[Freelance] Angel Hranitel [Part 8a]

Credits by. Lucas Delacroix

Tags. Super Junior, Park Eunri, Jo Seungmi

Notes. I’m back!! After all of that hell things, i can survive!! Alhamdulillah Ya Allahu Rabbi!! Hehe..

Okay…please enjoy it this part pals..

*******

I feel like i’m living in a jetplane

I’m standing here outside your door..

I hate to wake you up to say goodbye..

Aku terengah-engah, mengatur irama napasku yang terlanjur keluar berantakan.  Sesekali terbatuk karena rasa sesak ditenggorokanku. Tubuhku gemetar tidak tentu, merasakan ketakutan itu masih terasa nyata merayapi punggungku, menggelayuti pikiranku.

Aku menyurukkan tanganku pada rambutku yang berantakan.

Cause i’m living in a jetplane,

I dont know if i’ll be back again…

Tidak..pengaruhnya seharusnya tidak sekuat ini..

Aku menatap tanganku yang masih terlihat gemetar. Segel itu bersinar keunguan terang. Cerah, tapi cukup menyakitkan.

Aku menunduk, menahan rasa sakit yang muncul dikepala dan  tanganku secara bersamaan. “Aku mohon, hentikan,” aku mendesis parau, memohon. “Aku mohon, Near,” lirihku hampir berteriak.

Sebuah tulisan, seperti tampak digores diatas kulitku dengan benda tajam, muncul secara tiba-tiba.

‘Good morning, is more polite than a yell, Kyuhyunnie,’

Aku berteriak keras karena rasa sakit yang dihasilkan goresan itu. Tidak pernah terpikir olehku akan sesakit ini segel Siglid yang ia gunakan. Tidak pernah aku tahu kalau ini termasuk segel kutukan yang bisa melakukan hal ini.

“Ada masalah Tuan muda?” Humprey menerjang pintu kamarku pagi ini. Lelaki tua itu langsung menghampiriku begitu aku tidak memberikannya respon apapun selain menggeliat kesakitan saat luka tulisan itu menjadi luka bakar ditanganku. “Tuan Muda,” lelaki itu mengguncang tubuhku.

“A-aku baik-baik saja,” kataku cepat, menyembunyikan bukti luka yang kini mengeluarkan asap kecil karena terbakar.

“Kau yakin? Aku tidak tampak yakin kau baik-baik saja Tuan Muda,”

Aku terduduk dari posisiku, entah kenapa merasa kesal sekali. Rasanya seperti ada gumpalan rasa kesal yang menggumpal ditenggorokanku dan menungguku kapan meledakkannya. “Sudah kukatakan padamu aku baik-baik saja!”  bentakku kasar diluar kesadaranku. “Tinggalkan aku sendiri!”

Terkejut mendengarku membentak dirinya, Humprey menunduk segan dengan tubuh gemetar, “Maafkan aku tu-tuan muda,” katanya pelan seraya berbalik meninggalkanku sendiri dikamarku sesuai dengan perintahku tadi.

Aku menghela napasku yang sesak berkali-kali. Luka bakar ditanganku terasa mendenyut lebih sakit dari mantra kutukan manapun.

Tanpa berpikir dua kali, aku membawa tubuhku sendiri untuk bergerak kekamar mandi. Dengan langkah terhuyung yang terburu-buru, aku berhasil menjatuhkan rak kayu kecil didepan pintu kamar mandi dan merusak kaitan shower curtain. Aku benar-benar seperti orang yang baru saja menghabiskan tiga botol Sherry.

Kutatap wajah pucatku dipantulan cermin di kamar mandi.

Warna iris mataku berubah. Ada lingkaran jingga gelap ditengah-tengahnya. Seperti lingkaran api dalam lautan tinta.

Apa yang terjadi padaku? Kenapa hari ini aku merasa sangat aneh?

      ******

I feel like i’m living in a jetplane (Eunri’s Pov)

Pagi ini aku berbohong lagi mengenai kenyataan dalam diriku dihadapan Dad. Aku berbohong agar aku tidak lagi mendapatkan masalah berat jika aku berani jujur padanya.

Pagi ini dia bertanya soal perasaanku selama tinggal disini. Dia bertanya apakah aku senang dan nyaman tinggal dikota kecil ini.

Aku ingin sekali jujur, tapi aku memilih untuk berbohong.

Dad bukan orang yang bisa menerima keadaanku begitu saja. Dad bukan orang yang bisa mentolerir siapa saja yang membuatku merasa tidak nyaman dikota ini.

Kyuhyun sekalipun.

Lagipula, aku juga tidak bisa membiarkannya tahu soal kemarin. Soal aku mengejar Kyuhyun dan soal dia memelukku tanpa sengaja.

Tidak mungkin aku mengatakan hal itu padanya. Aku tidak mau Kyuhyun habis tertembak oleh ayahku mengingat kata-katanya semalam,

“Ingat Eunri, aku tidak akan segan-segan menembak kepala orang yang telah membuatmu tidak nyaman di kota ini atau melakukan hal yang kurang ajar padamu. Kau hanya tinggal katakan padaku,”

Aku meringis ngeri.

Tidak mungkin aku membiarkan dirinya tertembak hanya karena hal seperti itu. Dan tidak mungkin..

“Permisi,” tiba-tiba suara berat familiar berbisik dibelakangku. Aku berbalik dan mendapat Kyuhyun berdiri dihadapanku, menungguku menyingkir. “Ini lokerku,” katanya sambil mengacak rambut hitamnya yang memang tampak lebih acak-acakan dari biasanya.

Aku terdiam—terpaksa diam—karena aku terlalu terkejut dengan yang kulihat. Aku merasakan ada hal yang aneh ketika mataku bertemu dengan matanya yang sayu—entah lelah atau faktor bosan—rasanya seperti..dia bukan Kyuhyun.

Ragu aku bergerak menyingkir tanpa melepaskan pandanganku padanya. Dia yang kuperhatikan bahkan tidak memperhatikanku.

Donghae yang berada tidak jauh dari tempat itu langsung menarikku dan membawaku mundur bersamanya, “Kau tidak perlu bingung, yang perlu kau lakukan adalah menghindar. Dan umm..penampilannya cukup aneh, huh?,” bisiknya.

Ada yang aneh dengannya, entah apa itu, aku tidak bisa menyadarinya. Dan itu bukan soal penampilannya.

Entahlah, aku hanya merasakan…

Sorot matanya benar-benar berbeda. Tidak seperti Kyuhyun yang biasanya.

“Kyuhyun!” panggil Lilith, adik perempuannya, memekik. Lilith menghampirinya, tampak marah. “Apa maksudmu mengunciku didalam mobil tadi? Sangat tidak lucu,”

Kyuhyun menghentikan aktivitasnya sebentar, “Lucu? Aku juga tidak menganggapnya lucu,” katanya sinis menggeleng. Dia kembali melanjutkan aktivitasnya memasukkan buku pelajaran kedalam tasnya. “Kupikir, mungkin lebih lucu jika kau akan berakhir pingsan karena kehabisan oksigen, Lilo,”  Kyuhyun tersenyum tipis, menepuk-nepuk pipi adiknya.

Aku terkesiap pelan, tanpa kusadari. Apa aku tidak salah dengar?

Kyuhyun mengharapkan kematian adiknya sendiri? Tidakkah ini gila…

Kurasa aku mulai benar soal dia bukanlah Kyuhyun.

“Oh, brengsek kau Kyuhyun,” umpat Donghae cukup keras padanya. Aku menoleh padanya, terkejut. Dia menatap Kyuhyun tajam seakan-akan ingin membunuhnya. “Aku tak kan membiarkannya,”

Kyuhyun berdecak seolah-olah meremehkannya, “Lakukan saja kalau kau bisa. Kau hanya budak yang membangkang. Lihat sampai dia tahu kebohonganmu,”  tandas Kyuhyun. Aku tidak mengerti, tapi itu cukup kuat untuk membungkam Donghae.

“Tutup mulutmu sebelum aku memutuskan untuk mematahkan lehermu,” geramnya kemudian berbalik menarikku, membawaku pergi bersamanya. “Dia gila,” desisnya sangat pelan. Dia kelihatan sangat marah tapi dia cukup kuat untuk menahannya. “Kumohon padamu,” bisiknya padaku tiba-tiba. “Jangan dekati dirinya hari ini..jangan ajak dia bicara,”

“Apa yang terjadi padanya?” tanyaku “Ini bukan soal penampilan, aku hanya merasakan dia…seperti..,” aku mengernyit pada ide gilaku sendiri. “Seperti bukan Kyuhyun. Sorot matanya berbeda. Lagipula, apa Kyuhyun matanya memang seperti itu? Terlalu gelap atau apa? Ini hampir tidak memasuki rasional sedikit pun,”

Donghae menghentikan langkahnya. Dia kelihatannya cukup terkejut dengan pernyataanku, “Kau terlalu peka Eunri,” gumamnya agak menyesal, tidak tahu pada apa. “Dia hanya..mungkin terlalu kesal untuk menjadi orang baik hari ini,”

“Maksudmu, kepribadian ganda atau bagaimana?”

Donghae tertawa tapi menggeleng, “Tidak, bukan itu. Hanya saja, Kyuhyun bukan tipe yang bisa terus-terusan berpura-pura menjadi orang yang…,”

Aku berusaha terus mendengarkan Donghae, tapi entah kenapa kemunculan Chirag, teman sekelasku di kelas olahraga, yang berlari dilorong, berlawan dengan kami, tiba-tiba menyita terlalu banyak perhatianku. Seakan-akan waktu berjalan dibuat lebih lambat untukku sehingga semua detil yang terjadi menyita separuh perhatianku.

