[Freelance] The Marriage and Us {Day 2}

Title : The Marriage and Us [Day 2]

Author : Bee

Main Cast : Yesung, Bee

Support Cast : all members of Super Junior

Rating : all age (but kids, because they wouldn’t get it)

Genre : romance

Disclaim : biar kata terinspirasi dari WGM, alur cerita murni ide Bee.

***

“Dangkoma itu siapa?” tanyaku.

Yesung menjawab, “Itu peliharaanku.”

Aku terdiam di tempatku. Aduh.

“Sayang,” panggilku. “Umm, aku mau mengatakan sesuatu.”

Dia menoleh menatapku, “Apa?”

“Aku…” aku terdiam. “Aku… Aku takut sekali sama anjing.”

Dia menatapku tidak mengerti.

“Dangkoma…” ucapku ragu-ragu.

Dia menengadahkan kepalanya lalu tersenyum geli. “Hahaha, tenang saja. Dangkoma jelas bukan anjing.”

Aku menghembuskan nafas lega. Syukurlah. “Wah, kalau begitu kucing ya?” tanyaku. “Aku suka sekali kucing.”

Yesung menatapku aneh. “Kamu suka kucing?”

Aku sengaja membelalakkan mataku, “Suka. Suka. SUKAAA!”

Wah senangnya aku membayangkan akan ada kucing di rumah nanti. Aku udah lama pengin punya kucing, tapi di Indonesia ibuku sangat takut pada hewan peliharaan kecuali burung yang selalu di dalam kandang. Jadi, semasa aku masih tinggal dengan orang tua aku ga pernah punya hewan peliharaan apalagi kucing. Di Korea ini aku terlalu sibuk dengan pekerjaan sehingga aku hanya akan merasa bersalah jika aku memelihara binatang karena tidak akan bisa mengurusnya dengan baik. Makanya aku antusias sekali memikirkan akan ada kucing di rumah kami yang baru.

Saat ini kami baru saja selesai berbelanja berbagai macam kebutuhan untuk rumah baru kami. Sebagian besar belanjaan kami adalah bahan makanan. Nanti malem rencananya aku akan memasak opor, menepati janjiku membuatkan memasak masakan Indonesia untuk memperkenalkannya pada asal-usulku. Tadi pagi juga akhirnya aku sudah mengatakan kepada Yesung tentang agamaku, sistem ibadahku, serta ketidakbolehanku memakan daging babi yang umum disantap di Korea. Awalnya Yesung terkejut. Kami sempat terdiam canggung selama beberapa saat. Tapi lalu dia mengatakan, “Baiklah. Aku sebenarnya tidak punya bayangan sama sekali mengenai agamamu itu, tapi kurasa akan menarik melihat hal-hal yang baru selama kehidupan pernikahan kita,” senyumnya. Aku pun berterima kasih padanya.

Belanjaan kami memenuhi bagasi mobil Yesung. Di bangku belakang duduk dua orang kameramen kami, sementara kami berdua duduk di depan. Kami meluncur menuju asrama Yesung untuk menjemput Dangkoma, peliharaan Yesung.

Tak butuh waktu lama untuk sampai di sana. Begitu sampai aku bisa melihat bahwa kami bukan satu-satunya pasangan yang melakukan kunjungan ke asrama di hari pertama setelah menikah. Di sana sudah ada pasangan Ryeowook-Jungseo dan Eunhyuk-Soumi.

“Banyak sekali orangnya,” bisikku pada Yesung.

“Ayo masuklah,” ajaknya.

“Sillehamnida,” aku memberi salam.

“Kami dataaaang…” seru Yesung sambil menggandeng tanganku masuk.

“Hyung!” panggil Ryewook yang baru keluar dari dapur.

“Wookie, kenalkan ini istriku. Beauty.” Yesung memperkenalkan aku pada Ryeowook.

Aku tersenyum pada anak itu, “Anyeonghasimnikka,” kataku.

“Anyeonghasimnikka, Noona.” Ryeowook memperhatikanku. Lalu beralih pada Yesung dengan tatapan yang sedikit ngeri. “Hyung, selain dengan bahasa Korea apa kalian juga berkomunikasi pakai bahasa Inggris?”

Yesung tersengal, tapi menahan tawanya. “Geureom. Apa kamu ga tahu kalau aku selama ini belajar bahasa Inggris diam-diam?”

Aku yang mendengarnya tertawa pelan di samping Yesung. Memperhatikan Ryeowook yang matanya berbinar terkagum-kagum oleh bayangannya sendiri. Anak itu lalu menatapku lagi dan nyengir. “Hehe, aku tidak terlalu bisa bahasa Inggris, tapi welcome to uri jib. Eh, house! My house.”

“Ya! Ya! Emang ini rumahmu sendiri, apa?” Yesung memprotes.

Aku akhirnya tergelak. “Ahahaha, ga papa, Ryeowook ssi. Bahasa Koreaku cukup lancar kok.”

Ryeowook terbelalak. “Jinjja?”

“Oh,” sahutku.

“Waa, ddaenghida~” dia menghela nafas. “Aku pikir kemarin Noona hanya berlatih untuk show saja.”

“Istrimu mana, Wookie?” Yesung bertanya.

Ryeowook menunjuk ke arah kamar. “Di kamar, sedang membantuku mengepak. Geundae, Hyung! Hyung ngapain di sini? Bukannya barang-barang Hyung udah dipak semua?”

Yesung menoleh ke arah kamar, “Aku mau menjemput Dangkoma.”

Dia lalu menarik tanganku ke arah kamarnya. Ryeowook mengikuti di belakang kami. Sampai di pintu kamar Yesung berhenti. “Oh, anyeonghaseyo. Yesung-imnida.”

Aku melongok untuk melihat dia memberi salam kepada siapa. Aku mengenali Jungseo ssi. “Anyeonghaseyo, Jungseo ssi.”

Jungseo nampak terkejut dengan kedatangan Yesung, tapi begitu melihatku, dia tampak mengenaliku. “Omo, Bee Eonnie. Anyeong..”

