[Freelance] The Marriage And Us [Day 1]

Author : Bee

Main Cast : Yesung, Bee

Support Cast : all members of Super Junior

Rating : all age (but kids, because they wouldn’t get it)

Genre : romance

Ps : Di prolog banyak bilang bahasanya berat. Hah, maaf, gw emang rada berat senewennya di situ. Semoga yang part ini ga sesusah sebelumnya buat dinikmati. *bow*

Disclaim : biar kata terinspirasi dari WGM, alur cerita murni ide Bee.

***

Kami berdiri di depan pintu.

“Wah, aku deg-degan nih..” kata Yesung.

Dia tersenyum ke arah kamera. “Saya benar-benar deg-degan nih, pemirsa. Kira-kira rumah kami bakalan seperti apa ya?”

Dia menatapku, “Yeobo, kira-kira rumah kita seperti apa ya?”

Kuraih pegangan pintu, lalu langsung kubuka pintu depan. “Seperti itu. Lihat saja sendiri.”

Yesung memandangku dengan tengsin. Dia masuk sambil menggerutu, “Ya, seharusnya kamu itu ngikutin alurku gitu loh. Kan kita perlu memancing rasa penasaran penonton biar mereka seneng nonton acara kita. Kalau caramu…”

“Waa~ koper-koper kita sudah sampai!” seruku mengabaikan gerutuan Yesung. Lagi-lagi dia memandangku tengsin, tapi dihampirinya juga tumpukan koper di tengah ruangan.

Aku mengambil dua buah koper berukuran sedang. “Yang dua ini punyaku.”

Kulihat di sekitarku ada kira-kira 3 koper besar dan 3 buah tas jinjing besar. “Yang dua ini punyaku,” Yesung ikut memilah barangnya. “Sama dua tas ini juga,” tambahnya.

Buset dah. Banyak amat bawaannya. Pikirku. Aku yang cewek aja cuman bawa 2 koper ukuran sedang. 1 buat baju, lainnya buat barang-barang kebutuhan cewek plus berkas-berkas kerjaan.

“Itu semua barangmu untuk dua minggu?” tanyaku.

“Ya. Yang ini isinya baju-baju,” ujarnya menunjuk satu koper besar. “Yang itu isinya aksesories,” tunjuknya pada salah satu tas jinjing. Tas jinjing yang lain, “Itu hobiku,” katanya.

“Terus itu koper, apa isinya?” tunjukku pada satu koper lain miliknya.

“Oh, itu make-up,” sahutnya ringkas.

Aku memandangnya aneh.

“Apa?” tanyanya begitu melihat pandanganku.

Kutunjuk satu koperku, “Ini koper bajuku.” Lalu kutunjuk koper yang lain, “Yang ini isinya aksesories, make-up, dan hobiku.”

Dia mengamati koperku. “Terus?” dia malah bertanya.

“Yesung ssi, kita kan hanya akan tinggal di sini selama dua minggu. Bawaanmu banyak bener.”

“Jongwoon Oppa,” dia mengoreksi panggilanku padanya, membuat aku tertunduk malu karena melupakan kesepakatan kami.

“Aku ini idol. Aku kan harus menjaga penampilan.”

“Iya sih, tapi kan asramamu hanya 15 menit naik mobil dari sini. Kamu bisa dengan mudah mengambil barang-barangmu kalau ada yang kurang kan?”

Dia memandangku lalu meringis, “Iya juga ya. Wah, Beauty ssi, aku bangga kau menjadi istriku. Ternyata kau pintar!”

“Mwoya~” dingin aku tanggapi gombalannya.

“Apa kami harus berbagi kamar? Maksudku untuk menyimpan barang-barang kami?” tanyaku pada kameraman.

“Ne,” jawab mereka.

Aku meringis pada Yesung. “Hehe, mohon kerja samanya…” ujarku sambil setengah membungkuk.

Dia balas membungkuk.”Ne, mohon kerja samanya. Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?”

“Bagaimana kalau kita bawa koper-koper kita ke kamar dulu, mengatur pembagian ruangan?” usulku.

“Oh iya, bener juga. Ayo kita taruh koper-koper kita di kamar,” mendadak dia meringis, “Aku juga pengin ngeliat kayak apa kamar kita. Hihihi…”

Kami lalu menarik koper dan tas kami ke kamar. Saat menarik koper untuk yang kedua kalinya, aku melihat masih ada koper dan tas yang tersisa. “Tunggu dulu, terus yang dua ini tas dan koper siapa?” tanyaku.

Salah satu kameraman menjawab, “Itu tas kami.”

Aku menepuk jidatku. Ah ya, tentu saja. Mereka kan juga harus tinggal dua minggu penuh bersama kami di sini. Aku nyengir, lalu pamitan untuk merapikan kamarku dan Yesung.

Akhirnya program kami dimulai. Marriage Guide. Biar kujelaskan lagi, ide awalnya adalah keinginan para member Super Junior memberikan hadiah pernikahan pada Shindong berupa video panduan menjadi suami yang baik. Lalu manajemen SME malah mengangkatnya sebagai program reality terbaru mereka.

