Excalibur

EXCALIBUR (one shot)

Main character(s): Lee Joon (MBLAQ), Goo SaRang (OC)
Other character(s): MBLAQ
Genre: Love/Friendship
Rating: PG-13
[Masterlist]

Rikues dari Nisa, semoga suka dan semoga nggak kepanjangan :)

 

WELCOME TO EXCALIBUR

——————————

now loading…

[|||||||||||||||||| ]

——————————

 

Lee Chansung hanya seorang pelajar SMA biasa. Berangkat pukul setengah delapan pagi, jam tiga sekolah usai dan dia akan berangkat menuju bimbingan belajar dan belajar di sana sampai jam delapan malam. Rutinitas yang sama tiap harinya. Sekolah, belajar, tidur. Kehidupan yang amat sangat normal. Yeah, you get the idea.

 

“Kau harus lebih menikmati hidup,” ujar salah satu teman sekelasnya, Cheolyong, meskipun dia lebih suka dipanggil dengan sebutan Mir. Saat itu salah satu periode bebas karena guru pengajar mereka sedang mengikuti rapat dengan kepala sekolah. Seperti kelas pada umumnya, keributan terjadi setiap tidak ada guru yang mengawas. Siswi sibuk menggosip di satu sudut, sebagian siswa mencorat-coret papan tulis, tidak ada yang mengejutkan. Tapi lima orang yang duduk di belakang kelas tidak ikut dalam keributan itu. Chansung, Cheolyong, Byunghee, Seungho, dan Sanghyun.

Chansung hanya menunjukan seringai mengejek ke arah Cheolyong, “kalau maksudmu ‘menikmati hidup’ adalah dengan nilai merahmu di tes biologi kemarin, no thanks.”

Tawa serentak terdengar dari ketiga orang lainnya.

“Kau harusnya membelaku, Thunder,” ujar Cheolyong agak kesal sambil meninju bahu Sanghyun pelan, “kau ikut main bersamaku sebelum tes!”

Sanghyun, atau Thunder sebagaimana Cheolyong memanggilnya, hanya tersenyum dan mengangkat bahu. Semua nama panggilan ini terkadang membuat Chansung pusing. Selain dia, keempat orang ini adalah gamer yang menghabiskan waktu luang mereka dengan bermain game online. Dari sanalah nama-nama itu terbentuk. Kecuali Seungho yang tetap memakai nama aslinya, mereka saling memanggil dengan ID mereka, Mir—Cheulyong, GO—Byunghee, dan Thunder—Sanghyun.

 

“Jangan salahkan Thunder atas kemampuan otakmu yang tidak memadai, Mir,” ujar Byunghee dengan wajah kalem. Membuat yang lain, kecuali Cheolyong, tertawa lagi.

“Terserah kalian deh,” gerutu Cheolyong sambil menghempaskan tubuhnya ke kursi. Ngambek ceritanya. Chansung mendengus pelan melihat tingkah kekanak-kanakannya. Dasar bocah.

 

“Memangnya kalian main apa sampai lupa belajar?” tanya Seungho tertarik.

“Itu, hyuung, game yang baru itu!” Cheolyong langsung kembali cerita, lupa bahwa ia sedang marah tadi, “Excalibur!”

“Biar kutebak, ksatria meja bundar, mencabut pedang dari batu?” tanya Chansung dengan nada sarkastis, jelas-jelas mengejek. Bagaimana tidak, Cheolyong selalu mengatakan game terbaru yang dimainkannya bagus, seru, menarik, lalala. Dan kali ini judul gamenya saja sudah Excalibur, mengingatkannya pada film Athur and Merlin, yang sering dibicarakan anak perempuan. Cheolyong, dasar banci.

 

“Haha, lucu sekali,” ujar Cheolyong dengan nada sebal, “kalau kau mencobanya kau juga akan ketagihan.”

“Tidak, terima kasih. Aku tidak mau jadi sepertimu.”

“Oh, kau takut akan kalah dalam game, Chansung?” suara Byunghee, masih dengan wajahnya yang kalem.

Yang benar saja,” jawab pemuda sarkastis itu sambil memutar bola matanya. Ia tidak tahu kenapa ia masih mau berbicara dengan game-freak seperti mereka ini. Mungkin ia harus memilih tempat duduk lain nanti, jauh-jauh dari mereka. Kebodohan Cheolyong, muka datar Byunghee, Seungho yang sok baik, dan Sanghyun yang terlalu polos sampai menyebalkan—ia harus menghindari mereka.

 

“Kau takut kalah?” kali ini Sanghyun, dengan senyum khasnya. Biasanya dia pendiam, tapi ada saat-saat di mana ia jadi menyebalkan. Seperti saat ini.

“Aku tidak ingin jadi aneh seperti kalian,” ujar Chansung, kekesalannya sudah mulai terdengar dari nada bicaranya.

“Kau yakin itu alasannya?” kali ini Seungho, yang seharusnya memainkan peranan orang baik di antara keempat mahluk sinting itu. Benarkan, si sok baik ini dalamnya busuk juga.

“Oh, kau takut, akui saja.” Cheolyong lagi.

“Ya, Chansung, akui saja.”