Aku nyengir mendengar sapaannya. Anak itu memang manis sekali. Perawakannya mungil dan wajahnya sangat imut karena masih sangat muda. Dia pengantin perempuan paling muda. Sementara Kyuhyun yang magnae justru kalau tidak salah mendapat pasangan yang lebih tua 4 tahun, Choi Mina.

“Wah ternyata kalian sudah saling kenal,” kata Ryeowook. “Hyung, kenalkan. Ini istriku, Jungseo.”

“Ne, anyeonghaseyo, Yesung Oppa.”

“Aku hanya mau mengambil Dangkoma, maaf mengganggu kegiatan kalian,” kata Yesung.

“Aniya, Hyung. Gwaenchana. Masuk saja. Noona juga, masuklah. Ini kan kamar Hyung juga.”

Ommona, Ryeowook ramah sekali.. Pasangan yang manis sekali. Tapi tempat ini memang penuh sekali. Sekarang saja di sekitar kami ada 3 kameramen. Salah seorang kameramen segera memasuki kamar terlebih dulu.

Ketika Yesung hendak memasuki kamar, “Hyung!” ada suara memanggil dari belakang. Kami berdua menoleh dan melihat Eunhyuk mendatangi kami.

Ada sesuatu bergerak mengiringi langkah Eunhyuk. Dengan segera bulu kudukku merinding. Secara refleks aku menarik Yesung ke depanku. Kuremas tangannya kuat-kuat. Aku berusaha menjadikan tubuhnya sebagai tameng.

“Hyung, wasseo?” perhatian Eunhyuk masih terpusat pada Yesung.

“Lee Hyukjae! Apa kabar?” Yesung membalas sapaan Eunhyuk. “Ini istriku…” dia menarik tanganku tapi karena aku tidak bergerak dia menoleh.

Tiba-tiba sesuatu yang datang bersama Eunhyuk menyalak kecil. “Guk!”

Aku langsung melepaskan tangan Yesung dan lari memasuki kamar. Secara random menaiki satu dari dua tempat tidur yang ada. Lalu meringkuk di pojoknya.

Kameramen yang sudah di dalam langsung fokus mengambil gambarku. Yesung mendatangiku. “Sayang?”

Aku masih gemetar. Aduh, ternyata beneran anjing. Gimana dong nih???????? Aku panik setengah mati.

“Sayang? Kamu ga papa?”

Dengan gemetar aku menjawab, “Katamu itu bukan anjing.”

“Apa?” Yesung terlihat bingung.

“Dangkoma. Katamu dia bukan anjing!”

Yesung terperangah sesaat. Lalu menoleh ke arah pintu yang terbuka. Di sana Eunhyuk sedang menggendong anjing coklat kecil yang aku ga tau apa jenisnya.

“Itu bukan Dangkoma.” Yesung meraih tanganku. “Itu Choco, piaraan si Eunhyuk.” Dia mencoba menarikku dari tempat tidur.

Aku menggeleng-geleng tidak mau.

“Dia baik kok, lucu, malah. Sama sekali ga menggigit,” bujuk Yesung.

Tapi itu anjing, kataku tak bersuara. Hanya mukaku yang semakin memucat.

Melihat itu, Eunhyuk bersuara. “Anyeonghaseyo, Noona. Ini anjingku. Choco. Salam kenal.”

“A.. Anyeonghaseyo,” jawabku. Suaraku seperti orang tercekik.

“Noona, kau tidak suka anjing ya? Tapi anjingku ini baik kok, tidak menggigit.”

Perasaanku langsung tidak enak. Aduh, aku tidak mau Eunhyuk tersinggung, tapi aku takut anjing. Benar-benar takut. Aku bukan tidak suka. Aku suka jika aku melihatnya di tv atau dari jarak yang jauh. Kalau aku harus berhadapan dengannya, perasaanku bagaikan dihadapkan pada pistol yang mengacung di kepala. Mukaku bertambah pucat dan menggigil ketakutan.

Yesung segera menghadap Eunhyuk. “Hyukie, mian. Bisa kau bawa Choco keluar sebentar?”

Eunhyuk terkekeh, lalu keluar dari kamar. Begitu aku sudah tidak melihatnya lagi, aku tersengal-sengal lega. Keringat dinginku membasahi seluruh tubuh. Gemetarku masih belum berhenti. Yesung menggenggam tanganku yang sedingin es. “Sayang?” dia menyelidiki raut mukaku.

“Mian,” kataku. Mataku tiba-tiba saja berkaca-kaca. Campuran antara rasa lega dan malu. Ya ampuuuun, apa sih yang sudah kulakukan?! Cepat-cepat kutarik tanganku dari genggaman tangan Yesung dan kuusap mataku dengan kasar. Aku tidak mau air mataku sampai jatuh. Idih! Maluuuuuu banget rasanya!

Kupalingkan wajahku membelakangi kamera. Begitu sudah bisa sedikit menguasai diri, dengan suara masih bergetar aku berkata, “Sayang, mian. Maaf. Aku benar-benar takut anjing. Aku tidak membencinya, tapi aku takut. Aku ga tahu kenapa aku bereaksi begitu. Tapi aku takut sekali.. aku… takut.. itu.. anjing… mian… Eunhyuk…”

Sial! Air mataku keluar lagi! Padalah aku mau meminta maaf atas kelakuanku!

“Sssh,” Yesung menggenggam tanganku lagi. “Gwaenchana. Ssh, udah ga papa. Choco udah dibawa pergi kok. Udah, tenang ya sekarang?” bujuknya.

Aku berusaha menahan isakku. Saat ini aku malu sekali. Kulihat Jungseo mendekat, “Eonnie. Gwaenchana?” Dia memeluk pundakku.

“Jungseo-ya… maaf aku…”

“Udah Eonnie, ga papa kok. Kita cuman kaget kok. Yang penting sekarang itu Eonnie. Eonnie gimana?”

Aku mengangguk kecil. Tubuhku mulai berhenti gemetar. Aku berusaha berdiri dibantu Yesung. Penyesalanku masih tertinggal. “Sayang, mianhe. Aku ga bermaksud menyakiti hati Eunhyuk.”

