[Freelance] Fight, Love & Revenge [part 3]

Donghae’s POV

“Saat ini kau bisa menolak tawaranku, Fishy. Tapi suatu saat nanti, kau yang akan datang sendiri mencariku.”

“Aku bisa memastikan bahwa itu hanyalah harapanmu, tuan Choi.”

Dia mengepalkan tangannya erat sesaat sebelum meninggalkan kedai ini. Aku tau dia berusaha menahan emosinya.

Choi Siwon?? Lee Hyukjae?? Dua nama yang tiba-tiba hadir dalam kehidupanku. Dua nama yang datang hanya untuk mengusik hidupku.

“Aisss sayang sekali pria setampan itu memiliki hati yang sangat busuk,” ucap Heechul Hyung.

Aku langsung menoleh ke arahnya.

“Apa kau mengenalnya??”

“Tentu saja. Choi Siwon, pewaris tunggal Choi Corporation, saingan terberat Lee Corporation,” jelasnya.

“Dan sudah menjadi rahasia umum, ada konflik diantara mereka,” sambung Kangin Hyung. “Perang saudara.”

Aku mengerutkan dahiku mendengar ucapannya. “Perang saudara??” ulangku.

“Ne, Nyonya Choi adalah adik kandung ayah Hyukjae, Lee Jung Woo.”

“Maksudmu, Choi Siwon adalah sepupu Lee Hyukjae??” tanyaku tak percaya.

“Ne, aku juga tidak mengerti apa yang ada di pikiran mereka. Bagaimana bisa satu keluarga saling membenci seperti itu?? Harta memang bisa menghancurkan semuanya,” balas Sungmin sembari memainkan botol Soju di atas meja.

“Astaga hyung,” celetuk Kyuhyun. “Kau dan Hyeobin harus segera berbaikan. Jangan sampai sejarah keluarga Lee itu, terjadi juga pada kalian.”

“Apa maksudmu??”

“Ya, kau lupa?? Kau tadi hampir menerkam adikmu. Kata orang, harimau tidak akan menerkam anaknya sendiri, tapi sepertinya harimau sanggup menerkam adiknya.”

PLETAKK…

Dengan ringan tanganku langsung menjitak kepalanya. Bocah satu ini terkadang suka sekali berbicara sembarangan.

“Ya, Hyung. Kenapa kau memukulku?? Aku kan hanya mengingatkanmu,” rajuknya.

“Kau itu terlalu banyak bicara!!” balasku.

Kulirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 08.00 malam. Kurasa apa yang dikatakannya benar, aku sedikit keterlaluan terhadap Hyeobin. Tapi aku hanya ingin dia mengerti, apa pun yang aku lakukan, hanya untuk melindunginya. Aku tidak ingin dia merasakan sakit lagi. Sudah cukup tujuh tahun yang lalu aku melihatnya seperti mayat hidup, aku tak mau melihatnya terpuruk lagi.

Aku langsung berdiri dari dudukku dan menyambar jaketku yang tersampir di punggung kursi kedai.

“Kau mau kemana Fishy??” sergah Kangin Hyung.

“Aku masih punya rumah. Aku harus pulang,” jawabku kemudian langsung berjalan menjauh dari mereka.

“Hyung, kalian harus berbaikan!!”

Aku masih bisa mendengar teriakan bocah setan itu, tapi aku tak menoleh sama sekali. Bocah itu memang sangat menyebalkan, terlalu banyak bicara. Tapi terkadang apa yang dikatakannya benar juga.

*****

Dengan pelan kubuka pintu rumah dan kulihat Hyeobin tertidur di sofa. Kudekati dirinya dan duduk berlutut di hadapannya. Dia masih mengenakan seragam sekolahnya. Wajahnya juga terlihat kusam, masih terlihat sisa-sisa air mata dan memar yang mengotori pipinya. Kusapu rambutnya yang menutupi dahinya dan membuatnya membuka mata.

Hyeobin sedikit terkejut melihat diriku, dan sontak dia langsung bangun. Dia duduk sembari mengepal tangannya kuat di pangkuannya. Aku bisa melihat ada sorot ketakutan dari matanya. Bahkan dia tak berani menatap wajahku.

Aku duduk di sampingnya dan menjulurkan tanganku untuk menyentuh punggungnya, tapi tiba-tiba dia menggeser tubuhnya sedikit, seolah-olah menghindari sentuhanku. Aku mengurungkan niatku, dan kutatap wajahnya yang masih tertunduk itu.

“Apa kau takut pada oppamu sendiri??” tanyaku. “Apa aku terlihat seperti pria bajingan??”

Tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut Hyeobin. Dia tetap saja tertunduk takut. Aku menganggukkan kepalaku pelan. Aku mengerti apa yang ada di hatinya saat ini. Wajar saja jika dia membenci pria brengsek seperti diriku.

