[Freelance] The Marriage and Us {Day 3}

Title : The Marriage and Us [Day 3]

Author : Bee

Main Cast : Yesung, Bee

Support Cast : all members of Super Junior

Rating : all age

Genre : romance

Disclaim : biar kata terinspirasi dari WGM, alur cerita murni ide Bee.

***

Aduh, sudah pukul 8. Aku harus bergegas kalau tidak mau terlambat. Kulihat pintu kamar yang masih tertutup. Yesung belum bangun, jadi apa boleh buat. Kutinggalkan saja sandwich bakar untuknya di meja di depan sofa. Kutempelkan catatan di dekat piringnya,

Tidak ingin membangunkanmu. Aku akan pulang sekitar jam 6.
Kuharap kamu menyukai sandwich-nya. Oh ya, daftar misi-nya tampak bagus! b^^d

Selama perjalanan ke kantorku di RS Seoul, aku diikuti oleh seorang kameramen. Orang-orang yang berpapasan denganku melihat penasaran. Awalnya aku agak malu dan canggung, tapi lama-kelamaan aku jadi terbiasa. Malah sekarang aku punya kebiasaan curhat langsung ke arah kamera, contohnya seperti saat ini.

“Aku harus berangkat lebih pagi,” kataku ke arah kamera. “Sebab sekarang kantorku jadi lebih jauh dari sebelumnya. Hari ini mohon kerja samanya…”

Sepanjang perjalanan aku mengingat kejadian dua hari terakhir dimana aku harus menjadi istri Yesung. Rasa antusias mengiringi perjalananku ke kantor pagi ini.

Sampai di kantor, “Kita sudah sampai,” ujarku ke arah kamera. Kameramen memintaku menjelaskan tentang tempat kerjaku.

“Ini Rumah Sakit Seoul. Saat ini aku bekerja freelance di sini sebagai penerjemah pasien, khususnya pasien rawat inap.” Aku memasuki pintu utama. Beberapa orang memandangku dengan rasa ingin tahu.

“Saat ini sedang ada pasien yang berasal dari Indonesia yang menderita kanker perut. Saya bertanggung jawab dalam memperlancar komunikasi antara pihak RS dengan pasien tersebut.”

“Selamat pagi,” seruku memasuki kantor yang disediakan untukku. “Ini kantor yang disediakan RS untuk saya. Saya seruangan dengan beberapa staf lain.” Kamera mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan dan beberapa rekan kerjaku melambaikan tangan ke arah kamera.

Kulihat memo tertempel di komputerku, lalu aku berkata pada kamera, “Ah, sekarang saya harus menemui pasien.”

Maka dimulailah rutinitasku di RS seperti biasanya. Kamera terus mengikutiku selama aku bekerja. Terkadang jika aku hanya mengerjakan pekerjaan meja, kameramen mematikan kameranya. Makan siang pun aku lakukan bersama dengan kameramen. Ketika akhirnya tiba waktuku pulang, aku bisa merasakan bahwa mulutku sudah otomatis membentuk senyuman setiap hendak berbicara ke arah kamera. Aduh, aku ini emang sarkam (sadar kamera) banget deh.

Aku pulang sambil membawa berkas-berkas yang diminta pihak RS untuk diterjemahkan. Selain sebagai perantara antara pasien dengan RS, kadang mereka juga memintaku menerjemahkan dokumen-dokumen berbahasa Korea ke bahasa Inggris atau sebaliknya. Aku sih senang-senang aja. Kan itu artinya aku dapet tambahan honor… Hehe.

Sampai di rumah aku tidak menemukan Yesung. Aku meletakkan tas-ku di dalam kamar, mengambil baju ganti dan berganti baju di kamar mandi. Keluar dari kamar mandi aku melihat jam, ternyata masih jam 5.30. Yah, memang pekerjaanku hari ini tidak sebanyak biasanya.

Aku ke dapur mengambil minum dan menemukan catatan dari Yesung tertempel di pintu kulkas.

Sandwich-nya enak. Terima kasih. Sampai ketemu jam 7. Tapi tidak perlu menyiapkan makan malam, sebab sepertinya aku akan ditraktir Leeteuk Hyung.