Dari pintu terdengar suara, “Aku tidak apa-apa, Noona. Noona sudah tenang?”

Aku langsung waspada mendengar suara Eunhyuk. Dia melewati kamera tanpa membawa Choco. “Lihat, Choco sudah aku simpan di kamar.”

“Eunhyuk ssi,” kataku dengan penyesalan yang semakin menjadi-jadi. “Naega jalmothesseo. Maaf. Choco cantik sekali, tapi aku takut sekali pada anjing. Jeongmal mianheyo.”

“Gwaenchana. Memang aku baru pertama melihat orang yang benar-benar takut pada anjing, tapi ga papa kok.” Eunhyuk berusaha membuat perasaanku lebih baik.

“Oh iya, kenalkan Noona. Aku Eunhyuk.”

Aku berusaha tersenyum. Berhasil. “Ne, maaf terlambat memperkenalkan diri. Naneun Beauty-imnida.” Aku merasakan Jungseo mengelus bahuku pelan, sementara Yesung masih belum melepaskan tanganku. Aku menundukkan badan sedikit yang lalu dibalas oleh Eunhyuk.

“Maaf atas perkenalannya yang aneh,” kataku menunduk lagi, membuat semua orang tertawa.

“Eonnie!” suara perempuan terdengar dari balik Eunhyuk. Wajahnya nongol sedikit.

Aku terkejut. “Soumi-ya!”

“Ne,” jawab Soumi yang adalah istri Eunhyuk.

Dengan sigap Soumi membungkukkan badan ke arah Yesung “Anyeonghaseyo. Aigo! Yesung Oppa! Keren sekali…” Soumi berseru.

“Ya! Ya! Ya! Kamu ini istri siapa sih?!” Eunhyuk memprotes.

Soumi tersipu. Tapi rupanya lebih tersipu karena Yesung, sebab dia lalu berkata, “Oppa, aku sangat menyukai suaramu. Boleh aku minta tanda tanganmu?”

Eunhyuk terkejut menatapnya, “Ya! Kamu ini apa-apaan sih? Itu kan bisa nanti!”

Yesung tampak tersipu-sipu. “Ne, tenang saja… eng, siapa namamu?” Yesung menjawab ragu.

“Tuh kan, kamu bahkan ga memperkenalkan diri dengan benar,” sergah Eunhyuk.

“Ah, choiseonghamnida. Soumi-imnida.” Soumi memperbaiki sikapnya.

“Hyung, kamu mau ngapain ke sini?” Eunhyuk berusaha mengalihkan topik dari masalah tanda tangan.

“Oh, aku mau mengambil Dangkoma,” jawab Yesung. Kemudian dia berjalan ke sudut kamar, dimana terdapat akuarium besar berisi pasir.

“Sayang, sini,” panggilnya padaku. “Kenalkan, ini Dangkoma.” Yesung memperlihatkan peliharaannya.

Aku mendekatinya dan melihat apa yang ditunjukkan Yesung padaku. Makhluk itu manis sekali. Seekor kura-kura. Dalam sekejap aku melupakan Choco dan langsung menyentuhkan tanganku ke akuarium.

“Oh, dia manis sekali!” ucapku pada Yesung tanpa menatapnya. Kuketuk-ketukkan jariku ke akuarium pelan-pelan, dan  Dangkoma mencari sumber suara.

Tiba-tiba Yesung mengangkat akuarium itu membuatku mendongak. “Jadi inilah Dangkoma. Bukan anjing, juga bukan kucing.” Yesung menjelaskan padaku. Aku tersipu karena sempat mengira Dangkoma itu kucing. “Sebenarnya dia punya adik, Dangkoming dan Dangkomeng, tapi sudah aku titipkan ke tempat ibuku untuk sementara. Aku tidak menitipkan Dangkoma karena aku tidak bisa jauh darinya,” Yesung melanjutkan. Aku hanya tersenyum.

Setelah perkenalanku dengan Dangkoma, kami semua pindah ke ruang tv, sementara Jungseo dan Ryeowook kembali merapikan barang-barang yang akan mereka bawa. Aku, Yesung, Eunhyuk dan Soumi mengobrol. Aku kembali menyatakan permintaan maafku pada Eunhyuk. Aku mengatakan bahwa aku sudah beberapa kali bermasalah dengan orang yang memiliki anjing, karena mereka mengira aku menganggap hewan peliharaan mereka menjijikan. Maka dari itu aku sangat tidak enak kalau Eunhyuk juga berpikiran demikian.

“Memang kenapa Noona sangat takut pada anjing?”

“Yah, aku beberapa kali mengalami peristiwa tidak mengenakkan dengan anjing,” kataku mulai menjelaskan. “Aku pernah digigit oleh anjing penjaga rumah, dikira maling. Pernah ditindih anjing besar sekali waktu kecil sampai aku hampir kehabisan nafas. Aku juga pernah dikejar-kejar anjing gila sampai jatuh ke sungai, padahal itu musim dingin.”

“Waw. Pantas kau takut anjing,” Yesung memandangku.

Aku tersenyum lemah. “Tapi aku juga sering melihat anjing yang sangat patuh dan baik. Makanya aku tidak pernah membenci anjing.”

“Itu semua terjadi di Korea sini, Eonnie?” Soumi bertanya.

“Haha, ga juga sih. Kejadian anjing gila itu aku alami di Jerman sebelum aku dateng ke Korea. Waktu itu hewan itu berhasil kabur dari tempat eksekusi anjing liar. Sialnya aku lewat di dekat dia.”

“Wah, Noona. Aku kasihan padamu,” Eunhyuk berkata. “Tapi Choco ga pernah nakal kok.”

“Ya, aku tahu.” Wajahku kembali memerah karena malu. Untung kulit wajahku agak gelap, jadi merahnya ga terlalu kelihatan.

Eunhyuk melihat wajahku dan tertawa. Dia berjanji tidak akan membawa Choco keluar saat ini. Dia baik sekali.

Yesung memegang tanganku. “Tenang aja, Sayang. Choco lagi asyik tuh kayaknya dikasih mainan di kamar sama Eunhyuk.”

