeong kembali menghujam perasaan Jungsoo.

Pintu terbuka, seorang gadis tengah menunduk sembari memegang kenop pintu di tangan kirinya, “Jwoisonghamnida..”

Jungsoo menoleh, Inhyeong terhenyak.

Sarang menarik nafas panjang, “Jwoisonghamnida. Jeongmal jwoisonghamnida..”

Jungsoo bangkit, beranjak akan menyusul Sarang. Tapi langkahnya itu terhenti sejenak karena ucapan Inhyeong padanya.

“Lihat. Dengan sikap kekanak-kanakan macam itu, apa yang bisa di harapkan dari hubungan kalian, hah?” tanya Inhyeong—sinis.

Jungsoo mengerutkan alis, “Kenapa? Memangnya kenapa kalau aku mencintai gadis itu? Apa yang sebenarnya nuna khawatirkan dari kami?”

“Jungsoo-ya!!” bentak Inhyeong.

Jungsoo menatap kakak perempuannya, menahan nafas, “Nuna, kalau pun aku dilahirkan lagi, aku akan tetap mencintainya. Seribu kali lebih besar, sejuta kali lebih dalam dari saat ini. Tidak kah kau mengerti perasaan adikmu?”

Inhyeong diam, begitu adiknya itu meninggalkan tempatnya semula duduk.

 

== Stand By U ==

Eonni uljimara.. uljimara..” pinta Daehyun.

Ia panik melihat gadis berambut panjang dengan wangi apel itu terisak di tengah-tengah kunyahan makan siangnya. Air matanya mengalir begitu saja, deras, seiring ia menyendok satu persatu nasi ke dalam mulutnya. Tanpa suara.

Uljima, Sarang-ah..” tambah Taemin.

Daehyun menatap Taemin, “Oppa, eotteohke?

Taemin menarik nafas, mengambil alih sendok Sarang, “Jangan makan dengan ekspresi seperti itu, Sarang..”

Gadis yang diajak bicara itu tiba-tiba bangkit dari duduknya, menatap Taemin lurus, “Apa sekarang kau sudah puas? Selalu ikut campur urusanku, mengurusi apa yang seharusnya tidak kau urus, menanyai hal-hal yang seharusnya kusimpan sendiri, dan mengumbar rahasiaku pada seluruh mantan kekasihku. Kau sudah puas, Lee Taemin?”

“Eonni..”

Sarang mengalihkan pandangannya ke arah Daehyun, “Kau! Kau tidak akan tahu seperti apa jadi aku! Kau punya Taemin! Kau punya dia yang selalu bersamamu, yang sejalan denganmu. Apa kau sekarang puas melihatku seperti ini, hah?!”

Daehyun menatap Sarang dengan pandangan takut, “Eonni, mianhae..

“Ahh—aku muak mendengar kata maaf!” Sarang mendorong kursinya mundur, meninggalkan restoran tempat Taemin dan Daehyun makan siang dengan langkah tertatih—kakinya belum sembuh benar. Daehyun langsung berdiri, Taemin mencegah kekasihnya itu untuk melangkah lagi, “Geuman..”

“Tapi.. dia..” Daehyun tampak tak yakin.

Taemin mengangguk kecil, “Aku tahu kau kuatir padanya. Tenanglah, aku yang akan mengurusi dia nanti di rumah..”

Jinjjayo?” tanya Daehyun. Taemin mengangguk pasti.

== Stand By U ==

Jungsoo menatap gadis di hadapannya.

Merasa di perhatikan, gadis itu mendongak, “Ada apa Oppa?”

Jungsoo menggeleng, “Kau tahu Yeorim-ah, kenapa aku suka sekali dengan senyummu itu?” tanya Jungsoo. Gadis itu menggeleng kecil, “Waeyo?”

Jungsoo menjawab pertanya Yeorim dengan gelengan kepala, “Nado mollayo.

“Aaaahhh—Oppa..” desis Yeorim sebal. Jungsoo tertawa kecil, menunjuk makanan yang masih banyak di meja, “Makan yang banyak, Yeorim..”

“Ne.”

Jungsoo meneguk air putihnya. Lalu mendongak lagi, “Yeorim-ah…”

“Ne?”

“Kau tahu pernikahan kita adalah rencana dari orang tuaku. Kenapa kau menerimanya begitu saja? Gadis secantikmu tidak mungkin tidak memiliki kekasih, kan. Kenapa mengiyakan saja saat orang tua kita menentukan tanggal pernikahan?” tanya Jungsoo.

Yeorim menggeleng, “Mollayo. Bagiku, Oppa bukan sesuatu yang diberikan oleh kedua orang tuaku yang harus kuterima atau kutolak. Aku bukan hanya ingin membahagiakan kedua orang tuaku atas pernikahan kita, tapi aku juga ingin membahagiakan diri sendiri, dan membahagiakanmu, Oppa..”

Jungsoo terdiam.

“Oppa, waeyo?” tanya Yeorim. Jungsoo mendongak, tersenyum hambar, “Gwaenchanha..

Yeorim menarik nafas, mengelap bibirnya dengan tisu, “Oppa.. aku meninggalkan seseorang karena aku mencintaimu lebih dari aku mencintainya. Kau.. tidak akan.. menyakitiku kan?”

Jungsoo tidak merespon saat itu juga.

“Oppa andeurinayo?” tanya Yeorim. Jungsoo tersadar dari lamunannya, Yeorim tertawa kecil dan tidak berniat untuk mengulang pertanyaannya, “Ah.. johta. Oppa, aku sudah kenyang. Ayo pulang, kita harus beres-beres banyak hal.”

“Ah, benar. Kaja.

Jungsoo bukan tak mendengar apa yang  dikatakan Yeorim. Ia mendengar kalimat itu sangat jelas, bahkan sampai sekarang pun terngiang di telinganya. Saling bertabrakan dengan kalimat yang diucapkan oleh Sarang. Jungsoo menarik nafas panjang.

Ia jelas harus meninggalkan gadis itu, demi gadis ini..

== Stand By U ==

Sarang duduk di sebuah bangku di taman jauh dari rumahnya berada. Sengaja ia mencari tempat terjauh agar tidak dihampiri oleh Taemin, tidak bertemu siapapun di jalan. Tidak Jungsoo, pun seluruh mantan kekasihnya.