Dalam program ini, aku berpasangan dengan Yesung sebagai suami istri selama dua minggu. Kami akan menjalani kehidupan rumah tangga baru. Kami akan berbagi rumah dan berbagai aktivitas kecuali bagian berbagi ranjang. Tadi pagi kami bertemu untuk pertama kalinya sekaligus melakukan wedding photoshot. Setelahnya kami juga melakukan rapat besar dengan seluruh pasangan, produser, dan seluruh kameramen. Setiap pasangan akan diikuti oleh 2 orang kameramen yang akan mengikuti setiap kegiatan mereka. Kami akan menempati rumah kami masing-masing yang setiap ruangannya sudah dilengkapi dengan kamera.

Karena tujuannya adalah menunjukkan situasi pernikahan yang sebenarnya, kami tidak diberi skenario. Kami hanya diberi daftar hal-hal yang biasa dilakukan pengantin baru, seperti mengunjungi orang tua, bersosialisasi dengan tetangga, dan hal-hal lain, ditambah dengan catatan besar di akhir daftar, yaitu BUATLAH SHOW-nya MENARIK!

“Yeobo, coba lihat,” Yesung memanggilku sambil menunjuk salah satu sudut kamar yang berlawanan dengan pintu.

Aku melihat ke arah yang ditunjuknya, terlihat kamera di sana. Otomatis aku tersenyum ke arah kamera sambil dua jariku diacungkan membentuk V. Biasalah, kebiasaan orang narsis yang impian jadi artisnya ga keturutan. Hihi.

“Anyeonghaseyo!” tiba-tiba Yesung sudah berada di sampingku. “Kami pasangan campuran, YeBee! Kami akan berusaha untuk kehidupan rumah tangga kami!” dia membungkukkan badan.

Aku ikut-ikutan membungkukkan badan. “Tontonlah kami!” ujarku.

“Ayo kita tunjukkan tanda cinta kita,” ajak Yesung. Dia meletakkan satu tangan ke atas kepala, membentuk setengah lambang hati.

Aku tertawa, “Aku mau melanjutkan beres-beres aja ah. Masih banyak yang harus dilakukan.”

“Eissh, ayolah,” katanya mencegahku berbalik badan. Dia memeluk bahuku, memaksaku tetap di sampingnya.

Kutatap wajahnya dan seperti yang sudah-sudah kalau dekat dengannya, aku langsung merasa terasing dari dunia. Hanya ada dia dan aku.

Dia menggoncang bahuku sedikit. “Palli,” katanya mengangkat satu tangan lagi.

Kesadaran bahwa aku harus berpose di depan kamera datang. Aku jadi malu. Dengan salah tingkah kuikuti gerakannya sehingga kami bersama-sama membentuk hati. Dengan cepat kuturunkan lagi tanganku dan berbalik, pura-pura sibuk banget memasukkan baju-baju ke dalam lemari.

“Yeobo, apa kamu malu?” tanya Yesung.

Eish, ini orang. Ya jelas lah aku malu, tapi sori-mori-mayori ye, aku mau ngaku di depan kamu. “Malu kenapa? Ayo cepet dirapiin barang kamu. Lagian bawa barang aja banyak banget.”

“Ye, kan udah dibilang, aku ini idol. Kamu malu, kan? Malu ya?” dia mendesakku sambil berusaha melihat wajahku.

“Jiish, apaan sih? Siapa yang malu? Aku tuh cuman mau nyelesein ini cepet-cepet,” elakku.

“Eeeiy. Pasti kamu malu kan?”

“Ga.”

“Kalo gitu coba liat sini. Kalo kamu ga berani liat aku berarti kamu emang malu. Ehehehe, grogi ya ada kamera?”

“Iiih, orang dibilang juga aku tuh ga malu. Apalagi grogi. Liat nih, nih, aku ngeliat kamu kan? Kaaaan?” kudekatkan wajahku kepadanya.

Uuugh, terlalu dekat! Yesung pun kaget. Kami masing-masing langsung terdiam.

Aku angkat bicara, “Matamu..”

“Diam!” sergahnya. “Sudah kubilang, matamu yang terlalu besar.”

Aku merasakan desakan untuk tertawa. Lalu aku terkikik. Yesung mengusap wajahnya tengsin. Sejak awal jika tatapan kami bertemu aku selalu mengatakan bahwa matanya kecil sekali. Rupanya dia tidak suka dibilang begitu. Tapi justru karena itulah aku suka mengatakannya terus-menerus. Lagipula sejujurnya aku mengatakan itu tidak untuk mengejeknya sama sekali. Ketika aku melihat matanya yang kecil, aku merasa hanya aku yang ada dalam pandangannya. Itu membuatku merasakan desakan rasa yang sepertinya harus diungkapkan.

Kulanjutkan kegiatanku menata baju dalam lemari sambil tergelak.

“Diam,” kata Yesung.

“Hahaha.. abisnya kamu lucu sih..”

“Diam, kataku. Kamu itu suka banget ya ngerjain orang.”