“Wah, Hyung, kalian sudah melakukan skinship!” Eunhyuk berseru, membuat kami berdua jadi sadar apa yang sudah kami lakukan. “Geundae, geu ‘Sayang’ mwoeyo? Sayang itu apa?” tanyanya lagi.

Aku melepaskan tanganku dari genggaman Yesung. Yesung juga terlihat canggung, tapi ditutupinya dengan menjelaskan arti kata ‘sayang’ pada Eunhyuk. Lalu sok memberi nasihat, “Kau sendiri, kau panggil apa istrimu? Soumi ssi, gitu?” Yesung melemparkan pandangan ‘apaan tuh’ pd Eunhyuk.

Eunhyuk merasa keki diejek oleh hyung-nya, “Enak saja. Aku akan lebih mesra dari Hyung! Lihat saja nanti! Ya kan, Soumi ssi?” tanyanya meminta dukungan Soumi. Tapi Soumi sepertinya malu sekali, terlihat dari mukanya yang sudah sangat merah, sehingga tidak terdengar jawaban apapun keluar dari mulutnya.

Aku tertawa. Lalu kulihat HPku. “Sayang, omo, udah hampir jam 4. Kita harus mampir ke tempatku dulu mengambil beberapa barang sebelum pulang. Bagaimana kalau kita pulang sekarang?”

“Ah, oke.” Yesung menuruti permintaanku.

Saat hendak bangun, pintu depan terbuka dan masuklah Kyuhyun bersama istrinya, Mina. “Hyung!” seru Kyuhyun terkejut melihat kami. Di saat yang bersamaan Ryeowook keluar dari kamarnya sambil membawa dua tas besar.

“Uri magnae, wasseo?” sapa Ryeowook.

“Hyung,” rajuk Kyuhyun. “Jangan begitu. Aku sudah menikah sekarang.”

“Ya! Emangnya kalau kau sudah menikah kau sudah bukan magnae kami lagi?!” seru Eunhyuk dari tempatnya duduk.

“Bener, bener. Lagian kami ini juga sudah menikah, jadi kau tetap magnae!” Yesung tak mau kalah.

“Anyeonghaseyo, Choi Mina-imnida.”

“Anyeonghaseyo!” ujar kami hampir berbarengan.

“Bee ssi dan yang lain ada di sini juga?” Mina bertanya.

“Aku datang!” belum sempat kami menjawab, terdengar suara seseorang berseru dari pintu depan. Rupanya Sungmin. Dia datang sendiri.

“Kenapa kalian semua ada di sini?” tanya Sungmin.

Yesung balik bertanya, “Kau sendiri kenapa di sini? Mana istrimu?”

“Ah, Minhyun-a mengambil barang di tempatnya dan aku mengambil barang-barangku di sini. Kami berjanji bertemu lagi di rumah.”

“Wah, rumah ini penuh sekali. Untung kami sudah mau pulang,” ujar Yesung.

“Kalian mau ke mana? Aku kan baru datang,” Sungmin merajuk.

“Kenapa kau datangnya sore sekali? Aku ke sini cuman mau menjemput Dangkoma. Jadi urusan kami sudah selesai sekarang.”

Sungmin memandangku. Auh, aku jadi terpesona pada pandangannya yang imut itu. “Anyeonghaseyo, Bee-imnida,” kataku memperkenalkan diri.

Dia menunduk. “Anyeonghaseyo, Noona.”

Aku tersipu melihat wajahnya. Ya ampuuuuun, ternyata dari dekat member Super Junior, Lee Sungmin itu benar-benar cute.

“Ya! Beauty ssi, kenapa mukamu malu-malu begitu?” Yesung menanyaiku dengan curiga.

Aku gelagapan. “Ani. Aku bertemu dengan Super Junior. Kan aku seneng,” elakku.

“Jinjja?” Yesung tak yakin. “Tapi kenapa kau cuman tersipu-sipu begitu melihat Sungmin?”

Aduh, ketawan. Aku mengigit bibir dalamku sedikit. Untung Sungmin menyelamatkanku, “Eiiy, Hyung!  Mana mungkin lah.”

“Ani, Hyung,” panggil Eunhyuk pada Yesung. “Itu karena tadi kau menggoda istriku,”

“Ya! Eunhyuk ssi. Apa-apaan sih?!” Protes Soumi.

“Ya Lee Hyukjae!” Yesung ikut memprotes.

Aku menengarai, “Ani, Sayang. Kita harus cepat pulang. Kita masih harus membuat daftar misi.” Ujarku menggenggam tangan Yesung.

“Waa, Hyung! Jjang! Kalian mesra sekali!” Kyuhyun berseru iri.

“Bee ssi, hati-hati dengan Yesung hyung. Jangan terlalu sering melakukan skinship. Bisa bahaya nanti. Dia itu sebenarnya guru yadongnya Eunhyuk.” Sungmin menggodaku.

“Eeish kalian ini dasar dongsaeng kurang ajar.” Yesung pura-pura menghardik Sungmin dan Kyuhyun.

Pasangan Ryeowook tidak banyak bicara, tapi aku bisa melihat mereka memandangi interaksi di antara kami. Memang harus kuakui, di antara pasangan lain, kami ini yang paling sering melakukan kontak fisik. Terlihat Eunhyuk masih malu-malu terhadap Soumi. Apalagi Ryeowook. Dia menganggap Jungseo seperti cewek yang sedang dibantunya di jalan raya saja, sopaaaaan banget. Sementara Kyuhyun dan Mina bahkan berdiri berjauhan, kedua orang itu sepertinya akan kesulitan dalam waktu cukup lama. Aku tidak bisa menilai Sungmin sebab istrinya ga datang bersamanya.

“Sudahlah, aku sudah membawa Dangkoma. Kami mau pulang saja. Kalau tidak, jangan-jangan rumah ini akan meledak saking penuhnya,” akhirnya Yesung memutuskan untuk benar-benar pergi.