Aku bangkit dari dudukku, dan berniat beranjak dari sisinya. Tapi tiba-tiba sebuah tangan menggenggam pergelangan tanganku dan membuatku terpaku.

“Oppa,” panggilnya dengan suara serak. Meskipun tidak melihatnya tapi aku yakin saat ini air mata itu kembali mengalir.

“Mianhae. Jeongmal Mianhae. Aku selalu menyusahkanmu, membuatmu terbebani. Aku benar-benar tidak pantas menjadi adikmu. Aku bukan adik yang baik. Oppa, aku sungguh tidak bermaksud mengubah hidupmu, aku juga mengerti kenapa kau bisa seperti ini, tapi aku tidak mau semua orang menganggap buruk oppaku. Semua orang memang takut padamu tapi mereka juga menganggapmu sampah, oppa.”

Aku memutar tubuhku hingga menghadap dirinya. Lagi-lagi aku berlutut di hadapannya dan kurengkuh wajah mungilnya. Kusapu cairan bening di pipinya itu.

*****

Hyeobin’s POV

Fishy oppa berlutut di hadapanku, merengkuh wajahku yang basah dan kemudian menghapus air mata yang membanjiri pipiku. Dia menatapku dengan tatapan hangatnya. Tatapan Fishy oppaku.

“Hyeobin-a, dengarkan oppa. Tidak semua yang kau inginkan di dunia ini akan terwujud. Kau tidak perlu mendengarkan semua ucapan orang lain. Yang perlu kau dengar adalah kata hatimu. Oppa tidak peduli bagaimana penilaian orang lain terhadap oppa. Terlihat baik di matamu, itu jauh lebih dari cukup,” ucapnya.

Aku langsung melingkarkan tanganku ke lehernya dan menghambur ke dalam pelukannya.

“Kau sempurna oppa. Dimataku kau pria yang sempurna. Kau oppa terbaikku,” ucapku di sela-sela isak tangisku.

“Aku senang mendengarnya,” balasnya sembari mengelus punggungku.

Kueratkan pelukanku dan kubenamkan wajahku di pundaknya. Aku beruntung memilikinya. Sangat beruntung. Aku tak akan menemukan sosok kakak yang baik pada pria lain, selain Fishy oppaku.

“Ya, kau ingat apa yang aku katakan padamu tujuh tahun yang lalu??” tanyanya.

Aku menganggukkan kepalaku di dalam pelukannya. “Aku tak boleh menangis. Tangisan tak akan mengubah apapun, tapi hanya akan membuatku terlihat lemah. Eomma dan Appa juga tak akan suka melihatku seperti ini. Aku tak boleh membuat mereka khawatir di sana hanya Karena air mataku,” jelasku mengulang ucapannya tujuh tahun yang lalu.

“Baguslah jika kau ingat,” balasnya sembari melepaskan pelukanku. “Jadi mulai sekarang, jangan biarkan air mata itu mengotori wajah cantik adikku. Kau tau, hari ini kau sudah terlalu banyak menangis. Wajahmu jelek sekali,” ejeknya.

Aku tersenyum mendengar nada bicaranya yang ringan itu. Ini lah Fishy oppaku.

“Apa kau sudah makan??” tanyanya lagi dan kujawab dengan gelengan kepalaku.

“Sepertinya kita hanya memiliki persediaan mie ramen. Apa itu sudah cukup??”

“Apapun yang kau hasilkan dengan keringatmu, itu sudah cukup bagiku,” jawabku mantap.

“Baiklah, sekarang kau bersihkan tubuhmu dan aigoo sudah semalam ini kau belum mengganti seragam sekolahmu. Dasar yeoja jorok,” lagi-lagi dia mengejekku.

Aku melemparkan seringaianku padanya dan membuatnya mendengus pelan. Fishy oppa menarikku hingga berdiri, kemudian mendorong tubuhku menuju kamar.

“Mandilah, oppa akan membuatkan mie ramen untukmu.”

Aku berjalan menuju kamarku, tapi beberapa langkah kemudian aku menghentikan kakiku. Aku berbalik menghadapnya yang berdiri memunggungiku.

“Oppa,” panggilku yang membuatnya menoleh. “Kau tau apa tujuan hidupku sekarang??”

Senyum jahil tersungging di bibirnya. “Tujuan hidupmu?? Ummm menemukan pangeran tampan yang mencintaimu.”

Aku menggelengkan kepalaku cepat.

“Membalas semua kebaikanmu. Kau terlalu baik padaku. Aku tak akan bisa menghirup oksigen seperti saat ini, jika bukan karena dirimu. Membalas semua budimu, itulah tujuan hidupku,” jawabku.