 

“Baiklah. BAIKLAH.”

 

***

 

Chansung menatap box CD yang diberikan Cheulyong dengan tatapan antara sebal, frustasi, dan bosan. Kebetulan hari ini bimbingan belajarnya libur. Jadilah dia di sini, di depan komputernya menatap bergantian antara layar komputer dan box CD. Kenapa ia bisa terbawa perasaan dan menyanggupi tantangan kumpulan freak itu masih menjadi misteri baginya sendiri. Ia mendesah pelan sewaktu bunyi dari komputernya memberi isyarat bahwa instalasi game selesai.

Hanya memainkan game ini, apa susahnya?

 

——————

name:

——————

 

Pada tahap ini Chansung berhenti dan berpikir. Ia tidak ingin memakai nama aneh-aneh dan kampungan. Tapi ia enggan membiarkan orang lain melihatnya dengan nama Chansung, sekalipun belum tentu orang mengira itu nama aslinya. Ia memutar bola matanya dan berpikir, apa saja boleh deh. Toh, ia juga tidak berniat serius memainkan game ini.

 

——————

name: Joon

race: human

job: knight

——————

 

——————————

now loading…

[|||||||||||||||||| ]

——————————

 

Chansung—bukan, Joon, berdiri di awal mula. Dengan baju ksatria sederhana yang sama dengan banyak orang—karakter lain. Persenjataannya hanya terdiri dari pedang simpel, yang ia berani bertaruh adalah senjata paling murah. Sedangkan barang bawaannya hanya dua botol ramuan, satu yang bewarna merah untuk memulihkan HP—stamina, sedang yang bewarna hijau satunya untuk memulihkan SP—sihir. Ya, ya, standar. Ia berjalan untuk berbicara dengan seorang NPC perempuan, yang memberinya petunjuk untuk sampai ke kota terdekat.

Dan itulah yang ia lakukan, mengikuti petunjuk.

 

Jalan menuju kota dipenuhi oleh monster-monster. Kebanyakan adalah monster ulat dan laba-laba, juga beberapa gumpalan jeli yang bisa menyerang. Yah, tujuannya kesini kan memang untuk menaikan level secepatnya, menunjukannya pada yang lain, lalu berhenti. Selesai. Jadi ia langsung saja menyerang monster-monster yang tersedia. Tidak butuh waktu lama baginya untuk meraih level 15. Kemudian, memutuskan monster di sana sudah terlalu lemah, ia meneruskan perjalanannya ke kota.

Kota yang di sebut [Utrophi] itu didesain seperti Eropa zaman pertengahan. Bangunan-bangunan dari batu dan sebuah kastil besar di tengah kotanya. Itu tempat raja dan ratu tinggal, menurut petunjuk yang dikatakan NPC tadi, dan dia hanya bisa masuk ke sana jika ia menyelesaikan misi tertentu. Apapunlah, ia tidak tertarik.

 

[“Sorry, punya jade?”] seseorang bertanya padanya. Namanya Ninja91, Joon melihat sekilas. Tapi ia langsung berjalan tanpa menghiraukan orang itu, ia tidak butuh basa-basi kurang kerjaan. Ia hanya ingin menyelesaikan hal ini secepatnya. Naik level lalu mengucapkan selamat tinggal pada game ini untuk selamanya.

 

[“Hei.”]

Joon terus berjalan menuju toko senjata, tidak menghiraukan siapapun yang mengajaknya berbicara. Kenapa orang-orang di sini begitu sulit mencerna bahwa ia tidak tertarik dengan perbincangan tanpa makna?

Ksatria itu berhenti di depan toko senjata, membeli sebuah pedang yang memiliki daya serang lebih tinggi daripada sebelumnya. Ia juga sempat mampir ke toko armor untuk membeli armor baru yang lebih kuat dan menyimpan beberapa ramuan tambahan untuk berjaga-jaga. Setelah puas dengan persiapannya, ia mulai berjalan menuju gerbang kota.

 

[“Kau punya ruby/cockatrice eyes? Kubeli mahal,”] tanya seseorang yang tiba-tiba mendatanginya. Dari bajunya mungkin ia seorang fencer—pengguna tombak. Joon pura-pura tidak melihatnya dan tetap beranjak pergi. Namun fencer itu bergerak menghalangi jalannya.

[“Yah, aku bicara padamu!”]

[“Fuck off.”]

Joon meninggalkan orang itu, yang langsung memaki-makinya dari belakang. Sungguh, orang-orang ini maunya apa sih? Bukankah dengan menolak berbicara saja sudah jelas bahwa Joon tidak ingin diganggu. Ia memainkan game ini bukan untuk bersenang-senang. Sekedar ajang pembuktian diri.

 

[“Hei.”]

Kali ini seorang perempuan, dengan pakaian penyihir bewarna hijau-putih. Joon mengutuk dalam hati. Sungguh orang-orang ini. Memangnya ia membawa papan bertuliskan ‘GANGGU SAYA DONG’ dengan warna pink neon bergliter apa? Kenapa orang-orang ini tidak bisa melihat bahwa dia TIDAK mau diajak bicara.