Dan rasanya seperti ada yang mengatakan padaku untuk…

‘Hentikan dia..’ seseorang berbisik keras seperti ditelingaku. Aku menoleh kaget, tapi tidak menemukan apapun selain Donghae yang masih terus berbicara dengan ekspresi gelisah.

‘Hentikan dia sebelum bertemu dengannya!’ suara itu membentakku. Dan ketika aku tidak melakukan apapun, secara tiba-tiba saja tanganku bergerak diluar kemauanku. Seperti ada yang memegangnya dan menggerakkannya.

Suara itu memintaku untuk lari, kan?

Aku meninggalkan Donghae, mengejar Chirag yang berlari didepanku, menghampiri Kyuhyun dan Eunri yang sedang bersitegang.

‘Panggil namanya!’

“Chirag!” panggilku tanpa sadar menuruti kemauan suara asing itu.

Jelas Chirag tidak mendengarku. Kudengar laki-laki aneh itu memiliki pendengaran yang buruk. Dan aku memanggilnya sekali lagi ketika laki-laki itu berbicara dengan Kyuhyun.

‘Berhenti! jangan dikejar lagi,’ perintah suara itu. Aku berhenti dan melihat semuanya seakan waktu memang diperlambat untukku.

Kyuhyun menarik kasar Chirag yang malang dan mendorongnya masuk kedalam lokernya sendiri. Chirag memberontak, berteriak memohon untuk dibebaskan, tapi Kyuhyun kelihatannya tidak mau mendengarnya. Dia menutup pintu loker itu dengan keras dan mengurung Chirag didalamnya.

Semua orang yang melintas disana melihat apa yang Kyuhyun perbuat. Beberapa dari mereka berteriak senang, beberapanya lagi meringis takut.

“Kyuhyun!” teriak Lilith mengejarnya yang berlalu begitu saja. “Kyuhyun!”

Apa yang terjadi padanya? Kenapa dia tiba-tiba seperti itu?

“Keluarkan aku, Kyuhyun! keluarkan aku!!” Chirag memukul-mukul pintu loker Kyuhyun yang terkunci dengan keras.

Aku bergerak hendak ikut mengejarnya, tapi Donghae menahan tanganku. Dia menggeleng, memprotes keras keinginanku. “Tidak. Jangan terlibat sampai kau bisa berpikir dengan masuk akal kalau Kyuhyun hari ini memang sedang tidak berbaik hati. Urungkan niatmu. Apapun itu,”

Rasanya bisikan aneh tadi juga menolak keputusanku itu.

      *****

I feel like i’m living in a jetplane (Reed’s Pov)

Dre menarik tanganku dengan kasar. Dia menggeram, tapi tidak meneriakkan kekesalannya. Hanya dipendam dan tidak dia keluarkan.

“Aku tahu apa yang terjadi pada Kyuhyun,” kataku pelan. Dre menghentikan langkahnya kemudian menghela napas panjangnya. “Kau pikir ini akan mengerikan? Memangnya apa yang akan terjadi?”

Mahluk itu..Near membangkitkan setengah jiwa mahluk itu lewat segel. Dia memanfaatkannya untuk menemukan Eunri,”

Mammon? Kalau begitu kita harus sembunyikan Eunri secepatnya,” Dre menahan tanganku. Dia menggeleng.

“Dia tidak akan melakukan apapun, selama Elliot masih sadar,”

Aku menggeleng, “Tidak mungkin. Bagaimana kita tahu Elliot sadar atau tidak?”

“Aku tidak tahu bagaimana, tapi jika dia masih sadar, mungkin dia akan berusaha mencari cara untuk berbicara dengan kita,”

“Maksudmu dengan Eunri? Aku sangsi dia bisa melakukannya. Eunri dan segala hal yang menyiksanya. Kau pikir dia sudi menggunakan tubuh Eunri yang sangat menggiurkan untuknya? Dre berpikirlah lebih baik,” aku menyilangkan tanganku didepan dada kemudian menghela napas dalam-dalam, menghirup udara kotor dunia jelek ini. “Satu-satunya jalan, temukan Ethan. Dengan Ethan kita bisa membatalkan janji wanita sok cantik itu dengan Alaistair,”

“Aku tahu, aku tahu, tapi bagaimana caranya?” pekik Dre frustasi. “Mereka menutup jalanku! Apapun pembicaraan langit mengenai Ethan, pasti hanya terdengar samar. Jika aku mencoba lebih jauh, kutukan itu akan menghampiriku dan dirimu,”

“Tidak ada yang lebih buruk dari kutukan itu,” akuku setuju. “Lalu sebenarnya apa masalahnya?”

Mahluk itu..aku rasa dia mulai sadar kalau Eunri adalah keturunannya. Siglid tidak berhenti bersinar ungu cerah daritadi. Dia bukan mahluk yang bodoh. Dia pasti akan mencari cara untuk mengambil Eunri diam-diam diluar pengawasan kau atau aku,”

“Lalu apa yang harus kita lakukan?”

Dre menghela napasnya kemudian menggeleng sebal, “Dia akan melakukan apapun untuk membawa Eunri. Ini sangat buruk. Aku ingin kau mengawasi Elliot selama aku pergi,”

“Bolos lagi?” aku mengibaskan rambutku. “Well, tidak masalah, setidaknya Elliot hari ini terlihat seksi jadi tidak begitu membosankan,”

“Reed,” tegurnya kesal.

“Oh, baiklah, baiklah..,”

      ******

I feel like i’m living in a jetplane (Eunri’s Pov)

Aku melangkahkan kakiku yang terasa sangat berat, menyusuri lorong sekolah yang cukup ramai. Beberapa menit yang lalu bel pergantian kelas baru saja berbunyi, ini berarti tanda bagiku untuk menghadapi kembali kehidupan normalku yang monoton. Keluar dari kelas reguler, masuk kedalam kelas khusus, mempelajari berbagai hal, keluar dari kelas itu kemudian pulang.

Sebenarnya itu mudah saja, jika saja tidak harus satu bangku dengan orang seperti itu.

Bukannya aku masih tidak suka duduk dengannya, bukan. Aku hanya merasa pasti hari ini akan terlewati lebih tegang dari biasanya, mengingat aku dan dirinya tidak pernah berjalan dengan baik.

Lagipula aku sangsi dia mau menganggap mudah soal peluk-memeluk kemarin itu. Dia sepertinya tipe orang yang tidak suka menyepelekan sebuah masalah.

Dan satu lagi..Donghae memang serius sewaktu mengatakan kalau Kyuhyun tidak dalam keadaan baik. Itu berarti tingkat ke-‘brengsek’-annya akan meningkat jauh lebih tinggi hari ini. Yang artinya kalau aku cari masalah dengannya berarti aku menggali kuburanku sendiri.

“Dengarkan aku dulu, Kyuhyun!” seru Reed dari seberang lorong, membuatku mengangkat kepala—entah kenapa akhir-akhir tubuhku tanpa sengaja seringkali tertarik jika ada yang menyebutkan nama itu. Kyuhyun berjalan kemari dengan cepat. Dia sepertinya sedang tidak mempedulikan teman dibelakangnya. “Kyuhyun, Demi Tuhan!”

“Eunri, menyingkirlah,” kata Kyuhyun ketika aku menghalangi jalannya. Dia menarik tangan kananku agar aku memberinya jalan masuk kedalam kelas. Lucunya, aku yang berusaha keras untuk tidak pindah terbawa mudah begitu saja.

“Kyuhyun!” seru Reed marah.

Kyuhyun menoleh marah, tapi tangannya belum melepaskan tanganku. Tanpa sadar, ia mengangkat tanganku yang tergenggam olehnya karena gerak refleksnya yang kesal, “Sudah kukatakan padamu kalau ak—“ tiba-tiba dia menghentikan kalimatnya. Matanya terfokus pada pergelangan tanganku yang digenggamnya.

Dia menatap tanda lahirku yang terlihat seperti luka itu lekat-lekat.

‘Tidak..,’  bisik suara itu lagi di kepalaku. ‘Tidak, jangan sampai dia melihatnya..,’ bisiknya ketakutan.

“Kau terluka?” tanyanya tiba-tiba. Alisnya berkerut seperti ingin tahu.

‘Bebohonglah atau marah atau apa saja..yang penting jangan sampai dia melihatnya lagi. Tarik tanganmu…,’

Aku menarik tanganku kasar, “Bukan urusanmu,” ketusku, mengikuti apa yang bisikan itu perintahkan padaku. Kenapa aku terus menurutinya? Aku berbalik masuk kedalam kelas, berlagak tidak mempedulikannya seperti yang bisikan itu inginkan dariku.

“Katakan saja itu bukan urusanku, tapi ternyata itu adalah urusanku,”

Aku berbalik, “Apa?” tanyaku ulang.

Dia tersenyum tipis, “Bukan apa-apa..,” kemudian melenggang masuk. Dia melewatiku. Tangannya terangkat menyentuh rambutku, “Eunri..,”

‘Menjijikan..,’ bisik asing itu mengerang jijik. Aku hampir setuju dengannya jika saja senyum Kyuhyun tidak semanis itu. Entah rasanya hampir aneh jika tadi pagi aku menganggap orang itu bukan Kyuhyun jika dia tersenyum semanis itu sekarang.

‘Memang bukan..,’ bisik suara itu kesal. Aku mengacuhkannya. Lagipula bisikan asing ini sebenarnya apa? Sisi lain dari hatiku? Tidak semua kata hati itu benar,kan?