Ciss.. enak banget dia. Ya udah, aku bikin makan malem buat sendiri aja kalau begitu. Aku membuat nasi goreng 2 porsi. Untukku dan untuk kameramen. Tapi karena harus menunggu nasi matang dulu, aku memutuskan untuk merapikan rumah. Kuperiksa kamar mandi, melihat tumpukan baju kotor. Ah, ternyata kalau hidup tidak sendiri itu baju kotor cepat sekali menumpuknya. Baru dua hari kami tinggal bersama, ember baju kotor sudah penuh. Padahal kalau tinggal sendiri, aku bisa mencuci baju setiap 5 hari sekali. Kuangkat ember baju kotor itu ke tempat mesin cuci dan mulai mencuci.

Sambil menunggu mesin cuci, kunyalakan mesin penyedot debu dan mulai membersihkan lantai. Beberapa saat kemudian aku mendengar suara tanda nasi sudah matang, tapi aku biarkan saja. Aku tetap membersihkan lantai. Selesai membersihkan lantai, aku melihat jam. Ternyata sudah waktunya sholat maghrib.

Selesai sholat, mesin cuci sudah berhenti berputar. Aku berkata pada kameramen, “Sabar kan menunggu makan malam? Aku mau menjemur pakaian dulu ya?”

Kameramen hanya mengacungkan jempol.

Dalam 15 menit aku sudah selesai menjemur pakaian, lalu segera memasak. Di tengah-tengah pekerjaanku memasak, terdengar suara pintu depan dibuka. “Aku pulang!”

Suara Yesung.

Kuhentikan pekerjaanku mengiris sosis sapi. Aku menyambutnya. “Wasseo?”

Sejumlah perasaan aneh menguasaiku. Aku merasa senang sekali dia sudah pulang. Aku tidak merasakannya seharian tadi, tapi saat melihatnya sekarang ini aku merasakan rindu bertemu dengannya. Kalau dipikir-pikir lagi kan memang terakhir kami ketemu adalah kemarin malam sebelum dia  berangkat ke KBS radio station untuk siaran SUKIRA.

“Oh,” jawabnya.

Kuambil tas ranselnya dan kubawa ke kamar.

“Ah, lelah sekali hari ini…” katanya.

“Emang kamu ngapain?” tanyaku keluar dari kamar.

“Kami mulai berlatih untuk persiapan SS4.”

“SS4?” tanyaku. Well, oke. Aku ada pengakuan. Aku tahu Super Junior, aku menyukai mereka, tapi jujur saja aku bukan fans mereka. Aku baru mulai memperhatikan mereka setelah menerima tawaran untuk ikut program ini. Jadi aku tidak begitu familiar dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan mereka kecuali beberapa lagunya. Bahkan sampai dua hari yang lalu aku masih mengira Dangkoma itu kucing.

“Super Show,” jawab Yesung. “Masa kamu ga pernah dengar?”

Aku menggeleng. Sambil melangkah kembali ke dapur.

“Apa itu Super Show? Konser?” tanyaku.

“Iya, kami mau konser keliling Asia. Ini yang ketiga kalinya. Kamu ngapain sih, Sayang?” tanyanya tiba-tiba sudah di belakangku.

“Aku lagi masak makan malam untukku dan kameramen. Kamu udah jadi ditraktir Leeteuk Oppa?”

“Ya. Kami tadi sudah makan.”

“Jadi aku hanya akan bikin dua porsi nih ya? Untukku dan uri kameramen-nim.”

“Ya, ya.”

Tapi ga enak juga kalau kami hanya makan berdua, jadi aku memutuskan untuk mengupas buah untuk Yesung dan kameramen yang tadi pergi bersamanya. Lalu aku teringat sesuatu.

“Sayang, apa kamu mau mandi dulu sebelum berangkat ke tempat siaran?” tanyaku.

Yesung yang sedang bosan mengganti-ganti channel tv melihat jam dinding. “Ah, ya. Sebaiknya aku mandi saja dulu sekarang.”

Oke, berarti aku ngupas buahnya nanti aja. “Sok atuh sanah mandi,” kataku.

Dia ga menjawab, hanya melangkah ke kamar mandi.

Sementara Yesung dan kameramennya bergantian mandi, aku dan kameramenku menyantap makan malam kami. Setelah selesai, aku membersihkan peralatan makan kami yang hanya sedikit, lalu mengupas buah untuk kami berempat.

Yesung, sementara itu sudah selesai mandi dan berganti pakaian. Ketika aku membawa buah yang sudah kukupas, aku berujar, “Hmmm, uri Sayang wangi sekali.”

Dia melihatku sambil tersenyum. “Bagaimana pekerjaanmu hari ini?” tanyanya padaku.