Dia terdiam mendengar ucapanku, tapi sesaat kemudian senyum itu kembali tersungging di bibirnya.

“Sepertinya kau salah memprioritaskan hidupmu, Hyeobin-a. Kau harus mengubah tujuan hidupmu itu.”

“Annieyo,” ucapku keras kepala. “Oppa, boleh aku tau tujuan hidupmu??”

Dengan seketika senyum itu langsung lenyap dari bibir tipisnya. Dia menatapku tajam.

“Kau tau apa yang menjadi tujuan hidupku. Aku akan terus bertahan hidup sampai aku menemukannya,” ujarnya dingin.

Aku menganggukkan kepalaku pelan dan kemudian kembali melangkah menuju kamarku.

Tak bisakah kau mengubah tujuan hidupmu, oppa??

*****

Hyukjae’s POV

Berkali-kali kupelototi layar ponsel, berharap eomma akan menghubungiku kembali. Satu jam yang lalu eomma meneleponku, memintaku menjemputnya di dekat taman kota karena rumah temannya tidak jauh dari sana. Tapi sampai detik ini eomma belum muncul di hadapanku, bahkan ponselnya tak bisa kuhubungiku.

Aku turun dari mobilku dan berjalan-jalan di tepi jalan, sembari mengedarkan pandanganku mencari sosok eomma. Tapi tiba-tiba aku merasakan tubuh seseorang menabrak tubuhku dengan keras, bukan, tepatnya mendorong tubuhku hingga terjerembab ke tanah. Dan sedetik kemudian, mobil dengan kecepatan penuh berlalu dari hadapanku.

“Akhhh,” Aku mertingis pelan, merasakan sakit yang menjalari punggungku.

Kuabaikan rasa sakit dipunggungku dan memfokuskan tatapanku pada mobil yang sudah terlalu jauh dari jarak pandangku.

Aku yakin, ini bukan kecelakaan, tapi ada seseorang yang memang berusaha menghabisiku. Apakah itu kalian??

“Gwaenchana??” Tanya seseorang.

Aku baru sadar jika ada seseorang yang berbaring di atas tubuhku. Kualihkan pandanganku dan kudapati wajah cantik seorang gadis di depan mataku. Wanita itu menatapku panik. Wajah ini.. bukankah dia..

“Gwaenchana??” tanyanya lagi.

“Ahh gwaenchana,” ucapku gelagapan.

Dia berguling ke sampingku, beranjak dari dekapanku kemudian duduk di tanah dan membantuku bangun.

“Syukurlah jika kau baik-baik saja,” ucapnya. Terdengar nada lega dari suaranya. “Apa mereka pikir jalan ini milik keluarga mereka?? Apa mereka tidak punya mata??” dengusnya kesal.

Aku hanya tersenyum melihat ekspresi wajah dan matanya yang bulat karena emosi.

“Apa kau terluka??” tanyaku.

Dia berdiri dan merapihkan seragam sekolahnya yang berantakan.

“Aku baik-baik saja. Seharusnya aku yang bertanya seperti itu,” sungutnya tanpa memandang wajahku. “Jika mobil itu menghantammu, aku yakin hanya ada dua pilihan untuk hidupmu, terbaring di rumah sakit atau terkubur di dalam tanah.”

Aku terkekeh pelan mendengar ucapannya dan membuatnya memandang wajahku. Aku berdiri di hadapannya dan membersihkan kemejaku yang kotor oleh tanah.

“Apa ada yang lucu dengan ucapanku??” tanyanya dengan mata besar yang terhunus ke dalam manik mataku.

Aku suka mata ini.

“Annieyo, aku hanya lucu dengan ekspresi wajahmu,” jawabku.

Dia menggembungkan pipinya kesal.

“Micheoseo?? Seharusnya kau berterima kasih padaku, bukannya menertawakan ekspresiku,” rajuknya.

“Mianhamnida. Khamsahamnida,” ucapku sembari membungkukkan badanku.

Dia mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahnya. “Ah, kau tidak perlu berterima kasih seperti itu,” ucapnya yang membuatku terperangah.

Bukankah dia yang memintaku berterima kasih padanya, lalu kenapa dia menjawab seperti itu?? Gadis ini benar-benar aneh..

Gadis itu berbalik memunggungiku, dan siap melangkahkan kakinya.

“Chakkaman,” tahanku.

Dia kembali menoleh ke arahku. Kuulurkan tanganku.

“Lee Hyukjae.”

Dia memandang tanganku yang terulur ke arahnya sesaat, kemudian tersenyum memandang wajahku.

“Hyeobin,” jawabnya tanpa menyambut uluran tanganku dan kemudian berlalu dari hadapanku.

Hyeobin..

“Hyukie..” panggil seseorang yang sukses mengalihkan tatapanku dari punggung Hyeobin.

