102

[Freelance] He’s Mine and That’s It [part 12 end]

Hei, it’s me Kei and yes, I’m back

Saya masih suka sama karakter antagonis. Jadi saya kembali dengan tokoh utama karakter antagonis. So, enjoy it, my lovely readers  (^^)v

And this is the LAST CHAPTER ^^

Can I seat here?” Tanya seorang laki-laki pada perempuan yang duduk di sebuah café pinggir jalan. “There is no empty seat anymore” Katanya lagi berharap sang perempuan mengasihaninya. Boleh saya duduk disini? Tidak ada kursi kosong lagi

Whatever.” Jawab perempuan itu enteng sambil memandang sang laki-laki sekilas. Terserah

Laki-laki itu tersenyum karena sang perempuan mengijinkannya untuk duduk di meja itu.

You’re Korean, right? So can we talk in Korean? ” Tanya laki-laki yang memakai celana pendek berwarna khaki itu. Kau orang Korea kan? Bisakah kita mengobrol dalam bahasa Korea?

Sang perempuan dengan malas menganggukkan kepalanya tanda setuju tanpa melepaskan pandangannya dari novel yang sedang dibacanya itu.

“Sedang apa kau ke Italia? Jalan-jalan? Sendirian?”

“Jalan-jalan dan aku tidak sendirian.” Jawabnya singkat.

“Oh ya? Dengan siapa? Keluarga? Pacar atau teman?”

“Suami.”

“Wow, tidak mungkin perempuan cantik sepertimu sudah menikah.” Katanya mencoba untuk flirt.

“Sayangnya aku sudah menikah.” Jawab sang perempuan sambil menunjukkan cincin kawinnya.

“Sayang sekali kalau begitu. Kau seharusnya menikah denganku saja.” Katanya terdengar kecewa. “Tapi mana suamimu?”

“Sedang tidur di hotel. Dia malas sekali diajak jalan-jalan.”

“Bagaimana kalau kau menceraikan suamimu dan menikah denganku? Aku suka jalan-jalan dan aku tidak akan mengijinkan istri secantik dirimu pergi tanpa pengawalan. Bisa-bisa banyak laki-laki yang menggoda lagi.”

“Hahahah, kau bisa saja.” Jawab perempuan itu. Fokusnya sudah berubah dari novelnya ke laki-laki yang duduk didepannya itu walaupun novel itu masih berada di tangannya. “Tapi itu ide bagus. Aku juga sudah bosan dengan suamiku itu. Dia pemalas dan moodnya itu berubah-ubah dengan cepat. Dia mirip seperti keponakanku yang baru berumur 5 tahun, manja sekali.”

“Kau tidak harus menjawab lamaranku sekarang. Kita bisa berjalan-jalan dulu menyusuri kota Italia.” Tawarnya PD.

“Kau pernah kemari sebelumnya?” Tanya sang perempuan yang mulai tertarik dengan pembawaan laki-laki itu yang menyenangkan.

“Sekali, walau begitu aku masih ingat beberapa obyek wisata yang tidak biasa di kunjungi oleh turis asing. Kau tertarik?” Tanya laki-laki itu.

Hmmmm, lemme think first.” Jawab sang perempuan sambil meminum coffee lattenya. Hmmmm, biarkan aku berpikir dulu

“Bagaimana?” tanyanya lagi sambil berkedip genit.

“Baiklah.” Jawab perempuan itu cepat. Dia mengeluarkan dompet, mengambil uang, dan menaruhnya di meja.

Laki-laki itupun mengeluarkan selembar uang dari kantong celananya dan menarik tangan perempuan yang duduk di depannya itu.

Mereka berjalan menyusuri jalanan kota Italia yang sempit. Kadang beberapa mobil berukuran kecil dan skuter yang berseliweran hampir saja menabrak mereka. Dengan sigap si laki-laki itu menarik badan sang perempuan agar merapatkan tubuhnya agar tidak tertabrak. Mereka mencoba beberapa makanan kecil lokal, minum minuman khas daerah, bahkan membeli oleh-oleh berupa gelang etnik yang sama.

Matahari hampir menghilang di ufuk timur. Warnanya yang orange kemerahan itu menjadi background yang bagus saat mereka berdua sampai di sebuah kolam permohonan. Didalam kolam tersebut banyak sekali koin-koin yang tersebar menunjukkan banyaknya orang yang percaya pada kekuatannya.

“Kau mau mencobanya?” Tanya laki-laki itu sambil menyerahkan sebuah koin berwarna kuning pada sang perempuan.