“Aku sudah mengupas buah. Makanlah. Kameramen-nim, ini buahnya,” aku menawari semua orang. “Baik. Hanya ada satu pasien sekarang ini, jadi aku tadi bisa pulang sedikit lebih cepat. Tapi semua orang heran melihatku bersama kameramen,” lanjutku.

“Ah, ya. Bisa kubayangkan,” kata Yesung mengambil sepotong pir.

“Kamu capek banget ya, Sayang?” tanyaku.

“Ya, lumayan. Sebenernya ada gerakan yang aku salah-salah melulu. Aku ga bisa-bisa gerakan itu. Padahal yang lain langsung pada bisa,” dia menceritakan padaku.

“Wah, nari itu ternyata susah juga ya?” tanyaku mengambil potongan apel.

“Ya iyalah. Bayangin, nari dan nyanyi sekaligus. Ngapalin lirik sekaligus gerak.”

“Oh, tapi aku bisa tuh,” sanggahku.

“Masa?” yesung menatapku tak percaya.

“Lho, kemaren kan udah aku buktiin. Masa kamu ga inget?”

Kemarin aku memasak sambil mendengarkan iPod. Karena sudah kebiasaan, aku nari-nari kacau sambil masak. Ujung-ujungnya aku kaget waktu tahu ternyata gerakanku direkam kamera. Waktu itu aku malu banget.

“Hahaha,” Yesung tertawa. “Itu sih namanya bukan nari…”

“Eh, jangan salah. Aku nyiptain gerakannya sendiri lho..!”

“Wahahaha. Ngeles aja kamu bisanya.”

“Lho kan bener. Berani taruhan deh, SNSD pasti ga bakal bisa ngikutin gerakanku kemaren.”

“Aku panggilin mereka ke sini lho, suruh nantangin kamu.”

“Aku yakin mereka pasti ga bisa niruin gerakanku sekalipun aku kasih contoh.”

Yesung menegakkan duduknya di sofa. “Uweeeh.. pede amat kamu. Kok kamu seyakin itu?”

Aku tersenyum sok, “Ya iyalah, mereka ga akan bisa. Orang aku sendiri aja kalau disuruh ngulangin gerakanku sendiri udah ga bisa karena lupa. Gimana mau kasih contoh ke mereka?!”

Dia terdiam. Antara mau ketawa dan takjub melihat keahlianku ngeles.

Aku pura-pura ga nyadar diliatin dia. Sok berbangga diri. Padahal alasan sebenarnya adalah, aku sedang merasakan itu.

Itu, adalah perasaan membuncah dalam hatiku melihatnya duduk di sofa. Berbincang berdua denganku, setelah aktivitas seharian yang melelahkan. Aduh, dia itu ajaib banget deh. Rumah ini jadi keliatan indah banget setelah dia pulang. Ruangan ini jadi hidup walaupun dia cuman duduk ditonton tv. Bahkan kayaknya rumah kami jadi lebih harum setelah dia masuk. Aku suka aroma tubuhnya.

Aku bisa merasakan datangnya suasana canggung setelah dia hampir berhenti tertawa. Maka buru-buru aku bertanya padanya. “Eh, Dangkoma udah dikasih makan?”

Dia menoleh ke samping sofa tempat akuarium Dangkoma terpajang. “Udah. Tadi pagi.”

Aku menghampiri akuarium Dangkoma, “Sehari cuman dikasih makan sekali?” tanyaku sambil memperhatikan kura-kura itu di dalam akuarium.

“Iya. Soalnya kalau kebanyakan malah ga sehat buat dia.” Yesung ikut mendekat ke akuarium.

Aku ga ngomong lagi, dan berkonsentrasi memperhatikan Dangkoma. Dia benar-benar menyenangkan untuk dilihat. Kuketuk-ketukkan jariku ke akuarium. Dangkoma bergerak mencari sumber suara. Setelah ditemukan, aku gerakkan jariku menelusuri dinding akuarium. Dangkoma bergerak mengikuti gerakan tanganku. Tanpa sadar aku tertawa.

Aku melihat tangan Yesung diletakkan berlawan arah denganku, lalu dia mengetuk-ngetuk kaca akuarium. Dangkoma tampak mencari-cari sumber suara. Awalnya dia tetap memperhatikan tanganku. Tapi aku tidak bergerak sama sekali, sementara Yesung terus mengetuk-ngetukkan tangannya  menimbulkan suara. Akhirnya Dangkoma bergerak mencari asal suara.