Ah, brengsek. Kau akan sadar jika aku benar nanti,’ gerutunya. ‘Kau tidak tahu seberapa sulitnya memberitahumu, kan? Hatimu keras seperti batu.’

Kali ini aku benar-benar mengacuhkannya. Semakin lama bisikan asing ini semakin rewel. Aku tidak tahu, seharusnya aku berteriak atau apa karena ada hal aneh pada diriku, tapi entah kenapa rasanya jijik sekali jika aku merasa takut.

Kyuhyun berjalan ke mejanya—meja kami, tidak adil juga jika itu hanya dianggap sebagai mejanya jika aku juga duduk disana—kemudian dia duduk disana, melakukan rutinitasnya yang hampir tidak pernah terlupakan olehnya itu. Dia menarik kursinya lebih jauh dari kursiku lalu melemparkan pandangannya keluar jendela.

Haah..rutinitas.

“Kyuhyun!” Reed menghambur masuk, melewatiku. Rambutnya yang pirang keemasan menampar wajahku dengan lembut. Dia menghampiri laki-laki itu dan langsung menarik kerah bajunya dengan kasar. Membawa wajah Kyuhyun terlalu dekat dengan wajahnya, “Ikuti kataku dan dia jika kau tidak ingin mati,”

Aku menghampiri mejaku—yang juga meja Kyuhyun— berpura-pura seakan-akan tidak mendengar apapun. Aku duduk tenang diatas bangkuku dan berusaha untuk tidak mempedulikan mereka berdua.

“Untuk apa aku mengikuti kata-kata kalian. Suatu saat nanti kalianlah yang akan tunduk dibawah kakiku,” sinis Kyuhyun tajam, tidak kumengerti.

Reed menghempaskan Kyuhyun ke sandaran kursinya keras, “Aku memperingatimu dan..,” Reed menatapku lalu kembali menatap Kyuhyun. “Aku mengawasimu,”

“Silahkan saja. Itu bukan urusanku tapi temanmu yang hilang itu pasti senang melihatmu berusaha keras seperti ini,”

“Berusaha keras apa?” tuntut Reed sebal.

“Untuk tidak menciumku,” Kyuhyun mengangkat alisnya sambil tersenyum dengan gaya yang menjengkelkan. Dia menyilangkan tangannya didepan dada. Reed terlihat syok, seperti tebakan itu hampir benar.

Sekarang tidak mungkin aku tidak bersikap tidak peduli. Kalau pun ini memang leluconnya, ini sangat tidak lucu sekalipun aku belum mengenal Reed.

‘Demi Tuhan..ini lebih menjijikan ketimbang opera sabun..,’ bisikan itu mengerang hampir seperti ingin muntah.

Sepertinya aku tidak mungkin menarik lagi kata-kataku soal Kyuhyun hari ini sangatlah bukan Kyuhyun.

Donghae benar..dia gila.

Dari penampilannya saja, Kyuhyun terlihat sudah tidak seperti biasanya. Setahuku dan sepengamatanku selama ini, Kyuhyun bukanlah tipe orang yang senang mengenakan lengan pendek. Dia lebih senang lengan panjang atau lengan yang hanya sampai siku. Kyuhyun tidak pernah berpenampilan seberantakan ini..

Walaupun penampilannya hari ini terbilang sangat—bukan berarti aku tertarik—berantakan, tapi dia cukup hebat menarik perhatian semua siswi perempuan dan membuat mereka berpikir pasti menyenangkan jika menghabiskan waktu dengannya di gudang kebersihan seperti yang biasa mereka lakukan dengan anggota football yang lain. Seperti yang Sarah lakukan tadi, menggodanya saat dia ingin masuk ke kelas Spanyolnya, yang kebetulan bersebelahan dengan kelas Tata Negara-ku.

“Kau sudah mulai sinting, Kyu,” desis Reed kering.

Kyuhyun tertawa, “Mungkin lain kali saja Reed,” katanya tertawa geli. Reed melangkahkan kakinya dari situ, tidak mau bertahan lebih lama.

Begitu Reed menjauh dan duduk dengan kesal dikursinya, aku angkat bicara “Kau keterlaluan,” gumamku padanya tanpa sadar. Aku memperhatikan Reed yang sedang menelpon dengan ponselnya. Kelihatannya dengan sedang mengadukan hal ini pada orang lain.

‘Jangan bicara padanya..,’ geram suara asing itu ditelingaku.

Terserah. Ini kan mulutku.

Kyuhyun menghentikan tawanya, menatapku kemudian menghela napas, “Aku tidak bisa bercanda denganmu, entah mengapa,” katanya.

Aku mengibaskan rambutku pelan, “Maaf, aku tidak lucu,” kataku datar.

“Tapi kau harum,” aku menoleh, menatapnya terkejut. Bola mata gelapnya yang memiliki semburat jingga itu menatapku lekat-lekat seperti sedang menghisapku kuat-kuat kedalamnya.

“Kau…memakai kontak lens?” tanyaku tiba-tiba tidak bisa lagi kutarik atau kuedit ulang.

Dia terlihat agak terkejut sekaligus bingung kemudian menggeleng, “Tidak,”  katanya. Dia lebih terlihat merasa heran dan terkejut ketimbang merasa wajar untuk ukuran obrolan biasa. Respon apa yang sedang dia harapkan dariku?

“Entah, aku hanya merasa warna matamu dan sorot matamu berbeda dari biasanya,” aku mengangkat bahu. Suara bisikan yang ada dikepalaku itu menggigil takut.

Kyuhyun hanya mengangkat bahunya tidak peduli.

Aku ingin bicara lebih banyak lagi, tapi tiba-tiba Mrs. Cope sudah lebih dulu datang dan menaruh tumpukan kertas HVS baru diatas mejanya. “Hari ini aku ingin tahu sampai dimana kehebatan aksara inggris kalian dalam merangkai kata,” katanya sambil berkeliling membagikan kertas itu.

Apa? Pelajaran mengarang? Bukankah ini masih membahas Wuthering heights?

‘Itu pelajaran minggu lalu, bodoh..,’ bisik suara itu mengejekku.

Tidak, tidak. Aku tidak bisa mengarang. Bagaimana ini?

Aku menatap kertas putih kosong yang baru saja mendarat diatas mejaku.

“Kyuhyun,” panggil Mrs. Cope , menariknya dari lamunan panjang. Dia menoleh malas. Kepalanya hanya bergeser tiga inci dari posisi semula. “Buat paragraf deskriptif lisan perasaanmu tentang teman sebangkumu dengan spontan,”

‘Sialan..’ umpat bisikan itu hampir setuju denganku.

Kyuhyun menatapku sebentar dengan pandangan merendahkan kemudian menghela napasnya dengan sangat berat. Tuhan..memangnya aku sesulit itukah?

“Dia seorang wanita, tubuhnya mungil tampak kelihatan lebih rapuh dari siapapun disekolah ini. Wajahnya polos dan cantik dalam berbagai persepsi seperti hampir tidak pernah menimbulkan rasa bosan kepada siapapun yang melihatnya. Tidak relatif atau wajar,” Kyuhyun tertunduk, sedikit tersenyum karena menahan tawa. Apa yang dia tertawakan? Ekspresiku? Wajahku?

Aku menunduk menatapi sepatu Doc martin-ku yang tak kunjung berubah menjadi anjing dooberman yang rabies atau apa, karena aku rasanya ingin sekali melihat Kyuhyun tergigit anjing atau apa.

“Sekian banyak pendapat kudengar ditelingaku, tapi tidak ada satupun yang bisa kupercaya sepenuhnya. Bagiku tidak ada yang bisa menggambarkan kecantikan wajahnya yang tidak biasa, yang selalu membuat duniaku terputar dalam poros yang tepat. Entah dia tersenyum atau tertawa, aku merasa diriku telah penuh seutuhnya,”

Kyuhyun memiringkan kepalanya, “Kerapuhannya tidak bisa mengalihkan perhatianku untuk tidak memperhatikannya. Dia membuatku nyaman. Membuatku merasa tidak ada yang bisa kukorbankan selain panasnya neraka untuk mendapatkannya. Aku jatuh hati, walaupun aku tidak tahu apakah aku bisa mendapatkan hatinya atau tidak. Hatinya yang lembut membuatku sadar bahwa monster sepertiku hampir tidak pantas untuk mendapatkannya..karena pada akhirnya akulah yang seharusnya mati karena memendam perasaanku padanya, bukan dirinya yang harus mati karena tekanan jahatku pada hatinya.”

“Tidak seharusnya aku jatuh hati pada mahluk serapuh dirinya. Tapi Tuhan seakan ingin membalas semua dosaku. Aku benar-benar tidak bisa mengalihkan pikiranku pada dirinya yang menggiurkan dan membuat hatiku berteriak lapar. Aku mungkin hanya akan menelan mimpi bahwa dia akan mencintaiku. Aku mungkin hanya akan menjadi monster egois yang menyebalkan untuknya..,”

Aku terdiam dalam kursiku dengan belasan pasang mata yang menatapku iri. Aku bahkan tidak bisa menghindar dari tatapan iri Mrs. Cope. Mereka berpikir bahwa Kyuhyun benar-benar tulus pada kata-katanya sampai aku sendiri juga tidak bisa menahan detak jantungku yang berdegup lebih keras dari biasanya.

Untuk apa dia mengatakan hal bodoh seperti itu? Jelas-jelas dia membenciku, sekarang dia mengatakan hal ini sepertiku seakan-akan berusaha merayuku. Dia menemukan lelucon baru untuk mengerjaiku ya?