Langkahnya terhenti (lagi) ketika sosok perempuan itu menghalangi jalannya.

[“Hei, aku memanggilmu dari tadi.”]

Jika Joon bisa memutar bola matanya seperti Chansung, ia pasti melakukannya. Tapi di dalam game itu Joon hanya bisa berjalan melewati gadis itu, tidak peduli dengan apa yang ingin ia katakan. Ksatria itu melewati penyihir perempuan itu tanpa memberikan tanda bahwa ia melihatnya barang sedikit. Yah, maaf nona, silahkan coba bertingkah sok imut di depan orang lain yang kurang kerjaan. Joon tidak tertarik.

[“Kalau kau begitu terus, tidak akan ada yang mau membantumu nanti.”]

Joon mendengar apa yang diucapkan gadis itu.

Ia tidak peduli.

 

Memangnya siapa yang butuh bantuan orang lain?

 

***

 

Ia tahu ia seharusnya tidak mengakui ini, tapi ayolah, ia berbakat dalam hal ini. Dua hari ia memainkan permainan konyol ini, dan ia mencapai level 42 dengan mudah. Lihat saja, akan ia buat Cheolyong mengakui bahwa game online ini konyol dan siapapun bisa menguasainya. Heh.

Suara beep pelan terdengar dari Blackberry-nya. Chansung melempar ranselnya ke lantai sementara ia menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Ia menatap layarnya dan sudah ingin membuang benda itu ke lantai ketika ia melihat nama Cheolyong sebagai pengirim pesan yang terakhir. Bahkan di dalam kamarnya sendiri pun ia tidak bisa selamat dari idiot itu. Nasib.

 

—————————————-
Yo (^o^)/
Jangan lupa say hi kalau nanti kita ketemu di Excal.
kau tahu ID kami apa~
Siapa ID-mu di sana?
Chansung? MeanieBeanie?
—————————————–

 

MeanieBeanie, what? Chansung mengerutkan alisnya. Memutuskan perkataan Cheolyong sama berharganya dengan gonggongan anjing peliharaan tangga, ia hanya membalas pesan itu dengan satu kata: ‘Joon’. Biar Cheolyong dan yang lain melihat bahwa ia bisa menguasai game ini dengan mudah. 42 level dalam dua hari adalah pencapaian yang cemerlang menurutnya.

Pemuda itu melirik ke arah jam dinding di dekat meja belajarnya. Jam setengah sembilan. Ia masih bisa menaikan beberapa level dulu sebelum waktunya tidur, ia pikir.

 

———————–

user name: Joon

password: ******

———————–

 

——————————

now loading…

[|||||||||||||||||| ]

——————————

 

Joon muncul di kota yang sama lagi, [Uthropi]. Ia menyimpan karakternya di sini karena memang kota ini paling besar di seluruh dunia Excalibur. Toko senjata yang lengkap sehingga ia hanya perlu bolak-balik antara dungeon dan kota ini saja. Seperti kali ini juga, setelah memastikan ia sudah memakai senjata yang sesuai dengan levelnya sekarang (pedang naga putih untuk knight lv +40), ia memasuki [portal] untuk menuju tempat berlatih.

Seperti biasanya, banyak orang di sana. Semuanya berburu monster, sibuk bersaing untuk menjadi yang nomor satu. Joon mengeluarkan pedangnya—yah, ia juga memiliki niat yang sama. Menjadi nomor satu, lalu melemparkan status itu ke muka Cheolyong.

Joon berlari ke satu monster serigala, dengan sigap ia mundur menghindari taring mahluk itu, lalu menusuknya dari atas dengan salah satu tekniknya. Ksatria itu kemudian melompat menjauh dan memusatkan sihirnya untuk memberikan pedangnya elemen petir, karena serigala ini berelemen air. Ia berguling ke samping kemudian sekali lagi melompat dan menusuk monster itu dari atas. Done.

Mudah.

 

Ksatria itu menatap sisa-sisa monster itu dan tersenyum puas. Ia tidak mengerti kenapa permainan mudah begini begitu dibesar-besarkan oleh para freak itu. Perbedaan intelegensia mereka mungkin. Memang biasanya orang bodoh gampang puas.

Joon mencabut pedangnya dari punggung si serigala.

Terdengar suara geraman keras dari belakangnya dan Joon langsung kembali bersiaga. Ia mengangkat pedangnya, siap untuk bertempur dengan musuh baru. Kemudian munculah mahluk raksasa bewarna ungu-hijau, tentakelnya mengeluarkan lendir-lendir yang terlihat menjijikan. Bukan masalah besar.

Ia mulai menyerang menggunakan jurus-jurusnya. Tapi serangannya tidak melukai monster itu sedikitpun. Ternyata tidak semudah dugaannya. Sepertinya ia salah memilih lawan, monster level boss ini tidak bisa dikalahkan dengan levelnya sekarang. Joon berusaha untuk lari, namun tentakel monster itu menyerang kakinya—membuatnya jatuh terjerembap. Ia melihat sekeliling, melihat seorang player lain dengan nama Ninja91 di dekatnya. Namun player itu pergi dari sana tanpa meliriknya sama sekali. Sial.