Begitu dia sampai di depan tangan Yesung, ganti aku yang mengetuk-ngetuk kaca akuarium. Dangkoma kembali mencari sumber suara. Sebelum dia menemukan tanganku, dari arah sebaliknya Yesung kembali menimbulkan suara. Dangkoma pun kebingungan. Aku terkikik melihat tingkahnya.

Kumasukkan tanganku ke akuarium dan kusentuh kepalanya lembut. “Pabbo,” ujarku.

Kupandang Yesung yang tertawa dari balik akuarium. Matanya hilang ketika dia tertawa. Tapi ya ampun, dia enak sekali dilihat. Aku bisa mengatakan Eunhyuk yang paling keren di antara semua anggota Super Junior, Sungmin yang paling cute, Siwon paling ganteng, tapi aku ga bisa bilang Yesung ini apa. Aku cuman bisa merasakan ada yang ga biasa dalam hatiku ketika melihatnya. Kayaknya hatiku mau loncat keluar. Apalagi waktu dia melihatku seperti ini, rasanya aku harus menelan ludah berkali-kali supaya jantungku ga ikut-ikutan meloncat-loncat seperti hatiku…

Eh, lho, apa tadi? ‘Waktu dia melihatku seperti ini’? Aku baru sadar kalau pandangan kami udah beberapa saat bertemu. Aku langsung menarik nafas gugup dan pura-pura melihat ke arah lain. Untung aku melihatnya, objek lain yang bisa ku komentari.

“Eh, harusnya kita ngasih tanda untuk misi yang udah dilaksanain,” kataku sambil berdiri di depan daftar misi kami.

“Iya ya. Kita udah melakukan apa aja sih?” tanyanya tepat dari belakangku.

Duarr! Aku kaya habis makan sambel mentah cabe setan satu sendok makan sekaligus. Mukaku terasa panas banget merasakan tubuhnya dekat sekali di belakangku. Rasanya mungkin malam ini aku akan mandi deh. Padahal di musim begini biasanya aku hanya sanggup mandi satu kali sehari, dan aku sudah melakukannya tadi pagi.

Aku melangkah ke depan menjauhinya sambil pura-pura mengamati daftar itu lebih dekat. “Kita udah ‘menciptakan rumah’ kita,” ujarku.

“Sebentar,” katanya masuk ke dalam kamar.

Lagi-lagi aku harus mengambil nafas. Jangan-jangan aku kena asma, kok dari tadi kayaknya susah banget bernafas ya?

Aku sedang menenangkan diri ketika tiba-tiba satu tangan Yesung melewati wajahku, sementara tangannya yang lain bertumpu pada bahuku waktu dia memberi tanda di daftar misi kami.

Aku sukses meledak.

Kenapa sih? Dari kemarin kayaknya reaksiku ga begini deh. Kami kan udah sering pegangan tangan. Kenapa sekarang tangan dia di bahuku aja aku kayak meleleh?

Yesung masih terus membicarakan misi kami. Bagiku rasanya dia bicara tepat di sebelahku. Telingaku terasa geli seolah dibelai oleh suaranya. Aku melirik ke arahnya dan mendapati mataku sama tinggi dengan lehernya. “Hhhhiiiiiiih…” tiba-tiba aku mendesah.

Aku sendiri kaget dengan suaraku, apalagi Yesung. Kata-katanya terhenti dan dia menatapku. “Kamu… kenapa, Sayang?”

Aku cepat-cepat mengalihkan pandanganku dari lehernya. Tapi ouch! Salah arah! Sekarang aku malah aku terfokus pada bibirnya!

Kubasahi bibirku, lalu kugembungkan mulutku. Bagai orang hilang ingatan, aku meracau. “Aku… rasanya ototku agak kaku deh. Mungkin lebih baik aku mandi dulu. Kita ngomongin ini nanti aja ya?”

Aku dipandangi dengan aneh oleh Yesung. Tapi dia hanya bilang, “Oke,” sambil mengangguk.

Buru-buru aku ke kamar mandi. Di sana hatiku masih terus berdebar-debar. Segera kubuka bajuku dan kunyalakan shower. “Hiiiiih!” teriakku, lalu bruk!

Sedetik kemudian kudengar pintu kamar mandi diketuk, “Sayang, ada apa? Kamu kenapa?” suara Yesung.

Sial! Airnya dingin banget! Aku lupa menunggu beberapa saat supaya air hangatnya keluar. Karena kaget aku malah terpeleset. Sekarang pantatku sakit banget, dengan kucuran air dingin masih mengguyur tubuhku. Rambutku ikut basah, padahal tadi pagi aku sudah keramas. Dalam sekejap aku menggigil kedinginan.