“Aey, Hyung. Gathi gayo,” seru Ryeowook. “Kami juga sudah selesai. Bantu kami membawa barang-barang ini ke mobil, Hyung.”

“Kau juga mau pulang, Ryeowook?” tanya Sungmin.

“Ne, rumah kami berantakan sekali. Sama sekali belum sempat dibereskan. Kami harus menyelesaikannya hari ini sebab besok Jungseo ssi harus kuliah dan aku ada jadwal.” Ryeowook memberi penjelasan.

“Oh, geurae. Hati-hatilah di jalan, Wookie.” Eunhyuk memberi pesan.

“Oh. Gomawo, Hyung. Anyeong.” Ryeowook memberi salam.

“Anyeonghi gaseyo,” aku dan Jungseo memberi salam. Aku membawa Dangkoma dan akuariumnya, sementara Jungseo membawa tas plastik cukup besar.

“Jalga,” Yesung berseru di belakang kami, dengan sisa barang bawaan Ryeowook.

Sungmin membantu kami membuka pintu. Begitu Yesung hendak keluar, “Hyung, kau tidak ke atas? siapa tahu Hyung yang lain juga datang ke dorm mereka.”

Yesung tampak berpikir sejenak. “Aku naroh barang-barang ini dulu lah. Nanti kutanyain Ryeowook. Kalau dia mau naik lagi, aku ikut. Kalau ga ya berarti aku dan Bee langsung pergi aja.”

“Baiklah kalau begitu. Hati-hati, Hyung.”

“Oke.”

Aku yang menunggu Yesung ikut berpamitan, “Kami pergi dulu, Sungmin ssi.” Lalu aku dan Yesung berjalan bersama ke arah lift yang sedang ditahan oleh Jungseo.

Di tempat parkir Yesung bertanya pada Ryeowook apakah dia akan naik lagi ke atas atau tidak. Ryeowook mengatakan tidak. Sebab nanti pasti jadi lebih lama lagi. Dia akan mengunjungi rumah-rumah hyung saja lain kali.

Ada hal yang lucu. Ketika selesai menjawab, Ryeowook seolah baru sadar kalau Jungseo ada di sebelahnya. Dia langsung bertanya pada Jungseo apakah Jungseo menyetujui rencananya itu dengan sopaaaaan sekali. Aku hampir melepaskan tawa, tapi berhasil kutahan dengan memalingkan wajah. Ternyata setelah aku kembali menghadap ke depan, Yesung sedang menatapku. Dia bertanya, “Bagaimana menurutmu? Kita berkunjung sekarang atau besok-besok saja?”

Bagian ini membuatku terharu, sebab Yesung terlihat begitu lugu menanyakan pendapatku. “Mungkin besok-besok lebih baik. Sama seperti Ryeowook ssi, kita juga belum sepenuhnya selesai berbenah. Padahal besok kita berdua harus berangkat kerja.”

“Ya, baiklah.” Yesung setuju denganku.

Kami lalu berpisah di tempat parkir. Aku masih membawa Dangkoma.

“Kemana kita sekarang?” tanya Yesung.

“Ke tempatku,” aku menjawab.

Satu jam kemudian kami sudah dalam perjalanan pulang lagi ke arah rumah kami. Bagasi mobil kami sudah bertambah penuh akibat barang-barang yang kubawa dari rumahku. Yesung  tiba-tiba berkata, “Aku tadi benar-benar terkejut lho.”

Aku menoleh padanya, “Kapan?”

“Tadi, waktu kamu tiba-tiba berlari masuk kamar ketakutan karena Choco.”

Bisa kurasakan mukaku panas mengingat kejadian itu lagi. “Aaah, malu-maluin banget deh, kalau inget.”

“Aku khawatir banget tadi. Habis kamu pucet banget.”

“Gitu ya? Ya, aku emang udah ngerasa kaya mau mati sih.”

“Eh, serius?”

“Jinjjayo. Neomu busowoyo. Menakutkan sekali.”

“Untung Dangkoma bukan anjing ya.”

“Ya.”

“Untung kamu ga milih Eunhyuk.”

Aku menatapnya. “Kan aku sudah bilang, waktu itu ga ada yang kebayang selain kamu.”

Dia balas menatapku. Lalu dengan satu tangan digenggamnya tanganku yang sedang memeluk akuarium Dangkoma. “Untung kamu kebayangnya aku,” katanya sambil tersenyum padaku.

Tangan Yesung terasa hangat sekali di tanganku. Aku balas genggamannya. Aku merasa orang ini sungguh ajaib. Dia bisa membuatku melupakan lingkungan sekitar hanya dengan satu sentuhan tangan. “Lain kali,”

“Ya?” dia bertanya.

“Ga. Aku cuman mau bilang, lain kali kalau aku ketakutan, aku akan mengingat bagaimana hangatnya tanganmu ini. Supaya aku punya tambahan kekuatan. Gomawo,” ucapku sambil memandangnya.

Dia tidak membalas perkataanku, tapi membiarkan tangannya menggenggam tanganku selama beberapa saat lagi sampai dia harus melepaskannya karena harus menyupir.

Kami sampai di rumah pukul 6 sore. Dengan kedatangan kami, apartemen yang tadinya nampak lengang langsung jadi berantakan akibat tambahan barang-barang yang kami bawa. Kulihat matahari sudah mulai tenggelam, jadi kukatan pada Yesung bahwa aku harus sholat dulu.

“Bolehkah aku melihatmu beribadah?” tanyanya.

Aku mengangkat bahu, “Ya, tentu saja. Asal tidak berisik.”

“Yaksuk. Aku ga akan berisik,” janjinya seperti anak kecil.

Aku mengambil wudlu lalu sholat. Selama itu Yesung terus mengikutiku. Aku yakin dia penasaran, tapi tak sekalipun dia melontarkan pertanyaan padaku. Setelah salam, aku yakin dia tidak tahu bahwa aku sudah selesai sholat. Aku berdiri, lalu, “Selesai!” seruku sambil tiba-tiba melompat menghadapnya.

“Oh! Oh, jadi itu caramu beribadah.”

Sambil melipat mukena aku menjawab, “Yep. 5 kali dalam sehari.”