“Eomma?? Eomma kemana saja dan kenapa ponsel eomma tidak bisa dihubungi??”

“Ponsel eomma mati. Ya kenapa kemejamu kotor sekali?? Apa terjadi sesuatu??” tanyanya khawatir.

“Aku hanya tidak memperhatikan jalanan dan membuatku tersandung batu,” elakku.

Mianhae eomma, aku tak mau membuatmu dan sooman appa khawatir akan nyawaku.

“Aigoo kau ini sudah dewasa, apa tidak bisa lebih berhati-hati??’ ucapnya lagi sembari menepuk-nepuk pelan debu yang masih menempel di kemejaku.

“Ne, arasseo. Lain kali aku akan lebih berhati-hati.”

*****

Siwon’s POV

“Tuan, Tuan besar menunggu anda di perusahaan saat ini. Rapat akan segera di mulai,” ucap asistenku.

Aku tak menghiraukan ucapannya dan terus memandang jalanan Seoul yang sangat sepi siang ini. Tentu saja, semua orang sedang disibukkan dengan aktivitasnya masing-masing.

Tiba-tiba mataku menangkap sosok seseorang. Kutajamkan mataku, dan aku yakin aku tidak salah. Lee Hyukjae, sepertinya kita benar-benar berjodoh. 4 april.. hari spesial sekaligus tersialmu, hyukie.

“Tabrak dia,” ucapku tajam.

“De??”

“Tabrak Lee Hyukjae,” ulangku.

“Tapi Tuan..”

“Kubilang tabrak dia,” geramku.

“Ne, Tuan..”

Mobil ini melaju dengan cepat dan hanya beberapa meter lagi akan menghantam tubuhnya.

“Ucapkan selamat tinggal pada dunia ini Hyukjae-ya.”

Tapi tiba-tiba seorang gadis berlari dengan cepat dan mendorong tubuh Hyukjae. Aku menoleh ke belakang, dan melihat mereka yang terjerembab di tanah.

“Aissss SIAL!!!!!!!!!!!!” umpatku. “Kenapa susah sekali untuk membunuhmu Lee Hyukjae??” teriakku kesal.

“Tuan, bukankah gadis itu..”

“Wae?? Apa kau mengenalnya??” tanyaku dengan nada menuntut.

Dia mengangguk pelan. “Ne, gadis itu adik Fishy,” jawabnya.

“Fishy??”

Jadi gadis itu adik Fishy. Jika dia berada di genggamanku, apa kau masih bisa bersikap seperti seekor harimau di hadapanku, Fishy??

“Hentikan mobilnya!!”

Seketika itu juga mobilku langsung terhenti. “Aku tidak mau tau, dapatkan gadis itu sekarang juga!!”

“Tapi, Tuan…”

“Jangan membantahku!!” sergahku.

“Ne, Tuan.”

Kita lihat, apa kau masih bisa bersikap sombong di hadapanku??

*****

Hyeobin’s POV

Aku terus berjalan menyusuri jalan yang akan membawaku menuju rumah. Terasa sangat sepi.

Lee Hyukjae…

Sejak tadi suara itu mengacaukan indera pendengaranku. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku pelan.

Aisss baboya, kenapa seolah-olah aku terus mendengar nama itu?? Dan wajahnya?? Senyumnya?? Ya, Hyeobin baboya!!

Tapi tiba-tiba sebuah mobil berhenti di hadapanku, menghalangi jalanku. Sedetik kemudian turun lima orang pria bertubuh besar dan menatapku tajam, seolah-olah ingin menerkamku.

Salah satu dari mereka berdiri di depan yang lain, kemudian mengedikkan kepalanya pada dua orang yang berdiri di belakangnya, seperti memberi isyarat. Sesaat kemudian dua orang itu berjalan mendekatiku, sedangkan tiga orang yang lainnya tetap menatapku dengan menyeramkan.

Sepertinya ini tidak beres. Aku mengeratkan genggamanku pada tali ranselku dan dengan perlahan berjalan mundur.

“Siapa kalian?? Mau apa kalian??” tanyaku tajam.

Mereka tak menghiraukan ucapanku tetapi terus mendekatiku dan dengan cepat kedua pria itu mencengkeram lenganku.

“Ya!! Lepaskan aku!!” teriakku.

Aku berusaha memberontak tapi cengkeraman itu terlalu kuat. Mereka menarik tubuhku paksa menuju mobil.

Tapi…

“Ya!!!!”

Teriakan itu membuat mereka dan diriku menoleh ke arah sumber suara itu. Tak jauh dari tempat ku sekarang, kulihat keempat teman oppaku berlari mendekatiku. Tanpa membuang waktu oppadeul langsung menghajar kedua orang pria yang mencoba menghadang mereka, sedangkan dua orang lagi menyerahkanku pada pria yang memberikan isyarat kepada mereka dan setelah itu membantu dua orang lainnya untuk menghajar oppadeul.