Ia sudah hampir mati, ia tahu satu serangan lain dari monster itu dan nasibnya akan tamat.

Di saat itulah muncul cahaya putih, dan di depan monster itu kini berdiri perempuan itu. Yang tadi menyapanya. Rambutnya bewarna hitam sebahu dan setelan penyihir hijau-putihnya berkilau saat gadis itu mengeluarkan sihir. Awalnya ia kira gadis itu bodoh, hanya bunuh diri dengan bersikap sok pahlawan. Tapi ia salah. Sihir gadis itu cukup kuat untuk merobohkan si monster, yang kemudian lenyap menjadi kepulan asap.

Joon berdiri dari tempatnya tadi.

 

[“Apa yang kau lakukan?”] tanya pemuda itu kesal.

[“Um… menolongmu?”]

Joon menyarungkan pedangnya dan membalikan punggungnya menghadap penyihir itu. Ia tidak mengerti kenapa perempuan itu sok-sok menolongnya begini, pamer level mungkin. Ia melangkah kembali ke kota dan berkata sambil lalu, tidak peduli, [“Terserahlah.”]

[“Hei!”] panggil gadis itu, berlari ke samping sang ksatria, [“Aku sudah menolongmu, setidaknya bersikap baiklah padaku.”]

[“Aku tidak minta kau menolongku.”]

[“Tapi aku menolongmu!”] ujar gadis itu ceria, lengkap dengan emoticon tawa yang membuat Joon semakin kesal dibuatnya, [“Jadi aku memutuskan untuk mengikutimu.”]

[“Kubilang aku tidak butuh pertolonganmu, pergi sana!”]

[“Tidak mau. Aku akan mengikutimu,”] balas gadis penyihir itu santai. Sama sekali tidak menghiraukan perkataan Joon yang jauh dari baik. Hal ini membuat Joon kesal, bagaimana tidak? Tapi ksatria itu tidak mengatakan apa-apa lagi. Buang-buang waktu. Nanti juga gadis itu bosan kalau didiamkan terus.

[“Hei, namaku Terra.”]

Joon mempercepat langkahnya. Bodoh apa player ini? Jelas-jelas Joon bisa melihat nama karakternya, entah apa maksudnya mengenalkan diri seperti itu. Lupakan saja, siapa tahu kalau dihiraukan si Terra ini juga akan lenyap, mungkin hanya bagian dari mimpi buruk.

 

***

 

[“Joon, kita mau kemana hari ini?”]

Ksatria bernama Joon yang dipanggil pura-pura tidak mendengar gadis itu. Ia memeriksa barang bawaannya, ramuan penyembuh sudah, talisman penambah daya serang, pedangnya juga sudah, ia siap pergi menumpas monster.

[“Bagaimana kalau ke [padang tiga belas bulan]? Kudengar pemandangan di sana bagus.”]

Joon mengecek peralatan yang dipakainya, semuanya masih bagus, meskipun mungkin ia harus mengganti sepatunya setelah ini. Kota yang menjual peralatan level 60+ di mana ya? Kalau tidak salah toko di [Lumina] menjual peralatan 50+, tapi ia tidak yakin apakah peralatan level 60+ ada di sana juga. Ia sebaiknya mengeceknya nanti.

[“Atau kau mau ke [Labirin Kelabu]? Dungeon yang cukup menantang katanya, banyak sekali monster yang menjatuhkan barang-barang langka.”]

[“Berisik,”] ujar Joon kesal, meninggalkan penyihir perempuan itu di belakangnya. Bukannya merasa sakit hati atau apa, si Terra itu justru berlari ke sampingnya masih sambil berbicara mengenai tempat-tempat yang ada di Excal. Dungeon inilah, padang ini, kota itu, Joon hanya bisa pasrah mendengarkan. Dalam hati ia mulai berpikir bahwa teman-teman sekelasnya masih lebih bisa ditolerir dibandingkan perempuan ini.

[“Joon~”] gadis itu memanggilnya lagi, dengan emoticon mata berkaca-kaca yang membuat Joon mengangkat tangan dan mendorong gadis itu menjauh. [“Berisik!”]

 

Mereka belum sampai ke gerbang kota ketika beberapa orang menghampiri mereka. Seorang penyihir, seorang pencuri, dan dua ksatria. Keempatnya tampak baru kembali ke kota, mereka tampak babak belur seperti baru berburu monster.

[“Joon! Akhirnya kita bertemu juga!”]

Joon menghela nafas. Dasar panjang umur.

[“Cheolyong.”]

[“Panggil aku MIR! Di sini namaku MIR!”]

[“Yeah, yeah, Mir.”]

Mir si pencuri, imej yang pas menurut Joon. Karena memang Mir lincah dan tidak bisa diam seperti anak monyet. Seungho si penyihir, yang memberikan back up untuk yang lain, bisa dibayangkan. Lalu Thunder dan GO sebagai ksatria di garis depan. Ya, ya, cocok.

 

[“Hai, kalian! :D”] seru gadis di sebelahnya, berlari ke arah empat orang yang baru datang. Ia berbicara cepat sampai Joon capek sendiri melihatnya dan memutuskan untuk melihat buku guide saja, mencari tempat yang bagus untuk berburu monster. Meskipun sebenarnya ia agak heran kenapa Terra bisa mengenal teman-temannya. Tapi mengingat penyihir itu memang seperti mengenal seluruh pemain Excal, ia tidak terlalu heran juga.