Kepala Sarang sudah penuh dengan seluruh pertanyaan yang menggenang di sana, memancing benih-benih amarah dan emosi yang meletup-letup, menciptakan gunung api seolah bisa meledak kapan pun gadis itu inginkan.

*

“Apa kau akan meninggalkanku?” tanya Sarang lirih.

Jungsoo yang duduk di sampingnya tertawa pendek, “Museun mariya?”

Sarang menggeleng, “A-ani. Amugeotdo eobseo.”

Jungsoo meraih gadis mungil itu ke dalam dekapannya, “Tidak akan pernah ada yang meninggalkanmu, Yeobo. Yaksokalkke.”

“Jinjjaro?” tantang Sarang.

Jungsoo mengangguk, mengacak poni gadis itu hingga gadis itu mengerucutkan bibirnya, “Nan mideulkke..”

Sarang menarik nafas. Mendongak ke ataslangit, “Tapi kau tidak akan menikahiku..”

“Mwo?”

Sarang mendesah, memainkan ujung sepatunya kini, menggeleng-geleng kecil, “A-ani..”

Jungsoo tertawa lagi, sementara Sarang mendongak, cemberut, “Kau selalu tertawa! Aku benci kau Oppa!”

“Memangnya kau sangat mencintaiku ya?” tanya Jungsoo, pertanyaan yang membuat wajah Sarang memerah seketika dan gadis itu langsung melotot, “Besar kepala!”

Jungsoo tertawa lagi, mengecup puncak kepala Sarang, “Terlalu cepat jika kau membicarakan soal pernikahan Sarang..”

“Itu artinya tidak. Ya kan?” tebak Sarang.

“Aigoya. Kau benar-benar ingin menikahiku ya? Astaga Sarang, aku tidak tahu kau cinta mati padaku..” kekeh Jungsoo. Lagi-lagi membuat gadis di hadapannya menggigit pundak Jungsoo.

“Ya! Ya! Ya! Kau ini aish!” Jungsoo mengusap pundaknya—bekas gigitan Sarang. Gadis itu tersenyum penuh kemenangan, “Hehehe, mian. Aku sedang lapar.”

“Kalau kau lapar, gigit bibirku saja..” usul Jungsoo disambut pukulan lain dari Sarang, “Dasar! Itu kan maumu!”

Jungsoo tertawa lepas. Diacaknya lagi rambut Sarang lembut, “Aku tidak akan menikahi gadis lain selain kau, Sarang-ah.”

“Hajiman.. aku masih.. sekolah..” desah Sarang lirih.

Jungsoo mengerutkan alis, “Kenapa? Aku akan menunggu. Kapan kau ingin menikah? Aku akan melamar pada orang tuamu hari itu juga.”

Sarang menggeleng, “Kalau aku ingin menikah saat umur 23 tahun, itu artinya umurmu 33 tahun..”

“Lalu?”

Sarang menatap Jungsoo dalam diam. Namja itu mengerutkan alis—belum paham atau memang sudah paham tapi bersikap seolah tak paham—membuat Sarang melenguh pendek, “A-ani.. anieyo..”

“Kau sendiri yang bilang, sepuluh itu tidak ada artinya dibandingkan cinta kita yang jumlahnya tak hingga. Ibarat matematika, satu per sepuluh tidak ada apa-apanya dibandingkan sepuluh per nol..” lanjut Jungsoo.

Sarang mengangguk kecil—menyimpan sejuta keraguan yang tak ingin ia tampilkan dari ekspresi wajahnya. Ia benar mencintai Jungsoo, tapi waktu adalah sebuah senjata. Kadang berguna sebagai healer, kadang menyerang balik sebagai boomerang.

*

Sarang mendengus pendek, menatap kakinya yang masih dalam keadaan terbungkus perban. Mengerang dan merutuki diri sendiri sepanjang lima menit pertama.

“Tidak akan menikahi gadis selain aku? Gotjimal. Lalu cincin macam apa yang ia pakai di tangan kanannya? Dia pikir aku bodoh? Dia pikir karena aku sepuluh tahun lebih muda darinya lalu aku tidak tahu apa arti cincin di jari manis tangan kanan? Park Jungsoo pabo-yaaa!!” pekik Sarang.

Mau tak mau, beberapa pengunjung taman yang sama langsung menoleh ke arahnya. Sarang menoleh tajam kepada setiap orang yang melihatnya, memaksa orang itu mengalihkan pandangan ke arah lain.

“Berteriak-teriak seperti orang gila, bukan seperti Sarang yang kukenal..” sebuah desahan pelan membuat Sarang menoleh—perasaannya tidak enak.

Sarang mendesah, “Soohyun Oppa, sejak kapan kau berdiri di situ?”

“Sejak kau datang.”

“Kau dengar semuanya?” tanya Sarang.

Soohyun mengangguk, “Modu da deurineunde.

“Aku senang kau sudah sembuh. Kakimu sudah sehat sekarang?” tanya Sarang—mencoba mengalihkan pembicaraan. Soohyun menjawab pendek, “Ne.”

Soohyun meminta ijin untuk duduk di samping Sarang, gadis itu pun mempersilahkannya. Mereka terdiam untuk beberapa menit. Tapi kemudian Soohyun mulai membuka mulutnya.

“Sarang-ah..”

“Ya?”

Soohyun menatap wajah gadis yang tidak sedang menghadapnya itu, “Dulu.. ketika aku menyatakan perasaanku padamu, apa kau.. benar-benar.. menyukaiku?”

“Ne?”

Soohyun mendesah, “Aku yakin kau mendengarnya, Sarang.”

Gadis itu mengigit bibirnya, “Aku menyukaimu. Kau baik sekali. Selalu mengetahui semua hal kecil yang bahkan tidak sempat aku perhatikan. Kau terlampau baik..”

“Karena aku baik, maka kau menerimaku menjadi kekasihmu?”

Sarang memainkan ujung sepatunya, “Mian Oppa. Kau boleh mengecapku sebagai playgirl kalau kau mau. Aku tidak keberatan.”

Playgirl?

Sarang mengangguk, “Kau pasti sudah tahu soal semua mantan kekasihku. Kau, Dongwoon, Woohyun, Siwan Oppa, Ryeowook Oppa, Jungshin Oppa, Lee Joon Oppa, dan Changjo. Tidak ada gadis yang punya begitu banyak mantan kekasih dalam kurun waktu sebelas bulan kalau bukan seorang playgirl.”