“Wah, banyak sekali!”

“Hehehe. Sekarang, kita mulai bekerja?”

Dia meluruskan tangannya yang dari tadi dilipat di depan dada. “Ayo.”

Kami lalu berbagi tugas. Aku akan mengurus dapur, dan Yesung akan merapikan barang-barang yang bukan termasuk bagian dapur. Dia selesai lebih dulu dari aku. Akuarium Dangkoma telah diletakkan di sebelah sofa, barang-barang pelengkap lain termasuk gantungan baju telah diletakkan di tempatnya. Dia lalu menghampiriku di dapur yang sedang sibuk mengiris bahan makanan untuk dimasak. Kuputuskan aku tidak jadi memasak opor karena mungkin akan butuh waktu lama. Jadi kubuatkan saja soto ayam yang lebih sederhana dan praktis.

“Ada yang bisa kubantu?” tanyanya.

“Ng, aku tadi belum selesai memasukkan belanjaan kita ke dalam kulkas karena harus segera memasak ayamnya. Mungkin kamu bisa bantu menata barang-barang itu di dalam kulkas?”

“Oke.” Dia langsung mengerjakannya seperti anak yang patuh.

“Wah, Sayang. Aku beruntung banget ngedapetin suami kaya kamu. Penurut.”

“Memang di Super Junior itu aku yang paling rajin.”

“Oh gitu ya?”

“Iya, aku ini paling suka menolong.”

“Hmm. Kalau gitu kalau aku minta kamu beliin lemon di super market terdekat kamu mau dong?”

“HAH? Bukannya tadi kita udah beli lemon? Nih, ada lemonnya.” Dia meletakkan plastik berisi 3 buah lemon di sebelahku.

Aku tertawa. “Kan aku tadi bilang ‘kalau’.”

“Yee, kamu ngerjain aku ya?”

“Hehehe.”

“Udah masuk semua nih,” katanya sambil membereskan plastik bekas belanjaan. “Ada lagi?” tanyanya.

“Ga ada sih. Urusan memasak aku sendiri aja. Aku ga suka ada orang lain yang masak kalau aku lagi masak.”

“Terus aku ngapain dong?”

“Nonton tv aja sana,” usulku.

Dengan berat hati dia melangkah ke ruang tv. Tampaknya dia benar-benar ingin membantu. Dengan bosan diganti-gantinya channel tv. Lalu tiba-tiba, “Ah, aku tahu! Aku bikin daftar misi aja ya?”

Aku berputar menatapnya. Dengan pisau di tanganku, aku menunjuknya, “Binggo!”

Dia tersenyum. Segera saja dia sibuk mendesain bentuk daftar misi kami.

Dari dapur aku berseru, “Kamu butuh spidol warna-warni?”

“Memang tadi kita beli?”

“Aku ga beli sih, karena aku punya. Aku ga tahu kalau kamu ngambil.”

“Aku ga ngambil.”

Aku hentikan pekerjaanku memotong-motong ayam. “Sebentar aku ambilin. Kayaknya ada di dalam koperku deh.”

Aku bongkar tatanan koper kami yang sudah rapi, lalu kucari peralatan tulisku. Ketemu. Kebetulan aku juga menemukan iPodku. Sekalian aja aku ambil.

“Ini,” kuserahkan koleksi spidolku padanya. “Bikin yang bagus ya?”

“Oke. Kamu masak yang enak ya?”

“Oke,” kuacungkan jempol kananku padanya.

Kami berkonsentrasi melanjutkan pekerjaan kami masing-masing. Mataku mencari-cari dimana Yesung menempelkan jam dinding, ternyata di atas sofa. Sudah hampir jam 7, sip. Jam 8 kuperkirakan kami sudah bisa makan. Kulanjutkan memasak. Aku teringat tadi pagi akhirnya aku masukkan sisa ayam goreng tadi malam ke dalam kulkas. Sebaiknya aku manfaatkan saja, walaupun tidak mungkin semua. Tapi sebelumnya, wooots, kukeluarkan benda sakti pembawa mood. Kusetel iPodku lalu dengan segera kumpulan lagu-lagu kesukaanku terdengar, meningkatkan moodku.

Alunan Gee oleh SNSD menyemangatiku. Tanpa sadar aku ikut menyanyikannya. Tubuhku mulai bergerak sesukaku mengikuti tempo yang bersemangat. Kebiasaan memang sulit dihilangkan.

“Gee Gee Gee Gee Baby Baby Baby”

“Gee Gee Gee Gee Bab Bab Bab Bab Bab Bab”

“Eotteo etteokhajyo”

“Tteollineun mameunyo”

“…bamen jamdo mot irujyo”

“Naneun naneun babongabwayo”

“ Geudae geudaebakke moreuneun”

“Pabo…”

“Neomu banjjak banjjak…, No No No No No”

“Neomu kkamjjak kkamjjak…, Oh Oh Oh Oh Oh”

“Neomu jjaritjjarit momi tteollyeo…”

“Jeojeun nunbit…, joheun hyanggi Oh Yeah Yeah Yeah”

“Yonggiga eomneungeolkka”

“Eotteokhaeya joheungeolkka”

“Dugeundugeun mam jorimyeo barabogo inneun na”

“…tteollyeowa~”

“…busyeo~ No no no…”

“Oh yeah yeah yeah… AAAAH!

Aku mengakhiri konser dapurku dengan teriakan kaget. Saat ini aku sedang mengacungkan pisau ke arah kamera. Sial! Kenapa aku bisa lupa bahwa ada kameramen juga di rumah ini?! Berarti aku joget-joget dari tadi direkam dong?!?! Waaaaa! Malu bangeeeeeeet! Siaaaal!

Lalu kudengar suara itu. Yesung terpingkal-pingkal di depan sofa. Aku mendelik padanya dengan muka merah. Dia terus tertawa terpingkal-pingkal.

Aku mengacuhkannya pura-pura ga peduli dan meneruskan memasak. Padahal aku malu banget. Kulirik kameramen yang juga sedang menahan tawanya. “Apa?! Ga usah ketawa deh!” kataku sewot-sewot malu. Si kameramen cuman mengacungkan jempolnya.