“Sayang?” suara Yesung naik satu oktaf lebih tinggi. “Sayang, kamu kenapa?”

Dengan menggigil kujawab pertanyaannya, “Aku ga papa. Cuma salah buka keran.”

“Kamu yakin ga papa? Aku denger suara, kamu jatuh?”

“I.. Iya. Aku kepleset,” jawabku jujur.

“Buka pintunya. Biar aku liat kondisimu.” Terdengar gagang pintu digerak-gerakkan dari luar.

Enak aja lo! Gimana mau buka pintu! Gue kan lagi telanjang begini. Meski air yang menyiram tubuhku mulai menghangat, tapi aku sudah terlanjur menggigil.

“Sayang!” desaknya.

Aku buru-buru bangun, sseeet.. eh, kepleset lagi!

“Ga!” teriakku. “Aku ga papa kok. U… Udah bangun lagi kok ini, ga papa!” seruku.

Cisss, pantatku bener-bener sakit. Segera saja aku selesaikan mandiku dengan air panas yang sudah keluar.

Setelah selesai aku keluar dengan rambut berbalut handuk. Yesung yang sedang duduk di sofa melihatku dan langsung berdiri menghampiriku. “Kamu ga papa?” tanyanya buru-buru.

Aku nyengir, “Hehehe, ga papa kok. Lagian aku juga bodoh.”

“Mana yang sakit?”

Masih dengan cengiran di mulut, “Ehe, pantatku. Aku jatuh terduduk tadi.”

Dia tampaknya benar-benar khawatir. “Eodi?” dia memutar tubuhku, ingin memeriksa bagian yang sakit.

Eits, ni orang. Udah dibilang yang sakit pantatku, kenapa masih mau meriksa juga. Aku buru-buru berkelit. Pas banget waktunya dengan momen dia sadar bahwa dia hampir menyentuh pantatku. Kini kami berdua kembali berhadapan. Berpandangan dengan canggung.

Entah dari mana terdengar suara, “Eiish.. yadong!”

Ups, ternyata itu suaraku!

Dia menemukan mataku, menatapku tidak percaya. “Mwo?!”

Aku segera tersadar, bahwa aku keceplosan. Shit! Tapi udah terlanjur, “Kamu mau nyentuh mana tadi?” tantangku.

“Ya!” Yesung benar-benar tidak percaya aku menuduhnya yadong. “Aku tadi cuma khawatir, tau!”

Aku tersenyum mengejek. Aku kenapa sih?!

“Ya! Kenapa kamu ga percaya? Aku beneran ga mau ngapa-ngapain kok! Lagian ngapain juga aku nyentuh-nyentuh kamu? Hiih!”

Dia kenapa sih?!

Aku memandangnya marah, sementara dia memandangku jengkel. Aku masuk kamar, sudah lupa sama sekali bahwa tadi kami berniat membicarakan misi-misi kami. Kuambil tas kerjaku dan mulai menyiapkan laptop-ku untuk bekerja.

Hih. Tega banget sih dia bilang begitu? Yah walaupun kita ini cuman pura-pura jadi suami-istri, ga perlu juga kan dia menganggap aku menjijikan gitu?! Aku membuka lembar dokumen kerjaku.

Lagian mestinya dia sadar dong kalau aku itu hanya bercanda mengatainya yadong. Aku kan ga serius dengan ucapanku! Kulewati halaman pertama tanpa membacanya.

Aku memperhatikan halaman dua, tapi kertas itu seolah-olah kosong, karena aku malah mikir, kenapa juga, aku ngatain dia yadong. Padahal dia kan udah khawatir sama aku.

Aaagh! Dengan ga sabar kubongkar gulungan handuk di kepalaku. Ah, pokoknya dia yang salah. Ngapain juga dia pake melukai harga diriku sebagai seorang perempuan?!

Tapi dipikir-pikir lagi aku kan juga meragukan integritasnya sebagai pria baik-baik. Jadi intinya sebenernya kami ini sama kan?

Sedang berpikir begitu, Yesung memasuki kamar. Aku buru-buru menyambar handukku. Dia tidak memandangku sama sekali, hanya masuk dan mengambil ranselnya lalu keluar lagi.

Aku malu sendiri karena sudah berpikir yang tidak-tidak tentang Yesung. Kupukul pelan dahiku karena sudah berburuk sangka. Untung dia tidak melihat gerakanku tadi.