“Bagiku kau bukan.”

“Ehh—?” Sarang melongo.

Soohyun tersenyum tipis, “Semua orang punya alasan untuk setiap tindakannya. Kadang kalau kau menanyai seorang namja mengapa ia menjadi playboy biasanya mereka akan menjawab bahwa mereka hanya mencari the right one. Dan kurasa, kau juga melakukan untuk alasan yang sama.”

“Tapi aku tidak—” potong Sarang.

Soohyun tersenyum lagi, “Aku bawa mobil, kalau kau ingin ke suatu tempat, aku bisa mengantarmu. Eotteyo?” tawar namja itu, melebarkan senyumannya.

Sarang tertegun.

“Kenapa kau begitu baik. Aku membencimu yang begitu baik..” ucap Sarang lirih.

Soohyun tertawa, “Bicara apa kau ini. Kaja.

Sarang bangkit dari duduknya. Ia tahu ia harus ke mana saat ini—harus memanfaatkan waktu sebaik-baiknya walau pun ia tahu tidak ada banyak kesempatan. Tapi setidaknya ia harus melepaskan beban yang selama ini ia tanggung, setidaknya ia harus mengatakan apa yang belum sempat ia tanyakan.

Ia memandang Soohyun, “Oppa.. gomawoyo..

== Stand By U ==

Sarang itu menekan beberapa angka ; 930816—saat ia berhadapan dengan sebuah pintu apartemen. Kemudian terdengar bunyi tuuuuut panjang sebelum akhirnya ia bisa membuka kenop pintu yang awalnya terkunci rapat.

Gadis itu mendesah, “Kenapa tidak mengganti password apartemennya. Pabo-ya.

Sarang melepas sepatunya, dan memakai slippers yang tertata rapi di rak—semuanya berwarna putih, khas pemilik apartemen. Sarang memandang sekeliling, masih sama seperti dengan setahun yang lalu. Tidak ada yang berubah kecuali tata letak beberapa perabotan.

Begitu masuk, Sarang langsung membereskan beberapa majalah dan koran yang berserakan di ruang tengah. Meletakkan remote yang terselip di antara bantal sofa ke atas tivi. Ia juga mengangkat jemuran yang sudah kering di samping balkon. Semua pakaiannya berwarna putih, kalau pun tidak berwarna putih—tetap saja ada bagian yang berwarna putih.

Setelah membereskan semuanya, Sarang melangkah ke dapur. Menggelengkan kepala begitu melihat isi kulkas yang berantakan, beberapa makanan yang seharusnya diletakkan di laci kulkas malah dibiarkan diluar, sehingga baunya merebak ke semuanya. Susu basi, roti yang sudah berjamur serta beberapa sayuran layu tidak dibuang, membuat Sarang mengedikkan hidungnya—menahan baunya.

Sarang tersenyum tipis, tidak sia-sia ia tadi pergi ke minimarket sebelum memutuskan untuk datang ke apartemen ini—atau lebih tepatnya menyelinap ke apartemen ini. Sarang memasukkan beberapa bahan makanan ke dalam kulkas, dan menyeduh teh.

Tuuuuttt..

Sarang mendengar suara pintu terbuka—tepat setelah verifikasi password yang sudah dimasukkan. Gadis itu berjingkat bangkit dari duduknya di meja makan dan berjalan ke depan.

“Maaf aku…a-ku..” suara Sarang terputus begitu melihat Jungsoo—sang pemilik apartemen datang bersama dengan gadis yang sama dengan yang mereka temui secara tidak sengaja beberapa jam yang lalu.

Jungsoo mengerutkan kening, “Sarang..”

“Oppa, bukankah dia yang kau temui di depan bridal? Kenapa dia bisa masuk apartemenmu?” tanya Yeorim heran. Sarang menahan nafasnya, melirik sekilas ke arah jemari gadis itu. Hatinya benar-benar hanya tinggal kepingan-kepingan kecil.

Cincin yang sama.

Persis.

“Yeorim-ah, kau masuk lah, buatkan dia minum,” ucap Jungsoo menolak menjawab pertanyaan Yeorim.

Sarang mendesah, “Tidak perlu. Aku baru saja menyeduh teh. Masih panas, di meja makan.”

Yeorim memandang Jungsoo dan Sarang bergantian, “Oppa, aku ke ruang kerjamu ya. Aku perlu pakai komputer.” Gadis itu meminta ijin, dan dalam sekejap Jungsoo mengangguk; mengiyakan.

Begitu Yeorim melangkah masuk, Sarang membuka mulutnya, “Mian. Bukan maksud lancang masuk apartemenmu tanpa ijin.”

“Tidak apa-apa. Masuklah, kita bicara di ruang makan,” kata Jungsoo, melepas sepatu dan memasang slipper-nya. Berjalan menuju ruang makan, diikuti oleh Sarang dari belakang.

Sementara Sarang sudah menarik kursi dan siap untuk mendaratkan seluruh topangan tubuhnya ke atas kursi merah, Jungsoo membuka kulkasnya, terkejut. Sarang menoleh, “Kau perlu melihat kulkasmu setiap hari. Akan ada benda yang basi dan rusak.”

Jungsoo diam, ia hanya mengambil sekarton jus strawberry favoritnya, menuangnya ke dalam gelas berukuran 500 ml, dan menghampiri Sarang—duduk di hadapan gadis itu.

Sarang memutar-mutar telunjuknya disekitar bibir mug-nya, kemudian mendongak, “Aku datang untuk bicara begitu banyak hal penting yang belum sempat kita bicarakan. Engg—lebih tepatnya aku. Apa kau ada waktu untuk mendengarnya?”

“Tentu. Tentu saja..” jawab Jungsoo cepat. Ia tersenyum tipis.

Sarang membalas senyuman itu dengan miris—seiring ia melihat lesung di pipi Jungsoo. Gadis itu meneguk tehnya, mengulum bibirnya.

“Kau hanya perlu menjawab, dan jangan menanyaiku balik..” ucap Sarang.

Jungsoo mengangguk.

Sarang menahan nafas, “Apakah kau menderita pedofilia?”

“Kenapa menanyaiku seperti itu Sarang-ah? Bukankah kau sudah tahu jawabannya adalah tidak?” tanya Jungsoo. Sarang mendesis, “Jawab saja..”

“Tidak.”