“Hahaha, iya, iya, aku diem, tapi entar kalo udah bisa diem,” gelakku.

Mendadak Yesung sudah ada di belakangku, mengambil baju yang hampir selesai kususun dan melemparkannya kembali ke dalam koper.

“Ya! Ya! Yesung-a! Mwoyaneungeoya jigeum!” seruku.

“Ciss, Oppa!” protesnya.

Uups, aku sedikit malu menyadari kesalahanku. “Oppa! Lagi ngapain sih kamu? Aku kan udah hampir selesai!”

Dia memandangku sinis. Tanpa menjawab dia meneruskan merapikan barangnya sendiri. Ciss, kekanak-kanakan banget sih. Aku memonyongkan bibir di belakang punggungnya.

Kulanjutkan pekerjaanku yang tinggal sedikit. Setelah selesai aku membuka koperku yang satunya dan mulai menata make-upku di atas meja rias.

Ternyata Yesung memperhatikanku. “Itu semua make-up mu?” tanyanya.

“Ne.”

“Wah, kamu pakai pembersih muka 2 in 1 ya, Yeobo?”

Kulirik pembersih mukaku. “Oh, ini? Hehe, kebetulan ada di toko, jadi aku pengin nyoba pakai.”

Tiba-tiba aku teringat sesuatu, “Ah, cham! Aku diberitahu bahwa kita seharusnya seumur.”

“Memang kamu lahir tahun berapa?” tanyanya.

“1984,” jawabku.

“Wah, iya dong kita seumur. Bulan apa?”

“Bulan Mei.”

“Aku bulan Agustus.” Lalu, “Wah, istriku lebih tua!” serunya pura-pura terkejut.

“Iya ya.. Terus kenapa aku harus manggil kamu Oppa?”

Dia terdiam. Kupikir dia tak akan menjawab, dan aku juga cuman basa-basi nanya, jadi kubiarkan saja. Eh, taunya, “Karena kamu istriku.”

“Hah?”

“Karena kamu istriku, jadi kamu harus manggil aku Oppa.”

“Yeeee! Aturan dari mana itu?”

“Selesaaaaai!” serunya.

Kutengok apa yang dimaksudkannya. Ternyata dia selesai membereskan bajunya.

“Aku juga selesai,” ujarku. “Dan artinya aku benar-benar sudah selesai. Barang-barangku sudah beres semua. Tinggal nyimpen koper aja.”

Kulihat sisa barangnya. Masih banyak. “Kamu mau aku bantu?” tawarku.

Dia menatapku. “Kamu mau?”

Aku mengangkat bahu. “Aku toh sudah selesai.”

“Kalau begitu, bantu aku menata alat make-up ku? Mau?

“Oke.”

Selanjutnya kami bekerja membereskan barang-barang Yesung.

Setengah jam kemudian, “Selesaaaaai!”  kataku.

“Yeeeeiiy!” teriaknya. “Akhirnya!”

“Tinggal nyimpen tas dan koper aja. Bagaimana kalau kita jejerkan saja di sebelah meja? Toh 2 minggu lagi harus kita pakai lagi.”

“Oke,” sahutnya ringkas.

Akhirnya kamar kami rapi dan bersih. Kami pun beranjak ke ruang tv.

Rumah ini sederhana sekali. Satu kamar mandi bercampur toilet, satu toilet tamu, ruang tamu merangkap ruang tv yang bersebelahan dengan satu-satunya kamar, dapur yang hanya dibatasi oleh rak makan untuk memisahkannya dengan ruang tamu/tv. Mesin cuci ada di balkon sekaligus tempat jemuran. Perabotannya pun ga banyak. Hanya yang penting-penting saja seperti tempat tidur, kulkas, satu sofa beserta mejanya, dan tv. Cukup banyak ruang kosong di rumah kami. Itu kemudian dimanfaatkan oleh kedua kameraman untuk menggelar kantung tidur mereka di sana.

Di depan tv, kami duduk di sofa. Kameramen memberi aba-aba bahwa mereka mulai merekam kegiatan kami. Sebelumnya keduanya juga sibuk merapikan barang-barang bawaan mereka.

Kami berdua duduk di sofa. “Yeobo, aku laper.” Yesung berkata.

“Wah iya, aku juga laper. Tapi aku ga mau masak ah. Capek.”

Yesung memandangku dengan kecewa. Ekspresinya ditahan tapi aku tahu dia sebal dengan kata-kataku. Dia beranjak menuju kulkas.

Dari sofa aku berseru, “Dan kita juga ga punya apa-apa. Soalnya kita kan belum sempat belanja.”

Kuputar pandangan pada kameramen, “Kameramen-nimdeul juga pasti laper kan?”

Mereka mengatakan iya.

“Oppa, kita pesan ayam goreng aja ya?” usulku pada Yesung.

Dia yang sudah duduk lagi di sofa hanya mengangguk.

“Kamu tahu tempat pesan ayam goreng yang enak, Oppa?” tanyaku lagi.

“Ya, aku tahu.”

Aku memandangnya penuh arti.

“Mwo?” tanyanya melihat pandanganku. “Aku yang pesan?”