Mendadak Yesung masuk lagi dan berseru, “Ya! Kau pikir tadi aku masuk kamar mau ngapain, hah?” Sial, rupanya dia menyadari kelakuanku. Lalu dia melanjutkan dengan nada lebih pelan, “Aku berangkat. Malam ini kamu tidur di kamar saja. Aku akan tidur di sofa.” Sesudah itu dia langsung pergi.

Aku yang masih bengong samar-samar menyadari ketika pintu depan ditutup. Sampai beberapa lama aku masih tertegun di tempatku.

Lalu perlahan-lahan aku bangkit, hendak menaruh handuk di jemuran. Ketika memasuki ruang tv lagi, aku menatap daftar misi kami. Yah, lupa deh tentang ini. Aku lalu merenung.

Aku menoleh ke arah kamera, “Aku yang salah ya?” tanyaku retorikal sambil tersenyum merasa bersalah. Aku yang mulai menggodanya, aku juga yang marah duluan. Aduh, konyol banget sih aku ini. Aku pun kembali ke kamar dengan tertunduk.

Sebaiknya aku bekerja saja untuk mengenyahkan perasaan bersalah ini. Kameramen yang mengikutiku bertanya aku mau apa.

Aku yang masih diliputi perasaan bersalah tidak langsung menjawab. Baru beberapa saat kemudian aku menjawab, “Aku akan sholat lalu mulai mengerjakan pekerjaanku.”

Memang itulah yang kulakukan. Akhirnya rasa bersalahku sedikit demi sedikit terlupakan ketika aku bekerja. Kameramenku sekali-dua memasuki kamar merekam aku yang sedang bekerja. Lama-lama aku juga lupa sama sekali akan keberadaannya. Aku sama sekali tidak terganggu sebab aku memasang headset di kepalaku dan menyetel winampku keras-keras sebagaimana biasa kulakukan kalau aku sedang bekerja. Semakin lama aku semakin larut dengan pekerjaanku. Aku tidak sadar sudah berapa lama aku bekerja, dan entah sudah berapa kali kameramen bolak-balik memasuki kamarku. Aku bekerja sambil bersenandung dan kadang-kadang menari-nari ga jelas meski hanya tubuh bagian atasku yang bergerak.

Aduh, tiba-tiba leherku terasa kaku. Kuhentikan sejenak kegiatanku mengetik. Dari winamp terlantun lagu My Valentine yang dinyanyikan oleh Taecyeon feat. Nickhun. Lagu ini menurutku sangat manjur untuk memulihkan semangat. Liriknya romantis, nadanya juga playful dan easy listening. Dengannya aku memulai konser tunggalku. Hihihii..

Only you’re my Valentine / Eonjekkajina neoneun naui sarang

Only you’re my Valentine / Neoneun nal tteonatjiman geuraedo nae sarang

Ijeneun neol saenggakhaedo apeujiga anha 

Neoreul miwohaetdeon gamjeongdeuri jogeumssik noga

Johasseotdeon gieokdeulman dasi saenggagi na / Deo isang niga mipji anha

(hamkke haetdeon sigandeuri) neomuna kkumgata

(dasineun oji anketji) niga animyeon

Nan mollasseulgeoya / Jeongmal mollasseulgeoya.

Geuraeseo neoege gomawo, wo~

Only you’re …

Aku berputar mengacungkan tangan seolah-olah ‘my valentine’ ada di belakangku. Dan aku terpaku.

Brsst! Mukaku langsung merah padam. Yesung sedang berdiri di pintu memperhatikanku. Di belakangnya kameramen merekam tingkahku. Mukanya menahan senyum. Dia nampak memandangku tidak yakin dengan mukanya yang lelah.

Meski malu, tapi aku tidak melupakan niatku untuk meminta maaf. Maka dengan muka masih merah aku mendekatinya. “Sudah pulang?” tanyaku dengan nada perdamaian.

Dia menggigit bibirnya sedikit. Aku agak teralihkan. Ga. Ga boleh. Aku harus minta maaf. Semenggiurkan apapun bibirnya, yang pertama harus kulakukan adalah minta maaf.

Aku melirik jam dinding. Wuih, sudah jam 2.30. Pantas saja leherku kaku, aku sudah mengetik hampir 5 jam.

Lalu aku memandangnya lagi. “Mau kuambilkan minum?”