“Apa kau dulu, mengguna-gunaiku? Mengincar keperawananku?” tanya Sarang.

Kali ini Jungsoo melongo, “Apa yang sedang kau bicarakan? Kau.. Astaga Sarang.. kalau aku memakai guna-guna, aku akan mengguna-gunai artis, bukan kau. Lagi pula, mengincar keperawanan? Apa aku terlihat seperti itu? Aku bahkan tidak pernah.. astaga.. kenapa kau ini?”

Sarang menggeleng, “Kalau kau tidak menderita pedofilia, tidak mengguna-gunaiku, atau mengincar keperawananku, kenapa kau memintaku menjadi kekasihmu waktu itu?”

“Kenapa? Kau tanya kenapa? Karena aku mencintaimu waktu itu!” jawab Jungsoo tegas.

Waktu itu..

“Kenapa kau tidak mengganti password apartemenmu? Jangan lagi menggunakan tanggal lahirku,” ucap Sarang. Jungsoo mendesah, “Kenapa? Apa itu menjadi sebuah masalah bagimu?”

“Ya.”

Jungsoo mengerutkan alis. Sarang langsung menyahutinya lagi, “Kau sudah tidak berhak atas apa yang menjadi milikku.”

“Sarang-ah..”

Sarang melirik ke arah ruangan lain, “Berapa umurnya?”

“Siapa?”

“Berapa umurnya?” ulang Sarang tanpa menyebutkan obyek yang ia maksud. Jungsoo mendesah, “Dua puluh empat.”

“Dia cantik. Tinggi, berambut panjang, pergelangan tangannya kecil, semampai. Benar-benar tipe gadis impianmu. Kau pasti bahagia, Jungsoo-ssi..” ucap Sarang lirih, memandang Jungsoo.

Jungsoo menggeleng, “Bukan tipe gadis impianku.”

“Jangan lupa kirimkan undangannya ke rumahku ya. Aku akan dengan senang hati menghadiri pestamu,” ucap Sarang lagi, tersenyum—meskipun tak bisa disebut tersenyum karena matanya sama sekali tidak tersenyum.

Jungsoo menatap Sarang lurus, “Benarkah kau akan dengan senang hati menghadiri pestaku?”

Geureomyeon..” ucap Sarang.

“Apakah sebuah kata-kata dari bibirmu adalah sebuah hal yang sangat mudah bagimu, Sarang-ah?” tanya Jungsoo, nada bicaranya turun beberapa oktav. Sarang mengangkat bahu, “Aku tidak paham maksudmu.”

“Kau bilang kau terus mencintaiku. Kenapa kau bersikap seperti ini?” tanya Jungsoo.

Sarang tersenyum tipis, menatap teh di tangannya yang sudah menjadi dingin, ia bisa melihat pantulan wajahnya di atas cairan berwarna cokelat jernih itu.

“Keadaan yang memaksaku.”

Jungsoo menyatukan keningnya—heran. Sarang mendongak, menatap Jungsoo dalam, “Semua orang bilang cinta kita adalah cinta yang spesial. Teuk-han Sarang. Tapi itu tak menghapus kenyataan bahwa kita memang tidak ditakdirkan bersama.”

Hening.

“Semua orang bilang kalau kita terlihat sangat serasi berjalan berdampingan. Just like Romeo Julliet. Tapi apakah itu menyingkirkan semua prasangka buruk terhadapku, terhadapmu, terhadap hubungan kita. Tidak.”

Jungsoo menatap gadis itu. Perlahan ia menyadari adanya butiran kristal di ujung mata gadis itu.

“Karena aku ingat pada seseorang yang pernah mengatakan bahwa ia tak akan meninggalkan aku. Aku masih ingat ia berjanji padaku banyak hal. Tentang menikahiku, tentang rencana hidup di Pulau Jeju, tentang berkeliling dunia bersama. Aku ingat pada cinta pertamaku yang selalu membuatku merasa menjadi orang paling penting di dunia ini, karena dia selalu menjadikan aku nomor satu baginya..” lanjut Sarang.

Sarang meneguk tehnya perlahan.

“Sebab itu, ketika orang bilang mencintainya adalah sebuah kesalahan, aku tidak pernah ingin benar. Sebab itu, ketika aku sadar mencintainya adalah bagaikan sebuah mimpi, aku tidak pernah ingin bangun. Sekejap aku mengerti, bahwa tidak semua yang kita cintai bisa selamanya bersama kita. Dan bahwa semua orang berhak bahagia, membahagiakan, dan dibahagiakan..” kata Sarang lagi, mengusap air mata yang belum sempat jatuh sebelum Jungsoo menyadarinya.

Jungsoo masih terus menatap Sarang.

Gadis itu tersenyum lembut—kali ini benar-benar tulus, “Kau berhak bahagia. Kau berhak membahagiakan dia, dan dibahagiakan olehnya.”

“Tapi bagaimana dengan—” sela Jungsoo.

Sarang menggeleng cepat, “Dulu aku tidak percaya soal ini. Tapi kurasa itu ada benarnya, bahwa cinta tak harus selalu memiliki. Aku senang bisa mengenalmu, sempat memilikimu. Setidaknya itu sudah cukup.”

“Aku tidak paham denganmu!” pekik Jungsoo, mau tak mau membuat Sarang terkejut.

Jungsoo bangkit dari duduknya, menarik lengan Sarang kasar. Gadis itu terhenyak begitu cengkeraman kasar Jungsoo mendarat di lengan kirinya.

“O..pp..a.. apha..yo..

“Kenapa memanggilku Oppa? Panggil saja aku ahjussi kalau itu membuatmu puas,” ucap Jungsoo, nadanya naik dua oktav. Sarang terkesiap. Jungsoo tak pernah berbicara dengan nada setinggi ini padanya, sebelumnya.

“Lihat ke sekelilingmu! Lihat dengan kedua matamu!” kata Jungsoo. Sarang menyapukan pandangannya. Jungsoo mendesah, “Lihat apa yang berubah?”

“Tidak ada.”

“Ya. Kau tahu kenapa hah?” tanya Jungsoo. Sarang menggeleng pelan—setengah gemetar.