Perempuan itu mengangguk dan mengambil koin itu dari tangan si laki-laki. “Tutup matamu, berdoa, cium koinnya, baru kau lemparkan.”

Diapun mengikuti petunjuk yang diberikan oleh guidenya itu. Perempuan itu berdoa dengan khusyuk sebelum dia mencium koin itu dan melemparnya.

“Apa yang kau inginkan?” Tanya laki-laki itu sambil menjilat es krimnya. Saat ini mereka sedang duduk di sebuah kursi taman sambil memakan es krim.

“Rahasia. Kalau ku beritahu nanti tidak akan terkabulkan.” Jawab perempuan itu sambil tersenyum padanya.

“Tidak akan. Kalau kau menceritakannya padaku maka aku malah bisa membantumu agar terkabul.” Katanya sungguh-sungguh.

“Bohong!! Bagaimana mungkin?”

“Karena aku akan mengamini doamu dan Tuhanpun akan semakin mendengarnya.”

“Hahahahahaaa…”

“Ayolah,,beri tahu aku apa permintaanmu.” Katanya setengah memaksa dan ditambahi dengan gaya aegyo.

“Baiklah.” Katanya tidak tega dengan muka aegyo laki-laki yang duduk disampingnya itu. “Aku berdoa semoga suamiku Lee Hyuk Jae selalu sehat dan mencintaiku sampai kapanpun.” Katanya sambil memegang pipi laki-laki itu dengan satu tangannya yang tidak memegang es krim.

Laki-laki itupun tersenyum bahagia mendengar jawaban perempuan itu. Pipinya memerah.

“Kau?” Tanya perempuan itu.

“Aku berterima kasih pada Tuhan karena telah mengirimkanmu padaku, berjanji padaNya tidak akan menyia-nyiakanmu seumur hidupku, Lee Hyori.” jawabnya sambil memandang wajah istrinya itu. Dia membenarkan anak rambut Hyori yang lepas dari ikatan rambutnya itu. Tangannya bergerak dari wajah ke arah leher dan mendekatkan bibirnya ke bibir istrinya itu.

Kruuuuk. Terdengar perut Hyuk Jae berbunyi meminta untuk diisi. Hyori tertawa mendengarnya dan dengan segera berdiri dan menarik tangan Hyuk Jae dari kursi taman itu.

“Ayo kita makan. Aku lapar.”

“Tapi kan tadi sedang tanggung, Hyo.” Katanya sebal karena acaranya yang digagalkan oleh bunyi perutnya sendiri.

“Kita bisa melanjutkannya nanti. Sekarang beri perutmu makan dulu.”

**

*Flash Back ON*

“Kenapa kau mau menikah denganku?” Tanya Hyuk Jae seminggu sebelum mereka mengikat janji sehidup semati.

“Aku tidak punya pilihan lain.” Jawab Hyori asal sambil memilih-milih sepatu.

“Hyoooo…” rajuknya.

“Kau itu selalu menggangguku dan kau bilang kau akan berhenti apabila kita menikah. Ya sudah kita menikah saja.”

“Agar aku tidak mengganggumu lagi? Agar aku tidak datang lagi setiap jam makan siang ke kantormu?”

Yup.” Jawab Hyori sambil mencoba sebuah sepatu bercorak leopard. “Hmmm, aku suka. Bagaimana menurutmu?”

“Norak. Ya!!Hyori!! Aku bertanya padamu.” Kata Hyuk Jae kesal.

“Aku menjawabmu, Hyukie.”

“Katakan alasanmu menikah denganku. Kau tidak menikah denganku karena paksaan atau kasihan kan?” Tanya Hyuk Jae serius sehingga membuat Hyori menghentikan sementara kegiatannya.

“Tentu saja tidak bodoh.”

“Lalu?”

“Ku beri tahu kalau kita merayakan ulang tahunku di Italia. Aku janji.” Jawab Hyori sambil kembali ke kegiatannya yaitu mencoba sepatu.

“Ya, Hyori!! Ulang tahunmu itu bertepatan dengan peresmian pabrik di Jeju.”

“Kalau begitu tidak akan keberi tahu.”

“Hyooo.” Rajuknya lagi. Kali ini ditambah dengan puppy eyes.

“Aku tidak pernah ingkar janji, Hyukie. Kau tahu itu kan?” jawab Hyori sambil memegang pipi laki-laki yang akan menjadi suaminya itu. “Bawa aku ke Italia dulu baru aku beri tahu.”

*Flash Back OFF*

“Hyo, aku tagih janjimu.” Kata Hyuk Jae tiba-tiba dari arah kamar tidur.