“Hehehe. Mian, Oppa. Ini kan daerahmu, aku ga begitu hapal daerah sini.”

“Arasseo. Cuman telepon aja kan?”

Aku mengangguk diikuti tindakannya menelepon tukang ayam goreng langganannya. Kuacungkan jempolku ke arah kameraman.

“Gomawo, Oppa. Besok malam aku siapin makan malam yang enak deh,” rayuku.

Matanya berbinar. “Janji ya?”

“Oh,” anggukku. “Makan malam spesial, masakan Indonesia.”

Dahinya berkerut. “Ah, benar. Kamu kan bukan orang orang Korea. Tentu saja bukan masakan Korea ya?”

“Tapi bukan berarti ga bisa sih. Sekedar bikin kimbap-bibimbap sih aku bisa. Aku juga bisa bikin tteokpogi.”

“Jinjja?”

“Geureom. Yang pedes!”

“Waa.. hebat. Aku mau!”

“Hehehe, iya. Tapi besok malam masakan Indonesia dulu ya? Oppa ga keberatan, kan?”

“Ga sih. Emang kenapa gitu harus masakan Indonesia?”

“Hehehe, ya ga kenapa-napa. Cuman kan aku pengin Oppa lebih mengenal aku. Inget di daftar itu? Kita harus menunjukkan perbedaan dan berkompromi dengannya. ‘Terutama Yesung-Beauty couple’ gitu kan kata PD-nim? Inget ga?”

“Oh iya. Daftarnya!” Yesung berseru. “Dimana ya daftar itu?” tanyanya berusaha mengingat.

Aku ikut melihat sekeliling, mencari. “Ng, tadi kamu yang pegang kan?” tanyaku padanya dan langsung tersadar aku tidak memanggilnya Oppa.

“Iya, tapi aku lupa dimana narohnya.” Sepertinya dia ga sadar, syukurlah.

Tiba-tiba salah satu kameramen mengatakan bahwa dia melihat Yesung memasukkan daftar itu tadi masuk ke dalam tas backpacknya. Yesung pun masuk ke kamar memeriksa tas punggungnya. Dia keluar dengan senyum lebar dan mata yang hampir hilang. “Ketemu! Hehe!”

“Ayo kita baca lagi, sambil menunggu tukang ayam goreng,” usulku.

Dia mengambil tempat di sebelahku lagi di sofa. Kemudian kami mulai membaca daftar itu dengan lebih teliti bersama-sama.

“Oppa, aku mau cerita.”

“Apa?” sahutnya sambil melihatku.

“Dulu waktu aku masih kuliah, ada silabus yang namanya KKN. Semacam kerja sosial gitu deh di masyarakat. Selama 1 bulan kita tinggal di desa yang jauh dari rumah, dan kita harus punya program. Nah, biasanya kami catat programnya di kertas yang besar sekali yang ditempelkan ke dinding, lalu kalau program itu sudah terlaksana, kami kasih tanda langsung di kertas itu pakai spidol warna-warni. Bagaimana kalau daftar ini kita buat begitu juga? Kita bikin lebih besar, lalu taruh di…”

Mataku mencari-cari tempat yang tepat untuk menempelkan daftar itu. “Nah, di sini aja,” aku beranjak ke sebelah tv. “Di sebelah tv, jadi setiap kita makan atau nonton tv atau sedang santai kita bisa melihatnya dan ingat.”

Yesung mendengarkan penjelasanku. Mencermatinya selama beberapa saat lalu, “Joha. Boleh juga idemu.”

Aku tersenyum senang dia menerima ideku.

“Kalau gitu kita bikin aja sekarang,” katanya.

“Eiissh, Oppa ini gimana. Kita kan belum punya apa-apa. Kita ga punya kertas yang cukup besar sekarang. Kita harus membelinya dulu besok.”

“Oh iya, ya.. Ah, aku tahu! Kalau begitu sekarang kita bikin rencana aja buat besok.”

Aku mengangguk setuju. “Akan kuambil bolpen dan kertas.”

Lalu kami pun sibuk membuat rencana untuk besok. Ketika kami sedang sibuk merencanakan, tiba-tiba terdengar bunyi bel. Ternyata tukang ayam datang mengantarkan pesanan kami. Aku menyiapkan air putih untuk minum kami, sementara Yesung membagi dua kotak kepada kameramen. Mereka menolak ajakan kami untuk bergabung di dekat sofa. “Kami akan makan sambil merekam,” katanya. Ah ya.. mereka tetap harus bekerja.

Eh, kami juga ding. Ini kan termasuk pekerjaan. Hehe. Tapi kok ga terasa ya?

Kalau dipikir-pikir kami ini memang agak aneh. Sepertinya aku dan Yesung sudah terbiasa ngobrol satu sama lain, meskipun kalau masing-masing ditanya mengenai hal yang sifatnya pribadi, kami tidak akan bisa menjawab dengan pasti. Tapi bahkan tanpa kesepakatan kami sudah bisa menghilangkan gaya bicara formal. Aku sendiri, meski beberapa kali merasa kaget dengan keberadaan kamera dan kameramen yang mengikuti kami, tidak sekalipun aku merasa canggung berkomunikasi dengan Yesung.