Jungsoo melenguh, “Karena aku tidak ingin mengubah setiap kenangan yang kita ciptakan di sini. Kau ingat berapa kali kau mengomel di meja makan ini karena aku hanya bisa memasak ramyeon? Kau ingat kenapa kau selalu saja mengobrak-abrik lemari bajuku untuk mencari pakaian yang tidak berwarna putih? Kau ingat betapa frustasinya aku setiap kali kau datang setumpuk tugas sekolah dan tidak menghiraukanku karena kau mengerjakan tugas-tugasmu?”

Sarang menahan air matanya.

“Setiap detik yang kita lewati sangat berarti untukku Sarang..” desah Jungsoo lirih.

Sarang menggeleng.

“Kalau mencintaiku adalah sebuah kesalahan, kumohon jangan pernah benar. Kalau mencintaiku bagaikan sebuah mimpi, kumohon jangan pernah bangun, Sarang.. jebal..” pinta Jungsoo, ia melepas cengkeraman tangannya pada lengan Sarang.

Sarang menggeleng lagi, “Sepuluh terlalu jauh.. Aku tidak bisa.. Kau tidak akan bisa..”

“Kau bilang kesalahanku adalah membuatmu terus mencintaiku, salahmu lebih besar, Sarang..” ucap Jungsoo. Sarang menunduk, tidak bisa lagi menatap wajah Jungsoo di hadapannya.

Jungsoo menahan nafas, “Kesalahanmu adalah membuatku menjadi seorang ahjussi yang cinta mati pada gadis yang lebih muda sepuluh tahun, tapi tidak bisa melakukan apapun untuk menyelamatkan hubungan kita.”

Sarang menarik nafas, mundur beberapa langkah, “Jadilah seorang pria, Jungsoo Oppa. Gadis itu sudah berharap banyak atas hubungan kalian. Cincin itu juga terlalu cantik untuk disia-siakan..”

“Sarang-ah..”

Sarang tersenyum, “Aku pulang Oppa. Kalkke..

Jungsoo berbalik, searah dengan Sarang meninggalkan ruang makan dan meninggalkannya. Rambut hitam wangi apel yang selama ini dirindukannya, tubuh mungil yang selama ini ingin dipeluknya, dan senyum nakal yang sudah lama tak ia lihat—perlahan menjadi mengabur.

Suram.

Tak terlihat.

Jungsoo menghela nafas. Entah kenapa nafasnya begitu berat, lebih berat dari apa yang pernah ia bayangkan.

== Stand By U ==

“Eonni, eodigani?” tanya Daehyun—saat Sarang berjalan masuk ke area ruang tengah, dan duduk di samping kiri Taemin. Mengambil alih remote televisi dan menekan-nekan channel sesuka hatinya. Sarang melirik ke arah jam dinding.

“Apa kau tidak dicari Ibumu, Daehyun-ah?” tanya Sarang.

Daehyun menggeleng, “Anieyo. Aku sudah pamit kok. Eonni dari mana?”

“Tidak dari mana-mana..” ucap Sarang pendek, kali ini mencomot cake yang ada di meja—entah milik siapa.

Taemin meneguk air dinginnya, “Matamu sembab. Kau menangis di mana seharian?”

“Sok tahu.”

“Makanya, kalau ada yang bertanya dijawab, biar tidak ada yang sok tahu,” keluh Taemin. Sarang melirik sepupunya itu, “Sejak kapan kau menjadi menyebalkan seperti ini, Taemin-ah?”

Taemin nyengir, “Mian.

Sarang menarik nafas, “Aku dari rumahnya.”

“Jungsoo Ahjussi?” tanya Daehyun. Sarang menoleh tajam, “Bukan karena kau dua belas tahun lebih muda lantas kau bisa memanggilnya seperti itu di hadapanku, kalau kau ulangi lagi, lain kali aku akan menjambakmu. Araseo?

Daehyun mengangguk takut, “Ne.”

“Lalu?” tagih Taemin.

“Apa?”

Taemin mengerang, “Jangan setengah-setengah kalau memang berniat mau menceritakan sesuatu pada kami..”

“Dia akan menikah.”

“APA? Lalu?” tanya Daehyun dan Taemin bersamaan.

Sarang mendengus, “Lalu lalu lalu lalu, ya sudah. Memangnya kalian pikir aku akan melakukan apa? Berharap aku memohon pada Jungsoo untuk membatalkan pernikahan? Sok dramatis sekali.”

Daehyun mengerutkan alis, melirik Taemin sekilas lalu membuka mulutnya, “Tapi, Eonni kan.. cinta pada Jungsoo.. engg—sunbae. Lalu kenapa membiarkannya menikah begitu saja?”

“Dan membiarkan keluarga gadis itu dan keluarga Jungsoo mengecamku sebagai gadis tidak tahu malu yang merusak kebahagiaan orang lain? Begitu?” Sarang mengerucutkan bibirnya—tidak terima.

Taemin mengangkat bahu, “Kecuali memang kau sudah ikhlas dia pergi begitu saja.”

“Ikhlas tidak ikhlas itu urusanku dengan hatiku. Tidak ada yang tahu kecuali aku dan Tuhan,” potong Sarang.

“Iya, aku tahu. Tapi kau juga berhak mendapatkan kebahagiaanmu, Sarang-ah..” lanjut Taemin.

Sarang mengambil kuncir yang ada di atas buffet, mengikat rambutnya naik ke atas—bukan kuncir kuda macam Daehyun—dan duduk di kursi, tidak lagi duduk di sofa bersama Taemin dan Daehyun. Sarang mengambil sekaleng kola dan meneguknya sedikit demi sedikit.

“Lantas aku diperbolehkan menyakiti perasaan orang lain hanya karena alasan itu? Aku yang memutuskan hubungan kami, aku yang meninggalkannya, apakah pantas tiba-tiba aku datang dan menghancurkan rencana pernikahan manis yang sudah dirangkai semenjak aku tidak ada? Pakai perasaanmu, Taemin, jangan pakai otakmu..” lanjut Sarang.

Taemin diam. Ucapan Sarang memang sepenuhnya benar.

Sarang memainkan kalengnya, “Semua akan indah pada waktunya. Ya kan? Kebahagiaanku tidak akan hilang hanya karena aku kehilangan cinta pertamaku. Oh ya, Woohyun besok datang, kalian bisa pesankan aku kue kan?”

Daehyun mengangguk, “Kue apa Eonni?”

