[Drabble/Songfiction] On Rainy Days

Title : On Rainy Days

Genre : Drabble – Song Fiction

Authorized by : Asha-eurekalee

Tagged song on Indonesia trans : On Rainy Days – B2ST

-desclaimer- : BEAST is belong to CUBEnt. And I just the owner of story-board, plots and characters on this fiction.

-author notes : KANGEN SAYA NGGAAKKKKK? *nggak*-___-

yasud, ini sedikit membingungkan kalo nggak diperhatiin, soalnya antara flashback ama present-nya (bold typed) di setting yang sama. Jadi pelan-pelan yaa bacanya. Happy Reading ^____^

 

== On Rainy Days ==

Ketika dunia berubah menjadi gelap

Dan hujan turun perlahan-lahan.. 

Semuanya tampak sama..

 

Tik.. tik.. tik..

Gadis itu mendongak, menatap langit yang tengah bersedih—murung dan gelap, meneteskan satu persatu air dari surga. Dingin, dan menyerap ke dalam tanah dengan cepat. Gadis itu tidak bergerak sedikit pun dari tempatnya berdiri. Seolah tak menyadari bahwa dalam semenit lagi gerimis ini akan menjadi hujan deras.

Dua menit berlalu, dan gadis itu tetap berada di tempatnya—diam. Hujan deras membuat seragam yang ia kenakan itu seratus persen basah. Tas yang ada di punggungnya pun basah. Entah bagaimana nasib buku cetak di dalamnya.

Gadis itu menunduk, menatap aspal yang diam saja menahan berat badannya.  Rambut panjangnya yang tebal kini bagaikan helai-helai tak berarti—basah.

== On Rainy Days ==

“Sedang apa di sini?” tanya seorang namja tiba-tiba mendekat ke sebuah gang sempit di antara dua gedung tinggi yang tak terjangkau.

Gadis itu mengerutkan alis, “Berdiri.”

“Tapi hujan, kan. Apa kau suka hujan, sama sepertiku?” tanya namja itu, gadis itu melirik badge namanya sekilas; Lee Kikwang.

Gadis itu menggeleng, “Tidak. Tapi aku hanya malas pulang. Di rumah aku hanya mendengar kedua orang tuaku bertengkar. Itu memuakkan..”

“Kalau begitu, mau menemaniku?” ajak Kikwang.

Gadis itu mendesis, tapi Kikwang sudah terlebih dulu menyambar lengan tangannya sebelum gadis itu sempat menyetujui atau menolak ajakannya.

Gadis itu mengerutkan kening saat Kikwang berhenti di tepian sungai Hangang. Sungai itu membentuk banyak sekali riak-riak air yang disebabkan oleh titik-titik hujan yang turun. Bayangan lampu kota memantul indah, bergoyang-goyang dan beriak seiring air hujan yang turun.

Yeppeuji?” tanya Kikwang.

Gadis itu mengangguk lirih. Tidak ada pemandangan air lebih indah dari pada pemandangan sungai Hangang di malam hari saat hujan seperti ini—seperti apa yang ditunjukkan oleh Kikwang. Gadis itu melirik Kikwang yang tengah duduk menikmati sungai Hangang dan tetes air yang mengalir dari ujung rambutnya menuju ujung kakinya.

Gadis itu menarik nafas, tidak pernah sadar ada hal-hal yang menarik di dunia ini yang belum ia lihat.

== On Rainy Days ==

Bahkan hari ini, tanpa suatu keraguan pun..

Aku tak bisa keluar dari semua ini..

Aku tak bisa lepas, tak bisa berhenti memikirkanmu..

Gadis itu masih berdiri, seperti menikmati air dingin yang terus mengalir ke seluruh tubuhnya. Hingga air hujan itu benar-benar sudah meresap ke dalam kulit di balik pakaiannya. Bahkan ia sudah merasakan hawa dingin itu di perutnya.

Ia meremas kedua kepalan tangannya—seolah mencari kehangatan yang sia-sia saja. Ia menoleh ke arah luar gang di mana ia berdiri. Yang ia lihat hanyalah jalanan sepi yang tampak kabur oleh kabut dan awan-awan tipis yang tercipta karena perbedaan temperatur dan suhu.

== On Rainy Days ==

Saat ini..

Aku tahu ini adalah akhir..

Aku tahu ini semua hanyalah kebodohanku..

Saat ini aku tahu ini semua tidak benar..

Aku hanya kecewa pada diriku sendiri..

Karena ‘sebuah kebanggaan itu’ aku tidak bisa lagi memelukmu, mendekapmu..