“Ngomong-ngomong,” Yesung menyela pikiranku. “Kamu udah berapa lama di Korea?”

“Hmm, kira-kira 3 tahun.”

“Terus kamu ngapain di sini?”

“Sekarang ini aku bekerja freelance. Dulu sih aku hanya berniat belajar Hangugeo sambil jadi turis. Cita-citaku dulu pengin jadi fotografer, jadi selama jadi turis aku senang sekali mengambil gambar.”

“Wah, tapi jadi turis kok lama banget sampe 3 tahun?”

“Hehehe, ya ga lah. Aku harus pulang karena visaku hanya visa turis untuk 2 bulan. Di Indonesia aku ikutan magang di sebuah majalah perjalanan. Nah, di situ aku ngeliat lowongan kerja di Korea sebagai translator dan guide untuk travel agent. Lalu aku coba mendaftar, eh, keterima. Terus aku urus deh visa kerja untuk 5 tahun. Dan waktu 3 tahunku itu terhitung sejak kedatanganku yang kedua.”

“Oh, gitu.” Yesung minum. “Jadi kamu sekarang bekerja di travel agent?”

“Sekarang ini pekerjaanku ada dua. Waktu itu pernah salah satu turis Indonesia mengalami sakit dan harus masuk rumah sakit. Aku terus menemaninya di rumah sakit. Menjadi penerjemahnya. Setelah itu, tiba-tiba aku dihubungi pihak rumah sakit untuk bekerja bersama mereka sebagai penerjemah bagi pasien dari Indonesia. Sebab banyak pekerja dari Indonesia yang harus ke RS tapi kesusahan karena bahasa Korea mereka belum lancar. Sejak saat itu, selain bekerja untuk travel agent, aku juga bekerja freelance untuk RS Seoul. Mereka akan memanggilku kapan pun mereka membutuhkan bantuanku.”

“Wah perusahaanmu baik sekali ya, kamu boleh bekerja untuk perusahaan lain.”

“Memang kau yang harus memesan ayamnya, Oppa. Kau yang paling tahu tempat ayam goreng yang enak! Ini enak sekali,” aku memujinya.

“Tentu saja. Makanan yang enak itu penting.”

“Oh,” aku menyetujuinya. “Ya, aku beruntung. Pemilik perusahaanku sangat baik. Tapi meskipun tadi aku bilang banyak, biasanya pasien tidak terlalu banyak sampai mengganggu pekerjaan utamaku kok.”

“Ah aku baru ingat,” Yesung berseru. “Aku sih besok memang tidak ada jadwal. Tapi kamu gimana?”

“Aku juga kosong. Sebenarnya sampai bulan depan travel agent tempatku bekerja sedang libur. Uri Sajangnim memutukan untuk menikmati liburan bersama keluarganya sejak minggu lalu. Tapi di RS ada pasien yang harus kukunjungi setiap hari. Hanya saja begitu aku bilang aku mau ikut reality show, RS memberiku ijin tidak datang selama dua hari. Hehe..”

“Memang Bahasa Korea itu susah sekali ya? Sampai RS aja membutuhkan penerjemah?” Yesung menanyaiku lagi.

“Menurutku sih, penerjemah itu bukan hanya dimanfaatkan kemampuan berbahasanya aja. Tapi juga kemampuannya mengkomunikasikan informasi antara RS dengan pasien. Jadi bukan bahasanya yang susah.”

“Oh, gitu.. Iya ya, kami juga kalau show ke negara-negara lain hanya berbicara bahasa Inggris sedikit-sedikit. Karena kami merasa maksud kami tidak akan tersampaikan pada para fans kalau pakai bahasa Inggris kami yang pas-pasan. Hehe.”

Aku sudah selesai makan. “Oppa, aku sudah kenyang.”

“Heh, lagi dong. Kamu harus makan yang banyak biar sehat. Ayo Yeobo.. makan lagi.”

“Aaah, aku sudah ga kuat lagi, Oppa. Tadi Oppa pesannya porsi besar ya? Wah, aku ga kuat. Banyak banget. Kusimpen aja deh di kulkas, buat besok.”

“Mana enak.”

“Tapi aku udah kenyang banget, gimana dong?”

Mendengar itu Yesung ikut bingung. “Ya udah taroh aja di sini. Siapa tahu nanti malam ada yang lapar lagi,” putusnya. Dia lalu melanjutkan makannya.

“Yeobo…” panggilnya.

Ketika aku menoleh, “Kalau di Indonesia, bagaimana kalian memanggil istri atau suami?”

“Hmm, kalau pasangan lama sih hampir mirip seperti di sini, Pak atau Bu. Tapi kalau pengantin baru…”

“Kaya kita,” selanya.

“Kaya kita, biasanya panggil…” apa ya? Sayang kali ya? “Sayang.”

Yesung menatapku. “Geuraesso?”

“Oh,” anggukku.

“Geureom, gimana kalo kita pake itu aja, Yeobo?”