“Eh, tidak usah. Sepertinya Woohyun akan memasak menu baru untukku. Kau tahu sendiri, dia suka pada gadis yang mau makan masakannya. Kalau begitu aku ke atas ya, Daehyun-ah, jangan pulang terlalu malam. Taemin-ah, bangunkan aku jam sembilan oke?” ucap Sarang sembari mewanti-wanti—melangkah naik ke atas dengan senyuman yang merekah di bibirnya.

Taemin mengangguk, “Ya.”

Daehyun menyenggol Taemin dengan sikunya, “Kau yakin dia tidak apa-apa, Oppa?”

Molla. Mungkin dia mau membuka hati pada Woohyun lagi, atau Soohyun, atau mantan kekasihnya yang segudang itu..” keluh Taemin, lalu tertawa, “Kuantar pulang yuk.”

== Stand By U ==

Woohyun datang pukul sepuluh. Ternyata diluar dugaan Sarang, namja itu datang dengan chocolate-cake buatannya yang sudah ia masak dari rumah. Gadis itu senang, setidaknya Woohyun tidak lupa soal janjinya kali ini—seperti saat mereka masih menjadi sepasang kekasih.

“Sarang-ah..” panggil Woohyun.

Gadis itu mendongak, disela-sela sibuk tangannya memasukkan krim cokelat ke dalam mulutnya, “Ne?

“Kau ingin sekolah di Los Angeles tidak?” tanya Woohyun. Sarang mengerutkan alis, “Hah?”

Woohyun menyodorkan sebuah pamflet, “Aku dapat beasiswa ke sana. Tapi aku tidak ingin sendirian, jadi aku mengajakmu. Aku sudah bilang pada Ayahku, beliau bilang, beliau akan tanggung semuanya.”

Sarang tersenyum, menepuk pundak Woohyun lembut, “Jeongmal gomawoyo. Tapi kurasa Inha University masih sangat bagus untukku. Mianhae, bukan tak ingin menemanimu, tapi—”

“Kau pasti punya sesuatu yang berharga yang tak bisa kau tinggal di sini, ya kan?” tebak Woohyun. Sarang tertawa, “Ya, aku punya Taemin..”

Woohyun terdiam. Lalu tersenyum, “Sarang-ah.. kau harus hidup dengan lebih baik ya. Jangan buat orang lain khawatir dengan keadaanmu. Syukurlah kakimu itu sudah sembuh, aku masih sangat kuatir.”

“Aigoo. Aku tidak apa-apa, Nam Woohyun. Terima kasih untuk kecemasanmu. Tapi aku baik-baik saja,” sergah Sarang—tersenyum lagi.

Woohyun bercerita banyak soal kampus di mana ia akan sekolah nanti di Los Angeles, Sarang hanya mengunyah kue cokelatnya sambil mendengarkan aktif. Sesekali memberikan reaksi yang benar-benar membuat Woohyun senang—merasa diperhatikan. Sarang tersenyum menatap pria tampan itu.

Gadis itu mengingat satu persatu mantan kekasihnya. Semuanya tampan. Semuanya kaya. Semuanya pintar. Semuanya punya banyak kelebihan yang masing-masing tidak dipunyai oleh yang lainnya.

Tapi mengapa, semuanya tidak berhasil mencuri hati Sarang? Jawabannya hanya satu.

Because her heart is already stolen away by someone.

== Stand By U ==

Yeorim meneguhkan hati. Ia memberanikan dirinya untuk menekan bel di sebuah rumah dengan pagar berwarna hijau dengan tembok-tembok tinggi dan kawat-kawat mencuat disetiap tembok—menghindari pencuri di malam hari.

Ting-tong. Ting-tong.

Selang beberapa menit—sekitar satu sampai dua menit, datanglah seorang gadis berjalan dengan langkah gontai, dengan rambut panjang acak-acakan, piyama yang tidak karuan dan wajah yang masih pucat.

Nugu?” suara Sarang sembari membuka kenop pintu, lalu menguap.

Ditutupnya cepat mulutnya itu seketika saat ia melihat Yeorim di balik pintu—tersenyum manis. Sarang langsung membetulkan penampilannya, “Ah, jwoisonghae.”

“Gwaenchanha, aku yang minta maaf datang sepagi ini..” ucap Yeorim lembut.

Sarang nyengir, “Masuklah sunbae, aku akan cuci muka dulu. Silahkan..”

Yeorim menurut, melepas high heels-nya dan memasang sandal rumah. Gadis itu mengerutkan alis sejenak melihat desain sandal yang sama persis dengan yang ada di apartemen Jungsoo. Tapi kemudian ia memilih untuk mengacuhkannya dan duduk di sofa ruang tamu.

Sepuluh menit kemudian, Sarang datang dengan kaus dan celana selutut, sembari membawa nampan berisi dua cangkir dengan kepulan asap kelabu. Yeorim bangkit dan menunduk, “Ah, maaf merepotkan.”

A-ani ani..”

Setelah meletakkan dua cangkir itu di meja, Sarang menatap Yeorim, “Ada apa, Sunbae-nim?”

“Aih, panggil saja Yeorim. Aku baru dua puluh empat tahun,” ucap Yeorim tidak enak. Sarang terkekeh pelan, “Aku masih delapan belas tahun..”

Yeorim tampak terkejut—lalu menutupinya cepat.

“Yang membuatku datang ke sini adalah, tunanganku, Park Jungsoo. Aku ingin tahu apa yang sedang terjadi di antara kalian,” ucap Yeorim tanpa beban.

Sarang terkejut, “Ng?”

“Aku mendengarmu dan Jungsoo Oppa saling sahut menyahut dengan suara kencang. Kupikir kau ada masalah dengan Jungsoo Oppa. Karena itulah, aku datang,” ucap Yeorim.

Sarang menahan nafas, “Tidak ada. Kami baik-baik saja kok.”

Mianhae sebelumnya, tapi aku tidak sengaja mendengar percakapan kalian,” ucap Yeorim. Sarang terhenyak, bimbang, “Ah.. sunbae, tidak semua yang terdengar itu seperti yang sebenarnya..”

Ani. Tapi aku tahu yang sebenarnya..” ucap Yeorim lirih.

Sarang diam, mengambil cangkirnya dan menyerupu teh panasnya perlahan. Yeorim menghela nafas, “Aku tahu kalian saling mencintai..”

Sarang mendongak cepat, “Sunbae..”

Yeorim melepas cincin yang ada di jari manisnya, “Cincin ini.. memang darinya. Tapi kurasa, ia tidak pernah ingin memberikan ini padaku. Dan kurasa ini hakmu, Sarang-ssi..”