Seungho: [“Terra! Lama tak kelihatan, kemana saja kau?”]

Terra: [“Bareng si ansos ini, hehehe.”]

GO: [“Wah, sabar ya, beginilah memang dia itu.”]

Terra: [“Haha, sudah terbiasa kok! :)”]

Joon mendengus kemudian sengaja menendang kaki Mir yang langsung memprotes (“Hei aku tidak bilang apa-apa!”). Seungho mengusulkan agar mereka pergi ke [Labirin Kelabu] bersama-sama. Awalnya Joon ingin memprotes, siapa yang mau pergi beramai-ramai dengan kumpulan orang sinting, tapi pada akhirnya ia menyerah saat Mir dan Terra menyeretnya. Nasib.

 

***

 

[“Mereka temanmu di RW*?”] *Real World: Dunia nyata

[“Hm.”] jawab Joon sekenanya ketika empat orang temannya sudah log out. Ia belum ingin pergi dari dunia ini, dan si penyihir perempuan ini mengikutinya seperti biasa. Mereka duduk di air mancur di tengah kota [Uthropi], salah satu tempat favorit pemain-pemain untuk berkumpul. Suara gemercik air dan musik riang yang mengalun di belakang adalah salah satu alasan utamanya.

[“Hahaha, mereka juga seperti itu di RW?”]

[“Ya, kira-kira begitu.”]

 

Terra melompat dan berdiri di depannya. Baju penyihir gadis itu melambai tertiup angin dan rambut hitamnya membingkai wajahnya. Gadis itu membungkukkan badannya, membuat wajahnya berada dekat sekali dengan Joon. [“Kau juga?”]

[“Apa?”] tanya Joon datar, berusaha tidak terpengaruh dan tidak kelihatan canggung meskipun gadis itu berada terlalu dekat untuk kenyamanannya.

[“Kau juga seperti ini di kehidupan nyata?”]

Joon menolehkan kepalanya, tidak ingin melihat wajah penyihir itu, [“Itu bukan urusanmu kan?”]

[“Memang bukan,”] gadis itu tersenyum kecil, melangkah menjauh dari Joon, [“tapi bukan berarti aku tidak boleh bertanya kan?”]

 

Joon tidak menjawab. Pikiran ksatria itu berputar-putar tidak jelas, ia bahkan tidak bisa memikirkan balasan untuk pertanyaan yang sebenarnya mudah itu. Ia akhirnya hanya menggumamkan ‘huh’ pelan dan memainkan gagang pedangnya. Gadis itu tertawa dan Joon merasa agak dibodohi.

[“Sampai ketemu besok kalau begitu,”] ujar Terra riang, melambaikan tangannya sebelum ia berlari menuju [portal]. Joon sekali lagi, tidak bisa menjawab. Tapi untuk alasan yang tidak jelas ia merasa sedikit tidak sabar menunggu hari esok.

 

***

 

Joon—Chansung—ya Tuhan, dia bahkan tidak tahu lagi harus menyebut dirinya dengan sebutan apa. Sebutan konstan Joon, lalala Joon, dari teman-temannya di deretan belakang membuatnya terlalu terbiasa dengan panggilan itu. Belum lagi teman-teman sekelasnya memutuskan panggilan Joon lebih enak, karena selain lebih singkat, juga membuat mereka tidak lagi bingung dengan Chansung yang lain (di kelasnya ada dua orang yang bernama Chansung). Bahkan beberapa guru mulai memanggilnya Joon juga. Ha.

“Joon, sudah mengerjakan peer matematika belum?”

“Sudah. Tapi aku tidak akan meminjamkannya padamu,” jawab Joon sambil nyengir mengejek ke arah Mir. Yang langsung melemparkan penghapus ke kepalanya, “dasar pelit.”

“Dasar cacat mental,” balas Joon.

“HEI!”

Mir berlagak ngambek, duduk dengan tangan bersidekap seperti anak SD yang tidak dibelikan mainan oleh orang tuanya. Joon hanya nyengir sambil mengeluarkan buku matematiknya. Bukan salahnya kalau Mir terlalu terobsesi dengan gamenya sampai melupakan pekerjaan rumahnya. Seharusnya dia bisa membagi waktu. Joon saja bisa.

 

“Aku tidak bisa main hari ini,” ujar Thunder yang baru datang, meletakan tasnya di atas meja. “Noona memintaku menemaninya ke acara di kampusnya.”

“Wah, aku mau ikut, dong! Dara Noona~” Mir yang tadi merengut mendadak sudah bersemangat lagi, menatap Thunder dengan mata dibesar-besarkan sok polos.

Thunder mengernyit, “lebih baik aku makan makanan buatan GO daripada membiarkan Noona dekat-dekat denganmu.”

“Hei! Memangnya kenapa kalau aku dekat-dekat dengan Dara Noona?”