“Hah?” aku ga ngerti maksudnya.

“Kita pake bahasamu untuk manggil satu sama lain, biar ga sama dengan yang lain..”

Aku tersipu. Tapi aku juga senang. “Boleh aja sih kalau kamunya mau.”

“Geureom. Baiklah, sudah ditetapkan… Sayang…” ucapnya sambil tersenyum lebar ke arahku.

Aduh, emang normal bener aku ini ya…  Seketika aku langsung klepek-klepek melihat senyumnya menyertai suara yang memanggil aku ‘sayang’.

“Johda. Kalau gitu, oke,… Sayang,” aku membalasnya. Sial, aku malu.

“Waah, perasaanku enak ngedengernya.”… “Sayang,” lanjutnya.

“Geumanhe,” seruku. “Malu-maluin, tahu.”

“Lho kok malu-maluin. Emang dimananya? Kan kamu istriku,” godanya sambil mencolekkan paha ayam ke pipiku.

“Ya!” aku mengusap pipiku yang jadi berminyak.

“Ihiiiy, malu ya…?” dia masih terus menggodaku.

Aku memilih mengabaikannya, meski aku bisa merasakan mukaku sudah memerah. “Udah ah, aku mau gosok gigi.”

Yesung tergelak ketika aku melewatinya menuju kamar mandi. Salah seorang kameramen mengikutiku ke kamar mandi. Sebelum aku menggosok gigi, dia bertanya mengapa aku meninggalkan Yesung padahal makannya belum selesai.

“Aku malu sekali,” kataku pada kamera. “Dia mungkin tidak tahu, tapi Sayang itu biasanya maknanya sangat intim. Aduh, aku malu sekali. Bagaimanapun juga kami kan baru saling mengenal.” Kurasakan mukaku kembali memerah mengingat panggilannya tadi.

Selesai menggosok gigi, rasa maluku sudah berkurang. Aku berkata lagi pada kamera, “Tapi mungkin sebentar lagi aku akan terbiasa. Kalau kami terus menggunakannya, mungkin aku tidak akan malu lagi.” Kuacungkan kedua jempolku.

Begitu kembali ke ruang tv, Yesung sudah berhenti makan. “Kamu benar. Porsinya memang banyak. Aku juga sudah ga sanggup lagi, padahal belum kuhabiskan.”

Aku tersenyum. “Sini, satukan saja dengan punyaku.”

“Biar aku yang melakukannya. Kamu sudah cuci tangan kan?” dia berhenti lalu, “Sayang?” Dia sengaja menggodaku.

Aku menundukkan muka. Kuangkat mukaku sesaat kemudian, “Sudah, Saaaa-yaaang…” jawabku dengan nada mesra dilebih-lebihkan. Membuat kami berdua tertawa.

Aku lantas mengambil kertas dan bolpen yang sudah berisi coretan mengenai rencana kami besok, dan bertanya padanya, “Selain belanja dan membuat daftar misi, apa lagi yang ingin kau lakukan.”

Selama beberapa saat dia tidak menjawabku, tapi lalu terdengar jawabannya, “Membereskan rumah?”

Aku melihat ke dalam daftar misi. “Oh iya, ada nih di dalam daftar misi. ‘Ciptakan rumahmu’.”

“Kurasa 3 kegiatan itu sudah akan menguras waktu kita. Belum lagi aku masih harus siaran SUKIRA. Yang satu itu ga bisa diliburkan.”

“Malem ini juga?” tanyaku.

“Ya. Jam berapa ini?”

“Sekarang baru jam 8.”

“Yah, aku akan pergi jam 9. Sebaiknya aku telepon Leeteuk Hyung dulu.” Yesung kemudian pergi mencari teleponnya di dalam kamar. Dia menelepon dari sana.

Kameramen yang tadi mengikutiku gosok gigi kembali mendekatiku.

Aku melihatnya, tersenyum agak sedih, “Di malam pernikahan aku ditinggal kerja oleh suamiku. Ahahaha. Anieyo, aku hanya bercanda. Dia kan hendak pergi cari uang, jadi aku akan bersabar. Yorobeun, dukung kami ya..”

Hah! Sepertinya aku sudah mulai terbiasa curhat ke kamera. Aku berkata lagi ke arah kamera, “Sekarang sebaiknya aku menyusun daftar belanja kami besok.”

Aku menyusun daftar belanjaan sambil beberapa kali mengecek dapur dan kamar mandi. Kira-kira apa yang kami butuhkan untuk waktu 2 minggu.

Terdengar suara Yesung memanggilku. “Sayang? Kamu dimana?”

“Aku di balkon.”

Dia menyusulku. “Apa yang kamu lakukan?”

“Aku sedang mengecek jemuran. Menurutmu apa sebaiknya kita membeli hanger atau mengambil saja dari tempat kita masing-masing? Soalnya kita hanya akan membutuhkannya selama 2 minggu.”

“Kita ambil saja dari tempat kita masing-masing. Lagipula ga terlalu mendesak juga, kan? Aku sudah menelepon Hyung, dan ya, aku akan pergi jam 9 nanti.”