“Dan aku serius dengan kata-kataku yang barusan,” tambah Kyuhyun sambil mengangkat bahu. Dia biacra seperti itu, seakan-akan dia baru saja mencuri dengar isi kepalaku. Aku melemparkan pandangan tajamku padanya, tapi dia hanya balas menatapku.

Mrs. Cope menepuk tangannya dengan keras, “Bravo!” serunya, “Bravo, Kyuhyun!”

Semua orang bertepuk tangan untuk lelucon baru Kyuhyun, kecuali Reed yang hampir kehilangan gaya gravitasi rahangnya karena praktis dia menganga kaget.

‘Aku tidak benar-benar merasa seperti itu..,’  bisik suara itu sangat pelan.

Apa?

“Kau gila,” desisku kesal begitu Mrs. Cope berpindah dari meja kami. “Kau benar-benar menyebalkan,”

Dia mengangkat bahu, “Aku hanya berusaha jujur,”

‘Jangan percaya. Aku tidak benar-benar berpikir seperti itu!’

“Oh ya? tapi aku tidak percaya. Kau adalah pembual yang handal,” bantahku. “Kau hanya berusaha sedang mengerjaiku Kyuhyun. Kau tidak benar-benar tulus pada kata-katamu. Kau bahkan tidak memaafkanku waktu itu, kau hanya mengeluarkan leluconmu untukku dihadapan semua orang,” aku menggeram kesal.

Kyuhyun menatapku, kemudian menghela napas, “Eunri,” katanya pelan, “Kau tidak tahu makna tulus ya?”

“Anggap saja aku tidak tahu. Dengar, aku benci dengan segala sikap bunglonmu itu. Bisakah kau jujur saja? Jika kau memang membenciku, aku akan pindah. Kyuhyun, aku akan menghargai segala kejujuranmu, mengerti?” aku mengangkat tasku, merapikan semua perlengkapanku untuk bersiap-siap pindah tempat duduk.

Kyuhyun menahan gerakanku. Dia menyentuh tanganku. Dia mengambil tasku dan menaruhnya diatas meja, “Dengar, aku lelah bertengkar denganmu,” katanya agak kesal. “Dan aku tidak mengusirmu,”

‘Akting yang bagus..menyebalkan.’

“Bagaimana aku bisa percaya padamu? Ini benar-benar sulit. Apa yang terjadi padamu? Kyuhyun yang biasanya tidak pernah mengajakku bicara atau merayuku seperti tadi. Mungkin dia memang senang mengerjaiku, tapi tidak seperti ini. Siapa kau sebenarnya?” aku menuding dadanya dengan telunjukku kemudian cepat-cepat menariknya.

Kyuhyun terdiam. Ekspresinya agak syok, tapi dengan cepat dia membiasakannya lagi, “Jo Kyuhyun, jika kau ingin tahu,” guraunya, menyengir lucu. “Serius, Eunri kurasa kau yang terbentur,”

“Aku sehat,” aku bersikeras.

“Kalau begitu anggap yang tadi itu sebagai permintaan maafku. Aku sungguh lelah, Eunri,” dia hampir memutar bola matanya.

“Tidak. Maaf jika aku masih ragu, tapi maukah kau jujur?”

Dia benar-benar terlihat kaget sekarang, “Soal?”

“Siapa kau,” ejaku lambat-lambat seakan-akan bicara dengan orang cacat.

Kyuhyun tertawa. Tawanya sinis, “Kau terlalu peka, Eunri. Tapi kepekaanmu itu sia-sia,” katanya sambil tertawa. “Aku hanya memutuskan untuk berteman denganmu tapi kenapa kau mencurigaiku sebagai orang lain. Sekarang pikirkan apakah pernah ada orang yang berubah sangat cepat jika kalau bukan karena kau tidak mengenal mereka dengan baik?”  dia menatapku. Bola matanya yang bersirat jingga gelap itu mengisapku habis dengan pandangannya yang dalam. Gelap, penuh dengan ketidak tahuan yang membutakan semua orang yang berusaha mencari tahu.

Aku terdiam, mulai merasa dia cukup benar. Atau mungkin benar? Aku bersikap seolah-olah aku sangat mengenalnya padahal tidak.

“Kau hanya belum mengenalku, Eunri. Itu saja,”

Aku menunduk. Tanganku merosot pasrah, lepas dari cengkramannya, “Baiklah aku tidak akan pindah,”

Dia benar..aku memang belum mengenalnya.

Kyuhyun tersenyum, “Itu lebih baik. Sekarang, bolehkan aku bertanya?”  tanyanya. Aku mengangkat kepalaku, apa yang ingin dia tanyakan?

Aku mengangguk pelan, tidak mau menatapnya. Dia menggerakkan tangannya, menyentuh tanda lahirku. Jari-jarinya terasa seperti menyetrum kulitku. Aku hampir bergidik dan ingin menarik tanganku.

“Kau terjatuh?” tanyanya mengulang pertanyaan yang tadi tidak kujawab. Kenapa dia penasaran sekali dengan hal ini? Apa hal ini mengganggunya? “Kelihatannya sakit,”

‘Berbohonglah. Kumohon Eunri…,’ bisik suara itu tiba-tiba memohon.

Aku terdiam kemudian mengangguk, entah kenapa mengikuti kemauan bisikan aneh itu. “Ya..sudah lama sekali. Bekasnya tak mau hilang,”

Kyuhyun tersenyum kecil, entah untuk alasan apa. Kemudian dia melepaskan tanganku dan bergerak melepas perban yang sedari tadi melilit ditangannya, “Lucu jika hal yang sama terjadi pada dua orang yang berbeda,”

‘Tidak..jangan hal itu. Apa sebenarnya maunya?!’  suara dikepalaku marah.

“Tidak ada orang yang mendapatkan luka dan bentuk luka yang sama persis, kan?” dia menunjukkan padaku semburat keunguan di pergelangan tangan kirinya. Bentuk dan tempatnya sama persis dengan milikku.

Ini tidak mungkin, kan? Ini mengerikan. Sangat mengerikan sehingga aku tidak mampu bergidik atau berteriak takut.

‘Jangan sentuh luka itu. Jangan sentuh luka itu!’

Aku menghiraukan suara berisik dikepalaku. Kuberanikan diriku untuk menyentuh lukanya. Ada sedikit dorongan kecil dalam hatiku yang berteriak untuk menyentuh bekas luka itu. Bagaimana bisa?

Bekas lukanya terasa dingin, aneh. Hanya bagian luka itu yang terasa dingin.

“…Aku berpikir ini mustahil, kecuali kau berbohong soal luka itu. Apakah itu tanda lahir?” tanyanya tiba-tiba, membuyarkan konsentrasiku. Dia seperti meneriaki walaupun pada kenyataannya, dia tidak meneriakiku.

‘Berbohonglah, berbohonglah..,’

Kenapa tiba-tiba aku merasa harus jujur? “Ya, ini tanda lahir sebenarnya. Agak memalukan jika dibicarakan. Kau tahu, kan, anak perempuan?”  Kyuhyun mengangguk pelan, menanggapi kata-kataku. Dia sepertinya terlalu tertarik dengan keajaiban aneh dikedua tangan kami.

“Apakah kalian mengerjakan tugas yang sudah kuberikan, Kyuhyun? Eunri?” Mrs. Cope melongok kebawah meja mendapati kertas kami masih kosong. “Untuk kalian, aku mau paragraf deskriptif. Anggap saja itu hukuman. Ingat, aku mau tentang teman sebangkumu dan bukan karangan yang mengasal,” Mrs. Cope memelototiku dengan kedua bola matanya yang hampir keluar dari tempatnya.

“Oh tidak. Ini masalah buatku,” geramku, menarik tanganku dari Kyuhyun dan mulai membongkar isi tasku mencari alat tulis.

Kyuhyun tertawa, dia berputar menghadapi kertas kosong didepannya dan mulai menulis dengan cepat tanpa kesulitan sedikit pun. Aku memperhatikannya. Dia bahkan hampir menulis satu paragraf ketika aku belum menulis apapun dalam kertasku.

Hal yang berhasil kutangkap hanya tulisan: Manis dan rapuh

Setelah itu, Kyuhyun menarik kertasnya terlalu cepat dan memberikannya kepada Reed—yang diberi tugas untuk mengambil semua kertas-kertas kami—yang mempelototi Kyuhyun yang menyengir usil padanya.

Jika seandainya aku tidak menghabiskan waktuku dengan mengobrol dikelas dengan Kyuhyun, setidaknya aku sudah bisa mengarang tiga atau empat kalimat.

Ketika Reed meminta kertasku aku tersenyum, “Aku akan memberikannya pada Mrs. Cope nanti,”

Reed terkekeh pelan, “Bohong saja. Tulis saja yang jelek-jelek tentang dirinya,” dari caranya menekankan kata ‘dirinya’, Reed memang mengharapkan aku menulis sesuatu yang jelek tentangnya.

Tapi apa? Senyumnya yang manis? Suaranya yang lembut dan tidak pernah bicara dengan suara kasar pada perempuan manapun? Atau wajahnya yang tak mungkin bisa dihindari tanpa mulut menganga iri?

Aku tidak tahu apa yang jelek darinya selain sikapnya yang seperti bunglon padaku.

“Akan,” kataku berharap aku bisa mengabulkannya.

Kyuhyun menjengit, “Tidak akan,” desisnya menjawab sesuatu yang tidak dibicarakan. Dia menatap Reed tajam, “Pergi,” katanya. Reed tidak mengangkat kakinya sedikitpun. “Pergi,” kali ini Kyuhyun hampir membentak.