Sepertinya dia menangkap sinyal perdamaian dariku. Dia melewatiku untuk menaruh tasnya di dalam kamar dan menjawab, “Boleh.”

Aku tersenyum sedikit lalu beranjak ke dapur mengambilkan air putih untuknya. Ketika kembali dengan segelas air, dia sudah duduk di sofa. “Ini minumnya,” aku menyerahkan gelas padanya sambil duduk di sebelahnya.

Dia minum. Lalu meletakkan gelasnya di meja.

Kami berdua terdiam canggung. Lalu aku memutuskan bahwa aku harus mengatakannya. “Aku,” aku menoleh ke arahnya. “Aku minta maaf. Tadi memang aku yang salah,” terusku.

Dia tampak terkejut dengan permintaan maafku.

Karena dia diam saja aku jadi merasa aneh. Maka aku mengerucutkan bibirku dan mengangguk. “Itu saja. Selamat tidur,” kataku sambil bangkit.

Dia menahan tanganku. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Lalu dia berkata, “Nyanyikan aku sebuah lagu dulu, baru aku memaafkanmu.”

Aku kaget. Mataku terbelalak menatapnya. Dia sudah gila ya?

“Enak aja aku gila. Katamu tadi kamu yang salah, jadi aku boleh dong minta syarat?”

Eh, emangnya aku ngomong keras-keras kalau dia gila? Perasaan enggak deh. Kok dia bisa tahu sih?

“Jadi mau ga?” dia mengingatkanku akan permintaannya.

“Ga ah. Lagian nyanyi tengah malam gini yang ada nanti dimarahin tetangga.”

“Tetangga kita kan cuman yang di bawah. Mereka ga akan dengar kok. Kalau kamu ga mau ya udah, aku maafinnya juga mikir-mikir lagi.”

Hiiih, kaya anak kecil banget sih nih orang?!

Tapi rupanya Yesung ga bergeming. Dia tetep memasang tampang keras kepala. Aku berdalih lagi. “Kamu kaya anak kecil deh.”

Dia memonyongkan bibirnya. “Ya udah, kalau ga mau, aku bawa aja rekaman kamu lagi nyanyi tadi ke tempat latihan-ku besok. Aku tunjukin sama anak-anak.”

Aku membelalak. “Eh, kok ngancem sih?”

“Terserah,” jawabnya ga peduli.

Aku jadi geregetan. “Ga mau ah, aku ga bisa nyanyi!”

“Tadi bisa.”

“Ya tadi. Sekarang udah ga bisa.”

“Kameramen, besok aku pinjem rekamannya ya?”

“Eh.. eh.. kameramen harus ga memihak dong!” aku protes.

“Ga ke kameramen juga aku bisa dapetin rekamannya,” Yesung bicara dengan nada bosan.

Aku tersengal. Aduh gimana nih???

“Aku ga bisa nyanyi kalo ga ada musiknya,” alasanku lagi.

Dia berdiri lalu masuk ke kamarku mengambil laptop yang terbuka. Dibawanya laptopku ke meja di depan sofa. Di-unplugged-nya headsetku, lalu terdengar suara musik mengalunkan I Gotta Feeling oleh BEP.

“Aku ga bisa lagu ini,” aku berusaha menghindar lagi.

Yesung mengamati layar laptopku dan mendadak matanya berbinar. “Kalau gitu yang ini aja. Yang ini aku tahu kamu bisa.”

Dia memutar lagu Taecyeon yang tadi sedang ku private consert-kan. My Valentine.

“Ga usah karaoke, ikutin aja lagunya,” katanya.

Ih, ngomong mah enak. Kami saling pandang-pandangan. Akhirnya aku menyerah. “Baiklah, tapi reffrainnya doang ya?” tawarku.

“Pake gaya kalo gitu.”

Aku mendelik.

“Ya udah, ga usah pake gaya, tapi satu bagian. Lanjutan yang tadi.”

“Aku udah lupa tadi sampe mana!” aku mulai kesal dengan syaratnya yang macem-macem.

“Aku inget,” katanya sambil tersenyum licik.

Sial. Rupanya dia udah mempersiapkan semuanya.

“Kamu bisa mulai di reffrain kedua.” Dia lalu mulai memainkan lagunya.

“Eh, eh, eh, aku belum siap!” tapi lagu sudah terlanjur nyala. Aku mengerang kalah.

Kudengarkan dengan seksama. Semakin mendekati reff kedua aku semakin grogi.

“Ikutin aja beat-nya,” Yesung memberi tips.