“Oh. Oke.”

Sesudah itu kami berpandangan. Bingung apa lagi yang hendak dikatakan. Kami jadi sedikit canggung. Aku memandang ke dalam, “Ah! Iya. Apa kamu mau melihat daftar belanja? Mungkin nanti ada yang mau kamu tambahkan?”

“Ah, iya. Eng, boleh juga,” balasnya canggung. Dia masuk ke dalam diikuti olehku.

“Aku akan membeli bahan makanan, kertas besar, gantungan, isolasi, detergen. Baru itu daftarku.”

Dia tampak berfikir. “Kita seharusnya beberes dulu, baru kita akan tahu apa yang kita butuhkan.”

Aku mengangguk, “Tapi aku rasa kita ga butuh banyak, soalnya kita kan hanya sebentar di sini.”

Dia melihatku. Kepalanya terangguk-angguk. Sepertinya dia tidak memiliki apapun untuk dikatakan.

“Kamu ga membutuhkan sesuatu?”

“Aku mungkin akan mengambil yang kubutuhkan jika aku melihatnya di supermarket besok.”

Aku mengangguk. “Oke kalau begitu…”

Kami terdiam lagi dan canggung. Tanpa sengaja tatapan kami bertemu. Diam-diam nafasku tersengal. Aku bisa merasa bahwa kami berdua merasa canggung karena tidak ada lagi yang harus dibicarakan, namun di saat yang sama aku merasa serangan isolasi itu mulai bekerja. Syukurlah saat ini tidak ada kontak fisik di antara kami jadi efeknya tidak terlalu kuat.

“Kalau begitu aku akan bersiap-siap,” kata Yesung tiba-tiba.

“Oh? Oh, geurae. Siap-siaplah.”

Sementara dia masuk kamar mempersiapkan apa yang dibutuhkannya, aku menggantikan tempatnya duduk di sofa. Kunyalakan tv. Aku menonton apa saja yang ada di sana. Aku toh ga benar-benar memperhatikan acaranya.

Jam 9 kurang 10, dia sudah selesai bersiap-siap. “Aku pergi dulu,” pamitnya.

Aku menatapnya lalu bangun dari dudukku. Tanpa berkata apa-apa aku tersenyum padanya. Dia segera bergerak ke arah pintu. Aku mengikutinya sampai di pintu.

“Hati-hati,” ujarku.

“Ya. Aku akan pulang lewat tengah malam. Jadi kamu tidur aja duluan.”

“Ne,” jawabku.

Lalu dia pergi ditemani seorang kameramen. Aku melihat lampu mobilnya yang menjauh. Kutatap kameramen yang ditinggal bersamaku sambil tersenyum. “Dia sudah pergi,” aku nyengir.

Aku kembali masuk dan kali ini segera membereskan sisa makan malam kami yang belum semuanya beres. Setelah itu aku mengecek dapur dan memperkirakan dimana akan meletakkan barang-barang. Aku teringat bahwa aku punya rice cooker. Sebaiknya aku bawa saja ke sini. Kucatat rencanaku itu.

Setelah selesai mengecek, kuputuskan untuk beristirahat. Hari ini lumayan melelahkan. Ah, aku ingat aku belum sholat. Aku ke kamar mandi mengambil air wudlu. Keluar dari kamar mandi kameramen bertanya padaku apa rencanaku sekarang.

“Ini hari yang melelahkan, jadi aku rasa aku akan beristirahat sekarang.” Dia terus mengikutiku hingga ke kamar. Melihatku bersiap sholat, dia bertanya lagi apa yang kulakukan.

“Ah, aku harus beribadah sebelum tidur.”

“Apa boleh kami merekamnya?”

“Asal kau tidak melakukannya di depanku dan tidak berisik, aku rasa boleh-boleh saja,” jawabku sambil tersenyum. Dia lalu merekam aku sholat hingga selesai.

Selesai sholat aku teringat aku harus mengatakan sesuatu tentang daging babi pada Yesung. Segera kuraih catatanku dan kucatat kepentinganku itu. Nah, aku rasa semua sudah beres sekarang. Tapi aku belum bisa langsung tidur, maka aku menonton tv sebentar sampai kantuk datang.

Sambil menonton aku berkata pada kameramen, “Hehehe, aku belum mengatakannya pada Yesung ssi. Bahwa aku harus beribadah seperti tadi lima kali sehari. Dan aku juga tidak makan daging babi. Wah, aku rasa itu akan jadi misi terberatku. Aku baru sadar sekarang kalau kami benar-benar berbeda.”

Kameramen menanyakan padaku apa aku orang Islam.

“Wah, kau tahu Islam? Ya, aku orang Islam.”

Dia lalu berkata bahwa biasanya wanta islam yang dia temui di korea selalu menggunakan pakaian yang menutup.

Aku tersenyum, “Aku… tidak. Aku belum bisa. Mungkin nanti, tapi sekarang aku masih nyaman seperti ini.” Aku merasa aku sedang shooting untuk film dokumentasi.