“He? Aku? Janji? Aku janji apa?” Tanya Hyori bingung dari arah beranda.

“Aku sudah membawamu ke Italia pada saat ulang tahunmu.” Jawabnya sambil meringis.

“Ah, itu.”

“Jadi? Kenapa kau mau menikahiku?” Tanyanya bersemangat.

“Lepaskan dulu pelukanmu baru aku jawab.” Kata Hyori sambil berusaha melepaskan tangan Hyukie yang memeluknya dari belakang.

“Tidak mau!!” jawabnya keras kepala.

“Kalau begitu tak akan ku jawab.”

“Lee Hyori tidak pernah ingkar janji kan?” kata Hyuk Jae ringan. “Aku sudah menepati janjiku dengan membawamu kesini dan aku mau jawabannya sekarang.”

“Baiklah, suamiku sayang.” Kata Hyori mengalah.  “Aku menikahimu karena aku tidak pernah mengingkari janji.”

“Hah?”

“Iya.”

“Sudah?” Tanya Hyuk Jae tidak percaya dengan pendengarannya sendiri. “Apa sih maksudmu?”

**

“Jadi siapa yang membelinya” tanyaku pada pelayan toko itu. “Seorang laki-laki nona. Padahal kami bilang kalau stock sepatu itu hanya tinggal di Italia saja. Karena designnya yang unik maka tidak di produksi lagi.” Jawabnya. “Lalu dia meminta kami untuk memesannya dalam waktu seminggu. Dia tidak peduli berapapun harganya.” Jawabnya lagi. “Lalu?” tanyaku. “Kami berhasil memesannya dengan konsekuensi harganya menjadi tiga kali lipat dan ongkos kirim yang mahal.”

**

*Jiwoon POV*

Undangan berwarna putih gading yang di design mewah itupun datang ke rumahku dua hari yang lalu. Diantarkan langsung oleh seorang laki-laki berjas yang aku yakin bahwa itu adalah orang kepercayaan nona Hyori. Laki-laki itu bilang nona Hyori sangat mengaharapkan kedatanganku, tapi dia juga akan sangat mengerti kalau aku tidak bisa datang.

“Setidaknya telepon nona Hyori.” Kata laki-laki itu sebelum pergi.

Seharusnya aku senang kan dengan pernikahan mereka. Ini yang aku inginkan. Hyuk Jae berbahagia dengan nona Hyori. Seperti yang ku inginkan selama ini. Tapi entah mengapa hatiku sakit, perih, dan terasa teriris-iris mengetahui kenyataan bahwa mereka akan menikah.

Seharusnya yang menjadi pendamping hidupnya aku. Seharusnya namaku yang ada di undangan ini dan seharusnya aku yang sekarang sedang berbahagia akan menikah dengannya. Bukan Hyori.

Tidak. Aku tidak boleh bersikap seperti ini. Aku yang sudah memutuskannya dan akupun yang sudah meminta nona Hyori untuk kembali padanya. Aku sudah mengiklaskannya. Ingat Jiwoon, Hyuk Jae itu sudah milik nona Hyori. Dia bukan milikmu lagi. Dia lebih berbahagia dengan nona Hyori.

Yoboseyo?” kataku di telpon. “Maaf nona, aku tidak bisa datang di pesta pernikahan kalian. Aku ada kerjaan yang tidak bisa kutinggalkan.”

“Oh, begitu. Iya tidak apa-apa. Aku mengundangmu karena aku ingin memberitahukan padamu kalau aku akan membuatnya bahagia seperti permintaanmu waktu itu. Aku berjanji padamu akan membahagiakannya.” Jawab perempuan itu dari seberang telepon.

“Aku tahu kalau nona sanggup melakukannya. Aku percaya pada nona.”

“Tidak ada niatan hatiku untuk pamer padamu, Jiwoon-ssi. Aku mengirimkan undangan pernikahan itu untuk menjawab permintaanmu waktu itu.”

“Aku tahu nona. Semoga nona dan Hyuk Jae selalu berbahagia.” Kataku singkat dan dengan segera menutup telpon. Aku tidak tahan lagi menahan air mataku. Aku takut nona Hyori akan salah paham akan tangisanku ini.

Aku menangis bahagia untuk pernikahan mereka.

TIDAK, AKU BOHONG!! Aku menangis sedih karena Hyuk Jae akan menikah. Aku yang seharusnya menikah dengannya bukan orang lain.