Mata pria ini terus menatap keempat temannya. Dengan nekat kugigit tangannya yang mencengkeram lenganku dan kuinjak kakinya yang akhirnya membuatnya melepaskan cengkeramannya.

“Hyeobin lari!!!” Teriak Sungmin oppa.

Dengan cepat aku langsung melangkahkan kakiku. Aku berusaha semampuku untuk memacu kakiku untuk lebih cepat. Sesekali kutolehkan kepalaku ke belakang dan pria itu masih mengejarku. Aku berbelok ke salah satu gang kecil dan tiba-tiba sebuah tangan menarik pergelangan tanganku. Aku hampir saja berteriak ketika sebuah tangan lagi membekap mulutku.

Kuberanikan untuk membuka mataku dan kudapati seorang wanita berdiri di hadapanku. Bukankah wanita ini adalah gadis yang dicium Fishy oppa??

“Sssstttt,” bisiknya di telingaku.

Aku mendengar derap langkah itu semakin mendekat. Kupejamkan mataku, mencoba menenangkan hatiku dari rasa takut ini.

Wanita itu melepaskan tangannya dari mulutku dan aku juga bisa mendengar napasnya yang sama beratnya dengan napasku.

“Tenanglah, sepertinya dia sudah pergi.”

Aku menghembuskan napasku lega dan kemudian memandang wajahnya.

“Khamsahamnida,” ucapku dan hanya di balas dengan anggukan kepala olehnya.

“Tadi aku melihatmu berlari-lari dan pria itu mengejarmu. Jadi kupikir ini pasti tidak beres. Apa kau mengenal dia??” tanyanya sembari menyingkirkan poni yang jatuh di keningnya.

“Annieyo. Tiba-tiba saja dia dan teman-temannya mencegatku dan memaksaku untuk masuk ke dalam mobil mereka.”

Dia mengerutkan dahinya dan memandang wajahku dengan lekat. “Apa kita pernah bertemu sebelumnya?? Sepertinya wajahmu tidak asing,” ucapnya tiba-tiba.

Tentu saja. Jika kau ingat siapa diriku, apa kau akan menyesal menyelamatkanku??

Aku tak menjawab pertnyaannya dan hanya tersenyum ke arahnya.

“Sudahlah, lupakan. Mungkin itu hanya perasaanku saja. Dimana rumahmu?? Biar kuantar, mobilku tidak jauh dari sini,” tawarnya.

Aku menggelengkan kepalaku pelan. “Tidak perlu. Rumahku sudah dekat,” tolakku.

“Ahhh baiklah. Berhati-hatilah jangan sampai kau tertangkap olehnya.”

“Ne.”

“Chakkaman,” ucapku sedetik kemudian, ketika melihat sebuah bungkusan cokelat tergeletak di tanah.

Kuambil bungkusan itu dan menyodorkan kepadanya.

“Apa ini milikmu??”

Dia memukul keningnya dan mengambil bungkusan cokelat itu dari tanganku.

“Ne, aku hampir saja melupakannya. Padahal aku sudah susah-susah mencari benda ini untuk hadiah ulang tahun tunanganku,” jawabnya. “Hari ini tunanganku ulang tahun,” sambungnya.

Aku hanya tersenyum mendengar ucapannya.

Tunangan?? Benar, dia sudah memiliki tunangan.

*****

Donghae’s POV

BRUKKKK…

Aku langsung menoleh ke arah suara itu. Kudapati keempat temanku mendorong pintu kamarku dengan kasar dan mendekatiku dengan tergesa-gesa. Bahkan aku bisa mendengar napas mereka yang memburu.

“Mana Hyeobin??” Tanya kangin Hyung tersengal.

“Tentu saja di sekolah. Hyeobin belum pulang,” jawabku malas.

Pasti mereka ingin mengerjai Hyeobin lagi. Kenapa mereka suka sekali mengganggu adikku??

“Waeyo??” tanyaku lagi.

“Choi Siwon,” ucap Heechul Hyung.

Choi Siwon?? Kuangkat kepalaku dan menatap mereka satu persatu.

“Mengincar adikmu,” lanjutnya yang membuatku terperangah.

“Mwo??”

“Hyeobin berhasil kabur, tapi aku tidak tau dia lari kemana,” ucap Kangin Hyung lagi.

Aku langsung berlari keluar kamar dan menuruni setiap anak tangga. Tapi sesaat kemudian kulihat Hyeobin berdiri di depan pintu rumah. Dia membungkukkan tubuhnya dan memegang dadanya, berusaha mengatur napasnya.

Aku langsung menghampirinya dan mencengkeram kedua lengannya yang membuatnya menatapku shock.