“Aku bisa saja melakukan sesuatu padamu. Sayang, jika Ethan disini, maka habislah kau. Kau hanya sementara, tidak selamanya. Jujur, kau sebenarnya iri, kan dia mendapatkan segalanya sementara kau terjebak didalam sana tanpa bisa melakukan apapun. Kau tak kan bisa mendapatkan apapun jika Dre tahu ini,” geramnya tajam, membuat Kyuhyun terdiam. Sebenarnya aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, tapi sepertinya itu memang cukup kuat menyentak Kyuhyun.

Reed menyentakkan kakinya, berbalik pergi, membuat sepatu peep toe merahnya menghasilkan bunyi berirama pada lantai kelas.

Kyuhyun mengerang tepat ketika bel berbunyi. Dia kelihatannya tidak cukup suka dengan apa yang Reed bicarakan. Dia menggerutu pelan hampir tidak kentara. Dia menyampirkan tasnya kemudian berjalan memutari meja kami lewat depan. “Eunri,” panggilnya berhenti dihadapanku.

Aku mengangkat kepala, mendapatinya sedang mencabut tutup spidolnya dengan gigi.

“Tanganmu,” katanya meminta tanganku. Aku yang tidak mengerti, tanpa sadar mengulurkan tangan kananku. Dia menulis beberapa digit angka diatas telapak tanganku, cepat dengan spidol Markernya.

Hebat. Kelihatannya dia memang tidak ingin aku menghapus hal ini. Dia bahkan mencengkram tanganku dengan kuat, mengantisipasi sikapku yang mungkin saja tiba-tiba menarik tanganku.

“Ini nomor ponselku,” katanya sebelum aku protes soal apapun. “Telepon aku jam tiga sore ini dan aku akan memberitahumu dimana kita harus bertemu,”

Apa? Janji? Tidak, tidak ini bukan gayaku. Bukan karena dia sudah meminta maaf, berarti aku menyetujui semua usulnya. Aku harus cepat-cepat berbohong.

“Tapi sore ini aku—“

Kyuhyun memotongku. Dia menarik tubuhku lebih dekat sehingga setengah tubuhku menyebrangi meja. “Aku tidak mau menerima alasan apapun darimu untuk kabur,” bisiknya ditelingaku. Napasnya yang panas menggelitik leherku dan jantungku untuk berdetak lebih cepat diatas normal.

Aku menarik diri, “Tapi aku tidak bohong,” protesku keras dengan wajah yang terasa hangat disegala bagian.

Kyuhyun bukannya marah, dia malah tersenyum, “Kalau begitu, sampai nanti,”  dengan gerakan cepat yang tidak kuprediksi sebelumnya, dia tiba-tiba menarikku lagi dan mencium pipi kananku dengan cepat. “…Eunri..,”

Dia melepaskan tanganku dan meninggalkanku sendirian dikelas yang mulai sepi.

Aku merasakan lututku lemas. Tanpa sadar aku jatuh merosot ke lantai.

‘Berharap satu kelas denganmu saja tidak…,’

Apakah itu benar Kyuhyun yang baru saja dua minggu yang lalu berharap tidak pernah sekelas denganku? Apakah benar itu dirinya?

Aku benar-benar butuh tylenol..

      ******

This is how i disappear..(Mammon’s pov)

Dasar Orpheans sialan! Mereka pikir diri mereka siapa? Mereka hanya lalat-lalat kecil yang suka ikut campur urusan orang lain. Mereka hanya hewan kecil menyebalkan yang suka sok mengatur, terlebih lagi Reed.

Dasar pelacur, seenaknya saja bicara dan berlagak sok suci.

Kita lihat saja, siapa yang akan menangis nanti. Dia atau aku, jika ia kehilangan Elliot bodohnya itu. Dia pikir selamanya aku akan menurut pada Elliot? Tidak akan pernah. Dia mendapatkan semua kesenangan sedangkan aku hanya diam didalam terkunci rapat tanpa bisa melakukan apapun. Dan dilahirkan hanya untuk dihina.

Akan kubebaskan diriku dan membunuh jiwa Elliot jika perlu..

Ini sebanding dengan apa yang mereka lakukan padaku.

Mereka membuangku. Menyegelku dan mengucilkanku hanya karena aku terlahir sebagai anak pendusta itu. Aku tidak akan diam seperti yang Elliot lakukan selama ini, dan membiarkan dirinya terhina terlalu lama.

Akan kubalas. Akan kubunuh panglima kesayangan kalian itu.

Dre Gergoff..

Dia akan mati ditanganku untuk membalas semua perbuatan kalian terhadapku. Merendahkanku dan meludah diatas kepalaku. Aku akan putar semua itu kembali menjadi milikku. Akan kuhancurkan dunia ini sebagai penuntut balasku atas perbuatan kalian.

Dan untuk mendapatkan itu semua, bukankah aku harus menghapus semua batas-batas yang mereka buat itu?

Aku senang menjadi dirimu hari ini, Elliot..

“Eunri,” panggilku pada gadis unik itu. Sudah beberapa hari ini kepala Elliot tanpa sadar dipenuhi oleh dirinya. Disatu sisi Elliot tersiksa dengan kehadirannya yang terlalu menyiksa untuk fisiknya, tapi disisi lain dia berubah menjadi sedikit lebih perhatian karena gadis inilah yang memegang segel kebebasanku. Elliot tidak mau melihatku bebas. Elliot tidak menginginkan diriku terlahir sebagai sisi gelap dirinya. Dia menolak itu semua. Dia berusaha membuangku diam-diam.

Gadis manis itu mengangkat kepalanya.

Aku tidak tahu apa yang merasuki Elliot. Manusia ini cantik, bahkan terbilang sangat cantik untuk ukuran manusia yang ternyata lebih terlihat menjijikan dari biasanya. Kenapa dia tidak tertarik walaupun gadis ini memiliki segudang daya tarik yang mampu membuatku bicara banyak padanya.

“Tanganmu,” aku meminta tangannya, seperti yang sudah kulakukan sebelumnya. Tangan gadis ini sangat menyenangkan. Terlampau hangat dan nyaman.

Dia mengerjap bingung, tidak mengerti, tapi ia mengulurkan tangannya.

Dengan cepat kutuliskan nomor ponsel Elliot yang selama ini tidak pernah diketahui cewek manapun disekolah ini. Dia terlalu jual mahal untuk ukuran mahluk menjijikan sepertiorpheans. Dia terlalu mementingkan harga dirinya dibandingkan bersenang-senang.

Tapi hari ini..akan kuajari dia caranya untuk bersenang-senang..

“Ini nomor ponselku,” kataku ketika gadis itu hampir memprotesnya. “Telepon aku jam tiga sore ini dan aku akan memberitahumu dimana kita harus bertemu,”

“Tapi sore ini aku—“ aku memotongnya lagi. Dia benar-benar keras kepala. Agak sulit mempengaruhinya. Bahkan tadi ketika ia bersikeras kalau aku bukan Kyuhyun. Diluar dugaanku kalau dia terlalu peka. Untung saja dia tidak imun dengan penanaman ide dikepalanya. Bagaimana kalau dia juga imun? Mati aku.

Aku menarik tanganya, membawa tubuhnya yang beraroma peach itu kewajahku. Jika aku jadi Elliot, aku tak kan melewatkan satu kesempatan pun. “Aku tidak mau menerima alasan apapun darimu untuk kabur,” bisikku ditelinganya.

Aku mendengarnya terkesiap. Jantungnya berdegup lebih cepat.

Hah, manusia..

Elliot benar soal manusia. Mereka bodoh, mudah tersipu dan terhanyut. Pantas saja Elliot tidak menemukan kesulitan apapun untuk membohongi manusia manapun. Sekarang aku baru merasakan kesenangannya.

Gadis itu menarik diri, sebal. Dia marah, tapi kemarahannya yang tidak lebih dari geraman kucing itu membuatnya menjadi menggemaskan. Pasti asik sekali menghabisinya ketika ia menangis meraung-raung. Wajahnya pasti lebih lucu dari pada ini.

Aku menatap matanya yang berwarna abu-abu.

Sesaat aku terdiam. Rasanya seperti ada yang aneh dari matanya…seakan-akan aku mengenali mata ini.

“Tapi aku tidak bohong!” serunya berusaha membantah. Aku tersenyum, tidak lagi sabar menunggu sore hari.

Menyenangkan sekali menghabisi orang yang penting bagi Elliot. Membuatnya panik dan sadar akan ketakutannya pada kehadiranku.

Aku menarik tubuhnya lagi, berusaha memberitahunya, tapi tidak secara gamblang, “Kalau begitu, sampai nanti..”aku mempererat cengkramanku. Dan menariknya lebih cepat lalu mencium pipinya, “..Eunri..,”

Aku melepaskan tangannya dan berbalik pergi ketika gadis itu termangu kaget.

Inilah caranya bersenang-senang, Elliot. Setelah ini..aku akan membuatnya menjadi lebih menyenangkan daripada ini. Kau tunggu saja..

      *****

This is how i disappear..

Dre terdiam melihat sesuatu yang baru saja memunculkan dirinya dihadapannya. Mulutnya terkunci rapat ketika melihat mahluk itu benar-benar memunculkan dirinya dihadapannya setelah pencarian panjangnya yang tak berujung pada hilangnya Ethan siang ini.

Mahluk itu berdiri tegap dengan wajah angkuh dan kedua sayap besarnya yang mengepak pelan, menebarkan aroma anggur dan white lily diudara. Dia bahkan datang dengan seragam kebesarannya yang menandakan bahwa mahluk ini adalah salah satu pasukan khusus Orpheans—mereka bisa dikatakan sebagai Arc— yang tidak mungkin bisa diabaikan jika Dre tidak ingin tubuhnya berakhir sebagai cabikan daging yang tak bernilai.