A-anieyo.. dia kan akan menikahimu, Sunbae..” ucap Sarang, menolak cincin yang disodorkan ke arahnya.

Yeorim memaksa gadis itu membuka tangannya, dan menerima cincin itu, “Aku tahu siapa yang mencintai dan dicintai. Aku juga perempuan, sama sepertimu, peka terhadap perasaan orang lain. Maaf Sarang-ah, aku tidak pernah bermaksud mengambilnya darimu..”

A-anieyo.. sunbae kan tidak pernah mengambil dariku. Justru saat ini aku tidak ingin merusak kebahagiaan Sunbae..” Sarang bersikeras. Yeorim menggeleng, “Kau kira aku bahagia? Tidak ada gadis yang bahagia ketika pria yang dicintainya mencintai gadis lain..”

Sarang terkesiap.

“Kalau kau memintanya, dia akan mengabulkannya. Kalau kau tidak bisa saat ini, dia pasti akan menunggu. Dia sangat mencintaimu Sarang-ah..” ucap Yeorim lagi.

“S-sunbae..”

Yeorim bangkit dari duduknya, menjinjing tas tangannya yang berwarna peach, “Dan kau sangat mencintainya kan? Jangan cemaskan aku, aku baik-baik saja..”

“S-sunbae..”

Yeorim tersenyum lagi. Lalu berbalik membelakangi Sarang, menghapus air mata yang akan menetes kemudian menatap Sarang lagi, “Jangan pernah tinggalkan dia lagi. Ketika kau pergi, dia seperti mayat hidup. Aku pulang dulu, kalkke..

Sarang menahan nafasnya.

Gadis itu menatap cincin putih dengan dua butir berlian biru mungil di tengahnya. Menyentuh benda berkilau itu, sekejap ia tidak tahu bagaimana ia harus melanjutkan hidupnya. Apa yang harus ia lakukan dan bagaimana tentang perasaannya. Sampai sosok Taemin membuka pintu, Sarang berlari menghampiri namja itu. Memeluknya erat—menangis.

== Stand By U ==

Kalau kau panggil dia Ahjussi.

Maka kau harus memanggilku Ahjumma.

Tapi AKU TIDAK MAU DIPANGGIL AHJUMMA! Aku masih delapan belas tahun! Enak saja.

 

“Hei, hei, berhentilah mematut di depan cermin. Kau pendek, dan tetap akan pendek selamanyaaaa..” cibir Taemin. Gadis yang sedang berkaca itu menoleh, mengerucutkan bibir, “Aish kenapa begitu jahat pada sepupu sendiri. Dasar Taemin bodoh!!”

“Bodoh? Kau yang bodoh!” balas Taemin.

Sarang melempar bantalnya, “TAEMIN!!!”

“YA! YA! Ada apa ini? Taemin-ah, ada Daehyun di bawah. Kau yang turun atau aku yang menemani gadismu itu?” tanya seseorang saat membuka pintu kamar Sarang.

Sarang dan Taemin menoleh bersaman, dan memekik, “YA PARK JUNGSOO-YA!! Kau ingin mati, hah?!”

“Hei, hei, aku sepuluh tahun lebih tua!” protes Jungsoo—dipanggil tanpa suffiks apapun.

“Sudah tahu!”

Jungsoo tertawa begitu mendengar dua sepupu itu berteriak bersamaan. Sementara Taemin berjingkat turun menemui Daehyun, Sarang langsung mencubit pipi Jungsoo, “Macam-macam kau denganku, kupastikan kau tidak akan punya hidung, Ahjussi!

“Mengerti Ahjumma..” jawab Jungsoo.

“YA! YA! Sejak kapan kau memanggilku seperti itu hah?” Sarang melotot. Jungsoo tersenyum, menampilkan senyuman manisnya, mengecup pipi Sarang sekilas, “Sejak.. aku memintamu jadi istriku kan?”

Sarang terdiam.

Eonje?

Jungsoo menggaruk kepalanya, “Engg—kapan ya..”

Pabo. Kenapa pula aku memakai cincin ini kalau kau tidak pernah meminta.. ” keluh Sarang melirik jemarinya yang kini terlingkar sebuah cincin cantik. Jungsoo nyengir lagi, “Aiyah.. jangan begitu doong.. cincin itu mahal tahu..”

“Astaga, masih perhitungan juga?” erang Sarang.

Jungsoo mengacak rambut Sarang—gadis itu melenguh. “Turun yuk. Ada orang tua dan nunaku di bawah.”

“Hah?” Sarang melongo.

Jungsoo sedikit membungkuk, menatap wajah Sarang lurus, “Kali ini mereka bukan datang untuk mengecek siapa Lee Sarang. Umur berapa, latar belakang keluarganya bagaimana, atau pendidikannya sejauh apa. Mereka hanya ingin merayakan kelulusan calon menantunya..”

Sarang masih melongo.

Jungsoo mendekap tubuh mungil Sarang, membisikinya lembut, “Sampai kapan kau mau memakai ekspresi seperti itu? Apa tunggu kucium dulu baru kau tutup mulutmu itu?”

Sarang melotot, “Cium saja kalau berani! Aku akan mengadu pada Ibumu!” Sarang mencubit perut Jungsoo lalu berjingkat lari keluar dari kamarnya. Jungsoo mengusap perutnya—bekas cubitan Sarang, “Hei!”

“Ya!! Jangan lari kau bocah!” teriak Jungsoo, mengejar Sarang yang hanya berputar-putar di lantai atas. Sementara Sarang tergelak, “Wah wah wah.. Kau tidak bisa menangkapku paman?”

Ada enam pasang mata—orang tua Sarang, orang tua Jungsoo dan nunanya, Park Inhyeong, menatap pemandangan yang bisa mereka lihat dari lantai atas itu hanya bisa saling berpandangan. Mengangkat bahu. Sementara Inhyeong mendesah, menyandarkan punggungnya ke sofa.

“Mungkin memang hanya Sarang yang bisa membuat Jungsoo tertawa selebar itu meskipun dipanggil paman. Sudahlah, Appa, Eomma, aku sudah menyerah menentang mereka. Lagi pula, aku tidak mau lagi melihat Jungsoo seperti orang gila saat kehilangan Sarang..”