 

“Memangnya ada apa dengan makanan buatanku?” timpal GO yang muncul dari pintu. Joon mendengus mendengar pertanyaan itu. Semua orang juga tahu makanan buatan GO bisa mengakibatkan kematian, hanya pembuatnya sendiri saja yang tidak sadar. Atau pura-pura tidak tahu, entahlah.

“Aku juga tidak main, ada acara keluarga,” ujar GO tanpa menunggu pertanyaannya sebelumnya tadi dijawab. Ia menghempaskan tubuhnya di kursi dan mengeluarkan buku matematikanya. “Dan Seungho tidak masuk hari ini, neneknya di Busan sakit.”

“Ah, sayang sekali, berarti hari ini hanya kita berdua, Joon,” ujar Mir dengan pandangan sugestif yang membuat Joon merinding. Ia melempar buku teks matematikanya ke arah magnae lancang itu. Tertawa puas ketika buku itu mengenai kepala sasarannya dengan telak. “Jangan tularkan virus homo-mu itu kepadaku.”

Mir menjulurkan lidahnya ke arah Joon, yang belum sempat membalas ketika guru mereka memasuki kelas.

 

“Kumpulkan tugas kalian. Yang tidak mengerjakan akan mendapat pelajaran tambahan setelah sekolah berakhir.”

Joon nyengir ke arah Mir yang mengerang putus asa.

 

***

 

[“Kau berubah, sadar tidak?”]

 

Joon menatap penyihir perempuan di sebelahnya. Mereka duduk di sebuah padang setelah capek berburu monster. Atau lebih tepatnya, Joon berburu monster sementara Terra hanya berdiri main-main dan terkadang (meskipun amat sangat jarang) ikut membantu mengalahkan monster.

[“Apa maksudmu?”]

[“Ya, begini. Sekarang kau tidak mengacuhkanku lagi misalnya.”]

Joon bisa merasakan pipinya agak memerah namum ia menggelengkan kepalanya, tidak ingin mengakui bahwa ia benar-benar berubah.

[“Kau lebih suka kalau aku mengacuhkanmu seperti dulu?”]

[“Ya, nggak gitu jugalah…”] jawab Terra dengan tawa kecil.

[“Diam saja kalau begitu.”]

[“Ck, dasar,”] gerutu Terra meskipun dengan nada bercanda. Ia bangkit dari posisinya dan berjalan-jalan mengelilingi Joon. Membuat si ksatria menggelengkan kepala dengan agak kesal, [“Apa yang kau lakukan? Kau membuatku pusing.”]

 

Sekali lagi Terra tertawa.

[“Hei, nama aslimu siapa, Joon?”]

[“Buat apa kau bertanya? Kau mau mengikutiku sampai ke RW?”]

[“Hiii, siapa yang mau,”] balas gadis itu riang, [“hanya ingin tahu saja, kok.”]

Joon menatap sang penyihir dengan tatapan curiga.

[“Benar, kok,”] seru Terra sambil memukul main-main bahu Joon. Sang ksatria nyengir kecil, masih meneruskan tuduhannya bahwa sang penyihir ingin menjadi fansnya di RW.

 

***

 

[“Kau yakin tidak apa-apa kesini? Ini tempat dengan monster level tinggi, lho.”]

Terra mengikuti di belakang Joon. Goa yang mereka masuki gelap, mereka belum pernah kesini sebelumnya. Ada berita bahwa dalam Goa ini ada harta karun yang sangat langka, satu-satunya di Excalibur. Joon, seperti ksatria sok jago lainnya, memutuskan untuk pergi ke sana, mengabaikan protes Terra yang mengatakan levelnya belum cukup untuk pergi ke sana.

Sebuah golem (monster batu) besar muncul. Terra langsung mengeluarkan sihir airnya (karena monster elemen batu lemah pada elemen air) sementara Joon melompat dan menebas monster itu menjadi dua. Joon membalikan tubuhnya dan menatap Terra dengan kesombongan yang cukup terlihat, [“tidak sulit ‘kan?”]

Gadis penyihir itu tidak membalas. Perasaannya buruk soal ini.

 

Mereka menyusuri goa itu sampai ke dalam. Monster-monster di dalam sana hanya berkisar pada golem level 65 dan beberapa monster lain level 70, level yang cukup tinggi, tapi masih termasuk mudah untuk Joon yang sudah mencapai level 98. Sementara Terra—Joon tidak pernah menanyakan hal itu kepadanya. Tapi yang jelas cukup tinggi. Mungkin selevel dengan Joon atau lebih rendah sedikit.

Semakin ke dalam, goa itu semakin gelap, dengan ukiran-ukiran aneh di dindingnya. Joon mempersiapkan pedangnya yang terkuat saat mereka mencapai pintu besar di ujung goa. Pintu itu bewarna emas dan berkilau ditimpa cahaya obor. Ketika mereka mendekat, pintu itu membuka sendiri. Di dalamnya, terletak di atas altar megah, sebuah peti harta karun. Joon nyengir ke arah Terra dan menariknya masuk.