“Lama tak berjumpa, Dre,” katanya, menyapa dengan sikap angkuh yang tak mungkin bisa diabaikan. Dia menatap Dre dari atas sampai bawah kemudian mendengus, seakan-akan Dre adalah mahluk paling menjijikan yang pernah ditemuinya.

Dre terdiam. Selama ini dia sering mendengar kalau pasukan Arc adalah pasukan tertinggi yang dikenal sangat sombong. Maka jika hal itu benar, Dre benar-benar sedang berhadapan dengan salah satu ahlinya.

“Hanya tiga ratus tahun,”Dre membalikkan badannya, hampir menolak bicara dengannya. “Itu tidak begitu lama. Sebaliknya, lama tidak berbuat onar,” dia berbicara dari balik bahunya. “..Onew,”

Orpheans yang ternyata bernama Onew itu mengepakkan sayapnya kesal, membuat beberapa bulu abu-abu dari sayapnya berterbangan di udara. “Aku sedang tidak ingin mencari masalah denganmu, Dre,” geramnya.

Dre menghentikan langkahnya lalu berbalik, “Kau lihat? Aku juga tidak ada waktu berbicara denganmu. Jika kau memang sibuk dengan pekerjaan tidak-nyata-mu itu, maka jangan habiskan waktumu untuk bicara denganku,”

Luxios!” tiba-tiba tanah dibawah kaki Dre terasa bergetar begitu hebat, memercikan sinar kemerahan dan jingga, berlompatan didepan matanya. Dre merasakan lemas diseluruh tubuhnya yang diikuti oleh rasa sakit yang merajam naik keseluruh tubuhnya. Dia menunduk memegangi pahanya,berusaha memahami dan menahan rasa sakit ditubuhnya.

Dia terengah-engah, menahan sakit. Merasa kepalanya tak bisa lagi dikendalikan, ia jatuh berlutut dihadapan Onew. “Aku benar-benar tidak ingin menghabiskan waktu disini dengan mahluk rendah sepertimu,”

Dre merasakan rasa sakit itu mulai menggeliat di kepalanya. Tanpa disadarinya, ia berteriak, mengerang kesakitan. Dengan tubuh yang tidak bisa berbuat apapun, dia tidak bisa melakukan apapun untuk menghilangkan rasa sakitnya.

“Kau kesakitan, Dre?” Onew mengulurkan tangannya, meremas pelipis Dre, membuatnya semakin kesakitan. “Jika kau ingin lepas dari rasa sakitmu itu, katakan sumpahmu,” dia menepuk tangannya ke sekitar tubuh Dre. Rasa panas membakar tubuhnya tidak bisa menghentikannya untuk berhenti menjerit kesakitan.

“Demi Tuhan, aku tidak akan mengatakan apapun padamu. Aku tidak akan bersumpah!” raung Dre bersikeras diantara rasa sakitnya. “Aku bukan budakmu!”

“Tapi kau berada dibawah kuasaku! Ucapkan sumpahmu!”

Dre ingin tertawa sinis, tapi tenggorokannya tercekat seperti tersedak. Dadanya sesak dan perutnya mual, membuatnya tak berhenti untuk tidak memuntahkan darah yang menggumpal di ujung kerongkongannya. Jantungnya benar-benar terasa sangat sakit seperti ada yang meremasnya kuat-kuat.

Jadi inilah yang Elliot rasakan ketika Beezelbulb memberikan kutukan Luxios padanya sebelum sayapnya tercabut paksa…

Rasanya seperti hampir mati.

“Ucapkan sumpah itu!” seru Onew sekali lagi, menyadarkannya dari bunga mimpi akibat rasa sakitnya.

Rasa panas menjalar dileher Dre. Dia harus mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengepalkan kedua tangannya menjadi sepasang kepalan lemah.

I swear that i was born to be your slave, Master,” bisik Dre geram diantara katupan giginya. Dalam hati dia bersumpah bahwa dia akan membalas semua penghinaan yang terjadi pada dirinya ini.

Jika bukan karena dia salah satu Arc, Dre tak kan mau berlutut dihadapan darah kotor sepertinya. Dan jika bukan karena ini demi kehormatan dan loyalitasnya pada Michael, Dre tak kan mau mengucapkan sumpah pada Orpheans kotor sepertinya.

Dia bukan dari darah murni atau darah setengah murni. Dia manusia murni, manusia murni yang beruntung karena semua pengorbanannya terbalaskan. Dia bukan keturunanOrpheans. Tidak sedikit pun darah Orpheans mengalir dalam darahnya.

Onew hanyalah manusia sombong yang tidak meninggalkan sifat manusia menjijikan dari tubuhnya.

“Itu, hampir sempurna,” Onew menyilangkan tangannya didepan dada kemudian mendengus, “Dasar budak,”

Dre benar-benar menyesal soal kelahiran Onew didunia ini. Kalau bukan karena kesalahannya dulu saat dia masih menjabat sebagai Pelindung, mungkin dia sekarang yang menyuruh Onew untuk berlutut dan bersumpah padanya. Bukan seperti ini, menjadi Pelahap api yang hanya bisa diam dan menunggu perintah.

“Aku panglima,” geramnya. “Dan kau menghancurkan semuanya. Aku bukan tepat berada dibawah kuasamu. Aku lakukan ini semua demi loyalitasku pada Michael,”

Onew tertawa, “Terserah, tapi yang tadi itu menyenangkan. Melihat orang sombong sepertimu mau berlutut dan mengucapkan sumpah padaku. Setidaknya kutu-kutu macam kalian bisa menghibur kami,”

Dre bangkit dari posisinya dengan kedua tangan yang terkepal erat.

Michael..ini demi loyalitasku pada Michael.., bisiknya dalam hati.

“Apa maumu? Aku tidak ada waktu untuk mengurusi pekerjaan menganggurmu it—,”

“Tutup mulut pendustamu itu,” potong Onew geram.  Sebuah pedang tipis, mirip seperti pedang anggar, teracung dihadapan wajahnya. Dre terdiam. Sebenarnya dengan Paths atauFintlock-nya dia bisa menghancurkan pedang bodoh ini dengan mudah, tapi lebih baik biarkan saja anak kecil ini merasa sombong lebih dulu. “Aku kemari karena Arc mendapatkan tugas untuk melindungi Eunri. Park Eunri, keturunan Garreth Hoffler,”

Dre memutar bola matanya, “Ya, ya, kuno. Aku tahu dia,” katanya, “Lalu?”

“Aku tahu kau pasti sudah tahu soal ini, tapi yang mau kubicarakan disini padamu adalah Elliot,” Onew mengernyit seakan jika ia menyebutkan nama Elliot lidahnya bisa terbakar karena perasaan dosa. Dre tahu, semenjak Elliot dijatuhkan, Arc memang tidak ada yang menyukainya. “Bocah itu dalam bahaya,”

“Bahaya apa yang kau maksudkan?”

Onew mendecak, mennyurukkan tangannya pada rambut hitam pendeknya, “Reedemer itu..jika ia mendapatkan sedikit saja kesempatan, maka ia bisa membunuh jiwa bocah yang terjebak didalam tubuhnya itu. Dan memang itulah niatnya, membuang saudaranya sendiri,”

      ******

This is how i disappear..(Lilith’s pov)

Siang ini, Dad memutuskan untuk mengirim dulu Kyuhyun ke rumah Mom diluar sepengetahuan kekasih barunya itu. Dad merasa Kyuhyun mulai menunjukkan sikap ‘tak senang’ pada kekasihnya itu. Katanya setiap kali kekasihnya itu berusaha ber’baik hati’ pada Kyuhyun, pasti akan selalu berakhir dengan gerutuan Kyuhyun yang tiada akhir. Katanya Kyuhyun akan berubah menjadi kesal dan berwajah masam sepanjang hari. Intinya Dad merasa Kyuhyun dan kekasih barunya itu tidak berjalan dengan baik. Jadi untuk meredakan kekesalan Kyuhyun sendiri, Dad merasa Kyuhyun harus diizinkan lagi untuk bertemu dengan Mom demi kesehatan jiwanya.

Aku, jujur saja, menerimanya dengan tangan terbuka. Tapi masalahnya adalah..

Kenapa Kyuhyun bertindak tidak seperti ‘Kyuhyun’ yang biasanya. Seakan dia itu baru saja dihisap mahluk luar angkasa atau apa. Bahkan Dre menyuruhku untuk tidak mencari masalah apapun dengan Kyuhyun demi keselamatanku.

Aku ingin tahu apa yang terjadi, tapi Dre bersikeras menutup mulutnya dariku.

“Mom,” bisikku pelan, masih menatap Kyuhyun dari balik jendela dapur yang tertutup oleh tirai tipis. Laki-laki itu sedang sibuk dengan Jeep Commander hitam yang dicurinya dari garasi Dad. “Apakah kau merasa ada yang aneh dengan kakak?”

Mom mengalihkan perhatiannya sesaat dari ponselnya, “Aneh seperti apa? Aku senang ayahmu mengirimnya kesini. Setidaknya aku bisa lebih mengawasi kesehatan kakakmu ketimbang wanita itu,”

Aku menggeleng, “Bukan soal itu. Mom sudah dapat telepon dari sekolah?”  aku yakin Mom sudah tahu soal Kyuhyun mengunci Chirag Gupta didalam lokernya. Seharusnya tidak kupertanyakan karena persahabatan Mom dan Mrs. Cope tidak mungkin diabaikan.