Di satu musim hujan kau datang dan menemukanku

Menemani dan bersamaku melewati malam

Dan ketika hujan mulai berhenti, kau juga..

Perlahan, sedikit demi sedikit, kau juga akan berhenti..

 

“Aku menyukaimu. Aku menyukaimu sebesar langit,” suara lirih Kikwang hampir saja tertelan oleh gemuruh hujan deras yang selalu mengguyur Seoul beberapa bulan terakhir. Kedua tangan Kikwang menggenggam tangan gadis berambut panjang itu.

“Aku menyukaimu, menyayangimu, mencintaimu,” ulangnya.

Masih tidak ada respon. Kikwang menatap mata gadis itu dalam, mencoba mencari jawaban atas pernyataannya. Nihil, tidak ada apa pun di sana.

Gadis itu menggeleng, “Aku tidak bisa punya kekasih yang tidak melanjutkan sekolahnya.”

Kikwang terhenyak.

Lalu gadis itu melanjutkan, “Aku tidak bilang kau bodoh, aku juga tidak bilang kalau tidak melanjutkan sekolahmu untuk pergi bekerja adalah sebuah hal yang salah. Tapi aku juga perlu seseorang yang bisa kuandalkan dalam segala hal. Kau mengerti maksudku.”

Kikwang diam.

Gadis itu melepas genggaman tangan Kikwang. Hujan turun semakin deras.

== On Rainy Days ==

Aku pasti sedang mabuk

Kurasa aku harus berhenti meminum minuman ini..

Karena hujan turun jatuh ke bumi, kupikir aku juga akan jatuh

Tapi bukan berarti aku merindukanmu, bukan berarti seperti itu..

Itu hanya berarti bahwa waktu yang kita lalui bersama sangat berarti

Ketika hari ini adalah hari-hari yang sangat kau sukai..

Aku terus teringat kenangan akan dirimu..

Terus mencoba menyakinkan diri sendiri bahwa itu sudah menjadi kenangan

Aku mencoba melangkah maju

Tapi aku bahkan tidak menghasilkan apapun, tak bisa melarikan diri..

 

Gadis itu menunduk lebih dalam dari sebelumnya. Ia sedang menahan letupan di dadanya, rasa perih yang menggerus hatinya menjadi butiran kristal yang pada akhirnya mengalir dari ujung matanya, menyerobot keluar dari kelopak matanya, mengalir menyusuri pipinya.

Gadis itu membiarkan air matanya menetes. Satu persatu. Tak mengijinkan jemarinya menghentikan, tidak pula menyeka air mata yang kini sudah hampir menyerupai bendungan yang pecah. Deras mengalir.

== On Rainy Days ==

Saat ini..

Aku telah menghapus semua tentangmu..

Aku telah mengosongkan pikiranku tentangmu.

Tapi ketika hujan mulai turun lagi..

Seluruh kenangan tentangmu yang kusembunyikan dengan rasa sakit

Semuanya menyeruak kembali, terulang..

Mencarimu..

Mendung, dan gadis itu beranjak berlari menuju gang sempit di mana ia bertemu dengan Kikwang. Tapi gang itu lengang—tak ada seorang pun di sana. Padahal sebelum ini, selalu ada Kikwang yang menunggu kedatangan gadis itu ketika gadis itu datang terlambat saat hujan.

Setelah pernyataan perasaan Kikwang yang mendadak itu, setelah penolakan mentah-mentah dengan alasan yang tidak begitu kuat dari gadis itu.

Gadis itu menoleh ke belakang, kanan dan kiri—mencoba mencari keberadaan Kikwang.

Nihil. Hingga hujan berhenti tiga jam kemudian, gadis itu tak kunjung menemukan sosok yang ia cari.

== On Rainy Days ==

Teruntuk engkau..

Tak ada lagi jalan untukku kembali saat ini..

Tapi melihat wajahmu, terpancar kebahagiaan

Aku akan tetap berusaha tersenyum..

Karena aku lah seseorang tanpa kekuatan apapun, tanpa hak apapun untuk menghentikanmu..

Suara tawa yang sangat familiar terdengar dari arah kejauhan. Gadis itu menoleh takut-takut, berharap suara tawa itu adalah suara tawa dari seseorang yang sedang ia pikirkan saat ini.

Ketika matanya menangkap sosok Kikwang tengah menggandeng erat pergelangan tangan seseorang—dengan rambut pendek—senyum manis terpancar dari wajahnya.

Gadis itu menggigit bibirnya. Memaksakan diri untuk tersenyum. Senyum pahit, diantara bulir-bulir air mata yang masih menetes—tersamarkan dengan hujan.