Beberapa saat kemudian, aku mulai merasa ngantuk. Kukatakan itu pada kameramen, dan kuucapkan selamat malam padanya. Kumatikan lampu, masuk kamar dan juga mematikan lampu kamar. Dengan segera aku tertidur.

Di tengah tidurku, aku mendengar suara-suara. Untuk sesaat aku merasa bingung akan apa yang sedang terjadi. Lalu aku ingat, itu mungkin Yesung.

Kubuka pintu kamar. Rumah masih gelap, dan ada sosok sedang berdiri di tengah ruangan. “Yesung ssi?” panggilku.

“Oh maaf, kamu kebangun ya Sayang?”

“Kamu sudah pulang?” tanyaku.

“Ya. Sudah sana kamu tidur lagi aja.”

“Oh? Oh. Aku tidur di kamar, ga papa kan?”

“Iya, ga papa. Aku bisa tidur di sofa,” jawabnya.

“Kamu mau naroh tasmu di dalam? Aku bisa menaruhnya di sana.”

Dia terdiam sejenak. “Sebenarnya, Sayang. Kalau kamu ga keberatan, boleh ga aku masuk ngambil baju ganti?”

Oh, yeah. Sure. Why not?”

“Hah? Apa?” tanya Yesung. Plak, aku memukul dahiku dalam pikiran. Muncul deh kebiasaan lama. Emang dalam keadaan setengah sadar kebiasaan lama suka muncul tiba-tiba ya? Bahasa Inggris sudah jadi bahasa keduaku, karena selalu jadi senjataku saat jadi orang baru di daerah baru yang bahasanya tidak kukuasai.

“Maksudku, masuk aja. Ga papa kok. Tapi aku masih ngantuk, ga papa kan kalo aku tidur duluan? Kalau ada yang mau diambil atau ditaroh di kamar, masuk aja. Kamar ga aku kunci kok. Lampunya juga dinyalain aja. Aku bisa kok tidur di kamar yang terang.”

“Ya ya ya, sana kamu tidur aja.”

Mendengar itu aku merangkak balik ke dalam selimut. Yesung mengikuti masuk untuk menaruh tas dan mengambil baju ganti. Aku sudah hampir tertidur lagi waktu dia tiba-tiba mengatakan sesuatu, “Oh ya, besok kita jemput Dangkoma ya?”

“Ya,” gumamku.

Dia tidak berkata apa-apa lagi. Aku pun sudah larut lagi di dalam mimpi yang ga jelas.

Begitulah, itulah pengalaman malam pertama kami. Ini baru hari pertama kami lalui sebagai suami istri. Masih tersisa 13 hari lagi. Aku tidak tahu apa yang menunggu kami di depan sana, tapi aku bisa tidur tanpa terganggu sama sekali malam itu, jadi aku harap itu bisa jadi tanda yang baik untuk kehidupan pernikahan kami.

KKEUT.

10 thoughts on “[Freelance] The Marriage And Us [Day 1]

  1. Hwa , pgn jg ikutan WGM ama kyu ppa , minho ppa , key ppa , atau cpha aja dEch member shinee or suju . FT Island jd blh ?
    *emg cpha yg mau ngajak bego ? LOL . ,

    keren chingu , ga sbr pgn cpt hari ke 2 . ,

    jgn lama2 chingu ,
    cpt2 di buat , readers menunggu hasil karyamu chingu ,
    hwaiting . , kajja kajja kajja

  2. NUMPANG INFO YA BOS… bila tidak berkenan silakan dihapus:-)

    LOWONGAN KERJA GAJI RP 3 JUTA HINGGA 15 JUTA PER MINGGU

    1. Perusahaan ODAP (Online Based Data Assignment Program)
    2. Membutuhkan 200 Karyawan Untuk Semua Golongan Individu (SMU, Kuliah, Sarjana, karyawan dll yang memilki koneksi internet. Dapat dikerjakan dirumah, disekolah, atau dikantor.
    3. Dengan penawaran GAJI POKOK 2 JUTA/Bulan Dan Potensi penghasilan hingga Rp3 Juta sampai Rp15 Juta/Minggu.
    4. Jenis Pekerjaan ENTRY DATA(memasukkan data) per data Rp10rb rupiah, bila anda sanggup mengentry hingga 50 data perhari berarti nilai GAJI anda Rp10rbx50=Rp500rb/HARI, bila dalam 1bulan=Rp500rbx30hari=Rp15Juta/bulan
    5. Kami berikan langsung 200ribu didepan untuk menambah semangat kerja anda
    6. Kirim nama lengkap anda & alamat Email anda MELALUI WEBSITE Kami, info dan petunjuk kerja selengkapnya kami kirim via Email >> http://entrydatagroup.blogspot.com/

  3. annyeong^^ aku pembaca baru hehee aku nemu ff ini pas udah day 13 -_____- yah gapapa. karena tertarik aku langsung cari dari awal dan ketemu! aku udah baca prolognya, tp ga komen hehehe mian yaa .__.V

    yang part 1 ini masih sedikit flat, tapi gapapa aku langsung capcus ke part 2! tapi ini bagus kook! skornya delapan dari 10 :p

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s