Mom menghela napasnya tampak lebih lelah dari sebelumnya. Dia menutup display ponsel pintarnya dan menatapku dengan mata yang bertanya-tanya, “Aku tidak tahu. Ini bahkan pertama kalinya Kyuhyun mendapatkan catatan dari pembimbing konseling, sayang. Jadi biar kupertanyakan padamu, apakah Chirag Gupta menganggu kakakmu pagi ini, sampai-sampai dia harus mengunci bocah malang itu didalam lokernya?”

Aku menjengit. Chirag menganggu Kyuhyun? kurasa tidak, bahkan dengan fakta Chirag lebih sering menangis jika Kyuhyun—bahkan—bicara baik-baik dengannya. Chirag tidak lebih dari seorang yang pintar tapi idiot untuk mencari gara-gara dengan seluruh pihak sekolah. Dia bahkan terlalu bodoh untuk mengomeli Dre yang terus-menerus mengunyah permen karetnya saat pelajaran bahasa inggris.

“Ehmm, kurasa mungkin sedikit menganggu karena Chirag memanggilnya dengan sebutan ‘Partner’,” jawabku ragu-ragu.

Mom menaikkan alisnya, “Apa? Hanya itu?” aku mengangguk. “Kurasa kakakmu benar-benar sedikit stress tinggal dengan wanita itu,”

Mudah memang bagi Mom untuk mencari cara menyalahkan siapapun karena dia memang punya musuh sekarang. Tapi bagaimana dengan kami yang tahu kalau Kyuhyun melakukan itu bukan karena murni stress tapi karena murni memang ada sesuatu yang salah dikepalanya?

“Aku tidak mengerti,” gelengku tak setuju. “Mom ini benar-benar aneh. Kakak memang aneh,”

“Kalau kau memang mengira dia aneh, apa yang aneh darinya?” sepertinya Mom agak jengkel jika aku tetap bersikeras menyalahkan ada yang aneh dengan kepala Kyuhyun. dia sepertinya kurang suka putra tunggalnya dipojokkan seperti ini.

Khas seorang ibu sekali.

“Dia mengajak Eunri kencan. Dia mengajak Park Eunri keluar sore ini. Apakah itu tidak aneh? Tidakkah dia seperti orang yang terbentur?” akhirnya aku mengatakan asumsi terakhir yang tak ingin kukatakan. Seharian ini berita itu bagaikan bom nuklir yang baru saja meledak disekolah. Semua orang membicarakannya seolah-olah ini memang hal yang patut diperbincangkan.

Jika seandainya Kyuhyun menunjukkan ketertarikan pada mahluk-mahluk hormon progesteron berlebihan itu, berita itu takkan sampai heboh seperti ini.

“Eunri? Eunri maksudmu..Park Eunri?” aku memutar bola mataku. Memangnya siapa lagi yang bernama Park Eunri dikota ini selain putri tunggal Mayor Garreth? “Bukankah itu bagus?”

“Mom,”

Mom berbalik, kali ini benar-benar menatapku dengan serius, “Begini, Lilith, bukannya aku mau terus-terusan membela kakakmu, tapi tidakkah kau mendengar semua laporan ayahmu tadi pagi?Lilith, Kyuhyun sudah cukup tersiksa selama ini atas pandangan banyak orang padanya. Dia tidak seberuntung dirimu, sayang. Semua orang dikota ini mengadilinya,” Mom mengangkat tangannya saat aku hendak membuka mulut, “Tidak ada bantahan, aku senang jika kakakmu bisa melihat wanita lain selain Serra. Tidakkah kau senang dengan hal ini? Lily, dengar, aku hampir tidak sanggup lagi melihat kedalam mata kakakmu untuk sepanjang umurku jika anak itu tetap tidak bisa melepaskan pikirannya jauh dari gadis kuno bernama Serra itu. Aku tahu itu cinta pertamanya, tapi sanggupkah kau melihat kedalam mata kakakmu ratusan tahun kedepan nanti jika dia tidak menemukan Eunri atau gadis manapun yang bisa merubah hati kerasnya itu?”

Aku menggeleng pelan. Selama ini memang tidak ada yang sanggup menatap mata Kyuhyun jika ada yang mengungkit soal Serra dihadapannya. Kami bahkan pernah memilih untuk tidak bicara padanya ketika Kyuhyun marah soal Mom yang menyuruhnya untuk melupakan Serra.

Tapi..

Ketika itu, tiba-tiba saja Kyuhyun masuk dengan senyum sumringahnya.

“Mom, aku akan pergi sore ini. Mungkin aku akan telat,” katanya diambang pintu, menunggu izin dari Mom. Matanya bertemu denganku tapi dia melepaskannya dengan cepat.

Dia tahu kalau aku sadar ada yang salah dengannya.

Mom mengibaskan tangannya bahagia, “Pergilah. Jam malammu tepat jam sepuluh malam, Kyu,”

“Jam sepuluh malam,” ia mengulangnya sambil tertawa. Dia tersenyum padaku kemudian berbalik menutup pintu.

Kembalikan kakakku…

      *****

This is how i disappear..(Eunri’s pov)

“Baiklah…aku akan menjemputmu sore ini. Kau hanya tinggal menunggu,”

Aku duduk dengan tidak tenang diatas tempat tidurku sendiri. Sesekali aku melirik cermin besar dilemari pakaianku kemudian mendesis sebal. Apakah aku terlihat aneh? Apakah ini terlalu biasa?

Aku melirik lagi pantulan bayangannku di cermin besar itu.

Tidak ada yang aneh disana. Yang ada hanya aku yang memakai kamisol putih dan cardigan asimetris hitamku. Tidak ada yang aneh kecuali rambutku jika itu termasuk dalam urutan aneh.

Demi Tuhan, aku hanya tidak ingin terlalu terlihat berusaha ‘keras’. Lagipula ini hanya Kyuhyun. Aku tidak begitu mengenalnya, aku bukan temannya atau apa. Aku yakin acara ini juga dalam rangka meminta maaf dengan lebih baik.

Ya..dia hanya meminta maaf.

Aku merapikan rambutku yang baik-baik saja. Sudah berapa kali ini kulakukan?

‘Telepon Donghae..,’ tiba-tiba bisikan itu muncul lagi, kali ini mendesis tepat ditelingaku.

Apa? Aku mengangkat kedua tanganku, menutup telinga.

‘Aku bilang…,’ tangan kananku secara mendadak tiba-tiba bergerak, diluar kehendakku seperti ada yang mengendalikannya, mengaduk-aduk isi tas kecilku, ‘Telepon Donghae sekarang juga!’ bentaknya kasar. Tanganku mengeluarkan ponselku dari kantung kecil tasku dan menekan-nekan tombolnya sendiri.

Aku ingin berteriak, menangis atau histeris. Tapi rasanya seperti ada yang melarangku keras untuk bertindak berlebihan.

Teleponnya tersambung.

“Halo?” terdengar suara Donghae diujung sana, berderak-derak. “Halo, dengan siapa ini?”

Bicaralah Eunri…bicaralah..,’ ancam bisikan aneh itu. ‘Bicaralah dan katakan padanya rencanamu sore ini..aku tahu jika kau mencoba berbohong,’

Ketakutan, kudekatkan ponselku pada telingaku, “Do-Donghae,”

“Eunri? Kenapa kau menelpon? Ada yang terjadi? Suaramu bergetar..,”

Aku mempererat genggamanku pada ponselku. Sesaat seperti ada seseorang mencengkram tanganku begitu kuat lalu mengguncangnya, “Sore ini..tepat jam tiga, Kyuhyun akan mengajakku pergi,”

“Kyu-Kyuhyun? Kemana? Bisakah kau katakan padaku, aku tidak akan i—“ tiba-tiba saja sambungan teleponnya terputus begitu saja tanpa kutekan sedikitpun.

“Donghae? Donghae?” panggilku mendesis dicorong telepon.

Tidak ada jawaban. Ponselku malah mati, layarnya hitam gelap.

“A-apa-apaan ini..,” aku bangkit berdiri, membanting ponselku dan beringsut mundur. “Berhenti bicara..,” aku mengangkat kedua tanganku, menutup telingaku.

‘Kau tidak bisa menghentikanku dengan cara seperti itu, Eunri..,’

Aku berbalik, menatap wajahku lekat-lekat dipantulan cermin dibelakangku. “Siapa kau?” aku mengulurkan tanganku, menyentuh bayanganku sendiri. “Siapa kau? Apa maumu?!” bentakku pada bayanganku sendiri.

‘Aku meminta maaf jika kau terlibat jauh..,’ bisik suara itu muram. ‘Kumohon..Kyuhyun bukanlah orang yang baik untukmu. Sampai kapanpun..dia hanya akan menyakitimu,’

Aku terdiam, “Aku tidak percaya..sedikitpun dengan kata-katamu,”

Bisikan itu menggeram. Dia terdengar tidak suka sekaligus kesal. Tanganku terangkat mencekik leherku sendiri. ‘Tarik kata-katamu barusan..,’ geramnya berusaha menahan marah.‘Tarik kata-katamu itu Eunri..,’

“Tidak akan,” tegasku. “Memangnya apa yang kau takutkan jika kau tidak menarik kata-kataku, huh? Kau akan menghilang?” aku tertawa sinis, “Itulah yang kuharapkan. Jangan lagi ikut campur,”

Tanganku tiba-tiba terlepas begitu saja dari leherku. ‘Terserah kau saja,’ kemudian suara itu hilang. Kepalaku terasa kosong, aneh seperti ada yang kurang. Telingaku berhenti berdenging dan suara-suara yang sebelumnya tertutupi oleh suara itu mulai kembali muncul.