Kenapa ia harus menangisi keputusannya setahun lalu? Kenapa ia harus menunggu musim hujan tahun ini untuk mengatakan yang ia rasakan saat ini? Kenapa ia harus menangis, menyesali bahwa namja yang ia cintai itu kini tak lagi berada di pihaknya?

Jika mencintai Kikwang, kenapa gadis itu tidak mengatakannya? Apakah sebuah gengsi bisa membunuhnya? Apakah cinta tak berarti lagi baginya? Kenapa menyakit diri sendiri, kenapa tidak mengaku bahwa memiliki perasaan yang sama?

Kenapa harus menunggu satu tahun berlalu?

Dan ketika Kikwang melintas, namja itu menoleh ke arah gadis itu—yang masih mencoba membiasakan diri untuk berdiri di spot yang penuh kenangan, kini terasa begitu menyakitkan. Kikwang menatap gadis itu sekilas. Dan entah benar atau salah, gadis itu maupun Kikwang—sama-sama memiliki bulir yang tengah menggantung di kelopak mata mereka.

Bulir yang siap menetes dan tersamarkan oleh hujan—sekali lagi.

Gadis itu mengalihkan pandangannya cepat, begitu ia dan Kikwang saling bertatapan untuk beberapa detik. Cukup menyakiti dan menyayat perasaan yang penuh penyesalan. Gadis itu menangis—lagi.

Seorang namja dengan payung menghampiri gadis itu, “Sampai kapan kau akan berdiri di sana?”

Gadis itu mendongak, menghambur—memeluk erat kakaknya hingga payung itu terlepas dan hujan mulai membasahi kakaknya. Gadis itu menangis, terisak dalam.

Kakaknya itu mengusap punggung gadis itu perlahan. Ia tak bisa mengatakan apapun, ia tahu tak ada yang bisa ia lakukan untuk menghibur adiknya. Setidaknya selama hujan turun, usahanya akan sia-sia.

 

== On Rainy Days ==

Dan apa yang bisa aku lakukan pada sesuatu yang sudah berakhir?

Aku hanya menyesalinya, seperti orang bodoh yang idiot.

Hujan selalu turun setiap tahun, dan rasa sakit itu akan terus terulang..

Ketika hujan berhenti, maka aku akan berhenti.

 

Maafkan gadis itu yang terus membohongi diri sendiri hingga ia harus kehilanganmu, Kikwang.

Maafkan gadis yang mengatasnamakan sebuah kebanggaan—yang sesaat—sehingga ia sendiri tidak bisa melakukan apa-apa saat kau berjalan menjauh.

Maafkan gadis yang hanya bisa menangis, setiap kali hujan turun karena terus teringat akan kenangan bersamamu yang ia lewati selama musim hujan—yang menjadi sebuah ingatan terindah baginya.

Maafkan gadis bodoh yang hanya bisa menyesalinya sekarang.

Kikwang-ah, maafkan gadis bodoh itu. Maafkan gadis bodoh yang sama sekali tidak bisa mengatakan betapa ia mencintaimu. Mencintaimu sebanyak tetes hujan yang menghantam tanah selama musim hujan setiap tahunnya.

Maafkan gadis bodoh bernama Yong Junhye itu.

Maafkan gadis bodoh yang ternyata adalah aku…

 

–FIN—


%author footnotes :

Bawaannya nangis denger lagu ini. Mungkin karena aku dan hujan udah jadi musuh bebuyutan—pengalaman yang menyakitkan. Bahkan ketika ngepost FF ini pun, lagi hujan. Hujan dari langit, dan dari mata saya kekekekeke XDD  for me, rain is a lot of painfully memories I never wanna remember :’)

6 thoughts on “[Drabble/Songfiction] On Rainy Days

  1. Helloooooooooooooo :) Miss U too ^^

    Knp klo emank sama2 cinta? Gikwang d tolak? (-_-)’
    Itu ahir’a yeoja’a gmn ahir’a?
    Gikwang kn ud ama cwe lain! :(

    Lanjuuttt donk, pliiissssss >_<

  2. anyeong! aku reader baru ^^
    lagi suka bgt sama lgu on rainy days, eh ga sngaja nemuin FF ini.
    kebetulan bgt, jd kubaca deh..
    dan ternyata bgs bgt!! keren! dapet bgt feel nya! :)
    author hebat ^^

  3. terus itu akhirnya gimana eomma?
    mereka nggak bersatu?
    sediiiih, lagunya emang ngena banget >.<
    apalagi alurnya bikin seolah – olah kita bisa ngerasain jadi cewek itu
    aku jadi sukak lagunya nih! ;D

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s