Ih, ga penting banget deh. Aku sebel.

“Oke, siap-siap… Yak!” dia menjentikkan jarinya memberiku aba-aba untuk mulai.

Only you’re my Valentine / Eonjekkaji neoneun naui sarang

Only you’re my Valentine / Neoneun nal tteonatjiman geuraedo nae sarang

Niga cheom tteonasseul ttae jeongmal neomu apasseo / Neomu apa niga miwotjiman sigani galsurok

Yesung pindah duduk di sebelahku.

Sangcheoneun amulgo chueokdeureun keojyeo / Jogeumssik misoreul chatge dwaesseo, Oh Yeah

(hamkke haetdeon sigandeuri) ijeneun sojunghae / (dasineun oji anketji) neo ttaemune

naneun neukkyeobongeoya sarangi mueonji

geuraeseo neoege gomawo

Only you’re my Valentine / Eonjekkaji neoneun naui sarang

Only you’re my Valentine / Neoneun nal tteonatjiman geuraedo nae sarang

Intro…

“Udah! Abis ini rap. Aku ga bisa ngerap!” aku mengatakannya sambil melarikan diri ke kamar.

Aku mendengar Yesung terkekeh penuh kemenangan. Di kamar aku tengkurap bertutup bantal.

Aku teringat sesuatu dan keluar kamar lagi. “Laptop-ku,” kataku sambil mengambil laptop yang sekarang sedang memutarkan lagu lain. Cepat-cepat aku kembali ke kamar dan menutup pintunya.

Sambil berjengit-jengit karena malu aku membereskan pekerjaanku. Setelah selesai aku nyungsep masuk ke dalam selimut. Beberapa kali aku berguling-guling gelisah.

Dari pintu mendadak terdengar ketukan. “Selamat tidur, Sayang. Terima kasih lagunya. Besok lagi ya…”

Bukk! Kulempar pintu dengan bantal yang kupakai. Membuatku harus bangkit lagi untuk mengambil bantal itu. Dasar aku bodoh!

Di luar tawa Yesung masih terdengar.

Aku meringkuk lagi di balik selimut sambil memeluk bantal yang tadi aku lempar. Aku malu banget, tapi saat ini aku ga bisa berhenti tersenyum. Aku udah baikan sama Yesung.

Ehehe, aku tertidur sambil cengengesan.

D3-KKEUT.

16 thoughts on “[Freelance] The Marriage and Us {Day 3}

  1. Aaaaaa lucuuuuu. Coba kalo yesung beneran WGM-an hhi sm aku tp *ditabok* ayo author day 4 nya ditunggu yaaaaaa

  2. Ahahaha bee lucu…. Enak bgt…. Cuma buat video shindong… Tapi, akur bgt…
    Wahahaha itu Yesung dbilang yadong. Hahahaha ada-ada aja. Lanjut…

  3. aku suka ini eonn XD
    aku bca ini tdi dri prolog huahaha~ komennya disatuin aja ya?

    Sukaaaa~ pas adegan mau jmput dangkoma, takut ama choco trus setiap yesung bilang ‘sayang’ romantis!

  4. Kyaaaa… Keren bgt thor…
    Apalagi pas klimat ini nih..
    “Aku bisa mengatakan Eunhyuk yang paling keren di antara semua anggota Super Junior, Sungmin yang paling cute, Siwon paling ganteng, tapi aku ga bisa bilang Yesung ini apa. Aku cuman bisa merasakan ada yang ga biasa dalam hatiku ketika melihatnya. ”

    Aku jg ngrasa gt… Aku mau jd istrinya yesung oppa…hahahaha#plakk digampar sma bee…
    Like it..lanjut ya cingu…

  5. Duh yg bca ikut cengengesan nih

    dari tadi senyum2 terus

    Nice ff thor
    lanjuuuut yg cepet lo thor! #maksa

  6. Mian ea thor , sbnr.na udah bgus , tp kurang seru crita.na . Ga ada pgalaman yg bener2 seru n lucu .
    Jeongmal mianhaeyo thor . Nie menurutQ aja . Mian kalo nyinggung hati author . ,

    part selanjut.na lbh seru lg ea thor . Mau Q kch saran ? Atau anggep aja nie reqQ .
    Sesekali beauty ikut yesung ke sukira dund . Trz tar kalo jadwal yesung longgar ganti yesung yg ikut ke RS .
    Trz buat jg liburan brg yg seru gtu . ,
    mian bnyk ngomong Q nich . ,

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s