Apakah dia benar-benar hilang?

“Eunri,” tiba-tiba saja Grandma membuka pintu kamarku, membuatku kaget dan terlonjak. “Ada temanmu menunggu dibawah. Laki-laki, tampan,” aku memutarkan bola mataku melihat sikap Grandma yang selalu tertarik dengan siapapun yang dianggapnya tampan. Lagipula itu, kan hanya Kyuhyun. Apa Grandma sudah lupa soal Kyuhyun? “Tapi kelihatannya Garreth sedang bicara dengannya,”

Apa? Dad bicara dengannya?

Kusambar tasku dan berlarian kebawah dengan caci makian Grandma mengenai sikapku yang sangat tidak anggun karena berlarian.

Aku melihat Kyuhyun sedang bicara dengan ayahku. “Dad,” seruku tanpa sadar dari anak tangga. Aku melihat Kyuhyun mengangkat kepalanya dan tersenyum padaku. Sore ini dia memakai kemeja kotak-kotak biru yang lengannya dilipat sampai siku dan tidak dikancing sehingga kaus biru lautnya didalamnya terlihat.

“Benarkah kau akan pergi makan malam dengan Jo Kyuhyun malam ini?” Dad secara gamblang menunjuk Kyuhyun dengan ibu jarinya. “Sampai jam berapa Eunri?” Dad mempelototiku yang membeku di ujung anak tangga. Dia memperhatikan kamisol putihku dengan tajam.

“Kurang dari jam sembilan, aku akan mengantarnya pulang, sir,” jawab Kyuhyun menjawab pertanyaan untukku.

Dad tergagap pelan, “Garreth, please. Aku tidak terbiasa dipanggil seperti itu,” gerutunya. “Kemana kau akan membawa putriku?” tanyanya tak termakan senyum Kyuhyun.

Kyuhyun menatap ayahku dengan tenang, “Tidak jauh. Hanya di sudut kota. Kau bahkan masih bisa mengawasi kami, Garreth,” dia bahkan menantang Dad. Dia tahu kalau Dad pasti akan memata-matai kami lewat anak buahnya dikepolisian kota.

Menyebalkan sekali suasana seperti ini.

Aku menuruni tangga dengan cepat kemudian menarik tangan Kyuhyun, menyeretnya paksa, “Aku akan pulang, Dad. Kau tidak perlu rewel seperti itu,”  geramku di ujung pintu.

Dad mempelototiku lalu Kyuhyun, “Jika sesuatu terjadi padanya, kau akan berurusan denganku, nak,” katanya dingin pada Kyuhyun. Dia benar-benar berlebihan.

Tanpa menunggu izin lagi dari Dad, aku membanting pintu. Samar terdengar gerutuan dari dalam. Aku yakin itu gerutuan Dad. Dia bahkan berseru kalau dia akan menungguku pulang malam ini  yang praktis membuat Kyuhyun terkekeh mendengarnya.

Merasa malu, aku hanya berpikir untuk mendesis ketimbang menjawab seruan bodoh Dad.

“Benar-benar tipikal seorang ayah,” Kyuhyun terkekeh.

Aku memukul bahunya, “Cukup. Dia hanya mengkhawtirkanku,”

Kyuhyun memutar bola matanya. Dia tidak berkata apa-apa. Dia hanya menggenggam tanganku, menuntunku ke mobilnya. Aku memperhatikan tangannya yang menggenggam tanganku. Besar dan hangat. Apa seperti ini tangan anak laki-laki? Kenapa dulu ketika kakak menggenggam tanganku aku tidak memperhatikannya seperti ini?

Kyuhyun membukakan pintu penumpang untukku, “Jangan melamun, Eunri,”  katanya sambil membantuku masuk kedalam mobilnya yang tinggi. Jeep Commander memang cukup tinggi untuk ukuran tubuh mungil sepertiku.

Kyuhyun menyebrangi mobil bagian depannya kemudian masuk kedalam kursi pengemudi. Dia duduk diam disana, menatap roda kemudinya beberapa detik kemudian menghela napas.

“Apa?” tanyaku.

Dia menoleh kemudian tersenyum getir, “Kau keberatan tidak?” tanyanya. Tentu aku menggeleng. Aku tidak tahu apa yang Kyuhyun maksud dengan keberatan. “Kalau begitu, mudurlah,” dia menunjuk sabuk pengaman disisi kiriku yang belum terpasang. “Sistem locknya berbeda dari biasanya. Kebanyakan orang tidak cukup tahu. Aku mengubahnya karena Lilith sering kali tertidur. Jadi untuk menambah pengamanannya, aku mengubah sabuk pengamannya agar Lilith terhindar dari cidera kepala kalau-kalau aku mengerem mendadak,” katanya dengan raut tidak enak hati.

Dia menundukkan tubuhnya, berusaha menggapai sabuk itu tanpa membuatku risih atau apa. Aku memerhatikan gerakan tangannya yang sudah terlatih. Dia mengunci sabuknya dalam dua cara yang membuat si pemakainya tidak mungkin duduk dalam keadaan menunduk.

Cukup aman, bahkan untukku yang terlalu kikuk. Bisa saja nanti aku terantuk dashboard jika tidak ada pengaman model seperti ini.

“Ya..kurasa sudah cu—“ Kyuhyun mengangkat kepalanya dan terkejut mendapati wajahku terlalu dekat dengannya. Aku sendiri juga tidak menyangka karena terlalu asik memperhatikannya.

“Eng..ma-maaf,” sahutku kikuk menjauh. Wajahnya terlalu dekat. Sehingga terlalu jelas untukku melihat wajahnya yang selama ini tidak begitu kuperhatikan. Diluar dugaan, Kyuhyun memang bukan hanya sekedar tampan.

You feel like heaven..

I even cant take my eyes off from your perfect face..

Aku berusaha tidak lagi menatap wajahnya, tapi godaanya terlalu besar sekarang. Matanya seperti menghipnotisku berusaha menghisapku jauh jatuh kedalam.

“Eunri..,” panggilnya pelan, praktis membuatku menoleh. Saat itulah wajahnya terlalu dekat denganku. Aku membeku. Aliran darahku mengalir terlalu cepat, membuat jantung dan irama napasku berantakan.

When everything feel like chaos..

That’s because of you..

Aku mencium aroma cranberry yang menggiurkan dari napasnya yang menyapu wajahku.

Sesuatu dibalik perutku bergejolak. Tidak ada lagi yang menghalangi kecuali udara tipis diantara kami.

I just need you..

I just need you to hug me, to kiss me, to hold me..tight

Kyuhyun mencondongkan tubuhnya dan menempelkan bibirnya ke bibirku.

Dan aku tidak tahu dengan apa yang kupikirkan. Semuanya terlalu menghanyutkan sampai membuatku pening dan sesak sehingga aku tak bisa menghentikan apapun yang kulakukan sekarang selain menarik wajahnya lebih dekat denganku seakan ada cara yang membuat kami lebih dekat dari ini.

But that’s just a methaphor of my vivid dream..

Fallin love to you is just like have a damn fucking with a monster..

You screwed me up with all of your magic pheromon..

And then you kick me like a stray when you get bored..

Kyuhyun menjauhkan wajahnya dari wajahku dengan napas tesengal. Aku menunduk berusaha menyimbangkan kembali otakku yang sudah berputar-putar.

Kepalaku pusing sekali. Karpet Jeep dibawah kakiku terasa berguncang.

Sebelum semuanya menjadi gelap, samar-samar aku melihat Kyuhyun tersenyum, “Guten Nacht..Eunri..,”

Lalu semuanya terasa gelap. Benar-benar gelap.

      ******

11 thoughts on “[Freelance] Angel Hranitel [Part 8a]

  1. now i’m crazy…. give me part 8b pleaseeeeeeeee….T.T

    Eunri knapaaa???????? hufffttt… sesak napas plus deg2an ya bacanya

  2. ap..apa yg terjadi…? author tolong beritahu aku ! (memegang kerah author) hhaha beringas amat…
    manthabs ne thor seru…
    kutunggu yah lanjutannya….
    daebakk! hwaiting !!!! hehehe :D:D

    • waaaah…eunri diapain ya???? *niat banget ngegodain orang*

      santai, authornya lag normal kok. sisi pyscho lagi ga kumat.

      tapi mungkin di 8b kumat pyscho saya. saya udah kirim, tunggu aja ya confirmnya…

      semakin sabar, semakin deg-deg an ceritanya *kabur sebelum ditimpuk readers penasaran*

      good luck everyone!

      love,
      Lucas D.

  3. kyyaaaaaaaaaaaa~
    part 8b nya jgn lama2 donk~
    aku udah ga kuat nunggux!!
    daebak abisss deh~
    what happened with Eunri ??
    aduuuhh, aku penasaran nih.. hufft~
    aku suka bnget ff ini….
    suka!!! suka!!! suka!!!

  4. authorrr! aku tau nih ada beberapa adegan yang ngambil dari hush hush sama crescendo nya becca fitzpatrick kan? hehe…

      • yang mana ya……… lupa hahaha! author suka ya sama buku itu? aku juga suka, hihi apalagi patch nya OMG!! lanjutannya kaappaaaannnn?!! *dicekek author kebanyakan minta*

  5. saya pernah baca ff ini di blog lain. tapi cuma sampe part 3 aja. akhirnya ketemu lanjutannya *bahagia*
    tapi biasanya ff yang kaya gini kalo ga sad ending ya endingnya ngegantung. bikin geregetan =,=
    oh ya, next chap yaaa~ ditunggu loh :)

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s