“Menangislah Jiwoon sepuasmu untuk hari ini dan yang terakhir kalinya untuk Hyuk Jae.” Kataku pada diriku sendiri. “Setelah itu jangan pernah menangis untuknya lagi.

**

*Hyuk Jae POV*

Sore ini aku berniat untuk membeli bunga Krisan pink untuk Hyori. Dia pasti sangat menyukainya. Mana pelayan toko ini ya? Ah, itu dia.

“Nona, aku mau bunga krisan pink.”

“Baik tuan. Silakan duduk di bangku sebelah sana.” Katanya sambil menunjukkan sebuah bangku panjang yang disisi satunya sudah diduduki oleh seorang perempuan yang sedang sibuk mencari sesuatu di dalam tasnya.

“Ah, maaf.” Katanya karena telah menyenggol lenganku.

“Jiwoon?” ucapku tidak percaya. “Sedang apa kau disini?”

“Hyuk Jae. Hai. Aku sedang mengambil pesanan temanku.” Jawabnya sama kagetnya denganku. “Kau sendiri?”

“Aku membeli bunga untuk seseorang.”

“Siapa? Pacarmu?” godanya.

“Ini untuk seseorang.” Jawabku berbohong. Well, aku tidak sepenuhnya berbohong. Hyori orang kan? Jadi kalau aku berkata untuk seseorang itu bukan berbohongkan?

“Oh, aku kira kau sudah punya pacar baru sekarang.” Jawabnya. Dia tetap cantik seperti biasa dan aku masih saja terperangah menatap kecantikan itu.

“Kau sendiri? Punya pacar?” tanyaku balik.

“Tidak. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku.”

“Jangan terlalu sibuk dengan pekerjaanku. Jaga kesehatan dan jangan lupa makan.”

“Kau ini, tidak pernah berubah dari dulu. Hobinya menasehati orang untuk menjaga kesehatan.” Katanya sambil berdiri karena namanya dipanggil oleh petugas di kasir. Mungkin karena tali tasnya yang menyangkut sehingga membuatnya limbung dan hampir jatuh. Untung aku dengan sigap menahan tubuhnya.

Aneh, aku tidak merasakan apa yang pernah kurasakan bersama Jiwoon sewaktu kami masih pacaran. Tidak ada getaran-getaran itu lagi sewaktu kulit kami bersentuhan. Tapi mengapa aku masih speechless sewaktu menatapnya?

“Bagaimana kabar nona Hyori?” tanyanya tiba-tiba.

Ah, benar. Hyori. Bagaimana aku bisa melupakannya?

“Dia baik-baik saja.”

“Pasti bunga itu untuknya kan?” Tanya lagi pada buket bunga krisan pink yang ada di meja kasir.

“Iya.” Jawabku.

I got to go now. Senang bertemu denganmu lagi, Hyuk.” Katanya sambil berjalan keluar dari toko bunga. Aku harus pergi sekarang

Perasaanku aneh. Campur aduk. Perempuan tadi Jiwoon. Perempuan yang pernah menjadi satu-satunya alasanku hidup, deminya aku rela meninggalkan kekayaan dan keluargaku dan dia selalu saja membuatku terperangah akan kecantikannya.

Tapi sekarang aku punya Hyori di sampingku. Perempuan yang telah menolongku, berkorban perasaan untukku, perempuan yang pernah kusakiti tapi masih bisa memaafkanku dan menerimaku kembali.

Ingat Hyuk, kau sudah punya Hyori. Lupakan Jiwoon. Dia hanya sebuah kenangan sekarang. Masa kini dan masa depanmu dengan Hyori. Lagipula kau juga tadi merasakan bahwa Jiwoon sudah tidak lebih dari seorang teman untukmu –walaupun kau masih bisa dibuatnya terpana-. She’s a breath taker but that’s it, nothing more.

“Ya. Selamat tinggal Jiwoon. Terima kasih karena telah memberikanku kenangan indah. Saat ini hati dan pikiranku hanya untuk Hyori bukan untuk orang lain. Aku akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu, temanku.”

END

Akhirnya selesai juga *tebar confetti  \(^0^)/

Cukup melelahkan juga bikin ini FF

Udah brasa kayak sintreon kejar tayang aja *lebay

Semoga endingnya berkenan (soalnya kelemahanku itu selalu di ending) jadi maaf kalau endingnya kurang nendang *bows

Ada pertanyaan buat part trakir ini kah??? Ato saran??

Tulis aja di komen n tunggu balesannya dari saya

Terima kasih buat yang udah komen dari part awal sampe sekarang ataupun buat yang silent rider

Tag:Eunhyuk