Aku menunjuk kamera, “Kalau ketawa ga kubagi makan malam,” ancamku. Lalu dia berusaha lebih keras menahan tawanya. Bagus.

Aku sibuk berusaha berkonsentrasi memasak sambil melupakan rasa maluku. Sialnya aku lupa mematikan iPodku, sehingga aku kembali bergumam menyanyi. Entah bagaimana aku sadar ada kamera di sebelahku, tapi aku tidak sadar bahwa aku sedang ikut menyanyi dengan Taeyang. Kadang aku tersadar bahwa aku sedang menyanyi, lalu melirik kamera, dan nyanyianku terhenti. Tapi lalu gumamanku mulai lagi tanpa sadar, dan kemudian lagi-lagi disadarkan oleh gerakan kamera sehingga aku berhenti lagi. Tiga kali seperti itu, akhirnya aku menyerah.

Aku mengeluarkan iPodku dari saku hendak mematikannya, tapi ternyata Yesung sudah berdiri di sampingku. Dia mengambil sebelah earphoneku. Saat ini iPodku sedang memainkan Miracle milik Suju. Mendengar lagu itu matanya melebar menatapku. Lalu dia ikut menyanyi,

“Life couldn’t get better”

“Nan nol pume ango nara”

“Purun darul hyanghe nara”

“Jamdun noui ib machul koya”

“Life couldn’t get better”

“Noui mame munul yoro jwo”

“Gude ne sonul jabayo”

Badannya pun ikut bergoyang mengikuti lagu. Aku takjub melihatnya. Dia terus menari, menyanyi sambil tertawa, membuatku mulai ikut tertawa dan bernyanyi bersamanya.

“Life couldn’t get better!” (aku) / “hey!” (Yesung)

 “Purun darul hyanghe nara” (aku)

“Jamdun noui ib machul koya” (Yesung)

“Life couldn’t get better!” (aku)

“Noui mame munul yoro jwo / Gude ne sonul jabayo” (Yesung)

Akhirnya, “Life couldn’t get better!” kami bersamaan mengakhiri lagu.

Kami berdua tertawa.

Mendadak terdengar suara berdesis. Aku menoleh ke arah kompor. Wah, kuah sotonya meluap! Kumatikan kompor cepat-cepat.

“Makanan sudah siap. Ayo bantu aku menyiapkannya di meja.”

Yesung tampak bingung sesaat, tapi lalu menanggapi. Dia mengambil empat buah mangkuk dan mengisinya dengan nasi. Aku memindahkan kuah soto terlebih dulu, lalu aku racik paket soto lengkap dalam mangkok dan meminta Yesung membantuku memindahkannya ke atas meja. Selain itu aku juga berhasil membuat perkedel kentang sebagai pendamping soto.

Setelah lengkap semua termasuk sambelnya, kami dan salah seorang kameramen duduk mengelilingi meja. Aku udah meminta kedua kameramen meletakkan kameranya di atas tripod agar kami bisa makan bersama, tapi mereka memutuskan salah satu saja yang bergabung dengan kami, sedangkan yang satunya akan tetap merekam.

“Hmm, baunya sedap sekali,” kata Yesung.

“Ayo cicipi rasanya,” kataku.

Kami pun mulai mencicipi rasanya. Lumayan, menurutku puas. Tapi aku penasaran apakah rasanya sesuai dengan selera Yesung. Ternyata sebelum aku sempat bertanya dia sudah berkata, “Ini enak sekali,” katanya sambil mengambil perkedel.

“Syukurlah kalau kamu suka. Bagaimana dengan kameramen-nim? Apa rasanya bisa diterima?” tanyaku agak waswas.

“Ini enak kok,” jawabnya.

Aku tersenyum agak narsis. Wah, mungkin aku memang berbakat. Hwahahahaha #plak! Aku menampar diriku sendiri dalam benakku.

“Kalau mau pedas, campur dengan ini,” kataku sambil menunjuk sambal. Aku mencontohkan, dan mereka mengikuti. Yesung yang katanya memang suka pedas segera menambahkan sambel banyak-banyak dalam sotonya.

Lucu sekali, ternyata dia menambahkan sambel terlalu banyak hingga sekarang dia kepedesan. Bibirnya sampai merah sekali. Aku bangkit mengambilkan air minum untuknya. “Hewimahahih, huhah huhahh,” ujarnya berterima kasih sambil kepedesan. Kulihat kameramen yang ikut makan bersama kami juga kepedesan, maka kuambilkan juga air minum untuknya. Terakhir aku bangkit untuk mengambil air minum untukku sendiri.

Beberapa menit kemudian makan malam kami selesai. Kami menunggu kameramen yang satunya menyelesaikan makan sementara yang pertama makan tadi menggantikan tugasnya merekam. Sambil menunggu, Yesung berkata, “Kau lucu sekali tadi.”

Aku menatapnya bingung, lalu teringat dengan kejadian kaget karena kamera tadi. Mukaku jadi panas. “Eeish. Aku lupa kalau ada kamera.”

“Memang kenapa?” tanya Yesung.

“Ya aku malu, lah.”

“Hahahaha. Hahahaha. Sebenarnya waktu kamu nari-nari tadi lumayan menarik untuk dilihat. Cuman lucunya itu di bagian akhir waktu kamu kaget ada kamera hahahaha…”

Yesung memegangi perutnya. “Hahahahahaha.. kamu keliatan kaget banget, terus abis itu ngacung-ngacung pake pisau lagi. Ahahahaha!”

“Eeeiiish, geumanhe!” aku memprotesnya.

“Emang pas nari-nari itu kamu ngerasa jadi anggota SNSD ke-10 ya?” dia meneruskan menggodaku.

“Eish! Geuma~n!” aku memukul pahanya. Kulirik kameramen yang ikut mengetawaiku. Sial nih. Malu bener! Mana mereka malah tertawa makin keras, lagi. “Pokoknya yang ketawa harus bayar soto yang sudah dimakan! 1 porsi 25.000 won!” kataku sok mengancam.