[“Sudah kubilang kita bisa—”]

Suara menggelegar terdengar dan tanah tempat mereka berdiri berguncang. Terdengar bunyi raungan yang mengerikan dan perlahan muncul retakan di tanah antara mereka dan peti. Dari dalam muncul monster dengan ukuran luar biasa. Warnanya keunguan dengan dua tanduk besar bergerigi. Ukurannya memenuhi layar komputer Joon, dan bahkan dengan kepercayaan dirinya yang setinggi langit, Joon tahu mereka dalam masalah besar sekarang.

 

[“Sial,”] gerutu Joon, ia mengeluarkan talisman anti-dark miliknya. Seharusnya dengan begini kemampuan serang monster itu akan melemah, meskipun tidak banyak. Monster itu menyambar dengan lengannya yang juga penuh gerigi. Joon merasakan tubuhnya terpelanting, membentur tanah. Ia cepat-cepat berdiri, menggunakan ramuan untuk menyembuhkan lukanya. Ia melirik ke arah Terra yang sedang mengeluarkan sihirnya.

Lamban, pikirnya dalam hati sementara ia menerjang si monster, menjadikan dirinya tameng sementara si gadis penyihir memulai mantranya.

Serangan sihir cahaya yang kemudian menerjang dada si monster tampak tidak berpengaruh. Si monster jangankan kelihatan kesakitan, gatal pun tidak. Joon menggigit bibir bawahnya, ini tidak bagus. Sama sekali. Tapi mereka sudah di sini, di depan peti harta karun berisi item spesial yang hanya ada satu di seluruh dataran Excalibur.

[“Joon! Sebaiknya kita lari dari sini!”] seru Terra dari seberang ruangan. Tapi Joon tidak menghiraukannya. Ia menginginka harta karun itu.

 

Sang ksatria kembali berlari menyongsong sang monster, dengan dua langkah sigap, ia melompat dan menyerang dengan jurus andalannya. Tidak berarti banyak, tapi sedikit demi sedikit, ia yakin ia akan bisa mengalahkan monster itu. Monster itu menoleh ke arahnya di detik-detik terakhir, membuatnya lengannya tercabik karena tanduk bergeriginya.

[“Joon!”]

Pemuda itu terbaring di tanah. Ia berusaha bangkit sekali lagi. Monster itu mendekat, ia bisa mendengar dentuman langkah monster itu. Sial. SIAL. Monster itu sudah berada di atasnya, karakternya akan mati di sini, ia yakin. Ah, benar-benar sial.

 
 

Ia menunggu.

 

Kemudian cahaya putih memenuhi layar komputernya. Joon mengedipkan matanya, berusaha mencerna apa yang terjadi. Begitu cahaya putih itu menghilang dan pemandangan goa terlihat lagi, monster raksasa tadi sudah hilang. Sang ksatria berusaha untuk duduk, ia cepat-cepat melihat berkeliling, mencari penyihir partnernya.

Di ujung ruangan, penyihir itu berdiri. Namun warna gadis itu seakan menjadi pudar, hanya abu-abu. Saat Joon mendekat, ia akhirnya menyadari, gadis itu berubah menjadi batu.

 

***

 

Joon membenamkan mukanya di lengannya. Istirahat hanya setengah jam, tapi ia sama sekali tidak memiliki niat untuk pergi ke kantin. Padahal tadi pagi ia juga tidak sempat sarapan. Dalam pikirannya hanya ada Terra, yang tiba-tiba menghilang dan hanya menyisakan patung batu. Ia mencoba mengecek dengan mengirimkan pesan ke gadis itu, tapi hasilnya nihil, seakan-akan tidak ada orang bernama Terra di Excalibur. Nama gadis itu juga menghilang dari daftar kontaknya. Daftar kontak semua orang.

Pemuda itu menghela nafas. Itu salahnya, ia tahu. Kalau ia tidak ngotot ingin mengambil harta itu, Terra tidak perlu mengorbankan karakternya begitu. Meskipun ia mendapat item itu akhirnya, sepasang sayap putih yang bisa membuat pemakainya terbang, ia tidak merasa puas.

Seandainya ia menanyakan nama asli gadis itu kemarin dulu. Paling tidak ia bisa—entahlah, mengontaknya atau sesuatu.

 

“Joon, ayo ke kantiiiin,” suara Mir yang melengking membuatnya mengerang kesal.

“Berisik kau Mir, pergi sendiri sana.”

“Tapi Jooooon~”

“Baiklah, baiklah!” pemuda itu mengiyakan, ingin rasanya ia meninju muka Mir. Tapi ia berusaha menahan diri dan membiarkan dirinya digeret menuju kantin.

 

Sampai di kantin, yang Joon lakukan hanyalah sekali lagi membenamkan wajahnya di lengannya. Ia membiarkan tubuhnya mendorong meja kantin sementara Mir memesankan makanan mereka. Ia seharusnya tidak merasa frustasi hanya karena game. Yang mati karakternya bukan orangnya asli. Kenapa juga ia merasa frustasi? Karena merasa bersalah? Karena ia tidak tahu apakah ia akan bertemu gadis itu lagi?

“Hei, meja ini kosong?”

 

Suara seseorang. Joon mengutuk dalam hati dan menjawab tanpa mengangkat wajahnya, “Tidak, sudah penuh. Pergi sana.”