Kutatap tubuhnya lekat-lekat, memastikan tak ada satu pun tubuhnya yang terluka.

“Hyeobin-a, gwaenchanayo??” tanyaku cepat.

Dia menganggukkan kepalanya.

“Kyunie, temani Hyeobin di sini dan kalian bertiga ikut aku.”

*****

Siwon’s POV

PLAKK..

Kulayangkan tinjuanku tepat ke wajah mereka.

“Bodoh!!!” teriakku. “Bahkan kalian tidak mampu mengatasi seorang gadis kecil seperti itu!!!”

“Mianhamnida, tuan muda. Tiba-tiba saja teman-teman Fishy muncul dan menggagalkan semuanya.”

“Aku tidak menerima alasan apapun!!” bentakku.

Tapi tiba-tiba..

BRUKKK..

Pintu ruanganku terbuka dengan kasar dan mataku melotot ketika melihat Fishy berdiri di ambang pintu.

*****

Donghae’s POV

Aku terus menerobos masuk ke dalam ruangan Choi Siwon. Tak kupedulikan para security Choi Corporation yang terus mengancam dan berusaha menghalangiku. Sedangkan ketiga temanku berkutat dengan para pengawal Choi Siwon.

Jangan pernah berpikir aku akan menerima begitu saja perlakuanmu Choi Siwon.

Kutendang pintu ruangannya dengan kasar dan sukses membuatnya menoleh ke arahku. Aku berjalan mendekatinya dan langsung mendorongnya hingga menghantam meja kerjanya. Kemudian kulayangkan tinjuanku pada dua orang pengawalnya.

Kucengkeram dengan kasar kerah bajunya, membuat wajahnya berada tepat di hadapanku.

“Kau salah jika berpikir bisa menggunakan adikku untuk menekanku,” ucapku tajam. “Jangan pernah berpikir kau bisa memaksa Fishy. Aku memang bukan pembunuh, tapi bukan berarti aku tidak bisa membunuh. Jangan membuatku untuk menjadikanmu sebagai orang terpilih yang menjadi korban pertamaku. Sekali saja kau menyakiti adikku, kupastikan kau akan menderita bahkan sampai di dalam kubur. Aku tidak pernah bermain-main dengan ucapanku dan jangan pernah berharap aku akan menarik ucapanku. Ingat itu Choi Siwon!!!”

*****

Siwon’s POV

“Kau salah jika berpikir bisa menggunakan adikku untuk menekanku,” ucapku tajam. “Jangan pernah berpikir kau bisa memaksa Fishy. Aku memang bukan pembunuh, tapi bukan berarti aku tidak bisa membunuh. Jangan membuatku untuk menjadikanmu sebagai orang terpilih yang menjadi korban pertamaku. Sekali saja kau menyakiti adikku, kupastikan kau akan menderita bahkan sampai di dalam kubur. Aku tidak pernah bermain-main dengan ucapanku dan jangan pernah berharap aku akan menarik ucapanku. Ingat itu Choi Siwon!!!”

Dia melepaskan cengkeramnnya dari leherku, kemudian menatapku garang sesaat sebelum melangkah keluar dari ruanganku.

“Ahhhh…” teriakku frustasi dan membuang semua barang-barang yang ada di atas mejaku.

Semua ini karena kau Lee Hyukjae. Kau membuatku dipermalukan seperti ini. Aku tak akan pernah melepaskanmu. TAK AKAN PERNAH!!! Kau harus merasakan semua rasa sakitku selama ini.

“HABISI LEE HYUKJAE MALAM INI JUGA!! JIKA GAGAL, KUHANCURKAN KEPALA KALIAN!!!”

*****

Hyukjae’s POV

“Taraaa…”

Teriak Gaeul sembari melepaskan sapu tangan yang menutupi mataku. Kulihat sebuah kue tart dengan stroberi di atasnya, terhidang di hadapanku.

“Saengil Chukae oppa,” ucapnya manja dan mencium pipiku.

“Kau membuatnya??” tanyaku.

Dia memamerkan tawa kekanakannya kepadaku, kemudian menggelengkan kepalanya. “Aku membelinya.”

“Sudah kuduga,” ejekku.

“Ya oppa, setidaknya aku sudah berusaha membuat kejutan untukmu. Bagaimana, apa kau suka restoran ini??” tanyanya.

“Ne, gomawo. Sekarang mana hadiah untukku??” ucapku sembari menjulurkan tanganku hingga menyeberangi meja.

Aku hanya tertawa kecil ketika melihatnya mendengus pelan.

“Aisss jincha sarami.. bukannya mengharapkan doa dariku, tapi hanya menunggu hadiah ulang tahun dariku. Oppa tak pernah berubah,” balasnya tapi sedetik kemudian, Gaeul meletakkan sebuah kotak kecil di atas tanganku, lalu tersenyum padaku.