Mendengar suara Inhyeong, Sarang menghentikan lariannya. Jungsoo mengerutkan alis melihat gadis itu berhenti, “Wae?”

Sarang mengecup pipi Jungsoo cepat, “Kaja. Ayo turun!”

Jungsoo memegang pipinya, belum sadar dengan aksi dari Sarang baru saja. Begitu gadis itu menarik lengannya turun dengan senyum mengembang, Jungsoo tahu, ia tak perlu lagi khawatir. Semuanya akan baik-baik saja.

Benar, selama ada Sarang.. ia akan baik-baik saja..

fin-

28 thoughts on “[Sarangteuk] STAND BY U

  1. ah, ceritanya baguuus.
    awalnya nyesek bgd. tp untung happy end. ^^
    cinta sama yg lebih tua 10 th?? gpp kok. aku jg pengen nyari yg 4-6 th di atasku. *kyyaaa~ knp jd curhat?* ^^

  2. Akhirnya comeback jg ni couple!! *tebar kmbang*
    fiuuuh.. blum bca smpe tamat sha, kuliah pagi soalnya hahaha *plakk
    sisanya di twitter aja ya? :DD

    kangen bnget sma sarangteuk! sumpah! dan ini keren!!

    Sarang mantannya bnyak bgt ya? daaan suka bgt pas teuk gendong sarang ke RS!!

    aku jg ska sma kta2 yg stu persepuluh sma spuluh per nol X3

    buat asha, smangat yaa, sukses snmptn tgl 31-nya :*

  3. woah.. sarangteuk is backkkkk…
    *bikin slametan*
    *bakar kembang api*
    ahjuma dan ahjusi bersatu juga…
    yuhuuuuuuuuu…
    ummaaaa… eh salah ahjuma johahae. :P

  4. Masya allah, itu mntn’a byk amat! Ada wookie oppa, joonie oppa, wooyoung =O ckcckkck~

    Gpp la cma bda 10 taun ini :)
    Keren tu ampe 1 taun 5 bulan!
    Teukipa emank takan prnh tgnti!! >_<
    Ud jodo'a sarang eonni tuh teuki oppa [=
    Sebel bgt sama yg ud sirikin sarang, jlek2in teuki oppa :P

    So sweet bgt de smw'a…

    Daebak! Good Job! I like that =)

  5. Ah….akhirnya asha muncul lg……
    Lama bgt sha gak muncul d blog…(asha tw q gak? Q ulfiana alfa alvira…heheh-asha:kagak nanya!-)
    ayo….kpn FF yg lain muncul lg?

  6. Hhaaahh aku sampe nangis bacanya:))haha untung aja endingnya happy kalo engga pasti udah kepikiran haha.
    Ayoo buat ff yang lain:))rameeee

  7. nangis nih aku chingu bacanya… hahahah… mana tanpa sengaja lagi denger lagu you are the one -___- hehehe
    gapapa kok.. mau 10 tahun 11 tahun… yang namanya cinta kan tetap cinta.. hahahah XD
    sama si bias aku juga tetap beda 9 tahun… sampe kapan pun… -____-“

  8. oh. . . Sumpah aku mpe bingung mau komentar apa. . .
    Aku ikut kebawa ma suasana cerita y, aku suka bgt kisah percintaan y penuh liku n perjuangan jd so sweet bgt huh. . .huh. . .

  9. ceritanya bagus banget. . . ya ampun cba authornya bikin terpaut 15 tahun, itu kan aku =_____=
    Daebak authornya, keren ! aku suka

  10. wah ada sarangteuk ni….seru bgt,d lnjut y chingu klu ada sequelnya….o ya mian ni klu ag babo emng sblmnya prnh ada y ff tntng sarangteuk couple?kq aq gk tau ya…blh tau n ksi tau dnk blog yg pny ff ini biar aq bs bc lbh lngkap tntng sarangteuk….

  11. eommaaaaaaaaa, akhirnyaaaaa :D
    sumpah deh, bagus+keren banget!
    apalagi ada woohyunnya
    haha
    walopun cuma muncul sedikit
    wah, wah, wah, 4 jempol deh! dd^^bb

  12. waaaaah akhirnya, happy ending juga. Seneeeeng…^^,

    tadinya sempet sebel ma sarang, bisnya dia cuek banget.
    Tapi syukurlah, semuanya baik2 saja pada akhirnya.

    I like it dah pokoknya ^^,

  13. kerennnn bgt.

    sampe speak less mo komen apa?
    meskipun lbh muda 10 thn sarang lebih dewasa daripada remaja pada umumnya…
    salut 6 jempol buat author na

  14. Kayaknya udah prnah baca, tapi lupa baca disini atau di tempat lain.
    mski baca ulang tetep aja nih ff daebak.
    Reader seolah ikut merasakan perasaan jungsoo dan sora.

    Engh…asha pnya blog pribadi gak?

  15. huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…………
    sama kayak yg lainnya: ini keren!!

    sama kayak yg lainnya:konfliknya ajib

    sama kayak yg lainnya: speechless

    sama kaya yg lainnya: suka banget

    astaga thor… aku ga nyesel iseng-iseng buka FF ini :D keren.. huehehehehe

  16. wah aku suka….
    terpaut usia 10tahun… ㅋㅋㅋㅋ tapi sebetulnya itu tidak masalah.
    sarang mantannya banyak banget yah… bagi satu dong. *nunjuk soohyun*

  17. Ceritax KEREN….!!!
    aQ suka endingx, makin d’baca makin sulit nebak akhr…
    aQ jdi gregetan sndri… Hahahaha….
    Selamat ya buat Teuk-han sarang couple… Hehehehe…
    Sukses trs buat authorx…. \(^O^)/

  18. Bagus banget ceritanya author. Dari awal sampai akhir semuanya sangat menarik sehingga jadi penasaran terus kenapa Sarang bs berpacaran dgn Jung Soo oppa. Dan pas di interview sm Taemin jadi penasaran sebenarnya siapa cinta sejati Sarang dan ternyata itu Jung Soo oppa. Finally mereka bersatu kembali, so sweet dan kedua keluarga itu pun datang merayakan kelulusan Sarang. Great love story

  19. baca ini airmata aku ga berhenti keluar, feel sad.a bener2 ngena…cerita soal hubungan jarak umur jauh emang sulit banget diterima….tapi untungnya happy ending jadi airmata.a bisa berhenti

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s