Ia berharap siapapun orang itu akan pergi dengan kata-katanya barusan. Tapi alih-alih pergi, ia malah mendengar orang itu tertawa. Dan Joon benci ditertawakan. Apalagi saat moodnya sedang jelek begini. Tapi peduli amat. Ia mengacuhkan orang itu, semakin membenamkan wajahnya ke dalam lengannya berharap ia bisa ditelan bumi atau apa.

“Ternyata kau di kehidupan nyata begini juga, ya…”

 

Kalimat itu membuat Joon langsung mengangkat wajahnya. Ia melihat seorang gadis dengan rambut hitam sebahu berjalan menjauh. Mungkinkah?

Terra!”

 

Gadis itu membalikan tubuhnya. Joon menahan nafas ketika melihat gadis itu tersenyum ke arahnya. Terra, dia benar-benar Terra. Tubuhnya terasa kaku ketika gadis itu berjalan menghampirinya sekali lagi. Tidak ada kostum penyihir atau ksatria lagi. Ini dunia nyata.

“Bukan Terra, dia cuma ada dalam layar.”

“Eh?”

“Senang akhirnya bertemu denganmu, Joon.”

 

Gadis itu berjalan melewatinya. Dan Joon masih belum bisa membalas perkataannya. Semuanya terasa aneh dan tiba-tiba, seperti terlalu surreal. Terra yang pergi kemudian gadis ini muncul. Dan dia sudah mengetahui siapa Joon. Bagaimana bisa?

“Tolong sampaikan pada Mir jangan bolos klub komputer hari ini, ya.”

Oh, Mir.

Seakan akhirnya ia baru bisa menemukan suaranya Joon berteriak ke arah sosok yang semakin menjauh itu. “Hoy, Terra! Siapa namamu?”

Sekali lagi ia menahan nafas ketika gadis itu menoleh ke arahnya dengan senyum yang sama, “Goo Sarang.”

 

Joon nyengir. Pemuda itu mengejar gadis berambut hitam itu dan berjalan di sampingnya. Ia merangkul gadis itu dan menariknya entah ke mana. Mungkin ia melupakan Mir yang menunggunya di kantin dengan dua porsi makanan, tapi yah, Mir kan bisa menghabiskannya sendirian. Ia agak sibuk sekarang.

 
 

Fin.

11 thoughts on “Excalibur

  1. waaaa, kereeeen sangatt ff nya thoooorr !!!
    kereeeen bangeeeet !!! kherheeeeeeennn !! (diulang ulang terus saking kerennya)
    iih, keren bgt deh sumpah thor. soalnya baru kai ini aku baca ff ttg game *curhat#dusunnya keliatan
    huuu, jgn dibikin oneshot sih thor, bikin afstornya klo gk sequel nya gtu ttg joon sma goo sarang nya.. :(
    gk rela klo harus berakhir disiniiii :p
    ya ya ya ????
    yasudhlah drpd dibakar sama author gara gara banyak bacot, mendingan saya kasi salam daebak aja deh buat author nya ! yeeeee *apasih
    haha. sukses selalu thor :D
    LOVE THIS FF :)

  2. OMG!!!!!!!!!! keren! daebak! jjang! awesome! great! schön! super! bagus kali lah! uapik tuenan rek! kebaiknyeee!

    u’re really great in details! as expected!
    believe it or not, it’s ripley! no! i mean, believe it or not i screamed!!! (yeah, with this -> !!!) finishing the story.

    yamyuun, jadi ga sabar nungguin stories karanganmu berikutnya! aku pada(cerita)muuuuu! <3

  3. Sebelumnya makasih banget udah bikinin cerita ini buat aku :)
    Jujur aja awalnya sih iseng request tapi eh malah dapet cerita too cool begini xD Argghh!!! Aku loncat-loncat gak jelas bacanya xD butuh perjuangan karena harus mainin imajinasi hoho
    suka suka suka!!!
    speechless~~ pokonya makasih banget! aku re-post ya hihi

  4. Baguuuuusss!! Si author idenya keren bgt. Walau agak bingung ngebayanginnya *soalnya ga sering main game online* tapi tema yg dipake bagus deh. Ga yg melulu love story,jalan ceritanya jg maksa kita buat berimajinasi haha joss pokoknya mah :D

  5. aaaaaa suka banget deh :**** ceritanya ngalir trus trus kadang bikin ngakak apalagi Mir nya haha XD jujur padahal aku ngga pernah suka Mblaq , tapi pas baca ini lancar lancar aja malah jd suka bangeeeeeeeeet . apalagi OC , aku gasuka , tapi karna suka banget sama ceritanya aku kasih dua jempol buat authornya :DDD
    ddanghobak daebak deh ;))

  6. wihhhiiiiww!! woooaaaah!!!
    singkat tapi baguuusss bangeet!! wuiiiiih author emg daebak deeeeeeeh~~~
    aku ga ngerti excalibur sama sekali, aku jg ga pernah main game2 onlline. excalibur ada atau enggak aja aku ga tau.
    tapi, ngebaca fanfic eonni ini bener2 enjoy bgt deh. ngaliiiirr aja.
    author jjaaaaaaaaang~~~!!!

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s