Kubuka kotak berwarna biru itu. Sebuah jam tangan tergeletak di dalamnya, dan setelah itu memandang wajahnya yang terlihat cantik dengan meke-up tipisnya malam ini.

“Oppa suka??” tanyanya.

“Tentu saja. Gomawo Gaeul-a.”

“Hmm,” gumamnya.

*****

            “Oppa, apa kita harus langsung pulang??” rengeknya manja ketika aku mulai mengemudikan mobil, menjauh dari restoran.

“Memangnya mau kemana lagi?? Sekarang sudah larut. Awan gelap juga sudah menyelimuti langit,” jawabku tanpa mengalihkan mataku dari jalanan kota Seoul yang sepi, ditambah lagi cuaca Korea yang sangat buruk, membuat malam ini semakin mencekam.

“Arraseo,” rajuknya sembari melipat kedua tangannya di depan dada.

Aku meliriknya sejenak, kemudian menggeleng-gelengkan kepalaku pelan. Aku tau Tuan putri ini sedang marah padaku karena tak menuruti keinginannya.

Tiba-tiba sebuah mobil berhenti secara mendadak di hadapanku, membuatku menginjak rem mobilku dengan cepat.

Gaeul menjerit pelan, shock dengan bunyi decitan ban mobil yang bergesekan dengan aspal.

“Aisss apa mereka benar-benar ingin mati?? Bagaimana jika tadi mobil kita menabrak mobil mereka??”

Aku tak membalas ucapannya dan terus memfokuskan mataku pada mobil yang ada di hadapanku saat ini. Sesaat kemudian pintu mobil itu terbuka dan turunlah beberapa orang dari dalamnya. Seketika itu juga mataku melebar ketika mendapati sosok yang sangat kukenal. Sosok itu menatapku tajam dan menunjukkan seringaiannya padaku. Choi Siwon…

“Gaeul-a,” panggilku tanpa menoleh ke arahnya.

“De??” sahutnya.

“Lepaskan High Heelsmu.”

“Mwo??”

*****

Gaeul’s POV

“Gaeul-a,” panggil Hyukie oppa.

Aku menolehkan kepalaku ke arahnya. Aku bisa melihat wajahnya yang menegang. Matanya terus menatap lurus ke depan dengan serius. Ada apa ini??

“De??” sahutku.

“Lepaskan High Heelsmu.”

“Mwo??”

Hyuk oppa menoleh ke arahku dan menatapku tajam. Ada raut cemas dari ekspresinya.

“Dengarkan aku. Lepaskan High Heelsmu sekarang juga. Jika aku bilang lari, kau harus lari secepatnya, Arrasseo??” ucapnya sembari merengkuh wajahku.

Aku menggelengkan kepalaku pelan. Bagaimana mungkin aku meninggalkannya sendiri di sini.

“Gaeul-a, dengarkan aku. Sekali ini saja, jebal.”

“Tapi oppa…”

PRANGGGGG..

“Akhhh…” jeritku ketika mendengar suara pecahan kaca mobil. Mereka melempar kaca mobil Hyuk oppa dengan botol minuman.

Rasa takut kini mulai menjalari sekujur tubuhku.

“Lepaskan High Heelsmu, Gaeul-a.”

Aku menganggukkan kepalaku dan dengan cepat melepaskan High Heelsku,

Hyuk oppa membuka pintu mobilnya dan turun dari mobil. Aku mengikutinya dan berdiri di samping mobil.

“Hyukie, sudah lama tidak bertemu,” ucap pria itu dengan seringaian menjijikkan di bibirnya.

Kulihat Hyuk oppa tak bergeming sama sekali dan terus menatap pria itu.

“Ah, bukankah hari ini kau berulang tahun?? Kau ingin mendapatkan hadiah apa di hari spesialmu ini?? Darah atau kematian??” ucapnya lagi.

Aku bergidik mendengar ucapannya. Pilihan yang sangat menakutkan.

Pria itu menatapku sesaat kemudian kembali menatap tajam Hyuk oppa.

“Apa kau tak ingin mengucapkan permohonan terakhir padaku??”

“Aku tak akan mati sebelum kau meninggalkan dunia ini, Siwon,” balas Hyuk oppa.

“Baguslah jika begitu. Sekarang kita lihat, siapa yang akan meninggalkan dunia ini terlebih dahulu,” tantangnya.

Kemudian pria itu mengedikkan kepalanya pada tujuh orang di belakangnya. Ketujuh pria itu langsung berjalan menuju Hyuk oppa. Sedangkan pria itu masih berdiri di tempatnya, menyaksikan semua yang akan terjadi malam ini. Tanpa basa basi mereka langsung menyerang Hyuk oppa. Diriku terpaku melihat Hyuk Oppa yang terus menghindar dan membalas serangan mereka. Air mataku langsung menetes begitu saja ketika ketujuh pria itu berhasil menghantam tubuh Hyuk oppa dengan tinjuan dan tendangan mereka.