Ternyata aku memang lemah. Bukannya takut, mereka malah makin menertawaiku.

Yesung bahkan menirukan gaya kagetku tadi. Aku hampir aja kelepasan ketawa melihat gayanya yang lebay, tapi untung bisa kutahan. Aku pura-pura ngambek sambil membereskan mangkok-mangkok yang habis digunakan. Kubawa ke dapur ke tempat cuci piring.

Tawa Yesung sedikit mereda. Dia menghampiriku, “Mian, mian. Hahaha…” dia tak berhasil menahan tawanya.

Aku pun mulai ikut tertawa, “Ehehe, ya! Ehe, geumanhe! Hehehe..”

Akhirnya kami berdua tertawa. Aku memukul pundaknya main-main. “Ya! Kau senang ya menertawakanku?!”

“Ahahaha, mian. Mian…” matanya tertumbuk pada jam dinding. “Eh, udah hampir jam 9?!”

Aku ikut melihat jam. “Ya.”

“Aku harus siap-siap untuk SUKIRA,” katanya.

Aku teringat acara radio itu, “Ah ya, siap-siaplah. Aku akan membereskan meja makannya.”

Dia menatapku dengan permintaan maaf, “Maafkan aku. Aku tidak bisa membantumu membereskan meja makan.”

“Ne, gwaenchana. Ga olleun. Kalo ga nanti kamu dikutukupret sama Leeteuk Oppa lho.”

“Oke. Mianhe…”

Aku mengangguk. Dia segera menuju kamar bersiap-siap. Pukul 9 lewat 5 dia sudah siap. Bergegas menuju ke pintu. “Aku berangkat. Ga usah nunggu aku, kamu tidur aja duluan,” serunya dari pintu depan disusul oleh salah seorang kameramen. Aku yang sedang mencuci piring segera menghambur ke pintu depan.

“Hati-hati,” seruku padanya yang sudah menuruni tangga. Rumah kami memang terletak di lantai teratas sebuah rumah berlantai dua. Lantai pertama dihuni oleh pemilik rumah, sedangkan kami menyewa lantai 2. Kami memiliki akses tangga sendiri yang langsung terhubung dengan tempat parkir.

Setelah mengantar Yesung aku segera kembali ke dalam menyelesaikan pekerjaanku. Aku membereskan bekas makan kami semua, mencuci peralatan, lalu membereskan dapur. Aku berpikir besok pagi aku harus berangkat pagi. Agak lebih awal dari biasanya karena rumah kami ini jaraknya lebih jauh dari tempatku yang dulu ke RS Seoul, tempatku bekerja freelance sebagai penerjemah.

Ah, aku lupa menanyakan pada Yesung apa dia biasanya sarapan atau tidak. Tadi pagi kami memulai aktivitas agak telat. Termasuk sarapan. Kami melakukan brunch karena kami berpikir bahwa kami tidak harus pergi kerja. Jadi aktivitas tadi pagi tidak bisa dijadikan acuan. Aduh, aku juga lupa menanyakan nomor HP-nya.

“Ahjussi, tahu nomor telepon Yesung ssi?” tanyaku pada kameramen yang tinggal di rumah denganku. Dia memberikan gelengan sebagai jawaban.

Ah sudahlah, aku siapkan saja keperluanku sendiri untuk besok, sehingga urusan sarapan bisa aku selesaikan besok pagi.

Kusiapkan semua perangkat kerjaku untuk besok pagi. Setelah selesai aku memutuskan untuk bersiap-siap tidur. Aku berganti pakaian dan sholat, lalu membawa mukena bersamaku agar besok pagi aku tidak perlu masuk kamar untuk sholat. Kuambil bantal sapi yang tadi sore kuambil dari tempatku sendiri, dan selimut yang kupakai semalam. Aku pun bersiap tidur di sofa.

Aku melihat pada kamera. “Selamat malam, besok aku harus bangun pagi, maka aku akan tidur lebih awal malam ini.” Lalu aku merebahkan diri di sofa setelah mematikan lampu.

Meskipun mengantuk dan merasa sedikit lelah, ternyata aku belum bisa tidur. Tiba-tiba samar tercium olehku aroma parfum yang dipakai Yesung. Aku tersenyum mengingat tawanya yang menertawaiku tadi. Aktivitas hari ini tiba-tiba berkelebat lagi dalam benakku. Pandanganku nyalang ketika ingatanku menangkap memori saat dia memegang tanganku di dalam mobil. Aku merasakannya lagi. Kehangatan tangannya. Perhatiannya padaku.

Aku tidak bisa tidur dan mataku menangkap daftar misi yang dibuat Yesung sudah tertempel di sebelah tv. Kuperhatikan dalam kondisi remang-remang, lumayan juga. Kemudian aku bangun dan menatap Dangkoma selama beberapa menit. Sebenarnya aku merasa ada yang hilang tanpa Yesung di sini, tapi ketika kameramen menanyaiku kenapa aku tidak tidur, aku menjawab, “Aku penasaran apakah Dangkoma sudah diberi makan atau belum oleh Yesung ssi.”

Alasan.

Akhirnya aku tertidur juga, meski dengan perasaan gelisah. Malam itu aku tertidur dengan sedikit tidak tenang, namun tidak seperti malam sebelumnya, aku tidak terbangun ketika Yesung pulang. Mungkin aku benar-benar kecapekan.

D2-KKEUT.

13 thoughts on “[Freelance] The Marriage and Us {Day 2}

  1. cingu,,,,, keren bgt ceritanya,,,,
    Ayo lanjutin lg cingu,,,, aq dah gak sabar pgn baca….ceritanya so sweet bgt!!!klo bs bikin versi member yg lainnya jg donk,,,, misalnya bikin versi wookienya,,he…he…^^

  2. Keren . ,

    Q jg takut anjing . , sbnr.na ga cuma anjing . Tp smua hewan . Tp kalo hewan yg laen emg Q ga suka . Bukan takut lg . Haha , malah curhat .

    Keren bgt nie ff . Daebak . ,

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s