Kemudian salah satu dari mereka berjalan mendekatiku. Aku mundur beberapa langkah, tapi pria itu semakin mengintimidasiku dengan tatapan garangnya, seolah-olah ingin memakanku.

“Gaeul-a, lari!!!!” Teriak Hyuk Oppa.

Aku menggelengkan kepalaku pelan dan terus mundur dengan perlahan.

“LARI!!!” teriak Hyuk oppa lagi.

Aku melangkahkan kakiku. Tapi pria itu berhasil menarik tanganku. Aku mencoba melepaskan cengkeramannya, tapi usahaku sia-sia.

Tiba-tiba tubuh besar pria itu terhuyung dan membuatnya melepaskan cengkeramannya. Hyuk oppa langsung menyambar tanganku dan membawaku berlari.

“KEJAR MEREKA!!!” teriak pria itu frustasi.

Hyuk oppa terus menarikku menjauh dari mereka. Kakiku yang tanpa alas benar-benar sakit saat ini karena terus bergesekan dengan aspal. Hyuk oppa membawaku memasuki salah satu gang kecil dengan cahaya yang remang. Napasku terasa berat, aku juga bisa mendengar napas Hyuk Oppa yang memburu.

Tapi tiba-tiba ketujuh pria itu kembali berdiri di depan kami. Hyuk oppa menghentikan langkahnya dan menarik diriku ke belakang punggungnya.

Pria itu langsung menarik kerah baju Hyuk oppa dan memukul wajah dan perut Hyuk oppa. Darah mulai menetes dari ujung bibir Hyuk Oppa.

“Hentikan!!!” teriakku.

Tapi mereka tak menghiraukan teriakanku. Air mataku membanjiri pipiku, bahkan isak tangisku pun pecah.

“Hentikan..!!” teriakku putus asa.

Mereka menyudutkan Hyuk oppa yang sudah tak berdaya ke tembok. Tiba-tiba mataku tertuju pada salah satu dari mereka yang mengeluarkan sebuah pisau dari sakunya. Mataku melotot ketika pria itu mengangkat pisau itu hingga ke depan wajah Hyuk oppa dan menempelkannya pada wajah Hyukie oppa.

Tanpa ragu pria itu langsung menusukkan pisau itu ke perut Hyuk oppa.

“Oppa!!!” teriakku shock.

Aku berlari menghambur ke arah mereka. Aku mencoba menarik tangan pria itu tapi salah satu dari mereka langsung mencengkeram lenganku dan mendorong tubuhku kuat hingga kepalaku membentur tembok. Aku merosot ke tanah dan meringis merasakan rasa sakit yang menjalari kepalaku.

Kupegangi kepalaku, dan kupaksa mata ini tetap terbuka. Lagi-lagi hatiku merasa ditusuk ketika melihat pria tadi bersiap menusukkan pisaunya untuk kedua kalinya pada perut Hyuk oppa.

“ANDWAE!!!!” jeritku dengan isak tangis.

Tapi beberapa saat sebelum pisau itu bersarang di perut Hyuk oppa, aku melihat seseorang pria berdiri memunggungiku dan menahan tusukan itu. Pria itu memelintir tangan pria yang memegang pisau itu hingga pisau itu jatuh ke tanah.

Setelah itu pusing tak tertahankan di kepalaku membuat pandanganku kabur dan hingga akhirnya hanya kegelapan yang menyelimuti pandanganku.

To Be Continue..

Tags : Donghae, Eunhyuk, Siwon, Super Junior

 

By : dongHAEGAeul

14 thoughts on “[Freelance] Fight, Love & Revenge [part 3]

  1. wah tambah keren aja ni jalan ceritanya.. tambah menegangkan dn bikin penasaran…
    lanjutannya jgn lama lama y thor ?? :)

    • hehehe iy, mklum mungkin bnyk yg ngirim ff jg, jd kan msti antri..

      fishy??
      hmmmm ada dehh..
      hahaha

  2. Makin keren thor! Daebak!
    Smw ada, romance, tangis, emosi, action, waahhh deh! Keren bgt!

    SUMPAH aq pgn rendos org yg ud brani2’a nyakitin kunyuk oppa! Cih~ *esmosi*

    Lanjuuuttt~
    FIGHTING ^^

  3. Uoooo
    Tegang banget nih bacanya…..
    Huhuhu inget Donghae jadi keinget Kim Tak Gu ituh! Hehehe
    Daebak, author! FFnya bagus dan sangat menghanyutkan.. :D

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s